Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Sumitra Rabi

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang perkawinan antara Raden Sumitra putra Raden Arjuna dengan Dewi Asmarawati putri Prabu Suryaasmara. Perkawinan ini merupakan penggenapan atas cita-cita Prabu Suryaasmara dalam lakon Arjuna Tumbal.

Kisah ini saya olah dari sumber Ensiklopedia Wayang Purwa karya Rio Sudibyoprono, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 22 Februari 2018

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini


------------------------------ ooo ------------------------------

RENCANA PERNIKAHAN RADEN LESMANA MANDRAKUMARA DENGAN DEWI ASMARAWATI

Di Kerajaan Hastina, Prabu Duryudana menerima penghadapan Danghyang Druna dari Sokalima, Adipati Karna dari Awangga, Patih Sangkuni dari Plasajenar, dan Raden Kartawarma dari Tirtatinalang. Dalam pertemuan itu mereka membahas tentang putra mahkota, yaitu Raden Lesmana Mandrakumara satria Sarojabinangun yang telah gagal menikah dengan Dewi Karnawati, sekarang ingin menikah dengan Dewi Asmarawati, putri Prabu Suryaasmara dari Kerajaan Parangkencana.

Adipati Karna meminta maaf atas kegagalan pernikahan antara putrinya dengan Raden Lesmana tersebut. Kegagalan itu dikarenakan Raden Bratalaras putra Raden Arjuna telah memenangkan sayembara, sehingga berhak memboyong Dewi Karnawati. Patih Sangkuni menyahut, bahwa kemenangan Raden Bratalaras terjadi karena kelicikan Bambang Wisanggeni yang menghadirkan Arya Wrekodara palsu. Harusnya Adipati Karna bisa membatalkan perkawinan itu dan menolak kemenangan Raden Bratalaras. Danghyang Druna menyela ikut bicara, bahwa tidak perlu menyebut Bambang Wisanggeni licik, karena Patih Sangkuni jauh lebih banyak berbuat licik terhadap para Pandawa daripada dia.

Prabu Duryudana tidak senang perihal kegagalan putranya diungkit-ungkit. Sekarang yang lebih penting adalah bagaimana caranya mendapatkan Dewi Asmarawati. Adipati Karna mengajukan diri biar dia saja yang pergi melamar ke Kerajaan Parangkencana. Prabu Duryudana menyetujui. Namun, ia juga memerintahkan Danghyang Druna beserta Patih Sangkuni agar ikut berangkat mendampingi.

Setelah dirasa cukup, Prabu Duryudana pun membubarkan pertemuan. Patih Sangkuni segera memberikan perintah kepada Arya Dursasana, Raden Surtayu, Raden Durmagati, beserta para Kurawa lainnya agar bersiap menyertai perjalanan ke Kerajaan Parangkencana.

DEWI ASMARAWATI MENDAPAT LAMARAN DARI DUA PIHAK

Prabu Suryaasmara di Kerajaan Parangkencana beserta gurunya yang bernama Resi Indrajala menerima kedatangan rombongan dari Kerajaan Hastina. Adipati Karna, Danghyang Druna, dan Patih Sangkuni pun memperkenalkan diri mereka masing-masing. Kemudian Adipati Karna selaku juru bicara menyampaikan maksud kedatangan mereka, yaitu hendak melamar Dewi Asmarawati sebagai calon istri Raden Lesmana Mandrakumara, putra mahkota Kerajaan Hastina.

Prabu Suryaasmara sudah lama mendengar nama besar Prabu Duryudana yang merupakan raja paling kaya di dunia saat ini. Sudah tentu ia mendapat kehormatan besar jika bisa berbesan dengannya. Akan tetapi, Prabu Suryaasmara terlanjur berhutang budi kepada Raden Arjuna sang Panengah Pandawa. Dahulu kala, Kerajaan Parangkencana pernah diserang wabah penyakit. Berkat pengorbanan tetesan darah Raden Arjuna, wabah penyakit tersebut bisa musnah dari bumi Parangkencana. Saat itu kebetulan istri Raden Arjuna yang bernama Dewi Sulastri melahirkan bayi laki-laki bernama Raden Sumitra. Prabu Suryaasmara pun bercita-cita apabila memiliki anak perempuan, semoga kelak bisa berjodoh dengan Raden Sumitra tersebut. Ternyata benar, istrinya kemudian melahirkan anak perempuan yang diberi nama Dewi Asmarawati.

Itulah sebabnya kini Prabu Suryaasmara merasa berat hati untuk menerima pinangan Kerajaan Hastina, karena sudah terlanjur berjanji kepada Raden Arjuna. Patih Sangkuni menyela ikut bicara. Ia berkata bahwa Prabu Suryaasmara dulu berkata “semoga” anaknya bisa berjodoh dengan Raden Sumitra. Kata “semoga” adalah pengharapan, bukan perjanjian. Itu artinya, Prabu Suryaasmara tidak bisa dianggap telah berjanji. Jika Dewi Asmarawati dinikahkan dengan Raden Lesmana Mandrakumara, maka tidak akan ada janji yang dilanggar, karena memang Prabu Suryaasmara tidak pernah berjanji.

Prabu Suryaasmara merasa ucapan Patih Sangkuni ada benarnya. Namun, ia ingin meminta pertimbangan Resi Indrajala terlebih dahulu soal hal ini. Belum sempat gurunya itu menjawab, tiba-tiba muncul Raden Antareja dan Raden Gatutkaca menghadap. Kedua putra Arya Wrekodara itu menyembah Prabu Suryaasmara, dan memperkenalkan diri mereka sebagai utusan Raden Arjuna untuk menanyakan kelanjutan perjodohan antara Raden Sumitra dengan putri Kerajaan Parangkencana. Rupanya Raden Arjuna telah mendengar berita bahwa Prabu Suryaasmara memiliki seorang putri bernama Dewi Asmarawati.

Adipati Karna menukas dengan mengatakan bahwa Dewi Asmarawati hendak dinikahkan dengan Raden Lesmana Mandrakumara. Untuk itu, sebaiknya Raden Sumitra mencari perempuan lain saja. Raden Antareja menjawab, Dewi Asmarawati sudah dijodohkan dengan sepupunya sejak belum dilahirkan. Maka, sebaiknya Raden Lesmana Mandrakumara saja yang mencari perempuan lain. Patih Sangkuni ikut bicara, bahwa Prabu Suryaasmara tidak pernah berjanji demikian, melainkan saat itu hanya berkata jika kelak memiliki anak perempuan “semoga” bisa berjodoh dengan Raden Sumitra yang baru lahir. Kata “semoga” jelas tidak bisa dianggap sebagai perjanjian.

Raden Antareja dan Raden Gatutkaca jelas kalah jika adu bicara dengan Patih Sangkuni yang licik. Mereka tidak mau berdebat dan meminta agar Prabu Suryaasmara saja yang mengambil keputusan, lamaran pihak mana yang akan diterima.

Prabu Suryaasmara kembali bertanya kepada Resi Indrajala mengenai keputusan apa yang harus ia ambil. Resi Indrajala berkata bahwa kedua pihak sama-sama benar. Dahulu kala Prabu Suryaasmara bisa dikatakan berjanji, namun bisa juga dikatakan tidak berjanji. Untuk itu, agar tidak menyakiti perasaan salah satu pihak, maka sebaiknya diadakan sayembara saja.

Prabu Suryaasmara berpikir sejenak, lalu berkata bahwa ia menerima nasihat Resi Indrajala untuk mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat mewujudkan apa saja persyaratan darinya, maka orang itulah yang berhak menjadi suami Dewi Asmarawati. Persyaratan itu adalah: pengantin pria harus menunggang Kuda Ciptawalaha dan dipayungi menggunakan Payung Tunggulnaga saat mendatangi Kerajaan Parangkencana; kedua, pernikahan harus dilaksanakan di dalam Balai Sasanamulya yang dihadiri seratus bidadari. Demikianlah isi sayembara Prabu Suryaasmara.

Adipati Karna dan Raden Antareja sama-sama menyatakan sanggup. Mereka lalu undur diri meninggalkan Kerajaan Parangkencana.

PARA KURAWA HENDAK MENYINGKIRKAN SAINGAN

Sesampainya di luar, Adipati Karna, Danghyang Druna, dan Patih Sangkuni berunding bagaimana caranya memenangkan sayembara, karena pengalaman sebelumnya selalu saja pihak Pandawa yang unggul. Patih Sangkuni mengusulkan agar Adipati Karna berangkat ke Kerajaan Dwarawati untuk meminjam Kuda Ciptawalaha kepada Prabu Kresna Wasudewa, sedangkan Danghyang Druna pergi ke Kerajaan Amarta untuk meminjam Payung Tunggulnaga kepada Prabu Puntadewa. Adapun Patih Sangkuni dan para Kurawa akan menghambat perjalanan pulang Raden Antareja dan Raden Gatutkaca demi mengurangi saingan. Setelah dicapai kata sepakat, ketiga orang itu pun pergi berpencar.

Patih Sangkuni segera memerintahkan para Kurawa, antara lain Arya Dursasana, Raden Kartawarma, Raden Surtayu, Raden Durjaya, Raden Durmuka, Raden Durmagati, Raden Citraksa, Raden Citraksi, ditambah pula dengan Adipati Jayadrata dan Bambang Aswatama untuk pergi menyergap Raden Antareja dan Raden Gatutkaca. Tujuannya ialah, agar kedua pemuda itu terlambat menyampaikan berita kepada Raden Arjuna dan Raden Sumitra. Dengan demikian, saingan Raden Lesmana Mandrakumara bisa berkurang. 

Para Kurawa itu segera berangkat melaksanakan tugas. Mereka menemukan Raden Antareja beserta Raden Gatutkaca dan segera mengeroyok kedua pemuda itu. Namun, keduanya bukanlah pemuda sembarangan. Mereka pun melayani serangan para Kurawa dengan mudah. Para Kurawa dibuat babak belur dan berguling-guling di tanah. Namun, Raden Gatutkaca akhirnya menyadari apa yang menjadi tujuan para Kurawa menghadang mereka. Ia pun mengajak Raden Antareja untuk segera pergi, tidak perlu melayani serangan para Kurawa itu.

DANGHYANG DRUNA MEMINJAM PAYUNG TUNGGULNAGA

Di Kerajaan Amarta, Prabu Puntadewa memimpin pertemuan yang dihadiri adik-adiknya, yaitu Arya Wrekodara, Raden Arjuna, Raden Nakula, dan Raden Sadewa. Tidak lama kemudian datanglah Danghyang Druna di istana Indraprasta. Prabu Puntadewa dan yang lain segera memberikan penghormatan kepada guru mereka itu.

Danghyang Druna lalu menyampaikan maksud kedatangannya adalah untuk meminjam Payung Tunggulnaga sebagai syarat pernikahan Raden Lesmana Mandrakumara. Prabu Puntadewa dengan senang hati langsung meminjamkan payung pusaka tersebut. Danghyang Druna menerima payung itu dan segera pamit pulang ke Kerajaan Hastina.

Tiba-tiba datanglah Raden Antareja dan Raden Gatutkaca. Kedua pemuda itu melaporkan hasil kunjungan mereka ke Kerajaan Parangkencana kepada Raden Arjuna, serta apa saja persyaratan yang diajukan Prabu Suryaasmara, yang salah satunya adalah Payung Tunggulnaga. Prabu Puntadewa meminta maaf karena Payung Tunggulnaga sudah terlanjur dibawa Danghyang Druna.

Raden Arjuna terdiam sejenak, kemudian berkata dirinya tidak akan merebut Payung Tunggulnaga dari tangan sang guru. Ia merasa kesal pada Prabu Suryaasmara yang telah mengingkari janji dan sekarang justru mempersulit putranya dengan mengajukan persyaratan aneh-aneh. Oleh sebab itu, Raden Antareja dan Raden Gatutkaca diperintahkan untuk memberi tahu Raden Sumitra bahwa pernikahan dengan Dewi Asmarawati tidak usah dilanjutkan.

Raden Antareja dan Raden Gatutkaca saling pandang lalu mohon pamit keluar istana untuk mencari Raden Sumitra.

KYAI SEMAR MEMBAGI TUGAS UNTUK MEMENANGKAN RADEN SUMITRA

Raden Antareja dan Raden Gatutkaca berhasil menemukan Raden Sumitra yang baru saja pulang dari Padepokan Saptaarga, meminta restu kepada sang kakek buyut, yaitu Bagawan Abyasa. Para panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong ikut menyertai kepergiannya. Raden Antareja segera menceritakan hasil kunjungannya bersama Raden Gatutkaca ke Kerajaan Parangkencana, juga apa saja persyaratan yang diajukan Prabu Suryaasmara. Akan tetapi, Payung Tunggulnaga sudah lebih dulu dibawa Danghyang Druna, sedangkan Raden Arjuna tidak bersedia merebutnya. Bahkan, Raden Arjuna telah memerintahkan agar pernikahan Raden Sumitra dengan Dewi Asmarawati dibatalkan saja.

Raden Sumitra merasa putus asa. Kyai Semar berkata dirinya bersedia membantu asalkan Raden Sumitra benar-benar mencintai Dewi Asmarawati. Raden Sumitra berkata dirinya benar-benar ingin menikah dengan putri Prabu Suryaasmara tersebut. Sejak kecil ia sudah mendengar cerita bahwa dirinya sudah mempunyai calon istri apabila Prabu Suryaasmara memiliki anak perempuan. Ketika beranjak dewasa, Raden Sumitra merasa penasaran dan diam-diam menyusup ke dalam Kerajaan Parangkencana. Ia akhirnya bertemu dengan Dewi Asmarawati dan sama-sama saling jatuh cinta.

Mendengar itu, Kyai Semar merasa mantap dan segera membagi tugas. Ia bersama Raden Sumitra akan naik ke kahyangan untuk mendapatkan Balai Sasanamulya dan seratus bidadari. Adapun Raden Antareja ditugasi mendapatkan Kuda Ciptawalaha, sedangkan Raden Gatutkaca dan para panakawan Nala Gareng, Petruk, dan Bagong ditugasi merebut Payung Tunggulnaga dari tangan Danghyang Druna.

Setelah rencana disusun matang, ketiga kelompok itu lalu berpisah melaksanakan tugas masing-masing.

RADEN ANTAREJA MENDAPATKAN KUDA CIPTAWALAHA

Di Kerajaan Dwarawati, Prabu Kresna Wasudewa menerima kedatangan Adipati Karna. Setelah memberi hormat dan bertanya kabar, Adipati Karna pun menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu ingin meminjam Kuda Ciptawalaha sebagai persyaratan Raden Lesmana Mandrakumara menikahi Dewi Asmarawati, putri Prabu Suryaasmara di Kerajaan Parangkencana.

Prabu Kresna teringat bahwa Prabu Suryaasmara dulu pernah bercita-cita ingin memiliki anak perempuan agar bisa berbesan dengan Raden Arjuna yang telah berjasa mengorbankan tetesan darahnya demi keselamatan negeri Parangkencana. Jika yang menikahi Dewi Asmarawati adalah Raden Lesmana, maka artinya Prabu Suryaasmara akan melanggar ucapannya sendiri.

Prabu Kresna pun mendapat firasat bahwa sebentar lagi utusan pihak Raden Arjuna akan datang pula. Maka, ia tidak segera menjawab permohonan Adipati Karna, melainkan berusaha mengalihkan pembicaraan dengan bertanya kabar Kerajaan Hastina, Kadipaten Awangga, dan juga kabar para Kurawa satu persatu. Adipati Karna merasa kesal, namun sejak dulu ia segan kepada Prabu Kresna sehingga tidak berani memaksa. Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba. Raden Antareja datang dengan tujuan yang sama, yaitu meminjam Kuda Ciptawalaha untuk kendaraan Raden Sumitra menikahi Dewi Asmarawati.

Adipati Karna tidak terima karena dirinya lebih dulu datang, maka ia yang lebih berhak atas kuda tersebut. Prabu Kresna berkata dirinya belum memberikan jawaban, sehingga belum jelas siapa yang berhak meminjam kudanya itu. Ia pun menjelaskan bahwa Kuda Ciptawalaha adalah salah satu di antara empat kuda pusaka penarik Kereta Jaladara. Kuda Ciptawalaha ini larinya sangat kencang melebihi kuda-kuda lainnya. Untuk itu, Adipati Karna dan Raden Antareja silakan berlomba. Barangsiapa mampu menangkap Ciptawalaha, maka dia yang berhak meminjam kuda tersebut.

Adipati Karna menjawab tidak masalah. Ia adalah putra Adipati Adirata yang merupakan raja dari para kusir kereta. Sejak kecil Adipati Karna dididik cara menjinakkan kuda dan cara mengendalikan kereta, sehingga mengejar dan menangkap Kuda Ciptawalaha bukanlah hal sulit baginya. Usai berkata demikian, ia pun keluar istana untuk bersiaga. Raden Antareja juga ikut keluar, disertai Prabu Kresna.

Prabu Kresna lalu memanggil Kuda Ciptawalaha. Kuda berbulu hitam legam itu datang menemui majikannya. Prabu Kresna segera memerintahkan kuda itu untuk berlari sekencang-kencangnya dan baru boleh berhenti apabila salah satu dari Adipati Karna atau Raden Antareja bisa menangkapnya. Kuda Ciptawalaha seolah mengerti bahasa manusia. Ia pun segera berlari meninggalkan Prabu Kresna.

Melihat Kuda Ciptawalaha sudah berlari, Adipati Karna dan Raden Antareja segera mengejar. Meskipun usianya lebih tua, tetapi tubuh Adipati Karna lebih kecil dan lebih lincah daripada Raden Antareja. Dengan mengerahkan segenap ilmu kesaktianya, ia mampu berlari sangat cepat dan hampir menyentuh ekor Kuda Ciptawalaha. Namun, Kuda Ciptawalaha dapat meningkatkan laju kecepatannya. Adipati Karna tidak kurang akal. Ia pun melepaskan ratusan panah yang mengurung Kuda Ciptawalaha seperti kerangkeng.

Akan tetapi, sungguh di luar dugaan tiba-tiba Kuda Ciptawalaha amblas masuk ke dalam bumi. Empat ekor kuda pusaka milik Prabu Kresna memang memiliki kemampuan sendiri-sendiri. Kuda Ciptawalaha mampu amblas ke dalam bumi, Kuda Abrapuspa mampu masuk ke dalam kobaran api, Kuda Sunyasakti mampu menyelam ke dalam air, dan Kuda Sukanta mampu terbang di angkasa. Perhitungan Kyai Semar sungguh tepat, yaitu mengutus Raden Antareja yang memiliki kesaktian sama dengan Kuda Ciptawalaha.

Melihat Kuda Ciptawalaha lolos dari kurungan panah, Raden Antareja merasa gembira dan segera ikut amblas ke dalam bumi pula. Kuda Ciptawalaha tidak menyangka bahwa salah satu pengejarnya ini memiliki kemampuan yang sama seperti dirinya. Raden Antareja pun mengerahkan segenap kecepatannya hingga akhirnya mampu memeluk leher Kuda Ciptawalaha dan membawanya kembali ke atas permukaan tanah.

Adipati Karna marah melihat Raden Antareja sudah duduk di atas punggung Kuda Ciptawalaha. Ia pun melepaskan panah untuk memisahkan mereka. Namun, Raden Antareja kembali mengajak Kuda Ciptawalaha untuk amblas bumi menghindari serangan Adipati Karna. Keduanya melaju kencang di dalam tanah menuju arah Kerajaan Amarta.

Adipati Karna kini kehilangan jejak. Namun, ia kemudian teringat bahwa dirinya juga memiliki kuda berwarna hitam legam bernama Ciptalanagati. Meskipun tidak dapat amblas ke dalam bumi, namun wujud Kuda Ciptalanagati sangat mirip dengan Kuda Ciptawalaha. Prabu Suryaasmara tentu tidak akan dapat membedakan mereka. Berpikir demikian, Adipati Karna pun bergegas pulang ke Kadipaten Awangga.

RADEN GATUTKACA MEREBUT PAYUNG TUNGGULNAGA

Sementara itu, Danghyang Druna sedang dalam perjalanan pulang ke Kerajaan Hastina dengan membawa Payung Tunggulnaga. Di tengah jalan ia bertemu tiga orang pengamen. Dua di antaranya menabuh musik, sedangkan yang satu lagi seorang penyanyi wanita. Danghyang Druna tertarik dan meminta dinyanyikan lagu. Penyanyi itu pun melayani permintaan Danghyang Druna. Apa pun lagu yang diminta pasti dinyanyikannya.

Danghyang Druna terlena dan berusaha merayu si penyanyi wanita agar ikut dengannya pergi ke Padepokan Sokalima. Penyanyi itu menolak dengan malu-malu. Danghyang Druna semakin terbuai dan lengah. Pada saat itulah Raden Gatutkaca muncul secara tiba-tiba dan menyambar Payung Tunggulnaga, untuk kemudian dibawanya terbang ke angkasa.

Danghyang Druna berteriak-teriak kecolongan. Ketiga pengamen di hadapannya pun membubarkan diri. Si penyanyi wanita berubah menjadi Petruk, sedangkan dua pemusik berubah menjadi Nala Gareng dan Bagong. Mereka segera berlari kencang meninggalkan Danghyang Druna yang menangis meraung-raung seperti anak kecil kehilangan makanan.

KYAI SEMAR DAN RADEN SUMITRA MENGHADAP SANGHYANG PADAWENANG

Sementara itu, Kyai Semar mengajak Raden Sumitra naik ke Kahyangan Awang-Awang Kumitir menghadap Sanghyang Padawenang. Kyai Semar menyampaikan maksudnya ingin meminjam pusaka orang tuanya itu yang bernama Cupumanik Tirta Bulayat. Keampuhan cupu tersebut adalah dapat menciptakan apa yang dikehendaki si pemegang. Dengan menggunakannya, Kyai Semar berniat untuk menciptakan Balai Sasanamulya dan seratus bidadari pengiring.

Sanghyang Padawenang memahami apa tujuan Kyai Semar yaitu ingin membantu pernikahan Raden Sumitra dengan Dewi Asmarawati. Dalam hal ini Sanghyang Padawenang mengizinkan Cupumanik Tirta Bulayat untuk dipinjam Kyai Semar, karena memang Raden Sumitra ditakdirkan berjodoh dengan Dewi Asmarawati. Namun, setelah pernikahan selesai, Kyai Semar harus segera mengembalikan benda pusaka tersebut kepada Sanghyang Padawenang.

Kyai Semar menyanggupi. Ia berjanji setelah pernikahan selesai, maka Cupumanik Tirta Bulayat akan ia kembalikan dengan segera. Sanghyang Padawenang percaya pada ucapan Kyai Semar. Ia lantas mengeluarkan cupu pusaka tersebut dan menyerahkannya kepada Kyai Semar.

Kyai Semar menerima Cupumanik Tirta Bulayat kemudian mohon pamit meninggalkan kahyangan bersama Raden Sumitra.

PERKAWINAN RADEN SUMITRA DENGAN DEWI ASMARAWATI

Demikianlah, segala persiapan kini telah terkumpul. Kyai Semar beserta para panakawan lainnya, serta Raden Antareja dan Raden Gatutkaca mengiring keberangkatan Raden Sumitra menuju Kerajaan Parangkencana. Sesampainya di sana, mereka disambut Prabu Suryaasmara sekeluarga. Tampak Raden Sumitra duduk di atas kuda hitam legam bernama Ciptawalaha, dengan Payung Tunggulnaga dipegang oleh Raden Gatutkaca di belakangnya.

Prabu Suryaasmara gembira apabila Raden Sumitra yang berhasil memenangkan sayembara, karena itu berarti keinginannya bisa berbesan dengan Raden Arjuna dapat terwujud. Ia lalu menanyakan tentang persyaratan lain, yaitu Balai Sasanamulya dan bidadari pengiring. Kyai Semar lalu membuka Cupumanik Tirta Bulayat. Sambil membaca mantra ia memercikkan air ajaib dalam cupu tersebut ke arah halaman istana Parangkencana. Seketika muncullah sebuah balai indah dan megah bagaikan turun dari kahyangan.

Ketika Kyai Semar hendak menciptakan seratus bidadari dengan cara yang sama, tiba-tiba terdengar suara mencegah dirinya. Itu adalah suara Raden Arjuna yang datang bersama para Pandawa lainnya, serta seratus bidadari kahyangan di belakang mereka.

Raden Sumitra terharu melihat ayahnya datang. Raden Arjuna berkata bahwa ia hanya pura-pura tidak mau ikut campur pernikahan putranya itu karena ingin melihat seperti apa usaha Raden Sumitra. Diam-diam, Raden Arjuna naik ke Kahyangan Suralaya menghadap Batara Indra untuk diizinkan meminjam seratus bidadari sebagai pengiring perkawinan putranya tersebut.

Raden Sumitra menangis haru dan menyembah kaki ayahnya. Raden Arjuna membangunkannya dan memberikan restu semoga rumah tangga Raden Sumitra dan Dewi Asmarawati bisa berjalan dengan sebaik-baiknya.

Kini semuanya telah terpenuhi. Prabu Suryaasmara pun menikahkan putrinya dengan Raden Sumitra. Kedua mempelai lalu duduk di atas pelaminan yang sudah terpasang di Balai Sasanamulya. Para bidadari berbaris rapi menyambut para tamu sahabat Prabu Suryaasmara dan juga segenap rakyat Parangkencana. Suasana sungguh indah dan meriah.

PRABU DURYUDANA KEMBALI MENDAPAT MALU

Tidak lama kemudian, datanglah rombongan dari Kerajaan Hastina. Tampak Raden Lesmana Mandrakumara naik kuda hitam legam yang mirip sekali dengan Kuda Ciptawalaha. Di belakangnya juga terlihat Bambang Aswatama membawa payung emas berkilauan. Kemudian Prabu Duryudana bersama para Kurawa ada di belakang mereka, dengan diiringi para wanita cantik.

Prabu Duryudana berkata pada Prabu Suryaasmara bahwa semua persyaratan sudah ia penuhi, maka seharusnya Dewi Asmarawati dinikahkan dengan Raden Lesmana, bukannya dengan Raden Sumitra. Prabu Suryaasmara berkata Raden Sumitra sudah memenuhi semua persyaratan. Maka, Dewi Asmarawati pun dinikahkan dengannya.

Prabu Duryudana tidak percaya. Ia menuduh Raden Sumitra telah memalsukan Kuda Ciptawalaha. Prabu Suryaasmara menjawab justru kuda yang dinaiki Raden Lesmana adalah yang palsu. Untuk membuktikannya, lebih baik kedua kuda itu diadu, mana yang bisa amblas ke dalam bumi, maka itulah Kuda Ciptawalaha yang sebenarnya.

Raden Sumitra lalu turun dari pelaminan dan naik di atas Kuda Ciptawalaha. Ia memerintahkan kuda tersebut agar masuk ke dalam tanah. Dengan mudah, kuda hitam itu pun amblas ke dalam bumi sambil membawa Raden Sumitra di punggungnya. Tidak lama kemudian mereka sudah muncul kembali di atas tanah, yang mana Raden Sumitra tampak baik-baik saja. Prabu Duryudana terkejut melihatnya. Ia sudah tahu kalau kuda yang dikendarai Raden Lesmana adalah Kuda Ciptalanagati. Namun, ia tidak menyangka kalau Prabu Suryaasmara ternyata bisa membedakan, mana yang palsu, mana yang asli.

Prabu Suryaasmara lalu menyebut bahwa payung emas yang dipegang Bambang Aswatama memang indah berkilauan jika dibandingkan dengan payung yang dipegang Raden Gatutkaca. Meskipun payung yang dipegang Raden Gatutkaca sudah tua dan kuno, tetapi tampak indah berwibawa, membuat gentar siapa pun yang melihatnya. Prabu Suryaasmara pun mengatakan dengan tegas bahwa Payung Tunggulnaga yang dipegang Bambang Aswatama adalah palsu. Prabu Duryudana kembali merasa malu tipuannya terbongkar.

Kemudian Prabu Suryaasmara menyebut para bidadari yang dibawa Prabu Duryudana memang cantik-cantik, tetapi mereka tidak bersinar seperti para bidadari yang dibawa Raden Arjuna. Maka, Prabu Suryaasmara pun menyimpulkan bahwa para bidadari dari Kerajaan Hastina itu adalah perempuan biasa yang ia dandani biar lebih cantik.

Prabu Duryudana merasa semakin malu. Ia mengajak Raden Lesmana yang merengek-rengek untuk segera pulang saja ke negeri Hastina. Patih Sangkuni ingin menyenangkan hati rajanya. Para Kurawa pun diperintahkan untuk membuat kekacauan dan merebut paksa Dewi Asmarawati. Namun, mereka semua dapat dipukul mundur oleh Arya Wrekodara dan kedua anaknya.

Demikianlah, rombongan dari Hastina itu pun berhamburan terbirit-birit meninggalkan Kerajaan Parangkencana. Prabu Suryaasmara merasa senang dan melanjutkan pesta pernikahan. Prabu Puntadewa memberikan selamat kepadanya karena telah berhasil mewujudkan cita-cita ingin berbesan dengan Raden Arjuna.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


Untuk kisah kelahiran Raden Sumitra dan awal pertemuan Raden Arjuna dengan Prabu Suryaasmara dapat dibaca di sini









Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Bratalaras Rabi

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang perkawinan antara Raden Bratalaras putra Raden Arjuna dengan Dewi Karnawati putri Adipati Karna.

Kisah ini saya olah dan saya kembangkan dari sumber tulisan di forum Kaskus, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 10 Februari 2018

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini
 
Raden Bratalaras

 ------------------------------ ooo ------------------------------

RADEN BRATALARAS INGIN MENIKAH DENGAN DEWI KARNAWATI

Di Kesatrian Madukara, Raden Arjuna dihadap putranya yang lahir dari Niken Larasati, yaitu Raden Bratalaras. Hadir pula para panakawan, yaitu Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong. Dalam penghadapan itu, Raden Bratalaras menyampaikan keinginannya kepada sang ayah, yaitu ia ingin menikah dengan putri bungsu Adipati Karna di Awangga, yang bernama Dewi Karnawati.

Raden Arjuna terkejut mendengar itu. Seketika ia langsung menolak mentah-mentah keinginan putranya. Menurut pendapatnya, Raden Bratalaras boleh menikah dengan siapa saja, tetapi jangan dengan anak Adipati Karna. Alasannya ialah, Adipati Karna selaku kakak tertua para Pandawa justru lebih suka berdiri di pihak musuh, yaitu bersahabat dengan para Kurawa. Yang kedua, Raden Arjuna masih sakit hati pada peristiwa beberapa bulan yang lalu, yaitu putranya yang bernama Bambang Danasalira dibunuh tanpa pengadilan oleh Adipati Karna. Meskipun Bambang Danasalira telah dihidupkan kembali oleh Resi Anoman, namun sakit hati Raden Arjuna sampai sekarang belum sirna.

Raden Bratalaras sangat kecewa keinginannya ditolak sang ayah. Kyai Semar selaku pamong pun menyela ikut bicara. Ia bertanya apakah Raden Bratalaras dan Dewi Karnawati saling mencintai. Raden Bratalaras menjawab ya. Ia bercerita bahwa dirinya pertama kali berkenalan dengan Dewi Karnawati adalah pada saat menghadiri perkawinan Raden Warsakusuma dengan Dewi Lesmanawati beberapa bulan lalu. Waktu itu Raden Bratalaras berniat menyusul para Pandawa ke Awangga. Tak disangka Raden Arjuna ternyata sudah pulang lebih dulu bersama Raden Gatutkaca dan Bambang Danasalira. Raden Bratalaras hanya bertemu Dewi Kunti, Prabu Puntadewa, Arya Wrekodara, dan Raden Antareja di sana. Namun demikian, ada hikmah lain dari kehadirannya, yaitu ia bisa berkenalan dengan Dewi Karnawati, putri bungsu Adipati Karna.

Perkenalan itu pun berlanjut dengan hubungan asmara di mana Raden Bratalaras dan Dewi Karnawati sama-sama saling mencintai. Sudah beberapa kali Raden Bratalaras diam-diam pergi ke Kadipaten Awangga untuk menemui kekasihnya. Untung saja pertemuan itu tidak sampai ketahuan Adipati Karna ataupun putra-putranya.

Raden Arjuna justru semakin marah mendengar cerita itu. Ia menyatakan tidak sudi berbesan dengan Adipati Karna. Ia juga melarang keras Raden Bratalaras untuk pergi lagi ke Kadipaten Awangga. Kyai Semar menasihati Raden Arjuna agar jangan terbawa amarah. Janganlah hanya karena sakit hati lantas mengorbankan perasaan anak. Apabila Raden Bratalaras dan Dewi Karnawati memang benar saling mencintai, maka lebih baik mereka disatukan dalam perkawinan, bukannya malah dipisahkan.

Raden Arjuna tetap kukuh tidak sudi merestui niat Raden Bratalaras. Kyai Semar pun bertanya, apakah Raden Bratalaras tetap ingin menikah dengan Dewi Karnawati? Raden Bratalaras mengangguk. Raden Arjuna marah dan mengusir Raden Bratalaras pergi dari Kesatrian Madukara. Kyai Semar dengan tegas menyatakan Raden Bratalaras berada dalam perlindungannya. Mereka pun pergi semua meninggalkan Raden Arjuna.

Raden Arjuna.

PRABU BALADEWA DAN PETRUK MELAMAR DEWI KARNAWATI

Di Kadipaten Awangga, Adipati Karna duduk dihadap kedua putranya, yaitu Raden Warsasena dan Raden Warsakusuma, serta Patih Adimanggala, Arya Druwa, dan Arya Jayarata. Tidak lama kemudian datanglah rombongan dari Kerajaan Hastina yang dipimpin Prabu Baladewa, Danghyang Druna, dan Patih Sangkuni. Adipati Karna pun menyambut mereka dengan penuh penghormatan.

Prabu Baladewa mengatakan bahwa dirinya datang mewakili Prabu Duryudana untuk meminang Dewi Karnawati sebagai istri Raden Lesmana Mandrakumara. Beberapa bulan yang lalu Dewi Lesmanawati dan Raden Warsakusuma sudah dinikahkan. Hubungan persaudaraan antara Adipati Karna dengan Prabu Duryudana tentu akan lebih erat lagi apabila Raden Lesmana pun dinikahkan dengan Dewi Karnawati.

Belum sempat Adipati Karna menjawab, tiba-tiba datang panakawan Petruk membawa hasil bumi berupa palawija dan buah-buahan. Petruk pun menyembah hormat kepada tuan rumah dan para tamu, kemudian menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu ingin meminang Dewi Karnawati sebagai calon istri Raden Bratalaras. Prabu Baladewa marah-marah mendengar itu. Ia berkata bahwa Dewi Karnawati sudah menjadi calon istri Raden Lesmana Mandrakumara, maka sebaiknya Petruk pulang saja. Raden Bratalaras suruh saja mencari istri yang lain.

Petruk balik bertanya apakah Adipati Karna sudah mengabulkan lamaran pihak Kerajaan Hastina. Prabu Baladewa menjawab belum, tetapi ia tahu Adipati Karna pasti akan menerima pinangan dari Prabu Duryudana, yang merupakan sahabat karibnya dan juga sesama menantu Prabu Salya. Petruk berkata, tidak ada jaminan Adipati Karna pasti menerima. Yang hendak menjalani rumah tangga bukan Adipati Karna dan Prabu Baladewa, tetapi Dewi Karnawati. Karena keputusan belum diambil, maka sebaiknya Adipati Karna memanggil Dewi Karnawati saja untuk disuruh memilih antara Raden Lesmana Mandrakumara, ataukah Raden Bratalaras?

Prabu Baladewa marah-marah ada hak apa Petruk berani memerintah Adipati Karna. Petruk balik bertanya ada hak apa Prabu Baladewa berani marah-marah di Kadipaten Awangga. Prabu Baladewa menjawab dirinya adalah raja, maka berhak memarahi rakyat jelata semacam Petruk. Petruk pun membela diri. Prabu Baladewa memang raja tetapi jika berada di Kerajaan Mandura. Petruk memang rakyat jelata apabila berada di Kerajaan Amarta. Namun, apabila berada di Kadipaten Awangga, maka kedudukan mereka sama-sama menjadi tamu yang diutus untuk melamar putri sang tuan rumah.

Prabu Baladewa semakin marah karena derajatnya disamakan dengan Petruk. Ia pun kehilangan kesabaran dan menarik tubuh Petruk keluar istana.

Danghyang Druna dan Patih Sangkuni hanya tertawa melihat ulah Prabu Baladewa yang terbawa amarah hanya demi melayani Petruk. Mereka lalu bertanya kepada Adipati Karna apakah lamaran Prabu Duryudana bisa diterima. Adipati Karna menjawab belum bisa. Meskipun dirinya bersahabat akrab dengan Prabu Duryudana, namun urusan pernikahan harus meminta kesediaan putrinya terlebih dulu. Yang kedua, Adipati Karna hanya bisa menjawab lamaran kepada Prabu Baladewa, karena dialah yang diutus Prabu Duryudana, bukan kepada Danghyang Druna dan Patih Sangkuni.

Danghyang Druna dan Patih Sangkuni tersinggung mendengarnya. Mereka pun segera keluar menyusul Prabu Baladewa. Adipati Karna lalu memerintahkan Raden Warsasena dan Raden Warsakusuma untuk bersiaga apabila terjadi keributan, sedangkan dirinya masuk ke dalam untuk menanyai Dewi Karnawati.

Adipati Karna.

DEWI KARNAWATI MENGADAKAN SAYEMBARA

Sementara itu di halaman kadipaten, para Kurawa melihat Prabu Baladewa berselisih dengan Petruk. Mereka segera ikut mengepung si panakawan. Tiba-tiba muncul pula putra-putra Arya Wrekodara, yaitu Raden Antareja, Raden Gatutkaca, dan Raden Antasena. Rupanya mereka bertiga mendapat tugas dari Kyai Semar untuk menjaga Petruk.

Maka, terjadilah perkelahian antara para Kurawa melawan ketiga pemuda itu. Putra-putra Arya Wrekodara tersebut bukanlah pemuda sembarangan. Jelas para Kurawa tidak akan mampu mengalahkan mereka. Melihat itu, Prabu Baladewa pun maju dan mengamuk. Raden Antareja dan Raden Gatutkaca mundur karena merasa segan kepada sang uwak. Tinggal Raden Antasena yang berdiri mencegat Prabu Baladewa. Namun demikian, Raden Antasena sama sekali tidak membalas sewaktu Prabu Baladewa memukuli dirinya. Sebaliknya, Prabu Baladewa justru merasa tangannya sakit sendiri karena memukuli pemuda itu.

Adipati Karna akhirnya muncul melerai kedua pihak yang sedang bertempur. Di sampingnya tampak seorang gadis cantik, yang tidak lain adalah Dewi Karnawati. Prabu Baladewa dan Petruk sama-sama bertanya, siapa di antara mereka yang diterima pinangannya. Adipati Karna pun bercerita bahwa ia baru saja bertanya kepada putrinya, siapa yang akan dipilih. Dewi Karnawati merasa bimbang. Di satu sisi, ia lebih mencintai Raden Bratalaras, namun di sisi lain ia merasa tidak enak dengan keluarga Prabu Duryudana yang selama ini selalu baik kepadanya.

Oleh sebab itu, Dewi Karnawati pun memutuskan untuk mengambil jalan tengah, yaitu mengadakan sayembara. Patih Sangkuni menyindir ada anak seorang adipati berlagak seperti putri raja besar, mengadakan sayembara segala. Petruk balas menyindir Patih Sangkuni bahwa pihak Kurawa itu sudah berkali-kali kalah sayembara, sehingga kini mudah gentar kalau mendengar kata “sayembara”. Patih Sangkuni terdiam tidak bicara lagi.

Prabu Baladewa bertanya, apa kiranya isi sayembara tersebut. Dewi Karnawati dengan malu-malu menjawab, ia sudah lama kagum mendengar kisah tentang tajamnya Kuku Pancanaka milik sang paman, yaitu Arya Wrekodara. Oleh sebab itu, ia pun ingin saat menikah nanti, rambut sinomnya di dahi dicukur dan dirapikan memakai kuku pusaka tersebut.

Prabu Baladewa dan Petruk sama-sama menyanggupi. Mereka segera mohon pamit kembali ke kubu masing-masing.

Prabu Baladewa.

ARYA WREKODARA MENYANGGUPI PERMINTAAN PRABU BALADEWA

Di Kesatrian Jodipati, Arya Wrekodara duduk dihadap Patih Gagakbaka dan Patih Dandangminangsi. Tiba-tiba datang Prabu Baladewa, Danghyang Druna, dan Patih Sangkuni. Setelah saling memberi salam dan bertanya kabar, Prabu Baladewa pun menyampaikan maksud dan tujuannya, yaitu ingin meminta pertolongan Arya Wrekodara.

Arya Wrekodara bersedia membantu asalkan dirinya sanggup. Prabu Baladewa pun bercerita bahwa dirinya mewakili Prabu Duryudana melamar Dewi Karnawati sebagai calon istri Raden Lesmana Mandrakumara. Arya Wrekodara menjawab, jika ingin melamar Dewi Karnawati tempatnya di Kadipaten Awangga, bukan di Kesatrian Jodipati. Prabu Baladewa meminta agar ucapannya jangan dipotong dulu. Ia lalu menceritakan semuanya bahwa Petruk juga datang melamar, yaitu mewakili Raden Bratalaras. Karena bingung memilih, Dewi Karnawati akhirnya mengadakan sayembara ingin dirapikan rambut sinomnya menggunakan Kuku Pancanaka.

Arya Wrekodara merasa keberatan jika dirinya harus mencukur rambut sinom Dewi Karnawati. Ia merasa sebagai kesatria petarung, bukannya tukang cukur. Prabu Baladewa berusaha membujuk Arya Wrekodara, namun sepupunya itu bersikukuh menolak.

Danghyang Druna ikut bicara. Ia berusaha membujuk Arya Wrekodara agar bersedia menjadi perias Dewi Karnawati. Arya Wrekodara tetap saja keberatan. Patih Sangkuni pun menyindirnya. Jelas-jelas Arya Wrekodara pernah menjadi murid Danghyang Druna dan Prabu Baladewa, namun kini berani menolak perintah kedua gurunya tersebut. Padahal, kedudukan guru sama seperti orangtua. Melanggar perintah guru itu sama saja melanggar perintah ayah dan ibu.

Arya Wrekodara termakan ucapan Patih Sangkuni. Setelah diam sejenak, ia akhirnya menyatakan setuju menjadi tukang rias pengantin wanita. Prabu Baladewa dan Danghyang Druna pun berterima kasih kepadanya.

Tiba-tiba datanglah Raden Bratalaras dan Raden Gatutkaca. Keduanya menyembah Arya Wrekodara dan menyampaikan maksud ingin meminta bantuan untuk merias Dewi Karnawati. Patih Sangkuni menyela, bahwa sudah terlambat mereka datang karena Arya Wrekodara sudah menyatakan bersedia membantu pihak Raden Lesmana Mandrakumara. Selain itu, Arya Wrekodara juga belum tentu bersedia mengabulkan permintaan anak-anak macam mereka. Lain halnya jika yang meminta adalah Danghyang Druna dan Prabu Baladewa yang merupakan kedua gurunya, sudah tentu Arya Wrekodara tidak akan menolak.

Raden Gatutkaca bertanya kepada ayahnya apakah benar demikian. Arya Wrekodara menjawab benar, bahwa dirinya sudah terlanjur menyanggupi permintaan Prabu Baladewa dan Danghyang Druna. Ia pun menyarankan agar Raden Bratalaras mencari calon istri yang lain saja. Usai berkata demikian, Arya Wrekodara lalu ikut rombongan Prabu Baladewa menuju Kerajaan Hastina.

Arya Wrekodara.

BAMBANG WISANGGENI MUNCUL MEMBANTU RADEN BRATALARAS

Setelah orang-orang itu pergi, Raden Bratalaras jatuh terduduk di lantai. Ia merasa putus asa karena gagal menikah dengan kekasihnya. Raden Gatutkaca berusaha menghibur adik sepupunya itu namun tidak berhasil. Raden Bratalaras sudah kehilangan semangat untuk memperjuangkan cintanya.

Raden Antareja dan Raden Antasena ikut masuk dan bertanya apa yang terjadi. Raden Gatutkaca menjelaskan semuanya, bahwa ayah mereka sudah terlanjur mengabulkan permintaan Prabu Baladewa dan Danghyang Druna. Itulah sebabnya kini Raden Bratalaras merasa putus asa dan kehilangan semangat.

Raden Antareja berniat mengejar rombongan Kerajaan Hastina dan merebut ayahnya. Raden Antasena berkata itu rencana konyol karena ayah mereka bukanlah benda yang bisa direbut ke sana kemari. Raden Antareja balas bertanya bagaimana caranya membantu kesulitan Raden Bratalaras. Raden Antasena menjawab tidak tahu, tetapi sepupunya yang sangat cerdas pasti tahu. Usai berkata demikian, ia lalu mengheningkan cipta mengerahkan Aji Pameling sambil menyebut nama Bambang Wisanggeni (putra Raden Arjuna dengan Dewi Dresanala).

Seketika Bambang Wisanggeni pun hadir di hadapan mereka. Setelah saling memberi salam, Raden Antasena menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Bambang Wisanggeni berkata kalau begitu hal ini tidak bisa ditunda-tunda lagi. Ia menyarankan agar saudara-saudaranya itu segera kembali ke Desa Karangkadempel untuk mempersiapkan pernikahan Raden Bratalaras, sedangkan dirinya akan menghadirkan Resi Anoman ke sana.

Raden Antareja bertanya ada urusan apa Resi Anoman dihadirkan? Bambang Wisanggeni menjawab nanti juga mereka akan tahu. Ia lalu mengheningkan cipta dan mengerahkan Aji Pameling, sambil mengubah suaranya menjadi mirip suara Kyai Semar untuk memanggil Resi Anoman agar segera datang ke Desa Karangkadempel.

Usai melakukan itu, Bambang Wisanggeni pun mengajak yang lain untuk segera menuju ke tempat Kyai Semar.

Raden Antasena.

PETRUK DIDANDANI MENJADI ARYA WREKODARA

Di Desa Karangkadempel, Kyai Semar dihadap Nala Gareng dan Bagong. Tidak lama kemudian Petruk datang melaporkan apa yang ia alami di Kadipaten Awangga. Bahwasanya pinangan Raden Bratalaras belum dapat diterima karena Raden Lesmana Mandrakumara juga mengajukan lamaran terhadap Dewi Karnawati. Oleh sebab itu, Dewi Karnawati pun mengadakan sayembara, barangsiapa bisa menghadirkan Arya Wrekodara untuk mencukur rambut sinom Dewi Karnawati menggunakan Kuku Pancanaka, maka dialah yang akan menjadi menantu Adipati Karna. Raden Bratalaras bersama ketiga sepupunya segera melaju ke Kesatrian Jodipati, sedangkan Petruk pulang melapor ke Karangkadempel.

Tiba-tiba Resi Anoman datang menghadap Kyai Semar. Setelah memberi salam, ia bertanya ada keperluan apa Kyai Semar memanggil dirinya. Kyai Semar tidak merasa mengerahkan Aji Pameling. Resi Anoman menduga pasti ada yang main-main dengannya. Kyai Semar memintanya bersabar dulu karena ia mempunyai firasat bahwa orang itu sebentar lagi akan datang.

Benar juga ucapan Kyai Semar. Tidak lama kemudian Bambang Wisanggeni datang beserta rombongan Raden Bratalaras. Ia mengaku dirinya memang telah mengerahkan Aji Pameling dengan pura-pura menirukan suara Kyai Semar. Ia tahu bahwa meskipun Resi Anoman seorang pendeta, namun sejak dulu sangat menghormati Kyai Semar yang penjelmaan dewa. Jika Bambang Wisanggeni menggunakan suara asli, belum tentu Resi Anoman bersedia datang. Tetapi jika menggunakan suara Kyai Semar, sudah pasti pendeta wanara itu bergegas datang.

Resi Anoman bertanya ada perlu apa Bambang Wisanggeni mendatangkan dirinya dengan meniru suara Kyai Semar segala. Bambang Wisanggeni pun menceritakan apa yang dialami Raden Bratalaras, yaitu hendak menikah dengan Dewi Karnawati di mana si pengantin wanita mengajukan syarat ingin dicukur rambut sinomnya oleh Arya Wrekodara menggunakan Kuku Pancanaka. Akan tetapi, Arya Wrekodara sudah terlanjur mengabulkan permintaan untuk membantu pihak Raden Lesmana Mandrakumara. Itulah sebabnya, Bambang Wisanggeni menghadirkan Resi Anoman adalah untuk meminjam Kuku Pancanaka. Kuku tersebut akan dipasangnya di tangan Petruk yang akan didandani sebagai Arya Wrekodara palsu.

Resi Anoman terkejut mendengar rencana Bambang Wisanggeni yang aneh itu. Akan tetapi, meskipun sudah menjadi pendeta tetap saja sifat dasarnya adalah kera. Sebagai kera, Resi Anoman memiliki watak nakal dan suka iseng. Ia penasaran ingin tahu seperti apa cara Bambang Wisanggeni mengerjai Adipati Karna dan para Kurawa. Maka, Resi Anoman pun menyatakan sanggup untuk meminjamkan Kuku Pancanaka di jarinya kepada Petruk. Namun demikian, setelah sehari semalam, kuku tersebut akan kembali sendiri ke jari Resi Anoman.

Bambang Wisanggeni tidak keberatan karena waktu 24 jam sudah cukup untuk memenangkan kakaknya (Raden Bratalaras). Ia lalu memerintahkan Petruk untuk bersiap. Petruk tidak berani karena takut mendapat marah Arya Wrekodara yang asli. Bambang Wisanggeni berjanji dirinya yang akan bertanggung jawab soal ini. Petruk akhirnya bersedia. Bambang Wisanggeni pun mengerahkan kesaktiannya dan mengubah wujud Petruk menjadi sama persis dengan Arya Wrekodara. Resi Anoman lalu mengheningkan cipta pula dan Kuku Pancanaka di jarinya seketika berpindah ke tangan Arya Wrekodara palsu tersebut.

Setelah semuanya selesai, Bambang Wisanggeni meminta Kyai Semar untuk segera mengiringkan Raden Bratalaras sebagai pengantin, sedangkan dirinya akan berusaha mengganggu perjalanan rombongan Kerajaan Hastina agar mereka terlambat datang di Kadipaten Awangga. Raden Bratalaras sangat berterima kasih kepada Bambang Wisanggeni, adiknya lain ibu tersebut. Bambang Wisanggeni menjawab tidak perlu seperti itu karena sesama saudara wajib untuk saling membantu.

Petruk.

BAMBANG WISANGGENI MENGGANGGU ROMBONGAN KERAJAAN HASTINA

Sementara itu, Prabu Baladewa, Danghyang Druna, Patih Sangkuni, dan Arya Wrekodara telah sampai di Kerajaan Hastina. Prabu Duryudana menyambut mereka dengan gembira. Ia lalu mengajak mereka semua untuk langsung bergerak menuju Kadipaten Awangga, mengiringkan calon pengantin Raden Lesmana Mandrakumara.

Bambang Wisanggeni yang berniat menghambat perjalanan mereka segera mengubah wujud menjadi raksasa tinggi besar, dengan memakai nama Ditya Waharu. Ia menghadang rombongan dari Kerajaan Hastina tersebut di tengah jalan. Para Kurawa beramai-ramai maju mengeroyoknya, namun semuanya dibuat kalang kabut oleh Ditya Waharu. Arya Wrekodara ikut maju menghadapinya. Namun, dengan lincah raksasa itu berhasil menghindar dan menculik Raden Lesmana.

Raden Lesmana meraung-raung minta tolong. Arya Wrekodara segera mengejar raksasa itu. Rombongan pengantin dari Kerajaan Hastina menjadi kacau balau. Ditya Waharu merasa sudah cukup menghambat laju mereka. Ia pun meletakkan tubuh Raden Lesmana dan mengikatnya di sebatang pohon besar, kemudian pergi sendiri. Jika ia mau, ia bisa menyembunyikan Raden Lesmana untuk selamanya. Namun, biarlah sepupunya itu mudah ditemukan agar rombongan Prabu Duryudana tetap berangkat ke Kadipaten Awangga untuk menyaksikan Raden Bratalaras dan Dewi Karnawati duduk di pelaminan. Itu lebih seru.

Arya Wrekodara akhirnya berhasil menemukan Raden Lesmana dan membebaskannya. Ia lalu membawa keponakannya itu kembali ke tempat Prabu Duryudana menunggu.

Raden Lesmana Mandrakumara.

ADIPATI KARNA MENERIMA RADEN BRATALARAS

Di Kadipaten Awangga, Adipati Karna beserta keluarga menerima kedatangan Kyai Semar yang memimpin rombongan pengantin pria, Raden Bratalaras. Setelah saling mengucapkan salam, Kyai Semar lalu meminta Arya Wrekodara (palsu) untuk mulai mencukur rambut sinom di dahi Dewi Karnawati.

Arya Wrekodara pun maju dan meminta izin kepada Adipati Karna. Setelah mendapatkan izin, ia mulai bekerja. Dengan teliti dan seksama, ia mencukur rambut sinom di dahi Dewi Karnawati. Setelah selesai, ia pun menyerahkan kembali gadis tersebut kepada Adipati Karna.

Adipati Karna melihat wajah putrinya berseri-seri sangat bahagia. Ia pun ikut merasa senang dan mengumumkan bahwa pemenang sayembara adalah Raden Bratalaras. Dengan demikian, Raden Bratalaras hari ini juga bisa menikah dengan Dewi Karnawati.

Kyai Semar.

ARYA WREKODARA MENGEJAR KEMBARAN PALSUNYA

Ketika Raden Bratalaras dan Dewi Karnawati duduk bersanding di pelaminan sebagai sepasang pengantin, tiba-tiba datang rombongan pengantin dari Kerajaan Hastina. Raden Lesmana menangis merengek-rengek melihat calon istrinya lagi-lagi bersanding dengan pria lain. Prabu Duryudana pun marah-marah menuduh Adipati Karna mengingkari janji. Adipati Karna merasa tidak bersalah karena jelas-jelas tadi putrinya telah dirias oleh Arya Wrekodara menggunakan Kuku Pancanaka. Itu artinya, pihak Raden Bratalaras yang memenangkan sayembara.

Arya Wrekodara maju dan bertanya siapa yang berani memalsukan dirinya. Kyai Semar menjawab bahwa tidak ada yang memalsukannya, justru dia sendiri yang palsu. Arya Wrekodara marah dan menyerang Arya Wrekodara palsu yang berdiri di belakang Kyai Semar. Arya Wrekodara palsu berniat melawan, tetapi Kuku Pancanaka di jarinya tiba-tiba lepas dan melayang sendiri menuju ke arah Resi Anoman yang menunggu di persembunyian. Rupanya waktu 24 jam sudah habis.

Arya Wrekodara palsu yang diperankan Petruk itu pun ketakutan dan berusaha kabur. Ia berteriak menagih janji Bambang Wisanggeni yang berjanji akan melindunginya. Bambang Wisanggeni tiba-tiba muncul dan segera mengembalikan wujud Arya Wrekodara palsu menjadi Petruk. Arya Wrekodara asli datang dan kehilangan jejak. Ia bingung mencari ke mana hilangnya Arya Wrekodara palsu. Yang ia lihat hanyalah Bambang Wisanggeni dan Petruk serius bermain catur.

Arya Wrekodara marah merasa dipermainkan. Ia pun melampiaskan kemarahannya kepada sang pengantin berdua. Raden Bratalaras dan Dewi Karnawati segera turun dari pelaminan dan berlutut di hadapan Arya Wrekodara. Raden Bratalaras berkata dirinya siap dibunuh apabila itu bisa meredakan kemarahan sang uwak. Dewi Karnawati pun ikut suaminya, sehidup semati mereka bersama.

Tiba-tiba Raden Arjuna datang di tempat itu. Ia segera menyuruh kedua pengantin untuk bangun dan biarlah dirinya saja yang menggantikan mati. Rupanya Raden Arjuna telah menyesali perbuatannya yang lebih mementingkan gengsi, hingga mengorbankan kebahagiaan putranya sendiri. Arya Wrekodara bertanya mengapa adiknya berkata demikian. Raden Arjuna menjawab dirinya bersalah telah menuruti hawa nafsu, hingga menolak untuk merestui hubungan Raden Bratalaras dan Dewi Karnawati.

Arya Wrekodara gemetar karena teringat bahwa dulu percintaannya dengan Dewi Arimbi pun ditentang oleh mendiang Prabu Arimba. Karena nasibnya dengan Raden Bratalaras sama-sama tidak direstui, maka ia merasa tidak sepantasnya marah-marah seperti ini. Raden Arjuna pun disuruhnya bangun kembali. Ia lalu memberikan restu kepada Raden Bratalaras dan Dewi Karnawati.

Raden Arjuna pun telah bangkit dan memeluk Raden Bratalaras. Ia meminta maaf atas sikapnya yang kasar dan sama sekali tidak membantu pernikahan putranya itu. Raden Bratalaras terharu dan berkata bahwa kedatangan ayahnya pada saat yang genting seperti ini sudah sangat istimewa baginya.

Resi Anoman.

ADIPATI KARNA MENOLAK RADEN BRATALARAS

Tiba-tiba Adipati Karna datang dengan marah-marah karena merasa dipermainkan. Ia menyatakan perkawinan Raden Bratalaras dan putrinya batal karena yang mencukur rambut sinom Dewi Karnawati adalah Arya Wrekodara palsu. Dewi Karnawati menolak keputusan sang ayah. Ia berkata bahwa dirinya dan Raden Bratalaras sama-sama saling mencintai. Apabila mereka dipaksa harus bercerai, maka lebih baik Dewi Karnawati mati bunuh diri.

Adipati Karna tertegun, merasa ini adalah balasan dari Yang Mahakuasa karena dulu pernikahannya dengan sang istri, yaitu Dewi Srutikanti juga tidak mendapat restu dari Prabu Salya. Maka, ia lalu berkata kepada Dewi Karnawati bahwa putrinya itu boleh melanjutkan rumah tangga dengan Raden Bratalaras. Namun, apabila kelak Perang Bratayuda yang ditetapkan para dewa menjadi kenyataan, maka Adipati Karna tidak akan segan-segan untuk membunuh menantunya sendiri.

Mendengar ancaman itu, Raden Arjuna membalas perkataan bahwa ia juga tidak akan segan-segan membunuh Adipati Karna apabila kakaknya itu tetap memihak para Kurawa. Adipati Karna menerima tantangan tersebut dan segera kembali ke tempat Prabu Duryudana.

Raden Arjuna lalu berterima kasih kepada Kyai Semar dan Bambang Wisanggeni yang sudah banyak berjasa atas pernikahan Raden Bratalaras dengan Dewi Karnawati. Ia lalu mengajak mereka semua untuk mengadakan pesta syukuran di Kesatrian Madukara.

Bambang Wisanggeni.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


Untuk kisah perkawinan Raden Arjuna dengan Niken Larasati dapat dibaca di sini

Untuk kisah kelahiran Raden Bratalaras dapat dibaca di sini 

Untuk kisah pertemuan Arya Wrekodara dengan Dewi Arimbi dapat dibaca di sini



















Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ▼  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ▼  February (2)
      • Sumitra Rabi
      • Bratalaras Rabi
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja