Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Parasara Lelana

 No comments   

Kisah ini menceritakan Resi Parasara berkelana ke Kerajaan Giyantipura mengunjungi ibu susunya, yaitu Dewi Wayasi. Kisah dilanjutkan dengan perkenalan Resi Parasara dengan Gandarwaraja Swala, serta terciptanya panakawan Nala Gareng dan Petruk.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 28 Juli 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Resi Parasara

RAJA DUHYAPURA MELAMAR DEWI DURGANDINI

Prabu Wasupati di Kerajaan Wirata dihadap Raden Durgandana, Patih Wasita, Resi Manungkara, dan Aryaprabu Kistawa. Mereka membicarakan soal Dewi Durgandini yang masih menjalani tapa ngrame dan belum mendapatkan kesembuhan. Menurut petunjuk dari Batara Kalakeya, yang bisa mengobati penyakit Sang Dewi adalah Resi Parasara dari Gunung Saptaarga. Maka, Prabu Wasupati pun berniat mengundang Resi Parasara untuk mengobati penyakit putrinya tersebut di Sungai Jamuna.

Raden Durgandana bercerita bahwa Batara Kalakeya pernah memberikan petunjuk, yaitu pertemuan antara Resi Parasara dan Dewi Durgandini tidak dapat dipaksakan. Apabila Dewi Durgandini telah ikhlas menjalani pertapaannya, maka dewata yang akan mempertemukan kakaknya itu dengan Resi Parasara. Mendengar penuturan putranya tersebut, Prabu Wasupati salah paham dan menuduh Raden Durgandana tidak suka apabila Dewi Durgandini mendapatkan kesembuhan.

Pada saat itulah datang seorang raja dari Kerajaan Duhyapura yang mengaku bernama Prabu Sengara. Ia mengaku sebagai putra mendiang Prabu Basukiyana, sedangkan Prabu Basukiyana adalah menantu mendiang Prabu Durapati. Jika dulu Prabu Durapati menikahi putri Kerajaan Wirata yang bernama Dewi Kaniraras (janda Empu Kanomayasa, atau kakak sulung Resi Manumanasa), maka kini Prabu Sengara berniat melamar Dewi Durgandini untuk mempererat persaudaraan antara Wirata dan Duhyapura.

Prabu Wasupati pun berterus terang bahwa putrinya itu masih menderita penyakit bau amis dan saat ini sedang menjalani tapa ngrame di Sungai Jamuna. Menurut petunjuk dewata, yang bisa menyembuhkan Dewi Durgandini adalah Resi Parasara dari Gunung Saptaarga. Prabu Wasupati pun berjanji akan menerima lamaran Prabu Sengara asalkan ia dapat membawa Resi Parasara datang menghadap ke istana Wirata dan mengobati Dewi Durgandini.

Mendengar syarat tersebut, Prabu Sengara menyatakan bersedia. Ia lalu mohon pamit berangkat ke Gunung Saptaarga, dengan didampingi adiknya yang bernama Resi Maruta.

RESI PARASARA DIKUNJUNGI PRABU PARTANA DAN PRABU SADAMUKA

Sementara itu, Resi Parasara di Gunung Saptaarga menerima kunjungan pamannya dari pihak ibu, yaitu Prabu Partana raja Sriwedari. Sang paman tampak datang bersama seorang raja lain, bernama Prabu Sadamuka serta anaknya, bernama Raden Darmamuka. Kedua ayah dan anak ini berasal dari Kerajaan Giyantipura. Prabu Partana menceritakan bahwa semasa kecil Resi Parasara pernah disusui oleh ibu Prabu Sadamuka, yaitu Dewi Wayasi, istri mendiang Prabu Ambinasa (raja Kasipura). Adapun Prabu Ambinasa telah meninggal karena membantu Batara Sakri (ayah Resi Parasara) menghadapi Prabu Murtija dari Kerajaan Tirtakawana.

Prabu Sadamuka pun bercerita bahwa ibunya kini telah berusia lanjut dan sakit-sakitan. Dewi Wayasi mengaku ingin bertemu Resi Parasara sebelum meninggal dunia. Untuk itu, ia meminta Prabu Sadamuka supaya mengundang anak susunya itu datang ke Kerajaan Giyantipura. Demi memperlancar urusan, Prabu Sadamuka pun meminta bantuan kepada Prabu Partana untuk mengantarkannya ke Gunung Saptaarga.

Demikianlah, Prabu Sadamuka dan Prabu Partana kini telah tiba di Gunung Saptaarga. Resi Parasara sangat gembira bisa bertemu saudara sepersusuannya itu yang kemudian dipanggilnya sebagai “kakak”. Panakawan Kyai Semar memang pernah menceritakan masa kecil Resi Parasara yang ditinggal mati kedua orang tuanya, yaitu Batara Sakri dan Dewi Sati sejak usia satu tahun, kemudian disusui oleh istri Prabu Ambinasa yang bernama Dewi Wayasi sampai usia dua tahun bersama dengan Raden Sadamuka yang saat itu sama-sama masih bayi.

PASUKAN DUHYAPURA BERSELISIH DENGAN PASUKAN GIYANTIPURA

Belum sempat Resi Parasara menyatakan bersedia diajak ke Kerajaan Giyantipura, tiba-tiba datang rombongan Prabu Sengara di Gunung Saptaarga. Prabu Sengara menyampaikan undangan Prabu Wasupati supaya Resi Parasara hadir ke Kerajaan Wirata untuk mengobati Dewi Durgandini yang menderita penyakit bau amis.

Resi Parasara merasa keberatan karena dirinya tidak memiliki kemampuan mengobati penyakit aneh seperti itu. Prabu Sengara pun merayu Resi Parasara dengan iming-iming akan memberikan bayaran berupa emas dan permata sebanyak-banyaknya apabila bersedia ikut ke Wirata.

Prabu Sadamuka tidak mau kalah. Ia memohon kepada Resi Parasara agar ikut dengannya ke Giyantipura karena Dewi Wayasi sedang sakit dan ia takut tidak mampu memenuhi keinginan ibunya itu yang bisa saja meninggal setiap saat. Mendengar hal ini, Prabu Sengara marah dan meminta agar Prabu Sadamuka tidak ikut campur. Kedua raja itu pun akhirnya bertengkar memperebutkan Resi Parasara.

Pertengkaran antara Prabu Sengara dan Prabu Sadamuka berkembang menjadi perkelahian di mana masing-masing mengerahkan pasukan pula. Prabu Sadamuka dibantu Raden Darmamuka menghadapi Prabu Sengara yang dibantu Resi Maruta. Halaman Padepokan Ratawu di puncak Gunung Saptaarga pun berubah menjadi ajang pertempuran di antara mereka.

Resi Parasara bingung hendak memenuhi ajakan siapa. Ia lalu meminta nasihat kepada Prabu Partana dan Kyai Semar. Keduanya menyarankan agar Resi Parasara mengikuti hati nurani saja. Resi Parasara akhirnya memutuskan untuk pergi ke Giyantipura menemui sang ibu susu, daripada menerima undangan Prabu Sengara yang memberikan iming-iming berupa emas permata. Ia takut imbalan tersebut dapat mengotori ketulusan hatinya. Setelah memutuskan demikian, Resi Parasara lalu mengerahkan Aji Panglimunan yang membuatnya tidak dapat terlihat, serta menularkannya kepada Prabu Partana, Kyai Semar, Bagong, juga Prabu Sadamuka dan Raden Darmamuka beserta seluruh pasukan Giyantipura yang sedang bertempur.

Prabu Sengara dan Resi Maruta terheran-heran mengapa Gunung Saptaarga berubah sepi dan kini yang tersisa hanya tinggal orang-orang Duhyapura saja. Mereka pun menggeledah seisi Padepokan Ratawu namun tidak dapat menemukan ke mana Resi Parasara menghilang.

RESI PARASARA BERTEMU BRAHMANA WYASA

Sementara itu, Resi Parasara, Prabu Partana, Prabu Sadamuka, Raden Darmamuka, Kyai Semar, dan Bagong telah memasuki wilayah Kerajaan Giyantipura. Di tengah jalan mereka bertemu seorang petapa bertubuh tinggi besar, mengaku bernama Brahmana Wyasa. Petapa ini berkelana ke segala penjuru negeri untuk mencari orang yang bisa mengungguli kekuatannya. Barangsiapa yang lebih kuat daripada dirinya, maka orang itu akan ia akui sebagai ayah. Namun demikian, sampai saat ini belum ada seorang pun yang mampu mengangkat tubuhnya.

Prabu Sadamuka heran bercampur geli melihat ada petapa yang ingin memiliki ayah dengan cara demikian. Brahmana Wyasa tersinggung dan mengajaknya adu kekuatan. Prabu Sadamuka pun menerima tantangan tersebut. Ia dipersilakan mengangkat tubuh Brahmana Wyasa lebih dahulu. Prabu Sadamuka maju dan mengerahkan segenap kekuatan namun sedikit pun tidak mampu menggeser tubuh Brahmana Wyasa.

Selanjutnya, giliran Brahmana Wyasa mengangkat tubuh Prabu Sadamuka. Karena yang diangkatnya seorang raja, Brahmana Wyasa pun melakukannya dengan penuh hormat dan sopan santun. Tubuh Prabu Sadamuka langsung terangkat dengan sangat mudah dan setelah itu dikembalikan lagi ke tanah secara perlahan-lahan. Prabu Sadamuka kini menyadari kekuatan Brahmana Wyasa dan tidak berani mengejek lagi.

Prabu Partana lalu menyarankan agar Resi Parasara menerima tantangan brahmana tersebut. Resi Parasara memohon restu kepada sang paman, lalu maju dan mengangkat tubuh Brahmana Wyasa dengan satu tangan. Brahmana Wyasa sangat heran melihat Resi Parasara yang bertubuh lebih kecil darinya itu ternyata mampu mengangkat tubuhnya, padahal orang-orang lainnya yang selama ini ia temui banyak yang bertubuh besar namun tidak ada yang berhasil.

Setelah diturunkan, Brahmana Wyasa ganti mencoba mengangkat tubuh Resi Parasara. Anehnya, meskipun mengerahkan segenap kemampuan, ternyata tubuh Resi Parasara sedikit pun tidak tergoyahkan. Brahmana Wyasa sangat senang dapat menemukan orang yang lebih kuat darinya. Ia pun menyembah Resi Parasara dan menyebutnya sebagai ayah. Sekejap kemudian, tubuh Brahmana Wyasa musnah dan masuk ke dalam diri Resi Parasara. Suaranya terdengar berkumandang di angkasa bahwa kelak ia akan menitis kepada putra Resi Parasara yang ditakdirkan memiliki kebijaksanaan tinggi, namun berkulit hitam gelap (Putra Resi Parasara itu kelak dikenal dengan nama Resi Abyasa).

Resi Parasara senang mendengar pernyataan Brahmana Wyasa tersebut. Prabu Sadamuka lalu mengajaknya melanjutkan perjalanan menuju istana Giyantipura.

RESI PARASARA BERTEMU DEWI WAYASI

Sesampainya di istana Giyantipura, Resi Parasara segera menemui sang ibu susu, yaitu Dewi Wayasi yang sedang sakit parah. Dewi Wayasi sudah bertekad tidak mau mati dulu sebelum berjumpa Resi Parasara, sehingga pertemuan ini pun berlangsung dalam suasana haru.

Prabu Sadamuka ingin lebih mempererat persaudaraannya dengan Resi Parasara. Ia sebenarnya berharap Resi Parasara memiliki anak perempuan supaya bisa dijodohkan dengan Raden Darmamuka, putranya. Sayangnya, sampai saat ini Resi Parasara belum menikah, padahal usianya sudah lebih dari empat puluh tahun. Resi Parasara pun menjawab, mungkin kelak anaknya yang akan menikah dengan cucu Prabu Sadamuka. Mendengar itu, Prabu Sadamuka tertawa karena mengira Resi Parasara sedang bercanda. (Sebenarnya Resi Parasara tidak bercanda, tetapi meramalkan bahwa dirinya kelak akan memiliki seorang putra bernama Resi Abyasa yang kemudian menikah dengan Dewi Ambika dan Dewi Ambalika, putri Prabu Darmamuka, atau cucu Prabu Sadamuka. Dari perkawinan itulah lahir ayah para Kurawa dan ayah para Pandawa).

Tujuh hari kemudian, Dewi Wayasi akhirnya meninggal dunia. Prabu Sadamuka memimpin upacara pemakaman ibunya itu dengan didampingi Resi Parasara, serta dihadiri pula oleh Prabu Partana.

Selama tinggal di Giyantipura, Resi Parasara memanfaatkan seluruh waktunya untuk berguru kepada para pendeta dan brahmana di sana. Setelah dirasa cukup, ia lalu mohon pamit kepada Prabu Sadamuka untuk kemudian menyertai Prabu Partana pulang ke Kerajaan Sriwedari. Di sana pun Resi Parasara menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari para pendeta dan brahmana.

Setelah menamatkan segala pelajaran, Resi Parasara didampingi panakawan Kyai Semar dan Bagong mohon pamit kembali ke Gunung Saptaarga.

RESI PARASARA BERTEMU GANDARWARAJA SWALA

Dalam perjalanan pulang, rombongan Resi Parasara berjumpa raja makhluk halus yang mengaku bernama Gandarwaraja Swala. Raja makhluk halus itu bercerita bahwa dirinya memiliki seorang anak yang sangat nakal bernama Gandarwa Supatra. Dewata pun memberikan petunjuk supaya Gandarwaraja Swala meminta bantuan kepada Resi Parasara untuk menyembuhkan kenakalan Gandarwa Supatra.

Gandarwaraja Swala menjelaskan bahwa Gandarwa Supatra sangat suka mengganggu istri manusia. Ia sudah berusaha menasihati putranya itu dengan segala cara namun tidak berhasil. Gandarwa Supatra justru semakin menjadi-jadi kenakalannya. Untuk itu, Gandarwaraja Swala pun memohon kepada Resi Parasara untuk menyadarkan putranya tersebut.

Resi Parasara memenuhi permintaan ini. Gandarwaraja Swala lalu berteriak keras memanggil Gandarwa Supatra. Tidak lama kemudian muncul sesosok gandarwa berwajah tampan di hadapan mereka.

TERCIPTANYA PANAKAWAN NALA GARENG DAN PETRUK

Resi Parasara segera menasihati agar Gandarwa Supatra berhenti berbuat kenakalan mengganggu istri manusia. Gandarwa Supatra marah-marah menyebut Resi Parasara lancang berani menasihati dirinya, sedangkan kepada ayahnya saja ia berani membantah. Ia pun menantang Resi Parasara berkelahi. Jika Resi Parasara menang, maka ia berjanji tidak akan berbuat nakal lagi dan bersedia menjadi pelayan Sang Resi.

Resi Parasara menerima tantangan itu, namun bukan dirinya yang maju. Ia berkata bahwa pengasuhnya yang bernama Kyai Semar sudah cukup untuk mengalahkan Gandarwa Supatra. Kyai Semar terkejut karena tiba-tiba dirinya yang ditunjuk maju. Sebaliknya, Gandarwa Supatra sangat marah karena merasa disepelekan. Ia pun menyerang Kyai Semar untuk memenuhi tantangan Resi Parasara.

Kyai Semar memilih kabur ke dalam hutan tidak mau melayani serangan Gandarwa Supatra. Rupanya Kyai Semar mendapatkan firasat bahwa di dalam hutan tersebut ada sarana untuk mengalahkan Gandarwa Supatra. Melihat lawannya lari, Gandarwa Supatra segera ikut masuk mengejar ke dalam hutan sambil memaki-maki. Meskipun bertubuh bulat dan gemuk, namun Kyai Semar dapat bergerak lincah menghindari sergapan Gandarwa Supatra.

Sambil terus berlari, Kyai Semar melemparkan benda apa saja yang ia temui ke arah Gandarwa Supatra. Ada batu dilemparkan, ada ranting dilemparkan, hingga akhirnya tangan Kyai Semar mencabut sebatang pohon bernama kayu Garu Rasamala dan melemparkannya ke arah Gandarwa Supatra.

Sungguh ajaib, begitu membentur tubuh Gandarwa Supatra, pohon kayu Garu Rasamala tersebut langsung berubah menjadi seorang pendeta bertubuh kurus kecil yang mengaku bernama Resi Sukadi. Seketika ia pun bertarung menghadapi Gandarwa Supatra. Keduanya saling mengadu kesaktian dan ternyata sama-sama kuat. Pertarungan tersebut akhirnya mengubah wujud mereka yang semula tampan menjadi buruk rupa.

Wujud Resi Sukadi kini menjadi bermata juling, berlengan cekot sebelah, serta berkaki jinjit sebelah akibat dipukuli Gandarwa Supatra. Sebaliknya, hidung, lengan, dan kaki Gandarwa Supatra juga berubah menjadi panjang karena ditarik Resi Sukadi.

Kyai Semar segera melerai pertarungan mereka. Tidak lama kemudian datanglah Resi Parasara, Gandarwaraja Swala, dan Bagong. Kini Gandarwa Supatra menyadari kesalahannya yang sering bersikap sombong padahal di dunia masih banyak orang lain yang lebih sakti daripada dirinya. Ia ikhlas menerima perubahan wujudnya sebagai hukum karma. Gandarwa Supatra pun bersumpah tidak akan berbuat nakal lagi dan bersedia mengabdi kepada Resi Parasara beserta keturunannya bersama Kyai Semar dan Bagong sesuai janjinya tadi.

Resi Parasara lalu bertanya tentang asal-usul Resi Sukadi. Resi Sukadi pun menjawab bahwa dirinya adalah pendeta dari Bluluktiba yang bercita-cita ingin panjang umur sampai ratusan tahun. Namun, karena salah mempelajari ilmu, sekujur tubuhnya berubah menjadi sebatang pohon kayu Garu Rasamala. Menurut petunjuk dewa, ia akan kembali menjadi manusia dan terkabul keinginannya memiliki umur panjang apabila bertemu seorang bertubuh bulat gemuk bernama Kyai Semar. Petunjuk dewata itu kini telah menjadi kenayataan. Meskipun wujudnya kini berubah menjadi buruk rupa akibat pertarungan melawan Gandarwa Supatra tadi, namun ia ikhlas asalkan bisa memiliki umur panjang. Sebagai ungkapan terima kasih, Resi Sukadi pun memohon untuk diizinkan menjadi anak Kyai Semar.

Pada saat itulah datang Batara Narada yang membawa pesan dari Sanghyang Padawenang, leluhur para dewa. Sanghyang Padawenang berpesan bahwa Kyai Semar ditugasi untuk mengasuh keturunan Resi Parasara yang memiliki jiwa kesatria dan berbudi luhur. Karena tugasnya mengasuh orang-orang istimewa, maka tanggung jawab Kyai Semar jauh lebih berat daripada kakaknya, yaitu Kyai Togog yang bertugas mengasuh para raksasa dan gologan jahat.

Oleh sebab itu, jika Kyai Togog hanya memiliki seorang pendamping bernama Bilung, maka Kyai Semar mendapatkan dua pendamping tambahan selain Bagong. Mulai hari ini, hendaknya Resi Sukadi memakai nama Nala Gareng, sedangkan Gandarwa Supatra hendaknya memakai nama Petruk. Adapun Bagong mulai saat ini dijadikan anak bungsu Kyai Semar karena sikapnya yang kekanak-kanakan, yaitu sebagai adik Nala Gareng dan Petruk. Bagong pun menerima keputusan ini, yaitu menjadi anak bungsu tetapi tidak mau memanggil “kakak” kepada Nala Gareng dan Petruk karena ia merasa lebih dulu mengenal Kyai Semar dibanding mereka.

Setelah berpesan demikian, Batara Narada lalu kembali ke kahyangan. Gandarwaraja Swala sangat gembira karena dewata menunjuk putranya menjadi pengasuh para kesatria berbudi luhur keturunan Resi Parasara. Ia pun ikut mengantarkan rombongan tersebut kembali ke Gunung Saptaarga.

GANDARWARAJA SWALA MENGUSIR ORANG-ORANG DUHYAPURA

Sesampainya di Gunung Saptaarga, ternyata Prabu Sengara, Resi Maruta, dan pasukan Duhyapura masih berjaga menunggu Resi Parasara kembali. Begitu melihat Resi Parasara datang, Prabu Sengara langsung memerintahkan pasukan untuk meringkusnya dan membawanya ke Wirata secara paksa. Melihat itu, Gandarwaraja Swala segera turun tangan. Dengan kesaktiannya ia pun mengerahkan angin badai yang membuat tubuh Prabu Sengara, Resi Maruta, dan seluruh prajurit Duhyapura terlempar sejauh-jauhnya.

Resi Parasara pun berterima kasih atas bantuan Gandarwaraja Swala. Kini di antara mereka terjalin persahabatan. Gandarwaraja Swala lalu mohon pamit kembali ke negerinya di alam siluman, dan ia berjanji jika Resi Parasara membutuhkan bantuannya, maka cukup bersiul saja, ia pasti datang.

Demikianlah, mulai kini Resi Parasara pun memiliki empat orang panakawan bernama Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong yang kelak juga akan mengasuh keturunannya.

Para panakawan: Bagong, Petruk, Nala Gareng, Kyai Semar

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya








Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Dewabrata Lahir

 No comments   

Kisah ini menceritakan perkawinan Prabu Santanu dengan Dewi Jahnawi, yang kemudian melahirkan Raden Dewabrata. Tokoh ini kelak dikenal dengan nama Resiwara Bisma. Kisah dilanjutkan dengan sembuhnya Raden Durgandana dari penyakit bau amisnya, serta pembangunan Kerajaan Magada, di mana Raden Wrehadrata menjadi raja pertama.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang dipadukan dengan Mahabharata karya Resi Wyasa, dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 13 Juli 2015

Heri Purwanto
------------------------------ ooo ------------------------------

Prabu Santanu

PRABU SANTANU MELAPORKAN SERANGAN PRABU BAHLIKA KE WIRATA

Prabu Wasupati di Kerajaan Wirata dihadap Raden Wrehadrata (putra sulungnya), Patih Wasita, Arya Manungkara, dan Aryaprabu Kistawa. Tidak lama kemudian hadir pula Prabu Santanu dari Kerajaan Hastina yang melaporkan bahwa kakaknya, yaitu Prabu Bahlika raja Siwandapura hendak menyerang Kerajaan Wirata. Prabu Santanu mengaku telah menerima surat dari Prabu Bahlika yang berisi ajakan untuk membalas dendam atas kematian ayah mereka.

Belasan tahun silam, Prabu Pratipa Dewamurti raja Hastina gugur di tangan Aryaprabu Kistawa saat menyerang Kerajaan Wirata. Ketiga putranya mengalami nasib yang berbeda. Raden Dewapi yang sulung hidup menyepi di hutan dan tidak diketahui lagi bagaimana kabarnya. Raden Bahlika melarikan diri ke Kerajaan Siwandapura (tempat ibunya berasal) dan menjadi raja di sana. Sementara Raden Santanu si putra bungsu menyerah kepada pihak Wirata dan mewarisi takhta Kerajaan Hastina.

Kini, hubungan antara Kerajaan Wirata dan Hastina tidak lagi sebagai atasan dan bawahan, tetapi sudah menjadi sekutu yang sederajat. Namun demikian, Prabu Santanu tetap menganggap Prabu Wasupati sebagai sesepuh yang dihormati. Itulah sebabnya, surat ajakan balas dendam dari kakaknya pun ia tolak dengan tegas. Prabu Santanu menyatakan, jika Prabu Bahlika datang menyerang Tanah Jawa, maka kekuatan Hastina siap berdiri di depan Wirata.

Prabu Wasupati merasa terharu atas sikap Prabu Santanu tersebut. Ia pun memerintahkan Patih Wasita untuk menyiapkan pasukan demi menghadapi datangnya serangan dari Kerajaan Siwandapura.

PRABU SANTANU MEMUKUL MUNDUR KAKAKNYA

Beberapa waktu kemudian, apa yang dilaporkan Prabu Santanu menjadi kenyataan. Prabu Bahlika dan Patih Wikuntana datang bersama pasukan Siwandapura menggempur Kerajaan Wirata. Sesuai janjinya, Prabu Santanu dibantu Patih Basusara pun menempatkan pasukan Hastina di garis depan untuk menghadapi serangan tersebut.

Prabu Bahlika terkejut melihat tindakan adik bungsunya itu. Prabu Santanu tidak hanya menolak membantunya membalas dendam, tetapi justru memihak musuh yang seharusnya diperangi bersama. Prabu Santanu menjawab bahwa ia tidak menganggap Prabu Wasupati sebagai musuh, tetapi menganggapnya sebagai sesepuh pengganti orang tua. Mengenai sang ayah yang gugur di tangan Aryaprabu Kistawa, itu pun bukan kesalahan pihak Wirata. Prabu Pratipa sendiri yang lebih dulu menyerang Wirata sehingga akhirnya menemui ajal di dalam pertempuran.

Prabu Bahlika tidak peduli pada segala alasan yang disampaikan Prabu Santanu. Ia tetap menganggap Prabu Wasupati dan Aryaprabu Kistawa sebagai musuh besar. Jika Prabu Santanu berada di pihak Wirata, maka adiknya itu akan dianggapnya sebagai musuh pula. Usai berkata demikian, ia lalu memerintahkan pasukan Siwandapura untuk maju memulai pertempuran.

Prabu Santanu yang sudah bertekad membela Kerajaan Wirata pun mengerahkan pasukan Hastina untuk menghadapi serangan tersebut. Pertempuran sengit terjadi di antara mereka. Saling serang dan saling berusaha mengalahkan. Menjelang senja, pihak Siwandapura mulai terlihat kewalahan. Prabu Santanu berhasil melukai Prabu Bahlika, sehingga kakaknya itu terpaksa memerintahkan pasukannya untuk mundur meninggalkan Kerajaan Wirata.

Prabu Wasupati berterima kasih atas bantuan Prabu Santanu yang berhasil memukul mundur Prabu Bahlika dan pasukannya. Prabu Wasupati kemudian menjamu Prabu Santanu, Patih Basusara, dan segenap pasukan Hastina sebagai perayaan atas kemenangan tersebut.

PRABU SANTANU MENIKAH DENGAN DEWI JAHNAWI

Setelah dirasa cukup, Prabu Santanu dan pasukannya mohon pamit meninggalkan Kerajaan Wirata. Dalam perjalanan pulang menuju Hastina, Prabu Santanu bertemu seorang wanita berparas cantik di dekat Sungai Silugangga. Wanita itu mengaku bernama Dewi Jahnawi yang hidup sebatang kara tidak memiliki sanak saudara.

Prabu Santanu seketika jatuh cinta dan ia pun mengutarakan niatnya ingin menikahi Dewi Jahnawi. Saat ini usia Prabu Santanu hampir mencapai tiga puluh tahun namun belum memiliki istri sama sekali. Dewi Jahnawi pun menerima lamaran tersebut. Maka, ia lalu diboyong ke Kerajaan Hastina untuk dijadikan sebagai permaisuri di sana.

LAHIRNYA RADEN DEWABRATA

Sembilan bulan berlalu setelah perkawinan itu. Dewi Jahnawi melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Dewabrata. Akan tetapi, ia meninggal dunia setelah melahirkan dan jasadnya musnah, berubah menjadi seorang bidadari. Ternyata Dewi Jahnawi adalah penjelmaan Batari Ganggawati, putri Batara Ganggadenta. Prabu Santanu sangat berduka sekaligus terkejut melihat perubahan wujud istrinya itu.

Batari Ganggawati pun bercerita bahwa pada mulanya ia adalah waranggana di Kahyangan Suralaya. Ketika sedang menari dan bernyanyi menghibur para dewa, tanpa sengaja pakaiannya terlepas karena tidak diikat dengan baik. Batara Indra sangat marah dan menuduh Batari Ganggawati melakukan perbuatan ceroboh. Batari Ganggawati pun diturunkan ke dunia sebagai manusia biasa, dan bisa kembali ke kahyangan apabila telah melahirkan seorang putra raja.

Prabu Santanu sangat prihatin karena itu berarti permaisurinya akan pergi meninggalkan dirinya. Batari Ganggawati pun menghiburnya agar jangan terlalu bersedih. Sebelum berpisah, ia meramalkan bahwa Kerajaan Hastina kelak akan menjadi negeri yang sangat besar, bahkan melebihi keagungan Wirata. Untuk itu, Raden Dewabrata sebaiknya dipersiapkan menjadi raja yang adil dan bijaksana, yang menguasai ilmu kenegaraan dan keprajuritan. Batari Ganggawati pun berniat membawa putra mereka itu ke kahyangan untuk dididik para dewa, dan kelak akan dikembalikan lagi ke Hastina setelah menamatkan pendidikan. Mengenai ilmu kenegaraan, Batari Ganggawati akan meminta Batara Wrehaspati untuk mengajar, sedangkan untuk ilmu keprajuritan, Batara Ramaparasu yang akan dimintai kesediaannya menjadi guru bagi Raden Dewabrata.

Dengan berat hati, Prabu Santanu pun melepaskan kepergian Batari Ganggawati yang terbang menuju Kahyangan Suralaya sambil menggendong Raden Dewabrata.

DEWI DURGANDINI DAN RADEN DURGANDANA BERTAPA

Tujuh tahun berlalu setelah peristiwa itu. Kyai Dasa di Desa Matsya menerima kunjungan Aryaprabu Kistawa yang diutus Prabu Wasupati. Kedatangan adik raja tersebut adalah untuk menyampaikan petunjuk dewata kepada kedua anak Prabu Wasupati yang dititipkan kepada Kyai Dasa, supaya mereka memulai bertapa demi mendapatkan kesembuhan dari penyakit mereka, yaitu berbau amis sejak lahir.

Kyai Dasa lalu menghadirkan kedua anak asuhnya tersebut, yang ia panggil dengan nama Rara Amis dan Jaka Matsya. Keduanya pun diberi tahu bahwa nama asli mereka masing-masing adalah Dewi Durgandini dan Raden Durgandana, yang merupakan putri dan putra Prabu Wasupati dari Kerajaan Wirata. Mereka berdua sangat terkejut begitu mengetahui kalau ayah kandung mereka ternyata seorang raja.

Aryaprabu Kistawa menjelaskan kepada kedua keponakannya itu, bahwa Prabu Wasupati sama sekali tidak membuang mereka, tetapi menitipkan kepada Kyai Dasa sesuai petunjuk dewa. Kini, usia mereka telah genap dua puluh tahun, dan Dewata telah memberikan petunjuk agar keduanya memulai pertapaan demi mendapatkan kesembuhan. Untuk itu, Dewi Durgandini hendaknya melakukan tapa ngrame di Sungai Jamuna sebagai tukang perahu yang menyeberangkan siapa saja tanpa imbalan, sedangkan Raden Durgandana hendaknya bertapa ngidang di Hutan Krendayana, yaitu hidup dengan memakan rumput saja.

Dewi Durgandini dan Raden Durgandana mematuhi, lalu keduanya memohon restu kepada Aryaprabu Kistawa dan Kyai Dasa untuk memulai bertapa.

RADEN DURGANDANA MENDAPATKAN KESEMBUHAN

Sudah empat puluh hari lamanya Raden Durgandana bertapa ngidang di Hutan Krendayana. Pada suatu hari ia didatangi seekor harimau lapar yang ingin memangsanya. Teringat pada pesan Aryaprabu Kistawa yang menyuruhnya untuk meniru perilaku seekor kijang, Raden Durgandana pun sama sekali tidak melawan. Ia merasa ikhlas andaikata hidupnya harus berakhir sebagai mangsa harimau lapar tersebut.

Tiba-tiba sang harimau berubah wujud menjadi Batara Kalakeya, yaitu dewa yang dulu pernah berjanji kepada Resi Srimadewa untuk meruwat putra Prabu Wasupati. Ia pun memperkenalkan diri kepada Raden Durgandana dan menyatakan bahwa sang pangeran telah lulus ujian keikhlasan, sehingga berhak mendapatkan kesembuhan.

Raden Durgandana lalu duduk bersila mengheningkan cipta, sedangkan Batara Kalakeya meraba sekujur tubuhnya untuk menghisap penyakit bau amis yang ia derita sejak lahir. Selang agak lama, Batara Kalakeya pun mengakhiri pengobatan dan Raden Durgandana dinyatakan telah sembuh seperti manusia normal pada umumnya.

Pada saat itulah Aryaprabu Kistawa datang menjenguk ke Hutan Krendayana. Ia pun menyampaikan sembah hormat kepada Batara Kalakeya yang telah menyembuhkan keponakannya. Batara Kalakeya menjelaskan bahwa dirinya hanya ditakdirkan untuk menyembuhkan Raden Durgandana saja. Sementara itu, orang yang ditakdirkan bisa menyembuhkan Dewi Durgandini adalah Resi Parasara dari Gunung Saptaarga. Akan tetapi, Dewi Durgandini sampai saat ini belum ikhlas menjalani pertapaannya sehingga peristiwa pertemuannya dengan Resi Parasara mungkin masih lama baru bisa terjadi. Batara Kalakeya telah mengamati Dewi Durgandini yang masih sering mengeluh mengapa harus menjadi tukang perahu dan hidup di desa terpencil, padahal ia adalah putri seorang raja besar.

Aryaprabu Kistawa memaklumi hal itu. Setelah dirasa cukup, Batara Kalakeya pun undur diri kembali ke kahyangan, sedangkan Aryaprabu Kistawa dan Raden Durgandana berangkat menuju Kerajaan Wirata.

PRABU WASUPATI MEMBANGUN KERAJAAN MAGADA

Prabu Wasupati dan Dewi Swargandini di Kerajaan Wirata menyambut kedatangan Raden Durgandana dan Aryaprabu Kistawa dengan penuh suka cita. Namun, mereka juga prihatin mendengar tentang Dewi Durgandini yang belum memperoleh kesembuhan sampai saat ini. Sebagai ungkapan syukur, Prabu Wasupati pun mengirimkan hadiah beraneka macam kepada Kyai Dasa di Desa Matsya yang selama ini telah mengasuh kedua anaknya dengan sangat baik dan penuh kesabaran.

Beberapa hari kemudian, putra sulung Prabu Wasupati yang lahir dari mendiang Dewi Yukti, yaitu Raden Wrehadrata bermimpi bahwa dirinya tidak boleh menjadi raja Wirata karena kelak akan memiliki keturunan yang berwatak angkara murka. Begitu terbangun dari tidurnya, Raden Wrehadrata pun melaporkan hal itu kepada sang ayah. Ia menyatakan rela untuk tidak menjadi raja dan menyerahkan kedudukannya sebagai pangeran mahkota kepada Raden Durgandana, adik tirinya.

Prabu Wasupati sangat terharu mendengar pernyataan Raden Wrehadrata yang penuh keikhlasan tersebut. Karena Dewata telah memberikan petunjuk kepada putra sulungnya melalui mimpi, maka Prabu Wasupati tidak bisa menolak hal itu. Sebagai ganti, Prabu Wasupati pun memerintahkan Patih Wasita agar membuka Hutan Magada yang terletak di kaki Gunung Cetiyaka menjadi negeri baru untuk diserahkan kepada Raden Wrehadrata. Prabu Wasupati berpendapat, jika Raden Wrehadrata menjadi raja di Magada, bukan di Wirata, maka ramalan Dewata tidak akan berlaku lagi.

Demikianlah, beberapa bulan kemudian Hutan Magada telah berubah menjadi sebuah negeri baru, yang diberi nama Kerajaan Magada. Raden Wrehadrata pun dilantik sebagai raja di sana, bergelar Prabu Wrehadrata. Ia berjanji tidak akan menginjakkan kaki di Kerajaan Wirata untuk selamanya, supaya keturunannya kelak tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki darah Wirata.

(Usaha Prabu Wasupati untuk menggagalkan ramalan dewa sepertinya tidak berguna. Kelak setelah beberapa puluh tahun berlalu, Prabu Wrehadrata akhirnya memiliki seorang anak yang angkara murka, bernama Prabu Jarasanda. Ia sendiri bahkan tewas dibunuh anaknya itu. Kemudian Prabu Jarasanda akhirnya tewas di tangan Raden Wrekodara, keturunan Dewi Durgandini.)

Prabu Wasupati alias Prabu Basuparicara

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya













Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ▼  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ▼  July (2)
      • Parasara Lelana
      • Dewabrata Lahir
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja