Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Boma Rabi

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang perkawinan antara Prabu Boma Narakasura dengan Dewi Agnyanawati yang ternyata jatuh cinta kepada Raden Samba Wisnubrata. Kisah ini menjadi awal dari Perang Gojalisuta.

Kisah ini saya olah dari sumber artikel pedhalangan di majalah Panjebar Semangat, dengan perubahan seperlunya.

Kediri, 23 Februari 2019

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, silakan klik di sini

------------------------------ ooo ------------------------------

Prabu Boma Narakasura.

PRABU BOMA MEMINTA RESTU MENIKAH KEPADA PRABU KRESNA

Di Kerajaan Dwarawati, Prabu Kresna Wasudewa memimpin pertemuan dihadap Raden Partajumena, Raden Setyaka, Arya Setyaki, dan Patih Udawa. Dalam pertemuan itu mereka membicarakan tentang putra mahkota, yaitu Raden Samba Wisnubrata yang sudah satu bulan ini menginap di Astana Gandamadana. Prabu Kresna khawatir Raden Samba lupa pulang, mengingat Dewi Sugatawati saat ini sedang mengandung. Kurang sepuluh hari dari sekarang, Prabu Kresna berniat mengadakan upacara mitoni untuk menantunya tersebut.

Tiba-tiba datanglah putra yang lain, yaitu Prabu Boma Narakasura raja Trajutresna. Kedatangan Prabu Boma ialah untuk meminta restu kepada Prabu Kresna atas rencana pernikahannya dengan putri Prabu Krentagnyana raja Giyantipura yang bernama Dewi Agnyanawati. Meskipun Dewi Agnyanawati adalah keponakan Patih Pancadnyana, namun ia tidak langsung menerima pinangan Prabu Boma. Gadis itu mengajukan syarat dirinya bersedia menjadi istri Prabu Boma Narakasura asalkan diberi mas kawin berupa bunga kahyangan bernama Kembang Parijata.

Prabu Boma yang tidak pernah mengetahui adanya bunga tersebut segera menghadap Prabu Kresna untuk meminta petunjuk. Prabu Kresna berkata bahwa segala macam jenis bunga ada di Kahyangan Pustaka-kawedar yang dipimpin Batara Kuwera. Apabila Prabu Boma menginginkan bunga tersebut, hendaknya pergi ke sana dan meminta langsung kepada Batara Kuwera. Prabu Boma gembira menerima petunjuk tersebut. Ia lalu mohon pamit meninggalkan pertemuan.

Setelah Prabu Boma pergi, Prabu Kresna kembali membicarakan tentang Raden Samba. Ia lantas memerintahkan Raden Partajumena dan Arya Setyaki agar pergi ke Astana Gadamadana untuk menjemput pulang Raden Samba di sana. Raden Partajumena dan Arya Setyaki mohon pamit melaksanakan perintah. Prabu Kresna lalu membubarkan pertemuan dan masuk ke dalam kedaton.

PRABU BANAKATONG INGIN MENIKAHI DEWI AGNYANAWATI

Tersebutlah seorang raja dari negeri Pasirsegara yang bernama Prabu Banakatong. Beberapa tahun yang lalu ia pernah melamar Dewi Agnyanawati sebagai istrinya. Namun, saat itu Dewi Agnyanawati masih belum cukup umur, sehingga Prabu Krentagnyana belum bisa menerima pinangan tersebut. Prabu Banakatong bersedia menunggu Dewi Agnyanawati dewasa. Kini ia merasa waktunya telah tiba. Prabu Banakatong segera mempersiapkan pasukan dan berangkat menuju Kerajaan Giyantipura.

Dalam perjalanannya itu, rombongan Prabu Banakatong bertemu Raden Partajumena dan Arya Setyaki yang sedang dalam perjalanan menuju Astana Gandamadana untuk mencari Raden Samba. Terjadi perselisihan di antara mereka yang berlanjut dengan pertempuran. Raden Partajumena dan Arya Setyaki berdua saja menandingi pasukan Pasirsegara. Karena jumlah musuh terlalu banyak, lama-lama mereka terdesak juga. Raden Partajumena dan Arya Setyaki akhirnya meloloskan diri, mencari jalan lain menuju Astana Gandamadana.

RADEN ARJUNA BERTEMU RADEN PARTAJUMENA DAN ARYA SETYAKI

Raden Arjuna sang Panegah Pandawa saat itu sedang berkelana bersama para panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong. Di tengah jalan mereka melihat beberapa raksasa dari Kerajaan Pasirsegara yang terpisah dari rombongan Prabu Banakatong. Para raksasa itu tampak sedang berbuat onar, mengganggu masyarakat pedesaan. Raden Arjuna pun turun tangan menumpas mereka.

Setelah semua raksasa itu terbunuh, tiba-tiba muncul Raden Partajumena dan Arya Setyaki yang sedang dalam perjalanan menuju Astana Gandamadana. Setelah saling memberi salam dan bertanya tujuan, Raden Arjuna merasa tertarik ingin ikut pergi ke Astana Gandamadana menjemput Raden Samba, mengingat Dewi Sugatawati adalah putrinya pula. Arya Setyaki dan Raden Partajumena mempersilakan, lalu mereka pun pergi bersama-sama.

PRABU BOMA MENDATANGI KAHYANGAN PUSTAKA-KAWEDAR

Sementara itu, Prabu Boma Narakasura yang didampingi Patih Pancadnyana serta para punggawa lainnya, seperti Ditya Yayahgriwa, Ditya Amisunda, Ditya Mahodara, dan Ditya Ancakogra telah sampai di Kahyangan Pustaka-kawedar. Batara Kuwera menyambut kedatangan mereka dan bertanya ada keperluan apa Prabu Boma datang ke tempatnya. Prabu Boma berkata bahwa dirinya ingin melihat wujud Kembang Parijata. Batara Kuwera pun mengantarkan Prabu Boma ke Taman Sugandika untuk memperlihatkan bunga tersebut.

Setelah melihat wujud bunga itu, Prabu Boma berkata terus terang bahwa ia ingin memiliki Kembang Parijata sebagai mas kawin untuk menikahi Dewi Agnyanawati. Batara Kuwera menjawab, bahwa dirinya mendapat pesan dari Batara Guru mengenai Kembang Parijata yang kelak hendaknya diberikan kepada putra Prabu Kresna. Prabu Boma berkata dirinya adalah putra Prabu Kresna, sehingga berhak mendapatkan bunga pusaka tersebut. Batara Kuwera tidak setuju, karena ia tahu jelas bahwa Prabu Boma adalah putra Batara Wisnu, bukan putra Prabu Kresna. Meskipun Batara Wisnu sudah menitis ke dalam raga Prabu Kresna, tetap saja Prabu Boma adalah putra Batara Wisnu.

Prabu Boma marah diperlakukan seperti ini. Ia pun mengamuk memaksa Batara Kuwera agar menyerahkan Kembang Parijata kepadanya. Batara Kuwera dengan tangkas menghadapi amukannya. Keduanya lalu bertarung sengit. Patih Pancadnyana dan para punggawa Trajutresna ikut maju menyerang Batara Kuwera. Batara Kuwera dengan gagah berani mampu menandingi mereka semua. Meskipun demikian, tetap saja ia hanya seorang diri yang dikeroyok raksasa sebanyak itu. Batara Kuwera lama-lama letih juga dan sebuah pukulan Prabu Boma membuat ia jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Prabu Boma kemudian menghampiri Kembang Parijata dan memetiknya. Pada saat itulah Batara Kuwera bangun dari pingsan dan langsung menghantam dada Prabu Boma menggunakan gada pusaka. Prabu Boma terpental hingga keluar kahyangan, sedangkan Kembang Parijata yang ada di tangannya ikut terlempar entah ke mana. Melihat itu, Patih Pancadnyana dan para punggawa raksasa segera mengejar, meninggalkan Kahyangan Pustaka-kawedar.

RADEN SAMBA MENERIMA KEMBANG PARIJATA

Di Astana Gandamadana, Resi Gunadewa dihadap adik kandungnya, yaitu Raden Samba Wisnubrata yang sudah satu bulan ini menginap di sana. Resi Gunadewa dan Raden Samba adalah putra Prabu Kresna yang lahir dari ibu yang sama, yaitu Dewi Jembawati. Kedua orang tua Dewi Jembawati adalah Resi Jembawan dan Dewi Trijata, yang keduanya dulu diangkat Prabu Basudewa menjadi juru kunci Astana Gandamadana, tempat Prabu Kuntiboja dimakamkan. Hingga kemudian Resi Jembawan dan Dewi Trijata mendapat permohonan dari Prabu Kresna untuk mengasuh Raden Gunadewa yang terlahir berbulu lebat seperti wanara. Sejak kecil Raden Gunadewa lebih banyak mengurung diri di dalam Astana Gandamadana, mempelajari kitab suci dan belajar meditasi. Hingga akhirnya setelah Resi Jembawan dan Dewi Trijata meninggal, ia pun menggantikan kedudukan kakek dan neneknya itu sebagai juru kunci astana.

Selama satu bulan ini Raden Samba menginap di Astana Gandamadana. Resi Gunadewa lama-lama merasa curiga. Raden Samba yang biasanya manja dan jarang keluar istana, mengapa kali ini bisa meninggalkan Kerajaan Dwarawati begitu lama. Akhirnya, ia pun bertanya ada masalah apa yang sebenarnya sedang dihadapi adiknya tersebut. Raden Samba bercerita bahwa sebulan yang lalu dirinya mimpi bertemu seorang putri berwajah cantik jelita. Sayangnya, belum sempat mengetahui nama gadis tersebut, ia terlanjur bangun dari tidur. Namun, sejak peristiwa itu rasa cintanya kepada sang istri, yaitu Dewi Sugatawati menjadi berkurang. Siang malam Raden Samba hanya membayangkan wajah gadis dalam mimpinya tersebut. Ia tidak peduli lagi pada Dewi Sugatawati yang sebentar lagi kandungannya berusia tujuh bulan.

Resi Gunadewa menasihati Raden Samba agar jangan terbuai pada mimpinya. Mimpi itu hanyalah bunga tidur belaka. Daripada sibuk memikirkan sesuatu yang tidak nyata, lebih baik menjaga dan merawat apa yang sudah di tangan, yaitu Dewi Sugatawati. Apalagi saat ini Dewi Sugatawati sedang hamil, sebentar lagi akan melahirkan keturunan untuk Raden Samba. Harusnya Raden Samba bersyukur, bukannya berandai-andai membayangkan perempuan lain yang belum tentu ada.

Raden Samba tersadarkan oleh nasihat kakaknya. Selama ini ia hanya memendam kegelisahan, tidak berani bercerita kepada ayah dan ibu. Baru kali ini ia menceritakan isi hatinya dan langsung mendapatkan pencerahan dari sang kakak.

Tiba-tiba dari angkasa turun melayang sekuntum bunga yang jatuh di pangkuan Raden Samba. Bunga tersebut tidak lain adalah Kembang Parijata yang terlempar dari Kahyangan Pustaka-kawedar.

PRABU BOMA MEMINTA KEMBANG PARIJATA

Tidak lama kemudian datanglah Raden Arjuna, Arya Setyaki, dan Raden Partajumena di Astana Gandamadana tersebut. Setelah saling memberi salam, Arya Setyaki pun menyampaikan pesan Prabu Kresna bahwa Raden Samba diminta untuk segera pulang, karena sepuluh hari lagi Dewi Sugatawati harus menjalani upacara mitoni, yaitu selamatan tujuh bulan usia kandungannya.

Belum sempat Raden Samba menjawab, Prabu Boma mendadak datang pula di tempat itu. Melihat Kembang Parijata ada di tangan Raden Samba, Prabu Boma segera meminta bunga tersebut agar diserahkan kepadanya, karena bunga itu adalah mas kawin untuk menikahi Dewi Agnyanawati. Tiba-tiba, datang pula Batara Kuwera yang menjelaskan bahwa Kembang Parijata hanya boleh dimiliki putra Prabu Kresna. Meskipun Prabu Boma memanggil Prabu Kresna sebagai ayah, tetap saja tidak masuk hitungan, karena sesungguhnya Prabu Boma adalah putra Batara Wisnu.

Prabu Boma marah dan menantang Batara Kuwera untuk melanjutkan pertarungan tadi. Raden Arjuna maju melerai. Ia menasihati Prabu Boma agar jangan menentang keputusan dewata. Jika dewa sudah menetapkan peraturan seperti itu, maka tidak baik apabila ada manusia menentangnya. Prabu Boma semakin marah dan melarang Raden Arjuna ikut campur. Sejak dulu ia tahu kalau pamannya itu tidak suka kepadanya. Ia pun menantang Raden Arjuna bertarung apabila memang ingin menggantikan Batara Kuwera.

Dasar watak Raden Arjuna yang mudah marah, ia pun melayani tantangan Prabu Boma. Keduanya lalu bertarung di halaman Astana Gandamadana tanpa ada yang bisa melerai. Setelah menyaksikan pertarungan mereka yang cukup lama tanpa ada kejelasan siapa yang menang atau kalah, Raden Samba akhirnya maju menengahi.

Raden Samba berkata kepada Batara Kuwera bahwa Kembang Parijata sudah menjadi miliknya, maka terserah dirinya digunakan untuk apa. Ia lalu menghampiri Prabu Boma dan menyerahkan bunga tersebut kepadanya. Prabu Boma sangat berterima kasih dan memeluk Raden Samba.

Karena tugasnya telah selesai, Batara Kuwera undur diri kembali ke kahyangan. Raden Arjuna merasa kecewa dan ikut pergi tanpa pamit, disertai para panakawan.

RADEN SAMBA INGIN MENYAKSIKAN PERNIKAHAN PRABU BOMA

Sebagai ungkapan rasa terima kasihnya, Prabu Boma pun mengajak Raden Samba sebagai saksi atas perkawinannya dengan Dewi Agnyanawati di Kerajaan Giyantipura. Raden Samba menerima undangan itu dengan senang hati. Arya Setyaki mengingatkan Raden Samba atas panggilan Prabu Kresna. Raden Samba menjawab, upacara mitoni Dewi Sugatawati masih sepuluh hari lagi. Saat ini yang ingin ia lakukan hanyalah menyaksikan perkawinan kakaknya.

Arya Setyaki dan Raden Partajumena lalu berunding membagi tugas. Arya Setyaki kembali ke Kerajaan Dwarawati untuk melapor kepada Prabu Kresna, sedangkan Raden Partajumena mengawal Raden Samba untuk mengingatkan pulang apabila acara pernikahan Prabu Boma telah selesai. Adapun Resi Gunadewa tetap tinggal di Astana Gandamadana karena ia tidak berani meninggalkan tugasnya tanpa seizin Prabu Kresna.

RADEN SAMBA BERTEMU MATA DENGAN DEWI AGNYANAWATI

Demikianlah, Prabu Boma telah berbusana pengantin diarak menuju Kerajaan Giyantipura. Raden Samba dan Raden Partajumena ikut di dalam rombongan, berbaur dengan para punggawa raksasa. Sesampainya di sana, mereka disambut Prabu Krentagnyana dan Dewi Sumirat, bersama anak gadis mereka, yaitu si calon mempelai wanita Dewi Agnyanawati. Betapa terkejut hati Raden Samba saat menyaksikan ternyata Dewi Agnyanawati adalah perempuan yang pernah dijumpainya di alam mimpi dan ia rindukan siang-malam.

Sebaliknya, Dewi Agnyanawati juga tergetar perasaannya sewaktu menyaksikan Raden Samba berjalan di samping Prabu Boma. Tampak Prabu Boma menyerahkan Kembang Parijata kepadanya. Dewi Agnyanawati menerima bunga tersebut dengan perasaan menyesal. Ia membayangkan andai saja Raden Samba yang menyerahkan bunga pusaka ini kepadanya, alangkah bahagia.

Karena persyaratan mas kawin sudah diwujudkan oleh Prabu Boma, maka pernikahan di antara mereka pun dimulai. Ketika upacara mencuci kaki dilaksanakan, ternyata Dewi Agnyanawati justru mencuci kaki Raden Samba. Semua orang pun terkejut melihatnya, terutama Raden Samba yang menahan malu bercampur bahagia. Dewi Sumirat buru-buru membetulkan posisi Dewi Agnyanawati agar membasuh kaki Prabu Boma.

SERANGAN PRABU BANAKATONG

Upacara pernikahan antara Prabu Boma dan Dewi Agnyanawati telah selesai dan kemudian dilanjutkan dengan pesta meriah. Kedua mempelai duduk di atas pelaminan menerima ucapan selamat dari para tamu dan undangan. Wajah Prabu Boma tampak ceria dengan senyum riang tak tertahankan, sedangkan Dewi Agnyanawati terlihat murung tidak bergairah. Sesekali Dewi Agnyanawati mencuri pandang ke arah Raden Samba, dan ketika pandangan mereka bertemu ada perasaan malu-malu bercampur bahagia tak terlukiskan.

Tiba-tiba pesta pernikahan tersebut berubah menjadi kacau karena Prabu Banakatong dan pasukan Pasirsegara datang menyerang untuk merebut Dewi Agnyanawati. Prabu Boma marah hendak menghadapi serangan tersebut. Namun, Raden Samba mencegahnya karena tidak baik seorang pengantin turun tangan seperti ini. Raden Samba lalu memberi isyarat kepada Raden Partajumena agar segera bertindak.

Maka, berangkatlah Raden Partajumena bersama Patih Pancadnyana dan para raksasa Trajutresna menghadapi amukan tersebut. Pertempuran terjadi di alun-alun Kerajaan Giyantipura. Raden Partajumena tampak menghadapi Prabu Banakatong. Keduanya pun bertarung sengit, hingga akhirnya Prabu Banakatong tewas di tangan Raden Partajumena.

Melihat rajanya gugur, pasukan Pasirsegara menjadi kocar-kacir. Ada yang mati terbunuh, ada yang melarikan diri, dan ada yang menyerah takluk. Keadaan akhirnya tenang kembali. Prabu Krentagnyana pun melanjutkan pesta pernikahan putrinya dan mempersilakan para tamu menikmati hidangan.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya

Catatan : Tokoh Prabu Banakatong adalah tambahan dari saya untuk meramaikan cerita.


Untuk kisah perkawinan Raden Samba dan Dewi Sugatawati bisa dibaca di sini.












Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Talirasa - Rasatali

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang munculnya dua orang laki-laki bernama Bambang Talirasa dan Bambang Rasatali yang mengacaukan ketentraman Kerajaan Hastina.

Kisah ini saya olah dari sumber rekaman wayang orang Sekar Budaya Nusantara, yang dipadukan dengan artikel pedhalangan di majalah Panjebar Semangat, dengan perubahan seperlunya.

Kediri, 09 Februari 2019

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, silakan klik di sini

------------------------------ ooo ------------------------------

Bambang Talirasa dan Dewi Lesmanawati.

PRABU DURYUDANA MENDAPAT LAPORAN TENTANG MALING MASUK ISTANA

Di Kerajaan Hastina, Prabu Duryudana memimpin pertemuan dihadap Danghyang Druna dari Sokalima, Patih Sangkuni dari Plasajenar, Adipati Karna dari Awangga, dan Raden Kartawarma dari Tirtatinalang. Dalam pertemuan itu, Adipati Karna melaporkan tentang putranya, yaitu Raden Warsakusuma yang pulang ke Kadipaten Awangga karena ada masalah rumah tangga dengan Dewi Lesmanawati.

Beberapa waktu yang lalu Dewi Lesmanawati telah dinikahi Raden Warsakusuma. Namun, karena sifatnya yang manja dan tidak mau jauh dari orang tua, ia menolak tinggal di Kadipaten Awangga dan memilih tetap berada di Kerajaan Hastina seperti sediakala. Raden Warsakusuma pun mengikuti kehendak istri, turut serta tinggal di istana. Hingga akhirnya, kemarin malam Raden Warsakusuma pulang ke Kadipaten Awangga karena kalah berkelahi melawan kekasih baru Dewi Lesmanawati.

Adipati Karna pun datang ke Kerajaan Hastina untuk memastikan hal itu. Menurut laporan putranya, kekasih Dewi Lesmanawati seorang laki-laki yang memiliki kawan berwajah mirip pula. Mereka berdua menyusup ke dalam puri tanpa ada penjaga yang mengetahui. Ketika memergoki Dewi Lesmanawati sedang berkasih-kasihan dengan salah satu dari laki-laki tersebut, Raden Warsakusuma marah dan menyerang mereka. Namun, Raden Warsakusuma kalah sakti. Tubuhnya dilemparkan jauh sekali, hingga jatuh di perbatasan Kadipaten Awangga.

Prabu Duryudana terkejut mendengar laporan itu. Ia marah karena keamanan istana begitu kendor hingga bisa dimasuki penyusup. Patih Sangkuni pun memerintahkan Raden Kartawarma untuk memeriksa ke dalam puri. Raden Kartawarma segera berangkat. Tidak lama kemudian ia kembali dan melaporkan bahwa memang benar di dalam puri kediaman Dewi Lesmanawati ada dua laki-laki tampan. Raden Kartawarma berusaha menangkap mereka, namun ternyata mereka sangat tangguh sehingga dirinya terdesak mundur.

Prabu Duryudana semakin marah mendengarnya. Ia pun memerintahkan Patih Sangkuni bersama para Kurawa untuk menangkap kedua maling tersebut, hidup atau mati. Adipati Karna ikut serta, karena ini menyangkut rumah tangga putranya pula.

Setelah dirasa cukup, Prabu Duryudana pun membubarkan pertemuan dan masuk ke dalam kedaton dengan tergesa-gesa.

PARA KURAWA BEUSAHA MENANGKAP KEDUA PENYUSUP

Sementara itu, Dewi Lesmanawati di dalam puri kediamannya sedang bercengkrama dengan kekasih barunya, yang bernama Bambang Talirasa. Mereka saling berkasih-kasihan, bercumbu rayu, tertawa bahagia tanpa beban. Tidak lama kemudian muncul kawan Bambang Talirasa yang bernama Bambang Rasatali. Mereka berdua berwajah mirip tetapi memiliki sifat yang berbeda. Bambang Rasatali sama sekali tidak tertarik melihat kecantikan Dewi Lesmanawati. Ia justru mengingatkan Bambang Talirasa agar berhenti menggoda Dewi Lesmanawati dan mengembalikan perempuan itu kepada suaminya.

Bambang Talirasa menolak saran Bambang Rasatali, karena ia sudah terlanjur jatuh cinta kepada Dewi Lesmanawati. Bambang Rasatali pun mengingatkan bahwa hari ini mereka telah dipergoki oleh Raden Kartawarma. Tidak lama lagi pasti para Kurawa yang lainnya akan datang mengepung mereka berdua. Bambang Talirasa sama sekali tidak takut pada Kurawa. Baginya, lebih baik mati daripada berpisah dengan Dewi Lesmanawati.

Ucapan Bambang Rasatali terbukti. Para Kurawa dipimpin Patih Sangkuni dan Adipati Karna telah datang mengepung puri kediaman Dewi Lesmanawati dan memerintahkan Bambang Talirasa dan Bambang Rasatali agar menyerahkan diri. Bambang Talirasa bertanya kepada Dewi Lesmanawati apakah rela dirinya ditangkap para Kurawa. Dewi Lesmanawati menangis dan memeluk kekasihnya itu erat-erat. Adipati Karna semakin geram melihat ulah menantunya itu. Namun, ia tidak berani menghukum Dewi Lesmanawati karena segan kepada Prabu Duryudana.

Patih Sangkuni merasa tidak ada gunanya mengulur waktu. Ia pun memerintahkan para Kurawa untuk maju menyerang Bambang Talirasa. Pertempuran terjadi. Seorang diri Bambang Talirasa dikeroyok para Kurawa. Melihat itu, Bambang Rasatali tidak tega berdiam diri. Ia pun maju membantu sahabatnya. Kali ini para Kurawa dapat dipukul mundur oleh mereka berdua.

Adipati Karna marah melihat kedua penyusup itu unggul. Ia pun membentangkan busur, bersiap melepaskan panah pusaka Kuntadruwasa. Bambang Rasatali merasakan hawa dahsyat pada panah pusaka tersebut. Ia pun mengajak Bambang Talirasa untuk segera pergi. Bambang Talirasa tidak mau pergi tanpa kekasihnya. Ia lantas menggendong tubuh Dewi Lesmanawati dan bergerak secepat kilat meninggalkan Kerajaan Hastina bersama Bambang Rasatali.

Adipati Karna heran melihat kedua musuhnya melarikan diri secepat kilat. Prabu Duryudana datang memeriksa keadaan. Patih Sangkuni malu mengakui kegagalannya menangkap penyusup. Ia pun berkata bahwa dahulu kala, Bambang Irawan dan Raden Antareja pernah menyusup ke dalam istana Kerajaan Hastina untuk menggoda Dewi Lesmanawati. Kini muncul lagi dua orang pria berwajah tampan. Patih Sangkuni yakin mereka juga anak-anak para Pandawa seperti peristiwa dulu.

Prabu Duryudana menyetujui laporan Patih Sangkuni. Ia pun memerintahkan agar Patih Sangkuni pergi ke Kerajaan Amarta untuk melaporkan hal ini kepada Prabu Puntadewa. Patih Sangkuni mematuhi dengan senang hati. Ia pun mohon pamit melaksanakan tugas dengan ditemani Arya Dursasana.

PATIH SANGKUNI MELEMPARKAN TUDUHAN KEPADA RADEN ARJUNA

Patih Sangkuni dan Arya Dursasana dalam perjalanan menuju Kerajaan Amarta bertemu Raden Arjuna dan para panakawan di dekat hutan. Setelah saling memberi salam, Patih Sangkuni menceritakan tentang adanya dua penyusup yang mengacau istana Kerajaan Hastina. Kedua penyusup itu berwajah tampan, berani memasuki puri kediaman Dewi Lesmanawati. Para Kurawa dan Adipati Karna telah mengepung kedua penyusup itu, namun mereka berhasil meloloskan diri dengan membawa serta Dewi Lesmanawati.

Patih Sangkuni mengingatkan bahwa dahulu pernah putra Raden Arjuna yang bernama Bambang Irawan menyusup ke dalam istana Kerajaan Hastina bersama Raden Antareja putra Arya Wrekodara. Berdasar miripnya kejadian, dan juga melihat paras kedua penyusup itu sangat tampan, maka Patih Sangkuni berani menduga bahwa mereka berdua adalah putra Raden Arjuna pula.

Raden Arjuna marah dituduh demikian. Ia pun berangkat mencari kedua penyusup tersebut untuk memberi mereka hukuman, karena telah membuat nama baiknya tercemar.

RADEN ARJUNA BERTARUNG MELAWAN BAMBANG TALIRASA

Sungguh kebetulan Raden Arjuna berhasil menemukan Bambang Talirasa dan Bambang Rasatali di tengah jalan. Ia pun meminta kedua orang itu agar membebaskan Dewi Lesmanawati yang berdiri di belakang mereka. Bambang Talirasa berkata dirinya akan melepaskan Dewi Lesmanawati apabila Raden Arjuna bisa melangkahi mayatnya terlebih dulu.

Raden Arjuna marah dan menyerang Bambang Talirasa. Keduanya pun bertarung sengit. Bambang Talirasa bertarung dengan santai sambil mulutnya mengejek Raden Arjuna. Hal ini membuat Raden Arjuna semakin marah dan menyerang Bambang Talirasa dengan gencar. Bambang Talirasa terdesak dan ia pun mengerahkan Aji Gelap Ngampar. Tubuh Raden Arjuna pun terlempar jauh ke arah timur akibat ajian tersebut.

Bambang Talirasa tidak berhenti sampai di sini. Ia mendatangi keempat panakawan dan menyerang mereka dengan Aji Gelap Ngampar pula. Kyai Semar dan Bagong terlempar ke arah utara, sedangkan Nala Gareng dan Petruk terlempar ke arah selatan.

NALA GARENG DAN PETRUK MENEMUKAN PAKAIAN DEWA

Nala Gareng dan Petruk yang terlempar ke arah selatan jatuh di depan sebuah gua. Karena takut dikejar Bambang Talirasa, mereka pun masuk dan bersembunyi ke dalam gua tersebut. Tak disangka di dalam gua itu mereka menemukan sebuah kotak yang setelah dibuka ternyata isinya berupa jubah dan pakaian gemerlapan, lengkap dengan mahkota.

Nala Gareng mengambil pakaian jubah, sedangkan Petruk mengambil mahkota dan pakaian yang gemerlapan. Dengan menyamar seperti ini, mereka yakin tidak akan dikenali lagi oleh Bambang Talirasa. Maka, mereka pun berani keluar gua. Begitu sampai di luar, tiba-tiba dari angkasa meluncur turun Batara Brahma yang langsung menyembah hormat kepada mereka. Nala Gareng dan Petruk baru sadar, bahwa gara-gara mengenakan pakaian itu, wujud mereka kini berubah menjadi mirip Batara Narada dan Batara Guru, sampai-sampai Batara Brahma tidak dapat mengenali.

Batara Brahma mengatakan bahwa sudah beberapa waktu ini Kahyangan Jonggringsalaka kosong karena Batara Guru dan Batara Narada menghilang tanpa pamit. Sungguh beruntung Batara Brahma berhasil menemukan mereka dan keduanya pun dimohon untuk segera kembali ke kahyangan. Petruk dan Nala Gareng berusaha meniru kebiasaan Batara Guru dan Batara Narada. Mereka berlagak mengabulkan permohonan Batara Brahma, lalu bersama-sama kembali ke Kahyangan Jonggringsalaka.

RADEN ARJUNA DIAJAK PRABU KRESNA MENCARI JAGO

Sementara itu, Raden Arjuna yang terlempar ke arah timur jatuh di hadapan Prabu Kresna yang sedang dalam perjalanan hendak mengunjungi para Pandawa. Raden Arjuna menceritakan pengalamannya dikalahkan oleh seseorang bernama Bambang Talirasa yang memiliki kawan bernama Bambang Rasatali, dan mereka berdua telah menculik Dewi Lesmanawati pula. Raden Arjuna tidak terima atas kekalahannya ini, dan ia memohon bantuan kepada Prabu Kresna untuk melawan mereka.

Prabu Kresna menjawab, dirinya tidak ditakdirkan untuk mengalahkan Bambang Talirasa dan Bambang Rasatali, maka tiada gunanya melawan mereka. Jika ingin mengalahkan kedua orang itu, maka harus mencari jago yang sepadan dengan mereka. Raden Arjuna tidak berani membantah karena yakin Prabu Kresna pasti memiliki rencana seperti biasanya.

Maka, berangkatlah Prabu Kresna dan Raden Arjuna mencari jago untuk menghadapi Bambang Talirasa dan Bambang Rasatali. Di tengah jalan mereka bertemu dua orang laki-laki yang mengaku bernama Bambang Amongrasa dan Bambang Rasaamong. Prabu Kresna mendapat firasat bahwa kedua orang inilah yang mampu menjadi jago. Ia pun meminta bantuan mereka untuk menghadapi musuh bernama Bambang Talirasa dan Bambang Rasatali.

Bambang Amograsa dan Bambang Rasaamong memang sedang menjalani tapa ngrame, dan mereka pun dengan senang hati mengabulkan permintaan Prabu Kresna. Maka, berangkatlah mereka bersama-sama mencari kedua musuh tersebut.

MEMBURU BAMBANG TALIRASA DAN BAMBANG RASATALI

Prabu Kresna, Raden Arjuna, dan kedua jago mereka akhirnya bertamu Bambang Talirasa dan Bambang Rasatali. Bambang Amongrasa meminta kedua orang itu untuk membebaskan Dewi Lesmanawati. Bambang Talirasa menantang Bambang Amongrasa agar melangkahi mayatnya terlebih dulu. Kedua orang itu lalu berdebat mengenai arti nama mereka. Talirasa artinya “mengikat nafsu”, sedangkan Amongrasa artinya “mengasuh nafsu”. Bambang Talirasa mengejek, mana ada nafsu yang diasuh? Kalau nafsu diasuh jadinya malah manja dan berkobar-kobar. Bambang Amongrasa menyebut Bambang Talirasa salah paham. Yang namanya “mengasuh nafsu” bukan memanjakan, tetapi membimbingnya agar bisa dimanfaatkan menjadi semangat hidup. Nafsu itu bekal dari Yang Mahakuasa, hendaknya dijadikan semangat untuk berbuat kebaikan, bukannya dipadamkan. Justru yang kurang baik adalah “mengikat nafsu”. Karena yang namanya nafsu apabila makin diikat dan makin ditekan, justru kelak akan meledak-ledak.

Bambang Talirasa dan Bambang Amongrasa saling berdebat hingga akhirnya mereka terlibat baku hantam. Melihat itu, Bambang Rasatali ikut bertarung pula melawan Bambang Rasaamong. Setelah bertarung cukup lama, Bambang Talirasa dan Bambang Rasatali merasa terdesak oleh kesaktian pihak lawan. Mereka pun kabur melarikan diri. Bambang Talirasa berkata bahwa sudah saatnya mereka kembali ke kahyangan. Ia dan Bambang Rasatali lalu memasuki sebuah gua, di mana mereka menyembunyikan sebuah peti di dalam sana. Namun, sungguh mengejutkan ternyata peti tersebut telah kosong tiada berisi lagi.

Bambang Talirasa dan Bambang Rasatali merasa heran. Melihat Bambang Amongrasa dan Bambang Rasaamong sudah semakin dekat, mereka pun tidak mau membuang-buang waktu. Keduanya lalu melesat terbang menuju ke Kahyangang Jonggringsalaka.

MEMBONGKAR JATI DIRI BAMBANG TALIRASA DAN BAMBANG RASATALI

Bambang Talirasa dan Bambang Rasatali telah sampai di Kahyangan Jonggringsalaka. Mereka heran melihat ada pesta meriah, di mana Batara Guru duduk bersantai di atas Balai Marcukunda sambil makan-minum sesuka hati, sedangkan Batara Narada tampak asyik menari bersama para bidadari. Adapun para dewa lainnya, seperti Batara Brahma, Batara Indra, Batara Bayu, Batara Yamadipati, sibuk menabuh gamelan. Bambang Talirasa marah-marah menyebut mereka sudah ditipu Batara Guru dan Batara Narada palsu.

Batara Guru dan Batara Narada segera memerintahkan para dewa untuk menangkap Bambang Talirasa dan Bambang Rasatali karena sudah berani mengacau pesta. Para dewa pun bangkit dan mengepung mereka. Bambang Talirasa dan Bambang Rasatali mengerahkan Aji Kemayan, membuat para dewa itu lemas kehilangan daya. Melihat itu, Batara Guru dan Batara Narada ketakutan dan berniat melarikan diri.

Pada saat itulah Bambang Amongrasa dan Bambang Rasaamong datang bersama Prabu Kresna dan Raden Arjuna. Bambang Amongrasa berkata bahwa permainan ini tidak perlu dilanjutkan lagi. Sebaiknya, semuanya kembali ke wujud asli. Usai berkata demikian, ia pun membuka samaran. Ternyata Bambang Amongrasa adalah penjelmaan Kyai Semar, sedangkan Bambang Rasaamong adalah penjelmaan Bagong.

Kyai Semar lalu menyuruh Batara Guru dan Batara Narada membuka penyamaran. Kedua dewa itu pura-pura tidak paham apa maksud perkataan Kyai Semar. Kyai Semar pun mengancam akan meludahi mereka jika tidak menurut. Batara Guru ketakutan dan segera melepaskan pakaiannya, kembali berwujud Petruk, sedangkan Batara Narada kembali berwujud Nala Gareng. Kyai Semar memarahi mereka karena lancang mencuri pakaian raja dewa dan menduduki kahyangan. Akhirnya, kahyangan menjadi kacau balau karena dipimpin oleh orang yang tidak tepat.

Petruk dan Nala Gareng memohon ampun atas perbuatan mereka. Tadinya mereka hanya ingin tahu bagaimana rasanya duduk di Balai Marcukunda, memimpin Kahyangan Jonggringsalaka. Ternyata menjadi pemimpin tidak semudah yang mereka kira. Salah mengambil keputusan justru menyebabkan kekacauan. Mereka kini telah sadar dan mengembalikan pakaian beserta mahkota kepada pemilik yang sebenarnya.

Bambang Talirasa dan Bambang Rasatali menerima pakaian yang diserahkan Nala Gareng dan Petruk. Bambang Talirasa ternyata adalah penjelmaan Batara Guru yang asli, sedangkan Bambang Rasatali adalah penjelmaan Batara Narada.

MENGEMBALIKAN DEWI LESMANAWATI KE HASTINA

Kyai Semar bertanya apa yang menjadi alasan Batara Guru mengacau Kerajaan Hastina dan menculik Dewi Lesmanawati. Batara Guru berkata bahwa ia prihatin melihat para Kurawa hanya sibuk mengumbar hawa nafsu dan angkara murka, sehingga ia berniat memberi mereka cobaan agar sadar dan memperbaiki diri. Namun, ternyata semua sia-sia belaka. Para Kurawa adalah keturunan Padepokan Saptaarga yang hanya bisa mencemarkan nama baik leluhur mereka.

Kyai Semar kembali bertanya, bukankah Batara Guru sendiri dalam wujud Bambang Talirasa juga mengumbar hawa nafsu? Batara Guru memakai nama samaran “talirasa”, tetapi ternyata tidak mampu mengikat rasa cintanya, hingga merusak rumah tangga Dewi Lesmanawati dan Raden Warsakusuma.

Batara Guru menjawab, itu tidak seperti yang tampak oleh mata. Dewi Lesmanawati yang ia culik hanyalah palsu belaka, yang tercipta dari sekuntum bunga cempaka. Adapun Dewi Lesmanawati yang asli masih berada di Kerajaan Hastina, disembunyikannya dari pandangan orang lain. Bahkan, Batara Narada pun tidak mengetahui tentang siasat ini. Batara Narada membenarkan hal itu. Ia mengira Batara Guru dalam wujud Bambang Talirasa benar-benar lupa diri dan tega merusak kehormatan Dewi Lesmanawati.

Batara Guru lalu membisikkan sebuah mantra kepada Prabu Kresna untuk memunculkan kembali Dewi Lesmanawati yang asli. Prabu Kresna berterima kasih. Setelah dirasa cukup, ia pun mohon pamit kembali ke dunia bersama Raden Arjuna dan para panakawan.

PRABU KRESNA MENGEMBALIKAN DEWI LESMANAWATI KE KERAJAAN HASTINA

Rombongan Prabu Kresna telah tiba di Kerajaan Hastina dan mereka pun disambut Prabu Duryudana, Danghyang Druna, Patih Sangkuni, dan Adipati Karna. Prabu Kresna datang untuk menyerahkan Dewi Lesmanawati yang diculik Bambang Talirasa dan Bambang Rasatali. Ketika Prabu Duryudana meraih tangan putrinya itu, tiba-tiba wujud Dewi Lesmanawati musnah dan berubah menjadi sekuntum bunga cempaka.

Prabu Duryudana terkejut bercampur heran dan menuduh Prabu Kresna bermain sihir. Prabu Kresna menjelaskan bahwa Dewi Lesmanawati tidak pernah hilang diculik, tetapi masih disembunyikan Bambang Talirasa di dalam istana Kerajaan Hastina. Adapun yang diculik dan dibawa kabur adalah Dewi Lesmanawati palsu yang tercipta dari bunga cempaka. Prabu Kresna lalu membaca mantra yang diajarkan Batara Guru. Tiba-tiba dari dalam tanah menyembul keluar Dewi Lesmanawati dalam keadaan bingung.

Prabu Duryudana lalu bertanya kepada Dewi Lesmanawati apa yang telah terjadi. Dewi Lesmanawati bercerita bahwa dirinya tiba-tiba didatangi seorang laki-laki tampan yang langsung memasukkannya ke dalam tanah. Meskipun sendiri di dalam tanah, anehnya Dewi Lesmanawati tidak merasa haus dan lapar, hingga akhirnya Prabu Kresna mengembalikan dirinya ke permukaan.

Prabu Duryudana bertanya apakah Dewi Lesmanawati pernah berkasih-kasihan dengan Bambang Talirasa serta diculik dan dibawa kabur? Dewi Lesmanawati balik bertanya, Bambang Talirasa itu siapa? Ia mengaku baru kali ini mendengar namanya. Danghyang Druna melihat Dewi Lesmanawati tampak jujur, dan ia pun memintakan pengampunan kepada Prabu Duryudana agar tidak menghukum putrinya tersebut.

Prabu Duryudana pada dasarnya tidak pernah tega menghukum anggota keluarga sendiri. Ia lalu bertanya kepada Adipati Karna apakah masih bersedia menerima Dewi Lesmanawati sebagai menantu. Prabu Kresna ikut menegaskan bahwa kehormatan Dewi Lesmanawati yang asli tetap terjaga dan tidak pernah dirusak oleh Bambang Talirasa. Adipati Karna yang sejak dulu segan kepada Prabu Kresna, tidak berani membantah. Karena Prabu Kresna sudah menjamin demikian, maka ia pun merasa yakin dan menyatakan bersedia menerima kembali Dewi Lesmanawati sebagai menantu.

Demikianlah, Prabu Duryudana pun mengadakan pesta syukuran atas terselesaikannya masalah Bambang Talirasa dan Bambang Rasatali yang telah mengacaukan ketentraman Kerajaan Hastina.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya

Catatan : Dalam artikel majalah Panjebar Semangat, nama samaran Kyai Semar dan Bagong adalah Salahrasa dan Rasasalah. Dalam cerita di atas, nama mereka saya ganti menjadi Amongrasa dan Rasaamong.


Untuk kisah Bambang Irawan menggoda Dewi Lesmanawati bisa dibaca di sini.

Untuk kisah perkawinan Dewi Lesmanawati dan Raden Warsakusuma bisa dibaca di sini.











Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ▼  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ▼  February (2)
      • Boma Rabi
      • Talirasa - Rasatali
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja