Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Bambang Dewakasimpar

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna memanggil “kakang” kepada Kyai Semar dan juga perkawinan antara dirinya dengan Dewi Sulastri, yang kelak melahirkan Raden Sumitra.

Kisah ini saya olah dari sumber Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra yang dipadukan dengan ringkasan pentas Wayang Orang Panca Budaya (Bantul), dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 25 Maret 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

------------------------------ ooo ------------------------------

Bambang Dewakasimpar

PRABU TEJABIRAWA MELAMAR DEWI SUTIRAGEN

Tersebutlah sebuah negeri bernama Kerajaan Pulorajapeti yang dipimpin raja bernama Prabu Sasrasudarma. Raja ini memiliki tiga orang anak bernama Dewi Sutiragen, Raden Sucitra, dan Dewi Sulastri yang ketiganya sudah sama-sama dewasa. Pada suatu hari datang seorang raja bernama Prabu Tejabirawa dari Kerajaan Bandakasapta yang ingin meminang Dewi Sutiragen sebagai istrinya. Dewi Sutiragen yang tidak menyukai tingkah laku Prabu Tejabirawa menolak lamaran tersebut. Penolakan ini membuat Prabu Tejabirawa marah dan mengepung Kerajaan Pulorajapeti.

Prabu Sasrasudarma beserta Raden Sucitra segera memimpin pasukan untuk menghadapi pengepungan tersebut. Pertempuran sengit pun terjadi. Prabu Tejabirawa dan juga adiknya yang bernama Patih Sarabirawa ternyata sangat sakti. Prabu Sasrasudarma dan Raden Sucitra terdesak menghadapi kekuatan mereka. Melihat ayah dan adiknya hampir kalah, Dewi Sutiragen pun mendatangi medan perang untuk melerai yang sedang bertempur.

Dewi Sutiragen berkata bahwa dirinya bersedia menerima lamaran Prabu Tejabirawa namun dengan syarat harus dibuatkan jalan raya yang lurus tanpa berbelok, yang menghubungkan Kerajaan Pulorajapeti dengan Kerajaan Bandakasapta. Prabu Tejabirawa menerima syarat tersebut dan segera mohon pamit berangkat untuk mewujudkannya.

Setelah Prabu Tejabirawa dan Patih Sarabirawa pergi, Prabu Sasrasudarma bertanya apakah Dewi Sutiragen benar-benar bersedia menikah dengan Prabu Tejabirawa apabila jalan lurus tersebut dapat diwujudkan. Dewi Sutiragen menjawab dirinya terpaksa menerima pinangan Prabu Tejabirawa, meskipun tidak menyukai raja sombong tersebut. Biarlah dirinya saja yang menderita, asalkan bukan Prabu Sasrasudarma dan juga anggota keluarga lainnya yang menjadi korban.

Prabu Sasrasudarma terharu mendengar jawaban putri sulungnya. Ia segera mengutus Raden Sucitra agar pergi mencari bala bantuan untuk membebaskan Kerajaan Pulorajapeti dari ancaman Prabu Tejabirawa. Ia paham Dewi Sutiragen hanya mencari-cari alasan untuk menolak lamaran raja tersebut. Maka, apabila Prabu Tejabirawa dan Patih Sarabirawa kembali menyerang Kerajaan Pulorajapeti karena kecewa, Prabu Sasrasudarma sudah mempunyai jago untuk menghadapi mereka.

Raden Sucitra mematuhi perintah sang ayah dan segera mohon pamit melaksanakan tugas.

Sementara itu, Prabu Tejabirawa dan Patih Sarabirawa mengerahkan kesaktian mereka untuk membangun jalan raya lurus yang membentang dari istana Kerajaan Pulorajapeti menuju Kerajaan Bandakasapta. Sungguh luar biasa kesaktian kakak beradik ini. Mereka membangun jalan dengan menggunakan ilmu sihir. Apabila melewati sungai atau lautan, mereka membangun jembatan; dan apabila melewati gunung atau bukit, mereka pun menggali gua sehingga jalan tersebut benar-benar lurus tanpa berbelok. Adapun para prajurit Bandakasapta berjalan di depan mereka, untuk menggusur rumah penduduk ataupun menghabisi siapa saja yang dianggap menghalangi jalur jalan raya tersebut.

Prabu Tejabirawa

PRABU PUNTADEWA MENDAPAT LAPORAN TENTANG PRABU TEJABIRAWA YANG MEMBANGUN JALAN

Prabu Puntadewa di Kerajaan Amarta memimpin pertemuan dengan dihadap adik-adiknya, yaitu Arya Wrekodara, Raden Arjuna, Raden Nakula, dan Raden Sadewa. Mereka sedang membicarakan tentang Kyai Semar yang akhir-akhir ini lebih banyak mengurung diri di dalam rumahnya di Desa Karangkadempel. Meskipun Kyai Semar hanyalah seorang rakyat jelata biasa, namun Prabu Puntadewa sangat sayang dan hormat kepadanya. Kyai Semar sudah mengabdi sebagai pengasuh anak-cucu Resi Manumanasa secara turun-temurun hingga para Pandawa. Kyai Semar juga dianggap sebagai lambang suara rakyat kecil, di mana segala ucapan dan keluhannya selalu didengar dan dilaksanakan oleh Prabu Puntadewa.

Raden Arjuna menyebut sang kakak sulung terlalu berlebihan dalam memerhatikan Kyai Semar. Menurutnya, Kyai Semar adalah titisan Batara Ismaya (kakak Batara Guru) sehingga tidak perlu dikhawatirkan keadaannya. Justru sebaliknya, Kyai Semar-lah yang harus memerhatikan para majikan. Raden Arjuna menyebut Kyai Semar mungkin hanya letih karena terlalu sering mengikuti dirinya berkelana dan sekarang ingin berlibur mengambil cuti untuk beberapa waktu.

Ketika perundingan sedang berlangsung, tiba-tiba Patih Tambakganggeng datang menghadap. Ia melaporkan tentang adanya sejumlah prajurit raksasa dari Kerajaan Bandakasapta, yang dipimpin Prabu Tejabirawa dan Patih Sarabirawa, telah memasuki wilayah Kerajaan Amarta, tepatnya di Desa Karangkadempel. Kedatangan mereka adalah untuk membangun sebuah jalan raya lurus tanpa berbelok. Para prajurit Bandakasapta sibuk menggusur dan mengusir para penduduk desa, sedangkan Prabu Tejabirawa dan Patih Sarabirawa menciptakan jalan raya dengan menggunakan ilmu sihir mereka.

Mendengar laporan itu, Prabu Puntadewa segera memerintahkan Arya Wrekodara dan Raden Arjuna untuk mengambil tindakan demi melindungi rakyat. Keduanya pun mohon pamit berangkat, dengan didampingi Patih Tambakganggeng dan Raden Gatutkaca.

Prabu Puntadewa

PRABU TEJABIRAWA MENGHASUT RADEN ARJUNA AGAR BERGABUNG DENGANNYA

Arya Wrekodara dan Raden Arjuna bersama pasukan Amarta telah sampai di Desa Karangkadempel. Mereka segera menghalau para prajurit Bandakasapta yang sedang melakukan penggusuran. Pertempuran pun terjadi. Para prajurit Bandakasapta itu dapat dipukul mundur oleh pihak Amarta.

Prabu Tejabirawa mendapat akal untuk memecah kekuatan pasukan Amarta. Ia pun mendekati Raden Arjuna dan pura-pura mengajak berteman. Raden Arjuna curiga dan hendak meringkus raja tersebut. Namun, Prabu Tejabirawa dengan cekatan mengungkit soal Dewi Banuwati, mantan kekasih Sang Panengah Pandawa tersebut. Raden Arjuna terkejut dan bertanya dari mana Prabu Tejabirawa tahu soal dirinya pernah memiliki hubungan dengan Dewi Banuwati di masa lalu.

Prabu Tejabirawa menjawab hal itu tidak penting, karena yang paling penting adalah bagaimana caranya Raden Arjuna bisa mendapatkan Dewi Banuwati. Raden Arjuna merasa bimbang karena dalam hati ia memang masih mencintai sepupunya itu yang kini telah menjadi istri Prabu Duryudana di Kerajaan Hastina. Prabu Tejabirawa menjawab itu soal mudah. Membangun jalan raya yang lurus dari Kerajaan Pulorajapeti saja bisa ia lakukan, apalagi hanya soal merebut Dewi Banuwati dari tangan Prabu Duryudana. Prabu Tejabirawa berjanji akan menyihir pikiran Prabu Duryudana agar membenci dan menceraikan istrinya itu, sehingga Raden Arjuna bisa menikahinya.

Raden Arjuna tertarik dan bertanya apa yang bisa ia lakukan sebagai imbal balik. Prabu Tejabirawa pun berkata bahwa ia meminta bantuan Raden Arjuna untuk memukul mundur pasukan Amarta dan mengusir Kyai Semar dari rumahnya karena akan dilalui jalan raya yang ia dibangun. Raden Arjuna setuju. Ia pun melepaskan panah ke udara sambil membaca mantra. Tiba-tiba muncul angin topan yang menderu dan menerbangkan para prajurit Amarta meninggalkan Desa Karangkadempel.

Arya Wrekodara heran melihat adiknya yang tiba-tiba berubah pikiran dan kini menjadi teman Prabu Tejabirawa. Ia mencoba melawan namun tubuhnya ikut terlempar oleh angin topan yang dikerahkan Raden Arjuna tersebut.

Arya Wrekodara

KYAI SEMAR MENINGGALKAN DESA KARANGKADEMPEL

Setelah pasukan Amarta berhamburan diterjang angin, Raden Arjuna lalu masuk ke rumah Kyai Semar untuk memintanya segera pergi. Ia berkata bahwa rumah Kyai Semar akan digusur karena dilewati jalur jalan raya yang sedang dibangun Prabu Tejabirawa untuk menghubungkan Kerajaan Pulorajapeti dengan Kerajaan Bandakasapta.

Saat itu Kyai Semar sedang duduk termenung memikirkan istrinya yang telah lama hilang, yaitu Dewi Kanastren. Ia pun heran melihat Raden Arjuna tiba-tiba datang membela orang asing. Ia menasihati Raden Arjuna agar kembali pada tugasnya sebagai kesatria, yaitu melindungi seluruh rakyat dan setiap jengkal wilayah Kerajaan Amarta, bukannya justru membela musuh yang ingin merusak negaranya. Raden Arjuna tidak peduli dan tetap meminta Kyai Semar pergi. Ia berjanji akan memberikan desa lain sebagai tempat tinggal asalkan Kyai Semar bersedia pergi dari Desa Karangkadempel. Kyai Semar berkata bahwa ia tidak butuh desa yang baru, melainkan hanya ingin Raden Arjuna kembali ke jalan yang benar, tidak lagi membela musuh yang hendak menginjak-injak kedaulatan Kerajaan Amarta.

Raden Arjuna marah dan menakut-nakuti Kyai Semar menggunakan panah yang siap dilepaskan. Ia berkata bahwa dirinya telah memiliki segalanya, yaitu wajah yang tampan, ilmu kesaktian yang tinggi, beberapa istri yang cantik serta rukun, serta kekayaan yang cukup. Ia merasa sudah tidak perlu memiliki pengasuh segala. Dirinya sudah dewasa, sudah tidak membutuhkan saran dan nasihat dari Kyai Semar yang hanya seorang rakyat jelata.

Kyai Semar prihatin melihat perlakuan Raden Arjuna kepadanya. Ia merasa sangat sedih karena ucapannya sudah tidak lagi didengar oleh majikan yang paling ia sayangi itu. Kyai Semar pun mengheningkan cipta kemudian tubuhnya melesat terbang ke angkasa. Raden Arjuna penasaran dan segera mengejar ke mana pengasuhnya itu pergi.

Setelah Kyai Semar dan Raden Arjuna meninggalkan Desa Karangkadempel, Prabu Tejabirawa segera memerintahkan para prajuritnya untuk melanjutkan pembongkaran rumah. Nala Gareng, Petruk, dan Bagong berusaha menghalangi tetapi jumlah pasukan Bandakasapta terlalu banyak. Ketiga panakawan itu pun kabur melarikan diri.

Para prajurit Bandakasapta beramai-ramai hendak merobohkan rumah Kyai Semar tetapi gagal. Padahal, rumah tersebut hanyalah gubuk kayu biasa tetapi ternyata sulit sekali dirobohkan. 

Kyai Semar

KYAI SEMAR DIUBAH MENJADI TAMPAN

Kyai Semar melesat terbang hingga sampai di Kahyangan Awang-Awang Kumitir, tempat leluhur para dewa, yaitu Sanghyang Padawenang bersemayam. Sanghyang Padawenang pun menyambut putranya itu dan bertanya mengapa tiba-tiba datang berkunjung ke kahyangan. Kyai Semar menjawab bahwa dirinya sudah jenuh menjadi pengasuh para Pandawa. Ucapannya tidak lagi didengarkan dan ia kini merasa telah tersisih. Rupanya Raden Arjuna hanya menganggap para panakawan sebagai penghibur belaka, bukannya sebagai pengasuh yang bisa memberikan nasihat-nasihat kebaikan.

Sanghyang Padawenang menasihati Kyai Semar agar jangan mudah berputus asa. Dulu ketiga putra telah diatur pembagian perannya. Batara Guru si bungsu bertugas memimpin kahyangan sebagai raja para dewa. Batara Antaga bertugas sebagai pengasuh kaum raksasa dengan nama Kyai Togog, untuk mengarahkan mereka ke jalan yang benar. Sementara itu, Batara Ismaya sebagai Kyai Semar bertugas membimbing kaum kesatria agar tidak jatuh ke dalam kesesatan.

Sanghyang Padawenang mengingatkan Kyai Semar bahwa para Pandawa ditakdirkan menjadi para kesatria pembela kebenaran yang kelak berperan penting dalam menumpas angkara murka di muka bumi. Jika saat ini Raden Arjuna berbuat khilaf, maka sudah menjadi tugas Kyai Semar untuk mengembalikannya ke jalan yang benar. Justru apabila Raden Arjuna dibiarkan tetap khilaf, maka hal ini akan sangat berbahaya. Raden Arjuna memiliki kesaktian luar biasa, jangan sampai ia disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Kyai Semar memahami maksud Sanghyang Padawenang. Ia pun meminta wujudnya diubah menjadi kesatria tampan demi untuk menyadarkan Raden Arjuna. Ia ingin Raden Arjuna sadar dari kesombongan bahwa ada yang lebih tampan dan sakti daripada dirinya. Sanghyang Padawenang mengabulkan permintaan putranya itu. Wujud Kyai Semar pun diubah menjadi kesatria tampan, dan diberi nama Bambang Dewakasimpar. Makna dari nama itu ialah, dewa yang tersisih.

Bambang Dewakasimpar alias Kyai Semar berterima kasih atas bantuan Sanghyang Padawenang. Ia lalu mohon restu dan segera pamit undur diri meninggalkan Kahyangan Awang-Awang Kumitir.

Sanghyang Wenang

BAMBANG DEWAKASIMPAR MENAKLUKKAN RADEN ARJUNA

Bambang Dewakasimpar telah turun kembali ke dunia di mana ia bertemu Nala Gareng, Petruk, dan Bagong yang berlarian tak tentu arah. Ia pun bertanya mengapa mereka bertiga kabur meninggalkan Kerajaan Amarta. Ketiga panakawan itu heran dari mana Bambang Dewakasimpar tahu bahwa mereka berasal dari Kerajaan Amarta. Tidak hanya itu, Bambang Dewakasimpar juga berkata bahwa mereka bertiga mulai sekarang tidak perlu lagi mengabdi kepada para Pandawa, tetapi lebih baik mengabdi kepada dirinya saja.

Nala Gareng, Petruk, dan Bagong berunding lalu mereka pun sepakat menjadikan Bambang Dewakasimpar sebagai majikan yang baru. Tidak lama kemudian Raden Arjuna datang untuk mencari Kyai Semar. Ia heran bercampur marah melihat ketiga panakawan kini mengabdi pada majikan baru yang tidak dikenal dan tidak jelas asal usulnya.

Petruk mewakili saudara-saudaranya menjawab bahwa terserah mereka mau mengabdi pada siapa. Salah sendiri Raden Arjuna lebih suka menuruti hawa nafsu, tidak lagi menghargai para panakawan. Para panakawan diperlakukan hanya sebagai penghibur belaka, sebagai benda yang tidak punya perasaan. Kini ada Bambang Dewakasimpar yang tidak kalah tampan dibanding Raden Arjuna bersedia melindungi mereka, tentunya mereka pun dengan senang hati mengabdi kepadanya.

Raden Arjuna marah dan menantang Bambang Dewakasimpar bertarung. Apa gunanya memiliki wajah tampan tapi kalau tidak memiliki kesaktian yang cukup. Bambang Dewakasimpar pun menerima tantangan itu. Mereka lalu bertarung sengit disaksikan ketiga panakawan. Raden Arjuna terkejut melihat kesaktian lawannya. Lama-lama ia merasa terdesak dan akhirnya mengaku kalah.

Bambang Dewakasimpar menasihati Raden Arjuna agar jangan bersikap sombong merasa paling tampan, paling sakti, paling kuat, paling pintar, paling terhormat, karena di atas langit masih ada langit. Raden Arjuna mohon maaf telah berbuat khilaf karena didorong hawa nafsu. Ia pun bersedia mengabdi kepada Bambang Dewakasimpar. Bambang Dewakasimpar menerima pengabdian Raden Arjuna dan menjadikannya sebagai panakawan, bersaudara dengan Nala Gareng, Petruk, dan Bagong.

Raden Arjuna merasa sangat malu. Namun, sebagai pihak yang kalah ia tidak dapat membantah dan mau tidak mau harus menerima keputusan Bambang Dewakasimpar dengan lapang dada.

Para panakawan

BAMBANG DEWAKASIMPAR BERTEMU RADEN SUCITRA

Bambang Dewakasimpar dan para panakawan melanjutkan perjalanan. Mereka lalu bertemu Raden Sucitra, putra Prabu Sasrasudarma yang ditugasi mencari jago untuk menghadapi Prabu Tejabirawa dan Patih Sarabirawa. Bambang Dewakasimpar bertanya mengapa kedua orang itu harus dikalahkan. Raden Sucitra pun menceritakan semua dari awal hingga akhir, sampai pada cerita tentang kakaknya yang bernama Dewi Sutiragen mengajukan syarat kepada Prabu Tejabirawa agar dibuatkan jalan lurus yang menghubungkan Kerajaan Pulorajapeti dan Kerajaan Bandakasapta.

Bambang Dewakasimpar mendengar dengan seksama dan ia pun bersedia menjadi jago Kerajaan Pulorajapeti menghadapi Prabu Tejabirawa. Namun, ia meminta imbalan Dewi Sutiragen harus menjadi istrinya. Raden Sucitra tidak berani memutuskan, tetapi jika memang Bambang Dewakasimpar mampu mengalahkan Prabu Tejabirawa, maka ia akan membantu meminta ayahnya untuk mengabulkan hal itu.

Bambang Dewakasimpar menyanggupi. Mereka lalu berangkat bersama-sama menuju tempat Prabu Tejabirawa dan pasukannya yang masih tertahan di Desa Karangkadempel. 

Raden Sucitra

BAMBANG DEWAKASIMPAR MENGALAHKAN PRABU TEJABIRAWA

Prabu Tejabirawa dan Patih Sarabirawa masih sibuk berusaha merobohkan rumah Kyai Semar di Desa Karangkadempel. Tidak lama kemudian Bambang Dewa Kasimpar datang menantang mereka. Terjadilah pertempuran di mana Prabu Tejabirawa dan Patih Sarabirawa tidak mampu mengatasi kesaktian Bambang Dewakasimpar. Mereka pun bertempur dengan sengit hingga wujud masing-masing berubah. Bambang Dewakasimpar kembali menjadi Kyai Semar, sedangkan Prabu Tejabirawa berubah menjadi Kyai Togog, dan Patih Sarabirawa menjadi Bilung Sarahita.

Kyai Semar bertanya mengapa Kyai Togog (kakaknya) menyamar sebagai raja segala. Kyai Togog pun berkata bahwa dirinya sudah bosan menjadi pengasuh para raksasa. Mereka lebih suka menuruti hawa nafsu, menolak segala nasihat dan petuah yang ia berikan. Kyai Togog merasa tidak ada gunanya lagi punya suara tetapi tidak didengarkan. Lebih baik menjadi raja saja, biar bisa merasakan bagaimana nikmatnya memerintah, bukannya diperintah orang. Ia juga menyebut Kyai Semar jauh lebih bagus nasibnya karena mengasuh kaum kesatria. Mereka adalah ahli tapa yang cinta pada kebenaran, bukannya mengumbar nafsu pribadi seperti kaum raksasa.

Kyai Semar berkata bahwa Kyai Togog hanyalah iri tanpa mengetahui yang sebenarnya terjadi. Menjadi pamong para kesatria jauh lebih sulit karena yang diasuh adalah para ahli tapa, dan itu berarti Kyai Semar harus lebih rajin bertapa pula. Yang diasuh ahli puasa, maka Kyai Semar harus rajin berpuasa pula demi menjadi contoh bagi mereka, sehingga nasihatnya tidak dianggap sebagai nasihat semu. Kyai Togog jauh lebih bagus nasibnya karena yang diasuh para raksasa. Apabila tidak dapat dibina maka tinggal dibinasakan saja.

Kyai Togog merasa ucapan adiknya ada benarnya juga. Selama ini ia kesal karena nasihat-nasihatnya tidak didengar oleh kaum raksasa. Ia pun mengubah diri menjadi raja supaya bisa memerintah, bukan lagi diperintah. Namun, ternyata menjadi raja tidak seperti yang ia bayangkan. Tanggung jawabnya sangat besar dan kerjanya siang malam. Lebih baik menjadi panakawan saja, menyuarakan kebaikan meskipun tidak didengar.

Kyai Semar menjelaskan bahwa Kyai Togog tidak perlu berkecil hati karena memang demikianlah tugasnya di muka bumi. Kyai Togog adalah simbol hati nurani yang selalu berbisik tentang kebaikan. Itulah sebabnya Kyai Togog bisa berada di mana-mana. Kadang ia mengasuh raja ini, kadang ia muncul untuk mengasuh raja yang lain. Demikianlah, setiap manusia walaupun seorang penjahat sekalipun pasti memiliki hati nurani. Hanya saja, suara hati nurani para penjahat seringkali tidak didengar. Orang yang pertama kali berbuat jahat pasti ada rasa penyesalan. Namun, semakin sering ia berbuat jahat, semakin kebal perasaannya, karena memang ia sudah tidak bisa lagi mendengar bisikan hati nuraninya. Sama seperti nasib Kyai Togog. Semakin jahat raja raksasa yang diasuhnya, maka semakin kebal pula mereka terhadap nasihat kebaikan.

Kyai Togog dapat menerima penjelasan adiknya. Ia lalu mohon pamit untuk kemudian pergi meninggalkan Desa Karangkadempel bersama Bilung Sarahita.

Kyai Togog

KYAI SEMAR MELAMAR DEWI SUTIRAGEN

Raden Arjuna sangat terkejut melihat wujud asli Bambang Dewakasimpar ternyata adalah penjelmaan Kyai Semar. Ia pun meminta maaf tadi telah berbuat kasar kepada pamongnya itu, karena terdorong oleh nafsu ingin memiliki Dewi Banuwati seperti yang dijanjikan Prabu Tejabirawa kepadanya. Ia berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan kasarnya dan bersedia mendengaran nasihat-nasihat dari Kyai Semar.

Kyai Semar berkata bahwa tiada gunanya Raden Arjuna menginginkan Dewi Banuwati yang sudah bersuami. Di dunia ini masih banyak perempuan cantik yang masih gadis dan belum terikat oleh orang lain. Ia lalu bertanya kepada Raden Sucitra tentang perjanjian di awal tadi, yaitu menyerahkan Dewi Sutiragen kepadanya. Raden Sucitra agak ragu-ragu karena wujud asli Bambang Dewakasimpar yang tampan ternyata adalah Kyai Semar yang buruk rupa. Namun, karena sudah terlanjur berjanji, mau tidak mau ia pun mengantarkan Kyai Semar menuju Kerajaan Pulorajapeti.

Sesampainya di hadapan Prabu Sasrasudarma, Raden Sucitra bercerita panjang lebar tentang kehebatan Bambang Dewakasimpar dalam mengalahkan Prabu Tejabirawa dan Patih Sasrabirawa. Kini Bambang Dewakasimpar telah kembali ke wujud aslinya, yaitu Kyai Semar dan ia pun datang ke Pulorajapeti untuk meminta Dewi Sutiragen sebagai imbalan.

Prabu Sasrasudarma marah-marah menyebut Kyai Semar sebagai manusia lancang yang tidak melihat dirinya seperti apa. Kyai Semar hanyalah seorang tua bertubuh bulat gemuk, berwajah jelek, dan juga dari kalangan rakyat jelata tetapi berani malamar putrinya. Kyai Semar pun bertanya yang hendak menjalani rumah tangga itu Prabu Sasrasudarma ataukah Dewi Sutiragen? Lamaran Kyai Semar ini ditujukan kepada Dewi Sutiragen, maka biarlah dia saja yang menjawab bersedia atau tidak.

Prabu Sasrasudarma pun memanggil Dewi Sutiragen untuk menanyainya apakah bersedia menjadi istri Kyai Semar atau tidak. Sungguh di luar dugaan, ternyata putrinya itu menjawab bersedia dengan senang hati. Kyai Semar senang mendengarnya. Ia pun berkata kepada Prabu Sasrasudarma bahwa Dewi Sutiragen adalah penjelmaan Dewi Kanastren, yaitu istrinya yang telah lama hilang.

Prabu Sasrasudarma merasa sangat malu dan ia pun mengakui bahwa Dewi Sutiragen memang bukan putri kandungnya, tetapi putri angkat yang dipersaudarakan dengan kedua anaknya yang lain, yaitu Raden Sucitra dan Dewi Sulastri. Dewi Sutiragen pun berkata bahwa dirinya memang benar memiliki nama asli Dewi Kanastren, istri Kyai Semar yang sudah lama menghilang dari Desa Karangkadempel.

Prabu Sasrasudarma

RADEN ARJUNA MENIKAHI DEWI SULASTRI

Dewi Kanastren mohon pamit kepada Prabu Sasrasudarma dan ia berterima kasih banyak atas segala kasih sayang yang diberikan oleh ayah angkatnya itu selama ini. Prabu Sasrasudarma merasa sangat kehilangan, begitu pula dengan Raden Sucitra dan Dewi Sulastri yang selama ini telah menganggap Dewi Kanastren sebagai kakak kandung. Dewi Sulastri bahkan menangis dan ingin diajak serta apabila Dewi Kanastren pulang ke Desa Karangkadempel. Ia ingin agar selalu berada di dekat kakaknya tersebut.

Dewi Kanastren mendapat akal. Ia pun mengusulkan agar Dewi Sulastri menjadi istri Raden Arjuna saja. Dengan cara demikian, maka adiknya itu bisa selalu berada dekat dengannya, karena Desa Karangkadempel dan Kasatrian Madukara sama-sama berada di dalam wilayah Kerajaan Amarta.

Melihat wajah Dewi Sulastri yang cantik jelita, Raden Arjuna pun menyatakan setuju pada usulan Dewi Kanastren tersebut. Maka, ia segera melamar gadis itu kepada ayahnya. Prabu Sasrasudarma sudah sering mendengar berita tentang kehebatan Raden Arjuna namun baru kali ini bisa bertemu dengannya. Berdasarkan pertimbangan tersebut, ia pun merestui Raden Arjuna menjadi suami putri bungsunya.

Demikianlah, Prabu Sasrasudarma mengadakan upacara pernikahan antara Raden Arjuna dengan Dewi Sulastri. Setelah satu bulan berlalu, Raden Arjuna memboyong Dewi Sulastri menuju Kesatrian Madukara. Raden Sucitra yang tidak bisa jauh dengan adiknya juga menyatakan ikut serta dan ingin mengabdi di Kesatrian Madukara. Raden Arjuna pun menerima pengabdian kakak iparnya itu dan menjadikannya sebagai patih.

Karena Raden Arjuna telah menikah dengan Dewi Sulastri yang merupakan adik angkat Dewi Kanastren, maka mulai hari itu ia pun memanggil Kyai Semar dengan sebutan “kakang”.

Raden Arjuna

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


Untuk kisah kelahiran Kyai Togog, Kyai Semar, dan Batara Guru dapat dibaca di sini

Untuk kisah awal pertemuan Kyai Semar dengan Dewi Kanastren dapat dibaca di sini












Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Samba Lahir

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang lahirnya Raden Samba Wisnubrata, yaitu putra Prabu Kresna dan Dewi Jembawati yang kelak menjadi pangeran mahkota Kerajaan Dwarawati. Juga diceritakan asal mula Kesatrian Paranggaruda menjadi tempat tinggal Raden Samba.

Kisah ini saya olah dari sumber Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 18 Maret 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

Raden Samba Wisnubrata

------------------------------ ooo ------------------------------

DEWI JEMBAWATI DUA KALI MELAHIRKAN BAYI BERBULU KERA

Prabu Kresna Wasudewa di Kerajaan Dwarawati memimpin pertemuan, dengan dihadap Arya Setyaki dan Patih Udawa. Hadir pula sang kakak, yaitu Prabu Baladewa dari Kerajaan Mandura yang diiringi Patih Pragota dan Arya Prabawa. Hari itu Prabu Kresna sedang membicarakan istri nomor dua dan tiga, yaitu Dewi Rukmini dan Dewi Setyaboma yang sama-sama mengandung usia sembilan bulan. Ia berharap kedua istrinya itu melahirkan bayi berwujud normal, karena istri yang pertama, yaitu Dewi Jembawati telah dua kali melahirkan, dan semuanya berwujud bayi laki-laki berbulu lebat seperti kera.

Dewi Jembawati adalah putri kandung Resi Jembawan dan Dewi Trijata yang keduanya tinggal di Astana Gandamadana. Dewi Jembawati sendiri berparas cantik seperti ibunya. Prabu Kresna menikah dengan istri pertamanya itu ketika ia masih bernama Raden Narayana. Dari perkawinan tersebut telah lahir seorang putra berwajah tampan, tetapi sekujur tubuhnya berbulu lebat dan memiliki ekor seperti kera. Rupanya bayi tersebut mewarisi wujud Resi Jembawan yang seorang pendeta bangsa wanara. Prabu Kresna pun memberi nama putra pertamanya itu Raden Gunadewa. Resi Jembawan dapat membaca pikiran menantunya yang malu memiliki putra berwujud demikian. Maka, ia pun mengambil bayi Raden Gunadewa untuk dibesarkan di Astana Gandamadana daripada menjadi bahan pembicaraan di lingkungan istana.

Dua tahun berlalu setelah kejadian itu, Dewi Jembawati pun melahirkan lagi untuk yang kedua kalinya. Kali ini yang lahir seorang bayi laki-laki juga dengan sekujur tubuh berbulu lebat mirip kera, tetapi tidak memiliki ekor seperti kakaknya. Dewi Jembawati merasa malu sudah dua kali melahirkan selalu saja berwujud demikian. Padahal, sewaktu dirinya mengandung, Prabu Kresna pernah berjanji kelak setelah putra keduanya itu lahir, ia akan ditetapkan sebagai pangeran mahkota Kerajaan Dwarawati. Dewi Jembawati merasa malu karena gagal memberikan putra yang berwujud sempurna untuk suaminya. Diam-diam ia pun membawa putra keduanya itu pergi menuju Astana Gandamadana untuk tinggal di sana daripada menjadi bahan ejekan penghuni istana.

Demikianlah Prabu Kresna bercerita kepada Prabu Baladewa tentang kepergian Dewi Jembawati yang sudah dua bulan ini meninggalkan istana Dwarawati untuk tinggal bersama kedua orang tuanya, yaitu Resi Jembawan dan Dewi Trijata di Astana Gandamadana. Prabu Kresna merasa serbasalah. Dalam hati ia ingin menjemput pulang istri tertuanya itu, tetapi Dewi Jembawati pasti akan sangat malu apabila kedua putranya menjadi bahan pembicaraan penghuni istana atau penduduk ibu kota.

Prabu Baladewa merasa maklum atas apa yang menimpa rumah tangga adiknya. Sebenarnya mudah saja bagi Prabu Baladewa untuk menasihati Prabu Kresna agar tetap tabah dalam menghadapi cobaan hidup, atau menyarankan agar sang adik mencari hikmah di balik setiap musibah. Yang namanya rumah tangga, baik atau buruk harus diterima. Jangan hanya mau merasakan yang baik-baik saja, tetapi yang buruk pun harus dijalani juga dengan lapang dada. Namun demikian, Prabu Baladewa tidak berani menasihati seperti itu, karena andai saja ia yang mendapatkan cobaan hidup seperti ini, kemungkinan besar akan lebih marah dan bersedih daripada Prabu Kresna.

Prabu Baladewa pun bertanya apakah Prabu Kresna sudah mencoba meruwat kedua putranya menggunakan Kembang Wijayakusuma. Bukankah dulu Prabu Kresna semasa muda pernah meruwat bayi Prabu Supala yang bermata tiga, berlengan tiga, dan berkaki tiga, lantas mengapa sekarang tidak mencoba meruwat kedua putranya sendiri? Prabu Kresna menjawab ia sudah mencoba meruwat mereka tetapi rupanya dewata tidak mengizinkan hal itu terjadi. Keduanya pun tetap saja berbulu lebat seperti kera.

Prabu Kresna Wasudewa

PRABU KILATMAKA DARI PARANGGARUDA MELAMAR DEWI JEMBAWATI

Ketika Prabu Kresna dan Prabu Baladewa sedang membahas tentang Dewi Jembawati dan putranya, tiba-tiba datang seorang tamu bernama Patih Kilatwarna dari Kerajaan Paranggaruda. Laki-laki tersebut datang untuk menyampaikan surat dari rajanya yang bernama Prabu Kilatmaka. Prabu Kresna menerima surat itu dan membaca isinya, ternyata berisi lamaran Prabu Kilatmaka terhadap Dewi Jembawati. Dalam surat tersebut, Prabu Kilatmaka berterus terang meminta Prabu Kresna agar menceraikan Dewi Jembawati. Sebagai gantinya, ia berjanji akan memberikan sejumlah wanita cantik beserta emas permata sebanyak-banyaknya kepada Prabu Kresna.

Prabu Baladewa sangat marah begitu mendengar isi surat dari Prabu Kilatmaka tersebut. Ia pun menolak lamaran itu dan menyuruh Patih Kilatwarna segera pulang. Patih Kilatwarna berkata bahwa dirinya sudah mendapat wewenang sepenuhnya dari Prabu Kilatmaka untuk merebut Dewi Jembawati, baik itu melalui cara halus ataupun kasar. Lagipula Prabu Baladewa bukan suami Dewi Jembawati, mengapa pula ikut campur menolak lamaran Prabu Kilatmaka segala?

Prabu Baladewa semakin murka dan melabrak Patih Kilatwarna keluar dari istana. Prabu Kresna merasa prihatin di saat satu masalah belum selesai, tiba-tiba muncul satu masalah baru. Ia pun membubarkan pertemuan dan memerintahkan Arya Setyaki beserta Patih Udawa agar membantu Prabu Baladewa menghadapi serangan musuh.

Prabu Baladewa

PRABU BALADEWA MEMBUNUH PATIH KILATWARNA

Patih Kilatwarna keluar dari istana Dwarawati dan segera mempersiapkan pasukannya untuk berperang. Prabu Baladewa pun menghadapinya dengan mengerahkan pasukan Dwarawati, di mana di dalamnya terdapat Arya Setyaki, Patih Udawa, Patih Pragota, dan Arya Prabawa.

Pertempuran sengit pun terjadi. Pasukan Paranggaruda dapat dihancurkan oleh pihak Dwarawati. Bahkan, Patih Kilatwarna sendiri tewas di tangan Prabu Baladewa. Melihat pemimpinnya terbunuh, pasukan Paranggaruda menjadi berantakan. Ditya Kilatyaksa segera menarik mundur para prajurit yang masih hidup untuk kembali ke Kerajaan Paranggaruda, melapor kepada raja mereka, yaitu Prabu Kilatmaka.

Prabu Baladewa dengan angkuh mengejek kekuatan pihak Paranggaruda yang ternyata tidak sebanding dengan kesombongan Patih Kilatwarna. Prabu Kresna muncul dan berterima kasih atas bantuan kakaknya itu dalam menjaga keamanan Kerajaan Dwarawati. Namun, ia juga mengingatkan Prabu Baladewa untuk tidak takabur dan hendaknya tetap waspada terhadap segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Kedua raja kakak beradik itu kemudian masuk ke dalam istana, di mana Prabu Kresna menjamu Prabu Baladewa untuk merayakan kemenangannya.

Arya Prabawa dan Patih Pragota

RADEN ARJUNA MENEMUI DEWI JEMBAWATI

Sementara itu, Raden Arjuna diiringi para panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong datang berkunjung ke Astana Gandamadana untuk menjenguk Dewi Jembawati bersama bayinya. Resi Jembawan, Dewi Trijata, dan Dewi Jembawati pun menyambut kedatangan Pandawa nomor tiga itu dengan penuh sukacita. Tampak Dewi Trijata sedang memangku Raden Gunadewa, sedangkan Dewi Jembawati menggendong putra keduanya.

Raden Arjuna mengaku dirinya telah mendengar kabar tentang Dewi Jembawati yang pergi meninggalkan istana Dwarawati karena malu sudah dua kali melahirkan selalu saja berwujud bayi penuh bulu seperti kera. Hal ini membuat Raden Arjuna sangat prihatin dan ingin sekali membantu kesusahan kakak iparnya tersebut. Ia pun meminta petunjuk kepada Bagawan Abyasa di Padepokan Saptaarga. Menurut sang kakek, yang bisa meruwat putra Dewi Jembawati menjadi bayi nomal adalah Batara Sambu di Kahyangan Suwelagringging, dengan menggunakan air pusaka Mustika Tirtakencana.

Berbekal petunjuk tersebut, Raden Arjuna pun datang ke Astana Gandamadana agar diizinkan membawa kedua putra Dewi Jembawati naik ke Kahyangan Suwelagringging. Dewi Jembawati terharu mendengar niat baik Raden Arjuna. Ia lalu berunding dengan ayah dan ibunya mengenai hal ini. Resi Jembawan menyarankan agar putra yang nomor dua saja yang diserahkan kepada Raden Arjuna, karena dialah yang dijanjikan Prabu Kresna menjadi pangeran mahkota Kerajaan Dwarawati. Adapun putra yang pertama, yaitu Raden Gunadewa, biarlah tetap berbulu seperti ini. Resi Jembawan sudah sangat tua dan kelak jika sudah meninggal, ia ingin cucunya itu yang mewarisi jabatan sebagai juru kunci Astana Gandamadana sekaligus menjadi pendeta pula. Apabila Raden Gunadewa juga diruwat, maka dikhawatirkan ia akan lebih betah tinggal di istana Dwarawati daripada di Astana Gandamadana.

Raden Arjuna dapat memahami maksud baik Resi Jembawan. Ia lalu menggendong putra kedua Dewi Jembawati lalu mohon pamit berangkat menuju Kahyangan Suwelagringging dengan ditemani para panakawan.

Raden Arjuna
BATARA SAMBU MERUWAT PUTRA DEWI JEMBAWATI
                 
Atas petunjuk Kyai Semar, Raden Arjuna dapat mencapai Kahyangan Suwelagringging tempat Batara Sambu bersemayam. Batara Sambu ini tidak lain adalah putra sulung Batara Guru sang raja dewa. Ia menyambut kedatangan Raden Arjuna dan bertanya ada keperluan apa menemui dirinya.

Raden Arjuna berkata bahwa ia datang untuk memohon bantuan Batara Sambu agar meruwat bayi yang ada dalam gendongannya. Bayi tersebut adalah putra kedua Prabu Kresna dan Dewi Jembawati, yang terlahir dengan tubuh tertutup bulu lebat seperti kera. Menurut petunjuk kakeknya di Padepokan Saptaarga, bayi tersebut hanya bisa diruwat dengan air pusaka Mustika Tirtakencana milik Batara Sambu.

Batara Sambu meraih bayi tersebut dan menggendongnya dengan hati-hati. Prabu Kresna adalah titisan Batara Wisnu, sedangkan Batara Wisnu adalah adik kandung Batara Sambu yang nomor lima. Maka, bayi tersebut bisa dibilang masih keponakannya sendiri. Batara Sambu pun mengambil Mustika Tirtakencana dan mengusapkannya ke sekujur tubuh si bayi. Sungguh ajaib, seketika seluruh bulu kera yang tumbuh pada kulit si bayi pun rontok berjatuhan di lantai. Kini yang terlihat adalah sosok bayi tampan rupawan yang berkulit keemasan.

Batara Sambu lalu mengembalikan si bayi kepada Raden Arjuna dan berpesan agar segera membawanya pulang ke Kerajaan Dwarawati karena takdir lain menunggu di sana. Raden Arjuna menerima keponakannya itu dan mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan Batara Sambu. Ia lalu mohon pamit meninggalkan Kahyangan Suwelagringging untuk kembali ke Astana Gandamadana.

Batara Sambu

DEWI JEMBAWATI MEMBERI NAMA PUTRANYA RADEN SAMBA

Raden Arjuna dan para panakawan telah kembali ke Astana Gandamadana di mana Resi Jembawan, Dewi Trijata, dan Dewi Jembawati menunggu sejak tadi. Melihat kedatangan mereka, Dewi Jembawati yang paling gembira menyambut dan ia sangat terkejut melihat putranya kini telah berubah menjadi tampan sempurna, tidak lagi berbulu lebat seperti sediakala.

Resi Jembawan dan Dewi Trijata sudah tentu ikut bahagia melihat cucu mereka telah diruwat oleh Batara Sambu. Sebagai tanda terima kasih, Dewi Jembawati pun mengusulkan agar putranya itu diberi nama Raden Samba saja, sesuai dengan nama dewa yang telah meruwatnya. Resi Jembawan setuju dan sebaiknya itu nanti dibicarakan langsung dengan Prabu Kresna.

Raden Arjuna lalu menyampaikan pesan Batara Sambu bahwa si bayi Raden Samba harus segera dibawa pulang ke Kerajaan Dwarawati karena takdir lain sedang menunggu di sana. Dewi Jembawati menurut. Ia pun menggendong bayi Raden Samba untuk kemudian berangkat meninggalkan Astana Gandamadana. Resi Jembawan ikut serta mendampingi, sedangkan Dewi Trijata tetap tinggal bersama Raden Gunadewa.

Dewi Jembawati

PRABU KILATMAKA MENYERANG KERAJAAN DWARAWATI

Sementara itu, Prabu Kilatmaka raja Paranggaruda mendapat laporan dari Ditya Kilatyaksa, bahwa Patih Kilatwarna telah gugur melawan pasukan Kerajaan Dwarawati dalam usahanya merebut Dewi Jembawati. Prabu Kilatmaka sangat marah mendengar laporan tersebut. Ia pun memimpin langsung pasukan Paranggaruda untuk berangkat menggempur Kerajaan Dwarawati.

Singkat cerita, pasukan dari Paranggaruda itu telah sampai di tujuan. Prabu Baladewa kembali memimpin pasukan Dwarawati menghadapi serangan tersebut. Pertempuran sengit kembali terjadi. Prabu Baladewa yang tadinya meremehkan kekuatan Kerajaan Paranggaruda kini dibuat terdesak kewalahan oleh kesaktian Prabu Kilatmaka. Hingga akhirnya, tubuh Prabu Baladewa tiba-tiba menjadi lemas tak berdaya saat terkena air ludah Prabu Kilatmaka.

Melihat kakak sepupunya kalah, Arya Setyaki segera maju menyerang Prabu Kilatmaka. Keduanya pun bertarung sengit. Sama seperti nasib Prabu Baladewa, Arya Setyaki akhirnya roboh pula kehilangan tenaga karena terkena air ludah Prabu Kilatmaka.

Arya Setyaki

RADEN SAMBA MENGALAHKAN PRABU KILATMAKA

Prabu Kresna terkejut melihat Prabu Baladewa dan Arya Setyaki telah roboh tak berdaya menghadapi kesaktian musuh. Ketika ia berniat untuk maju sendiri melawan Prabu Kilatmaka, tiba-tiba terlihat rombongan Raden Arjuna datang, di mana terdapat Dewi Jembawati dan Resi Jembawan di dalamnya. Dewi Jembawati pun memperkenalkan bayi tampan yang ada pada gendongannya sebagai putra kedua mereka yang kemarin masih berbulu lebat seperti kera. Putra kedua itu kini telah diberi nama Raden Samba, karena diruwat oleh Batara Sambu.

Prabu Kresna senang melihatnya. Namun, ia tidak mau mengakui begitu saja apabila si bayi Raden Samba tidak dapat membuktikannya. Ia pun memerintahkan Raden Arjuna agar membawa Raden Samba terjun ke medan laga untuk mengalahkan Prabu Kilatmaka. Dewi Jembawati heran mendengarnya dan memohon kepada Prabu Kresna untuk tidak mencelakakan putra mereka. Prabu Kresna menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak mempunyai niat hendak mencelakakan anak sendiri. Ia hanya ingin Raden Samba membuktikan diri sebagai putra raja Dwarawati.

Raden Arjuna dapat memahami niat Prabu Kresna. Ia pun mengambil Raden Samba dari gendongan Dewi Jembawati lalu melesat pergi menghadapi Prabu Kilatmaka. Sesampainya di sana, Raden Arjuna segera menantang raja Paranggaruda itu di mana ia sendiri mengajukan Raden Samba.  

Prabu Kilatmaka marah merasa dipermainkan. Ia pun meludahi Raden Arjuna namun air ludahnya itu mengenai Raden Samba. Sungguh ajaib, bukannya lemas kehilangan tenaga, tubuh Raden Samba justru berubah menjadi anak-anak yang bisa berlari-lari ke sana kemari. Prabu Kilatmaka heran tidak percaya. Ia pun meludahi Raden Samba sekali lagi, dan kali ini tubuh Raden Samba berubah menjadi pemuda remaja dalam waktu seketika.

Raden Samba segera balas menyerang Prabu Kilatmaka. Dasar cucu Resi Jembawan, ia pun berkelahi seperti monyet yang melompat ke sana kemari dan juga menggigit telinga Prabu Kilatmaka. Prabu Kilatmaka merasa risih dan berusaha menangkap Raden Samba. Namun, Raden Samba semakin lincah dan sesekali berhasil memukul atau menendang raja Paranggaruda tersebut.

Prabu Kresna yang melihat dari kejauhan segera memanggil Raden Samba untuk meninggalkan musuhnya barang sejenak. Raden Arjuna pun menggandeng keponakannya itu untuk menghadap. Prabu Kresna merasa senang melihat kelincahan Raden Samba. Namun, ia tidak suka putranya berkelahi seperti seekor kera. Maka, ia pun meminjamkan Senjata Cakra kepada Raden Samba sebagai bekal untuk mengalahkan Prabu Kilatmaka.

Raden Samba menerima senjata tersebut dan kembali maju menghadapi Prabu Kilatmaka. Begitu jarak mereka tidak terlalu jauh, Raden Samba segera melemparkan Senjata Cakra yang tepat mengenai leher Prabu Kilatmaka. Seketika Prabu Kilatmaka pun tewas dengan leher putus.

Melihat rajanya terbunuh, Ditya Kilatyaksa marah dan memimpin pasukannya untuk melakukan bela pati, yaitu bertempur sampai mati melawan pasukan Dwarawati. Pertempuran sengit kembali terjadi. Akhirnya, Ditya Kilatyaksa pun tewas terkena panah Raden Arjuna.

Resi Jembawan

PRABU KRESNA MENGANGKAT RADEN SAMBA SEBAGAI PUTRA MAHKOTA

Prabu Kresna telah mengobati Prabu Baladewa dan Arya Setyaki dengan menggunakan Kembang Wijayakusuma. Mereka lalu bersama-sama memuji kemenangan Raden Samba. Karena Raden Samba mampu menggunakan Senjata Cakra dengan baik, Prabu Kresna pun memberikan nama tambahan untuknya, menjadi Raden Samba Wisnubrata. Hal ini karena Senjata Cakra adalah pusaka milik Batara Wisnu yang kemudian terlahir sebagai Prabu Kresna.

Sesuai janjinya, Prabu Kresna pun mengangkat Raden Samba sebagai putra mahkota Kerajaan Dwarawati. Adapun Kerajaan Paranggaruda yang kini telah kosong karena raja dan seluruh pasukannya tewas, menjadi negeri bawahan Dwarawati. Prabu Kresna pun mengubah Kerajaan Paranggaruda menjadi kesatrian sebagai tempat tinggal Raden Samba. Sejak saat itu, Raden Samba pun mendapat nama baru pula, yaitu Raden Kusuma Kilatmaka.

Prabu Kresna lalu mengadakan pesta syukuran untuk merayakan pelantikan Raden Samba Wisnubrata sebagai putra mahkota. Bersamaan dengan itu, Dewi Rukmini dan Dewi Setyaboma masing-masing melahirkan bayi laki-laki pula yang membuat Kerajaan Dwarawati semakin berbahagia. Prabu Kresna pun memberikan nama Raden Partajumena untuk putranya yang lahir dari Dewi Rukmini, serta Raden Setyaka untuk putranya yang lahir dari Dewi Setyaboma.
 

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


Untuk kisah perkawinan Prabu Kresna muda dengan Dewi Jembawati dapat dibaca di sini























Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ▼  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ▼  March (4)
      • Bambang Dewakasimpar
      • Samba Lahir
      • Cakranegara - Madubrangta
      • Bangun Taman Maherakaca
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja