Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Dewa Ruci

 No comments   



Kisah ini menceritakan perjalanan Arya Wrekodara dalam mencari air kehidupan Tirta Pawitrasari Mahening Suci atas perintah Resi Druna, hingga akhirnya ia bisa bertemu dan berguru kepada jati dirinya sendiri, yaitu Dewa Ruci di tengah Samudera Minangkalbu.

Kisah ini saya olah dari sumber Serat Babad Ila-ila, yang dipadukan dengan rekaman pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Nartosabdo, dan juga Ki Manteb Soedharsono, dengan pengembangan seperlunya.

Kediri, 31 Desember 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Arya Bimasena dibelit Naga Nemburnawa.

PRABU DURYUDANA MEMINTA RESI DRUNA MEMBUNUH ARYA WREKODARA

Prabu Duryudana di Kerajaan Hastina dihadap Resi Druna dari Sokalima, Adipati Karna dari Awangga, Patih Sangkuni dari Plasajenar, serta adik-adiknya, yaitu para Kurawa yang dipimpin Arya Dursasana dan Raden Kartawarma.

Dalam pertemuan itu, Prabu Duryudana membahas tentang kutukan Resi Mitreya terhadap Arya Dursasana beberapa hari yang lalu, saat Dewi Dursilawati menikah dengan Adipati Jayadrata. Dalam kemarahannya, Resi Mitreya mengutuk Arya Dursasana yang tidak dapat mengenali kebenaran, maka kelak ia akan mati dalam keadaan sulit dikenali. Kutukan tersebut sangat mengganggu pikiran Prabu Duryudana, bahkan sampai terbawa mimpi. Dalam mimpinya itu, Prabu Duryudana melihat sebuah perang besar bernama Perang Bratayuda. Perang saudara ini sesuai dengan ramalan Bagawan Abyasa dahulu kala, yaitu perang antara keturunan Adipati Dretarastra melawan keturunan Prabu Pandu Dewanata. Dalam perang tersebut, Prabu Duryudana melihat Arya Dursasana dibunuh Arya Wrekodara secara kejam. Tubuhnya dicabik-cabik hingga mayatnya tidak dapat dikenali lagi. Prabu Duryudana juga melihat Arya Wrekodara membantai para Kurawa lainnya hingga tidak tersisa seorang pun.

Mimpi buruk yang dialami Prabu Duryudana terjadi berkali-kali selama beberapa malam. Sejak kecil hubungan antara Prabu Duryudana dengan Arya Wrekodara memang kurang baik. Keduanya sering berkelahi, bahkan Prabu Duryudana pernah mencoba membunuh Arya Wrekodara beserta para Pandawa lainnya melalui peristiwa Balai Sigalagala. Namun demikian, mereka berdua akhirnya bisa rukun dan berdamai ketika sama-sama berguru ilmu gada kepada Wasi Jaladara (Prabu Baladewa) di Gunung Rewataka.

Kini akibat mimpi buruk tersebut, Prabu Duryudana kembali membenci Arya Wrekodara. Ia sangat takut mimpinya menjadi kenyataan. Ia khawatir ramalan tentang Perang Bratayuda benar-benar terjadi, dan Arya Wrekodara pun membunuh Arya Dursasana sesuai kutukan Resi Mitreya.

Untuk itu, Prabu Duryudana berniat meminta Resi Druna agar membunuh Arya Wrekodara. Bagaimanapun juga Resi Druna adalah guru para Pandawa dan Kurawa, sehingga sudah pasti memahami kelemahan setiap murid-muridnya.

Resi Druna terkejut mendapat perintah demikian. Ia merasa keberatan karena dirinya adalah pendeta, bukan algojo pencabut nyawa. Dirinya juga seorang guru, bukan jagal manusia. Apalagi membunuh Arya Wrekodara yang merupakan murid sendiri, jelas itu tidak mungkin.

Patih Sangkuni menyela ikut bicara. Ia mengingatkan dahulu kala Resi Druna bisa mendapatkan pangkat dan derajat, serta segala kemewahan hidup dari Adipati Dretarastra. Hingga Resi Druna pun pernah bersumpah akan selalu setia mengabdi kepada Kerajaan Hastina dan mematuhi segala perintah yang diberikan raja Hastina. Saat ini yang duduk di atas takhta adalah Prabu Duryudana, putra Adipati Dretarastra, tentunya sumpah yang dulu diucapkan tetap berlaku. Apalagi Prabu Duryudana jauh lebih dermawan daripada ayahnya. Prabu Duryudana telah mengucurkan dana besar-besaran untuk pembangunan Padepokan Sokalima menjadi lebih megah dan lebih besar. Prabu Duryudana juga mendirikan dan memimpin sebuah yayasan untuk lebih mengembangkan Padepokan Sokalima. Kini Resi Druna memiliki banyak sekali murid golongan raja dan pangeran yang berasal dari berbagai kerajaan, itu pun berkat pemasaran gencar yang dilakukan para Kurawa.

Resi Druna mengakui dirinya kini telah menjadi orang terpandang yang kaya raya dan berkedudukan tinggi, itu semua berkat sokongan Prabu Duryudana. Ia pun bersumpah akan selalu setia kepada Kerajaan Hastina dan tidak akan pernah mengkhianati Prabu Duryudana. Meskipun dulu Prabu Duryudana adalah muridnya, tetapi kini telah menjadi raja yang harus ia sembah. Akan tetapi, perintah untuk membunuh Arya Wrekodara tetap saja Resi Druna berat hati untuk melakukannya.

Patih Sangkuni mengatakan, Resi Druna tidak perlu membunuh secara langsung, melainkan cukup menjerumuskan Arya Wrekodara saja. Sebagai guru tentunya ada banyak cara untuk memerintahkan muridnya melakukan sesuatu, dan si murid pasti akan mewujudkannya meskipun itu sangat berbahaya.

RESI DRUNA MEMERINTAHKAN ARYA WREKODARA MENCARI KAYU GUNG SUSUHING ANGIN

Resi Druna merenung sesaat kemudian menyanggupi usulan Patih Sangkuni. Kebetulan saat pernikahan Adipati Jayadrata dan Dewi Dursilawati beberapa hari yang lalu, Arya Wrekodara datang bersama Prabu Kresna untuk menjemput pulang Raden Permadi. Pada saat itu Arya Wrekodara sempat mengutarakan perasaannya kepada Resi Druna. Arya Wrekodara berkata dirinya kagum kepada Raden Permadi yang memiliki banyak guru. Sebagai saudara yang lebih muda, ternyata Raden Permadi memiliki kesaktian yang lebih beraneka ragam daripada dirinya, apalagi saat itu sang adik baru saja berguru kepada Resi Mitreya, seorang pendeta sepuh berilmu tinggi dari Gunung Mestri.

Resi Druna lalu bertanya apakah Arya Wrekodara iri kepada adiknya itu. Arya Wrekodara menjawab tidak iri sama sekali. Yang ia inginkan bukan menambah berbagai macam ilmu kesaktian, tetapi ingin belajar ilmu kesempurnaan hidup. Ia ingin belajar ilmu Sangkan Paraning Dumadi, ilmu Sejatining Urip. Ia ingin memahami dan bukan sekadar mengetahui tentang hidup ini dari mana, untuk apa, dan setelah berakhir hendak ke mana.

Resi Druna yang saat itu sedang sakit hati karena Raden Premadi berguru kepada Resi Mitreya langsung menjawab sanggup mengajari Arya Wrekodara, tetapi tidak di hari itu. Kelak apabila Arya Wrekodara sudah siap lahir batin, maka ia boleh datang ke Padepokan Sokalima untuk mempelajari ilmu Sangkan Paraning Dumadi tersebut. Arya Wrekodara merasa senang dan berjanji dirinya pasti akan segera datang.

Demikianlah Resi Druna mengakhiri ceritanya. Ia pun berniat memanfaatkan Arya Wrekodara yang ingin berguru untuk menjerumuskan Pandawa nomor dua tersebut. Sungguh kebetulan, tidak lama kemudian Arya Wrekodara benar-benar datang di istana Hastina.

Prabu Duryudana menyambut ramah kedatangan adik sepupunya itu dan bertanya ada keperluan apa tiba-tiba datang ke Kerajaan Hastina. Arya Wrekodara menjawab bahwa sesungguhnya ia telah pergi ke Padepokan Sokalima untuk menemui Resi Druna. Akan tetapi, menurut para janggan dan cantrik di sana, Resi Druna telah pergi ke Kerajaan Hastina untuk mengunjungi Prabu Duryudana. Arya Wrekodara merasa tidak sabar menunggu sang guru pulang, dan memutuskan untuk pergi menyusul.

Kini Arya Wrekodara telah bertemu Resi Druna dan menyatakan dirinya telah siap lahir batin menerima pelajaran ilmu Sangkan Paraning Dumadi dari sang guru. Resi Druna menjawab dirinya bersedia memberikan wejangan di Padepokan Sokalima, tetapi Arya Wrekodara harus lebih dulu membuktikan kesiapannya. Untuk menerima ilmu Sangkan Paraning Dumadi, Arya Wrekodara harus dapat memenuhi syarat-syaratnya, yaitu menyerahkan Kayu Gung Susuhing Angin terlebih dahulu. Kayu ajaib ini konon hanya tumbuh di puncak Gunung Candramuka, tepatnya di dalam Gua Sigrangga.

Arya Wrekodara menjawab sanggup. Ia pun mohon pamit pergi mencari kayu tersebut. Prabu Duryudana pura-pura merasa berat hati melepas kepergian sepupunya itu. Ia memeluk Arya Wrekodara dan memberikan restu kepadanya semoga berhasil. Ia juga menawarkan bala bantuan sebagai pengawal. Namun, Arya Wrekodara menolak itu semua karena ini adalah urusan pribadinya dan ia tidak ingin merepotkan orang lain. Setelah berkata demikian, Arya Wrekodara pun berangkat meninggalkan Kerajaan Hastina.

Setelah Arya Wrekodara pergi, Patih Sangkuni bertanya kepada Resi Druna mengapa menyuruhnya pergi ke Gunung Candramuka. Resi Druna menjawab bahwa Kayu Gung Susuhing Angin itu sesungguhnya tidak ada. Semua ini hanyalah akal-akalan dirinya saja. Ia pernah mendengar kabar, bahwa Gunung Candramuka adalah tempat yang angker mengerikan. Di sana terdapat Gua Sigrangga yang dihuni sepasang raksasa bengis, yang gemar memangsa daging manusia. Kedua raksasa itu konon sangat perkasa dan juga kejam. Jika Arya Wrekodara pergi ke sana dan bertemu dengan kedua raksasa tersebut, maka itu sama artinya dengan mengantar nyawa.

Patih Sangkuni gembira mendengarnya. Ia bertanya apakah Arya Wrekodara pasti mati jika berhadapan dengan kedua raksasa itu? Resi Druna menjawab belum tentu. Lahir atau mati adalah suratan takdir, bukan dirinya yang menentukan. Manusia hanya bisa merencanakan, dan semua hasilnya terserah Yang Mahakuasa. Yang jelas, ia sudah menjalankan tugas untuk menjerumuskan Arya Wrekodara.

Mendengar itu, Prabu Duryudana merasa bimbang. Ia lalu memerintahkan Raden Kartawarma untuk mengawasi Arya Wrekodara dari kejauhan. Apabila Arya Wrekodara tidak tewas melawan kedua raksasa itu, maka Raden Kartawarma harus cepat-cepat pulang untuk melapor, agar Resi Druna dapat segera menyiapkan rencana kedua. Raden Kartawarma menyanggupi dan segera mohon pamit berangkat melaksanakan tugas.

ARYA WREKODARA MENGHADAPI DUA RAKSASA

Arya Wrekodara telah sampai di Gunung Candramuka. Ia menemukan Gua Sigrangga dan memasukinya untuk mencari keberadaan Kayu Gung Susuhing Angin. Gua tersebut ternyata dihuni dua raksasa bertubuh besar menyeramkan. Mereka pun marah dan menyerang Arya Wrekodara.

Raksasa yang tua bernama Ditya Rukmuka, sedangkan yang muda bernama Ditya Rukmakala. Mereka berebut ingin menangkap dan memangsa tubuh Arya Wrekodara sebagai santapan. Namun, Arya Wrekodara dapat dengan tangkas menandingi keganasan mereka. Mula-mula Ditya Rukmuka dapat dibunuh. Perutnya robek terkena Kuku Pancanaka di tangan Arya Wrekodara. Anehnya, begitu Ditya Rukmakala melangkahi mayatnya, seketika Ditya Rukmuka pun bangkit kembali. Kemudian ketika Ditya Rukmakala yang tewas terkena tendangan Arya Wrekodara, ia pun hidup kembali setelah dilangkahi Ditya Rukmuka.

Arya Wrekodara merasa kewalahan menghadapi kedua raksasa tersebut. Dalam keadaan letih, ia mengheningkan cipta menenangkan diri. Sungguh aneh, begitu Arya Wrekodara mengheningkan cipta justru kedua lawannya menjadi limbung dan sempoyongan. Arya Wrekodara pun menjambak rambut mereka dan membenturkan kepala keduanya hingga pecah. Kedua raksasa itu pun tewas dan tidak bisa bangkit kembali.

ARYA WREKODARA MENDAPAT ANUGERAH DARI BATARA INDRA DAN BATARA BAYU

Ditya Rukmuka dan Ditya Rukmakala telah terbunuh. Mayat mereka tiba-tiba musnah menjadi asap dan berubah menjadi dua orang dewa. Ditya Rukmuka menjadi Batara Indra, sedangkan Ditya Rukmakala menjadi Batara Bayu. Kedua dewa itu berterima kasih karena Arya Wrekodara telah meruwat mereka sehingga bisa kembali menjadi dewa.

Arya Wrekodara bertanya mengapa Batara Indra dan Batara Bayu berubah wujud menjadi raksasa kembar. Batara Bayu bercerita bahwa pada suatu hari Batara Guru mengadakan pertemuan di Kahyangan Jonggringsalaka. Pada saat itu Batari Wilotama ditugasi menari menghibur para dewa yang hadir. Batara Indra dan Batara Bayu datang terlambat. Batara Indra lalu meminta Batara Bayu agar mengerahkan angin kencang agar mendorong tubuh mereka berdua sehingga bisa tiba di Kahyangan Jonggringsalaka lebih cepat. Batara Bayu menyanggupi. Ia pun mengerahkan angin dan seketika dirinya dan Batara Indra pun sampai di hadapan Batara Guru. Sialnya, angin tersebut juga ikut meniup tubuh Batari Wilotama yang sedang menari. Akibatnya, pakaian Batari Wilotama menjadi tersingkap dan membuat Batara Guru sangat marah kepada Batara Bayu dan Batara Indra. Itulah sebabnya mereka menjadi raksasa kembar adalah karena kutukan yang diucapkan Batara Guru.

Kini kedua dewa itu berterima kasih kepada Arya Wrekodara karena telah membebaskan diri mereka dari kutukan. Arya Wrekodara balik bertanya di mana kira-kira ia bisa menemukan Kayu Gung Susuhing Angin. Batara Indra menjawab Kayu Gung Susuhing Angin bukan berwujud seperti kayu pada umumnya, melainkan itu adalah bahasa perlambang. Kayu Gung bermakna “kayu besar”, sesungguhnya adalah kiasan untuk raga manusia, sedangkan Susuhing Angin bermakna “rumah angin”. Maka, makna dari Kayu Gung Susuhing Angin adalah manusia yang merupakan tempat keluar masuknya angin atau disebut napas. Napas yang masuk membawa udara bersih, kemudian diedarkan ke seluruh bagian tubuh, dan keluar membawa udara kotor.

Arya Wrekodara bertanya apakah gurunya telah berbohong dengan menugasi dirinya mencari benda yang tidak pernah ada. Batara Bayu menjawab sama sekali tidak. Tugas yang diberikan Resi Druna bukanlah kebohongan, melainkan sebuah teka-teki. Kayu Gung Susuhing Angin bukan berwujud benda, tetapi berwujud pelajaran. Gunung Candramuka, Gua Sigrangga, Ditya Rukmuka, Ditya Rukmakala, Batara Indra, dan Batara Bayu, semuanya mengandung hikmah pelajaran. Mengenai makna dari pelajaran tersebut kelak Arya Wrekodara akan menemukannya sendiri, apabila bersungguh-sungguh. Untuk itu, jika Resi Druna memberikan tugas selanjutnya, maka jangan sampai Arya Wrekodara menolaknya.

Arya Wrekodara pun menyanggupi saran Batara Bayu tersebut. Sebagai ungkapan terima kasih, Batara Indra pun memberikan hadiah berupa Cincin Druwenda Mustika Manik Candrama. Khasiat dari cincin tersebut adalah bisa melindungi keselamatan Arya Wrekodara apabila tercebur di dalam air. Arya Wrekodara menerima hadiah tersebut dengan rendah hati dan mengenakannya di jari. Setelah dirasa cukup, Batara Bayu dan Batara Indra undur diri kembali ke kahyangan.

RESI DRUNA MENUGASI ARYA WREKODARA MENCARI AIR KEHIDUPAN

Raden Kartawarma telah melapor kepada Prabu Duryudana bahwa Arya Wrekodara tidak mati dibunuh kedua raksasa penunggu Gunung Candramuka, tetapi justru berhasil menewaskan mereka. Prabu Duryudana sangat kesal dan meminta Resi Druna menyusun rencana kedua untuk menyingkirkan sepupunya itu.

Tidak lama kemudian, Arya Wrekodara pun muncul dan langsung menghadap Resi Druna. Ia menceritakan pengalamannya di Gunung Candramuka, di mana ia tidak menjumpai Kayu Gung Susuhing Angin di sana, tetapi bertemu dua raksasa yang akhirnya teruwat menjadi dewa, yaitu Batara Indra dan Batara Bayu. Resi Druna menjawab mereka berdua itulah yang dimaksud dengan Kayu Gung Susuhing Angin. Dengan kata lain, Arya Wrekodara dianggap telah lulus memenuhi syarat pertama.

Arya Wrekodara lalu bertanya apakah dirinya sudah bisa mulai belajar ilmu Sangkan Paraning Dumadi. Resi Druna menjawab belum, karena masih ada satu syarat lagi, yaitu Arya Wrekodara harus dapat menemukan air kehidupan Tirta Pawitrasari Mahening Suci yang terletak di Samudera Minangkalbu. Arya Wrekodara pun bertanya di mana letak samudera tersebut. Resi Druna menjawab, Minangkalbu artinya meminang hati. Arya Wrekodara silakan bertanya kepada hatinya sendiri di mana letak samudera tersebut. Jika ia yakin ke arah utara, silakan mencebur ke laut utara, dan jika mantap ke selatan, silakan mencebur ke laut selatan.

Teringat pada pesan Batara Bayu, Arya Wrekodara pun menyatakan sanggup. Ia lalu mohon pamit berangkat melaksanakan tugas kedua tersebut.

ARYA WREKODARA BERPAMITAN KEPADA SAUDARA-SAUDARANYA

Arya Wrekodara merasa tugas mencari Tirta Pawitrasari jauh lebih berat daripada mencari Kayu Gung Susuhing Angin. Maka, ia pun memutuskan untuk pulang terlebih dulu ke Kerajaan Amarta untuk mohon pamit dan meminta doa restu kepada ibu dan empat saudaranya.

Dewi Kunti, Prabu Puntadewa, Dewi Drupadi, Raden Permadi, serta si kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa menyambut kepulangan Arya Wrekodara. Kepada mereka, Arya Wrekodara bercerita tentang niatnya untuk belajar ilmu Sangkan Paraning Dumadi Lepasing Budi kepada Resi Druna, dengan syarat harus bisa menemukan air kehidupan Tirta Pawitrasari Mahening Suci di Samudera Minangkalbu.

Prabu Puntadewa dan yang lain terkejut. Dewi Kunti segera meminta agar Arya Wrekodara membatalkan niatnya. Namun, Arya Wrekodara menolak karena sudah terlanjur menyanggupi. Raden Permadi menanggapi bahwa ia yakin Resi Druna pasti telah didesak Prabu Duryudana dan Patih Sangkuni untuk mencelakakan sang kakak kedua. Prabu Puntadewa membenarkan hal itu. Ia pun mengingatkan bahwa dulu Prabu Duryudana semasa muda dibantu Patih Sangkuni pernah melakukan percobaan pembunuhan terhadap para Pandawa beserta Dewi Kunti dalam peristiwa Balai Sigalagala.

Arya Wrekodara berkata bahwa dulu Prabu Puntadewa pernah berpesan agar jangan lagi mengungkit-ungkit soal Balai Sigalagala, tapi mengapa sekarang justru melanggarnya perkataannya sendiri? Apalagi ketika Prabu Duryudana dan Arya Wrekodara sama-sama berguru kepada Wasi Jaladara, saat itu Prabu Puntadewa sangat bersyukur dan mengumumkan bahwa Prabu Duryudana (saat itu masih bernama Raden Kurupati) telah bertobat dan ingin memperbaiki hubungan dengan para Pandawa. Untuk itu, para Pandawa tidak boleh lagi menganggap Kurawa sebagai musuh. Sungguh mengherankan, mengapa sekarang tiba-tiba Prabu Puntadewa menaruh prasangka buruk, menduga Prabu Duryudana pasti telah mendesak Resi Druna untuk mencelakakan dirinya?

Dewi Kunti sangat sedih karena Arya Wrekodara tetap bersikeras ingin pergi mencebur samudera. Karena terlalu sedih, wanita itu pun jatuh pingsan. Sang menantu, Dewi Drupadi segera memapah tubuhnya masuk ke dalam kedaton.

Raden Nakula dan Raden Sadewa ganti ikut bicara. Mereka memeluk lengan Arya Wrekodara kiri dan kanan, meminta agar sang kakak kedua jangan pergi. Mereka menangis meratapi nasib sebagai anak yatim piatu yang sejak kecil ditinggal mati ayah dan ibu. Mereka menganggap Arya Wrekodara adalah pelindung mereka selama ini. Arya Wrekodara tidak hanya berperan sebagai ayah, tapi juga berperan sebagai ibu bagi mereka. Dulu saat kecil, Arya Wrekodara sering menggendong keduanya ke sana kemari. Juga apabila tidak ada sang kakak kedua, mungkin mereka sudah mati dilalap kobaran api dalam peristiawa Balai Sigalagala. Raden Nakula dan Raden Sadewa menganggap Arya Wrekodara sudah seperti pengganti orang tua bagi mereka.

Arya Wrekodara merasa bimbang untuk melangkah. Namun, kuatnya niat untuk mengetahui seluk-beluk ilmu Sangkan Paraning Dumadi membuatnya menjadi nekat. Ia pun mengibaskan tangan si kembar, lalu mengangkat tubuh Prabu Puntadewa. Ia berkata dirinya bersifat kaku, tidak bisa membungkuk atau berjongkok. Untuk itu, ia pun menjunjung tubuh si kakak sulung dan meminta restu kepadanya. Jika niatnya tulus dan suci, ia meminta restu supaya berhasil meraih cita-cita. Namun, jika niatnya bengkok, maka relakanlah dirinya tewas tenggelam atau mati dimangsa ikan hiu.

Prabu Puntadewa melihat semangat adiknya begitu kokoh. Ia pun merestui Arya Wrekodara semoga berhasil meraih cita-cita. Arya Wrekodara lalu menurunkan sang kakak sulung kemudian mohon pamit berangkat menuju Samudera Minangkalbu. Para Pandawa yang lain melepas kepergiannya dengan isak tangis. Prabu Puntadewa pun mengajak mereka masuk ke dalam sanggar pemujaan untuk berdoa bersama kepada Yang Mahakuasa, memohon yang terbaik untuk saudara mereka nomor dua tersebut.

ARYA WREKODARA DIHADANG RESI ANOMAN

Arya Wrekodara berusaha memantapkan hati. Ia menuruti bisikan kalbunya agar berjalan menuju arah selatan. Di tengah jalan tiba-tiba dirinya berjumpa dengan sang kakak angkat, yaitu Resi Anoman, sesama Kadang Tunggal Bayu yang tinggal di Padepokan Kendalisada.

Resi Anoman bertanya apa tujuan Arya Wrekodara berjalan ke selatan. Arya Wrekodara menjelaskan semuanya dari awal, yaitu ia ingin berguru ilmu Sangkan Paraning Dumadi kepada Resi Druna. Resi Anoman tampak kecewa dan meminta sang adik agar kembali. Apa gunanya berguru kepada Resi Druna? Resi Druna itu guru ilmu perang, bukan guru ilmu kebatinan. Jika Arya Wrekodara ingin berguru ilmu Sangkan Paraning Dumadi sebaiknya bertanya kepada Bagawan Abyasa atau Resiwara Bisma. Mereka berdua jauh lebih paham daripada Resi Druna. Apalagi Resi Druna terkenal sebagai pendeta mata duitan yang hidupnya melacurkan diri kepada Prabu Duryudana, muridnya sendiri yang kaya raya.

Arya Wrekodara merasa kecewa dua hal kepada Resi Anoman. Kecewa yang pertama ialah Resi Anoman telah menghina gurunya yang sangat ia hormati. Resi Anoman terlalu menilai orang dari luarnya saja. Yang kedua, Resi Anoman sebagai seorang pendeta ternyata pikirannya belum tenang, hatinya belum hening, masih suka membanding-bandingkan antara orang yang satu dengan lainnya. Harusnya seorang pendeta itu lebih teduh pandangannya, lebih arif pikirannya, dan lebih luhur budi pekertinya. Menghakimi Resi Druna suka melacurkan diri jelas karena didorong perasaan amarah semata, bukan hasil dari pemikiran bijaksana dilandasi hati yang jernih.

Resi Anoman tersinggung atas ucapan adiknya. Ia pun menyerang Arya Wrekodara untuk memaksanya kembali. Arya Wrekodara menghadapi serangan itu. Keduanya lalu berkelahi. Arya Wrekodara berpikir jika dirinya melayani sang kakak angkat, maka cita-citanya pasti akan tertunda. Maka, dengan cekatan Arya Wrekodara pun berhasil meloloskan diri dari pertarungan, kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Samudera Minangkalbu.

Resi Anoman tersenyum melihat kepergian adiknya. Ia berkata dirinya tadi hanyalah ingin mencoba keteguhan tekad Arya Wrekodara saja. Melihat semangat yang kuat serta niat yang lurus dari adiknya tersebut, ia pun berdoa semoga Arya Wrekodara mendapat keberhasilan meraih cita-cita dan selalu dilindungi Tuhan Yang Mahakuasa.

ARYA WEKODARA MENCEBUR SAMUDERA MELAWAN NAGA NEMBURNAWA

Arya Wrekodara telah sampai di tepi laut selatan. Tampak ombak bergulung-gulung membuat hatinya bergetar. Sejak kecil dirinya kurang pandai berenang, namun kini terlanjur menyanggupi untuk mencebur samudera, mencari keberadaan air kehidupan Tirta Pawitrasari Mahening Suci. Pikirannya pun berbisik sebaiknya pulang saja dan meminta Resi Druna memberikan tugas lainnya yang tidak berhubungan dengan air.

Tiba-tiba di atas kepala Arya Wrekodara tampak seekor burung gagak dan seekor burung patukbawang sedang terbang berputar-putar. Arya Wrekodara seolah-olah bisa mendengar mereka berbicara tentang kematian. Mereka berkata bahwa hidup atau mati ada di tangan Sang Pencipta. Mencebur ke dalam lautan bisa jadi tetap selamat, sedangkan tidur di rumah bisa jadi tidak bangun lagi untuk selamanya. Arya Wrekodara merasa tersindir. Sebagai kesatria ternyata ia kalah pemikiran dibanding dua ekor burung kecil. Dengan membulatkan tekad, ia pun melompat sejauh-jauhnya, dan tubuhnya pun mencebur ke dalam lautan.

Ternyata benar, Yang Mahakuasa memberikan perlindungan kepadanya. Cincin Druwenda Mustika Manik Candrama pemberian Batara Indra dan Batara Bayu telah membuat tubuh Arya Wrekodara mengambang. Ia pun berjalan dengan kaki di dalam air menuju ke tengah. Semakin lama, makin ke tengah menuruti bisikan kalbunya.

Tiba-tiba muncul sesosok makhluk berwujud besar dan panjang menyambar tubuhnya. Makhluk tersebut berwujud naga yang langsung membelitnya mulai kaki hingga leher. Arya Wrekodara pun meronta-ronta. Namun, semakin meronta, belitan sang naga justru semakin erat. Ketika mulut si naga hendak mencaplok kepalanya, Arya Wrekodara sempat menangkap dan menusuk mulut tersebut menggunakan Kuku Pancanaka. Naga itu pun mati dan bangkainya musnah dari pandangan.

ARYA WREKODARA BERTEMU DEWA RUCI

Setelah sang naga lenyap, tubuh Arya Wrekodara digulung ombak besar. Ombak tersebut membuat dirinya semakin menengah. Arya Wrekodara tidak lagi melawan saat tubuhnya terombang-ambing bagaikan buih di lautan. Ia berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Mahakuasa ke mana dirinya akan dibawa. Ia sudah tidak merasakan apa-apa lagi, bagaikan “mati sajeroning urip, urip sajeroning mati”.

Pada saat mencapai puncak penyerahan diri itulah, Arya Wrekodara tiba-tiba dibangunkan oleh suara seseorang. Ketika membuka mata tiba-tiba ia melihat perwujudan yang sama persis seperti dirinya, tetapi ukuran tubuhnya kecil seukuran anak-anak. Orang itu mengaku bernama Dewa Ruci.

Dewa Ruci berkata bahwa Tirta Pawitrasari Mahening Suci yang dicari Arya Wrekodara ada pada dirinya. Arya Wrekodara heran mengapa orang itu bisa mengetahui isi hatinya. Tidak hanya itu, Dewa Ruci ternyata bisa menjelaskan riwayat perjalanan Arya Wrekodara dari awal, lengkap dengan makna yang terkandung di dalamnya.

Mula-mula Arya Wrekodara pergi mencari Kayu Gung Susuhing Angin di Gunung Candramuka, tepatnya di Gua Sigrangga. Kayu Gung Susuhing Angin adalah kiasan dari manusia, yaitu tempat keluar-masuknya udara. Gunung Candramuka adalah perlambang dari wajah yang indah, sedangkan Gua Sigrangga adalah perlambang dari tubuh yang menawan. Ditambah dengan Ditya Rukmuka adalah kiasan untuk keindahan muka, sedangkan Ditya Rukmakala adalah kiasan untuk keindahan perhiasan.

Wajah yang indah, tubuh yang menawan, ditambah dengan berdandan dan memakai perhiasan pula, baik itu bagi kaum pria ataupun wanita adalah hal yang wajar. Karena, penampilan yang baik akan membuat orang lain lebih menghormati. Akan tetapi, ada kalanya manusia lebih mementingkan penampilan fisik daripada keindahan batin. Seringkali manusia lupa diri, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memperbaiki jasmani daripada rohani. Itulah sebabnya, setelah pertarungan berakhir, yang muncul adalah Batara Indra dan Batara Bayu. Batara Indra adalah kiasan untuk panca indra, sedangkan Batara Bayu adalah kiasan untuk napas. Peristiwa di Gunung Candramuka adalah kiasan bahwa Arya Wrekodara telah mampu menundukkan godaan panca indra untuk memperindah penampilan, serta mengatur olah napas untuk mengendalikan pikiran yang liar.

Selanjutnya, Arya Wrekodara dicegah saudara-saudaranya, yaitu Prabu Puntadewa, Raden Arjuna, Raden Nakula, Raden Sadewa, ditambah dengan Resi Anoman. Mereka adalah perlambang saudara gaib manusia, yaitu yang disebut “sedulur papat lima pancer”. Yang empat adalah kawah, ari-ari, getih, dan puser. Mereka adalah empat saudara yang ikut lahir bersama bayi melalui “marga ina” atau kelamin ibu. Secara fisik keempat saudara ini telah mati, tetapi secara rohani mereka selalu menjaga si bayi siang dan malam.

Keempat Pandawa pada mulanya mencegah dan menghalangi, namun kemudian mereka bersama memasuki sanggar pemujaan untuk mendoakan keselamatan Arya Wrekodara. Demikianlah kiasan dari sedulur papat yang selalu memerhatikan keselamatan si manusia, tetapi jika manusia membulatkan tekad menempuh bahaya, maka keempatnya akan tetap melindungi dan mengusahakan keselamatannya.

Sementara itu, Resi Anoman adalah kiasan dari sedulur pancer, yaitu Marmati, yang disebut juga Ratu Jalu-Ratu Estri. Adapun Marmati ini tidak lahir melalui marga ina, tetapi lahir melalui debaran dada sang ibu ketika hendak melahirkan. Marmati bersemayam di dalam kalbu manusia, memberikan petunjuk siang dan malam. Umumnya manusia menyebutnya sebagai hati nurani, sedangkan kaum negeri seberang menyebutnya sebagai malaikat penjaga. Orang-orang yang menuruti hawa nafsu dalam menjalani kehidupan disebut sebagai kaum angkara murka, yaitu orang-orang yang tidak mau mendengar suara hati nurani. Mereka lebih suka mengumbar keinginan apa yang terlihat oleh panca indra. Kaum seberang lautan menyebutnya dengan istilah godaan setan.

Selanjutnya, Arya Wrekodara mencebur ke tengah laut dan diserang seekor naga. Sesungguhnya naga tadi bernama Naga Nemburnawa, yang merupakan kiasan dari hawa nafsu pribadi manusia. Hawa nafsu sifatnya seperti ular yang mengikat dan membelit jiwa manusia agar mengikuti kemauannya. Manusia yang menuruti hawa nafsu diibaratkan seperti dibelit, diseret, dan dicaplok ular kepalanya. Itulah sebabnya legenda di Timur Tengah mengisahkan iblis mengambil wujud ular saat menggoda Adam dan Hawa agar melakukan dosa pertama. Bukan berarti ular adalah lambang keburukan, tetapi ular adalah lambang nafsu yang mematuk dan membelit manusia.

Nemburnawa artinya sembilan lubang. Sembilan lubang inilah yang hendaknya dijaga dengan baik oleh manusia agar tidak semakin terjerumus ke dalam lembah nafsu keduniawian. Kesembilan lubang tersebut adalah dua mata, dua telinga, dua hidung, satu mulut, satu kemaluan, dan satu pembuangan. Dalam peristiwa tadi Arya Wrekodara berhasil mengalahkan Naga Nemburnawa menggunakan Kuku Pancanaka, ini merupakan perlambang seorang manusia yang telah mengheningkan cipta, menggenggam tekad, berhasil membebaskan dirinya dari belitan hawa nafsu.

Selanjutnya, Arya Wrekodara terombang-ambing digulung ombak. Tanpa melawan ia berserah diri. Demikianlah hendaknya manusia. Setelah mampu memerangi hawa nafsu, hendaknya bersikap rendah hati di hadapan sesama makhluk, dan berserah diri di hadapan Sang Pencipta. Adakalanya seseorang merasa bangga setelah berhasil menundukkan nafsunya. Tanpa ia sadari bahwa perasaan bangga itu justru membuatnya terbelit oleh nafsu yang lain.

Manusia yang sempurna justru yang bersikap rendah hati di hadapan sesama, dan berserah diri di hadapan Sang Pencipta. Kemudian tubuh Arya Wrekodara yang terombang-ambing digulung ombak tetapi tidak tenggelam adalah perlambang manusia yang tetap tenang menghadapi pasang surut kehidupan, tetapi tidak sampai tenggelam, baik itu di dalam suka ataupun duka.

ARYA WREKODARA MENDAPAT WEJANGAN DI DALAM DIRI SANG DEWA RUCI

Dewa Ruci lalu berkata kepada Arya Wrekodara agar memasuki tubuhnya melalui telinga kiri apabila ingin mendapatkan Tirta Pawitrasari Mahening Suci. Arya Wrekodara merasa bimbang. Mana mungkin tubuhnya yang tinggi besar mampu memasuki tubuh Dewa Ruci yang kecil mungil seperti itu? Dewa Ruci menjawab, jangankan hanya seorang Wrekodara, sedangkan bumi, langit, bahkan seluruh alam semesta pun bisa muat di dalam tubuh Dewa Ruci.

Arya Wrekodara baru sadar dengan siapa dirinya kini sedang berhadapan. Ia tidak berani lagi berkaacak pinggang, melainkan menyembah penuh hormat dan menggunakan bahasa halus sehalus-halusnya. Padahal, selama ini ia selalu berdiri tegak dan berkacak pinggang jika berhadapan dengan siapa saja, bahkan di depan Batara Guru sekalipun.

Arya Wrekodara pun berserah diri sepenuhnya. Dengan tenang ia memasuki telinga kiri Dewa Ruci. Sungguh ajaib, keadaan di dalam tubuh Dewa Ruci ternyata luas sekali, bagaikan tanpa batas. Arya Wrekodara sama sekali tidak dapat membedakan mana utara, mana selatan, mana barat, mana timur. Suasana di dalam pun terang tetapi tidak menyilaukan. Tidak ada matahari, tidak ada rembulan, juga tidak ada pelita. Hawa di sana pun tidak panas, juga tidak dingin. Benar-benar menentramkan hati.

Terdengar kemudian suara Dewa Ruci membimbing Arya Wrekodara. Mula-mula Arya Wrekodara melihat pemandangan samudera luas tanpa tepi. Dewa Ruci pun berkata bahwa itu adalah gambaran “wahananing tyas pribadi”. Itulah wujud perlambang luasnya kalbu manusia. Namun, karena manusia lebih menuruti hawa nafsu, mereka pun banyak yang berpikiran sempit, atau istilahnya berhati kecil.

Arya Wrekodara kemudian melihat pemandangan cahaya samar-samar. Dewa Ruci menjelaskan bahwa itu adalah Pancamaya yang merupakan “wahananing jantung” atau sejatinya kalbu. Sifatnya sebagai pemuka, bersemayam di dalam cipta, dan mengendalikan indra penglihatan, penciuman, pendengaran, pengecap, dan peraba.

Arya Wrekodara lalu melihat cahaya empat macam, yaitu hitam, merah, kuning, dan putih. Dewa Ruci menyebut itu adalah “wahananing budi”, yang mewujudkan nafsu empat perkara. Cahaya hitam adalah kiasan untuk nafsu badaniah, yaitu membuat manusia merasa lapar, dahaga, letih, dan mengantuk. Cahaya merah adalah nafsu angkara, membuat manusia ingin meraih cita-cita derajat lebih tinggi. Cahaya kuning adalah kiasan nafsu keinginan. Nafsu ini mendorong manusia untuk meraih kegembiraan, baik itu melalui birahi, maupun melalui kegemaran mengumpulkan barang kesukaan, ataupun menikmati hiburan lainnya. Cahaya putih adalah perlambang nafsu pemujaan. Nafsu ini mendorong manusia untuk ingin berbuat baik, ataupun ingin bersembahyang dan beribadah. Keempat nafsu tersebut ibaratnya menjadi bahan bakar bagi manusia, tetapi harus dikendalikan dengan baik dan tidak berlebihan. Karena segala sesuatu yang berlebihan akan menjadi racun bagi kehidupan.

Arya Wrekodara kemudian melihat cahaya yang menyala seperti api, namun memancarkan sinar tujuh warna, yaitu hitam, merah, kuning, putih, hijau, biru, dan jingga. Dewa Ruci menyebut itu adalah “wahananing Pangeran” atau “cahyaning pramana”. Kedelapan sinar itu merupakan perlambang dari kuasa penciptaan. Sinar hitam menunjukkan “nisthaning cipta”, sinar merah menunjukkan “dhustaning cipta”, sinar kuning menunjukkan “doraning cipta”, sinar putih menunjukkan “setyaning cipta”, sinar hijau menunjukkan “sentosaning cipta”, sinar biru menunjukkan “sembadaning cipta”, dan sinar jingga menunjukkan “owah-gingsiring cipta”.

Arya Wrekodara lalu melihat wujud seperti tawon gumana, jernih cahayanya. Dewa Ruci menjelaskan itu adalah perlambang “pramananing sukma”, meliputi jagad besar dan jagad kecil, yang sumber kehidupannya dari “pramananing rasa”.

Arya Wrekodara kemudian melihat wujud seperti boneka gading yang jika diamati seperti bertahtakan mutiara. Wujudnya bersinar terang benderang. Dewa Ruci menyebut itulah yang dinamakan “pramananing rahsa” yang berkuasa atas “purba wasesa” terhadap alam seisinya, mendapat hidup dari Sang Hyang Atma.

Terakhir Arya Wrekodara melihat wujud sifat tunggal, bukan laki-laki juga bukan perempuan. Tidak bertempat juga tidak bertakhta. Tanpa rupa dan tanpa warna. Cahayanya gilang-gemilang tanpa bayangan. Dewa Ruci menyebut itu adalah “Atma Gaib, Sipat Sejati”. Dialah yang kuasa mengatur alam semesta, bertempat di dalam “Sang Urip”.

Arya Wrekodara merasa nyaman tinggal di dalam diri Sang Dewa Ruci. Ingin rasanya ia selamanya tinggal di sana. Dewa Ruci berkata bahwa belum saatnya Arya Wrekodara menyatu dengan diri-Nya. Masih banyak yang harus ia lakukan di alam nyata. Untuk itu, Arya Wrekodara harus kembali ke dunia untuk menyebarkan kasih sayang di antara sesama makhluk, tanpa melihat perbedaan dari jenis apa, suku apa, bangsa apa, agama apa, ataupun golongan apa pun juga.

Arya Wrekodara menurut. Ia pun keluar melalui telinga kanan Dewa Ruci. Sungguh ajaib, saat keluar rambutnya telah digelung, tidak lagi terurai seperti tadi. Dewa Ruci kini juga berwujud sama persis seperti dirinya, karena Dewa Ruci memang perwujudan jati dirinya sendiri.

Dewa Ruci menjelaskan mengapa kini Arya Wrekodara memakai gelung minangkara, adalah perlambang agar ia selalu rendah hati dan berserah diri. Gelung minangkara berwujud rendah di depan, tinggi di belakang, atau kecil di depan, besar di belakang. Meskipun Arya Wrekodara telah mempelajari ilmu Sangkan Paraning Dumadi, pernah merasakan Manunggaling Kawula Gusti, namun hendaknya tetap rendah hati, tidak menunjukkan keberhasilannya di depan umum. Arya Wrekodara tidak boleh tinggi hati, juga tidak boleh pamer kepandaian. Hendaknya Arya Wrekodara tetap menjadi manusia sejati, yaitu rendah hati di hadapan sesama, dan berserah diri di hadapan Sang Pencipta.

Demikianlah, Dewa Ruci telah menjelaskan semuanya. Ia berpesan agar Arya Wrekodara selalu menghormati Resi Druna yang merupakan gurunya di alam nyata. Tanpa perintah dari Resi Druna, tidak mungkin Arya Wrekodara dapat bertemu dengan Dewa Ruci. Usai berkata demikian, ia pun menghilang menjadi seberkas cahaya dan masuk ke dalam diri Arya Wrekodara.

RESI DRUNA MENYUSUL ARYA WREKODARA

Raden Permadi sangat mengkhawatirkan keselamatan kakak keduanya. Ia pun bergegas menuju Kerajaan Hastina dan di tengah jalan bertemu Resi Druna yang hendak pulang ke Padepokan Sokalima. Dengan isak tangis, Raden Permadi meminta sang guru bertanggung jawab apabila Arya Wrekodara tidak kembali ke daratan. Resi Druna harus menyusul mencebur ke dalam samudera.

Resi Druna kecewa di dalam hati karena dulu pernah membangga-banggakan Raden Permadi sebagai murid terbaiknya. Tak disangka, sang murid justru meminta dirinya mencebur ke laut. Akan tetapi, jika dipikir-pikir memang Resi Druna adalah penyebab terjerumusnya Arya Wrekodara. Ia pun berkata jika lewat tengah hari Arya Wrekodara belum juga kembali, maka dirinya bersedia mencebur samudera untuk menyusul muridnya itu.

Akhirnya, matahari pun mulai condong ke barat. Resi Druna bergegas menuju ke lautan dengan diikuti Raden Permadi. Begitu sampai di tepi pantai, ia langsung melompat untuk mencebur ke air. Tiba-tiba Arya Wrekodara muncul dari dalam lautan dan langsung menangkap tubuh sang guru.

Arya Wrekodara menggendong tubuh Resi Druna naik ke daratan dan disambut haru oleh Raden Permadi. Arya Wrekodara mengaku dirinya telah mendapatkan air Tirta Pawitrasari Mahening Suci, tetapi tidak berwujud benda, melainkan berwujud pengalaman rohani bersama Dewa Ruci. Ia sangat berterima kasih kepada Resi Druna yang telah memberikan petunjuk kepadanya.

Resi Druna salah tingkah. Awalnya ia ditugasi menjerumuskan muridnya itu tapi ternyata sang murid justru mendapatkan anugerah yang tak ternilai harganya. Resi Druna pun merasa ikut bahagia. Ia mengajak Arya Wrekodara dan Raden Permadi untuk berdoa bersama, memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa karena semuanya kini berakhir dengan baik.

Arya Bimasena awal berjumpa Dewa Ruci.
Arya Bimasena setelah keluar dari dalam tubuh Dewa Ruci.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya

Kisah para Pandawa nyaris terbakar di Balai Sigala-gala dapat dibaca di sini

Kisah Prabu Duryudana muda dan Arya Wrekodara berguru kepada Wasi Jaladara dapat dibaca di sini









Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Jayadrata Rabi

 No comments   



Kisah ini menceritakan perkawinan Adipati Jayadrata dengan Dewi Dursilawati, satu-satunya anggota Kurawa yang perempuan. Kelak Adipati Jayadrata akan menjadi sekutu penting Prabu Duryudana dalam Perang Bratayuda.

Kisah ini saya olah dari sumber Serat Pustakaraja Purwa karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, dengan pengembangan seperlunya.

Kediri, 24 Desember 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------
 
Adipati Jayadrata

DEWI DRUPADI TELAH MELAHIRKAN BAYI LAKI-LAKI

Prabu Puntadewa di Kerajaan Amarta dihadap Arya Wrekodara beserta si kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa. Hadir pula Prabu Kresna Wasudewa dari Kerajaan Dwarawati yang datang berkunjung dengan ditemani Arya Setyaki. Kedatangan Prabu Kresna adalah untuk menengok permaisuri Kerajaan Amarta, yaitu Dewi Drupadi yang baru saja melahirkan bayi laki-laki.

Prabu Kresna juga bertanya di mana keberadaan Raden Permadi (Arjuna), mengapa tidak terlihat dalam pertemuan? Prabu Puntadewa menjawab bahwa adiknya tersebut belum pulang ke Kerajaan Amarta sejak pernikahan Prabu Duryudana dengan Dewi Banuwati. Arya Wrekodara ikut bicara menanggapi, bahwa antara Raden Permadi dengan Dewi Banuwati memang ada hubungan asmara. Perkawinan antara Dewi Banuwati dengan Prabu Duryudana jelas membuat adiknya itu sakit hati dan memilih pergi berkelana tidak jelas entah ke mana.

Prabu Puntadewa teringat bahwa Raden Permadi dan Dewi Bratajaya sudah dijodohkan sejak kecil. Saat itu mendiang Prabu Basudewa bersumpah dengan disaksikan Prabu Pandu dan Dewi Kunti, bahwa kelak Raden Permadi dan Dewi Bratajaya jika sudah sama-sama dewasa hendaknya menjadi suami-istri, demi mempererat hubungan kekeluargaan antara Wangsa Saptaarga dengan Wangsa Kuntiboja. Untuk itu, Prabu Puntadewa pun mengusulkan agar pernikahan antara Raden Permadi dan Dewi Bratajaya segera dilaksanakan secepatnya, dan semoga ini bisa menjadi sarana bagi adiknya untuk melupakan Dewi Banuwati.

Prabu Kresna kurang setuju jika mereka berdua disegerakan menikah. Meskipun Raden Permadi dan Dewi Bratajaya sudah dijodohkan sejak kecil, namun alangkah baiknya mereka menikah atas kemauan bersama, bukan atas dorongan orang tua. Lagipula Prabu Kresna kurang berkenan apabila Raden Permadi menikah dengan Dewi Bratajaya hanya untuk melupakan cintanya kepada Dewi Banuwati. Itu berarti adiknya hanya dijadikan sebagai pelarian belaka, bukan dinikahi karena tulus hati.

Oleh sebab itu, Prabu Kresna menyarankan agar perkawinan antara Raden Permadi dan Dewi Bratajaya dilaksanakan nanti saja apabila keduanya sudah benar-benar siap lahir dan batin.

ADIPATI JAYADRATA MELAMAR DEWI DRUPADI

Ketika Prabu Puntadewa dan Prabu Kresna masih bercakap-cakap, tiba-tiba datang pemimpin Kadipaten Banakeling dari Tanah Sindu, bernama Adipati Jayadrata. Ia datang untuk menyampaikan keinginannya, yaitu memperistri Dewi Drupadi. Dulu ketika Prabu Drupada menggelar sayembara memanah untuk memperebutkan Dewi Drupadi, Adipati Jayadrata gagal karena tidak kuat mengangkat Busur Gandiwa yang menjadi syarat sayembara. Ia kemudian pulang dengan perasaan malu.

Namun, di tengah jalan Adipati Jayadrata mendengar berita bahwa Prabu Drupada mengubah sayembara tidak lagi adu ketangkasan memanah, tetapi menjadi sayembara tanding melawan Arya Gandamana. Adipati Jayadrata pun buru-buru kembali ke Kerajaan Pancala Selatan untuk menantang Arya Gandamana. Akan tetapi, sesampainya di sana ternyata Arya Gandamana telah gugur, dan Dewi Drupadi diboyong para Pandawa.

Peristiwa tersebut sudah berlalu hampir dua tahun, tetapi perasaan kecewa Adipati Jayadrata belum juga sembuh. Apalagi wajah cantik Dewi Drupadi saat menonton sayembara di tepi gelanggang, selalu membayang-bayangi pikiran adipati dari Banakeling tersebut. Maka, hari ini Adipati Jayadrata pun memberanikan diri datang ke istana Indraprasta, meminta kepada Prabu Puntadewa untuk menceraikan Dewi Drupadi agar kemudian bisa menjadi istrinya.

Prabu Puntadewa yang selalu berprasangka baik menjawab tidak masalah jika ia harus melepaskan Dewi Drupadi. Jangankan istri, sedangkan nyawa saja ia berikan apabila ada orang yang meminta secara baik-baik. Akan tetapi, pernikahan antara dirinya dengan Dewi Drupadi bukanlah murni atas usahanya sendiri, melainkan berkat kerja keras Arya Wrekodara dalam mengalahkan Arya Gandamana. Maka, apabila Adipati Jayadrata ingin menikahi Dewi Drupadi, sebaiknya serah terima dilakukan dengan Arya Wrekodara, bukan dengan dirinya.

Adipati Jayadrata merasa senang dan segera bertanya kepada Arya Wrekodara kapan kiranya serah terima Dewi Drupadi bisa dilaksanakan. Arya Wrekodara menjawab hari ini juga, tetapi tidak di dalam istana Indraprasta, melainkan di tengah alun alun. Ia meminta serah terima disaksikan oleh para prajurit Banakeling yang berbadan kekar dengan senjata lengkap. Adipati Jayadrata merasa heran mengapa ada syarat semacam itu. Arya Wrekodara pun meyakinkan bahwa adat tradisi di Kerajaan Amarta memang demikian adanya. Adipati Jayadrata merasa maklum kemudian keluar mempersiapkan diri.

PRABU KRESNA MEMBERI NAMA PUTRA PRABU PUNTADEWA

Setelah Adipati Jayadrata keluar, Prabu Puntadewa segera membubarkan pertemuan dan menyerahkan segala urusan keamanan kepada Arya Wrekodara. Ia meminta jangan sampai ada pertumpahan darah karena Adipati Jayadrata ini merupakan raja bawahan sekaligus kawan baik Prabu Duryudana di Kerajaan Hastina. Jika sampai Adipati Jayadrata tewas, bisa-bisa ini menjadi alasan Prabu Duryudana untuk memerangi Kerajaan Amarta. Arya Wrekodara mengatakan dirinya tidak takut pada Kurawa. Prabu Puntadewa menjawab ini bukan masalah takut atau berani, tetapi perang akan membawa kerugian bagi rakyat jelata. Bagaimanapun juga Perang Bratayuda harus dihindari, meskipun sudah diramalkan oleh para dewa.

Setelah membubarkan pertemuan, Prabu Puntadewa pun mengajak Prabu Kresna masuk ke dalam kedaton untuk menengok Dewi Drupadi dan bayinya. Sesampainya di dalam, Prabu Kresna sangat gembira melihat keponakan barunya yang tampan dan mungil, dalam gendongan Dewi Drupadi.

Prabu Kresna segera menggendong bayi tersebut dan bertanya siapa namanya. Prabu Puntadewa menjawab belum ada dan meminta agar Prabu Kresna saja yang memberi nama. Prabu Kresna menyanggupi. Ia berkata bahwa Dewi Drupadi berasal dari Kerajaan Pancala, sehingga dijuluki pula sebagai Dewi Pancali. Oleh karena itu, akan sangat pantas apabila putranya diberi nama Raden Pancawala.

Prabu Puntadewa dan Dewi Drupadi menyambut baik nama pemberian Prabu Kresna atas putra mereka. Keduanya lalu mengajak Prabu Kresna menikmati perjamuan. Prabu Kresna menjawab soal perjamuan bisa ditunda nanti apabila Arya Wrekodara telah berhasil mengatasi Adipati Jayadrata. Selain itu, Prabu Kresna juga ingin mencari keberadaan Raden Permadi dan mengajaknya pulang ke Amarta.

ARYA WREKODARA MENAKLUKKAN ADIPATI JAYADRATA

Arya Wrekodara didampingi Arya Setyaki dan Raden Gatutkaca telah berhadapan dengan Adipati Jayadrata di alun alun. Adipati Jayadrata telah menyiapkan pasukan Banakeling dengan senjata lengkap dan ia pun meminta agar Dewi Drupadi segera diserahkan kepadanya. Arya Wrekodara menjawab, kakak iparnya itu pasti diserahkan tetapi Adipati Jayadrata harus membayar tebusan, yaitu meninggalkan kepalanya di Kerajaan Amarta.

Adipati Jayadrata marah dan memerintahkan pasukannya untuk menyerang. Arya Wrekodara menghadapi dengan mengerahkan pasukan Amarta pula. Pertempuran sengit pun terjadi. Arya Setyaki dan Raden Gatutkaca ikut membantu mengatasi musuh. Adipati Jayadrata akhirnya kalah dalam pertarungan melawan Arya Wrekodara. Sebenarnya Arya Wrekodara ingin membunuh adipati Banakeling tersebut tetapi teringat pada pesan sang kakak sulung, sehingga hanya menghajarnya hingga babak belur saja.

Tiba-tiba dari angkasa turun Batara Narada melerai Arya Wrekodara yang menyiksa Adipati Jayadrata. Prabu Kresna dan Prabu Puntadewa buru-buru keluar istana untuk menyembah hormat kepada dewa tersebut. Batara Narada datang untuk menjelaskan bahwa antara Arya Wrekodara dan Adipati Jayadrata sesungguhnya masih bersaudara. Dahulu ketika lahir ke dunia, tubuh Arya Wrekodara terbungkus oleh selaput keras yang terbuat dari air ketubannya sendiri. Tidak ada satu senjata pun yang dapat merobek bungkus tersebut. Setelah empat belas tahun berlalu, bungkus itu akhirnya dapat dipecah oleh Gajah Sena yang dikirim para dewa. Selaput pembungkus itu lalu dibawa Batara Narada ke Kadipaten Banakeling untuk diserahkan kepada Adipati Sapwani dan Dewi Drata yang bertapa ingin memiliki putra. Demikianlah, Adipati Jayadrata sesungguhnya berasal dari selaput pembungkus Arya Wrekodara tersebut.

Mendengar penjelasan dari Batara Narada, Arya Wrekodara pun berpelukan dengan Adipati Jayadrata dan meminta maaf karena tadi telah menghajarnya. Batara Narada lalu mengatakan bahwa Adipati Jayadrata jangan lagi menginginkan Dewi Drupadi, karena sang dewi bukanlah jodohnya. Adapun jodoh Adipati Jayadrata yang sebenarnya adalah satu-satunya putri dalam keluarga Kurawa, yaitu Dewi Dursilawati. Untuk itu, Adipati Jayadrata dipersilakan pergi ke Kerajaan Hastina jika ingin memiliki istri, bukannya menyerang Kerajaan Amarta.

Adipati Jayadrata berterima kasih atas petunjuk yang diberikan Batara Narada. Ia pun meminta maaf kepada Prabu Puntadewa dan yang lain, kemudian undur diri meninggalkan Kerajaan Amarta. Setelah keadaan tenang kembali, Prabu Kresna mengajak Arya Wrekodara pergi mencari hilangnya Raden Permadi. Prabu Puntadewa pun melepas kepergian mereka dengan harapan semoga sang adik bisa segera ditemukan.

PRABU DURYUDANA MENERIMA LAMARAN ADIPATI JAYADRATA

Adipati Jayadrata telah sampai di istana Kerajaan Hastina dan menghadap Prabu Duryudana. Ia berterus terang menyampaikan niatnya ingin menikah dengan Dewi Dursilawati. Prabu Duryudana yang sudah lama berteman dengan Adipati Jayadrata langsung menerima lamaran itu. Ia merasa senang apabila adiknya bisa menjadi istri adipati Banakeling tersebut.

Akan tetapi, Dewi Dursilawati saat ini tidak berada di dalam istana karena hilang diculik seekor gajah putih. Adipati Jayadrata heran mengapa bisa terjadi demikian. Prabu Duryudana pun bercerita bahwa saat dirinya menikah dengan Dewi Banuwati beberapa waktu yang lalu, ia mendapatkan seekor gajah putih bernama Gajah Murdaningkung dari Hutan Pringgabaya sebagai syarat perkawinan. Pagi tadi Dewi Dursilawati merengek ingin mencoba bagaimana rasanya mengendarai gajah putih tersebut. Arya Dursasana pun menuntun Gajah Murdaningkung dan menyerahkannya kepada sang adik. Begitu Dewi Dursilawati menaiki punggung si gajah putih, tiba-tiba hewan tersebut bisa berbicara. Ternyata dia bukan Gajah Murdaningkung, melainkan penjelmaan seorang musuh yang ingin membalas dendam kepada Prabu Duryudana. Segera gajah putih itu pun berlari pergi dengan membawa Dewi Dursilawati di atas pungungnya.

Arya Dursasana sangat ketakutan dan segera memeriksa ke kandang, ternyata Gajah Murdaningkung yang asli masih ada. Ia pun mohon pamit kepada Prabu Duryudana untuk mengejar perginya si gajah putih palsu dan merebut kembali Dewi Dursilawati. Arya Kartawarma, Arya Srutayu, Arya Durmagati, dan para Kurawa lainnya ikut pergi menemani sang kakak kedua.

Demikianlah, Prabu Duryudana mengakhiri ceritanya. Ia dengan senang hati menerima Adipati Jayadrata sebagai adik ipar, tetapi sayang sekali Dewi Dursilawati saat ini hilang dibawa lari seekor gajah putih. Mendengar itu, Adipati Jayadrata pun mohon pamit untuk menyusul Arya Dursasana dan yang lain demi merebut kembali calon istrinya.

RADEN PERMADI BERGURU KEPADA RESI MITREYA

Sementara itu, Raden Permadi dan para panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong sedang berada di padepokan milik Resi Mitreya yang terletak di Gunung Mestri. Resi Mitreya ini adalah suami dari Nyai Basusi, sedangkan Nyai Basusi adalah putri mendiang Resi Basusara, yaitu patih Kerajaan Hastina pada masa pemerintahan Prabu Santanu.

Setelah perkawinan Prabu Duryudana dengan Dewi Banuwati di Kerajaan Mandraka, Raden Permadi tidak pulang ke Kerajaan Amarta, tetapi pergi berkelana hingga sampai ke Gunung Mestri. Di gunung inilah ia bertemu Resi Mitreya yang sedang sibuk menghadapi gangguan para raksasa hutan. Raden Permadi pun turun tangan membantu menumpas para raksasa tersebut. Resi Mitreya berterima kasih atas bantuan Sang Panengah Pandawa. Sejak itulah Raden Permadi tinggal di Gunung Mestri dan berguru sejumlah ilmu pengetahuan baru kepada Resi Mitreya.

Hari itu tiba-tiba Raden Permadi mendengar suara jeritan seorang perempuan yang samar-samar ia kenali. Raden Permadi dan Resi Mitreya segera memeriksa dan ternyata Dewi Dursilawati sedang duduk di atas punggung seekor gajah putih yang berlari kencang.

RADEN PERMADI MENOLONG DEWI DURSILAWATI

Raden Permadi segera melesat menerjang si gajah putih dan menyambar tubuh sepupunya. Dewi Dursilawati pun berhasil diturunkan dari punggung hewan tersebut. Gajah putih itu sangat marah dan menubruk Raden Permadi. Terjadilah perkelahian di antara mereka. Raden Permadi terdesak oleh kekuatan si gajah putih. Ia lalu mengheningkan cipta mengerahkan ilmu Angin Garuda, membuat si gajah putih terhempas jauh entah ke mana.

Dewi Dursilawati berterima kasih banyak atas bantuan Raden Permadi. Ia pun bercerita dari awal hingga akhir. Pada mulanya ia merengek ingin merasakan seperti apa duduk di atas punggung Gajah Murdaningkung. Atas izin Prabu Duryudana, Arya Dursasana pun pergi ke kandang dan mengambil gajah tersebut. Tak disangka, yang ia ambil justru Gajah Murdaningkung palsu. Begitu Dewi Dursilawati menaikinya, gajah putih tersebut langsung berontak dan membawanya kabur. Di sepanjang jalan, si gajah putih merayu Dewi Dursilawati dengan mengatakan bahwa ia sebenarnya adalah penjelmaan Prabu Jayasengara dari Kerajaan Tirtakandaka. Tujuan utamanya menculik Dewi Dursilawati adalah untuk membalas kematian Prabu Jayalengkara raja Nrancangpura yang merupakan adik kandung Prabu Jayasengara. Adapun kematian Prabu Jayalengkara terjadi di Kerajaan Mandraka ketika ia berusaha menculik Dewi Banuwati beberapa waktu yang lalu.

Demikianlah, Prabu Jayasengara menjelma sebagai Gajah Murdaningkung palsu untuk menculik Dewi Dursilawati agar Prabu Duryudana sakit hati, tetapi ia justru benar-benar jatuh cinta kepada perempuan Kurawa tersebut. Hingga akhirnya Raden Permadi dan Resi Mitreya muncul membebaskan sang putri. Dewi Dursilawati pun sangat berterima kasih atas pertolongan mereka.

RADEN PERMADI DIKEROYOK PARA KURAWA

Raden Permadi dan Resi Mitreya lalu mengantarkan Dewi Dursilawati pulang ke Kerajaan Hastina. Di tengah jalan mereka bertemu Arya Dursasana dan para Kurawa lainnya yang sedang mengejar si gajah putih untuk merebut adik mereka. Arya Dursasana pun menuduh Raden Permadi telah menjelma sebagai gajah putih untuk menculik Dewi Dursilawati. Ia juga menyebut Resi Mitreya pasti guru baru Raden Permadi yang telah mengajarkan bagaimana caranya menjelma menjadi binatang.

Dewi Dursilawati menjelaskan kepada sang kakak bahwa Raden Permadi dan Resi Mitreya justru telah menolong dirinya dan mengusir si gajah putih. Arya Dursasana tidak percaya dan menuduh Dewi Dursilawati telah terkena pengaruh sihir Resi Mitreya sehingga membela Raden Permadi. Arya Dursasana lalu memerintahkan adik-adiknya untuk mengeroyok kedua orang itu. Keduanya pun membela diri. Terjadilah pertempuran di mana para Kurawa tidak mampu mengalahkan Resi Mitreya dan Raden Permadi.

Tidak lama kemudian datanglah Adipati Jayadrata bersama pasukan Banakeling. Mereka segera membantu para Kurawa untuk menangkap Raden Permadi dan Resi Mitreya. Namun, bala bantuan yang baru datang ini juga dibuat porak poranda oleh hujan panah yang dilepaskan Raden Permadi. Arya Dursasana, Adipati Jayadrata, dan yang lain akhirnya memutuskan mundur untuk melapor kepada Prabu Duryudana.

RADEN PERMADI DAN RESI MITREYA DIMASUKKAN KE DALAM PENJARA

Arya Dursasana dan Adipati Jayadrata telah kembali ke hadapan Prabu Duryudana di istana Hastina. Arya Dursasana pun melaporkan bahwa penculik Dewi Dursilawati yang berwujud gajah putih ternyata penjelmaan Raden Permadi. Patih Sangkuni menanggapi bahwa hal ini sangat masuk akal karena si gajah putih mengaku ingin membalas dendam kepada Prabu Duryudana, dan tentunya ini berkaitan dengan soal Dewi Banuwati. Prabu Duryudana sangat marah karena hasutan Patih Sangkuni, dan ia pun memercayai laporan Arya Dursasana.

Resi Druna adalah yang tidak percaya pada laporan tersebut karena ia tahu Raden Permadi tidak memiliki ilmu mengubah wujud menjadi binatang. Arya Dursasana menjawab saat ini Raden Permadi sudah memiliki guru baru bernama Resi Mitreya. Ia yakin pasti pendeta tua itulah yang telah mengajarkan cara berubah wujud menjadi gajah putih.

Patih Sangkuni memanas-manasi Resi Druna bahwa dulu Raden Permadi pernah dibangga-banggakan sebagai murid terbaik Padepokan Sokalima, ternyata sekarang mendua dan berguru kepada orang lain. Celakanya, sang guru baru ternyata jauh lebih sakti daripada guru yang lama. Ia yakin pasti sebentar lagi Raden Permadi akan menjadi murid durhaka yang berani melawan Resi Druna.

Resi Druna sangat kesal mendengar hasutan Patih Sangkuni. Tidak lama kemudian Raden Permadi dan Resi Mitreya pun datang bersama Dewi Dursilawati. Prabu Duryudana menyambut dengan marah-marah dan memerintahkan agar mereka berdua dijebloskan ke dalam penjara. Dewi Dursilawati menjelaskan bahwa semua ini salah paham, dan penculik yang sebenarnya adalah Prabu Jayasengara, raja Tirtakandaka. Orang itulah yang menjelma sebagai gajah putih dan membawa dirinya kabur. Justru Raden Permadi yang telah membebaskan dirinya dan mengalahkan Prabu Jayasengara.

Prabu Duryudana tidak percaya, bahkan ganti memarahi Dewi Dursilawati. Ia menuduh adiknya itu telah jatuh cinta kepada Raden Permadi sehingga membela sedemikian rupa. Ia melarang Dewi Dursilawati berhubungan dengan Raden Permadi, karena harus segera menikah dengan Adipati Jayadrata dan ini tidak boleh dibantah.

Dewi Dursilawati menjawab dirinya sama sekali tidak jatuh cinta kepada Raden Permadi yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri. Ini semua bukan soal asmara, tetapi soal keadilan. Ia tidak keberatan menikah dengan Adipati Jayadrata jika memang ini menjadi keputusan sang kakak sulung. Akan tetapi, ia ingin menuntut keadilan untuk Raden Permadi dan Resi Mitreya yang menjadi korban fitnah.

Prabu Duryudana marah-marah hendak memukul Dewi Dursilawati. Pada saat itulah Dewi Banuwati muncul dan segera membawa Dewi Dursilawati masuk ke dalam.

Resi Druna kemudian bertanya kepada Raden Permadi apakah dirinya masih dianggap sebagai guru. Jika masih, maka Raden Permadi tidak boleh melawan saat diperintahkan untuk masuk penjara. Raden Permadi menyatakan bahwa dirinya selalu menganggap Resi Druna sebagai guru utama dan ia pun siap apabila dijebloskan ke dalam penjara. Maka, para Kurawa segera menangkap Raden Permadi dan membawanya menuju penjara. Melihat itu, Resi Mitreya dan para panakawan pun menyerahkan diri untuk ikut ditangkap masuk penjara demi menemani Raden Permadi.

PRABU JAYASENGARA MENYERANG KERAJAAN HASTINA

Prabu Duryudana telah menetapkan hari perkawinan antara Dewi Dursilawati dengan Adipati Jayadrata. Segala sesuatunya telah dipersiapkan. Namun, sang pengantin wanita masih mengurung diri di dalam kamar. Ia menolak menikah dengan laki-laki pilihan kakak sulungnya apabila Raden Permadi belum dibebaskan.

Ketika para tamu mulai berdatangan, tiba-tiba muncul seekor gajah putih yang diikuti pasukan hewan berbagai jenis sedemikian banyaknya menyerang Kerajaan Hastina. Gajah putih tersebut tidak lain adalah penjelmaan Prabu Jayasengara yang datang bersama segenap pasukan Tirtakandaka untuk membalas kekalahannya tempo hari.

Prabu Duryudana dan para Kurawa pun kalang kabut karena mendapat serangan mendadak dari pasukan binatang tersebut. Persiapan pernikahan menjadi porak poranda. Dewi Banuwati segera berlari ke penjara dan memaksa prajurit penjaga untuk mengeluarkan Raden Permadi dan Resi Mitreya.

Begitu dirinya bebas, Raden Permadi segera terjun menghadapi amukan si gajah putih. Ia melepaskan panah bermantra yang membuat gajah putih itu kembali ke wujud aslinya, yaitu Prabu Jayasengara. Begitu pula dengan hewan-hewan lainnya, semuanya telah kembali ke wujud manusia berkat Aji Pengabaran yang dikerahkan Resi Mitreya.

Raden Permadi lalu bertarung melawan Prabu Jayasengara. Dalam wujud manusia, kekuatan Prabu Jayasengara berkurang banyak. Tidak lama kemudian, ia pun tewas terkena tikaman Keris Pulanggeni milik Raden Permadi.

Para prajurit Tirtakandaka mengamuk atas kematian raja mereka dan maju mengeroyok Raden Permadi. Pada saat itulah datang Arya Wrekodara dan Prabu Kresna yang sedang dalam perjalanan mencari adik mereka. Arya Wrekodara segera membantu Raden Permadi menerjang para prajurit Tirtakandaka tersebut. Mereka pun kocar-kacir akibat amukan sang Panenggak Pandawa. Sebagian tewas di tempat, dan sebagian lagi kabur melarikan diri.

RESI MITREYA MENGUTUK ARYA DURSASANA

Prabu Duryudana meminta maaf kepada Raden Permadi dan Resi Mitreya karena dirinya terburu nafsu telah memercayai laporan palsu Arya Dursasana. Raden Permadi bisa memaafkan, tetapi Resi Mitreya terlanjur marah atas fitnah yang diucapkan Kurawa nomor dua tersebut. Resi Mitreya pun mengutuk Arya Dursasana yang tidak dapat mengenali kebenaran, maka kelak akan mati dalam wujud yang susah dikenali. Setelah mengutuk demikian, Resi Mitreya pun bergegas pulang ke Gunung Mestri.

Prabu Kresna, Arya Wrekodara, dan Raden Permadi juga mohon pamit kepada Prabu Duryudana untuk kembali ke Kerajaan Amarta. Prabu Duryudana menahan mereka agar tinggal sementara waktu demi menyaksikan pernikahan Adipati Jayadrata dengan Dewi Dursilawati.

Demikianlah, karena Raden Permadi telah dipulihkan nama baiknya, Dewi Dursilawati pun bersedia keluar kamar untuk menikah dengan Adipati Jayadrata. Upacara pernikahan yang seharusnya berlangsung meriah, kini dilaksanakan secara sederhana saja, karena segala persiapan telah rusak akibat serangan mendadak pasukan binatang tadi.

Dewi Dursilawati
------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Kisah perkawinan Adipati Jayadrata dan Dewi Dursilawati dalam Serat Pustakaraja Purwa karya Raden Ngabehi Ranggawarsita terjadi pada tahun Suryasengakala 695 yang ditandai dengan sengkalan “Yaksa Rudra angoyak langit”, atau tahun Candrasengkala 716 yang ditandai dengan sengkalan “Angrasa tunggal wangsa”.

Untuk kisah lahirnya Adipati Jayadrata dapat dibaca di sini

Untuk kisah kegagalan Adipati Jayadrata menikahi Dewi Drupadi dapat dibaca di sini








Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ▼  2016 (51)
    • ▼  December (5)
      • Dewa Ruci
      • Jayadrata Rabi
      • Duryudana Rabi
      • Gatutkaca Lahir
      • Wahyu Purbasejati
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja