Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Manumanasa - Satrukem Muksa

 No comments   

Kisah ini menceritakan Resi Manumanasa dan Resi Satrukem muksa menjadi dewa dengan dijemput langsung oleh Sanghyang Padawenang, leluhur para dewa. Sanghyang Padawenang lalu menugasi Janggan Smara menjadi pengasuh Bambang Parasara dan keturunannya kelak. Janggan Smara pun memakai nama baru, yaitu Kyai Semar, sedangkan bayangannya diubah pula menjadi manusia bernama Bagong.

Kisah ini disusun dan diolah dengan sejumlah pengembangan berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra, dan merupakan perbaikan dari kisah yang pernah saya posting sebelumnya dengan judul yang sama.


Kediri, 14 Februari 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


PRABU BASUKISWARA MENGIRIM BANTUAN KE KERAJAAN MANDRAKA

Prabu Basukiswara di Kerajaan Wirata dihadap Patih Wasita, Arya Srimadewa, dan Arya Manungkara. Ketika mereka sedang membicarakan masalah pemerintahan, tiba-tiba datang utusan dari Kerajaan Mandraka, yaitu Patih Artadriya yang mengabarkan bahwa negerinya sedang diserang musuh. Prabu Mandrakusuma raja Mandraka didatangi raja raksasa dari Kerajaan Imaimantaka, bernama Prabu Mityakarda yang ingin merebut istrinya, yaitu Dewi Artati. Karena kekuatan pihak raksasa sangat besar, Prabu Mandrakusuma terdesak dan menutup rapat-rapat gerbang benteng Kerajaan Mandraka. Ia lalu mengutus Patih Artadriya untuk meminta bantuan kepada Kerajaan Wirata.

Prabu Basukiswara sangat marah mendengar berita ini. Ia segera teringat bahwa Prabu Mityakarda adalah putra Resi Martikawata yang dulu pernah menyatakan tunduk kepada Kerajaan Wirata. Menanggapi masalah tersebut, Prabu Basukiswara pun mengustus Arya Manungkara untuk membawa pasukan Wirata membantu kesulitan Prabu Mandrakusuma. Arya Manungkara segera mohon pamit berangkat bersama Patih Artadriya menuju Kerajaan Mandraka.

PRABU MERCUKALAKRESNA MENANGKAP ARYA MANUNGKARA

Di luar benteng Kerajaan Mandraka, pasukan raksasa Imaimantaka sedang bersiaga di bawah pimpinan Prabu Mityakarda. Hadir pula penasihat raja yang bernama Kyai Togog dan Bilung. Berbeda dengan ayahnya (Resi Martikawata) yang bijaksana, Prabu Mityakarda ini bersifat angkara murka. Ia ingin menaklukkan negeri-negeri di Tanah Jawa menjadi jajahan Kerajaan Imaimantaka. Yang menjadi sasaran pertama adalah Kerajaan Mandraka, dengan alasan ingin merebut Dewi Artati, istri Prabu Mandrakusuma.

Sebenarnya tujuan Prabu Mityakarda menggempur Kerajaan Mandraka adalah supaya Prabu Mandrakusuma meminta bantuan Kerajaan Wirata. Dengan demikian, Kerajaan Imaimantaka mendapatkan alasan untuk memerangi Kerajaan Wirata. Bagaimanapun juga, Prabu Mityakarda ingin membalas dendam atas kematian mertua sekaligus pamannya, yaitu Prabu Hiranyaka raja Manimantaka yang dulu tewas di tangan Prabu Basukiswara.

Siasat Prabu Mityakarda kini menjadi kenyataan. Arya Manungkara dan pasukan Wirata telah datang dan segera menggempur perkemahan para raksasa Imaimantaka. Pertempuran sengit pun terjadi. Arya Manungkara dengan mengandalkan Minyak Manihara berhasil mengubah banyak prajurit raksasa menjadi arca batu.

Prabu Mityakarda segera terjun ke medan tempur menghadapi kakak ipar Prabu Basukiswara tersebut. Pertarungan sengit terjadi di antara mereka. Prabu Mityakarda tidak menyangka ternyata Arya Manungkara sangat sakti dan membuatnya terdesak kewalahan. Ketika raja raksasa itu hampir saja diubah menjadi patung batu oleh lawannya, tiba-tiba datang bala bantuan dari Kerajaan Dwarawatiprawa, yaitu Prabu Mercukalakresna beserta pasukannya (Prabu Mercukalakresna dan Prabu Mityakarda adalah sama-sama menantu Prabu Hiranyaka).

Prabu Mercukalakresna dan Prabu Mityakarda bekerja sama mengeroyok Arya Manungkara. Keadaan kini berbalik. Arya Manungkara terdesak dan pusaka Minyak Manihara di tangannya dapat direbut oleh Prabu Mercukalakresna. Dengan cekatan, Prabu Mercukalakresna segera mengusapkan Minyak Manihara ke tubuh Arya Manungkara. Ibarat senjata makan tuan, Arya Manungkara pun seketika berubah menjadi patung batu.

Patih Artadriya ngeri melihat Arya Manungkara telah dikalahkan. Ia pun memerintahkan pasukan Wirata dan Mandraka supaya mundur masuk ke dalam benteng.

RESI MANUMANASA DAN RESI SATRUKEM MENJADI DEWA

Sementara itu, Resi Manumanasa dan putra sulungnya, yaitu Resi Satrukem di Gunung Saptaarga bertapa siang dan malam untuk mencapai kesempurnaan. Pertapaan mereka ini menyebabkan Kahyangan Suralaya berguncang dan para bidadara-bidadari merasa tidak kuat menahan hawa panas yang dipancarkan oleh ayah dan anak tersebut.

Sanghyang Padawenang, leluhur para dewa sangat berkenan menyaksikan tapa brata tersebut dan ia pun turun ke Gunung Saptaarga untuk membangunkan Resi Manumanasa dan Resi Satrukem. Keduanya terbangun dan segera menyampaikan sembah hormat kepada sang leluhur para dewa.

Sanghyang Padawenang menjelaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menjemput Resi Manumanasa dan Resi Satrukem menjadi dewa yang bersatu dengan dirinya. Resi Manumanasa pun diberi nama baru, yaitu Batara Prawa, sedangkan Resi Satrukem diberi nama Batara Darma. Keduanya lalu masuk bersatu ke dalam cahaya gemilang yang dipancarkan Sanghyang Padawenang dan mencapai muksa.

ASAL-USUL BAGONG DAN KUNCUNG SEMAR

Ketika Sanghyang Padawenang hendak kembali ke Kahyangan Awang-Awang Kumitir, muncul Janggan Smara yang tidak lain adalah penjelmaan Batara Ismaya, putranya sendiri. Janggan Smara bersiap hendak ikut memasuki cahaya gemilang tersebut, namun dicegah oleh Sanghyang Padawenang.

Sanghyang Padawenang menjelaskan bahwa belum waktunya Janggan Smara kembali ke kahyangan karena masih banyak tugas yang harus ia kerjakan di dunia, yaitu mengasuh Bambang Parasara yang saat ini masih berusia dua tahun beserta anak keturunannya kelak. Bahkan, kakak Batara Ismaya yang bernama Batara Antaga pun kini telah menjalankan tugasnya sebagai pengasuh para raksasa dengan nama Kyai Togog. Adapun yang menjadi rekan kerja Kyai Togog adalah hawa nafsunya sendiri yang telah mewujud menjadi manusia, bernama Bilung Sarawita.

Janggan Smara mematuhi perintah Sanghyang Padawenang untuk mengasuh Bambang Parasara dan keturunannya kelak, namun ia meminta diberi kawan pula. Sanghyang Padawenang pun berkata bahwa teman Janggan Smara adalah bayangannya sendiri. Seketika bayangan Janggan Smara pun berubah menjadi manusia bertubuh bulat pendek, bermata lebar, dan memakai rambut gombak. Sanghyang Padawenang memberi nama orang itu Bagong dan menjadikannya sebagai rekan Janggan Smara dalam menjalankan tugasnya.

Bagong bersifat polos seperti anak kecil, sebagai perlambang bahwa Janggan Smara akan selalu awet muda dan panjang umur karena ia harus mengasuh Bambang Parasara dan keturunannya, sampai lahir titisan Batara Wisnu yang akan memelihara ketertiban dunia. Kelak Janggan Smara akan bekerja sama dengan titisan Batara Wisnu tersebut untuk menumpas angkara murka melalui sebuah perang besar yang disebut Bratayuda Jayabinangun.

Sanghyang Padawenang lalu memberikan sebuah pusaka berupa permata kepada Janggan Smara. Permata ini bernama Manik Astagina yang memiliki delapan macam khasiat, yaitu tidak merasa lapar, tidak merasa kantuk, tidak tergoda birahi, tidak merasa sedih, tidak merasa letih, tidak terkena penyakit, tidak merasa panas, dan tidak merasa dingin. Sanghyang Padawenang mengikat permata pusaka tersebut pada ubun-ubun Janggan Smara sehingga membentuk semacam kuncung.

Sanghyang Padawenang kemudian musnah dari pandangan, disusul turun hujan deras berbau harum membasahi Gunung Saptaarga dan sekitarnya. Janggan Smara lalu mengganti namanya menjadi Kyai Semar, sedangkan Bagong dijadikan sebagai anak angkatnya. Ia lalu turun gunung menuju Kerajaan Wirata untuk mengabarkan perihal muksanya Resi Manumanasa dan Resi Satrukem menjadi dewa, sedangkan Bagong diperintahkan untuk menjaga Bambang Parasara.

KYAI SEMAR BERTEMU ARYA SRIMADEWA

Dalam perjalanan menuju Kerajaan Wirata, Kyai Semar bertemu pasukan Wirata yang dipimpin Arya Srimadewa (putra bungsu Resi Manumanasa, atau adik Resi Satrukem). Mereka pun saling bertanya kabar masing-masing. Arya Srimadewa sangat terkejut mendengar ayah dan kakaknya telah muksa. Ia ingin sekali melayat ke Gunung Saptaarga, namun dirinya sedang mengemban tugas dari Prabu Basukiswara untuk membebaskan Kerajaan Mandraka dari kepungan musuh. Ternyata berita kekalahan Arya Manungkara telah sampai di Kerajaan Wirata.

Kyai Semar prihatin mendengar berita itu. Ia pun menyarankan agar Arya Srimadewa lebih dulu menyelesaikan tugasnya, barulah nanti mengunjungi Gunung Saptaarga. Arya Srimadewa menurut. Mereka lalu bersama-sama bergerak menuju Kerajaan Mandraka.

ARYA SRIMADEWA MENGALAHKAN PARA RAKSASA

Arya Srimadewa dan pasukan Wirata telah sampai di Kerajaan Mandraka dan menggempur perkemahan para raksasa. Pertempuran kembali terjadi dan kali ini berlangsung lebih sengit daripada sebelumnya, karena pasukan yang dibawa Arya Srimadewa jauh lebih banyak daripada yang dibawa Arya Manungkara kemarin.

Prabu Mercukalakresna dan Prabu Mityakarda maju bersama mengeroyok Arya Srimadewa. Menghadapi kedua raja raksasa tersebut, Arya Srimadewa merasa terdesak kewalahan. Ia pun mundur kemudian mengheningkan cipta mengerahkan angin topan yang membuat kedua raja tersebut beserta seluruh pasukan mereka terhempas jauh entah ke mana.

Kyai Togog dan Bilung yang tidak ikut terlempar oleh angin topan tampak berjalan mendekati Kyai Semar. Mereka pun saling bertanya kabar. Kyai Togog telah mendapat tugas dari Sanghyang Padawenang untuk mengasuh para raksasa, sedangkan Kyai Semar mendapat tugas untuk mengasuh para kesatria. Kyai Togog lalu mohon pamit pergi bersama Bilung, namun sebelumnya ia sempat menyerahkan pusaka Minyak Manihara dan Minyak Muksala kepada Kyai Semar. Kedua minyak pusaka itu telah direbut oleh Prabu Mercukalakresna dari tangan Arya Manungkara, dan hendaknya dikembalikan kepada pemiliknya.

RESI SRIMANASA DAN ARYA SRIMADEWA MELAYAT KE GUNUNG SAPTAARGA

Kyai Semar telah mengembalikan wujud Arya Manungkara menjadi manusia menggunakan Minyak Muksala. Prabu Mandrakusuma dan Resi Srimanasa juga muncul dari dalam benteng dan berterima kasih atas bantuan Arya Srimadewa yang telah berhasil mengusir musuh dari Kerajaan Mandraka.

Kyai Semar lalu menyampaikan berita bahwa Resi Manumanasa dan Resi Satrukem telah muksa menjadi dewa, yang kini bergelar Batara Prawa dan Batara Darma. Semua orang terkejut mendengarnya, terutama Resi Srimanasa, yaitu putra kedua Resi Manumanasa. Resi Srimanasa segera mengajak Arya Srimadewa untuk bersama-sama melayat ke Gunung Saptaarga. Prabu Mandrakusuma dan Patih Artadriya ikut menyertai, sedangkan Arya Manungkara pulang ke Kerajaan Wirata untuk mengabarkan berita duka ini kepada Prabu Basukiswara.

Sesampainya di Gunung Saptaarga, Resi Srimanasa dan Arya Srimadewa segera mengadakan upacara pemuliaan untuk ayah dan kakak mereka yang telah muksa. Setelah masa berkabung usai, mereka berunding untuk menyatukan para cucu Resi Manumanasa agar menjadi satu keluarga. Maka, Resi Srimanasa pun menjodohkan putranya, yaitu Patih Artadriya dengan Dewi Manuhara, putri Arya Srimadewa. Prabu Mandrakusuma bersama Kyai Semar dan Bagong menjadi saksi dan ikut bergembira menyambut keputusan ini.


------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya




Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Sakri Gugur

 No comments   

Kisah ini menceritakan kematian Batara Sakri di tangan Prabu Murtija, raja raksasa dari Kerajaan Tirtakawana, serta awal mula Dewi Wayasi dari Kasipura menjadi ibu susu bagi Bambang Parasara yang masih berusia satu tahun.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra dengan sedikit pengembangan, dan merupakan perbaikan dari kisah berjudul sama yang pernah saya posting sebelumnya.


Kediri, 07 Februari 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Putut Supalawa

PRABU BASUKISWARA MELANTIK BAMBANG MANERIYA MENJADI RAJA GANDARADESA

Prabu Basukiswara di Kerajaan Wirata dihadap kedua putra, yaitu Raden Basuketi dan Raden Basuketu, serta para menteri dan punggawa, antara lain Patih Wasita, Arya Manungkara, dan Arya Srimadewa. Hadir pula Bambang Maneriya (kakak kandung Arya Manungkara) beserta putranya yang bernama Bambang Mandara.

Sejak Resi Manonbawa dan Arya Paridarma meninggal (keduanya adalah adik Resi Manumanasa), maka kedudukan sebagai pemimpin Desa Gandara dipegang oleh Bambang Maneriya (putra Resi Manonbawa sekaligus menantu Arya Paridarma). Di bawah kepemimpinan Bambang Maneriya, perkembangan Desa Gandara semakin maju dan penduduknya bertambah banyak. Desa tersebut kini bisa dikatakan telah berubah menjadi sebuah kota yang ramai.

Prabu Basukiswara sangat berkenan mendengar berita tersebut dan ia berniat mengembangkan Desa Gandara menjadi sebuah kerajaan yang boleh mengatur pemerintahan sendiri dan membentuk pasukan, tetapi harus tetap setia kepada Kerajaan Wirata. Dengan demikian, Kerajaan Wirata akan semakin bertambah kuat karena memiliki negara bawahan yang bertambah banyak.

Untuk itulah Prabu Basukiswara memanggil Bambang Maneriya datang menghadap ke Kerajaan Wirata. Bambang Maneriya menerima niat baik Prabu Basukiswara dengan senang hati dan ia pun mengucapkan sumpah setia kepada Kerajaan Wirata. Prabu Basukiswara lalu melantiknya menjadi raja kecil, bergelar Prabu Maneriya, sedangkan Desa Gandara diganti namanya menjadi Kerajaan Gandaradesa.

DATANGNYA ANCAMAN MUSUH DARI TIRTAKAWANA

Setelah upacara pelantikan Prabu Maneriya usai, Prabu Basukiswara menerima kedatangan Patih Sahasra dari Kerajaan Gilingwesi yang menyampaikan berita bahwa rajanya, yaitu Prabu Danadewa telah ditawan musuh dari Kerajaan Tirtakawana yang bernama Patih Wiswageni, utusan Prabu Murtija.

Patih Sahasra pun bercerita bahwa Prabu Murtija adalah raja raksasa dari laut selatan yang memuja Batara Kala. Karena keturunan Batara Kala sering kalah melawan keturunan Batara Wisnu, maka Prabu Murtija pun berniat membalas dendam. Ia mengirim pasukan besar yang dipimpin Patih Wiswageni untuk menangkap para keturunan Batara Wisnu yang ada saat ini. Mula-mula yang diserang adalah Prabu Danadewa di Kerajaan Gilingwesi. Kabarnya setelah menangkap Prabu Danadewa, sasaran selanjutnya adalah ayahnya, yaitu Prabu Maheswara di Kerajaan Medang Kamulan dan juga Prabu Basukiswara di Kerajaan Wirata. Mereka semua akan dibawa ke Kerajaan Tirtakawana oleh Prabu Murtija untuk dikorbankan di hadapan patung Batara Kala.

Prabu Basukiswara sangat marah mendengar berita yang dibawa Patih Sahasra itu. Ia pun memerintahkan Arya Manungkara memimpin pasukan untuk membantu Kerajaan Medang Kamulan. Prabu Maneriya mohon izin ikut membantu sebagai darma baktinya kepada Kerajaan Wirata. Prabu Basukiswara pun mempersilakannya. Maka, berangkatlah Prabu Maneriya dan Arya Manungkara menjalankan tugas tersebut.

PRABU MANERIYA MENEWASKAN PATIH WISWAGENI

Pasukan yang dipimpin Prabu Maneriya dan Arya Manungkara telah sampai di Kerajaan Medang Kamulan. Saat itu sedang terjadi pertempuran antara pihak Medang Kamulan melawan para raksasa dari Kerajaan Tirtakawana. Prabu Maheswara tampak turun langsung ke medan tempur namun ia terdesak menghadapi kesaktian Patih Wiswageni.

Prabu Maneriya dan Arya Manungkara segera membantu Prabu Maheswara. Kedudukan kini menjadi seimbang. Arya Manungkara menumpas para prajurit raksasa hingga jumlah mereka berkurang sangat banyak, sedangkan Prabu Maneriya bertarung melawan Patih Wiswageni. Dalam pertarungan tersebut akhirnya Patih Wiswageni berhasil ditewaskan. Melihat pemimpinnya terbunuh, sisa-sisa prajurit raksasa yang masih hidup pun berhamburan pulang ke Kerajaan Tirtakawana.

Prabu Danadewa kini telah bebas dari sekapan musuh. Bersama-sama Prabu Maheswara, mereka mengucapkan terima kasih atas bantuan Prabu Maneriya dan Arya Manungkara yang datang tepat pada waktunya.

PRABU AMBINASA DAN DEWI WAYASI MENDAPAT PERINTAH DEWATA

Tersebutlah seorang raja bernama Prabu Ambinasa dari Kerajaan Kasipura di tanah seberang yang memiliki istri bernama Dewi Wayasi. Dari perkawinan mereka telah lahir seorang putra yang kini masih bayi, bernama Raden Sadamuka.

Saat itu Kerajaan Kasipura sedang dilanda wabah penyakit yang menewaskan banyak penduduk. Prabu Ambinasa dan Dewi Wayasi berdoa di sanggar pemujaan, memohon petunjuk bagaimana caranya untuk mengatasi wabah ganas tersebut. Setelah bersamadi berhari-hari, mereka pun didatangi Batara Narada yang turun dari kahyangan.

Batara Narada menyampaikan pesan dari Batara Guru bahwa Kerajaan Kasipura bisa terbebas dari wabah penyakit apabila Dewi Wayasi bersedia menyusui seorang bayi berusia satu tahun bernama Bambang Parasara di Gunung Saptaaarga yang baru saja ditinggal mati ibunya. Setelah menyampaikan pesan demikian, Batara Narada pun kembali ke kahyangan.

Sepeninggal Batara Narada, Prabu Ambinasa segera mempersiapkan diri berangkat ke Pulau Jawa. Akan tetapi, Dewi Wayasi merasa bimbang karena ia mendapatkan firasat buruk jika pergi ke sana. Prabu Ambinasa berusaha meyakinkan istrinya, bahwa petunjuk dari dewa pastilah untuk kebaikan manusia. Setelah perasaan Dewi Wayasi lebih tenang, mereka pun berkemas dan berangkat menuju ke Pulau Jawa.

DEWI WAYASI MENYUSUI BAMBANG PARASARA

Di Padepokan Ratawu di Gunung Saptaarga, Resi Manumanasa sekeluarga sedang berduka karena Dewi Sati, istri Batara Sakri meninggal dunia akibat penyakit paru-paru yang disertai batuk darah. Prabu Partawijaya dan Dewi Sruti sudah tentu sangat bersedih karena menyaksikan secara langsung bagaimana putri mereka meregang nyawa. Selama ini Prabu Partawijaya dan Dewi Sruti memang tinggal di Gunung Saptaarga untuk menunggui putri mereka yang sakitnya semakin parah, yaitu sejak Kerajaan Gujulaha hancur akibat serangan Prabu Bahlikasura dari Siwandapura.

Batara Sakri tentunya yang paling bersedih atas kematian istrinya itu. Ia merasa berdosa karena mengajak Dewi Sati tinggal di Gunung Saptaarga yang sederhana, padahal sejak kecil sang istri hidup mewah di istana Gujulaha serta dimanjakan oleh Prabu Partawijaya. Batara Sakri menyesal terlalu memaksakan kehendak sehingga akhirnya Dewi Sati jatuh sakit dan meninggal dunia. Padahal, putra mereka yaitu Bambang Parasara masih berusia satu tahun.

Karena kesedihannya itulah, Batara Sakri pun pergi seorang diri meninggalkan padepokan. Resi Manumanasa, Resi Satrukem, Prabu Partawijaya dan yang lainnya sangat menyesalkan tindakan Batara Sakri yang terlalu hanyut dalam perasaan hingga melupakan kewajibannya sebagai ayah. Resi Manumanasa telah mengutus Janggan Smara untuk menyusulnya tetapi sampai sekarang belum juga kembali.

Tidak lama kemudian datanglah Prabu Ambinasa dan Dewi Wayasi dari Kerajaan Kasipura. Mereka merasa serbasalah datang bertamu karena suasana Gunung Saptaarga sedang dirundung duka. Resi Manumanasa bertanya apa yang menjadi keperluan mereka. Belum sempat Prabu Ambinasa menjawab, Dewi Wayasi sudah bergerak menggendong bayi Bambang Parasara yang menangis keras dan segera menyusuinya bersama putra mereka, yaitu Raden Sadamuka. Dewi Wayasi menyusui kedua bayi tersebut sekaligus. Bambang Parasara di sebelah kiri, dan Raden Sadamuka di sebelah kanan.

Demikianlah, Prabu Ambinasa lalu menceritakan bahwa kedatangan mereka adalah untuk memenuhi petunjuk dewa, yaitu Dewi Wayasi harus menyusui Bambang Parasara agar Kerajaan Kasipura terbebas dari wabah penyakit. Resi Manumanasa sangat bersyukur mendengarnya dan ia pun mengheningkan cipta memohon kepada dewa agar wabah penyakit yang kini melanda Kerajaan Kasipura dihilangkan secepatnya.

Prabu Partawijaya lalu berangkat mencari Batara Sakri. Prabu Ambinasa ikut menemani sebagai ungkapan syukurnya karena telah berhasil melaksanakan petunjuk dewata. Kedua raja dari tanah seberang itu pun bersama-sama menuruni Gunung Saptaarga.

BATARA SAKRI GUGUR DI TANGAN PRABU MURTIJA

Sementara itu, Batara Sakri sudah beberapa hari ini duduk melamun di Hutan Wanamarta. Janggan Smara yang ditugasi Resi Manumanasa untuk menyusul akhirnya bisa bertemu dengannya. Ia berusaha membujuk Batara Sakri agar segera pulang demi Bambang Parasara. Akan tetapi, Batara Sakri sudah tidak memiliki semangat hidup lagi. Mengenai putranya, ia yakin Bambang Parasara memiliki takdir yang panjang dan pasti ada jalan terbaik untuknya.

Pada saat itulah muncul Prabu Murtija bersama pasukannya yang sedang bergerak menuju Kerajaan Wirata untuk membalas kematian Patih Wiswageni. Ia pun bertanya kepada Batara Sakri tentang jalan mana yang harus ditempuh jika ingin menuju Kerajaan Wirata. Batara Sakri balik bertanya mengapa Prabu Murtija ingin membunuh Prabu Basukiswara. Prabu Murtija pun menjawab bahwa ia ingin menumpas semua keturunan Batara Wisnu di Pulau Jawa. Batara Sakri menjawab bahwa dirinya juga keturunan Batara Wisnu dari garis Dewi Srihuna. Ia pun menantang Prabu Murtija jika ingin membunuhnya.

Prabu Murtija sangat senang melihat mangsa di hadapannya. Ia pun menyerang Batara Sakri dengan beringas. Maka, terjadilah pertarungan sengit di antara mereka. Batara Sakri pada dasarnya sudah tidak memiliki semangat hidup lagi dan ingin segera menyusul kematian istrinya. Hal itu membuat dirinya lengah sehingga lehernya terkena gigitan Prabu Murtija.

Akibat gigitan tersebut, Batara Sakri roboh dan tewas seketika. Secara ajaib, jasadnya juga ikut musnah seperti asap tertiup angin.

KEMATIAN PRABU PARTAWIJAYA DAN PRABU AMBINASA

Prabu Partawijaya dan Prabu Ambinasa telah tiba di Hutan Wanamarta dan secara kebetulan mereka melihat Batara Sakri tewas dalam pertarungan. Prabu Partawijaya segera maju menyerang Prabu Murtija, namun ia kalah kuat dan akhirnya tewas di tangan raja raksasa tersebut.

Prabu Ambinasa marah melihat kawannya terbunuh. Ia pun maju menghadapi Prabu Murtija. Keduanya bertarung sengit. Namun, pada akhirnya Prabu Ambinasa juga gugur terkena gigitan raja raksasa dari Tirtakawana tersebut.

Kini yang tertinggal hanyalah Prabu Murtija dan Janggan Smara saja. Di luar dugaan, Janggan Smara yang bertubuh bulat pendek itu ternyata sangat lincah dapat menghindari setiap serangan Prabu Murtija. Bagaimanapun juga, Janggan Smara adalah penjelmaan Batara Ismaya, kakak Batara Guru. Jika ia mau, ia bisa saja mengalahkan Prabu Murtija dengan mudah. Namun, Sanghyang Padawenang telah menugasinya sebagai pengasuh, bukan sebagai kesatria petarung. Teringat pada pesan sang ayah, Janggan Smara pun berlari ke arah Gunung Saptaarga dan memancing Prabu Murtija supaya mengejarnya.

PRABU MURTIJA GUGUR BERSAMA PUTUT SUPALAWA

Janggan Smara telah sampai di hadapan Resi Manumanasa dan Resi Satrukem. Ia melaporkan tentang Batara Sakri, Prabu Partawijaya, dan Prabu Ambinasa yang telah gugur di Hutan Wanamarta menghadapi Prabu Murtija. Resi Manumanasa dan Resi Satrukem sangat prihatin. Putut Supalawa sang wanara putih segera diperintahkan untuk maju menghadapi Prabu Murtija.

Putut Supalawa telah bertemu Prabu Murtija yang sedang mengamuk merusak pedesaan di kaki Gunung Saptaarga. Terjadilah pertempuran di antara mereka. Putut Supalawa akhirnya berhasil membunuh Prabu Murtija, namun ia sendiri juga gugur dan berubah wujud menjadi dewa bernama Batara Bayusengara.

Batara Bayusengara lalu naik ke padepokan menemui Resi Manumanasa. Ia menceritakan bahwa dirinya adalah putra Batara Bayu yang melakukan kesalahan sehingga diturunkan ke dunia. Awal mulanya ialah Batara Bayusengara merasa iri kepada Kapi Anoman, yaitu wanara putih putra Batara Guru yang diserahkan kepada Batara Bayu sebagai anak angkat. Sepak terjang Kapi Anoman dalam membantu Prabu Sri Rama (titisan Batara Wisnu) saat perang besar melawan Prabu Rahwana di Kerajaan Alengka membuat namanya harum dan dipuji-puji para dewa. Mereka selalu menyebut-nyebut nama Kapi Anoman sebagai putra Batara Bayu yang perkasa, yang telah membunuh banyak raksasa di Kerajaan Alengka.

Batara Bayusengara sangat kesal mendengar nama ayahnya selalu dikait-kaitkan dengan wanara putih tersebut. Batara Bayu justru tidak senang kepada sikap Batara Bayusengara yang suka meremehkan bangsa wanara. Sungguh ajaib, seketika tubuh Batara Bayusengara pun berubah wujud menjadi wanara putih yang mirip dengan Kapi Anoman.

Batara Bayusengara menyesali sikap angkuhnya dan ia memohon supaya sang ayah mengembalikan wujudnya seperti semula. Batara Bayu memberikan nasihat bahwa putranya itu bisa terbebas dari kutukan apabila mengabdi kepada keturunan Batara Brahma dan Batara Wisnu yang bernama Raden Kaniyasa. Batara Bayu lalu mengganti nama Batara Bayusengara menjadi Kapi Supalawa.

Kapi Supalawa lalu bertapa di Gunung Saptaarga dan ia pun bertemu Raden Kaniyasa yang sedang membuka padepokan. Raden Kaniyasa kemudian mengganti namanya menjadi Resi Manumanasa, sedangkan Kapi Supalawa menjadi pembantunya, bergelar Putut Supalawa.

Demikianlah, Putut Supalawa kini telah kembali ke wujud asalnya, yaitu Batara Bayusengara. Ia berterima kasih atas segala ilmu dan pelajaran yang diberikan Resi Manumanasa selama ini. Sebaliknya, Resi Manumanasa juga berterima kasih atas semua bantuan Batara Bayusengara yang tak terhitung banyaknya. Selama ini Resi Manumanasa tidak pernah menganggapnya sebagai pembantu, tetapi sudah seperti keluarga sendiri. Dalam suasana haru mereka pun berpisah. Batara Bayusengara lalu melesat kembali ke kahyangan dalam sekejap mata.

DEWI WAYASI MENJADI MURID RESI MANUMANASA

Dewi Sruti dan Dewi Wayasi sangat berduka atas kematian suami masing-masing. Dewi Wayasi sendiri sudah mendapatkan firasat buruk saat hendak berangkat ke Tanah Jawa bersama Prabu Ambinasa. Kini, firasat buruknya itu telah menjadi kenyataan.

Berita kematian Batara Sakri itu telah sampai di Kerajaan Wirata. Prabu Basukiswara pun datang secara langsung untuk melayat. Ia sangat terharu atas pengorbanan Prabu Partawijaya dan Prabu Ambinasa yang ikut gugur di tangan Prabu Murtija, padahal mereka bukan keturunan Batara Wisnu.

Prabu Basukiswara lalu melantik Raden Partana, putra bungsu Prabu Partawijaya sebagai raja baru di Kerajaan Gujulaha, dengan gelar Prabu Partana. Akan tetapi, karena Kerajaan Gujulaha sudah dihancurkan oleh Prabu Bahlikasura, maka hendaknya Prabu Partana membangun kembali negeri yang lama peninggalan leluhurnya, yaitu Kerajaan Sriwedari. Untuk itu, Prabu Basukiswara berjanji akan menyumbang biaya pembangunan kota lama tersebut. Prabu Partana sangat berterima kasih dan bersama-sama dengan ibunya, yaitu Dewi Sruti, mereka mohon pamit meninggalkan Gunung Saptaarga.

Sementara itu, Prabu Basukiswara juga memberikan anugerah kepada Dewi Wayasi atas pengorbanan Prabu Ambinasa, berupa Hutan Giyanti. Meskipun Hutan Giyanti terletak di Tanah Jawa, namun sejak saat ini menjadi hak milik Kerajaan Kasipura yang terletak di seberang lautan. Dewi Wayasi boleh membangun permukiman di hutan itu ataupun mengubahnya menjadi apa saja. Dewi Wayasi berterima kasih dan berharap mungkin keturunannya yang kelak akan mengambil manfaat dari Hutan Giyanti tersebut.

Sementara ini, Dewi Wayasi masih ingin tinggal di Gunung Saptaarga untuk berguru kepada Resi Manumanasa sekaligus menyusui Bambang Parasara sampai usia dua tahun. Resi Manumanasa berkenan menerimanya sebagai murid. Ia pun mengajarkan ilmu sangkan paran dumadi dan kesempurnaan hidup kepada janda Prabu Ambinasa tersebut.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


















Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Babad Mandraka

 No comments   

Kisah ini menceritakan berdirinya Kerajaan Mandraka yang dipimpin oleh Raden Kardana, bergelar Prabu Mandrakusuma, menantu Arya Sriati. Juga dikisahkan pelantikan Raden Wasanta menjadi raja Gajahoya, bergelar Prabu Pratipa. Adapun Raden Kardana adalah leluhur Prabu Salya, sedangkan Raden Wasanta adalah leluhur Resiwara Bisma.

Kisah ini adalah perbaikan dari postingan sebelumnya yang berjudul sama, dan saya susun berdasarkan Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra serta kitab Mahabharata karya Resi Wyasa, dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 04 Februari 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Raden Kardana, pendiri Kerajaan Mandraka.


KERAJAAN GUJULAHA DIANCAM RAJA SIWANDAPURA

Prabu Partawijaya di Kerajaan Gujulaha dihadap putra mahkota yaitu Raden Partana beserta para menteri dan punggawa, antara lain Patih Srenggabadra dan Resi Sabdamuni. Mereka sedang membicarakan berita tentang negeri tetangga, yaitu Kerajaan Mandrapura yang telah hancur akibat serangan Prabu Bahlikasura raja Siwandapura.

Menurut kabar yang beredar, Prabu Bahlikasura adalah murid Batara Kala yang ingin menyebarkan agama Kala di Tanah Hindustan. Ia memaksa raja-raja sekitarnya supaya mau mengikuti dirinya, yaitu memuja Batara Kala. Jika raja tersebut menurutinya, maka dia akan diperlakukan dengan baik. Namun, jika raja tersebut menolak, maka negerinya akan hancur diserang pasukan Siwandapura.

Demikianlah, Kerajaan Mandrapura yang dipimpin Prabu Barandana dengan tegas menolak mengikuti agama Kala. Prabu Bahlikasura marah dan menyerang negeri tersebut. Konon kabarnya saat ini Kerajaan Mandrapura sudah hancur, rata dengan tanah. Prabu Barandana tewas di tangan Prabu Bahlikasura, begitu pula dengan seluruh anggota keluarganya, kecuali sang putra mahkota yang bernama Raden Kardana. Entah bagaimana nasib Raden Kardana saat ini tiada seorang pun yang mengetahui keberadaannya.

Ketika Prabu Partawijaya sedang membicarakan berita tersebut, tiba-tiba datanglah utusan Prabu Bahlikasura yang bernama Patih Balawara menyampaikan surat dari rajanya. Prabu Partawijaya menerima surat itu dan membaca isinya. Surat tersebut berisi ajakan Prabu Bahlikasura kepada Prabu Partawijaya supaya ikut memuja Batara Kala. Prabu Partawijaya dengan tegas menolak ajakan tersebut. Bagaimanapun juga seluruh rakyat Gujulaha akan tetap teguh memegang agamanya, yaitu memuja Tuhan Yang Mahakuasa sesuai ajaran agama Wisnu. Atas penolakan itu, Patih Balawara pun undur diri dan mengancam bahwa pasukan Siwandapura saat ini sudah bersiaga untuk menggempur Kerajaan Gujulaha.

Prabu Partawijaya tidak gentar atas ancaman tersebut. Ia pun memerintahkan Patih Srenggabadra untuk mempersiapkan pasukan guna menghadapi peperangan yang sebentar lagi akan meletus.

PRABU PARTAWIJAYA MENGUNGSI KE TANAH JAWA

Patih Balawara telah kembali ke induk pasukan untuk melaporkan penolakan Prabu Partawijaya kepada Prabu Bahlikasura di perkemahan. Prabu Bahlikasura marah mendengar penolakan tersebut. Ia pun memerintahkan pasukan Siwandapura maju menggempur Kerajaan Gujulaha saat ini juga.

Di lain pihak, Prabu Partawijaya dan pasukannya telah bersiaga. Begitu kedua pasukan bertemu, pertempuran sengit pun terjadi. Banyak prajurit yang tewas di pihak Gujulaha. Bahkan, Resi Sabdamuni juga ikut terbunuh di tangan pendeta Kerajaan Siwandapura yang bernama Resi Logitasa.

Prabu Partawijaya merasa ngeri melihat kekuatan pasukan musuh. Ia pun memutuskan untuk mengungsi ke Tanah Jawa, meminta bantuan Kerajaan Wirata. Begitu perintah diumumkan, Patih Srenggabadra segera mengumpulkan sisa-sisa prajurit yang selamat. Bersama-sama mereka mengikuti Prabu Partawijaya beserta anak dan istrinya berlayar meninggalkan Kerajaan Gujulaha yang kini telah jatuh ke tangan musuh.

ARYA SRIATI DIUTUS MENYELIDIKI CAHAYA DI HUTAN KELING

Sementara itu di Kerajaan Wirata, Prabu Basukiswara mendapat laporan dari penduduk di sekitar Hutan Keling, bahwa dari dalam hutan tersebut memancar cahaya teja tegak lurus ke angkasa yang berwarna merah, putih, kuning, dan hitam. Prabu Basukiswara sangat penasaran dan memerintahkan Arya Sriati untuk berangkat memeriksa ke sana.

Dalam perjalanan menuju ke Hutan Keling, Arya Sriati berjumpa adiknya, yaitu Resi Manumadewa yang hendak pergi ke Kerajaan Wirata untuk mengunjunginya. Arya Sriati menjelaskan bahwa dirinya sedang mengemban tugas dari Prabu Basukiswara untuk menyelidiki Hutan Keling. Resi Manumadewa tertarik mendengarnya dan ia pun memutuskan untuk ikut menyertai kepergian sang kakak.

ARYA SRIATI BERTEMU RADEN KARDANA

Arya Sriati dan Resi Manumadewa kini telah sampai di Hutan Keling. Sesuai dengan laporan masyarakat, ternyata benar bahwa hutan tersebut memang memancarkan cahaya teja empat warna yang tegak lurus ke angkasa. Dengan hati-hati kedua putra Resi Manumanasa itu pun masuk ke dalam hutan mencari sumber cahaya.

Sesampainya di dalam hutan, mereka melihat seorang pemuda bertapa sambil menggenggam sebutir mutiara. Pemuda itu tampak lusuh dengan pakaian compang-camping. Rupanya cahaya teja yang memancar ke angkasa berasal dari mutiara yang digenggam oleh pemuda itu. Arya Sriati dan Resi Manumadewa tampak terkesan dan mencoba membangunkan pemuda tersebut.

Pemuda itu bangun dan memberi hormat kepada Arya Sriati dan Resi Manumadewa. Kedua pihak pun saling memperkenalkan diri. Ternyata pemuda itu adalah Raden Kardana, pelarian dari Kerajaan Mandrapura. Ia menceritakan bahwa negerinya kini hancur dan orang tuanya tewas akibat serbuan Prabu Bahlikasura dari Kerajaan Siwandapura. Ia pun melarikan diri dan mendapatkan petunjuk dari dewata supaya pergi bertapa ke Tanah Jawa.

Sesampainya di Tanah Jawa, Raden Kardana bertapa di Hutan Keling. Setelah tujuh hari tujuh malam tiba-tiba Batara Indra datang menemuinya. Batara Indra menghadiahkan mutiara pusaka Retna Dumilah yang bisa memancarkan cajaya teja empat warna. Daya kekuatan mutiara tersebut adalah jika dicium oleh Raden Kardana, maka Raden Kardana tidak akan merasa haus dan lapar. Batara Indra juga memberikan petunjuk agar Raden Kardana melanjutkan bertapa karena tidak lama lagi akan ada utusan dari Kerajaan Wirata yang akan menjadi sarana kemuliaannya.

Arya Sriati terkesan mendengar penuturan Raden Kardana. Ia pun mengaku bahwa dirinya memang utusan Prabu Basukiswara dari Kerajaan Wirata. Raden Kardana merasa senang dan memohon kepada Arya Sriati supaya diantarkan menghadap kepada Prabu Basukiswara. Ia ingin mempersembahkan mutiara Retna Dumilah kepada raja Wirata tersebut.

Arya Sriati dan Resi Manumadewa berunding sejenak, lalu mereka pun sepakat mengabulkan permintaan Raden Kardana. Ketiganya lalu bersama-sama pergi meninggalkan Hutan Keling menuju ke Kerajaan Wirata.

BATARA SAKRI MENOLONG MERTUANYA

Sementara itu, Prabu Partawijaya dan rombongannya yang mengungsi meninggalkan Kerajaan Gujulaha telah sampai di Tanah Jawa. Mereka tetap dikejar-kejar pasukan Siwandapura yang dipimpin oleh Arya Pinggala. Di tengah jalan, Prabu Partawijaya bertemu menantunya, yaitu Batara Sakri yang sedang berjalan ditemani Janggan Smara.

Batara Sakri segera membantu kesulitan sang mertua. Ia menghadang Arya Pinggala dan pasukannya, sehingga terjadilah pertempuran sengit di antara mereka. Arya Pinggala akhirnya tewas di tangan Batara Sakri. Melihat pemimpinnya terbunuh, para prajurit Siwandapura ketakutan dan melarikan diri.

Prabu Partawijaya sangat berterima kasih atas bantuan sang menantu. Ia menjelaskan bahwa saat ini Kerajaan Gujulaha telah hancur diserang musuh dari Kerajaan Siwandapura yang dipimpin Prabu Bahlikasura. Oleh karena itu, Prabu Partawijaya sekeluarga pun pergi mengungsi sekaligus meminta perlindungan Kerajaan Wirata.

Batara Sakri prihatin mendengarnya. Ia ganti bercerita bahwa saat ini istrinya, yaitu Dewi Sati sedang menderita sakit paru-paru yang kadang disertai batuk darah. Ia pun pergi mencari tanaman obat dengan ditemani Janggan Smara. Setelah menemukan tanaman obat yang dimaksud, mereka berniat pulang ke Gunung Saptaarga, hingga akhirnya bertemu rombongan mertuanya tersebut di tengah jalan.

Prabu Partawijaya dan Dewi Sruti sangat prihatin mendengar keadaan putri mereka. Rombongan dari Gujulaha itu lalu dibagi menjadi dua. Dewi Sruti dan para wanita berangkat menyertai Batara Sakri ke Gunung Saptaarga untuk menjenguk Dewi Sati, sedangkan Prabu Partawijaya, Raden Partana, Patih Srenggabadra, dan para prajurit melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Wirata.

Batara Sakri sendiri berjanji akan segera menyusul ke Wirata setelah mengantarkan tanaman obat untuk Dewi Sati. Prabu Partawijaya berterima kasih dan mereka lalu berpisah sesuai tujuan masing-masing.

PRABU BASUKISWARA MELANTIK RADEN WASANTA MENJADI RAJA GAJAHOYA

Sementara itu, Prabu Basukiswara di Kerajaan Wirata menerima kunjungan Raden Wasanta dari Kerajaan Gajahoya. Raden Wasanta adalah putra mendiang Prabu Hastimurti, yaitu kakak sepupu Prabu Basukiswara yang telah lama meninggal dalam pertempuran melawan Prabu Daneswara raja Medang Kamulan. Sepeninggal Prabu Hastimurti, Kerajaan Gajahoya dipegang oleh mertua sekaligus pamannya, yaitu Resi Basunanda. Kini Raden Wasanta datang ke Wirata untuk mengabarkan bahwa kakeknya, yaitu Resi Basunanda telah meninggal dunia.

Prabu Basukiswara sangat terkejut dan prihatin mendengar berita tersebut. Ia lalu mengheningkan cipta untuk mendoakan arwah Resi Basunanda. Setelah dirasa cukup, Prabu Basukiswara lalu menetapkan Raden Wasanta sebagai raja Gajahoya yang baru dan hendaknya tetap tunduk kepada Kerajaan Wirata. Raden Wasanta mematuhi dan ia pun dilantik dengan gelar Prabu Pratipa.

Prabu Basukiswara juga menunjuk putra Resi Basunanda, yaitu Patih Basundara agar menggantikan ayahnya menjadi pendeta penasihat Prabu Pratipa, dengan bergelar Resi Basundara. Adapun kedudukan patih di Gajahoya hendaknya dipegang oleh putra Resi Basundara yang bernama Raden Basusara. Demikianlah keputusan Prabu Basukiswara.

PRABU PARTAWIJAYA DAN RADEN KARDANA TIBA DI WIRATA

Setelah pelantikan Prabu Pratipa usai, Prabu Basukiswara menerima kedatangan Prabu Partawijaya beserta rombongannya. Prabu Partawijaya mengisahkan bahwa Kerajaan Gujulaha dan beberapa negara tetangga di Tanah Hindustan saat ini sudah jatuh ke tangan Prabu Bahlikasura, seorang pemuja Batara Kala dari Kerajaan Siwandapura. Prabu Basukiswara sangat prihatin mendengarnya dan ia pun berjanji akan melindungi Prabu Partawijaya dari kejaran musuh tersebut.

Tidak lama kemudian datang pula Arya Sriati bersama Raden Kardana dan Resi Manumadewa. Arya Sriati menyampaikan hasil penyelidikannya terhadap cahaya teja yang memancar dari Hutan Keling, ternyata berasal dari mutiara pusaka milik Raden Kardana. Ia adalah pelarian dari Kerajaan Mandrapura yang negerinya juga hancur akibat serangan Prabu Bahlikasura.

Prabu Basukiswara semakin marah mendengar ulah Prabu Bahlikasura. Ia pun berjanji akan melindungi Raden Kardana di Kerajaan Wirata. Raden Kardana sangat berterima kasih dan segera mempersembahkan mutiara Retna Dumilah supaya menjadi pusaka Kerajaan Wirata.

Prabu Basukiswara sangat berkenan menerimanya dan ia pun membalas terima kasih dengan menganugerahkan Hutan Keling kepada Raden Kardana supaya dibuka menjadi kerajaan baru di sana.

PRABU BAHLIKASURA MENYERANG KERAJAAN WIRATA

Prabu Bahlikasura telah mendapat laporan bahwa Prabu Partawijaya dan Raden Kardana berlindung di Kerajaan Wirata. Ia pun berangkat mengejar dengan membawa pasukan lengkap dari Kerajaan Siwandapura. Meskipun ia datang dengan alasan ingin menangkap Prabu Partawijaya dan Raden Kardana, namun tujuan yang sebenarnya adalah ingin menaklukkan dan menjajah Kerajaan Wirata.

Di lain pihak, Prabu Basukiswara sudah bersiaga. Ia memerintahkan Patih Wasita dan Arya Manungkara untuk menyambut serangan tersebut. Prabu Pratipa dan pasukan Gajahoya juga ikut membantu. Pasukan gabungan ini masih ditambah dengan Batara Sakri yang juga datang bersama para murid Padepokan Gunung Saptaarga.

Pertempuran besar pun terjadi. Prabu Bahlikasura tidak menyangka ternyata kekuatan Kerajaan Wirata sedemikian besarnya. Satu persatu para punggawa Kerajaan Siwandapura berguguran. Antara lain, Ditya Kalakunjana tewas di tangan Putut Supalawa, Ditya Gajahsinga tewas di tangan Arya Sriati, Garuda Otgawa tewas di tangan Batara Sakri, Patih Balawara tewas di tangan Patih Wasita, sedangkan Resi Logitasa tewas di tangan Resi Manumadewa.

Prabu Bahlikasura mengamuk dan hampir saja berhasil menangkap Prabu Partawijaya. Arya Manungkara maju menghadapinya. Pertarungan sengit pun terjadi. Arya Manungkara tampak kewalahan dan hampir saja kalah di tangan raja Siwandapura tersebut. Melihat itu, Prabu Pratipa segera maju membantu. Kali ini Prabu Bahlikasura ganti terdesak kalah. Ketika ia lengah, tiba-tiba Arya Manungkara maju kembali dan mengusapkan Minyak Manihara ke tubuhnya. Seketika raja Siwandapura itu pun berubah menjadi arca batu.

PRABU BASUKISWARA MEMBEBASKAN PRABU BAHLIKASURA

Prabu Basukiswara memerintahkan Arya Manungkara untuk memulihkan wujud Prabu Bahlikasura supaya bisa ditanyai. Arya Manungkara segera mengoleskan Minyak Muksala, membuat arca batu di hadapannya seketika berubah kembali menjadi Prabu Bahlikasura.

Prabu Basukiswara sangat kesal kepada Prabu Bahlikasura dan berniat menjadikannya sebagai tawanan yang harus ditebus mahal oleh anggota keluarganya di Kerajaan Siwandapura. Prabu Pratipa tiba-tiba ikut bicara dan memintakan pengampunan untuk Prabu Bahlikasura. Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Prabu Basukiswara membebaskan raja Siwandapura tersebut, dengan syarat tidak lagi mengganggu Prabu Partawijaya dan Raden Kardana yang kini menjadi bagian dari Kerajaan Wirata.

Prabu Bahlikasura mematuhi syarat tersebut lalu ia pun undur diri meninggalkan Kerajaan Wirata. Prabu Pratipa juga mohon pamit kembali ke Kerajaan Gajahoya. Ia menolak undangan perjamuan dari Prabu Basukiswara untuk merayakan kemenangan perang.

PRABU PRATIPA BERSAHABAT DENGAN PRABU BAHLIKASURA

Dalam perjalanan pulang ke Gajahoya, Prabu Pratipa ditemui Prabu Bahlikasura yang berterima kasih atas pembelaannya tadi. Prabu Pratipa sendiri mengaku kurang suka terhadap Prabu Basukiswara sehingga ia pun membela Prabu Bahlikasura. Bagaimanapun juga usia Prabu Pratipa lebih tua daripada Prabu Basukiswara, tetapi karena silsilah ia harus memanggil “paman” kepadanya dan tunduk kepada raja Wirata tersebut. Ia bercita-cita suatu saat nanti Kerajaan Gajahoya harus bisa merdeka dan tidak lagi menjadi bawahan Kerajaan Wirata.

Prabu Bahlikasura menyatakan siap membantu Prabu Pratipa. Kedua raja itu lalu menjalin persahabatan. Prabu Bahlikasura mengaku memiliki seorang anak perempuan bernama Dewi Sunanda yang ingin dipersembahkannya sebagai istri Prabu Pratipa. Untuk itu, Prabu Pratipa pun diundang berkunjung ke Kerajaan Siwandapura. Prabu Pratipa dengan senang hati menerima perjodohan tersebut. Ia lebih dulu mengajak Prabu Bahlikasura singgah di Kerajaan Gajahoya, kemudian mereka bersama-sama berlayar menuju Siwandapura.

RADEN KARDANA MENDIRIKAN KERAJAAN MANDRAKA

Atas izin Prabu Basukiswara, Hutan Keling kini telah dibuka menjadi sebuah negeri baru yang dipimpin Raden Kardana, dengan gelar Prabu Mandrakusuma. Negeri baru tersebut menjadi bawahan Kerajaan Wirata dan diberi nama Kerajaan Mandraka, yaitu meniru nama Mandrapura, negeri tempat asal Prabu Mandrakusuma.

Prabu Basukiswara juga mengatur perjodohan antara Prabu Mandrakusuma dengan putri sulung Arya Siati yang bernama Dewi Artati. Adapun adik Dewi Artati yang bernama Raden Artadriya ditunjuk sebagai patih di Kerajaan Mandraka, bergelar Patih Artadriya. Tidak hanya itu, Prabu Basukiswara juga mengangkat Arya Sriati sebagai pendeta yang mendampingi Prabu Mandrakusuma. Maka, sejak saat itu Arya Sriati pun berganti nama menjadi Resi Srimanasa.

Prabu Basukiswara juga terkesan melihat kehebatan adik bungsu Arya Sriati, yaitu Resi Manumadewa yang ikut berjuang menghadapi pasukan Siwandapura. Ia pun menawarkan jabatan punggawa menggantikan kedudukan Arya Sriati kepada Resi Manumadewa. Dengan senang hati, Resi Manumadewa menerima tawaran tersebut. Maka, sejak hari itu Resi Manumadewa menjadi punggawa Kerajaan Wirata, dengan gelar Arya Srimadewa.

PRABU PARTAWIJAYA MENGUNJUNGI GUNUNG SAPTAARGA

Keadaan kini telah aman kembali. Prabu Partawijaya mohon pamit meninggalkan Kerajaan Wirata. Ia sangat berterima kasih atas segala bantuan yang diberikan Prabu Basukiswara kepada rombongannya yang datang mengungsi meminta perlindungan. Prabu Basukiswara tidak keberatan sama sekali mengingat persahabatan antara kedua negara, yaitu Wirata dan Gujulaha.

Prabu Partawijaya, Raden Partana, dan Patih Srenggabadra pun undur diri. Namun demikian, mereka tidak kembali ke Kerajaan Gujulaha, melainkan pergi ke Gunung Saptaarga bersama Batara Sakri. Prabu Partawijaya ingin lekas-lekas menjenguk dan melihat keadaan putrinya, yaitu Dewi Sati yang kini menderita sakit paru-paru.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya









Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Parasara Lahir

 No comments   

Kisah ini menceritakan kelahiran Bambang Parasara putra Batara Sakri dan Dewi Sati, yang kelak menjadi Resi Parasara, yaitu leluhur para Pandawa dan Kurawa. Kisah dilanjutkan dengan menyerahnya sisa-sisa pengikut Resi Dwapara kepada Resi Manumanasa.

Kisah ini disusun berdasarkan Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, dengan sedikit pengembangan. Kisah ini saya sajikan untuk memperbaiki postingan terdahulu, di mana kisah perkawinan Batara Sakri dan kelahiran Bambang Parasara pernah saya jadikan satu cerita.


Kediri, 02 Februari 2016

Heri Purwanto
------------------------------ ooo ------------------------------

BATARA SAKRI MENINGGALKAN KERAJAAN GUJULAHA

Prabu Partawijaya di Kerajaan Gujulaha dihadap pangeran mahkota Raden Partana beserta para menteri dan punggawa, antara lain Patih Srenggabadra dan Resi Sabdamuni. Mereka sedang membicarakan putri Sang Prabu yaitu Dewi Sati yang kini sedang mengandung setelah menikah dengan Batara Sakri.

Tiba-tiba Dewi Sati datang menghadap dalam keadaan menangis. Ia bercerita bahwa suaminya telah pergi dari istana. Awal mulanya ialah Batara Sakri mengaku tidak betah tinggal di istana dan ingin kembali ke Gunung Saptaarga. Batara Sakri sangat menyesal telah bertengkar dengan ayahnya, yaitu Resi Satrukem sebelum menikah dulu. Waktu itu Batara Sakri disuruh Resi Satrukem mencari istri bidadari untuk menggenapi tradisi keluarga, namun ia menolak karena jika menikah dengan bidadari maka ujung-ujungnya hanya tinggal di padepokan saja. Batara Sakri pun menyatakan bahwa dirinya ingin menikah dengan putri raja supaya bisa tinggal di istana.

Jawaban tersebut membuat Resi Satrukem tersinggung dan mengusir Batara Sakri. Kini Batara Sakri telah mewujudkan cita-citanya bisa menikah dengan putri raja, namun ternyata ia tidak betah tinggal di istana. Batara Sakri sangat menyesal telah menyinggung perasaan ayahnya dan ingin pulang ke Gunung Saptaarga untuk meminta maaf kepada Resi Satrukem. Ia pun mengajak Dewi Sati tinggal di padepokan dan menetap di sana untuk selamanya. Namun, Dewi Sati menolak. Ia mengaku tidak mungkin meninggalkan segala kemewahan yang dimilikinya sejak kecil. Hal ini membuat mereka berdua bertengkar. Batara Sakri kecewa karena Dewi Sati sebagai seorang istri tidak patuh kepada suami.

Karena dalam pertengkaran tersebut tidak ada yang mau mengalah, akhirnya Batara Sakri memilih pergi meninggalkan istana.

Kini Dewi Sati menyesal karena tidak mematuhi sang suami. Ia pun merengek mengajak sang ayah untuk mengantarkannya menyusul Batara Sakri ke Gunung Saptaarga. Prabu Partawijaya berusaha menyabarkan putrinya itu. Ia memaklumi bahwa dirinya terlalu memanjakan Dewi Sati sejak kecil sehingga setelah menikah kurang bisa membawa diri sebagai istri yang baik. Ia pun berjanji akan mengantarkan putrinya itu menyusul ke Gunung Saptaarga tetapi nanti bila sudah melahirkan.

Namun, Dewi Sati menolak. Ia tidak mau menunda-nunda lagi. Semakin lama dirinya berpisah dengan Batara Sakri justru membuat dirinya semakin bertambah sedih karena merasa berdosa kepada suami. Ia meminta saat ini juga sang ayah mengantarkannya pergi ke Gunung Saptaarga. Prabu Partawijaya yang sangat menyayangi putrinya itu tidak bisa menolak lagi. Ia pun meminta Resi Sabdamuni membuatkan jamu penguat kandungan agar perjalanan ke Tanah Jawa nanti tidak membahayakan janin yang berada di dalam rahim Dewi Sati. Resi Sabdamuni mematuhi dan segera berangkat mempersiapkan ramuan.

Setelah dirasa cukup, Prabu Partawijaya pun membubarkan pertemuan kemudian berpamitan kepada sang permaisuri Dewi Sruti bahwa dirinya akan berangkat ke Tanah Jawa untuk mengantarkan putri mereka.

PRABU PARTAWIJAYA BERSELISIH DENGAN PRABU SADAKA

Prabu Partawijaya dan Dewi Sati telah berlayar ke Tanah Jawa dan mendarat di pelabuhan yang menjadi wilayah Kerajaan Medang Kamulan. Mereka pun bertemu Prabu Maheswara dan Patih Nindyabawa yang  kebetulan sedang meninjau suasana perdagangan di pelabuhan. Terjadilah salah paham di mana Prabu Maheswara mengira Prabu Partawijaya adalah raja dari tanah seberang yang hendak menyerang Medang Kamulan. Namun, begitu melihat keadaan Dewi Sati yang sedang hamil, Prabu Maheswara pun menyadari kekeliruannya.

Prabu Partawijaya mengaku hendak pergi ke Gunung Saptaarga untuk menyusul menantunya, yaitu Batara Sakri. Prabu Maheswara merasa senang begitu mendengar Prabu Partawijaya ternyata besan Resi Satrukem. Ia sendiri juga mengaku memiliki hubungan baik dengan Padepokan Ratawu di Gunung Saptaarga karena dulu semasa muda dan masih bernama Raden Artaetu pernah berguru kepada Resi Manumanasa. Prabu Partawijaya pun menjelaskan bahwa dirinya juga murid Resi Manumanasa. Seketika suasana tegang pun mencair menjadi keakraban di antara kedua raja tersebut.

Tiba-tiba datanglah sebuah kapal besar yang mendarat di pelabuhan. Dari kapal itu turun Prabu Sadaka dan Patih Warsita dari Kerajaan Magada di tanah seberang. Prabu Partawijaya bertanya ada urusan apa sahabatnya itu datang ke Pulau Jawa. Prabu Sadaka mengaku hendak menyerang Gunung Saptaarga demi membalaskan kematian gurunya, yaitu Resi Dwapara.

Prabu Partawijaya berusaha menasihati Prabu Sadaka, bahwa Resi Manumanasa adalah pendeta berbudi luhur yang difitnah oleh Resi Dwapara. Masalah dendam ini sebaiknya tidak perlu dilanjutkan lagi. Bahkan, Prabu Partawijaya mengajak Prabu Sadaka untuk ikut serta berguru kepada Resi Manumanasa. Prabu Sadaka tidak peduli mendapat nasihat demikian dan memutuskan untuk tetap menyerang Gunung Saptaarga. Prabu Partawijaya bertekad akan menghalangi serangan itu karena Resi Manumanasa sudah menjadi gurunya. Ia tidak peduli lagi meskipun Prabu Sadaka adalah kawan lamanya. Prabu Maheswara pun demikian. Maka, meletuslah pertempuran di pelabuhan tersebut, yaitu antara pasukan Magada melawan pasukan Medang Kamulan dan Gujulaha.

Pasukan Magada yang jumlahnya lebih sedikit akhirnya tercerai berai. Prabu Sadaka bahkan terpisah dari pasukannya. Ia pun menyambar Dewi Sati dan menaikkannya ke atas kereta lalu membawanya kabur. Sementara itu, Patih Warsita memerintahkan sisa-sisa pasukannya yang masih hidup untuk naik kembali ke atas kapal dan berlayar meninggalkan pelabuhan.

Prabu Partawijaya sangat gugup melihat Dewi Sati diculik Prabu Sadaka. Ia pun bergegas mengejar dengan ditemani Prabu Maheswara.

BATARA SAKRI MEMOHON MAAF KEPADA AYAHNYA

Sementara itu, Batara Sakri telah sampai di Gunung Saptaarga dan langsung bersujud mencium kaki ayahnya, yaitu Resi Satrukem. Ia memohon maaf karena dulu telah menyinggung perasaan sang ayah, yaitu berkata tidak mau menikah dengan bidadari karena ujung-ujungnya hanya hidup di padepokan saja. Kini ia telah mewujudkan cita-citanya tersebut, yaitu menikahi seorang putri raja. Akan tetapi, hidup di istana ternyata tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan. Ia merasa tinggal di padepokan jauh lebih menentramkan hati.

Resi Satrukem senang mendengar penuturan putranya. Namun, bagaimanapun juga Batara Sakri telah berumah tangga, sehingga akan lebih baik jika hidup mandiri bersama istri. Ia pun memutuskan untuk mengajak Batara Sakri pergi ke Kerajaan Gujulaha untuk menjemput Dewi Sati dan memboyongnya ke Gunung Saptaarga. Batara Sakri mematuhi saran sang ayah. Mereka lalu berangkat bersama-sama dengan ditemani Janggan Smara.

DEWI SATI MELAHIRKAN BAYI LAKI-LAKI

Ketika perjalanan mereka sampai di Hutan Parasara, tiba-tiba terdengar suara wanita meminta tolong. Batara Sakri terkejut karena mengenali suara itu adalah suara Dewi Sati. Ia heran mengapa tiba-tiba istrinya itu ada di Tanah Jawa. Tanpa membuang waktu, ia segera melesat ke arah datangnya suara dan kemudian melihat Dewi Sati berada di atas kereta yang melaju kencang dengan dikendarai Prabu Sadaka.

Batara Sakri menghadang kereta tersebut dan menyerang Prabu Sadaka. Terjadilah pertarungan di antara mereka. Sementara itu, Resi Satrukem dan Janggan Smara menolong Dewi Sati dan menurunkannya dari atas kereta. Dewi Sati merintih kesakitan dan merasa dirinya akan segera melahirkan. Janggan Smara dengan terampil segera membantu Dewi Sati. Perlahan-lahan, Dewi Sati pun melahirkan seorang bayi laki-laki di tengah hutan tersebut.

Di sisi lain, Batara Sakri telah menewaskan Prabu Sadaka. Ia segera mendatangi Dewi Sati dan memeluk istrinya itu. Tidak lama kemudian datang pula Prabu Partawijaya dan Prabu Maheswara yang mengejar Prabu Sadaka. Mereka sangat gembira melihat Dewi Sati selamat dan telah melahirkan bayi yang sehat pula.

Resi Satrukem mengusulkan agar Batara Sakri memberi nama putranya yang baru lahir itu Bambang Parasara, sebagai pengingat bahwa ia dilahirkan di tengah Hutan Parasara. Batara Sakri menerima usulan sang ayah. Ia pun menetapkan nama Bambang Parasara sebagai nama putranya tersebut. Bersama-sama mereka lantas berangkat menuju ke Gunung Saptaarga.

PATIH WARSITA BERTEMU PRABU DRUMANASA

Sementara itu, Patih Warsita dan sisa-sisa pasukan Magada yang berlayar pulang bertemu kapal besar berbendera Kerajaan Madenda. Ia mengenali penumpang kapal tersebut adalah Prabu Drumanasa, sahabat Prabu Sadaka saat dulu sama-sama belajar kepada Resi Dwapara. Ia juga melihat Wasi Druwasa, putra mendiang Resi Dwapara ikut serta dalam kapal tersebut.

Prabu Drumanasa raja Madenda ini adalah putra dari Prabu Wagirata yang merupakan sepupu Resi Dwapara. Ia dulu pernah menemani Resi Dwapara saat memperebutkan Dewi Nilawati di Gunung Pujangkara melawan Resi Satrukem. Kini ia bersama-sama Wasi Druwasa berangkat ke Tanah Jawa untuk menyerang Gunung Saptaarga demi membalaskan kematian Resi Dwapara.

Mendengar tujuan Prabu Drumanasa tersebut, Patih Warsita merasa senang dan ia pun memutar kembali kapalnya untuk ikut bergabung dalam penyerangan ini.

PRABU BASUKISWARA BERGURU KEPADA RESI MANUMANASA

Resi Manumanasa di Gunung Saptaarga sedang menerima kunjungan Prabu Basukiswara yang didampingi Patih Wasita dan Arya Manungkara. Kedatangan Prabu Basukiswara ini adalah untuk berguru kepada pendeta agung yang masih terhitung pamannya tersebut. Resi Manumanasa mengabulkan niat Prabu Basukiswara dengan senang hati, dan mengajarinya ilmu kebatinan serta ilmu sangkan paraning dumadi.

Resi Manumanasa juga memperkenalkan Prabu Partawijaya raja Gujulaha kepada Prabu Basukiswara. Kedua raja itu pun langsung akrab dan saling menjalin persaudaraan. Prabu Basukiswara juga memberikan ucapan selamat atas pernikahan Batara Sakri dan Dewi Sati, serta kelahiran putra mereka yang diberi nama Bambang Parasara.

PRABU DRUMANASA MENYERAH KEPADA RESI MANUMANASA

Tidak lama kemudian datanglah pasukan Prabu Drumanasa yang membuat kekacauan di kaki Gunung Saptaarga. Resi Manumanasa segera memerintahkan Putut Supalawa si kera putih untuk menghadapi mereka, namun jangan sampai menimbulkan kematian. Prabu Basukiswara juga memerintahkan Patih Wasita dan Arya Manungkara supaya ikut membantu.

Pertempuran pun terjadi. Putut Supalawa berhasil menangkap hidup-hidup Wasi Druwasa dan membawanya naik ke puncak Gunung Saptaarga. Di sisi lain Arya Manungkara juga berhasil menangkap Prabu Drumanasa, sedangkan Patih Wasita berhasil meringkus Patih Warsita. Ketiga pengacau itu pun dihadapkan kepada Resi Manumanasa.

Resi Manumanasa mengampuni ketiga orang itu karena mengetahui kalau mereka masih dalam pengaruh buruk mendiang Resi Dwapara. Prabu Drumanasa, Wasi Druwasa, dan Patih Warsita kagum melihat kebesaran hati Resi Manumanasa dan mereka pun memohon supaya diterima sebagai murid agar dapat menghilangkan pengaruh ilmu sesat yang pernah diajarkan Resi Dwapara dulu. Resi Manumanasa dengan senang hati menerima mereka bertiga. Suasana ketegangan pun kini berubah menjadi keakraban dan tiada lagi dendam di antara mereka.

PRABU PARTAWIJAYA BERBESAN DENGAN PATIH WARSITA

Sementara itu, Dewi Sruti di Kerajaan Gujulaha menerima surat dari Prabu Partawijaya bahwa Dewi Sati telah melahirkan bayi laki-laki. Tanpa membuang-buang waktu, ia pun mengajak Raden Partana untuk berangkat ke Gunung Saptaarga saat itu juga.

Sesampainya di Gunung Saptaarga, Dewi Sruti dan Raden Partana sangat bahagia melihat bayi Bambang Parasara. Tidak hanya itu, Dewi Sruti juga kagum melihat keagungan Resi Manumanasa. Ia pun meminta izin kepada sang suami agar diperbolehkan ikut berguru di Gunung Saptaarga. Prabu Partawijaya segera menyampaikan hal itu kepada Resi Manumanasa. Ternyata, Resi Manumanasa tidak membeda-bedakan antara murid laki-laki dan perempuan. Menurutnya, mencari ilmu wajib dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang jenis kelamin. Prabu Partawijaya dan Dewi Sruti senang mendengarnya. Maka, sejak saat itu Dewi Sruti pun menjadi murid Resi Manumanasa dan belajar bersama-sama Prabu Basukiswara, Prabu Drumanasa, Wasi Druwasa, dan Patih Warsita.

Setelah pelajaran selesai, Resi Manumanasa mempersilakan murid-muridnya kembali ke negeri masing-masing. Prabu Basukiswara kembali ke Wirata, sedangkan Prabu Drumanasa kembali ke Madenda. Sementara itu, Wasi Druwasa dipersilakan untuk menduduki Padepokan Tegalbamban bekas peninggalan ayahnya (Resi Dwapara). Sejak hari itu, Wasi Druwasa pun berganti gelar menjadi Resi Druwasa.

Patih Warsita juga dipersilakan untuk kembali ke Kerajaan Magada. Karena Prabu Sadaka telah tewas di tangan Batara Sakri dan tidak memiliki ahli waris, maka Patih Warsita dipersilakan untuk menjadi raja di Magada. Maka, sejak hari itu Patih Warsita pun berganti gelar menjadi Prabu Warsita.

Untuk menjalin persaudaraan, Prabu Partawijaya mengajak Prabu Warsita berbesan. Kebetulan Prabu Warsita memiliki anak perempuan bernama Dewi Sutiksna dan hendaknya ia dinikahkan dengan Raden Partana, putra bungsu Prabu Partawijaya. Prabu Warsita sangat gembira menyambut ajakan tersebut. Ia pun berjanji sesampainya di Magada akan segera mempersiapkan pernikahan tersebut.

Demikianlah, keadaan kini kembali tenteram dan damai. Resi Manumanasa telah berhasil mengubah sikap permusuhan dari para pengikut mendiang Resi Dwapara menjadi sebuah persaudaraan.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya











Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ▼  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ▼  February (4)
      • Manumanasa - Satrukem Muksa
      • Sakri Gugur
      • Babad Mandraka
      • Parasara Lahir
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja