Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Basudewa Krama

 No comments   


Kisah ini menceritakan Raden Basudewa mengembara untuk menikah dengan Endang Rohini (kelak melahirkan Prabu Baladewa) serta Dewi Dewaki (kelak melahirkan Prabu Sri Kresna). Setelah itu, Raden Basudewa menjadi raja Mandura dan menikahi Ken Badra yang diganti namanya menjadi Dewi Badraini (kelak melahirkan Dewiwara Sumbadra). Juga disisipkan kisah hubungan gelap antara Raden Basudewa dengan Ken Yasoda alias Nyai Sagopi (kelak melahirkan Patih Udawa).

Kisah ini saya olah dan saya kembangkan dari artikel Majalah Panjebar Semangat. Mengenai sayembara memperebutkan Dewi Dewaki, saya selaraskan dengan kitab Mahabharata karya Resi Wyasa, yaitu tokoh Basudeva diwakili oleh Sini (kakek Satyaki versi kitab) dalam mengikuti sayembara. Untuk cerita berikut ini, tokoh Sini saya ganti dengan Raden Ugrasena (ayah Raden Setyaki).

Surabaya, 1 Juni 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


RADEN BASUDEWA MENGHILANG DARI ISTANA

Prabu Kuntiboja di Kerajaan Mandura dihadap putra ketiga dan keempat, yaitu Raden Rukma dan Raden Ugrasena beserta para menteri dan punggawa, antara lain Patih Yudawangsa dan Arya Saragupita. Dalam pertemuan itu mereka membicarakan sang putra mahkota, yaitu Raden Basudewa yang sudah tiga bulan ini menghilang dari istana. Padahal, Prabu Kuntiboja merasa dirinya sudah tua dan ingin turun takhta, serta menyerahkan tampuk pemerintahan kepada putra sulungnya tersebut.

Patih Yudawangsa melapor bahwa dirinya sudah mengerahkan banyak orang untuk mencari Raden Basudewa ke mana-mana tetapi belum juga mendapatkan hasil. Mendengar itu, Prabu Kuntiboja akhirnya memerintahkan Raden Ugrasena pergi ke Gunung Saptaarga untuk meminta petunjuk kepada sang besan, yaitu Bagawan Abyasa. Ia yakin, Bagawan Abyasa yang berilmu tinggi pasti dapat memberikan petunjuk tentang keberadaan Raden Basudewa. Nanti setelah mendapatkan petunjuk, Raden Ugrasena diperintahkan untuk menjemput pulang kakak sulungnya tersebut.

Raden Ugrasena pun siap melaksanakan perintah. Ia lalu mohon pamit berangkat meninggalkan istana. Prabu Kuntiboja merasa tidak ada yang perlu dibahas lagi. Ia pun membubarkan pertemuan dan masuk ke dalam kedaton, di mana Dewi Bandondari (istri) dan Dewi Maherah (menantu) sudah menunggu di gapura.

PRABU GORAWANGSA INGIN MEREBUT DEWI MAHERAH

Sementara itu di Kerajaan Guagra, tersebutlah seorang raja raksasa bernama Prabu Gorawangsa. Pada suatu malam ia bermimpi bertemu seorang wanita cantik yang mengaku bernama Dewi Maherah. Seketika Prabu Gorawangsa pun jatuh cinta kepada wanita itu dan ingin menikahinya. Begitu terbangun dari tidur, ia segera memanggil para panakawan untuk dimintai keterangan, yaitu Kyai Togog dan Bilung.

Kyai Togog yang berwawasan luas menjelaskan bahwa Dewi Maherah adalah putri Resi Amiraga dari Padepokan Andongcempaka yang kini telah menjadi istri Raden Basudewa dari Kerajaan Mandura. Antara Raden Basudewa dan Dewi Maherah sudah menikah cukup lama, namun kabarnya sampai sekarang mereka belum juga dikaruniai anak.

Prabu Gorawangsa sudah terlanjur jatuh cinta kepada Dewi Maherah dan ia tidak peduli meskipun wanita dalam mimpinya itu sudah bersuami. Kyai Togog dan Bilung menasihati Prabu Gorawangsa agar mengurungkan niatnya untuk merebut istri orang. Namun, Prabu Gorawangsa tetap keras kepala dan menolak nasihat tersebut. Ia pun mengirim Patih Suratimantra yang merupakan adiknya sendiri untuk pergi ke Mandura, memboyong Dewi Maherah.

Patih Suratimantra menerima perintah dari sang kakak, kemudian berangkat dengan membawa pasukan raksasa menuju Kerajaan Mandura.

PERTEMPURAN ANTARA PASUKAN MANDURA MELAWAN GUAGRA

Patih Suratimantra bersama pasukannya telah sampai di wilayah Kerajaan Mandura. Mereka pun membuat kekacauan untuk memancing pihak istana agar segera keluar. Tidak lama kemudian datanglah Raden Rukma dan Patih Yudawangsa menemui mereka.

Patih Suratimantra berterus terang ingin merebut Dewi Maherah dari tangan Raden Basudewa untuk diserahkan kepada kakaknya, yaitu Prabu Gorawangsa. Mendengar itu, Raden Rukma marah dan menantang Patih Suratimantra bertempur secara jantan.

Maka, terjadilah pertempuran antara kedua pihak. Raden Rukma dan Patih Yudawangsa merasa terdesak menghadapi Patih Suratimantra dan pasukannya yang ternyata sangat kuat tersebut. Bahkan, Patih Yudawangsa pun tewas dalam pertempuran itu. Merasa tidak mungkin menang, Raden Rukma lalu memerintahkan pasukannya untuk mundur dan kemudian menutup rapat-rapat pintu gerbang benteng Kerajaan Mandura.

Prabu Kuntiboja telah mendapat laporan dari Raden Rukma bahwa Kerajaan Mandura kini dikepung musuh dari Kerajaan Guagra, serta bagaimana Patih Yudawangsa gugur dalam pertempuran. Prabu Kuntiboja merasa pihak lawan sangat kuat, dan ia pun memerintahkan punggawa Arya Saragupita untuk berangkat ke Kerajaan Hastina, meminta bantuan kepada sekutu sekaligus menantunya, yaitu Prabu Pandu Dewanata.

Begitu menerima perintah tersebut, Arya Saragupita segera mohon pamit berangkat dengan berhati-hati agar jangan sampai tertangkap oleh pihak Guagra.

RADEN UGRASENA MEMINTA PETUNJUK BAGAWAN ABYASA

Sementara itu, Raden Ugrasena telah sampai di Gunung Saptaarga dan menghadap Bagawan Abyasa. Kepada besan ayahnya itu, ia memohon petunjuk tentang keberadaan Raden Basudewa yang sudah tiga bulan menghilang dari istana Mandura.

Bagawan Abyasa mengheningkan cipta sejenak, lalu membuka mata dan menjelaskan bahwa saat ini Raden Basudewa sedang berada di Gunung Suweda, di mana ia menikah lagi demi mendapatkan keturunan. Namun demikian, Bagawan Abyasa melarang Raden Ugrasena untuk pergi ke Gunung Suweda. Akan lebih baik apabila Raden Ugrasena pergi ke Kerajaan Widarba saja karena di sanalah nanti ia bisa bertemu dengan kakak sulungnya tersebut.

Raden Ugrasena berterima kasih atas petunjuk yang diberikan Bagawan Abyasa. Ia pun mohon pamit berangkat meninggalkan Gunung Saptaarga, menuju Kerajaan Widarba.

RADEN UGRASENA BERTEMU PRABU PANDU

Raden Ugrasena yang telah meninggalkan Gunung Saptaarga kini bertemu kakak iparnya, yaitu Prabu Pandu Dewanata di tengah jalan. Tampak olehnya, sang kakak ipar memimpin sejumlah pasukan Hastina bersama Arya Saragupita pula. Raden Ugrasena pun bertanya ada kejadian apa di Kerajaan Mandura. Arya Saragupita menjelaskan bahwa saat ini istana sedang dikepung para raksasa dari Kerajaan Guagra yang ingin merebut Dewi Maherah, istri Raden Basudewa.

Mendengar berita itu, Raden Ugrasena merasa bimbang dan ingin pulang ke Mandura untuk membantu mengusir para raksasa tersebut. Namun, Prabu Pandu melarang dan memintanya untuk tetap melanjutkan tugas dari sang ayah, yaitu menemukan keberadaan Raden Basudewa. Soal menghadapi para raksasa, biarlah ini menjadi tugas Prabu Pandu saja.

Raden Ugrasena percaya pada kemampuan kakak iparnya tersebut. Ia pun mohon pamit melanjutkan perjalanan. Prabu Pandu lalu memerintahkan para panakawan, yaitu Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong supaya ikut menemani perjalanan Raden Ugrasena.

PRABU PANDU MENGUSIR PATIH SURATIMANTRA

Prabu Pandu dan pasukan Hastina telah sampai di wilayah Kerajaan Mandura. Mereka segera menggempur perkemahan para raksasa Kerajaan Guagra. Terjadilah pertempuran sengit di antara mereka. Dalam pertempuran kali ini, Patih Suratimantra merasa terdesak menghadapi kesaktian Prabu Pandu dan kekuatan pasukan Hastina. Ia pun memerintahkan pasukannya untuk mundur, kembali ke Kerajaan Guagra.

Prabu Kuntiboja dan Raden Rukma keluar dari dalam benteng untuk menyambut kemenangan Prabu Pandu. Mereka berterima kasih atas bantuan raja Hastina tersebut dalam mengusir musuh. Namun demikian, Prabu Pandu meminta pihak Mandura untuk tetap waspada, karena ia yakin tidak lama lagi Prabu Gorawangsa akan datang untuk membalas kekalahan pasukannya.

RADEN BASUDEWA MEMBOYONG ENDANG ROHINI

Sementara itu, Raden Basudewa yang sedang dicari-cari saat ini berada di Gunung Suweda, di mana ia telah menikah dengan Endang Rohini, putri Resi Kawita. Kepada istri barunya tersebut ia sudah menjelaskan bahwa dirinya memiliki seorang istri di istana Mandura yang bernama Dewi Maherah, putri Resi Amiraga dari Padepokan Andongcempaka. Namun, sudah sekian lama mereka menikah belum juga dikaruniai anak. Itulah sebabnya mengapa Raden Basudewa pergi berkelana adalah untuk mencari wanita yang bisa melahirkan keturunan untuknya. Hingga akhirnya ia pun bertemu Endang Rohini dan menjadikannya sebagai istri kedua.

Kini sudah tiba saatnya Raden Basudewa meminta izin kepada sang mertua untuk memboyong Endang Rohini pindah ke Kerajaan Mandura. Resi Kawita pun mempersilakan karena putrinya sudah resmi menjadi istri Raden Basudewa. Ia pun menasihati Endang Rohini untuk selalu melayani Raden Basudewa dengan sepenuh hati, serta menganggap Dewi Maherah sebagai saudara yang lebih tua.

Setelah mendapatkan restu dari sang ayah, Raden Basudewa dan Endang Rohini pun berangkat meninggalkan Gunung Suweda, menuju Kerajaan Mandura.

RADEN BASUDEWA MENOLONG BATARA BASUKI

Begitu sampai di kaki Gunung Suweda, Raden Basudewa melihat seekor ular naga berwarna putih tertindih sebongkah batu besar, di mana tampak pula seekor burung garuda siap menerkamnya. Raden Basudewa tidak tega melihatnya dan ia pun maju menyerang burung garuda tersebut yang mengaku bernama Garuda Wilmana. Terjadilah perkelahian di antara mereka yang dimenangkan oleh Raden Basudewa. Garuda Wilmana merasa terdesak dan segera terbang melarikan diri.

Ular naga berwarna putih itu pun berterima kasih atas bantuan Raden Basudewa. Kini ia meminta pertolongan sekali lagi supaya dibebaskan dari himpitan batu. Raden Basudewa bersedia membantu asalkan si naga putih berjanji tidak memangsa dirinya. Naga putih itu menyatakan bersedia, bahkan ia bersumpah selama hidupnya belum pernah memangsa manusia sama sekali.

Raden Basudewa lalu mengerahkan segenap kekuatannya untuk mendorong batu besar yang menghimpit tubuh si naga putih. Perlahan-lahan batu tersebut bergerak. Merasa agak longgar, naga putih itu pun merayap keluar dan berhasil membebaskan diri.

Sungguh ajaib, begitu terbebas dari himpitan batu, ular naga putih itu langsung berubah wujud menjadi seorang dewa, yaitu Batara Basuki.

BATARA BASUKI MEMBERIKAN PETUNJUK KEPADA RADEN BASUDEWA

Raden Basudewa dan Endang Rohini menyembah hormat kepada Batara Basuki. Sebaliknya, Batara Basuki pun berterima kasih atas bantuan putra mahkota Kerajaan Mandura tersebut. Ia bercerita bahwa dirinya kurang berhati-hati saat berkelahi dengan Garuda Wilmana tadi, sehingga tubuhnya tertimpa sebongkah batu besar dan tidak dapat bergerak, juga tidak dapat kembali ke wujud dewa.

Batara Basuki lalu bertanya apakah Raden Basudewa hendak pulang ke Kerajaan Mandura bersama Endang Rohini? Raden Basudewa pun mengiakan. Ia memang berniat memperkenalkan istri barunya tersebut kepada segenap keluarga, dan berharap Endang Rohini kelak dapat mengandung keturunannya. Terus terang Raden Basudewa merasa kecewa karena sudah bertahun-tahun menikah dengan Dewi Maherah tetapi belum juga memiliki anak. Padahal, adiknya yaitu Dewi Kunti sudah melahirkan dua orang putra dari perkawinannya dengan Prabu Pandu di Kerajaan Hastina. Itulah sebabnya, Raden Basudewa pun pergi berkelana dan memilih Endang Rohini dari Gunung Suweda sebagai istri barunya.

Batara Basuki mendengar dengan seksama lalu mengucapkan ramalan bahwa Raden Basudewa kelak memiliki empat orang anak. Anak yang pertama saat ini sudah berada dalam kandungan Ken Yasoda di Desa Widarakandang. Raden Basudewa tertunduk malu karena ternyata Batara Basuki mengetahui bahwa dirinya pernah berselingkuh dengan seorang penyanyi istana Mandura yang bernama Ken Yasoda. Adapun Ken Yasoda ini adalah adik dari punggawa Arya Saragupita.

Dengan perasaan malu Raden Basudewa pun menjelaskan peristiwa tersebut kepada Endang Rohini. Awalnya telah terjadi pertengkaran antara dirinya dengan Dewi Maherah. Raden Basudewa menuduh Dewi Maherah mandul dan tidak dapat memberinya keturunan. Sebaliknya, Dewi Maherah meminta sang suami untuk berani mengakui bahwa dirinya juga mandul dan tidak dapat membuat istri mengandung. Raden Basudewa tersinggung mendengar ucapan istrinya itu dan ia pun pindah ke kamar lain. Untuk menghibur diri, Raden Basudewa memanggil penyanyi istana bernama Ken Yasoda untuk datang ke kamarnya.

Raden Basudewa yang merasa terhibur mendengar suara Ken Yasoda akhirnya lupa diri. Ia pun berzinah dengan penyanyi cantik tersebut. Beberapa waktu kemudian, Ken Yasoda melapor kepada Raden Basudewa bahwa dirinya telah hamil akibat peristiwa tersebut. Raden Basudewa takut peristiwa aib ini bisa mencoreng wibawa Kerajaan Mandura. Ia pun menikahkan Ken Yasoda dengan tukang kuda istana yang bernama Kyai Antyagopa, lalu menyuruh mereka tinggal di Desa Widarakandang. Kyai Antyagopa lalu diangkat sebagai kepala desa tersebut, bergelar Ki Buyut Antyagopa. Raden Basudewa juga mengganti nama Ken Yasoda menjadi Nyai Sagopi.

Raden Basudewa mengakhiri ceritanya dan ia pun bertanya kepada Batara Basuki apakah tiga putranya yang lain akan lahir dari Endang Rohini? Batara Basuki menjelaskan bahwa Endang Rohini hanya akan melahirkan seorang putra saja. Adapun anak-anak yang lain masing-masing akan lahir dari ibu yang berbeda. Yang satu akan lahir dari putri Kerajaan Widarba yang bernama Dewi Dewaki, sedangkan yang satu lagi akan lahir dari penyanyi istana Mandura yang bernama Ken Badra.

Raden Basudewa terkejut mendengarnya. Itu berarti selain Endang Rohini, dirinya harus menikah lagi dengan Dewi Dewaki dan Ken Badra. Jika dengan Dewi Dewaki rasanya masih masuk akal, lalu bagaimana dengan Ken Badra? Apakah menikahi seorang penyanyi istana tidak akan merendahkan wibawa Raden Basudewa? Lalu bagaimana dengan Ken Yasoda yang juga seorang penyanyi dan kini telah mengandung putranya? Bukankah Ken Yasoda dan Ken Badra sama-sama penyanyi istana, mengapa yang satu harus disembunyikan dan yang satu harus dinikahi secara sah?

Batara Basuki pun menjelaskan bahwa Ken Yasoda sebaiknya tetap disembunyikan di Desa Widarakandang dengan nama Nyai Sagopi. Adapun Ken Badra meskipun hanya seorang penyanyi istana, namun ia ditakdirkan kelak akan melahirkan seorang perempuan tercantik di dunia. Bahkan, putri yang cantik tersebut kelak akan menurunkan raja-raja Tanah Jawa pula.

Raden Basudewa menerima penjelasan Batara Basuki dengan seksama. Ia pun meminta izin kepada Endang Rohini untuk menikah lagi dengan Dewi Dewaki dan Ken Badra. Endang Rohini menjawab bahwa sejak awal dirinya sudah menerima takdir, bahwa suaminya memiliki istri lebih dari satu. Lagipula sebelum dirinya, Raden Basudewa juga sudah menikah dengan Dewi Maherah.

Batara Basuki lalu menjelaskan bahwa saat ini Dewi Dewaki sedang dilamar banyak raja dan pangeran. Untuk itulah, kakak Dewi Dewaki yang bernama Raden Candradwipa mengadakan sayembara tanding, yaitu barangsiapa bisa mengalahkan dirinya, maka ia berhak memperistri adiknya tersebut.

Setelah memberikan penjelasan demikian, Batara Basuki pun undur diri kembali ke kahyangan.

RADEN UGRASENA MEWAKILI RADEN BASUDEWA DALAM SAYEMBARA

Setelah mendapatkan petunjuk dewata, Raden Basudewa dan Endang Rohini membelokkan perjalanan yaitu tidak lagi menuju Kerajaan Mandura, melainkan menuju Kerajaan Widarba. Sesampainya di sana, mereka melihat Raden Candradwipa bertarung di atas gelanggang menghadapi para raja dan pangeran yang ingin melamar Dewi Dewaki.

Satu persatu para pelamar tersebut menyerah kalah menghadapi kesaktian Raden Candradwipa. Hingga akhirnya yang tersisa hanya tinggal Raden Ugrasena bersama para panakawan. Raden Basudewa terkejut melihat adik bungsunya ada di bangku penonton dan segera menghampirinya. Raden Ugrasena senang bertemu Raden Basudewa. Ia menjawab bahwa dirinya datang ke Kerajaan Widarba adalah untuk menemukan kakak sulungnya tersebut, sesuai petunjuk dari Bagawan Abyasa.

Raden Basudewa pun menjelaskan kepada Raden Ugrasena bahwa dirinya telah mendapatkan petunjuk dari Batara Basuki bahwa Dewi Dewaki akan menjadi jodohnya. Maka itu, ia pun datang ke Widarba untuk mengikuti sayembara tanding.

Sementara itu, Raden Candradwipa merasa kesal melihat Raden Basudewa dan Raden Ugrasena bukannya naik ke gelanggang tetapi justru mengobrol sendiri. Ia pun menantang kedua pangeran dari Mandura itu untuk maju bersama-sama. Raden Ugrasena tersinggung melihat kesombongan Raden Candradwipa. Ia pun naik ke atas gelanggang untuk menantang pangeran dari Widarba tersebut. Ia berkata bahwa kakak sulungnya tidak perlu repot-repot turun tangan, cukup dirinya saja yang maju menghadapi kesombongan Raden Candradwipa.

Raden Candradwipa pun bertarung melawan Raden Ugrasena. Pertarungan kali ini berlangsung sangat seru. Raden Candradwipa lama-lama merasa kewalahan menghadapi lawannya itu. Akhirnya, ia pun mengaku kalah dan mengumumkan bahwa Raden Ugrasena adalah pemenang sayembara.

RADEN BASUDEWA MEMBOYONG DEWI DEWAKI

Prabu Candrapadma raja Widarba yang sejak tadi menonton sayembara yang digelar putranya, kini naik ke atas gelanggang. Ia mengumumkan bahwa Raden Ugrasena adalah pemenang sayembara yang berhak menjadi suami putrinya, yaitu Dewi Dewaki. Namun, Raden Ugrasena menjelaskan bahwa sejak awal dirinya mengikuti sayembara hanyalah untuk mewakili sang kakak, yaitu Raden Basudewa. Maka, sebaiknya Dewi Dewaki diserahkan kepada Raden Basudewa saja.

Prabu Candrapadma lalu bertanya kepada Raden Candradwipa apakah ia rela jika Raden Basudewa yang memperistri Dewi Dewaki? Raden Candradwipa mempersilakan. Ia berpendapat bahwa Raden Ugrasena yang bungsu saja sudah sedemikian hebat, tentunya Raden Basudewa yang sulung jauh lebih hebat lagi.

Demikianlah, Prabu Candrapadma pun mengumumkan pernikahan antara Raden Basudewa dengan Dewi Dewaki di hadapan para hadirin. Namun demikian, Raden Basudewa mengaku tidak dapat tinggal lama di Widarba karena harus segera pulang ke Mandura. Maka, begitu pesta pernikahan selesai, Raden Basudewa segera meminta izin kepada sang mertua dan kakak ipar untuk memboyong istri barunya tersebut.

PRABU PANDU MEMUKUL MUNDUR PRABU GORAWANGSA

Sementara itu, Prabu Gorawangsa sangat marah saat menerima laporan kekalahan Patih Suratimantra. Ia pun berangkat memimpin langsung serangan terhadap Kerajaan Mandura, demi untuk merebut Dewi Maherah. Prabu Pandu yang telah bersiaga segera menghadang serangan tersebut. Maka, terjadilah pertempuran di antara kedua pihak yang berlangsung sengit.

Prabu Gorawangsa akhirnya terdesak menghadapi kesaktian Prabu Pandu. Ia pun memerintahkan pasukannya untuk mundur. Namun demikian, ia merasa belum puas jika belum bisa mewujudkan cita-citanya. Ia pun bersumpah kelak akan datang lagi ke Kerajaan Mandura untuk merebut Dewi Maherah, meskipun dengan cara yang paling licik.

DEWI MAHERAH BERNIAT BUNUH DIRI

Setelah keadaan tenang kembali, Raden Basudewa dan kedua istri barunya datang bersama Raden Ugrasena dan para panakawan. Prabu Kuntiboja beserta segenap keluarga menyambut kepulangan sang putra mahkota yang sudah tiga bulan menghilang tersebut. Raden Basudewa pun memperkenalkan Endang Rohini dan Dewi Dewaki kepada segenap keluarga. Tidak hanya itu, Raden Basudewa juga meminta izin kepada sang ayah untuk bisa menikahi penyanyi istana yang bernama Ken Badra. Itu semua ia lakukan demi untuk memenuhi petunjuk dewata.

Dewi Maherah terkejut mengetahui sang suami telah menikah lagi, bahkan berniat menggenapi jumlah istri menjadi empat. Ia pun berkata lebih baik dirinya diambil Prabu Gorawangsa daripada dimadu tiga sekaligus. Raden Basudewa tersinggung dan mempersilakan Dewi Maherah pergi ke Guagra jika ingin menjadi istri raja raksasa tersebut.

Dewi Maherah merasa ucapannya salah. Karena malu, ia pun mengambil keris dan berniat bunuh diri. Endang Rohini dan Dewi Dewaki segera memeluk lutut Dewi Maherah dan memohon kepadanya agar menghentikan niat tersebut. Mereka mengaku tidak punya niat untuk merebut Raden Basudewa. Bagaimanapun juga mereka berjanji akan tetap menganggap Dewi Maherah sebagai kakak tertua. Mendengar itu, Dewi Maherah akhirnya luluh. Ia pun meminta maaf kepada sang suami telah berbicara kurang pantas. Ia merasa dirinya memang tidak dapat memberikan keturunan, sehingga pantas apabila Raden Basudewa menikah lagi dengan wanita lain.

RADEN BASUDEWA MENJADI RAJA MANDURA

Demikianlah, beberapa hari kemudian Prabu Kuntiboja mengumumkan pengunduran dirinya sebagai raja Mandura dan sejak saat itu ia pun hidup sebagai petapa di Gunung Gandamadana bersama Dewi Bandondari. Ia berpesan kepada putra-putranya, kelak jika dirinya meninggal agar dimakamkan di gunung tersebut.

Bersamaan dengan itu, Raden Basudewa sang putra mahkota pun diangkat sebagai raja Mandura yang baru, bergelar Prabu Basudewa. Prabu Pandu dan Dewi Kunti dari Kerajaan Hastina ikut hadir untuk menyaksikan pelantikan sang kakak.

Prabu Basudewa kemudian memberikan jabatan penting kepada kedua adiknya. Raden Rukma diangkat sebagai wakil raja yang berkedudukan di Kumbina, bergelar Aryaprabu Rukma. Sementara itu, Raden Ugrasena si bungsu diangkat sebagai senapati tertinggi yang berkedudukan di Lesanpura, bergelar Arya Ugrasena. Adapun jabatan menteri utama diisi oleh Arya Saragupita untuk menggantikan Patih Yudawangsa yang telah gugur dalam pertempuran.

Beberapa hari kemudian, Prabu Basudewa pun menikahi Ken Badra sebagai istri keempat. Sejak hari itu, Ken Badra diganti namanya menjadi Dewi Badraini.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya










Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Kurawa Lahir

 No comments   



Kisah ini menceritakan Dewi Gendari melahirkan segumpal daging yang kemudian pecah menjadi seratus potong dan diruwat oleh Bagawan Abyasa menjadi seratus Kurawa. Juga diceritakan lahirnya Raden Bima, putra kedua Parabu Pandu yang terbungkus dan diletakkan di Hutan Mandalasana. Kisah ditutup dengan awal persahabatan antara Prabu Pandu dengan Prabu Tremboko, serta lahirnya Raden Arimba dan Dewi Arimbi. Kelak Dewi Arimbi akan menjadi jodoh Raden Bima.

Kisah ini saya olah dengan sumber utama dari kitab Mahabharata karya Resi Wyasa, dengan memasukkan unsur-unsur cerita pedalangan Jawa, serta beberapa dari Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita.

Kediri, 21 Mei 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Adipati Dretarastra

DEWI GENDARI MELAHIRKAN GUMPALAN DAGING

Dewi Gendari, istri Adipati Dretarastra di Gajahoya sudah dua tahun mengandung tapi belum juga melahirkan. Ia sudah meminta sarana kepada Bagawan Abyasa, namun mertuanya itu hanya memberi nasihat supaya bersabar. Bagawan Abyasa meramalkan bahwa yang dikandung Dewi Gendari adalah seratus orang anak, maka kehamilannya pun memakan waktu lebih lama daripada kehamilan wanita lain pada umumnya yang hanya sembilan bulan.

Namun, Adipati Dretarastra sebagai suami sudah hilang kesabarannya dan bertanya itu yang dikandung Dewi Gendari apa benar bayi ataukah penyakit? Dewi Gendari sangat tersinggung. Ia pun masuk ke dalam kamar dan memukuli perutnya sendiri sekeras-kerasnya. Karena terus-menerus dipukuli, janin dalam rahim Dewi Gendari akhirnya keluar. Namun anehnya, janin tersebut tidak berwujud bayi, melainkan berwujud segumpal daging berwarna merah yang bisa mengembang dan mengempis seperti sedang bernapas.

Dewi Gendari heran bercampur ngeri. Ia pun mengangkat gumpalan daging itu dan membantingnya ke lantai dengan perasaan sangat kecewa. Daging itu pun hancur berantakan menjadi potongan-potongan kecil. Dewi Gendari kemudian jatuh terduduk dan menjerit keras.

Adipati Dretarastra dan Arya Suman segera masuk ke dalam kamar karena mendengar suara jeritan. Mereka melihat Dewi Gendari menangis sedih dan bercerita bahwa dirinya baru saja melahirkan segumpal daging yang kemudian dibantingnya dan kini hancur berantakan. Arya Suman melihat banyak potongan daging berserakan di lantai yang semuanya mengembang dan mengempis seperti bernapas. Ia segera mengumpulkan semua daging-daging kecil tersebut dan setelah dihitung ternyata berjumlah seratus potong.

Adipati Dretarastra meminta maaf telah menyinggung perasaan istrinya dan ia pun segera memanggil tabib untuk merawat Dewi Gendari, serta memerintahkan Arya Suman untuk melaporkan peristiwa ini kepada Prabu Pandu di istana Hastina. Arya Suman pun mohon pamit berangkat melaksanakan perintah.

KERAJAAN HASTINA DISERANG PASUKAN RAKSASA PRINGGADANI

Prabu Pandu di Kerajaan Hastina sedang memimpin pertemuan yang dihadiri Resiwara Bisma, Raden Yamawidura, Patih Gandamana, Resi Krepa, dan Arya Banduwangka. Mereka sedang membahas tentang Dewi Gendari yang sudah dua tahun mengandung tetapi belum juga melahirkan. Prabu Pandu mendapatkan firasat buruk dan ia berniat mengajak Resiwara Bisma dan Raden Yamawidura pergi ke Kadipaten Gajahoya untuk menjenguk Dewi Gendari.

Namun, belum sempat mereka berangkat, tiba-tiba datang seorang raksasa yang mengaku bernama Raden Baka, adik Prabu Tremboko dari Kerajaan Pringgadani. Kedatangan Raden Baka adalah untuk menantang Prabu Pandu demi membalaskan kekalahan leluhurnya, yaitu Prabu Kuramba dan Prabu Rambana di tangan Resi Manumanasa.

Prabu Kuramba adalah raja pertama Pringgadani yang pernah mengacau Kahyangan Suralaya karena ingin memperistri bidadari. Ia akhirnya tewas di tangan Resi Manumanasa yang saat itu masih bernama Raden Kaniyasa selaku jago para dewa. Sepeninggal Prabu Kuramba, Kerajaan Pringgadani dipimpin putranya yang bernama Prabu Rambana. Ia datang menyerang Kerajaan Wirata untuk membalas kematian ayahnya. Namun, Prabu Rambana ini akhirnya menyerah kalah kepada Raden Kaniyasa dan menjadi sekutu Prabu Basupati, raja Wirata saat itu. Kerajaan Wirata dan Pringgadani pun menjadi sahabat turun-temurun, hingga akhirnya kini dipimpin oleh Prabu Tremboko.

Namun demikian, Raden Baka masih menyimpan dendam atas kekalahan leluhurnya di tangan Raden Kaniyasa alias Resi Manumanasa, yang tidak lain adalah leluhur Prabu Pandu Dewanata. Itulah sebabnya ia pun membawa pasukan Pringgadani untuk menyerang Kerajaan Hastina, demi membalaskan kekalahan para leluhurnya tersebut.

Patih Gandamana maju menjawab tantangan Raden Baka. Ia siap mewakili Prabu Pandu untuk menjadi lawan Raden Baka. Nanti, jika dirinya tewas, barulah Raden Baka bisa menghadapi Prabu Pandu secara langsung. Raden Baka pun setuju dan segera keluar istana untuk mempersiapkan pasukan.

PATIH GANDAMANA MEMUKUL MUNDUR PASUKAN PRINGGADANI

Raden Baka telah kembali ke induk pasukannya dan bersiap-siaga menghadapi pihak Hastina. Tidak lama kemudian datanglah Patih Gandamana beserta Arya Banduwangka, Arya Bargawa, dan Arya Bilawa dengan membawa pasukan Hastina. Begitu kedua pihak bertemu, meletuslah pertempuran sengit di antara mereka.

Lewat tengah hari, para raksasa Pringgadani mulai terdesak dan banyak yang tewas. Raden Baka sendiri kewalahan menghadapi kesaktian Patih Gandamana. Akhirnya, ia pun memerintahkan sisa-sisa pasukannya mundur meninggalkan Kerajaan Hastina dan mengancam kelak akan datang lagi untuk membalas kekalahan.

Setelah keadaan kembali tenang, Arya Suman datang dan segera melapor kepada Prabu Pandu bahwa kakaknya, yaitu Dewi Gendari telah melahirkan segumpal daging yang bisa bernapas. Prabu Pandu sangat terkejut mendengarnya. Ia pun mengajak Resiwara Bisma dan Raden Yamawidura berangkat menjenguk ke Gajahoya sebagaimana telah direncanakan tadi. Adapun Patih Gandamana diperintahkan untuk tetap siaga dan waspada menjaga keamanan Kerajaan Hastina.

RADEN YAMAWIDURA MENJEMPUT BAGAWAN ABYASA

Prabu Pandu, Resiwara Bisma, Raden Yamawidura, serta Arya Suman telah sampai di Kadipaten Gajahoya. Adipati Dretarastra yang sedang menunggu di samping tempat tidur Dewi Gendari, menyambut mereka dan menceritakan apa yang telah terjadi, bahwa sang istri telah melahirkan segumpal daging yang kini pecah menjadi seratus potong.

Resiwara Bisma, Prabu Pandu, dan Raden Yamawidura heran melihat seratus potongan daging tersebut tampak mengembang dan mengempis seperti sedang bernapas. Resiwara Bisma menyarankan agar Adipati Dretarastra meminta bantuan sang ayah untuk meruwat daging-daging kecil tersebut. Mendengar itu, Prabu Pandu segera memerintahkan Raden Yamawidura untuk pergi ke Gunung Saptaarga, menjemput Bagawan Abyasa.

Raden Yamawidura mematuhi dan segera berangkat bersama para panakawan, yaitu Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong.

BAGAWAN ABYASA BERANGKAT KE KADIPATEN GAJAHOYA

Sesampainya di Gunung Saptaarga, Raden Yamawidura dan para panakawan segera menghadap Bagawan Abyasa. Kepada sang ayah, Raden Yamawidura menceritakan tentang kakak iparnya, yaitu Dewi Gendari yang telah melahirkan segumpal daging yang bisa bernapas. Daging itu kini pecah menjadi seratus potongan kecil yang masing-masing tetap mengembang dan mengempis.

Raden Yamawidura menyampaikan tujuan kedatangannya adalah diutus Prabu Pandu untuk meminta kesediaan Bagawan Abyasa meruwat keseratus potongan daging tersebut. Bagawan Abyasa menyatakan bersedia, meskipun dalam hati mendapat firasat bahwa seratus potong daging tersebut akan berubah menjadi manusia normal, namun selalu bermusuhan dengan anak-anak Prabu Pandu. Meskipun demikian, Bagawan Abyasa sebagai orang tua tidak boleh pilih kasih dan harus tetap bersikap adil terhadap semua keturunannya.

Raden Yamawidura, Bagawan Abyasa, dan para panakawan lalu berangkat menuju Kadipaten Gajahoya. Di tengah jalan mereka dihadang para raksasa sisa-sisa pengikut Raden Baka. Terjadilah pertarungan di mana Raden Yamawidura berhasil menumpas habis semua penghadang tersebut.

BAGAWAN ABYASA MERUWAT SERATUS POTONG DAGING

Sesampainya di Kadipaten Gajahoya, Bagawan Abyasa segera bekerja memasukkan seratus potongan daging yang dilahirkan Dewi Gendari itu masing-masing ke dalam sebuah periuk. Dengan demikian terdapat seratus periuk yang masing-masing ditutup dengan selembar daun talas. Bagawan Abyasa lalu mengadakan upacara sesaji dan membaca mantra di hadapan seratus periuk tersebut.

Setelah upacara sesaji selesai, Bagawan Abyasa berpesan kepada Adipati Dretarastra agar menunggui seratus periuk itu selama tiga puluh lima hari. Jika Tuhan Yang Mahakuasa mengizinkan, maka keseratus potongan daging dalam periuk akan berubah menjadi bayi normal. Arya Suman menawarkan dirinya saja yang menunggui periuk-periuk itu, sedangkan Adipati Dretarastra sebaiknya mendampingi Dewi Gendari yang masih terguncang karena peristiwa ini.

Bagawan Abyasa mempersilakan Arya Suman jika ingin menunggui seratus periuk tersebut. Ia lalu berpesan agar kelak anak-anak Adipati Dretarastra yang berjumlah seratus hendaknya disebut para Kurawa, yang bermakna “anak-anak Kuru”, yaitu nama Adipati Dretarastra saat masih muda. Sementara itu, Prabu Pandu yang telah diramalkan mendiang Resi Druwasa akan memiliki lima orang anak, hendaknya kelima putranya itu disebut para Pandawa, yang bermakna “anak-anak Pandu”.

Adipati Dretarastra dan Prabu Pandu berterima kasih atas segala bantuan sang ayah. Bagawan Abyasa lalu undur diri kembali ke Gunung Saptaarga dengan ditemani Raden Yamawidura dan para panakawan.

LAHIRNYA RADEN BIMA PUTRA KEDUA PRABU PANDU

Tiga puluh empat hari setelah peristiwa itu, Prabu Pandu berunding dengan kedua istrinya, yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madrim di istana Hastina. Hari itu Raden Puntadewa (putra pertama Prabu Pandu) telah berusia dua tahun, maka sudah saatnya ia memiliki seorang adik. Prabu Pandu pun meminta Dewi Kunti untuk mematangkan benih yang dulu telah ditanam di dalam rahimnya agar menjadi seorang bayi.

Sekitar tiga tahun yang lalu telah terjadi peristiwa, yaitu Prabu Pandu memanah sepasang kijang yang sedang kawin di Hutan Pramuwana. Ternyata kedua kijang itu adalah penjelmaan Resi Kindama dan Rara Dremi. Sebelum tewas, Resi Kindama sempat mengutuk Prabu Pandu akan bernasib celaka apabila bersetubuh dengan wanita.

Kutukan tersebut membuat Prabu Pandu sangat gelisah. Bukan kematian yang membuatnya takut, tetapi rasa khawatir jangan-jangan selama hidup tidak memiliki keturunan. Untungnya, pada suatu hari Resi Druwasa datang membawa sarana berupa buah Mangga Pertanggajiwa. Daging buah mangga dari kahyangan tersebut digunakan untuk menyerap saripati benih dari dalam tubuh Prabu Pandu. Dewi Kunti dan Dewi Madrim lalu menelan potongan daging mangga itu agar tertanam di dalam perut mereka. Dewi Kunti menelan tiga potong, sedangkan Dewi Madrim menelan dua potong. Sungguh ajaib, potongan-potongan mangga itu tidak ikut keluar bersama kotoran tetapi mampu menempel di dalam perut mereka berdua. Dengan cara demikian, Prabu Pandu dapat memiliki keturunan tanpa harus menyentuh kedua istrinya tersebut.

Prabu Pandu kemudian meminta Dewi Kunti mengundang dewa kebijaksanaan agar membantu mematangkan benih di dalam rahimnya. Maka, Dewi Kunti pun mengundang Batara Darma menggunakan Aji Kunta Wekasing Rasa Cipta Tunggal Tanpa Lawan. Batara Darma pun hadir dan mematangkan benih Prabu Pandu di dalam rahim Dewi Kunti. Hanya dalam sehari saja, Dewi Kunti melahirkan bayi tampan yang diberi nama Raden Puntadewa.

Kini, Raden Puntadewa telah berusia dua tahun dan Prabu Pandu pun meminta Dewi Kunti untuk mematangkan benih yang kedua. Ia ingin memiliki putra kedua yang gagah perkasa agar bisa melindungi kakaknya yang bijaksana dan menjaga keamanan negara. Maka, Dewi Kunti pun membaca mantra sambil membayangkan sosok Batara Bayu. Sekejap kemudian datanglah Batara Bayu, seorang dewa yang bertubuh gagah dan tinggi besar, turun dari kahyangan menemui mereka.

Prabu Pandu pun memohon kepada Batara Bayu agar mematangkan benihnya yang sudah lama ditanam dalam rahim Dewi Kunti. Batara Bayu bersedia dan segera mengerahkan kesaktiannya. Benih Prabu Pandu tersebut disatukannya dengan benih Dewi Kunti. Seketika Dewi Kunti pun mengandung. Sama seperti yang sebelumnya, Dewi Kunti hanya mengandung selama satu hari saja dan langsung membesar, siap untuk dilahirkan.

Demikianlah, Dewi Kunti pun melahirkan seorang bayi pada hari itu juga tanpa kesakitan. Namun anehnya, bayi itu lahir dalam keadaan terbungkus semacam selaput keras. Prabu Pandu berusaha merobek bungkus tersebut namun tidak berhasil. Batara Bayu menjelaskan bahwa Pandawa yang nomor dua ini memang ditakdirkan harus menjalani tapa brata sejak bayi di dalam bungkusnya. Kelak jika waktunya sudah tiba, akan ada makhluk yang dikirim dewata untuk membuka bungkus tersebut. Prabu Pandu dan Dewi Kunti diminta untuk bersabar menunggu meski harus bertahun-tahun lamanya, karena kelak putra mereka itu akan keluar dari dalam bungkus dalam keadaan sakti mandraguna dan memiliki keperkasaan di atas rata-rata manusia. Prabu Pandu pun diminta untuk meletakkan bayi berbungkus tersebut di tengah Hutan Mandalasana. Setelah berpesan demikian, Batara Bayu lalu terbang kembali ke kahyangan.

Prabu Pandu dan Dewi Kunti merasa tidak tega meletakkan putra kedua mereka itu di tengah hutan, namun mau tidak mau perintah dewa harus dilaksanakan. Prabu Pandu pun memberi nama putra keduanya itu, Raden Bima, yang bermakna “dahsyat mengerikan”. Ia lalu menggendong bayi berbungkus itu dan membawanya pergi menuju Hutan Mandalasana.

LAHIRNYA RADEN SUYUDANA PUTRA SULUNG ADIPATI DRETARASTRA

Esok harinya, tepat tiga puluh lima hari sejak Bagawan Abyasa meruwat seratus potongan daging yang dilahirkan Dewi Gendari. Hari itu tiba-tiba langit di Kerajaan Hastina gelap gulita karena tertutup mendung tebal dengan disertai petir yang menyambar-nyambar. Suasana semakin mencekam karena terdengar pula suara lolongan anjing hutan yang bersahut-sahutan.

Prabu Pandu, Resiwara Bisma, dan Raden Yamawidura datang mengunjungi Adipati Dretarastra di Kadipaten Gajahoya. Hari itu satu periuk telah pecah dan dari dalamnya keluar seorang bayi laki-laki. Arya Suman segera menggendong bayi tersebut dan menyerahkannya kepada Dewi Gendari.

Raden Yamawidura melihat pertanda buruk berupa langit gelap dengan disertai suara petir bersahutan dan lolongan anjing hutan yang mengiringi lahirnya bayi ini. Ia yakin kelak si bayi akan menjadi sumber malapetaka dunia. Untuk itu, Raden Yamawidura menyarankan agar bayi ini segera dibunuh sebelum terlambat.

Arya Suman menyebut usulan Raden Yamawidura sangat tidak masuk akal. Jika benar suara petir dan lolongan anjing hutan itu adalah pertanda buruk, belum tentu semuanya berhubungan dengan lahirnya bayi ini. Dalam satu hari entah ada berapa bayi yang lahir di Kerajaan Hastina, bisa jadi suara-suara itu berhubungan dengan salah satu dari mereka. Arya Suman bertanya apakah Raden Yamawidura akan membunuh semua bayi yang lahir di hari ini demi mencegah peristiwa buruk yang belum tentu terjadi di masa depan dan mungkin hanya sebatas ramalan saja.

Prabu Pandu merasa ucapan Arya Suman benar, namun Raden Yamawidura juga tidak salah. Maka, ia pun menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Adipati Dretarastra selaku ayah si bayi. Adipati Dretarsatra merasa bimbang. Ia menggendong putra sulungnya itu dan hendak mencekiknya. Tiba-tiba bayi itu menangis karena melihat tangan ayahnya bergerak. Adipati Dretarastra sangat gembira ketika menyadari ternyata anaknya itu tidak buta seperti dirinya. Ia pun menyatakan tidak akan membunuh bayi tersebut. Bahkan, ia bersumpah akan membunuh siapa saja yang berani menyakiti putranya.

Karena Adipati Dretarastra sudah memutuskan demikian, Raden Yamawidura tidak berani mendesak lagi. Adipati Dretarastra lalu memberi nama putra sulungnya itu, Raden Suyudana, yang bermakna “unggul dalam perang”. Ini sebagai sindiran bahwa si anak telah menang atas Raden Yamawidura yang berniat membunuhnya.

LAHIRNYA SEMBILAN PULUH SEMBILAN KURAWA

Demikianlah, setelah Raden Bima lahir pada hari pertama dan Raden Suyudana lahir pada hari kedua, Kerajaan Hastina kembali berbahagia atas lahirnya bayi laki-laki pada hari ketiga yang tercipta dari potongan daging dalam periuk. Bayi laki-laki itu selalu tertawa-tawa sejak dikeluarkan dari dalam periuk. Adipati Dretarastra pun memberi nama putra keduanya itu, Raden Dursasana.

Pada hari berikutnya, kembali lahir seorang bayi laki-laki dalam periuk, yang diberi nama Raden Surtayu. Kemudian pada esok harinya, lahir lagi bayi laki-laki yang diberi nama Raden Durmagati.

Demikianlah, setiap hari lahir bayi laki-laki putra Adipati Dretarastra dan Dewi Gendari yang tercipta dari potongan daging dalam periuk. Ada yang dalam sehari lahir satu bayi, ada pula yang langsung lahir dua bayi sekaligus, dan semuanya berkelamin laki-laki. Hingga pada akhirnya, lahirlah seorang bayi perempuan sebagai penutup. Adipati Dretarastra memberi nama anak bungsunya itu, Dewi Dursilawati.

Kini, anak-anak Adipati Dretarastra telah genap berjumlah seratus bayi yang semuanya tercipta dari seratus potongan daging dalam periuk. Keseratus bayi tersebut disebut dengan istilah Sata Kurawa, atau Kurawa Seratus.

PRABU TREMBOKO MENYERAH KEPADA PRABU PANDU

Prabu Pandu ikut berbahagia atas kelahiran para keponakannya. Ia pun mengadakan pesta syukuran di alun alun Kerajaan Hastina, sehingga seluruh rakyat dapat ikut bersuka ria atas kelahiran para Kurawa tersebut. Hanya Raden Yamawidura saja, satu-satunya orang yang tidak ikut menghadiri pesta syukuran itu. Ia lebih suka berkemah di Hutan Mandalasana untuk menunggui Raden Bima, yaitu bayi berbungkus yang dilahirkan Dewi Kunti beberapa waktu lalu.

Pada hari ketujuh pesta syukuran di Kerajaan Hastina tiba-tiba keadaan berubah menjadi kacau karena datangnya serangan pasukan raksasa dari Kerajaan Pringgadani yang dipimpin langsung oleh Prabu Tremboko. Kedatangan Prabu Tremboko adalah untuk membalaskan kekalahan adiknya, yaitu Raden Baka di tangan Patih Gandamana.

Prabu Pandu segera terjun ke medan pertempuran demi melindungi rakyatnya. Terjadilah pertarungan antara dirinya melawan raja raksasa Pringgadani tersebut. Dalam pertarungan itu Prabu Pandu mengerahkan Aji Pangrupak Jagad, di mana ia berhasil menancapkan tubuh Prabu Tremboko di dalam tanah hingga sebatas dada.

Prabu Tremboko mengaku kalah dan memohon ampun atas kelancangannya menyerang Kerajaan Hastina. Ia mengaku ini semua karena hasutan Raden Baka yang ingin membalaskan kekalahan leluhur Kerajaan Pringgadani. Prabu Pandu melihat sorot mata Prabu Tremboko memancarkan rasa penyesalan. Ia pun terkesan dan segera membebaskan raja raksasa bertubuh tinggi besar tersebut.

Tidak lama kemudian muncul seorang emban raksasa yang datang dari Pringgadani. Emban raksasa itu mengabarkan bahwa hari ini permaisuri Prabu Tremboko, yaitu Dewi Hadimba telah melahirkan dua bayi sekaligus, yang satu laki-laki, dan yang satunya perempuan. Prabu Tremboko sangat bahagia mendengarnya. Ia menyesal telah menuruti hasutan Raden Baka sehingga berangkat menyerang Kerajaan Hastina dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua.

Prabu Pandu ikut berbahagia atas kelahiran putra dan putri Prabu Tremboko. Ia pun mengajak Prabu Tremboko mengubah permusuhan menjadi persahabatan. Prabu Tremboko sangat terharu melihat kebaikan hati Prabu Pandu. Ia pun memohon agar diterima sebagai murid raja Hastina tersebut. Prabu Pandu mengabulkan permintaan Prabu Tremboko. Namun demikian, ia menyuruh Prabu Tremboko memanggil “kakang” saja, dan tidak perlu memanggil “guru” kepadanya.

Prabu Tremboko sangat berterima kasih. Sebagai bukti ketulusannya, ia meminta agar Prabu Pandu memberikan nama untuk kedua anaknya yang baru lahir. Prabu Pandu pun memberikan nama yang mirip dengan leluhur Kerajaan Pringgadani, yaitu Prabu Kuramba. Anak laki-laki Prabu Tremboko hendaknya diberi nama Raden Arimba, sedangkan yang perempuan hendaknya diberi nama Dewi Arimbi. Prabu Pandu juga memberikan restu semoga mereka berdua kelak menjadi pribadi-pribadi yang berbudi luhur, meskipun berwujud raksasa dan raksasi.

Prabu Tremboko lagi-lagi berterima kasih kepada Prabu Pandu. Ia lalu mohon pamit kembali ke Kerajaan Pringgadani dan mengundang Prabu Pandu untuk berkunjung ke sana. Prabu Pandu berjanji kelak pasti akan mengunjungi sahabat barunya tersebut.

Sementara itu, Raden Baka yang melihat dari jauh merasa kecewa karena kakaknya kini bersahabat dengan musuh. Ia pun bertekad tidak mau pulang ke Pringgadani dan ingin pindah ke negeri lain untuk membangun kekuatan di sana.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya













Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ▼  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ▼  May (5)
      • Basudewa Krama
      • Kurawa Lahir
      • Drupada Kawisuda
      • Puntadewa Lahir
      • Pandu Grogol
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja