Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Danghyang Kumbayana

 No comments   


Kisah ini menceritakan perjalanan Bambang Kumbayana ke Tanah Jawa, kelahiran Bambang Aswatama, dan bagaimana wujud Bambang Kumbayana berubah menjadi buruk rupa dan berganti nama menjadi Danghyang Druna. Kisah diakhiri dengan pengangkatan Danghyang Druna menjadi guru ilmu perang bagi para Pandawa dan Kurawa, setelah menengahi mereka saat berebut Lenga Tala.

Kisah ini saya olah dari sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang dipadukan dengan kitab Mahabharata karya Resi Wyasa, serta rekaman pentas Ki Nartosabdo, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 30 Juli 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


RESI BARADWAJA MENGUSIR BAMBANG KUMBAYANA DARI PADEPOKAN

Tersebutlah seorang pendeta di negeri Atasangin, bernama Resi Baradwaja, pemimpin Padepokan Girijembangan. Dahulu kala, Resi Baradwaja ini mengabdi pada kakak sepupunya yang bernama Prabu Drupara di Kerajaan Duhyapura. Pada suatu hari Kerajaan Duhyapura hancur diserang Prabu Bahlika raja Sewandapura (kakak kandung Prabu Santanu raja Hastina). Prabu Drupara gugur dalam pertempuran itu, namun putranya yang masih bayi bernama Raden Sucitra berhasil diselamatkan oleh Resi Baradwaja.

Resi Baradwaja menggendong bayi Raden Sucitra sambil menuntun istrinya yang sedang mengandung, bernama Dewi Padmayoni untuk mengungsi ke negeri Atasangin. Dalam perjalanan itu Dewi Padmayoni jatuh sakit dan melahirkan janin yang belum sempurna. Setelah melahirkan, ia pun meninggal dunia.

Setelah menguburkan istrinya, Resi Baradwaja memasukkan janin tadi ke dalam periuk lalu melanjutkan perjalanan sambil membaca mantra. Dengan demikian, bayi Raden Sucitra digendong di tangan kanan, sedangkan periuk berisi janin putranya digendong di tangan kiri. Sungguh ajaib, begitu sampai di negeri Atasangin, janin dalam periuk tersebut telah berubah menjadi bayi sempurna. Resi Baradwaja sangat senang dan memberi nama putranya itu, Bambang Kumbayana. Kumba artinya “periuk”, dan Ayana artinya “perjalanan”. Raden Sucitra dan Bambang Kumbayana pun ia besarkan bersama-sama di Padepokan Girijembangan.

Kini Bambang Kumbayana telah berusia empat puluh tahun namun belum juga menikah. Ia lebih suka bersenang-senang, menggoda gadis desa, dan juga merampok rombongan para pedagang. Berita ini terdengar oleh Resi Baradwaja. Ia pun memarahi Bambang Kumbayana dan memerintahkannya untuk segera menikah dan berumah tangga secara baik-baik. Namun, Bambang Kumbayana menolak. Ia hanya mau menikah dengan bidadari atau putri raja, bukan dengan anak pendeta seperti keinginan sang ayah.

Resi Baradwaja semakin marah dan mengusir putranya itu. Bambang Kumbayana pun pergi seketika meninggalkan Padepokan Girijembangan.

PUTUT JAYAMARUTA MENGEJAR BAMBANG KUMBAYANA

Setelah Bambang Kumbayana pergi, kemarahan Resi Baradwaja mulai reda. Ia pun memanggil pimpinan para cantrik, bernama Putut Jayamaruta untuk menghadap. Resi Baradwaja memerintahkan Putut Jayamaruta untuk mengejar Bambang Kumbayana dan memberikan ujian kepadanya. Apabila Bambang Kumbayana berhasil lolos dari kejaran Putut Jayamaruta dan kawan-kawan, maka Resi Baradwaja merestui putranya itu untuk hidup mandiri meraih cita-citanya.

Putut Jayamaruta dan para cantrik lainnya segera berangkat melaksanakan perintah. Mereka mengejar Bambang Kumbayana dan berhasil menghadangnya. Putut Jayamaruta mengajak Bambang Kumbayana pulang dan mengabarkan bahwa sang ayah telah menyesal dan reda kemarahannya. Namun, Bambang Kumbayana paham kalau dirinya sedang diuji. Ia pun menolak dan memilih melanjutkan perjalanan. Sesuai perintah, Putut Jayamaruta dan yang lain segera menyerang Bambang Kumbayana. Terpaksa Bambang Kumbayana pun bertarung menghadapi murid-murid ayahnya itu.

Bagaimanapun juga ilmu kesaktian Bambang Kumbayana masih berada di atas Putut Jayamaruta dan kawan-kawan. Dalam pertempuran itu ia berhasil meloloskan diri dan menghilang masuk hutan. Putut Jayamaruta dan yang lain tidak bisa menemukannya dan akhirnya kembali ke padepokan untuk melapor kepada Resi Baradwaja.

BAMBANG KUMBAYANA MENUNGGANG KUDA SEMBRANI

Setelah lolos dari kejaran murid-murid ayahnya, Bambang Kumbayana pun melanjutkan perjalanan. Ia bertekad ingin menyusul saudara angkatnya, yaitu Raden Sucitra yang beberapa tahun lalu pergi ke Tanah Jawa. Namun sayangnya, begitu sampai di tepi pantai, Bambang Kumbayana tidak tahu bagaimana caranya agar bisa menyeberangi lautan.

Bambang Kumbayana yang sudah sangat rindu kepada Raden Sucitra pun bersumpah, barangsiapa bisa menyeberangkan dirinya ke Tanah Jawa, maka apabila laki-laki akan dijadikan sebagai saudara dan apabila perempuan akan dijadikan sebagai istri. Setelah bersumpah demikian, tiba-tiba di hadapannya muncul seekor kuda sembrani bersayap putih bersih yang mengangguk-angguk seolah siap membantu dirinya menyeberang.

Bambang Kumbayana sangat kagum karena seumur hidup baru kali ini melihat ada seekor kuda yang memiliki sayap. Ia pun segera naik ke punggung kuda tersebut dan memerintahkannya untuk terbang menyeberangi lautan menuju ke Tanah Jawa.

Perjalanan menyeberangi lautan itu memakan waktu berhari-hari. Bambang Kumbayana merasa letih dan tertidur di atas punggung kuda sembrani tersebut. Dalam tidurnya ia mimpi bertemu seorang wanita yang mengaku bernama Dewi Krepi. Bambang Kumbayana jatuh cinta kepadanya dan bersetubuh dengan wanita itu. Karena persetubuhan ini terjadi di alam mimpi, maka air mani Bambang Kumbayana pun jatuh tercebur ke dalam laut.

Si kuda sembrani menyadari bahwa Bambang Kumbayana telah mengalami mimpi basah. Ia pun turun ke laut untuk berenang mengejar air mani tersebut yang telah bercampur ombak. Setelah air mani itu masuk ke dalam alat kelaminnya, si kuda sembrani lalu terbang kembali ke angkasa melanjutkan perjalanan.

KUDA SEMBRANI KEMBALI KE WUJUD BIDADARI

Sesampainya di Tanah Jawa, Bambang Kumbayana terbangun dari tidur. Ia mendarat dan berterima kasih atas bantuan si kuda sembrani. Namun, kuda sembrani itu tidak mau pergi dan menunjukkan perutnya yang telah membesar. Bambang Kumbayana terkejut dan menyadari kalau kuda tersebut telah mengandung anaknya akibat mimpi basah di atas lautan. Ia menyesal karena terlanjur bersumpah barangsiapa bisa menyeberangkan dirinya akan dijadikan sebagai saudara apabila laki-laki, dan dijadikan istri apabila perempuan. Setelah bersumpah demikian, tiba-tiba muncul seekor kuda sembrani di hadapannya. Tanpa pikir panjang ia langsung menaiki punggung kuda tersebut yang ternyata berkelamin betina.

Bambang Kumbayana membayangkan Raden Sucitra pasti akan mengejek dirinya apabila menikahi seekor kuda betina. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun menikam perut si kuda sembrani menggunakan keris. Tujuannya adalah untuk membunuh si kuda sekaligus janin yang dikandung dalam perutnya. Sungguh ajaib, dari dalam perut si kuda sembrani yang robek itu keluar janin manusia, bukan janin kuda.

Si kuda sembrani pun tewas dan bangkainya musnah menjadi asap. Tiba-tiba asap tersebut berubah menjadi wanita cantik jelita yang mengaku seorang bidadari bernama Batari Wilotama.

LAHIRNYA BAMBANG ASWATAMA

Batari Wilotama segera memungut janin yang tadi keluar dari dalam perutnya. Janin itu dipeluk dan lambat laun berubah menjadi bayi sempurna berkat kekuasaannya. Bambang Kumbayana sangat kagum melihat pemandangan itu dan bertanya tentang asal-usul Batari Wilotama mengapa berubah menjadi seekor kuda sembrani.

Batari Wilotama pun bercerita bahwa ia memiliki sahabat di kahyangan bernama Batari Janapadi. Dahulu kala Batari Janapadi pernah berubah menjadi kuda sembrani gara-gara menelan permata Mustika Aswandari. Batari Wilotama tertarik mendengar cerita itu dan membayangkan betapa nikmat jika terbang ke sana kemari dalam wujud kuda, yang tentu berbeda rasanya dibanding terbang dalam wujud bidadari.

Batari Wilotama diam-diam mencuri Mustika Aswandari. Tiba-tiba Batara Janapada (ayah Batari Janapadi) memergokinya. Batari Wilotama langsung menelan permata itu dan seketika wujudnya pun berubah menjadi seekor kuda betina yang memiliki sayap. Batari Wilotama memohon ampun atas kelancangannya dan ingin dikembalikan menjadi bidadari. Namun, Batara Janapada tidak mampu menolongnya. Karena Batari Wilotama telah menelan Mustika Aswandari tanpa izin, maka ia akan berwujud kuda sembrani selamanya, kecuali jika dirinya bisa melahirkan seorang anak manusia.

Demikianlah, Batari Wilotama pun menjalani kutukan sebagai kuda sembrani selama bertahun-tahun, hingga akhirnya ia bertemu Bambang Kumbayana. Maka, ketika Bambang Kumbayana mimpi basah dan air maninya tumpah ke laut, Batari Wilotama nekat mengejarnya supaya ia bisa hamil dan melahirkan anak manusia. Kini, putra Bambang Kumbayana tersebut telah lahir. Batari Wilotama pun berpesan bahwa bayi laki-laki ini memiliki pertumbuhan yang cepat seperti anak kuda. Oleh sebab itu, hendaknya ia diberi nama Bambang Aswatama. Aswa artinya “kuda”, sedangkan Tama adalah singkatan dari nama “Wilotama”.

Setelah berpesan demikian, Batari Wilotama lalu terbang ke kahyangan untuk mengembalikan Mustika Aswandari kepada Batara Janapada. Bambang Kumbayana memandangnya dengan penuh penyesalan, karena jika tadi dibicarakan baik-baik tentu dirinya dapat memperistri seorang bidadari.

Demikianlah, apa yang diucapkan Batari Wilotama sebelum berpisah menjadi kenyataan. Pertumbuhan Bambang Aswatama sungguh cepat seperti anak kuda. Dalam waktu singkat bayi itu sudah bisa berjalan dan berlari-lari, membuat Bambang Kumbayana merasa terhibur karena memiliki teman dalam perjalanan. Ia sama sekali tidak menyesal memiliki anak tanpa istri, bahkan perasaannya kepada Bambang Aswatama kini sangat sayang luar biasa.

BAMBANG KUMBAYANA BERTEMU DEWI KREPI DAN RESI KREPA

Perjalanan Bambang Kumbayana telah sampai di sebuah tempat yang dipenuhi bunga angsoka liar berwarna lima macam. Ia merasa nyaman dan memutuskan untuk beristirahat di tempat itu. Bambang Aswatama sendiri tampak kehausan, karena sejak dilahirkan belum sempat minum susu sama sekali.

Tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang berteriak meminta tolong. Bambang Kumbayana segera mendatangi arah suara. Ternayata ada seorang pendeta yang seumuran dirinya sedang bergulat dengan seekor ular besar. Bambang Kumbayana pun melepaskan panah membantu si pendeta yang tepat mengenai kepala ular tersebut. Sungguh ajaib, ular besar itu musnah dan berubah menjadi seorang wanita. Yang lebih mengejutkan lagi, si pendeta laki-laki memanggil wanita itu dengan sebutan kakak dan mereka pun saling berpelukan.

Pendeta laki-laki itu berterima kasih kepada Bambang Kumbayana. Ia mengaku bernama Resi Krepa yang bekerja sebagai kepala brahmana di Kerajaan Hastina. Adapun kakaknya bernama Dewi Krepi dari Kerajaan Timpurusa. Resi Krepa sendiri baru tahu kalau ular besar yang telah menyerangnya tadi ternyata penjelmaan sang kakak. Di sisi lain, Bambang Kumbayana sangat terkejut karena Dewi Krepi inilah yang bersetubuh dengannya di alam mimpi sehingga menyebabkan dirinya mimpi basah.

BAMBANG KUMBAYANA MENIKAH DENGAN DEWI KREPI

Tidak lama kemudian datang pula Prabu Purunggaji raja Timpurusa bersama keponakannya, yaitu Raden Carya. Prabu Purunggaji ini adalah ayah kandung Dewi Krepi dan Resi Krepa. Ia pun berterima kasih kepada Bambang Kumbayana yang telah menemukan putrinya yang lama hilang.

Prabu Purunggaji bercerita bahwa Dewi Krepi hendak dijodohkan dengan Raden Carya. Adapun Raden Carya adalah putra Prabu Paruwa raja Malawa, yaitu kakak kandung Prabu Purunggaji yang sudah lama meninggal. Akan tetapi, Dewi Krepi menolak karena ia hanya mencintai Bambang Kumbayana yang pernah ditemuinya di alam mimpi. Prabu Purunggaji marah dan memaksa Dewi Krepi untuk melupakan Bambang Kumbayana dan memilih Raden Carya saja. Akan tetapi, Dewi Krepi memilih kabur meninggalkan istana Timpurusa. Prabu Purunggaji sangat prihatin akan nasib putrinya itu. Ia pun mengirim surat kepada Resi Krepa di Kerajaan Hastina agar membantu mencari keberadaan Dewi Krepi.

Dewi Krepi ganti menceritakan pengalamannya. Setelah melarikan diri dari istana, ia bertemu dengan ibu kandungnya di tengah jalan, yaitu Batari Janapadi (sahabat Batari Wilotama yang juga pernah menjadi kuda sembrani). Dahulu kala Batari Janapadi meninggalkan Dewi Krepi dan Resi Krepa setelah mereka lahir untuk kembali ke kahyangan. Dewi Krepi dan Resi Krepa semasa bayi diasuh oleh Ken Yoni di tengah hutan. Setelah Ken Yoni meninggal, kedua bayi tersebut ditemukan dan dirawat oleh Bagawan Santanu dan Resi Bisma di Kerajaan Hastina. Belasan tahun kemudian, Dewi Krepi dan Resi Krepa bertemu dengan ayah kandungnya, yaitu Prabu Purunggaji. Dewi Krepi lalu ikut ayahnya tinggal di Kerajaan Timpurusa, sedangkan Resi Krepa tetap tinggal di Kerajaan Hastina untuk bekerja sebagai kepala brahmana.

Dewi Krepi selalu menolak untuk dinikahkan sehingga ia menjadi perawan tua. Itu karena hatinya sudah terlanjur jatuh cinta kepada Bambang Kumbayana yang ditemuinya berkali-kali di alam mimpi. Hingga pada akhirnya, Dewi Krepi memilih kabur dari istana karena terus-menerus dipaksa oleh Prabu Purunggaji untuk menikah dengan Raden Carya. Dalam perjalanannya itu, ia pun bertemu sang ibu, yaitu Batari Janapadi.

Batari Janapadi sangat prihatin melihat nasib putrinya. Ia pun membantu Dewi Krepi apabila ingin bertemu Bambang Kumbayana. Syaratnya, Dewi Krepi harus bersedia diubah wujudnya menjadi ular besar dan harus mau menyerang adiknya sendiri, yaitu Resi Krepa. Dewi Krepi menurut. Maka, Batari Janapadi pun mengubah wujud putrinya itu menjadi ular besar. Ular tersebut merayap ke sana kemari hingga akhirnya bertemu dengan Resi Krepa. Ia pun menyerang sang adik, hingga akhirnya diruwat oleh Bambang Kumbayana menjadi manusia seperti sediakala.

Prabu Purunggaji terharu mendengar perjuangan putrinya. Karena Dewi Krepi telah berhasil menemukan Bambang Kumbayana, maka ia tidak akan memaksa lagi. Ia pun merestui apabila Dewi Krepi menjadi istri Bambang Kumbayana. Sebaliknya, Bambang Kumbayana pun bersedia menikahi Dewi Krepi karena ia juga membutuhkan ibu untuk anaknya yang bernama Bambang Aswatama. Dewi Krepi yang melihat si kecil Bambang Aswatama langsung tumbuh sifat keibuannya. Ia pun menggendong anak laki-laki tersebut dan menyusuinya. Sungguh ajaib, air susu Dewi Krepi langsung keluar meskipun dirinya tidak ikut melahirkan.

Raden Carya yang gagal menikah dengan Dewi Krepi justru merasa senang. Ia pun berterus terang kepada Prabu Purunggaji bahwa dirinya diam-diam telah menjalin hubungan dengan Dewi Paruti, putri Resi Luda, yaitu kepala brahmana Kerajaan Timpurusa. Prabu Purunggaji merasa bersalah telah memaksa Raden Carya dan Dewi Krepi menikah, karena ternyata masing-masing telah mencintai orang lain. Maka, Prabu Purunggaji pun berjanji apabila nanti kembali ke Timpurusa akan segera menikahkan Raden Carya dengan Dewi Paruti.

Prabu Purunggaji lalu bertanya apakah Resi Krepa tidak ingin menikah juga. Resi Krepa menjawab bahwa ia pernah bersumpah untuk mengikuti jalan hidup Resiwara Bisma yang telah membimbingnya sejak kecil. Oleh sebab itu, ia pun bertekad untuk hidup wahdat, yaitu tidak menikah seumur hidup, sama seperti yang dilakukan oleh Resiwara Bisma. Ia juga menegaskan bahwa dirinya akan tetap mengabdi di Kerajaan Hastina, dan mempersilakan Raden Carya saja yang diangkat sebagai ahli waris Kerajaan Timpurusa.

Prabu Purunggaji bangga terhadap niat baik Resi Krepa. Ia lalu mengajak Bambang Kumbayana untuk tinggal di istana Timpurusa. Namun, Bambang Kumbayana menolak karena dirinya sudah merasa nyaman dan ingin membangun rumah di taman bunga angsoka lima warna ini. Dewi Krepi juga memilih untuk menemani sang suami dan menolak ikut pulang ke istana. Prabu Purunggaji memaklumi. Ia pun memerintahkan para prajurit untuk membangun padepokan sebagai tempat tinggal Bambang Kumbayana dan Dewi Krepi di tempat itu.

Demikianlah, padepokan dekat taman bunga angsoka lima warna telah berdiri, sebagai tempat tinggal Bambang Kumbayana dan Dewi Krepi. Bambang Kumbayana lalu mengganti gelarnya menjadi Danghyang Kumbayana, dan memberi nama padepokannya itu dengan sebutan Padepokan Sokalima.

DANGHYANG KUMBAYANA MENDENGAR BERITA TENTANG RADEN SUCITRA

Padepokan Sokalima terletak di perbatasan Kerajaan Hastina dan Pancala. Resi Krepa bercerita bahwa Kerajaan Hastina dipimpin Prabu Pandu yang baru saja meninggal, sedangkan Kerajaan Pancala dipimpin Prabu Drupada. Dahulu kala Prabu Drupada juga pernah mengabdi kepada Prabu Pandu, dan nama aslinya adalah Raden Sucitra dari negeri Atasangin.

Danghyang Kumbayana sangat terkejut mendengar cerita adik iparnya itu. Ia pun teringat bahwa tujuannya pergi ke Tanah Jawa adalah untuk mencari Raden Sucitra, sahabatnya sejak kecil. Mereka dulu sama-sama berlajar kepada Resi Baradwaja, tidur bersama dalam satu tikar, makan bersama dalam satu piring. Jika Raden Sucitra mendapatkan sesuatu pasti dibagi dua dengan Bambang Kumbayana. Sebaliknya, jika Bambang Kumbayana mendapatkan sesuatu, pasti dibagi dua pula dengan Raden Sucitra.

Mendegar Raden Sucitra telah menjadi raja Pancala, Danghyang Kumbayana merasa tertarik untuk mengunjunginya. Lagipula Bambang Aswatama sudah semakin besar dan air susu Dewi Krepi juga sudah tidak keluar lagi. Maka itu, Danghyang Kumbayana pun berniat pergi ke istana Pancala untuk meminta seekor sapi perah kepada Prabu Drupada.

DANGHYANG KUMBAYANA DIHAJAR ARYA GANDAMANA

Danghyang Kumbayana pergi ke istana Pancala seorang diri, meninggalkan Dewi Krepi dan Bambang Aswatama di Padepokan Sokalima. Saat itu Prabu Drupada sedang memimpin pertemuan yang dihadiri para menteri dan punggawa, antara lain Arya Gandamana dan Patih Drestaketu. Tiba-tiba saja Danghyang Kumbayana menyelonong masuk dan tertawa gembira melihat sahabatnya duduk di atas takhta.

Danghyang Kumbayana pun memanggil Prabu Drupada dengan sebutan “Kakang Sucitra”, dan langsung meminta seekor sapi perah untuk anaknya yang masih kecil. Ia bersenda gurau seolah-olah masih berada di negeri Atasangin, tanpa peduli kepada para menteri dan punggawa yang hadir di situ. Prabu Drupada merasa malu dan ia pun menjawab akan memberikan seratus sapi sebagai sedekah dan mempersilakan Danghyang Kumbayana untuk segera pulang. Danghyang Kumbayana merasa sangat terhina melihat sikap sahabatnya itu. Ia pun memaki-maki Prabu Drupada telah mengkhianati persahabatan di masa lampau.

Arya Gandamana marah mendengar ada orang berani memaki-maki kakak iparnya. Ia pun menyambar tubuh Danghyang Kumbayana dan menyeretnya keluar istana. Arya Gandamana lalu menghajar Danghyang Kumbayana tanpa memberikan kesempatan untuk membalas. Prabu Drupada keluar istana melerai mereka, namun sudah terlambat. Wujud Danghyang Kumbayana kini telah berubah menjadi buruk rupa. Matanya berubah sipit dan sulit dibuka lebar, serta hidungnya menjadi bengkok seperti paruh burung. Lengannya yang sebelah pun dibuat bengkok pula.

Apa yang pernah dilakukan Arya Gandamana terhadap Patih Sangkuni, kini dilakukannya kepada Danghyang Kumbayana. Arya Gandamana masih menyimpan dendam karena diusir dari Kerajaan Hastina akibat fitnah Patih Sangkuni. Ketika Perang Pamuksa meletus, ia hanya bisa berdoa dari jauh tanpa bisa membantu Prabu Pandu menghadapi Prabu Tremboko. Kematian Prabu Pandu membuat Arya Gandamana semakin kesal terhadap Patih Sangkuni. Maka, begitu Danghyang Kumbayana datang ke istana Pancala dan berbuat kurang ajar, Arya Gandamana pun sekilas teringat Patih Sangkuni dan langsung melampiaskan kemarahan kepadanya.

Prabu Drupada meminta maaf kepada Danghyang Kumbayana atas perbuatan Arya Gandamana yang melampaui batas. Danghyang Kumbayana menolak permintaan maaf tersebut. Ia kesal mengapa Prabu Drupada tidak melerai dari awal sehingga wujudnya tidak sampai rusak seperti ini. Ia berkata bahwa dirinya bisa saja membalas perbuatan Arya Gandamana saat ini juga. Namun, ia bersumpah bahwa kelak murid-muridnya yang akan datang untuk membalas Arya Gandamana sekaligus Prabu Drupada. Hal ini tentu akan lebih memalukan daripada ia sendiri yang membalas.

Arya Gandamana kembali marah dan hendak membunuh Danghyang Kumbayana. Namun, Prabu Drupada buru-buru mencegahnya dan mengatakan ucapan Danghyang Kumbayana jangan diambil hati. Sementara itu, Danghyang Kumbayana telah bangkit dan berjalan tertatih-tatih pulang ke Padepokan Sokalima, dengan menyimpan dendam kesumat di dalam hati.

DANGHYANG KUMBAYANA MENJADI MURID BATARA RAMAPARASU

Dewi Krepi menyambut kedatangan sang suami dengan perasaan duka mendalam. Namun, Danghyang Kumbayana tidak mau masuk ke dalam padepokan, tetapi memilih duduk bertapa di bawah pohon. Siang malam ia bertapa tanpa makan dan minum, hingga akhirnya datang seorang dewa bertubuh tinggi besar membangunkannya. Dewa tersebut adalah Batara Ramaparasu.

Danghyang Kumbayana bangun dan menyembah hormat kepadanya. Batara Ramaparasu menyampaikan pesan dari Batara Guru, bahwa tapa brata Danghyang Kumbayana telah diterima. Mulai saat ini Danghyang Kumbayana diganti nama menjadi Danghyang Druna, dan ia mendapat tugas dari dewa untuk mendidik para Pandawa dan Kurawa di Kerajaan Hastina. Tugas dari dewata ini merupakan ujian bagi Danghyang Druna. Apabila ia berhasil, maka namanya akan dipuji sepanjang masa. Sebaliknya jika ia gagal, maka namanya akan dicela sepanjang sejarah.

Danghyang Druna sangat berterima kasih atas kemurahan dewata pada dirinya. Maka, sejak hari itu ia pun berguru kepada Batara Ramaparasu. Pada dasarnya Danghyang Druna sudah mempelajari banyak ilmu dari sang ayah, yaitu Resi Baradwaja. Maka, kedatangan Batara Ramaparasu hanya sekadar untuk menyempurnakan ilmunya saja.

Setelah tiga bulan lamanya, Batara Ramaparasu menyatakan Danghyang Druna lulus dan ia pun pamit kembali ke kahyangan.

ADIPATI DRETARASTRA MEMBUANG PARA PANDAWA

Sementara itu, Kerajaan Hastina sedang dilanda wabah penyakit. Adipati Dretarastra selaku raja wakil sudah mengusahakan banyak hal untuk mengatasinya namun wabah tidak juga mereda. Raden Yamawidura mengatakan bahwa wabah ini terjadi karena sikap Adipati Dretarastra yang menghukum buang para Pandawa dan Dewi Kunti demi membela para Kurawa. Namun, Adipati Dretarastra tidak percaya dan merasa perbuatannya membuang para Pandawa sudah adil.

Tiba-tiba datanglah Bagawan Abyasa dari Padepokan Saptaarga menemui Adipati Dretarastra. Ia telah mendengar kabar tentang wabah penyakit yang melanda Kerajaan Hastina sekaligus ingin bertanya mengapa para Pandawa dan Dewi Kunti sampai dibuang dari istana setelah Prabu Pandu meninggal.

Adipati Dretarastra pun bercerita bahwa Raden Bratasena telah berkelahi dengan para Kurawa. Patih Sangkuni buru-buru menyela ikut bicara. Ia menceritakan kepada Bagawan Abyasa bahwa hari itu Raden Dursasana dan adik-adiknya sedang memanen buah mangga di kebun istana. Raden Bratasena tiba-tiba datang ingin meminta bagian. Raden Dursasana memintanya bersabar sampai para Kurawa selesai memanen. Karena Raden Bratasena memiliki tubuh yang tinggi besar, Raden Dursasana melarangnya ikut memanjat pohon. Namun, Raden Bratasena tidak sabar dan menggoyang semua pohon. Akibatnya, para Kurawa yang sedang memetik mangga di atas ikut berjatuhan ke tanah.

Raden Suyudana datang dan menasihati Raden Bratasena bahwa perbuatannya sangat keterlaluan. Raden Bratasena tidak terima dan menyerang Raden Suyudana, sehingga terjadilah perkelahian di antara mereka. Raden Suyudana selaku saudara yang silsilahnya lebih tua akhirnya mengalah. Namun, Raden Bratasena tidak tahu diri dan menghajar Raden Suyudana hingga babak belur. Inilah yang membuat Adipati Dretarastra menjatuhkan hukuman terhadap Raden Bratasena. Sebenarnya, Adipati Dretarastra tidak bermaksud membuang Raden Bratasena, tetapi hanya memintanya untuk merenung di Hutan Pramuwana. Akan tetapi, Dewi Kunti dan para Pandawa lainnya ikut pergi menemani Raden Bratasena, sehingga seolah-olah tersiar kabar burung bahwa Adipati Dretarastra membuang mereka dari istana.

Raden Yamawidura membantah bahwa cerita Patih Sangkuni sama sekali tidak benar. Awal mulanya ialah Raden Dursasana dan adik-adiknya asyik memakan buah mangga di atas pohon. Raden Bratasena datang dan meminta diberi secukupnya. Raden Dursasana mengatakan bahwa Raden Bratasena tidak perlu memanjat karena para Kurawa akan melemparkan bagian untuknya. Raden Bratasena cukup mengambil apa saja yang jatuh dari pohon. Ternyata Raden Dursasana dan adik-adiknya melemparkan biji dan kulit mangga kepada Raden Bratasena, bukan buah yang utuh.

Sebenarnya Raden Bratasena masih bersabar. Namun, Raden Dursasana memintanya agar mengemis. Para Kurawa juga mengungkit soal almarhum Prabu Pandu pernah tinggal di hutan, pasti mengetahui bagaimana caranya mengemis. Penghinaan ini membuat Raden Bratasena marah dan menggoyang semua pohon sehingga para Kurawa pun berjatuhan. Ia berkata bahwa dirinya hanya mengambil apa yang jatuh dari pohon, dan ternyata yang jatuh adalah para Kurawa. Maka, ia pun menyambar para sepupunya itu dan memukuli mereka semua. Raden Suyudana datang membela adik-adiknya. Dalam perkelahian itu, Raden Suyudana sama sekali tidak mengalah sebagaimana cerita Patih Sangkuni tadi. Justru Raden Suyudana berkelahi dengan senjata, sedangkan Raden Bratasena menghadapinya dengan tangan kosong.

Bagawan Abyasa menampung cerita Patih Sangkuni dan Raden Yamawidura. Ia lalu berkata kepada Adipati Dretarastra agar berbuat adil. Bagaimanapun juga Prabu Pandu telah menitipkan istri dan anak-anaknya untuk dirawat Adipati Dretarastra. Apabila terjadi pertengkaran antara para Pandawa dan Kurawa, janganlah Adipati Dretarastra berat sebelah, tetapi harus mendengarkan penjelasan dari kedua pihak. Mengenai wabah penyakit yang melanda Kerajaan Hastina, Bagawan Abyasa telah mendapatkan petunjuk dari dewa bahwa ini adalah teguran untuk Adipati Dretarastra agar bersikap lebih adil dan bijaksana dalam memutuskan perkara.

Adipati Dretarastra menyesali perbuatannya. Ia pun mengutus Raden Yamawidura agar pergi ke Hutan Pramuwana untuk menjemput pulang Dewi Kunti dan para Pandawa. Raden Yamawidura segera berangkat menjalankan perintah.

Bagawan Abyasa senang melihatnya. Ia lalu berkata bahwa sebelum meninggal, Prabu Pandu sempat menitipkan beberapa pusaka kepadanya untuk disimpan di Gunung Saptaarga. Pusaka-pusaka yang berwujud senjata sebaiknya diserahkan nanti saja apabila para Pandawa sudah menamatkan pelajaran ilmu perang. Adapun pusaka yang berwujud minyak ajaib Lenga Tala, hendaknya diserahkan saat ini juga.

Bagawan Abyasa menjelaskan khasiat Lenga Tala apabila dioleskan ke sekujur tubuh akan membuat si pemakai menjadi manusia berkulit kebal seumur hidupnya. Setelah berkata demikian, ia lalu menyerahkan cupu berisi Lenga Tala kepada Adipati Dretarastra, kemudian pulang ke Gunung Saptaarga.

PATIH SANGKUNI MENGHASUT PARA KURAWA UNTUK MEREBUT LENGA TALA

Para Pandawa dan Dewi Kunti telah dijemput Raden Yamawidura kembali ke istana. Adipati Dretarastra meminta maaf kepada mereka dan memberikan tempat tinggal berupa bangunan indah di dekat Taman Kadilengleng. Berangsur-angsur wabah penyakit yang melanda Kerajaan Hastina pun reda. Para penduduk yang jatuh sakit mulai sehat kembali.

Patih Sangkuni memberi tahu para Kurawa bahwa Adipati Dretarastra hendak memberikan Lenga Tala kepada para Pandawa. Hal ini sangat berbahaya karena akan membuat anak-anak Prabu Pandu itu menjadi manusia kebal tidak mempan senjata. Oleh sebab itu, para Kurawa harus bisa menggagalkannya dan merebut Lenga Tala agar jangan sampai jatuh ke tangan para Pandawa.

Mendengar itu, Raden Suyudana, Raden Dursasana, Raden Surtayu, Raden Kartawarma, dan para Kurawa lainnya segera menghadap sang ayah. Hanya Raden Durmagati yang tidak mau ikut karena bagaimanapun juga Lenga Tala adalah warisan Prabu Pandu untuk para Pandawa. Menurutnya, para Kurawa sama sekali tidak berhak ikut campur ingin memilikinya.

PATIH SANGKUNI MENUMPAHKAN LENGA TALA

Adipati Dretarastra telah memanggil para Pandawa untuk acara serah-terima Lenga Tala. Tiba-tiba Raden Suyudana dan adik-adiknya datang mencegah. Mereka meminta Lenga Tala harus dibagi rata, karena khasiat minyak tersebut dapat membuat si pemakai menjadi manusia kebal tak mempan senjata. Bagaimanapun juga para pangeran di Kerajaan Hastina tidak hanya Pandawa Lima saja. Apabila Kerajaan Hastina berperang melawan negara lain, bisa-bisa hanya para Pandawa yang hidup, sedangkan para Kurawa tewas terkena senjata.

Adipati Dretarastra agak bimbang mendengar penuturan putra sulungnya yang dirasa masuk akal. Sementara itu, Raden Puntadewa menangis setelah mendengar tentang khasiat Lenga Tala. Andai saja ayahnya dulu menggunakan Lenga Tala, tentu ia tidak akan terluka oleh senjata Prabu Tremboko. Karena Prabu Pandu semasa hidupnya tidak pernah menggunakan Lenga Tala, maka Raden Puntadewa juga tidak mau menggunakan minyak tersebut. Terserah jika para Kurawa ingin memilikinya.

Raden Bratasena tidak setuju pada kakak sulungnya. Bagaimanapun juga Lenga Tala adalah anugerah dewa yang didapat Prabu Pandu setelah menumpas Prabu Nagapaya, maka hanya para Pandawa yang berhak mewarisinya. Soal nanti dipakai atau tidak, itu urusan para Pandawa. Raden Suyudana tidak setuju, karena itu berarti menyia-nyiakan anugerah kahyangan, yang sama saja seperti menghina para dewa.

Adipati Dretarastra melerai pertengkaran Raden Bratasena dan Raden Suyudana. Ia pun memutuskan untuk membuang jauh-jauh cupu berisi Lenga Tala. Terserah nanti siapa yang menemukan itulah yang berhak memilikinya. Mungkin ini adalah keputusan yang paling adil. Usai berkata demikian, ia lalu memerintahkan para Pandawa dan Kurawa agar keluar istana dan bersiap-siap mengejar ke mana cupu Lenga Tala melayang.

Setelah para Pandawa dan Kuwara pergi, Adipati Dretarastra bersiap-siap melemparkan cupu berisi Lenga Tala tersebut. Tiba-tiba Patih Sangkuni datang dan menabraknya. Cupu tersebut jatuh dan isinya tergenang di lantai. Patih Sangkuni meminta maaf lalu menyerahkan cupu sekaligus tutupnya kepada Adipati Dretarastra.

Adipati Dretarastra mengetahui maksud perbuatan Patih Sangkuni. Ia pun berkata agar Patih Sangkuni membagi Lenga Tala yang tumpah itu dengan para Kurawa. Setelah berpesan demikian, ia lalu melemparkan cupu kosong tersebut sekuat tenaga. Pada dasarnya Adipati Dretarastra seorang sakti berkekuatan perkasa meskipun menderita tunanetra. Cupu tersebut pun terlempar sangat jauh hingga keluar istana, entah di mana jatuhnya nanti.

Setelah Adipati Dretarastra pergi, Patih Sangkuni mengkhianati amanah darinya. Ia lalu bertelanjang bulat dan bergulung-gulung di lantai, sehingga Lenga Tala pun meresap ke sekujur kulitnya, kecuali bagian mulut dan dubur. Setelah Lenga Tala habis tak bersisa, Patih Sangkuni kembali berpakaian. Ia merasa puas karena mulai saat ini dirinya menjadi manusia kebal tidak mempan senjata. Namun, kesaktian ini akan disembunyikannya, kecuali jika nanti benar-benar dibutuhkan.

DANGHYANG DRUNA MEMAMERKAN KESAKTIANNYA DI HADAPAN PARA PANGERAN

Cupu yang dilemparkan Adipati Dretarastra tadi telah melayang di udara meninggalkan istana. Para Kurawa berlarian mengejarnya, begitu pula dengan Raden Bratasena dan Raden Permadi. Sementara itu, Raden Puntadewa berjalan paling belakang sambil menggandeng Raden Nakula dan Raden Sadewa.

Raden Suyudana memerintahkan adik-adiknya untuk menghadang para Pandawa. Para Kurawa mematuhi. Mereka pun mengeroyok Raden Bratasena dan Raden Permadi agar Lenga Tala jatuh ke tangan Raden Suyudana saja. Maka, terjadilah perkelahian di antara mereka. Namun sayangnya, cupu tersebut ternyata jatuh tercebur ke dalam sebuah sumur kering di luar istana.

Para Pandawa dan Kurawa menghentikan perkelahian dan beramai-ramai mendatangi sumur tersebut. Mereka berebut ingin turun ke bawah untuk mengambil cupu, tetapi tiba-tiba muncul Danghyang Druna mencegah mereka.

Tanpa banyak bicara, Danghyang Druna lalu melemparkan beberapa batang ilalang satu persatu ke dasar sumur. Sungguh ajaib, ilalang yang pertama langsung menancap pada cupu, sedangkan ujung ilalang yang kedua menancap pada pangkal ilalang pertama, lalu ujung ilalang yang ketiga menancap pada pangkal ilalang yang kedua, demikian seterusnya hingga membentuk seutas tali panjang.

Danghyang Druna lalu menarik rangkaian ilalang tersebut ke atas, sehingga cupu pun berhasil diambil. Namun, alangkah terkejutnya mereka semua karena cupu tersebut telah kosong melompong. Para pangeran itu mengira Lenga Tala pasti tercecer di jalan dan mereka pun berniat mencarinya. Hanya Raden Permadi seorang yang terkagum-kagum melihat kesaktian Danghyang Druna. Ia pun berlutut menyembah dan meminta agar diterima sebagai murid. Melihat sikap Raden Permadi, para Pandawa yang lainnya serta para Kurawa ikut berlutut menyembah pula. Mereka merasa lebih baik menjadi murid Danghyang Druna yang sakti daripada ribut mencari Lenga Tala yang mungkin saja sudah hilang meresap ke dalam tanah.

ADIPATI DRETARASTRA MENERIMA DANGHYANG DRUNA BEKERJA

Adipati Dretarastra telah mendapat laporan bahwa ada seorang pendeta buruk rupa tetapi sangat sakti yang mampu menarik cupu dari dasar sumur hanya menggunakan rangkaian ilalang. Ia pun bergegas menemui pendeta itu dengan diantarkan oleh Raden Sanjaya (putra Raden Yamawidura).

Danghyang Druna pun memperkenalkan dirinya kepada Adipati Dretarastra, bahwa ia adalah kakak ipar Resi Krepa, kepala brahmana Kerajaan Hastina. Ia mengaku mendapat cerita dari Resi Krepa bahwa Kerajaan Hastina sedang membutuhkan pengajar ilmu perang untuk para Pandawa dan Kurawa. Untuk itulah ia datang ke istana demi memenuhi kebutuhan tersebut.

Raden Permadi memohon kepada Adipati Dretarastra agar menerima Danghyang Druna bekerja di Kerajaan Hastina. Raden Suyudana tidak mau kalah. Ia juga memohon agar sang ayah menerima pendeta tersebut bekerja. Adipati Dretarastra setuju. Ia pun menerima Danghyang Druna sebagai guru ilmu perang bagi para Pandawa dan Kurawa.

Danghyang Druna berterima kasih kepada Adipati Dretarastra. Dalam hati ia merasa gembira, karena para Pandawa dan Kurawa akan menjadi sarana baginya untuk membalas dendam kepada Prabu Drupada dan Arya Gandamana.

Danghyang Kumbayana menjadi Danghyang Druna

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Kisah Bambang Kumbayana meninggalkan ayahnya, kelahiran putranya, serta perkawinannya dengan Dewi Krepi dalam Serat Pustakaraja Purwa versi Raden Ngabehi Ranggawarsita diberi angka tahun Suryasengkala 683 yang ditandai dengan sengkalan “Gunaning brahmana angraras kamuksan”, atau tahun Candrasengkala 704 yang ditandai dengan sengkalan “Yoga musna kaswareng wiyat”.

Sedangkan kisah Arya Gandamana menghajar Danghyang Kumbayana, hingga pertemuan Danghyang Druna dengan para Pandawa dan Kurawa terjadi pada tahun Suryasengkala 690 yang ditandai dengan sengkalan “Tanpa gatra retuning barakan” atau tahun Candrasengkala 711 yang ditandai dengan sengkalan “Rupa janma kaswareng wiyat”.












Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Pandu Banjut

 No comments   


Kisah ini menceritakan kematian Prabu Pandu, di mana ia menepati janjinya untuk masuk ke dalam Kawah Candradimuka. Dewi Madrim yang telah melahirkan Raden Nakula dan Raden Sadewa juga ikut bunuh diri menemani sang suami.

Kisah ini saya olah dari sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang saya padukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra, serta rekaman pentas Ki Manteb Soedharsono, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 23 Juli 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Prabu Pandu Dewanata

PRABU PANDU MERASA SAKITNYA BERTAMBAH PARAH

Prabu Pandu Dewanata di Kerajaan Hastina sakit parah setelah bertempur melawan Prabu Tremboko dalam Perang Pamuksa. Dalam perang itu, Prabu Tremboko roboh tertusuk Keris Pulanggeni milik Prabu Pandu. Ketika Prabu Pandu merasa dirinya sudah menang, tiba-tiba pahanya ditusuk Prabu Tremboko menggunakan Keris Kalanadah. Setelah itu, Prabu Tremboko pun meninggal dengan jasad musnah, sedangkan Prabu Pandu terluka parah dan jatuh sakit.

Sudah dua bulan lamanya Prabu Pandu menderita sakit sekujur badan. Sudah sedemikian banyak para tabib, dukun, resi, pendeta yang diundang untuk mengobati lukanya tetapi sama sekali tidak membawa hasil. Bahkan, Prabu Pandu merasa sakitnya bertambah parah dan mungkin dalam beberapa hari lagi dirinya akan meninggal dunia.

Prabu Pandu pun teringat kutukan Resi Kindama belasan tahun yang lalu. Saat itu Resi Kindama dan Rara Dremi bermesraan dalam wujud sepasang kijang di Hutan Pramuwana. Kebetulan Prabu Pandu dan kedua istrinya sedang berburu. Atas permintaan Dewi Madrim, Prabu Pandu pun memanah kedua kijang tersebut. Akibatnya, Resi Kindama dan Rara Dremi pun tewas. Sebelum meninggal, Resi Kindama sempat mengutuk sang raja Hastina kelak akan mendapat celaka apabila bersetubuh dengan istrinya.

Kutukan tersebut membuat Prabu Pandu khawatir dirinya tidak bisa memiliki keturunan. Untungnya, Resi Druwasa muncul membawa sarana sehingga Prabu Pandu dapat menanam benihnya dalam rahim Dewi Kunti dan Dewi Madrim tanpa harus bersentuhan. Atas berkat para dewa, yaitu Batara Darma, Batara Bayu, dan Batara Indra, ketiga benih dalam rahim Dewi Kunti dapat lahir ke dunia dan kini mereka semua telah tumbuh remaja, yaitu Raden Puntadewa, Raden Bratasena, dan Raden Permadi. Adapun benih dalam rahim Dewi Madrim saat ini telah berkembang menjadi janin kembar, berkat bantuan Batara Aswan dan Batara Aswin.

Setelah berhasil menahan nafsu birahi selama belasan tahun, akhirnya Prabu Pandu tergoda juga melihat paras cantik Dewi Madrim saat mereka bertamasya mengendarai Lembu Andini. Prabu Pandu pun bermesraan dengan istrinya yang sedang hamil itu di sebuah taman bunga di kaki gunung. Akibatnya, kutukan Resi Kindama menjadi kenyataan. Prabu Pandu mendapat celaka saat bertarung melawan Prabu Tremboko yang terhitung masih muridnya sendiri.

Teringat pada kutukan itu, Prabu Pandu merasa sia-sia atas semua pengobatan pada dirinya saat ini. Ia pun mengumpulkan segenap anggota keluarga, yaitu Resiwara Bisma dari Talkanda, Adipati Dretarastra dan Dewi Gandari dari Gajahoya, Raden Yamawidura dari Pagombakan, Patih Sangkuni dari Plasajenar, serta Resi Krepa dari Timpurusa. Tidak ketinggalan Dewi Kunti, Dewi Madrim, Raden Puntadewa, Raden Bratasena, dan Raden Permadi juga hadir. Dalam pertemuan yang diadakan di kamar tidur itu, Prabu Pandu menyampaikan bahwa ajalnya sudah dekat. Ia ingin mengembalikan mandat sebagai raja Hastina kepada Resiwara Bisma.

Resiwara Bisma terharu mendengar penuturan sang keponakan. Jika memang Prabu Pandu sudah tidak sanggup lagi menjadi raja, maka Resiwara Bisma akan menyerahkan takhta kepada Raden Puntadewa. Akan tetapi, Patih Sangkuni menyela ikut bicara. Ia berpendapat bahwa Raden Puntadewa belum bisa menjadi raja karena masih belum menamatkan pendidikan. Selama ini para Pandawa dan Kurawa telah belajar ilmu tata negara dan ilmu agama kepada Resi Krepa. Memang Raden Puntadewa adalah murid Resi Krepa yang terbaik dan terpandai. Namun, ia sama sekali belum mempelajari ilmu perang.

Raden Bratasena membantah Patih Sangkuni. Meskipun belum mempelajari ilmu perang, namun dirinya memiliki bakat kesaktian dan kekuatan sejak lahir. Ia siap melindungi kakaknya sebagai raja Hastina dari segala ancaman bahaya. Patih Sangkuni menjawab bahwa berkelahi itu tidak sama dengan berperang. Meskipun Raden Bratasena memiliki bakat kesaktian dan kekuatan sejak lahir, namun ia sama sekali belum paham tentang siasat perang, tentang formasi perang, tentang tata cara memimpin pasukan dan sebagainya. Seorang raja yang hanya mengandalkan kekuatan satu orang akan mudah dikalahkan oleh musuh yang memiliki para prajurit terlatih.

Resiwara Bisma dan Raden Yamawidura yang biasanya beda pendapat dengan Patih Sangkuni kali ini merasa setuju. Mereka pun memutuskan bahwa para Pandawa dan Kurawa harus menamatkan pelajaran ilmu perang terlebih dulu, barulah Raden Puntadewa bisa duduk di atas takhta Kerajaan Hastina. Untuk sementara, Adipati Dretarastra akan diangkat sebagai raja wakil yang menjalankan pemerintahan selama para putra belum dinyatakan lulus.

Prabu Pandu merasa lega atas keputusan tersebut. Ia ingin sebelum meninggal sempat berpamitan kepada sang ayah, yaitu Bagawan Abyasa di Padepokan Saptaarga. Raden Bratasena mengajukan diri untuk menjemput sang kakek, karena tidak mungkin jika ayahnya yang dibawa ke sana. Raden Permadi dan para panakawan pun siap menemani. Mereka lalu mohon pamit berangkat menuju Gunung Saptaarga.

PRABU SUKSARA DIHASUT PATIH BAKASURA UNTUK MENYERANG HASTINA

Tersebutlah Prabu Suksara, raja raksasa dari Kerajaan Ekacakra. Dahulu kala ia berpangkat patih dan mengabdi kepada Prabu Dawaka, raja Ekacakra yang sebelumnya. Saat itu Prabu Dawaka jatuh cinta kepada Dewi Ambika dan Dewi Ambalika, yaitu permaisuri Prabu Citrawirya raja Hastina. Patih Suksara pun diperintah untuk merebut mereka berdua, namun ia pulang dengan membawa kegagalan. Prabu Dawaka marah dan berangkat bersama gurunya yang bernama Danghyang Anala. Dalam usaha menculik Dewi Ambika dan Dewi Ambalika di Kerajaan Hastina, Danghyang Anala berhasil menewaskan Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya. Namun, ia sendiri tewas di tangan Raden Bisma. Adapun Prabu Dawaka kemudian tewas di tangan Resi Abyasa.

Raden Bisma dan Resi Abyasa mengampuni Patih Suksara yang tertangkap, lalu mempersilakannya pulang ke Ekacakra. Raden Bisma lalu menyerahkan takhta Hastina kepada Resi Abyasa, sedangkan dirinya menjadi pendeta bergelar Resiwara Bisma di Talkanda. Resi Abyasa pun menjadi raja bergelar Prabu Kresna Dwipayana, serta menikahi kedua janda Prabu Citrawirya, yaitu Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Dari perkawinan itu lahirlah Adipati Dretarastra, Prabu Pandu, dan Raden Yamawidura.

Sementara itu, Patih Suksara menjadi raja di Ekacakra, bergelar Prabu Suksara. Pada suatu hari ia menerima kedatangan seorang pangeran raksasa bernama Raden Bakasura yang mengaku berasal dari Kerajaan Pringgadani dan merupakan adik Prabu Tremboko. Raden Bakasura kecewa karena Prabu Tremboko bersahabat dengan Prabu Pandu, padahal leluhur mereka yaitu Prabu Kuramba pendiri Kerajaan Pringgadani telah tewas di tangan leluhur Prabu Pandu yang bernama Resi Manumanasa, pendiri Padepokan Saptaarga.

Karena Raden Bakasura pandai bicara, Prabu Suksara pun mengangkatnya sebagai patih Kerajaan Ekacakra. Kini terdengar kabar bahwa Prabu Tremboko telah tewas di tangan Prabu Pandu dalam Perang Pamuksa. Patih Bakasura sangat prihatin dan berduka. Ia pun meminta izin kepada Prabu Suksara untuk menggempur Kerajaan Hastina demi membalaskan kematian kakaknya.

Prabu Suksara menolak karena dirinya bisa menjadi raja Ekacakra adalah berkat kemurahan hati Resiwara Bisma dan Bagawan Abyasa. Patih Bakasura terus-menerus menghasut sang raja agar menuruti keinginannya. Ia mengatakan bahwa Kerajaan Hastina adalah negeri paling besar pada zaman ini. Prabu Pandu sedang sakit keras sehingga ini adalah kesempatan emas untuk menaklukkan negeri tersebut. Mengenai Resiwara Bisma tidak perlu dikhawatirkan lagi, karena orang itu sudah tua dan lebih banyak menyepi di Padepokan Talkanda.

Prabu Suksara lama-lama tergoda oleh rayuan Patih Bakasura. Ia membayangkan dengan menaklukkan Kerajaan Hastina, maka Kerajaan Ekacakra akan menjadi negeri paling besar dan paling disegani. Berpikir demikian, Prabu Suksara pun memerintahkan Patih Bakasura untuk menyerang lebih dulu dengan pasukan secukupnya dari arah utara. Saat nanti pasukan Ekacakra dan Hastina sibuk bertempur, barulah Prabu Suksara menyerang dari arah selatan. Dengan demikian, Kerajaan Hastina akan jatuh ke tangan mereka.

Patih Bakasura sangat gembira. Ia lalu mohon pamit berangkat mendahului serangan.

RADEN BRATASENA DAN RADEN PERMADI MENGHADAPI PATIH BAKASURA

Pasukan Ekacakra yang dipimpin Patih Bakasura telah mencapai wilayah Kerajaan Hastina dari arah utara. Mereka bertemu Raden Bratasena, Raden Permadi, dan para panakawan yang sedang menuju ke Gunung Saptaarga. Mengetahui negerinya diserang, Raden Bratasena dan Raden Permadi segera memberikan perlawanan. Maka, terjadilah pertempuran di antara kedua pihak.

Benar apa yang dikatakan Patih Sangkuni, bahwa meskipun Raden Bratasena dan Raden Permadi memiliki bakat kesaktian sejak kecil, namun bertarung tidak sama dengan berperang. Mereka berdua berusaha menahan serangan pasukan raksasa tersebut, namun akhirnya kewalahan juga karena tidak memahami gelar formasi perang.

Melihat itu, Kyai Semar segera berlari secepat kilat kembali ke Kerajaan Hastina, melapor kepada sang senapati Arya Bilawa. Menerima laporan tersebut, Arya Bilawa segera membawa pasukan untuk membantu Raden Bratasena dan Raden Permadi. Dengan datangnya bala bantuan, keadaan menjadi terbalik. Kini ganti Patih Bakasura yang merasa terdesak. Ia pun memerintahkan pasukannya untuk mundur.

Raden Bratasena dan Raden Permadi berterima kasih atas bantuan Arya Bilawa. Kini mereka menyadari betapa pentingnya mempelajari ilmu perang. Keduanya lalu melanjutkan perjalanan ke Gunung Saptaarga bersama para panakawan.

BATARA GURU HENDAK MENGHUKUM PRABU PANDU

Sementara itu di Kahyangan Jonggringsalaka, Batara Guru sedang memimpin pertemuan para dewa yang dihadiri Batara Narada, Batara Indra, Batara Yamadipati, Batara Kamajaya, Batara Aswan, dan Batara Aswin. Mereka membahas tentang Prabu Pandu yang sakit parah dan mungkin sebentar lagi akan meninggal dunia.

Batara Indra mengingatkan kepada Batara Guru tentang dosa-dosa Prabu Pandu, antara lain berani memakai gelar Dewanata, yang bermakna “raja dewa”. Itu artinya ia berani menyamai kekuasaan Batara Guru selaku raja para dewa. Apalagi Prabu Pandu juga berani membangun istana Hastina hingga menyerupai kahyangan. Ini adalah dosa besar yang harus mendapatkan hukuman setimpal, yaitu diceburkan ke dalam Kawah Candradimuka.

Mendengar itu, Batara Kamajaya menyela. Ia mengingatkan Batara Indra bahwa yang memberi nama Dewanata kepada Prabu Pandu justru Batara Indra sendiri. Dulu ketika Kahyangan Suralaya diserang Prabu Nagapaya, para dewa mengalami kekalahan. Raden Pandu yang masih berusia tujuh tahun pun dijemput dan dijadikan sebagai jago kahyangan. Prabu Nagaya berhasil ditumpas. Atas jasanya itu, Batara Guru menganugerahkan minyak ajaib Lenga Tala kepada Raden Pandu, sedangkan Batara Indra memberikan anugerah nama Dewanata kepadanya.

Nama “Dewanata” itu sama maknanya dengan “Surapati” yaitu gelar Batara Indra sendiri. Sedangkan, Batara Guru bergelar “Jagatnata” tentu saja berbeda dengan “Dewanata”. Jadi, menurut Batara Kamajaya, gelar Pandu Dewanata sama sekali tidak bermaksud menyamai Batara Guru, tetapi menyamai Batara Indra. Itu artinya, yang merasa tersinggung adalah Batara Indra sendiri. Dulu Batara Indra menganugerahkan gelar Dewanata, tetapi mengapa kini mempermasalahkannya? Sungguh aneh.

Batara Indra marah merasa didesak oleh Batara Kamajaya. Kedua dewa itu pun bertengkar dan buru-buru dipisah oleh Batara Narada. Batara Guru menjelaskan bahwa memang sudah tiba saatnya hari kematian Prabu Pandu. Mengenai hukuman terhadap Prabu Pandu memang harus dijalankan, tetapi bukan karena kesalahannya memakai nama Dewanata, atau membangun istana seperti kahyangan. Batara Guru mengingatkan Batara Kamajaya bahwa Prabu Pandu pernah meminjam Lembu Andini dan berjanji dirinya rela dimasukkan ke dalam Kawah Candradimuka sebagai ganti. Itu artinya, Prabu Pandu mendapat hukuman adalah untuk memenuhi ucapannya sendiri.

Batara Kamajaya terdiam tidak berani membantah lagi. Batara Guru lalu memerintahkan Batara Yamadipati untuk menjemput roh Prabu Pandu dan membawanya ke Gunung Jamurdipa. Batara Yamadipati menyatakan siap dan mohon pamit menjalankan perintah.

Setelah pertemuan bubar, Batara Kamajaya mengajak Batara Aswan dan Batara Aswin untuk membantu Prabu Pandu. Jika memang ajal Prabu Pandu sudah ditentukan, mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Namun setidaknya, mereka akan mengusahakan bagaimana caranya agar Prabu Pandu bisa meninggal dengan tenang. Setelah bermusyawarah, mereka lalu membagi tugas. Batara Kamajaya pergi ke Gunung Saptaarga, sedangkan Batara Aswan dan Batara Aswin pergi ke Kerajaan Hastina.

BATARA KAMAJAYA MENJADIKAN RADEN PERMADI SEBAGAI ADIK ANGKAT

Batara Kamajaya sampai di Gunung Saptaarga. Di sana telah berkumpul Bagawan Abyasa, Raden Bratasena, Raden Permadi, dan para panakawan, yang semuanya bersiap-siap hendak berangkat menuju Kerajaan Hastina. Terlebih dulu Batara Kamajaya menyembah hormat kepada Kyai Semar yang merupakan penjelmaan ayah kandungnya, yaitu Batara Ismaya (kakak Batara Guru).

Batara Kamajaya mengabarkan bahwa Batara Guru telah mengutus Batara Yamadipati untuk menjemput roh Prabu Pandu dan memasukkannya ke dalam Kawah Candradimuka. Untuk itu, Batara Kamajaya datang lebih dulu ke Gunung Saptaarga agar bisa segera membawa Bagawan Abyasa menemui Prabu Pandu sesuai keinginannya. Raden Permadi tampak sangat sedih dan menangis haru ingin cepat-cepat bertemu ayahnya. Batara Kamajaya prihatin melihatnya. Ia teringat bahwa semua putra Prabu Pandu memiliki dewa pembimbing. Jika Raden Puntadewa dibimbing Batara Darma, Raden Bratasena dibimbing Batara Bayu, maka Raden Permadi seharusnya dibimbing Batara Indra. Namun sayangnya, Batara Indra iri hati pada nama besar Prabu Pandu yang dihormati para raja di segenap penjuru. Untuk itulah, Batara Kamajaya mengajukan diri sebagai pembimbing Raden Permadi, jika memang Batara Indra lepas tangan terhadap Pandawa nomor tiga tersebut.

Raden Permadi berterima kasih atas kemurahan Batara Kamajaya. Namun demikian, Batara Kamajaya melarangnya memanggil dengan sebutan kedewaan. Raden Permadi bahkan diizinkan untuk memanggil kakak saja kepadanya. Demikianlah, sejak saat itu antara Batara Kamajaya dan Raden Permadi terjalin persaudaraan sebagai kakak dan adik.

Setelah dirasa cukup, Batara Kamajaya lalu mempersilakan Bagawan Abyasa, Raden Bratasena, Raden Permadi, dan para panakawan untuk masuk ke dalam jubahnya. Dengan kekuasaannya, Batara Kamajaya pun membawa mereka semua terbang secepat kilat menuju Kerajaan Hastina.

LAHIRNYA RADEN NAKULA DAN RADEN SADEWA

Sementara itu, Batara Yamadipati telah sampai di Kerajaan Hastina dan menemui Prabu Pandu. Ia menyampaikan berita bahwa sudah tiba saatnya Prabu Pandu meninggalkan dunia fana dan memenuhi janji, yaitu masuk ke dalam Kawah Candradimuka.

Prabu Pandu meminta kelonggaran untuk berangkat setelah Dewi Madrim melahirkan, serta menunggu kedatangan Raden Bratasena dan Raden Permadi yang menjemput Bagawan Abyasa. Batara Yamadipati bersedia menunggu, namun hanya dalam batas waktu sehari ini saja, yaitu sebelum matahari terbenam.

Tidak lama kemudian, Batara Aswan dan Batara Aswin turun dari kahyangan dan memberi tahu Prabu Pandu bahwa mereka siap membantu agar Dewi Madrim segera melahirkan. Prabu Pandu bahagia dan sangat berterima kasih kepada sepasang dewa kembar tersebut.

Batara Aswan dan Batara Aswin lalu menemui Dewi Madrim. Dengan kekuasaan mereka, janin dalam rahim Dewi Madrim pun dimatangkan dalam waktu singkat. Pada hari itu pula, Dewi Madrim melahirkan bayi kembar laki-laki. Tidak hanya itu, kedua bayi tersebut juga diubah menjadi anak-anak usia sepuluh tahun, agar tidak selisih terlalu jauh dengan ketiga kakak mereka. Adapun Raden Puntadewa saat ini berusia tujuh belas tahun, Raden Bratasena berusia lima belas tahun, sedangkan Raden Permadi berusia tiga belas tahun.

Batara Aswan dan Batara Aswin lalu menyerahkan kedua anak kembar itu kepada Prabu Pandu. Prabu Pandu yang masih lemah hanya bisa memeluk mereka sambil berbaring, lalu memberikan nama Raden Nakula dan Raden Sadewa.

BATARA YAMADIPATI MENJEMPUT ROH PRABU PANDU

Tidak lama kemudian datang pula Batara Kamajaya di hadapan Prabu Pandu. Ia lalu membuka jubahnya dan keluarlah Bagawan Abyasa, Raden Bratasena, Raden Permadi, serta para panakawan. Karena tugasnya telah selesai, Batara Kamajaya pun mengajak Batara Aswan dan Batara Aswin kembali ke kahyangan.

Sepeninggal ketiga dewa tersebut, Prabu Pandu berpamitan kepada seluruh anggota keluarganya. Ia menitipkan istri dan anak-anaknya kepada Adipati Dretarastra, kemudian menghembuskan napas yang terakhir. Jasad Prabu Pandu pun musnah dari pandangan, sedangkan rohnya dibawa pergi oleh Batara Yamadipati.

DEWI MADRIM BUNUH DIRI MENYUSUL PRABU PANDU

Dewi Madrim terkejut mengetahui sang suami telah meninggal dan rohnya dibawa pergi Batara Yamadipati. Ia pun merasa berdosa karena menjadi penyebab kematian Prabu Pandu. Belasan tahun yang lalu dirinya telah meminta sang suami untuk memanah sepasang kijang yang sedang bermesraan di Hutan Pramuwana, sehingga Prabu Pandu pun mendapat kutukan dari Resi Kindama. Beberapa waktu yang lalu ia juga tidak mampu melawan godaan birahi sehingga melayani hasrat Prabu Pandu yang ingin bersetubuh dengannya. Akibatnya, kutukan Resi Kindama pun menjadi kenyataan, yaitu Prabu Pandu mengalami celaka saat berperang melawan Prabu Tremboko.

Dewi Madrim teringat pula bahwa demi dirinya yang mengidam ingin naik Lembu Andini, sang suami telah berjanji kepada Batara Guru bahwa kelak setelah meninggal ia rela masuk ke dalam Kawah Candradimuka. Dewi Madrim yakin bahwa Batara Yamadipati saat ini membawa roh Prabu Pandu ke Kahyangan Jonggringsalaka untuk memenuhi janji tersebut. Karena merasa sangat berdosa kepada sang suami, Dewi Madrim pun mengambil keris dan menusuk dadanya sendiri. Sebelum meninggal, ia sempat berpesan kepada Dewi Kunti agar sudi merawat si kembar yang baru saja dilahirkannya, karena dirinya ingin menemani roh Prabu Pandu masuk ke dalam Kawah Candradimuka.

Dewi Kunti dan semua hadirin pun terkejut melihat Dewi Madrim telah roboh meninggal dunia. Raden Bratasena sangat geram mendengar bahwa para dewa akan memasukkan roh Prabu Pandu ke dalam Kawah Candradimuka. Ia pun berlari mengejar dengan diikuti Raden Puntadewa dan Raden Permadi. Bagawan Abyasa segera meminta Kyai Semar agar melindungi mereka. Kyai Semar langsung melesat menyusul ketiga Pandawa tersebut.

ROH PRABU PANDU DAN ROH DEWI MADRIM MASUK KE DALAM KAWAH CANDRADIMUKA

Batara Yamadipati bersama roh Prabu Pandu telah sampai di puncak Gunung Jamurdipa, di mana Batara Guru dan Batara Narada telah menunggu. Tidak lama kemudian datang pula roh Dewi Madrim yang menyatakan ingin menemani sang suami menjalani hukuman. Batara Guru menyambut kedatangan mereka dan mempersilakan Prabu Pandu memenuhi janjinya.

Roh Prabu Pandu menurut. Ia pun mencebur ke dalam Kawah Candradimuka bersama roh Dewi Madrim, melalui mulut Gunung Jamurdipa. Begitu keduanya mencebur, seketika Gunung Jamurdipa pun menyemburkan api yang menyala-nyala dan berkobar mengerikan.

Tidak lama kemudian datang pula Kyai Semar bersama tiga Pandawa. Kyai Semar meminta Batara Guru agar membebaskan roh Prabu Pandu. Namun, Batara Guru menolak karena ini semua bukanlah hukuman darinya, melainkan Prabu Pandu yang ingin memenuhi janji untuk menghukum dirinya sendiri.

Raden Bratasena tidak sabar dan ingin mencebur menyusul sang ayah. Namun, Kyai Semar lebih dulu mencebur ke dalam kawah. Ia mengheningkan cipta membuat gejolak kawah menjadi lebih tenang. Setelah suasana kawah tidak terasa panas lagi, Kyai Semar pun mempersilakan para Pandawa jika ingin mencebur.

PRABU PANDU MENASIHATI ANAK-ANAKNYA AGAR PULANG

Raden Bratasena segera mendahului mencebur, disusul Raden Puntadewa dan Raden Permadi. Mereka bertiga lalu menyelam ke dasar dan berhasil menemukan roh Prabu Pandu dan Dewi Madrim. Ketiganya pun menyatakan ingin tetap di dasar kawah menemani sang ayah dan ibu.

Prabu Pandu terharu melihat ketulusan anak-anaknya. Ia meminta agar Raden Puntadewa mengajak kedua adiknya pulang ke Hastina. Ia juga berpesan agar para Pandawa selalu hidup dengan memegang teguh nilai-nilai kebenaran. Meskipun dirinya berada di dalam Kawah Candradimuka, tetapi jika para Pandawa selalu berbuat kebajikan dan berguna bagi dunia seisinya, maka Prabu Pandu merasa seperti tinggal di surga. Sebaliknya, meskipun Prabu Pandu tinggal di surga, tetapi jika anak-anaknya berbuat kerusakan di dunia, maka itu rasanya sama seperti tinggal di dasar neraka.

Raden Puntadewa, Raden Bratasena, dan Raden Permadi berjanji untuk selalu mematuhi nasihat sang ayah, dan akan menyampaikan hal ini kepada si kembar pula. Mereka lalu menyembah hormat kepada roh Prabu Pandu dan Dewi Madrim kemudian kembali ke permukaan mulut Gunung Jamurdipa.

RADEN BRATASENA BERSUMPAH AKAN MENGENTAS AYAH DAN IBUNYA

Setelah ketiga Pandawa keluar dari Kawah Candradimuka, Kyai Semar segera mengembalikan suasana menjadi panas bergejolak. Raden Puntadewa lalu mohon pamit kepada Batara Guru dan Batara Narada yang masih menunggu di tepi mulut Gunung Jamurdipa. Sebelum pergi, Raden Bratasena lebih dulu bertanya sampai kapan ayah dan ibunya menjalani hukuman di dasar kawah.

Batara Guru menjawab tidak tahu, karena Prabu Pandu sendiri yang berjanji jika dirinya mati maka rohnya bersedia masuk ke dalam Kawah Candradimuka tanpa menyebut sampai kapan batas waktunya. Sementara itu, Dewi Madrim sendiri dengan sukarela menemani Prabu Pandu tanpa ada paksaan dari pihak mana pun.

Mendengar itu, Raden Bratasena pun bersumpah bahwa kelak dirinya akan mengentas roh ayah dan ibunya dari dasar Kawah Candradimuka, kemudian memberikan tempat terbaik di Swargaloka. Setelah bersumpah demikian, ia lantas mohon pamit kembali ke Hastina bersama yang lain.

KERAJAAN HASTINA DISERANG PRABU SUKSARA

Ketiga Pandawa dan Kyai Semar telah sampai di Kerajaan Hastina. Kedatangan mereka bersamaan dengan datangnya serangan dari Kerajaan Ekacakra yang dipimpin langsung oleh Prabu Suksara. Patih Bakasura dan pasukannya yang mengalami kekalahan juga telah bergabung dengan pasukan tersebut.

Senapati Arya Bilawa memimpin pasukan Hastina menghadapi serangan tersebut. Ia bertarung melawan Prabu Suksara namun tubuhnya tertangkap lalu dibanting keras membentur tembok kerajaan. Sungguh ajaib, tubuh Arya Bilawa yang tinggi besar itu tiba-tiba berubah menjadi seorang manusia cebol.

Raden Bratasena maju menyerang Prabu Suksara. Terjadilah pertarungan satu lawan satu di antara mereka. Dalam pertarungan tersebut, Kuku Pancanaka di tangan Raden Bratasena berhasil menembus dada Prabu Suksara. Raja raksasa itu pun tewas seketika.

Melihat rajanya terbunuh, pasukan Ekacakra menjadi kocar-kacir. Patih Bakasura segera memerintahkan mereka untuk mundur, meninggalkan Kerajaan Hastina.

ARYA BILAWA MENGUNDURKAN DIRI DARI JABATAN SENAPATI

Raden Bratasena sangat prihatin melihat wujud Arya Bilawa yang kini menjadi manusia cebol akibat sihir Prabu Suksara. Arya Bilawa menjelaskan bahwa ini bukan akibat sihir, tetapi sebenarnya memang dirinya sejak awal terlahir cebol.

Arya Bilawa memiliki nama asli Jaka Bilawa, yang awalnya bekerja sebagai tukang kuda di Kerajaan Hastina. Ia memiliki kakak perempuan bernama Ken Bila yang bekerja sebagai dayang pengasuh Prabu Pandu semasa kecil. Jaka Bilawa ingin sekali menjadi punggawa namun diolok-olok karena tubuhnya yang cebol. Namun demikian, Bagawan Abyasa yang saat itu masih bergelar Prabu Kresna Dwipayana sangat murah hati dan mampu melihat bakat kesaktian yang dimiliki Jaka Bilawa. Ia pun meruwat tubuh Jaka Bilawa menjadi tinggi besar dan menerimanya sebagai punggawa. Kini, akibat berperang melawan Prabu Suksara, tubuhnya pun kembali menjadi cebol seperti sediakala.

Raden Bratasena prihatin dan berniat ingin meminta sang kakek untuk kembali meruwat Arya Bilawa menjadi tinggi besar. Arya Bilawa menolak karena ia sendiri merasa sudah tua dan ingin mengundurkan diri dari jabatan senapati Kerajaan Hastina. Ia merasa sudah tidak punya teman lagi setelah Prabu Pandu meninggal, Patih Gandamana dipecat, serta Arya Banduwangka dan Arya Bargawa gugur dalam Perang Pamuksa. Ia sendiri merasa tidak cocok dengan Patih Sangkuni yang kini menguasai jajaran menteri dan punggawa kerajaan. Oleh sebab itu, Arya Bilawa berniat lebih baik pulang saja ke desa dan menyepi sebagai petapa.

Raden Bratasena terharu melihat pengorbanan Arya Bilawa. Ia pun meminta izin agar diperbolehkan memakai nama Bilawa sebagai nama tambahan untuk dirinya. Arya Bilawa mempersilakan dan justru dirinya merasa bangga apabila namanya dipakai oleh Raden Bratasena.

Demikianlah, setelah masa berkabung atas kematian Prabu Pandu dan Dewi Madrim usai, Arya Bilawa pun berpamitan kepada Adipati Dretarastra untuk selanjutnya tinggal di desa mengisi hari tua.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Peristiwa Pandu Banjut menurut versi Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam Serat Pustakaraja Purwa diberi angka tahun Suryasengkala 689 yang ditandai sengkalan “ragoning brahmana angraras kamuksan”, atau tahun Candrasengkala 710 yang ditandai sengkalan “muksaning ratu kaswareng wiyat”. Mengenai pertempuran melawan Prabu Suksara adalah tambahan dari saya untuk pengembangan cerita sekaligus sebagai prolog untuk lakon Bima Bumbu kelak.











Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ▼  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ▼  July (6)
      • Danghyang Kumbayana
      • Pandu Banjut
      • Perang Pamuksa
      • Gandamana Luweng
      • Kangsa Takon Bapa
      • Bima Bungkus
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja