Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Hastimurti Gugur

 No comments   

Kisah ini menceritakan tewasnya Prabu Hastimurti raja Gajahoya di tangan Prabu Daneswara raja Medang Kamulan. Tokoh Prabu Hastimurti ini merupakan kakek buyut dari Resiwara Bisma, yang kelak menjadi senapati para Kurawa dalam perang Baratayuda.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra, dengan sedikit pengembangan.

Kediri, 31 Maret 2015

Heri Purwanto
 
------------------------------ ooo ------------------------------

Prabu Hastimurti

PRABU HASTIMURTI MENYERANG KERAJAAN MEDANG KAMULAN

Prabu Hastimurti di Kerajaan Gajahoya dihadap Resi Basunanda (mertua), Patih Basundara (adik ipar), serta  Raden Wasanta (putra). Mereka membicarakan putusnya hubungan antara Kerajaan Gajahoya dengan Kerajaan Wirata yang sudah berlangsung sekian lama, yaitu sejak meninggalnya Prabu Basumurti. Resi Basunanda menyarankan supaya Prabu Hastimurti sebagai pihak yang lebih muda sudi memperbaiki hubungan dengan sang paman, yaitu Prabu Basukesti di Wirata. Apalagi sejak dulu Prabu Basukesti selalu menganggap Prabu Hastimurti seperti anak sendiri. Akan tetapi, Prabu Hastimurti menolak saran tersebut. Sampai sekarang ia masih memendam sakit hati karena pamannya itu dianggap telah merebut takhta Wirata yang seharusnya ia warisi.

Pada saat itulah Arya Basusara, putra Patih Basundara datang menghadap dan melaporkan bahwa kini telah muncul sebuah kerajaan baru bernama Medang Kamulan, dengan rajanya yang bernama Prabu Daneswara. Kerajaan ini menurut penyelidikan telah melanggar batas-batas wilayah Kerajaan Gajahoya.

Prabu Hastimurti sangat marah mendengar laporan itu. Ia merasa Prabu Daneswara telah merongrong wibawanya sebagai raja negeri Gajahoya. Resi Basunanda pun menceritakan riwayat Kerajaan Medang Kamulan sebagaimana yang ia ketahui. Dahulu kala Kerajaan Medang Kamulan pernah berjaya menguasai Tanah Jawa saat dipimpin Sri Maharaja Purwacandra (saudara sepupu Dewi Awanti, ibu kandung Resi Basunanda). Sri Maharaja Purwacandra lalu dikalahkan oleh Brahmana Wisaka tanpa menggunakan kekerasan. Brahmana Wisaka pun menjadi raja Medang Kamulan dan memerdekakan tiga negeri bawahan, yaitu Gilingwesi, Purwacarita, dan Wirata. Setelah dua tahun berlalu, Sri Maharaja Wisaka menyerahkan takhta Medang Kamulan kepada putra angkatnya, yang bergelar Prabu Sriwahana. Setelah Prabu Sriwahana meninggal, Kerajaan Medang Kamulan tidak terdengar lagi kabarnya, hingga kemudian dibangun kembali oleh Prabu Daneswara tersebut.

Prabu Hastimurti sendiri tidak tahu-menahu dari mana asal-usul Prabu Daneswara itu, namun ia ingin sekali memberikan pelajaran terhadap raja baru tersebut. Pertemuan lalu dibubarkan dan Patih Basundara pun diperintahkan untuk mempersiapkan pasukan guna menggempur Kerajaan Medang Kamulan.

PERANG ANTARA GAJAHOYA DAN MEDANG KAMULAN

Sementara itu, Prabu Daneswara di Kerajaan Medang Kamulan sedang dihadap para menteri dan punggawa yang dipimpin Patih Citradana. Prabu Daneswara ini tidak lain adalah putra Resi Kuswala yang dulu tewas di tangan Prabu Basukesti saat mengacau Kerajaan Wirata. Adapun Resi Kuswala adalah titisan Sri Maharaja Purwacandra, raja Medang Kamulan terdahulu. Setelah berjuang keras dan mengumpulkan banyak pengikut, Prabu Daneswara akhirnya berhasil membangun kembali Kerajaan Medang Kamulan yang sudah lama menjadi kota mati tersebut.

Tidak lama kemudian, datanglah serangan dari Kerajaan Gajahoya yang dipimpin Raden Wasanta, Patih Basundara, dan Arya Basusara. Prabu Daneswara pun menghadapi serangan tersebut dengan mengerahkan segenap pasukannya. Pertempuran sengit terjadi di antara kedua pihak. Raden Wasanta yang bertarung melawan Prabu Daneswara tampak kewalahan dan akhirnya terlempar oleh kesaktian raja Medang Kamulan tersebut entah ke mana. Melihat sang pangeran menghilang, Patih Basundara dan Arya Basusara pun menarik mundur pasukan Gajahoya.

Sepeninggal mereka, Prabu Daneswara memerintahkan Ditya Kalayaksa untuk mencari Raden Wasanta dan menangkapnya hidup atau mati. Ditya Kalayaksa pun mohon pamit melaksanakan tugas tersebut.

RADEN WASANTA BERTEMU BAMBANG SATRUKEM

Raden Wasanta sendiri jatuh di Hutan Minangsraya akibat lemparan Prabu Daneswara tadi. Setelah bangun dari pingsan, ia merasa tersesat dan tidak tahu harus pergi ke mana. Pada saat itulah datang Ditya Kalayaksa yang dikirim untuk menangkapnya. Perkelahian di antara mereka pun terjadi. Raden Wasanta yang masih letih itu terdesak dan mencoba untuk melarikan diri.

Kebetulan putra sulung Resi Manumanasa, yaitu Bambang Satrukem yang didampingi Janggan Smara lewat di hutan itu. Bambang Satrukem langsung turun tangan membantu Raden Wasanta. Setelah bertarung beberapa lama, Ditya Kalayaksa akhirnya tewas terkena panah Sarotama.

Raden Wasanta berterima kasih atas bantuan Bambang Satrukem dan mereka pun saling memperkenalkan diri. Sungguh lega perasaan Bambang Satrukem setelah mengetahui kalau pemuda itu masih terhitung keponakannya sendiri. Hal itu karena Raden Wasanta adalah cucu Prabu Basumurti yang merupakan saudara sepupu Resi Manumanasa. Raden Wasanta juga gembira bisa bertemu pamannya. Ia pun menceritakan tentang ayahnya yang saat ini sedang berperang melawan musuh hebat bernama Prabu Daneswara dari Kerajaan Medang Kamulan.

Mendengar berita tersebut, Bambang Satrukem merasa ingin membantu. Ia pun mengajak Janggan Smara mendampingi Raden Wasanta kembali ke Kerajaan Gajahoya.

PRABU HASTIMURTI GUGUR DALAM PEPERANGAN

Sementara itu, Prabu Hastimurti di Kerajaan Gajahoya yang telah menerima laporan dari Patih Basundara merasa sangat prihatin atas hilangnya Raden Wasanta. Ia berharap putra tunggalnya itu tetap selamat meskipun nasibnya belum diketahui. Tidak lama kemudian terdengar berita bahwa pasukan Medang Kamulan yang dipimpin langsung oleh Prabu Daneswara telah memasuki wilayah Kerajaan Gajahoya untuk melakukan serangan balasan. Pasukan ini besar sekali, membuat Prabu Hastimurti merasa ragu untuk menghadapinya.

Resi Basunanda pun menyarankan agar Prabu Hastimurti meminta pertolongan kepada Prabu Basukesti di Kerajaan Wirata. Akan tetapi, Prabu Hastimurti merasa lebih baik mati daripada memohon kepada pamannya itu. Ia pun nekat maju perang menghadapi Prabu Daneswara. Setelah bertempur cukup lama, Prabu Hastimurti akhirnya tewas terkena panah Sarapamungkas yang dilepaskan Prabu Daneswara.

RESI BASUNANDA MEMINTA BANTUAN PRABU BASUKESTI

Kerajaan Gajahoya kini telah jatuh ke tangan musuh. Resi Basunanda yang berhasil lolos segera pergi ke Kerajaan Wirata untuk melaporkan hal itu kepada Prabu Basukesti, yang merupakan kakaknya lain ibu. Prabu Basukesti menyambut ramah kedatangan adiknya ini. Mereka sudah lama tidak bertemu karena Resi Basunanda pergi meninggalkan Kerajaan Wirata untuk membimbing menantunya di Gajahoya. Resi Basunanda sendiri meminta maaf atas kesalahannya dulu yang menentang pelantikan Prabu Basukesti sebagai raja Wirata. Kini keadaan sedang genting. Kerajaan Gajahoya telah diserang musuh dari Medang Kamulan, sedangkan Prabu Hastimurti tewas di tangan Prabu Daneswara.

Prabu Basukesti sangat marah mendengar berita duka tersebut. Meskipun Prabu Hastimurti telah lama memutuskan hubungan kekeluargaan dengannya, namun ia tetap menganggap keponakannya itu seperti anak sendiri. Kini, begitu mendengar Prabu Hastimurti telah tewas, ia pun memimpin langsung pasukan Wirata untuk menggempur kekuatan Prabu Daneswara.

PRABU DANESWARA DITANGKAP BAMBANG SATRUKEM

Sementara itu, Prabu Daneswara dan pasukannya sedang sibuk menguras kekayaan Kerajaan Gajahoya untuk diangkut menuju Medang Kamulan. Tidak lama kemudian datanglah pasukan Wirata yang dipimpin Prabu Basukesti menyerang mereka. Pertempuran sengit di antara kedua pihak pun tak terhindarkan lagi.

Sementara itu, Bambang Satrukem dan Raden Wasanta beserta Janggan Smara juga telah tiba di sana. Mereka segera terjun ke medan pertempuran membantu pihak Wirata. Prabu Basukesti sendiri tampak terdesak menghadapi kesaktian Prabu Daneswara yang lebih muda dan ilmunya meningkat pesat dibanding dulu saat ia mengacau Kerajaan Wirata bersama ayahnya (Resi Kuswala).

Dengan hadirnya Bambang Satrukem, keadaan menjadi berbalik. Kali ini ganti Prabu Daneswara yang terdesak kalah. Ia lalu melepaskan panah Sarapamungkas, namun dapat ditangkis menggunakan panah Sarotama milik Bambang Satrukem. Akhirnya, Prabu Daneswara pun tertangkap dan dihadapkan kepada Prabu Basukesti.

RADEN WASANTA MENJADI RAJA GAJAHOYA

Prabu Basukesti sangat senang melihat keberhasilan Bambang Satrukem. Sebenarnya ia berniat membunuh Prabu Daneswara, namun raja Medang Kamulan itu memohon ampun dengan alasan ia hanya membela diri. Ia menjelaskan bahwa Kerajaan Gajahoya adalah pihak yang memulai serangan lebih dulu. Prabu Basukesti pun bertanya kepada Resi Basunanda dan ternyata adiknya itu membenarkan bahwa Prabu Hastimurti memang lebih dulu mengirim serangan kepada pihak Medang Kamulan.

Prabu Basukesti akhirnya membebaskan Prabu Daneswara dengan syarat harus mengucapkan sumpah setia kepada Kerajaan Wirata. Prabu Daneswara pun mematuhi perintah tersebut. Maka, sejak saat itu Kerajaan Medang Kamulan menjadi bawahan Kerajaan Wirata.

Prabu Basukesti lalu memanggil Raden Wasanta yang masih terhitung cucunya. Karena saat ini Prabu Hastimurti telah gugur, maka takhta Kerajaan Gajahoya pun diserahkan kepada putra tunggalnya tersebut. Namun demikian, sejak hari itu Kerajaan Gajahoya harus tunduk dan menjadi bawahan Kerajaan Wirata. Raden Wasanta mematuhi perintah tersebut, tetapi ia merasa belum siap menjadi raja sehingga menyerahkan takhta Gajahoya kepada sang kakek, yaitu Resi Basunanda.

Atas keputusan tersebut, Prabu Basukesti pun menetapkan Resi Basunanda sebagai raja wakil di Gajahoya sampai kelak Raden Wasanta merasa sanggup menjalankan pemerintahan. Resi Basunanda mematuhi dan menyatakan sumpah setia kepada Kerajaan Wirata.

Setelah keadaan damai kembali, Bambang Satrukem dan Janggan Smara mohon pamit kembali ke Gunung Saptaarga. Prabu Basukesti sangat berterima kasih atas bantuan mereka dan memberikan hadiah berupa sejumlah uang sebagai bekal hidup untuk tinggal di pertapaan.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke : daftar isi





Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Sakri Lahir

 No comments   

Kisah ini menceritakan kelahiran Bambang Sakri putra Bambang Satrukem dan Dewi Nilawati yang darinya kelak akan menurunkan Pandawa dan Kurawa. Kisah dilanjutkan dengan perkawinan dua putra Resi Manumanasa yang lain, yaitu Bambang Sriati dengan sepupunya yang bernama Dewi Prawita, serta Bambang Manumadewa dengan bidadari bernama Batari Ardani.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra, dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 27 Maret 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


EMPU PURBAGENI MENJADI KEPALA PEMBUAT SENJATA DI WIRATA

Prabu Basukesti di Kerajaan Wirata dihadap Patih Jayaloka, Resi Suganda, dan para punggawa. Tidak lama kemudian datanglah Empu Dewayasa bersama putranya, yaitu Empu Purbageni. Ikut pula di belakang mereka seorang empu muda, bernama Empu Prawa. Empu Dewayasa menjelaskan bahwa Empu Prawa ini adalah keponakannya, yaitu putra mendiang Empu Kanomayasa dengan Dewi Kaniraras, yang juga telah diambil sebagai menantu pula, yaitu dinikahkan dengan Dewi Marapi, adik Empu Purbageni.

Kedatangan Empu Dewayasa adalah untuk mengajukan pengunduran dirinya sebagai kepala pembuat senjata di Kerajaan Wirata karena usianya yang sudah semakin tua, serta memohon agar jabatan itu dapat diisi oleh Empu Purbageni. Setelah mempertimbangkannya, Prabu Basukesti pun mengabulkan permohonan Empu Dewayasa tersebut. Maka, dengan disaksikan para hadirin, Sang Prabu melantik Empu Purbageni sebagai kepala pembuat senjata yang baru, dan Empu Prawa sebagai pendampingnya.

PRABU BASUKESTI MEMBANGUN HUTAN PERBURUAN

Setelah pelantikan Empu Purbageni tersebut, Prabu Basukesti memerintahkan Patih Jayaloka untuk membangun hutan perburuan di empat penjuru Kerajaan Wirata sebagai tempat tamasya dan olah raga. Hutan perburuan di sebelah utara hendaknya diberi nama Utarakanda, yang sebelah timur hendaknya diberi nama Purwakanda, yang sebelah selatan hendaknya diberi nama Daksinakanda, dan yang di sebelah barat hendaknya diberi nama Pracimakanda.

Patih Jayaloka dan para punggawa pun berangkat melaksanakan perintah Prabu Basukesti. Mereka menebang pepohonan yang dianggap tidak perlu, serta menangkapi hewan-hewan untuk kepentingan Prabu Basukesti berburu kelak. Banyak sekali binatang yang lari ketakutan menuju ke tempat dua orang yang sedang bertapa. Mereka adalah ayah dan anak, bernama Resi Kuswala dan Bambang Daneswara.

Resi Kuswala ini seorang pendeta sakti dari tanah seberang yang menguasai ilmu sihir. Ia sesungguhnya adalah titisan Prabu Cingkaradewa (alias Sri Maharaja Purwacandra raja Medang Kamulan) yang terlahir kembali sebagai manusia. Selain memiliki seorang putra bernama Bambang Daneswara, ia juga memiliki dua orang murid bernama Ditya Citradana (berwujud raksasa) dan Putut Margana (berwujud manusia).

Melihat hewan-hewan yang berlarian tersebut, Resi Kuswala merasa kasihan lalu mengubah wujud mereka menjadi manusia agar dapat membalas dendam kepada orang-orang Wirata. Hewan-hewan yang telah berubah menjadi manusia itu kemudian diberi nama Indramarkata, Kalayaksa, Gajah Barigu, Garuda Urna, dan Naga Wiswana. Mereka lalu berangkat menyerang Patih Jayaloka dan kawan-kawan.

Terjadilah pertempuran sengit di hutan tersebut. Karena jumlah orang-orang Wirata jauh lebih banyak, Resi Kuswala pun mengajak para pengikutnya itu mundur menyelamatkan diri.

LAHIRNYA BAMBANG SAKRI

Di Padepokan Saptaarga, Resi Manumanasa sedang berbahagia karena telah lahir cucu pertamanya, yaitu putra Bambang Satrukem dan Dewi Nilawati, yang diberi nama Bambang Sakri. Putut Supalawa dan Janggan Smara diperintahkan untuk membagi-bagikan derma kepada masyarakat pedesaan di sekitar Gunung Saptaarga sebagai ungkapan rasa syukur Resi Manumanasa.

Beberapa hari kemudian, Empu Dewayasa datang berkunjung ke Gunung Saptaarga menemui Resi Manumanasa. Mereka pun beramah-tamah melepas kerinduan. Empu Dewayasa lalu membicarakan kisah masa lalu saat Dewi Kaniraras (kakak sulung Resi Manumanasa) menikah dengan Prabu Durapati dan diboyong ke Kerjaan Duhyapura di Tanah Hindustan. Saat itu Empu Dewayasa meminta supaya putra-putri Dewi Kaniraras dari perkawinan dengan mendiang Empu Kanomayasa, yaitu Raden Prawa dan Dewi Prawita, tidak usah dibawa serta. Keduanya lalu diasuh sendiri oleh Empu Dewayasa di Tanah Jawa. Setelah dewasa, mereka pun dicarikan jodoh pula. Raden Prawa dinikahkan dengan Dewi Marapi, putri Empu Dewayasa, sedangkan Dewi Prawita sampai saat ini belum menemukan laki-laki yang pantas, padahal usianya sudah mencapai tiga puluh tahun.

Kedatangan Empu Dewayasa ke Gunung Saptaarga ini adalah untuk melamar salah satu putra Resi Manumanasa sebagai suami Dewi Prawita. Karena si putra sulung, yaitu Bambang Satrukem telah menikah dengan Dewi Nilawati, maka Resi Manumanasa pun menawarkan Bambang Sriati saja yang menikah dengan Dewi Prawita.

Empu Dewayasa menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Bambang Sriati sendiri juga menyatakan bersedia menikah dengan Dewi Prawita, meskipun calon istrinya itu berusia sepuluh tahun lebih tua daripada dirinya.

Setelah persiapan dirasa cukup, Resi Manumanasa pun merestui kepergian Bambang Sriati bersama Empu Dewayasa. Ia juga memerintahkan si putra bungsu, yaitu Bambang Manumadewa agar ikut mengantarkan kepergian kakaknya menuju Kerajaan Wirata.

BAMBANG MANUMADEWA MERUWAT DUA RAKSASA

Di tengah perjalanan, rombongan Empu Dewayasa itu dihadang sepasang raksasa laki-laki dan perempuan bernama Murtadaka dan Murtadewi. Raksasa dan raksasi itu berniat menangkap Bambang Sriati untuk dijadikan mangsa.

Bambang Manumadewa maju untuk melindungi sang kakak dari ancaman raksasa dan raksasi tersebut. Terjadilah pertarungan sengit di antara mereka. Bambang Manumadewa lama-lama merasa terdesak, namun untungnya sebelum berangkat tadi ia sempat mendapat pinjaman panah Sarotama dari kakak sulungnya, yaitu Bambang Satrukem. Dengan melepaskan panah pusaka tersebut, Raksasa Murtadaka dan Murtadewi berhasil ditewaskan.

Secara ajaib, mayat raksasa dan raksasi itu musnah kemudian berubah menjadi bidadara dan bidadari, bernama Batara Ardana dan Batari Ardini. Keduanya berterima kasih kepada Bambang Manumadewa yang telah membebaskan diri mereka dari kutukan, serta memohon untuk diterima mengabdi. Bambang Manumadewa tidak berani menerima pengabdian mereka dan mempersilakan keduanya supaya mengabdi kepada sang ayah saja, yaitu Resi Manumanasa.

Setelah mendapat keputusan demikian, Batara Ardana dan Batari Ardini pun mohon pamit berangkat ke Gunung Saptaarga.

PERNIKAHAN BAMBANG SRIATI DAN DEWI PRAWITA

Rombongan Empu Dewayasa telah sampai di Kerajaan Wirata. Prabu Basukesti ikut bersuka cita mendengar rencana pernikahan antara Dewi Prawita dengan Bambang Sriati. Ia pun memberikan sumbangan besar dan mempersilakan pernikahan itu agar diselenggarakan di rumah Patih Jayaloka saja, karena lebih besar daripada rumah Empu Dewayasa.

Maka, pada hari yang ditentukan diselenggarakanlah upacara pernikahan antara Bambang Sriati dengan Dewi Prawita di kepatihan. Tidak lama kemudian terdengar laporan bahwa Resi Kuswala dan Bambang Daneswara beserta para pengikut mereka mengadakan kekacauan di pedesaan wilayah Kerajaan Wirata. Prabu Basukesti pun memerintahkan para punggawa untuk menumpas para pengacau tersebut. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang mampu menghadapi ilmu sihir Resi Kuswala.

Prabu Basukesti teringat bahwa ayahnya (Prabu Basupati) telah meninggalkan warisan pusaka berupa Sela Timpuru. Dengan bersenjatakan batu ajaib tersebut, Prabu Basukesti berangkat menuju medan pertempuran dan berhasil membunuh Resi Kuswala. Melihat ayahnya tewas, Bambang Daneswara ketakutan dan melarikan diri beserta sisa-sisa pengikutnya yang masih hidup.

PERNIKAHAN BAMBANG MANUMADEWA DENGAN BATARI ARDINI

Satu bulan kemudian, Empu Dewayasa mengantarkan Bambang Sriati dan Dewi Prawita berkunjung ke Gunung Saptaarga. Bambang Manumadewa ikut serta sekaligus pulang ke tempat sang ayah. Sesampainya di sana, mereka pun disambut Resi Manumanasa, Bambang Satrukem, dan Dewi Nilawati dengan suka cita.

Bambang Manumadewa terkejut melihat Batara Ardana dan Batari Ardini benar-benar mengabdi di Gunung Saptaarga sebagaimana yang dulu ia sarankan. Resi Manumanasa sendiri tidak berani menerima pengabdian bidadara dan bidadari itu, tetapi berniat mengambil Batari Ardini sebagai menantu, yaitu dinikahkan dengan Bambang Manumadewa.

Bambang Manumadewa dan Batari Ardini mematuhi keputusan Resi Manumanasa tersebut. Maka, diadakanlah upacara pernikahan sederhana di Gunung Saptaarga untuk mereka berdua. Mengenai Batara Ardana, Resi Manumanasa mempersilakannya kembali ke kahyangan. Namun, Batara Ardana menolak karena ia belum membalas budi atas jasa Bambang Manumadewa yang telah meruwatnya dari kutukan. Maka, Resi Manumanasa lalu minta dibuatkan sebuah kereta kencana. Batara Ardana menyanggupi. Setelah kereta tercipta, ia pun mohon pamit kembali ke kahyangan.

BAMBANG SRIATI MENGABDI DI KERAJAAN WIRATA

Setelah beberapa waktu tinggal di Gunung Saptaarga, Empu Dewayasa pun mohon pamit kepada Resi Manumanasa untuk pulang ke Kerajaan Wirata. Ia juga memintakan izin untuk Bambang Sriati dan Dewi Prawita agar mereka hidup berumah tangga di kota Wirata saja. Bambang Sriati sendiri juga ingin mengabdi kepada Prabu Basukesti sebagai punggawa kerajaan.

Resi Manumanasa mengabulkan permohonan izin tersebut. Ia lalu memberikan sejumlah nasihat kepada Bambang Sriati sebagai bekalnya mengabdi kelak.

Demikianlah, Bambang Sriati dan Dewi Prawita beserta Empu Dewayasa telah kembali ke Kerajaan Wirata. Bambang Sriati pun diterima sebagai punggawa kerajaan, dengan bergelar Arya Sriati.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke : daftar isi





Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Satrukem Krama

 No comments   

Kisah ini menceritakan perkawinan Bambang Satrukem dengan seorang bidadari bernama Dewi Nilawati, serta perkawinan Wasi Dwapara dengan sepupunya yang bernama Dewi Maestri.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra, dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 25 Maret 2015

Heri Purwanto
------------------------------ ooo ------------------------------


KERAJAAN WIRATA MENDAPAT TANTANGAN DARI KERAJAAN MADENDA

Prabu Basukesti di Kerajaan Wirata dihadap Patih Jatikanda, Resi Suganda, Empu Purbageni, Arya Jayaloka, dan para punggawa lainnya. Ketika mereka sedang membahas jalannya pemerintahan, tiba-tiba datang seorang tamu dari Kerajaan Madenda di Tanah Hindustan, bernama Patih Nitibawa. Ia diutus rajanya yang bernama Prabu Drumanasa untuk menyampaikan surat lamaran kepada Dewi Dwarawati, adik ipar Prabu Basukesti.

Prabu Basukesti tidak dapat menerima lamaran tersebut karena Dewi Dwarawati sudah menjadi istri Empu Purbageni. Patih Nitibawa dengan angkuh menyarankan supaya Dewi Dwarawati bercerai saja dengan Empu Purbageni, untuk kemudian menerima lamaran Prabu Drumanasa.

Mendengar itu, Empu Purbageni marah dan menitip pesan kepada Patih Nitibawa, yaitu jika ingin memperistri Dewi Dwarawati, maka Prabu Drumanasa harus melangkahi mayatnya terlebih dahulu. Patih Nitibawa pun undur diri kembali ke perkemahan rajanya untuk menyampaikan pesan tersebut.

Prabu Basukesti lalu memerintahkan Patih Jatikanda dan Arya Jayaloka mempersiapkan pasukan untuk berjaga-jaga. Nanti apabila pihak Prabu Drumanasa mengerahkan pasukannya untuk mengeroyok Empu Purbageni, maka hendaknya Patih Jatikanda dan Arya Jayaloka tidak tinggal diam.

Setelah membubarkan pertemuan, Prabu Basukesti pun masuk ke dalam kedaton di mana kedua istrinya, yaitu Dewi Pancawati dan Dewi Sugandi telah menunggu di depan gapura.

PASUKAN MADENDA DIPUKUL MUNDUR

Patih Nitibawa telah kembali ke perkemahan menghadap Prabu Drumanasa untuk melaporkan tentang lamarannya yang ditolak. Prabu Drumanasa sangat kecewa karena ia ingin sekali menikahi Dewi Dwarawati supaya bisa bersekutu dengan Kerajaan Wirata. Sebenarnya saat ini istana Madenda sedang diduduki musuh dari Kerajaan Duhyapura sehingga Prabu Drumanasa terpaksa mengungsi ke Tanah Jawa bersama Patih Nitibawa dan pasukannya yang masih tersisa. Niat di hatinya ingin menjalin persekutuan dengan Kerajaan Wirata melalui perkawinan, tak disangka Dewi Dwarawati yang diharapkannya telah menjadi istri Empu Purbageni.

Karena sudah kepalang tanggung, Prabu Drumanasa pun berangkat memenuhi tantangan Empu Purbageni yang sudah menunggu di alun-alun. Begitu berhadapan, mereka langsung bertarung satu lawan satu dengan disaksikan Prabu Basukesti, Patih Jatikanda, Arya Jayaloka, dan para punggawa lainnya. Pertarungan sengit itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya dimenangkan oleh Empu Purbageni.

Prabu Drumanasa sangat malu dikalahkan oleh seorang empu di hadapan para prajuritnya. Ia pun memerintahkan Patih Nitibawa dan pasukannya maju mengeroyok Empu Purbageni. Melihat itu, Patih Jatikanda dan Arya Jayaloka segera mengerahkan pasukan Wirata untuk menghadang mereka. Pertempuran pun terjadi. Banyak korban berjatuhan di antara mereka. Hingga akhirnya, Patih Nitibawa pun gugur di tangan Patih Jatikanda.

Melihat pihaknya semakin terdesak, Prabu Drumanasa merasa tidak mampu lagi bertahan. Ia pun memerintahkan para prajuritnya yang masih tersisa untuk mundur meninggalkan Kerajaan Wirata. Sementara itu, Patih Jatikanda sendiri terlihat sangat letih setelah membunuh Patih Nitibawa. Tiba-tiba ia pun roboh dan tak bernapas lagi untuk selamanya.

Kerajaan Wirata berhasil mengusir musuh, namun juga berkabung atas meninggalnya Patih Jatikanda yang telah lama mengabdi sejak zaman mendiang Prabu Basumurti. Setelah upacara pemakaman selesai, Prabu Basukesti pun melantik Arya Jayaloka sebagai menteri utama yang baru, bergelar Patih Jayaloka.

BAMBANG SATRUKEM JATUH CINTA KEPADA BIDADARI

Sementara itu, Resi Manumanasa di Padepokan Saptaarga sedang dihadap ketiga putranya, yaitu Bambang Satrukem, Bambang Sriati, dan Bambang Manumadewa, serta para pengikut, yaitu Putut Supalawa, Janggan Smara, dan Wasi Dwapara. Resi Manumanasa menanyai Bambang Satrukem mengapa akhir-akhir ini tampak gelisah dan sering menyanyikan tembang yang berisikan syair kerinduan. Bambang Satrukem merasa malu jika menjawab di hadapan banyak orang. Resi Manumanasa pun membubarkan pertemuan sehingga hanya tinggal mereka berdua saja yang tersisa.

Bambang Satrukem lalu bercerita bahwa sebulan yang lalu ia bertemu seekor ular besar di kaki Gunung Saptaarga. Dengan cekatan ia pun memanah ular besar tersebut. Sungguh ajaib, ular besar itu musnah dan berubah wujud menjadi seorang bidadari yang mengaku bernama Batari Nilawati. Biadadari itu bercerita bahwa dirinya mendapat kutukan dari Batara Guru karena melakukan suatu kesalahan. Kini, ia telah teruwat berkat bantuan Bambang Satrukem. Setelah berterima kasih, Batari Nilawati pun mohon pamit kembali ke kahyangan.

Sejak bertemu Batari Nilawati itulah siang dan malam Bambang Satrukem selalu terkenang kepadanya. Resi Manumanasa merasa maklum karena putra sulungnya itu telah tumbuh dewasa. Pada saat itulah Batara Narada turun dari kahyangan mengunjungi Resi Manumanasa. Batara Narada menceritakan bahwa Batari Nilawati sebenarnya juga jatuh hati kepada Bambang Satrukem yang telah meruwat dirinya dari kutukan. Akan tetapi, sebagai wanita ia merasa malu jika harus menyatakan cinta terlebih dahulu. Untuk itu, Batari Nilawati memohon izin kepada Batara Guru untuk tidak lagi menjadi bidadari, dan selanjutnya ia akan tinggal di Gunung Pujangkara dengan nama Dewi Nilawati.

Setelah mendapat izin dari Batara Guru, Dewi Nilawati pun mengadakan sayembara untuk mendapatkan suami. Ia mengolah buah labu kahyangan menjadi minuman yang diberi nama Kamandalu Matula. Barangsiapa mampu meneguk habis minuman tersebut, maka orang itu berhak memperistri dirinya. Demikianlah, meskipun jatuh cinta kepada Bambang Satrukem, namun demi menjaga kehormatan, Dewi Nilawati pun mengadakan sayembara tersebut. Ia berharap semoga Bambang Satrukem datang ke Gunung Pujangkara mengikuti sayembara dan bisa memenangkan dirinya.

Resi Manumanasa dan Bambang Satrukem terkesan mendengar cerita Batara Narada. Bambang Satrukem lalu mohon restu kepada sang ayah untuk mengikuti sayembara tersebut. Resi Manumanasa merestui, lalu meminta Janggan Smara untuk menemani putra sulungnya itu pergi ke Gunung Pujangkara.

WASI DWAPARA BERTEMU PRABU DRUMANASA

Ketika Batara Narada bercerita tentang Dewi Nilawati tadi, diam-diam Wasi Dwapara mengintai dan menguping pembicaraan mereka. Mendengar ada bidadari menggelar sayembara di Gunung Pujangkara, Wasi Dwapara sangat tertarik dan ingin sekali mengikutinya. Maka, ia pun turun gunung meninggalkan Padepokan Saptaarga untuk mendahului kepergian Bambang Satrukem dan Janggan Smara.

Di tengah perjalanan, Wasi Dwapara bertemu rombongan Prabu Drumanasa yang baru saja kalah perang melawan Kerajaan Wirata. Mereka senang sekali bisa bertemu karena Prabu Drumanasa terhitung masih keponakan Wasi Dwapara. Prabu Drumanasa adalah anak Prabu Wagirata, sedangkan Prabu Wagirata adalah anak Prabu Durmapati. Adapun Prabu Durmapati adalah kakak Prabu Durapati, dan mereka adalah sesama putra Prabu Basukirata. Prabu Durapati tersebut tidak lain adalah ayah dari Wasi Dwapara.

Pada suatu hari Prabu Wagirata raja Madenda mendengar kabar bahwa Prabu Dwapara kalah perang di Tanah Jawa dan tidak diketahui bagaimana nasibnya, sedangkan Patih Durbara mendapat pengampunan dari raja Jawa. Setelah pulang ke Kerajaan Duhyapura, Patih Durbara menyerahkan takhta untuk diduduki putranya yang bernama Bambang Basuki, bergelar Prabu Basukiyana. Patih Durbara sendiri lalu menjadi pandita kerajaan, bergelar Resi Kuntadruwasa.

Tindakan Patih Durbara ini membuat Prabu Wagirata marah. Ia lalu menyerang Kerajaan Duhyapura untuk menurunkan Prabu Basukiyana. Akan tetapi, Prabu Wagirata sendiri justru gugur dalam peperangan.

Prabu Wagirata lalu digantikan putranya yang bergelar Prabu Drumanasa sebagai raja Madenda. Perang melawan Kerajaan Duhyapura dilanjutkan kembali. Akan tetapi, Prabu Drumanasa yang masih muda belia dan miskin pengalaman itu pun mendapatkan kekalahan. Kerajaan Madenda bahkan direbut oleh Prabu Basukiyana dan dijadikan satu dengan Kerajaan Duhyapura.

Demikianlah, Prabu Drumanasa lalu pergi ke Tanah Jawa untuk menjalin persekutuan dengan Prabu Basukesti raja Wirata, melalui lamaran terhadap Dewi Dwarawati. Tak disangka, Dewi Dwarawati ternyata sudah menikah dengan Empu Purbageni. Prabu Drumanasa berusaha merebut Dewi Dwarawati secara paksa, namun mengalami kekalahan.

Kini, Prabu Drumanasa sangat senang bisa bertemu Wasi Dwapara dan mengajaknya kembali ke Tanah Hindustan untuk merebut takhta Kerajaan Duhyapura dan Madenda dari tangan Prabu Basukiyana.

Wasi Dwapara prihatin mendengar riwayat keponakannya itu. Ia pun bercerita bahwa setelah dirinya kalah perang melawan Kerajaan Wirata dulu, ia lalu ditampung pamannya dari pihak ibu, yaitu Resi Manumanasa di Gunung Saptaarga dan dijadikan sebagai murid. Soal ajakan kembali ke Tanah Hindustan, Wasi Dwapara menolak karena ia sudah terlanjur betah tinggal di Pulau Jawa. Lagipula, ia rela negerinya dipimpin Prabu Basukiyana, karena sesungguhnya Prabu Basukiyana adalah kakak iparnya sendiri. Sebelum menikah dengan Dewi Kaniraras (ibu Wasi Dwapara), mendiang Prabu Durapati telah memiliki seorang anak perempuan dari istri terdahulu yang bernama Dewi Dalupi. Setelah dewasa, Dewi Dalupi menikah dengan Bambang Basuki, putra Patih Durbara. Karena Prabu Dwapara telah kalah perang di Tanah Jawa dan tidak diketahui bagaimana nasibnya, maka wajar apabila Patih Durbara menyerahkan takhta Duhyapura kepada Bambang Basuki, karena putranya itu adalah menantu Prabu Durapati, raja terdahulu.

Karena Wasi Dwapara tidak bersedia pulang ke Duhyapura, Prabu Drumanasa tidak mau memaksa lagi. Ia justru ingin menemani pamannya itu menuju Gunung Pujangkara untuk mengikuti sayembara yang diadakan seorang bidadari, bernama Dewi Nilawati.

BAMBANG SATRUKEM MEMENANGKAN SAYEMBARA

Di Gunung Pujangkara, Dewi Nilawati menerima kedatangan Wasi Dwapara dan Prabu Drumanasa. Tidak lama kemudian hadir pula Bambang Satrukem yang ditemani Janggan Smara. Mereka semua datang untuk mengikuti sayembara meminum air Kamandalu Matula yang diperas Dewi Nilawati dari buah labu kahyangan.

Karena Wasi Dwapara lebih tua dan datang lebih awal, Bambang Satrukem pun mempersilakan kakak sepupunya itu untuk meminum terlebih dulu. Air Kamandalu Matula itu disimpan Dewi Nilawati dalam sebuah kendi. Ketika Wasi Dwapara mengangkat kendi tersebut dan meneguk isinya, tiba-tiba mulutnya terasa panas dan bibirnya melepuh hingga robek menganga. Seketika Wasi Dwapara pun berubah menjadi buruk rupa.

Kini tiba giliran Bambang Satrukem untuk meminum air Kamandalu Matula. Prabu Drumanasa berusaha mengganggu pikirannya dengan mengatakan sungguh sayang apabila Bambang Satrukem yang tampan itu harus robek mulutnya seperti sang paman. Namun, Bambang Satrukem tetap tenang dan mengambil kendi tersebut dengan perasaan ikhlas apa pun yang akan terjadi. Perlahan-lahan ia meneguk isi kendi tersebut sampai habis. Anehnya, Bambang Satrukem tidak mengalami celaka, justru tubuhnya terasa lebih sehat dan segar bugar.

Wasi Dwapara marah merasa sayembara ini hanyalah akal-akalan belaka. Ia lalu memberi isyarat kepada Prabu Drumanasa untuk bersama-sama mengeroyok Bambang Satrukem. Melihat itu, Janggan Smara segera turun tangan membantu. Mula-mula Prabu Drumanasa dapat dilemparkan sejauh-jauhnya dari Gunung Pujangkara. Wasi Dwapara yang masih bertahan akhirnya tidak kuat juga setelah Janggan Smara mengerahkan kentut saktinya. Ia pun melarikan diri meninggalkan gunung tersebut.

Demikianlah, Bambang Satrukem lalu memboyong Dewi Nilawati untuk menikah di Gunung Saptaarga.

WASI DWAPARA MENJADI MENANTU ARYA PARIDARMA


Sementara itu, Wasi Dwapara yang melarikan diri dari Gunung Pujangkara bertemu Arya Paridarma di tengah jalan. Saat itu Arya Paridarma sedang menuju ke Gunung Saptaarga untuk menghadap Resi Manumanasa (kakaknya) demi mendapatkan obat bagi putrinya yang menderita sakit lumpuh, bernama Dewi Maestri.

Wasi Dwapara pun memperkenalkan diri sebagai putra Dewi Kaniraras dari perkawinan kedua dengan Prabu Durapati raja Duhyapura. Arya Paridarma pun bersyukur bisa bertemu dengan keponakannya. Wasi Dwapara lalu menawarkan diri untuk mengobati Dewi Maestri karena selama ini ia telah berguru banyak ilmu kepada Resi Manumanasa. Arya Paridarma agak ragu tapi akhirnya menerima tawaran Wasi Dwapara tersebut.

Sesampainya di Pedukuhan Gandara, Arya Paridarma segera mempersilakan Wasi Dwapara untuk mengobati putrinya. Saat itu Dewi Maestri sedang tidur di pangkuan ibunya, yaitu Dewi Subahni, dan kakinya dipijat oleh adiknya yang bernama Dewi Huti. Tampak hadir pula Resi Manonbawa (kakak Arya Paridarma) beserta istrinya, yaitu Dewi Suwedi (kakak Dewi Subahni).

Wasi Dwapara lalu meminta Arya Paridarma menyediakan sebuah mentimun dan seekor lalat. Setelah tersedia, Wasi Dwapara memasukkan lalat tersebut ke dalam mentimun dan membacakan japa mantra. Mentimun itu lalu disuapkan kepada Dewi Maestri. Sungguh ajaib, Dewi Maestri pun sembuh dari sakitnya dan dapat berjalan kembali seperti sedia kala.

Arya Paridarma, Resi Manonbawa, dan yang lain sangat kagum bercampur gembira menyaksikan keberhasilan Wasi Dwapara. Sebagai ungkapan terima kasih, Arya Paridarma pun mengambil Wasi Dwapara sebagai menantu, yaitu dinikahkan dengan Dewi Maestri. Wasi Dwapara dan Dewi Maestri pun menurut dan menerima perjodohan tersebut.

Resi Manonbawa juga ikut berbahagia. Untuk semakin mempererat persaudaraan, ia pun melamar adik Dewi Maestri, yaitu Dewi Huti untuk dinikahkan dengan putra sulungnya yang bernama Bambang Maneriya. Arya Paridarma sangat senang menerima lamaran kakaknya tersebut, lalu ia pun mengirim kabar bahagia ini kepada Resi Manumanasa di Gunung Saptaarga.

Wasi Dwapara dan Bambang Satrukem

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke : daftar isi





Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Empu Purbageni

 No comments   

Kisah ini menceritakan Prabu Basukesti mendapatkan Jamur Dipa dari bekas tempat samadi Resi Brahmanaweda dan Resi Brahmanakestu yang kemudian diolah menjadi kue payasa untuk dimakan Dewi Sugandi. Kisah dilanjutkan dengan hilangnya Dewi Dwarawati yang berhasil ditemukan oleh Empu Purbageni, putra Empu Dewayasa.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra, dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 23 Maret 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


MENINGGALNYA RESI BRAHMANAWEDA DAN RESI BRAHMANAKESTU

Prabu Basukesti di Kerajaan Wirata dihadap Patih Jatikanda, Arya Jayaloka, Empu Dewayasa, dan para punggawa lainnya. Mereka sedang membicarakan tentang dua sesepuh istana, yaitu Resi Brahmanaweda dan Resi Brahmanakestu yang sudah lama tidak menghadiri pertemuan.

Tidak lama kemudian datanglah Resi Suganda (mertua Prabu Basukesti yang juga putra Resi Brahmanakestu) mengabarkan bahwa kedua sesepuh tersebut telah meninggal dunia. Mereka berdua meninggal ketika sedang bersamadi di sanggar pemujaan. Secara ajaib, tubuh Resi Brahmanaweda dan Resi Brahmanakestu sama-sama musnah seperti asap, dan di bekas tempat mereka bersamadi tumbuh semacam jamur, yang disebut Jamur Dipa. Yang lebih mengherankan lagi, Resi Suganda ternyata tidak mampu memetik jamur tersebut.

Prabu Basukesti dan para hadirin sangat terkejut dan berduka, terutama Patih Jatikanda yang merupakan putra Resi Brahmanaweda. Di samping itu, mereka juga penasaran mendengar adanya tumbuhan Jamur Dipa tersebut. Seketika Prabu Basukesti teringat pada riwayat kakeknya, yaitu Prabu Basurata pendiri Kerajaan Wirata yang pernah mendapatkan Jamur Dipa dari Tanah Hindustan. Jamur Dipa tersebut diolah menjadi kue payasa yang kemudian dimakan oleh sang permaisuri Dewi Brahmaniyuta. Setelah memakan kue payasa tersebut, Dewi Brahmaniyuta bisa mengandung dan melahirkan Prabu Basupati (ayah dari Prabu Basukesti).

Maka, Prabu Basukesti pun mengajak Patih Jatikanda, Arya Jayaloka, dan Empu Dewayasa berangkat menuju ke sanggar pemujaan tempat Resi Brahmanaweda dan Resi Brahmanakestu meninggal.

PRABU BASUKESTI MEMETIK JAMUR DIPA

Prabu Basukesti dan rombongan telah sampai di sanggar pemujaan. Mereka lalu mengheningkan cipta untuk mendoakan arwah Resi Brahmanaweda dan Resi Brahmanakestu. Setelah itu, Prabu Basukesti pun memerintahkan Patih Jatikanda, Empu Dewayasa, dan Arya Jayaloka untuk memetik Jamur Dipa yang tumbuh di tempat itu. Akan tetapi, mereka ternyata tidak mampu memetik tumbuhan kecil tersebut.

Prabu Basukesti lalu turun tangan sendiri untuk memetiknya. Sungguh aneh, begitu ia yang memetik, Jamur Dipa tersebut langsung tercabut dari tempatnya tumbuh. Tiba-tiba muncul pula cahaya teja yang terang benderang dan kemudian masuk ke dalam tubuh Prabu Basukesti melalui ubun-ubun.

Resi Suganda, Patih Jatikanda, Empu Dewayasa, dan Arya Jayaloka terkesima menyaksikan pemandangan tersebut. Mereka melihat wajah Prabu Basukesti menjadi lebih tampan dan berseri-seri setelah kemasukan cahaya teja dari Jamur Dipa. Setelah dirasa cukup, Prabu Basukesti lalu mengajak rombongan kembali ke istana.

Sesampainya di istana, Prabu Basukesti segera menyerahkan Jamur Dipa kepada juru masak untuk diolah menjadi kue payasa. Setelah kue matang, Prabu Basukesti menyerahkannya kepada dua permaisuri, yaitu Dewi Pancawati dan Dewi Sugandi. Akan tetapi, Dewi Pancawati menolak karena dirinya sudah ditakdirkan mandul tidak memiliki anak. Maka, semua kue payasa pun diberikan kepada Dewi Sugandi.

Prabu Basukesti berharap setelah memakan kue payasa dari Jamur Dipa tersebut, Dewi Sugandi dapat mengandung seorang anak laki-laki yang kelak bisa menjadi pangeran mahkota Kerajaan Wirata.

DEWI DWARAWATI HILANG DICULIK

Beberapa bulan setelah peristiwa Jamur Dipa tersebut, Prabu Basukesti dihadapkan pada sebuah permasalahan, yaitu hilangnya Dewi Dwarawati, adik bungsu Dewi Pancawati. Sang Prabu telah berusaha mencari saudari iparnya itu ke mana-mana namun tidak juga mendapatkan hasil. Ia lalu mengadakan sayembara, barangsiapa bisa menemukan Dewi Dwarawati maka akan dinikahkan dengannya.

Empu Dewayasa (kepala pembuat senjata di Kerajaan Wirata) segera memerintahkan putranya yang bernama Empu Purbageni untuk mengikuti sayembara tersebut. Empu Purbageni sendiri baru saja pulang dari Pulau Nusakencana untuk mencari bijih besi Brahmakadali. Begitu mendapat perintah demikian dari sang ayah, ia pun berangkat mencari hilangnya Dewi Dwarawati.

EMPU PURBAGENI MEMBUNUH DUA RAKSASA PENCULIK


Setelah melakukan penelusuran berhari-hari, Empu Purbageni tetap saja tidak mendapatkan kabar tentang keberadaan Dewi Dwarawati. Ia kemudian bersamadi memohon petunjuk dewata. Pada saat itulah datang Batara Ramayadi, dewa para empu, yang turun dari kahyangan untuk memberikan petunjuk bahwa Empu Purbageni harus pergi ke Hutan Matiraga jika ingin menemukan Dewi Dwarawati. Empu Purbageni berterima kasih, lalu mohon restu berangkat menuju ke hutan tersebut.

Sesampainya di Hutan Matiraga, Empu Purbageni menemukan sebuah gua yang mencurigakan. Sayup-sayup terdengar suara dua orang berbicara dari dalam gua. Empu Purbageni pun bersembunyi di dekat mulut gua untuk mendengarkan percakapan mereka. Rupanya yang sedang berbicara itu adalah dua orang kakak-beradik laki-laki dan perempuan. Sepertinya mereka sedang berdebat tentang seorang gadis yang telah mereka culik. Si kakak ingin menikahinya, sedangkan si adik ingin memangsa gadis itu.

Empu Purbageni yakin kalau wanita yang telah mereka culik adalah Dewi Dwarawati. Ia lalu berteriak memanggil laki-laki dan perempuan yang sedang berdebat itu sehingga mereka pun keluar dari dalam gua. Laki-laki dan perempuan ini ternyata berwujud raksasa dan raksasi. Si raksasa bernama Ditya Aswana, sedangkan adiknya bernama Dewi Aswita. Mereka telah menculik seorang gadis dari Kerajaan Wirata untuk dimangsa, tetapi pada akhirnya justru berdebat sendiri. Ditya Aswana menghitung gadis itu tidak termasuk julung sehingga tidak boleh dimangsa, sedangkan Dewi Aswita bersikeras ingin memangsanya dan menuduh si kakak mencari-cari alasan karena tertarik pada kecantikan gadis tersebut.

Empu Purbageni bersedia menjadi penengah di antara mereka, namun ia tidak paham soal perhitungan julung. Ditya Aswana dan Dewi Aswita pun menjelaskan bahwa mereka berdua adalah pemuja Batara Kala dan sebulan sekali selalu memangsa manusia. Akan tetapi, yang dimangsa hanyalah manusia yang terhitung julung, yaitu julungwangi (lahir saat matahari terbit), julungsungsang (lahir saat tengah hari), julungsarab (lahir saat matahari terbenam), dan julungpujud (lahir saat petang hari). Menurut perhitungan Ditya Aswana, gadis yang mereka culik tidak termasuk julung sehingga tidak boleh dimangsa. Di lain pihak, Dewi Aswita menuduh kakaknya mengada-ada karena tertarik pada kecantikan gadis itu.

Empu Purbageni telah memahami duduk permasalahannya. Ia lalu memutuskan bahwa gadis itu tidak boleh dinikahi Ditya Aswana, juga tidak boleh dimangsa Dewi Aswita, tetapi akan dikembalikan kepada rajanya, yaitu Prabu Basukesti di Wirata. Ditya Aswana dan Dewi Aswita marah merasa dipermainkan. Mereka lalu menyerang Empu Purbageni dan terjadilah pertarungan sengit. Pada akhirnya, kedua kakak beradik itu tewas dengan kepala pecah terkena hantaman besi Brahmakadali milik Empu Purbageni.

EMPU PURBAGENI MEMBAWA PULANG DEWI DWARAWATI

Empu Purbageni lalu masuk ke dalam gua tempat Dewi Dwarawati disekap. Kepada adik ipar Prabu Basukesti itu ia memperkenalkan diri sebagai putra Empu Dewayasa yang ditugasi untuk membawanya pulang ke Kerajaan Wirata. Dewi Dwarawati sangat berterima kasih dirinya telah diselamatkan dari kedua raksasa tadi.

Begitu keluar dari gua, Empu Purbageni dan Dewi Dwarawati melihat ada sejumlah raksasa tiba-tiba datang dan meratapi mayat Ditya Aswana dan Dewi Aswita. Para raksasa itu berasal dari Kerajaan Medang Kumuwung yang dipimpin oleh Patih Kalawreka. Mereka mendapat tugas dari Prabu Kunjanawreka untuk mencari Ditya Aswana dan Dewi Aswita yang telah lama meninggalkan istana. Rupanya, kedua raksasa kakak beradik tersebut adalah putra dan putri raja Medang Kumuwung.

Mengetahui Ditya Aswana dan Dewi Aswita telah tewas di tangan Empu Purbageni, Patih Kalawreka sangat marah dan memeritahkan para prajurit untuk menyerangnya. Empu Purbageni dengan lincah menghadapi para raksasa tersebut, namun lama-lama terdesak juga.

Pada saat itulah muncul putra sulung Resi Manumanasa, yaitu Bambang Satrukem yang sedang berkelana ditemani Janggan Smara. Pemuda itu segera turun tangan membantu Empu Purbageni mengalahkan para raksasa tersebut. Merasa terdesak, Patih Kalawreka akhirnya mengajak pasukannya meninggalkan Hutan Matiraga dengan membawa serta mayat Ditya Aswana dan Dewi Aswita.

Empu Purbageni lalu berkenalan dengan Bambang Satrukem dan mereka sama-sama gembira karena ternyata masih saudara. Empu Purbageni adalah keponakan mendiang Empu Kanomayasa, sedangkan Bambang Satrukem adalah putra Resi Manumanasa. Adapun Empu Kanomayasa adalah kakak ipar Resi Manumanasa.

PERNIKAHAN EMPU PURBAGENI DENGAN DEWI DWARAWATI

Empu Purbageni telah tiba di Kerajaan Wirata dan menyerahkan Dewi Dwarawati kepada Prabu Basukesti. Bambang Satrukem juga ikut menemani. Prabu Basukesti sangat gembira dan sesuai janjinya, ia pun menjodohkan Dewi Dwarawati dengan Empu Purbageni. Dewi Dwarawati mematuhi keputusan tersebut karena pada dasarnya ia juga menyukai Empu Purbageni yang telah menyelamatkan dirinya dari marabahaya.

Karena ayah Dewi Dwarawati, yaitu Arya Awangga telah meninggal, maka yang menyelenggarakan pernikahan adalah Prabu Basukesti. Upacara pernikahan itu dilaksanakan di rumah Patih Jatikanda yang terletak di samping istana. Inilah yang kemudian ditiru masyarakat Jawa, bahwa jika menikahkan saudara hendaknya dilakukan di samping rumah, bukan di depan rumah.

Setelah upacara pernikahan selesai, tiba-tiba Kerajaan Wirata diserang pasukan raksasa Medang Kumuwung yang dipimpin langsung oleh Prabu Kunjanawreka dan Patih Kalawreka. Kedatangan mereka adalah untuk membalas kematian Ditya Aswana dan Dewi Aswita yang tewas di tangan Empu Purbageni.

Prabu Basukesti segera memerintahkan Arya Jayaloka memimpin pasukan untuk menghadapi serangan tersebut. Bambang Satrukem juga mohon izin kepada Prabu Basukesti, kemudian ikut terjun ke medan pertempuran. Setelah bertempur beberapa lama, Bambang Satrukem berhasil memenggal kepala Prabu Kunjanawreka menggunakan panah Sarotama, sedangkan Arya Jayaloka dapat menewaskan Patih Kalawreka.

Beberapa bulan setelah peristiwa itu, Prabu Basukesti mendapatkan kebahagiaan lagi, yaitu Dewi Sugandi yang telah memakan kue payasa Jamur Dipa, kini melahirkan dua orang anak sekaligus. Perempuan dan laki-laki. Yang perempuan diberi nama Dewi Basutari, sedangkan yang laki-laki diberi nama Raden Basutara.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke : daftar isi




Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Basukesti Wisuda

 No comments   

Kisah ini menceritakan kematian Prabu Basumurti setelah merusak pohon keramat Kayu Sriputa. Raden Basukesti lalu dilantik menjadi raja Wirata yang baru, membuat Prabu Hastimurti raja Gajahoya merasa kecewa. Kisah dilanjutkan dengan pernikahan kedua Prabu Basukesti dengan Dewi Sugandi untuk mendapatkan keturunan. Kisah ditutup dengan pertempuran antara Kerajaan Wirata melawan Kerajaan Duhyapura, di mana Prabu Dwapara raja Duhyapura kalah dan berlindung kepada Resi Manumanasa di Gunung Saptaarga.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra, dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 21 Maret 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


PRABU BASUMURTI BERBURU DAN BERDERMA

Pada suatu hari Prabu Basumurti raja Wirata pergi berburu ke Hutan Pandeki, dengan didampingi Raden Basukesti, Raden Basunanda, dan Patih Jatikanda. Setelah puas mendapatkan banyak hewan buruan, mereka tidak langsung pulang ke istana, karena Prabu Basumurti berniat membagi-bagikan derma kepada masyarakat pedesaan.

Demikianlah, sesampainya di pedesaan, para prajurit membagi-bagikan uang dan makanan. Para penduduk pun berduyun-duyun memperebutkannya. Mereka rela berdesak-desakan demi mendapatkan sedekah pemberian Sang Prabu. Akan tetapi, ada seorang laki-laki yang tidak ikut memperebutkan sedekah, tetapi duduk diam menghadap sebatang pohon. Prabu Basumurti heran melihat orang itu dan segera mengutus Raden Basukesti untuk menanyainya.

Raden Basukesti mendekati orang itu dan bertanya kepadanya, mengapa tidak ikut menerima sedekah dari raja? Orang itu mengaku bernama Cantrik Janaloka dan pohon keramat yang ditungguinya bernama pohon Kayu Sriputa. Menurut keyakinan orang itu, arwah gurunya yang bernama Ajar Ariloka telah bersatu ke dalam pohon tersebut, sehingga menunggui pohon Kayu Sriputa baginya jauh lebih mulia daripada berbaris memperebutkan harta sedekah. Apalagi cara Prabu Basumurti membagi-bagikan sedekah terlihat sangat angkuh dan ingin dipuji, bukan dilandasi rasa tulus ikhlas dari hati.

PRABU BASUMURTI MENINGGAL DUNIA

Raden Basukesti lalu melapor kepada Prabu Basumurti tentang apa yang disampaikan Cantrik Janaloka. Prabu Basumurti sangat tersinggung melihat ada seorang warga desa yang lebih takut kepada pohon daripada raja. Ia lalu melemparkan Pedang Candrahasa (pusaka peninggalan Sri Maharaja Purwacandra) ke arah pohon Kayu Sriputa. Seketika pohon keramat itu pun terpotong menjadi dua dan roboh ke tanah. Akan tetapi, setelah mengambil kembali pusakanya, Prabu Basumurti merasa tidak enak badan dan segera mengajak para pengikutnya pulang.

Sesampainya di istana Wirata, keadaan Prabu Basumurti bertambah parah. Setelah dirawat beberapa hari, nyawanya justru tak tertolong lagi. Raja Wirata itu pun meninggal dunia.

Berita kematian Prabu Basumurti telah diterima oleh putra tunggalnya, yaitu Prabu Hastimurti di Kerajaan Gajahoya. Ia pun buru-buru pergi ke Wirata bersama istri dan iparnya, yaitu Dewi Basundari dan Patih Basundara, untuk menghadiri pemakaman sang ayah.

PRABU BASUKESTI MENJADI RAJA WIRATA

Setelah masa berkabung usai, para pembesar Kerajaan Wirata, antara lain Resi Brahmanaweda, Resi Brahmanakestu, Raden Basukesti, Raden Basunanda, Patih Jatikanda, dan Resi Wakiswara bermusyawarah. Mereka akhirnya sepakat menyerahkan takhta kepada Raden Basukesti, kecuali Raden Basunanda yang menyatakan Prabu Hastimurti lebih berhak atas takhta tersebut. Namun demikian, suara terbanyak tetap menghendaki Raden Basukesti sebagai raja Wirata, karena Prabu Hastimurti telah membangun kerajaan bernama Gajahoya dan hidup mandiri di sana.

Mendengar keputusan tersebut, Prabu Hastimurti sangat kecewa dan pulang tanpa pamit. Meskipun dulu ia pernah berkata kepada mendiang ayahnya tentang keinginannya untuk hidup mandiri dengan membangun kerajaan sendiri, namun dalam hati ia juga berharap bisa menjadi raja Wirata. Tak disangka, setelah sang ayah meninggal, takhta Kerajaan Wirata justru jatuh ke tangan pamannya.

Raden Basunanda yang tidak setuju dengan pengangkatan Raden Basukesti sebagai raja Wirata pun ikut pindah ke Kerajaan Gajahoya. Prabu Hastimurti menerima kedatangan mertua sekaligus pamannya itu dan mengangkatnya sebagai pandita kerajaan, bergelar Resi Basunanda.

Sementara itu, pada hari yang ditentukan, Raden Basukesti pun dilantik menjadi raja Wirata yang baru, bergelar Prabu Basukesti. Sebagai menteri utama tetap dijabat oleh Patih Jatikanda.

PRABU BASUKESTI MENIKAH LAGI

Pada suatu hari Cantrik Janaloka datang ke istana Wirata menghadap Prabu Basukesti. Ia mengabarkan bahwa setelah Kayu Sriputa ditebang oleh mendiang Prabu Basumurti, arwah Ajar Ariloka lalu berpindah ke dalam diri Prabu Basukesti. Untuk itu, Cantrik Janaloka memohon supaya diterima mengabdi di Kerajaan Wirata. Prabu Basukesti pun menjadikannya sebagai punggawa, bergelar Arya Jayaloka.

Pada suatu hari, Prabu Basukesti mengeluh kepada Arya Jayaloka bahwa sampai hari ini perkawinannya dengan Dewi Pancawati belum juga mendapatkan keturunan. Padahal, adiknya yaitu Raden Basunanda telah memiliki seorang cucu di Kerajaan Gajahoya. Prabu Basukesti meminta tolong kepada Arya Jayaloka bagaimana caranya agar bisa mendapatkan anak. Arya Jayaloka pun mohon pamit untuk pergi ke Gunung Mahendra, untuk meminta petunjuk kepada Begawan Rukmawati.

Begawan Rukmawati di Gunung Mahendra menyambut kedatangan Arya Jayaloka. Mengenai keinginan Prabu Basukesti untuk mendapatkan keturunan, Begawan Rukmawati menjelaskan bahwa Sang Prabu harus menikah lagi karena sang permaisuri Dewi Pancawati mandul. Mengenai siapa yang harus dinikahi sebagai istri kedua, Begawan Rukmawati menyarankan agar Prabu Basukesti meminang putri Resi Suganda di Padepokan Medangkawuri, yang bernama Endang Sugandi. Arya Jayaloka berterima kasih lalu mohon pamit kembali ke Kerajaan Wirata.

Sesampainya di istana, Arya Jayaloka segera menyampaikan petunjuk dari Begawan Rukmawati tersebut kepada Prabu Basukesti. Prabu Basukesti lalu merundingkan hal itu kepada Dewi Pancawati dan ia pun mendapatkan izin untuk menikah lagi.

Maka, Prabu Basukesti pun mengirim lamaran kepada Resi Suganda di Padepokan Medangkawuri. Resi Suganda menerima pinangan tersebut dengan suka cita, dan ini sesuai dengan ramalan Begawan Rukmawati dulu bahwa istrinya, yaitu Ken Raketan akan menurunkan raja-raja Tanah Jawa. Ramalan itu kini menjadi kenyataan, karena Endang Sugandi akan diperistri oleh Prabu Basukesti, raja Wirata.

Singkat cerita, upacara pernikahan antara Prabu Basukesti dan Endang Sugandi telah dilaksanakan. Setahun kemudian, dari perkawinan itu lahir seorang bayi perempuan, yang diberi nama Dewi Basuwati. Nama tersebut diambil dari nama Begawan Rukmawati, yaitu sang petapa wanita yang telah memberikan petunjuk.

KERAJAAN WIRATA BERPERANG DENGAN KERAJAAN DUHYAPURA


Pada suatu hari Prabu Basukesti menerima laporan bahwa ada sejumlah kapal berbendera asing berlayar dari negeri seberang menuju Tanah Jawa. Sepertinya kapal-kapal tersebut membawa pasukan siap tempur. Prabu Basukesti marah dan segera memerintahkan Patih Jatikanda dan Arya Jayaloka untuk memimpin pasukan menghadapi serangan tersebut.

Pasukan dari tanah seberang itu telah tiba di pelabuhan Kerajaan Wirata. Rupanya mereka berasal dari Kerajaan Duhyapura di Tanah Hindustan, yang dipimpin oleh Prabu Dwapara dan Patih Durbara. Begitu mendarat, mereka segera memerintahkan penyerbuan. Sementara itu, pasukan Wirata yang dipimpin Patih Jatikanda dan Arya Jayaloka juga telah bersiaga untuk menghadapi serangan tersebut.

Maka, terjadilah pertempuran sengit di antara kedua pihak. Setelah lewat tengah hari, pasukan Duhyapura dapat dikalahkan. Patih Durbara tertangkap oleh Arya Jayaloka, sedangkan Prabu Dwapara melarikan diri.

Patih Jatikanda dan Arya Jayaloka lalu menghadapkan Patih Durbara kepada Prabu Basukesti. Prabu Basukesti pun menanyainya mengapa tiba-tiba Kerajaan Duhyapura datang menyerang Kerajaan Wirata. Patih Durbara pun bercerita bahwa rajanya yang bernama Prabu Dwapara masih keturunan Wirata, karena merupakan putra Dewi Kaniraras dari perkawinan kedua dengan Prabu Durapati.

Belasan tahun yang lalu Dewi Kaniraras putri sulung Prabu Parikenan dan Dewi Brahmaneki menjadi janda setelah ditinggal mati suami pertamanya, yaitu Empu Kanomayasa yang mengalami kecelakaan kerja. Dewi Kaniraras lalu menikah lagi dengan Prabu Durapati, dan selanjutnya diboyong ke Kerajaan Duhyapura di Tanah Hindustan. Dari perkawinan itu lahirlah seorang putra yang diberi nama Raden Dwapara. Pada saat putranya itu berusia lima belas tahun, Prabu Durapati meninggal dunia.

Raden Dwapara pun naik takhta dalam usia yang masih remaja menggantikan sang ayah, dengan bergelar Prabu Dwapara. Setahun kemudian Dewi Kaniraras meninggal pula dan ia sempat bercerita tentang tanah kelahirannya di Pulau Jawa. Menjelang kematiannya, Dewi Kaniraras berwasiat supaya Prabu Dwapara menyambung kekeluargaan dengan Kerajaan Wirata.

Akan tetapi, Prabu Dwapara yang masih muda belia itu memiliki pikiran yang mudah panas. Bukannya melaksanakan wasiat sang ibu, ia justru ingin menaklukkan Kerajaan Wirata dan menjadikan Tanah Jawa sebagai jajahan Kerajaan Duhyapura.

Demikianlah, Prabu Dwapara lalu memimpin pasukan untuk menyerang Kerajaan Wirata, namun pada akhirnya justru mengalami kekalahan. Entah bagaimana nasib Prabu Dwapara saat ini, tidak diketahui dengan pasti. Patih Durbara mengakhiri ceritanya dan ia siap menerima hukuman. Akan tetapi, Prabu Basukesti membebaskannya dan memberikan bekal secukupnya untuk perjalanan pulang kembali ke Kerajaan Duhyapura.

Patih Durbara sangat berterima kasih lalu mohon pamit kembali ke Tanah Hindustan dengan sisa-sisa pasukannya yang masih hidup.

PRABU DWAPARA MENGABDI KEPADA RESI MANUMANASA

Sementara itu, Prabu Dwapara yang meloloskan diri dari pertempuran tadi akhirnya tersesat sampai ke Gunung Saptaarga. Di gunung itu ia bertemu ketiga putra Resi Manumanasa yang telah tumbuh remaja, yaitu Bambang Satrukem, Bambang Sriati, dan Bambang Manumadewa. Terjadilah kesalahpahaman di antara mereka karena sikap Prabu Dwapara yang sombong, sehingga berlanjut dengan sebuah perkelahian.

Bambang Satrukem akhirnya bisa meringkus Prabu Dwapara dan menyerahkannya kepada sang ayah. Resi Manumanasa yang berpandangan tajam dapat mengetahui kalau raja Duhyapura ini masih keponakannya sendiri, yaitu putra Dewi Kaniraras dari perkawinan kedua dengan Prabu Durapati. Prabu Dwapara yang pada dasarnya ingin mencari perlindungan dari kejaran pasukan Wirata segera menyembah penuh hormat kepada pamannya tersebut. Ia lalu memohon supaya diizinkan tinggal di Padepokan Saptaarga.

Resi Manumanasa mengabulkan permintaan tersebut. Ia lalu mengangkat Prabu Dwapara sebagai murid, dengan nama baru, yaitu Wasi Dwapara.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke : daftar isi





Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ▼  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ▼  March (10)
      • Hastimurti Gugur
      • Sakri Lahir
      • Satrukem Krama
      • Empu Purbageni
      • Basukesti Wisuda
      • Babad Gajahoya
      • Pakumpulan Saptaarga
      • Satrukem Lahir
      • Resi Manumanasa
      • Kaniyasa Sraya
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja