Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Prabu Gambiranom

 No comments   



Kisah ini menceritakan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi raja di Kerajaan Ngrancangkencana, dengan ditemani Raden Antareja. Juga diceritakan Prabu Kresna menjodohkan Bambang Irawan dengan putrinya yang bernama Dewi Titisari.

Kisah ini saya olah dari sumber Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) yang disusun Ki Tristuti Suryosaputro yang dipadukan dengan hasil diskusi bersama Ki Rudy Wiratama, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 27 Oktober 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini
Prabu Gambiranom.

------------------------------ ooo ------------------------------

PRABU KRESNA MENDAPAT SURAT LAMARAN DARI PRABU GAMBIRANOM

Prabu Kresna Wasudewa di Kerajaan Dwarawati memimpin pertemuan yang dihadiri sang putra mahkota Raden Samba Wisnubrata dari Paranggaruda, Arya Setyaki dari Swalabumi, dan Patih Udawa dari Widarakandang. Hadir pula sang kakak dari Kerajaan Mandura, yaitu Prabu Baladewa beserta Patih Pragota dan Arya Prabawa.

Ketika kedua raja kakak-beradik tersebut saling bertanya kabar, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang mengaku berasal dari Kerajaan Ngrancangkencana, bernama Patih Jayasentika. Laki-laki itu datang untuk menyampaikan surat dari rajanya yang bernama Prabu Gambiranom kepada Prabu Kresna.

Prabu Kresna menerima surat itu dan membaca isinya. Dalam surat tersebut Prabu Gambiranom memperkenalkan dirinya sebagai raja Ngrancangkencana yang masih muda belia dan belum memiliki permaisuri. Untuk itu, ia bermaksud meminang putri Prabu Kresna yang bernama Dewi Sitisundari sebagai istri.

Prabu Kresna lalu bertanya kepada Patih Jayasentika bagaimana rupa dan kesaktian Prabu Gambiranom tersebut. Patih Jayasentika berkata bahwa Prabu Gambiranom memang benar masih muda belia namun sangat sakti. Dengan kesaktiannya itu, Prabu Gambiranom telah merebut takhta Kerajaan Ngrancangkencana dari tangan Patih Jayasentika.

Prabu Baladewa ikut bertanya bagaimana bisa demikian. Patih Jayasentika bercerita bahwa raja Ngrancangkencana yang sesungguhnya adalah dirinya. Namun, tiba-tiba suatu hari datang dua pemuda bernama Gambiranom dan Nagasembada yang menantang dirinya bertarung. Prabu Jayasentika kalah dalam pertarungan tersebut dan merelakan takhta Kerajaan Ngrancangkencana diduduki oleh Gambiranom, sedangkan dirinya diturunkan pangkat menjadi patih.

Prabu Kresna berkata bahwa putrinya yang bernama Dewi Sitisundari telah menjadi istri keponakannya sendiri, yaitu Raden Abimanyu putra Raden Arjuna. Oleh sebab itu, Prabu Kresna tidak dapat menerima lamaran dari Prabu Gambiranom tersebut. Patih Jayasentika berkata dirinya tidak berani pulang ke Ngrancangkencana kalau tidak membawa serta Dewi Sitisundari. Prabu Baladewa menyela, bahwa Patih Jayasentika tidak perlu takut kepada Prabu Gambiranom. Justru apabila Patih Jayasentika bersedia menjadi sekutu Kerajaan Dwarawati dan Mandura, maka Prabu Baladewa bersedia membantunya merebut kembali takhta Kerajaan Ngrancangkencana dari tangan raja muda itu.

Patih Jayasentika menjawab tidak berani. Ia telah berhutang budi kepada Prabu Gambiranom, sehingga tidak bersedia untuk mengkhianati rajanya tersebut. Meskipun pangkatnya diturunkan, namun Patih Jayasentika bersyukur karena Prabu Gambiranom ternyata memimpin Kerajaan Ngrancangkencana dengan adil dan bijaksana, sehingga rakyatnya pun makmur. Oleh karena itu, maka Patih Jayasentika tidak berani pulang apabila tidak bersama Dewi Sitisundari. Jika pihak Kerajaan Dwarawati menghalangi, maka Patih Jayasentika terpaksa menggunakan kekerasan karena sudah diberi wewenang penuh oleh Prabu Gambiranom.

Prabu Baladewa marah mendengar jawaban Patih Jayasentika. Ia berkata bahwa Prabu Kresna adalah adiknya, maka dirinya berhak ikut campur dalam masalah ini. Jika Patih Jayasentika ingin menggunakan kekerasan, maka dirinya yang akan menghadapi. Bila perlu, silakan Prabu Gambiranom yang datang sekaligus, maka ia yang akan memberi pelajaran kepada raja muda yang sombong itu.

Patih Jayasentika menerima tantangan Prabu Baladewa, kemudian pamit undur diri kembali ke pasukannya. Prabu Baladewa lalu pamit pula kepada Prabu Kresna untuk memukul mundur pasukan Ngrancangkencana. Prabu Kresna berterima kasih atas bantuan sang kakak. Ia lalu memerintahkan Arya Setyaki dan Patih Udawa untuk ikut mendampingi Prabu Baladewa.

Prabu Kresna Wasudewa.

PERTEMPURAN PRABU BALADEWA MELAWAN PASUKAN NGRANCANGKENCANA

Prabu Baladewa bersama Arya Setyaki, Patih Udawa, Patih Pragota, dan Arya Prabawa membawa pasukan gabungan Dwarawati dan Mandura menyerang pihak lawan yang telah bersiaga siap tempur. Patih Jayasentika bersama pasukan Ngrancangkencana menyambut serangan tersebut. Pertempuran pun meletus. Patih Jayasentika dan pasukannya bukan lawan Prabu Baladewa. Mereka pun terdesak mundur hingga ke perbatasan Kerajaan Dwarawati.

Pada saat itulah Prabu Gambiranom dan saudaranya yang bernama Arya Nagasembada datang membantu Patih Jayasentika. Mereka juga datang bersama para prajurit perempuan yang disebut Pasukan Ladrangmungkung. Para prajurit wanita ini semua hasil didikan Prabu Gambiranom yang juga bertindak sebagai pengawal pribadinya. Dengan kedatangan mereka, pertempuran menjadi seimbang. Arya Nagasembada bertempur melawan Prabu Baladewa. Dalam pertarungan tersebut, Prabu Baladewa terlalu meremehkan lawan yang masih muda sehingga ia lengah dan dadanya pun terluka oleh semburan bisa dari mulut Arya Nagasembada.

Melihat kakak sepupunya pingsan dan terluka, Arya Setyaki segera menggendong Prabu Baladewa dan memerintahkan pasukan untuk mundur kembali ke ibu kota. Sesampainya di istana, Arya Setyaki melapor kepada Prabu Kresna tentang kekalahan mereka. Prabu Kresna lalu mengobati luka Prabu Baladewa menggunakan Kembang Wijayakusuma. Prabu Baladewa pun sembuh seketika dan marah-marah ingin kembali berperang melawan Arya Nagasembada. Prabu Kresna melarang kakaknya maju perang karena Prabu Baladewa tidak ditakdirkan untuk mengalahkan Prabu Gambiranom beserta pasukannya.

Prabu Baladewa pun meminta Prabu Kresna saja yang maju perang membunuh Prabu Gambiranom dan Arya Nagasembada, bukankah adiknya itu titisan Batara Wisnu? Bukankah Prabu Kresna tinggal melepaskan Senjata Cakra untuk memenggal kepala Prabu Gambiranom dan Arya Nagasembada? Prabu Kresna menjawab dirinya memang titisan Batara Wisnu tetapi tugasnya adalah menjaga ketertiban dunia, bukan membunuh orang. Senjata Cakra pun tidak boleh digunakan sembarangan.

Menurut ramalan Prabu Kresna, yang bisa mengalahkan Prabu Gambiranom dan Arya Nagasembada adalah para Pandawa. Oleh sebab itu, ia pun memerintahkan Raden Samba untuk meminta bantuan ke Kerajaan Amarta. Raden Samba menyembah sang ayah, lalu berangkat melaksanakan tugas.

Prabu Baladewa.

RADEN SAMBA MEMBERI TAHU RADEN ABIMANYU TENTANG PRABU GAMBIRANOM

Ketika menuju Kerajaan Amarta, Raden Samba bertemu Raden Abimanyu di tengah jalan yang sedang mengembara bersama para panakawan, Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong. Setelah saling bertukar salam, Raden Samba pun bercerita kepada adik iparnya itu bahwa Kerajaan Dwarawati telah kedatangan musuh bernama Prabu Gambiranom dari Kerajaan Ngrancangkencana. Musuh yang satu ini sangat sakti, bahkan Prabu Baladewa dapat dikalahkan dan terluka oleh mereka. Itulah sebabnya Prabu Kresna mengutus Raden Samba untuk meminta bantuan kepada para Pandawa di Kerajaan Amarta.

Raden Abimanyu bertanya apa yang menjadi penyebab Prabu Gambiranom menyerang Kerajaan Dwarawati. Raden Samba menjawab bahwa raja Ngrancangkencana tersebut ingin meminang Dewi Sitisundari sebagai istri. Mendengar itu, Raden Abimanyu tersulut amarahnya. Ia berkata bahwa perang ini adalah tanggung jawabnya, karena menyangkut Dewi Sitisundari yang sudah menjadi istrinya. Oleh sebab itu, Raden Samba tidak perlu merepotkan para Pandawa, cukup dirinya saja yang berangkat menghabisi Prabu Gambiranom.

Usai berkata demikian, Raden Abimanyu pun berangkat menuju Kerajaan Dwarawati. Raden Samba dan para panakawan tidak tega. Mereka lalu bersama-sama menyusul kepergian Raden Abimanyu.

Raden Samba Wisnubrata.

PRABU GAMBIRANOM MENANGKAP RADEN ABIMANYU

Dengan berjalan tergesa-gesa, Raden Abimanyu akhirnya memasuki perbatasan Kerajaan Dwarawati. Tiba-tiba ia disergap pasukan wanita Ladrangmungkung yang dipimpin Patih Jayasentika. Karena Raden Abimanyu lengah, ia pun dapat ditangkap menggunakan jala sutra, lalu diikat dan dihadapkan kepada Prabu Gambiranom.

Raden Samba dan para panakawan yang menyaksikan dari kejauhan terkejut melihat Raden Abimanyu dapat ditangkap Prabu Gambiranom. Raden Samba ingin menolong, namun dicegah Kyai Semar karena itu sama saja dengan mengantarkan nyawa. Kyai Semar menyarankan agar Raden Samba kembali pada perintah ayahnya, yaitu meminta bantuan para Pandawa.

Raden Samba menerima saran Kyai Semar. Mereka lalu bersama-sama pergi menuju Kerajaan Amarta.

Raden Abimanyu.

DEWI ULUPI INGIN MENYUSUL BAMBANG IRAWAN

Di Padepokan Yasarata, Resi Jayawilapa dihadap Dewi Ulupi. Mereka membicarakan tentang Bambang Irawan yang sudah lama pergi meninggalkan padepokan bersama Raden Antareja, namun sampai sekarang belum ada kabarnya. Dewi Ulupi merasa rindu kepada putranya itu. Meskipun Bambang Irawan sangat nakal, tetapi sebagai seorang ibu, Dewi Ulupi tetap tidak tega jika putranya mendapat kesulitan di jalan.

Oleh sebab itu, Dewi Ulupi pun mohon pamit ingin menyusul Bambang Irawan ke Kerajaan Amarta. Resi Jayawilapa memahami perasaan putrinya. Namun, ia mendapat firasat bahwa cucunya itu tidak berada di Kerajaan Amarta, melainkan berada di Kerajaan Dwarawati. Untuk itu, Resi Jayawilapa pun mengajak Dewi Ulupi untuk berangkat menuju negeri tersebut. Tidak lupa mereka pun membawa serta pusaka Daun Kastuba untuk berjaga-jaga. Khasiat daun ini adalah dapat menyembuhkan segala macam penyakit, bahkan menghidupkan kembali orang yang mati sebelum waktunya.

Dewi Ulupi.

RADEN SAMBA MELAPOR KEPADA PARA PANDAWA

Di Kerajaan Amarta, Prabu Puntadewa dihadap adik-adiknya, yaitu Arya Wrekodara, Raden Arjuna, Raden Nakula, dan Raden Sadewa, serta Patih Tambakganggeng dan Raden Gatutkaca. Tidak lama kemudian Raden Samba datang menghadap bersama para panakawan. Mereka melaporkan tentang Raden Abimanyu yang ditangkap Prabu Gambiranom di perbatasan Kerajaan Dwarawati.

Prabu Puntadewa bertanya siapakah sebenarnya Prabu Gambiranom itu. Raden Samba pun bercerita bahwa raja tersebut datang ke Kerajaan Dwarawati untuk meminang Dewi Sitisundari. Karena Prabu Kresna mengatakan bahwa Dewi Sitisundari sudah menikah dengan Raden Abimanyu, utusan Prabu Gambiranom tidak terima dan mengepung Kerajaan Dwarawati. Prabu Baladewa yang kebetulan berkunjung ikut berperang melawan mereka tetapi lengah dan terluka oleh semburan bisa kawan Prabu Gambiranom yang bernama Arya Nagasembada.

Prabu Kresna lalu memerintahkan Raden Samba untuk meminta bantuan para Pandawa. Namun, di tengah jalan ia bertemu Raden Abimanyu. Mendengar apa yang terjadi di Kerajaan Dwarawati dan juga menyangkut nama istrinya, Raden Abimanyu tidak terima dan berangkat menyerang Prabu Gambiranom. Namun, Prabu Gambiranom dapat meringkus dan menawan Raden Abimanyu.

Arya Wrekodara dan Raden Arjuna marah mendengar berita itu. Arya Wrekodara menyalahkan Prabu Kresna sebagai titisan Batara Wisnu mengapa tidak becus mengatasi musuh yang menyerang Kerajaan Dwarawati. Prabu Puntadewa melarang adiknya menghina Prabu Kresna. Prabu Puntadewa memahami watak Prabu Kresna yang sangat percaya pada karma dan takdir. Apabila Prabu Kresna tidak ditakdirkan mengalahkan seseorang, maka ia tidak akan pernah mau berperang melawan orang itu. Jika Prabu Kresna mengutus Raden Samba untuk meminta bantuan para Pandawa, itu berarti memang para Pandawa yang diramalkan bisa mengalahkan Prabu Gambiranom dan pasukannya.

Arya Wrekodara menerima penjelasan tersebut. Ia ganti memarahi Raden Samba yang tidak teguh dalam menjalankan tugas, sehingga Raden Abimanyu jatuh ke tangan musuh. Raden Samba memohon ampun karena dia memang bersalah tidak berani mencegah Raden Abimanyu berangkat ke Kerajaan Dwarawati.

Arya Wrekodara lalu menyatakan sanggup mengatasi Prabu Gambiranom. Ia pun meminta restu Prabu Puntadewa untuk berperang melawan musuh dari Ngrancangkencana tersebut. Prabu Puntadewa merestui lalu memerintahkan Raden Arjuna dan Raden Gatutkaca agar ikut berangkat pula.

Arya Wrekodara.

RADEN ARJUNA MENGHADAPI PRABU GAMBIRANOM

Raden Arjuna, Arya Wrekodara, Raden Gatutkaca, dan Raden Samba telah sampai di tempat perkemahan Prabu Gambiranom. Mereka meminta Prabu Gambiranom untuk membebaskan Raden Abimanyu. Prabu Gambiranom bersedia membebaskan Raden Abimanyu, asalkan ditukar dengan Dewi Sitisundari.

Raden Gatutkaca tidak terima mendengar jawaban itu dan segera maju menyerang lebih dulu. Ia segera disambut Arya Nagasembada dan dalam sekejap mereka berdua pun terlibat pertarungan. Patih Jayasentika dan pasukan Ngrancangkencana maju pula dan berhadapan dengan Arya Wrekodara.

Prabu Gambiranom dan Raden Arjuna kemudian terlibat pertarungan pula. Keduanya tampak seimbang dan sama-sama kuat. Namun, Raden Arjuna jauh lebih berpengalaman daripada Prabu Gambiranom yang masih muda belia. Ia berhasil menemukan celah kelemahan lawannya itu dan membuat Prabu Gambiranom terdesak kewalahan.

Prabu Gambiranom lalu memerintahkan pasukan Ladrangmungkung untuk mengepung Raden Arjuna. Para prajurit wanita itu pun membidikkan panah masing-masing ke arah Raden Arjuna. Sudah menjadi watak Raden Arjuna yang tidak tega melukai perempuan, apalagi pasukan Ladrangmungkung ini rata-rata berwajah cantik. Bukannya menyerang mereka, Raden Arjuna justru merayu para prajurit wanita itu. Para prajurit perempuan tersebut gemetar sehingga beberapa di antara mereka tak sengaja melepaskan panah. Raden Arjuna tidak sempat menghindar dan ia pun roboh di tanah terkena panah-panah itu.

Raden Arjuna.

DEWI ULUPI MELERAI PERTEMPURAN

Di sisi lain, Arya Wrekodara berhasil meringkus Patih Jayasentika dan mengalahkan semua pasukannya. Sementara itu, Raden Gatutkaca dan Arya Nagasembada masih bertarung sengit tanpa diketahui siapa yang menang, siapa yang kalah. Raden Gatutkaca yang gesit mampu menghindari semua bisa yang disemburkan oleh Arya Nagasembada. Namun, tiba-tiba mereka melihat Raden Arjuna roboh di tanah terkena sejumlah anak panah yang dilepaskan pasukan Ladrangmungkung, membuat pertempuran pun terhenti sejenak.

Pada saat itulah Dewi Ulupi datang bersama Resi Jayawilapa. Mereka terkejut melihat Raden Arjuna sudah tidak bernapas lagi dan jantungnya berhenti. Dewi Ulupi segera mengeluarkan pusaka Daun Kastuba untuk diusapkan ke luka-luka suaminya itu. Seketika Raden Arjuna hidup kembali dan pulih seperti sediakala.

Dewi Ulupi lalu menantang Prabu Gambiranom. Jika ingin melukai, maka melukai dirinya saja, jangan melukai ayah sendiri. Prabu Gambiranom gemetar mendengar tantangan itu. Seketika penyamarannya pun terbongkar. Ia tidak lain adalah penjelmaan Bambang Irawan, putra Dewi Ulupi sendiri dengan Raden Arjuna.

Melihat ibunya yang datang, Bambang Irawan segera berlutut dan menyembah kaki Dewi Ulupi. Ia juga memohon maaf kepada Raden Arjuna karena telah menyebabkan ayahnya itu terluka dan mati suri.

Bambang Irawan.

BAMBANG IRAWAN DAN RADEN ANTAREJA DITERIMA PARA PANDAWA

Melihat Prabu Gambiranom telah membuka penyamaran dan kembali menjadi Bambang Irawan, Arya Wrekodara segera mendatangi Arya Nagasembada dan memerintahkannya untuk membuka penyamaran pula. Arya Nagasembada sangat malu dan ia pun kembali menjadi Raden Antareja. Arya Wrekodara marah menuduh anak sulungnya itu berniat buruk ingin mengacau kedamaian. Ketika Arya Wrekodara hendak memukul Raden Antareja, tiba-tiba datang Prabu Kresna dan Prabu Baladewa melerai.

Raden Antareja mohon ampun pada Arya Wrekodara atas kesalahannya membantu Bambang Irawan menyamar sebagai Prabu Gambiranom. Prabu Kresna lalu bertanya mengapa Bambang Irawan menciptakan masalah ini? Apakah ia memang benar-benar ingin memperistri Dewi Sitisundari? Apakah ia tidak tahu kalau Dewi Sitisundari sudah menjadi istri Raden Abimanyu?

Bambang Irawan menjawab dirinya sama sekali tidak berniat menikahi Dewi Sitisundari. Lamaran yang ia kirimkan melalui Patih Jayasentika hanyalah alasan belaka untuk menciptakan masalah. Terus terang, Bambang Irawan kecewa karena usahanya ingin menyenangkan para Pandawa melalui kegiatan mencuri di Kerajaan Hastina beberapa bulan yang lalu ternyata tidak dianggap. Bahkan, ia justru diusir Raden Arjuna tidak boleh datang ke Kesatrian Madukara. Saat itu ia merasa iri kepada Raden Abimanyu yang selalu berada di sisi sang ayah. Maka, ia pun membuat masalah dengan menyamar sebagai Prabu Gambiranom dan pura-pura melamar Dewi Sitisundari, istri Raden Abimanyu. Kebetulan pamannya yang bernama Prabu Jayasentika menjadi raja di Ngrancangkencana, sehingga ia pun bisa meminjam takhta untuk sementara.

Arya Wrekodara lalu bertanya apakah Raden Antareja juga merasa iri kepada Raden Gatutkaca, sama seperti Bambang Irawan yang iri kepada Raden Abimanyu? Raden Antareja menjawab jujur bahwa ia memang iri kepada Raden Gatutkaca yang bisa mengabdi sebagai punggawa di Kerajaan Amarta, sedangkan dirinya tidak diterima. Itulah sebabnya, ia mendukung rencana Bambang Irawan untuk pura-pura berperang dengan Kerajaan Dwarawati hanya demi untuk memamerkan kesaktiannya kepada Prabu Kresna dan para Pandawa. Tujuannya hanya satu, ia ingin diterima sebagai punggawa Kerajaan Amarta.

Prabu Baladewa yang pernah terluka oleh semburan bisa Raden Antareja sama sekali tidak merasa dendam, melainkan justru bangga melihat kesaktian keponakannya itu. Maka, ia pun ikut membujuk Arya Wrekodara agar menerima Raden Antareja mengabdi sebagai punggawa sama seperti Raden Gatutkaca. Raden Gatutkaca juga ikut senang apabila Raden Antareja menjadi punggawa seperti dirinya, sehingga mereka bisa bekerja sama saling membantu. Ia tidak ingin sang kakak menyimpan iri kepadanya, karena rasa iri bisa tumbuh menjadi dengki, dan akhirnya menimbulkan kebencian antarsaudara. Raden Antareja meminta maaf dan berjanji tidak akan pernah dengki kepada adiknya itu.

Arya Wrekodara melihat keinginan Raden Antareja tulus, maka ia pun berjanji akan membantu membujuk Prabu Puntadewa agar menerima pengabdian putra sulungnya itu. Mendengar janji ayahnya, Raden Antareja sangat berterima kasih dan berlutut mencium kaki Arya Wrekodara.

Sementara itu, Raden Arjuna masih marah atas kenakalan Bambang Irawan yang berani menyerang Kerajaan Dwarawati dan juga menawan kakaknya sendiri. Bambang Irawan pun memerintahkan pasukan Ladrangmungkung untuk membebaskan Raden Abimanyu. Setelah Raden Abimanyu muncul, Bambang Irawan segera meminta maaf karena telah berlaku kurang ajar terhadap kakak sendiri. Ia sama sekali tidak ingin mengganggu Dewi Sitisundari, melainkan hanya ingin memamerkan kesaktian saja. Raden Abimanyu pun memaafkan. Kedua saudara itu lalu saling berpelukan.

Prabu Kresna menasihati Raden Arjuna agar jangan terlalu menyalahkan Bambang Irawan. Ia hanyalah anak muda yang merindukan kasih sayang seorang ayah. Alangkah baiknya jika Raden Arjuna berlaku adil, jangan hanya menyayangi Raden Abimanyu saja, tetapi juga harus menyayangi Bambang Irawan dan anak-anak yang lain pula. Raden Arjuna sadar atas kekeliruannya. Ia pun memeluk Bambang Irawan dan memaafkan semua kesalahan putranya itu. Ia juga meminta maaf karena telah mengusir Bambang Irawan tempo hari.

Raden Antareja.

PRABU KRESNA MENJODOHKAN BAMBANG IRAWAN DENGAN PUTRINYA YANG LAIN

Setelah Raden Arjuna dan Bambang Irawan berdamai, Patih Jayasentika maju dan menyembah kaki Resi Jayawilapa, serta memberi hormat kepada Dewi Ulupi. Resi Jayawilapa mengenali putranya itu yang tidak lain adalah Bambang Ratnasentika, yang sudah lama pergi meninggalkan Padepokan Yasarata. Melihat putranya itu menghaturkan sembah untuknya, hati Resi Jayawilapa diliputi rasa haru dan ia pun memeluk Patih Jayasentika dengan erat. Segala persoalan antara mereka di masa lalu telah luluh di hari itu.

Bambang Irawan berterima kasih atas bantuan Patih Jayasentika selama ini. Ia pun mengembalikan takhta Kerajaan Ngrancangkencana yang ia pinjam dari pamannya tersebut. Maka, sejak saat itu Patih Jayasentika kembali bergelar Prabu Jayasentika.

Prabu Kresna senang masalah ini telah selesai. Terus terang ia senang melihat kenakalan Bambang Irawan, karena itu mengingatkan pada kenakalannya di masa muda dulu. Prabu Kresna pun berkenan untuk mengambil Bambang Irawan sebagai menantu. Biarlah pemuda nakal menjadi menantu mertua nakal. Ia bercerita bahwa istri yang nomor dua, yaitu Dewi Rukmini memiliki seorang putri yang tidak kalah cantik dibanding Dewi Sitisundari. Putri Prabu Kresna yang hendak dijodohkan dengan Bambang Irawan itu bernama Dewi Titisari.

Bambang Irawan dan juga Raden Arjuna berterima kasih atas perjodohan tersebut. Prabu Kresna lalu mengajak mereka semua untuk bersama-sama mengadakan pesta syukuran di Kerajaan Dwarawati.

Prabu Jayasentika.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------

  
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya



Untuk kisah perkawinan Raden Abimanyu dan Dewi Sitisundari dapat dibaca di sini

















Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Irawan Maling

 No comments   



Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antareja. Karena ulah mereka, Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca pun menjadi tersangka akibat fitnah para Kurawa.

Kisah ini saya olah dari keterangan Ki Rudy Wiratama, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, Oktober 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini
 
Bambang Irawan.

------------------------------ ooo ------------------------------

PRABU DURYUDANA MEMBAHAS TENTANG PENCURIAN DI KERAJAAN HASTINA

Prabu Duryudana di Kerajaan Hastina memimpin pertemuan dihadap Danghyang Druna dari Sokalima, Adipati Karna dari Awangga, Patih Sangkuni dari Plasajenar, dan Raden Kartawarma dari Tirtatinalang. Mereka membahas tentang adanya peristwa pencurian yang beberapa kali melanda ibu kota Kerajaan Hastina. Si pencuri berani mendatangi tempat tinggal para Kurawa dan juga para pejabat kerajaan untuk diambil harta bendanya. Pencuri ini sangat lihai dan sulit ditangkap. Ia bahkan berani meninggalkan tulisan di dinding rumah yang dicurinya, di mana tulisan itu berbunyi: Bambang Jaganala.

Patih Sangkuni berkata bahwa selama lima belas hari ini ada belasan rumah dan kesatrian yang didatangi pencuri tersebut. Para Kurawa yang melapor telah kehilangan harta benda, antara lain Raden Citraksa, Raden Citraksi, Raden Surtayu, Raden Durjaya, Raden Durmuka, dan Raden Durmagati, semuanya sudah didatangi Bambang Jaganala yang meninggalkan tulisan di dinding.

Prabu Duryudana marah-marah atas kejadian ini. Ia kecewa pada para pejabat yang dianggap tidak becus menjaga keamanan ibu kota. Patih Sangkuni melimpahkan kesalahan pada Adipati Karna selaku panglima angkatan perang, yang bertanggung jawab membawahi para prajurit Kerajaan Hastina. Maka, urusan keamanan negara menjadi tugas Adipati Karna. Adipati Karna tidak terima dan menyanggah tuduhan Patih Sangkuni. Dirinya memang panglima angkatan perang, tetapi tugasnya adalah mempertahankan negara dari ancaman musuh. Pasukan yang ia bawahi hanyalah tentara angkatan darat dan angkatan laut saja. Adapun urusan keamanan adalah tanggung jawab pasukan bayangkara, dan itu berada di bawah kendali Patih Sangkuni.

Prabu Duryudana semakin marah. Bukannya mau mengakui kesalahan, tetapi para pejabatnya justru saling menyalahkan satu dengan yang lain. Jika terus-terusan seperti ini, maka masalah tidak akan selesai bahkan bertambah rumit. Adipati Karna teringat dirinya telah bersumpah setia kepada Prabu Duryudana, maka ia akhirnya menyanggupi untuk menangkap pencuri tersebut. Prabu Duryudana senang mendengarnya dan ia pun menugasi kakak iparnya itu untuk meringkus Bambang Jaganala hidup atau mati.

Prabu Duryudana.

PRABU DURYUDANA MENERIMA KUNJUNGAN RAJA NGRANCANGKENCANA

Tidak lama kemudian, datang seorang raja yang mengaku bernama Prabu Jayasentika dari Kerajaan Ngrancangkencana. Ia datang ke Kerajaan Hastina karena mendengar berita bahwa Prabu Duryudana mempunyai seorang putri yang cantik, bernama Dewi Lesmanawati. Prabu Jayasentika pun tertarik dan ingin menjadikannya sebagai permaisuri.

Prabu Duryudana menjawab dirinya memang memiliki dua orang anak. Yang pertama laki-laki, bernama Raden Lesmana Mandrakumara, sedangkan yang bungsu perempuan bernama Dewi Lesmanawati. Menurut Prabu Duryudana, Dewi Lesmanawati baru saja menginjak usia remaja. Tentunya belum pantas jika menikah sekarang. Oleh sebab itu, Prabu Duryudana belum dapat menerima pinangan Prabu Jayasentika.

Patih Sangkuni menyela ikut bicara. Alangkah baiknya Prabu Jayasentika diberi kesempatan untuk membuktikan kesungguhan hatinya. Beberapa hari ini ibu kota Kerajaan Hastina didatangi pencuri bernama Bambang Jaganala. Jika Prabu Jayasentika benar-benar ingin menjadi anggota keluarga Kerajaan Hastina, maka ia harus bisa menangkap pencuri bernama Bambang Jaganala itu, hidup atau mati.

Prabu Duryudana tertarik pada usulan Patih Sangkuni. Ia pun berjanji akan menerima Prabu Jayasentika sebagai menantu asalkan bisa meringkus pencuri bernama Bambang Jaganala tersebut. Mendengar itu, Adipati Karna merasa tidak dihargai. Bukankah tadi Prabu Duryudana sudah setuju menugasi dirinya yang menangkap Bambang Jaganala, lalu mengapa sekarang dialihkan kepada orang lain? Merasa disisihkan, Adipati Karna pun mohon pamit pulang ke Kadipaten Awangga.

Prabu Duryudana hafal watak Adipati Karna yang mudah tersinggung tetapi tidak mungkin mengkhianati dirinya. Maka, ia tetap menugasi Prabu Jayasentika untuk mulai memburu si pencuri lihai bernama Bambang Jaganala tersebut. Setelah dirasa cukup, pertemuan hari itu pun dibubarkan.

Adipati Karna.

BAMBANG JAGANALA DAN PUTUT JAYABADRA MERENCANAKAN PENCURIAN DI ISTANA HASTINA

Si pencuri yang bernama Bambang Jaganala ternyata masih muda belia dan berwajah tampan. Ia memiliki kakak angkat bernama Putut Jayabadra yang berbadan gagah perkasa. Malam ini Bambang Jaganala berniat melakukan pencurian langsung di istana tempat tinggal Prabu Duryudana, bukan lagi di tempat para pangeran Kurawa seperti kemarin-kemarin.

Putut Jayabadra bertanya apakah tidak sebaiknya Bambang Jaganala berhenti mencuri saja, karena melakukan pencurian di istana Prabu Duryudana tentu sangat berbahaya. Penjagaan di istana sudah pasti lebih ketat daripada di kesatrian. Namun, Bambang Jaganala tidak peduli. Prabu Duryudana sudah sering bertindak jahat menindas rakyat, menarik pajak dengan sewenang-wenang, menjebloskan orang ke dalam penjara sesuka hati, maka kini saatnya untuk membalaskan dendam mereka. Bambang Jaganala merasa belum puas jika belum merampok harta kekayaan raja Kurawa tersebut untuk dibagi-bagikan kepada rakyat jelata yang selama ini sudah banyak menderita. Kerajaan Hastina adalah negeri besar, tetapi yang kaya raya adalah para bangsawan dan pejabatnya saja, sedangkan rakyat jelata di pedesaan hidup melarat.

Putut Jayabadra tidak dapat membantah keinginan Bambang Jaganala. Sejak berangkat meninggalkan padepokan, ia sudah berjanji kepada gurunya yang juga kakek Bambang Jaganala, bahwa ia akan selalu menjaga keselamatan adik angkatnya tersebut. Maka, setelah keduanya sepakat, mereka pun berangkat menyusup ke dalam istana Kerajaan Hastina malam itu juga.

BAMBANG JAGANALA MERAYU DEWI LESMANAWATI

Putut Jayabadra memiliki kesaktian mampu amblas ke dalam bumi dan membuat lubang bawah tanah. Begitu muncul di permukaan, ia dan Bambang Jaganala sudah berada di dalam kaputren. Tampak Dewi Lesmanawati sedang duduk sendiri. Gadis yang baru saja beranjak remaja tersebut berwajah cantik seperti ibunya, yaitu Dewi Banuwati. Bambang Jaganala tertarik melihatnya. Ia lalu mendekat dan merayu gadis itu.

Dewi Lesmanawati yang tidak mempunyai pengalaman soal asmara seketika jatuh cinta melihat Bambang Jaganala yang tampan rupawan. Bambang Jaganala pun semakin gencar dalam merayu, membuat Putut Jayabadra kesal karena adik angkatnya itu melupakan tujuan awal.

Bambang Jaganala meminta Putut Jayabadra pergi lebih dulu untuk mengambil harta kekayaan Kerajaan Hastina, dan nanti ia akan menyusul setelah urusan dengan Dewi Lesmanawati selesai. Putut Jayabadra pun kembali membuat lubang bawah tanah dan meninggalkan kaputren melalui lubang tersebut.

Setelah kakaknya pergi, Bambang Jaganala kembali menggoda Dewi Lesmanawati dengan segala bujuk rayunya. Dewi Lesmanawati semakin terlena dan ia pun menyerahkan jiwa raganya kepada pemuda tampan yang baru saja dikenalnya tersebut. Keduanya lalu masuk ke dalam kamar melampiaskan hasrat masing-masing.

PARA KURAWA MENGEPUNG DUA PENYUSUP

Sementara itu, Putut Jayabadra telah memasuki ruang penyimpanan harta benda milik Prabu Duryudana. Ia pun mengambil perhiasan dan emas permata untuk kemudian dimasukkan ke dalam kantong yang sudah dipersiapkan. Tiba-tiba ia dipergoki Raden Kartawarma yang sedang meronda bersama Bambang Aswatama. Putut Jayabadra pun membela diri saat hendak ditangkap. Maka, terjadilah pertempuran di depan ruang penyimpanan harta tersebut. Meskipun hanya sendiri namun Putut Jayabadra dengan tangkas mampu menghadapi mereka semua.

Para Kurawa lainnya berdatangan ikut mengeroyok Putut Jayabadra. Lama-lama Putut Jayabadra terdesak kewalahan. Namun, tiba-tiba Bambang Jaganala datang membantu. Ia melepas hewan-hewan peliharaan Prabu Duryudana, termasuk Gajah Murdaningkung untuk mengacau para Kurawa.

Dengan adanya gajah, kuda, macan, dan sebagainya yang berlarian ke sana kemari, membuat para Kurawa berhamburan ke segala arah. Putut Jayabadra dan Bambang Jaganala kemudian melompat ke atas punggung Gajah Murdaningkung dan mengendarai hewan tersebut untuk kabur meninggalkan istana Kerajaan Hastina sambil membawa harta curian mereka.

Raden Kartawarma.

PATIH SANGKUNI MEMBUAT LAPORAN PALSU

Prabu Duryudana datang ke tempat kejadian dan marah-marah melihat penjagaan di istana begitu kendor sehingga Bambang Jaganala dapat menyusup dan kabur sesuka hati. Prabu Jayasentika juga ikut datang dan bertanya apa yang baru saja terjadi. Prabu Duryudana marah kepadanya yang tadi menyatakan sanggup menangkap Bambang Jaganala. Prabu Jayasentika merasa malu dan segera mohon pamit mengejar pencuri tersebut.

Prabu Duryudana lalu menanyai para Kurawa tentang ciri-ciri Bambang Jaganala. Raden Kartawarma menjawab, pencurinya ada dua orang. Bambang Jaganala berwajah tampan dan agak kurus, sedangkan temannya berbadan gagah, bernama Putut Jayabadra. Patih Sangkuni yang juga hadir merasa malu karena dimarahi Prabu Duryudana. Ia pun mengarang laporan palsu dengan mengatakan bahwa tadi ia sempat melihat sosok kedua maling tersebut. Ia yakin, Bambang Jaganala adalah Raden Abimanyu yang sedang menyamar, sedangkan Putut Jayabadra adalah penyamaran Raden Gatutkaca.

Prabu Duryudana semakin marah karena yang berani mencuri di istananya ternyata para putra Pandawa. Ia lalu memerintahkan Patih Sangkuni untuk melaporkan hal ini kepada Prabu Puntadewa, agar kedua pemuda itu dihukum berat oleh orang tuanya sendiri.

Patih Sangkuni senang menerima perintah tersebut. Ia pun bergegas pergi menuju Kerajaan Amarta dengan ditemani para Kurawa.

Patih Sangkuni.

PATIH SANGKUNI MELAPOR KEPADA PRABU PUNTADEWA

Di Kerajaan Amarta, Prabu Puntadewa dihadap adik-adiknya, yaitu Arya Wrekodara, Raden Nakula, dan Raden Sadewa. Hadir pula Prabu Kresna Wasudewa yang berkunjung dari Kerajaan Dwarawati. Tiba-tiba Patih Sangkuni datang dengan tergesa-gesa. Setelah saling memberi salam, Patih Sangkuni pun bercerita bahwa Kerajaan Hastina baru saja didatangi dua orang pencuri. Kedua pencuri ini telah membawa kabur emas permata dan juga Gajah Murdaningkung milik Prabu Duryudana. Menurut keterangan para Kurawa yang memergoki kejadian tersebut, kedua pencuri ini yang satu berwajah mirip Raden Abimanyu, dan yang satu lagi berwajah mirip Raden Gatutkaca.

Arya Wrekodara terkejut mendengarnya. Ia segera mohon diri keluar istana, lalu kembali lagi dengan membawa serta Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca. Kedua pemuda itu pun dihadapkan kepada Prabu Puntadewa agar mengakui perbuatan mereka. Raden Arjuna juga ikut hadir di belakang mereka.

Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca tidak tahu-menahu ada masalah apa yang sedang menimpa diri mereka. Prabu Puntadewa pun bertanya apakah benar mereka berdua baru saja mencuri di Kerajaan Hastina. Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca serentak menjawab tidak. Raden Arjuna membenarkan hal itu karena sejak tadi mereka berdua mengunjungi dirinya di Kesatrian Madukara.

Patih Sangkuni menyindir di dunia ini mana ada maling yang mengaku. Semua pelaku kejahatan yang tertangkap rata-rata mengarang cerita untuk menutupi perbuatan mereka. Lagipula Raden Arjuna sudah pasti melindungi kesalahan putra dan menantunya. Boleh dikatakan Raden Arjuna telah bersekongkol dengan kedua pencuri tersebut. Patih Sangkuni meminta Prabu Puntadewa untuk tidak mudah percaya begitu saja pada ucapan mereka bertiga.

Arya Wrekodara marah dan berkata Patih Sangkuni tidak perlu ikut campur memengaruhi keputusan kakaknya. Jika memang benar Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca bersalah, maka Arya Wrekodara sendiri yang akan menghukum mereka dengan berat. Tapi jika tidak terbukti, maka Kerajaan Hastina harus meminta maaf atas fitnah ini.

Prabu Puntadewa lalu meminta pertimbangan Prabu Kresna. Prabu Kresna menjawab, Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca harus bisa membuktikan bahwa diri mereka tidak bersalah. Jika mereka dapat menangkap kedua pencuri tersebut, maka keduanya akan terbebas dari jerat hukum. Selama tidak mampu menangkap kedua pencuri itu, maka mereka berdua tidak boleh pulang ke Kerajaan Amarta. Prabu Puntadewa setuju dan menetapkan keputusan demikian supaya dijalankan oleh kedua keponakannya tersebut.

Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca terkejut mendengar keputusan ini. Mereka yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba saja harus membersihkan diri dari tuduhan fitnah. Arya Wrekodara menasihati keduanya agar jangan mengeluh. Sebagai kesatria, mereka harus siap menjalankan tugas apa pun itu. Segala peristiwa yang terjadi jangan dianggap sebagai kesulitan, tetapi hendaknya dianggap sebagai sarana untuk mendewasakan diri dan menambah pengalaman hidup.

Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca menerima nasihat tersebut dengan sukacita. Raden Arjuna juga menambahkan, bahwa kedua pencuri tersebut pasti orang sakti karena bisa menyusup ke dalam istana Kerajaan Hastina dengan mudah. Oleh sebab itu, Raden Arjuna berniat meminjamkan panah pusaka Sarotama kepada Raden Abimanyu sebagi senjata untuk meringkus Bambang Jaganala dan Putut Jayabadra.

Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca berterima kasih. Mereka lalu mohon pamit untuk berangkat menangkap kedua pencuri itu. Setelah mereka pergi, Patih Sangkuni mohon pamit pula kembali ke Kerajaan Hastina, sedangkan Prabu Kresna mengajak Arya Wrekodara dan Raden Arjuna mengawasi kedua putra mereka dari kejauhan.

Prabu Puntadewa.

BAMBANG JAGANALA DAN PUTUT JAYABADRA MEMBAGI-BAGIKAN HARTA CURIAN

Sementara itu, Bambang Jaganala dan Putut Jayabadra telah melarikan diri meninggalkan Kerajaan Hastina dengan mengendarai Gajah Murdaningkung. Mereka melewati desa-desa miskin dan membagi-bagikan emas permata yang telah mereka curi. Para penduduk pun berterima kasih dan banyak memuju-muji kedua pemuda tersebut.

Setelah harta benda mereka bagi-bagikan, Putut Jayabadra lalu mengajak Bambang Jaganala untuk pergi ke Kerajaan Amarta mencari ayah mereka. Namun, Bambang Jaganala masih belum puas. Ia masih ingin berbuat lebih banyak jasa sebagai bekal untuk bertemu sang ayah. Oleh sebab itu, ia mengajak kakak angkatnya itu untuk kembali mencuri. Namun, Putut Jayabadra tidak setuju atas usulan ini.

Raden Antareja.

PRABU JAYASENTIKA BERTARUNG MENGHADAPI BAMBANG JAGANALA

Ketika Putut Jayabadra dan Bambang Jaganala sedang sibuk berdebat apakah harus mencuri lagi atau tidak, tiba-tiba muncul Prabu Jayasentika dan pasukannya mengepung mereka. Prabu Jayasentika mengatakan dirinya telah mendapat mandat dari Prabu Duryudana untuk meringkus kedua pencuri dan membawa pulang Gajah Murdaningkung. Apabila berhasil, maka ia bisa menikahi Dewi Lesmanawati, putri Prabu Duryudana.

Bambang Jaganala tertawa mengatakan bahwa Dewi Lesmanawati sudah tidur dengannya sehingga Prabu Jayasentika hanya tinggal mendapat sisa belaka. Prabu Jayasentika marah dan menyerang Bambang Jaganala. Keduanya lalu bertarung sengit satu lawan satu. Sementara itu, Putut Jayabadra seorang diri bertempur melawan pasukan Kerajaan Ngrancangkencana.

Prabu Jayasentika dan Bambang Jaganala saling mengadu kesaktian. Selang agak lama, mereka baru sadar kalau ilmu kesaktian yang mereka gunakan ternyata sama persis. Prabu Jayasentika mengerahkan ilmu apa, dapat diimbangi Bambang Jaganala dengan ilmu yang sama pula.

Prabu Jayasentika lalu bertanya ada hubungan apa antara Bambang Jaganala dengan Resi Jayawilapa di Padepokan Yasarata. Bambang Jaganala menjawab, Resi Jayawilapa adalah kakeknya. Prabu Jayasentika lalu bertanya lagi, ada hubungan apa antara Bambang Jaganala dengan Endang Ulupi. Bambang Jaganala menjawab, Endang Ulupi adalah ibu kandungnya.

Mendengar jawaban tersebut, Prabu Jayasentika langsung luluh dan membuang senjatanya. Ia berkata bahwa Bambang Jaganala adalah keponakannya sendiri, karena ia adalah adik kandung Endang Ulupi. Bambang Jaganala agak bimbang. Ia berkata bahwa ibunya memang pernah bercerita memiliki adik yang sudah lama pergi meninggalkan padepokan, tetapi nama adiknya itu adalah Bambang Ratnasentika, bukan Prabu Jayasentika.

Prabu Jayasentika menjawab nama aslinya memang Bambang Ratnasentika. Dahulu kala ia pernah berselisih paham dengan ayahnya sendiri, yaitu Resi Jayawilapa sehingga memutuskan kabur meninggalkan Padepokan Yasarata. Saat itu kakaknya, yaitu Endang Ulupi masih belum menikah. Bambang Ratnasentika pun pergi berkelana sendiri. Berkat usaha dan kerja kerasnya, ia berhasil mendirikan negara kecil bernama Kerajaan Ngrancangkencana. Bambang Ratnasentika sebenarnya rindu pada ayah dan kakaknya itu, namun ia malu untuk pulang ke Padepokan Yasarata. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengganti nama menjadi Prabu Jayasentika, agar mirip dengan nama Resi Jayawilapa.

Mendengar itu, Bambang Jaganala pun maju dan memeluk Prabu Jayasentika. Putut Jayabadra dan para prajurit Ngrancangkencana heran dan seketika berhenti bertempur untuk kemudian mendekati mereka. Bambang Jaganala pun menjelaskan kepada Putut Jayabadra bahwa Prabu Jayasentika ternyata adalah pamannya sendiri yang sudah lama meninggalkan padepokan.

Bambang Jaganala lalu bercerita bahwa nama aslinya adalah Bambang Irawan, sedangkan ayahnya bernama Raden Arjuna dari keluarga Pandawa. Ia lalu memperkenalkan kakak angkatnya, yaitu Putut Jayabadra, murid Resi Jayawilapa yang mempunyai nama asli Raden Antareja. Kakak angkatnya ini adalah putra kesatria Pandawa yang nomor dua, yaitu Arya Wekodara. Bambang Irawan dan Raden Antareja berniat membuat jasa sebelum menemui ayah-ayah mereka, yaitu dengan cara mencuri harta benda Kerajaan Hastina dan membagi-bagikannya kepada rakyat miskin.

Prabu Jayasentika merestui keponakannya semoga berhasil dan diterima menjadi bagian dari keluarga Pandawa. Ia lalu berkata soal Dewi Lesmanawati tidak perlu dibahas lagi. Ia tidak mungkin bersaing dengan keponakan sendiri. Prabu Jayasentika pun memilih pulang ke Kerajaan Ngrancangkencana dan membatalkan pinangannya terhadap putri Kerajaan Hastina tersebut. Ia mengundang Bambang Irawan dan Raden Antareja agar ikut dengannya pergi ke Ngrancangkencana.

Bambang Irawan berterima kasih atas keputusan pamannya. Ia berjanji kelak akan pergi berkunjung ke Ngrancangkencana setelah bisa bertemu ayahnya. Usai berkata demikian, mereka pun berpisah. Prabu Jayasentika dan pasukannya kembali ke negeri mereka, sedangkan Bambang Irawan dan Raden Antareja melanjutkan perjalanan.

Prabu Jayasentika.

PERTEMPURAN PARA PUTRA PANDAWA

Tiba-tiba muncul Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca menghadang Bambang Irawan dan Raden Antareja. Antara Raden Gatutkaca dan Raden Antareja sudah saling kenal sejak peristiwa Dewi Sumbadra dilarung dulu. Raden Gatutkaca pun memperkenalkan kakak sulungnya itu kepada Raden Abimanyu.

Raden Abimanyu lalu bertanya apa benar yang bernama Bambang Jaganala adalah Raden Antareja. Jika benar, maka sungguh terpaksa ia harus menangkap kakak sepupunya itu untuk membersihkan nama baiknya yang tercemar. Bambang Irawan menyahut, yang bernama Bambang Jaganala adalah dirinya. Jika Raden Abimanyu ingin menangkap, maka silakan saja maju, ia sama sekali tidak takut.

Raden Abimanyu tersinggung melihat sikap angkuh Bambang Irawan. Ia pun berkata, perbuatan Bambang Irawan telah mencemarkan nama baiknya dan juga Raden Gatutkaca. Ia pun bertekad untuk meringkus Bambang Irawan dan menyerahkannya kepada Prabu Duryudana, sehingga nama baiknya dan juga Raden Gatutkaca dapat dipulihkan.

Raden Antareja maju memasang badan. Jika Raden Abimanyu berniat menangkap Bambang Irawan, maka lebih dulu harus berhadapan dengannya. Raden Gatutkaca bertanya mengapa kakaknya melindungi pencuri? Raden Antareja menjawab, dirinya sudah bersumpah untuk selalu melindungi Bambang Irawan yang sudah seperti adiknya sendiri. Raden Gatutkaca berkata, jika Bambang Irawan dianggap adik, berarti Raden Antareja sudah tidak menganggapnya sebagai adik.

Raden Antareja serbasalah. Namun, sebagai laki-laki ia pantang mengingkari janji. Dirinya siap sedia memasang badan melindungi Bambang Irawan dan tidak segan-segan berkelahi apabila Raden Gatutkaca membantu Raden Abimanyu. Peristiwa saat mereka pertama bertemu dulu kiranya dapat terulang kembali.

Karena kedua pihak tidak ada yang saling mengalah, maka mereka pun serentak maju saling menyerang. Bambang Irawan bertarung menghadapi Raden Abimanyu, sedangkan Raden Antareja menghadapi Raden Gatutkaca. Sungguh pertarungan yang seimbang, di mana masing-masing saling mengerahkan kesaktian untuk menjatuhkan lawan.

Raden Abimanyu.

BAMBANG IRAWAN DAN RADEN ANTAREJA MENINGGALKAN AYAH-AYAH MEREKA

Prabu Kresna bersama Arya Wrekodara dan Raden Arjuna tiba di tempat itu. Mereka melihat Raden Gatutkaca dan Raden Antareja bertarung seimbang, tidak ada yang menang, juga tidak ada yang kalah. Terkadang Raden Gatutkaca membawa tubuh Raden Antareja terbang di udara, terkadang Raden Antareja yang menarik tubuh Raden Gatutkaca amblas ke dalam tanah.

Di sisi lain, Raden Abimanyu bertarung melawan seorang pemuda yang wajahnya mirip Raden Arjuna. Prabu Kresna yakin pemuda inilah yang menamakan dirinya Bambang Jaganala. Tiba-tiba pemuda itu melepaskan panah pusaka Ardadedali ke arah Raden Abimanyu. Sebaliknya, Raden Abimanyu pun melepaskan panah Sarotama untuk mengimbanginya. Prabu Kresna terkejut dan khawatir keduanya sama-sama terluka. Maka, dengan kecepatan tinggi, ia pun melesat terbang dan menangkap kedua panah pusaka tersebut dengan kedua tangannya.

Prabu Kresna lalu memanggil Raden Arjuna dan menyerahkan kedua panah itu kepadanya. Sementara itu, Arya Wrekodara telah melerai pertarungan Raden Gatutkaca dan Raden Antareja. Prabu Kresna lalu menanyai Raden Arjuna perihal kedua panah pusaka tersebut. Kalau panah Sarotama jelas tadi dipinjamkan kepada Raden Abimanyu untuk menangkap pencuri. Namun, panah Ardadedali mengapa bisa berada di tangan Bambang Jaganala? Apakah pemuda itu telah mencuri di Kesatrian Madukara?

Raden Arjuna menjawab panah Ardadedali memang salah satu pusakanya, yaitu pemberian sang kakek Bagawan Abyasa. Ia masih ingat, panah Ardadedali dulu ia titipkan kepada istrinya yang bernama Endang Ulupi di Padepokan Yasarata. Saat itu Endang Ulupi melahirkan seorang putra yang diberi nama Bambang Irawan. Raden Antareja menjadi saksi atas peristiwa itu. Selama beberapa hari Raden Arjuna tinggal di padepokan menunggui anak dan istrinya. Hingga akhirnya ia pun memutuskan kembali ke Kerajaan Amarta. Sebelum berangkat, Raden Arjuna sempat menitipkan panah Ardadedali kepada Endang Ulupi. Kelak jika Bambang Irawan sudah dewasa dan ingin bertemu dengannya, panah itu hendaknya dibawa sebagai tanda pengenal.

Prabu Kresna lalu bertanya kepada pemuda yang menjadi lawan Raden Abimanyu apa benar ia bernama Bambang Irawan. Pemuda itu menjawab dirinya memang Bambang Irawan, putra Raden Arjuna dan Endang Ulupi. Prabu Kresna lalu bertanya, mengapa ia menyamar sebagai pencuri bernama Bambang Jaganala dan membuat onar di Kerajaan Hastina.

Bambang Irawan menjawab dirinya ingin berbuat jasa. Ia kasihan melihat rakyat jelata menderita karena ditarik pajak tinggi, sedangkan harta negara dihambur-hamburkan para Kurawa untuk berfoya-foya. Itulah sebabnya, ia pun mencuri harta benda dari rumah para Kurawa dan membagi-bagikannya kepada rakyat miskin di pelosok negeri.

Prabu Kresna berkata apa yang menjadi niat Bambang Irawan baik, namun caranya yang salah. Mencuri untuk bersedekah adalah dua kegiatan yang saling bertolak belakang. Bisa diibaratkan mandi menggunakan air kencing, apa mungkin itu bisa terjadi? Arya Wrekodara menyela ikut bicara, bukankah dulu semasa muda Prabu Kresna juga pernah menjadi begal yang meresahkan masyarakat? Prabu Kresna mengiyakan dirinya memang pernah menjadi begal. Namun, itu dulu saat ia masih muda dan belum tahu mana yang baik, mana yang buruk. Kini ia menyadari hal itu adalah keliru, sehingga tidak sebaiknya ditiru oleh para putra ataupun keponakannya.

Raden Arjuna merasa malu atas perbuatan Bambang Irawan. Ia menjawab dirinya tidak butuh jasa semacam itu. Bambang Irawan pun dipersilakan pulang saja ke Padepokan Yasarata, tidak perlu lagi datang ke Kesatrian Madukara. Cukup begini saja pertemuan mereka.

Bambang Irawan merasa sedih niat baiknya ternyata tidak diterima sang ayah. Ia pun bergegas pergi dengan hati kecewa. Raden Antareja ikut sedih melihat saudaranya seperti itu. Arya Wrekodara bertanya apakah putra sulungnya itu ikut pergi dengannya ataukah ikut Bambang Irawan. Raden Antareja menjawab dirinya sudah berjanji, susah-senang akan selalu melindungi adik angkatnya tersebut. Mendengar jawaban itu, Arya Wrekodara pun mempersilakan jika Raden Antareja ikut pergi bersama Bambang Irawan.

Arya Wrekodara.

RADEN ARJUNA MENGEMBALIKAN GAJAH MURDANINGKUNG KEPADA PATIH SANGKUNI

Tidak lama kemudian, Patih Sangkuni bersama para Kurawa datang mengepung Prabu Kresna, Arya Wrekodara, Raden Arjuna, Raden Gatutkaca, dan Raden Abimanyu. Mereka melihat Gajah Murdaningkung ada bersama orang-orang itu, maka jelas sudah Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca adalah dua pencuri yang selama ini mengacau Kerajaan Hastina. Para Kurawa pun berniat menyeret mereka ke hadapan Prabu Duryudana agar dijatuhi hukuman berat.

Arya Wrekodara tidak terima atas tuduhan para Kurawa tersebut. Ia lalu maju menerjang mereka sebagai pelampiasan atas kekesalannya terhadap ulah Raden Antareja. Dalam waktu singkat, para Kurawa pun berhamburan dan babak belur ditendang serta dipukuli Arya Wrekodara.

Patih Sangkuni ketakutan hendak kabur, namun dihadang Raden Arjuna. Raden Arjuna berkata, Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca bukanlah pencuri. Soal Gajah Murdaningkung, ia sendiri yang akan mengembalikannya kepada Prabu Duryudana. Patih Sangkuni ketakutan dan menjawab itu tidak perlu. Biarlah dirinya saja yang membawa pulang Gajah Murdaningkung dan urusan ini dianggap beres. Raden Arjuna pun berkata, jika demikian, maka Patih Sangkuni dan para Kurawa tidak boleh lagi mengungkit-ungkit soal Bambang Jaganala.

Patih Sangkuni berjanji mulai sekarang urusan pencurian Bambang Jaganala dianggap beres. Ia dan para Kurawa kemudian mohon pamit pulang ke Kerajaan Hastina dengan tertatih-tatih sambil menuntun Gajah Murdaningkung.

Raden Arjuna.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya



Untuk kisah perkawinan Raden Arjuna dan Endang Ulupi dapat dibaca di sini

Untuk kisah pertemuan pertama Raden Antareja dan Raden Gatutkaca dapat dibaca di sini

Untuk kisah kelahiran Bambang Irawan dapat dibaca di sini























Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ▼  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ▼  October (2)
      • Prabu Gambiranom
      • Irawan Maling
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja