Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Wisanggeni Rabi

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upaya perkawinan ini, Bambang Wisanggeni bersaing dengan Prabu Boma Narakasura dan Raden Lesmana Mandrakumara.

Kisah ini saya olah dari sumber Ensiklopedia Wayang Purwa karya Rio Sudibyoprono, yang dipadukan dengan keterangan dari Ki Rudy Wiratama, serta sedikit perubahan seperlunya.

Kediri, 01 Juni 2018

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini


------------------------------ ooo ------------------------------

PRABU DURYUDANA HENDAK MELAMAR DEWI MUSTIKAWATI DI KERAJAAN SUNYAPURA

Prabu Duryudana di Kerajaan Hastina memimpin pertemuan yang dihadiri Danghyang Druna, Patih Sangkuni, Adipati Karna, dan Raden Kartawarma. Mereka membicarakan tentang Raden Lesmana Mandrakumara yang berkali-kali gagal menikah, selalu saja kalah bersaing melawan anak-anak Pandawa ataupun anak-anak Prabu Kresna. Bahkan, baru-baru ini bersaing dengan panakawan Petruk pun kalah. Prabu Duryudana merasa sedih memikirkan nasib putranya itu. Ia khawatir Raden Lesmana sampai tua tidak bisa menikah, dan itu artinya tidak akan memiliki keturunan. Tentu saja Prabu Duryudana tidak mau garis penerusnya berakhir sampai di sini.

Danghyang Druna berkata bahwa ia mendengar kabar ada seorang raja bernama Prabu Mustikadarma dari Kerajaan Sunyapura yang memiliki anak perempuan cantik jelita, bernama Dewi Mustikawati. Alangkah baiknya, gadis itu saja yang dinikahkan dengan Raden Lesmana Mandrakumara.

Prabu Duryudana meminta pendapat Patih Sangkuni atas usulan Danghyang Druna tersebut. Patih Sangkuni bertanya balik apakah tidak jatuh derajat Prabu Duryudana apabila berbesan dengan seorang raja dari sebuah negara kecil? Apakah wibawa Kerajaan Hastina tidak akan jatuh jika memiliki menantu dari negara yang tidak terkenal?

Danghyang Druna menjawab, keputusan ada di tangan Prabu Duryudana. Dewi Mustikawati memang seorang putri dari sebuah kerajaan kecil. Namun, konon kabarnya ia memiliki paras yang sangat cantik bagaikan bidadari. Gadis seperti itu tentunya sangat pantas apabila menjadi menantu Prabu Duryudana yang namanya termasyhur di dunia.

Setelah menimbang-nimbang, Prabu Duryudana akhirnya setuju. Ia pun meminta Danghyang Druna berangkat untuk melamar putri bernama Dewi Mustikawati tersebut. Danghyang Druna menerima perintah. Prabu Duryudana lalu membubarkan pertemuan. Patih Sangkuni diperintahkan pergi bersama para Kurawa untuk mengawal kepergian sang guru ke Kerajaan Sunyapura, sedangkan Adipati Karna ditugasi mempersiapkan keperluan pesta pernikahan Raden Lesmana.

DEWI MUSTIKAWATI DILAMAR TIGA PIHAK

Di Kerajaan Sunyapura, Prabu Mustikadarma sedang duduk bersama putrinya, yaitu Dewi Mustikawati. Tidak berapa lama kemudian datanglah Danghyang Druna dan Patih Sangkuni. Setelah saling memberi salam, Danghyang Druna pun menyampaikan maksud kedatangannya adalah untuk melamar Dewi Mustikawati sebagai calon istri Raden Lesmana Mandrakumara. Ia pun memuji-muji Raden Lesmana sebagai putra mahkota Kerajaan Hastina yang kelak akan menggantikan ayahnya, yaitu Prabu Duryudana menjadi raja selanjutnya. Itu artinya, Dewi Mustikawati kelak akan menduduki jabatan sebagai permaisuri pula.

Prabu Mustikadarma berkata bahwa soal jodoh, ia menyerahkan sepenuhnya kepada sang putri. Belum sempat Dewi Mustikawati menjawab lamaran tersebut, tiba-tiba datang Raden Antasena, putra Arya Wrekodara. Ia juga datang untuk melamar Dewi Mustikawati sebagai calon istri adik sepupunya, yaitu Bambang Wisanggeni.

Patih Sangkuni menyela. Ia mengatakan bahwa pihak Kerajaan Hastina lebih dulu datang ke Kerajaan Sunyapura untuk melamar Dewi Mustikawati. Itu artinya, pihak mereka yang lebih berhak mendapatkan jawaban dari Prabu Mustikadarma. Raden Antasena yang pandai bicara mengatakan dirinya dan Patih Sangkuni adalah sama-sama tamu, maka tidak sepantasnya sesama tamu saling mengatur.

Danghyang Druna lalu menagih jawaban Prabu Mustikadarma, apakah lamaran pihak Kerajaan Hastina dapat diterima. Prabu Mustikadarma menjawab, dirinya sebagai orang tua hanya bisa merestui. Mengenai urusan memilih suami, semuanya diserahkan kepada Dewi Mustikawati.

Setelah mendapat izin dari sang ayah, Dewi Mustikawati pun berkata bahwa ia ingin bisa mendapatkan pusaka Cupumanik Gambar Jagad. Barangsiapa bisa mewujudkan keinginannya itu, maka orang itulah yang akan ia pilih menjadi calon suami. Mendengar itu, Patih Sangkuni mengejek Dewi Mustikawati yang hanya seorang putri negara kecil tetapi memiliki keinginan muluk-muluk. Tidak perlu susah payah meminta yang aneh-aneh seperti itu, cukup katakan saja berapa biaya mahar yang diinginkan, maka Kerajaan Hastina akan membayar lunas tanpa takut kehabisan harta.

Dewi Mustikawati menjawab, Patih Sangkuni janganlah merendahkan para wanita sebagai kaum yang gila harta. Tidak semua wanita bisa dibeli dan dipameri harta kekayaan serta emas permata. Jika memang Raden Lesmana Mandrakumara tidak sanggup mewujudkan Cupumanik Gambar Jagad juga tidak masalah. Masih ada laki-laki lain yang sanggup mendapatkannya.

Raden Antasena ikut mengejek Kerajaan Hastina yang selalu gagal dalam sayembara memperebutkan wanita, sehingga wajar jika sekarang gentar dan mengemukakan seribu alasan. Ia lalu mohon pamit kepada Prabu Mustikadarma dan Dewi Mustikawati untuk mencari cupumanik tersebut. Danghyang Druna tidak mau ketinggalan. Ia segera mengajak Patih Sangkuni pergi mencari benda pusaka itu.

Setelah kedua pihak pergi, tiba-tiba datang pula Prabu Boma Narakasura dari Kerajaan Trajutresna yang juga ingin melamar Dewi Mustikawati sebagai calon istri. Dewi Mustikawati menjawab, dirinya bersedia menikah asalkan ada laki-laki yang mampu mewujudkan keinginannya, yaitu menghadirkan Cupumanik Gambar Jagad.

Mendengar jawaban itu, Prabu Boma pun mohon pamit undur diri meninggalkan Kerajaan Sunyapura.

PARA KURAWA MENYERGAP RADEN ANTASENA

Danghyang Druna dan Patih Sangkuni keluar dari istana Sunyapura di mana Arya Dursasana, Raden Srutayu, Raden Kartawarma, Raden Durmagati, dan para Kurawa lainnya telah menunggu. Danghyang Druna merasa bingung entah ke mana harus mencari Cupumanik Gambar Jagad. Patih Sangkuni berkata, urusan mencari cupumanik adalah tugas Danghyang Druna, sedangkan dirinya dan para Kurawa bertugas untuk menyingkirkan pesaing. Dalam hal ini, yang harus disingkirkan adalah Raden Antasena agar tidak kembali ke tempat Bambang Wisanggeni.

Raden Durmagati berkata bahwa Raden Antasena adalah putra Arya Wrekodara, dan selama ini para Kurawa sering dibuat kocar-kacir saat bertarung melawan Raden Antareja ataupun Raden Gatutkaca. Maka, niat untuk menjegal Raden Antasena lebih baik diurungkan saja, karena yang lebih penting adalah bersatu mencari Cupumanik Gambar Jagad.

Patih Sangkuni menjawab, Raden Antasena tidak perlu ditakuti karena wujudnya berbeda dengan kedua kakaknya yang gagah perkasa. Raden Antasena ini tubuhnya lebih kecil, wajahnya lugu dan polos, sepertinya hanya pandai bicara saja dan tidak memiliki kesaktian apa-apa. Lebih cepat disingkirkan tentu lebih baik.

Patih Sangkuni telah menetapkan demikian. Pasukan pun dibagi menjadi dua. Danghyang Druna membawa setengah rombongan mencari Cupumanik Gambar Jagad, sedangkan Patih Sangkuni bersama sisanya mengejar Raden Antasena.

Sementara itu, Raden Antasena yang sedang dalam perjalanan menuju tempat Bambang Wisanggeni tiba-tiba dihadang Patih Sangkuni, Arya Dursasana, dan para Kurawa lainnya. Tanpa banyak bicara, mereka pun menyerang pemuda itu. Namun, sungguh di luar dugaan,  Raden Antasena yang berwajah polos dan lugu ternyata memiliki kesaktian di atas Raden Antareja dan Raden Gatutkaca. Sambil bercanda ia menghajar para Kurawa. Arya Dursasana dan adik-adiknya pun dibuat babak belur, termasuk Patih Sangkuni pula. Namun, Raden Antasena teringat bahwa dirinya harus segera melapor kepada Bambang Wisanggeni sehingga tidak ada waktu untuk bermain-main seperti ini.

BAMBANG WISANGGENI MEMINTA RESTU KEPADA IBUNYA

Raden Antasena berhasil meloloskan diri dan akhirnya sampai di Kahyangan Duksinageni, di mana Bambang Wisanggeni menunggu bersama ibunya, yaitu Batari Dresanala. Beberapa waktu yang lalu Batari Dresanala memang mengutus Raden Antasena untuk menyampaikan lamaran kepada Dewi Mustikawati, putri Prabu Mustikadarma di Kerajaan Sunyapura sebagai calon istri Bambang Wisanggeni. Kini Raden Antasena datang melaporkan hasil kepergiannya. Ia bercerita bahwa Danghyang Druna dan Patih Sangkuni juga datang untuk melamar Dewi Mustikawati. Namun, Dewi Mustikawati tidak menerima lamaran pihak mana pun, kecuali ada yang mampu mewujudkan keinginannya, yaitu mendatangkan Cupumanik Gambar Jagad.

Batari Dresanala terkejut mendengar syarat tersebut. Ia pun berkata kepada Bambang Wisanggeni agar membatalkan saja keinginannya menikahi Dewi Mustikawati. Masih banyak gadis lain yang bisa dijadikan istri tanpa harus meminta syarat yang seberat itu. Bambang Wisanggeni menjawab, justru syarat yang berat seperti ini menunjukkan betapa mahal nilai seorang Dewi Mustikawati. Ia pun tetap pada niatnya, yaitu menjadikan gadis tersebut sebagai istri. Ia lalu bertanya di mana kira-kira Cupumanik Gambar Jagad berada.

Batari Dresanala mengatakan, cupumanik tersebut adalah pusaka milik Sanghyang Padawenang, leluhur para dewa yang bersemayam di Kahyangan Awang-Awang Kumitir. Namun demikian, Bambang Wisanggeni jangan langsung berangkat ke sana. Masalah ini adalah masalah besar. Bambang Wisanggeni hendaknya terlebih dulu meminta restu dan dukungan kepada ayahnya, yaitu Raden Arjuna.

Bambang Wisanggeni mematuhi nasihat tersebut. Setelah meminta restu kepada ibunya, ia pun pergi meninggalkan Kahyangan Duksinageni bersama Raden Antasena.

DANGHYANG DRUNA MEMINTA BANTUAN RADEN ARJUNA

Sementara itu, Raden Arjuna bersama para panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong sedang berkelana menebarkan kebaikan. Raden Arjuna berniat menjalani tapa ngrame, yaitu membantu siapa saja yang sedang mengalami kesulitan. Tiba-tiba mereka berjumpa Danghyang Druna yang dikawal Bambang Aswatama dan juga beberapa orang Kurawa.

Setelah menghaturkan sembah hormat, Raden Arjuna pun bertanya ke mana gurunya itu hendak pergi. Danghyang Druna menjawab dirinya memang sengaja menemui Raden Arjuna untuk meminta bantuan mencarikan pusaka Cupumanik Gambar Jagad. Benda pusaka ini adalah prasyarat yang harus dipenuhi Raden Lesmana Mandrakumara untuk meminang Dewi Mustikawati, putri Prabu Mustikadarma di Kerajaan Sunyapura.

Raden Arjuna yang sudah berniat melakukan tapa ngrame menyanggupi permintaan Danghyang Druna tersebut. Ia bersedia membantu mendapatkan pusaka Cupumanik Gambar Jagad. Setelah dicapai kata sepakat, mereka lalu berpisah.

BAMBANG WISANGGENI MEMINTA RESTU KEPADA AYAHNYA

Raden Arjuna yang berjalan bersama para panakawan pun bertemu Bambang Wisanggeni yang didampingi Raden Antasena. Setelah menyampaikan salam kepada ayahnya, Bambang Wisanggeni pun meminta restu bahwa dirinya sebentar lagi akan menikah. Raden Arjuna bertanya, siapa perempuan yang akan menjadi menantunya. Bambang Wisanggeni menjawab, perempuan itu bernama Dewi Mustikawati, putri Prabu Mustikadarma dari Kerajaan Sunyapura.

Raden Arjuna bertanya apakah benar gadis itu mengajukan syarat ingin disediakan Cupumanik Gambar Jagad. Bambang Wisanggeni menjawab benar. Mendengar itu, Raden Arjuna menolak memberikan restu. Dirinya sudah terlanjur menyanggupi permintaan Danghyang Druna, maka mau tidak mau ia berada di pihak Kerajaan Hastina. Oleh sebab itu, ia pun menyarankan agar Bambang Wisanggeni mengurungkan niat menikahi Dewi Mustikawati.

Bambang Wisanggeni menolak saran ayahnya. Ia telah bersumpah hanya akan menikahi Dewi Mustikawati seorang, dan tidak ingin berpindah ke lain hati. Raden Arjuna marah dibantah putranya. Ia pun memukul Bambang Wisanggeni dan mengancam akan menghajarnya apabila tetap bersikeras ingin menikahi Dewi Mustikawati. Bambang Wisanggeni tidak takut pada ancaman ayahnya, karena ia merasa menikahi gadis tersebut bukanlah perbuatan salah. Raden Arjuna bertambah marah dan menyerang putranya itu.

Bambang Wisanggeni terpaksa menghadapi serangan ayahnya. Ia hanya menghindar dan menangkis, sama sekali tidak pernah membalas pukulan Raden Arjuna. Namun, setiap kali tangannya menangkis, selalu saja membuat tangan atau kaki Raden Arjuna merasa linu dan nyeri. Sungguh tinggi kesaktian Bambang Wisanggeni berada di atas Raden Arjuna. Raden Antasena dan para panakawan hanya menonton di tepi, kecuali Kyai Semar yang memilih tidur di bawah pohon.

PRABU KRESNA MELERAI PERTARUNGAN AYAH DAN ANAK

Setelah bertarung cukup lama, Raden Arjuna akhirnya kelelahan dan terdesak. Tiba-tiba muncul bayangan hitam melerai pertarungan mereka. Orang itu tidak lain adalah Prabu Kresna, raja Dwarawati. Raden Arjuna dan Bambang Wisanggeni pun sama-sama menghaturkan salam kepadanya.

Prabu Kresna bertanya mengapa ayah dan anak bertarung di jalan, apakah sedang latihan perang-perangan? Raden Arjuna menjawab, dirinya berusaha menghalangi Bambang Wisanggeni yang hendak meminta restu untuk menikah dengan Dewi Mustikawati. Hal ini karena ia telah berjanji kepada Danghyang Druna untuk membantu mendapatkan Cupumanik Gambar Jagad sebagai syarat Raden Lesmana Mandrakumara meminang gadis tersebut.

Prabu Kresna menyebut Raden Arjuna sungguh aneh, karena janji yang ia ucapkan kepada Danghyang Druna adalah membantu mendapatkan cupumanik, bukan membantu menghalangi Bambang Wisanggeni. Raden Arjuna menjawab, jika tidak dihalangi maka Bambang Wisanggeni pasti mampu mendapatkan pusaka tersebut. Prabu Kresna berkata, itu artinya Raden Arjuna tidak percaya diri, takut berlomba melawan anak sendiri. Lagipula jika Bambang Wisanggeni berhasil mendapatkan cupumanik tersebut, itu artinya jodoh Dewi Mustikawati bukan Raden Lesmana.

Prabu Kresna juga berkata, bahwa ia pun dimintai tolong Prabu Boma Narakasura untuk mencarikan cupu pusaka tersebut, namun ia menolak. Raden Arjuna heran mengapa Prabu Kresna tidak mau membantu putra sendiri. Prabu Kresna menjawab, dirinya sengaja tidak membantu Prabu Boma karena ia meramalkan Dewi Mustikawati bukanlah jodoh putranya itu. Yang kedua, Prabu Boma juga tidak sungguh-sungguh mencintai Dewi Mustikawati.

Raden Arjuna merasa bimbang. Ia pun bertanya siapa kira-kira jodoh gadis tersebut, apakah Bambang Wisanggeni ataukah Raden Lesmana Mandrakumara. Prabu Kresna tidak menjawab, melainkan bertanya kepada Kyai Semar hendak mendampingi perjalanan siapa. Kyai Semar bangun dari tidur dan menyatakan hendak mendampingi Bambang Wisanggeni saja. Dari jawaban tersebut, Raden Arjuna dapat menyimpulkan bahwa Dewi Mustikawati memang ditakdirkan menjadi istri Bambang Wisanggeni. Ia pun memeluk putranya itu dan meminta maaf, serta merestuinya semoga berhasil mendapatkan Cupumanik Gambar Jagad.

Bambang Wisanggeni berterima kasih. Ia lalu mohon pamit kepada ayahnya itu dan juga kepada Prabu Kresna untuk berangkat menuju Kahyangan Awang-Awang Kumitir. Kyai Semar dan Raden Antasena menyertai di belakang.

BAMBANG WISANGGENI MENDAPATKAN CUPUMANIK GAMBAR JAGAD

Di Kahyangan Awang-Awang Kumitir, Sanghyang Padawenang menerima kedatangan Bambang Wisanggeni dan rombongannya. Mereka semua menghaturkan hormat kepada leluhur para dewa tersebut. Bambang Wisanggeni kemudian mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu ingin meminjam Cupumanik Gambar Jagad sebagai syarat untuk menikah dengan Dewi Mustikawati.

Sanghyang Padawenang mengabulkan permohonan Bambang Wisanggeni karena Dewi Mustikawati memang berjodoh dengan pemuda tersebut. Namun, Cupumanik Gambar Jagad kelak harus dikembalikan kepadanya, yaitu ketika hendak meletus Perang Bratayuda antara para Pandawa melawan para Kurawa. Kelak ketika Bambang Wisanggeni bersama Raden Antasena mengembalikan cupumanik tersebut, Sanghyang Padawenang akan menyampaikan pula apa yang menjadi takdir mereka.

Bambang Wisanggeni dan Raden Antasena merasa penasaran. Mereka bertanya apa kira-kira takdir yang kelak akan menimpa mereka. Sanghyang Padawenang tidak bersedia menjawab karena itu belum waktunya. Kyai Semar menasihati kedua pemuda itu agar menjalani kehidupan dengan baik, tidak perlu memikirkan hal tersebut. Kelak jika waktunya tiba, ia yang akan mengingatkan Bambang Wisanggeni dan Raden Antasena untuk menghadap Sanghyang Padawenang dengan membawa kembali Cupumanik Gambar Jagad.

Sanghyang Padawenang merasa cukup untuk hari ini. Bambang Wisanggeni dan yang lain pun mohon pamit meninggalkan Kahyangan Awang-Awang Kumitir dengan membawa cupu pusaka yang mereka cari.

PRABU BOMA MENGHADANG BAMBANG WISANGGENI

Bambang Wisanggeni dan rombongannya telah kembali menginjak tanah. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Sunyapura. Tiba-tiba mereka dihadang Prabu Boma Narakasura dan Patih Pancadnyana yang hendak merebut Cupumanik Gambar Jagad. Bambang Wisanggeni dengan tegas menolak menyerahkan cupumanik tersebut. Maka, terjadilah pertarungan antara dirinya melawan Prabu Boma, sedangkan Raden Antasena melawan Patih Pancadnyana.

Prabu Boma terdesak melawan Bambang Wisanggeni yang lincah dan sakti. Ia akhirnya dapat dikalahkan oleh sepupunya tersebut. Bambang Wisanggeni pun bertanya untuk apa Prabu Boma menginginkan Cupumanik Gambar Jagad, jika hatinya tidak tulus mencintai Dewi Mustikawati. Prabu Boma terkejut mengetahui Bambang Wisanggeni dapat menebak isi hatinya. Ia pun berterus terang bahwa ini semua karena permintaan istrinya, yaitu Dewi Agnyanawati.

Prabu Boma bercerita bahwa ia baru saja menikah dengan Dewi Agnyanawati, keponakan Patih Pancadnyana. Namun, istrinya itu selalu menolak jika Prabu Boma mengajak bermesraan. Prabu Boma pun mendesak Dewi Agnyanawati dan bertanya apa yang menjadi keinginannya. Dewi Agnyanawati berkata, dirinya bersedia melayani Prabu Boma apabila dimadu dengan sahabatnya, yaitu Dewi Mustikawati dari Kerajaan Sunyapura.

Raden Antasena sambil meringkus Patih Pancadnyana ikut bicara. Ia menyarankan agar Prabu Boma menjadi suami yang tegas, jangan mau diperintah istri seperti itu. Apa gunanya menikahi Dewi Mustikawati jika tidak mencintainya? Bukankah itu sama saja dengan menyiksa gadis tersebut? Lagipula, jika Prabu Boma memaksa menikahi perempuan yang bukan jodohnya, itu berarti ia merebut calon pasangan hidup pria lain yang ditakdirkan menjadi jodoh Dewi Mustikawati.

Prabu Boma merenungi ucapan Raden Antasena yang masuk akal. Ia merasa dirinya terlalu egois karena demi ingin menyenangkan Dewi Agnyanawati lantas merugikan Dewi Mustikawati dan juga laki-laki lain yang ditakdirkan menjadi jodoh gadis tersebut. Setelah berpikir demikian, ia pun menyatakan mundur dari perlombaan ini. Prabu Boma lalu memerintahkan Patih Pancadnyana agar pulang lebih dulu ke Kerajaan Trajutresna, sedangkan dirinya ingin menyaksikan perkawinan antara Bambang Wisanggeni dan Dewi Mustikawati.

BAMBANG WISANGGENI MEMPERSEMBAHKAN CUPU PUSAKA KEPADA CALON ISTRINYA

Bambang Wisanggeni, Raden Antasena, Prabu Boma, dan para panakawan melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Sunyapura. Di tengah jalan mereka dihadang Danghyang Druna dan Patih Sangkuni bersama para Kurawa yang menyertai mereka. Jika sebelumnya, para Kurawa yang menyertai Patih Sangkuni dapat dikalahkan Raden Antasena, maka kini jumlah mereka bertambah karena bergabung dengan para Kurawa yang menyertai Danghyang Druna. Dengan jumlah yang lebih banyak, mereka yakin dapat mengalahkan Raden Antasena dan merebut Cupumanik Gambar Jagad dari tangan Bambang Wisanggeni yang bertubuh kurus kecil.

Namun, para Kurawa tidak menduga Prabu Boma ada bersama mereka. Patih Sangkuni pun menghasut Prabu Boma agar bergabung dengan para Kurawa sehingga mereka dapat bersama-sama merebut Cupumanik Gambar Jagad. Prabu Boma merasa bimbang, teringat janjinya kepada Dewi Agnyanawati. Namun, Raden Antasena segera bertanya, apabila Cupumanik Gambar Jagad berhasil direbut, lantas siapa yang akan menikahi Dewi Mustikawati. Danghyang Druna langsung menjawab, tentu saja Raden Lesmana Mandrakumara.

Mendengar jawaban itu, Prabu Boma tidak ragu lagi. Ia pun melompat menerjang rombongan dari Kerajaan Hastina tersebut. Raden Antasena ikut membantu. Para Kurawa lagi-lagi babak belur menghadapi mereka berdua. Merasa terdesak, Danghyang Druna pun mengajak Patih Sangkuni dan yang lain untuk mundur, kembali ke Kerajaan Hastina.

Bambang Wisanggeni dan rombongannya melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai di Kerajaan Sunyapura. Ternyata Prabu Kresna dan Raden Arjuna sudah lebih dulu tiba di sana, duduk bersama Prabu Mustikadarma dan Dewi Mustikawati. Prabu Kresna senang melihat Prabu Boma ikut dalam rombongan ini dan menyadari kesalahannya.

Bambang Wisanggeni maju dan menyerahkan Cupumanik Gambar Jagad kepada Dewi Mustikawati. Gadis itu perlahan menerimanya. Begitu membuka cupu pusaka tersebut, ia dapat melihat pemandangan di seluruh dunia, baik itu pemandangan di alam nyata, maupun pemandangan di alam gaib.

Melihat putrinya tampak bahagia, Prabu Mustikadarma pun menyatakan Bambang Wisanggeni sebagai pemenang sayembara. Hari itu juga ia menikahkan Bambang Wisanggeni dengan Dewi Mustikawati. Prabu Kresna dan Raden Arjuna kembali memberikan restu untuk perkawinan mereka.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya









Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Petruk Nagih Janji

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang usaha Petruk menagih janji Prabu Kresna yang dulu pernah menyanggupi Dewi Prantawati sebagai calon istrinya. Janji tersebut diucapkan saat Petruk mengatasi serangan Prabu Pandupragolamanik penjelmaan Nala Gareng.

Kisah ini saya olah dari sumber tayangan wayang orang di TVRI dengan sedikit perubahan seperlunya.

Kediri, 12 Mei 2018

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

Petruk Kantongbolong.

------------------------------ ooo ------------------------------

PRABU BALADEWA MELAMAR DEWI PRANTAWATI UNTUK RADEN LESMANA

Prabu Kresna Wasudewa di Kerajaan Dwarawati sedang memimpin pertemuan yang dihadiri Raden Samba Wisnubrata, Arya Setyaki, dan Patih Udawa. Tiba-tiba datanglah sang kakak, yaitu Prabu Baladewa dari Kerajaan Mandura. Prabu Kresna dan yang lain pun bergantian menyampaikan salam penghormatan kepadanya.

Prabu Baladewa berkata, kedatangannya kali ini adalah untuk melamar putri Prabu Kresna sebagai calon istri Raden Lesmana Mandrakumara, putra Prabu Duryudana di Kerajaan Hastina. Beberapa waktu yang lalu hubungan antara Prabu Baladewa dan Prabu Duryudana sempat renggang dikarenakan dua hal. Yang pertama, ketika Prabu Baladewa melamar Dewi Kusumadewati untuk Raden Partajumena yang harus bersaing dengan Danghyang Druna yang juga melamar untuk Raden Lesmana. Yang kedua, ketika Prabu Baladewa menikahkan Raden Wisata dengan Dewi Nilawati, juga harus bersaing dengan pihak Kerajaan Hastina. Bahkan, Raden Wisata putranya itu sempat bentrok dengan para Kurawa yang hendak merebut Payung Garuda Nglayang.

Kali ini Prabu Baladewa dan Prabu Duryudana sama-sama ingin memperbaiki hubungan. Maka, Prabu Baladewa pun bersedia mencarikan jodoh untuk Raden Lesmana Mandrakumara. Karena ia tidak mempunyai anak perempuan, maka Raden Lesmana hendak dinikahkan dengan keponakannya saja.

Prabu Kresna berkata bahwa anak perempuannya yang belum menikah saat ini tinggal satu orang saja, yaitu Dewi Prantawati. Prabu Baladewa langsung menyatakan melamar gadis tersebut sebagai calon istri Raden Lesmana Mandrakumara. Prabu Kresna merasa ragu-ragu karena Dewi Prantawati pernah dijodohkan dengan seseorang. Namun, karena Prabu Baladewa terus mendesak, terpaksa ia menerima lamaran ini.

PETRUK MENAGIH JANJI YANG PERNAH DIUCAPKAN PRABU KRESNA

Tidak lama kemudian datanglah panakawan Petruk menghadap Prabu Kresna dengan membawa segala macam hasil bumi dan palawija. Prabu Kresna pun bertanya ada keperluan apa ia datang ke Kerajaan Dwarawati. Apakah para Pandawa diserang musuh sakti hingga tidak dapat meninggalkan Kerajaan Amarta dan terpaksa mengirim panakawan untuk meminta bantuan? Ataukah ada masalah berat lainnya? Petruk pun menjawab kedatangannya tidak ada hubungan dengan para Pandawa. Tujuannya datang ke Kerajaan Dwarawati adalah untuk menagih janji Prabu Kresna dulu.

Petruk lalu bercerita peristiwa dua puluh lima tahun yang lalu, saat Dewi Sumbadra belum melahirkan Raden Abimanyu, saat itu terjadi kekacauan di Kerajaan Amarta karena serangan Prabu Pandupragolamanik. Para Pandawa tidak mampu mengalahkan musuh tersebut, sehingga Prabu Kresna meminta dirinya saja yang maju perang. Petruk merasa keberatan karena ia hanya seorang panakawan, mana mungkin mampu mengatasi amukan Prabu Pandupragolamanik? Namun, Prabu Kresna terus memaksa dan berusaha meyakinkan bahwa hanya dirinya seorang yang mampu mengalahkan Prabu Pandupragolamanik. Bahkan, Prabu Kresna saat itu sampai berjanji akan mengabulkan apa saja yang diminta Petruk asalkan bisa mengalahkan Prabu Pandupragolamanik. Petruk menjawab, dirinya hanya meminta anak ayam cemani. Prabu Kresna paham bahwa Petruk meminta anak perempuannya untuk dijadikan istri. Prabu Kresna pun menyanggupi akan mengabulkan permintaan Petruk. Saat itu, Prabu Kresna baru memiliki satu anak perempuan bernama Dewi Prantawati yang masih kecil. Ia pun berjanji kelak apabila sudah dewasa, maka Dewi Prantawati akan diserahkan kepada Petruk supaya diambil sebagai istri.

Petruk kemudian maju perang dan berhasil mengalahkan Prabu Pandupragolamanik yang ternyata penyamaran Nala Gareng, saudaranya sendiri sesama panakawan. Adapun penyebab Nala Gareng menyamar sebagai Prabu Pandupragolamanik adalah karena kesalahpahaman Raden Arjuna, yang menuduh dirinya telah merusakkan Jala Sutra Tampang Kencana milik Bagawan Abyasa. Tahun demi tahun berlalu. Dewi Prantawati kini telah tumbuh dewasa. Selain dirinya, Prabu Kresna telah mendapatkan anak-anak perempuan lagi, antara lain Dewi Sitisundari yang dinikahkan dengan Raden Abimanyu, serta Dewi Titisari yang dinikahkan dengan Bambang Irawan. Dewi Prantawati yang usianya lebih tua ternyata belum juga menikah, sedangkan adik-adiknya yang perempuan semua telah menikah. Petruk menduga itu karena sejak kecil Dewi Prantawati sudah dijodohkan dengan dirinya. Akan tetapi, lama menunggu tetap saja tidak ada kabar dari Prabu Kresna apakah perjodohan tersebut bisa dilanjutkan atau tidak. Akhirnya, hari ini Petruk memberanikan diri datang melamar, menagih janji Prabu Kresna yang sudah terucap lama itu.

Prabu Kresna hanya diam tidak menjawab. Hatinya bimbang. Di satu sisi, ia tidak tega putrinya menjadi istri Raden Lesmana Mandrakumara yang bodoh dan manja, namun ia sendiri sudah terlanjur menerima lamaran Prabu Baladewa. Di sisi lain, ia juga tidak rela Dewi Prantawati menjadi istri Petruk yang hanya seorang rakyat jelata, bukan dari golongan bangsawan atau paling tidak anak brahmana. Itulah sebabnya selama ini Prabu Kresna selalu menunda-nunda perkawinan antara Dewi Prantawati dengan Petruk adalah karena terdorong oleh rasa bimbangnya tersebut, meskipun ia sendiri sudah terlanjur berjanji.

Prabu Kresna akhirnya menjawab, bahwa ia sudah terlanjur menerima pinangan Prabu Baladewa yang hendak menjadikan Dewi Prantawati sebagai calon istri Raden Lesmana Mandrakumara. Petruk terkejut. Ia tidak menduga Prabu Kresna yang bijaksana ternyata bisa mengingkari janji yang telah diucapkannya sendiri. Ia pun mengingatkan bahwa janji adalah hutang. Prabu Kresna sendiri yang berjanji akan menyerahkan Dewi Prantawati sesudah dewasa kepada Petruk. Namun, janji itu justru dilanggar sendiri karena Dewi Prantawati saat ini hendak dinikahkan dengan orang lain.

Prabu Baladewa marah menyebut Petruk kurang ajar berani menasihati raja. Petruk berkata, Prabu Baladewa adalah tamu juga, jadi tidak perlu merasa lebih tinggi daripada tamu lainnya. Prabu Baladewa semakin marah dan menyeret Petruk keluar dari istana.

Prabu Kresna termenung bimbang. Ia lalu membubarkan pertemuan dan memerintahkan Arya Setyaki untuk menjaga keamanan Kerajaan Dwarawati. Barangsiapa yang berbuat kekacauan sebaiknya ditindak saja. Arya Setyaki menyanggupi. Prabu Kresna lalu masuk ke dalam kedaton.

PARA KURAWA HENDAK MEMBUNUH PETRUK

Prabu Baladewa yang menyeret Petruk segera melemparkan tubuhnya ke tengah alun-alun. Patih Sangkuni dan para Kurawa yang menunggu di luar segera mendatangi Prabu Baladewa dan menanyakan apa yang telah terjadi. Prabu Baladewa menjawab, Prabu Kresna telah mengabulkan lamaran Kerajaan Hastina. Itu artinya, Raden Lesmana Mandrakumara bisa menikah dengan Dewi Prantawati. Namun, tiba-tiba Petruk datang menagih janji karena dulu sewaktu masih kecil, Dewi Prantawati sudah dijodohkan dengannya.

Patih Sangkuni ikut kesal mendengar cerita tersebut. Ia pun mengajak para Kurawa untuk mengusir Petruk dari Kerajaan Dwarawati. Apabila Petruk tetap membangkang, maka lebih baik dibunuh saja. Arya Dursasana dan adik-adiknya segera mengikuti Patih Sangkuni.

Sementara itu, Petruk jatuh terguling-guling di tanah. Tiba-tiba muncul Raden Antareja dan Raden Gatutkaca mendatanginya. Petruk bertanya mengapa kedua putra Arya Wrekodara itu ada di Dwarawati. Raden Gatutkaca menjawab, pada mulanya ia dan Raden Antareja pergi ke Desa Karangkadempel mengunjungi Kyai Semar. Meskipun Kyai Semar hanya seorang panakawan, namun kedua pemuda itu paham bahwa ia adalah penjelmaan Batara Ismaya. Maka, mereka pun sering mengunjungi Kyai Semar untuk meminta nasihat dan petuah darinya.

Namun, saat itu Kyai Semar sedang bersedih karena Petruk nekad pergi ke Kerajaan Dwarawati untuk menagih janji Prabu Kresna. Kyai Semar khawatir terjadi bencana menimpa diri Petruk. Tanpa disuruh, Raden Antareja dan Raden Gatutkaca segera pergi menyusul ke Kerajaan Dwarawati. Firasat Kyai Semar terbukti nyata, karena kedua pemuda itu melihat Petruk terguling di tanah setelah tubuhnya dilempar oleh Prabu Baladewa.

Petruk berterima kasih atas perhatian Raden Antareja dan Raden Gatutkaca. Ia pun bercerita ternyata Prabu Kresna ingkar janji, tidak bersedia menikahkan dirinya dengan Dewi Prantawati, justru menerima pinangan Raden Lesmana Mandrakumara. Petruk merasa rendah diri, sebagai orang miskin dirinya telah dihina seperti ini. Raden Antareja dan Raden Gatutkaca merasa prihatin dan bersedia membantu Petruk.

Tidak lama kemudian Patih Sangkuni dan para Kurawa datang. Mereka mengancam Petruk dan menyuruhnya pergi jauh, tidak perlu lagi mengharapkan Dewi Prantawati karena sebentar lagi gadis itu akan menikah dengan Raden Lesmana Mandrakumara. Petruk menjawab tidak peduli karena yakin Dewi Prantawati pasti lebih memilih dirinya daripada menikah dengan Raden Lesmana yang dungu.

Patih Sangkuni marah dan memerintahkan para Kurawa menghukum Petruk. Raden Antareja dan Raden Gatutkaca segera menghalangi. Pertempuran pun terjadi. Para Kurawa jelas tidak mampu mengatasi kedua pemuda tersebut, sedangkan Patih Sangkuni juga sibuk dipermainkan Petruk.

Melihat kekacauan ini, Prabu Baladewa maju melabrak Raden Antareja dan Raden Gatutkaca. Kedua pemuda itu gentar karena ayah mereka sewaktu muda pernah berguru kepada Prabu Baladewa saat masih bernama Wasi Jaladara. Mereka pun mundur menghindar dan meminta maaf kepada Petruk. Petruk sendiri memilih kabur daripada berhadapan dengan Prabu Baladewa. Untuk sementara ia mundur, mencari cara untuk menggagalkan pernikahan Raden Lesmana Mandrakumara dengan Dewi Prantawati.

PETRUK DITOLAK RADEN ARJUNA

Petruk telah jauh meninggalkan Kerajaan Dwarawati. Di tengah jalan ia melihat kedua saudaranya, yaitu Nala Gareng dan Bagong sedang bercanda menghibur Raden Arjuna. Ia lalu ikut bergabung bersama mereka. Raden Arjuna pun bertanya mengapa Petruk pergi sendiri meninggalkan Desa Karangkadempel.

Petruk menjawab, dirinya pergi ke Kerajaan Dwarawati untuk menagih janji Prabu Kresna yang dulu pernah menjodohkan dirinya dengan Dewi Prantawati. Kini Dewi Prantawati sudah dewasa, tetapi justru hendak dinikahkan dengan Raden Lesmana Mandrakumara, bukan dengan dirinya. Petruk pun memohon bantuan Raden Arjuna agar ikut mengingatkan Prabu Kresna, bahwa janji adalah hutang, hendaknya bisa ditepati.

Raden Arjuna menolak permintaan Petruk. Ia menyebut Petruk sebagai rakyat jelata tidak tahu diri, berani menagih janji kepada raja. Petruk menjawab, raja adalah pemimpin. Jika pemimpinnya mengingkari janji, bagaimana rakyat bisa tetap percaya kepada pemimpin? Dalam urusan janji, tidak ada perbedaan tinggi rendah jabatan. Dewa sekalipun kalau mengingkari janji juga akan jatuh martabatnya.

Raden Arjuna semakin marah dan mencabut keris untuk mengancam Petruk agar mengurungkan niatnya menagih janji kepada Prabu Kresna. Petruk kecewa karena majikannya ternyata tidak mendukung. Ia pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu.

PETRUK MENDAPAT BANTUAN DARI AYAH KANDUNGNYA

Petruk yang melarikan diri akhirnya tersesat masuk ke Hutan Wanapringga. Hutan tersebut terkenal angker, banyak dihuni segala macam hantu dan makhluk halus. Namun, Petruk tidak takut sama sekali. Baginya lebih baik mati dimangsa hantu daripada gagal meraih cita-cita.

Demikianlah, Petruk pun duduk di atas sebongkah batu besar di bawah pohon yang rimbun. Berbagai macam hantu datang mengganggunya. Dasar sifat Petruk yang jenaka, bukannya takut tetapi justru mengajak mereka bercanda. Tidak lama kemudian, muncul sosok tinggi besar yang tidak lain adalah ayah kandung Petruk sendiri, yaitu Gandarwaraja Swala.

Petruk aslinya juga seorang gandarwa, bernama Gandarwa Supatra. Saat masih berwujud gandarwa, ia sangat nakal susah diatur. Gandarwaraja Swala lalu meminta bantuan Kyai Semar untuk menjinakkan putranya itu. Kyai Semar berhasil memperbaiki watak Gandarwa Supatra dan mengubah wujudnya menjadi manusia jenaka, dengan nama baru Petruk. Gandarwaraja Swala pun merelakan Petruk menjadi anak angkat Kyai Semar.

Kini Gandarwaraja Swala datang menemui Petruk dan bertanya mengapa anaknya itu terlihat sedih. Petruk pun menyembah ayahnya dan menceritakan kisah yang ia alami dari awal hingga akhir. Gandarwaraja Swala merasa prihatin dan bertanya apakah Petruk benar-benar mencintai Dewi Prantawati. Petruk menjawab, ini bukan sekadar urusan asmara, tetapi urusan menyelamatkan pemimpin dari dosa melanggar janji. Gandarwaraja Swala senang mendengarnya dan bersedia membantu Petruk. Ia pun mengubah wujud Petruk menjadi kesatria dengan nama Bambang Sukma-nglembara. Tidak hanya itu, Gandarwaraja Swala juga memberikan tambahan ilmu kesaktian kepada Petruk.

Petruk berterima kasih atas bantuan ayahnya. Ia pun mohon restu dan mohon pamit untuk menggagalkan perkawinan Dewi Prantawati dengan Raden Lesmana Mandrakumara.

PRABU KRESNA MENERIMA KEDATANGAN ROMBONGAN DARI HASTINA

Prabu Kresna dan Prabu Baladewa di Kerajaan Dwarawati menerima kedatangan rombongan pengantin dari Kerajaan Hastina yang dipimpin langsung oleh Prabu Duryudana. Setelah saling memberi hormat, Raden Lesmana Mandrakumara bertanya seperti apa wajah Dewi Prantawati, apakah sama cantiknya dengan Dewi Sitisundari dan Dewi Titisari? Jika Dewi Prantawati berwajah jelek, lebih baik tak perlu menikahinya. Raden Samba putra Prabu Kresna menyindir Raden Lesmana, sudah gagal menikah berkali-kali masih saja sombong.

Prabu Kresna tidak mau memperpanjang urusan. Ia pun memerintahkan Raden Samba untuk mengantar Raden Lesmana menemui Dewi Prantawati agar dapat melihat langsung calon istrinya cantik atau tidak. Kedua pemuda itu pun bergegas masuk menuju kaputren.

BAMBANG SUKMA-NGLEMBARA MENCULIK DEWI PRANTAWATI

Sementara itu, Petruk yang telah berganti nama menjadi Bambang Sukma-nglembara berhasil menyusup masuk ke dalam Keraton Dwarawati. Ia bersembunyi di balik tembok kaputren dan melihat Dewi Prantawati sedang duduk sendiri melamun entah memikirkan apa. Segera Bambang Sukma-nglembara bernyanyi, melantunkan tembang-tembang asmara dengan suaranya yang merdu mendayu.

Dewi Prantawati tampak menikmati alunan suara tersebut. Ketika lagu telah habis, ia baru sadar ada laki-laki berani menyusup ke dalam kaputren. Ia pun memanggil si penyanyi tersebut agar menampakkan diri. Bambang Sukma-nglembara pun muncul di hadapan Dewi Prantawati.

Dewi Prantawati bertanya asal-usul Bambang Sukma-nglembara dari mana, mengapa bisa masuk ke dalam kaputren. Bambang Sukma-nglembara berkata bahwa ia berasal dari Hutan Wanapringga yang tertarik mendengar kabar kecantikan Dewi Prantawati. Namun, Dewi Prantawati ternyata telah dijodohkan dengan Raden Lesmana, sungguh membuat hati kecewa.

Bambang Sukma-nglembara pun menjelaskan bahwa Raden Lesmana bukanlah laki-laki yang baik, melainkan hanya seorang anak manja yang suka mengandalkan kekayaan orang tua. Alangkah baiknya jika Dewi Prantawati menjadi istrinya saja, tentu ia akan bernyanyi setiap hari untuk gadis tersebut.

Dewi Prantawati pada dasarnya sudah mendengar penuturan Raden Samba tentang keadaan Raden Lesmana. Sebenarnya ia ingin menolak perjodohan ini tetapi takut kepada sang ayah. Kali ini muncul Bambang Sukma-nglembara yang menawan hati, membuatnya semakin yakin untuk menolak Raden Lesmana Mandrakumara.

Maka, Dewi Prantawati pun berkata kepada Bambang Sukma-nglembara agar dirinya dibawa pergi saja, sehingga tidak jadi menikah dengan Raden Lesmana. Bambang Sukma-nglembara setuju. Namun, tiba-tiba Raden Lesmana datang bersama Raden Samba. Bambang Sukma-nglembara pun mengejek Raden Lesmana dan mempermainkannya. Raden Samba ikut bersorak di belakang, menertawakan tingkah konyol Raden Lesmana. Namun kemudian, ia sadar ternyata ada penyusup masuk ke dalam kaputren. Ia pun buru-buru pergi melapor kepada Prabu Kresna.

Bambang Sukma-nglembara tidak mau membuang-buang waktu. Ia segera memasukkan Dewi Prantawati secara ajaib ke dalam cincin, menendang Raden Lesmana hingga jatuh terjengkang, kemudian kabur meninggalkan kaputren.

PRABU BALADEWA DAN PARA KURAWA MENGEJAR BAMBANG SUKMA-NGLEMBARA

Prabu Kresna telah menerima laporan Raden Samba tentang adanya penyusup berani masuk ke dalam kaputren. Prabu Baladewa marah-marah dan mendatangi kaputren, namun yang ada di sana hanyalah Raden Lesmana sedang terguling di tanah dengan wajah meringis semakin terlihat jelek. Prabu Baladewa pun bergegas mengejar si pencuri yang meculik keponakannya. Prabu Duryudana juga memerintahkan Patih Sangkuni dan para Kurawa untuk ikut mengejar.

Bambang Sukma-nglembara berhenti di perbatasan ibu kota Dwarawati. Ia pun bertarung menghadapi para Kurawa yang datang mengejar. Gandarwaraja Swala tidak hanya mengubah wujud Petruk menjadi kesatria, tetapi juga membekalinya dengan ilmu kesaktian. Para Kuarwa pun dibuat porak-poranda dan babak belur menghadapai kesaktian Bambang Sukma-nglembara.

Prabu Baladewa maju sambil memaki-maki sesuai ciri khasnya. Bambang Sukma-nglembara menghadapinya dengan ikut memaki pula. Prabu Baladewa merasa risih ada yang mengembari cara bertarungnya. Karena pikirannya kesal dan tidak dapat bertarung dengan baik, lama-lama ia pun terdesak mundur.

Prabu Baladewa kemudian bertemu Raden Arjuna yang sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Dwarawati bersama Nala Gareng dan Bagong. Tujuannya ialah ingin menyaksikan pernikahan Raden Lesmana dan Dewi Prantawati. Prabu Baladewa memberi tahu Raden Arjuna bahwa pengantin wanita hilang diculik pemuda bernama Bambang Sukma-nglembara. Raden Arjuna pun bergegas mengejar penculik tersebut.

Bambang Sukma-nglembara bersiaga menghadapi Raden Arjuna. Karena masih kesal pada majikannya itu, ia pun bertarung tanpa segan-segan lagi. Berkat kesaktian yang diberikan Gandarwaraja Swala, Bambang Sukma-nglembara dapat meringkus Raden Arjuna. Prabu Baladewa dan Patih Sangkuni maju untuk menolong, tapi mereka ikut tertangkap pula.

Bambang Sukma-nglembara kemudian menangkap Nala Gareng dan Bagong. Kedua panakawan itu pun dipaksa mulai saat ini harus bekerja menjadi pelayannya.

BAMBANG SUKMA-NGLEMBARA KEMBALI MENJADI PETRUK

Prabu Kresna mengawasi pertempuran dari jauh dan dapat menebak jati diri Bambang Sukma-nglembara. Ia lalu melesat terbang dan secepat kilat sudah mendarat di Desa Karangkadempel, menemui Kyai Semar. Prabu Kresna pun meminta maaf kepada Kyai Semar karena telah mengingkari janjinya kepada Petruk. Kini Kerajaan Dwarawati diserang pengacau bernama Bambang Sukma-nglembara yang telah menculik anak gadisnya, yaitu Dewi Prantawati.

Kyai Semar memahami maksud ucapan Prabu Kresna. Ia pun berjalan kaki menuju Kerajaan Dwarawati. Meskipun hanya berjalan santai, namun kecepatan langkah Kyai Semar tidak dapat ditandingi Prabu Kresna. Akhirnya, mereka sampai di tempat Bambang Sukma-nglembara menangkap lawan-lawannya.

Kyai Semar maju menghadapi Bambang Sukma-nglembara dan menyuruhnya untuk menyerah. Bambang Sukma-nglembara tertawa menolak dan meminta agar Kyai Semar saja yang ikut dengannya. Kyai Semar tidak banyak bicara. Ia memegang kuncung di kepala lalu mengusapkan tangannya ke wajah Bambang Sukma-nglembara. Seketika wujud Bambang Sukma-nglembara pun kembali menjadi Petruk, sedangkan Dewi Prantawati keluar dari cincin di tangannya.

DEWI PRANTAWATI TETAP MEMILIH PETRUK

Kyai Semar memarahi Petruk yang bertindak di luar batas, berani meringkus Prabu Baladewa, Raden Arjuna, dan Patih Sangkuni. Petruk meminta maaf. Ini semua karena Prabu Kresna yang mengingkari janji, dan mereka bertiga juga ikut bersalah karena mendukung perkawinan Dewi Prantawati dengan Raden Lesmana Mandrakumara. Itu artinya, mereka ikut mendukung Prabu Kresna berbuat dosa.

Kyai Semar berkata bahwa Prabu Kresna sudah menyadari kesalahannya. Prabu Kresna pun meminta maaf kepada Petruk karena mengingkari janji yang diucapkannya sendiri. Sejujurnya ia memang malu memiliki menantu seorang panakawan. Akibatnya, Dewi Prantawati yang menjadi korban, yaitu menjadi perawan tua, sedangkan saudari-saudarinya yang lain telah menikah semua. Itu karena Prabu Kresna selalu menunda-nunda pernikahan Dewi Prantawati dengan Petruk.

Petruk pun meminta maaf atas ulahnya membuat kekacauan di Kerajaan Dwarawati. Ia terpaksa melakukan ini semua adalah untuk menyelamatkan nama baik Prabu Kresna. Sebagai raja agung titisan Batara Wisnu, Prabu Kresna tidak sepantasnya melanggar ucapannya sendiri. Maka, sebelum Dewi Prantawati dinikahkan dengan orang lain, Petruk pun lebih dulu menculiknya, sehingga Prabu Kresna dapat terhindar dari dosa.

Prabu Kresna berterima kasih atas perhatian Petruk. Meskipun dirinya titisan Batara Wisnu, tetapi sebagai manusia tetap saja bisa berbuat khilaf. Namun, anaknya sudah terlanjur jatuh cinta kepada Bambang Sukma-nglembara, apakah mau menikah dengan Petruk? Petruk pun bertanya kepada Dewi Prantawati apakah bersedia menikah dengannya. Jika Dewi Prantawati tidak sudi memiliki suami yang buruk rupa seperti dirinya, maka silakan saja menikah dengan orang lain, ia tidak akan mengganggu lagi.

Dewi Prantawati tidak menjawab, tetapi meminta Petruk menyanyikan sebuah lagu untuknya. Petruk pun menembangkan lagu seperti yang ia nyanyikan di kaputren tadi. Dewi Prantawati terhanyut mendengar suaranya. Ia lalu berkata kepada sang ayah, bahwa dirinya jatuh cinta kepada Bambang Sukma-nglembara adalah karena mendengar suara yang merdu. Meskipun Bambang Sukma-nglembara sudah tidak ada lagi, dan sudah kembali ke wujud Petruk, namun suaranya tidak berubah. Asalkan bisa mendengar suara merdu Petruk setiap saat, Dewi Prantawati akan merasa sangat bahagia.

Petruk gembira mendengar ucapan itu, pertanda Dewi Prantawati bersedia menjadi istrinya. Ia pun memanggil Prabu Kresna sebagai ayah mertua, dan membebaskan Prabu Baladewa, Raden Arjuna, juga Patih Sangkuni. Prabu Baladewa dan Raden Arjuna sudah melihat sendiri betapa tulus perasaan Dewi Prantawati. Maka, mereka pun ikut merestui Petruk menjadi menantu Kerajaan Dwarawati dan meminta maaf tadi telah berusaha menggagalkan usahanya menagih janji. Sementara itu, Patih Sangkuni dan para Kurawa kembali ke tempat Prabu Duryudana dan Raden Lesmana. Sungguh besar rasa malu yang diderita Prabu Duryudana karena anaknya lagi-lagi kalah bersaing, dan yang lebih parah, kali ini kalah bersaing melawan panakawan. Mereka pun bergegas pulang ke Kerajaan Hastina.

Prabu Kresna kini telah mantap menyerahkan Dewi Prantawati kepada Petruk. Keduanya lalu dinikahkan di istana Kerajaan Dwarawati dengan perayaan yang meriah.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


Untuk kisah pertama kali Petruk menjadi anak angkat Kyai Semar dapat dibaca di sini.

Untuk kisah Prabu Kresna berjanji memberikan Dewi Prantawati kepada Petruk dapat dibaca di sini.







Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ▼  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ▼  May (3)
      • Wisanggeni Rabi
      • Petruk Nagih Janji
      • Wisata Rabi
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja