Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Gajah Oya Ruwat

 No comments   

Kisah ini menceritakan peristiwa Gajah Oya putra mendiang Prabu Sri Mahapunggung yang teruwat menjadi manusia, bernama Raden Oya. Peristiwa peruwatan ini terjadi karena pertarungannya melawan Raden Brahmaneka, putra Prabu Basurata. Kisah dilanjutkan dengan pernikahan Raden Oya dengan Dewi Hoyi dari Kerajaan Malawa, serta Raden Brahmaneka dengan Batari Indradi, seorang bidadari. Raden Brahmaneka kemudian menjadi raja Wirata yang baru, bergelar Prabu Basupati.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (balungan) karya Ki Tristuti Suryosaputro, dengan sedikit pengembangan.

Kediri, 27 Januari 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


PRABU BASURATA MENGUSIR RADEN BRAHMANEKA DARI ISTANA

Prabu Basurata di Kerajaan Wirata dihadap pangeran mahkota Raden Brahmaneka, Patih Sunggata, Resi Wisama, beserta para punggawa. Mereka sedang membicarakan kehamilan kedua sang permaisuri Dewi Brahmaniyuta yang saat ini sudah memasuki usia kandungan sembilan bulan. Hal ini sesuai dengan ramalan Begawan Rukmawati di Gunung Mahendra dulu, bahwa Dewi Brahmaniyuta setelah memakan kue Payasa Jamurdipa dari Tanah Hindustan akan mengandung sebanyak dua kali, namun jaraknya berjauhan.

Prabu Basurata sendiri merasa usianya sudah tua. Ia ingin turun takhta menjadi pertapa dan menyerahkan takhta Kerajaan Wirata kepada Raden Brahmaneka. Untuk itu, Raden Brahmaneka harus menikah terlebih dulu sebelum dilantik menjadi raja. Raden Brahmaneka pun dipersilakan memilih putri kerajaan mana yang ingin dinikahinya. Akan tetapi, Raden Brahmaneka bersedia menikah asalkan dengan bidadari, sama seperti sepupunya, yaitu Prabu Brahmasatapa di Kerajaan Gilingwesi yang menikah dengan Batari Widati.

Prabu Brahmaneka marah mendengar perkataan putranya itu. Ia memaksa Raden Brahmaneka untuk melupakan keinginan aneh tersebut dan menikah dengan manusia biasa saja. Akan tetapi, Raden Brahmaneka tetap bersikeras pada keputusannya. Hal ini membuat Prabu Basurata semakin marah dan ia pun mengusir putra pertamanya itu pergi dari Kerajaan Wirata.

KELAHIRAN DEWI BRAHMANEKI

Setelah Raden Brahmaneka pergi meninggalkan istana, Patih Sunggata dan Resi Wisama menyampaikan saran kepada Prabu Basurata supaya meredam amarahnya. Prabu Basurata berangsur-angsur tenang dan ia pun memerintahkan Patih Sunggata supaya berangkat bersama beberapa punggawa untuk menyusul kepergian Raden Brahmaneka dan membawanya kembali ke istana.

Prabu Basurata dan Resi Wisama kemudian masuk ke dalam puri karena mendapat laporan dari para pelayan bahwa Dewi Brahmaniyuta telah melahirkan seorang bayi perempuan. Prabu Basurata sangat gembira menyambut kelahiran putrinya itu. Anak kedua yang usianya selisih belasan tahun dari kakaknya itu pun diberi nama Dewi Brahmaneki.

PRABU AYWANA MENCARI OBAT UNTUK PUTRINYA

Tersebutlah Prabu Aywana dari Kerajaan Malawa di Tanah Hindustan yang berlayar ke Tanah Jawa bersama putrinya, bernama Dewi Hoyi yang menderita sakit kasmala. Menurut petunjuk yang diterima Prabu Aywana, Dewi Hoyi akan sembuh kembali apabila dimandikan di sebuah telaga yang dikelilingi sembilan rumah di dekat Desa Wahita dan di sana pula putrinya itu akan bertemu dengan jodohnya, yaitu seorang pangeran dari Kerajaan Purwacarita.

Kini, rombongan Prabu Aywana telah mendarat di pelabuhan Kerajaan Wirata dan secara kebetulan bertemu pasukan Patih Sunggata yang sedang mencari Raden Brahmaneka. Terjadilah salah paham karena Patih Sunggata mengira rombongan dari Kerajaan Malawa itu datang untuk menyerang Kerajaan Wirata. Pertempuran di antara mereka pun terjadi. Akhirnya, Prabu Aywana turun melerai dan menjelaskan bahwa dirinya adalah kawan baik Prabu Basurata. Dulu saat Prabu Basurata hadir di Kerajaan Ayodya saat upacara Payasa Jamurdipa, Prabu Aywana juga datang di sana dan sempat berkenalan dengannya.

Mendengar penjelasan itu, Patih Sunggata meminta maaf atas kesalahpahaman tadi dan mengundang Prabu Aywana untuk berkunjung ke istana Wirata. Akan tetapi, Prabu Aywana terpaksa menolak undangan tersebut karena harus segera memandikan putrinya di telaga Desa Wahita. Kelak jika Dewi Hoyi telah sembuh, Prabu Aywana berjanji akan mengunjungi Prabu Basurata secara pribadi.

Kedua rombongan itu pun saling bermaaf-maafan kemudian berpisah untuk melanjutkan perjalanan masing-masing.

GAJAH OYA BERTEMU BIDADARI

Sementara itu di Desa Wahita, Buyut Lagra sedang mencari kayu bakar bersama anak angkatnya yang berwujud gajah putih, bernama Gajah Oya. Tiba-tiba Gajah Oya menemukan sebuah mahkota terbuat dari kaca yang bertuliskan “indradi”. Buyut Lagra menduga itu pasti mahkota milik seorang bidadari yang terjatuh.

Buyut Lagra dan Gajah Oya kemudian membawa pulang mahkota itu beserta kayu bakar yang sudah terkumpul banyak. Merasa lapar, Gajah Oya lalu berangkat kembali untuk memetik buah-buahan di hutan. Tiba-tiba saja ia melihat seorang wanita cantik menangis sendirian di bawah pohon. Wanita cantik itu berbicara sendiri bahwa dirinya seorang bidadari bernama Batari Indradi yang kehilangan mahkota kaca dan tidak dapat kembali ke kahyangan. Ia bersumpah barangsiapa bisa menemukan mahkotanya, maka ia rela menjadi istri orang itu jika laki-laki, atau menjadi saudaranya jika perempuan.

Gajah Oya pun muncul dan mengatakan bahwa dirinya bisa menghadirkan mahkota tersebut. Batari Indradi sangat terkejut melihat ada seekor gajah putih yang bisa berbicara. Ia membayangkan apabila mahkotanya benar-benar bisa ditemukan, bagaimana mungkin ia menjadi istri seekor gajah? Namun, karena mahkota itu benar-benar penting, maka ia pun mempersilakan Gajah Oya untuk mengambilnya.

GAJAH OYA MEMBANGUN TELAGA DAN SEMBILAN RUMAH

Gajah Oya pulang ke rumah untuk mengambil mahkota kaca milik Batari Indradi. Mendengar penuturan anak angkatnya, Buyut Lagra merasa khawatir jangan-jangan bidadari itu akan mengingkari janji. Maka, ia lantas mengajarkan sebuah mantra kepada Gajah Oya. Setelah menghafalkan mantra tersebut, Gajah Oya pun kembali ke hutan tempat Batari Indradi menunggu.

Sesampainya di sana, Gajah Oya menyerahkan mahkota kaca itu kepada Batari Indradi. Gajah berbulu putih itu lalu menagih janji Batari Indradi untuk menjadi istrinya. Dalam hati Batari Indradi merasa risih jika bersuamikan seekor gajah. Maka, begitu mengenakan mahkota kaca tersebut, ia pun buru-buru melesat terbang ke angkasa untuk kembali ke kahyangan.

Akan tetapi, Gajah Oya segera membaca mantra pemberian ayah angkatnya, yaitu:
“Hong komakoten kamurep kamidep.”

Akibatnya, Batari Indradi langsung jatuh ke tanah dan tidak dapat terbang lagi. Gajah Oya sangat marah karena bidadari itu mengingkari janji. Batari Indradi meminta maaf dan berjanji tidak akan pergi lagi. Ia menyatakan bersedia menjadi istri Gajah Oya, namun terlebih dulu harus dibuatkan sembilan rumah indah yang berjajar mengelilingi sebuah telaga sebagai tempat tinggal mereka kelak.

Gajah Oya hendak pulang meminta bantuan Buyut Lagra, namun ia khawatir Batari Indradi melarikan diri. Maka, ia pun mengheningkan cipta meminta bantuan dewata. Begitu tekun ia berdoa hingga dewata pun mengabulkan permintaannya. Secara ajaib muncul seberkas cahaya dari langit yang seketika berubah menjadi sebuah telaga jernih dan dikelilingi sembilan rumah berjajar indah.

Akan tetapi, ketika Gajah Oya bangun dari samadinya, ia terkejut karena Batari Indradi sudah tidak ada lagi. Rupanya bidadari itu lagi-lagi mengingkari janji dan kini telah melarikan diri. Gajah Oya sangat marah dan segera mencari ke mana perginya bidadari tersebut.

RADEN BRAHMANEKA MELINDUNGI BATARI INDRADI

Batari Indradi memang telah kabur meninggalkan Gajah Oya dengan berlari sekencang-kencangnya, karena ia sudah tidak dapat terbang lagi. Gajah Oya sendiri terus mengejarnya dan hampir dapat menyusul bidadari itu. Batari Indradi pun menjerit minta tolong dan suaranya itu terdengar oleh Raden Brahmaneka yang kebetulan lewat di sana.

Raden Brahmaneka segera turun tangan memberikan bantuan. Terjadilah pertarungan antara dirinya melawan Gajah Oya. Karena tenaga Gajah Oya jauh lebih kuat, Raden Brahmaneka pun terdesak dan melarikan diri dengan membawa serta Batari Indradi.

Raden Brahmaneka dan Batari Indradi lalu bersembunyi di dasar sebuah jurang. Di sana mereka menemukan sebatang anak panah yang menancap di batu. Raden Brahmaneka mencabut anak panah itu lalu melemparkannya ke arah Gajah Oya. Secara ajaib, wujud Gajah Oya pun berubah menjadi seorang pemuda tampan dan anak panah tadi berubah menjadi pakaian yang langsung melekat di tubuhnya. Pemuda tampan itu kemudian terlempar jauh entah ke mana.

PRABU AYWANA MENIKAHKAN PUTRINYA DENGAN GAJAH OYA

Sementara itu, rombongan Prabu Aywana telah sampai di Desa Wahita dan bertemu Buyut Lagra sang kepala desa. Setelah berkenalan, mereka lalu pergi bersama-sama mencari adanya telaga yang dikelilingi sembilan rumah. Begitu menemukan telaga tersebut, Prabu Aywana segera memandikan Dewi Hoyi sehingga sembuh dari penyakit kasmala yang dideritanya.

Tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan yang terlempar entah dari mana dan jatuh di hadapan Prabu Aywana. Pemuda itu bangun dan memperkenalkan dirinya kepada Buyut Lagra sebagai Gajah Oya. Buyut Lagra yang mengenali suaranya seketika merasa bahagia karena anak angkatnya itu telah teruwat menjadi manusia.

Buyut Lagra kemudian menceritakan asal-usul anak angkatnya itu kepada Prabu Aywana. Sesungguhnya Gajah Oya adalah putra mendiang Prabu Sri Mahapunggung yang lahir dari istri kedua bernama Dewi Rukmini. Karena lahir dalam wujud bayi gajah putih, Prabu Sri Mahapunggung merasa malu dan membuang putra keempatnya itu di Hutan Pancala. Bayi gajah putih itu kemudian ditemukan oleh Begawan Rukmawati dan diasuh di Gunung Mahendra. Setelah dewasa, gajah putih diperintahkan Begawan Rukmawati untuk bertapa di Bukit Oya, sehingga ia pun terkenal dengan sebutan Gajah Oya. Begawan Rukmawati juga memberikan petunjuk bahwa Gajah Oya kelak akan berubah wujud menjadi manusia apabila mengabdi kepada Buyut Lagra di Desa Wahita. Kini, petunjuk itu telah menjadi kenyataan. Mulai saat ini, Gajah Oya pun diganti namanya menjadi Raden Oya.

Prabu Aywana sangat senang mendengar cerita tersebut. Ia mengaku juga mendapatkan petunjuk dewata bahwa putrinya akan berjodoh dengan seorang pangeran dari Kerajaan Purwacarita. Maka, Raden Oya pun dijodohkan dengan Dewi Hoyi sesuai petunjuk tersebut. Buyut Lagra menasihati Raden Oya agar melupakan Batari Indradi yang suka ingkar janji itu dan menerima Dewi Hoyi sebagai gantinya. Raden Oya mematuhi dan menerima perjodohan tersebut. Prabu Aywana sangat senang dan mengajak Raden Oya untuk dinikahkan dengan Dewi Hoyi di istana Malawa. Buyut Lagra juga diajak serta untuk mendampingi anak angkatnya tersebut.

PRABU BASURATA MENERIMA BATARI INDRADI SEBAGAI MENANTU

Sementara itu, Raden Brahmaneka membawa Batari Indradi pulang ke Kerajaan Wirata. Prabu Basurata menyambut gembira kedatangan putranya itu namun sekaligus tidak berkenan melihat kehadiran seorang wanita bersamanya. Raden Brahmaneka dituduh sembarangan mengambil perempuan sebagai istri.

Raden Brahmaneka menjelaskan kepada sang ayah bahwa Batari Indradi yang dibawanya ini merupakan seorang bidadari. Ia menyatakan telah berhasil mewujudkan keinginannya, yaitu menikah dengan bidadari. Prabu Basurata tidak percaya dan ingin mendapatkan bukti. Batari Indradi pun mengheningkan cipta dan menghadirkan sebutir permata Retnadumilah di hadapannya, untuk kemudian dipersembahkan kepada Prabu Basurata.

Prabu Basurata sangat berkenan menerima permata tersebut. Maka, ia pun merestui Raden Brahmaneka menikah dengan Batari Indradi.

RADEN BRAHMANEKA MENJADI RAJA WIRATA

Sesuai janjinya, Prabu Basurata pun turun takhta apabila Raden Brahmaneka telah menemukan jodohnya. Ia lalu mengirim permohonan kepada atasannya, yaitu Sri Maharaja Purwacandra di Kerajaan Medang Kamulan supaya diizinkan menunjuk putranya sebagai pengganti. Setelah mendapatkan izin tersebut, Prabu Basurata pun turun takhta dan melantik Raden Brahmaneka sebagai raja Wirata yang baru, bergelar Prabu Basupati.

Prabu Basurata sendiri kemudian menjadi pertapa menghabiskan sisa umurnya, bergelar Begawan Wasubrata.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke: daftar isi





Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Prabu Brahmasatapa

 No comments   

Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan bergelar Prabu Brahmasatapa. Dikisahkan pula Prabu Brahmasatapa kemudian memiliki putra bernama Raden Dukutoya dan Dewi Srini. Raden Dukutoya inilah yang kelak dikenal sebagai Prabu Parikenan, leluhur para Pandawa dan Kurawa.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 24 Januari 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


RADEN TRITRUSTA MENDAPAT JODOH BIDADARI


Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja sedang bertapa di Gunung Soda atas perintah mertuanya, yaitu Batara Sumantanu. Awalnya ia berhasil meloloskan diri saat Kerajaan Gilingwesi diserang musuh dan ayahnya gugur di tangan Prabu Cingkaradewa. Ia kemudian berkelana terlunta-lunta hingga akhirnya sampai di kaki Gunung Soda. Di tempat itu ia diserang raksasa bernama Ditya Widata dan terjadilah pertarungan sengit di antara mereka. Raden Tritrusta akhirnya berhasil mengalahkan raksasa itu menggunakan panahnya. Secara ajaib, raksasa tersebut tidak mati tetapi berubah wujud menjadi seorang dewa bernama Batara Sumantanu.

Batara Sumantanu adalah putra Batara Ramaprawa yang melakukan kesalahan di kahyangan sehingga terkena kutukan menjadi raksasa bernama Ditya Widata tadi. Ia berterima kasih telah dibebaskan dari kutukan. Raden Tritrusta lalu disarankan untuk bertapa di puncak Gunung Soda jika ingin mendapatkan kembali kemuliaannya di Kerajaan Gilingwesi.

Kini beberapa bulan telah berlalu sejak kejadian itu. Batara Sumantanu datang kembali di Gunung Soda untuk membangunkan tapa Raden Tritrusta. Kali ini ia datang bersama putrinya yang bernama Dewi Widati untuk dijodohkan dengan Raden Tritrusta. Raden Tritrusta pun menerima keputusan tersebut dengan senang hati.

Setelah menikahkan mereka berdua, Batara Sumantanu menjelaskan bahwa saat ini keadaan sudah aman. Ia menyarankan supaya Raden Tritrusta pura-pura menyerahkan diri kepada Prabu Cingkaradewa yang saat ini sudah bergelar Sri Maharaja Purwacandra di Kerajaan Medang Kamulan. Dengan mengabdi kepada Sri Maharaja Purwacandra, maka Raden Tritrusta dapat membangun kembali Kerajaan Gilingwesi dan kelak jika sudah cukup kekuatan, ia dapat memberontak kepada Sri Maharaja Purwacandra. Batara Sumantanu juga menyarankan sebaiknya Raden Tritrusta pergi ke Wirata terlebih dulu untuk meminta tolong kepada Prabu Basurata supaya dihadapkan ke Kerajaan Medang Kamulan.

Raden Tritrusta mematuhi semua nasihat sang mertua. Ia lalu mohon pamit meninggalkan Gunung Soda dengan disertai Dewi Widati, istrinya.

RADEN TRITRUSTA DITERIMA SRI MAHARAJA PURWACANDRA


Sri Maharaja Purwacandra di Kerajaan Medang Kamulan dihadap Patih Sukapa, Raden Dewata, Raden Jawata, Raja Wipara, Raja Dyapara, Raja Yogyapara, dan Raja Capala. Mereka membicarakan tentang Kerajaan Gilingwesi yang sampai sekarang belum memiliki raja, karena putra sulung Prabu Brahmanaraja yang bernama Raden Tritrusta masih belum ditemukan.

Raja Wipara menjelaskan bahwa selama ini Kerajaan Gilingwesi dijaga oleh kedua putranya, yaitu Arya Jabung dan Arya Jangkung. Apabila Raden Tritrusta tetap tidak bisa ditemukan, ia mengusulkan supaya kedua putranya itu saja yang dilantik sebagai raja Gilingwesi. Sri Maharaja Purwacandra berjanji akan mempertimbangkan usulan tersebut.

Namun, tiba-tiba Prabu Basurata datang menghadap dengan disertai Raden Tritrusta dan Dewi Widati. Prabu Basurata memperkenalkan Raden Tritrusta adalah putra mendiang Prabu Brahmanaraja yang lama hilang dan sekarang ingin menyerahkan diri kepada Sri Maharaja Purwacandra.

Sri Maharaja Purwacandra sangat senang ketika Raden Tritrusta mengucapkan sumpah setia kepadanya disaksikan para hadirin. Maka, ia pun mengumumkan bahwa Raden Tritrusta akan dilantik sebagai raja Gilingwesi yang baru. Hal ini membuat Raja Wipara sangat kecewa. Diam-diam ia pun pergi meninggalkan istana Medang Kamulan untuk bergabung dengan kedua anaknya di Gilingwesi.

PEMBERONTAKAN ARYA JABUNG DAN ARYA JANGKUNG

Arya Jabung dan Arya Jangkung di Kerajaan Gilingwesi menyambut kedatangan ayah mereka. Raja Wipara pun bercerita bahwa putra mahkota Kerajaan Gilingwesi yang bernama Raden Tritrusta telah muncul dan kini mengabdi kepada Sri Maharaja Purwacandra. Arya Jabung dan Arya Jangkung sangat marah begitu mengetahui Sri Maharaja Purwacandra batal melantik mereka sebagai penguasa Kerajaan Gilingwesi yang resmi.

Kedua arya itu lalu menyatakan pemberontakan terhadap Kerajaan Medang Kamulan. Mereka pun melantik diri sendiri sebagai penguasa penuh di Kerajaan Gilingwesi, di mana Arya Jabung memakai gelar Prabu Kalajaya, sedangkan Arya Jangkung memakai gelar Patih Kaladitya.

RADEN TRITRUSTA MENUMPAS PEMBERONTAKAN GILINGWESI

Sri Maharaja Purwacandra sangat murka mendengar berita pemberontakan kedua putra Raja Wipara itu. Ia pun mengirim Raden Tritrusta beserta Raden Dewata dan Raden Jawata untuk memimpin pasukan Medang Kamulan menumpas pemberontakan tersebut.

Maka, terjadilah pertempuran di Kerajaan Gilingwesi. Ketika matahari hampir terbenam, Raden Tritrusta akhirnya berhasil menangkap Prabu Kalajaya dan Patih Kaladitya beserta Raja Wipara untuk kemudian dihadapkan kepada Sri Maharaja Purwacandra di Kerajaan Medang Kamulan.

Sri Maharaja Purwacandra akhirnya menjatuhkan hukuman mati kepada Prabu Kalajaya dan Patih Kaladitya. Akan tetapi, Raden Tritrusta memohon pengampunan atas kesalahan mereka. Sri Maharaja Purwacandra mengabulkan permohonan itu dan menggantinya menjadi hukuman buang ke Hutan Medangagung. Nama Prabu Kalajaya dan Patih Kaladitya pun dikembalikan menjadi Arya Jabung dan Arya Jangkung. Sementara itu, ayah mereka, yaitu Raja Wipara juga dihukum buang dan dikembalikan namanya menjadi Resi Dwara.

RADEN TRITRUSTA DILANTIK MENJADI RAJA GILINGWESI

Sri Maharaja Purwacandra sangat berkenan atas keberhasilan Raden Tritrusta yang didampingi Raden Dewata dan Raden Jawata dalam menumpas pemberontakan anak-anak Resi Dwara. Maka, Raden Tritrusta pun dilantik menjadi raja Gilingwesi yang baru. Karena pernah bertapa di Gunung Soda, ia pun diberi gelar Prabu Brahmasatapa. Sri Maharaja Purwacandra juga memberi gelar kepada Raden Dewata dan Raden Jawata, masing-masing menjadi Raja Wigara dan Raja Patanggara.

Pada hari yang ditentukan, Prabu Brahmasatapa pun mulai menduduki takhta Kerajaan Gilingwesi. Ia membebaskan sanak saudaranya yang sejak kematian Prabu Brahmanaraja menjadi tahanan Arya Jabung dan Arya Jangkung. Para sanak saudara itu kemudian diberi kedudukan di Kerajaan Gilingwesi. Mereka adalah:
-    Raden Brahmaniyama (paman) mendapat gelar Resi Brahmasatama
-    Raden Brahmaniyata (paman) mendapat gelar Resi Brahmasadewa
-    Raden Tripunggung (adik kandung) mendapat gelar Arya Brahmastuti
-    Raden Trimatsyaka (adik kandung) mendapat gelar Arya Brahmayana
-    Raden Siwandara (adik tiri) mendapat gelar Arya Brahmanasidi
-    Raden Sasihawa (adik tiri) mendapat gelar Arya Brahmanajati
-    Raden Aniwarna (sepupu) mendapat gelar Arya Brahmanaradya
-    Raden Drataweda (sepupu) mendapat gelar Arya Brahmanaweda
-    Raden Sutada (sepupu) mendapat gelar Arya Brahmanakestu

Adapun yang jabatan menteri utama tetap dipegang oleh Patih Atmera, bahkan putrinya yang bernama Ken Rajatadi dinikahi pula oleh Prabu Brahmasatapa sebagai istri kedua.

Sementara itu, Resi Dwara dan kedua anaknya yang dihukum buang Sri Maharaja Purwacandra merasa berhutang budi kepada Prabu Brahmasatapa. Mereka bertiga pun datang untuk mengabdi di Kerajaan Gilingwesi. Prabu Brahmasatapa menerima pengabdian mereka, dan mengangkat Resi Dwara sebagai sesepuh istana, bergelar Empu Artati.

DEWI WIDATI MELAHIRKAN BAYI KEMBAR LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Beberapa bulan kemudian, Dewi Widati melahirkan dua orang anak kembar laki-laki dan perempuan. Diam-diam Ken Rajatadi menculik kedua bayi itu dan membuangnya ke hutan. Ia lalu mengambil dua ekor bayi kambing dan menyerahkannya kepada Prabu Brahmasatapa.

Prabu Brahmasatapa sangat murka karena mengira Dewi Widati benar-benar melahirkan dua ekor bayi kambing. Ia pun memarahi istri pertamanya itu dengan segala macam perkataan. Dewi Widati kehilangan kesabaran. Ia pun kembali menjadi bidadari dan pulang ke kahyangan Batara Sumantanu.

Ken Rajatadi merasa senang usahanya untuk menyingkirkan Dewi Widati telah berhasil. Kini ia pun menjadi satu-satunya permaisuri di Kerajaan Gilingwesi.

Sementara itu, bayi laki-laki dan perempuan yang dilahirkan Dewi Widati akhirnya ditemukan oleh Begawan Rukmawati dan dibawa ke Gunung Mahendra untuk diasuh di sana. Kedua anak Prabu Brahmasatapa itu masing-masing diberi nama Raden Dukutoya dan Dewi Srini.

PRABU BRAHMASATAPA JATUH CINTA KEPADA BIBINYA

Pada suatu hari Prabu Brahmasatapa di Kerajaan Gilingwesi menerima kedatangan bidadari putri Batara Brahma, yaitu Batari Dresanala. Kedatangan Batari Dresanala ini adalah untuk menyampaikan perintah Batara Brahma kepada Resi Brahmasatama dan Resi Brahmasadewa supaya pulang ke Kahyangan Daksinageni untuk diangkat menjadi dewa.

Melihat kecantikan Batari Dresanala, seketika Prabu Brahmasatapa jatuh hati dan berterus terang ingin menikahinya. Namun, Batari Dresanala menolak lamaran itu karena dirinya adalah bibi dari Sang Prabu yang merupakan putra Prabu Brahmanaraja. Resi Brahmasatama dan Resi Brahmasadewa juga ikut menjelaskan bahwa lamaran seperti itu tidaklah pantas, namun Prabu Brahamasatapa tetap saja memaksa.

Batari Dresanala akhirnya terbang ke kahyangan disertai Resi Brahmasatama dan Resi Brahmasadewa meninggalkan istana Gilingwesi. Namun demikian, Batari Dresanala sempat meninggalkan Mutiara Matuwahni kepada Prabu Brahmasatapa sebagai kenang-kenangan pelipur lara. Dengan memandang mutiara tersebut, Prabu Brahmasatapa dapat melihat gambar bibinya yang cantik itu ada di dalamnya.

PRABU BRAHMASATAPA MENERIMA PERINTAH SRI MAHARAJA PURWACANDRA


Beberapa waktu kemudian, Prabu Brahmasatapa berduka cita karena mertuanya, yaitu Patih Atmera meninggal dunia. Jabatan menteri utama kemudian diisi oleh putra Patih Atmera yang bernama Arya Daneswara, bergelar Patih Brahmasadana.

Prabu Brahmasatapa kemudian menerima kedatangan Arya Caracapa dari Kerajaan Medang Kamulan yang diutus Sri Maharaja Purwacandra untuk meminta kedua anak Empu Darmarasa, bernama Empu Rasajati dan Empu Rasawadi. Keduanya diminta untuk dijadikan sebagai wadya seseliran, yaitu laki-laki pemuas nafsu birahi raja.

Prabu Brahmasatapa pun memanggil Empu Darmarasa supaya memenuhi perintah sang maharaja tersebut. Akan tetapi, Empu Darmarasa merasa keberatan melepaskan kedua putranya. Ia mengingatkan Prabu Brahmasatapa sebagai raja harusnya melindungi rakyatnya, bukannya justru menjerumuskan seperti ini.

Prabu Brahmasatapa sangat murka mendengar penolakan itu. Empu Darmarasa dan kedua putranya lalu dihukum bakar sampai mati. Kedudukan Empu Darmarasa sebagai pembuat senjata istana kemudian digantikan adiknya, yang bernama Empu Dewarasa.

Demikianlah, Prabu Brahmasatapa yang awalnya hanya berpura-pura menyerahkan diri kepada Kerajaan Medang Kamulan, kini menjadi lupa diri karena sering disanjung puji oleh Sri Maharaja Purwacandra.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke: daftar isi





Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Prabu Cingkaradewa

 No comments   

Kisah ini menceritakan Prabu Sindula putra Prabu Watugunung yang dikalahkan anaknya sendiri, bernama Prabu Cingkaradewa. Kisah dilanjutkan dengan usaha Prabu Cingkaradewa menguasai seluruh Tanah Jawa, yaitu dengan menewaskan Prabu Brahmanaraja dan Prabu Sri Mahapunggung, serta menaklukkan Prabu Basurata.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 20 Januari 2015

Heri Purwanto
------------------------------ ooo ------------------------------


RIWAYAT PRABU CINGKARADEWA PUTRA PRABU SINDULA

Prabu Sindula (putra Prabu Watugunung) di Kerajaan Medang Galungan dihadap Patih Sukapa dan para punggawa, antara lain Raja Wipara, Raja Dyapara, Raja Yogyapara, dan Raja Capala. Dalam pertemuan itu mereka sedang membicarakan selesainya pembangunan istana baru di bawah tanah, yang disebut Keraton Gotaka.

Tiba-tiba datanglah utusan dari Kerajaan Medang Kamulan yang bernama Arya Dwapara (adik Raja Capala). Adapun raja Medang Kamulan bernama Prabu Cingkaradewa, tidak lain adalah putra Prabu Sindula sendiri, yang dulu telah diusir dari Medang Galungan. Ia bernama asli Raden Sadewa.

Dari perkawinan Prabu Sindula dan Dewi Tulus (putri Begawan Sukra) telah lahir empat orang anak, yaitu Dewi Ratnadewi, Raden Sadewa, Raden Dewata, dan Raden Jawata. Beberapa tahun yang lalu, Prabu Sindula telah mengusir Raden Sadewa pergi dari Medang Galungan karena putra keduanya itu berkelakuan menyimpang, yaitu suka bersetubuh dengan sesama laki-laki.

Awal dari kisah tersebut ialah Raden Sadewa jatuh cinta kepada adik Raja Capala yang bernama Dewi Capadi. Karena Raden Sadewa adalah cucu Prabu Watugunung, sedangkan Dewi Capadi adalah putri Patih Suwelacala, itu berarti Raden Sadewa jatuh cinta kepada bibinya sendiri. Tentu saja Dewi Capadi menolak karena takut melanggar aturan agama. Akan tetapi, Raden Sadewa tidak peduli dan ia berniat memerkosa bibinya itu. Karena terus didesak, Dewi Capadi akhirnya nekat bunuh diri, membuat Raden Sadewa sangat berduka.

Kematian Dewi Capadi telah membuat Raden Sadewa membenci perempuan dan lebih mencintai laki-laki. Ia tidak mau menikah secara wajar dan lebih suka melakukan hubungan sejenis (homoseksual). Hal ini membuat Prabu Sindula sangat marah dan mengusir anak keduanya itu. Raden Sadewa pun pergi meninggalkan Medang Galungan dengan disertai tiga orang adik Dewi Capadi, yaitu Arya Dwapara, Arya Gandara, dan Arya Kumbina.

Kini, peristiwa itu telah lama berlalu. Arya Dwapara yang datang ke istana Medang Galungan bercerita bahwa, setelah Raden Sadewa diusir pergi, ia lantas berkelana sampai ke Tanah Pagelen, yaitu di bekas istana Medang Kamulan dulu (zaman Prabu Palindriya). Di tempat itu ia membangun kembali istana milik kakek buyutnya tersebut dan menjadi raja di sana, bergelar Prabu Cingkaradewa.

Pada suatu hari Prabu Cingkaradewa menemukan arca dari emas yang terpendam di dalam tanah. Arca itu berwujud Batara Guru duduk bersila, yang pada tempat duduknya bertuliskan kalimat: “Anak dan harta jika dipelihara dengan baik, akan menjadi baik. Jika tidak memiliki anak akan membuat hati kecil. Jika tidak mempunyai harta akan sulit mewujudkan cita-cita.”

Kedatangan Arya Dwapara ke Medang Galungan kali ini adalah diutus Prabu Cingkaradewa untuk mempersembahkan arca emas tersebut kepada Prabu Sindula sebagai tanda penyesalan. Akan tetapi, Prabu Sindula justru tersinggung karena merasa arca emas itu dimaksudkan untuk menyindir dirinya. Ia pun mengusir Arya Dwapara dan menyuruhnya membawa kembali arca emas tersebut. Prabu Sindula sama sekali tidak mau mengampuni putra keduanya yang berkelakuan menyimpang itu, bahkan ingin menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

PRABU CINGKARADEWA MENDATANGI KERAJAAN MEDANG GALUNGAN

Arya Dwapara telah kembali ke Kerajaan Medang Kamulan menghadap Prabu Cingkaradewa. Setelah mendengar semua laporan, Prabu Cingkaradewa memutuskan untuk menyerahkan nyawa kepada sang ayah di istana Medang Galungan jika memang ia dikehendaki mati. Maka, raja Medang Kamulan itu pun berangkat dengan disertai pasukannya yang dipimpin Arya Dwapara, Arya Gandara, dan Arya Kumbina.

Sementara itu, Prabu Sindula justru salah paham mengira Prabu Cingkaradewa datang membawa pasukan untuk menyerang dirinya. Ia pun mengerahkan pasukan Medang Galungan untuk menghadapinya dengan dipimpin putra ketiga dan keempat, yaitu Raden Dewata dan Raden Jawata. Mendengar sesama putranya akan bertempur dan saling bunuh, sang permaisuri Dewi Tulus merasa sangat sedih. Ia lalu terjun ke dalam api, yang kemudian disusul putri sulungnya, yaitu Dewi Ratnadewi.

Prabu Sindula sangat menyesal mengetahui istri dan anak tertuanya telah mati bunuh diri. Namun, ia terlanjur mengeluarkan perintah, sedangkan Raden Dewata dan Raden Jawata juga telah berangkat ke medan perang.

AKHIR HIDUP PRABU SINDULA


Sementara itu, Raden Dewata dan Raden Jawata merasa bimbang melaksanakan perintah sang ayah karena harus bertempur melawan kakak sendiri. Mereka pun memutuskan pura-pura berperang saja, agar bisa bersikap aman pada kedua pihak. Maka, ketika pertempuran terjadi, kedua pangeran itu pun pura-pura tewas terkena senjata Prabu Cingkaradewa.

Akan tetapi, para prajurit Medang Galungan yang tidak tahu-menahu sandiwara itu mengira kedua pangeran benar-benar mati. Maka, mereka pun melaporkan hal itu kepada Prabu Sindula. Amarah Prabu Sindula kembali berkobar dibuatnya. Ia pun berangkat menuju ke medan perang. Meskipun Patih Sukapa, Raja Wipara, Raja Dyapara, Raja Yogyapara, dan Raja Capala berusaha menasihati bahwa itu semua hanyalah sandiwara, namun Prabu Sindula tidak peduli.

Prabu Sindula yang tiba di medan tempur segera disambut oleh sembah bakti Prabu Cingkaradewa. Ia juga melihat Raden Dewata dan Raden Jawata hidup kembali, karena mereka memang hanya pura-pura mati. Prabu Sindula menjadi sangat malu menyadari kesalahannya. Ia lalu kembali ke istana dan mengheningkan cipta melepaskan roh, memutus nyawa sendiri.

KERAJAAN MEDANG KAMULAN DIPINDAHKAN KE MEDANG GALUNGAN

Prabu Cingkaradewa, Raden Dewata, dan Raden Jawata sangat berduka mendengar kematian ayah mereka, juga kematian sang ibu dan kakak sulung. Sementara itu, Patih Sukapa dan para punggawa telah bermusyawarah dan sepakat mengangkat Prabu Cingkaradewa sebagai raja Medang Galungan yang baru.

Prabu Cingkaradewa menerima keputusan itu, namun ia kemudian mengubah nama Medang Galungan menjadi Medang Kamulan. Patih Sukapa tetap menduduki jabatannya, begitu pula para punggawa lainnya. Hanya saja, nama Arya Dwapara diganti menjadi Arya Caracapa supaya tidak mirip dengan Raja Dyapara.

PRABU CINGKARADEWA MENDAPAT PERINTAH MENAKLUKKAN TANAH JAWA

Pada suatu hari Prabu Cingkaradewa pergi berkelana didampingi Patih Sukapa dengan menyamar sebagai rakyat biasa untuk melihat secara langsung kehidupan masyarakat pedesaan. Setelah dirasa cukup, Patih Sukapa lalu mendampingi Prabu Cingkaradewa melakukan tapa kungkum, yaitu berendam di tengah sungai yang mengalir.

Setelah bertapa kungkum beberapa hari, Prabu Cingkaradewa didatangi arwah leluhurnya, yaitu Sri Maharaja Kanwa Pakukuhan yang memberikan perintah supaya ia menaklukkan Tanah Jawa. Sri Maharaja Kanwa ingin keturunannya itu menjadi maharaja penguasa Tanah Jawa seperti dirinya dulu semasa hidup. Sebagai senjata, Sri Maharaja Kanwa pun memberikan pusaka Pedang Candrahasa kepada Prabu Cingkaradewa.

KEMATIAN PRABU BRAHMANARAJA

Setelah mendapatkan perintah dari sang leluhur, Prabu Cingkaradewa dan Patih Sukapa segera kembali ke istana Medang Kamulan dan mulai mempersiapkan pasukan. Terhitung ada tiga kerajaan besar di Tanah Jawa yang harus ditaklukkan, yaitu Gilingwesi, Wirata, dan Purwacarita. Sebagai sasaran pertama, Prabu Cingkaradewa pun berangkat menyerbu Kerajaan Gilingwesi.

Prabu Brahmanaraja di Kerajaan Gilingwesi menerima surat tantangan dari cucu Prabu Watugunung tersebut. Ia pun memimpin pasukan untuk menyambut serangan. Maka, terjadilah pertempuran yang menewaskan banyak prajurit di kedua pihak. Prabu Cingkaradewa lalu menantang Prabu Brahmanaraja bertanding satu lawan satu. Pertarungan seru pun terjadi di antara mereka. Akhirnya, Prabu Brahmanaraja tewas terkena Pedang Candrahasa milik Prabu Cingkaradewa.

Prabu Cingkaradewa kemudian menawan semua anggota keluarga Prabu Brahmanaraja dan memasukkan mereka ke dalam penjara. Namun demikian, ada satu orang yang berhasil meloloskan diri, yaitu sang pangeran mahkota Raden Tritrusta.

KEMATIAN PRABU SRI MAHAPUNGGUNG

Setelah menaklukkan Kerajaan Gilingwesi, Prabu Cingkaradewa lalu menyerbu Kerajaan Wirata. Pertempuran kembali terjadi dan lagi-lagi dimenangkan oleh pihak Medang Kamulan. Prabu Basurata raja Wirata yang kalah perang melarikan diri bersama Patih Sunggata untuk meminta perlindungan kepada kakaknya, yaitu Prabu Sri Mahapunggung di Kerajaan Purwacarita.

Sementara itu, Prabu Sri Mahapunggung sedang berbahagia karena cucunya baru saja lahir, yaitu putra dari perkawinan Raden Wandu dan Dewi Laksmitawahni. Ia pun memberi nama cucunya itu Raden Wahnaya. Tidak lama kemudian Prabu Basurata datang melaporkan bahwa dirinya baru saja dikalahkan Prabu Cingkaradewa raja Medang Kamulan, yang juga telah menewaskan Prabu Brahmanaraja di Kerajaan Gilingwesi.

Prabu Sri Mahapunggung sangat marah mendengar laporan adiknya itu. Ia pun memimpin langsung pasukan Purwacarita menghadapi kedatangan pihak Medang Kamulan. Perang kembali terjadi. Untuk mengurangi jatuhnya banyak korban, Prabu Cingkaradewa menantang Prabu Sri Mahapunggung bertanding satu lawan satu. Terjadilah pertarungan seru di antara mereka. Prabu Sri Mahapunggung mengerahkan segenap kesaktiannya. Namun, karena usianya yang sudah cukup tua, ia akhirnya kehabisan tenaga dan meninggal dunia.

PRABU BASURATA MENGUNGSI KE GUNUNG MAHENDRA

Setelah kakaknya tewas, Prabu Basurata kehilangan semangat dan ingin bunuh diri. Namun, Patih Mudabatara mencegahnya. Raja Wirata itu kemudian diajak pergi mengungsi ke Gunung Mahendra untuk meminta perlindungan Begawan Rukmawati. Maka, berangkatlah Prabu Basurata disertai Patih Mudabatara dan Patih Sunggata menuju ke sana.

Begawan Rukmawati di Gunung Mahendra menyambut kedatangan mereka. Setelah mendengarkan apa yang terjadi, Begawan Rukmawati lalu mengheningkan cipta untuk mencari petunjuk apa yang seharusnya dilakukan Prabu Basurata. Ternyata petunjuk yang ia terima adalah Prabu Basurata harus menyerahkan diri kepada Prabu Cingkaradewa, karena kelak akan ada pihak lain dari tanah seberang yang akan mengalahkan raja Medang Kamulan tersebut.

Prabu Basurata merasa kecewa terhadap petunjuk itu namun tidak berani membantah. Ia lalu mohon pamit meninggalkan Gunung Mahendra untuk kembali ke Kerajaan Purwacarita. Di tengah jalan rombongan tersebut bertemu Raja Capala yang mengaku diutus Prabu Cingkaradewa untuk menjemput mereka.

PRABU CINGKARADEWA MENJADI SRI MAHARAJA PURWACANDRA

Prabu Cingkaradewa yang masih menduduki Kerajaan Purwacarita menyambut kedatangan Prabu Basurata beserta rombongan. Tak disangka, Prabu Cingkaradewa yang kemarin bersikap kejam ternyata kini berubah sangat ramah dan memanggil “paman” kepada Prabu Basurata.

Rupanya saat menduduki Kerajaan Purwacarita, Prabu Cingkaradewa menemukan kitab yang berisi silsilah keluarga Prabu Sri Mahapunggung dan Prabu Basurata. Di kitab itu tertulis bahwa kedua raja tersebut adalah putra Batara Wisnu yang lahir dari Dewi Sriyuwati, sedangkan Dewi Sriyuwati adalah adik tiri Prabu Watugunung, sesama putra Prabu Palindriya. Setelah membaca kitab silsilah tersebut, Prabu Cingkaradewa merasa sangat menyesal karena telah menyebabkan tewasnya Prabu Sri Mahapunggung yang masih terhitung paman baginya.

Maka, Prabu Cingkaradewa pun mengizinkan Prabu Basurata kembali menjadi raja di Wirata, sedangkan Kerajaan Purwacarita diserahkan kepada putra Prabu Sri Mahapunggung, yaitu Raden Wandu, bergelar Prabu Sri Mahawan. Kedua raja itu diperbolehkan mengatur kerajaan masing-masing, namun setiap tahun harus melapor kepada Prabu Cingkaradewa di Kerajaan Medang Kamulan. Prabu Basurata dan Prabu Sri Mahawan pun menyatakan tunduk dan bersumpah setia kepada Prabu Cingkaradewa.

Kini, Prabu Cingkaradewa telah menjadi penguasa tertinggi di seluruh Tanah Jawa sebagaimana yang dikehendaki arwah Sri Maharaja Kanwa Pakukuhan. Sebagai raja agung, Prabu Cingkaradewa pun mengganti gelarnya menjadi Sri Maharaja Purwacandra.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke: daftar isi





Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ▼  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ▼  January (3)
      • Gajah Oya Ruwat
      • Prabu Brahmasatapa
      • Prabu Cingkaradewa
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja