Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Durgandini - Durgandana Lahir

 No comments   

Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pandawa dan Kurawa, sedangkan Raden Durgandana kelak bergelar Prabu Matsyapati, menjadi sekutu penting pihak Pandawa dalam Perang Bratayuda.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita dengan beberapa pengembangan.


Kediri, 17 Juni 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Prabu Basuparicara alias Prabu Wasupati

PRABU BASUPARICARA MENGGELAR SESAJI RAJAWEDA

Prabu Basuparicara di Kerajaan Wirata mengadakan upacara agung Sesaji Rajaweda yang dihadiri oleh segenap pejabat istana, para pendeta dan resi, serta para raja bawahan, antara lain Prabu Mandrakusuma raja Mandraka, Prabu Maneriya raja Gandaradesa, Prabu Maheswara raja Medang Kamulan, Prabu Danadewa raja Gilingwesi, dan Prabu Rambana raja Pringgadani. Hadir pula Prabu Santanu raja Hastina yang telah mendapatkan kemerdekaan penuh sebagai mitra sederajat.

Dalam upacara itu, Prabu Basuparicara mengganti gelarnya menjadi Prabu Wasupati, sedangkan sang permaisuri Dewi Adrika diganti namanya menjadi Dewi Swargandini. Raden Basuketu yang dinilai berhasil menjalankan tugasnya sebagai wakil raja selama Prabu Wasupati berkelana, juga mendapat gelar baru, yaitu Aryaprabu Kistawa.

Setelah upacara berakhir, Prabu Wasupati mengumumkan bahwa mulai hari ini, semua kerajaan bawahan dinyatakan merdeka dan tidak lagi berada di bawah kekuasaan Wirata. Dengan demikian, Kerajaan Mandraka, Gandaradesa, Medang Kamulan, Gilingwesi, dan Pringgadani mulai sekarang berhak menentukan jalannya pemerintahan masing-masing seperti Kerajaan Hastina dan tidak lagi wajib melapor kepada Kerajan Wirata. Rupanya Prabu Wasupati tidak ingin peristiwa Perang Wirata – Hastina yang memakan korban Prabu Pratipa terulang kembali hanya karena perasaan ingin mengungguli antara kerajaan satu dengan yang lainnya.

Para raja bawahan merasa terharu mendengar keputusan tersebut. Apa yang dilakukan Prabu Wasupati ini sama persis dengan yang pernah dilakukan oleh Sri Maharaja Wisaka di Kerajaan Medang Kamulan ratusan tahun silam setelah ia berhasil mengalahkan Sri Maharaja Purwacandra. Saat itu Sri Maharaja Wisaka memerdekakan Kerajaan Gilingwesi, Purwacarita, dan Wirata sehingga tidak lagi berada di bawah kekuasaan Medang Kamulan.

PRABU MANERIYA TURUN TAKHTA DIGANTIKAN PUTRANYA

Meskipun telah mendapatkan kemerdekaan penuh, namun para raja sepakat untuk tetap menganggap raja Wirata sebagai sesepuh Tanah Jawa. Mereka pun berjanji apabila mengangkat raja baru akan tetap meminta restu kepada raja Wirata.

Kesepakatan ini pun dibuktikan oleh Prabu Maneriya raja Gandaradesa. Pada suatu hari ia memutuskan untuk turun takhta dan menjadi pendeta, bergelar Begawan Maneriya. Takhta Kerajaan Gandaradesa pun diserahkan kepada putranya, yang bergelar Prabu Mandara. Pada saat pelantikan, Begawan Maneriya mengundang Prabu Wasupati untuk hadir dan memberikan restu kepada putranya tersebut.

LAHIRNYA DEWI DURGANDINI DAN RADEN DURGANDANA

Setelah menghadiri undangan di Kerajaan Gandara, Prabu Wasupati pulang ke Wirata dan mendapatkan berita gembira, yaitu sang permaisuri Dewi Swargandini telah melahirkan dua anak sekaligus, perempuan dan laki-laki. Akan tetapi, sungguh disayangkan, kedua bayi tersebut berbau amis seperti ikan. Ini dikarenakan Dewi Swargandini semasa masih bernama Endang Adrika dulu pernah mendapatkan kutukan menjadi seekor ikan mas. Tak disangka, bau amisnya kini diwarisi oleh kedua bayi yang baru lahir tersebut. Karena keduanya berbau tidak sedap, maka Prabu Wasupati pun memberi mereka nama Dewi Durgandini dan Raden Durgandana.

Prabu Wasupati sangat sedih bercampur malu melihat keadaan kedua anaknya itu. Ia pun mendatangkan para tabib dan ahli obat, juga brahmana dan pendeta dari berbagai tempat, namun tidak seorang pun yang mampu menyembuhkan penyakit mereka.

Prabu Wasupati lalu bersamadi di dalam sanggar pemujaan selama berhari-hari untuk meminta petunjuk dewata. Pada suatu malam, Batara Narada datang memberi tahu Prabu Wasupati supaya jangan bersedih, karena ini adalah ujian untuk Dewi Durgandini dan Raden Durgandana. Meskipun keduanya berbau amis, namun mereka ditakdirkan kelak akan menurunkan raja-raja Tanah Jawa. Untuk itu, Prabu Wasupati harus menitipkan mereka berdua kepada seorang nelayan di Desa Matsya yang bernama Kyai Dasa. Dengan cara demikian, Dewi Durgandini dan Raden Durgandana kelak akan mendapatkan jalan bagi kesembuhan mereka.

Prabu Wasupati mematuhi petunjuk dari Batara Narada tersebut. Ia lalu membawa kedua bayinya ke Desa Matsya dan menyerahkannya kepada Kyai Dasa untuk dirawat. Kyai Dasa tidak menganggap hal ini sebagai beban, namun justru menganggapnya sebagai suatu kehormatan karena bisa merawat putri dan putra raja Wirata.

PRABU WASUPATI MENJELAJAH PEDESAAN

Delapan tahun berlalu setelah peristiwa kelahiran Dewi Durgandini dan Raden Durgandana. Pada suatu hari Prabu Wasupati pergi mengembara dalam penyamaran untuk melihat secara langsung bagaimana kehidupan masyarakat pedesaan. Bersama dirinya, ikut menyamar pula tiga orang pembesar Kerajaan Wirata, yaitu Aryaprabu Kistawa, Patih Wasita, dan Arya Manungkara.

Ketika perjalanan mereka sampai di Desa Sumendangan, tampak seorang laki-laki berlari dikejar-kejar seekor kerbau. Patih Wasita dan Arya Manungkara segera menangkap kerbau tersebut, sedangkan Prabu Wasupati menanyai si laki-laki yang mengaku bernama Carik Sarjana.

Sungguh mengejutkan, ternyata kerbau yang mengejar Carik Sarjana adalah anaknya sendiri yang telah mengalami kutukan. Kerbau tersebut awalnya seorang pemuda bernama Jaka Wignya. Karena sifatnya yang pemalas membuatnya menjadi bodoh dan tidak punya tata krama. Karena kesalnya, Carik Sarjana pun memaki Jaka Wignya sebagai anak bodoh seperti kerbau yang tidak pantas menggantikan kedudukannya sebagai pamong desa. Tak disangka, seketika wujud Jaka Wignya pun berubah menjadi kerbau akibat ucapan ayahnya itu.

Prabu Wasupati bertanya apakah Carik Sarjana senang jika Jaka Wignya kembali menjadi manusia? Carik Sarjana menjawab tentu saja dirinya senang tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya meruwat kutukan tersebut. Prabu Wasupati bersedia meruwat Jaka Wignya tetapi sebelumnya ia menasihati Carik Sarjana agar jangan hanya menyalahkan anak, tetapi coba lihat dulu apakah sebagai orang tua sudah memberikan pendidikan yang baik untuk anaknya. Orang tua hendaknya menyekolahkan anak kepada guru yang berbudi serta mengajarinya bekerja keras, jangan selalu memanjakannya. Selain itu, sebagai orang tua juga harus selalu memerhatikan anaknya jangan sampai salah dalam pergaulan.

Carik Sarjana menyadari kesalahannya dalam mendidik anak selama ini. Ia pun pasrah mengenai peruwatan Jaka Wignya. Prabu Wasupati lantas meminta Arya Manungkara meruwat kerbau tersebut. Dengan menggunakan Minyak Mukswala, Arya Manungkara berhasil mengubah wujud Jaka Wignya kembali menjadi manusia.

Carik Sarjana sangat berterima kasih. Ia pun menyerahkan Jaka Wignya kepada Prabu Wasupati supaya dijadikan abdi dan diajari bekerja keras. Prabu Wasupati menerima Jaka Wignya dan membawanya ikut serta dalam rombongan.

ARYA MANUNGKARA MERUWAT SUNDEL BOLONG

Prabu Wasupati dan rombongan melanjutkan perjalanan menjelajahi desa demi desa. Ketika sampai di Desa Katripala, hari telah menjelang senja. Mereka menyaksikan para penduduk mengungsi meninggalkan desa karena setiap malam ada hantu sundel bolong yang menyebarkan bau busuk seperti kentut.

Malam itu Prabu Wasupati dan rombongan bersiaga untuk menangkap hantu yang meresahkan penduduk tersebut. Ternyata benar, samar-samar mereka mencium bau busuk yang semakin lama semakin menyengat. Arya Manungkara segera mendatangi sumber bau dan memukulnya menggunakan Akar Bayura. Seketika tampak sesosok peri berwajah cantik yang konon disebut sebagai hantu sundel bolong oleh para penduduk desa.

Peri cantik itu mengaku bernama Dewi Umi yang gentayangan ingin kembali ke kahyangan sebagai bidadari. Menurut petunjuk dewata, Dewi Umi harus datang ke Desa Katripala karena tidak lama lagi akan muncul punggawa Kerajaan Wirata bernama Arya Manungkara yang bisa meruwat dirinya kembali menjadi bidadari. Dewi Umi pun melaksakan petunjuk tersebut. Setelah mendatangi Desa Katripala selama tujuh malam, akhirnya ia bisa bertemu Arya Manungkara yang berada di dalam rombongan Prabu Wasupati.

Sebelum peruwatan dimulai, Prabu Wasupati bertanya mengapa Dewi Umi bisa mengeluarkan bau busuk seperti kentut. Dewi Umi pun menjelaskan bahwa di dalam rahimnya tersimpan sembilan wadah berisi minyak, yaitu minyak gaceng dalam wadah akik merah, minyak sawa dalam wadah akik biru, minyak kowangan dalam wadah akik jingga, minyak nyamu dalam wadah akik kuning, minyak gandarwa dalam wadah akik hitam, minyak sagungu dalam wadah akik abu-abu, minyak srengan dalam wadah akik ungu, minyak twasni dalam wadah akik hijau, dan minyak sari dalam wadah akik putih. Kesembilan jenis minyak itulah yang mengeluarkan bau busuk seperti kentut. Dewi Umi berjanji akan memberikan kesembilan minyak tersebut kepada Arya Manungkara jika bisa meruwat dirinya menjadi bidadari. Arya Manungkara keberatan karena dirinya tentu akan mengeluarkan bau busuk jika menyimpan kesembilan minyak itu. Dewi Umi menjelaskan bahwa minyak-minyak ini mengeluarkan bau busuk hanya apabila disimpan di dalam rahim. Khasiat minyak tersebut apabila dioleskan pada senjata dan digunakan untuk berperang akan membuat musuh lemas kehilangan tenaga.

Setelah menerima penjelasan demikian, Arya Manungkara pun mulai meruwat Dewi Umi menggunakan mantra yang pernah diajarkan oleh ayahnya (Resi Manonbawa). Setelah pembacaan mantra berakhir, wujud Dewi Umi berubah menjadi bidadari. Setelah berterima kasih, wanita itu terbang ke kahyangan dan meninggalkan sembilan butir akik di tanah, berisi minyak sebagaimana yang ia ceritakan tadi.

Arya Manungkara segera memungut kesembilan akik tersebut dan mempersembahkannya kepada Prabu Wasupati untuk disimpan sebagai pusaka Kerajaan Wirata. Prabu Wasupati berterima kasih dan mengajak rombongan untuk kembali ke istana karena penjelajahan untuk kali ini dianggap sudah cukup.

MENINGGALNYA RESI SRIMANASA

Empat tahun kemudian, Prabu Wasupati menerima kabar duka bahwa Resi Srimanasa di Kerajaan Mandraka meninggal dunia. Adik Resi Srimanasa yang menjadi pendeta di Kerajaan Wirata, yaitu Resi Srimadewa pun berangkat melayat ke sana.

Resi Srimanasa merupakan mertua dari Prabu Mandrakusuma dan juga ayah dari Patih Artadriya. Setelah Resi Srimadewa datang, upacara pemakaman untuknya pun diselenggarakan dengan khidmat. Selama beberapa bulan Resi Srimadewa tinggal di Kerajaan Mandraka untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan kakaknya. Setelah dirasa cukup, ia lalu kembali ke Kerajaan Wirata.

RESI SRIMADEWA MERUWAT ULAT TAHUN SELUMBUNG BANDUNG

Dalam perjalanan pulang ke Wirata, Resi Srimadewa berjumpa seorang penduduk desa bernama Prasta yang berlari karena dikejar seekor ulat tahun yang tubuhnya seukuran lumbung bandung. Resi Srimadewa pun melepaskan panah menewaskan ulat tahun tersebut. Secara ajaib, bangkai ulat tahun itu musnah dan berubah menjadi seorang dewa bernama Batara Kalakeya. Ia sangat berterima kasih kepada Resi Srimadewa karena dibebaskan dari kutukan.

Resi Srimadewa bertanya mengapa Batara Kalakeya mengejar-ngejar Prasta. Batara Kalakeya pun bercerita mulai awal bahwa secara tak sengaja ia berbuat kesalahan di kahyangan sehingga mendapat kutukan dari sang ayah (Batara Kaloka) menjadi ulat tahun selumbung bandung. Ulat tahun lalu bertapa di sebuah jurang di Hutan Krendayana. Pada suatu hari seorang warga desa bernama Prasta lewat di dekat jurang itu sambil meratapi nasibnya yang dilanda kemiskinan dan kelaparan. Ulat tahun menghentikan langkah Prasta dan berjanji akan membantu masalahnya asalkan Prasta menyerahkan beberapa tongkol jagung yang ia bawa.

Prasta pun menyerahkan jagung-jagungnya kepada ulat tahun dengan perasaan takut. Si ulat tahun melahap jagung-jagung tersebut sampai habis lalu mengeluarkannya kembali melalui dubur dalam wujud permata yang diberi nama Mustika Boga. Permata itu diberikan kepada Prasta yang mana jika Prasta meminta makanan, maka apa yang ia minta akan langsung tersedia.

Prasta pun mencobanya. Ia meminta makanan kepada permata tersebut dan seketika terciptalah berbagai macam makanan di hadapannya. Ulat tahun pun mempersilakan Prasta pulang membawa Mustika Boga untuk menghidupi keluarganya. Akan tetapi, sebagai syaratnya, setiap tahun Prasta harus menyerahkan seekor kerbau kepada ulat tahun. Prasta mematuhi dan mohon pamit membawa permata ajaib tersebut.

Sesampainya di rumah, Prasta mencipta banyak makanan melalui Mustika Boga, membuat keluarganya terbebas dari kelaparan. Bahkan, dalam beberapa bulan saja Prasta sudah menjadi orang kaya di desanya, yaitu Desa Dyumna karena berdagang makanan. Sesuai perjanjian, pada tahun pertama Prasta pun datang ke Hutan Krendayana untuk menyerahkan seekor kerbau kepada ulat tahun, begitu pula dengan tahun kedua.

Akan tetapi, pada tahun ketiga Prasta tidak lagi menepati janji. Ulat tahun marah dan menyusul ke Desa Dyumna. Prasta pun menjelaskan bahwa ketidakhadirannya ialah karena dilarang oleh pemuka agama setempat yang bernama Danghyang Guntara. Menurut Danghyang Guntara, daripada kerbau itu diserahkan kepada ulat tahun, lebih baik diserahkan untuk kepentingan upacara agama, sehingga kehidupan Prasta akan lebih berkah.

Secara kebetulan, hari itu Danghyang Guntara datang ke rumah Prasta untuk meminta sumbangan upacara keagamaan. Ulat tahun pun menanggapi Danghyang Guntara sesungguhnya adalah pemuka agama yang munafik. Dia melarang Prasta menyerahkan kerbau ke Hutan Krendayana bukan karena tulus demi kebaikan, tetapi ingin memperalat Prasta supaya menjadi penyumbang kepentingan agamanya. Apabila ucapan ulat tahun benar, maka Danghyang Guntara pasti akan menerima balak seperti dirinya.

Ternyata ucapan ulat tahun terbukti benar. Tiba-tiba saja wujud Danghyang Guntara berubah menjadi seekor ulat pula, namun berukuran lebih kecil, yaitu sebesar bantal guling.

Prasta ketakutan melihat peristiwa itu dan buru-buru melarikan diri. Ulat tahun pun mengejar ke mana ia berlari. Kejar-kejaran di antara mereka pun berlangsung beberapa hari hingga akhirnya mereka bertemu Resi Srimadewa yang berhasil meruwat ulat tahun kembali menjadi Batara Kalakeya.

Kini Batara Kalakeya telah kembali ke wujud dewa dan ia berterima kasih atas bantuan Resi Srimadewa. Atas jasa tersebut, Batara Kalakeya mempersilakan Resi Srimadewa meminta hadiah. Seketika Resi Srimadewa pun teringat pada kedua anak Prabu Wasupati yang berbau amis dan kini tinggal di Desa Matsya. Ia lalu meminta supaya Batara Kalakeya menyembuhkan penyakit mereka berdua.

Batara Kalakeya bersedia mengabulkan permintaan tersebut, namun hanya Raden Durgandana saja yang dapat ia sembuhkan. Mengenai Dewi Durgandini kelak akan sembuh oleh Resi Parasara dari Gunung Saptaarga. Akan tetapi, kesembuhan mereka baru bisa terjadi setelah melewati usia dua puluh tahun, dan itu pun mereka harus bertapa lebih dulu. Batara Kalakeya menyarankan supaya Raden Durgandana bertapa ngidang di Hutan Krendayana, sedangkan Dewi Durgandini bertapa ngrame di Sungai Jamuna.

Batara Kalakeya lalu meminta tolong kepada Resi Srimadewa supaya membebaskan Danghyang Guntara dari kutukan. Setelah berpesan demikian, ia pun undur diri kembali ke kahyangan.

RESI SRIMADEWA MERUWAT DANGHYANG GUNTARA

Resi Srimadewa dan Prasta telah kembali ke Desa Dyumna dan menemukan ulat seukuran bantal guling penjelmaan Danghyang Guntara. Dengan kesaktiannya, Resi Srimadewa berhasil meruwat wujud Danghyang Guntara kembali menjadi manusia.

Resi Srimadewa lalu menasihati Danghyang Guntara agar menjadi pemuka agama yang baik dan benar, jangan suka menasihati umat tetapi tidak dapat menasihati diri sendiri, serta jangan pula memupuk kekayaan dengan cara menjual ajaran agama. Danghyang Guntara menyadari kesalahannya dan berjanji akan mematuhi segala nasihat Resi Srimadewa.

RESI SRIMADEWA MELAPOR KEPADA PRABU WASUPATI

Singkat cerita, Resi Srimadewa telah kembali ke istana Wirata dan melapor kepada Prabu Wasupati mengenai pesan Batara Kalakeya sebelum kembali ke kahyangan mengenai peruwatan untuk penyakit Dewi Durgandini dan Raden Durgandana.

Menurut pesan tersebut, kelak jika kedua putra Prabu Wasupati itu telah genap berusia dua puluh tahun, maka mereka harus mulai bertapa untuk mendapatkan kesembuhan. Dewi Durgandini hendaknya bertapa ngrame di Sungai Jamuna, sedangkan Raden Durgandana hendaknya bertapa ngidang di Hutan Krendayana. Kelak Batara Kalakeya akan turun dari kahyangan untuk mengobati Raden Durgandana, sedangkan Dewi Durgandini ditakdirkan sembuh oleh Resi Parasara dari Gunung Saptaarga.

Prabu Wasupati sangat gembira mendengar petunjuk dewa yang dibawa Resi Srimadewa. Ia menghitung saat ini putra dan putrinya yang dititipkan pada Kyai Dasa masih berusia dua belas tahun. Itu berarti masih delapan tahun lagi menjelang usia mereka genap mencapai dua puluh tahun untuk memulai pertapaan masing-masing.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya










Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Perang Wirata - Hastina

 No comments   

Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaan Wirata dipimpin Raden Basuketu sebagai wakil raja, datang serangan dari Prabu Pratipa raja Hastina. Dalam pertempuran itu Prabu Pratipa gugur, dan putra bungsunya yang bernama Raden Santanu dilantik sebagai raja Hastina yang baru.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra dan kitab Mahabharata karya Resi Wyasa dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 12 Juni 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Prabu Pratipa Dewamurti

PRABU BASUPARICARA MENINGGALKAN KERAJAAN WIRATA

Prabu Basuparicara di Kerajaan Wirata sedang berduka karena sang permaisuri, yaitu Dewi Yukti meninggal dunia setelah melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Wrehadrata. Ia sangat sedih karena dua kali menikah selalu saja kehilangan istri. Yang pertama adalah Dewi Subakti yang meninggal karena sakit, dan yang kedua adalah Dewi Yukti yang meninggal setelah melahirkan.

Pada suatu malam datang Batara Narada yang diutus Batara Guru untuk menyampaikan petunjuk bahwa Prabu Basuparicara harus pergi meninggalkan istana Wirata dan menjalani hidup sebagai petapa di hilir Sungai Jamuna. Dengan cara demikian, Prabu Basuparicara akan bertemu jodoh baru, yang kelak akan menurunkan raja-raja Tanah Jawa.

Setelah mendapatkan petunjuk demikian, Prabu Basuparicara pun menitipkan Kerajaan Wirata kepada adiknya, yaitu Raden Basuketu, kemudian ia berangkat meninggalkan istana menuju Sungai Jamuna.

RADEN BASUKETU MENDAPAT SURAT PANGGILAN DARI PRABU PRATIPA

Pada suatu hari, Raden Basuketu menerima kedatangan Patih Basusara dari Kerajaan Hastina (yang dulu bernama Kerajaan Gajahoya) yang menyampaikan surat dari rajanya, yaitu Prabu Pratipa. Melalui surat itu, Prabu Pratipa menyatakan dirinya kini merdeka dan memakai gelar baru, yaitu Prabu Dewamurti serta tidak lagi menjadi bawahan Kerajaan Wirata. Secara silsilah maupun secara usia, Prabu Dewamurti lebih tua daripada Prabu Basuparicara sehingga ia merasa berhak memanggil raja Wirata untuk datang menghadap kepadanya di Kerajaan Hastina.

Setelah membaca surat tersebut, Raden Basuketu berusaha menjawab dengan tenang bahwa saat ini Prabu Basuparicara sedang bepergian meninggalkan istana Wirata. Sebagai wakil raja, ia merasa tidak berwenang menanggapi panggilan Prabu Pratipa. Ia pun menulis surat balasan dan mempersilakan Patih Basusara kembali ke Kerajaan Hastina.

PRABU DEWAMURTI BERSIAP MENYERANG KERAJAAN WIRATA

Prabu Dewamurti di Kerajaan Hastina dihadap ketiga putranya yang bernama Raden Dewapi, Raden Bahlika, dan Raden Santanu. Hadir pula sang mertua, yaitu Prabu Bahlikasura raja Siwandapura beserta Patih Wikuntana. Prabu Bahlikasura datang untuk menanyakan niat Prabu Dewamurti yang kabarnya hendak menaklukkan Kerajaan Wirata. Jika benar demikian, ia bersedia membantu dengan segenap kemampuan.

Raden Dewapi, Raden Bahlika, dan Raden Santanu bertanya mengapa sang ayah bermusuhan dengan Kerajaan Wirata, padahal secara silisilah memiliki leluhur yang sama. Prabu Dewamurti pun bercerita bahwa pada mulanya Kerajaan Wirata dipimpin kakeknya, yaitu Prabu Basumurti. Setelah Prabu Basumurti meninggal, takhta seharusnya jatuh kepada putra tunggalnya, yaitu Prabu Hastimurti. Akan tetapi, Prabu Hastimurti sudah menjadi raja bawahan di Gajahoya, sehingga yang dilantik sebagai raja Wirata adalah Prabu Basukesti, adik Prabu Basumurti.

Setelah Prabu Hastimurti meninggal, takhta Gajahoya kemudian diwarisi Prabu Pratipa. Sementara itu, Prabu Basukesti mewariskan takhta Wirata kepada putranya, yaitu Prabu Basukiswara. Usia Prabu Pratipa lebih tua daripada Prabu Basukiswara, tetapi karena silsilah, ia harus memanggil “paman” kepadanya. Selain itu, Prabu Pratipa juga menyimpan dendam karena pamannya dari pihak ibu, yaitu Resi Basundara, pernah diusir oleh Prabu Basukiswara karena peristiwa hilangnya Dewi Yukti yang diculik pelangi jadi-jadian.

Prabu Pratipa lalu membangun istana baru di Hutan Kurujanggala yang lebih megah daripada Gajahoya. Istana baru itu diberi nama Hastina. Nama ini sengaja dipakai untuk mengenang ayahnya, yaitu Prabu Hastimurti. Sementara itu, yang menjadi raja Wirata saat ini adalah Raden Basuketi, putra sulung Prabu Basukiswara yang bergelar Prabu Basuparicara. Karena usia dan silsilah Prabu Pratipa lebih tua, maka ia tidak sudi menjadi bawahan Prabu Basuparicara dan menyatakan Hastina sebagai kerajaan merdeka. Ia pun mengganti gelarnya menjadi Prabu Dewamurti.

Setelah mendengar cerita tersebut, ketiga putra Prabu Dewamurti pun mengutarakan pendapat yang berbeda-beda. Raden Dewapi mendukung Kerajaan Hastina merdeka, tetapi tidak setuju jika ayahnya memerangi raja Wirata karena masih saudara. Raden Bahlika sepenuhnya mendukung Hastina merdeka sekaligus Wirata juga harus ditaklukkan. Sementara itu, Raden Santanu menyarankan agar ayahnya tetap menjaga perdamaian dengan pihak Wirata, dan tidak perlu memerdekakan diri. Raden Santanu juga mengingatkan tentang Resi Basundara yang telah meninggal dunia akibat terlalu memikirkan kemungkinan terjadinya perang saudara antara Wirata dan Hastina.

Prabu Dewamurti tersinggung mendengar pendapat putra bungsunya itu. Ia pun memarahi Raden Santanu habis-habisan. Pada saat itulah datang Patih Basusara yang menyampaikan surat balasan dari Kerajaan Wirata, bahwa saat ini Prabu Basuparicara sedang bepergian meninggalkan istana, sehingga wakilnya, yaitu Raden Basuketu tidak berani memenuhi panggilan Prabu Pratipa.

Prabu Dewamurti tersinggung membaca surat balasan tersebut, apalagi Raden Basuketu tidak mengakui gelar barunya. Kini tekadnya telah bulat untuk menyerang dan menaklukkan Kerajaan Wirata. Ia pun memerintahkan Patih Basusara untuk mengumpulkan seluruh pasukan Hastina yang ditambah dengan bala bantuan dari Kerajaan Siwandapura.

RADEN SANTANU MELAPORKAN AYAHNYA KEPADA PIHAK WIRATA

Sementara itu, Raden Basuketu di Kerajaan Wirata sedang berunding dengan Patih Wasita, Arya Manungkara, Arya Srimadewa, serta para punggawa lainnya. Mereka membicarakan tentang sikap Prabu Dewamurti yang menyatakan Kerajaan Hastina telah merdeka dan tidak mau lagi menjadi bawahan Wirata.

Tiba-tiba Raden Santanu datang menghadap dan melaporkan rencana ayahnya yang hendak menyerang Kerajaan Wirata dengan mengerahkan gabungan pasukan Hastina dan Siwandapura. Raden Basuketu terkejut sekaligus marah mendengar laporan ini. Ia pun berterima kasih kepada Raden Santanu dan segera menyebarkan surat kepada Kerajaan Mandraka dan Gandaradesa supaya mengirimkan bala bantuan untuk menghadapi serangan besar-besaran Prabu Dewamurti tersebut.

RESI MAHOSADA BERTAPA DI HILIR SUNGAI JAMUNA

Tersebutlah seorang petapa bernama Resi Mahosada yang sedang bersamadi di hilir Sungai Jamuna. Pada suatu hari ia didatangi pendeta bernama Resi Nirmalacipta dari Padepokan Giripurna. Resi Nirmalacipta ini mengaku telah kehilangan putrinya yang bernama Endang Adrika, yang jatuh tercebur di Sungai Jamuna kemudian hanyut terbawa arus. Menurut petunjuk Dewata, Resi Nirmalacipta harus meminta bantuan Resi Mahosada yang saat ini sedang bertapa di hilir Sungai Jamuna.

Resi Mahosada menyanggupi permintaan Resi Nirmalacipta tersebut. Ia lalu mengheningkan cipta memohon kekuatan dari Dewata untuk menemukan Endang Adrika. Secara ajaib, sepasang lengan Resi Mahosada bisa menjulur sangat panjang untuk digunakannya menyelami dan mengaduk-aduk Sungai Jamuna. Beberapa saat kemudian, kedua lengannya itu kembali ke ukuran semula sambil menggenggam seekor ikan emas betina.

Resi Mahosada lalu mengheningkan cipta meruwat ikan emas tersebut. Secara ajaib, wujud ikan itu berubah menjadi seorang perempuan cantik, yang tidak lain adalah Endang Adrika, putri Resi Nirmalacipta.

Resi Nirmalacipta sangat bahagia dan memeluk putrinya yang telah ditemukan tersebut. Endang Adrika pun bercerita bahwa ketika sedang mengambil air, kakinya terpeleset dan tubuhnya tercebur ke dalam Sungai Jamuna. Entah bagaimana, tiba-tiba saja wujudnya berubah menjadi seekor ikan emas betina. Kini, berkat bantuan Resi Mahosada, ia pun terbebas dari kutukan dan kembali lagi menjadi manusia.

Pada saat itulah datang Batara Narada yang menyampaikan perintah Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka supaya Resi Nirmalacipta menikahkan Endang Adrika dengan Resi Mahosada, yang tidak lain adalah penyamaran Prabu Basuparicara raja Wirata. Batara Narada berpesan pula bahwa dari perkawinan itu kelak akan lahir raja-raja Tanah Jawa.

Batara Narada kemudian menyampaikan petunjuk kedua, bahwa Kerajaan Wirata saat ini akan berperang dengan Kerajaan Hastina. Akan tetapi, Prabu Basuparicara tidak perlu khawatir karena Raden Basuketu mampu mengatasi masalah ini. Setelah dirasa cukup, Batara Narada pun undur diri kembali ke kahyangan.

Resi Nirmalacipta sangat berkenan menerima perintah Dewata. Ia pun mengundang Prabu Basuparicara singgah di Padepokan Giripurna. Prabu Basuparicara menolak secara halus karena saat ini ia harus segera kembali ke Kerajaan Wirata yang sedang dalam keadaan genting.

PRABU DEWAMURTI GUGUR DALAM PEPERANGAN

Sementara itu, Prabu Dewamurti yang memimpin langsung gabungan pasukan Hastina dan Siwandapura telah tiba di wilayah Kerajaan Wirata. Kedatangan mereka disambut oleh gabungan pasukan Wirata, Mandraka, dan Gandaradesa yang dipimpin langsung oleh Raden Basuketu.

Perang besar pun terjadi. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Setelah sehari penuh bertempur, Prabu Bahlikasura raja Siwandapura tewas di tangan Raden Basuketu yang bersenjatakan pedang Candrahasa, warisan Srimaharaja Purwacandra di zaman dulu.

Melihat mertuanya terbunuh, Prabu Dewamurti sangat murka dan menerjang Raden Basuketu. Pertarungan sengit terjadi antara mereka. Raden Basuketu yang lebih muda dan kalah pengalaman terdesak oleh kesaktian Prabu Dewamurti. Akan tetapi, kemenangan itu membuat Prabu Dewamurti lengah, sehingga lehernya pun putus terpenggal pedang Candrahasa di tangan Raden Basuketu.

Melihat ayah dan kakeknya tewas, Raden Bahlika bergegas melarikan diri bersama Patih Wikuntana menuju Kerajaan Siwandapura di tanah seberang, sedangkan Raden Dewapi dan Patih Basusara menyerahkan diri.

RADEN SANTANU DILANTIK MENJADI RAJA HASTINA

Prabu Basuparicara dan istri barunya, yaitu Endang Adrika, telah tiba di Kerajaan Wirata. Raden Basuketu menyambut kedatangan mereka dan melaporkan segala yang telah terjadi. Prabu Basuparicara sangat sedih mendengarnya, apalagi peristiwa itu harus berakhir dengan kematian Prabu Dewamurti yang masih kerabat sendiri.

Prabu Basuparicara lalu memanggil dua putra mendiang Prabu Dewamurti yang tersisa, yaitu Raden Dewapi dan Raden Santanu untuk menentukan siapa di antara mereka yang harus mewarisi Kerajaan Hastina. Sebagai putra sulung, tentunya Raden Dewapi lebih berhak atas takhta ayahnya. Akan tetapi, Raden Santanu memberi tahu Prabu Basuparicara bahwa kakaknya itu menderita penyakit kulit yang kadang-kadang kambuh dan bisa menular. Seorang raja yang memiliki penyakit seperti ini tentunya akan sangat berbahaya dan bisa kehilangan wibawa di mata rakyat.

Raden Dewapi tersinggung mendengar ucapan adiknya. Ia mengakui bahwa dirinya memang memiliki penyakit kulit yang kadang-kadang kambuh. Akan tetapi, cara bicara Raden Santanu sangat menyakitkan hati. Ditambah lagi perbuatan Raden Santanu yang telah mengkhianati ayah sendiri, jelas ini sangat durhaka. Raden Dewapi pun merelakan takhta Kerajaan Hastina diwarisi Raden Santanu, namun ia juga mengutuk adiknya itu kelak hanya akan memiliki anak saja, tanpa memiliki cucu, sehingga takhta akan jatuh ke tangan orang luar. Setelah mengucapkan kutukan tersebut, Raden Dewapi bergegas pergi meninggalkan istana Wirata untuk bertapa di dalam hutan.

Raden Santanu sangat prihatin dan ia pun menjelaskan kepada Prabu Basuparicara bahwa dirinya sama sekali tidak ada niat durhaka kepada orang tua. Tujuannya melapor ke Wirata adalah untuk menyadarkan ayahnya agar jangan memberontak. Tak disangka, sang ayah justru terbunuh dalam pertempuran tersebut.

Prabu Basuparicara memercayai penuturan Raden Santanu. Ia lalu mengangkat putra bungsu mendiang Prabu Dewamurti itu sebagai raja Hastina, bergelar Prabu Santanu, atau lengkapnya Prabu Santanumurti. Adapun jabatan menteri utama tetap dipegang oleh Patih Basusara.

Prabu Basuparicara sangat menyesali kematian Prabu Pratipa Dewamurti yang seharusnya tidak perlu terjadi. Hanya karena berebut wibawa dan kuasa, mengapa sesama saudara harus saling membunuh? Untuk itu, Prabu Basuparicara pun menyatakan mulai hari ini Kerajaan Hastina tidak lagi menjadi bawahan Kerajaan Wirata, dan Prabu Santanu dianggap sebagai sekutu yang sederajat. Prabu Santanu sangat berterima kasih atas kepercayaan ini. Meskipun telah merdeka, ia menyatakan tetap menganggap raja Wirata sebagai sesepuh yang akan selalu dihormati layaknya pengganti orang tua.

Sementara itu, Prabu Basuparicara yang pernah mendapatkan pengalaman ajaib yaitu berlengan sangat panjang, kini mendapatkan gelar baru pula, yaitu Prabu Dirgabahu.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya













Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Basukiswara Seda

 No comments   

Kisah ini menceritakan perkawinan Raden Basuketu dengan Dewi Walibrata, putri Arya Manungkara. Kisah dilanjutkan dengan kematian Prabu Basukiswara akibat digigit ular besar penjelmaan Prabu Nagajaya dari Kerajaan Kopara. Sepeninggal Prabu Basukiswara, Raden Basuketi dilantik menjadi raja Wirata yang baru, bergelar Prabu Basuparicara.

Kisah ini saya olah dari sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra dengan sejumlah pengembangan.


Kediri, 10 Juni 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

PRABU BASUKISWARA HENDAK MENIKAHKAN RADEN BASUKETU

Prabu Basukiswara di Kerajaan Wirata dihadap Patih Wasita, Arya Srimadewa, Raden Basuketi, Raden Basuketu, dan para punggawa lainnya. Mereka sedang membicarakan rencana pernikahan antara Raden Basuketu dengan Dewi Walibrata, putri Arya Manungkara.

Pada saat itulah tiba-tiba Arya Manungkara datang menghadap dan melaporkan bahwa putrinya telah hilang diculik orang. Anehnya, si penculik sengaja meninggalkan surat tantangan bahwa Dewi Walibrata saat ini disekap di Hutan Keling dan akan dikembalikan apabila Arya Manungkara menyerahkan nyawanya sebagai tebusan. Surat tantangan tersebut ditandatangani oleh seseorang bernama Prabu Nagajaya dari Kerajaan Kopara yang ingin membalas dendam atas kematian Prabu Agniyara tempo hari.

Arya Manungkara mohon pamit untuk berangkat memenuhi tantangan tersebut. Namun, Prabu Basukiswara melarangnya karena ia harus mempersiapkan segala keperluan upacara pernikahan. Raden Basuketu pun mengajukan diri untuk mencari calon istrinya yang hilang itu, namun ia juga dilarang untuk berangkat. Karena Hutan Keling masuk wilayah Kerajaan Mandraka, maka Prabu Basukiswara mengirimkan surat perintah kepada Prabu Mandrakusuma untuk menangkap dan menghukum Prabu Nagajaya.

Setelah dirasa cukup, Prabu Basukiswara pun membubarkan pertemuan. Raden Basuketi lalu berangkat ke Kerajaan Mandraka untuk menyampaikan surat perintah ayahnya kepada Prabu Mandrakusuma agar segera menumpas Prabu Nagajaya dan membebaskan Dewi Walibrata.

PRABU MANDRAKUSUMA MENERIMA PERINTAH ATASAN

Raden Basuketi telah sampai di Kerajaan Mandaraka dan disambut ramah oleh Prabu Mandrakusuma, Resi Srimanasa, dan Patih Artadriya. Ia menceritakan peristiwa penculikan Dewi Walibrata putri Arya Manungkara, di mana si pelaku meninggalkan surat tantangan dengan mengaku bernama Prabu Nagajaya yang ingin membalas dendam atas kematian Prabu Agniyara.

Prabu Mandrakusuma sangat kesal mendengar berita itu karena Hutan Keling masuk ke dalam wiayah Kerajaan Mandraka yang ia pimpin. Sebagai raja bawahan, ia menyatakan bersedia melaksanakan tugas dari Prabu Basukiswara. Bersama Patih Artadriya, ia pun berangkat menyerbu Hutan Keling dengan membawa pasukan secukupnya. Raden Basuketi merasa penasaran. Ia tidak ingin duduk menunggu di istana Mandraka, tetapi ikut serta dalam rombongan tersebut menuju Hutan Keling.

USAHA MEMBEBASKAN DEWI WALIBRATA

Prabu Mandrakusuma, Raden Basuketi, dan Patih Artadriya beserta pasukan Mandraka telah memasuki Hutan Keling. Di sana mereka disambut pasukan raksasa dari Kerajaan Kopara yang dipimpin langsung oleh Prabu Nagajaya. Di antara para raksasa itu tampak Patih Kalabikswa yang dulu merupakan abdi Prabu Agniyara di Kerajaan Indrapura.

Rupanya setelah Prabu Agniyara tewas, Patih Kalabikswa melarikan diri dan bergabung dengan Prabu Nagajaya di Kerajaan Kopara. Adapun Prabu Nagajaya adalah saudara seperguruan Prabu Agniyara. Begitu mendengar saudaranya tewas, Prabu Nagajaya sangat marah dan berniat membalas dendam. Ia mendengar Prabu Basukiswara hendak menikahkan putra bungsunya, yaitu Raden Basuketu dengan Dewi Walibrata putri Arya Manungkara. Maka, untuk mengacaukan hajatan tersebut sekaligus membalas dendam, Prabu Nagajaya pun menculik Dewi Walibrata dan membawanya ke Hutan Keling.

Kini Prabu Mandrakumara dan Raden Basuketi telah datang menyerbu untuk membebaskan Dewi Walibrata. Mereka pun disambut amukan para raksasa gabungan dari Kerajaan Kopara dan Indrapura. Pertempuran sengit pun terjadi di hutan itu. Prabu Nagajaya sendiri turun tangan menghadapi Raden Basuketi dan Prabu Mandrakumara. Pasukan Mandraka yang berjumlah lebih sedikit tampak mulai kewalahan menghadapi para raksasa tersebut.

Pada saat itulah tiba-tiba datang Raden Basuketu dan Patih Wasita membawa pasukan Wirata yang segera menggabungkan diri dengan pihak Mandraka. Keadaan pun berubah telak. Pihak raksasa kini ganti menjadi pihak yang terdesak. Banyak dari mereka yang tewas berguguran dan kabur tak tentu arah. Prabu Nagajaya sendiri terluka namun berhasil melarikan diri.

Raden Basuketu lalu membebaskan Dewi Walibrata yang disekap di dalam sebuah gua kecil. Raden Basuketi bertanya mengapa adiknya itu melanggar larangan sang ayah untuk tidak ikut pergi ke Hutan Keling. Raden Basuketu menjawab bahwa ia merasa tidak enak hati sebagai calon suami Dewi Walibrata tetapi tidak berbuat apa-apa saat calon istrinya diculik orang. Maka, ia pun nekat meloloskan diri dari istana untuk kemudian bergabung menghadapi Prabu Nagajaya. Untungnya, Patih Wasita yang banyak pengalaman bersedia menemani keberangkatannya.

Raden Basuketi memaklumi perasaan adiknya. Ia lalu mengajak Raden Basuketu dan Dewi Walibrata kembali ke Kerajaan Wirata, sekaligus Prabu Mandrakusuma dan Patih Artadriya juga ikut serta.

PERNIKAHAN RADEN BASUKETU DAN DEWI WALIBRATA

Prabu Basukiswara dan Arya Manungkara menyambut kedatangan rombongan Raden Basuketi yang telah berhasil membebaskan Dewi Walibrata. Prabu Basukiswara sempat marah-marah kepada Raden Basuketu yang berani melanggar larangannya untuk tidak ikut pergi ke Hutan Keling. Untunglah segalanya kini telah berlalu, dan semua kini baik-baik saja.

Maka, pada hari yang ditentukan, Raden Basuketu dan Dewi Walibrata pun dinikahkan di istana Wirata. Hadir pula para raja bawahan Prabu Basukiswara, antara lain Prabu Mandrakusuma raja Mandraka, Prabu Maneriya raja Gandaradesa, Prabu Maheswara raja Medang Kamulan, Prabu Danadewa raja Gilingwesi, dan Prabu Rambana raja Pringgadani.

PRABU BASUKISWARA BERBURU DI HUTAN PANDEKI

Setelah acara pernikahan putra keduanya selesai, Prabu Basukiswara mengumpulkan segenap raja bawahan. Di antara mereka ada satu orang yang tidak hadir, yaitu Prabu Pratipa dari Gajahoya. Sejak peristiwa perang antara Kerajaan Wirata melawan Siwandapura belasan tahun silam, Prabu Pratipa tidak pernah lagi datang menghadap ke Wirata. Sepertinya ia mewarisi sakit hati ayahnya (Prabu Hastimurti) yang merasa lebih berhak atas takhta Kerajaan Wirata daripada Prabu Basukesti (ayah Prabu Basukiswara). Bahkan, saat ini terdengar pula kabar bahwa Prabu Pratipa sedang membangun istana baru di Hutan Kurujanggala yang lebih besar dan lebih megah daripada Gajahoya. Istana baru itu diberi nama Hastina, yang diambil dari nama mendiang ayahnya, yaitu Prabu Hastimurti.

Patih Wasita menawarkan diri untuk menyampaikan surat teguran kepada Prabu Pratipa, namun hal itu tidak disetujui Prabu Basukiswara. Sepertinya dalam hati Prabu Basukiswara ada perasaan segan kepada Prabu Pratipa. Meskipun secara silsilah Prabu Basukiswara terhitung paman, tetapi secara usia ia lebih muda daripada Prabu Pratipa.

Prabu Basukiswara lalu mengajak para raja bawahan untuk bertamasya dan berburu di Hutan Pandeki. Prabu Maneriya, Prabu Mandrakumara, Prabu Maheswara, Prabu Danadewa, dan Prabu Rambana mematuhi dan segera mempersiapkan segala keperluan masing-masing. Mereka lalu bersama-sama mendampingi sang raja Wirata menuju ke hutan perburuan.

Sesampainya di Hutan Pandeki, Prabu Basukiswara dan para raja bawahan segera memburu kijang, babi hutan, banteng, dan sebagainya. Tiba-tiba muncul seekor ular besar yang langsung menerjang dan menggigit bahu Prabu Basukiswara hingga raja Wirata itu terjatuh dari kudanya. Prabu Maneriya segera memanah ular tersebut. Seketika ular besar itu pun berubah wujud menjadi Prabu Nagajaya yang langsung menyerang Prabu Maneriya.

Patih Kalabikswa juga muncul dari persembunyian untuk membantu Prabu Nagajaya. Terjadilah pertempuran sengit di antara mereka. Prabu Rambana datang dan segera membantu Prabu Maneriya. Setelah bertempur cukup lama, Prabu Maneriya akhirnya berhasil membunuh Prabu Nagajaya, sedangkan Prabu Rambana berhasil membunuh Patih Kalabikswa.

Sementara itu, Prabu Mandrakusuma, Prabu Danadewa, dan Prabu Maheswara berusaha menolong Prabu Basukiswara yang semakin lemah akibat gigitan Prabu Nagajaya tadi. Mereka lalu bersama-sama membawa Prabu Basukiswara pulang ke istana Wirata.

PRABU BASUKISWARA MENINGGAL DUNIA

Sesampainya di istana, segenap anggota keluarga Kerajaan Wirata bersedih dan menangisi keadaan Prabu Basukiswara yang semakin parah. Para tabib berusaha memberikan pengobatan, namun racun yang disemburkan ular penjelmaan Prabu Nagajaya tadi telah menjalar ke seluruh tubuh. Dengan sisa-sisa tenaga, Prabu Basukiswara pun menyampaikan wasiat bahwa sepeninggal dirinya, hendaknya Raden Basuketi dilantik menjadi raja Wirata yang baru.

Demikianlah, setelah mewariskan takhta kepada putra sulungnya, Prabu Basukiswara akhirnya meninggal dunia. Setelah masa berkabung usai, Raden Basuketi dilantik menjadi raja Wirata yang baru menggantikan sang ayah, dengan bergelar Prabu Basuparicara.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya













Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Basuketi Krama

 No comments   


Kisah ini menceritakan perkawinan kedua Raden Basuketi yang kelak bergelar Prabu Basuparicara, dengan Dewi Yukti, putri Resi Basundara. Perkawinan ini sempat terkendala karena Dewi Yukti hilang diculik Prabu Agniyara yang menyamar sebagai pelangi.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita dengan sejumlah pengembangan.

Kediri, 05 Juni 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------



PRABU BASUKISWARA HENDAK BERBESAN DENGAN RESI BASUNDARA

Prabu Basukiswara di Kerajaan Wirata bersama Patih Wasita, Arya Srimadewa, dan Arya Manungkara sedang membicarakan surat lamaran yang telah dikirim kepada Resi Basundara di Kerajaan Gajahoya. Dalam surat itu, Prabu Basukiswara bermaksud menikahkan sang putra mahkota, yaitu Raden Basuketi dengan putri Resi Basundara yang bernama Dewi Yukti. Perkawinan ini akan menjadi perkawinan kedua bagi Raden Basuketi setelah istri pertamanya, yaitu Dewi Subakti putri Arya Manungkara meninggal dunia karena sakit panas.

Ketika mereka sedang sibuk membahas rencana pernikahan tersebut, tiba-tiba datang Resi Basundara membawa kabar bahwa Dewi Yukti telah hilang tanpa diketahui keberadaannya. Awal mulanya ialah Dewi Yukti tertarik melihat pelangi di angkasa dan tanpa sadar kakinya pun berjalan ke arah ujung pelangi tersebut berada. Tak disangka, pelangi itu tiba-tiba hidup dan kemudian merenggut tubuh Dewi Yukti serta membawanya kabur. Resi Basundara sudah berusaha mencari ke mana-mana namun tidak juga berhasil menemukan keberadaan putrinya tersebut.

Prabu Basukiswara sangat marah mendengar berita ini. Ia menuduh Resi Basundara sengaja mengarang cerita khayal tentang pelangi yang bisa menculik manusia segala, padahal yang sebenarnya adalah Resi Basundara tidak setuju menikahkan Dewi Yukti dengan Raden Basuketi. Prabu Basukiswara heran mengapa Resi Basundara menolak lamarannya, padahal pernikahan ini bisa mendekatkan hubungan kekeluargaan antara sesama keturunan Prabu Basupati (raja Wirata kedua). Lagipula, Raden Basuketi adalah putra mahkota yang kelak menjadi raja. Itu berarti, Dewi Yukti dengan sendirinya akan menjadi calon permaisuri pula.

Resi Basundara bersumpah bahwa apa yang ia ceritakan adalah benar, dan sama sekali bukan dusta yang dibuat-buat. Namun, Prabu Basukiswara sudah terlanjur marah. Ia mengusir Resi Basundara dan melarangnya pulang ke Kerajaan Gajahoya. Bagaimanapun juga, Gajahoya adalah negeri bawahan Kerajaan Wirata, sehingga Prabu Basukiswara merasa berhak melarang Resi Basundara pulang ke sana.

Setelah Resi Basundara pergi, Prabu Basukiswara memanggil Raden Basuketi supaya menghadap. Kepada putra sulungnya itu, ia menceritakan bahwa Dewi Yukti hilang diculik pelangi. Cerita ini jelas khayal dan mengada-ada. Untuk itu, Raden Basuketi dipersilakan memilih calon istri yang lain saja.

Akan tetapi, Raden Basuketi menolak saran sang ayah. Ia yakin calon mertuanya, yaitu Resi Basundara tidak mengarang cerita. Untuk itu, Raden Basuketi berniat mencari ke mana hilangnya Dewi Yukti dan ia bertekad tidak akan menikah dengan perempuan lain. Prabu Basukiswara kembali marah dan menuduh Raden Basuketi kurang ajar berani membantah orang tua. Ia pun mengusir putra sulungnya itu pergi dari istana.

Patih Wasita, Resi Srimadewa, dan Arya Manungkara berusaha menyabarkan hati Prabu Basukiswara. Berangsur-angsur kemarahan Prabu Basukiswara mereda. Ia lalu memerintahkan Arya Manungkara untuk menyusul Raden Basuketi dan mengajaknya kembali ke istana. Arya Manungkara segera mohon pamit melaksanakan tugas, dan Prabu Basukiswara pun membubarkan pertemuan.

RADEN BASUKETI DIHADANG PARA RAKSASA

Raden Basuketi telah cukup jauh berjalan meninggalkan ibu kota Wirata. Di tengah jalan ia bertemu barisan pasukan raksasa dari Kerajaan Indrapura yang dipimpin Patih Kalabikswa. Para raksasa itu sedang mencari raja mereka yang menghilang dari istana, yaitu Prabu Agniyara.

Patih Kalabikswa menghentikan perjalanan Raden Basuketi dan bertanya dengan kasar apakah pernah bertemu Prabu Agniyara. Raden Basuketi tersinggung atas sikap kasar para raksasa itu dan ia pun menjawab dengan seenaknya. Patih Kalabikswa marah dan mengerahkan pasukannya untuk menyerang Raden Basuketi.

Terjadilah pertarungan yang tidak seimbang, di mana Raden Basuketi seorang diri harus menghadapi para raksasa sebanyak itu. Ketika ia mulai terdesak dan hampir saja mati di tangan Patih Kalabikswa, tiba-tiba muncul sang paman, yaitu Arya Manungkara yang langsung membantunya menghadapi musuh. Dengan menggunakan pusaka Permata Manikhara, Arya Manungkara berhasil mengubah beberapa raksasa menjadi arca batu, membuat Patih Kalabikswa merasa ngeri dan mengajak pasukannya kabur meninggalkan tempat itu.

Arya Manungkara lalu menyampaikan perintah Prabu Basukiswara supaya Raden Basuketi pulang ke istana. Raden Basuketi menolak karena ia sudah bertekad bulat untuk bisa menemukan Dewi Yukti, calon istrinya. Arya Manungkara tidak mampu membujuk keponakannya itu, dan di sisi lain juga tidak tega membiarkannya pergi sendiri. Seketika ia pun teringat semasa muda dulu dirinya juga pernah berkelana mencari hilangnya Dewi Basutari (saudara perempuan Prabu Basukiswara) yang diculik Gandarwa Janjatma dan kini menjadi istrinya. Terkenang pada pengalaman sendiri, membuat Arya Manungkara berjanji akan menemani Raden Basuketi pergi mencari Dewi Yukti.

Raden Basuketi sangat berterima kasih atas kesediaan sang paman. Mereka lalu bersama-sama melanjutkan perjalanan mencari keberadaan putri Resi Basundara tersebut.

RADEN BASUKETI MENDAPAT PETUNJUK DEWA

Raden Basuketi dan Arya Manungkara berjalan melewati lembah pegunungan dan pedesaan. Pada saat singgah di Desa Wasutira, mereka berjumpa Batara Sungkara yang dulu pernah diruwat Raden Basuketi dari wujud celeng menjadi seorang dewa. Raden Basuketi sangat gembira bertemu sahabatnya itu dan memperkenalkannya kepada Arya Manungkara.

Batara Sungkara sengaja turun dari kahyangan untuk memberikan petunjuk kepada Raden Basuketi tentang keberadaan Dewi Yukti. Ia menjelaskan bahwa pelangi yang menculik Dewi Yukti adalah penjelmaan Prabu Agniyara, raja raksasa dari Kerajaan Indrapura yang ingin membalas dendam atas kematian putra dan putrinya, yaitu Ditya Lagna dan Dewi Lagni. Beberapa waktu yang lalu, Ditya Lagna dan Dewi Lagni tewas di tangan Raden Basuketi dan Batara Sungkara. Kini, ayah mereka yaitu Prabu Agniyara ingin membalas dendam dengan cara menculik calon istri Raden Basuketi.

Batara Sungkara pun memberikan petunjuk bahwa Dewi Yukti saat ini disembunyikan oleh Prabu Agniyara di Hutan Magada. Ia menawarkan diri untuk membantu, namun Raden Basuketi menolak dengan halus. Ia merasa ini adalah urusan pribadi antara dirinya dengan Prabu Agniyara, sedangkan Batara Sungkara sudah banyak membantu saat menghadapi Ditya Lagna dan Dewi Lagni dulu.

Setelah dirasa cukup, Batara Sungkara pun terbang kembali ke kahyangan, sedangkan Raden Basuketi dan Arya Manungkara mengucapkan terima kasih lalu melanjutkan perjalanan.

RADEN BASUKETI MENEMUKAN DEWI YUKTI

Raden Basuketi dan Arya Manungkara telah sampai di Hutan Magada. Setelah menyusuri hutan tersebut cukup lama, mereka akhirnya melihat Dewi Yukti sedang bersamadi di atas batu, sedangkan Prabu Agniyara berusaha menyerangnya. Pada awalnya Prabu Agniyara hanya ingin menggagalkan perkawinan Raden Basuketi. Namun, lama-lama ia tergoda melihat kecantikan Dewi Yukti dan kini berniat untuk memerkosanya. Akan tetapi, Dewi Yukti bersamadi dengan sangat hening hingga tubuhnya memancarkan hawa gaib yang berguna sebagai pagar, membuat Prabu Agniyara tidak bisa mewujudkan niat jahatnya.

Raden Basuketi terkesan melihat kegigihan Dewi Yukti. Ia pun maju menyerang Prabu Agniyara. Terjadilah pertarungan di antara mereka. Selang agak lama, Arya Manungkara melihat keponakannya mulai terdesak. Ia lalu meminjamkan pusaka Sela Mertyujiwa kepada Raden Basuketi. Dengan menggunakan batu ajaib tersebut, Raden Basuketi berhasil melukai Prabu Agniyara yang kemudian melarikan diri meninggalkan Hutan Magada.

Raden Basuketi membangunkan Dewi Yukti dari samadinya. Dewi Yukti sangat berterima kasih telah dibebaskan dari sekapan Prabu Agniyara. Raden Basuketi dan Arya Manungkara lalu mengantarkan gadis itu kembali kepada ayahnya.

DEWI YUKTI BERTEMU AYAHNYA

Sementara itu, Resi Basundara yang telah diusir Prabu Basukiswara dan dilarang pulang ke Kerajaan Gajahoya, kini tinggal seorang diri di tepi Hutan Pancala. Prabu Pratipa (keponakannya) dan Patih Basusara (putranya) datang berkunjung dari Gajahoya. Prabu Pratipa sangat kesal atas sikap Prabu Basukiswara yang sewenang-wenang menghukum Resi Basundara melebihi kesalahannya. Bagi Prabu Pratipa, hukuman buang adalah hukuman yang lebih hina daripada kematian.

Prabu Pratipa lantas mengajak Resi Basundara pulang ke Gajahoya dan tidak perlu lagi menghiraukan perintah Prabu Basukiswara. Apabila nanti Prabu Basukiswara marah dan menyerang Kerajaan Gajahoya, maka Prabu Pratipa siap menghadapi dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, Resi Basundara menolak ajakan keponakannya itu. Ia tetap yakin pada keadilan Yang Mahakuasa, bahwa suatu saat nanti Prabu Basukiswara akan menyadari kekeliruannya.

Pada saat itulah Dewi Yukti datang bersama Raden Basuketi dan Arya Manungkara. Resi Basundara sangat bahagia melihat putrinya telah kembali. Ia lalu mengajak Dewi Yukti dan Raden Basuketi melapor kepada Prabu Basukiswara di Kerajaan Wirata. Sementara itu, Prabu Pratipa dan Patih Basusara pulang ke Gajahoya dengan memendam perasaan kesal.

PRABU BASUKISWARA MEMINTA MAAF KEPADA RESI BASUNDARA

Prabu Basukiswara di Kerajaan Wirata menerima kedatangan Raden Basuketi, Arya Manungkara, beserta Resi Basundara dan Dewi Yukti. Arya Manungkara melaporkan apa yang telah disaksikannya dan ia berani menjamin bahwa Resi Basundara sama sekali tidak berbohong tentang hilangnya Dewi Yukti yang diculik pelangi. Arya Manungkara pun menjelaskan bahwa pelangi itu adalah penjelmaan Prabu Agniyara dari Kerajaan Indrapura.

Prabu Basukiswara menyadari kekeliruannya dan segera meminta maaf kepada Resi Basundara dengan disaksikan seluruh hadirin. Resi Basundara sangat terharu dan menerima permintaan maaf calon besannya itu. Mereka lalu bermusyawarah untuk menentukan hari pernikahan antara Raden Basuketi dan Dewi Yukti.

KEMATIAN PRABU AGNIYARA

Pada hari yang ditentukan diadakanlah upacara pernikahan antara Raden Basuketi dan Dewi Yukti. Setelah pesta berakhir, tiba-tiba Kerajaan Wirata diserang pasukan raksasa dari Kerajaan Indrapura yang dipimpin langsung oleh Prabu Agniyara. Tujuan serangan ini adalah untuk merebut Dewi Yukti, sekaligus menaklukkan Kerajaan Wirata serta membalas kematian Ditya Lagna dan Dewi Lagni.

Arya Manungkara selaku panglima angkatan perang Wirata segera memimpin pasukan menghadapi serangan tersebut. Pertempuran sengit pun terjadi. Prabu Agniyara sangat pandai mengubah wujud menjadi bermacam-macam bentuk. Namun, ilmu sihirnya itu tidak mampu menandingi kesaktian Arya Manungkara. Raja Raksasa tersebut akhirnya gugur dengan kepala pecah dihantam pusaka Sela Mertyujiwa. Sementara itu, Patih Kalabikswa juga tewas di tangan Arya Srimadewa.

Prabu Basukiswara sangat berterima kasih atas jasa-jasa Arya Manungkara yang telah menemani petualangan Raden Basuketi, dan kini menghancurkan serangan musuh. Sebagai balas jasa sekaligus mempererat persaudaraan, Prabu Basukiswara kembali mengajak Arya Manungkara berbesan untuk yang kedua kalinya. Kali ini ia ingin menjodohkan putra bungsunya, yaitu Raden Basuketu dengan putri bungsu Arya Manungkara yang bernama Dewi Walibrata. Arya Manungkara pun menerima lamaran tersebut dengan senang hati.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya












Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ▼  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ▼  June (4)
      • Durgandini - Durgandana Lahir
      • Perang Wirata - Hastina
      • Basukiswara Seda
      • Basuketi Krama
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja