Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Gatutkaca Nagih Janji

 No comments   


Kisah ini menceritakan tentang Arya Gatutkaca yang bertapa di Gunung Argakelasa untuk menagih janji Batara Guru yang pernah diucapkannya dulu.

Kisah ini saya olah dari sumber rekaman wayang kulit dengan dalang Ki Nartosabdo, yang dipadukan dengan rekaman pentas Ki Manteb Soedharsono, dengan perubahan seperlunya.

Kediri, 19 Januari 2019

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, silakan klik di sini

Arya Gatutkaca.

------------------------------ ooo ------------------------------

PRABU DURYUDANA MENDENGAR KABAR ARYA GATUTKACA BERTAPA DI GUNUNG ARGAKELASA

Di Kerajaan Hastina, Prabu Duryudana memimpin pertemuan dihadap Danghyang Druna dari Sokalima, Patih Sangkuni dari Plasajenar, Adipati Karna dari Awangga, dan Raden Kartawarma dari Tirtatinalang. Dalam pertemuan itu, Patih Sangkuni melaporkan bahwa Arya Gatutkaca saat ini tengah menduduki bekas padepokan milik Bagawan Bimasuci di Gunung Argakelasa bersama saudara-saudaranya. Patih Sangkuni curiga, Arya Gatutkaca memiliki niat buruk, mengingat Gunung Argakelasa terletak di perbatasan antara Kerajaan Hastina dan Kerajaan Amarta.

Prabu Duryudana langsung percaya pada laporan Patih Sangkuni. Memang beberapa waktu yang lalu Arya Wrekodara menduduki Gunung Argakelasa sebagai brahmana bernama Bagawan Bimasuci, mengajarkan ilmu kasampurnan dan juga memberikan pengobatan kepada masyarakat sekitar. Kini ganti anaknya, yaitu Arya Gatutkaca yang menduduki gunung tersebut. Ia yakin, Arya Gatutkaca pasti sedang mengumpulkan kekuatan untuk memberontak kepada dirinya. Ia yakin, penduduk yang telah ditolong Bagawan Bimasuci pasti merasa berhutang budi dan bisa dengan mudah dihasut Arya Gatutkaca untuk tidak menyukai pemerintah pusat. Hal ini tidak bisa dibiarkan. Prabu Duryudana pun memerintahkan Adipati Karna untuk menangkap Arya Gatutkaca hidup atau mati dengan tuduhan makar.

Adipati Karna meminta Prabu Duryudana agar tidak terburu nafsu. Semua laporan harus diselidiki terlebih dulu, jangan berat sebelah. Danghyang Druna mendukung ucapan Adipati Karna. Gunung Argakelasa adalah batas alam antara Kerajaan Hastina dan Kerajaan Amarta. Kedua negara memiliki hak yang sama untuk menjaga gunung tersebut. Siapa tahu Arya Gatutkaca menduduki Gunung Argakelasa bukan untuk makar, melainkan untuk mengadakan penghijauan, menjaga kelestarian lingkungan, dan sebagainya.

Prabu Duryudana marah menuduh Danghyang Druna dan Adipati Karna tidak tulus mendukung pemerintahannya. Danghyang Druna adalah guru para Pandawa, sedangkan Adipati Karna adalah kakak para Pandawa, sehingga wajar jika mereka memiliki maksud lain. Danghyang Druna dan Adipati Karna meminta maaf. Mereka menyatakan diri tulus mengabdi di Kerajaan Hastina. Segala usul yang mereka ajukan tidak lain adalah untuk kebaikan Prabu Duryudana juga. Tentunya, jangan sampai Prabu Duryudana mendapat malu seperti yang sudah-sudah.

Prabu Duryudana keras kepala tidak peduli pada ucapan keduanya. Yang baik menurut dirinya hanya satu, yaitu bisa mengalahkan para Pandawa beserta anak-anak mereka. Oleh sebab itu, ia pun menegaskan bahwa perintah untuk membubarkan perkumpulan di Gunung Argakelasa adalah wajib dilaksanakan. Adipati Karna tidak bisa membantah lagi. Ia pun berangkat melaksanakan tugas dengan didampingi Patih Sangkuni dan para Kurawa.

PASUKAN HASTINA DISAMBUT ANAK-ANAK PANDAWA

Di Gunung Argakelasa, Bambang Wisanggeni baru tiba dan disambut para putra Pandawa lainnya, yaitu Arya Antareja, Raden Antasena, dan juga Bambang Irawan. Bambang Wisanggeni bertanya apa benar Arya Gatutkaca mengadakan perkumpulan dan apa tujuan dari perkumpulan tersebut. Arya Antareja menjawab, tujuan Arya Gatutkaca adalah ingin melakukan unjuk rasa kepada Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka yang dulu pernah berjanji akan mengangkat dirinya sebagai raja kahyangan. Namun, unjuk rasa ini tidak dilakukan dengan cara berbuat keributan, melainkan dengan cara melakukan tapa brata di Gunung Argakelasa, yaitu bekas padepokan milik Bagawan Bimasuci.

Bambang Wisanggeni mendukung rencana Arya Gatutkaca. Ia pernah mendengar cerita bahwa dahulu kala Arya Gatutkaca pernah menjadi jago kahyangan melawan amukan Patih Sekipu dan juga menumpas Prabu Kalapracona raja Kiskanda. Atas jasanya itu, Batara Guru menjanjikan akan mengangkat Arya Gatutkaca sebagai raja kahyangan apabila sudah tiba saat yang tepat. Sudah dua puluh tahun lebih peristiwa itu berlalu, namun Batara Guru belum juga menepati janjinya. Bambang Wisanggeni berkata, meskipun Batara Guru adalah pemimpin para dewa, namun Arya Gatutkaca tidak boleh takut menagih janji. Ia siap membantu dan mendukung perjuangan Arya Gatutkaca hingga berhasil.

Tidak lama kemudian datanglah Adipati Karna beserta Patih Sangkuni dan para Kurawa. Mereka datang untuk mengusir Arya Gatutkaca dan anak-anak Pandawa lainnya dari Gunung Argakelasa. Arya Gatutkaca dilarang mengadakan perkumpulan di dalam wilayah Kerajaan Hastina. Bambang Wisanggeni berkata, Gunung Argakelasa terletak di perbatasan antara Kerajaan Hastina dan Amarta, sehingga kedua pihak memiliki hak yang sama atas gunung ini. Oleh sebab itu, para Kurawa tidak berhak membubarkan perkumpulan Arya Gatutkaca.

Adipati Karna hilang kesabaran. Ia pun memerintahkan para Kurawa dan pasukan Hastina untuk mengobrak-abrik Padepokan Argakelasa. Arya Antareja, Raden Antasena, dan Bambang Irawan menghadapi serangan mereka. Pertempuran sengit pun terjadi. Kekuatan pihak Hastina jauh lebih banyak. Bambang Wisanggeni pun mengerahkan kemayan untuk memperdaya musuh. Ia mengajak saudara-saudaranya itu untuk pura-pura kalah dan berlari masuk ke dalam padepokan. Ketika Adipati Karna dan para Kurawa ikut mengejar masuk, tahu-tahu mereka sudah berada di alun-alun Kerajaan Hastina. Para Kurawa terheran-heran, sedangkan Adipati Karna tersenyum senang karena dikalahkan keponakannya dengan cara yang aneh seperti ini.

BATARI DURGA DAN PRABU DEWASRANI MENGHADAP BATARA GURU

Di Kahyangan Jonggringsalaka, Batara Guru dihadap Batara Narada dan para dewa lainnya. Mereka membahas tentang penyebab gara-gara yang melanda kahyangan. Batara Narada menjelaskan bahwa gara-gara disebabkan oleh Arya Gatutkaca yang bertapa di Gunung Argakelasa untuk menagih janji Batara Guru yang dulu pernah menyanggupi akan mengangkat dirinya sebagai raja kahyangan. Janji tersebut diucapkan Batara Guru untuk menghargai jasa Arya Gatutkaca yang saat itu berhasil menumpas musuh kahyangan, yaitu Prabu Kalapracona dan Patih Sekipu.

Batara Guru belum sempat menjawab, tiba-tiba datang Batari Durga bersama putranya, yaitu Prabu Dewasrani. Keduanya datang untuk menuntut keadilan. Rupanya mereka telah mendengar kabar bahwa Arya Gatutkaca sedang bertapa di Gunung Argakelasa untuk menagih janji yang pernah diucap Batara Guru dulu, yaitu menjadikan dirinya sebagai raja kahyangan. Prabu Dewasrani merasa ini tidak adil. Dirinya sebagai putra dewa tidak pernah dijanjikan demikian, tapi mengapa Arya Gatutkaca yang hanya seorang manusia biasa bisa mendapatkan keuntungan seperti ini.

Batara Guru menjawab, ini bukan soal untung rugi. Arya Gatutkaca pernah berjasa menumpas musuh kahyangan lebih dari dua puluh tahun silam. Saat itu Batara Guru pernah berjanji akan mengangkat Arya Gatutkaca sebagai raja kahyangan apabila sudah tiba waktu yang tepat. Batara Narada ikut berkata, di mana ia menegaskan bahwa janji adalah hutang, dan hutang wajib dilunasi.

Batari Durga membantah perkataan Batara Narada. Menurut pendapatnya, janji seorang pemimpin boleh dilanggar apabila janji tersebut dapat menyebabkan kerugian. Jika Arya Gatutkaca diizinkan menjadi raja kahyangan, maka semua manusia akan ikut-ikutan minta dijadikan raja kahyangan. Jika hal itu sampai terjadi, maka wibawa para dewa akan mengalami kemerosotan. Itulah sebabnya, Batari Durga datang untuk memohon agar Batara Guru membatalkan janji melantik Arya Gatutkaca sebagai raja kahyangan.

Batara Guru setuju pada usulan Batari Durga. Ia pun mempersilakan Batari Durga entah bagaimana caranya untuk membubarkan Padepokan Argakelasa agar Arya Gatutkaca tidak lagi bertapa di sana. Batari Durga menyatakan bersedia. Ia lalu mohon pamit berangkat bersama Prabu Dewasrani.

ARYA GATUTKACA DIJEMPUT PRABU KRESNA

Sementara itu di Gunung Argakelasa, Raden Abimanyu dan para panakawan datang menyusul Arya Gatutkaca. Mendengar adik kesayangannya tiba, Arya Gatutkaca segera keluar dari ruang samadi untuk menyambut Raden Abimanyu. Ia pun terkejut bercampur gembira mengetahui Bambang Wisanggeni ternyata hadir lebih dulu dan telah berjasa mengusir orang-orang Hastina menggunakan ilmu kemayan.

Bambang Wisanggeni dan Raden Abimanyu datang untuk menyatakan dukungan mereka atas perjuangan Arya Gatutkaca, yaitu menagih janji kepada Batara Guru. Bambang Wisanggeni berpesan, apa pun yang terjadi jangan sampai Arya Gatutkaca pergi meninggalkan Gunung Argakelasa.

Tidak lama kemudian datanglah Prabu Kresna di padepokan tersebut. Arya Gatutkaca dan yang lain segera menyambut dengan penuh penghormatan. Prabu Kresna hari itu datang untuk menjemput pulang Arya Gatutkaca karena ayahnya, yaitu Arya Wrekodara sedang sakit keras. Siang malam Arya Wrekodara hanya berbaring di tempat tidur dan memanggil-manggil nama Arya Gatutkaca seorang.

Arya Gatutkaca gemetar mendengar berita ini. Ia pun menyatakan hendak pulang ke Kerajaan Amarta, dan membatalkan tapa-bratanya di Gunung Argakelasa. Bambang Wisanggeni mencegah, karena bagaimanapun juga Arya Gatutkaca tidak boleh pergi meninggalkan padepokan. Jika Arya Gatutkaca sampai meninggalkan Gunung Argakelasa, maka rencana menagih janji Batara Guru akan mengalami kegagalan.

Arya Gatutkaca tidak peduli lagi dengan janji dewata. Sekarang ini yang paling penting baginya adalah kesembuhan sang ayah. Apalah gunanya menjadi raja kahyangan, apabila penyakit ayah kandungnya semakin bertambah parah.

Raden Antasena ikut bicara. Ia mendukung ucapan Bambang Wisanggeni agar Arya Gatutkaca tidak pulang ke Kerajaan Amarta. Apabila benar ayah mereka sedang sakit, tentunya Prabu Kresna bisa mengobati menggunakan Kembang Wijayakusuma, tidak perlu susah payah menyusul ke Gunung Argakelasa.

Prabu Kresna menjawab, keampuhan Kembang Wijayakusuma tergantung semangat si sakit. Masalahnya, yang menjadi sumber semangat Arya Wrekodara hanyalah kepulangan Arya Gatutkaca. Meskipun diobati berkali-kali menggunakan Kembang Wijayakusuma, tetap saja tidak ada hasilnya apabila Arya Wrekodara hanya merindukan Arya Gatutkaca melulu.

Arya Gatutkaca merasa bimbang. Ia lalu meminta pendapat para saudara lainnya. Arya Antareja, Raden Abimanyu, dan Bambang Irawan menyarankan agar Arya Gatutkaca pulang saja, demi kesembuhan orang tua. Soal bertapa bisa dilanjutkan lain waktu. Arya Gatutkaca merasa mendapat pendukung. Ia pun menyatakan ikut Prabu Kresna pulang ke Kerajaan Amarta.

Bambang Wisanggeni merasa kecewa. Ia lalu pamit pulang dengan ditemani Raden Antasena. Prabu Kresna tidak peduli pada sikap mereka berdua. Tanpa banyak bicara, ia segera menggandeng tangan Arya Gatutkaca dan membawanya melesat pergi meninggalkan Padepokan Argakelasa. Arya Antareja, Raden Abimanyu, dan Bambang Irawan heran melihat kejadian ini. Mereka pun bergegas menyusul kepergian Prabu Kresna dan Arya Gatutkaca menuju Kerajaan Amarta.

ARYA GATUTKACA DIANIAYA PRABU NAGAPRAKOSA

Prabu Kresna menggandeng tangan Arya Gatutkaca berjalan cepat meninggalkan Gunung Argakelasa. Arya Gatutkaca heran karena jalur yang ditempuh ternyata bukan menuju Kerajaan Amarta. Ia pun berontak melepaskan diri dari cengkeraman Prabu Kresna. Ternyata Prabu Kresna yang menjemputnya adalah penjelmaan Batari Durga, yang ingin menggagalkan dirinya supaya tidak menjadi raja kahyangan.

Arya Gatutkaca berkata, dirinya lebih baik dibunuh daripada dibohongi seperti ini. Batari Durga menjawab, urusan membunuh Arya Gatutkaca akan diserahkan kepada Prabu Dewasrani dan pasukannya saja. Tiba-tiba muncul seorang raja raksasa yang mengaku bernama Prabu Nagaprakosa. Ia datang untuk mewakili Batari Durga membunuh Arya Gatutkaca, tidak perlu diserahkan kepada Prabu Dewasrani.

Batari Durga bertanya ada dendam apa sehingga Prabu Nagaprakosa ingin membunuh Arya Gatutkaca. Prabu Nagaprakosa menjawab, dirinya adalah adik seperguruan Prabu Kalapracona yang dulu mati dibunuh Arya Gatutkaca. Dendam di hatinya kepada Arya Gatutkaca sangat besar tidak terukur. Itu sebabnya, Batari Durga tidak perlu mengotori tangan dengan percikan darah Arya Gatutkaca.

Batari Durga merasa senang mendengar penuturan Prabu Nagaprakosa. Arya Gatutkaca lalu diserahkannya kepada raja raksasa tersebut. Prabu Nagaprakosa menerima dengan senang hati. Ia pun menghajar Arya Gatutkaca bertubi-tubi hingga jatuh pingsan. Dengan segenap kekuatan, Prabu Nagaprakosa lalu melemparkan tubuh Arya Gatutkaca hingga jatuh entah ke mana.

ARYA GATUTKACA DIHADAPKAN KEPADA BATARA GURU

Tubuh Arya Gatutkaca ternyata jatuh di kaki Gunung Jamurdipa. Kebetulan Batara Narada lewat di situ setelah ia kecewa atas sikap Batara Guru dalam pertemuan tadi. Melihat Arya Gatutkaca tergeletak pingsan, ia pun mendatangi pemuda itu dan menyembuhkan lukanya.

Arya Gatutkaca bangun dari pingsan dan segera menyembah Batara Narada. Batara Narada merasa prihatin dan segera mengajak Arya Gatutkaca naik ke Kahyangan Jonggringsalaka, menghadap kepada Batara Guru.

Sesampainya di sana, mereka melihat Batara Guru sedang duduk dihadap para dewa lainnya. Batara Narada segera menyampaikan isi hatinya yang kecewa atas sikap Batara Guru yang terlalu berat sebelah, lebih mementingkan laporan Batari Durga dan Prabu Dewasrani daripada menjaga martabat sendiri. Kini Arya Gatutkaca telah hadir di Kahyangan Jonggringsalaka. Daripada pemuda ini mati dibunuh Batari Durga, mungkin lebih baik mati dibunuh Batara Guru saja.

BATARA GURU MENEPATI JANJINYA KEPADA ARYA GATUTKACA

Arya Gatutkaca maju mendekat. Ia menyerahkan lehernya untuk dipenggal Batara Guru. Batara Guru mengangkat pusaka trisula dan mengarahkannya ke dada Arya Gatutkaca. Namun, pusaka tersebut lalu dialihkan ke pundak Arya Gatutkaca sebagai pertanda bahwa Batara Guru hendak memberikan restu, bukan hendak membunuhnya.

Batara Narada dan para dewa lainnya heran bercampur lega. Batara Guru menjelaskan bahwa ia hanya pura-pura mengabulkan permintaan Batari Durga. Sesungguhnya ini semua hanyalah ujian untuk kesungguhan hati Arya Gatutkaca. Karena Arya Gatutkaca tidak mengindahkan pesan Bambang Wisanggeni, maka ia pun mendapatkan luka karena dianiaya Prabu Nagaprakosa. Anggap saja luka-luka tersebut sebagai pengalaman agar kelak Arya Gatutkaca lebih waspada dan berhati-hati dalam bertindak.

Mengenai janji yang pernah diucapkan dulu, sama sekali Batara Guru tidak lupa. Ia menyatakan hari ini adalah hari yang tepat untuk melantik Arya Gatutkaca sebagai raja kahyangan. Arya Gatutkaca lalu diberi mahkota dan didudukkan di atas takhta yang selama ini ia duduki.

Arya Gatutkaca duduk sejenak di atas takhta tersebut, kemudian ia turun dan bersimpuh menyembah Batara Guru. Arya Gatutkaca lalu mendudukkan Batara Guru kembali ke atas takhta kahyangan. Batara Guru heran mengapa Arya Gatutkaca menolak anugerah yang ia berikan. Arya Gatutkaca menjawab, dirinya sama sekali tidak menolak. Tujuannya bertapa di Gunung Argakelasa adalah untuk mengingatkan Batara Guru akan janji terdahulu. Ia sama sekali tidak berniat serakah, namun hanya ingin menjaga nama baik Batara Guru sebagai pemimpin para dewa. Kini Batara Guru telah terbukti menepati janjinya dengan mengangkat Arya Gatutkaca sebagai raja kahyangan. Arya Gatutkaca merasa dirinya sudah cukup menduduki takhta kahyangan walaupun hanya beberapa detik saja. Baginya, yang paling penting adalah Batara Guru sudah menepati janji dan menjaga wibawa selaku pemimpin para dewa.

Batara Guru merasa terharu melihat watak Arya Gatutkaca yang luhur budi. Ia pun memberikan anugerah baru, yaitu mengangkat Arya Gatutkaca sebagai putra, dengan memberinya julukan Prabu Guruhandaya. Arya Gatutkaca merasa tersanjung dan kembali menyembah Batara Guru.

ROMBONGAN ARYA ANTAREJA BERTEMU PRABU KRESNA YANG ASLI

Sementara itu, Arya Antareja, Raden Abimanyu, dan Bambang Irawan sedang dalam perjalanan menyusul Arya Gatutkaca pulang ke Kerajaan Amarta. Di tengah jalan mereka bertemu Prabu Kresna yang berjalan bersama Arya Wrekodara dan Raden Arjuna. Arya Antareja dan yang lain segera menyembah, dan mereka pun merasa senang melihat Arya Wrekodara telah sembuh dari penyakit berkat kepulangan Arya Gatutkaca.

Arya Wrekodara tidak paham atas perkataan Arya Antareja. Ia merasa selama ini sehat-sehat saja dan tidak terserang penyakit. Arya Antareja pun bercerita bahwa Prabu Kresna telah datang ke Gunung Argakelasa menjemput pulang Arya Gatutkaca dengan alasan Arya Wrekodara sakit keras. Prabu Kresna tersenyum dan menjelaskan dirinya tidak pernah pergi ke Gunung Argakelasa. Justru hari ini ia berniat mengunjungi Arya Gatutkaca bersama Arya Wrekodara dan Raden Arjuna.

Arya Antareja, Raden Abimanyu, dan Bambang Irawan kebingungan mendengarnya. Kini mereka baru sadar bahwa ucapan Bambang Wisanggeni terbukti benar. Tiba-tiba datang Prabu Nagaprakosa mengatakan bahwa yang menjemput Arya Gatutkaca adalah Prabu Kresna palsu, dan saat ini Arya Gatutkaca pun sudah ia bunuh.

ARYA GATUTKACA MENGALAHKAN PRABU NAGAPRAKOSA

Arya Wrekodara marah dan langsung menerjang Prabu Nagaprakosa. Terjadilah pertarungan di antara mereka. Ternyata Prabu Nagaprakosa ini sangat tangguh sesuai dengan namanya. Arya Wrekodara pun merasa kesulitan untuk mengalahkan raja raksasa tersebut.

Tiba-tiba dari angkasa meluncur turun Arya Gatutkaca menerjang Prabu Nagaprakosa. Keduanya kembali bertarung untuk menyelesaikan permasalahan di antara mereka. Pertarungan ini berlangsung sangat seru, hingga akhirnya Prabu Nagaprakosa jatuh terjungkal akibat terkena Aji Brajamusti di tangan Arya Gatutkaca.

Sungguh ajaib, tubuh Prabu Nagaprakosa musnah dan berubah menjadi Batara Anantaboga. Melihat itu, Prabu Kresna, Raden Arjuna, Arya Antareja, dan yang lain segera menyampaikan sembah hormat kepadanya.

Batara Anantaboga pun bercerita bahwa dirinya menyamar sebagai raja raksasa adalah untuk merebut Arya Gatutkaca dari tangan Batari Durga yang menjelma sebagai Prabu Kresna palsu. Batara Anantaboga pura-pura menjadi Prabu Nagaprakosa dan menghajar Arya Gatutkaca. Tujuannya adalah supaya Arya Gatutkaca pingsan dan jangan sampai dibunuh Batari Durga beserta pasukannya. Setelah pingsan, tubuh Arya Gatutkaca dilempar Batara Anantaboga, dan tentu saja diarahkan supaya jatuh di Gunung Jamurdipa. Sesuai rencana, Arya Gatutkaca lalu ditemukan Batara Narada dan dibawa menghadap kepada Batara Guru.

Arya Antareja sangat berterima kasih karena sang kakek telah menolong adiknya dari tangan jahat Batari Durga. Batara Anantaboga berkata bahwa Arya Gatutkaca juga cucunya, tidak berbeda dengan Arya Antareja. Setelah dirasa cukup, ia pun pamit undur diri kembali ke Kahyangan Saptapratala.

Tidak lama kemudian, datanglah Prabu Dewasrani dan pasukannya meminta Arya Gatutkaca agar melepas gelar sebagai putra angkat Batara Guru. Melihat itu, Raden Arjuna segera maju menerjang Prabu Dewasrani, sedangkan Arya Wrekodara dan Arya Antareja menumpas pasukan Nusarukmi. Prabu Dewasrani terdesak dan segera mengajak sisa-sisa prajuritnya mundur melarikan diri.

Prabu Kresna bersyukur peristiwa ini berakhir dengan baik. Ia lalu mengajak mereka semua kembali ke Kerajaan Amarta untuk melapor kepada Prabu Puntadewa.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya

Catatan : Dalam rekaman pentas Ki Manteb Soedharsono, nama raja raksasa penjelmaan Batara Anantaboga adalah Prabu Nagabaginda. Dalam kisah di atas saya ganti menjadi Prabu Nagaprakosa supaya tidak rancu dengan lakon Antareja Lahir.


Untuk kisah Arya Gatutkaca menumpas Prabu Kalapracona dan Patih Sekipu bisa dibaca di sini.











Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Bimasuci

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang Arya Wrekodara yang menjadi brahmana bergelar Bagawan Bimasuci di Gunung Argakelasa.

Kisah ini saya olah dari sumber rekaman wayang kulit dengan dalang Ki Manteb Soedharsono, yang dipadukan dengan kisah dalam kitab Sanghyang Nawaruci karya Mpu Syiwamurti, dengan perubahan seperlunya.

Kediri, 05 Januari 2019

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, silakan klik di sini

Bagawan Bimasuci

------------------------------ ooo ------------------------------

PRABU DURYUDANA MENDENGAR KABAR ARYA WREKODARA BERTAPA DI WILAYAHNYA

Di Kerajaan Hastina, Prabu Duryudana memimpin pertemuan dihadap Danghyang Druna dari Sokalima, Patih Sangkuni dari Plasajenar, Adipati Karna dari Awangga, dan Raden Kartawarma dari Tirtatinalang. Dalam pertemuan itu, Patih Sangkuni melaporkan bahwa Arya Wrekodara saat ini berani menduduki Gunung Argakelasa dan mendirikan padepokan di sana, sedangkan dirinya menjadi brahmana, bergelar Bagawan Bimasuci. Setiap hari Bagawan Bimasuci mengajarkan ilmu pengetahuan kepada penduduk sekitar, serta memberikan pengobatan secara cuma-cuma kepada mereka yang membutuhkan. Yang membuat kesal ialah, Gunung Argakelasa yang diduduki Bagawan Bimasuci merupakan wilayah Kerajaan Hastina. Itu artinya, Bagawan Bimasuci sengaja ingin mencari keributan terhadap Prabu Duryudana.

Prabu Duryudana marah mendengar laporan itu. Gunung Argakelasa adalah wilayah Kerajaan Hastina. Menduduki gunung tersebut tanpa izin dan juga membangun padepokan di sana jelas perbuatan melanggar hukum. Prabu Duryudana berniat menjatuhkan hukuman kepada Bagawan Bimasuci alias Arya Wrekodara.

Danghyang Druna menyela ikut bicara. Ia mengingatkan bahwa Arya Wrekodara adalah putra Prabu Pandu, raja Hastina terdahulu. Itu artinya, Arya Wrekodara juga memiliki hak atas setiap jengkal wilayah Kerajaan Hastina. Lagipula yang dilakukan Arya Wrekodara juga baik, yaitu mengajarkan ilmu pengetahuan dan memberikan pengobatan cuma-cuma kepada masyarakat sekitar yang merupakan warga negara Hastina juga. Itu artinya, Arya Wrekodara ikut berjasa terhadap Kerajaan Hastina.

Patih Sangkuni berkata, Danghyang Druna hendak melepaskan diri dari tanggung jawab, padahal ini semua adalah kesalahan Danghyang Druna juga. Dahulu kala, Danghyang Druna ditugasi untuk membunuh Arya Wrekodara dengan cara menipunya untuk mencebur ke dalam Samudra Minangkalbu, mencari air kehidupan Tirta Pawitra Mahening Suci. Bukannya mati, Arya Wrekodara justru bertemu Dewa Ruci dan mendapatkan ilmu sejati sangkan paraning dumadi. Sekarang Arya Wrekodara mendirikan padepokan dan mengajarkan ilmu sejati tersebut. Jika dihitung-hitung, sumber masalah ini jelas berasal dari Danghyang Druna yang gagal membunuh Arya Wrekodara.

Danghyang Druna menjawab, dirinya sudah mengusahakan kematian Arya Wrekodara sesuai apa yang diperintahkan Prabu Duryudana. Namun, soal hidup atau mati manusia adalah wewenang mutlak Tuhan Yang Mahakuasa. Apabila Arya Wrekodara ternyata masih hidup sampai sekarang, itu berarti Tuhan belum mengizinkannya untuk mati.

Prabu Duryudana yang termakan ucapan Patih Sangkuni meminta Danghyang Druna untuk tidak membantah lagi. Persoalan ini harus diselesaikan oleh Danghyang Druna. Bagaimanapun juga, Danghyang Druna harus bisa menutup Padepokan Argakelasa dan mengusir Arya Wrekodara agar kembali ke Kerajaan Amarta.

Danghyang Druna tidak dapat menolak perintah. Ia pun mohon pamit berangkat ke Gunung Argakelasa. Prabu Duryudana lalu memerintahkan agar Patih Sangkuni, Adipati Karna, dan para Kurawa ikut mengawal keberangkatan Danghyang Druna.

RESI ANOMAN MENGUNJUNGI BAGAWAN BIMASUCI

Di Gunung Argakelasa, Bagawan Bimasuci menerima kedatangan pendeta wanara putih dari Padepokan Kendalisada, yaitu Resi Kapiwara Anoman. Dalam kunjungannya itu, Resi Anoman bertanya apa tujuan Arya Wrekodara mendirikan padepokan di Gunung Argakelasa. Bagawan Bimasuci berkata, di sini tidak adak ada Arya Wrekodara, yang ada Bagawan Bimasuci.

Resi Anoman menjawab, Bagawan Bimasuci dan Arya Wrekodara adalah orang yang sama. Mau dipanggil apa pun tetap saja orangnya sama. Tidak berbeda dengan dirinya yang bisa dipanggil dengan nama Anoman, Senggana, Maruti, Ramandayapati, ataupun Anjanisuta, tetap saja orangnya sama. Bagawan Bimasuci menjawab, soal nama tentu tergantung pula pada wujudnya. Sama-sama udara, apabila keluar masuk hidung disebut napas, kalau dahsyat di lautan disebut badai, kalau dahsyat di darat disebut topan, kalau sepoi-sepoi disebut samirana, dan sebagainya. Demikian pula, nama Arya Wrekodara hanya dipakai apabila ia sedang menjadi kesatria di Kerajaan Amarta. Lain halnya saat ini ia berada di Gunung Argakelasa sebagai brahmana, maka namanya adalah Bagawan Bimasuci.

Resi Anoman lalu bertanya, mengapa Bagawan Bimasuci meninggalkan kewajibannya sebagai kesatria yang harusnya membela negara. Bagawan Bimasuci balik bertanya, mengapa Resi Anoman menjadi pendeta, bukankah dulu juga pernah menjadi kesatria? Resi Anoman menjawab, dirinya sekarang sudah tua. Orang yang sudah tua pantas-pantas saja menjadi pendeta. Lain halnya dengan Arya Wrekodara. Masih muda, tentunya lebih baik tetap menjadi kesatria melindungi negara dari ancaman musuh.

Arya Wrekodara menjawab, menjadi pendeta tidak harus menunggu tua. Kakeknya, yaitu Bagawan Abyasa sejak muda belia sudah menjadi pendeta, baru kemudian diminta untuk memimpin Kerajaan Hastina, lalu kembali lagi menjadi pendeta di masa tua. Kakek yang lain, yaitu Resiwara Bisma meskipun seorang pendeta namun tetap berjiwa kesatria, siap angkat senjata saat Kerajaan Hastina menghadapi musuh. Di samping mereka berdua tentunya masih banyak lagi contoh-contoh yang lainnya.

Resi Anoman kembali bertanya apa tujuan Bagawan Bimasuci membuka padepokan di Gunung Argakelasa. Bagawan Bimasuci menjawab, dirinya hanya ingin mengajarkan ilmu pengetahuan kepada para pemuda. Mereka adalah masa depan suatu negara. Pemuda adalah calon pemimpin bangsa di masa depan. Oleh sebab itu, sejak muda mereka perlu untuk dibekali ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupan mereka kelak.

Resi Anoman berkata, kabar yang ia dengar tidak sesederhana itu. Konon, Bagawan Bimasuci selain mengajarkan ilmu pengetahuan juga mengajarkan ilmu kasampurnan sangkan paraning dumadi. Itu sebabnya, Resi Anoman datang untuk membuktikan berita tersebut. Jika memang benar demikian, ia ingin ikut belajar kepada Bagawan Bimasuci.

Bagawan Bimasuci berkata, Resi Anoman tidak bersungguh-sungguh ingin belajar, tetapi hanya ingin menguji kepandaiannya saja. Jika memang serius ingin belajar, mengapa Resi Anoman tidak memperbaiki sikapnya dan mengapa tidak berbicara dengan lebih sopan santun. Resi Anoman menjawab, dirinya adalah kakak angkat Bagawan Bimasuci, tentunya jangan disamakan dengan para murid lainnya. Bagawan Bimasuci menjawab, Resi Anoman adalah kakak angkat Arya Wrekodara, bukan kakak angkatnya. Selama Resi Anoman tidak memperbaiki tingkah lakunya, maka diberi ilmu segudang pun percuma, tidak akan bisa merasuk ke dalam sanubari.

Resi Anoman tertegun mendengar ucapan Bagawan Bimasuci yang tegas dan berwibawa. Ia mengamati dengan seksama dan baru sadar kalau ada sosok yang memancarkan cahaya dari dalam diri Bagawan Bimasuci. Sosok tersebut adalah Dewa Ruci, sang guru sejati. Seketika Resi Anoman pun merasa lemas tiada berdaya, dan segera tunduk memohon ampun kepada Bagawan Bimasuci. Ia tidak lagi menggunakan bahasa yang lugas, tetapi menggunakan bahasa halus penuh sopan santun kepada Bagawan Bimasuci, memohon agar diterima menjadi murid.

Bagawan Bimasuci menerima sembah Resi Anoman. Namun, saat ini ia belum bisa memberikan pelajaran karena Padepokan Argakelasa kedatangan musuh yang hendak berbuat kekacauan. Resi Anoman pun diperintahkan untuk mengatasi para musuh tersebut.

PARA KURAWA MENGACAU DI GUNUNG ARGAKELASA

Tamu yang hendak membuat kekacauan adalah rombongan Danghyang Druna bersama Patih Sangkuni, Adipati Karna, dan para Kurawa. Resi Anoman didampingi para murid Bagawan Bimasuci, yaitu Putut Antareja, Putut Gatutkaca, dan Putut Antasena keluar padepokan menyambut mereka. Danghyang Druna selaku kepala rombongan berkata dirinya ingin bertemu Arya Wrekodara. Resi Anoman menjawab, di sini tidak ada Arya Wrekodara, yang ada Bagawan Bimasuci. Patih Sangkuni bertanya apa bedanya Arya Wrekodara dan Bagawan Bimasuci, orangnya sama saja. Resi Anoman pun menjawab sesuai dengan apa yang disampaikan Bagawan Bimasuci tadi.

Patih Sangkuni tidak mau bertele-tele. Intinya Arya Wrekodara telah lancang berani menduduki Gunung Argakelasa yang masuk wilayah Kerajaan Hastina. Oleh sebab itu, padepokan harus dibubarkan dan Arya Wrekodara harus menerima hukuman dari Prabu Duryudana. Resi Anoman menjawab, Gunung Argakelasa terletak di tengah-tengah antara Kerajaan Hastina dan Kerajaan Amarta. Gunung ini merupakan batas alamiah yang tidak menjadi hak milik Kerajaan Hastina, juga bukan hak milik Kerajaan Amarta. Dalam hal ini Bagawan Bimasuci tidak melanggar hukum sama sekali. Patih Sangkuni marah dan menuduh Resi Anoman sebagai orang luar sehingga tidak perlu ikut campur. Sebaliknya, Resi Anoman juga menyebut Patih Sangkuni sebagai orang Gandaradesa, sehingga tidak pantas pula untuk ikut campur.

Suasana menjadi panas. Para Kurawa pun maju untuk membongkar paksa bangunan Padepokan Argakelasa. Resi Anoman dan ketiga keponakannya segera menghalangi mereka. Pertempuran pun terjadi. Para Kurawa terdesak tidak mampu melanjutkan aksi mereka.

Melihat itu, Danghyang Druna maju hendak melabrak Bagawan Bimasuci. Namun, begitu bertemu muka, ia melihat Bagawan Bimasuci penuh wibawa memancarkan aura kedewaan. Danghyang Druna mendapatkan pengalaman batin luar biasa. Tanpa ragu lagi, ia mengetahui bahwa yang berdiri di hadapannya bukanlah Arya Wrekodara seperti biasanya, melainkan Dewa Ruci sang Marbudyengrat. Seketika Danghyang Druna pun duduk bersimpuh menyembah Bagawan Bimasuci. Namun, Bagawan Bimasuci tidak menerima sembahnya, melainkan mengangkat dan menggendong tubuh Danghyang Druna masuk ke dalam padepokan.

Melihat Danghyang Druna selaku kepala rombongan telah bergabung dengan pihak musuh, Adipati Karna mengajak Patih Sangkuni untuk mundur saja, kembali ke Kerajaan Hastina untuk melapor kepada Prabu Duryudana.

RADEN ARJUNA BERGURU KEPADA BAGAWAN BIMASUCI

Sementara itu, Raden Arjuna diiringi para panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong sedang dalam perjalanan menuju Gunung Argakelasa untuk menyusul Arya Wrekodara. Di tengah jalan mereka dihadang sepasang raksasa suami-istri yang ingin memangsa daging manusia. Raden Arjuna dapat mengalahkan kedua raksasa itu yang ternyata penjelmaan Batara Kamajaya dan Batari Ratih.

Batara Kamajaya memberi tahu Raden Arjuna bahwa Arya Wrekodara saat ini berada di Gunung Argakelasa sebagai Bagawan Bimasuci, yang mengajarkan ilmu kasampurnan sangkan paraning dumadi. Sebaiknya Raden Arjuna pergi berguru kepadanya. Raden Arjuna mematuhi nasihat tersebut dan segera berangkat ke sana.

Sesampainya di Gunung Argakelasa, Raden Arjuna segera menghadap Bagawan Bimasuci. Dengan penuh sopan santun ia menyembah Bagawan Bimasuci dan memohon diterima sebagai murid. Raden Arjuna sama sekali tidak melihat Bagawan Bimasuci sebagai kakak kandung, tapi melihatnya sebagai seorang guru yang mengajarkan jalan kebenaran. Bagawan Bimasuci melihat Raden Arjuna tulus ikhlas ingin berguru kepadanya. Ia pun menerimanya sebagai murid, dan mengajarkan ilmu kasampurnan sangkan paraning dumadi, sebagaimana dulu yang diajarkan Dewa Ruci kepada dirinya.

BATARA GURU MENGIRIM PARA DEWA UNTUK MENGHUKUM BAGAWAN BIMASUCI

Sementara itu di Kahyangan Jonggringsalaka, Batara Guru dihadap para dewa, antara lain Batara Narada, Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Indra, dan Batara Bayu. Dalam pertemuan tersebut, Batara Guru bertanya apa yang menjadi penyebab terjadinya gara-gara di kahyangan, sehingga kahyangan terasa panas tidak seperti biasanya.

Batara Narada menjawab, adanya gara-gara di Kahyangan Jonggringsalaka disebabkan oleh Arya Wrekodara yang mendirikan padepokan di Gunung Argakelasa, dan mengajarkan ilmu sangkan paraning dumadi kepada Raden Arjuna. Batara Guru marah mendengar hal itu. Apabila Arya Wrekodara sembarangan mengajarkan ilmu tingkat tinggi, maka umat manusia akan berkurang rasa hormatnya kepada para dewa. Batara Guru pun memerintahkan Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Indra, dan Batara Batara Bayu untuk menghukum Arya Wrekodara dan membongkar padepokannya.

Batara Narada bertanya apakah perlu menjatuhkan hukuman seperti itu? Apakah tidak sebaiknya diselidiki terlebih dahulu apakah Arya Wrekodara benar-benar bersalah atau tidak. Batara Guru tidak peduli. Ia sudah memutuskan demikian, maka itulah yang harus dilaksanakan.

Mendengar itu, Batara Sambu dan adik-adiknya tidak berani menunda lagi. Mereka pun mohon pamit berangkat melaksanakan tugas.

PARA DEWA MENGHUKUM BAGAWAN BIMASUCI

Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Indra, dan Batara Bayu telah tiba di Padepokan Argakelasa. Saat itu Bagawan Bimasuci sedang bersamadi seorang diri. Keempat dewa tersebut tidak menampakkan diri sehingga Resi Anoman, Raden Arjuna, dan para putut tidak ada yang menyadari kehadiran mereka.

Batara Sambu pun mengerahkan kesaktiannya berupa ilusi gempa bumi yang sangat dahsyat. Ternyata Bagawan Bimasuci tetap diam tak tergoyahkan. Batara Brahma mengerahkan kesaktian berupa api yang membakar tubuh Bagawan Bimasuci. Namun, Bagawan Bimasuci tetap tak tergoyahkan dan menyadari bahwa api tersebut hanyalah ilusi belaka. Yang ketiga Batara Indra mengerahkan kesaktian berupa petir yang menggelegar menyambar tubuh Bagawan Bimasuci. Namun, Bagawan Bimasuci masih tetap diam tidak bergerak.

Batara Sambu lalu meminta Batara Bayu agar turun tangan. Batara Bayu merasa serbasalah karena Bagawan Bimasuci alias Arya Wrekodara adalah putra angkatnya. Namun, karena ini adalah perintah Batara Guru, terpaksa ia pun mengerahkan kesaktian berupa ilusi angin puting beliung yang melanda tubuh Bagawan Bimasuci. Namun, lagi-lagi Bagawan Bimasuci tetap diam, tidak bergerak sama sekali.

Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Indra, dan Batara Bayu saling berpandangan, lalu mereka sepakat untuk kembali ke Kahyangan Jonggringsalaka, melapor kepada Batara Guru.

BATARA GURU MENEMUI BAGAWAN BIMASUCI

Setelah keempat putranya gagal, Batara Guru didampingi Batara Narada pergi ke Padepokan Argakelasa untuk menemui Bagawan Bimasuci secara langsung. Sesampainya di sana, Batara Guru pun menyapa Bagawan Bimasuci, sehingga Bagawan Bimasuci membuka matanya.

Batara Guru bertanya mengapa Bagawan Bimasuci tidak membuka mata saat didatangi keempat dewa tadi. Bagawan Bimasuci menjawab, mereka empat dewa tidak datang sebagai tamu, tetapi datang sebagai pengacau. Tanpa permisi mereka langsung mengerahkan kesaktian kepada dirinya. Bagawan Bimasuci merasa tidak ada urusan dengan keempat pengacau tersebut, sehingga merasa tidak perlu untuk menemui mereka. Lain halnya dengan Batara Guru dan Batara Narada yang menyapa terlebih dahulu, sehingga Bagawan Bimasuci merasa perlu untuk membuka mata dan menerima tamu.

Batara Guru menjelaskan kedatangannya ialah untuk meminta agar Bagawan Bimasuci menghentikan Padepokan Argakelasa, tidak boleh lagi mengajarkan ilmu kasampurnan sangkan paraning dumadi. Ilmu sangkan paraning dumadi adalah ilmu terlarang yang tidak boleh diajarkan kepada sembarang orang. Apabila diajarkan secara sembarangan, maka umat manusia akan berkurang rasa hormatnya kepada para dewa.

Bagawan Bimasuci bertanya, mengapa Batara Guru gila hormat seperti itu? Apabila Batara Guru melindungi umat manusia dengan baik, memimpin dengan adil, maka penghormatan tulus akan datang dengan sendirinya. Lagipula, Bagawan Bimasuci merasa terpanggil untuk mengajarkan ilmu sangkan paraning dumadi kepada umat manusia. Meskipun Batara Guru yang meminta untuk menghentikan, ia tidak akan mematuhi. Batara Guru marah dan mengutuk Bagawan Bimasuci menjadi raksasa hutan yang tidak bisa diatur. Namun, Bagawan Bimasuci mendapat perlindungan Dewa Ruci, sehingga kutukan tersebut berbalik mengenai Batara Guru sendiri.

RAKSASA PENJELMAAN BATARA GURU MENGAMUK DI KERAJAAN AMARTA

Batara Guru kini berubah menjadi raksasa akibat terkena ucapannya sendiri. Ia merasa sangat malu dan segera terbang ke angkasa tidak tentu arah. Batara Narada meminta maaf kepada Bagawan Bimasuci dan memohon agar Batara Guru diruwat kembali menjadi seperti sediakala. Bagawan Bimasuci bersedia lalu ia mengajak Batara Narada pergi mengejar raksasa tersebut.

Raksasa penjelmaan Batara Guru tampak terbang dengan sangat cepat dan mendarat di Kerajaan Amarta. Saat itu di istana tampak Prabu Puntadewa didampingi Raden Nakula dan Raden Sadewa sedang menerima kunjungan Prabu Kresna. Tiba-tiba Patih Tambakganggeng datang melapor tentang adanya raksasa yang mengamuk merusak bangunan istana. Raden Nakula dan Raden Sadewa segera maju untuk menangkap raksasa tersebut, namun mereka tidak mampu mengatasinya.

Tidak lama kemudian, Bagawan Bimasuci datang dan langsung menangkap raksasa itu. Ia pun meruwat si raksasa hingga kembali lagi menjadi Batara Guru.

BATARA GURU MEMBERIKAN ANUGERAH KEPADA BAGAWAN BIMASUCI

Batara Guru yang sudah kembali ke wujud semula, berterima kasih kepada Bagawan Bimasuci dan kini ia sadar bahwa dirinya sudah banyak berbuat salah. Ia pun mempersilakan Bagawan Bimasuci untuk meminta anugerah apa pun kepadanya. Bagawan Bimasuci menjawab dirinya tidak ingin meminta apa-apa kepada Batara Guru. Batara Guru mendesak Bagawan Bimasuci, karena jika tidak, maka ia merasa memiliki hutang budi selamanya.

Bagawan Bimasuci berkata bahwa ia ingin meminta sesuatu tetapi bukan untuk dirinya, melainkan untuk orang lain. Batara Guru mempersilakan permintaan apakah itu. Bagawan Bimasuci pun meminta agar roh kedua orang-tuanya, yaitu roh Prabu Pandu dan roh Dewi Madrim agar dientaskan dari hukuman di Kawah Candradimuka. Batara Guru mengabulkan permintaan tersebut. Dengan kuasanya, ia pun menghadirkan roh suami-istri tersebut di hadapan Bagawan Bimasuci.

Bagawan Bimasuci berterima kasih atas anugerah Batara Guru. Sebaliknya, roh Prabu Pandu dan Dewi Madrim juga berterima kasih atas usaha Bagawan Bimasuci mengentaskan diri mereka dari Kawah Candradimuka. Prabu Pandu merasa bangga memiliki putra yang berbudi luhur seperti Arya Wrekodara. Meskipun tinggal di dalam Kawah Candradimuka, namun mereka merasa seperti tinggal di Swargaloka. Sebaliknya, meskipun tinggal di Swargaloka tetapi apabila anak-anaknya berbuat kerusakan di dunia, maka itu rasanya sama saja seperti tinggal di Neraka yang paling dasar.

Bagawan Bimasuci menjawab, mulai hari ini roh Prabu Pandu dan Dewi Madrim tidak perlu lagi tinggal di Kawah Candradimuka. Batara Guru membenarkan hal itu. Mulai hari ini ia menetapkan roh Prabu Pandu dan Dewi Madrim bisa tinggal di Swargaloka, berkumpul bersama para dewa. Usai berkata demikian, Batara Guru dan Batara Narada kembali ke kahyangan dengan membawa serta roh Prabu Pandu dan Dewi Madrim tersebut.

BAGAWAN BIMASUCI KEMBALI MENJADI ARYA WREKODARA

Setelah Batara Guru dan yang lain pergi, Prabu Kresna dan Prabu Puntadewa datang menghampiri Bagawan Bimasuci. Prabu Puntadewa memeluk adiknya itu dan berkata bahwa Kerajaan Amarta telah kehilangan pelindung. Selama ini Prabu Puntadewa bisa memimpin rakyat dengan baik adalah berkat Arya Wrekodara yang berdiri kokoh di sampingnya. Tanpa Arya Wrekodara, Prabu Puntadewa bukan siapa-siapa. Raja tanpa didampingi kesatria pelindung negara tentu tidak dapat menjalankan roda pemerintahan dengan sebaik-baiknya. Bahkan, raksasa yang baru saja mengamuk merusak bangunan Kerajaan Amarta, hanya bisa diatasi oleh Arya Wrekodara seorang. Kelak apabila Arya Wrekodara kembali tinggal di Gunung Argakelasa menjadi brahmana, maka Prabu Puntadewa khawatir akan datang musuh lain yang lebih kuat, yang datang menyerang Kerajaan Amarta. Daripada melihat kehancuran bangsa dan negaranya, lebih baik Prabu Puntadewa menceburkan diri saja ke dalam kobaran api.

Bagawan Bimasuci tergetar hatinya. Seumur hidup ia selalu patuh pada ucapan Prabu Puntadewa yang dianggapnya sebagai pengganti ayah. Ia lalu menuduh Prabu Kresna yang telah mengajari kakaknya berkata demikian. Prabu Kresna menjawab, dirinya sama sekali tidak mengajarkan seperti itu. Mengenai semua ucapan Prabu Puntadewa adalah tulus keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Lagipula apa yang diucapkan Prabu Puntadewa sama sekali tidak ada yang salah. Apabila Arya Wrekodara lebih senang tinggal di Gunung Argakelasa menjadi brahmana, lalu siapa yang melindungi keselamatan Kerajaan Amarta? Ditambah lagi Raden Arjuna, Arya Antareja, Arya Gatutkaca, dan Raden Antasena juga ikut tinggal di sana, maka Kerajaan Amarta menjadi lemah dan sangat mudah dihancurkan musuh. Jika sampai terjadi kehancuran, maka ini semua juga menjadi tanggung jawab Arya Wrekodara.

Arya Wrekodara merasa ucapan Prabu Kresna dan Prabu Puntadewa benar semua. Ia pun menyatakan berhenti menjadi Bagawan Bimasuci dan kembali menduduki jabatannya di Kerajaan Amarta. Prabu Puntadewa sangat gembira mendengarnya. Ia lalu mengadakan upacara syukuran untuk memuliakan roh Prabu Pandu dan Dewi Madrim yang sudah dientas naik dari Kawah Candradimuka berpindah ke Swargaloka.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya

Catatan : Adegan Batara Guru berubah menjadi raksasa terdapat dalam kitab Sanghyang Nawaruci. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa nama Arya Wrekodara saat menjadi brahmana adalah Sang Angkusprana. Sedangkan roh Prabu Pandu dan Dewi Madrim dientas ke Swargaloka adalah bersumber dari rekaman Ki Manteb Soedharsono.


Untuk kisah Prabu Pandu dan Dewi Madrim diceburkan ke dalam Kawah Candradimuka bisa dibaca di sini.

Untuk kisah Arya Wrekodara bertemu Dewa Ruci dapat dibaca di sini.









Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ▼  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ▼  January (2)
      • Gatutkaca Nagih Janji
      • Bimasuci
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja