Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Partajumena Rabi

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Raden Partajumena putra Prabu Kresna dengan Dewi Kusumadewati putri Raden Arjuna.

Kisah ini saya olah dari sumber balungan naskah Pakem Ringgit Purwa koleksi Museum Sonobudoyo yang dirangkum oleh Ki Rudy Wiratama, dengan disertai pengembangan seperlunya.

Kediri, 20 April 2018

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

Raden Partajumena.

------------------------------ ooo ------------------------------

PRABU KRESNA HENDAK MENIKAHKAN RADEN PARTAJUMENA

Prabu Kresna Wasudewa di Kerajaan Dwarawati sedang memimpin pertemuan dan menerima kedatangan sang kakak, yaitu Prabu Baladewa dari Kerajaan Mandura. Dalam pertemuan itu, Prabu Kresna membahas tentang rencana menikahkan Raden Partajumena dengan Dewi Kusumadewati, putri Raden Arjuna di Kesatrian Madukara.

Raden Partajumena adalah putra Prabu Kresna yang lahir dari Dewi Rukmini. Ia jarang tinggal di istana Dwarawati karena lebih suka berkelana mencari ilmu kesaktian, mirip seperti ayahnya semasa muda dulu, yaitu saat masih bernama Raden Narayana. Di antara para putra Prabu Kresna, Raden Partajumena adalah yang paling sakti. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak tertarik untuk memanfaatkan kesaktiannya demi mendapatkan kedudukan sebagai putra mahkota. Lagipula, Raden Partajumena sangat menghormati keputusan sang ayah yang telah menetapkan kakaknya, yaitu Raden Samba sebagai calon raja Dwarawati kelak.

Prabu Kresna merasa sudah cukup Raden Partajumena berkelana mencari pengalaman. Kini tiba waktunya bagi putranya itu untuk mengabdikan ilmu demi kepentingan negara. Untuk itu, Prabu Kresna pun berniat menikahkan Raden Partajumena dengan putri Raden Arjuna yang bernama Dewi Kusumadewati. Dengan memiliki istri, maka kehidupan Raden Partajumena diharapkan bisa lebih baik dan lebih dewasa dalam bersikap karena adanya pendamping hidup.

Prabu Baladewa menyetujui rencana Prabu Kresna tersebut. Ia pun menawarkan diri untuk menjadi pelamar ke Kesatrian Madukara. Prabu Kresna berterima kasih dan mengajak Prabu Baladewa untuk makan bersama terlebih dahulu. Namun, Prabu Baladewa menolak karena urusan makan bisa dilakukan nanti apabila sudah selesai urusan perjodohan.

Setelah dirasa cukup, Prabu Baladewa pamit berangkat menuju Kesatrian Madukara di Kerajaan Amarta. Prabu Kresna pun memerintahkan Arya Setyaki agar ikut menemani perjalanan sang kakak.

PRABU KLANAWASESA INGIN MENIKAHI DEWI KUSUMADEWATI

Tersebutlah seorang raja bernama Prabu Klanawasesa dari Kerajaan Simbarmanyura. Hari itu ia memanggil panakawan Kyai Togog dan Bilung Sarahita untuk dimintai keterangan tentang mimpinya. Semalam Prabu Klanawasesa mimpi bertemu seorang gadis cantik bernama Dewi Kusumadewati. Gadis itu mengaku sebagai putri Raden Arjuna di Kesatrian Madukara. Prabu Klanawasesa seketika jatuh cinta kepada gadis dalam mimpinya tersebut, dan bertanya kepada Kyai Togog di mana letak Kesatrian Madukara.

Kyai Togog pun bercerita bahwa Kesatrian Madukara berada di wilayah Kerajaan Amarta. Raden Arjuna sendiri adalah kesatria nomor tiga dari Pandawa Lima yang termasyhur namanya. Jika gadis bernama Dewi Kusumadewati yang ditemui Prabu Klanawasesa dalam mimpi berparas cantik, hal itu sangat wajar karena Raden Arjuna sendiri juga terkenal sebagai manusia paling tampan di muka bumi.

Prabu Klanawasesa semakin tertarik mendengarnya. Ia pun membulatkan tekad untuk menikahi Dewi Kusumadewati. Apabila Raden Arjuna tidak mengabulkan lamarannya, maka Kesatrian Madukara akan ia hancurkan rata dengan tanah. Kyai Togog dan Bilung menasihati Prabu Klanawasesa agar jangan bertindak gegabah, karena para Pandawa bukanlah manusia sembarangan. Jika Prabu Klanawasesa hendak mencari perkara dengan Raden Arjuna, maka itu namanya mencari mati. Prabu Klanawasesa tidak gentar sama sekali. Ia pun menyiapkan pasukan dan berangkat menuju Kerajaan Amarta.

PASUKAN SIMBARMANYURA BENTROK DENGAN ROMBONGAN DARI DWARAWATI

Prabu Klanawasesa dan pasukannya telah meninggalkan Kerajaan Simbarmanyura menuju Kesatrian Madukara di Kerajaan Amarta. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan rombongan dari Kerajaan Dwarawati, di mana Arya Setyaki berada paling depan. Setelah mengetahui bahwa tujuan Prabu Klanawasesa hendak melamar Dewi Kusumadewati, Arya Setyaki pun berusaha menggagalkannya. Maka, terjadilah pertempuran antara kedua rombongan tersebut.

Meskipun jumlah pasukan Simbarmanyura lebih banyak, namun Arya Setyaki mampu memporak-porandakan mereka. Prabu Klanawasesa marah melihat pasukannya diobrak-abrik. Ia pun maju menyerang Arya Setyaki. Kali ini ganti Arya Setyaki yang terdesak. Melihat itu, Prabu Baladewa segera turun dari punggung Gajah Puspadenta dan bertarung menghadapi Prabu Klanawasesa.

Prabu Klanawasesa terdesak menghadapi serangan Prabu Baladewa yang khas disertai makian menggelegar. Ia pun memerintahkan pasukannya yang tersisa untuk mundur kembali ke Kerajaan Simbarmanyura, sedangkan ia sendiri melanjutkan perjalanan menuju Kesatrian Madukara untuk menculik Dewi Kusumadewati.

DANGHYANG DRUNA MELAMAR DEWI KUSUMADEWATI UNTUK RADEN LESMANA MANDRAKUMARA

Di Kesatrian Madukara, Raden Arjuna menerima kedatangan gurunya, yaitu Danghyang Druna yang ditemani Patih Sangkuni. Keduanya datang atas perintah Prabu Duryudana di Kerajaan Hastina yang ingin menikahkan putra mahkota Raden Lesmana Mandrakumara dengan Dewi Kusumadewati. Danghyang Druna berharap Raden Arjuna menerima lamaran tersebut sehingga para Pandawa dan Kurawa bisa mempererat persaudaraan.

Raden Arjuna belum menjawab, tiba-tiba datang Prabu Baladewa bersama Arya Setyaki. Sama seperti rombongan dari Kerajaan Hastina, Prabu Baladewa pun datang untuk menyampaikan lamaran Prabu Kresna terhadap Dewi Kusumadewati sebagai calon istri Raden Partajumena.

Danghyang Druna menyela, bahwa yang pertama datang melamar adalah pihaknya, maka seharusnya lamaran mereka yang diterima. Prabu Baladewa berkata, lamaran pihak Hastina belum mendapat jawaban dari sang tuan rumah, itu artinya orang lain masih mempunyai kesempatan yang sama. Patih Sangkuni menyindir, sejak dulu Prabu Baladewa selalu melamarkan anak orang lain, kadang anak Prabu Duryudana, kadang anak Prabu Kresna, tetapi anak sendiri belum dinikahkan. Prabu Baladewa semakin marah dan memaki Patih Sangkuni tidak perlu mencampuri urusan rumah tangganya.

Raden Arjuna melerai pertengkaran mereka sebelum berubah menjadi perkelahian. Ia pun memanggil putrinya yang menjadi rebutan, yaitu Dewi Kusumadewati. Gadis itu disuruh memilih, lamaran pihak mana yang akan diterima, apakah menjadi istri Raden Lesmana Mandrakumara, ataukah menjadi istri Raden Partajumena? Dewi Kusumadewati tidak dapat menjawab sekarang. Ia bercerita bahwa dirinya sejak kecil suka belajar menabuh gamelan, maka kelak jika menikah ingin rasanya pernikahannya diiringi alunan musik gamelan Lokananta milik Kahyangan Suralaya.

Patih Sangkuni menyebut Dewi Kusumadewati anak kecil yang suka berkhayal. Ia menjanjikan gamelan milik Kerajaan Hastina juga merdu, tidak kalah dengan milik Kahyangan Suralaya. Di lain pihak, Prabu Baladewa menyatakan pihak Kerajaan Dwarawati siap mewujudkan syarat tersebut. Dulu sewaktu Raden Arjuna melamar Dewi Sumbadra, dirinya telah mengajukan syarat-syarat berat. Sekarang jika pihak Madukara yang mengajukan syarat seperti itu, ia siap menerima. Usai berkata, Prabu Baladewa dan Arya Setyaki pun pamit kembali ke Kerajaan Dwarawati.

Karena sudah diputuskan demikian, Danghyang Druna ikut pamit pula, dengan disertai Patih Sangkuni.

PRABU KRESNA MEMERINTAHKAN RADEN PARTAJUMENA MEMINTA BANTUAN KYAI SEMAR

Prabu Baladewa dan rombongan telah kembali ke Kerajaan Dwarawati dan menceritakan apa yang menjadi syarat pihak mempelai wanita. Prabu Kresna menyampaikan hal itu kepada Raden Partajumena dan memerintahkannya untuk menyerahkan hidup mati kepada Kyai Semar. Raden Partajumena mematuhi dan segera mohon pamit menuju Desa Karangkadempel.

Sesampainya di sana, Raden Partajumena segera menemui Kyai Semar dan menyerahkan hidup mati kepadanya. Kyai Semar tanggap dan mengetahui pasti Prabu Kresna yang memerintahkan demikain. Ia lalu bertanya ada masalah apa yang sedang dihadapi Raden Partajumena. Raden Partajumena pun menceritakan tentang persyaratan yang diajukan calon istrinya, yaitu Dewi Kusumadewati. Persyaratan tersebut ialah harus dapat menyediakan Gamelan Lokananta dari Kahyangan Suralaya. Kyai Semar berkata, ini hanya masalah kecil. Ia menyatakan bersedia mengantar Raden Partajumena naik ke kahyangan.

DANGHYANG DRUNA MEMINTA BANTUAN BATARI WILOTAMA

Sementara itu, Danghyang Druna juga sedang mencari cara bagaimana bisa mewujudkan Gamelan Lokananta yang diminta Dewi Kusumadewati. Ia lalu duduk bersila di bawah pohon, memohon petunjuk dewata. Tiba-tiba datang seorang bidadari turun dari langit, yaitu Batari Wilotama.

Dahulu kala Batari Wilotama pernah mengalami kutukan sehingga berubah menjadi kuda sembrani. Saat itu Danghyang Druna masih bernama Bambang Kumbayana, sedang dalam perjalanan menuju Tanah Jawa mencari sahabatnya yang bernama Raden Sucitra. Bambang Kumbayana terhalang lautan dan ia pun dihampiri si kuda sembrani penjelmaan Batari Wilotama.

Bambang Kumbayana lalu menunggangi punggung kuda itu yang ternyata mampu terbang di angkasa. Ketika sedang berada di punggung kuda, Bambang Kumbayana tertidur dan mimpi bertemu Dewi Krepi hingga menyebabkan mimpi basah. Air maninya jatuh ke laut dan disambar oleh si kuda sembrani. Sesampainya di Tanah Jawa, kuda sembrani itu hamil dan tidak mau berpisah dengan Bambang Kumbayana. Hingga akhirnya, ia pun melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Bambang Aswatama.

Bambang Kumbayana malu diejek orang karena mempunyai anak dari seekor kuda, sehingga ia pun menusuk kuda sembrani tersebut. Sungguh ajaib, si kuda sembrani berubah wujud menjadi Batari Wilotama yang kemudian kembali ke kahyangan. Bambang Kumbayana lalu melanjutkan perjalanan dan berjumpa dengan gadis dalam mimpinya, yaitu Dewi Krepi yang bersedia menjadi istrinya. Dewi Krepi pun mengasuh Bambang Aswatama bagaikan anak kandungnya sendiri.

Kini, Batari Wilotama datang lagi di hadapan Danghyang Druna. Ia datang untuk membalas jasa karena dulu telah dibebaskan dari kutukan. Danghyang Druna pun meminta bantuan agar dipinjamkan Gamelan Lokananta dari Kahyangan Suralaya. Batari Wilotama bersedia lalu ia pun segera melesat terbang ke sana.

RADEN PARTAJUMENA MENDAPATKAN GAMELAN LOKANANTA

Raden Partajumena didampingi Kyai Semar dan para panakawan lainnya, yaitu Nala Gareng, Petruk, dan Bagong telah sampai di Kahyangan Suralaya. Batara Indra menerima kedatangan mereka. Raden Partajumena menyembah hormat kepada Batara Indra, sedangkan Batara Indra menyembah kepada Kyai Semar yang merupakan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari ayahnya (Batara Guru).

Kyai Semar pun berterus terang bahwa kedatangan mereka ialah untuk meminjam Gamelan Lokananta sebagai syarat pernikahan Raden Partajumena dengan Dewi Kusumadewati. Konon gamelan ini dapat berbunyi sendiri dan suaranya menggema di angkasa. Batara Indra berkata ia bersedia meminjamkan Gamelan Lokananta, namun setelah hajatan pernikahan selesai, harus segera dikembalikan ke Kahyangan Suralaya. Kyai Semar dan Raden Partajumena menyatakan bersedia.

Batara Indra lalu memasukkan Gamelan Lokananta tersebut ke dalam sebuah kendaga (peti) pusaka. Gamelan yang jumlahnya seperangkat itu secara ajaib bisa masuk ke dalam sebuah kotak kecil yang kemudian diserahkan kepada Raden Partajumena. Batara Indra berpesan agar Raden Partajumena berhati-hati karena para Kurawa pasti ingin merebut peti tersebut.

Raden Partajumena berterima kasih atas kemurahan hati Batara Indra. Ia dan para panakawan lalu mohon pamit meninggalkan Kahyangan Suralaya.

RADEN PARTAJUMENA DIHADANG RAKSASA

Dalam perjalanan pulang menuju Kerajaan Dwarawati, tiba-tiba Raden Partajumena dan para panakawan dihadang raksasa yang mengaku bernama Ditya Wilasura. Raksasa itu berusaha merebut kotak yang dibawa Raden Partajumena. Namun, Raden Partajumena bukanlah pemuda sembarangan. Ia dengan cekatan mampu mengatasi raksasa itu dan membunuhnya.

Akan tetapi, Ditya Wilasura seolah memiliki nyawa rangkap. Begitu dibunuh, ia bisa hidup kembali dan menyerang Raden Partajumena. Berkali-kali Raden Partajumena membunuhnya, namun raksasa itu selalu dapat hidup kembali.

Kyai Semar melihat ada yang tidak beres. Ia pun menghampiri raksasa tersebut dan mengerahkan kentut saktinya. Raksasa itu muntah-muntah dan berubah kembali ke wujud asal, yaitu Batari Wilotama. Karena takut kepada Kyai Semar, Batari Wilotama pun melesat pergi ke tempat Danghyang Druna.

PARA KURAWA MENGEROYOK RADEN PARTAJUMENA

Batari Wilotama telah tiba di hadapan Danghyang Druna dan melaporkan kegagalannya. Ia menceritakan bahwa Gamelan Lokananta sudah didapatkan Raden Partajumena, namun ada Kyai Semar di samping pemuda itu. Terus terang Batari Wilotama tidak berani jika berhadapan dengan Kyai Semar. Usai meminta maaf, bidadari itu pun terbang kembali ke kahyangan.

Danghyang Druna merasa kecewa. Ia segera memberi tahu Patih Sangkuni tentang kegagalan Batari Wilotama. Patih Sangkuni lalu memerintahkan para Kurawa untuk mengeroyok Raden Partajumena dan merebut kotak berisi Gamelan Lokananta yang dibawa pemuda itu.

Arya Dursasana, Raden Surtayu, Raden Kartawarma, Raden Durmagati, dan para Kurawa lainnya, serta Adipati Jayadrata dan Bambang Aswatama segera pergi menghadang Raden Partajumena dan para panakawan. Mereka mengira Raden Partajumena seorang pemuda manja seperti Raden Samba yang selalu mengandalkan Arya Setyaki. Kebetulan Arya Setyaki tidak ada di situ, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh para Kurawa.

Namun, para Kurawa salah menduga. Raden Partajumena bukanlah seorang pemuda manja yang suka hidup nyaman di istana, melainkan gemar berkelana dan memiliki banyak pengalaman. Dengan cekatan ia mampu mengatasi para Kurawa meskipun dikeroyok dari segala arah. Kesaktian Raden Partajumena tidak berbeda seperti Prabu Kresna di masa muda dulu. Justru Arya Dursasana dan adik-adiknya yang dibuat kacau balau karena terlalu meremehkan lawan. Mereka pun berhamburan menyelamatkan diri, kembali ke Kerajaan Hastina.

PERKAWINAN RADEN PARTAJUMENA DAN DEWI KUSUMADEWATI

Raden Arjuna di Kesatrian Madukara telah mendapat kabar bahwa Gamelan Lokananta berhasil disediakan oleh pihak Kerajaan Dwarawati. Dengan senang hati ia pun memberi tahu para Pandawa lainnya dan juga para putra untuk bersama-sama mempersiapkan upacara pernikahan antara Dewi Kusumadewati dengan Raden Partajumena.

Pada hari yang telah ditentukan, rombongan pengantin pria datang dari Kerajaan Dwarawati. Raden Partajumena terlihat tampan dalam busana pengantin, sangat serasi dengan Dewi Kusumadewati yang cantik jelita. Keduanya pun dinikahkan, dengan diiringi alunan suara Gamelan Lokananta yang berkumandang di awang-awang.

Para Pandawa sibuk menerima para tamu, sehingga tidak menyadari ada penyusup yang berbaur di antara para hadirin. Penyusup itu adalah Prabu Klanawasesa raja Simbarmanyura yang hendak menculik Dewi Kusumadewati. Akan tetapi, pandangan matanya kemudian tertuju pada Dewi Pregiwa yang sibuk mengatur keluar-masuknya hidangan. Prabu Klanawasesa menjadi berubah pikiran. Ia tidak lagi berniat menculik Dewi Kusumadewati, tetapi ganti menyambar Dewi Pregiwa.

Para dayang pun menjerit-jerit karena Dewi Pregiwa diculik orang. Hal itu terdengar olah Raden Gatutkaca. Segera Raden Gatutkaca pun terbang mengejar penculik istrinya. Dalam sekejap Prabu Klanawasesa dapat tersusul. Prabu Klanawasesa tidak menyangka ada manusia yang bisa terbang mengejar dirinya. Raden Gatutkaca tanpa banyak bicara langsung melabrak raja Simbarmanyura tersebut.

Pertarungan sengit pun terjadi. Prabu Klanawasesa sebenarnya cukup sakti, namun tidak mampu menandingi kesaktian Raden Gatutkaca. Akhirnya ia pun tewas dengan kepala dicopot oleh lawannya itu. Raden Gatutkaca lalu memeluk Dewi Pregiwa dan membawa istrinya itu kembali ke tempat pesta pernikahan.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Mengenai Prabu Klanawasesa dan juga raksasa penjelmaan Batari Wilotama dalam kisah di atas adalah tambahan dari saya.


Untuk kisah pertemuan pertama Danghyang Druna dengan Batari Wilotama dapat dibaca di sini





Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Bambang Pramusinta

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang Bambang Pramusinta yang dikirim Prabu Tegalelana agar mati di tangan Raden Arjuna. Namun, bukannya tewas, ia justru diterima sebagai anggota keluarga Pandawa.

Kisah ini saya olah dari sumber rekaman pentas wayang kulit dengan dalang Ki Anom Suroto, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, April 2018

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

Bambang Pramusinta.

------------------------------ ooo ------------------------------

PRABU TEGALELANA JATUH CINTA PADA ISTRI PEGAWAINYA

Prabu Tegalelana adalah raja Bulukatiga yang dulu pernah ditaklukkan Raden Arjuna palsu penjelmaan Batara Kala. Raden Arjuna palsu itu lalu menduduki Kerajaan Bulukatiga, sedangkan Prabu Tegalelana diturunkan jabatannya menjadi patih. Kemudian Raden Arjuna palsu yang memakai gelar Prabu Janaka menyerang Kerajaan Amarta dan Kerajaan Dwarawati, namun ia dapat dikalahkan oleh Resi Endrasekti, yaitu penjelmaan Raden Arjuna yang asli. Setelah Prabu Janaka kembali ke kahyangan sebagai Batara Kala, Raden Arjuna pun mengampuni Patih Tegalelana dan mengizinkannya kembali menjadi raja di Bulukatiga.

Hari ini Prabu Tegalelana duduk memimpin pertemuan yang dihadiri adiknya, yaitu Raden Tegamurti, dan juga Patih Kuntalabahu. Pertemuan itu tidak membahas tentang kenegaraan, tetapi membicarakan masalah pribadi yang dialami Prabu Tegalelana sendiri.

Dua bulan yang lalu, Prabu Tegalelana sewaktu pulang dari Kerajaan Dwarawati, yaitu setelah mendapat pengampunan dari Prabu Kresna dan Raden Arjuna, di tengah jalan dihadang seekor harimau liar. Para prajurit yang kelelahan tidak ada yang mampu mengatasi harimau tersebut. Bahkan, hampir saja harimau itu menerkam Prabu Tegalelana. Beruntung saat itu muncul seorang pemuda yang menolong Prabu Tegalelana menaklukkan harimau tersebut. Harimau itu kabur melarikan diri setelah beberapa kali dibanting si pemuda. Prabu Tegalelana pun berterima kasih kepadanya. Pemuda itu memperkenalkan dirinya bernama Bambang Pramusinta dari Desa Pandansurat. Sebagai ungkapan rasa syukur, Prabu Tegalelana menerima Bambang Pramusinta bekerja sebagai punggawa Kerajaan Bulukatiga.

Esok harinya, Bambang Pramusinta datang ke istana Bulukatiga bersama istrinya dengan membawa palawija hasil bumi Pandansurat. Rupanya istri Bambang Pramusinta yang bernama Endang Rayungwulan ikut datang ke istana untuk berterima kasih kepada Prabu Tegalelana, karena suaminya diterima bekerja setelah cukup lama menjadi pengangguran. Menyaksikan paras Endang Rayungwulan yang cantik jelita, seketika Prabu Tegalelana terkesima. Sejak kejadian itu, ia menjadi susah tidur karena terbayang-bayang wajah istri Bambang Pramusinta tersebut. Dua bulan lamanya Prabu Tegalelana memendam perasaan ini, hingga sekarang ia tidak mampu lagi untuk tidak menceritakannya.

Raden Tegamurti mendengar penuturan kakaknya dengan seksama. Ia dapat menyimpulkan bahwa Prabu Tegalelana telah jatuh cinta kepada istri Bambang Pramusinta. Ia pun bertanya kepada kakaknya mengapa tidak menggunakan kekuasaan saja untuk menceraikan mereka dan mengambil Endang Rayungwulan ke istana? Prabu Tegalelana menjawab, jika ia menggunakan kekuasaan untuk merebut Endang Rayungwulan, maka Bambang Pramusinta akan benci kepadanya. Terus terang, Prabu Tegalelana gentar menyaksikan kesaktian Bambang Pramusinta yang begitu terampil membanting seekor harimau berkali-kali tanpa membunuh binatang tersebut.

Raden Tegamurti mengusulkan, untuk menghadapi orang sakti maka gunakanlah orang sakti lainnya. Prabu Tegalelana pun teringat pada Raden Arjuna yang pernah mengalahkannya. Ia yakin Raden Arjuna pasti bisa mengalahkan Bambang Pramusinta. Namun, ia tidak tahu bagaimana caranya meminta bantuan kepada Panengah Pandawa tersebut.

Raden Tegamurti berkata bahwa ia pernah mendengar tentang sepak terjang Raden Arjuna. Konon, selain sakti mandraguna, Raden Arjuna juga terkenal menyukai kecantikan wanita. Jumlah istri Raden Arjuna di Kesatrian Madukara saja ada empat orang, yaitu Dewi Sumbadra, Dewi Srikandi, Dewi Larasati, dan Dewi Sulastri. Itu belum ditambah istri-istri lainnya yang tersebar di banyak tempat, misalnya Dewi Ulupi, Dewi Gandawati, Dewi Manuhara, Dewi Jimambang, dan sebagainya. Oleh sebab itu, cara untuk memancing Raden Arjuna agar bersedia membunuh Bambang Pramusinta adalah dengan cara menawarkan perempuan kepadanya.

Prabu Tegalelana memuji kepandaian Raden Tegamurti. Ia lalu bertanya siapakah perempuan yang akan ditawarkan kepada Raden Arjuna. Raden Tegamurti menjawab, siapa lagi kalau bukan adik bungsu mereka, yaitu Dewi Tegawati? Jika Dewi Tegawati ditawarkan kepada Raden Arjuna, maka Prabu Tegalelana akan memperoleh dua keuntungan. Pertama, Prabu Tegalelana akan menjadi kakak ipar Raden Arjuna yang perkasa. Kedua, Bambang Pramusinta akan mati dan itu artinya Prabu Tegalelana dapat menikahi Endang Rayungwulan.

Prabu Tegalelana menimbang-nimbang perkataan adiknya. Tanpa butuh waktu lama, ia pun menjawab setuju mengikuti rencana tersebut.

BAMBANG PRAMUSINTA DIUTUS MENGANTAR SURAT KE KESATRIAN MADUKARA

Karena sang kakak sudah setuju, Raden Tegamurti pun melaksanakan rencananya. Ia menulis surat yang isinya Prabu Tegalelana meminta bantuan Raden Arjuna untuk membunuh si pembawa surat, karena si pembawa surat ini adalah punggawa durhaka yang sangat sakti, hendak merebut takhta Kerajaan Bulukatiga. Padahal, jelas-jelas Kerajaan Bulukatiga berada di bawah perlindungan Raden Arjuna. Apabila Raden Arjuna berkenan menghukum mati si pembawa surat, maka Prabu Tegalelana ingin menjalin persaudaraan dengan memberikan adiknya yang bernama Dewi Tegawati.

Prabu Tegalelana menandatangani surat tersebut, kemudian memerintahkan Patih Kuntalabahu untuk memanggil Bambang Pramusinta agar menghadap. Patih Kuntalabahu pun keluar istana dan memanggil Bambang Pramusinta yang sedang memeriksa kelengkapan prajurit.

Bambang Pramusinta segera datang menghadap Prabu Tegalelana. Prabu Tegalelana pun memerintahkannya untuk mengantarkan surat kepada Raden Arjuna di Kesatrian Madukara, wilayah Kerajaan Amarta. Surat tersebut terbungkus rapat dengan segel stempel Kerajaan Bulukatiga. Apabila Bambang Pramusinta berani membuka pembungkus surat, maka hukuman mati menunggu dirinya.

Bambang Pramusinta menjawab dirinya tidak mungkin berani membuka surat tersebut. Ia pun menerima surat itu, lalu mohon pamit melaksanakan tugas.

Setelah Bambang Pramusinta pergi, Prabu Tegalelana merasa yakin pemuda itu pasti akan binasa. Kini rasa rindunya bangkit dan ia ingin sekali bisa segera bertemu Endang Rayungwulan. Raden Tegamurti mencoba menyabarkan kakaknya itu agar menunggu kepastian berita tewasnya Bambang Pramusinta terlebih dulu. Namun, Prabu Tegalelana tidak bisa menahan diri lagi. Ia pun bergegas meninggalkan istana Bulukatiga menuju Desa Pandansurat.

PRABU TEGALELANA MERAYU ENDANG RAYUNGWULAN

Di Desa Pandansurat, Endang Rayungwulan dihadap adiknya yang bernama Bambang Sabekti, serta istri adiknya yang bernama Endang Pramuwati. Adapun Endang Pramuwati tidak lain adalah adik kandung Bambang Pramusinta. Dalam kesempatan itu, Endang Rayungwulan bercerita bahwa tadi malam ia bermimpi melihat sang suami, yaitu Bambang Pramusinta berjalan seorang diri di tengah kegelapan, lalu ada seekor serigala besar menerkam tubuhnya dari belakang. Endang Rayungwulan lalu terbangun dari tidurnya gara-gara mimpi buruk tersebut. Endang Pramuwati dan Bambang Sabekti menghibur kakak mereka agar jangan terlalu memikirkan mimpinya. Mimpi hanyalah bunga tidur belaka, yang terpenting adalah mendoakan Bambang Pramusinta agar selalu mendapat perlindungan Yang Mahakuasa dalam bekerja mencari nafkah untuk keluarga.

Tidak lama kemudian datanglah Prabu Tegalelana di tempat itu. Endang Rayungwulan yang pernah bertemu sekali segera menyembah kepada rajanya tersebut. Ia juga memperkenalkan kedua adiknya dan memerintahkan mereka untuk menyembah Prabu Tegalelana. Endang Rayungwulan kemudian bertanya ada keperluan apa Prabu Tegalelana datang ke rumahnya yang sederhana, apakah ada masalah menimpa suaminya saat bekerja? Prabu Tegalelana menjawab bahwa sebuah musibah telah menimpa Bambang Pramusinta. Ada seorang musuh dari Kerajaan Amarta bernama Raden Arjuna telah datang menyerang Kerajaan Bulukatiga. Bambang Pramusinta dengan gagah berani menghadapi musuh tersebut, namun ia gugur dalam pertempuran.

Endang Rayungwulan menangis tidak percaya kalau suaminya meninggal. Endang Pramuwati dan Bambang Sabekti ikut berduka. Mereka memohon kepada Prabu Tegalelana agar ditunjukkan jasad Bambang Pramusinta. Prabu Tegalelana tentu saja tidak bisa menunjukkannya. Pada dasarnya ia memang tidak pandai berbohong, sehingga sorot matanya terlihat ragu-ragu.

Bambang Sabekti yang waspada mulai menaruh curiga. Ia bertanya apa benar kakak iparnya telah meninggal? Prabu Tegalelana menjawab belum tahu, tapi sepertinya sebentar lagi akan mati di tangan Raden Arjuna. Bambang Sabekti semakin curiga dan mendesak Prabu Tegalelana untuk menceritakan yang sebenarnya. Prabu Tegalelana tersinggung dirinya sebagai raja tetapi didesak seperti itu oleh rakyat jelata. Ia pun marah-marah dan berkata terus terang bahwa dirinya sengaja mengirim Bambang Pramusinta untuk mati, agar Endang Rayungwulan menjadi janda dan bisa ia nikahi.

Endang Rayungwulan sangat terkejut mendengar rajanya berkata demikian. Ia pun memohon agar Prabu Tegalelana jangan punya pikiran buruk seperti itu. Prabu Tegalelana tidak peduli, dan ia justru balik merayu Endang Rayungwulan agar sudi menjadi istrinya. Terus terang ia merasa kasihan melihat Endang Rayungwulan yang cantik jelita tetapi hidup miskin di pedesaan. Bukankah sebaiknya ikut dengannya saja tinggal di istana?

Bambang Sabekti tidak terima kakak iparnya diperlakukan seperti itu. Ia pun menendang tubuh Prabu Tegalelana hingga terpental keluar rumah.

BAMBANG SABEKTI DIKEROYOK PASUKAN BULUKATIGA

Prabu Tegalelana tidak menduga Bambang Pramusinta memiliki seorang adik ipar yang perkasa. Tadinya ia mengira cukup hanya dengan mengirim Bambang Pramusinta menjemput kematian, maka dirinya bisa memboyong Endang Rayungwulan. Tak disangka, masih ada Bambang Sabekti yang menjadi penghalang niat buruknya.

Prabu Tegalelana pun menyerang Bambang Sabekti. Namun, Bambang Sabekti bukan pemuda sembarangan. Dengan cekatan, ia menghadapi serangan rajanya itu. Mereka pun bertarung sengit. Prabu Tegalelana merasa dirinya bukan tandingan pemuda itu. Dalam waktu singkat ia sudah terdesak dan babak belur terkena pukulan Bambang Sabekti.

Tiba-tiba bantuan pun datang. Raden Tegamurti dan Patih Kuntalabahu tiba dengan membawa pasukan Bulukatiga. Mereka langsung mengeroyok Bambang Sabekti. Meskipun sakti dan cekatan, namun Bambang Sabekti tidak mampu menghadapi lawan sebanyak itu. Akhirnya, ia pun tewas dengan banyak luka tusukan di tubuhnya.

Prabu Tegalelana berterima kasih adiknya datang tepat waktu. Raden Tegamurti berkata kakaknya terlalu terburu nafsu. Harusnya nanti saja datang ke Desa Pandansurat setelah Bambang Pramusinta benar-benar mati. Dengan demikian, Endang Rayungwulan tidak akan menolak, dan pasti bersedia diboyong ke istana dengan sukarela.

Tidak lama kemudian datanglah Endang Rayungwulan dan Endang Pramuwati menangisi jasad Bambang Sabekti. Raden Tegamurti memuji kecantikan mereka berdua dan merasa wajar jika kakaknya tidak sabaran. Sekarang semuanya sudah kepalang tanggung, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi. Prabu Tegalelana pun menarik tubuh Endang Rayungwulan dan memasukkannya ke dalam kereta, sedangkan Raden Tegamurti membawa Endang Pramuwati.

BAMBANG PRAMUSINTA TIBA DI KESATRIAN MADUKARA

Sementara itu, perjalanan Bambang Pramusinta telah sampai di wilayah Kerajaan Amarta. Ia melewati Desa Karangkadempel dan berjumpa para panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong. Kepada mereka, Bambang Pramusinta bertanya arah jalan menuju Kesatrian Madukara. Ia mengaku hendak mengantarkan surat dari rajanya yang bernama Prabu Tegalelana kepada Raden Arjuna.

Kyai Semar ingat bahwa Raden Arjuna pernah menaklukkan Prabu Tegalelana beberapa waktu yang lalu. Maka, tanpa curiga ia dan anak-anaknya pun mengantar Bambang Pramusinta menuju Kesatrian Madukara.

Sesampainya di sana, Kyai Semar segera melapor kepada Raden Arjuna bahwa ada utusan dari Kerajaan Bulukatiga hendak mengantarkan surat. Raden Arjuna pun menemui Bambang Pramusinta dan menerima surat yang dibawa pemuda itu. Sungguh terkejut Raden Arjuna membaca isinya, bahwa Prabu Tegalelana menyebut Bambang Pramusinta adalah punggawa durhaka yang hendak merebut takhta Kerajaan Bulukatiga darinya. Tidak hanya itu, Prabu Tegalelana sudah berkata bahwa ia memiliki pelindung bernama Raden Arjuna, namun Bambang Pramusinta tidak peduli dan mengatakan dirinya tidak takut pada orang yang bernama Raden Arjuna tersebut. Surat itu juga menyebutkan bahwa, Prabu Tegalelana ingin menyerahkan adiknya yang bernama Dewi Tegawati kepada Raden Arjuna apabila ia dibantu membunuh punggawa durhaka bernama Bambang Pramusinta tersebut.

Wajah Raden Arjuna menjadi merah padam setelah membaca surat tersebut. Beberapa waktu yang lalu Prabu Tegalelana telah ia kalahkan dan telah memohon ampun kepadanya. Maka, apabila ada orang lain yang berani mengganggu Prabu Tegalelana, itu berarti tidak memandang kepada dirinya. Tanpa banyak bicara, ia pun menampar pipi Bambang Pramusinta dan merobek-robek surat di tangannya.

Bambang Pramusinta jatuh terpelanting karena tidak menduga akan ditampar seperti itu. Raden Arjuna maju hendak membunuhnya. Bambang Pramusinta pun melawan sekuat tenaga. Dalam waktu singkat, keduanya segera terlibat pertarungan sengit.

Kyai Semar curiga dan memungut serpihan surat yang berserakan di bawah lalu menggabungkannya kembali. Setelah membaca isinya, ia tidak percaya begitu saja dan meminta Raden Arjuna untuk memeriksa Bambang Pramusinta terlebih dulu. Namun, Raden Arjuna justru menyuruh Kyai Semar diam, tidak perlu ikut campur.

Kyai Semar menduga Raden Arjuna gelap mata karena tergoda iming-iming Prabu Tegalelana yang akan menyerahkan Dewi Tegawati. Maka, ia pun mengajak anak-anaknya untuk bersorak-sorak memberi semangat kepada Bambang Pramusinta.

Raden Arjuna tersinggung dan semakin keras menyerang Bambang Pramusinta. Sebenarnya kesaktian Bambang Pramusinta masih di bawah Raden Arjuna. Namun, karena ia mendapat semangat dari para panakawan, dan ditambah lagi Raden Arjuna bertarung membabi buta karena dibakar amarah, membuatnya bisa mengimbangi kesatria Pandawa tersebut.

Raden Arjuna lama-lama kewalahan menghadapi ketangkasan Bambang Pramusinta. Karena sudah gelap mata, ia pun melepas panah pusaka Ardadedali ke arah lawannya itu. Kyai Semar melihat ini sangat berbahaya. Maka, ia pun berdiri menghalangi di depan Bambang Pramusinta. Begitu panah Ardadedali menyentuh kulit Kyai Semar seketika mental dan terlempar jauh ke udara.

PRABU KRESNA MENEMUI BAMBANG PRAMUSINTA

Panah Ardadedali terlempar sangat jauh akibat kesaktian Kyai Semar, hingga akhirnya jatuh di istana Kerajaan Dwarawati. Prabu Kresna heran melihat pusaka milik Raden Arjuna tiba-tiba jatuh di hadapannya. Jangan-jangan ada musuh sakti datang menyerang, demikian pikirnya. Ia pun memungut panah pusaka tersebut lalu terbang menuju Kesatrian Madukara dengan mengendarai Kereta Jaladara.

Sesampainya di Kesatrian Madukara, Prabu Kresna melihat para panakawan sedang bersama seorang pemuda asing. Ia pun bertanya di mana Raden Arjuna berada. Kyai Semar menjawab, Raden Arjuna melarikan diri karena kalah bertarung melawan Bambang Pramusinta. Prabu Kresna bertanya ada masalah apa di antara mereka. Kyai Semar pun menunjukkan surat Prabu Tegalelana yang sudah ia sambung kembali. Prabu Kresna membaca isinya dan tersenyum menyadari watak Raden Arjuna yang tergoda iming-iming hadiah wanita cantik.

Prabu Kresna lalu mengajak Bambang Pramusinta dan para panakawan mengejar Raden Arjuna yang tentunya meminta bantuan para Pandawa lainnya di istana Indraprasta.

BAMBANG PRAMUSINTA BERJUMPA AYAHNYA

Di Kerajaan Amarta, Prabu Puntadewa dihadap Arya Wrekodara dan si kembar Raden Nakula-Raden Sadewa. Tidak lama kemudian datanglah Raden Arjuna yang meminta bantuan karena Kesatrian Madukara diserang musuh sakti dari Kerajaan Bulukatiga. Arya Wrekodara marah dan hendak melabrak musuh tersebut.

Tiba-tiba Prabu Kresna datang bersama Bambang Pramusinta dan para panakawan. Ia melarang Arya Wrekodara bertindak gegabah karena tidak ada hadiahnya. Arya Wrekodara bertanya hadiah apa yang dimaksud. Prabu Kresna berkata, jika bisa membunuh Bambang Pramusinta, maka Raden Arjuna akan mendapatkan Dewi Tegawati, adik Prabu Tegalelana. Mendengar itu, Raden Arjuna tertunduk malu.

Prabu Kresna lalu memanggil Raden Nakula dan menyuruhnya berdiri di sebelah Bambang Pramusinta. Raden Nakula menurut dan semua orang pun terkejut karena mereka ternyata berwajah mirip. Prabu Kresna lalu berkata, bahwa Bambang Pramusinta bisa jadi adalah putra Raden Nakula sendiri.

Raden Nakula pun bertanya siapa nama ibu Bambang Pramusinta. Bambang Pramusinta menjawab, ibunya bernama Dewi Suyati, namun sudah meninggal saat melahirkan dirinya. Dengan begitu, ia tidak tahu-menahu siapa nama ayah kandungnya. Raden Nakula terharu dan ia berkata bahwa dirinyalah ayah kandung Bambang Pramusinta.

Bambang Pramusinta heran mengapa ayah dan ibunya bisa berpisah? Mengapa pula Raden Nakula tidak pernah mencari anak dan istrinya? Raden Nakula berkata bahwa dirinya sudah berusaha mencari, namun nasib Dewi Suyati tidak jelas kabarnya seperti ditelan bumi.

Pada saat itulah Batara Narada turun dari kahyangan untuk menjelaskan masalah ini. Para Pandawa dan yang lain segera memberi hormat kepadanya. Batara Narada pun bercerita, sekitar dua puluh tahun yang lalu Raden Sadewa memenangkan sayembara di Kerajaan Selamirah, sehingga bisa menikah dengan putri Prabu Rasadewa yang bernama Dewi Rasawulan. Tidak lama kemudian datang pula Raden Indrakerata dari Kerajaan Awu-awulangit yang hendak mengikuti sayembara tetapi sudah terlambat. Ia mengamuk hendak merebut Dewi Rasawulan, tetapi dapat dikalahkan oleh Raden Nakula. Sebagai tanda takluk, Raden Indrakerata pun menyerahkan adiknya yang bernama Dewi Suyati sebagai istri Raden Nakula.

Raden Nakula dan Raden Sadewa lalu memboyong istri masing-masing ke Kerajaan Amarta. Dewi Suyati dan Dewi Rasawulan pun mengandung bersamaan. Ketika kandungannya hendak berusia tujuh bulan, Dewi Suyati dan Dewi Rasawulan sepakat ingin upacara siraman dilakukan di negara asal masing-masing. Raden Nakula dan Raden Sadewa menuruti mereka. Raden Nakula mengantar Dewi Suyati ke Kerajaan Awu-awulangit, sedangkan Raden Sadewa mengantar Dewi Rasawulan ke Kerajaan Selamirah. Setelah upacara siraman, si kembar pun kembali ke Kerajaan Amarta, sedangkan istri mereka tetap di negara masing-masing hingga kelak melahirkan.

Tiba-tiba bencana pun terjadi. Kerajaan Awu-awulangit diserang Prabu Bomantara raja Surateleng. Prabu Kridamarkata dan Raden Indrakerata gugur mempertahankan negara, sedangkan Dewi Suyati yang sudah hamil tua pergi mengungsi ke tempat Dewi Rasawulan di Kerajaan Selamirah. Sesampainya di sana, Dewi Suyati melahirkan Raden Pramusinta dan Dewi Pramuwati, kemudian meninggal dunia karena letih.

Dewi Rasawulan juga melahirkan dua anak yang diberi nama Dewi Rayungwulan dan Raden Sabekti. Tiba-tiba Prabu Bomantara datang menyerang Kerajaan Selamirah untuk dijadikan negeri jajahan. Prabu Rasadewa menghadapi dengan sekuat tenaga, namun akhirnya gugur pula di tangan raja Surateleng tersebut. Dewi Rasawulan hendak mengungsi ke Kerajaan Amarta dengan membawa keempat bayi, namun ketika melewati Desa Pandasurat, ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.

Raden Pramusinta, Dewi Pramuwati, Dewi Rayungwulan, dan Raden Sabekti yang masih bayi pun diasuh warga Desa Pandansurat hingga mereka dewasa seperti sekarang ini. Demikianlah, Batara Narada mengakhiri cerita.

Raden Nakula dan Raden Sadewa terharu mendengar kisah hidup anak-istri mereka. Keduanya memang mendengar bahwa Kerajaan Selamirah dan Kerajaan Awu-awulangit sudah hancur diserang Prabu Bomantara. Kemudian, Prabu Bomantara juga tewas di tangan Raden Sitija putra Prabu Kresna. Raden Nakula dan Raden Sadewa pergi berkelana mencari anak dan istri masing-masing, namun tidak pernah berhasil menemukan keberadaan mereka. Raden Nakula pun bertanya mengapa Batara Narada tidak dari dulu menceritakan bahwa anak-anak mereka berada di Desa Pandansurat? Batara Narada menjawab, memang sudah suratan takdir bahwa Bambang Pramusinta dan yang lain harus hidup mandiri di desa. Kelak jika sudah tiba waktunya, yaitu saat ini, Batara Narada pun turun  menjelaskan semuanya.

Karena tugasnya telah selesai, Batara Narada undur diri kembali ke kahyangan.

BAMBANG PRAMUSINTA MENYERANG PRABU TEGALELANA

Prabu Kresna lalu bertanya apa kesalahan Bambang Pramusinta sehingga dituduh durhaka oleh Prabu Tegalelana dan diusahakan kematiannya seperti ini. Bambang Pramusinta menjawab dirinya tidak pernah membantah raja. Selama bekerja, ia selalu taat pada aturan dan berusaha selalu menyenangkan hati Prabu Tegalelana.

Raden Sadewa yang cerdas segera mendapat firasat bahwa Prabu Tegalelana ingin Bambang Pramusinta mati adalah supaya Endang Rayungwulan menjadi janda. Bambang Pramusinta terkejut dan buru-buru ingin kembali ke Desa Pandansurat. Prabu Kresna segera mengajaknya naik Kereta Jaladara agar bisa lebih cepat. Raden Arjuna pun ikut serta.

Sesampainya di Desa Pandansurat, Bambang Pramusinta melihat Bambang Sabekti telah meninggal dunia dengan dikerumuni warga sekitar. Prabu Kresna segera mengeluarkan Kembang Wijayakusuma sambil membaca mantra. Seketika Bambang Sabekti pun hidup kembali, pertanda ajalnya memang bukan hari ini.

Bambang Sabekti lalu menceritakan apa yang telah terjadi, yaitu Prabu Tegalelana datang merayu Endang Rayungwulan agar mau menjadi istrinya. Bambang Sabekti berusaha mencegah, namun ia tewas dikeroyok Raden Tegamurti dan Patih Kuntalabahu. Kini, Endang Rayungwulan dan Endang Pramuwati pasti sudah dibawa ke istana Bulukatiga.

Bambang Pramusinta sangat marah. Ia pun bergegas menyerang Kerajaan Bulukatiga. Prabu Tegalelana terkejut melihat Bambang Pramusinta masih hidup. Melihat Raden Arjuna juga ada di situ, ia segera memohon perlindungan. Namun, Raden Arjuna menolak. Ia berkata bahwa Bambang Pramusinta adalah keponakannya sendiri, dan ia tidak sudi melindungi kelicikan Prabu Tegalelana.

Prabu Tegalelana merasa sudah terdesak. Ia pun maju menyerang Bambang Pramusinta sekuat tenaga. Namun, kesaktian Bambang Pramusinta jelas berada di atasnya. Maka, Prabu Tegalelana pun tewas di tangan pemuda itu. Melihat rajanya terbunuh, Patih Kuntalabahu maju menyerang. Namun, ia juga menemui ajal di tangan Bambang Pramusinta.

Sementara itu, Bambang Sabekti masuk ke dalam istana dan melihat Raden Tegamurti sedang merayu Endang Pramuwati. Namun, Endang Pramuwati selalu menolak dan mengancam akan bunuh diri jika terus dipaksa. Bambang Sabekti marah dan segera menyerang Raden Tegamurti. Keduanya lalu bertarung sengit. Raden Tegamurti akhirnya tewas pula di tangan lawannya itu.

Endang Pramuwati terharu bahagia melihat suaminya hidup kembali. Mereka lalu bergandengan tangan mencari Endang Rayungwulan berada.

BAMBANG PRAMUSINTA MENJADI RAJA BULUKATIGA

Bambang Pramusinta mencari keberadaan istrinya dan akhirnya ia melihat Endang Rayungwulan sedang bersama Dewi Tegawati. Endang Rayungwulan menangis bahagia melihat suaminya selamat dan mereka pun saling berpelukan.

Prabu Kresna dan Raden Arjuna datang menanyakan apa saja yang telah terjadi. Dewi Tegawati menangis memohon ampun atas kejahatan dua kakaknya. Sebagai sesama perempuan, ia tidak tega melihat nasib Endang Rayungwulan dan Endang Pramuwati. Maka, Dewi Tegawati pun berusaha melindungi mereka sekuat tenaga. Ia meminta kedua kakaknya bersabar jangan buru-buru menikahi Endang Rayungwulan dan Endang Pramuwati apabila belum ada kejelasan nasib Bambang Pramusinta.

Bambang Pramusinta berterima kasih atas kebaikan hati Dewi Tegawati yang telah melindungi istri dan adiknya. Ia lalu mohon pamit pulang ke Desa Pandansurat, namun Dewi Tegawati mencegahnya. Sekarang kedua kakaknya telah tewas, sehingga dirinya yang menjadi ahli waris Kerajaan Bulukatiga. Namun, ia merasa tidak sanggup memimpin negara, dan meminta Bambang Pramusinta saja yang mewakilinya sebagai raja. Bambang Pramusinta merasa keberatan, namun Dewi Tegawati terus memaksa, karena kasihan rakyat Bulukatiga apabila tidak ada yang memimpin.

Bambang Pramusinta akhirnya mengabulkan keinginan Dewi Tegawati. Ia menjawab bersedia menjadi raja wakil di Kerajaan Bulukatiga. Dewi Tegawati merasa lega dan ia pun menyatakan hendak hidup menyepi sebagai pendeta untuk menebus dosa kedua kakaknya. Prabu Kresna tersenyum dan menyindir Raden Arjuna yang gagal mendapat hadiah. Raden Arjuna tertunduk malu dan meminta agar masalah ini jangan pernah diungkit-ungkit lagi.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Kisah Bambang Pramusinta ini saya susun sebagai satu rangkaian dengan kisah Endang Sugatawati. Mengenai kisah Prabu Bomantara menyerang Kerajaan Awu-awulangit dan Selamirah, serta kebaikan Dewi Tegawati adalah tambahan dari saya.


Untuk kisah perkawinan Raden Nakula dengan Dewi Suyati serta Raden Sadewa dengan Dewi Rasawulan dapat dibaca di sini

Untuk kisah Prabu Tegalelana ditaklukkan Raden Arjuna dapat dibaca di sini

Untuk kisah Prabu Bomantara dikalahkan Raden Sitija dapat dibaca di sini









Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ▼  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ▼  April (2)
      • Partajumena Rabi
      • Bambang Pramusinta
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja