Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Wirata Anyar Binangun

 No comments   

Kisah ini menceritakan Prabu Basupati membangun istana Wirata baru di Andongwilis dan untuk kemudian bertakhta di sana. Dikisahkan pula Raden Darmaruci putra Patih Sadaskara diutus pergi ke Gilingwesi untuk mengambil pusaka peninggalan Prabu Brahmasatapa yang disimpan Pisacaraja Bahli. Dengan menggunakan Minyak Pranawa, Prabu Basupati dapat melihat alam gaib dan bertemu Sedulur Papat Lima Pancer.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 24 Februari 2015

Heri Purwanto
------------------------------ ooo ------------------------------

PRABU BASUPATI HENDAK MEMBANGUN ISTANA BARU

Prabu Basupati telah satu tahun bertakhta di Kerajaan Purwacarita. Meskipun istana tempatnya tinggal sangat indah, namun ia merasa kurang nyaman. Resi Wisama menjelaskan bahwa sebuah istana yang pernah mengalami kekalahan oleh serbuan musuh memang tidak baik untuk ditempati sebagai pusat pemerintahan. Mendengar itu, Prabu Basupati pun mengutus Patih Wakiswara untuk mencari lahan kosong sebagai tempat mendirikan istana yang baru.

Patih Waksiwara berangkat dengan ditemani kedua pamannya, yaitu Arya Brahmanakestu dan Arya Brahmanaweda. Arya Brahmanakestu mengusulkan untuk menemui besannya yang tinggal di Desa Wasutira, yaitu Kyai Wrigu dan bertanya tentang lahan yang cocok untuk membangun istana. Patih Wakiswara setuju dan segera membawa rombongan menuju ke sana.

Kyai Wrigu dan Ken Sangki (istrinya) menyambut kedatangan para pembesar itu dengan hormat. Ketika Patih Wakiswara menanyakan tentang lahan yang cocok untuk membangun istana, Kyai Wrigu mengusulkan sebaiknya di Desa Andongwilis saja. Patih Waksiwara bergegas ke sana untuk memeriksa dan ternyata ucapan Kyai Wrigu terbukti benar. Desa Andongwilis memiliki tanah yang rata dan luas, serta mudah dijangkau.

Patih Waksiwara segera melapor kepada Prabu Basupati tentang Desa Andongwilis tersebut. Maka, Prabu Basupati pun mengeluarkan perintah kepada Patih Wakiswara untuk memulai pembangunan istana baru di sana.

EMPU KANOMAYASA TEWAS SAAT BEKERJA

Patih Waksiwara memimpin pembangunan istana baru di Desa Andongwilis. Ketika para pekerja menggali tanah untuk meletakkan batu pondasi, mereka menemukan sebongkah batu logam Brahmakadali. Patih Waksiwara pun mengirimkan batu logam tersebut kepada Prabu Basupati di Purwacarita.

Prabu Basupati segera memanggil dua bersaudara pembuat senjata, yaitu Empu Dewayasa dan Empu Kanomayasa untuk menempa batu logam Brahmakadali menjadi cangkul dan beliung yang dapat digunakan para pekerja menggali tanah. Namun, Empu Kanomayasa merasa sayang jika logam sebagus ini ditempa menjadi peralatan. Ia mengusulkan supaya sebagian dari batu tersebut ditempa menjadi senjata pusaka. Prabu Basupati setuju. Maka, Empu Dewayasa pun diperintahkan untuk membuat peralatan, sedangkan Empu Kanomayasa diperintahkan membuat persenjataan dari batu logam Brahmakadali tersebut.

Empu Dewayasa dan Empu Kanomayasa mulai bekerja. Karena membuat senjata pusaka, Empu Kanomayasa pun mengheningkan cipta mengerahkan kesaktiannya. Pada saat itulah dari jari-jari tangannya keluar api yang berkobar membakar dirinya sendiri sampai tewas.

Prabu Basupati sangat sedih mendengar berita itu. Ia pun menjemput janda Empu Kanomayasa, yaitu Dewi Kaniraras beserta kedua anaknya yang masih kecil, bernama Raden Prawa dan Dewi Prawita, supaya untuk selanjutnya tinggal di istana.

RESI BRAHMANARADYA MENGGANTIKAN RESI WISAMA YANG MENINGGAL

Beberapa hari kemudian, Prabu Basupati kembali mendapatkan berita duka, yaitu meninggalnya Resi Wisama, kepala pandita kerajaan. Setelah masa berkabung usai, Prabu Basupati pun mengangkat mertuanya (ayah Dewi Wakiswari dan Patih Wakiswara) sebagai kepala pandita yang baru, bergelar Resi Brahmanaradya.

Pada suatu hari Prabu Basupati dan Resi Brahmanaradya membicarakan kepandaian mendiang Resi Wisama dalam hal ilmu gaib. Prabu Basupati tertarik dan ingin sekali melihat seperti apa keadaan di alam sana. Resi Brahmanaradya bercerita bahwa kakak sepupunya, yaitu mendiang Prabu Brahmasatapa, memiliki abdi bernama Pisacaraja Bahli yang merupakan raja makhluk halus penjaga sanggar pemujaan di istana Gilingwesi. Konon Pisacaraja Bahli menyimpan tiga pusaka peninggalan Prabu Brahmasatapa, yaitu Mutiara Matuwahni, Sela Timpuru, dan Minyak Pranawa. Resi Brahmanaradya menjelaskan bahwa Minyak Pranawa itulah yang dapat digunakan untuk melihat keadaan alam gaib, yaitu dengan cara dioleskan pada kedua mata dan telinga.

Prabu Basupati semakin tertarik dan ingin memiliki ketiga pusaka tersebut. Resi Brahmanaradya menjelaskan bahwa Pisacaraja Bahli pernah berhutang budi kepada mendiang Patih Sadaskara. Maka, orang yang tepat untuk diutus mengambil ketiga pusaka itu adalah putra Patih Sadaskara yang bernama Raden Darmaruci.

Prabu Basupati pun memanggil Raden Darmaruci yang kini hidup sebatang kara. Meskipun ayahnya (Patih Sadaskara) gugur di tangan Prabu Basupati, dan ibunya (Dewi Satapi) menyusul bunuh diri, Raden Darmaruci mengaku tidak menyimpan dendam karena itu sudah menjadi suratan takdir. Prabu Basupati sangat senang mendengar kebesaran hati pemuda itu. Ia lalu mengungkapkan keinginannya untuk memiliki ketiga pusaka peninggalan Prabu Brahmasatapa yang kini dirawat Pisacaraja Bahli di istana Gilingwesi. Karena Pisacaraja Bahli pernah berhutang budi kepada mendiang Patih Sadaskara, maka Prabu Basupati pun menugasi Raden Darmaruci untuk mengambil ketiga pusaka tersebut.

Raden Darmaruci mematuhi perintah namun ia belum pernah pergi ke Gilingwesi, meskipun ibunya berasal dari sana. Maka, Prabu Basupati pun memerintahkan Arya Brahmanakestu untuk menemani kepergian pemuda itu.

RADEN DARMARUCI BERTEMU PISACARAJA BAHLI

Raden Darmaruci dan Arya Brahmanakestu telah tiba di istana Gilingwesi. Sejak Prabu Parikenan gugur dan Dewi Brahmaneki pindah ke Wirata, istana Gilingwesi menjadi kosong, namun tetap dirawat oleh Arya Brahmangkara, putra mendiang Patih Brahmasadana. Melihat Arya Brahmanakestu datang bersama seorang pemuda, Arya Brahmangkara pun menyambut dengan hormat. Arya Brahmanakestu lalu memperkenalkan Raden Darmaruci sebagai keponakan mendiang Prabu Parikenan, yaitu putra Dewi Satapi. Arya Brahmangkara sangat senang dan ia pun memerintahkan putrinya yang bernama Dewi Anitri untuk menyiapkan perjamuan.

Setelah perjamuan selesai, Arya Brahmangkara mengantarkan Raden Darmaruci dan Arya Brahmanakestu menuju sanggar pemujaan. Mereka lalu membakar dupa untuk memanggil keluar Pisacaraja Bahli. Raja makhluk halus itu pun muncul dan heran melihat wajah Raden Darmaruci serta bau badannya yang sangat mirip Patih Sadaskara. Raden Darmaruci pun memperkenalkan dirinya sebagai putra tunggal Patih Sadaskara dan Dewi Satapi. Ia diutus Prabu Basupati untuk mengambil ketiga pusaka peninggalan Prabu Brahmasatapa, yaitu Mutiara Matuwahni, Sela Timpuru, dan Minyak Pranawa. Pisacaraja Bahli sendiri telah mendengar bahwa Prabu Basupati kini menjadi penguasa tunggal di pulau jawa. Maka, ia pun mematuhi perintah tersebut dan menyerahkan ketiga pusaka peninggalan Prabu Brahmasatapa kepada Raden Darmaruci.

Raden Darmaruci menerima ketiga pusaka itu dan segera kembali ke Kerajaan Purwacarita bersama Arya Brahmanakestu.

PRABU BASUPATI PINDAH KE ISTANA BARU

Prabu Basupati di Kerajaan Purwacarita menerima kedatangan Raden Darmaruci dan Arya Brahmanakestu. Ia pun menerima ketiga pusaka peninggalan Prabu Brahmasatapa dengan senang hati. Sebagai hadiah, Raden Darmaruci diangkat sebagai punggawa, bergelar Arya Darmaruci.

Bersamaan dengan itu, Patih Wakiswara datang pula dan melaporkan bahwa pembangunan istana baru di Andongwilis telah selesai. Prabu Basupati gembira mendengarnya. Pada hari yang ditentukan, ia pun memimpin upacara pindah istana, yaitu meninggalkan Purwacarita menuju ke Andongwilis.

Sesampainya di sana, Prabu Basupati duduk di takhta dan mengumumkan untuk mengubah nama Andongwilis menjadi Wirata, sedangkan istana Wirata yang lama diganti namanya menjadi Medangkawuri. Kyai Wrigu selaku murid mendiang Resi Wisama mendapat tugas untuk merawat istana Medangkawuri tersebut, dengan bergelar Resi Wrigu. Sementara itu, istana Gilingwesi tetap dirawat oleh Arya Brahmangkara, yang kemudian mendapatkan gelar baru, yaitu Resi Brahmastungkara.

Prabu Basupati juga mengangkat Arya Brahmanaweda dan Arya Brahmanakestu menjadi pandita, bergelar Resi Brahmanaweda dan Resi Brahmanakestu. Kedudukan mereka sebagai punggawa kemudian digantikan oleh Raden Suganda (putra Resi Brahmanakestu), dengan bergelar Arya Suganda. Atas usul Resi Brahmanakestu pula, Prabu Basupati lalu menikahkan Arya Darmaruci dengan Dewi Anitri, putri Resi Brahmastungkara.

SEDULUR PAPAT LIMA PANCER

Pada suatu hari, Prabu Basupati yang masih penasaran dengan alam gaib berniat mencoba khasiat Minyak Pranawa. Setelah dioleskan pada mata dan telinga, Prabu Basupati dapat melihat sebuah istana gaib berwarna keemasan. Dari istana itu muncul seorang laki-laki berwarna kuning yang menjemput Prabu Basupati dan mengatakan bahwa dirinya dipanggil kakak tertua.

Prabu Basupati terheran-heran karena merasa tidak memiliki kakak. Namun karena penasaran, ia pun menurut saja menyertai laki-laki berwarna kuning itu. Ternyata di dalam istana emas tersebut telah duduk menunggu raja pria dan ratu wanita, serta tiga orang laki-laki lainnya, yang berwarna putih, merah, dan hitam. Laki-laki kuning tadi lalu bergabung dengan mereka. Dengan demikian, ada enam sosok makhluk gaib yang menyambut kedatangan Prabu Basupati.

Prabu Basupati sendiri bimbang karena raja pria dan ratu wanita itu mengaku sebagai kakaknya. Raja pria pun menjelaskan bahwa setiap manusia yang terlahir di dunia ini tidaklah sendiri, tetapi bersama keenam saudaranya. Dua yang tertua berwujud raja pria dan ratu wanita disebut Marmati, yang lahir lewat dada, yaitu wujud kecemasan ibu saat  hendak melahirkan. Yang lahir selanjutnya adalah saudara berwarna putih yang disebut Kawah, yaitu perwujudan dari air ketuban. Setelah itu lahir si bayi, dan dilanjutkan dengan kelahiran ketiga saudara lainnya, yaitu Ari-Ari yang berwarna kuning, Getih atau darah yang berwarna merah, dan Pusar yang berwarna hitam. Mereka semua inilah yang disebut Sedulur Papat Lima Pancer, atau saudara empat lima pusat yang selalu menyertai manusia, meskipun manusia sering tidak menyadarinya.

Raja pria itu menjelaskan kepada Prabu Basupati bahwa alangkah baiknya manusia merawat dan mengingat keberadaan para saudara yang tidak kelihatan itu, dan mereka pun siang malam akan selalu menjaga manusia tersebut. Prabu Basupati juga diajari cara melakukan sesaji kepada para saudara gaib untuk disebarluaskan kepada masyarakat Jawa. Selain itu, raja pria juga mengajarkan doa dan mantra yang hendaknya diucapkan setiap melakukan pekerjaan, supaya para saudara gaib senantiasa menemani dan membantu kelancaran pekerjaan itu. Jika akan tidur hendaknya doa dibaca pula supaya para saudara gaib memberikan penjagaan. Juga jika akan membuang kotoran hendaknya dibaca supaya para saudara gaib membantu membersihkan isi tubuh. Kelak jika tiba waktunya ajal, hendaknya yang dibaca adalah mantra pengruwatan supaya para saudara gaib itu ikut tersucikan dan tidak menjadi perusuh di dunia.

Dengan senang hati, Prabu Basupati mematuhi ajaran kakak gaibnya tersebut. Ia lalu mohon pamit kembali ke alam nyata untuk kemudian menyebarluaskan apa yang telah ia dapatkan.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke: daftar isi




Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Gilingwesi Bedah

 No comments   

Kisah ini menceritakan runtuhnya Kerajaan Gilingwesi akibat serangan Prabu Srikala raja Purwacarita yang sakit hati karena calon menantunya, yaitu Dewi Kaniraras telah dinikahkan dengan orang lain. Kisah dilanjutkan dengan peperangan antara Prabu Srikala dan Prabu Basupati yang berkhir dengan kekalahan pihak Purwacarita.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 20 Februari 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


DEWI KANIRARAS SAKIT PARAH

Prabu Parikenan di Kerajaan Gilingwesi sedang bersedih karena putri sulungnya, yaitu Dewi Kaniraras menderita sakit parah. Akibat rasa sakitnya itu, setiap hari Dewi Kaniraras selalu merintih dan tidak dapat tidur. Patih Sangkaya sudah diutus mencari obat ke mana-mana namun tidak dapat menyembuhkannya.

Prabu Parikenan lalu mengumumkan sayembara barangsiapa dapat menyembuhkan Dewi Kaniraras, maka ia akan dijadikan menantu, yaitu dinikahkan dengan putri sulungnya tersebut. Rupanya Prabu Parikenan lupa bahwa tiga tahun yang lalu Dewi Kaniraras telah diminta oleh Prabu Srikala untuk dijodohkan dengan Raden Sriwanda.

Maka, begitu sayembara diumumkan, para dukun, tabib, dan resi pun berdatangan untuk mengobati penyakit Dewi Kaniraras. Akan tetapi, tiada satu pun dari mereka yang berhasil menyembuhkan sang putri.

EMPU KANOMAYASA MENYEMBUHKAN DEWI KANIRARAS

Kepala pembuat senjata di Kerajaan Gilingwesi, yaitu Empu Dewarasa memerintahkan kedua putranya untuk mengikuti sayembara tersebut. Empu Dewarasa ini adalah adik dari Empu Darmarasa yang dulu dihukum mati Prabu Brahmasatapa (ayah Prabu Parikenan) karena menolak menyerahkan kedua putranya yang hendak dijadikan anggota Wadya Seseliran pemuas birahi Sri Maharaja Purwacandra di Medang Kamulan.

Kedua putra Empu Dewarasa yang bernama Empu Dewayasa dan Empu Kanomayasa segera menghadap Prabu Parikenan untuk mengikuti sayembara. Setelah Prabu Parikenan mempersilakan mereka untuk bertindak,  Empu Dewayasa pun maju lebih dulu dan meniup ubun-ubun Dewi Kaniraras sambil membaca mantra. Seketika Dewi Kaniraras berhenti menangis karena rasa sakitnya telah hilang. Akan tetapi, gadis itu tetap tidak dapat bangun dari tempat tidur, pertanda bahwa penyakitnya belum lenyap seluruhnya.

Empu Kanomayasa maju untuk mengobati Dewi Kaniraras dengan cara menjilati ubun-ubunnya sambil membaca mantra. Seketika Dewi Kaniraras pun mampu bangkit berdiri dan merasa tubuhnya pulih seperti sediakala. Prabu Parikenan sangat gembira dan ia pun mengumumkan Empu Kanoyasa sebagai pemenang sayembara dan berhak menikahi putrinya.

Empu Dewayasa tidak terima karena ia merasa dirinya juga berjasa telah meringankan penyakit Dewi Kaniraras. Khawatir terjadi perselisihan antara kakak beradik putra Empu Dewarasa itu, Prabu Parikenan segera turun tangan melerai mereka. Maka, ia pun memberikan hadiah sebidang tanah kepada Empu Dewayasa atas jasa-jasanya. Empu Dewayasa mematuhi dan ia pun merestui adiknya menikah dengan Dewi Kaniraras.

PRABU PARIKENAN MENOLAK LAMARAN PRABU SRIKALA

Pada suatu hari Prabu Parikenan menerima kedatangan Patih Sadaskara dari Kerajaan Purwacarita yang diutus Prabu Srikala untuk menyampaikan lamaran resmi perihal perjodohan Dewi Kaniraras dengan Raden Sriwanda. Prabu Parikenan baru ingat kalau dulu ia pernah bersepakat dengan Prabu Srikala untuk berbesan. Namun, saat itu Raden Sriwanda dan Dewi Kaniraras belum cukup umur, sehingga mereka pun sepakat menunda perjodohan sampai tiga tahun ke depan. Kini, waktu tiga tahun itu telah terlewati dan Prabu Srikala pun mengirimkan lamaran secara resmi dengan mengutus Patih Sadaskara.

Prabu Parikenan merasa serbasalah karena Dewi Kaniraras saat ini telah dinikahkan dengan Empu Kanomayasa selaku pemenang sayembara. Maka, dengan sangat terpaksa ia pun menolak lamaran tersebut, dan menitipkan surat balasan kepada Patih Sadaskara.

Prabu Srikala di Kerajaan Purwacarita sangat marah saat membaca surat balasan tersebut. Ia merasa tersinggung dan menuduh Prabu Parikenan telah mempermainkan kesepakatan dengannya tiga tahun silam. Pada saat itulah Batara Kala datang merasukinya untuk mengadu domba keturunan Batara Wisnu dengan Batara Brahma.

Setelah dirasuki Batara Kala, Prabu Srikala semakin gelap mata dan ia pun mengumpulkan pasukan untuk kemudian berangkat menyerang Kerajaan Gilingwesi. Mengetahui suaminya hendak berperang melawan kakaknya, Dewi Srini hanya bisa berdoa memohon kepada dewata supaya memberikan jalan yang terbaik.

PRABU PARIKENAN KALAH PERANG

Prabu Parikenan di Kerajaan Gilingwesi sangat terkejut mendengar berita bahwa Prabu Srikala telah datang menyerang. Ia pun mengerahkan pasukan untuk menghadapi serangan tersebut. Maka, pertempuran di antara mereka pun meletus tak terhindarkan lagi. Inilah perang saudara pertama antara keturunan Batara Brahma melawan keturunan Batara Wisnu.

Dalam pertempuran itu satu per satu punggawa kedua pihak berguguran. Dari pihak Purwacarita yang terbunuh adalah Arya Sadabekti dan Arya Sadagati, yaitu dua orang adik Patih Sadaskara. Sementara itu, dari pihak Gilingwesi yang gugur adalah Patih Sangkaya, Arya Jatmaka, dan Arya Sanyaki. Mereka bertiga tewas di tangan Patih Sadaskara.

Di sisi lain, Prabu Srikala yang telah dirasuki Batara Kala seolah mendapatkan kesaktian yang berlipat ganda. Ia berhasil membunuh empat sesepuh Kerajaan Gilingwesi, yaitu Resi Brahmastuti, Resi Brahmayana, Resi Brahmanasidi, dan Resi Brahmanajati. Mendengar keempat pamannya tewas, Prabu Parikenan sangat marah dan segera terjun ke medan perang untuk menghadapi Prabu Srikala.

Pertarungan antara kedua raja itu berlangsung seru. Prabu Srikala akhirnya berhasil memukul Prabu Parikenan dan membuat raja Gilingwesi itu terlempar jauh dari hadapannya. Pada saat itulah muncul Batara Narada menemui Prabu Parikenan dan menjelaskan bahwa sudah takdir Kerajaan Gilingwesi harus berakhir hari ini. Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka telah memutuskan untuk mengangkat Prabu Parikenan menjadi dewa, bergelar Batara Brahma’am. Mengenai anak dan istrinya akan tetap mendapatkan jalan keluar dari masalah ini.

Prabu Parikenan hanya bisa mematuhi keputusan dewata tersebut. Sejenak kemudian, Batara Narada pun mengangkat dirinya naik ke kahyangan.

DEWI BRAHMANEKI MEMINTA PERLINDUNGAN KE WIRATA

Prabu Srikala dan Patih Sadaskara heran melihat Prabu Parikenan tiba-tiba menghilang setelah terkena pukulan tadi. Mereka pun mencari ke mana-mana namun tidak dapat menemukannya.

Sementara itu di istana Gilingwesi, Dewi Brahmaneki dan anak-anaknya mendengar berita bahwa sang suami telah kalah perang namun tidak diketahui di mana keberadaannya. Pada saat itu yang masih hidup tinggal Arya Brahmanaradya, Arya Brahmanaweda, dan Arya Brahmanakestu, serta Empu Dewayasa, Empu Kanomayasa, dan Arya Brahmangkara (putra mendiang Patih Brahmasadana). Dewi Brahmaneki merasa Kerajaan Gilingwesi telah jatuh ke tangan musuh, sehingga ia pun memutuskan untuk mengungsi ke Kerajaan Wirata bersama mereka semua.

Prabu Basupati di Kerajaan Wirata terkejut melihat kedatangan Dewi Brahmaneki (adiknya) beserta rombongan. Mengetahui Kerajaan Gilingwesi telah runtuh diserang Prabu Srikala yang melupakan ikatan persaudaraan, Prabu Basupati sangat marah dan segera menghimpun pasukan untuk menyerang Kerajaan Purwacarita.

PRABU BASUPATI MENGALAHKAN PRABU SRIKALA

Prabu Srikala di Kerajaan Purwacarita mendengar berita bahwa Prabu Basupati datang menyerang demi membalaskan kekalahan Prabu Parikenan. Maka, Patih Sadaskara pun dikirim untuk menghadapi serangan tersebut. Akan tetapi, Patih Sadaskara akhirnya tewas di tangan Prabu Basupati.

Prabu Srikala sangat marah dan terjun ke medan perang. Setelah bertempur cukup lama menghadapi Prabu Basupati (yang masih terhitung pamannya), akhirnya ia mengalami kekalahan dan tubuhnya pun diikat menggunakan rantai. Pada saat itulah Batara Kala keluar dari tubuh Prabu Srikala dengan perasaan puas telah mengadu domba keturunan Batara Wisnu dan Batara Brahma.

Tidak lama kemudian, Dewi Srini datang bersimpuh dan memohon supaya Prabu Basupati mengampuni nyawa Prabu Srikala. Dewi Srini tidak ingin kehilangan suami setelah dirinya kehilangan dua orang saudara, yaitu Prabu Parikenan yang gugur dalam pertempuran, dan Dewi Satapi yang bunuh diri menyusul kematian Patih Sadaskara.

Prabu Basupati akhirnya mengabulkan permohonan Dewi Srini itu. Prabu Srikala tidak dijatuhi hukuman mati, tetapi diturunkan dari takhta Purwacarita dan dibuang ke Hutan Dantawu.

PRABU SRIKALA MENINGGAL DI HUTAN

Prabu Srikala dan Dewi Srini beserta putra mereka, yaitu Raden Sriwanda, juga para keponakan, yaitu Raden Artaetu, Raden Etudarma, dan Raden Darmahanara berangkat menjalani pengasingan menuju ke Hutan Dantawu. Sesampainya di sana, mereka pun membangun sebuah permukiman sederhana yang diberi nama Desa Andong.

Setelah kehilangan takhta, Prabu Srikala mengganti gelarnya menjadi Begawan Srikala. Meskipun kini menempuh jalur rohani, namun ia senantiasa terkenang pada kekalahannya di tangan Prabu Basupati. Karena terlalu banyak berpikir, Begawan Srikala akhirnya jatuh sakit dan meninggal dunia.

PRABU BASUPATI MENDUDUKI TAKHTA PURWACARITA

Sementara itu, Prabu Basupati yang kini menduduki istana Purwacarita sangat kagum melihat keindahan di dalamnya dan merasa enggan untuk kembali ke Wirata. Karena berniat ingin menetap di Purwacarita, maka Patih Wakiswara pun diutus pulang untuk menjemput seluruh anggota keluarga di sana.

Setelah Patih Wakiswara datang kembali bersama kedua permaisuri dan para putra, Prabu Basupati pun mengumumkan bahwa mulai hari ini ia bertakhta di bekas istana Purwacarita.

Demikianlah, dengan berakhirnya kekuasaan Prabu Parikenan dan Prabu Srikala, maka Prabu Basupati kini menjadi satu-satunya raja yang berkuasa di Tanah Jawa.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke: daftar isi





Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Begawan Kalacakra

 No comments   

Kisah ini menceritakan kematian Prabu Brahmasatapa dan pelantikan Raden Parikenan sebagai raja Gilingwesi yang baru. Prabu Sri Mahawan juga meletakkan jabatannya dan mengangkat Raden Wahnaya sebagai raja Purwacarita, bergelar Prabu Srikala. Prabu Sri Mahawan lalu menjadi brahmana bergelar Begawan Kalacakra. Kisah dilanjutkan dengan diangkatnya Begawan Kalacakra menjadi dewa.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra, dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 17 Februari 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


PRABU BRAHMASATAPA MEMBUNUH KATAK BERTAPA

Pada suatu hari Prabu Brahmasatapa berburu di hutan dengan ditemani Patih Brahmasadana. Setelah puas mendapatkan banyak kijang, kelinci, dan babi hutan, mereka pun berniat pulang. Dalam perjalanan menuju istana Gilingwesi, Prabu Brahmasatapa dan Patih Brahmasadana menjumpai seekor katak yang sedang bertapa.

Prabu Brahmasatapa merasa heran sekaligus geli melihat pemandangan aneh tersebut. Ia pun mengejek si katak untuk apa bertapa segala, apakah ingin menjadi dewa katak? Patih Brahmasadana sebenarnya tidak setuju pada sikap Prabu Brahmasatapa, namun ia diam saja tanpa berkata apa-apa. Sementara itu, Prabu Brahmasatapa terus-menerus menertawakan katak tersebut dengan sikap menghina.

Tak disangka, katak itu mampu berbicara dan mengatakan bahwa Prabu Brahmasatapa tidak sepantasnya merendahkan sesama makhluk. Meskipun sebagai binatang namun jika mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Mahakuasa tentu derajatnya lebih mulia daripada manusia yang mengedepankan angkara murka. Prabu Brahmasatapa sangat tersinggung pada ucapan tersebut. Ia pun membunuh katak itu dan merobek-robek bangkainya.

Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap dan halilintar menyambar-nyambar. Terdengar suara si katak berkumandang di angkasa, mengatakan bahwa sebentar lagi Prabu Brahmasatapa akan mendapatkan balasan dari dewata. Mendengar itu, Prabu Brahmasatapa dan Patih Brahmasadana merinding ketakutan dan buru-buru pergi meninggalkan tempat tersebut.

PRABU BRAHMASATAPA DAN PATIH BRAHMASADANA MENINGGAL DUNIA

Sesampainya di istana Gilingwesi, Prabu Brahmasatapa sangat menyesali perbuatannya dan jatuh sakit. Setelah dirawat beberapa hari ternyata sakitnya bertambah parah dan akhirnya ia pun meninggal dunia. Sementara itu, Patih Brahmasadana juga merasa bersalah karena sebagai menteri utama, harusnya ia mengingatkan rajanya jika berbuat kesalahan. Patih Brahmasadana merasa gagal dalam menjalankan tugas dan ia pun meletakkan jabatannya, lalu masuk ke sanggar pemujaan untuk mengheningkan cipta, melepaskan rohnya sendiri.

Kerajaan Gilingwesi pun berkabung. Prabu Sri Mahawan dari Kerajaan Purwacarita, Prabu Basupati dari Kerajaan Wirata, dan Prabu Sriwahana dari Kerajaan Medang kamulan datang menyampaikan belasungkawa. Setelah masa berkabung selesai, Raden Parikenan dilantik sebagai raja Gilingwesi yang baru, bergelar Prabu Parikenan. Adapun yang diangkat sebagai menteri utama adalah menantu Patih Brahmasadana yang bernama Arya Sangkaya, putra Arya Brahmastuti. Sementara itu, yang dijadikan sebagai punggawa kerajaan adalah Arya Sanyaki putra Arya Brahmastuti, dan Arya Jatmaka putra Arya Brahmayana. Prabu Parikenan lalu mengangkat pula keempat pamannya sebagai pandita kerajaan, yang masing-masing kemudian bergelar Resi Brahmastuti, Resi Brahmayana, Resi Brahmanasidi, dan Resi Brahmanajati.

PRABU SRI MAHAWAN TURUN TAKHTA MENJADI BRAHMANA

Setelah upacara pelantikan Prabu Parikenan sebagai raja Gilingwesi usai, para tamu pun mohon pamit kembali ke negeri masing-masing. Dalam perjalanan pulang menuju Kerajaan Purwacarita, Prabu Sri Mahawan selalu merenung memikirkan kematian Prabu Brahmasatapa yang sangat mendadak. Ia merasa seorang raja yang memiliki kekuasaan besar dan ilmu kesaktian tinggi tetap saja tidak dapat menghindar dari maut, apalagi kalau berbuat salah terhadap sesama ciptaan Tuhan Yang Mahakuasa. Setelah berpikir keras, Prabu Sri Mahawan akhirnya memutuskan untuk turun takhta dan menjadi brahmana agar bisa lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Maka, begitu sampai di istana, Prabu Sri Mahawan pun mengumumkan pengunduran dirinya dan menyerahkan takhta Kerajaan Purwacarita kepada putra nomor dua, yaitu Raden Wahnaya (karena putra sulung telah menjadi raja di Medang Kamulan). Prabu Sri Mahawan lalu menjadi brahmana bergelar Begawan Kalacakra dan membangun sebuah tempat pertapaan yang diberi nama Candi Astaka.

Raden Wahnaya pun dilantik menjadi raja Purwacarita yang baru, bergelar Prabu Srikala. Sementara itu, Patih Pujangkara juga meletakkan jabatannya sebagai menteri utama, dan digantikan putranya, yang bergelar Patih Sadaskara.

BATARA GURU MENGUJI KESUNGGUHAN BEGAWAN KALACAKRA

Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka mendapat laporan dari Batara Indra bahwa para bidadari di Kahyangan Suralaya merasa kepanasan karena hawa pertapaan yang dipancarkan Begawan Kalacakra dari Candi Astaka. Rupa-rupanya Begawan Kalacakra bertapa ingin mencapai kesempurnaan hidup dan mendapatkan derajat kemuliaan yang lebih tinggi.

Batara Guru pun mengutus Batari Durga untuk menguji kesungguhan Begawan Kalacakra. Batari Durga segera mengubah wujudnya menjadi Batara Guru palsu dan mendarat di Candi Astaka. Mengetahui kedatangan Batara Guru palsu tersebut, Begawan Kalacakra pun bangun dari samadi dan menyambutnya dengan hormat.

Batara Guru palsu lalu menguji ilmu pengetahuan Begawan Kalacakra. Mereka berdua kemudian terlibat perdebatan adu kepandaian hingga akhirnya Batara Guru palsu kalah dan kembali ke wujud Batari Durga, kemudian buru-buru pergi meninggalkan candi tersebut.

BEGAWAN KALACAKRA DIANGKAT MENJADI DEWA

Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka menerima laporan dari Batari Durga bahwa Begawan Kalacakra telah lulus ujian. Rupanya di antara ketiga raja yang dulu berguru kepada Sri Maharaja Wisaka (Batara Ajisaka), yang berhasil menyerap ilmu paling banyak adalah Prabu Sri Mahawan atau Begawan Kalacakra tersebut.

Batara Guru lantas mengutus Batara Narada untuk menjemput Begawan Kalacakra dan mengangkatnya menjadi dewa seperti kedua kakaknya terdahulu, yaitu Dewi Sri dan Raden Sadana. Batara Narada segera mohon pamit berangkat melaksanakan tugas tersebut.

Batara Narada telah tiba di Candi Astaka menemui Begawan Kalacakra yang sedang bersamadi. Begawan Kalacakra terbangun dan menyambut Batara Narada dengan penuh hormat. Dengan penglihatannya yang tajam, ia dapat membedakan bahwa yang datang kali ini adalah Batara Narada asli, sedangkan yang tadi mendebatnya adalah Batara Guru palsu.

Batara Narada menjelaskan maksud kedatangannya adalah untuk menjemput Begawan Kalacakra menjadi dewa penghuni kahyangan sebagaimana kedua kakaknya dulu, yaitu Dewi Sri dan Raden Sadana. Begawan Kalacakra tunduk dan menurut pada keputusan tersebut. Maka, Batara Narada pun membawanya naik ke kahyangan dan menjadikannya sebagai dewa bergelar Batara Kalacakra. Namun demikian, yang dibawa Batara Narada hanyalah roh Batara Kalacakra saja, sedangkan jasadnya ditinggalkan di dalam Candi Astaka.

PRABU SRIWAHANA MENINGGAL DUNIA

Prabu Srikala sangat terkejut saat mengetahui sang ayah telah meninggal dunia dan jasadnya ditemukan dalam keadaan duduk bersila di ruangan Candi Astaka. Ia lalu mengirimkan berita duka itu kepada sang kakak di Kerajaan Medang Kamulan, yaitu Prabu Sriwahana.

Prabu Sriwahana sangat terkejut mendengar kematian ayahnya yang sangat mendadak. Karena hatinya terlalu berduka, ia pun jatuh sakit dan meninggal pula. Istrinya yang bernama Dewi Hartati lalu melakukan bela pati menyusul kematian Prabu Sriwahana.

Prabu Sriwahana dan Dewi Hartati meninggalkan tiga orang putra yang masih kecil-kecil, bernama Raden Artaetu, Raden Etudarma, dan Raden Darmahanara. Ketiganya kemudian dibawa Resi Salikoswa dan Patih Kusalya menemui Prabu Srikala di Kerajaan Purwacarita.

Prabu Srikala sangat terkejut bercampur sedih mendengar berita kematian kakak dan kakak iparnya yang mendadak itu. Ia pun mengambil ketiga putra mereka yang diantarkan Resi Salikoswa dan Patih Kusalya untuk dijadikan sebagai anak angkat dan dipersaudarakan dengan putranya yang lahir dari Dewi Srini, yaitu Raden Sriwanda.

Dengan meninggalnya Prabu Sriwahana, maka Kerajaan Medang Kamulan tidak lagi memiliki raja dan oleh Prabu Srikala lalu dijadikan sebagai negeri bawahan Kerajaan Purwacarita.

PRABU BASUPATI MENGAMBIL MENANTU

Prabu Srikala kemudian mengabarkan berita kematian Begawan Kalacakra dan Prabu Sriwahana kepada Prabu Basupati di Kerajaan Wirata dan Prabu Parikenan di Kerajaan Gilingwesi. Begitu menerima berita tersebut, Prabu Basupati dan Prabu Parikenan segera berangkat dari negeri masing-masing memimpin rombongan belasungkawa menuju Kerajaan Purwacarita.

Dalam upacara pemakaman tersebut, Raden Basumurti putra sulung Prabu Basupati tertarik melihat salah seorang anggota rombongan dari Gilingwesi, yaitu Dewi Jatiswara putri Arya Brahmanaweda. Setelah upacara pemakaman selesai, Raden Basumurti segera memohon kepada ayahnya supaya dinikahkan dengan gadis cantik tersebut.

Prabu Basupati sebenarnya agak bimbang, karena Dewi Jatiswara adalah sepupu istri keduanya, yaitu Dewi Wakiswari, sehingga masih terhitung bibi Raden Basumurti sendiri. Maka, Prabu Basupati pun merundingkan hal itu dengan Dewi Wakiswari, Prabu Parikenan, dan Arya Brahmanaweda. Setelah ditimbang-timbang, perjodohan antara Raden Basumurti dan Dewi Jatiswara tidaklah terlalu rumit jika dibandingkan dengan pernikahan antara Prabu Parikenan dan Dewi Brahmaneki dulu. Itu karena Raden Basumurti bukan putra kandung Dewi Wakiswari, sehingga bukan pula keponakan Dewi Wakiswari secara langsung. Bahkan, jika dilihat dari silsilah ayah mereka, Raden Basumurti dan Dewi Jatiswara justru terhitung sepupu jauh.

Akhirnya, perundingan itu menyepakati perjodohan antara Raden Basumurti dan Dewi Jatiswara, sehingga hubungan antara Kerajaan Wirata dan Gilingwesi menjadi lebih erat lagi.

PERKAWINAN RADEN BASUMURTI DAN DEWI JATISWARA

Maka, pada hari yang telah ditentukan diadakanlah upacara perkawinan antara Raden Basumurti dengan Dewi Jatiswara yang diselenggarakan di Kerajaan Gilingwesi. Prabu Srikala ikut hadir memenuhi undangan. Dalam kesempatan itu ia tertarik melihat putri sulung Prabu Parikenan, yaitu Dewi Kaniraras dan ingin menjadikannya sebagai menantu.

Begitu upacara perkawinan selesai, Prabu Srikala segera menemui Prabu Parikenan dan mengutarakan keinginannya untuk berbesan, yaitu dengan mengikat perjodohan antara Dewi Kaniraras dan Raden Sriwanda. Prabu Parikenan menyambut baik lamaran tersebut, karena akan lebih mempererat hubungan kedua pihak. Akan tetapi, ia merasa Dewi Kaniraras dan Raden Sriwanda masih terlalu kecil untuk berumah tangga. Prabu Parikenan memperkirakan paling sedikit tiga tahun lagi barulah mereka berdua bisa dinikahkan. Prabu Srikala setuju dan jika nanti saatnya tiba, maka ia akan melamar Dewi Kaniraras secara resmi sebagai menantunya.

Demikianlah, Prabu Basupati lalu memboyong pasangan pengantin Raden Basumurti dan Dewi Jatiswara menuju Kerajaan Wirata. Setahun kemudian, dari perkawinan itu lahirlah seorang putra yang diberi nama Raden Basusena.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke: daftar isi





Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Brahmana Wisaka

 No comments   

Kisah ini menceritakan Batara Ajisaka atau Empu Sangkala datang lagi ke Tanah Jawa sebagai Brahmana Wisaka yang berhasil mengakhiri kekuasaan Sri Maharaja Purwacandra tanpa menggunakan kekerasan. Ia kemudian naik takhta di Medang Kamulan, bergelar Sri Maharaja Wisaka serta memerdekakan Kerajaan Gilingwesi, Purwacarita, dan Wirata.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 14 Februari 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

 

SRI MAHARAJA PURWACANDRA INGIN PEMBARUAN WADYA SESELIRAN

Sri Maharaja Purwacandra di Kerajaan Medang Kamulan dihadap Patih Sukapa beserta para punggawa utama, yaitu Raja Tinggara, Raja Patanggara, Raja Yogyapara, Raja Dyapara, dan Raja Capala. Hadir pula para raja bawahan, yaitu Prabu Brahmasatapa dari Gilingwesi, Prabu Sri Mahawan dari Purwacarita, dan Prabu Basupati dari Wirata. Ketiga raja bawahan ini melaporkan keadaan negeri masing-masing. Dalam kesempatan itu Prabu Brahmasatapa juga mengabarkan kelahiran cucu barunya, yang diberi nama Raden Paridarma (anak keempat Raden Parikenan dan Dewi Brahmaneki).

Sri Maharaja Purwacandra lalu membubarkan pertemuan, kecuali Prabu Sri Mahawan saja yang disuruhnya tetap tinggal. Sebagaimana yang sudah diketahui banyak orang, sejak muda Sri Maharaja Purwacandra menderita kelainan seksual, yaitu hanya menyukai hubungan sesama jenis dan tidak mau menikah dengan perempuan. Untuk melampiaskan nafsu birahinya, ia memiliki satu kelompok bernama Wadya Seseliran yang beranggotakan para pemuda tampan. Namun, saat ini Sri Maharaja Purwacandra merasa sudah bosan dengan mereka dan ingin dicarikan para pemuda tampan yang baru. Dulu ia pernah memerintahkan Prabu Brahmasatapa melakukan itu namun gagal. Kini, Sri Maharaja Purwacandra pun memerintahkan Prabu Sri Mahawan untuk mencarikan para pemuda tampan dari wilayah Kerajaan Purwacarita sebagai anggota Wadya Seseliran yang baru.

Prabu Sri Mahawan sebagai raja bawahan hanya bisa menyanggupi perintah tersebut, meskipun dalam hati merasa muak. Ia lalu mohon pamit berangkat meninggalkan istana Medang Kamulan.

PRABU BASUPATI MENIKAHI DEWI AWANTI

Sementara itu, Prabu Brahmasatapa dan Prabu Basupati diundang Raja Capala untuk singgah di rumahnya sebelum meraka kembali ke negeri masing-masing. Di tempat itu Prabu Basupati jatuh hati melihat putri Raja Capala yang bernama Dewi Awanti. Ia pun berterus terang mengajukan lamaran untuk menjadikan Dewi Awanti sebagai istri, di samping Dewi Wakiswari putri Arya Brahmanaradya.

Raja Capala menerima lamaran tersebut, namun dengan syarat Prabu Basupati harus membawa pula kedua putranya yang lain untuk tinggal di Kerajaan Wirata. Mereka adalah Raden Awama (kakak Dewi Awanti) dan Raden Awangga (adik Dewi Awanti). Rupanya Raja Capala merasa khawatir kalau kedua putranya itu dijadikan anggota Wadya Seseliran untuk memuaskan nafsu birahi Sri Maharaja Purwacandra.

Prabu Basupati menerima syarat tersebut. Maka, dilangsungkanlah upacara pernikahan antara dirinya dengan Dewi Awanti, yang disaksikan oleh Prabu Brahmasatapa. Pernikahan itu berlangsung sederhana saja. Esok harinya, Prabu Basupati dan Dewi Awanti mohon pamit berangkat ke Kerajaan Wirata dengan disertai Arya Awama dan Arya Awangga, sedangkan Prabu Brahmasatapa pamit pula kembali ke Kerajaan Gilingwesi.

MUNCULNYA BRAHMANA WISAKA

Sementara itu, Prabu Sri Mahawan disertai para pengawalnya masih menjalankan perintah Sri Maharaja Purwacandra untuk mengumpulkan para pemuda tampan sebagai Wadya Seseliran yang baru. Di sepanjang jalan apabila ada pemuda tampan yang bertemu mereka pasti segera ditangkap dan dimasukkan ke dalam kereta kurungan.

Perjalanan Prabu Sri Mahawan dan pasukannya akhirnya sampai di Gunung Kanda, di mana hidup seorang guru bernama Danghyang Salikoswa bersama putranya yang tampan, bernama Bambang Kusalya. Prabu Sri Mahawan pun meminta Danghyang Salikoswa untuk menyerahkan Bambang Kusalya sebagai anggota Wadya Seseliran. Danghyang Salikoswa merasa ketakutan dan hanya bisa pasrah, tetapi Bambang Kusalya menolak mentah-mentah. Pemuda itu mencela kelakuan Sri Maharaja Purwacandra sebagai raja tertinggi di Pulau Jawa tetapi tidak melindungi rakyatnya, justru menyebar ketakutan. Meskipun seluruh Tanah Jawa makmur, tetapi rakyat dilanda kekhawatiran, takut dijadikan pemuas birahi Sang Maharaja.

Prabu Sri Mahawan dalam hati membenarkan ucapan Bambang Kusalya, namun di sisi lain ia juga takut kepada Sri Maharaja Purwacandra. Maka, ia terpaksa menggunakan kekerasan untuk memaksa pemuda itu ikut dengannya. Bambang Kusalya pun berusaha melarikan diri menghindari penangkapan tersebut.

Pada saat itulah tiba-tiba muncul serombongan pria tampan dari Tanah Hindustan. Pemimpin mereka bernama Brahmana Wisaka, sedangkan anggotanya adalah murid-muridnya yang berjumlah tujuh puluh orang. Brahmana Wisaka menanyakan ada permasalahan apa, dan setelah mengetahui jawabannya, ia pun menawarkan diri kepada Prabu Sri Mahawan untuk dijadikan Wadya Seseliran beserta seluruh muridnya, tetapi Bambang Kusalya dan para pemuda lainnya dibebaskan. Melihat wajah Brahmana Wisaka dan murid-muridnya tiada yang jelek, Prabu Sri Mahawan pun setuju. Ia lalu kembali ke istana Medang Kamulan dengan membawa mereka semua.

BRAHMANA WISAKA ADU KEPANDAIAN MELAWAN SRI MAHARAJA PURWACANDRA


Sesampainya di istana, Prabu Sri Mahawan menghadapkan rombongan Brahmana Wisaka itu kepada Sri Maharaja Purwacandra. Melihat ada tujuh puluh satu laki-laki tampan di hadapannya, Sri Maharaja Purwacandra merasa sangat senang dan memuji keberhasilan Prabu Sri Mahawan.

Akan tetapi, Brahmana Wisaka tidak mau dijadikan anggota Wadya Seseliran begitu saja apabila tantangannya tidak diterima oleh Sri Maharaja Purwacandra, yaitu adu kepandaian berhitung. Sri Maharaja Purwacandra merasa tertantang dan mengabulkannya. Bahkan, ia juga berjanji apabila dirinya kalah, maka Kerajaan Medang Kamulan akan diserahkan kepada Brahmana Wisaka. Sebaliknya, jika ia yang menang, maka brahmana tampan itu harus menjadi anggota Wadya Seseliran pemuas birahinya.

Maka, dimulailah adu kepandaian berhitung antara Sri Maharaja Purwacandra melawan Brahmana Wisaka. Setelah melewati beberapa babak, Sri Maharaja Purwacandra akhirnya mengakui kepandaian Brahmana Wisaka berada di atasnya. Dengan sikap kesatria, ia lalu masuk ke dalam sanggar pemujaan disertai kedua adiknya, yaitu Raja Tinggara dan Raja Patanggara, kemudian mereka bersama-sama mengheningkan cipta melepaskan roh masing-masing.

Melihat Sang Maharaja telah meninggal, Patih Sukapa, Raja Yogyapara, Raja Dyapara, Raja Wigara, beserta para punggawa lainnya pun bersama-sama masuk ke sanggar pemujaan untuk ikut melepas roh pula. Yang tersisa kini hanyalah Raja Capala dan adik-adiknya, yaitu Arya Caracapa, Arya Gandara, dan Arya Kumbina. Mereka berempat kemudian menyatakan tunduk kepada Brahmana Wisaka.

BRAHMANA WISAKA MENJADI RAJA MEDANG KAMULAN


Prabu Sri Mahawan sangat terkesan melihat kepandaian Brahmana Wisaka yang berhasil mengalahkan Sri Maharaja Purwacandra tanpa kekerasan sedikit pun. Ternyata Brahmana Wisaka ini tidak lain adalah penjelmaan Batara Ajisaka atau Empu Sangkala yang dahulu kala pernah datang ke Pulau Jawa memasang tumbal supaya dapat dihuni manusia. Kini ia datang kembali atas perintah Batara Guru untuk mengakhiri perbuatan menyimpang Sri Maharaja Purwacandra yang banyak meresahkan rakyatnya itu, serta untuk mengajarkan bahasa Sanskerta dan aksara Dewanagari kepada masyarakat Jawa.

Sesuai perjanjian, Brahmana Wisaka pun menjadi raja Medang Kamulan yang baru, bergelar Sri Maharaja Wisaka. Meskipun memakai gelar maharaja, namun ia tidak ingin menjadi penguasa tunggal di Pulau Jawa. Ia pun mengumumkan bahwa Kerajaan Purwacarita, Gilingwesi, dan Wirata mulai saat ini kembali menjadi negeri merdeka dan tidak lagi berada di bawah kekuasaan Medang Kamulan.

Sebagai orang asing yang tiba-tiba menjadi raja, Sri Maharaja Wisaka merasa tidak leluasa memerintah. Ia lalu mengajak Raja Capala dan ketiga adiknya untuk memimpin Medang Kamulan bersama-sama, sehingga mereka berlima pun disebut sebagai Raja Palima. Adapun yang diangkat sebagai menteri utama adalah Bambang Kusalya, bergelar Patih Kusalya. Sementara ayahnya, yaitu Danghyang Salikoswa diangkat sebagai pandita kerajaan, bergelar Brahmana Salikoswa.

KETIGA RAJA BERGURU KEPADA SRI MAHARAJA WISAKA


Prabu Sri Mahawan yang menyaksikan perubahan besar tersebut segera pergi ke Kerajaan Gilingwesi untuk menemui Prabu Brahmasatapa. Ia mengabarkan berita kematian Sri Maharaja Purwacandra dan kini Kerajaan Medang Kamulan diperintah oleh Sri Maharaja Wisaka yang sangat bijaksana. Prabu Brahmasatapa terkejut sekaligus gembira karena dalam hati ia masih menyimpan sakit hati atas kematian ayahnya dulu, yaitu Prabu Brahmanaraja yang tewas di tangan Sri Maharaja Purwacandra (saat masih bernama Prabu Cingkaradewa).

Prabu Sri Mahawan dan Prabu Brahmasatapa lalu pergi ke Kerajaan Wirata menemui Prabu Basupati untuk menyampaikan berita tersebut. Prabu Basupati sangat terkejut pula dan sekaligus gembira karena Kerajaan Wirata kini telah kembali menjadi negeri merdeka. Mereka bertiga lalu berunding dan akhirnya sepakat untuk berguru kepada Sri Maharaja Wisaka. Maka, berangkatlah ketiga raja itu menuju Kerajaan Medang Kamulan.

Sri Maharaja Wisaka pun menerima mereka sebagai murid. Ia lalu mengajarkan aksara Dewanagari, bahasa Sanskerta, ilmu kesaktian, ilmu berhitung, dan ilmu kesempurnaan kepada ketiga raja tersebut. Beberapa hari kemudian, putra sulung Prabu Sri Mahawan, yaitu Raden Wandawa (yang lahir dari Dewi Panitra) datang menyusul untuk ikut berguru pula. Sri Maharaja Wisaka sangat senang melihat kecerdasannya. Ia lalu menjadikan Raden Wandawa sebagai anak angkat dan menyuruhnya untuk tinggal menetap di Medang Kamulan.

Setelah beberapa bulan terlewati, tiba-tiba datang Arya Awangga dari Kerajaan Wirata yang membawa kabar gembira bahwa kakaknya, yaitu Dewi Awanti telah melahirkan seorang putra. Prabu Basupati sangat gembira atas kelahiran putra ketiganya itu dan mohon untuk diizinkan pulang. Sri Maharaja Wisaka merasa ikut senang dan ia pun mengajak Raja Capala, Prabu Brahmasatapa, dan Prabu Sri Mahawan untuk menyertai Prabu Basupati kembali ke Wirata.

Sesampainya di istana Wirata, Prabu Basupati segera menggendong putra ketiganya itu dan memberinya nama, Raden Basunanda.

RADEN WANDAWA MENJADI RAJA MEDANG KAMULAN


Setelah dua tahun menjadi raja di Medang Kamulan, Sri Maharaja Wisaka akhirnya menyatakan turun takhta untuk melanjutkan perjalanannya mengajarkan baca tulis kepada masyarakat Jawa. Apabila terus-menerus dirinya tinggal di istana, tentu hanya akan menciptakan kesenjangan belaka. Maka, Sri Maharaja Wisaka pun kembali menjadi Brahmana Wisaka dan menyerahkan takhta kepada putra angkatnya, yaitu Raden Wandawa.

Pada hari yang ditentukan, Raden Wandawa dilantik sebagai raja Medang Kamulan yang baru, bergelar Prabu Sriwahana. Esok harinya, ia melepas keberangkatan Brahmana Wisaka dengan perasaan haru. Brahmana Wisaka pun melanjutkan perjalanannya mengajarkan ilmu baca tulis kepada masyarakat Jawa. Setelah dirasa cukup, ia lalu kembali ke Tanah Hindustan sebagai Batara Ajisaka.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke: daftar isi





Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Kaniyasa Lahir

 No comments   

Kisah ini menceritakan Raden Parikenan berhasil meruwat ibu tirinya, yaitu Dewi Rajatadi dari wujud buaya putih kembali menjadi manusia. Kisah dilanjutkan dengan kelahiran Raden Kanwa atau Raden Kaniyasa, yang kelak terkenal dengan nama Resi Manumanasa, leluhur para Pandawa dan Kurawa, serta bagaimana Raden Kanwa diambil sebagai anak angkat Prabu Basupati raja Wirata.

Kisah ini disusun berdasarkan naskah Serat Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 10 Februari 2015

Heri Purwanto
 
------------------------------ ooo ------------------------------

RADEN PARIKENAN DITANTANG BUAYA PUTIH

Prabu Brahmasatapa di Kerajaan Gilingwesi baru saja pulang dari Kerajaan Purwacarita untuk menjenguk kedua putrinya yang melahirkan. Dewi Srini yang menikah dengan Raden Wahnaya telah melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Sriwanda, sedangkan Dewi Satapi yang menikah dengan Arya Sadaskara juga melahirkan seorang putra, diberi nama Raden Darmaruci.

Saat ini menantu Prabu Brahmasatapa, yaitu Dewi Brahmaneki (istri Raden Parikenan) juga sedang mengandung untuk yang kedua kalinya. Adapun anak pertama mereka, yaitu Dewi Kaniraras telah berusia satu tahun.

Ketika Prabu Brahmasatapa sedang memimpin pertemuan dengan Raden Parikenan, Patih Brahmasadana, Arya Brahmanaradya, Arya Brahmastuti, Arya Brahmanakestu, dan para punggawa Kerajaan Gilingwesi lainnya, tiba-tiba datang menghadap seorang laki-laki yang mengaku sebagai kepala Desa Cita, bernama Buyut Sanggora. Ia melaporkan tentang warga desanya yang sering diganggu buaya putih ketika lewat di dekat Sungai Jamuna. Buaya putih itu bisa berbicara seperti manusia, dan ia menitip pesan ingin berkelahi melawan Raden Parikenan. Jika Raden Parikenan menolak datang ke Sungai Jamuna, maka buaya putih itu akan semakin banyak menyerang warga desa. Sampai saat ini si buaya putih hanya melukai dan menakut-nakuti, namun ia mengancam untuk selanjutnya akan membunuh dan memangsa siapa saja yang lewat di dekat Sungai Jamuna.

Raden Parikenan prihatin mendengar laporan Buyut Sanggora tersebut. Ia pun mohon restu kepada sang ayah untuk menghadapi tantangan buaya putih tersebut. Prabu Brahmasatapa tidak tega dan memerintahkan Arya Brahmanaradya untuk mengawal Raden Parikenan. Akan tetapi, Patih Brahmasadana menawarkan dirinya untuk menggantikan Arya Brahmanaradya mengawal sang pangeran. Rupanya dalam hati ia menduga kalau buaya putih tersebut tidak lain adalah penjelmaan kakaknya, yaitu Dewi Rajatadi yang setahun lalu mendapat kutukan dari Prabu Brahmasatapa.

Prabu Brahmasatapa memberikan izin kepada Patih Brahmasadana untuk mengawal Raden Parikenan. Maka, Raden Parikenan dan Patih Brahmasadana pun mohon pamit berangkat dengan dipandu Buyut Sanggora menuju ke Sungai Jamuna, tempat si buaya putih berada.

RADEN PARIKENAN MENGALAHKAN BUAYA PUTIH

Raden Parikenan dan Patih Brahmasadana bersama Buyut Sanggora telah sampai di tepi Sungai Jamuna tempat buaya putih sering mengganggu warga. Raden Parikenan lalu berteriak memanggil buaya putih itu agar keluar dari persembunyiannya. Tidak lama kemudian, si buaya putih pun muncul dari dalam sungai dan langsung menyerang Raden Parikenan. Terjadilah perkelahian sengit di antara mereka.

Patih Brahmasadana hanya menonton sambil berjaga-jaga. Ia kini sangat yakin kalau buaya putih tersebut adalah penjelmaan kakaknya. Saat itu Raden Parikenan tampak bergulat melawan si buaya putih dan perkelahian mereka pun berlanjut di dalam sungai. Patih Brahmasadana sangat khawatir dan berniat ikut mencebur. Akan tetapi, tiba-tiba Raden Parikenan keluar dari dalam sungai bersama Dewi Rajatadi yang kini telah kembali ke dalam wujud manusia.

Sesampainya di darat, Raden Parikenan bercerita bahwa di dalam air tadi ia bergulat melawan buaya putih. Ketika napasnya mulai sesak, Raden Parikenan pun menusukkan kerisnya ke dalam mulut buaya putih tersebut. Sungguh ajaib, si buaya putih tiba-tiba berubah wujud menjadi ibu tirinya, yaitu Dewi Rajatadi. Mendengar cerita itu Patih Brahmasadana merasa sangat gembira. Dewi Rajatadi juga sangat berterima kasih kepada Raden Parikenan yang telah meruwat dirinya hingga terbebas dari kutukan. Mereka pun bersama-sama kembali ke Kerajaan Gilingwesi untuk menghadap Prabu Brahmasatapa.

LAHIRNYA RADEN KANWA

Prabu Brahmasatapa menyambut gembira atas keberhasilan Raden Parikenan. Ia juga sangat bahagia melihat Dewi Rajatadi telah terbebas dari kutukan dan kembali menjadi manusia. Dewi Rajatadi memohon maaf atas segala dosa-dosanya dan berjanji akan menjadi istri yang baik di sisi Prabu Brahmasatapa. Suasana haru pun kini tampak menghiasi istana Kerajaan Gilingwesi.

Dewi Rajatadi lalu bercerita tentang pengalamannya selama setahun menjadi buaya putih di Sungai Jamuna. Awalnya ia sangat marah dan kecewa, namun kemudian menyesali segala kesalahannya. Siang dan malam ia bertapa memohon petunjuk dewata supaya terbebas dari kutukan dan bisa kembali menjadi manusia. Setelah sekian lama bertapa, tiba-tiba terdengar suara dewata berbisik bahwa yang bisa membebaskan dirinya dari kutukan adalah Raden Parikenan, yang dulu semasa bayi pernah dibuangnya ke hutan dan ditukar dengan bayi kambing.

Dewi Rajatadi sangat malu dan menyesal saat disinggung tentang perbuatan jahatnya di masa lalu tersebut. Ia lalu mengatur rencana bagaimana supaya Raden Parikenan datang ke Sungai Jamuna. Maka, setiap ada warga Desa Cita yang lewat di dekat Sungai Jamuna pun langsung diserangnya. Kepada mereka, ia menitip pesan supaya Raden Parikenan didatangkan di hadapannya.

Demikianlah, siasat Dewi Rajatadi akhirnya berhasil karena Buyut Sanggora telah mendatangkan Raden Parikenan ke Sungai Jamuna dan membebaskan dirinya dari wujud buaya putih, kembali menjadi manusia. Prabu Brahmasatapa terharu mendengar penuturan istrinya dan ia pun bersedia menerima kembali Dewi Rajatadi asalkan benar-benar menyesali perbuatannya di masa lalu.

Pada saat itulah tiba-tiba muncul para dayang yang melaporkan bahwa Dewi Brahmaneki telah melahirkan bayi laki-laki, anak kedua Raden Parikenan. Prabu Brahmasatapa sangat gembira dan memberi nama cucunya itu, Raden Kanwa.

PRABU BASUPATI MENGUSIR PATIH SUNGGATA

Dua tahun kemudian di Kerajaan Wirata terjadi wabah penyakit yang menewaskan banyak penduduk. Prabu Basupati sangat sedih dan mengajak Patih Sunggata untuk memasang tumbal demi melenyapkan wabah penyakit tersebut. Patih Sunggata tidak setuju dan menyarankan agar Prabu Basupati menikah lagi. Patih Sunggata yakin bahwa musibah wabah penyakit tersebut adalah teguran dewata yang tidak senang melihat ada seorang raja menduda tanpa pendamping. Adapun istri Prabu Basupati, yaitu Dewi Indradi telah lama meninggal setelah melahirkan putra pertama mereka, yang diberi nama Raden Basumurti.

Mendengar usulan tersebut, Prabu Basupati sangat tersinggung dan menuduh Patih Sunggata bersikap lancang berani mencampuri urusan pribadinya. Ia mengatakan bahwa selain mendiang Dewi Indradi, tidak ada lagi wanita di dunia ini yang mampu memikat hatinya. Patih Sunggata pun diusir pergi dari istana beserta putranya yang bernama Arya Sarisungga.

Patih Sunggata dan Arya Sarisungga kemudian pergi ke Kerajaan Purwacarita untuk mengabdi kepada Prabu Sri Mahawan. Mendengar apa yang terjadi di Kerajaan Wirata, Prabu Sri Mahawan ikut merasa prihatin. Ia lalu menerima pengabdian ayah dan anak tersebut, di mana Patih Sunggata diangkat sebagai kepala pembuat senjata, sedangkan Arya Sarisungga dijadikan punggawa penjaga perbatasan.

PRABU BASUPATI MENGAMBIL RADEN KANWA SEBAGAI ANAK ANGKAT

Setelah mengusir Patih Sunggata dan Arya Sarisungga, Prabu Basupati masuk ke dalam sanggar pemujaan untuk bersamadi memohon petunjuk dewata demi membebaskan Kerajaan Wirata dari wabah penyakit yang sedang melanda. Dewata pun memberikan petunjuk supaya Prabu Basupati mengambil keponakannya sebagai anak angkat yang dipersaudarakan dengan Raden Basumurti, yaitu anak kedua Dewi Brahmaneki yang bernama Raden Kanwa.

Prabu Basupati lalu berkunjung ke Kerajaan Gilingwesi untuk mewujudkan petunjuk dewata tersebut. Raden Parikenan dan Dewi Brahmaneki sebenarnya keberatan untuk melepaskan Raden Kanwa yang masih berusia dua tahun, namun mereka juga prihatin mendengar musibah yang kini terjadi di Kerajaan Wirata. Akhirnya, Dewi Brahmaneki pun menyerahkan Raden Kanwa kepada sang kakak, namun dengan disertai seorang pengasuh, yaitu Dewi Wakiswari, putri Arya Brahmanaradya.

Singkat cerita, wabah penyakit yang melanda Kerajaan Wirata telah lenyap sejak Prabu Basupati membawa Raden Kanwa dan Dewi Wakiswari. Entah bagaimana Prabu Basupati tiba-tiba merasa tertarik kepada Dewi Wakiswari dan ingin menjadikannya istri. Maka, ia pun mengirim lamaran kepada Arya Brahmanaradya di Kerajaan Gilingwesi. Arya Brahmanaradya pun menerima lamaran tersebut dengan senang hati, lalu ia berangkat ke Kerajaan Wirata dengan disertai putra yang lain, bernama Raden Wakiswara.

Pada hari yang ditentukan, dilaksanakanlah upacara pernikahan antara Prabu Basupati dengan Dewi Wakiswari. Prabu Basupati merasa ini semua berkat kedatangan Raden Kanwa di Kerajaan Wirata, sehingga ia kembali memiliki rasa suka terhadap wanita. Oleh sebab itu, Raden Kanwa pun diganti namanya menjadi Raden Kaniyasa.

Prabu Basupati juga senang melihat kepandaian dan ketangkasan Raden Wakiswara. Maka, ia pun mengangkat adik iparnya itu menjadi patih Kerajaan Wirata yang baru, bergelar Patih Wakiswara, untuk menggantikan Patih Sunggata yang telah menetap di Purwacarita.

PRABU BRAHMASATAPA BERTEMU DEWI ADIYANA DAN DEWI ADIYANTI

Sementara itu di Kerajaan Gilingwesi, Prabu Brahmasatapa pada suatu hari memanggil pimpinan makhluk halus yang menjaga istananya, yaitu Pisacaraja Bahli. Rupanya Prabu Brahmasatapa ingin mencoba lagi khasiat Minyak Pranawa. Setelah mengoleskan minyak tersebut di pelupuk mata dan kedua telinganya, Prabu Brahmasatapa lalu berjalan-jalan di sekitar istana Gilingwesi, dengan ditemani Pisacaraja Bahli. Mereka pun melihat sebuah istana gaib berwarna kuning keemasan yang dihuni oleh dua orang wanita cantik. Pisacaraja Bahli memperkenalkan mereka adalah sepasang jin wanita yang masih terhitung nenek Prabu Brahmasatapa. Kedua jin tersebut tidak lain adalah Dewi Adiyana (istri Batara Brahma) dan Dewi Adiyati (istri Batara Wisnu).

Prabu Brahmasatapa menyembah memberi hormat kepada kedua neneknya itu. Dewi Adiyana dan Dewi Adiyati sangat terkesan kepadanya dan berkenan untuk memberikan anugerah. Dewi Adiyana menyerahkan sebatang tebu untuk dimakan Prabu Brahmasatapa. Ternyata Prabu Brahmasatapa hanya mampu menghabiskan empat ruas saja dan sudah merasa kenyang. Maka, Dewi Adiyana pun meramalkan bahwa Kerajaan Gilingwesi sejak Batara Brahma hanya akan dipimpin oleh empat turunan saja. Itu artinya cucu Prabu Brahmasatapa tidak bisa menjadi raja.

Prabu Brahmasatapa sangat sedih dan ia meminta supaya diperbolehkan menghabiskan sisa tebu tadi. Namun, Dewi Adiyana tidak mengizinkan karena sudah terlanjur dan tiada gunanya lagi. Dewi Adiyati lalu menyerahkan sekantong biji bercampur kecambah kepada Prabu Brahmasatapa untuk diambil segenggam. Prabu Brahmasatapa merogoh kantong tersebut dan mengambil segenggam isinya. Ternyata dalam genggaman itu hanya empat biji saja yang belum berkecambah. Dewi Adiyati pun menjelaskan bahwa hanya empat keturunan saja di bawah Prabu Brahmasatapa yang tidak menjadi raja. Itu artinya, keturunan kelima akan kembali menjadi raja, namun bukan di Kerajaan Gilingwesi.

Prabu Brahmasatapa sangat gembira mendengar ramalan Dewi Adiyati tersebut. Ia lalu mohon pamit kembali ke alam nyata. Dewi Adiyana dan Dewi Adiyati pun memberinya hadiah berupa permata Manikhara sebagai kenang-kenangan.

LAHIRNYA RADEN MANONBAWA DAN RADEN BASUKESTI

Sesampainya di istana Gilingwesi, Prabu Brahmasatapa mendapatkan berita bahagia, yaitu Dewi Brahmaneki kembali melahirkan seorang bayi laki-laki (anak ketiga Raden Parikenan). Karena Prabu Brahmasatapa baru saja melihat istana berwarna keemasan di alam gaib, maka ia pun memberi nama cucunya itu, Raden Manonbawa.

Beberapa bulan kemudian, Prabu Basupati di Kerajaan Wirata juga memperoleh seorang putra yang dilahirkan Dewi Wakiswari. Ia pun memberi nama putra keduanya itu, Raden Basukesti.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke: daftar isi




Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Satapi Murca

 No comments   

Kisah ini menceritakan perkawinan Dewi Srini putri Prabu Brahmasatapa dengan Raden Wahnaya putra Prabu Sri Mahawan, yang diselingi dengan hilangnya Dewi Satapi yang akhirnya dapat ditemukan oleh Arya Sadaskara, putra Patih Pujangkara.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 07 Februari 2015

Heri Purwanto
------------------------------ ooo ------------------------------


DEWI SATAPI HILANG DARI ISTANA GILINGWESI

Prabu Brahmasatapa di Kerajaan Gilingwesi dihadap Raden Parikenan, Patih Brahmasadana, Arya Brahmastuti, Arya Brahmayana, Arya Brahmanakestu, dan para punggawa lainnya. Mereka sedang membicarakan perihal Dewi Satapi (putri Prabu Brahmasatapa dengan Dewi Rajatadi) yang hilang entah ke mana. Sampai saat ini Prabu Brahmasatapa belum mendapatkan petunjuk tentang keberadaan putri bungsunya tersebut.

Tidak lama kemudian datanglah utusan dari Kerajaan Purwacarita, yaitu Patih Pujangkara dan putranya yang bernama Arya Sadaskara. Kedatangan mereka adalah untuk menyampaikan lamaran resmi Prabu Sri Mahawan yang ingin mengambil Dewi Srini sebagai menantu, yaitu dinikahkan dengan Raden Wahnaya. Beberapa bulan yang lalu, yaitu saat pernikahan Raden Parikenan dan Dewi Brahmaneki di Kerajaan Wirata, Prabu Sri Mahawan sempat mengutarakan niatnya itu kepada Prabu Brahmasatapa. Kini ia pun mengirim utusan untuk menegaskan lamarannya dengan membawa segala macam benda-benda pertunangan.

Prabu Brahmasatapa sebenarnya sangat senang apabila dapat berbesan dengan Prabu Sri Mahawan. Akan tetapi, saat ini ia sedang berduka karena putri bungsunya menghilang tanpa jejak, sehingga belum dapat memberikan jawaban terhadap lamaran tersebut. Patih Pujangkara turut prihatin mendengar hal itu dan ia bersedia membantu mencari keberadaan Dewi Satapi. Setelah menyerahkan benda-benda pertunangan dari rajanya, Patih Pujangkara dan Arya Sadaskara pun mohon pamit kembali ke Kerajaan Purwacarita.

PRABU BRAHMASATAPA MENGUTUK DEWI RAJATADI MENJADI BUAYA

Setelah membubarkan pertemuan, Prabu Brahmasatapa masuk ke dalam kedaton menemui Dewi Rajatadi yang saat itu sedang menangisi hilangnya Dewi Satapi. Prabu Brahmasatapa berusaha menyabarkan istrinya itu dan ia juga menceritakan tentang lamaran yang dikirim Prabu Sri Mahawan untuk Dewi Srini. Hal ini justru membuat Dewi Rajatadi bertambah sedih. Ia mengeluh Prabu Brahamasatapa pilih kasih, lebih menyayangi Dewi Srini yang lahir dari bidadari dibanding Dewi Satapi yang lahir darinya. Dewi Rajatadi menduga hilangnya Dewi Satapi pasti kabur dari istana karena mengetahui sikap ayahnya yang berat sebelah tersebut.

Tuduhan ini membuat Prabu Brahmasatapa sangat tersinggung. Padahal, saat Dewi Rajatadi terbukti membuang Raden Parikenan dan Dewi Srini sewaktu bayi dan menukar mereka dengan sepasang anak kambing, Prabu Brahmasatapa masih dapat mengampuni. Namun, gara-gara ucapan istrinya tadi amarah Prabu Brahmasatapa menjadi bangkit kembali. Prabu Brahmasatapa pun mengucapkan kutukan, sehingga wujud Dewi Rajatadi seketika berubah menjadi seekor buaya betina.

Prabu Brahmasatapa sangat menyesal dan segera memanggil Patih Brahmasadana yang merupakan adik kandung Dewi Rajatadi. Patih Brahmasadana terkejut bukan main, namun ia menyadari kalau kakaknya memang bersalah. Ia pun menghibur hati Prabu Brahmasatapa bahwa hal ini memang sudah menjadi hukum karma atas dosa-dosa Dewi Rajatadi di masa lalu. Patih Brahmasadana lalu membawa buaya perwujudan kakaknya itu dan melepaskannnya di Sungai Jamuna.

PATIH PUJANGKARA MEMINTA PETUNJUK BEGAWAN RUKMAWATI

Sementara itu, Patih Pujangkara dan Arya Sadaskara yang dalam perjalanan pulang menuju Kerajaan Purwacarita menyempatkan untuk singgah di Gunung Mahendra. Rupanya Patih Pujangkara berniat meminta petunjuk kepada Begawan Rukmawati perihal hilangnya Dewi Satapi.

Begawan Rukmawati menyambut kedatangan ayah dan anak itu, lalu memberikan penjelasan bahwa hilangnya Dewi Satapi adalah hukuman untuk Dewi Rajatadi sebagai balasan atas perbuatannya dulu yang pernah membuang Raden Parikenan dan Dewi Srini semasa bayi. Namun kini, Dewi Rajatadi telah mendapatkan hukuman baru, yaitu dikutuk suaminya menjadi buaya. Dengan demikian, hilangnya Dewi Satapi sudah saatnya harus diakhiri. Begawan Rukmawati pun menyarankan agar Arya Sadaskara yang berangkat mencari Dewi Satapi, karena ia diramalkan berjodoh dengan putri bungsu Kerajaan Gilingwesi tersebut.

Begawan Rukmawati memberikan petunjuk bahwa yang menculik Dewi Satapi adalah raksasa penguasa Hutan Wanapringga, bernama Ditya Singasari. Untuk mengalahkan raksasa tersebut, Begawan Rukmawati pun membekali Arya Sadaskara dengan ilmu kesaktian berupa mantra Aji Danurdara dan tulisan Rajah Kalamuksa. Arya Sadaskara berterima kasih dan menghafalkannya dengan baik, lalu mohon restu kepada pertapa wanita tersebut dan juga kepada ayahnya untuk kemudian berangkat menuju Hutan Wanapringga. Patih Pujangkara juga mohon pamit kepada Begawan Rukmawati untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Purwacarita.

ARYA SADASKARA MEMBANTU PISACI DARTI MENEMUKAN SUAMINYA

Perjalanan Arya Sadaskara telah sampai di pinggiran Hutan Wanapringga, di mana ia melihat seorang wanita sedang menangis. Wanita itu didekatinya dan mengaku bernama Darti dari bangsa pisaci, yaitu sejenis makhluk halus. Darti mengaku bahwa dirinya sengaja menampakkan diri di hadapan manusia supaya dibantu menemukan suaminya, yaitu seorang pisaca bernama Wulingga.

Darti bercerita bahwa pemimpin kaum pisaca yang bernama Pisacaraja Bahli telah ditaklukkan oleh Ditya Singasari, sehingga semua pisaca, termasuk Wulingga, kini menjadi pelayan Ditya Singasari. Darti meminta bantuan Arya Sadaskara supaya memanggil Wulingga agar keluar dari barisan dengan cara bersiul menyanyikan lagu. Darti menjelaskan bahwa suaminya itu sangat senang mendengar siulan dan ia akan menari-nari mendekati orang yang bersiul itu. Supaya Arya Sadaskara dapat melihat wujud Wulingga, Darti pun memberikan Minyak Pranawa untuk dioleskan di kedua mata dan telinganya.

Arya Sadaskara lalu berangkat menyusuri sebuah jurang di Hutan Wanapringga sesuai petunjuk yang diberikan Darti. Berkat Minyak Pranawa, ia dapat melihat ada begitu banyak makhluk halus beserta perkampungan mereka. Ketika melihat ada barisan para pisaca, Arya Sadaskara segera bersiul menyanyikan lagu Bremara. Dari barisan itu tampak keluar seorang pisaca menari-nari dan mendekati Arya Sadaskara. Arya Sadaskara yakin yang datang ini pasti bernama Wulingga. Ia pun segera menangkap pisaca itu dan membawanya pergi menemui Darti.

Wulingga sangat terkejut mengapa Arya Sadaskara dapat melihat dan menangkapnya. Begitu sampai di tempat Darti, ia pun paham kalau pemuda itu ternyata mendapatkan Minyak Pranawa dari istrinya. Wulingga sangat senang bisa bertemu dengan Darti, namun ia juga takut mendapat hukuman dari Ditya Singasari karena meninggalkan barisan. Arya Sadaskara menawarkan diri untuk mengalahkan Ditya Singasari, namun Wulingga tidak berani mengantarkannya. Ia hanya berani mempertemukan Arya Sadaskara dengan pemimpinnya, yaitu Pisacaraja Bahli, supaya mereka bersekutu dan bersama-sama menghadapi Ditya Singasari. Akan tetapi, Wulingga bersedia mengantarkan Arya Sadaskara apabila dirinya diajari cara bersiul menyanyikan lagu Bremara tadi.

Arya Sadaskara menyanggupi hal itu. Ia pun mengajarkan cara bersiul kepada Wulingga. Setelah mahir, Wulingga lalu mengantarkan Arya Sadaskara menemui Pisacaraja Bahli.

ARYA SADASKARA MEMBUNUH DITYA SINGASARI


Wulingga telah mengantarkan Arya Sadaskara menemui Pisacaraja Bahli. Setelah berkenalan dan menjalin persahabatan, Pisacaraja Bahli dan Arya Sadaskara pun merundingkan cara untuk membebaskan kaum pisaca dari penjajahan Ditya Singasari. Pisacaraja Bahli mengaku dirinya mempunyai batu ajaib bernama Sela Timpuru yang bisa diubah menjadi benda apa saja untuk dipakai membunuh Ditya Singasari. Akan tetapi, Sela Timpuru hanya bisa digunakan oleh orang yang menguasai Aji Danurdara dan Rajah Kalamuksa.

Sungguh kebetulan, Arya Sadaskara telah mendapatkan kedua ilmu tersebut dari Begawan Rukmawati. Pisacaraja Bahli sangat senang mendengarnya. Mereka berdua lalu berangkat menuju Gua Sindula, tempat Ditya Singasari menyembunyikan seorang wanita cantik di dalamnya. Pisacaraja Bahli bercerita bahwa Ditya Singasari beberapa kali hendak memerkosa wanita itu, namun selalu saja si wanita lenyap dari pandangan. Arya Sadaskara yakin wanita itu pastilah Dewi Satapi, putri bungsu Prabu Brahmasatapa.

Sesampainya di Gua Sindula, Pisacaraja Bahli segera meminjamkan Sela Timpuru kepada Arya Sadaskara, kemudian berteriak menantang Ditya Singasari. Arya Sadaskara lalu menuliskan Rajah Kalamuksa pada batu ajaib tersebut dan membaca mantra Aji Danurdara. Seketika Sela Timpuru berubah menjadi senjata cambuk. Ketika Ditya Singasari keluar dari gua, Arya Sadaskara segera menyerang raksasa itu dan terjadilah perkelahian di antara mereka. Saat Ditya Singasari berhasil menghindari lecutan cambuk tersebut dan makin mendekat, Arya Sadaskara pun mengubah Sela Timpuru menjadi pedang untuk pertarungan jarak dekat. Ketika Ditya Singasari mundur untuk menghindari tusukan pedang tersebut, Arya Sadaskara mengubah senjatanya menjadi sebatang tombak dan melemparkannya tepat menusuk leher raksasa tersebut.

Ditya Singasari tewas meninggalkan seorang putra yang masih bayi, bernama Ditya Rambana. Sahabatnya yang bernama Ditya Saniwara pun menggendong bayi raksasa itu dan membawanya kabur meninggalkan Hutan Wanapringga.

Sementara itu, Arya Sadaskara masuk ke dalam Gua Sindula menemui Dewi Satapi yang sedang bersamadi. Dewi Satapi sangat berterima kasih kepada pahlawan penolongnya itu. Ia pun menceritakan peristiwa yang ia alami. Pada mulanya Ditya Singasari ingin menikah lagi setelah ditinggal mati istrinya saat melahirkan Ditya Rambana. Ditya Singasari pun menyusup ke dalam istana Gilingwesi dan menculik Dewi Satapi saat sedang memetik bunga. Ditya Singasari lalu menyembunyikan Dewi Satapi di dalam Gua Sindula. Dewi Satapi pun bersamadi memohon perlindungan dewata, sehingga Ditya Singasari yang berniat ingin memerkosa tidak dapat melihat wujudnya. Meskipun Ditya Singasari menggunakan Minyak Pranawa, tetap saja ia tidak mampu melihat keberadaan Dewi Satapi.

Arya Sadaskara bersyukur mendengar cerita tersebut dan segera memasukkan Dewi Satapi ke dalam Sela Timpuru. Ia kemudian berangkat menuju Kerajaan Gilingwesi dengan ditemani Pisacaraja Bahli.

PRABU BRAHMASATAPA MENCURIGAI ARYA SADASKARA

Arya Sadaskara tiba di hadapan Prabu Brahmasatapa dan melaporkan semua pengalamannya. Ia kemudian mengeluarkan Dewi Satapi dari dalam Sela Timpuru. Prabu Brahmasatapa sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan putri bungsunya itu, namun ia kemudian menaruh curiga, jangan-jangan Arya Sadaskara yang telah menculiknya dan mengarang cerita palsu tentang raksasa bernama Ditya Singasari.

Pisacaraja Bahli lalu berbisik di samping Arya Sadaskara supaya menyerahkan Minyak Pranawa kepada Prabu Brahmasatapa. Setelah menerima minyak tersebut dan mengoleskannya di mata, Prabu Brhamasatapa dapat melihat wujud Pisacaraja Bahli dan sempat terkejut beberapa saat. Pisacaraja Bahli lalu bersumpah bahwa semua yang diceritakan Arya Sadaskara adalah benar.

Tiba-tiba Prabu Brahmasatapa melihat ada sesosok makhluk halus berwujud api yang menyala berkobar-kobar hendak membakar istana Gilingwesi. Pisacaraja Bahli menjelaskan bahwa itu adalah Jalegi, makhluk halus kesayangan Ditya Singasari yang ingin membalas dendam. Prabu Brahmasatapa ketakutan dan meminta tolong kepada Pisacaraja Bahli agar membunuhnya. Pisacaraja Bahli mematuhi, kemudian ia menyerang Jalegi dan berhasil menewaskannya.

Prabu Brahmasatapa berterima kasih dan meminta Pisacaraja Bahli supaya tetap tinggal di Kerajaan Gilingwesi sebagai penjaga istana. Pisacaraja Bahli bercerita bahwa kakeknya yang bernama Pisacaraja Sentruya juga pernah mengabdi di Kerajaan Gilingwesi pada masa pemerintahan Prabu Watugunung. Setelah Prabu Watugunung gugur, Pisacaraja Sentruya pun pindah ke Gunung Rewataka. Ia kemudian memiliki anak bernama Pisacaraja Wilika yang pindah ke Hutan Parimbun. Adapun Pisacaraja Wilika adalah ayah dari Pisacaraja Bahli.

Pisacaraja Bahli menerima tawaran Prabu Brahmasatapa, namun ia meminta diizinkan tinggal di sanggar yang dulu ditempati kakeknya. Kemudian setiap hari Anggara Kasih ia juga meminta diberi sesaji berupa minyak wangi dan dupa. Prabu Brahmasatapa menyanggupinya. Sebagai hadiah atas jasanya membunuh Jalegi tadi, Prabu Brahmasatapa pun memberikan Mutiara Matuwahni kepada Pisacaraja Bahli. Mutiara Matuwahni tersebut tidak lain adalah kenang-kenangan dari Batari Dresanala saat dulu Prabu Brahmasatapa jatuh cinta kepada bibinya itu.

PERNIKAHAN DEWI SRINI DAN DEWI SATAPI

Prabu Brahmasatapa sangat gembira karena segala masalah telah teratasi. Ia pun menyatakan bahwa Arya Sadaskara akan diambil sebagai menantu, yaitu dinikahkan dengan Dewi Satapi. Ia juga mengutus Patih Brahmasadana untuk membalas lamaran Prabu Sri Mahawan terhadap Dewi Srini yang hendak dijodohkan dengan Raden Wahnaya.

Maka, pada hari yang ditentukan, dilangsungkanlah upacara pernikahan ganda di Kerajaan Gilingwesi, yaitu Dewi Srini dengan Raden Wahnaya, serta Dewi Satapi dengan Arya Sadaskara. Kebahagiaan ini semakin bertambah dengan berita kelahiran anak pertama Raden Parikenan dan Dewi Brahmaneki, yang diberi nama Dewi Kaniraras.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke: daftar isi




Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Parikenan Krama

 No comments   

Kisah ini menceritakan perkawinan Raden Parikenan putra Prabu Brahmasatapa dengan Dewi Brahmaneki adik Prabu Basupati. Dari perkawinan ini kelak akan lahir Resi Manumanasa, yaitu pendiri Padepokan Saptaarga, atau leluhur para Pandawa dan Kurawa.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 04 Februari 2015

Heri Purwanto
------------------------------ ooo ------------------------------


PRABU BRAHMASATAPA MEMBAHAS PERKAWINAN RADEN PARIKENAN

Prabu Brahmasatapa di Kerajaan Gilingwesi dihadap Patih Brahmasadana, Arya Brahmastuti, Arya Brahmayana, Arya Brahmanasidi, dan Arya Brahamanakestu. Mereka sedang membicarakan rencana pernikahan Raden Parikenan yang saat ini sudah berumur dua puluh tahun. Setahun yang lalu, Prabu Brahamasatapa berkunjung ke Kerajaan Wirata untuk melayat meninggalnya Begawan Wasubrata (Prabu Basurata). Pada saat itulah ia tertarik melihat adik Prabu Basupati, yaitu Dewi Brahmaneki dan berterus terang ingin mengambilnya sebagai menantu, yaitu dinikahkan dengan Raden Parikenan jika kelak masa berkabung telah usai. Akan tetapi, Prabu Basupati agak bimbang menanggapi lamaran tersebut. Jika ditinjau secara usia, Raden Parikenan dan Dewi Brahmaneki memang sebaya. Namun, jika ditinjau secara silsilah, Raden Parikenan masih terhitung keponakan Dewi Brahmaneki. Prabu Basupati takut mendapat murka para dewa, sehingga ia pun mengajukan syarat yaitu pihak pengantin pria harus dapat menghadirkan pohon Jayandaru dan Dewandaru dari Kahyangan Suralaya untuk memayungi kedua mempelai, serta upacara pernikahan mereka nanti harus diiringi tetabuhan Gamelan Lokananta milik Batara Indra. Jika Batara Indra bersedia meminjamkannya, itu berarti dewata telah merestui pernikahan antara bibi dan keponakan tersebut.

Kini, waktu setahun telah terlewati dan masa berkabung pun telah usai. Prabu Brahmasatapa merasa sudah tiba saatnya untuk menikahkan Raden Parikenan dengan Dewi Brahmaneki. Akan tetapi, saat ini Raden Parikenan sedang pergi meninggalkan istana entah ke mana. Oleh sebab itu, Prabu Brahmasatapa pun mengutus Raden Suganda putra Arya Brahmanakestu untuk berangkat mencarinya.

PASUKAN MEDANG SINDULA MENGEPUNG KERAJAAN GILINGWESI

Setelah Raden Suganda berangkat, tiba-tiba datang Patih Swalacala dari Kerajaan Medang Sindula menghadap Prabu Brahmasatapa untuk menyampaikan surat dari rajanya yang baru, yaitu Prabu Swaladara. Prabu Brahmasatapa teringat kalau Patih Swalacala ini adalah pengikut Prabu Siwalata, yaitu cucu Batara Kala yang dulu pernah menduduki Kerajaan Gilingwesi. Prabu Siwalata kemudian tewas di tangan Raden Parikenan saat menyerang Kahyangan Suralaya, sedangkan Kerajaan Gilingwesi dapat direbut kembali oleh Prabu Brahmasatapa dengan bantuan bala tentara dari Kerajaan Medang Kamulan. Prabu Brahmasatapa masih ingat kalau yang menjaga Kerajaan Gilingwesi saat itu bernama Resi Swaladara, mewakili Prabu Siwalata.

Patih Swalacala pun bercerita bahwa Resi Swaladara memang orang yang ditugasi menjaga Kerajaan Gilingwesi saat Prabu Siwalata menyerang Kahyangan Suralaya. Resi Swaladara lalu melarikan diri saat Prabu Brahamasatapa datang merebut kembali Kerajaan Gilingwesi. Semenatara itu, Patih Swalacala juga melarikan diri dari Kahyangan Suralaya saat Prabu Siwalata tewas di tangan Raden Parikenan. Patih Swalacala dan Resi Swaladara lalu bertemu dan sepakat membangun kembali Kerajaan Medang Sindula yang ditinggal mati Prabu Siwalata. Akan tetapi, keduanya lalu berselisih tentang siapa yang berhak menjadi raja. Perselisihan itu akhirnya dimenangkan oleh Resi Swaladara, sehingga takhta Kerajaan Medang Sindula pun jatuh kepadanya. Sementara itu, Patih Swalacala harus rela tetap menduduki jabatan sebagai patih.

Kini, lima tahun telah berlalu sejak kejadian itu. Prabu Swaladara berniat mengubah permusuhan dengan Kerajaan Gilingwesi menjadi persaudaraan. Maka, Patih Swalacala pun diutus untuk mengantarkan surat lamaran, bahwa Prabu Swaladara ingin mempersunting Dewi Srini (saudari kembar Raden Parikenan) sebagai permaisuri.

Prabu Brahmasatapa sangat marah membaca surat tersebut dan langsung menolak lamaran terhadap putrinya itu. Patih Swalacala membalas dengan ancaman bahwa pasukan Medang Sindula akan datang menyerbu Kerajaan Gilingwesi dan merebut Dewi Srini secara paksa. Usai berkata demikian, ia lantas undur diri kembali ke perkemahan untuk melapor kepada Prabu Swaladara.

Maka, tidak lama kemudian pasukan Medang Sindula pun datang menyerbu. Prabu Brahmasatapa dan Patih Brahmasadana beserta para arya memimpin pasukan Gilingwesi menghadapi serangan tersebut. Pertempuran besar pun terjadi. Prabu Brahmasatapa tidak menyangka pihak Medang Sindula selama lima tahun ini ternyata berhasil menghimpun angkatan perang baru sehingga dapat mengimbangi kekuatan pihak Gilingwesi. Melihat para prajuritnya banyak yang tewas dibantai para raksasa secara ganas, Prabu Brahmasatapa akhirnya memerintahkan untuk mundur dan kemudian menutup rapat-rapat gerbang benteng Kerajaan Gilingwesi.

RADEN SUGANDA MENDAPATKAN PETUNJUK DARI BEGAWAN RUKMAWATI

Sementara itu, Raden Suganda yang mendapat tugas untuk menjemput pulang Raden Parikenan tidak tahu harus pergi ke mana. Ia pun memutuskan untuk meminta petunjuk kepada Begawan Rukmawati di Gunung Mahendra.

Begawan Rukmawati menerima kedatangan Raden Suganda dan segera mengheningkan cipta mencari tahu di mana keberadaan Raden Parikenan. Beberapa saat kemudian, ia pun mengatakan bahwa Raden Parikenan sedang bertapa di Hutan Tikbrasara demi untuk mendapatkan izin Batara Indra dalam hal memenuhi persyaratan pernikahan yang diajukan Prabu Basupati. Begawan Rukmawati mendapatkan gambaran bahwa Batara Indra telah berkenan mengabulkan permintaan tersebut, mengingat Raden Parikenan pernah berjasa mengalahkan musuh Kahyangan Suralaya, yaitu Prabu Siwalata.

Begawan Rukmawati lalu memberikan petunjuk lain kepada Raden Suganda supaya menikahi Ken Raketan, anak seorang tuwaburu di Kerajaan Wirata bernama Kyai Wrigu. Meskipun Ken Raketan hanya seorang gadis biasa dari Desa Wasutira, namun ia adalah titisan bidadari bernama Batari Daruni, sedangkan Raden Suganda sendiri adalah titisan Batara Daruna. Mereka sudah ditakdirkan berjodoh dan kelak akan menurunkan raja-raja Tanah Jawa.

Raden Suganda mematuhi segala petunjuk Begawan Rukmawati lalu ia pun mohon diri meninggalkan Gunung Mahendra.

RADEN SUGANDA DAN RADEN PARIKENAN NAIK KE KAHYANGAN

Sesuai petunjuk tersebut, Raden Suganda berhasil menemukan Raden Parikenan sedang bertapa di tengah Hutan Tikbrasara. Ia pun membangunkan sepupunya itu dan menyampaikan pesan Begawan Rukmawati, bahwa Batara Indra telah mengabulkan permohonannya sebagai imbalan atas jasanya menumpas Prabu Siwalata lima tahun silam. Raden Parikenan gembira mendengarnya. Ia lalu mengajak Raden Suganda naik ke Kahyangan Suralaya untuk menghadap Batara Indra.

Batara Indra di Kahyangan Suralaya menerima kedatangan Raden Parikenan dan Raden Suganda dengan ramah. Mengenai persyaratan yang diajukan Prabu Basupati, segalanya akan dikabulkan oleh Batara Indra. Meskipun silsilah Raden Parikenan terhitung masih keponakan Dewi Brahmaneki, namun bukanlah keponakan kandung, sehingga pernikahan di antara mereka masih dapat dimaklumi. Batara Indra juga meramalkan bahwa perkawinan mereka kelak akan menurunkan manusia-manusia hebat yang terkenal sepanjang masa, antara lain para Pandawa dan Kurawa.

Akhirnya, Batara Indra pun berjanji akan mengutus para jawata untuk mengangkut pohon Jayandaru dan Dewandaru beserta Gamelan Lokananta ke Kerajaan Gilingwesi, sedangkan Raden Parikenan dan Raden Suganda diperintahkan untuk pulang lebih dulu, karena negeri mereka saat ini sedang dikepung musuh dari Kerajaan Medang Sindula.

Raden Parikenan berterima kasih atas kemurahan hati Batara Indra, lalu ia dan Raden Suganda pun mohon diri meninggalkan Kahyangan Suralaya.

RADEN PARIKENAN DAN RADEN SUGANDA MENUMPAS PARA RAKSASA

Raden Parikenan dan Raden Suganda telah sampai di perkemahan pasukan Medang Sindula yang terletak di luar benteng Kerajaan Gilingwesi. Mereka langsung menantang Prabu Swaladara dan Patih Swalacala untuk bertanding menentukan hidup dan mati, tanpa melibatkan pasukan. Tantangan tersebut diterima. Maka, diadakanlah perang tanding antara Raden Parikenan melawan Prabu Swaladara, serta Raden Suganda melawan Patih Swalacala.

Setelah memakan waktu cukup lama, perang tanding tersebut pun berakhir dengan kematian Prabu Swaladara dan Patih Swalacala. Pasukan raksasa Medang Sindula ketakutan melihat kedua pemimpin mereka tewas. Maka, mereka pun menyerah memohon ampun dan kemudian beramai-ramai pergi meninggalkan Kerajaan Gilingwesi.

Prabu Brahmasatapa sangat gembira mendengar putra dan keponakannya telah berhasil mengusir musuh. Tidak lama kemudian Batara Wrehaspati datang diiringi para jawata dan bidadari mengantarkan pohon Jayandaru, pohon Dewandaru, dan Gamelan Lokananta sebagai syarat pernikahan Raden Parikenan. Prabu Brahmasatapa bertambah gembira menerima kiriman dari Batara Indra tersebut.

PERKAWINAN RADEN PARIKENAN DAN DEWI BRAHMANEKI

Setelah segala persyaratan terpenuhi, Prabu Brahmasatapa pun memimpin rombongan pengantin pria berangkat menuju Kerajaan Wirata. Rombongan ini disambut baik oleh pihak mempelai wanita yang dipimpin Prabu Basupati. Upacara pernikahan Raden Parikenan dan Dewi Brahmaneki pun berlangsung khidmat, dengan diiringi suara tetabuhan Gamelan Lokananta yang berkumandang di angkasa.

Para tamu berdatangan dari segala penjuru, antara lain Sri Maharaja Purwacandra dari Kerajaan Medang Kamulan, serta Prabu Sri Mahawan dari Kerajaan Purwacarita untuk memberikan restu. Pada saat itulah Prabu Sri Mahawan tertarik melihat kecantikan Dewi Srini dan ingin menjadikannya sebagai menantu. Maka, Prabu Sri Mahawan pun menyampaikan niatnya kepada Prabu Brahmasatapa, yaitu ingin menikahkan Dewi Srini dengan Raden Wahnaya, putra keduanya. Prabu Brahmasatapa menerima lamaran tersebut dengan senang hati dan berharap hubungan kekeluargaan antara Kerajaan Gilingwesi dan Purwacarita bisa semakin bertambah erat.

RADEN SUGANDA MENIKAHI KEN RAKETAN

Setelah upacara pernikahan Raden Parikenan dan Dewi Brahmaneki berakhir, Raden Suganda menyampaikan kepada ayahnya (Arya Brahmanakestu) tentang petunjuk Begawan Rukmawati, bahwa jodohnya adalah seorang gadis dari Desa Wasutira bernama Ken Raketan, putri Kyai Wrigu. Karena Begawan Rukmawati sudah berpesan demikian, Arya Brahmanakestu tidak berani membantah. Ia pun mengajak Raden Suganda untuk berangkat melamar gadis tersebut.

Sesampainya di Desa Wasutira, Arya Brahmanakestu segera menemui Kyai Wrigu untuk melamar Ken Raketan sebagai istri Raden Suganda. Kyai Wrigu sangat terharu karena anaknya hanya seorang gadis desa biasa, namun diambil sebagai menantu oleh seorang pembesar Kerajaan Gilingwesi. Kyai Wrigu dan istrinya, yaitu Ken Sangki seketika teringat pesan Dewi Sri saat kelahiran Ken Raketan dulu, bahwa putri mereka adalah titisan Batari Daruni yang akan mendapatkan jodoh titisan Batara Daruna.

Beberapa waktu kemudian diadakanlah upacara pernikahan antara Raden Suganda dengan Ken Raketan di Desa Wasutira. Setelah satu pekan, Raden Suganda pun memboyong istrinya itu pindah ke Kerajaan Gilingwesi untuk hidup berumah tangga di sana.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke: daftar isi




Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Parikenan Krida

 No comments   

Kisah ini menceritakan tentang masa remaja Raden Parikenan, leluhur para Pandawa dan Kurawa, yang menjadi jago dewa untuk menumpas cucu Batara Kala yang bernama Prabu Siwalata. Ia dan saudari kembarnya, yaitu Dewi Srini, lalu mengetahui asal-usul mereka dan akhirnya bisa bersatu lagi dengan Prabu Brahmasatapa di Kerajaan Gilingwesi.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 01 Februari 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


KERAJAAN GILINGWESI MENDAPAT TANTANGAN DARI MUSUH RAKSASA

Prabu Brahmasatapa di Kerajaan Gilingwesi dihadap Patih Brahmasadana, Arya Brahmastuti, Arya Brahmayana, Arya Brahmanasidi, Arya Brahmanaweda, Arya Brahmanaradya, Arya Brahmanajati, dan Arya Brahmanakestu. Mereka sedang membicarakan berita duka dari Kerajaan Wirata, yaitu Dewi Indradi permaisuri Prabu Basupati yang musnah kembali ke kahyangan setelah melahirkan seorang putra bernama Raden Basumurti. Peristiwa ini membuat Prabu Brahmasatapa terkenang pada pengalamannya sendiri lima belas tahun yang lalu saat ia ditinggalkan istri pertamanya, yaitu Dewi Widati yang musnah kembali ke kahyangan setelah melahirkan dua ekor bayi kambing. Prabu Brahmasatapa masih penasaran sampai sekarang dan tidak dapat melupakan peristiwa tersebut, meskipun pernikahannya dengan Dewi Rajatadi telah dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Dewi Satapi.

Ketika Prabu Brahmasatapa hendak berangkat mengunjungi Kerajaan Wirata, tiba-tiba datang seorang raksasa bernama Patih Swalacala yang berasal dari Kerajaan Medang Sindula. Patih Swalacala ini datang untuk menyampaikan surat dari rajanya, yaitu Prabu Siwalata yang ingin membalaskan dendam turun-temurun antara keturunan Batara Kala terhadap keturunan Batara Brahma dan Batara Wisnu. Adapun Prabu Siwalata merupakan putra Batara Siwahoya, atau cucu Batara Kala.

Prabu Brahmasatapa menerima tantangan itu. Maka, Patih Swalacala pun undur diri kembali ke perkemahan untuk melapor kepada rajanya.

PRABU BRAHMASATAPA MENGUNGSI KE MEDANG KAMULAN

Prabu Siwalata di perkemahan dihadap Resi Swaladara dan para punggawa raksasa. Tidak lama kemudian Patih Swalacala datang melapor bahwa Prabu Brahmasatapa menerima tantangan tersebut. Prabu Siwalata sangat senang dan ia pun memimpin pasukan Medang Sindula berangkat menggempur istana Gilingwesi.

Di lain pihak, Prabu Brahmasatapa juga memimpin langsung pasukan Gilingwesi menghadapi serangan itu. Perang besar pun terjadi. Setelah bertempur beberapa hari, pihak Gilingwesi akhirnya terdesak dan tidak mampu lagi menghadapi kekuatan musuh yang begitu besar. Prabu Brahmasatapa sekeluarga terpaksa mengungsi ke Kerajaan Medang Kamulan untuk meminta pertolongan Sri Maharaja Purwacandra.

PRABU SIWALATA INGIN MENYERANG KAHYANGAN SURALAYA

Prabu Siwalata kini telah menduduki takhta Kerajaan Gilingwesi. Ia kemudian berunding dengan Patih Swalacala dan Resi Swaladara untuk melanjutkan rencana membalaskan dendam leluhurnya. Kali ini yang menjadi sasaran adalah Batara Indra di Kahyangan Suralaya. Prabu Siwalata dan Patih Swalacala lalu berangkat memimpin bala tentara menuju ke sana, sedangkan Resi Swaladara dan sebagian pasukan sisanya tetap berjaga di Kerajaan Gilingwesi.

Sesampainya di kaki Gunung Jamurdipa, Prabu Siwalata mengutus Patih Swalacala untuk menyampaikan surat kepada Batara Indra yang saat itu sedang memimpin pertemuan para dewa. Batara Indra menerima surat itu dan membaca isinya yang berisi permintaan Prabu Siwalata untuk dapat menikahi salah satu bidadari unggulan, yaitu Batari Wilotama. Batara Indra sangat marah dan langsung menolak lamaran tersebut. Karena keputusan sudah jelas, Patih Swalacala pun undur diri kembali ke perkemahan untuk melapor kepada rajanya.

Prabu Siwalata sendiri sangat senang mendengar lamarannya ditolak, karena hal ini bisa menjadi alasan baginya untuk menggempur Kahyangan Suralaya. Maka, ia pun mengerahkan pasukan raksasa yang langsung berhadapan dengan pasukan dewata yang dipimpin putra-putra Batara Indra, yaitu Batara Citranggada, Batara Citrasena, Batara Citrarata, dan Batara Arjunawangsa.

Dalam pertempuran itu, pihak raksasa berhasil membuat para dewa terdesak mundur hingga berlindung ke dalam kahyangan dan mengunci rapat-rapat Kori Selamatangkep. Batara Indra kemudian mengheningkan cipta memohon petunjuk Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka. Tidak lama kemudian datanglah Batara Narada yang diutus Batara Guru untuk mencarikan jago bagi Kahyangan Suralaya. Adapun jago tersebut adalah cicit Batara Brahma yang terlahir dampit dan saat ini menjadi murid Begawan Rukmawati di Gunung Mahendra.

DESA BANASRI MENGADAKAN SESAJI MEMINTA HUJAN

Begawan Rukmawati di Gunung Mahendra saat itu sedang menerima kedatangan para pemuka Desa Banasri yang meminta petunjuk bagaimana caranya mendatangkan hujan. Sudah beberapa bulan ini sawah dan ladang Desa Banasri dilanda kekeringan dan gagal panen. Begawan Rukmawati pun menyarankan mereka untuk mengadakan sesaji yang harus dipimpin oleh dua orang anak kembar dampit, yaitu kembar laki-laki dan perempuan. Kebetulan Begawan Rukmawati memiliki dua orang murid kembar dampit, yaitu Raden Dukutoya dan Dewi Srini yang bisa membantu memimpin sesaji tersebut. Para pemuka Desa Banasri sangat gembira dan segera mohon pamit sambil mengajak serta kedua muda-mudi itu pergi bersama mereka.

Sesampainya di Desa Banasri, Raden Dukutoya dan Dewi Srini segera memimpin sesaji sebagaimana yang telah diajarkan Begawan Rukmawati. Dewi Srini memasak bubur berbentuk butiran lonjong seperti lumut dan diberi nama Bubur Dawet, kemudian diserahkan kepada Raden Dukutoya untuk disebarkan ke tanah persawahan dan perkebunan. Setelah membaca beberapa mantra, tidak lama kemudian hujan deras pun turun mengguyur Desa Banasri, membuat seluruh penduduk merasa sangat senang dan bersuka cita.

BATARA NARADA MEMBAWA RADEN DUKUTOYA DAN DEWI SRINI KE KAHYANGAN

Setelah hujan reda, tiba-tiba Batara Narada muncul dan langsung menyambar Raden Dukutoya dan Dewi Srini. Melihat kedua muda-mudi itu hilang diculik, para pemuka Desa Banasri sangat ketakutan dan segera naik ke Gunung Mahendra untuk melapor kepada Begawan Rukmawati. Begitu menerima laporan tersebut, Begawan Rukmawati segera mengheningkan cipta untuk mengetahui duduk permasalahannya. Setelah mendapatkan kejelasan, ia pun terbang menyusul kedua muridnya itu pergi ke Kahyangan Suralaya.

Batara Narada yang telah sampai segera menghadapkan Raden Dukutoya dan Dewi Srini kepada Batara Indra. Tidak lama kemudian Begawan Rukmawati datang pula. Batara Indra menjelaskan kepada bidadari pertapa itu bahwa para dewata sangat membutuhkan bantuan Raden Dukutoya untuk menghadapi musuh kahyangan yang bernama Prabu Siwalata. Begawan Rukmawati pun mempersilakannya karena ia yakin pada kemampuan muridnya tersebut.

RADEN DUKUTOYA MENUMPAS PRABU SIWALATA

Raden Dukutoya kemudian maju ke medan pertempuran memimpin pasukan dewata menghadapi pasukan raksasa Kerajaan Medang Sindula. Pertempuran pun berlangsung sengit. Dengan cekatan Raden Dukutoya berhasil memukul mundur para raksasa tersebut dengan panah-panahnya.

Mengetahui para prajuritnya terdesak, Prabu Siwalata pun terjun ke pertempuran menghadapi Raden Dukutoya. Pertempuran seru kembali terjadi. Lagi-lagi Raden Dukutoya mendapatkan kemenangan, di mana ia berhasil membuat Prabu Siwalata tewas kehilangan nyawa.

Melihat rajanya terbunuh, Patih Swalacala ketakutan dan melarikan diri dengan sisa-sisa prajurit raksasa yang masih hidup meninggalkan Kahyangan Suralaya.

RADEN DUKUTOYA BERGANTI NAMA MENJADI BAMBANG PARIKENAN

Batara Indra sangat gembira menyambut kemenangan Raden Dukutoya. Begawan Rukmawati sendiri merasa sudah tiba saatnya untuk menceritakan jati diri Raden Dukutoya dan Dewi Srini kepada kedua muda-mudi itu. Ia pun menjelaskan bahwa mereka berdua sesungguhnya adalah putra-putri Prabu Brahmasatapa raja Gilingwesi yang lahir dari permaisuri Dewi Widati. Sejak bayi mereka dibuang ke hutan oleh Dewi Rajatadi sang istri kedua Prabu Brahmasatapa yang dilanda iri hati dan cemburu, serta menggantikan mereka dengan dua ekor anak kambing. Begawan Rukmawati lalu menemukan dan mengasuh mereka berdua hingga akhirnya sampai pada hari ini.

Batara Indra dan Batara Narada menyarankan agar Raden Dukutoya dan Dewi Srini menemui ayah mereka di Kerajaan Gilingwesi. Akan tetapi, sebaiknya mereka menggunakan nama samaran terlebih dulu, dan jangan langsung mengaku sebagai putra-putri Prabu Brahmasatapa untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman. Raden Dukutoya hendaknya mengganti nama menjadi Bambang Parikenan, sedangkan Dewi Srini mengganti nama menjadi Endang Srini. Keduanya lalu mohon pamit menuju Kerajaan Gilingwesi. Mereka merasa sangat terharu saat berpisah dengan Begawan Rukmawati yang selama ini telah merawat dan membesarkan mereka bagaikan ibu sendiri.

PRABU BRAHMASATAPA MENERIMA KEDUA ANAKNYA

Sementara itu, Prabu Brahmasatapa telah kembali ke Kerajaan Gilingwesi dengan membawa bala bantuan dari Kerajaan Medang Kamulan, yang dipimpin Raja Capala. Menghadapi serangan balasan itu, Resi Swaladara dan para prajurit raksasa yang tidak ikut menyerang Kahyangan Suralaya merasa terdesak kewalahan. Prabu Brahmasatapa akhirnya berhasil mengusir mereka pergi meninggalkan istana Gilingwesi.

Tidak lama kemudian, datanglah Bambang Parikenan dan Endang Srini menghadap Prabu Brahmasatapa dan memohon supaya diterima mengabdi di Kerajaan Gilingwesi. Prabu Brahmasatapa tertarik melihat kecantikan Endang Srini yang membuatnya terkenang kepada Dewi Widati. Ia pun bertanya apakah gadis remaja itu istri ataukah saudara Bambang Parikenan. Bambang Parikenan menjawab bahwa Endang Srini adalah saudari kembarnya. Prabu Brahmasatapa sangat senang dan menerima pengabdian Bambang Parikenan, namun dengan syarat Endang Srini harus diserahkan kepadanya untuk dijadikan sebagai istri.

Pada saat itulah Batara Narada turun dari angkasa dan melarang Prabu Brahmasatapa melanjutkan niatnya, karena Endang Srini tidak lain adalah anak kandungnya sendiri. Batara Narada menjelaskan bahwa Bambang Parikenan dan Endang Srini adalah anak kembar dampit yang dilahirkan Dewi Widati, namun dibuang ke hutan oleh Dewi Rajatadi karena cemburu. Kedua bayi itu kemudian ditukar Dewi Rajatadi dengan dua ekor bayi kambing. Setelah menceritakan semua kejadian dengan rinci, Batara Narada lalu undur diri kembali ke kahyangan.

Prabu Brahmasatapa sangat bahagia bercampur malu. Ia bahagia karena bisa berkumpul kembali dengan kedua anaknya yang lama hilang, sekaligus malu karena kurang waspada dan hampir saja menikahi putrinya sendiri. Selain itu, ia juga sangat marah kepada Dewi Rajatadi yang telah memfitnah Dewi Widati. Namun, Bambang Parikenan dan Endang Srini memohon supaya sang ayah mengampuni kesalahan ibu tiri mereka itu. Prabu Brahmasatapa mengabulkannya, tapi sejak saat itu ia menjadi enggan menyentuh Dewi Rajatadi.

Prabu Brahmasatapa lalu mengganti gelar Bambang Parikenan dan Endang Srini menjadi Raden Parikenan dan Dewi Srini. Adapun gelar Bambang dan Endang kemudian disebarluaskan untuk dipakai sebagai nama depan pemuda dan pemudi yang berasal dari pertapaan.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke: daftar isi




Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ▼  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ▼  February (8)
      • Wirata Anyar Binangun
      • Gilingwesi Bedah
      • Begawan Kalacakra
      • Brahmana Wisaka
      • Kaniyasa Lahir
      • Satapi Murca
      • Parikenan Krama
      • Parikenan Krida
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja