Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Basutara Krama

 No comments   

Kisah ini menceritakan perkawinan Raden Basutara putra Prabu Basukesti dengan Dewi Retnadi putri Resi Artaetu untuk mempersatukan sesama keturunan Batara Wisnu. Kisah dilanjutkan dengan pelantikan Resi Artaetu sebagai raja Medang Kamulan yang baru menggantikan Prabu Daneswara yang memberontak terhadap Kerajaan Wirata.

Kisah ini disusun berdasarkan
Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan  Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra, dengan sedikit pengembangan.

Kediri, 11 April 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


PRABU BASUKESTI HENDAK MENIKAHKAN RADEN BASUTARA

Prabu Basukesti di Kerajaan Wirata dihadap Raden Basutara (putra mahkota), Patih Jayaloka, Empu Purbageni, Arya Sriati, dan Arya Manungkara. Mereka sedang membicarakan mimpi Prabu Basukesti bahwa Raden Basutara hendaknya dijodohkan dengan Dewi Retnadi, putri Resi Artaetu dari Padepokan Andongsari.

Patih Jayaloka dan yang lain menyetujui apabila Prabu Basukesti mewujudkan mimpinya, karena ini bisa menjadi sarana mendekatkan antarsesama keturunan Batara Wisnu. Prabu Basukesti adalah putra Prabu Basupati, putra Prabu Basurata, putra Batara Wisnu. Sementara itu, Resi Artaetu adalah putra Prabu Sriwahana, yang merupakan putra Prabu Sri Mahawan, putra Prabu Sri Mahapunggung, putra Batara Wisnu.

Raden Basutara mematuhi kehendak sang ayah jika dirinya harus menikah dengan Dewi Retnadi putri Resi Artaetu. Maka, Prabu Basukesti pun mengutus Arya Manungkara untuk mendampingi Raden Basutara menyampaikan pinangan ke Padepokan Andongsari.

Setelah dirasa cukup, Prabu Basukesti lalu membubarkan pertemuan dan masuk ke dalam kedaton, di mana kedua permaisuri, yaitu Dewi Pancawati dan Dewi Sugandi telah menunggu di gapura.

DEWI RETNADI HILANG DARI PADEPOKAN ANDONGSARI

Sementara itu, Resi Artaetu di Padepokan Andongsari sedang dikunjungi adik-adiknya, yaitu Resi Etudarma dari Andonggading dan Resi Darmahanara dari Andongpangukir, serta sepupu mereka, yaitu Resi Sakra dari Andongdadapan. Mereka sedang membicarakan hilangnya Dewi Retnadi, di mana Resi Artaetu sama-sekali tidak mendapatkan petunjuk tentang keberadaan putrinya tersebut.

Pada saat itulah datang Raden Basutara bersama Arya Manungkara menyampaikan pinangan untuk Dewi Retnadi. Resi Artaetu merasa gembira atas lamaran tersebut, namun ia tidak dapat memberikan jawaban karena Dewi Retnadi saat ini telah hilang dari padepokan.

Mendengar calon istrinya menghilang, Raden Basutara pun menyanggupi untuk membantu mencari. Ia segera mengajak rombongan mohon pamit meninggalkan padepokan tersebut.

PASUKAN WIRATA BERTEMPUR MELAWAN PASUKAN MEDANG KAMULAN

Dalam perjalanan mencari keberadaan Dewi Retnadi, rombongan Raden Basutara bertemu sejumlah prajurit raksasa dari Kerajaan Medang Kamulan. Pemimpin rombongan itu bernama Ditya Margana yang bertanya ke mana arah jalan menuju Gunung Saptaarga.

Arya Manungkara curiga mengapa para raksasa itu mencari Gunung Saptaarga, jangan-jangan mereka hendak menyerang Resi Manumanasa dan Resi Satrukem. Ia pun menanyai para raksasa itu. Namun, para raksasa justru marah dan menyerang Arya Manungkara. Maka, terjadilah pertempuran di antara mereka. Banyak para prajurit raksasa yang tewas di tangan Arya Manungkara dan Raden Basutara.

Ditya Margana akhirnya tertangkap oleh Arya Manungkara dan dipaksa menyebutkan alasannya menuju Gunung Saptaarga. Raksasa itu menjawab bahwa ia diutus rajanya, yaitu Prabu Daneswara untuk meminta ilmu pengasihan dari Resi Manumanasa. Ilmu pengasihan tersebut akan digunakan untuk Dewi Retnadi yang saat ini disekap oleh Prabu Daneswara.

Karena Ditya Margana telah berterus terang, Arya Manungkara pun melepaskannya. Kini jelas sudah kalau Dewi Retnadi menghilang dari padepokan adalah karena diculik Prabu Daneswara. Raden Basutara pun mengajak Arya Manungkara untuk segera mempersiapkan pasukan menggempur Kerajaan Medang Kamulan. Akan tetapi, Arya Manungkara tidak setuju. Ia mengusulkan sebaiknya Raden Basutara meminta petunjuk kepada Resi Manumanasa saja tentang bagaimana caranya membebaskan Dewi Retnadi tanpa harus menimbulkan banyak korban. Karena jika Raden Basutara langsung menyerang Kerajaan Medang Kamulan dengan membawa banyak prajurit, bisa-bisa Prabu Daneswara menjadikan Dewi Retnadi sebagai sandera. Tentunya ini akan sangat berbahaya.

Raden Basutara setuju. Mereka lalu bersama-sama berangkat menuju ke Gunung Saptaarga.

RADEN BASUTARA MEMINTA BANTUAN RESI MANUMANASA

Sesampainya di Padepokan Ratawu di puncak Gunung Saptaarga, Raden Basutara dan Arya Manungkara disambut ramah oleh Resi Manumanasa beserta Resi Satrukem. Raden Basutara segera menyampaikan permohonannya untuk dibantu membebaskan Dewi Retnadi, putri Resi Artaetu dari Andongsari yang kini disekap Prabu Daneswara di Kerajaan Medang Kamulan.

Resi Manumanasa prihatin atas permasalahan yang dihadapi Raden Basutara. Ia pun memerintahkan Resi Satrukem untuk membantu Raden Basutara menyusup ke istana Medang Kamulan, sedangkan Arya Manungkara sebaiknya kembali ke Padepokan Andongsari dan mempersiapkan pasukan di sana.

Resi Satrukem mematuhi perintah sang ayah. Ia lalu berangkat menemani Raden Basutara menuju Kerajaan Medang Kamulan. Sementara itu, Arya Manungkara mohon pamit kembali ke Andongsari dengan membawa pasukan Wirata untuk menghadapi serangan balasan dari pihak Medang Kamulan.

RADEN BASUTARA MENCULIK DEWI RETNADI

Raden Basutara dan Resi Satrukem telah sampai di Kerajaan Medang Kamulan. Resi Satrukem mengerahkan Aji Panglimunan sambil memegang tangan Raden Basutara, sehingga wujud mereka berdua menjadi tidak terlihat. Keduanya lalu masuk ke dalam istana dan mengintai pembicaraan Prabu Daneswara dan Patih Citradana.

Dalam pembicaraan itu, Prabu Daneswara mengutarakan kekesalannya karena sampai saat ini Dewi Retnadi belum juga menerima cintanya. Untuk itu, ia terpaksa mengirim Ditya Margana ke Gunung Saptaarga supaya meminta ilmu pengasihan kepada Resi Manumanasa, seorang pendeta yang sangat terkenal. Akan tetapi, sampai sekarang Ditya Margana belum juga kembali.

Setelah menguping pembicaraan tersebut, Resi Satrukem mengajak Raden Basutara menyusup ke dalam kaputren tempat Dewi Retnadi disembunyikan. Sesampainya di sana, Resi Satrukem segera melumpuhkan para penjaga, sedangkan Raden Basutara masuk menemui Dewi Retnadi dan mengajaknya pergi meninggalkan istana Medang Kamulan.

Tidak lama kemudian, Prabu Daneswara datang pula ke kaputren dan ia terkejut melihat para penjaga dalam keadaan pingsan sedangkan Dewi Retnadi telah lenyap pula. Ia sangat marah dan segera mengajak Patih Citradana untuk mengejar para penyusup tersebut.

RADEN BASUTARA DIJODOHKAN DENGAN DEWI RETNADI

Raden Basutara dan Resi Satrukem telah sampai di Padepokan Andongsari untuk mengembalikan Dewi Retnadi. Resi Artaetu sangat gembira dan menetapkan Raden Basutara sebagai calon suami untuk putrinya itu.

Tidak lama kemudian Prabu Daneswara dan Patih Citradana datang membawa pasukan Medang Kamulan untuk menggempur Padepokan Andongsari dan merebut Dewi Retnadi. Arya Manungkara yang sudah bersiaga dengan para prajurit Wirata segera maju menghadapi serangan tersebut.

Pertempuran sengit pun terjadi. Arya Manungkara yang bersenjatakan Minyak Manihara dengan cekatan mengubah banyak prajurit Medang Kamulan menjadi patung batu. Prabu Daneswara dan Patih Citradana terjun ke medan pertempuran, namun keduanya tewas di tangan Resi Satrukem yang bersenjatakan panah Saradibya.

RESI ARTAETU MENJADI RAJA MEDANG KAMULAN

Prabu Basukesti di Kerajaan Wirata menyambut gembira keberhasilan Raden Basutara dalam menemukan hilangnya Dewi Retnadi. Ia juga berterima kasih atas segala bantuan yang diberikan oleh Resi Satrukem, begitu pula kepada Arya Manungkara yang menjalankan tugasnya dengan baik. Maka, pada hari yang ditentukan, diselenggarakanlah upacara pernikahan antara Raden Basutara dan Dewi Retnadi yang dihadiri pula oleh Resi Artaetu, Resi Etudarma, Resi Darmahanara, dan Resi Sakra.

Setelah Prabu Daneswara tewas, Kerajaan Medang Kamulan kini kosong tidak memiliki raja. Kerajaan tersebut pada zaman dulu dipimpin oleh Sri Maharaja Purwacandra Cingkaradewa yang dikalahkan oleh Brahmana Wisaka dari Tanah Hindustan. Brahmana Wisaka kemudian menjadi raja bergelar Sri Maharaja Wisaka. Setelah Sri Maharaja Wisaka kembali ke Tanah Hindustan, takhta Medang Kamulan diwarisi oleh muridnya, yaitu Prabu Sriwahana yang juga keturunan Batara Wisnu.

Prabu Sriwahana meninggal dunia saat putra-putranya masih kecil. Kerajaan Medang Kamulan akhirnya menjadi kota mati karena tidak memiliki raja, hingga akhirnya dibangun kembali oleh Prabu Daneswara tersebut. Kini Prabu Daneswara telah tewas. Prabu Basukesti merasa sangat pantas apabila Kerajaan Medang Kamulan dipimpin oleh putra tertua Prabu Sriwahana, yaitu Resi Artaetu.

Maka, pada hari yang dianggap baik, Prabu Basukesti pun melantik Resi Artaetu sebagai raja Medang Kamulan yang baru, dengan bergelar Prabu Maheswara. Arya Manungkara juga diperintahkan untuk mengembalikan wujud para prajurit Medang Kamulan yang telah diubahnya menjadi patung batu. Arya Manungkara mematuhi perintah tersebut. Begitu kembali ke wujud manusia, para prajurit itu segera memohon ampun. Prabu Basukesti pun memerintahkan mereka untuk bersumpah setia mengabdi kepada Prabu Maheswara. Para prajurit tersebut mematuhi dan sangat berterima kasih atas pengampunan yang diberikan.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke : daftar isi





Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Bambang Manungkara

 No comments   

Kisah ini menceritakan perkawinan Prabu Asrama raja Malawa keturunan Prabu Oya dengan Dewi Basuwati, putri sulung Prabu Basukesti, serta perkawinan Bambang Manungkara putra bungsu Resi Manonbawa dengan Dewi Basutari. Bambang Manungkara lalu diangkat pula sebagai punggawa Kerajaan Wirata.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra, dengan sedikit pengembangan.

Kediri, 07 April 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------



PRABU BASUKESTI KEHILANGAN DEWI BASUTARI

Prabu Basukesti di Kerajaan Wirata dihadap putranya, yaitu Raden Basutara yang telah tumbuh remaja, serta Patih Jayaloka, Empu Purbageni, Arya Sriati, dan para punggawa lainnya. Mereka sedang membicarakan hilangnya Dewi Basutari, putri kedua Sang Prabu. Anehnya, tidak seorang pun penghuni istana yang mengetahui ke mana perginya Dewi Basutari, seolah-olah ia lenyap bagaikan diculik makhluk halus.

Pada saat itulah datang tamu dari Kerajaan Malawa di tanah seberang, yaitu Begawan Surata bersama putranya yang bernama Prabu Asrama. Prabu Basukesti menyambut kedatangan mereka dengan penuh keakraban, mengingat dulu ia pernah membantu perjuangan Begawan Surata demi mendapatkan haknya atas Kerajaan Malawa. Kini, Begawan Surata telah menjadi brahmana dan menyerahkan takhta kepada putranya yang bergelar Prabu Asrama tersebut.

Begawan Surata tidak pernah melupakan jasa Prabu Basukesti terhadap dirinya dulu. Sebagai sesama keturunan Batara Wisnu, ia ingin sekali berbesan dengan Prabu Basukesti, yaitu melalui pernikahan antara Prabu Asrama dengan Dewi Basuwati, putri sulung Kerajaan Wirata. Prabu Basukesti sebenarnya setuju apabila putri sulungnya itu menjadi menantu Begawan Surata. Akan tetapi, saat ini putri keduanya, yaitu Dewi Basutari sedang menghilang dan belum diketahui keberadaannya. Untuk itu, Prabu Basukesti hanya dapat menerima pinangan Begawan Surata namun belum dapat memutuskan kapan tanggal pernikahannya.

Begawan Surata dapat memaklumi permasalahan Prabu Basukesti. Ia pun menyarankan agar putranya ikut membantu mencari hilangnya Dewi Basutari. Prabu Asrama menyanggupi permintaan sang ayah dan bersiap hendak berangkat. Prabu Basukesti berterima kasih dan menawarkan perjamuan kepada mereka. Namun, Prabu Asrama menolak secara halus dan memilih mohon pamit berangkat saat itu juga.

Prabu Basukesti lalu membubarkan pertemuan dan masuk ke dalam kedaton bersama Begawan Surata, di mana kedua permaisuri, yaitu Dewi Pancawati dan Dewi Sugandi telah menunggu di gapura.

PRABU ASRAMA BERTEMPUR MELAWAN PARA GANDARWA

Prabu Asrama telah berangkat memimpin pasukan Malawa untuk mencari hilangnya Dewi Basutari. Ikut bergabung bersama mereka Patih Jayaloka dan Arya Sriati beserta sejumlah prajurit Wirata.

Sementara itu, tersebutlah pemimpin para gandarwa penghuni Hutan Surateleng yang bernama Gandarwa Janjatma. Dialah sebenarnya yang telah menculik Dewi Basutari untuk dijadikan istri. Akan tetapi, sampai hari ini Dewi Basutari masih juga tidak mau melayani keinginannya. Gandarwa Janjatma pun meminta bantuan adik-adiknya, yaitu Gandarwi Parupu dan Gandarwi Prawi supaya membujuk Dewi Basutari. Namun, kedua gandarwa perempuan itu juga tidak mampu membuat Dewi Basutari menerima cinta kakak mereka. Gandarwa Janjatma yang kehilangan kesabaran lalu mengubah wujud Dewi Basutari menjadi sebentuk arca batu.

Pada saat itulah datang seorang prajurit gandarwa yang melaporkan bahwa, telah muncul pasukan gabungan dari Malawa dan Wirata yang menggeledah Hutan Surateleng untuk mencari Dewi Basutari. Gandarwa Janjatma sangat marah dan segera memimpin pasukannya untuk memukul mundur pasukan tersebut.

Maka, terjadilah pertempuran antara pasukan gabungan Malawa dan Wirata yang terdiri dari para manusia melawan pasukan gandarwa yang terdiri dari para makhluk halus tersebut. Dalam pertempuran itu pihak gandarwa terdesak namun mereka mampu menghilang lenyap dari pandangan Prabu Asrama dan pasukannya.

Setelah pertempuran berakhir, Arya Sriati mohon pamit memisahkan diri dari induk pasukan untuk pergi ke Gunung Saptaarga meminta petunjuk ayahnya, yaitu Resi Manumanasa.

RESI MANUMANASA MERAMALKAN JODOH DEWI BASUTARI

Arya Sriati telah sampai di Gunung Saptaarga beramaan dengan Resi Manonbawa (pamannya) yang datang dari Desa Gandara untuk mengunjungi Resi Manumanasa. Jika Arya Sriati melaporkan tentang hilangnya Dewi Basutari, maka Resi Manonbawa menceritakan tentang kepergian Bambang Manungkara, putra bungsunya.

Resi Manonbawa bercerita bahwa sebelum pergi, Bambang Manungkara pernah mengeluh hanya dirinya saja keturunan Prabu Parikenan yang belum menikah, karena kakaknya, yaitu Bambang Maneriya, serta sepupunya, yaitu Resi Satrukem, Arya Sriati, Resi Manumadewa, Resi Dwapara, dan yang lain, semuanya telah berumah tangga. Resi Manonbawa menduga Bambang Manungkara pergi meninggalkan Desa Gandara adalah untuk bertapa supaya bisa menemukan siapa wanita yang tepat menjadi jodohnya.

Resi Manumanasa pun mengheningkan cipta setelah menerima kedua laporan tersebut. Petunjuk dewata yang didapatkannya ialah, bahwa hilangnya Bambang Manungkara dari Gandara dan Dewi Basutari dari Wirata sebenarnya saling berkaitan. Resi Manumanasa meramalkan bahwa mereka berdua kelak akan menjadi suami-istri, sehingga hanya Bambang Manungkara saja yang dapat menemukan hilangnya Dewi Basutari.

Untuk itu, Resi Manumanasa menyarankan kepada Arya Sriati jika ingin menemukan Dewi Basutari, maka terlebih dahulu harus bisa menemukan di mana Bambang Manungkara bertapa. Resi Manumanasa lalu memberikan petunjuk kepada putra keduanya itu agar berjalan ke arah timur, karena di sanalah ia akan bertemu Bambang Manungkara. Arya Sriati pun mohon pamit meninggalkan Gunung Saptaarga.

ARYA SRIATI BERJUMPA BAMBANG MANUNGKARA

Arya Sriati yang berjalan ke arah timur akhirnya sampai di Hutan Kumbara dan bertemu Bambang Manungkara yang sedang bertapa. Ia pun membangunkan adik sepupunya itu dan menceritakan tentang ramalan Resi Manumanasa, bahwa jodoh Bambang Manungkara adalah Dewi Basutari, putri kedua Prabu Basukesti.

Bambang Manungkara sangat senang mendengar pesan yang dibawa kakak sepupunya itu. Ia lalu berangkat mencari Dewi Basutari sendirian, sedangkan Arya Sriati kembali ke Gunung Saptaarga untuk melapor kepada Resi Manumanasa dan Resi Manonbawa.

BAMBANG MANUNGKARA MENGALAHKAN GANDARWA JANJATMA

Perjalanan Bambang Manungkara akhirnya sampai di Hutan Randualas. Di sana ia bertemu kedua gandarwa wanita adik Gandarwa Janjatma, yaitu Gandarwi Prawi dan Gandarwi Parupu. Kedua gandarwi itu tertarik melihat ketampanan Bambang Manungkara dan mereka pun bertengkar memperebutkannya. Bambang Manungkara melerai keduanya dengan kata-kata manis dan berhasil menenangkan mereka.

Pada saat itulah Gandarwa Janjatma datang dan melihat bagaimana kepandaian Bambang Manungkara merayu kedua adiknya hingga mereka berhenti bertengkar. Ia pun tertarik dan minta tolong kepada pemuda itu bagaimana caranya memikat perasaan perempuan yang disukainya, yaitu Dewi Basutari.

Bambang Manungkara bersedia mengajari Gandarwa Janjatma asalkan diberi bayaran yang pantas. Gandarwa Janjatma pun menyerahkan pusakanya yang bernama Minyak Manihara, yang jika diusapkan kepada seseorang maka orang itu akan berubah menjadi arca batu. Bambang Manungkara menerimanya tetapi dianggap masih kurang. Gandarwa Janjatma lalu menyerahkan Minyak Muksala untuk mengembalikan arca batu tadi menjadi manusia. Bambang Manungkara menerimanya dan menganggap itu pun masih kurang. Gandarwa Janjatma lalu menyerahkan Akar Bayura yang berkhasiat bisa menampakkan tempat tinggal makhluk halus. Lagi-lagi Bambang Manungkara mengaku masih kurang.

Gandarwa Janjatma yang semakin bernafsu lantas menyerahkan pusaka Kantong Arumba untuk mengantongi segala benda. Bambang Manungkara tetap saja menjawab masih kurang. Maka, Gandarwa Janjatma pun menyerahkan pusaka terakhirnya, yaitu Sela Mertyujiwa yang berbentuk batu untuk mengalahkan makhluk halus. Begitu menerima pusaka yang terakhir tersebut, Bambang Manungkara langsung memukulkannya di kepala Gandarwa Janjatma. Seketika Gandarwa Janjatma roboh dan ia bertanya mengapa dirinya dipukul. Bambang Manungkara pun menjelaskan bahwa dirinya adalah utusan Kerajaan Wirata yang ditugasi mencari Dewi Basutari.

Gandarwa Janjatma marah merasa dikhianati. Ia berusaha bangkit untuk melawan, namun Bambang Manungkara segera mengusapnya dengan Minyak Manihara hingga membuat gandarwa itu berubah menjadi arca batu. Gandarwi Prawi dan Gandarwi Parupu marah melihat kakak mereka ditipu. Keduanya pun menyerang Bambang Manungkara. Namun, Bambang Manungkara menakut-nakuti kedua gandarwi itu dengan Sela Mertyujiwa, membuat keduanya gentar dan melarikan diri.

Setelah keadaan aman, Bambang Manungkara berusaha mencari di mana Dewi Basutari disembunyikan. Ia lalu memukuli pepohonan di sekitar situ dengan menggunakan Akar Bayura. Seketika terlihatlah arca batu berwujud putri raja yang disembunyikan di dalam sebatang pohon. Bambang Manungkara yakin kalau arca batu tersebut adalah perwujudan Dewi Basutari yang diubah oleh Gandarwa Janjatma menggunakan Minyak Manihara.

Bambang Manungkara lalu mengusap arca batu itu menggunakan Minyak Muksala, sehingga Dewi Basutari pun berubah kembali ke wujud manusia. Dewi Basutari sangat berterima kasih atas bantuan Bambang Manungkara yang telah membebaskannya dari pengaruh sihir Gandarwa Janjatma. Ia pun semakin senang setelah mengetahui bahwa pahlawan penolongnya ini ternyata masih kerabat sendiri, yaitu putra kedua Resi Manonbawa dari Desa Gandara.

Bambang Manungkara lalu memasukkan patung penjelmaan Gandarwa Janjatma ke dalam Kantong Arumba, kemudian mengajak Dewi Basutari meninggalkan Hutan Randualas, kembali ke Kerajaan Wirata.

BAMBANG MANUNGKARA BERTEMU ROMBONGAN PRABU ASRAMA

Di tengah perjalanan, Bambang Manungkara dan Dewi Basutari bertemu pasukan gabungan Wirata dan Malawa. Patih Jayaloka yang mengenali Dewi Basutari segera memberi tahu Prabu Asrama. Tanpa banyak bertanya, Prabu Asrama langsung menyerang Bambang Manungkara karena mengira pemuda itu adalah pelaku penculikan terhadap Dewi Basutari. Bambang Manungkara pun melawan untuk membela diri, sehingga terjadilah pertarungan di antara mereka.

Pada saat itulah datang Arya Sriati bersama Resi Manonbawa dan langsung melerai mereka. Arya Sriati menjelaskan bahwa Bambang Manungkara adalah adik sepupunya dan bukan penculik Dewi Basutari. Dewi Basutari juga ikut membenarkan apa yang disampaikan Arya Sriati, bahwa yang menculik dirinya adalah Gandarwa Janjatma yang saat ini telah berubah menjadi patung.

Prabu Asrama merasa malu dan segera meminta maaf atas kesalahpahaman tadi. Bambang Manungkara pun memaafkan raja Malawa tersebut. Bersama-sama mereka lalu berangkat menuju Kerajaan Wirata.

PRABU BASUKESTI MENGGELAR PERNIKAHAN

Prabu Basukesti dan Begawan Surata di Kerajaan Wirata sangat senang melihat Dewi Basutari telah ditemukan dalam keadaan selamat. Ia pun bertanya kepada Bambang Manungkara siapa pelaku penculikan putrinya. Bambang Manungkara lalu membuka Kantong Arumba dan mengeluarkan patung penjelmaan Gandarwa Janjatma. Prabu Basukesti semakin penasaran dan meminta Bambang Manungkara supaya mengembalikannya ke wujud semula.

Bambang Manungkara segera mengoleskan Minyak Muksala kepada patung tersebut. Seketika patung itu berubah kembali menjadi Gandarwa Janjatma. Melihat keberadaan Bambang Manungkara, Gandarwa Janjatma langsung mengamuk dan menyerangnya. Resi Manonbawa segera turun tangan membantu putranya. Ia pun mengerahkan Aji Danurdara, membuat Gandarwa Janjatma merasa lemas dan jatuh terkulai di tanah.

Gandarwa Janjatma mohon ampun kepada Prabu Basukesti atas segala kesalahannya menculik Dewi Basutari. Prabu Basukesti pun mengampuninya, dengan syarat Gandarwa Janjatma harus pergi sejauh-jauhnya dari wilayah Kerajaan Wirata. Gandarwa Janjatma menurut. Ia pun undur diri meninggalkan tempat itu.

Dengan ditemukannya Dewi Basutari, maka permasalahan di Kerajaan Wirata telah terselesaikan. Sesuai janjinya, Prabu Basukesti segera menyelenggarakan upacara pernikahan putri sulungnya, yaitu Dewi Basuwati dengan Prabu Asrama, putra Begawan Surata. 

Beberapa bulan kemudian, Prabu Basukesti menikahkan pula Dewi Basutari dengan pahlawan penolongnya, yaitu Bambang Manungkara. Selain itu, Bambang Manungkara juga diangkat menjadi punggawa Kerajaan Wirata, bergelar Arya Manungkara.


------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke : daftar isi





Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ▼  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ▼  April (2)
      • Basutara Krama
      • Bambang Manungkara
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja