Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Samba Rabi

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang perkawinan antara Raden Samba putra Prabu Kresna dengan Dewi Sugatawati putri Raden Arjuna. Perkawinan ini kelak melahirkan Patih Dwara yang menjadi patih pada era pemerintahan Prabu Parikesit.

Kisah ini saya olah dari sumber Ensiklopedia Wayang Purwa karya Rio Sudibyoprono, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 27 Maret 2018

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

Raden Samba Wisnubrata.

------------------------------ ooo ------------------------------

PRABU KRESNA HENDAK MENIKAHKAN RADEN SAMBA DENGAN DEWI SUGATAWATI

Di Kerajaan Dwarawati, Prabu Kresna Wasudewa dihadap putra mahkota Raden Samba Wisnubrata, Arya Setyaki, dan Patih Udawa. Hadir pula sang kakak dari Kerajaan Mandura, yaitu Prabu Baladewa yang datang berkunjung. Dalam pertemuan itu, Prabu Kresna berniat menikahkan Raden Samba dengan putri Raden Arjuna di Kesatrian Madukara yang bernama Dewi Sugatawati.

Di antara para putra Prabu Kresna, yang paling disayang dan dimanjakan adalah Raden Samba tersebut. Karena terlalu dimanjakan itulah, Raden Samba tumbuh menjadi pemuda yang suka bertindak sesuka hati. Umurnya sudah matang tetapi belum ingin menikah. Sehari-hari ia lebih suka bermain-main dengan para gundik di Kesatrian Paranggaruda. Padahal, para sepupunya seperti Raden Pancawala, Raden Abimanyu, Raden Antareja, Raden Gatutkaca, Raden Sumitra, sudah menikah semua. Namun demikian, sejak berkenalan dengan Dewi Sugatawati beberapa waktu yang lalu, sikap Raden Samba berubah menjadi lebih dewasa dan menyatakan siap berumah tangga.

Prabu Baladewa juga ikut menasihati keponakannya itu, bahwa rumah tangga bukan sekadar ajang melampiaskan nafsu. Istri bukan sekadar teman tidur, tetapi merupakan teman hidup untuk dimintai pertimbangan dalam menyelesaikan masalah. Rumah tangga adalah ujian bagi Raden Samba untuk menjadi calon pemimpin. Kelak, Raden Samba adalah calon raja Dwarawati apabila ayahnya sudah turun takhta. Sebagai pemimpin negara, maka terlebih dahulu harus bisa membuktikan diri dengan cara memimpin rumah tangga.

Raden Samba mematuhi nasihat kedua orang tuanya itu tanpa berani membantah. Prabu Baladewa lalu berkata kepada Prabu Kresna bahwa urusan melamar Dewi Sugatawati ke Madukara biarlah dirinya saja yang berangkat. Prabu Kresna berterima kasih dan menawari Prabu Baladewa untuk makan terlebih dulu. Namun, Prabu Baladewa menolak. Ia berkata urusan makan bisa dilakukan nanti saja. Yang penting saat ini adalah pergi meminang Dewi Sugatawati sebelum keduluan orang lain.

Prabu Kresna pun mengantar kepergian Prabu Baladewa hingga ke halaman istana. Ia juga memerintahkan Arya Setyaki agar ikut menemani keberangkatan kakaknya itu menuju Kesatrian Madukara.

PRABU KALADURGANGSA INGIN MENIKAHI DEWI SUGATAWATI

Tersebutlah seorang raja raksasa bernama Prabu Kaladurgangsa dari Kerajaan Garbapura. Pada suatu malam ia mimpi bertemu seorang putri cantik bernama Dewi Sugatawati. Setelah bangun dari tidurnya, ia pun memanggil panakawan Kyai Togog dan Bilung Sarahita untuk meminta keterangan pada mereka.

Kyai Togog yang berwawasan luas menceritakan bahwa Dewi Sugatawati adalah putri Raden Arjuna, kesatria Panengah Pandawa yang tinggal di Kesatrian Madukara, masuk wilayah Kerajaan Amarta. Raden Arjuna ini adalah sosok pria sempurna di masa kini. Kaum laki-laki membicarakan kesaktian dan kepandaiannya, sedangkan kaum perempuan membicarakan ketampanannya.

Prabu Kaladurgangsa tertarik mendengarnya. Dewi Sugatawati yang ia temui dalam mimpi berwajah cantik jelita, tentunya wajar karena ayahnya juga tampan rupawan. Karena tekadnya sudah bulat, Prabu Kaladurgangsa pun memerintahkan Patih Kalagora untuk pergi melamar Dewi Sugatawati kepada Raden Arjuna. Apabila Raden Arjuna tidak mengizinkan, maka Patih Kalagora boleh menggunakan kekerasan. Patih Kalagora mematuhi dan segera mohon pamit melaksanakan perintah.

PASUKAN DWARAWATI BENTROK DENGAN PASUKAN GARBAPURA

Pasukan Garbapura yang dipimpin Patih Kalagora pun berangkat menuju Kesatrian Madukara. Di tengah jalan mereka bertemu rombongan dari Kerajaan Dwarawati. Ketika mengetahui bahwa tujuan kedua pihak tersebut adalah sama-sama hendak melamar Dewi Sugatawati, maka mereka pun saling menyerang dan terjadilah bentrokan.

Patih Kalagora maju mengamuk membuat Arya Setyaki terdesak. Melihat itu, Prabu Baladewa turun dari Gajah Puspadenta dan ikut bertempur. Patih Kalagora pun terdesak kalah dan terpaksa mundur kembali ke Kerajaan .

Setelah pihak musuh tercerai berai, Prabu Baladewa dan rombongan pun melanjutkan perjalanan menuju Kesatrian Madukara.

PRABU BALADEWA DAN DANGHYANG DRUNA MELAMAR DEWI SUGATAWATI

Di Kesatrian Madukara, Raden Arjuna menerima kunjungan Danghyang Druna dan Patih Sangkuni yang keduanya mengemban amanat dari Prabu Duryudana di Kerajaan Hastina untuk melamar Dewi Sugatawati sebagai calon istri Raden Lesmana Mandrakumara. Raden Arjuna merasa bimbang handak menjawab karena ia tahu Dewi Sugatawati sudah diinginkan Prabu Kresna untuk menjadi calon istri Raden Samba. Namun, apabila menolak juga Raden Arjuna merasa segan karena yang mengajukan lamaran adalah gurunya sendiri, yaitu Danghyang Druna.

Raden Arjuna semakin bertambah bingung ketika Prabu Baladewa datang pula untuk melamar Dewi Sugatawati sebagai istri Raden Samba. Patih Sangkuni menyarankan agar Raden Arjuna tidak perlu bingung, karena rombongan dari Kerajaan Hastina yang datang lebih dulu, sehingga lebih berhak jika lamaran mereka yang diterima. Lagipula Prabu Baladewa juga biasanya melamar gadis untuk calon istri Raden Lesmana Mandrakumara. Maka, apabila Raden Arjuna menerima lamaran pihak Hastina, maka Prabu Baladewa pasti tidak akan keberatan.

Prabu Baladewa marah mendengar ucapan Patih Sangkuni. Memang benar biasanya ia melamar gadis untuk calon istri Raden Lesmana Mandrakumara. Akan tetapi, kali ini yang memberikan mandat kepadanya bukan Prabu Duryudana, melainkan Prabu Kresna. Maka, pertanggungjawabannya kali ini adalah kepada Kerajaan Dwarawati, bukan kepada Kerajaan Hastina. Bagaimanapun juga tugas harus dilaksanakan dengan baik. Memang benar Raden Lesmana ataupun Raden Samba, kedua-duanya adalah keponakan. Namun, Prabu Baladewa saat ini bertindak sebagai wakil Prabu Kresna, bukan sebagai wakil Prabu Duryudana.

Raden Arjuna melerai perdebatan Prabu Baladewa dan Patih Sangkuni. Ia lalu memanggil Dewi Sugatawati agar menentukan pilihan. Dewi Sugatawati pun datang menghadap. Ia menyembah hormat kepada semua yang hadir. Raden Arjuna lalu menceritakan semua kepada putrinya itu, bahwa telah datang dua lamaran dari Kerajaan Hastina. Dewi Sugatawati menjawab, meskipun dirinya sudah saling kenal dengan Raden Samba, namun ia tidak tahu apakah sepupunya itu benar-benar mencintainya atau tidak. Patih Sangkuni menyela, kalau begitu dengan Raden Lesmana saja. Dewi Sugatawati menjawab, apalagi dengan Raden Lesmana, ia sama sekali belum tahu orangnya.

Dewi Sugatawati lalu berkata, bahwa ia ingin menguji lebih dulu sedalam apa kesungguhan mereka berdua. Maka, ia pun mengadakan sayembara, yaitu Raden Samba dan Raden Lesmana harus pergi mencari dan menangkap kijang kencana berkaki merah untuk menjadi binatang peliharaannya. Kedua pangeran itu harus menangkap kijang tersebut dengan tangan mereka sendiri, tidak boleh diwakili orang lain.

Prabu Baladewa menyatakan sanggup memenuhi keinginan Dewi Sugatawati. Melihat pihak lawan sudah menyanggupi, mau tidak mau Danghyang Druna dan Patih Sangkuni pun demikian pula. Kedua rombongan itu lalu mohon pamit kembali ke negara masing-masing.

RADEN SAMBA MEMINTA PETUNJUK RESI JEMBAWAN

Prabu Baladewa telah kembali ke Kerajaan Dwarawati dan menyampaikan apa yang menjadi sayembara Dewi Sugatawati. Raden Samba termangu-mangu mendengarnya dan ia merasa persyaratan tersebut berat sekali. Di dunia ini mana ada hewan yang berwujud kijang kencana berkaki merah?

Prabu Kresna menasihati putranya itu agar menjadi kesatria yang tangguh, tidak mudah putus asa sebelum mencoba. Ia lalu menyarankan agar Raden Samba meminta petunjuk sang kakek, yaitu Resi Jembawan di Astana Gandamadana. Resi Jembawan seorang pendeta berwujud wanara, tentunya lebih mengetahui seluk beluk dunia hewan yang aneh-aneh sekalipun.

Raden Samba merasa mendapat pencerahan. Ia pun mengajak Arya Setyaki untuk menemaninya mencari kijang tersebut. Namun, Prabu Baladewa mengingatkan bahwa sayembara Dewi Sugatawati harus ditempuh sendiri, tidak boleh melibatkan orang lain. Raden Samba tidak berani membantah. Ia pun mohon restu kemudian berangkat menuju Astana Gandamadana.

Sesampainya di Astana Gandamadana, Raden Samba segera menghadap sang kakek, yaitu Resi Jembawan, beserta kakak kandungnya, yaitu Raden Gunadewa. Resi Jembawan yang sudah berusia ratusan tahun itu sedang mendidik Raden Gunadewa agar kelak bisa melanjutkan pekerjaannya sebagai juru kunci Astana Gandamadana, tempat pemakaman para leluhur Kerajaan Mandura dan Dwarawati.

Raden Samba pun menceritakan apa yang menjadi permintaan calon istrinya, yaitu ingin dibawakan seekor kijang kencana berkaki merah. Resi Jembawan berkata bahwa di dunia ini hanya ada satu hewan kijang kencana berkaki merah seperti itu, dan hewan tersebut berkeliaran di kaki Gunung Untarayana sebelah barat. Namun, kijang kencana ini tidak dapat ditangkap dengan cara kasar, melainkan harus dengan cara yang lembut.

Raden Samba berterima kasih kepada sang kakek, lalu mohon restu berangkat menuju ke gunung tersebut.

RADEN SAMBA MENANGKAP KIJANG KENCANA BERKAKI MERAH

Singkat cerita, Raden Samba telah tiba di kaki Gunung Untarayana sebelah barat. Setelah menyusuri jalur yang diceritakan Resi Jembawan, ia akhirnya melihat gerak-gerik seekor kijang berbulu emas, berkaki merah. Raden Samba sempat terpukau tak percaya menyaksikan di dunia ini ternyata ada binatang sejenis itu. Ia lalu melompat menyergap, namun si kijang ternyata lincah dan gesit, mampu menghindar dari tangkapannya.

Raden Samba lalu berlari mengejar kijang kencana berkaki merah itu. Namun, semakin dikejar, kijang kencana tersebut justru semakin kencang larinya. Raden Samba lalu teringat pada pesan kakeknya agar jangan menangkap kijang ini menggunakan kekerasan. Ia pun berhenti mengejar dan duduk di atas batuan gunung.

Raden Samba lalu bernyanyi, melagukan tembang-tembang indah dengan suaranya yang merdu. Sungguh ajaib, kijang kencana itu berhenti berlari. Ia lalu berjalan mendekat seolah tertarik pada lagu yang dinyanyikan Raden Samba.

Raden Samba memang putra Prabu Kresna yang paling dimanja, sehingga ia suka hidup santai dan bersenang-senang. Maka, Raden Samba pun pandai bernyanyi segala macam jenis lagu. Sedangkan putra-putra Prabu Kresna yang lain memiliki kegemaran masing-masing. Raden Gunadewa yang berbulu lebat seperti wanara lebih suka hidup menyepi di Gunung Gandamadana memperdalam ilmu agama kepada Resi Jembawan; Raden Partajumena lebih suka berkelana meninggalkan istana, mengasah ilmu kesaktian seperti Prabu Kresna di masa muda; sedangkan si bungsu Raden Setyaka lebih suka membaca kitab-kitab ilmu pengetahuan. Bisa dikatakan, Prabu Kresna yang memiliki kepandaian bermacam-macam ternyata tidak ada satu pun putranya yang mewarisi secara keseluruhan. Raden Gunadewa hanya mewarisi kebijaksanaannya, Raden Partajumena mewarisi kesaktiannya, Raden Setyaka mewarisi kecerdasannya, sedangkan Raden Samba mewarisi keluwesan dan pesonanya.

Kini kijang kencana berkaki merah telah semakin dekat dengan tempat Raden Samba duduk. Ia tampak begitu penasaran ingin mendengar setiap bait lagu yang dinyanyikan Raden Samba. Di lain pihak, Raden Samba terus menyanyi dengan penuh semangat, sambil dalam hati membaca mantra yang diajarkan Resi Jembawan. Tangannya lalu bergerak membelai kepala kijang tersebut. Seketika kijang itu pun tunduk dan berubah menjadi jinak, tidak liar lagi seperti sebelumnya.

Raden Samba tertawa senang, lalu merangkul leher kijang kencana tersebut dan mengajaknya pergi menuju Kerajaan Dwarawati.

PRABU BOMA NARAKASURA MERASA IRI PADA RADEN SAMBA

Sementara itu di Kerajaan Trajutresna, Prabu Boma Narakasura duduk di takhta dengan dihadap Patih Pancadnyana, Ditya Yayahgriwa, dan Ditya Ancakogra. Hari itu Prabu Boma baru saja mendengar kabar bahwa Prabu Kresna hendak menikahkan Raden Samba dengan Dewi Sugatawati putri Raden Arjuna. Terus terang Prabu Boma merasa iri kepada Raden Samba yang selalu diperhatikan sang ayah. Dulu ketika Prabu Boma masih bernama Raden Sitija dan datang pertama kali ke Kerajaan Dwarawati, saat itu Prabu Kresna dengan tegas mengatakan bahwa takhta Kerajaan Dwarawati sudah menjadi hak Raden Samba. Sehingga, apabila Raden Sitija hendak mencari kemuliaan, maka harus berusaha sendiri. Raden Sitija tidak masalah diperlakukan seperti itu, karena baginya yang terpenting adalah mendapat pengakuan sebagai anak Prabu Kresna, bukan mendapat warisan Kerajaan Dwarawati.

Kala itu Raden Sitija akhirnya mampu mengalahkan Prabu Bomantara raja Surateleng dan Prabu Narakasura raja Prajatisa. Ia lalu menggabungkan kedua negara mereka menjadi satu, yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Trajutresna. Ia pun menjadi raja di gabungan dua negara tersebut dengan gelar Prabu Boma Narakasura.

Patih Pancadnyana mendengar curahan hati rajanya dengan seksama. Prabu Boma melanjutkan ceritanya, bahwa ia tidak iri apabila Raden Samba kelak menjadi raja Dwarawati, karena ia sudah memiliki Kerajaan Trajutresna yang diperoleh dari hasil usahanya sendiri, bukan dari warisan orang tua. Namun, yang membuatnya iri adalah Prabu Kresna mencarikan jodoh untuk Raden Samba, sedangkan untuknya tidak sama sekali. Sebagai putra yang lebih tua, harusnya ia yang lebih dulu dinikahkan, bukannya Raden Samba.

Patih Pancadnyana berkata bahwa soal jodoh, Prabu Boma tidak perlu khawatir, juga tidak perlu iri pada Raden Samba. Ia memiliki keponakan yang cantik jelita, bernama Dewi Agnyanawati, putra kakaknya, yaitu Prabu Krentagnyana di Kerajaan Giyantipura. Prabu Boma keberatan, karena Patih Pancadnyana berwujud raksasa, pasti keponakannya juga berparas raksasi. Patih Pancadnyana berkata bahwa keponakannya yang bernama Dewi Agnyanawati itu sangat cantik, karena ibunya dari golongan manusia, bukan dari golongan raksasi. Begitu bersemangat Patih Pancadnyana menceritakan tentang kecantikan keponakannya yang bernama Dewi Agyanawati, membuat Prabu Boma merasa tertarik dan berniat kapan-kapan akan berkunjung ke Kerajaan Giyantipura.

Sekarang, Prabu Boma lebih dulu ingin pergi ke Kesatrian Madukara, menyaksikan perkawinan antara Raden Samba dengan Dewi Sugatawati. Patih Pancadnyana pun ikut menemani.

RADEN SAMBA DIKEROYOK PARA KURAWA

Sementara itu, Raden Samba dalam perjalanan kembali ke Kerajaan Dwarawati sambil menuntun kijang kencana berkaki merah yang sudah jinak kepadanya. Di tengah jalan, tiba-tiba ia dihadang Patih Sangkuni bersama para Kurawa. Mereka berniat merebut kijang kencana itu dari tangan Raden Samba untuk diserahkan kepada Raden Lesmana Mandrakumara.

Raden Samba menuduh para Kurawa berbuat curang, karena menurut ketentuan sayembara, antara dirinya dan Raden Lesmana harus berusaha sendiri menangkap kijang kencana berkaki merah, tanpa boleh dibantu orang lain. Patih Sangkuni menjawab persetan dengan peraturan itu. Raden Arjuna dan Dewi Sugatawati tidak akan tahu kijang kencana ditangkap oleh siapa. Yang paling penting saat pernikahan nanti adalah Raden Lesmana menuntun kijang kencana berkaki merah.

Patih Sangkuni lalu memerintahkan para Kurawa untuk maju merebut kijang kencana. Raden Samba berusaha mencegah, namun ia jelas bukan tandingan para Kurawa, apalagi dengan jumlah sebanyak itu. Kijang kencana pun melompat ke sana kemari berusaha menghindar. Para Kurawa berusaha menangkapnya tetapi tidak ada satu pun yang mampu menandingi kelincahan hewan itu.

Para Kurawa sebagian mengeroyok Raden Samba, dan sebagian lagi berusaha mengepung kijang kencana berkaki merah. Kijang tersebut berusaha melawan mati-matian, daripada ditangkap oleh mereka. Pada saat itulah tiba-tiba muncul Arya Setyaki dan Patih Udawa datang membantu. Mereka langsung terjun menghalau para Kurawa yang berani mengganggu Raden Samba dan kijang tersebut.

Para Kurawa tidak menyangka kalau Raden Samba memperoleh bala bantuan. Karena terdesak oleh kesaktian dua orang itu, Patih Sangkuni pun memerintahkan para keponakannya untuk mundur, kembali ke Kerajaan Hastina.

Raden Samba berterima kasih atas bantuan Arya Setyaki dan Patih Udawa yang datang tepat pada waktunya. Ia bertanya mengapa mereka menyusul, bukankah peraturan sayembara mengatakan, kijang kencana berkaki merah harus ditangkap olehnya sendiri, tidak boleh dibantu orang lain. Arya Setyaki menjawab memang benar demikian. Raden Samba memang harus menangkap kijang kencana sendiri. Namun, jika membantu mengusir para pengacau, bukan membantu menangkap kijang, jelas tidak melanggar peraturan. Prabu Kresna mendapat firasat pihak Hastina pasti berbuat curang, maka ia pun mengutus Arya Setyaki dan Patih Udawa untuk menyusul dan melindungi putra kesayangannya.

Raden Samba terkesan mendengar perhatian sang ayah kepadanya. Ia pun berterima kasih kepada Arya Setyaki dan Patih Udawa, lalu menuntun kijang kencana melanjutkan perjalanan pulang bersama mereka.

DEWI SUGATAWATI DICULIK PRABU KALADURGANGSA

Di Kesatrian Madukara, Raden Arjuna dan para Pandawa lainnya menerima kedatangan rombongan pengantin pria dari Kerajaan Dwarawati. Tampak Raden Samba menuntun kijang kencana berkaki merah, diiringi Prabu Kresna, Prabu Baladewa, Dewi Jembawati, Arya Setyaki, Patih Udawa, Patih Pragota, dan Arya Prabawa.

Tiba-tiba Dewi Sumbadra muncul dan melaporkan bahwa pengantin perempuan, Dewi Sugatawati hilang diculik orang. Menurut kesaksian para dayang, ada seorang raja raksasa menyusup ke dalam Taman Maduganda dan berhasil menculik Dewi Sugatawati.

Raden Samba terkejut bercampur marah. Ia pun mengajak Arya Setyaki mengejar penculik itu. Raden Gatutkaca juga ikut pergi membantu.

Raja raksasa yang menculik Dewi Sugatawati tidak lain adalah Prabu Kaladurgangsa. Setelah mendapat laporan tentang kekalahan Patih Kalagora, ia pun berangkat sendiri menculik Dewi Sugatawati di Kesatrian Madukara. Kini usahanya berhasil. Ia membawa Dewi Sugatawati yang meronta-ronta menuju Kerajaan Garbapura.

Namun, di tengah jalan ia bertemu Prabu Boma dan Patih Pancadnyana yang sedang dalam perjalanan menuju Kesatrian Madukara. Prabu Boma segera melesat menerjang Prabu Kaladurgangsa. Pertarungan sengit pun terjadi. Dewi Sugatawati diletakkan di tanah agar bisa lebih leluasa. Namun demikian, tetap saja Prabu Kaladurgangsa kalah dan akhirnya tewas di tangan Prabu Boma.

Raden Samba, Arya Setyaki, dan Raden Gatutkaca tiba di tempat itu. Mereka menuduh Prabu Boma sebagai penculik Dewi Sugatawati. Namun, Dewi Sugatawati menjelaskan bahwa Prabu Boma justru telah menolong dirinya terbebas dari penculik yang sebenarnya. Ia pun menunjukkan mayat Prabu Kaladurgangsa yang merupakan pelaku penculikan atas dirinya.

Raden Samba segera meminta maaf kepada Prabu Boma. Mereka lalu bersama-sama kembali menuju Kesatrian Madukara.

PERKAWINAN RADEN SAMBA DENGAN DEWI SUGATAWATI

Para Pandawa beserta Prabu Kresna dan Prabu Baladewa menyambut kembalinya Dewi Sugatawati bersama Raden Samba, Prabu Boma, dan juga yang lain. Dewi Sugatawati melihat persyaratan kijang kencana berkaki merah telah terpenuhi, dan ia juga dapat mengetahui bahwa hewan tersebut benar-benar ditangkap sendiri oleh Raden Samba.

Prabu Baladewa bertanya dari mana Dewi Sugatawati tahu kalau kijang tersebut ditangkap sendiri oleh Raden Samba, bukankah bisa saja memakai bantuan orang lain? Dewi Sugatawati menjawab, dirinya pertama kali tahu tentang kijang kencana berkaki merah adalah dari dongeng kakeknya. Kakeknya bercerita bahwa, kijang kencana berkaki merah ini adalah hewan liar yang sulit ditangkap. Namun, jika ada manusia yang bisa menangkapnya, maka ia akan selalu bersikap jinak kepada orang itu. Dewi Sugatawati kini melihat sendiri bahwa kijang kencana berkaki merah tampak selalu berada di dekat Raden Samba, pertanda Raden Samba adalah orang yang telah menangkapnya dengan tangan sendiri.

Prabu Baladewa memuji kepandaian gadis itu. Andai saja pihak Kurawa tadi berhasil merebut kijang kencana berkaki merah, tetap saja mereka tidak mampu membohongi Dewi Sugatawati. Kini segalanya telah terpenuhi. Raden Arjuna pun meresmikan pernikahan antara Raden Samba dengan Dewi Sugatawati. Semua orang ikut berbahagia merayakannya.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya












Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Endrasekti - Sugatawati

 No comments   



Kisah ini menceritakan kemunculan Endang Sugatawati putri Raden Arjuna yang kelak menjadi istri Raden Samba putra Prabu Kresna dan melahirkan Patih Dwara.

Kisah ini saya olah dari sumber media sosial Kaskus dan beberapa blog wayang lainnya, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 10 Maret 2018

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

Raden Arjuna menjadi raja Bulukatiga.

------------------------------ ooo ------------------------------

PRABU KRESNA DAN PRABU BALADEWA MEMBAHAS HILANGNYA RADEN ARJUNA

Di Kerajaan Dwarawati, Prabu Kresna Wasudewa dihadap putra mahkota Raden Samba Wisnubrata, beserta Arya Setyaki, dan Patih Udawa. Hadir pula sang kakak dari Kerajaan Mandura, yaitu Prabu Baladewa yang datang berkunjung untuk menanyakan arti mimpinya. Prabu Baladewa bercerita bahwa tadi malam ia mimpi melihat Kesatrian Madukara diselubungi kabut tebal. Karena khawatir pada keselamatan Raden Arjuna dan Dewi Sumbadra, ia pun bergegas pergi  ke Kerajaan Dwarawati untuk menanyakan arti mimpi tersebut kepada Prabu Kresna.

Prabu Kresna menjawab, beberapa hari yang lalu memang Raden Nakula dan Raden Sadewa datang dari Kerajaan Amarta, membawa kabar bahwa Raden Arjuna sudah dua bulan lamanya menghilang dari Kesatrian Madukara, yaitu setelah menikahkan Raden Sumitra dengan Dewi Asmarawati putri Prabu Suryaasmara. Konon setelah memboyong menantu barunya ke Kesatrian Madukara, Raden Arjuna tiba-tiba saja menghilang tanpa pamit. Para istri dan para putra tidak seorang pun yang mengetahui kepergiannya.

Prabu Baladewa menyela. Ia berpendapat bahwa Raden Arjuna menghilang dari Kesatrian Madukara bukanlah sesuatu yang baru. Sudah berkali-lali sepupunya itu pergi tanpa pamit, tahu-tahu pulang sudah membawa pusaka baru, memperoleh wahyu, bahkan sering juga mendapat istri baru.

Prabu Kresna menjawab memang benar demikian. Namun, kali ini adik mereka, yaitu Dewi Sumbadra mendapat firasat buruk atas kepergian sang suami. Dewi Sumbadra mendapat firasat bahwa Raden Arjuna mendapat kecelakaan dalam perjalanan, sehingga ia pun mengutus Raden Nakula dan Raden Sadewa untuk pergi ke Dwarawati, meminta petunjuk di manakah keberadaan suaminya itu.

Waktu itu Prabu Kresna mengheningkan cipta sejenak dan mengatakan kepada si kembar bahwa Raden Arjuna tidak perlu dicari, karena tidak lama lagi ia akan pulang sendiri. Setelah mendapat petunjuk demikian, Raden Nakula dan Raden Sadewa pun bergegas pulang untuk melapor kepada Dewi Sumbadra di Kesatrian Madukara.

DEWI SUMBADRA DAN RADEN GATUTKACA MENGUNGSI KE KERAJAAN DWARAWATI

Ketika Prabu Kresna dan Prabu Baladewa sedang membicarakan tentang hilangnya Raden Arjuna, tiba-tiba datang adik mereka, yaitu Dewi Sumbadra bersama Raden Gatutkaca. Kedua orang itu tampak tergesa-gesa seperti baru dikejar musuh. Prabu Kresna dan Prabu Baladewa pun bertanya, apa yang sebenarnya telah terjadi.

Dewi Sumbadra menjawab, ramalan Prabu Kresna memang benar bahwa Raden Arjuna tidak perlu dicari karena sebentar lagi akan pulang sendiri. Akan tetapi, suaminya itu bukan pulang sebagai keluarga, melainkan sebagai musuh. Raden Arjuna kini telah menjadi raja di Kerajaan Bulukatiga, dengan gelar Prabu Janaka. Ia datang ke Kerajaan Amarta menagih takhta kepada Prabu Puntadewa. Prabu Janaka berkata bahwa dirinya dulu telah mendapatkan Wahyu Makutarama, sehingga merasa lebih berhak menjadi raja daripada Prabu Puntadewa.

Prabu Puntadewa yang welas asih tidak keberatan jika takhta Kerajaan Amarta diminta Prabu Janaka. Ia pun dengan sukarela menyerahkan kedudukannya sebagai raja, dan meminta kepada Arya Wrekodara serta si kembar untuk tidak mempersulit Prabu Janaka. Sampai di situ ketiga adiknya masih bisa menerima. Namun, Prabu Janaka ternyata berbuat lancang menjebloskan Prabu Puntadewa ke dalam penjara, hal inilah yang membuat Arya Wrekodara dan lainnya marah besar.

Dewi Sumbadra menceritakan bagaimana Arya Wrekodara bertarung melawan Prabu Janaka. Sungguh aneh, baru pergi dua bulan tiba-tiba saja kesaktian Prabu Janaka sudah meningkat puluhan kali lipat. Dalam pertarungan itu Arya Wrekodara terdesak kalah dan dijebloskan pula ke dalam penjara. Dewi Sumbadra kemudian datang untuk meminta Prabu Janaka agar membebaskan Prabu Puntadewa dan Arya Wrekodara. Namun, Prabu Janaka memukul Dewi Sumbadra dan menyuruhnya pergi. Dewi Sumbadra heran melihat suaminya berubah menjadi kasar. Padahal, sejak menikah dahulu hingga sekarang, baru kali ini ia merasakan pukulan Raden Arjuna.

Prabu Janaka lalu menangkap si kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa, juga Raden Antareja, Raden Raden Abimanyu, Raden Bratalaras, dan Raden Sumitra, yang semuanya tidak bisa mengalahkan kesaktiannya. Prabu Janaka pun memasukkan mereka semua ke dalam penjara. Saat itu hanya tinggal Raden Gatutkaca yang tersisa. Karena tidak mampu menghadapi kesaktian pamannya itu, ia terpaksa pergi dengan membawa serta Dewi Sumbadra.

Mendengar cerita itu, Prabu Baladewa marah sekali. Ia pun mohon pamit kepada Prabu Kresna untuk berangkat menghukum Prabu Janaka. Ia menyebut Raden Arjuna pasti sudah mengalami gangguan jiwa sehingga berani berbuat lancang seperti itu. Prabu Kresna meminta kakaknya bersabar, karena ia merasa ada misteri di balik semua ini. Namun, amarah Prabu Baladewa terlanjur memuncak. Ia tidak dapat disabarkan lagi dan segera bergegas meninggalkan istana Dwarawati mencari Prabu Janaka.

Prabu Kresna termangu-mangu melihatnya. Ia pun memerintahkan Arya Setyaki untuk membantu Prabu Baladewa. Raden Gatutkaca juga ikut serta. Prabu Kresna lalu membubarkan pertemuan dan membawa Dewi Sumbadra masuk ke dalam Taman Banoncinawi.

PRABU JANAKA MENYERANG KERAJAAN DWARAWATI

Sementara itu, Prabu Janaka alias Raden Arjuna telah berangkat meninggalkan Kerajaan Amarta untuk mengejar larinya Dewi Sumbadra dan Arya Wrekodara. Yang ikut bersamanya adalah Patih Tegalelana bersama pasukan Kerajaan Bulukatiga. Patih Tegalelana ini adalah mantan raja Bulukatiga yang direbut kedudukannya oleh Raden Arjuna, lalu jabatannya diturunkan menjadi patih. Selain itu, Patih Tambakganggeng dan pasukan Amarta juga dipaksa tunduk dan bergabung di bawah perintah Prabu Janaka.

Prabu Baladewa didampingi Arya Setyaki dan Raden Gatutkaca datang menghadang mereka. Prabu Baladewa memaki Raden Arjuna hilang ingatan, mengalami gangguan jiwa, dan sebagainya. Prabu Janaka balik menyebut Prabu Baladewa sebagai raja yang tidak punya sopan santun, karena bertemu sesama raja tidak memberi salam, tetapi justru melabrak tanpa sebab.

Prabu Baladewa semakin marah. Ia pun maju menyerang Prabu Janaka. Pasukan masing-masing ikut maju pula. Maka, terjadilah pertempuran antara kedua pihak. Setelah bertempur agak lama, Prabu Baladewa barulah menyadari kebenaran ucapan Dewi Sumbadra, bahwa setelah menghilang dua bulan, kesaktian Raden Arjuna meningkat pesat berkali-kali lipat.

Raden Gatutkaca dan Arya Setyaki maju membantu Prabu Baladewa. Prabu Janaka sama sekali tidak gentar. Tiba-tiba saja ia berubah wujud menjadi raksasa tinggi besar seperti gunung. Prabu Baladewa, Raden Gatutkaca, dan Arya Setyaki tidak mampu menghadapi kekuatannya. Mereka bertiga pun dilemparkan kembali ke arah Kerajaan Dwarawati.

RESI ENDRASEKTI SAKIT PARAH DAN MENGUTUS PUTRINYA MENCARI OBAT

Tersebutlah di Gunung Indragiri ada seorang pendeta bernama Resi Endrasekti yang sedang sakit keras. Ia berkata kepada putrinya yang bernama Endang Sugatawati, bahwa penyakitnya ini bisa sembuh apabila memakan jenang madumangsa buatan Dewi Sumbadra, istri Raden Arjuna di Kesatrian Madukara. Untuk itu, Resi Endrasekti pun memberikan bungkusan berisi ketan hitam mentah kepada Endang Sugatawati agar diserahkan kepada Dewi Sumbadra tersebut.

Endang Sugatawati berkata dirinya tidak tahu di mana letak Kesatrian Madukara, dan bagaimana caranya bisa bertemu dengan Dewi Sumbadra. Resi Endrasekti menerangkan bahwa Endang Sugatawati hendaknya pergi ke Desa Karangkadempel menemui Kyai Semar dan meminta kepadanya agar diantarkan menemui Dewi Sumbadra. Bilang saja bahwa Endang Sugatawati adalah putri Resi Endrasekti, pasti Kyai Semar bersedia membantu. Endang Sugatawati mematuhi perintah ayahnya, lalu ia pun berangkat dengan membawa bungkusan tersebut.

DEWI SUMBADRA PINGSAN MENERIMA BUNGKUSAN DARI ENDANG SUGATAWATI

Endang Sugatawati berangkat menuju Desa Karangkadempel hingga akhirnya bisa bertemu Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong. Begitu mengetahui bahwa Endang Sugatawati adalah anak Resi Endrasekti, Kyai Semar langsung mengatakan dirinya siap membantu. Mereka lalu berangkat bersama-sama menuju Kerajaan Dwarawati, karena Dewi Sumbadra sudah mengungsi ke sana sejak Kerajaan Amarta direbut oleh Prabu Janaka dari Kerajaan Bulukatiga.

Sesampainya di Kerajaan Dwarawati, Kyai Semar dan Endang Sugatawati langsung masuk ke Taman Banoncinawi. Dewi Sumbadra yang duduk ditemani para dayang segera menyambut mereka. Ia pun bertanya apakah Kyai Semar membawa kabar terbaru tentang keadaan Kerajaan Amarta. Kyai Semar menjawab, dirinya datang ke Dwarawati untuk mengantar putri Resi Endrasekti yang bernama Endang Sugatawati.

Endang Sugatawati maju mendekat dan menceritakan bahwa ayahnya sedang sakit keras. Menurut petunjuk dewata, Resi Endrasekti bisa sembuh apabila memakan jenang madumangsa buatan Dewi Sumbadra. Itulah sebabnya, Endang Sugatawati datang menghadap Dewi Sumbadra adalah untuk menyerahkan sebungkus ketan hitam sebagai bahan pembuatan jenang madumangsa tersebut.

Dewi Sumbadra merasa tidak kenal pada Resi Endrasekti. Namun, karena penasaran ia pun menerima bungkusan itu dan melihat isinya. Sungguh terkejut perasaan Dewi Sumbadra karena yang ada di dalam bungkusan itu ternyata bukan ketan hitam, melainkan pakaian milik Raden Arjuna. Seketika badan Dewi Sumbadra gemetar dan ia pun jatuh pingsan tak sadarkan diri.

PRABU BALADEWA MELAMPIASKAN KEMARAHAN PADA ENDANG SUGATAWATI

Prabu Baladewa yang kalah perang melawan Prabu Janaka akhirnya kembali ke Kerajaan Dwarawati. Ia terkejut melihat para dayang bertangisan dan mengatakan bahwa Dewi Sumbadra jatuh pingsan setelah menerima bungkusan dari seorang perempuan bernama Endang Sugatawati.

Prabu Baladewa yang baru saja kalah perang itu pun semakin bertambah marah. Ia lalu mendatangi Endang Sugatawati dan menuduhnya sebagai mata-mata yang dikirim Prabu Janaka untuk membunuh Dewi Sumbadra. Endang Sugatawati mengaku tidak mengenal Prabu Janaka. Namun, Prabu Baladewa tidak peduli. Ia yang sudah gelap mata langsung memukul kepala Endang Sugatawati. Seketika gadis itu pun roboh di tanah kehilangan nyawa.

Kyai Semar hendak mencegah namun terlambat. Gadis yang diantarkannya kini telah tewas di tangan Prabu Baladewa. Tidak lama kemudian Prabu Kresna muncul didampingi Raden Samba. Mereka terkejut melihat Dewi Sumbadra pingsan dan ada pula mayat seorang gadis muda tergeletak dikelilingi para panakawan.

ENDANG SUGATAWATI DIHIDUPKAN KEMBALI OLEH PRABU KRESNA

Prabu Kresna pun bertanya apa yang sebenarnya telah terjadi. Kyai Semar menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Perlahan-lahan Dewi Sumbadra bangun dari pingsan dan terkejut melihat Endang Sugatawati telah meninggal. Prabu Baladewa juga menyesal telah bertindak ceroboh dan terburu-buru karena tidak dapat mengendalikan amarah, sehingga menyebabkan tewasnya seorang gadis remaja.

Raden Samba merasa berduka melihat nasib Endang Sugatawati. Ia pun memohon kepada sang ayah agar menghidupkan gadis itu kembali. Prabu Kresna lalu mengangkat Kembang Wijayakusuma dan membaca mantra di atas kepala Endang Sugatawati. Seketika gadis itu pun hidup kembali seperti bangun dari tidur. Prabu Kresna berkata bahwa ajal Endang Sugatawati memang belum saatnya, sehingga masih bisa dihidupkan kembali menggunakan Kembang Wijayakusuma.

Dewi Sumbadra lalu bertanya apa yang harus ia lakukan saat ini. Prabu Kresna menjawab, sebaiknya Dewi Sumbadra memasak jenang madumangsa dan menyerahkan makanan itu secara langsung kepada Resi Endrasekti. Ia yakin bahwa Resi Endrasekti itulah yang bisa mengalahkan Prabu Janaka dan membebaskan Prabu Puntadewa beserta para Pandawa lainnya.

Dewi Sumbadra mematuhi. Ia lalu masuk ke dapur. Prabu Kresna melihat Raden Samba menyukai Endang Sugatawati. Maka, ia pun menugasi putranya itu agar menjaga dan menemani si gadis di dalam Taman Banoncinawi. Raden Samba mematuhi perintah ayahnya dengan senang hati.

RESI ENDRASEKTI SEMBUH DARI SAKITNYA

Jenang madumangsa telah matang. Karena Kerajaan Dwarawati masih dalam keadaan perang melawan Prabu Janaka dan pasukannya, maka Prabu Kresna ikut berangkat mengawal Dewi Sumbadra menuju Gunung Indragiri untuk menyerahkan jenang tersebut kepada Resi Endrasekti. Sesampainya di sana, mereka melihat Resi Endrasekti yang sudah tua terbaring lemah tidak berdaya. Pendeta itu tersenyum gembira melihat Prabu Kresna dan Dewi Sumbadra datang ke tempatnya.

Prabu Kresna berkata bahwa Dewi Sumbadra telah memasak jenang madumangsa menggunakan tangannya sendiri untuk mengobati penyakit Resi Endrasekti. Dewi Sumbadra lalu maju dan menyuapi Resi Endrasekti. Begitu memakan jenang tersebut, Resi Endrasekti merasa tubuhnya segar dan juga pulih dari sakitnya.

Kini Resi Endrasekti telah sembuh dan bisa bangkit berdiri. Ia berterima kasih kepada Prabu Kresna dan berterus terang ingin meminang Dewi Sumbadra sebagai istri, untuk menggantikan ibu Endang Sugatawati yang sudah meninggal. Prabu Kresna menyebut Resi Endrasekti sebagai orang tua tidak tahu diri, ibarat “diberi hati meminta jantung”. Namun, rumah tangga Dewi Sumbadra dengan Raden Arjuna memang sedang ada masalah, dan kemungkinan mereka akan bercerai. Saat ini Raden Arjuna sedang mengalami gangguan jiwa dan menjadi raja di Bulukatiga, bergelar Prabu Janaka. Apabila Resi Endrasekti dapat mengalahkan Prabu Janaka, maka lamarannya terhadap Dewi Sumbadra pasti dikabulkan Prabu Kresna.

Resi Endrasekti menyanggupi tantangan tersebut. Ia pun berangkat menuju tempat di mana Prabu Janaka dan pasukannya sedang berkemah.

RESI ENDRASEKTI MENGHADAPI PRABU JANAKA

Resi Endrasekti bersama Prabu Kresna dan Dewi Sumbadra telah sampai di hadapan Prabu Janaka dan pasukannya yang berkemah di luar ibu kota Kerajaan Dwarawati. Mereka pun saling menantang. Prabu Janaka minta istrinya dikembalikan, sedangkan Resi Endrasekti memperkenalkan dirinya sebagai calon suami Dewi Sumbadra yang baru.

Prabu Janaka marah dan maju menyerang Resi Endrasekti. Keduanya lalu terlibat pertarungan seru. Mereka sama-sama lincah, sama-sama kuat, dan sama-sama terampil memainkan senjata. Hingga akhirnya kedua orang itu pun saling melepas panah. Panah-panah mereka saling bertabrakan di udara membuat kagum para prajurit yang menyaksikan.

Prabu Janaka lalu melepas panah yang disertai mantra, begitu pula dengan Resi Endrasekti. Panah-panah mereka saling mengenai sasaran masing-masing. Panah bermantra yang ditembakkan Resi Endrasekti mengenai dada Prabu Janaka. Seketika wujud Prabu Janaka musnah dan berubah menjadi Batara Kala. Rupanya selama ini yang memerangi Kerajaan Amarta dan Kerajaan Dwarawati adalah Raden Arjuna palsu.

Sementara itu, panah yang dilepaskan Prabu Janaka juga mengenai tubuh Resi Endrasekti. Seketika wujud Resi Endrasekti pun musnah dan berubah menjadi Raden Arjuna yang asli. Melihat rencananya menaklukkan Kerajaan Dwarawati telah gagal, Batara Kala pun terbang ke udara, kembali ke Kahyangan Selamangumpeng.

PRABU PUNTADEWA DIBEBASKAN DARI PENJARA

Pasukan gabungan yang mengepung Kerajaan Dwarawati kebingungan melihat raja mereka telah musnah. Kesempatan ini dimanfaatkan Patih Tambakganggeng untuk segera kembali ke Kerajaan Amarta, membebaskan Prabu Puntadewa, Arya Wrekodara, dan yang lain dari dalam penjara.

Sementara itu, Patih Tegalelana maju mengamuk membela sang raja. Raden Arjuna dengan cekatan mengalahkan dan meringkusnya. Patih Tegalelana pun mohon ampun dan mulai hari ini ingin mengabdi kepada Raden Arjuna. Ia menjelaskan bahwa dirinya adalah raja Bulukatiga yang asli, namun telah dikalahkan oleh Raden Arjuna palsu, kemudian diturunkan jabatannya menjadi patih.

Raden Arjuna asli merasa kasihan pada Patih Tegalelana. Ia pun mempersilakan orang itu untuk kembali menjadi raja Bulukatiga, namun jangan pernah lagi mengganggu Kerajaan Amarta. Patih Tegalelana menjawab dirinya tidak mungkin berani. Karena mendapat pengampunan, ia pun kembali memakai nama Prabu Tegalelana dan mohon pamit bersama pasukannya untuk pulang ke Kerajaan Bulukatiga.

Prabu Kresna lalu mengajak Raden Arjuna dan Dewi Sumbadra kembali ke Kerajaan Dwarawati. Prabu Baladewa, Arya Setyaki, Raden Gatutkaca, dan juga Raden Samba serta Endang Sugatawati menyambut mereka dengan gembira. Tidak lama kemudian datang pula Prabu Puntadewa, Arya Wrekodara, dan si kembar yang telah dibebaskan oleh Patih Tambakganggeng dari dalam penjara.

RADEN ARJUNA MENCERITAKAN PENGALAMANNYA

Di hadapan semua orang, Raden Arjuna pun menceritakan pengalamannya. Setelah menikahkan Raden Sumitra dengan Dewi Asmarawati dua bulan yang lalu, tiba-tiba ia mimpi melihat salah satu istrinya yang bernama Endang Saptarini sedang sakit keras. Maka, diam-diam Raden Arjuna pun pergi tanpa pamit menuju Gunung Indragiri, tempat tinggal istrinya itu.

Dahulu kala Raden Arjuna memang pernah berkelana dan belajar kepada Resi Indrasukma di Gunung Indragiri tersebut. Kemudian, Raden Arjuna menikahi putri sang guru yang bernama Endang Saptarini. Ketika istrinya itu mengandung, Raden Arjuna mohon pamit kembali ke Kerajaan Amarta. Kini ia kembali ke Gunung Indragiri dan melihat Endang Saptarini sedang sakit, seperti yang tergambar dalam mimpinya. Adapun Resi Indrasukma sudah lama meninggal.

Endang Saptarini pun memperkenalkan putri mereka yang kini telah tumbuh remaja, bernama Endang Sugatawati. Endang Saptarini merasa ajalnya segera tiba. Ia pun menitipkan Endang Sugatawati kepada Raden Arjuna agar dicarikan jodoh yang tepat. Raden Arjuna menyanggupi dan berkata agar istrinya itu percaya kepadanya.

Demikianlah, Endang Saptarini pun meninggal dunia dengan tenang. Setelah memakamkan istrinya itu, Raden Arjuna tinggal di Gunung Indragiri selama empat puluh hari. Setelah itu, ia mengajak Endang Sugatawati untuk pindah ke Kesatrian Madukara. Namun, di tengah jalan mereka bertemu Batara Kala yang mempunyai niat jahat. Raden Arjuna diserang secara mendadak menggunakan ilmu sihir sehingga jatuh sakit dan wajahnya berubah menjadi tua. Endang Sugatawati lalu memapah ayahnya kembali ke Gunung Indragiri. Karena wajahnya berubah tua akibat ilmu sihir Batara Kala, maka Raden Arjuna pun mengganti namanya menjadi Resi Endrasekti.

Sementara itu, Batara Kala mengubah wujudnya menjadi Raden Arjuna palsu, lalu pergi menaklukkan Kerajaan Bulukatiga dan melorot rajanya yang bernama Prabu Tegalelana menjadi patih. Raden Arjuna palsu kemudian menjadi raja di sana, bergelar Prabu Janaka. Ia lalu pergi menyerang Kerajaan Amarta dan Kerajaan Dwarawati sebagaimana yang telah diketahui bersama.

Prabu Kresna dan yang lain bersyukur segala persoalan telah selesai. Mengenai jodoh untuk Endang Sugatawati sesuai wasiat mendiang ibunya sebelum meninggal, maka lebih baik Raden Samba saja yang memenuhi hal itu. Sepertinya Raden Samba dan Endang Sugatawati bisa menjadi pasangan yang serasi. Raden Arjuna tidak keberatan. Ia pun menerima lamaran Prabu Kresna tersebut dengan senang hati. Semua orang gembira mendengarnya dan ikut merayakan perjodohan ini.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya

Catatan : Untuk kisah pertemuan Raden Arjuna dengan ibu Endang Sugatawati adalah tambahan dari saya. Serta kisah Prabu Tegalelana yang diturunkan menjadi patih juga tambahan dari saya, dengan tujuan supaya nanti bisa menyambung dengan lakon Pramusinta-Rayungwulan.










Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ▼  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ▼  March (2)
      • Samba Rabi
      • Endrasekti - Sugatawati
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja