Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Bima Bothok

 No comments   



Kisah ini menceritakan pelantikan Raden Suyudana sebagai pangeran mahkota Kerajaan Hastina, bergelar Raden Kurupati. Juga dikisahkan awal mula Raden Yamawidura menjadi adipati di Pagombakan. Kisah pun ditutup dengan pertarungan antara Raden Bratasena dengan raja raksasa pemakan daging manusia, yaitu Prabu Baka raja Ekacakra.

Kisah ini saya olah dari sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang dipadukan dengan kitab Mahabharata karya Resi Wyasa, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 27 Agustus 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Raden Bratasena menyamar sebagai Wasi Balawa

RADEN SUYUDANA DILANTIK SEBAGAI PANGERAN MAHKOTA

Adipati Dretarastra di Kerajaan Hastina memimpin pertemuan yang dihadiri Raden Yamawidura, Resi Druna, Resi Krepa, Patih Sangkuni, Dewi Gandari, dan juga Raden Suyudana. Dalam pertemuan itu mereka membahas tentang para Pandawa dan Dewi Kunti yang dinyatakan meninggal dalam kebakaran di istana Waranawata. Adipati Dretarastra dalam hati merasa sedih bercampur senang. Ia sedih karena kehilangan lima keponakan dan adik ipar, namun juga senang karena anaknya memiliki peluang untuk menjadi raja di Hastina.

Satu-satunya orang yang mengetahui bahwa para Pandawa dan Dewi Kunti masih hidup hanyalah Raden Yamawidura. Namun, ia terlanjur berjanji akan menyimpan rahasia ini karena Dewi Kunti sudah tidak ingin kembali ke Kerajaan Hastina. Itulah sebabnya ia tidak memberi tahu siapa pun, termasuk kepada Resiwara Bisma. Sejak peristiwa kematian para Pandawa dan Dewi Kunti diumumkan, Resiwara Bisma sangat berduka dan mengurung diri dalam Padepokan Talkanda. Ia pun bersamadi dalam kamar gelap tanpa penerangan sama sekali, seolah tiada semangat untuk melihat matahari lagi.

Dalam pertemuan di istana Hastina tersebut, Patih Sangkuni mengusulkan agar Adipati Dretarastra segera mengangkat pangeran mahkota yang baru untuk menggantikan Raden Puntadewa yang telah meninggal. Bagaimanapun juga Adipati Dretarastra hanyalah raja wakil yang menggantikan mendiang Prabu Pandu untuk sementara. Sesuai perjanjian, Adipati Dretarastra harus menyerahkan takhta Kerajaan Hastina kepada putra Prabu Pandu apabila sudah dianggap mampu. Namun sayang sekali, putra kandung Prabu Pandu telah meninggal semuanya. Mengingat dulu Prabu Pandu pernah mengakui Raden Suyudana sebagai putra angkat, maka tiada salahnya kalau Raden Suyudana yang dilantik sebagai putra mahkota Kerajaan Hastina.

Raden Yamawidura sudah menduga bahwa Patih Sangkuni pasti mengajukan usul demikian. Hampir saja ia mengatakan bahwa para Pandawa masih hidup, namun segera diurungkannya. Ia lalu mengalihkan pembicaraan dan membahas soal kebakaran istana di Waranawata. Ia bertanya mengapa yang meninggal di istana itu hanya tujuh orang saja, yaitu Dewi Kunti, para Pandawa, dan Tumenggung Purocana. Mengapa para pelayan dan prajurit penjaga sama sekali tidak ada yang menjadi korban? Mengapa Patih Sangkuni, Raden Suyudana, dan Raden Dursasana yang juga berada di sana bisa selamat dan tidak berusaha menyelamatkan para Pandawa dan Dewi Kunti? Apakah mungkin kebakaran ini sudah direncanakan dan jumlah korbannya pun sudah ditentukan?

Raden Suyudana gemetar karena Raden Yamawidura mencurigai perbuatannya. Namun, Patih Sangkuni segera menanggapi dengan tenang. Pertama, mengapa yang meninggal hanya Dewi Kunti dan para Pandawa? Itu karena mereka terlalu letih dan kenyang setelah berpesta pora merayakan kemenangan melawan Prabu Jalasengara dari Pringgala. Mereka pun tertidur pulas di kamar masing-masing. Api yang membakar istana berasal dari kamar tidur Raden Bratasena. Patih Sangkuni menduga Raden Bratasena tidak sengaja menyenggol lampu minyak sehingga tumpah dan apinya membakar kamar. Karena kamar tidur Dewi Kunti dan para Pandawa lainnya saling bersebelahan, maka dalam sekejap saja mereka berenam pun menjadi korban tanpa sempat menyelamatkan diri.

Mengenai pertanyaan Raden Yamawidura mengapa para pelayan yang tewas hanya Tumenggung Purocana saja, Patih Sangkuni menjawab bahwa saat itu semua pelayan belum ada yang tidur. Mereka sibuk membersihkan segala macam peralatan pesta. Ketika kebakaran terjadi, para pelayan itu berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri masing-masing. Hanya Tumenggung Purocana seorang yang berjiwa kesatria, dengan gagah berani berusaha membangunkan para Pandawa dan Dewi Kunti. Sayang sekali, ia jatuh tertimpa puing-puing bangunan sehingga ikut meninggal menjadi korban.

Mengenai Patih Sangkuni, Raden Suyudana, dan Raden Dursasana yang selamat dari kebakaran itu adalah karena kamar mereka berada di pinggir istana. Bagaimanapun juga pesta kemarin adalah untuk menjamu para Pandawa yang baru saja menang perang. Itu sebabnya, para Pandawa mendapat kamar mewah di tengah istana, sedangkan mereka bertiga menempati kamar di pinggiran. Dalam kebakaran kemarin, Patih Sangkuni dan dua keponakannya juga mengalami luka-luka. Patih Sangkuni lalu menunjukkan lengannya yang melepuh karena terjilat api.

Raden Yamawidura meragukan isi cerita Patih Sangkuni. Ia menduga bahwa kebakaran kemarin telah direncanakan untuk membunuh para Pandawa dan Dewi Kunti. Para pelayan di sana semuanya selamat karena mereka adalah orang-orang Gandaradesa yang menyamar sebagai pelayan Hastina. Tumenggung Purocana ikut tewas bukan karena ia bertindak kesatria ingin menolong para Pandawa dan Dewi Kunti, melainkan karena memang sengaja dibunuh oleh Patih Sangkuni demi untuk melenyapkan saksi mata. Tumenggung Purocana adalah bekas pengikut Prabu Jalasengara yang memiliki keahlian membangun istana dari bahan apa saja. Ia ditangkap Patih Sangkuni dan diperintahkan untuk membangun istana dari bahan-bahan yang mudah terbakar. Setelah tugasnya selesai, ia pun dibunuh pula seolah ikut menjadi korban kebakaran. Adapun soal kulit Patih Sangkuni, Raden Suyudana, dan Raden Dursasana yang melepuh, itu bukan karena mereka ikut terjilat api, tetapi karena mereka sengaja menyulut diri sendiri.

Dewi Gandari marah mendengar Raden Yamawidura menuduh adik dan anak-anaknya telah merencanakan kematian para Pandawa dan Dewi Kunti. Ia menuduh Raden Yamawidura hanya mengarang cerita tanpa bukti. Ia tidak terima jika Patih Sangkuni, Raden Suyudana, dan Raden Dursasana dituduh telah membunuh saudara-saudara mereka. Ini sama saja dengan penghinaan terhadap keluarga Adipati Dretarastra.

Raden Yamawidura menjawab bahwa dirinya hanya ingin mengutarakan kebenaran, sedangkan Dewi Gandari membabi buta membela adik dan kedua putranya karena didorong rasa kekeluargaan. Ia menyebut Dewi Gandari terlalu banyak tinggal di dalam istana, sehingga tidak tahu bagaimana cara Patih Sangkuni mendidik para Kurawa.

Adipati Dretarastra yang pada dasarnya selalu memanjakan para Kurawa juga tidak terima jika Raden Yamawidura menuduh tanpa bukti. Hampir saja Raden Yamawidura mengatakan kalau para Pandawa dan Dewi Kunti masih hidup, namun segera ditahannya. Ia hanya diam dan tidak melanjutkan pembicaraan.

Adipati Dretarastra tidak mau membuang-buang waktu. Ia segera mengumumkan bahwa mulai hari ini Raden Suyudana dilantik menjadi pangeran mahkota Kerajaan Hastina, dengan gelar Raden Kurupati. Semua orang memberikan ucapan selamat, kecuali Raden Yamawidura.

Setelah upacara pelantikan selesai, Patih Sangkuni mengusulkan agar Adipati Dretarastra juga melantik Raden Yamawidura menjadi adipati Pagombakan yang baru. Tiga bulan yang lalu Adipati Dipacandra meninggal dunia, sehingga Kadipaten Pagombakan kosong tanpa pemimpin. Mengingat Raden Yamawidura adalah menantu Adipati Dipacandra, maka tiada salahnya jika ia menggantikan sang mertua sebagai adipati di Pagombakan.

Adipati Dretarastra menyetujui usulan Patih Sangkuni. Ia pun melantik Raden Yamawidura sebagai adipati Pagombakan. Ia memerintahkan adik bungsunya itu agar memimpin negeri Pagombakan dengan sebaik-baiknya, dan tidak perlu menghadap ke istana Hastina apabila tidak mendapat panggilan. Raden Yamawidura menerima keputusan ini dan ia memahami bahwa Patih Sangkuni telah menjalankan siasat untuk menyingkirkan dirinya dari lingkaran istana.

ADIPATI YAMAWIDURA MENGIRIM PATIH JAYASEMEDI UNTUK MENYELIDIKI PARA PANDAWA

Adipati Yamawidura memiliki dua orang istri, yaitu Dewi Padmarini putri Adipati Dipacandra, dan Dewi Sinduwati putri Resi Gunabantala (Landak Seta). Dari Dewi Padmarini lahir Raden Sanjaya yang sehari-hari bekerja sebagai pembantu pribadi Adipati Dretarastra, sedangkan dari Dewi Sinduwati lahir Raden Yuyutsu.

Kini Adipati Yamawidura telah resmi menjadi pemimpin Kadipaten Pagombakan menggantikan sang ayah mertua yang telah meninggal. Adapun yang mendampinginya sebagai patih kadipaten adalah Arya Jayasemedi, yaitu putra Patih Jayayatna (patih Kerajaan Hastina zaman Prabu Kresna Dwipayana).

Lewat satu bulan setelah pelantikan, Adipati Yamawidura memerintahkan Patih Jayasemedi untuk pergi mencari keberadaan para Pandawa dan Dewi Kunti. Patih Jayasemedi hanya ditugasi untuk mengamati mereka dari kejauhan saja, jangan sampai menampakkan diri. Patih Jayasemedi menyanggupi dan segera mohon pamit menjalankan tugas.

PATIH JAYASEMEDI BERTARUNG MELAWAN PARA RAKSASA DARI EKACAKRA

Patih Jayasemedi berjalan seorang diri menuju Kota Waranawata. Sesampainya di sana ia lantas bersamadi di puing-puing bekas istana Balai Sigala-gala. Setelah bersamadi agak lama, ia pun bermimpi melihat bayangan bahwa para Pandawa dan Dewi Kunti akan muncul di Kerajaan Ekacakra.

Patih Jayasemedi segera terbangun dan bergegas menuju ke negeri tersebut dengan menyamar sebagai pedagang keris. Di tengah jalan, ia melihat ada beberapa warga yang berlarian meminta tolong karena dikejar-kejar para raksasa. Patih Jayasemedi segera turun tangan membantu. Ia menghadang para raksasa itu dan bertempur melawan mereka. Setelah beberapa lama, akhirnya Patih Jayasemedi berhasil menumpas habis para raksasa tersebut yang berjumlah sepuluh orang.

Patih Jayasemedi lalu bertanya kepada warga yang dikejar-kejar raksasa tadi. Ternyata mereka adalah penduduk Ekacakra yang mengungsi ke Waranawata karena hendak dimangsa oleh raja mereka sendiri yang bernama Prabu Baka. Patih Jayasemedi pun teringat beberapa tahun yang lalu raja Ekacakra bernama Prabu Suksara pernah menyerang Kerajaan Hastina ketika Prabu Pandu sedang sakit keras menjelang ajal. Prabu Suksara akhirnya tewas di tangan para Pandawa, sedangkan patihnya yang bernama Patih Bakasura melarikan diri. Warga Ekacakra membenarkan berita itu, bahwa setelah Prabu Suksara tewas, Kerajaan Ekacakra pun dipimpin oleh Patih Bakasura yang bergelar Prabu Baka.

Patih Jayasemedi heran mengapa Prabu Baka berubah menjadi raja yang suka memakan daging rakyatnya sendiri. Ia pun mempersilakan warga Ekacakra itu mengungsi ke Kota Waranawata untuk sementara, sampai keadaan negeri mereka aman kembali. Setelah berkata demikian ia lantas pergi melanjutkan perjalanan.

PARA PANDAWA MENINGGALKAN KAHYANGAN SAPTAPRATALA

Sementara itu, para Pandawa, Dewi Kunti, dan empat panakawan telah tiga puluh lima hari tinggal di Kahyangan Saptapratala. Mereka berniat untuk pergi melanjutkan pengembaraan mencari pengalaman hidup. Dewi Nagagini keberatan karena dirinya masih ingin ditemani Raden Bratasena yang telah resmi menjadi suaminya. Namun, Batara Anantaboga menasihati putrinya itu bahwa kini sudah saatnya sang suami melanjutkan perjalanan bersama keluarganya. Perjalanan ini sangat berguna untuk membangun kepribadian para Pandawa.

Raden Bratasena berjanji kepada Dewi Nagagini bahwa kelak jika para Pandawa telah mendapatkan kejayaan, maka ia akan datang untuk mengunjungi istrinya itu. Lagipula Raden Bratasena belum mau menyentuh Dewi Nagagini sebelum kakak sulungnya, yaitu Raden Puntadewa menikah. Dewi Nagagini memegang janji suaminya itu dan berharap para Pandawa berhasil melalui masa pengembaraan mereka dengan selamat.

Batara Anantaboga kemudian mengajarkan beberapa macam ilmu kesaktian kepada para Pandawa, serta menasihati mereka agar menyamar sebagai kaum pendeta. Tujuannya ialah, agar mereka tidak sampai ketahuan oleh mata-mata para Kurawa. Dengan kesaktiannya, Batara Anantaboga pun menumbuhkan kumis dan jenggot pada wajah para Pandawa untuk keperluan menyamar, sehingga mereka kini terlihat lebih tua daripada sebelumnya.

Demikianlah, para Pandawa, Dewi Kunti, dan para panakawan telah meninggalkan Kahyangan Saptapratala. Dengan bantuan Batara Anantaboga, dalam sekejap mata tahu-tahu mereka sudah kembali ke permukaan tanah, di dekat Sumur Ganggadaka.

PARA PANDAWA MENYAMAR SEBAGAI PENDETA

Sesuai nasihat Batara Anantaboga, para Pandawa yang kini berwajah berewok mulai menyamar sebagai kaum pendeta. Raden Puntadewa memakai nama Wasi Kangka, Raden Bratasena memakai nama Wasi Balawa, Raden Permadi memakai nama Wasi Parta, Raden Nakula memakai nama Wasi Pinten, dan Raden Sadewa memakai nama Wasi Tangsen. Adapun Dewi Kunti memakai nama Endang Rini.

Dalam perjalanan keluar masuk hutan dan desa, Dewi Kunti melihat wajah si kembar pucat menahan lapar. Namun demikian, Raden Nakula dan Raden Sadewa berlagak tegar, tidak mau diajak beristirahat dan juga tidak mau mengakui bahwa perut mereka sedang lapar. Dewi Kunti khawatir kalau-kalau mereka jatuh pingsan di tengah jalan. Ia pun mengajak putra-putranya beristirahat di bawah pohon rindang.

Dewi Kunti sangat prihatin melihat si kembar yang gemetar karena lapar. Ia berniat memotong rambutnya yang panjang untuk ditukar dengan makanan. Mendengar itu, Raden Bratasena dan Raden Permadi segera mencegahnya. Mereka pun mohon pamit untuk berangkat mencari makanan.

RADEN PERMADI BERTEMU PASANGAN SUAMI ISTRI YANG TIDAK AKUR

Raden Bratasena dan Raden Permadi lalu berpencar. Raden Permadi berjalan ke arah utara dan bertemu seorang wanita cantik sedang mencuci baju di sungai seorang diri. Dasar sifat Raden Permadi yang sangat mengagumi kecantikan, ia pun mendekati wanita itu dan menepuk punggungnya. Si wanita terkejut dan menoleh. Seketika wanita itu ketakutan melihat ada laki-laki yang muncul secara tiba-tiba di belakangnya, dengan wajah tampan tetapi berewok. Wanita itu pun menjerit ketakutan sambil berlari meninggalkan sungai tersebut.

Si wanita berlari masuk rumah dan langsung memeluk suaminya. Si suami terheran-heran mengapa sang istri tiba-tiba pulang sambil menangis. Wanita itu mengaku dirinya baru saja ditepuk laki-laki tak dikenal di sungai. Sang suami marah-marah ada laki-laki yang berani menyentuh istrinya. Ia pun berniat melabrak laki-laki itu, tetapi minta bekal kepada sang istri berupa tumpeng nasi, lengkap dengan lauk pauk dan sayur mayur.

Laki-laki itu lalu membawa tumpeng buatan istrinya menuju sungai. Sungguh aneh, begitu bertemu dengan Raden Permadi ia tidak marah ataupun melabrak, tetapi justru berterima kasih dengan senyum ramah. Laki-laki itu mengaku bernama Buyut Sagotra, pemimpin Desa Medang Suruhan. Adapun wanita yang mencuci di sungai tadi adalah istrinya yang bernama Rara Winihan. Mereka berdua sudah tiga bulan menikah tetapi Rara Winihan sama sekali tidak mencintai Buyut Sagotra. Selama ini Rara Winihan tidak pernah mau disentuh oleh sang suami, juga tidak pernah mau tidur bersama. Akan tetapi, gara-gara Raden Permadi menepuk pundak Rara Winihan membuat wanita itu lari ketakutan dan pulang memeluk Buyut Sagotra. Demikianlah, Buyut Sagotra tadi hanya pura-pura marah dan ingin melabrak Raden Permadi, padahal sebenarnya ia sangat berterima kasih kepadanya.

Sebagai bentuk terima kasih, Buyut Sagotra pun menyerahkan tumpeng nasi yang ia bawa kepada Raden Permadi yang saat itu mengaku bernama Wasi Parta. Raden Permadi menerima tumpeng nasi tersebut dengan senang hati, lalu mohon pamit kembali ke tempat ibu dan saudara-saudaranya beristirahat.

RADEN BRATASENA BERTEMU RESI IJRAPA DI DESA MANAHILAN

Sementara itu, Raden Bratasena berjalan ke arah selatan dan memasuki Desa Manahilan. Kepala desa tersebut seorang pendeta tua, bernama Resi Ijrapa yang memiliki istri bernama Nyai Ruminta. Raden Bratasena heran melihat suami-istri tersebut sedang bertangis-tangisan. Ia pun bertanya ada masalah apa yang sedang menimpa mereka.

Resi Ijrapa terkejut melihat seorang pendeta bertubuh tinggi besar tiba-tiba hadir di rumahnya, dan mengaku bernama Wasi Balawa. Ia pun mengawali cerita, yaitu tentang Desa Manahilan yang merupakan bagian dari Kerajaan Ekacakra. Adapun raja Ekacakra bernama Prabu Baka, yang berwujud raksasa dan gemar makan daging manusia. Pada mulanya ada seorang juru masak istana Ekacakra yang tanpa sengaja memotong jarinya sendiri hingga jatuh tercebur ke dalam masakan. Ketika masakan tersebut dihidangkan kepada Prabu Baka, tanpa sengaja jari yang putus tadi termakan olehnya. Prabu Baka merasa senang dan sejak saat itu ia menjadi gemar memakan daging manusia.

Pada mulanya, Prabu Baka menyantap para penjahat yang berada di dalam penjara. Juga ditetapkan, barangsiapa melanggar hukum di wilayah Ekacakra, maka akan mendapat hukuman menjadi mangsa Prabu Baka. Lama-lama para penjahat di penjara habis, dan juga para penduduk tidak ada yang berani melanggar hukum karena takut dimangsa Prabu Baka. Padahal, Prabu Baka sendiri semakin ketagihan memakan daging manusia.

Akhirnya, Prabu Baka pun menetapkan peraturan aneh, yaitu para kepala desa harus bergiliran menyediakan penduduknya sebagai makanan tiap tiga hari sekali. Barangsiapa yang terpilih menjadi mangsa Prabu Baka harus melumuri tubuhnya dengan bumbu botok dan datang ke istana Ekacakra dengan mengendarai pedati berisi nasi dan sayur, yang ditarik oleh dua ekor kerbau. Semua itu akan dilahap habis oleh Prabu Baka, termasuk dua ekor kerbau dan penduduk yang bernasib malang tadi.

Hari ini Desa Manahilan mendapat giliran menyediakan makanan untuk Prabu Baka. Sayang sekali, penduduk Manahilan sudah banyak yang mengungsi ke negeri tetangga, dan yang tersisa hanya tinggal orang-orang tua dan anak kecil. Sudah pasti Prabu Baka akan marah besar jika Desa Manahilan mengirim makanan seperti mereka.

Karena tidak ada lagi penduduk yang bisa dijadikan korban, maka putra Resi Ijrapa yang bernama Bambang Rawan pun mengajukan diri menadi mangsa Prabu Baka. Pemuda itu telah berangkat dengan mengendarai pedati menuju istana Ekacakra. Inilah yang membuat Resi Ijrapa dan Nyai Ruminta bertangis-tangisan. Mendengar cerita tersebut, Raden Bratasena segera pergi menyusul Bambang Rawan.

RADEN BRATASENA MEMBUNUH PRABU BAKA

Raden Bratasena yang berlangkah lebar berhasil menyusul pedati yang dikendarai putra Resi Ijrapa. Bambang Rawan sangat heran tiba-tiba ada pendeta tinggi besar menghadang perjalanannya. Raden Bratasena pun bercerita bahwa dirinya baru saja bertemu Resi Ijrapa dan Nyai Ruminta, serta mendengar cerita tentang Prabu Baka dari mereka. Untuk itu, Raden Bratasena datang menghadang untuk menggantikan Bambang Rawan sebagai santapan Prabu Baka.

Bambang Rawan keberatan karena tidak sepantasnya merepotkan tamu. Namun, Raden Bratasena tetap memaksa. Ia mengambil bumbu botok di dalam pedati dan membalurkannya ke sekujur tubuh. Bambang Rawan tidak dapat membantah lagi. Ia pun penasaran dan ingin melihat seperti apa kehebatan Raden Bratasena yang berani merebut pedatinya.

Demikianlah, Raden Bratasena dan Bambang Rawan telah sampai di istana Ekacakra. Prabu Baka keluar untuk menyambut mangsanya. Namun, betapa ia marah melihat pedati tersebut telah kosong karena semua makanan dan minuman di dalamnya dihabiskan oleh Raden Bratasena.

Prabu Baka melihat Raden Bratasena bertubuh tinggi besar, pasti memiliki daging yang banyak. Sebaliknya, Raden Bratasena justru memaki Prabu Baka sebagai raja yang tidak tahu diri. Seorang raja seharusnya melindungi rakyatnya, bukan malah mengancam dan menyebarkan kengerian di hati rakyat.

Prabu Baka semakin marah dan ia pun menyerang Raden Bratasena. Tidak lama kemudian terjadilah pertarungan sengit di antara mereka. Setelah beberapa lama, Prabu Baka akhirnya tewas terkena Kuku Pancanaka di tangan Raden Bratasena. Raja raksasa itu roboh dengan perut robek dan usus terburai keluar.

Bambang Rawan kagum melihat kehebatan Raden Bratasena. Mereka lalu bersama-sama pulang ke Desa Manahilan.

RESI IJRAPA BERSUMPAH UNTUK DEWI KUNTI DAN PARA PANDAWA

Resi Ijrapa dan Nyai Ruminta menyambut kedatangan Raden Bratasena dan Bambang Rawan dengan perasaan haru dan bahagia. Mereka mengaku tidak memiliki harta kekayaan untuk membalas kebaikan Raden Bratasena yang telah menyelamatkan seluruh penduduk Kerajaan Ekacakra. Raden Bratasena tidak meminta uang, tetapi meminta tumpeng nasi beserta lauk pauk dan sayur mayur untuk adik-adiknya yang sedang lapar. Mendengar itu, Resi Ijrapa, Nyai Ruminta, dan Bambang Rawan segera masuk ke dapur untuk menyiapkan permintaan tersebut.

Setelah tumpeng matang, Raden Bratasena segera membawanya kembali ke tempat sang ibu dan para saudara menunggu. Kedatangannya tepat bersamaan dengan datangnya Raden Permadi yang juga membawa tumpeng. Dewi Kunti mencium bau wangi pada tumpeng yang dibawa Raden Bratasena, sedangkan tumpeng yang dibawa Raden Permadi agak amis. Dewi Kunti dapat menebak bahwa tumpeng yang didapat Raden Bratasena berasal dari jasa baik mengadu nyawa menyelamatkan hidup banyak orang, sedangkan tumpeng yang dibawa Raden Permadi berasal dari hasil main-main dan bercanda.

Raden Permadi mengakui kebenaran ucapan sang ibu. Karena malu, ia berniat membuang tumpeng yang dibawanya itu. Namun, para panakawan segera meminta tumpeng tersebut untuk mereka makan, daripada dibuang-buang begitu saja. Demikianlah, Dewi Kunti dan para Pandawa lalu memakan tumpeng yang dibawa Raden Bratasena, sedangkan para panakawan memakan tumpeng yang dibawa Raden Permadi.

Tidak lama kemudian muncullah Resi Ijrapa, Nyai Ruminta, dan Bambang Rawan menyembah Dewi Kunti dan para Pandawa. Mereka memohon maaf karena telah menguping pembicaraan tadi sehingga kini mereka tahu bahwa Dewi Kunti dan para Pandawa adalah keluarga mendiang Prabu Pandu yang sedang menyamar sebagai para pendeta.

Dewi Kunti meminta Resi Ijrapa dan anak-istrinya agar tidak membocorkan keberadaan dirinya dan para Pandawa. Resi Ijrapa, Nyai Ruminta, dan Bambang Rawan menyanggupi. Tidak hanya itu, Resi Ijrapa juga bersumpah bahwa dirinya sekeluarga bersedia menjadi tumbal kemenangan para Pandawa jika kelak sampai berperang melawan para Kurawa. Dewi Kunti terharu mendengarnya dan berharap semoga tidak sampai terjadi perang antara para Pandawa dan Kurawa.

Demikianlah, Resi Ijrapa lalu memohon agar Dewi Kunti dan para Pandawa sudi beristirahat barang semalam di rumahnya. Dewi Kunti setuju. Mereka lalu bersama-sama berjalan menuju Desa Manahilan.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Kisah Raden Bratasena mengalahkan Prabu Baka menurut Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam Serat Pustakaraja Purwa terjadi pada tahun Suryasengakala 692 yang ditandai dengan sengkalan “Sikaraning Rudra angrasa barakan”, atau tahun Candrasengkala 713 yang ditandai dengan sengkalan “Geni sawukir sirna”.
















Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Bale Sigala-Gala

 No comments   


Kisah ini menceritakan Prabu Jalasengara raja Pringgala menyerang Kerajaan Hastina, yang dilanjutkan dengan peristiwa pembakaran Balai Sigala-gala yang dilakukan Patih Sangkuni dan para Kurawa untuk membunuh para Pandawa dan Dewi Kunti.

Kisah ini saya olah dari sumber kitab Mahabharata karya Resi Wyasa yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 21 Agustus 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Raden Bratasena dan Raden Puntadewa

RADEN PUNTADEWA DILANTIK SEBAGAI PANGERAN MAHKOTA

Adipati Dretarastra di Kerajaan Hastina memimpin pertemuan yang dihadiri oleh Resiwara Bisma, Dewi Gandari, Raden Yamawidura, Patih Sangkuni, Resi Druna, dan Resi Krepa. Hari itu mereka membahas tentang keberhasilan para Pandawa dalam menangkap Prabu Drupada dan Arya Gandamana di Kerajaan Pancala. Kini, setengah dari wilayah Kerajaan Pancala telah menjadi milik Resi Druna yang disatukan dengan Padepokan Sokalima. Sementara itu, Prabu Drupada pindah ke Pancala bagian selatan dan mendirikan negara baru bernama Kerajaan Cempalareja.

Sesuai dengan kesepakatan di awal, barangsiapa bisa menangkap Prabu Drupada dan Arya Gandamana, berhak menjadi ahli waris takhta Kerajaan Hastina. Maka, pada hari itu Adipati Dretarastra dengan berat hati melantik Raden Puntadewa sebagai pangeran mahkota. Dalam hati ia sangat kecewa karena bukan putra-putranya yang berhasil menaklukkan Kerajaan Pancala.

PRABU JALASENGARA MENANTANG RAJA HASTINA

Setelah upacara pelantikan selesai, tiba-tiba Raden Suyudana datang menghadap untuk menyampaikan surat yang dikirim Prabu Jalasengara, raja negeri Pringgala. Raden Yamawidura mewakili Adipati Dretarastra menerima surat itu dan membaca isinya yang ternyata berisi tantangan untuk raja Hastina. Dalam surat tersebut Prabu Jalasengara ingin menjadikan Hastina sebagai negeri jajahan Pringgala, baik itu secara damai ataupun dipaksa dengan cara kekerasan.

Adipati Dretarastra marah mendengar isi surat tersebut. Ia pun memerintahkan Patih Sangkuni untuk mempersiapkan pasukan guna menghadapi musuh dari Kerajaan Pringgala tersebut. Raden Suyudana mengajukan diri sebagai senapati demi melindungi negara. Namun, Patih Sangkuni mengusulkan agar Raden Puntadewa saja yang memimpin pertempuran. Tentu ini menjadi kesempatan baginya sebagai calon raja untuk membuktikan apakah mampu melindungi Kerajaan Hastina.

Raden Yamawidura melarang Raden Puntadewa pergi berperang karena ia paham Patih Sangkuni pasti berniat mencelakakan keponakannya itu. Namun, Patih Sangkuni menuduh Raden Yamawidura berburuk sangka kepadanya. Ia berpendapat bahwa seorang calon raja harus bisa melindungi negara dari ancaman musuh, bukannya malah enak-enakan tinggal di istana minta dilindungi.

Raden Yamawidura berkata bahwa Raden Puntadewa tidak perlu membuktikan diri lagi, karena dia sudah terbukti mampu menaklukkan Kerajaan Pancala beberapa waktu yang lalu. Patih Sangkuni menjawab memang benar Raden Puntadewa berhasil menaklukkan Kerajaan Pancala, tetapi yang ia pimpin saat itu hanyalah adik-adiknya yang berjumlah empat orang saja. Kali ini jelas beda, karena ia harus membuktikan diri apakah mampu memimpin bala tentara yang berjumlah ribuan orang.

Raden Puntadewa menyetujui pendapat Patih Sangkuni. Ia lalu meminta Adipati Dretarastra agar menunjuk dirinya sebagai senapati menghadapi Prabu Jalasengara. Adipati Dretarastra setuju. Raden Puntadewa pun diangkat sebagai senapati, sedangkan Raden Suyudana sebagai wakilnya. Setelah mendapat restu, mereka berdua segera keluar mempersiapkan pasukan.

PATIH SANGKUNI MERENCANAKAN KEMATIAN PARA PANDAWA

Setelah Adipati Dretarastra membubarkan pertemuan, Patih Sangkuni didampingi Bambang Aswatama (putra Resi Druna) menemui para Kurawa yang menunggu di paseban luar. Raden Suyudana bertanya mengapa tadi Patih Sangkuni mencegah dirinya menjadi senapati, tetapi justru mengusulkan Raden Puntadewa saja yang memimpin pasukan. Bukankah ini justru memberi peluang kepada para Pandawa untuk semakin disukai rakyat apabila mereka nanti berhasil memenangkan pertempuran?

Patih Sangkuni menjelaskan bahwa mata-matanya telah menyelidiki siapa itu Prabu Jalasengara dari Pringgala. Konon Prabu Jalasengara memiliki kesaktian tinggi dan banyak mengalahkan raja-raja lain di seberang lautan. Kini ia berniat menaklukkan Kerajaan Hastina yang merupakan negeri terbesar di Tanah Jawa. Patih Sangkuni merasa ini adalah kesempatan untuk menyingkirkan Raden Puntadewa beserta para Pandawa lainnya. Mereka berlima pasti menemui ajal di tangan Prabu Jalasengara. Dengan demikian, Raden Suyudana memiliki peluang besar untuk dilantik sebagai pangeran mahkota yang baru.

Raden Durmagati tidak yakin para Pandawa akan binasa di tangan Prabu Jalasengara. Justru ia berpendapat raja Pringgala itulah yang akan tewas di Kerajaan Hastina. Patih Sangkuni menjawab bahwa itu hanyalah rencana pertamanya saja. Jika sampai para Pandawa berhasil mengalahkan Prabu Jalasengara, ia mengaku masih memiliki rencana kedua yang saat ini belum bisa dibicarakan.

Raden Suyudana dapat menerima penjelasan sang paman. Ia lalu memerintahkan adik-adiknya, yaitu Raden Dursasana, Raden Surtayu, Raden Durmagati, Raden Kartawarma, Raden Citraksa, dan Raden Citraksi untuk menyiagakan pasukan, pura-pura berada di bawah perintah Raden Puntadewa.

PARA PANDAWA MENUMPAS PASUKAN PRINGGALA

Sementara itu, Prabu Jalasengara telah mengerahkan pasukan Pringgala untuk menyerang, dengan didampingi Patih Purotama dan Tumenggung Purocana. Tidak lama kemudian mereka pun berhadapan dengan pasukan Hastina yang dipimpin oleh Raden Puntadewa.

Raden Bratasena (Bima) dan Raden Permadi (Arjuna) meminta izin kepada Raden Puntadewa untuk maju ke garis depan. Raden Puntadewa merestui kedua adiknya itu. Raden Bratasena lalu menyerang Prabu Jalasengara, sedangkan Raden Permadi menyerang Patih Purotama.

Pertempuran pun meletus di antara kedua pihak. Raden Permadi berhasil menewaskan Patih Purotama, sedangkan Raden Bratasena masih sibuk bertarung melawan Prabu Jalasengara. Ternyata Prabu Jalasengara memang memiliki kesaktian tinggi, sehingga tidak percuma ia berani menantang Kerajaan Hastina. Setelah matahari condong ke barat, barulah Raden Bratasena berhasil membunuh raja dari Pringgala tersebut dengan susah payah.

PATIH SANGKUNI BERENCANA MEMBAKAR PARA PANDAWA

Sementara itu, Tumenggung Purocana ketakutan melihat raja dan patihnya tewas. Ia berniat melarikan diri tetapi tertangkap oleh Raden Suyudana dan Raden Dursasana. Kepada kedua Kurawa itu ia memohon ampun dan meminta agar dirinya jangan dibunuh. Patih Sangkuni muncul dan bertanya apa keuntungannya jika Tumenggung Purocana diampuni. Tumenggung Purocana menjawab bahwa dirinya ahli dalam membuat bangunan istana dari bahan apa saja. Ia berjanji akan membangun sebuah istana dari emas permata untuk Raden Suyudana.

Patih Sangkuni tidak tertarik pada istana emas permata. Ia berjanji akan mengampuni Tumenggung Purocana apabila mampu membangun sebuah istana dari bahan-bahan yang mudah terbakar di daerah Waranawata, sebelah selatan ibukota Kerajaan Hastina. Tumenggung Purocana menjawab sanggup dan segera mohon pamit untuk melaksanakan tugas tersebut, di bawah pengawasan Raden Dursasana.

Patih Sangkuni lalu berkata kepada Raden Suyudana agar mulai hari ini pura-pura bersikap baik kepada Raden Puntadewa. Atas kemenangan terhadap Prabu Jalasengara tadi, Raden Suyudana hendaknya menghadiahkan istana buatan Tumenggung Purocana kepada para Pandawa. Begitu menghuni istana tersebut, para Pandawa akan dibakar hidup-hidup di dalamnya seolah mereka mati kecelakaan. Dengan demikian, para Kurawa dapat berkuasa di Kerajaan Hastina tanpa harus dipersalahkan oleh Resiwara Bisma dan Raden Yamawidura.

Raden Suyudana bertanya bagaimana dengan Dewi Kunti yang selalu menemani anak-anaknya. Apabila para Pandawa dibakar di dalam istana Waranawata, bisa-bisa Dewi Kunti juga ikut terbakar. Dalam hal ini Raden Suyudana merasa tidak tega karena Dewi Kunti selalu menyayangi para Kurawa tidak beda dengan para Pandawa. Patih Sangkuni menjawab Dewi Kunti memang sangat baik dan welas asih. Untuk itu, lebih baik dia ikut mati bersama para Pandawa daripada hidup menderita karena berpisah dengan anak-anaknya. Jika sampai Dewi Kunti hidup sendiri tentu akan sangat menderita dan bisa-bisa menyusul bunuh diri.

Raden Suyudana akhirnya dapat menerima siasat sang paman yang keji itu. Ia pun berjanji akan menyimpan rapat-rapat rahasia ini sampai kelak waktunya tiba.

RADEN SUYUDANA MEMPERSEMBAHKAN ISTANA UNTUK PARA PANDAWA

Satu bulan kemudian Raden Dursasana mengirim laporan kepada Patih Sangkuni dan Raden Suyudana bahwa Tumenggung Purocana telah selesai membangun istana di Waranawata. Istana itu terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar, antara lain kayu kering, lilin, sendawa, damarsela, belerang, dan juga minyak gala-gala. Tumenggung Purocana menyebut istana buatannya itu dengan nama Balai Sigala-gala.

Patih Sangkuni memuji kehebatan Tumenggung Purocana yang mampu menyelesaikan tugasnya dalam waktu satu bulan. Ia pun membalas laporan Raden Dursasana agar Tumenggung Purocana tetap ditahan di Waranawata jangan boleh pergi dulu. Patih Sangkuni berjanji akan memberikan hadiah yang lebih besar setelah para Pandawa tewas.

Patih Sangkuni lalu memberi tahu Raden Suyudana bahwa rencana jahatnya sudah bisa dilaksanakan. Raden Suyudana segera berangkat menemui Raden Puntadewa. Setelah bertemu sepupunya itu, Raden Suyudana pura-pura meminta maaf karena selama ini para Kurawa sering berlaku jahat kepada para Pandawa. Kini ia sadar bahwa takhta Kerajaan Hastina memang hak milik Raden Puntadewa. Ia berjanji mulai hari ini semua Kurawa akan patuh terhadap perintah Raden Puntadewa. Sebagai bukti ketulusan hatinya, Raden Suyudana pun mempersembahkan sebuah istana indah di Waranawata sebagai tempat para Pandawa dan Dewi Kunti bertamasya.

Raden Puntadewa berterima kasih atas niat baik Raden Suyudana namun ia tidak dapat menerima pemberian istana tersebut. Raden Suyudana terus mendesak dengan mengatakan bahwa pemandangan di Kota Waranawata sangat indah. Para Pandawa sudah berjasa menaklukkan Prabu Drupada, Arya Gandamana, dan Prabu Jalasengara sehingga pantas mendapatkan libur beberapa hari untuk bertamasya dan beristirahat di istana Waranawata. Jika sampai Raden Puntadewa menolak pemberian ini maka itu akan sangat mengecewakan Raden Suyudana yang sudah berniat tulus ingin memperbaiki hubungan.

Raden Puntadewa yang pada dasarnya selalu berprasangka baik akhirnya menerima pemberian istana itu tanpa curiga sedikit pun. Ia bersedia menempati istana di Waranawata tersebut dan balik mengundang Raden Suyudana untuk ikut tamasya bersama. Raden Suyudana setuju dan menentukan pada bulan purnama nanti dirinya akan menemani para Pandawa dan Dewi Kunti pergi ke Waranawata.

RADEN PUNTADEWA MENANGKAP PESAN RAHASIA DARI RADEN YAMAWIDURA

Raden Yamawidura telah mendengar berita bahwa Raden Suyudana tiba-tiba berubah baik kepada para Pandawa dan mempersembahkan hadiah berupa istana di Waranawata. Karena curiga, ia pun mengirimkan pembantunya yang bernama Arya Jayasemedi untuk tugas rahasia menyelidiki istana tersebut. Setelah mengamati dengan seksama tanpa ketahuan, Arya Jayasemedi segera mengirim laporan kepada Raden Yamawidura bahwa istana di Waranawata itu terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar.

Raden Yamawidura menyimpulkan bahwa Raden Suyudana berniat membakar para Pandawa dan Dewi Kunti. Sayang sekali, Raden Puntadewa sudah terlanjur menerima hadiah tersebut, sehingga Raden Yamawidura tidak dapat membatalkannya. Namun demikian, pada hari ketika para Pandawa dan Dewi Kunti berpamitan kepada Adipati Dretarastra sekeluarga, Raden Yamawidura sempat menyampaikan pesan rahasia, yaitu tentang hewan tikus yang mampu menyelamatkan diri dengan memasuki lorong bawah tanah apabila terjadi kebakaran rumah. Para Pandawa tidak memahami maksud perkataan Raden Yamawidura itu, kecuali Raden Puntadewa. Diam-diam Raden Puntadewa dapat membaca pesan dari sang paman, bahwa para Kurawa berniat membakar istana Waranawata.

RADEN YAMAWIDURA MEMINTA BANTUAN RESI GUNABANTALA

Setelah para Pandawa dan Dewi Kunti berangkat menuju Kota Waranawata, diam-diam Raden Yamawidura pergi pula ditemani para panakawan menuju tempat tinggal mertuanya, yaitu Resi Gunabantala di Padepokan Argakumelun. Kepada sang mertua, Raden Yamawidura menceritakan tentang rencana para Kurawa yang ingin membakar para Pandawa dan ibu mereka di istana Waranawata. Untuk itu, ia pun memohon kepada Resi Gunabantala agar menyelamatkan para Pandawa dan Dewi Kunti sebagaimana dulu mertuanya itu pernah menyelamatkan Arya Gandamana saat dijebak Arya Suman (Patih Sangkuni) di dalam sumur upas.

Resi Gunabantala menyanggupi permintaan sang menantu. Ia pun mengheningkan cipta dan seketika wujudnya berubah menjadi seekor landak putih. Dengan cekatan hewan landak tersebut segera menggali terowongan bawah tanah menuju ke arah istana Waranawata berada.

TUMENGGUNG PUROCANA MENYEMBUNYIKAN JANDA BERANAK LIMA

Sementara itu di istana Waranawata, Tumenggung Purocana didatangi janda miskin bernama Nyai Bilasa yang meminta sedekah. Janda miskin tersebut memiliki lima anak laki-laki yang ikut mengemis bersamanya. Meskipun seorang gelandangan, namun Nyai Bilasa memiliki paras cantik dan berkulit hitam manis, membuat Tumenggung Purocana tertarik kepadanya.

Tumenggung Purocana pun berterus terang ingin menikahi Nyai Bilasa setelah dirinya mendapat hadiah dari Patih Sangkuni kelak. Ia lalu menyuruh janda miskin itu bersama kelima anaknya untuk bersembunyi di dapur istana. Mereka boleh makan dan minum sepuasnya, tetapi jangan sampai ketahuan para Kurawa dan Patih Sangkuni. Nyai Bilasa dengan senang hati bersedia menjadi istri Tumenggung Purocana. Dalam hati ia membayangkan bahwa sebentar lagi derajatnya akan meningkat luar biasa, dari seorang pengemis menjadi istri pejabat.

PATIH SANGKUNI MENGAJAK PARA PANDAWA BERPESTA

Para Pandawa dan Dewi Kunti ditemani Patih Sangkuni dan Raden Suyudana telah tiba di istana Waranawata. Mereka disambut Raden Dursasana dan Tumenggung Purocana yang telah berada di situ sejak awal pembangunan. Melihat keindahan istana yang dibangun Tumenggung Purocana hanya dalam waktu satu bulan tersebut membuat mereka merasa sangat takjub.

Malam harinya, Patih Sangkuni mengajak para Pandawa berpesta pora. Ia menghadirkan para penari serta berbagai macam makanan dan minuman untuk menjamu para Pandawa, sebagai hadiah atas kemenangan mereka menumpas Prabu Jalasengara. Dewi Kunti tidak menyukai acara tersebut dan memilih masuk ke kamar dengan ditemani si kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa.

Patih Sangkuni lalu mengajak Raden Puntadewa bermain dadu untuk menikmati indahnya malam. Raden Puntadewa mengaku tidak bisa sama sekali. Patih Sangkuni sanggup mengajarinya. Pada dasarnya Raden Puntadewa sangat cerdas, sehingga hanya belajar sebentar saja ia langsung paham.

Patih Sangkuni memulai permainan dadu sambil mengajak minum-minuman keras. Raden Puntadewa bersedia bermain, namun memilih minuman jenis lain yang tidak memabukkan. Raden Bratasena dan Raden Permadi juga demikian.

Demikianlah, Patih Sangkuni didampingi Raden Suyudana dan Raden Dursasana bermain dadu melawan Raden Puntadewa yang didampingi Raden Bratasena dan Raden Permadi. Mereka bermain sampai beberapa putaran sambil menikmati makanan dan minuman. Setelah lewat tengah malam, para Pandawa belum juga mengantuk, justru Raden Suyudana dan Raden Dursasana yang mulai mabuk akibat pengaruh minuman keras.

Patih Sangkuni gelisah karena rencana membakar istana Waranawata bisa gagal jika para Pandawa tidak segera tidur. Raden Puntadewa menyadari kegelisahan Patih Sangkuni itu. Ia pun pura-pura mengantuk. Merasa mendapat peluang, Patih Sangkuni segera menyudahi permainan dan mempersilakan para Pandawa untuk beristirahat di kamar.

PEMBAKARAN BALAI SIGALA-GALA

Setelah ketiga Pandawa masuk ke kamar, Patih Sangkuni dengan susah payah membangunkan Raden Suyudana dan Raden Dursasana. Mereka bertiga lalu keluar istana dan memulai pembakaran. Pada dasarnya istana Waranawata terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar, sehingga dalam sekejap saja api sudah membumbung tinggi dan berkobar menyala-nyala.

Tumenggung Purocana datang menemui Patih Sangkuni untuk menagih bayaran. Patih Sangkuni menjawab bahwa bayaran Tumenggung Purocana ada di dalam istana. Ia lalu memberi isyarat kepada Raden Dursasana. Tanpa ampun, Raden Dursasana pun menangkap Tumenggung Purocana, kemudian melemparkan tubuhnya ke dalam kobaran api.

Demikianlah, Patih Sangkuni telah melenyapkan saksi mata pembakaran Balai Sigala-Gala seolah-olah dia ikut mati terbakar bersama para Pandawa dan Dewi Kunti.

LANDAK PUTIH MENYELAMATKAN PARA PANDAWA DAN DEWI KUNTI

Ketika masuk ke dalam kamar tadi, Raden Puntadewa segera membangunkan Dewi Kunti dan si kembar agar mereka bersiaga. Begitu kebakaran terjadi, Raden Bratasena yang perkasa langsung menyambar ibu dan saudara-saudaranya untuk menyelamatkan diri. Dewi Kunti dipangul di pundak, Raden Puntadewa dan Raden Permadi digendong menggunakan lengan kanan, sedangkan si kembar digendong menggunakan lengan kiri. Raden Bratasena lalu berlari ke sana kemari dan sesekali melompat menghindari puing-puing bangunan yang berjatuhan karena dimakan api.

Api berkobar semakin besar. Si kembar mulai menangis ketakutan, sedangkan Raden Puntadewa tetap berdoa dengan penuh keyakinan bahwa bantuan yang dikirim Raden Yamawidura pasti segera datang. Benar juga, ketika jalan keluar sudah buntu dan hawa semakin panas, tiba-tiba muncul seekor landak putih yang bisa berbicara dari dalam tanah. Raden Bratasena teringat bahwa landak putih ini dulu pernah menolong Arya Gandamana saat terkubur di dalam sumur upas. Tanpa pikir panjang ia pun mengikuti landak putih tersebut terjun ke dalam terowongan bawah tanah sambil tetap menggendong ibu dan keempat saudaranya.

Pagi harinya, Balai Sigala-gala tinggal puing-puingnya saja. Patih Sangkuni, Raden Suyudana, dan Raden Dursasana menemukan mayat Tumenggung Purocana telah hangus menjadi arang. Mereka juga menemukan mayat seorang wanita dan lima laki-laki yang telah rusak dan tidak dapat dikenali lagi, berserakan di ruang dapur. Raden Suyudana dan Raden Dursasana pun bersorak-sorak karena yakin itu adalah mayat Dewi Kunti dan para Pandawa. Namun demikian, Patih Sangkuni menyuruh mereka pura-pura bersedih jika nanti melapor kepada Adipati Dretarastra di istana. Mereka harus mengarang cerita bahwa kebakaran ini terjadi akibat Raden Bratasena ceroboh menyenggol lampu minyak sehingga jatuh dan membakar dinding istana.

DEWI KUNTI DAN PARA PANDAWA MENOLAK PULANG KE HASTINA

Sementara itu, Raden Bratasena (sambil menggendong ibu dan saudara-saudaranya) masih berlari menelusuri terowongan bawah tanah mengikuti si landak putih. Setelah berlari lumayan jauh, mereka akhirnya sampai di permukaan, di mana Raden Yamawidura dan para panakawan telah menunggu.

Raden Yamawidura terharu dan bersyukur melihat kakak ipar dan para keponakannya selamat dari kebakaran. Namun demikian, Dewi Kunti menolak saat diajak kembali ke Kerajaan Hastina. Dewi Kunti adalah janda Prabu Pandu tetapi hidupnya dianiaya oleh Adipati Dretarastra sekeluarga. Meskipun Raden Yamawidura berniat menuntut keadilan untuk menghukum para Kurawa, tetap saja Adipati Dretarastra akan membela anak-anaknya itu. Maka, Dewi Kunti lebih baik mengajak para Pandawa hidup berkelana daripada tinggal di istana dengan perasaan tersiksa. Para Pandawa pun menyetujui keinginan sang ibu. Mereka menolak ikut sang paman pulang ke istana Hastina.

Raden Yamawidura dapat memahami perasaan kakak iparnya. Ia merasa ada baiknya para Pandawa pergi berkelana karena ini akan menambah pengalaman hidup bagi mereka. Untuk sementara ini, biarlah para Kurawa berpesta pora mengira para Pandawa dan Dewi Kunti telah meninggal dunia.

Dewi Kunti dan para Pandawa lalu berpamitan kepada Resi Gunabantala dan Raden Yamawidura. Tidak lupa mereka berterima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan. Raden Yamawidura lalu meminta Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong agar menemani kepergian para Pandawa dan Dewi Kunti. Para panakawan itu mematuhi dan ikut pergi berkelana bersama mereka.

PERKAWINAN RADEN BRATASENA DENGAN DEWI NAGAGINI

Dewi Kunti dan para Pandawa kini memulai hidup sebagai pengembara. Di tengah jalan tiba-tiba  mereka merasa dunia seperti berputar kencang dan tahu-tahu tubuh mereka sudah berada di dalam sebuah istana megah. Di dalam istana itu tampak seorang dewa yang menyambut kedatangan mereka dengan ramah.

Kyai Semar mengenali dewa tersebut tidak lain adalah Batara Anantaboga, sedangkan istana megah yang menjadi tempat tinggalnya adalah Kahyangan Saptapratala. Batara Anantaboga meminta maaf telah membawa mereka semua masuk ke dalam istananya yang terletak di bawah tanah menggunakan Aji Pameling. Ini semua karena permintaan putrinya yang bernama Dewi Nagagini. Tadi malam Dewi Nagagini bermimpi menikah dengan Raden Bratasena dan ketika bangun, ia mohon pamit kepada sang ayah untuk pergi mencari pangeran gagah tersebut. Namun, Batara Anantaboga melarang putrinya itu pergi dan ia sanggup mendatangkan Raden Bratasena beserta seluruh keluarganya di Kahyangan Saptapratala.

Melihat Dewi Nagagini yang cantik jelita ingin menjadi istrinya, Raden Bratasena merasa tidak keberatan. Namun, ia segan kepada sang kakak sulung, yaitu Raden Puntadewa jika dirinya menikah lebih dulu. Raden Puntadewa menjawab tidak masalah jika Raden Bratasena mendahului dirinya berumah tangga. Kelahiran atau perjodohan sudah menjadi suratan takdir Sang Pencipta. Seseorang yang lahir lebih dulu belum tentu bertemu jodohnya lebih dulu. Jika ada seorang adik sudah dianggap mampu dan siap untuk berumah tangga, maka sang kakak sebaiknya mendukung, bukannya menghalangi dengan berbagai macam alasan.

Batara Anantaboga memuji sifat luhur Raden Puntadewa. Ia lalu menikahkan Raden Bratasena dan Dewi Nagagini dengan upacara sederhana di Kahyangan Saptapratala.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Kisah Prabu Jalasengara menyerang Kerajaan Hastina, pembakaran Balai Sigala-gala, serta perkawinan Raden Bratasena dengan Dewi Nagagini menurut Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam Serat Pustakaraja Purwa terjadi pada tahun Suryasengakala 692 yang ditandai dengan sengkalan “Sikaraning Rudra angrasa barakan”, atau tahun Candrasengkala 713 yang ditandai dengan sengkalan “Geni sawukir sirna”.















Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ▼  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ▼  August (4)
      • Bima Bothok
      • Bale Sigala-Gala
      • Drupada Rangket
      • Pendadaran Siswa Sokalima
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja