Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Wisanggeni Lahir

 No comments   



Kisah ini menceritakan kelahiran Bambang Wisanggeni, yaitu putra Raden Arjuna yang lahir dari Batari Dresanala, putri Batara Brahma. Bambang Wisanggeni ini adalah putra Pandawa yang sangat istimewa, tidak terkalahkan karena adakalanya menjadi tempat Sanghyang Padawenang bersemayam.

Kisah ini saya olah dan saya kembangkan dari dongeng bapak yang saya padukan dengan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Anom Suroto, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 13 Desember 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

Bambang Wisanggeni.

------------------------------ ooo ------------------------------

BATARA BRAHMA TELAH MENGAMBIL RADEN ARJUNA SEBAGAI MENANTU

Di Kahyangan Jonggringsalaka, Batara Guru sedang memimpin pertemuan para dewa yang dihadiri Batara Narada, Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Bayu, Batara Indra, dan Batara Panyarikan. Dalam pertemuan itu Batara Guru bertanya kepada Batara Brahma mengapa cukup lama tidak datang menghadap. Batara Brahma menjelaskan bahwa ia baru saja menikahkan putrinya yang bernama Batari Dresanala dengan Pandawa nomor tiga, yaitu Raden Arjuna.

Batara Guru bertanya bagaimana ceritanya Raden Arjuna bisa menikah dengan bidadari. Jasa apa yang telah ia perbuat sehingga bisa menjadi suami Batari Dresanala. Batara Brahma pun bercerita, awalnya ia mempunyai murid bernama Prabu Setaketu dari Kerajaan Selapura. Prabu Setaketu ini dari luar tampak sangat berbakti dan mematuhi segala petunjuk yang diberikan Batara Brahma, namun di dalam hati menyimpan maksud lain. Hingga pada suatu hari Prabu Setaketu menunjukkan watak aslinya. Ia berkhianat menjebak Batara Brahma masuk ke dalam perangkapnya. Rupanya Prabu Setaketu adalah pemuja Batara Kala yang ingin menyenangkan dewa sesembahannya itu. Batara Brahma sendiri berhasil meloloskan diri namun kesaktiannya banyak berkurang karena perangkap Prabu Setaketu. Dalam pelariannya itu, Batara Brahma bertemu Raden Arjuna yang sedang berkelana. Ia pun meminta bantuan Pandawa nomor tiga tersebut untuk menghadapi Prabu Setaketu.

Raden Arjuna menyanggupi. Ia lalu menghadang Prabu Setaketu yang datang mengejar Batara Brahma. Mereka berdua lalu bertarung sengit. Setelah lama bertanding, Raden Arjuna berhasil menewaskan Prabu Setaketu. Batara Brahma sangat berterima kasih. Sebagai ungkapan syukur, ia pun menikahkan Raden Arjuna dengan putrinya yang bernama Batari Dresanala. Demikianlah kisahnya mengapa Batara Brahma lama tidak menghadap ke Kahyangan Jonggringsalaka. Batara Guru memaklumi dan ia pun merestui perkawinan Raden Arjuna dengan Batari Dresanala, semoga kelak mendapat keturunan manusia utama yang memiliki kesaktian istimewa.

Batara Guru.

BATARI DURGA MELAMAR BATARI DRESANALA UNTUK PRABU DEWASRANI

Ketika para dewa sedang mengucapkan selamat kepada Batara Brahma yang mendapatkan menantu baru, tiba-tiba Batari Durga datang bersama putranya yang bernama Prabu Dewasrani, raja Tunggulmalaya. Batari Durga datang menghadap Batara Guru untuk menyampaikan maksud Prabu Dewasrani yang ingin menikah dengan Batari Dresanala. Untuk itu, ia pun memohon kepada Batara Guru agar merestui perjodohan mereka.

Batara Guru berkata bahwa keinginan Prabu Dewasrani tersebut sudah terlambat karena Batari Dresanala telah menikah dengan Panengah Pandawa, yaitu Raden Arjuna. Untuk itu, ia menyarankan agar Prabu Dewasrani memilih bidadari yang lain saja sebagai istri. Prabu Dewasrani menolak karena ia sudah terlanjur jatuh cinta kepada Batari Dresanala dan tidak bersedia jika diganti dengan bidadari lainnya.

Batari Durga pun membela putranya. Ia bertanya mengapa Batara Guru lebih mendukung Raden Arjuna yang bukan siapa-siapa, dan mengorbankan keinginan putra sendiri. Batari Durga mengingatkan suaminya itu adalah raja para dewa, tentunya memiliki kuasa tanpa batas. Batara Guru bahkan berhak untuk menceraikan Batari Dresanala dengan Raden Arjuna, lalu menikahkannya dengan Prabu Dewasrani.

Batara Narada menyela ikut bicara. Ia mengingatkan bahwa memisahkan dua orang yang sudah menikah bukanlah perbuatan terpuji. Batara Guru adalah raja para dewa, tentunya harus tetap berbuat adil dan bijaksana, bukan justru berbuat seenaknya. Batari Dresanala sudah menikah dengan Raden Arjuna, dan mereka tidak boleh dipisahkan begitu saja.

Batari Durga memotong pembicaraan Batara Narada dan ia semakin gencar merayu Batara Guru. Sambil menangis-nangis ia berkata bahwa Batara Guru sudah melupakan kewajiban sebagai ayah. Sejak kecil Prabu Dewasrani berada dalam asuhan Batari Durga tanpa sekali pun Batara Guru menjenguk atau menujukkan tanggung jawabnya sebagai ayah. Dalam hal ini Batari Durga tidak menyesal. Yang ia sesali hanyalah Batara Guru rela melihat anaknya patah hati padahal bisa memberikan bantuan dengan mengandalkan kekuasaannya.

Bujuk rayu Batari Durga telah menyentuh perasaan Batara Guru. Ia pun memutuskan akan membantu Prabu Dewasrani mendapatkan Batari Dresanala. Batara Brahma lalu diperintah untuk menceraikan Batari Dresanala dengan Raden Arjuna. Apabila Batari Dresanala sudah terlanjur mengandung, maka janin dalam rahimnya harus digugurkan.

Batara Brahma terkejut mendengar perintah itu. Ia pun memohon agar Batara Guru tidak memberikan tugas berat seperti ini. Namun, Batara Guru justru marah karena tugas ringan seperti itu disebut berat. Ia sudah membulatkan tekad untuk mengabulkan keinginan Prabu Dewasrani, maka Batara Brahma tidak perlu mengarang-ngarang alasan segala. Ia memerintahkan Batara Brahma agar secepatnya mengusir Raden Arjuna dari Kahyangan Daksinageni dan menyerahkan Batari Dresanala kepada Prabu Dewasrani. Jika tidak, maka Batara Guru sendiri yang akan bertindak. Batara Brahma tidak berani membantah lagi. Ia pun mohon pamit meninggalkan Kahyangan Jonggringsalaka. Batari Durga berterima kasih kepada sang suami, lalu mohon pamit pula untuk mengikuti Batara Brahma bersama Prabu Dewasrani.

Sepeninggal mereka, Batara Narada mengaku sangat kecewa melihat Batara Guru yang termakan bujuk rayu Batari Durga, sehingga bersikap tidak adil kepada Raden Arjuna dan Batari Dresanala. Batara Guru tidak peduli dan memaki Batara Narada yang terlalu banyak mencampuri urusan rumah tangganya. Batara Brahma adalah putra Batara Guru, dan Batari Dresanala adalah cucunya. Maka, Batara Guru merasa berhak menikahkan Batari Dresanala dengan laki-laki yang ia kehendaki. Apabila Batara Narada berani menentang, maka ia tidak segan-segan memecat sepupunya itu dari jabatan kamituwa Kahyangan Jonggringsalaka.

Batara Narada menjawab dirinya tidak takut dipecat. Bahkan, ia sendiri yang menyatakan mundur dan melepaskan jabatan daripada melayani raja dewa yang tidak adil. Usai berkata demikian, Batara Narada pun pergi meninggalkan pertemuan.

Batara Guru mencurigai Batara Narada akan melakukan pemberontakan. Maka, ia pun memerintahkan Batara Sambu, Batara Bayu, dan para putranya yang lain agar mengejar dan menangkap Batara Narada. Apabila Batara Narada bersedia meminta maaf, maka ia bisa kembali memperoleh jabatannya sebagai kamituwa Kahyangan Jonggringsalaka. Namun, apabila Batara Narada melawan, maka putra-putranya diberi wewenang untuk berbuat kasar seperlunya. Batara Sambu dan yang lain merasa perintah ini sangat berat, namun mereka tidak berani membantah.

Batari Durga.

BATARA NARADA DILINDUNGI PARA PUTRA BATARA ISMAYA

Batara Narada yang bergegas meninggalkan Kahyangan Jonggringsalaka tiba-tiba dikejar oleh putra-putra Batara Ismaya, antara lain Batara Kamajaya, Batara Surya, Batara Yamadipati, dan Batara Temburu. Para dewa itu bertanya mengapa Batara Narada meninggalkan pertemuan dengan wajah marah. Batara Narada pun menjelaskan dari awal hingga akhir, terutama soal ketidakadilan Batara Guru terhadap Raden Arjuna, karena termakan bujuk rayu Batari Durga.

Batara Kamajaya dan saudara-saudaranya ikut kesal mendengar cerita tersebut. Mereka lalu menyatakan ikut bergabung dengan Batara Narada, meskipun harus kehilangan jabatan. Batara Narada senang mendengarnya. Hari ini ia berniat melaporkan ketidakadilan Batara Guru pada leluhur para dewa, yaitu Sanghyang Padawenang di Kahyangan Awang-awang Kumitir. Para putra Batara Ismaya tersebut diminta untuk ikut menemani.

Tiba-tiba Batara Sambu, Batara Indra, Batara Bayu, Batara Asmara, Batara Cakra, dan Batara Mahadewa datang membawa pasukan dorandara untuk mengepung Batara Narada dan kawan-kawan. Mereka membawa perintah Batara Guru agar menangkap Batara Narada. Apabila Batara Narada bersedia meminta maaf, maka mereka akan berbuat sopan. Namun, apabila Batara Narada melawan, mereka pun terpaksa menggunakan kekerasan.

Batara Narada semakin marah mendengar hal itu. Batara Kamajaya pun meminta Batara Narada tidak perlu mendengarkan mereka. Jika para putra Batara Guru menggunakan kekerasan, maka putra-putra Batara Ismaya siap menghadapi. Batara Sambu marah mendengarnya dan memerintahkan pasukan dorandar untuk maju menyerang.

Demikianlah, perang saudara antara para dewa pun terjadi. Batara Narada merasa berhutang budi kepada para putra Batara Ismaya. Dengan berat hati ia pun meloloskan diri untuk pergi ke Kahyangan Awang-awang Kumitir. Sementara itu, Batara Kamajaya dan para saudara bertempur sekuat tenaga melawan para putra Batara Guru dan pasukannya, hingga akhirnya mereka semua tertangkap karena jumlah lawan jauh lebih banyak.

Batara Kamajaya.

BATARA NARADA MENGHADAP SANGHYANG PADAWENANG

Batara Narada yang terbang secepat kilat akhirnya sampai di Kahyangan Awang-awang Kumitir. Di sana ia menghadap Sanghyang Padawenang, leluhur para dewa. Kepada Sanghyang Padawenang, Batara Narada melaporkan apa yang terjadi di Kahyangan Jonggringsalaka, yaitu bagaimana Batara Guru menyalahgunakan kekuasaan dengan lebih mementingkan urusan pribadi. Akibat bujuk rayu Batari Durga, Batara Guru tega berlaku kurang adil kepada Raden Arjuna dan Batari Dresanala dengan cara menceraikan mereka berdua yang sudah resmi menikah.

Sanghyang Padawenang menerima laporan Batara Narada. Ia lalu bertanya apa yang telah dilakukan Batara Narada sebagai kamituwa kahyangan, apakah sudah berusaha menasihati Batara Guru untuk bertindak benar? Batara Narada tidak berani menjawab karena takut menyombongkan diri. Sanghyang Padawenang tentunya dapat melihat sendiri apa yang telah terjadi dengan pandangan saktinya. Sanghyang Padawenang membenarkan hal itu bahwa dirinya memang dapat melihat Batara Guru telah berbuat tidak adil.

Sanghyang Padawenang lalu berkata bahwa Batari Dresanala saat ini telah mengandung putra Raden Arjuna. Melalui janin dalam perut bidadari tersebut, ia berniat memberikan hukuman atas kesalahan Batara Guru. Ia pun memerintahkan Batara Narada untuk mengawasi bayi itu apabila sudah lahir, sedangkan dirinya sendiri yang akan melindungi si bayi. Batara Narada gembira mendengarnya dan berterima kasih atas bantuan Sanghyang Padawenang yang sudi turun gunung. Kedua dewa itu lalu berangkat menuju Kahyangan Daksinageni.

Sanghyang Padawenang.

BATARA BRAHMA MENCERAIKAN RADEN ARJUNA DAN BATARI DRESANALA

Sementara itu, Batara Brahma telah sampai di tempat tinggalnya, yaitu Kahyangan Daksinageni. Batari Dresanala dan Raden Arjuna menyambut kedatangannya. Batara Brahma tampak gugup. Namun, demi menjalankan perintah Batara Guru, ia terpaksa berbohong bahwa Raden Arjuna harus segera pulang ke Kerajaan Amarta, karena Batari Dresanala diminta Batara Guru untuk menjadi pelengkap barisan bidadari Kahyangan Jonggringsalaka yang jumlahnya sakethi kurang sawiji atau 99.999 orang.

Raden Arjuna merasa curiga namun dipendamnya dalam hati. Ia lalu mohon pamit kepada Batara Brahma dan Batari Dresanala untuk pergi meninggalkan Kahyangan Daksinageni. Batari Dresanala tidak tega melepas kepergian sang suami, namun ayahnya tampak memaksa agar mereka segera berpisah. Dengan berat hati akhirnya Batari Dresanala pun mempersilakan Raden Arjuna pergi.

Sepeninggal Raden Arjuna, barulah Batara Brahma berterus terang bahwa Batara Guru menghendaki Batari Dresanala bercerai dengan suaminya itu, karena akan dinikahkan dengan Prabu Dewasrani raja Tunggulmalaya. Batari Dresanala tidak bersedia karena cintanya hanya untuk Raden Arjuna seorang. Batara Brahma membujuk putrinya itu bahwa Prabu Dewasrani jauh lebih pantas sebagai suami daripada Raden Arjuna. Prabu Dewasrani seorang raja yang belum menikah, sedangkan Raden Arjuna hanyalah pangeran biasa tetapi sudah mempunyai banyak istri. Apa gunanya dimadu dengan sedemikian banyak perempuan? Bukankah lebih baik putrinya itu menjadi permaisuri tunggal seorang raja muda yang tampan rupawan bernama Prabu Dewasrani?

Batari Dresanala menjawab hatinya sudah tertambat kepada Raden Arjuna. Jangankan menjadi istri yang dimadu dengan banyak wanita, sedangkan menjadi pelayan Raden Arjuna pun ia bersedia. Apa gunanya ia menjadi permaisuri raja Tunggulmalaya tetapi hatinya selalu merindukan suami pertama? Lagipula, dalam rahimnya telah bersemayam janin buah cinta antara dirinya dengan Raden Arjuna.

Batara Brahma.

BATARA BRAHMA MEMAKSA BATARI DRESANALA MELAHIRKAN DINI

Batara Brahma marah mendengar jawaban putrinya itu. Ia menyebut putrinya sebagai bidadari bodoh yang tak tahu diuntung. Ia pun memukul Batari Dresanala hingga jatuh pingsan. Melihat putrinya roboh tak sadarkan diri, Batara Brahma menyesal namun sudah kepalang tanggung. Tugasnya harus dilaksanakan sampai tuntas. Ia berniat mengeluarkan secara paksa janin dalam kandungan putrinya tersebut.

Pada saat itulah Sanghyang Padawenang datang tanpa menampakkan diri. Ia segera masuk menyusup ke dalam rahim Batari Dresanala. Sementara itu, Batara Brahma tampak mengheningkan cipta sambil meraba perut putrinya. Ia lalu mengerahkan kesaktian untuk menggugurkan kandungan Batari Dresanala. Namun, si janin bukannya mati tetapi justru bertambah besar karena mendapat perlindungan dari Sanghyang Padawenang. Semakin Batara Brahma memaksa janin itu keluar, ukuran si janin justru semakin bertambah besar. Dalam sekejap usia kandungan Batari Dresanala sudah sama dengan kandungan berusia sembilan bulan yang siap dilahirkan.

Batara Brahma heran dan menduga pasti ada dewa lain yang berusaha menggagalkan rencananya. Namun, ia sama sekali tidak menduga bahwa Sanghyang Padawenang yang turun langsung melindungi janin putrinya. Bagaimanapun juga ilmu kesaktian Sanghyang Padawenang jauh di atas Batara Brahma, sehingga Batara Brahma tidak dapat merasakan kehadirannya.

Batara Brahma tidak peduli entah siapa dewa yang ikut campur. Ia pun memijat perut putrinya agar janin yang sudah matang itu keluar. Kali ini Sanghyang Padawenang ikut mendorong sehingga bayi tersebut pun keluar dari rahim Batari Dresanala. Batara Brahma lalu memungut bayi tersebut yang ternyata berkelamin laki-laki. Ia melihat cucunya itu sangat tampan hingga membuat hatinya bergetar tidak tega untuk membunuhnya.

Pada saat itulah Batari Durga datang bersama Prabu Dewasrani. Mereka berdua datang untuk menjemput dan memboyong Batari Dresanala. Batara Brahma tidak berani menolak. Ia pun mempersilakan apabila putrinya dibawa pergi. Prabu Dewasrani berterima kasih lalu mengangkat tubuh Batari Dresanala yang masih pingsan dan pergi meninggalkan Kahyangan Daksinageni bersama ibunya.

Batara Narada.

BAYI PUTRA BATARI DRESANALA TUMBUH DEWASA DALAM SEKEJAP

Setelah Batari Durga dan Prabu Dewasrani pergi membawa putrinya, Batara Brahma kembali bimbang memandang si bayi yang ada dalam gendongannya. Menurut perintah Batara Guru, bayi tersebut harus dibunuh. Akan tetapi, Batara Brahma tidak tega jika harus mengambil nyawa cucunya yang tampan tersebut. Berkali-kali ia mencoba mencekik leher si bayi namun diurungkan di tengah jalan.

Setelah berpikir keras sambil meneteskan air mata, Batara Brahma akhirnya teringat peristiwa dua puluh tahun silam. Kala itu kahyangan diserang Patih Sekiputantra utusan Prabu Kalapracona yang melamar Batari Supraba. Para dewa mengambil anak Arya Wrekodara yang masih bayi dan menceburkannya ke dalam Kawah Candradimuka. Bayi tersebut bukannya mati, tetapi justru berubah menjadi dewasa dalam waktu singkat, dan kemudian diberi nama Raden Gatutkaca.

Teringat pada peristiwa tersebut, Batara Brahma seolah mendapat gagasan. Ia pun membawa cucunya ke Gunung Jamurdipa, di mana Kawah Candradimuka berada. Ia berkata kepada si bayi, apabila nasibnya sama seperti Raden Gatutkaca, maka cucunya itu akan tetap hidup dan keluar dari Kawah Candradimuka dengan selamat. Namun, apabila tidak selamat, maka Batara Brahma meminta maaf terpaksa membunuh cucunya sendiri. Usai berkata demikian, Batara Brahma pun melemparkan bayi dalam gendongannya ke arah Kawah Candradimuka.

Sanghyang Padawenang yang masih mengawasi diam-diam ikut terjun ke dalam kawah dan kemudian bersatu ke dalam diri si bayi. Berkat kekuasaan Sanghyang Padawenang, bayi itu tidak mati di dalam kawah, tetapi tubuhnya berkembang menjadi seorang pemuda belia. Kawah Candradimuka tersebut kemudian menyala berkobar-kobar. Apinya membumbung tinggi hingga ke langit luas. Dari dalam kobaran api tersebut keluarlah seorang remaja yang langsung melompat menerjang Batara Brahma.

Batara Brahma jatuh terjengkang. Ia heran bercampur gembira karena cucunya ternyata selamat dan tumbuh dewasa seperti yang dulu dialami Raden Gatutkaca. Namun, ia kemudian teringat pada perintah Batara Guru. Mau tidak mau ia terpaksa harus membunuh cucunya tersebut. Akan tetapi, pemuda yang dihadapinya sudah mendapat kesaktian dari Sanghyang Padawenang. Batara Brahma pun tidak dapat mengalahkannya, justru ia yang dibuat lari tunggang langgang karena terdesak oleh remaja tersebut.

Batari Dresanala.

BATARA NARADA MEMBERI NAMA ANAK DEWI DRESANALA

Batara Narada yang mengintai dari jauh kagum menyaksikan wujud si pemuda yang berbadan kurus tetapi tampan dan penuh keberanian. Mata pemuda itu tampak berkilat-kilat seperti api yang menyala. Wajahnya pun kemerah-merahan, penuh dengan semangat keberanian.

Melihat Batara Narada mendekat, pemuda itu bersiap-siap hendak menyerangnya. Namun, Batara Narada berhasil menyabarkannya dengan cara mengaku sebagai kakek si pemuda. Pemuda itu lalu bertanya siapa ia yang sebenarnya. Batara Narada menjawab, bahwa pemuda itu adalah putra Raden Arjuna dengan Batari Dresanala. Sekarang ia sudah dewasa, maka pantas apabila memiliki nama penggilan. Karena pemuda itu tampak penuh semangat seperti api yang berkobar-kobar, maka Batara Narada pun memberinya nama, Bambang Wisanggeni.

Pemuda itu senang mendengar nama pemberian Batara Narada untuknya. Mulai hari itu, ia pun memakai nama Bambang Wisanggeni.

Bambang Wisanggeni.

BAMBANG WISANGGENI MELAWAN PARA PUTRA BATARA GURU

Tiba-tiba para putra Batara Guru datang mengepung Batara Narada dan Bambang Wisanggeni. Mereka adalah Batara Sambu, Batara Bayu, Batara Indra, Batara Asmara, Batara Cakra, dan Batara Mahadewa yang membawa pasukan dorandara. Mereka berniat menangkap Batara Narada sekaligus membunuh cucu Batara Brahma sesuai perintah Batara Guru.

Melihat itu, Batara Narada segera berbisik kepada Bambang Wisanggeni agar meminta mereka mengembalikan ayah dan ibunya. Apabila para dewa itu menolak, maka Bambang Wisanggeni boleh memukuli mereka. Bambang Wisanggeni yang mengira Batara Narada benar-benar kakeknya segera bertindak mematuhi perintah tersebut. Ia pun meminta kepada para dewa itu agar mengembalikan ayah dan ibunya. Para dewa tersebut tidak tahu-menahu. Tanpa banyak bicara, Bambang Wisanggeni pun menerjang ke arah mereka.

Batara Sambu dan adik-adiknya tidak menyangka si pemuda begitu berani. Mereka berusaha menangkap pemuda itu, namun Bambang Wisanggeni ternyata begitu gesit dan lincah. Tidak seorang pun dewa yang berhasil menangkapnya. Sebaliknya, justru Bambang Wisanggeni yang beberapa kali berhasil melayangkan pukulan dan tendangan ke arah para dewa tersebut.

Batara Sambu merasa malu dicundangi anak remaja tak dikenal. Karena semakin terdesak, ia pun mengajak adik-adiknya mundur, kembali ke Kahyangan Jonggringsalaka. Melihat pihak lawan mundur, Batara Narada segera berbisik kepada Bambang Wisanggeni agar mengejar mereka. Karena para dewa itu tidak dapat mengembalikan ayah dan ibunya, maka Bambang Wisanggeni sebaiknya bertanya kepada raja para dewa yang bernama Batara Guru. Bambang Wisanggeni pun bertanya seperti apa ciri-ciri raja para dewa tersebut. Batara Narada menjawab, raja para dewa memiliki empat lengan.

Bambang Wisanggeni menyanggupi. Ia lalu melesat terbang mengejar para dewa yang kabur tadi.

Batara Sambu.

BAMBANG WISANGGENI MENGEJAR BATARA GURU

Di Kahyangan Jonggringsalaka, Batara Guru menerima Batara Brahma yang menghadap dan melaporkan bahwa ia telah menceraikan Raden Arjuna dan Batari Dresanala, namun tidak berhasil membunuh anak mereka. Begitu si bayi yang dilahirkan Batari Dresanala diceburkan ke dalam Kawah Candradimuka, bukannya mati tetapi justru tumbuh menjadi remaja yang sangat sakti. Batara Brahma tidak mampu menghadapinya dan memilih kabur melarikan diri.

Batara Guru tidak percaya mendengar laporan itu. Ia menuduh Batara Brahma mengarang alasan karena tidak tega membunuh cucu sendiri. Tiba-tiba Batara Sambu, Batara Bayu, dan yang lain datang menghadap dalam keadaan babak belur. Mereka melapor baru saja dikalahkan oleh seorang anak remaja berbadan kurus tetapi sangat sakti. Pemuda itu konon bernama Bambang Wisanggeni.

Batara Guru termangu-mangu. Kali ini ia tidak bisa lagi untuk tidak percaya. Ia yakin ada dewa sepuh yang melindungi Bambang Wisanggeni. Batara Sambu menjawab dewa itu pastilah Batara Narada. Batara Guru menjawab tidak mungkin, karena menurut firasatnya, dewa pelindung itu tentunya lebih sepuh dibanding Batara Narada. Seketika Batara Guru pun gemetar karena yakin bahwa dewa yang melindungi Bambang Wisanggeni pastilah ayahnya, yaitu Sanghyang Padawenang. Berpikir demikian, Batara Guru merasa takut sekaligus malu. Ia pun memilih kabur daripada bertemu Sanghyang Padawenang.

Tak disangka, Bambang Wisanggeni sudah berada di tempat itu. Sesuai pesan Batara Narada, Bambang Wisanggeni pun meminta Batara Guru agar mengembalikan ayah dan ibunya. Batara Guru tidak menjawab, tetapi kabur dan bersembunyi di balik awan. Namun, Bambang Wisanggeni sudah berada di sampingnya dan bertanya di mana ayah ibunya berada.

Batara Guru terkejut dan meluncur ke bawah untuk bersembunyi di dalam lautan. Akan tetapi, Bambang Wisanggeni mampu menyusul pula ke dalam lautan. Batara Guru kembali kabur dan bersembunyi di dalam gunung. Bambang Wisanggeni datang dan mengangkat gunung tersebut. Batara Guru semakin ketakutan. Ia merasa perlu meminta bantuan para Pandawa dan segera terbang menuju Kerajaan Amarta.

Prabu Puntadewa.

BATARA GURU MEMINTA BANTUAN PARA PANDAWA

Di Kerajaan Amarta, Prabu Puntadewa dihadap para adik, yaitu Arya Wrekodara, Raden Arjuna, Raden Nakula, Raden Sadewa, serta para putra, yaitu Raden Pancawala, Raden Antareja, Raden Gatutkaca, Raden Antasena, dan Raden Abimanyu. Hadir pula Prabu Kresna Wasudewa yang datang berkunjung dari Kerajaan Dwarawati.

Dalam pertemuan itu, Prabu Kresna bertanya kepada Raden Arjuna mengapa lama tidak terlihat. Raden Arjuna menjawab, dirinya beberapa bulan yang lalu dimintai tolong Batara Brahma untuk mengalahkan musuhnya yang bernama Prabu Setaketu dari Kerajaan Selapura. Setelah Raden Arjuna menang, Batara Brahma sangat berterima kasih dan menyerahkan putrinya yang bernama Batari Dresanala sebagai istri Panengah Pandawa tersebut. Prabu Kresna memuji Raden Arjuna, apabila berkelana pasti mendapat istri baru.

Tiba-tiba Batara Guru datang. Para Pandawa dan hadirin lainnya segera menyembah, kecuali Arya Wrekodara dan Raden Antasena yang hanya memberi salam, sesuai watak mereka yang apa adanya. Batara Guru berkata dirinya sedang dalam kesulitan karena ada pemuda yang mengacau di Kahyangan Jonggringsalaka. Pemuda ini bukan pemuda sembarangan tetapi ada semacam kekuatan gaib berdiri di belakangnya. Itulah sebabnya Batara Guru datang ke Kerajaan Amarta adalah untuk meminta bantuan para Pandawa agar meringkus pengacau tersebut.

Prabu Puntadewa prihatin mendengarnya dan segera memerintahkan Arya Wrekodara untuk segera bertindak. Arya Wrekodara merasa aneh apa sebabnya remaja itu mengacau Kahyangan Jonggringsalaka, mengapa Batara Guru tidak menjelaskan di awal? Prabu Puntadewa menegur Arya Wrekodara agar menjaga sopan santun. Jika tidak mau berangkat, maka dirinya sendiri yang akan menghadapi pengacau tersebut. Arya Wrekodara yang seumur hidup tidak berani membantah kakak sulungnya itu segera terdiam dan siap menjalankan perintah.

Arya Wrekodara.

BAMBANG WISANGGENI MENGAMUK DI KERAJAAN AMARTA

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar. Patih Tambakganggeng datang melapor bahwa ada anak muda kurus tetapi sangat sakti mengamuk di halaman istana, mencari Batara Guru. Prabu Puntadewa mengulangi perintah agar Arya Wrekodara segera bertindak. Arya Wrekodara pun berangkat disertai ketiga putranya.

Sesampainya di luar, Arya Wrekodara segera menangkap Bambang Wisanggeni. Namun, pemuda itu dengan lincah meloloskan diri dan balas memukul. Meskipun Bambang Wisanggeni berbadan kurus tetapi pukulannya sangat mantap, dan tepat mengenai titik kelemahan Arya Wrekodara yang terletak di pelipis kanan. Arya Wrekodara merasa pusing dan mundur ke belakang.

Raden Antareja tidak terima ayahnya disakiti dan segera maju menyerang Bambang Wisanggeni. Namun, ia juga tidak mampu mengalahkan pemuda tersebut. Raden Antareja menyembur Bambang Wisanggeni menggunakan ludah berbisa, namun justru berbalik mengenai dirinya sendiri.

Raden Gatutkaca maju menyerang. Ia terbang ke angkasa lalu menukik ke bawah untuk menyambar tubuh Bambang Wisanggeni. Akan tetapi, ia ternyata tidak mampu mengangkat tubuh Bambang Wisanggeni yang jauh lebih kecil darinya itu. Raden Gatutkaca berusaha sekuat tenaga mengangkat tubuh Bambang Wisanggeni tetapi pemuda itu sedikit pun tidak bergerak. Bahkan, Bambang Wisanggeni justru balik menangkap tangan Raden Gatutkaca dan membanting tubuh lawannya itu ke tanah.

Bambang Wisanggeni melihat Arya Wrekodara dan kedua putranya telah kalah. Kini tinggal putra ketiga yang masih berdiri, bernama Raden Antasena. Bambang Wisanggeni mendatanginya dan bertanya apa mau bertarung seperti yang lain. Raden Antasena hanya tertawa dan berkata dirinya tidak sama seperti ayah dan kedua kakaknya. Raden Antasena tidak mau melaksanakan perintah raja secara membabi buta. Untuk itu, ia merasa perlu menyaring terlebih dulu, apakah perintah tersebut benar atau tidak. Meskipun Prabu Puntadewa seorang raja yang terkenal adil dan bijaksana, tetapi tetap saja ia seorang manusia yang bisa berbuat khilaf.

Raden Antasena lalu bertanya mengapa Bambang Wisanggeni mengacau Kahyangan Jonggringsalaka. Bambang Wisanggeni berkata ia ingin mencari ayah dan ibunya. Menurut keterangan dari kakeknya, raja dewa berlengan empat mengetahui keberadaan kedua orang tuanya itu. Namun, dewa berlengan empat yang bernama Batara Guru itu tidak mau menjawab dan memilih kabur, membuat Bambang Wisanggeni terpaksa mengejar ke mana pun ia pergi.

Raden Antasena lalu bertanya siapa nama ayah dan ibu Bambang Wisanggeni, barangkali ia bisa membantu. Pemuda itu menjawab, ayahnya bernama Raden Arjuna, sedangkan ibunya bernama Batari Dresanala. Raden Antasena gembira dan berkata bahwa Raden Arjuna adalah pamannya, dan itu berarti Bambang Wisanggeni adalah adik sepupunya. Ia lalu menggandeng tangan Bambang Wisanggeni dan mengajaknya masuk ke dalam istana Indraprasta.

Raden Antasena.

BAMBANG WISANGGENI BERTEMU RADEN ARJUNA

Di dalam istana, Prabu Kresna sedang mengobati luka-luka Arya Wrekodara, Raden Antareja, dan Raden Gatutkaca. Raden Antasena kemudian datang bersama Bambang Wisanggeni. Prabu Puntadewa segera menanyai pemuda itu, mengapa mengamuk mengejar Batara Guru. Bambang Wisanggeni pun bercerita, bahwa ia disuruh kakeknya yang bernama Batara Narada untuk menanyakan perihal kedua orang tuanya kepada raja dewa yang berlengan empat. Raden Antasena lalu menambahkan, bahwa Bambang Wisanggeni adalah putra Raden Arjuna dan Batari Dresanala.

Batara Guru menyela bahwa Batara Narada bukanlah kakek Bambang Wisanggeni, tetapi yang benar dirinyalah kakek buyut pemuda itu. Pada saat itulah Batara Narada datang dan mengatakan bahwa Batara Guru tidak layak disebut sebagai kakek buyut karena memerintahkan untuk membunuh cicitnya sendiri.

Prabu Kresna dan Prabu Puntadewa segera menengahi kedua dewa yang sedang berselisih itu. Batara Narada lalu menceritakan semua dari awal hingga akhir, bahwa Batara Guru terkena bujuk rayu Batari Durga hingga tega memisahkan Raden Arjuna dan Batari Dresanala, serta memerintahkan pembunuhan terhadap Bambang Wisanggeni.

Kyai Semar hadir pula karena mendengar ribut-ribut di istana Indraprasta. Sebagai kakak kandung Batara Guru, ia ikut menegur adiknya itu karena telah berbuat tidak adil, melakukan khilaf, memisahkan sepasang suami-istri yang saling mencintai, demi memenangkan kepentingan anaknya yang bernama Prabu Dewasrani.

Batara Guru tertunduk lesu dan menyadari kekeliruannya. Sebagai raja dewa ia telah berbuat salah, mementingkan urusan pribadi dan melanggar hak orang lain. Ia pun meminta maaf kepada semua yang ada di situ, terutama kepada Raden Arjuna dan Bambang Wisanggeni.

Melihat Batara Guru telah meminta maaf secaara tulus, Sanghyang Padawenang pun keluar dari tubuh Bambang Wisanggeni. Semua orang segera menghaturkan sembah kepada leluhur para dewa tersebut. Sanghyang Padawenang berkata bahwa Bambang Wisanggeni adalah lambang pemberontak, maksudnya di sini adalah pemberontak yang memperjuangkan keadilan karena penguasa yang seharusnya mengayomi justru berbuat tidak adil. Apabila Batara Guru kembali berbuat lalim dan melanggar hukum keadilan, maka Sanghyang Padawenang akan kembali menitis kepada Bambang Wisanggeni demi menegakkan kebenaran.

Usai berkata demikian, Sanghyang Padawenang pun musnah dari pandangan. Batara Guru sekali lagi meminta maaf kepada Batara Narada dan juga para Pandawa. Sebaliknya, Batara Narada juga meminta maaf karena berani memberontak kepada Batara Guru. Kedua dewa itu lalu saling berpelukan dan melupakan dendam di antara mereka.

Batara Guru kemudian berkata pada Raden Arjuna bahwa Batari Dresanala berada di Kerajaan Tunggulmalaya, yaitu negeri yang dipimpin Prabu Dewasrani, putranya. Usai berkata demikian, ia dan Batara Narada pun kembali ke Kahyangan Jonggringsalaka.

Raden Arjuna prihatin sekaligus bahagia melihat nasib putranya yang lahir dari Batari Dresanala kini telah tumbuh dewasa dalam sekejap. Ia pun memeluk Bambang Wisanggeni dan mengajak pemuda itu bersama-sama menuju Kerajaan Tunggulmalaya.

Raden Arjuna.

RADEN ARJUNA MEMBEBASKAN BATARI DRESANALA

Di Kerajaan Tunggulmalaya, Prabu Dewasrani tampak sibuk merayu Batari Dresanala agar bersedia menjadi istrinya. Namun, Batari Dresanala selalu menolak dengan segala alasan. Merasa tidak sabar lagi, Prabu Dewasrani pun berusaha memaksa dan memerkosa Batari Dresanala. Ia begitu berani bertindak demikian karena merasa mendapat dukungan dari Batara Guru.

Tiba-tiba muncul Raden Arjuna menerjang Prabu Dewasrani. Keduanya lalu bertarung seru, sementara Bambang Wisanggeni menolong Batari Dresanala. Meskipun Bambang Wisanggeni sudah dewasa, namun naluri keibuan Batari Dresanala dapat mengenali kalau pemuda itu adalah putra kandungnya. Ia pun menangis dan memeluk Bambang Wisanggeni dengan erat.

Sementara itu, Prabu Dewasrani terluka parah menghadapi kesaktian Raden Arjuna. Batari Durga datang dan mengamuk atas keadaan putranya itu. Karena Batari Durga turun tangan, Kyai Semar pun maju menghadapi. Batari Durga merasa segan karena tidak pernah menang melawan kakak iparnya tersebut. Ia pun memilih kabur dengan menggendong tubuh Prabu Dewasrani.

Raden Arjuna bersyukur bisa berkumpul kembali dengan Batari Dresanala, apalagi sekarang putra mereka telah lahir dan tumbuh dewasa. Mereka lalu bersama-sama pulang ke Kerajaan Amarta dengan disertai para panakawan. Di tengah jalan tiba-tiba muncul Batara Brahma yang meminta maaf karena telah berbuat jahat kepada mereka. Itu semua ia lakukan karena takut melanggar perintah Batara Guru. Sungguh beruntung, mereka semua baik-baik saja karena mendapat perlindungan Yang Mahakuasa.

Raden Arjuna, Batari Dresanala, dan Bambang Wisanggeni berkata hal ini tidak perlu dipermasalahkan. Yang terpenting semuanya telah berakhir dengan bahagia. Batara Brahma bersyukur mendengarnya. Ia pun ikut menyertai kepergian mereka menuju Kerajaan Amarta.

Prabu Dewasrani.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Dalam kisah di atas, saya memunculkan peran Sanghyang Padawenang sebagai sosok pelindung Bambang Wisanggeni sejak awal.


Untuk kisah kelahiran Raden Gatutkaca yang juga diceburkan ke dalam Kawah Candradimuka dapat dibaca di sini
















Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Antasena Takon Bapa

 No comments   



Kisah ini menceritakan kemunculan Raden Antasena, yaitu putra Arya Wrekodara yang lahir dari Dewi Urangayu, yang saya gabungkan pula dengan kisah perkawinan Raden Antareja dengan Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa.

Kisah ini saya olah dari sumber buku Ensiklopedia Wayang Purwa karya Rio Sudibyoprono, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, November 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

Raden Antasena.

------------------------------ ooo ------------------------------

BATARA BARUNA DISERANG MUSUH BERNAMA PRABU MINALODRA

Di Kahyangan Jonggringsalaka, Batara Guru sedang memimpin pertemuan para dewa yang dihadiri Batara Narada, Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Bayu, Batara Indra, dan Batara Panyarikan. Dalam pertemuan tersebut mereka membicarakan adanya gara-gara di alam manusia, yaitu putra Arya Wrekodara yang lahir dari Dewi Urangayu, sudah berusia dua puluh tahun tetapi masih berwujud bayi. Batara Guru meramalkan bayi tersebut kelak akan menjadi kesatria pembela kebenaran yang memiliki kesaktian luar biasa, serta menjadi lambang kejujuran.

Tidak lama kemudian datanglah Batara Baruna yang melaporkan adanya musuh menyerang Kahyangan Dasarsamodra. Batara Baruna adalah dewa yang bertugas memimpin dan mengatur para binatang di dalam lautan. Tiba-tiba ia diserang seorang raja raksasa bersisik ikan bernama Prabu Minalodra yang bermaksud merebut kedudukannya tersebut. Tentu saja Batara Baruna melawan karena memimpin lautan adalah amanah yang diberikan Batara Guru kepadanya. Tak disangka, Prabu Minalodra ternyata begitu perkasa. Raja raksasa itu mampu mengalahkan dan mengusir Batara Baruna dari Kahyangan Dasarsamodra.

Batara Baruna pun datang ke Kahyangan Jonggringsalaka untuk memohon bantuan Batara Guru agar menghukum Prabu Minalodra beserta pasukannya. Batara Guru menerima laporan tersebut dan segera mengirim Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Bayu, dan Batara Indra untuk menumpas Prabu Minalodra. Batara Sambu dan adik-adiknya mematuhi dan segera mohon pamit menjalankan tugas.

PARA DEWA BERTEMPUR MELAWAN PRABU MINALODRA

Prabu Minalodra berwujud raksasa dengan kulit dipenuhi sisik, di mana ia dapat hidup di dalam air dan berbicara dengan berbagai macam hewan laut. Dengan berbekal kemampuan tersebut, ia bertekad merebut kedudukan Batara Baruna sebagai penguasa bawah laut. Usahanya pun berhasil. Prabu Minalodra berhasil mengalahkan Batara Baruna dan mengusirnya pergi dari Kahyangan Dasarsamodra.

Kini Batara Baruna telah kembali lagi dengan membawa bala bantuan dari Kahyangan Jonggringsalaka. Mereka adalah putra-putra Batara Guru, yaitu Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Indra, dan Batara Bayu. Keempatnya segera mengepung Prabu Minalodra dan memaksanya untuk menyerahkan diri. Prabu Minalodra sama sekali tidak takut. Ia pun menghadapi keempat dewa tersebut bersama pasukannya yang setia.

Maka, terjadilah pertempuran antara keempat dewa melawan Prabu Minalodra dan pasukannya. Para dewa tidak menyangka ternyata Prabu Minalodra begitu tangguh dan perkasa. Mereka merasa kesulitan menghadapi raja raksasa tersebut. Merasa tidak mungkin menang, Batara Sambu pun mengajak adik-adiknya untuk mundur kembali ke Kahyangan Jonggringsalaka.

BATARA GURU MEMERINTAHKAN BATARA NARADA MENJEMPUT JAGO KAHYANGAN

Berita kekalahan para dewa telah terdengar oleh Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka. Raja para dewa itu lalu mengheningkan cipta untuk melihat masa depan. Setelah mendapatkan jawaban, ia pun menyampaikannya kepada Batara Narada yang bersiap menunggu perintah.

Batara Guru berkata bahwa jago kahyangan yang bisa mengalahkan Prabu Minalodra adalah Raden Antasena, putra Arya Wrekodara yang lahir dari Dewi Urangayu di Padepokan Kisiknarmada. Batara Narada heran karena Raden Antasena yang dimaksud itu adalah si bayi berusia dua puluh tahun yang tadi dibicarakan bersama. Batara Guru menjawab memang bayi tersebut yang ia lihat di masa depan mampu menumpas Prabu Minalodra. Ini bukan pertama kalinya dewata menjadikan bayi sebagai jago kahyangan. Bukankah dulu sewaktu Raden Gatutkaca masih bayi juga dijadikan jago untuk menumpas Prabu Kalapracona dan Patih Sekiputantra?

Batara Narada menerima petunjuk tersebut. Ia kemudian mohon pamit menuju Padepokan Kisiknarmada untuk menjemput si bayi Raden Antasena.

BATARA NARADA MENCULIK RADEN ANTASENA

Di Padepokan Kisiknarmada, Resi Mintuna sedang menghibur putrinya, yaitu Dewi Urangayu yang setiap hari selalu bersedih menangisi keadaan putranya. Sudah dua puluh tahun lamanya Raden Antasena lahir ke dunia tetapi sampai hari ini masih juga berwujud bayi. Sebenarnya Dewi Urangayu ingin melaporkan hal itu kepada sang suami di Kesatrian Jodipati, tetapi ia takut Arya Wrekodara tidak mau mengakui anaknya yang menderita kelainan tersebut.

Resi Mintuna selalu menghibur putrinya bahwa apa yang dialami Raden Antasena pasti mengandung hikmah pelajaran, dan ia yakin tidak lama lagi cucunya tersebut akan mendapat pertolongan dari dewata. Lagipula Raden Antasena ini bayi yang unik. Sejak dilahirkan, setiap hari selalu menangis dan hanya bisa diam apabila sudah direndam di dalam air laut. Demikianlah, setiap hari selama dua puluh tahun ini si bayi Raden Antasena selalu direndam di dalam air laut mulai matahari terbit hingga terbenam baru dientas kembali.

Pagi itu Raden Antasena kembali menangis keras, pertanda ia ingin direndam di dalam air laut. Seperti kebiasaan di hari-hari sebelumnya, Dewi Urangayu pun membawanya menuju pantai dengan diantar Resi Mintuna. Sesampainya di sana, Raden Antasena segera direndam di dalam air laut dan ia tidak lagi menangis seperti tadi.

Tidak lama kemudian Batara Narada datang di pantai tersebut tanpa memperlihatkan diri. Ia mengamati bayi Raden Antasena yang sedang berdiam diri di dalam air laut, lalu mengambilnya dan melesat pergi menuju Kahyangan Dasarsamodra. Dewi Urangayu terkejut dan menjerit karena putranya mendadak lenyap. Namun, Resi Mintuna berpenglihatan tajam. Ia dapat melihat kelebat Batara Narada dan segera pergi mengejarnya.

RADEN ANTASENA BERTARUNG MELAWAN PRABU MINALODRA

Prabu Minalodra di Kahyangan Dasarsamodra sedang berpesta merayakan kemenangannya memukul mundur para dewa putra Batara Guru. Tiba-tiba terdengar suara Batara Narada berteriak memanggil-manggil di luar istana. Prabu Minalodra marah dan keluar untuk menghadapinya.

Batara Narada berkata Prabu Minalodra jangan gembira dulu. Para dewa bukannya kalah, tetapi sengaja mengalah karena melawan makhluk dunia harus menggunakan jago sesama makhluk dunia pula. Prabu Minalodra bertanya apakah Batara Narada datang membawa jago tersebut. Batara Narada pun menunjukkan bayi laki-laki yang ada di gendongannya. Meskipun masih bayi, namun ia sudah berusia dua puluh tahun.

Prabu Minalodra tertawa menyebut Batara Narada sedang bercanda. Mana ada manusia sudah berusia dua puluh tahun tetapi masih berwujud bayi? Batara Narada berkata Prabu Minalodra tidak usah mengejek kalau hanya untuk menutupi rasa takutnya. Prabu Minalodra tersinggung dan segera menyerang Batara Narada. Batara Narada pun melemparkan bayi dalam gendongannya ke arah kepala Prabu Minalodra.

Tubuh si bayi Raden Antasena membentur kepala Prabu Minalodra hingga membuatnya merasa pusing. Anehnya, Raden Antasena tidak mati, tetapi tumbuh menjadi anak kecil yang sudah bisa berjalan. Prabu Minalodra merasa heran. Ia pun memukul dan menendang tubuh Raden Antasena. Sungguh ajaib, semakin dipukul tubuh Raden Antasena semakin bertambah besar, hingga akhirnya menjadi pemuda dewasa sesuai dengan usianya yang sudah dua puluh tahun.

Prabu Minalodra semakin penasaran. Ia pun mengamuk menyerang Raden Antasena. Raden Antasena melawan sebisanya. Ia memiliki kesaktian alamiah yang dengan sendirinya dapat menghadapi semua serangan Prabu Minalodra. Hingga akhirnya, Prabu Minalodra pun tewas kehilangan nyawa. Jasadnya musnah, dan seluruh kesaktiannya berpindah ke dalam diri Raden Antasena.

BATARA BARUNA MENGANGKAT RADEN ANTASENA SEBAGAI CUCU

Raden Antasena terlihat kebingunan dan Batara Narada pun mendatangi untuk menjelaskan siapa dirinya. Tidak lama kemudian datanglah Resi Mintuna. Batara Narada meminta maaf karena telah meminjam Raden Antasena untuk dijadikan sebagai jago para dewa. Resi Mintuna justru berterima kasih, karena cucunya kini telah tumbuh dewasa berkat bertarung melawan Prabu Minalodra tadi.

Raden Antasena pun memberi salam kepada Resi Mintuna. Meskipun selama dua puluh tahun ini ia berwujud bayi, namun dirinya dapat mengenali wajah kakek dan ibunya. Resi Mintuna merasa senang dan memeluk cucunya tersebut. Ketika hendak dibawa pulang ke Padepokan Kisiknarmada, tiba-tiba Batara Guru datang bersama Batara Baruna.

Batara Guru berterima kasih atas bantuan Resi Mintuna dan Raden Antasena dalam mengalahkan Prabu Minalodra. Sebagai ungkapan terima kasih, Batara Guru pun memberikan hadiah kepada Raden Antasena berupa Cupu Madusena yang berisi air kehidupan Tirtamarta Kamandanu. Batara Guru juga mengangkat Resi Mintuna sebagai dewa pelindung ikan air tawar, berdampingan dengan Batara Baruna yang merupakan dewa pelindung ikan air laut. Resi Mintuna merasa tidak pantas karena ia tidak membantu apa-apa. Namun, Batara Guru sudah memutuskan demikian, karena ia menilai tapa brata Resi Mintuna selama ini sudah mencapai derajat dewa. Maka, sejak hari itu Resi Mintuna boleh disebut dengan gelar Batara Mintuna.

Batara Baruna juga berterima kasih karena bisa kembali bertakhta di Kahyangan Dasarsamodra. Ia pun mengangkat Batara Mintuna sebagai saudara, dan menjadikan Raden Antasena sebagai cucu. Maka, sejak hari itu Raden Antasena pun disebut pula sebagai cucu Batara Baruna.

RADEN ANTASENA INGIN MENCARI AYAHNYA

Batara Guru menjelaskan bahwa selama dua puluh tahun ini, Raden Antasena dalam wujud bayi selalu menangis minta direndam di dalam air laut mulai pagi hingga senja. Kelihatannya ini seperti berendam biasa, tetapi sesungguhnya apa yang dilakukan Raden Antasena adalah tapa brata keras, di mana ia menyerap intisari kekuatan air agar merasuk ke dalam dirinya. Hal ini membuat Raden Antasena menjadi manusia sakti alamiah yang tidak terkalahkan. Selain itu, meskipun kini sudah berubah menjadi pria dewasa, namun sifat-sifat bayi yang polos dan lugu tetap terbawa, membuat Raden Antasena menjadi pribadi yang jujur apa adanya, tidak bisa berpura-pura, juga tidak mengenal basa-basi duniawi.

Batara Mintuna bersyukur atas suratan takdir yang dialami cucunya. Kelainan yang dialami Raden Antasena ternyata mengandung hikmah yang sedemikian besar. Ia pun mohon pamit untuk mengajak Raden Antasena pulang ke Padepokan Kisiknarmada. Namun, Raden Antasena menolak. Kini dirinya sudah bukan bayi lagi yang ke sana kemari dalam gendongan ibu. Sebagai seorang anak, tentunya ia ingin bertemu dengan ayah kandungnya. Meskipun selama ini berwujud bayi, namun ia dapat mendengar percakapan ibu dan kakeknya, bahwa ayah kandungnya bernama Arya Wrekodara dari Kesatrian Jodipati di Kerajaan Amarta. Untuk itu, Raden Antasena pun mohon pamit ingin bertemu dengan kesatria Pandawa nomor dua tersebut. Kelak apabila ia sudah bertemu dengan Arya Wrekodara, barulah dirinya pulang ke Padepokan Kisiknarmada untuk berkumpul kembali dengan sang ibu, yaitu Dewi Urangayu.

Batara Mintuna dapat mengerti perasaan cucunya itu, demikian pula Batara Guru, Batara Narada, dan Batara Baruna. Setelah mendapatkan petunjuk tentang arah mana yang harus ditempuh untuk menuju Kerajaan Amarta, Raden Antasena pun mohon pamit berangkat ke sana.

PRABU KRESNA MENDAPAT LAPORAN TENTANG HILANGNYA PARA PANDAWA

Sementara itu di Kerajaan Dwarawati, Prabu Kresna Wasudewa sedang memimpin pertemuan yang dihadiri Raden Samba, Arya Setyaki, dan Patih Udawa. Tiba-tiba datanglah Raden Abimanyu dengan wajah tegang seperti ada masalah besar. Dalam kunjungannya itu, Raden Abimanyu melapor bahwa kelima Pandawa telah hilang diculik orang.

Awal mulanya ialah, Kerajaan Amarta diserang musuh dari Kerajaan Girikadasar yang dipimpin Prabu Ganggatrimuka, yang ingin menangkap kelima Pandawa untuk dijadikan tumbal bagi keselamatan negaranya. Dalam pertempuran itu, pasukan Girikadasar dapat dipukul mundur oleh Arya Wrekodara dan kedua putranya, yaitu Raden Antareja dan Raden Gatutkaca. Namun, pada malam harinya tiba-tiba Pandawa Lima lenyap dari istana. Para putra Pandawa menduga mereka pasti diculik oleh Prabu Ganggatrimuka dengan menggunakan Aji Sirep.

Prabu Kresna menerima laporan tersebut dan kemudian mengheningkan cipta memohon petunjuk dewata. Sesaat kemudian ia membuka mata dan menjelaskan bahwa memang benar Pandawa Lima saat ini berada dalam penjara Kerajaan Girikadasar sebagai tawanan Prabu Ganggatrimuka. Bulan purnama besok, mereka berlima akan disembelih sebagai tumbal bagi keselamatan negara.

Raden Abimanyu ngeri mendengarnya. Ia pun memohon bantuan Prabu Kresna agar sudi menolong para Pandawa. Prabu Kresna menjawab dirinya tidak ditakdirkan untuk melawan Prabu Ganggatrimuka dan membebaskan para Pandawa. Menurut penerawangannya, yang bisa membebaskan Pandawa Lima adalah putra Arya Wrekodara.

Mendengar itu, Raden Abimanyu merasa mendapat pencerahan. Ia segera mohon pamit kepada Prabu Kresna untuk melaporkan hal ini kepada saudara-saudaranya yang lain. Setelah Raden Abimanyu pergi, Prabu Kresna merasa penasaran dan segera mengikutinya dari belakang secara diam-diam.

RADEN ANTASENA MELERAI KEDUA KAKAKNYA

Raden Abimanyu kembali ke perbatasan di mana saudara-saudaranya telah menunggu, yaitu Raden Pancawala, Raden Antareja, Raden Gatutkaca, Raden Bratalaras, dan Raden Sumitra. Ia segera menyampaikan petunjuk yang telah diberikan Prabu Kresna, bahwa yang bisa mengalahkan Prabu Ganggatrimuka dan membebaskan para Pandawa adalah putra Arya Wrekodara. Raden Pancawala gembira mendengarnya dan segera menyerahkan kepemimpinan kepada Raden Antareja atau Raden Gatutkaca.

Raden Antareja selaku putra sulung Arya Wrekodara, merasa dirinya lebih berhak menjadi pemimpin upaya penyelamatan para Pandawa. Raden Gatutkaca menentang hal itu. Petunjuk dari Prabu Kresna menyebut tentang putra Arya Wrekodara, dan ini tidak terbatas pada anak sulung saja. Meskipun usia Raden Antareja lebih tua, tetapi Raden Gatutkaca lebih dulu menjadi punggawa Kerajaan Amarta. Dengan kata lain, pengalaman berperang Raden Gatutkaca jauh lebih banyak daripada kakaknya itu.

Raden Antareja tidak mau mengalah, begitu pula dengan Raden Gatutkaca. Keduanya sama-sama berebut siapa yang berhak menjadi pemimpin penyelamatan para Pandawa. Sudah beberapa kali kakak beradik ini terlibat pertarungan tetapi belum bisa menentukan siapa yang menang, siapa yang kalah. Kali ini mereka kembali bertarung, demi untuk menentukan siapa yang lebih berhak menjadi pemimpin rombongan.

Raden Pancawala, Raden Abimanyu, Raden Bratalaras, dan Raden Sumitra berusaha melerai kedua sepupu mereka itu, namun keduanya sudah bertarung sengit, berusaha saling mengalahkan. Kadang-kadang Raden Antareja menarik tubuh Raden Gatutkaca masuk ke dalam tanah, kadang-kadang Raden Gatutkaca menyambar tubuh Raden Antareja naik ke angkasa, seperti pertarungan yang sudah-sudah.

Pada saat itulah tiba-tiba muncul Raden Antasena menerjang mereka. Dari kepalanya muncul sepasang sungut udang yang memanjang, dan masing-masing menyengat tubuh Raden Antareja dan Raden Gatutkaca. Begitu tersengat sungut di kepala Raden Antasena tersebut, kedua bersaudara itu langsung jatuh terduduk dengan tubuh lemas. Keduanya tidak menyangka ada seorang pemuda berwajah lugu yang bisa menghentikan pertarungan mereka. Raden Antareja dan Raden Gatutkaca ingin bangkit berdiri tetapi kaki mereka terasa lemas tidak bertenaga sama sekali.

Raden Antasena berkata, sungguh memalukan dua punggawa Kerajaan Amarta yang masih kakak beradik harus bertarung sendiri hanya demi memperebutkan kedudukan sebagai pemimpin. Apa untungnya mereka menjadi pemimpin jika harus melukai saudara sendiri? Apa gunanya memamerkan jasa di hadapan para Pandawa, jika harus menginjak saudara sendiri? Bukankah lebih baik mereka menyisihkan ego dan meraih kemenangan dengan cara bekerja sama, bukan dengan cara bersaing saling menjatuhkan?

Raden Antareja dan Raden Gatutkaca merasa malu mendengarnya. Raden Gatutkaca lalu mempersilakan Raden Antareja saja yang menjadi pemimpin pasukan. Namun, Raden Antareja menolak karena Raden Gatutkaca jauh lebih berpengalaman sebagai punggawa daripada dirinya. Kedua bersaudara itu kembali bertengkar, tapi kali ini mereka saling berebut kalah, bukan saling berebut menang.

Raden Antasena tertawa melihat keduanya. Berdiri saja mereka tidak sanggup tapi hendak menyelamatkan para Pandawa. Urusan memimpin pasukan biarlah dirinya saja yang memimpin. Raden Antareja dan Raden Gatutkaca tidak terima karena ada pemuda polos berwajah bodoh hendak memimpin mereka. Namun, mengingat kesaktian Raden Antasena yang bisa melumpuhkan mereka hanya dengan sekali sengat, keduanya merasa gentar untuk membantah.

RADEN ANTASENA MENJADI PEMIMPIN UPAYA PEMBEBASAN PARA PANDAWA

Pada saat itulah Prabu Kresna muncul menampakkan diri. Sejak tadi ia mengintai pertarungan antara Raden Antareja dan Raden Gatutkaca, hingga kemunculan Raden Antasena yang berhasil melumpuhkan mereka hanya dengan sekali sengat. Prabu Kresna lalu mengamat-amati penampilan Raden Antasena dan ia pun menebak bahwa pemuda itu adalah putra Arya Wrekodara. Raden Antareja, Raden Gatutkaca, dan yang lain terkejut tidak percaya pada keterangan tersebut.

Prabu Kresna pun menjelaskan bahwa Arya Wrekodara memiliki tiga orang istri. Yang pertama adalah Dewi Nagagini, yaitu ibu Raden Antareja; yang kedua adalah Dewi Arimbi, yaitu ibu Raden Gatutkaca. Adapun istri yang ketiga bernama Dewi Urangayu, dan tentunya wanita itulah yang melahirkan Raden Antasena.

Raden Antasena membenarkan, bahwa dirinya memang putra Arya Wrekodara yang lahir dari Dewi Urangayu. Tadinya ia menuju Kerajaan Amarta namun ternyata di sana tidak bertemu para Pandawa. Raden Antasena lalu ditangkap Patih Tambakganggeng yang sedang meronda karena dikira penyusup yang hendak berbuat onar. Namun, dirinya justru berbalik meringkus patih Kerajaan Amarta tersebut. Dari keterangan Patih Tambakganggeng, ternyata Pandawa Lima hilang diculik Prabu Ganggatrimuka, dan saat ini para putra mereka telah berangkat untuk upaya penyelamatan. Raden Antasena lalu membebaskan Patih Tambakganggeng dan bergegas menyusul hingga akhirnya melihat Raden Antareja dan Raden Gatutkaca sedang berkelahi.

Raden Antareja dan Raden Gatutkaca saling pandang kemudian berusaha bangkit untuk memeluk Raden Antasena. Namun, kaki mereka masih lemas tiada tenaga sama sekali untuk berdiri. Raden Antasena tertawa dan kemudian kembali menyengat kedua kakaknya tersebut. Begitu tersengat untuk yang kedua kalinya, seketika tenaga Raden Antareja dan Raden Gatutkaca kembali pulih. Mereka berdua lalu bersamaan memeluk Raden Antasena. Keduanya juga setuju biarlah Raden Antasena saja yang memimpin perjuangan membebaskan para Pandawa.

Raden Pancawala, Raden Abimanyu, dan yang lain pun mendukung Raden Antasena sebagai pemimpin perjalanan. Karena semuanya sudah sepakat, Raden Antasena pun meminta restu kepada Prabu Kresna, lalu berangkat bersama saudara-saudaranya tersebut menuju Kerajaan Girikadasar.

PRABU GANGGATRIMUKA MENERIMA KUNJUNGAN KAKAKNYA

Sementara itu di Kerajaan Girikadasar, Prabu Ganggatrimuka menerima kunjungan kakaknya yang bernama Prabu Ganggapranawa dari Kerajaan Tawingnarmada. Prabu Ganggapranawa tampak datang bersama putri kandungnya yang bernama Dewi Ganggi.

Setelah saling memberi salam, Prabu Ganggapranawa pun bertanya apakah benar Prabu Ganggatrimuka telah menyekap Pandawa Lima. Prabu Ganggatrimuka membenarkan hal itu. Ia memang telah menculik para Pandawa menggunakan Aji Sirep dan menyekap mereka di dalam Konggedah. Hal ini karena Kerajaan Girikadasar sedang dilanda wabah, dan menurut petunjuk dari Batara Kala yang disembah Prabu Ganggatrimuka, bahwa wabah tersebut akan sirna apabila Pandawa Lima disekap dan disembelih sebagai korban.

Prabu Ganggapranawa merasa prihatin mendengarnya. Sejak awal ia tidak pernah setuju adiknya itu memuja Batara Kala yang mengajarkan agama sesat. Lebih baik Prabu Ganggatrimuka kembali ke jalan yang benar, dan membebaskan para Pandawa dari sekapan. Prabu Ganggatrimuka tidak terima. Ia tetap bersikeras mengorbankan nyawa para Pandawa dan mempersembahkan darahnya kepada Batara Kala.

Tiba-tiba seorang punggawa masuk dan melaporkan tentang putra-putra Pandawa yang menyerang Kerajaan Girikadasar. Prabu Ganggatrimuka marah dan segera keluar menghadapi serangan tersebut.

RADEN ANTASENA MEMBEBASKAN PARA PANDAWA

Sesungguhnya serangan para putra Pandawa itu hanyalah pancingan belaka. Raden Antasena telah menyusun siasat untuk membebaskan para Pandawa. Ia menugasi Raden Antareja, Raden Gatutkaca, Raden Abimanyu, Raden Bratalaras, dan Raden Sumitra untuk membuat kekacauan agar Prabu Ganggatrimuka keluar menghadapi mereka. Sementara itu, Raden Antasena dan Raden Pancawala menyusup melalui istana belakang untuk mencari di mana para Pandawa disekap. Setelah mencari sekian lama, mereka akhirnya melihat Pandawa Lima sedang dikurung dalam sebuah gedung kaca yang sangat tebal. Kelimanya pun tampak terbaring lemas karena kehabisan udara.

Raden Antasena mengheningkan cipta mengumpulkan kekuatan. Sepasang sungutnya kembali memanjang dan menyengat gedung kaca tersebut. Gedung kaca ini adalah pusaka Prabu Ganggatrimuka yang bernama Konggedah. Tidak ada satu pun senjata yang bisa memecahkannya. Namun, begitu tersengat oleh sungut Raden Antasena, gedung kaca tersebut menjadi hancur berkeping-keping.

Raden Antasena dan Raden Pancawala menggotong keluar para Pandawa yang sudah lemas tak sadarkan diri. Raden Antasena lalu membuka Cupu Madusena dan memercikkan air di dalamnya ke tubuh Pandawa Lima. Seketika para Pandawa pun membuka mata. Raden Pancawala sangat gembira dan memperkenalkan Raden Antasena kepada mereka.

Prabu Puntadewa sangat bersyukur dan berterima kasih atas pertolongan Raden Antasena. Namun, Arya Wrekodara tidak bisa mengakui anaknya begitu saja. Ia bersedia menerima Raden Antasena sebagai putra asalkan bisa mengalahkan Prabu Ganggatrimuka. Mendengar itu, Raden Antasena segera mohon pamit menuju ke tempat pertempuran.

PRABU GANGGATRIMUKA DIKALAHKAN RADEN ANTASENA

Sementara itu, Prabu Ganggatrimuka dan pasukannya sedang bertempur melawan Raden Antareja, Raden Gatutkaca, dan yang lain. Prabu Ganggatrimuka sendiri sangat kuat dan sulit dikalahkan. Raden Antareja dan saudara-saudaranya sudah mengerahkan segala cara, namun tidak juga berhasil mengalahkan raja Girikadasar tersebut.

Pada saat itulah Raden Antasena muncul. Dengan sekali pukul ia berhasil membuat Prabu Ganggatrimuka roboh dengan kepala pecah. Raden Antareja, Raden Gatutkaca, dan yang lain kagum melihat kesaktian Raden Antasena yang luar biasa itu. Dari luar terlihat lugu dan polos, dengan wajah bodoh, namun ternyata menyimpan kehebatan yang mengagumkan.

Prabu Ganggapranawa tidak terima melihat adiknya tewas. Ia pun maju menyerang para putra Pandawa tersebut. Raden Antareja segera maju menghadapi. Setelah bertarung cukup lama, ia akhirnya berhasil mendesak raja tersebut. Prabu Ganggapranawa terkena pukulannya dan roboh di tanah. Ketika Raden Antareja hendak memukulnya lagi, tiba-tiba Dewi Ganggi muncul menghalangi.

Dewi Ganggi memohon agar ayahnya diampuni. Sebagai ganti, biarlah dirinya saja yang dihukum mati oleh Raden Antareja. Namun, ia juga menjelaskan bahwa ayahnya sama sekali tidak terlibat kejahatan Prabu Ganggatrimuka. Dalam hal ini Prabu Ganggapranawa justru menasihati Prabu Ganggatrimuka agar membebaskan para Pandawa, namun adiknya itu tetap bersikeras memuja Batara Kala.

Raden Antareja gemetar melihat kecantikan Dewi Ganggi. Rupanya ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Prabu Kresna dan para Pandawa muncul. Prabu Ganggapranawa pun bangkit dan meminta maaf atas dosa-dosa adiknya yang kini telah tewas. Prabu Puntadewa mewakili para Pandawa menerima maaf tersebut dan mengajak Prabu Ganggapranawa duduk bersama.

Raden Arjuna yang banyak berpengalaman dalam urusan cinta dapat melihat bahwa Raden Antareja telah jatuh cinta kepada Dewi Ganggi. Ia pun meminta Arya Wrekodara agar berbesan dengan Prabu Ganggapranawa. Arya Wrekodara setuju, mengingat Raden Gatutkaca sudah lebih dulu menikah, maka sangat pantas apabila Raden Antareja selaku putra sulung juga mendapatkan istri.

Mendengar itu, Prabu Ganggapranawa sangat bahagia karena dirinya bisa berbesan dengan para Pandawa. Ia pun menanyai Dewi Ganggi apakah bersedia menjadi istri Raden Antareja. Dewi Ganggi hanya tertunduk malu. Mereka semua pun tertawa gembira. Suasana permusuhan kini berubah menjadi persaudaraan.

Arya Wrekodara adalah yang paling merasa gembira, karena para Pandawa termasuk dirinya telah lolos dari maut, sekaligus mendapat seorang menantu pula. Dan yang lebih utama, ia kini bertemu dengan putra ketiganya, yaitu Raden Antasena. Prabu Puntadewa sekali lagi berterima kasih atas pertolongan Raden Antasena yang telah memimpin upaya penyelamatan atas dirinya dan para Pandawa lainnya dengan sangat baik. Mereka semua lalu kembali ke Kerajaan Amarta untuk mengadakan syukuran, sekaligus menyusun rencana pernikahan Raden Antareja dengan Dewi Ganggi.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Kisah di atas sebenarnya adalah gabungan lakon Antasena Lahir dan Antasena Takon Bapa yang saya jadikan satu. Mengenai kisah Raden Antasena sudah berusia dua puluh tahun tetapi masih berwujud bayi adalah karangan saya, sebagai benang merah untuk mengisahkan asal mula Raden Antasena memiliki watak polos dan jujur seperti anak kecil. Adapun Prabu Ganggapranawa bersaudara dengan Prabu Ganggatrimuka juga tambahan dari saya, dengan maksud untuk menyisipkan kisah pernikahan Raden Antareja dengan Dewi Ganggi.


Untuk kisah pertemuan antara Arya Wrekodara dengan Dewi Urangayu dapat dibaca di sini

Untuk kisah perkawinan Arya Wrekodara dengan Dewi Urangayu dapat dibaca di sini

Untuk kisah pertemuan pertama Raden Gatutkaca dan Raden Antareja dapat dibaca di sini


















Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ▼  2017 (34)
    • ▼  December (1)
      • Wisanggeni Lahir
    • ►  November (2)
      • Antasena Takon Bapa
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja