Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Bangun Kali Sarayu

 No comments   


Kisah ini menceritakan para Pandawa dan Dewi Kunti kembali ke Kerajaan Hastina setelah memenangkan sayembara memperebutkan Dewi Drupadi. Karena Raden Kurupati menolak mengembalikan kedudukannya sebagai putra mahkota kepada Raden Puntadewa, maka diadakanlah sayembara di antara mereka, yaitu memetik buah jambu lima warna, menimbang kedua pihak dengan traju, serta menggali sungai yang menghubungkan Pegunungan Dihyang dengan Laut Selatan.

Kisah ini saya olah dan saya kembangkan dari sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang dipadukan dengan buku Ensiklopedi Wayang Purwa karya Raden Rio Sudibyoprono, serta beberapa artikel tentang legenda Sungai Serayu dan Tuk Bima Lukar.

Kediri, 22 September 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


PARA PANDAWA DIUNDANG PULANG KE KERAJAAN HASTINA

Prabu Drupada di Kerajaan Cempalareja (Pancala Selatan) memimpin pertemuan yang dihadiri Raden Drestajumena (putra mahkota), Patih Drestaketu (menteri utama), serta para menteri dan punggawa. Hadir pula Dewi Kunti dan para Pandawa dalam pertemuan tersebut. Hari itu Dewi Kunti mohon pamit kepada Prabu Drupada untuk memboyong Dewi Drupadi yang sudah resmi menjadi istri Raden Puntadewa untuk pindah ke Gunung Saptaarga, tinggal bersama Bagawan Abyasa.

Prabu Drupada dalam hati merasa keberatan. Ia pernah mengalami bagaimana susahnya hidup di padepokan Resi Baradwaja semasa muda dulu. Untuk itu, ia pun menawarkan untuk membangun sebuah istana sebagai tempat tinggal para Pandawa dan Dewi Drupadi. Akan tetapi, Raden Puntadewa menolak dengan halus penawaran tersebut. Dewi Kunti juga mengatakan bahwa ia ingin melihat putra-putranya mendapat kemuliaan dari hasil bekerja keras, bukan hasil pemberian mertua.

Tiba-tiba datanglah Adipati Yamawidura dari Pagombakan yang segera disambut ramah oleh Prabu Drupada. Para Pandawa sangat terharu dan satu persatu berpelukan dengan paman mereka itu. Adipati Yamawidura menjelaskan bahwa kedatangannya bukan untuk keperluan pribadi, melainkan diutus Prabu Dretarastra untuk menjemput pulang Dewi Kunti dan para Pandawa, sekaligus sang menantu Dewi Drupadi.

Adipati Yamawidura bercerita bahwa sejak mendengar kabar tentang kebakaran istana Waranawata, Resiwara Bisma memutuskan untuk bertapa dalam kamar gelap di Padepokan Talkanda. Adipati Yamawidura yang mengetahui bahwa para Pandawa dan ibu mereka masih hidup tidak berani menceritakan yang sebenarnya, karena terlanjur berjanji kepada Dewi Kunti untuk merahasiakan hal ini. Hingga pada akhirnya, Batara Narada turun dari kahyangan untuk membangunkan tapa Resiwara Bisma. Batara Narada menjelaskan bahwa para Pandawa dan Dewi Kunti masih hidup, bahkan kini telah memenangkan sayembara di Kerajaan Cempalareja.

Setelah mendapat keterangan dari Batara Narada tersebut, Resiwara Bisma segera meninggalkan Padepokan Talkanda untuk menemui Prabu Dretarastra di istana Hastina. Resiwara Bisma sangat marah atas ulah para Kurawa yang mencoba membunuh para Pandawa dan ibu mereka melalui pembakaran Balai Sigala-gala. Untuk itu, Prabu Dretarastra mau tidak mau harus segera mengundang mereka semua pulang. Prabu Dretarastra yang ketakutan segera memerintahkan Adipati Yamawidura untuk menjemput para Pandawa dan Dewi Kunti di Kerajaan Cempalareja.

Demikianlah, Adipati Yamawidura mengakhiri ceritanya. Kini semua orang telah mengetahui bahwa Dewi Kunti dan para Pandawa masih hidup dan juga selamat dari peristiwa kebakaran di Waranawata. Untuk itu, Adipati Yamawidura memohon agar Dewi Kunti dan para Pandawa sudi ikut bersamanya pulang ke Kerajaan Hastina.

Dewi Kunti agak keberatan karena teringat bagaimana Patih Sangkuni dan para Kurawa berusaha mencelakakan putra-putranya. Sebenarnya ia lebih suka tinggal di Gunung Saptaarga daripada pulang ke Kerajaan Hastina. Adipati Yamawidura berjanji bahwa Resiwara Bisma dan dirinya akan selalu melindungi keselamatan para Pandawa. Mengenai tempat tinggal, ia mempersilakan Dewi Kunti dan para Pandawa untuk tinggal di Kadipaten Pagombakan jika memang tidak berkenan tinggal di istana Hastina.

Dewi Kunti akhirnya bersedia mengikuti ajakan Adipati Yamawidura, dengan syarat harus singgah dulu ke Gunung Saptaarga untuk meminta restu Bagawan Abyasa. Adipati Yamawidura menyanggupi. Setelah dirasa cukup, Prabu Drupada pun membubarkan pertemuan untuk selanjutnya mempersiapkan upacara pelepasan Dewi Kunti dan para putra.

PARA PANDAWA MENINGGALKAN KERAJAAN CEMPALAREJA

Esok harinya, Dewi Kunti, para Pandawa, Dewi Drupadi, dan para panakawan mohon pamit kepada Prabu Drupada dan Dewi Gandawati. Dewi Kunti berterima kasih atas segala kebaikan yang diberikan Prabu Drupada sekeluarga kepada dirinya dan para putra. Prabu Drupada menjawab bahwa itu sudah kewajibannya memuliakan Dewi Kunti dan para Pandawa yang merupakan anggota keluarga Prabu Pandu, tokoh yang paling ia hormati di dunia.

Prabu Drupada dan Dewi Gandawati kemudian memberikan beberapa nasihat rumah tangga kepada putri mereka, yaitu Dewi Drupadi. Sementara itu, para Pandawa juga berpamitan kepada kedua adik Dewi Drupadi, yaitu Dewi Srikandi dan Raden Drestajumena. Diam-diam antara Dewi Srikandi dan Raden Permadi ada rasa saling menyukai. Akan tetapi, mereka sama-sama tidak berani mengungkapkan, hanya dipendam dalam hati.

Setelah persiapan dirasa cukup, rombongan tersebut pun berangkat meninggalkan Kerajaan Cempalareja, dengan dikawal Patih Drestaketu sampai perbatasan.

ROMBONGAN PANDAWA DIHADANG MUSUH YANG DIKIRIM PATIH SANGKUNI

Para Kurawa dan Patih Sangkuni di Kerajaan Hastina sangat kesal mendengar berita bahwa para Pandawa masih hidup dan juga selamat dari kebakaran di Waranawata. Bahkan, mereka juga berhasil memenangkan sayembara memperebutkan Dewi Drupadi. Raden Kurupati (Suyudana) pun berniat menggempur Kerajaan Cempalareja untuk membunuh kelima Pandawa, namun dicegah oleh Patih Sangkuni.

Patih Sangkuni melarang para Kurawa turun tangan secara langsung karena beberapa waktu yang lalu mereka sudah kalah bertempur menghadapi Raden Bratasena seorang diri yang hanya bersenjata tiang. Mengenai hal ini, Patih Sangkuni telah mempersiapkan rencana, yaitu mengirim surat kepada para raja yang dulu melamar Dewi Drupadi agar mereka menghadang dan membunuh para Pandawa di tengah jalan.

Demikianlah, para raja yang telah menerima surat dari Patih Sangkuni tersebut bergerak bersama-sama untuk menghadang perjalanan para Pandawa dan rombongannya. Mereka dipimpin oleh Prabu Suradenta dari Kerajaan Bataputih. Menyadari hal itu, Adipati Yamawidura segera memerintahkan Patih Jayasemedi untuk melawan mereka.

Patih Jayasemedi dan para prajurit Pagombakan maju menghadapi serangan para raja itu. Namun, mereka terdesak karena jumlah musuh jauh lebih banyak. Raden Bratasena dan Raden Permadi segera turun tangan. Kali ini para raja itu banyak yang tewas dan sebagian lagi melarikan diri.

BAGAWAN ABYASA MENYERAHKAN PUSAKA KEPADA PARA PANDAWA

Sesuai rencana, rombongan para Pandawa pun singgah ke Gunung Saptaarga. Satu persatu mereka menyembah hormat kepada Bagawan Abyasa. Dewi Kunti juga memperkenalkan Dewi Drupadi selaku menantu baru di keluarga mendiang Prabu Pandu. Bagawan Abyasa pun memberikan restu kepadanya.

Dalam pertemuan itu, Dewi Kunti menyampaikan maksud bahwa mulai hari ini ia dan putra-putranya akan kembali ke Kerajaan Hastina. Ia berharap semoga putra-putranya dapat memperoleh hak atas takhta warisan Prabu Pandu. Bagawan Abyasa sebagai kakek tidak memihak Pandawa, juga tidak memihak Kurawa. Ia hanya memberi nasihat supaya para Pandawa selalu waspada terhadap tipu muslihat Patih Sangkuni. Bagaimanapun juga Patih Sangkuni adalah titisan Resi Dwapara yang bercita-cita ingin menghancurkan keturunan Resi Satrukem.

Bagawan Abyasa kemudian bercerita tentang beberapa pusaka yang diwariskan secara turun-temurun di keluarga Saptaarga, yaitu Pustaka Jamus Kalimahusada, Payung Tunggulnaga, Tombak Karawelang, Panah Sarotama, dan Panah Ardadadali. Kelima pusaka ini awalnya diperoleh Resi Manumanasa setelah mengalahkan musuh Kahyangan Suralaya bernama Prabu Kalimantara bersamaan dengan lahirnya Resi Satrukem. Setelah Resi Manumanasa dan Resi Satrukem wafat, kelima pusaka tersebut diwarisi sang cucu, yaitu Resi Parasara. Kemudian Resi Parasara mewariskannya kepada sang putra, yaitu Bagawan Abyasa. Ketika Prabu Pandu dewasa dan menjadi raja Hastina, Bagawan Abyasa pun menyerahkan kelima pusaka itu kepadanya. Namun kemudian, Prabu Pandu meninggal dunia dan ia sempat mengembalikan pusaka-pusaka itu kepada Bagawan Abyasa.

Bagawan Abyasa kemudian mendapat petunjuk dari dewata, bahwa kelima pusaka tersebut hendaknya diserahkan kepada Pandawa nomor satu dan tiga, karena merekalah yang mampu merawat dan menggunakannya dengan baik. Maka, pada kesempatan itu, Bagawan Abyasa pun menyerahkan Jamus Kalimahusada, Tombak Karawelang, dan Payung Tunggulnaga kepada Raden Puntadewa, sedangkan Panah Sarotama dan Panah Ardadadali diserahkan kepada Raden Permadi. Kedua cucunya itu maju dan menerima pusaka-pusaka tersebut dengan penuh hormat. Mereka berjanji akan merawat dan menggunakannya dalam kebaikan.

Demikianlah, setelah mendapatkan restu dari Bagawan Abyasa, para Pandawa beserta Dewi Kunti, Adipati Yamawidura, Dewi Drupadi, Patih Jayasemedi, dan para panakawan mohon pamit melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Hastina.

RADEN KURUPATI MENOLAK MELEPASKAN JABATANNYA

Rombongan para Pandawa akhirnya sampai juga di Kerajaan Hastina. Prabu Dretarastra, Dewi Gandari, Resiwara Bisma, Resi Druna, dan Resi Krepa menyambut mereka dengan perasaan haru dan bahagia. Patih Sangkuni dan para Kurawa juga ikut pura-pura bergembira menyambut kedatangan mereka. Hanya Raden Kurupati satu-satunya yang tidak muncul dengan alasan sedang kurang enak badan.

Beberapa hari kemudian, Resiwara Bisma dan Adipati Yamawidura mempertanyakan tentang kedudukan putra mahkota Kerajaan Hastina kepada Prabu Dretarastra. Dulu setelah para Pandawa berhasil menangkap Prabu Drupada dan Arya Gandamana atas perintah Resi Druna, kedudukan putra mahkota pun diserahkan kepada Raden Puntadewa. Namun kemudian, terjadi peristiwa kebakaran yang menghancurkan Balai Sigala-gala, di mana para Pandawa dinyatakan meninggal. Untuk mengisi kekosongan, Prabu Dretarastra segera mengangkat Raden Suyudana sebagai putra mahkota yang baru, bergelar Raden Kurupati. Akan tetapi, para Pandawa ternyata masih hidup. Itu artinya Raden Kurupati harus rela mengembalikan kedudukannya kepada Raden Puntadewa.

Patih Sangkuni menyela bahwa sabda seorang raja tidak boleh digonta-ganti begitu saja. Jika Prabu Dretarastra sudah menetapkan Raden Kurupati sebagai putra mahkota, maka itu tidak boleh diganggu gugat. Mengenai para Pandawa yang ternyata masih hidup, ini hal yang perlu disyukuri namun bukan berarti mereka bisa mendapatkan kembali hak mereka.

Adipati Yamawidura menjawab ucapan Patih Sangkuni. Ia mengungkit soal kebakaran Balai Sigala-gala apakah murni kecelakaan ataukah memang sengaja dibakar untuk membunuh para Pandawa dan Dewi Kunti. Maka itu, ia memohon izin kepada Prabu Dretarastra untuk mengumpulkan barang bukti dan menyelidiki kebenaran peristiwa tersebut. Jika memang terbukti Raden Kurupati terlibat dalam upaya pembunuhan para Pandawa, maka ia harus mendapat hukuman pidana dan dicopot kedudukannya sebagai putra mahkota.

Raden Kurupati dan Patih Sangkuni gemetar mendengar ucapan Adipati Yamawidura. Namun tiba-tiba, Raden Puntadewa berkata bahwa ia tidak ingin lagi mengungkit-ungkit soal kebakaran di Kota Waranawata. Ia menyatakan kebakaran tersebut adalah murni kecelakaan dan tidak perlu mencari bukti apakah para Kurawa terlibat di dalamnya atau tidak. Raden Puntadewa berharap setelah para Pandawa dan Kurawa dapat berkumpul kembali, semoga kedua pihak tetap rukun seperti sebelum terjadi kebakaran.

Raden Bratasena menyela pembicaraan kakaknya. Ia mengatakan boleh saja Raden Puntadewa memaafkan para pelaku pembakaran Balai Sigala-gala. Akan tetapi, soal kedudukan sebagai putra mahkota sama sekali pihak Pandawa tidak boleh mengalah. Raden Puntadewa memperoleh jabatan tersebut bukan karena warisan Bapak Pandu, tetapi berkat perjuangan menaklukkan Prabu Drupada dan Arya Gandamana di Kerajaan Pancala. Raden Puntadewa boleh mengampuni para Kurawa, tetapi jangan pernah melupakan perjuangan adik-adiknya waktu itu.

RESI DRUNA MENGADAKAN SAYEMBARA UNTUK MURID-MURIDNYA

Prabu Dretarastra merasa bimbang karena dalam hati ia tidak rela jika jabatan putra mahkota sampai lepas dari putranya, namun di sisi lain ia juga tidak tega berbuat tidak adil kepada para Pandawa.

Patih Sangkuni tiba-tiba menyela. Pertama ia berterima kasih atas kebaikan hati Raden Puntadewa yang tidak menyalahkan para Kurawa atas kebakaran di Waranawata. Mengenai siapa yang berhak menduduki jabatan putra mahkota hendaknya dilakukan pemilihan ulang. Jika Prabu Dretarastra mencopot jabatan ini dari Raden Kurupati, maka dunia akan mencatat raja Hastina sebagai orang yang suka mengubah-ubah keputusan. Namun jika jabatan itu tidak dikembalikan kepada Raden Puntadewa, tentunya dunia pun akan menilai Prabu Dretarastra sebagai raja yang tidak adil. Maka, demi menjaga nama baik Prabu Dretarastra, sebaiknya untuk hal ini dilakukan pemilihan ulang. Sebagai pihak yang menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah hendaknya bukan dari anggota keluarga Hastina, melainkan guru para Pandawa dan Kurawa, yaitu Resi Druna.

Prabu Dretarastra setuju pada usulan Patih Sangkuni. Sebelum Resiwara Bisma dan Adipati Yamawidura sempat menanggapi, ia buru-buru menetapkan keputusan bahwa Resi Druna ditunjuk untuk menengahi permasalahan putra mahkota. Resi Druna adalah orang luar, bukan anggota keluarga Kerajaan Hastina, sehingga keputusannya bisa adil tanpa memihak. Selain itu, Resi Druna juga merupakan guru para Pandawa dan Kurawa. Seorang guru sama derajatnya dengan ayah atau ibu, sehingga keputusannya akan dihormati kedua pihak.

Resiwara Bisma dan Adipati Yamawidura sebenarnya kurang setuju jika diadakan pemilihan ulang. Namun karena Prabu Dretarastra sudah menetapkan demikian, mereka tidak dapat membantah lagi. Mereka berharap semoga Resi Druna bisa memberikan keputusan yang adil. Rupanya Resiwara Bisma dan Adipati Yamawidura belum tahu kalau Resi Druna telah menjalin persahabatan dengan Patih Sangkuni. Selain itu, Bambang Aswatama putra Resi Druna juga bekerja di Kepatihan Plasajenar sebagai juru tulis Patih Sangkuni. Tentunya hal ini membuat Resi Druna merasa tertekan dan kurang bisa bersikap adil.

SAYEMBARA MENGUNDUH JAMBU LIMA WARNA

Demikianlah, Resi Druna telah ditunjuk sebagai penengah persoalan putra mahkota. Ia segera bertanya kepada para Pandawa dan Kurawa apakah mereka siap jika diadakan sayembara untuk memilih ulang siapa yang berhak menduduki jabatan putra mahkota. Raden Puntadewa dan Raden Kurupati mewakili kedua pihak sama-sama menjawab siap. Resi Druna pun berkata bahwa di tengah Hutan Jatiraga terdapat sebatang pohon jambu yang berbuah lima warna, yaitu putih, hitam, kuning, merah, dan hijau. Barangsiapa bisa mengunduh kelima buah jambu tersebut, maka ia berhak menduduki jabatan putra mahkota Kerajaan Hastina.

Begitu mendengar perintah tersebut, para Kurawa langsung berangkat menuju Hutan Jatiraga, sedangkan para Pandawa lebih dulu meminta restu kepada Resiwara Bisma, Prabu Dretarastra, Resi Druna, Resi Krepa, dan Adipati Yamawidura. Baru setelah itu, mereka pun berangkat menyusul para Kurawa.

Para Kurawa telah menemukan pohon jambu di tengah Hutan Jatiraga yang buahnya bersinar menyilaukan. Mereka pun beramai-ramai memanjat pohon tersebut. Tiba-tiba dari dedaunan pohon jambu muncul asap beracun yang membuat para Kurawa jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Para Pandawa datang menyusul dan menemukan para sepupu mereka telah tergeletak di tanah. Raden Puntadewa segera mengajak adik-adiknya berlutut memberi hormat kepada pohon jambu ajaib itu. Melihat sikap santun para Pandawa, tiba-tiba dari atas pohon jambu muncul sesosok makhluk halus yang mengaku bernama Gandarwa Maya. Ia mempersilakan para Pandawa untuk mengunduh jambu lima warna. Raden Puntadewa berterima kasih kepada gandarwa tersebut.

Begitu mendapat izin, Raden Bratasena segera maju memeluk pohon jambu yang tinggi menjulang. Raden Permadi lalu memanjat pundak Raden Bratasena. Kemudian Raden Nakula memanjat pundak Raden Permadi. Yang paling atas adalah Raden Sadewa memanjat pundak Raden Nakula. Ia kemudian memetik jambu lima warna dan turun ke tanah untuk mempersembahkannya kepada Raden Puntadewa.

Raden Puntadewa berterima kasih atas kerjasama adik-adiknya. Gandarwa Maya lalu menjelaskan bahwa kelima jambu tersebut sebenarnya adalah Permata Pancamaya. Permata warna putih bisa mengeluarkan air banjir, permata hitam bisa mengeluarkan gempa, permata kuning bisa mengeluarkan angin topan, permata merah bisa mengeluarkan api, dan permata hijau bisa mengeluarkan hewan melata.

Raden Puntadewa sekali lagi berterima kasih kepada Gandarwa Maya. Namun, ia juga memohon agar para Kurawa disembuhkan dari pingsan mereka. Gandarwa Maya memuji kebaikan Raden Puntadewa. Ia lalu menghembuskan angin yang membuat Raden Kurupati dan adik-adiknya bebas dari pengaruh asap beracun.

RESI DRUNA MENIMBANG PARA PANDAWA DAN KURAWA

Gandarwa Maya telah menghilang dari pandangan ketika Resi Druna dan Patih Sangkuni datang. Raden Puntadewa segera mempersembahkan Permata Pancamaya kepada Resi Druna. Raden Kurupati buru-buru menyela bahwa sebenarnya para Kurawa yang berhasil mengunduh kelima jambu tersebut namun direbut secara licik oleh para Pandawa.

Patih Sangkuni berkedip memberi isyarat kepada Resi Druna agar mengulang sayembara. Resi Druna merasa bimbang karena jelas-jelas para Pandawa yang menang, namun ia takut Patih Sangkuni sakit hati dan mencelakakan Bambang Aswatama, putranya. Maka, Resi Druna lalu bersamadi, mencipta sebilah papan baja yang sangat panjang dan dipasang pada salah satu dahan pohon jambu tersebut. Para Kurawa dan para Pandawa akan ditimbang menggunakan papan itu sebagai traju. Pihak mana yang lebih berat akan dinyatakan sebagai pemenang.

Para Kurawa segera menaiki salah satu sisi papan baja dan menantang para Pandawa untuk menaiki sisi yang lain. Raden Puntadewa, Raden Permadi, dan si kembar pun menaiki ujung papan yang satunya sambil mengerahkan kesaktian masing-masing. Sungguh aneh, seratus orang ditimbang dengan empat orang ternyata hasilnya seimbang.

Raden Bratasena naik paling akhir ke atas traju sambil mengerahkan Aji Blabak Pangantol-antol warisan Arya Gandamana. Dengan kekuatan penuh ia menghentak sisi papan baja di mana keempat saudaranya berkumpul. Hentakan yang sangat keras itu membuat para Kurawa terpental dari timbangan dan tubuh mereka pun berhamburan ke mana-mana.

SAYEMBARA MENGGALI SUNGAI TEMBUS KE SAMUDERA

Patih Sangkuni segera mengumpulkan para keponakannya yang berhamburan akibat hentakan Raden Bratasena tadi. Ternyata yang terkumpul hanya setengah saja, sedangkan yang lima puluh orang menghilang entah ke mana. Raden Kurupati mencari adik-adiknya itu ke mana-mana namun belum bertemu juga. Para Kurawa yang hilang itu ialah Raden Bogadenta, Raden Bomawikata, Raden Wikataboma, Raden Surtayuda, Raden Anuwinda, Raden Naranurwinda, Raden Wersaya, Raden Gardapati, dan banyak lagi yang lainnya.

Para Kurawa yang tersisa kembali menghadap Resi Druna untuk meminta agar sayembara diulang. Resi Druna yang mendapat tekanan batin dari Patih Sangkuni segera mengumumkan sayembara baru, yaitu para Pandawa dan Kurawa harus bisa membuat sungai yang bersumber dari Pegunungan Dihyang dan bermuara di Laut Selatan. Adapun Pegunungan Dihyang ini dahulu kala pernah menjadi tempat Empu Sangkala (Batara Ajisaka) bertapa sebelum menumbali Tanah Jawa.

Raden Kurupati dan adik-adiknya segera mengambil perkakas seperti cangkul dan beliung. Mereka pergi ke Pegunungan Dihyang dan mencari sumber air. Setelah bertemu, sumber air itu lalu digali beramai-ramai dan diarahkan ke selatan membentuk sungai.

PARA PANDAWA MENDAPAT PETUNJUK DEWA

Lain dengan para Kurawa yang mengandalkan otot untuk menggali tanah, para Pandawa memilih cara kebatinan. Mereka bertapa di kaki sebuah gunung di Pegunungan Dihyang, memohon petunjuk dewata. Tidak lama kemudian Batara Narada pun turun membangunkan mereka.

Batara Narada lalu mengajarkan kepada para Pandawa cara menggali sungai secara ajaib. Raden Permadi diperintahkan untuk melepaskan Panah Sarotama sebagai penggali tanah, sedangkan Raden Bratasena hendaknya melepas pakaian dan kencing mengikuti galian Panah Sarotama. Adapun para Pandawa lainnya diajari cara membaca mantra agar air kencing Raden Bratasena berubah menjadi air bersih.

Setelah mengajarkan semuanya, Batara Narada pun terbang kembali ke kahyangan.

PARA PANDAWA MENGGALI SUNGAI

Sesuai dengan apa yang telah diajarkan dewata, Raden Bratasena pun bertelanjang dan bersiap untuk kencing. Untuk mengenang peristiwa itu, tempat di mana Raden Bratasena pertama kali kencing diberi nama Tuk Bima Lukar oleh Raden Puntadewa.

Raden Permadi lalu membentangkan Busur Gandiwa dan melepaskan Panah Sarotama. Panah pusaka itu menancap di tanah kemudian bergerak ke arah selatan seperti menggali membentuk jalur sungai. Raden Bratasena lalu kencing mengisi galian tersebut, sedangkan Raden Puntadewa dan si kembar membaca mantra. Sungguh ajaib, air kencing Raden Bratasena tidak pernah habis dan seketika berubah menjadi air bersih berkat pengaruh mantra tersebut.

Demikianlah kerja sama para Pandawa. Panah Sarotama bergerak menggali di depan. Setiap kali panah tersebut berhenti, Raden Permadi segera memungutnya dan menembakkannya kembali. Raden Bratasena berjalan telanjang sambil mengencingi jalur sungai yang digali Raden Permadi. Adapun Raden Puntadewa dan si kembar berjalan paling belakang sambil membaca mantra untuk memurnikan air kencing tersebut supaya berubah menjadi air jernih.

PARA PANDAWA BERTEMU DEWI URANGAYU

Tidak terasa, Panah Sarotama telah menggali tanah sampai ke pesisir Laut Selatan. Tiba-tiba panah tersebut terhenti karena membentur tubuh seekor udang betina yang sedang bertapa. Para Pandawa heran melihatnya. Udang tersebut lalu berubah menjadi seorang wanita cantik yang mengaku bernama Dewi Urangayu, putri Batara Mintuna dari Kahyangan Kisiknarmada.

Raden Bratasena yang telanjang segera bersembunyi di balik punggung saudara-saudaranya sambil menutupi kemaluan. Dewi Urangayu tersipu malu kemudian memalingkan muka. Ia mengaku sengaja bertapa di tepi pantai karena mendapat petunjuk dewata bahwa di situlah ia akan bertemu dengan jodohnya yang bertubuh tinggi besar. Jodoh tersebut tidak lain adalah Raden Bratasena.

Petunjuk dewata itu kini menjadi kenyataan. Dewi Urangayu pun meminta kepada Raden Bratasena agar bersedia menikah dengannya. Raden Bratasena mengaku sudah memiliki seorang istri bernama Dewi Nagagini, putri Batara Anantaboga. Dewi Urangayu menjawab tidak keberatan jika dirinya dimadu. Raden Bratasena akhirnya menyatakan sanggup menikahi Dewi Urangayu, tetapi kelak jika kakaknya, yaitu Raden Puntadewa sudah menjadi raja.

Dewi Urangayu memegang janji Raden Bratasena. Ia lalu membaca mantra, membuat Panah Sarotama tiba-tiba kembali bergerak melanjutkan penggalian hingga akhirnya bersatu dengan samudera. Demikianlah, para Pandawa telah berhasil menggali sebuah sungai yang menghubungkan Pegunungan Dihyang dengan Laut Selatan. Karena tugasnya telah selesai, Raden Bratasena pun kembali berpakaian dan sekarang ia berani memandang Dewi Urangayu.

RESI DRUNA MENETAPKAN PEMENANG SAYEMBARA

Resi Druna dan Patih Sangkuni datang bersama para Kurawa. Resi Druna telah memeriksa hasil kerja para Pandawa dan Kurawa. Ternyata sungai buatan para Pandawa yang berhasil menghubungkan Pegunungan Dihyang dengan Laut Selatan. Sementara itu, sungai buatan para Kurawa tidak menuju ke laut melainkan justru menyatu dengan sungai buatan para Pandawa.

Dengan demikian, Resi Druna pun menetapkan pihak Pandawa sebagai pemenang sayembara dan berhak atas takhta Kerajaan Hastina. Mendengar itu, Raden Kurupati jatuh pingsan dan segera digotong adik-adiknya beserta Patih Sangkuni kembali ke istana.

Setelah para Kurawa dan Patih Sangkuni pergi, Resi Druna bertanya siapa perempuan cantik yang bersama para Pandawa. Dewi Urangayu pun memperkenalkan dirinya sebagai putri Batara Mintuna dari Kahyangan Kisiknarmada. Raden Puntadewa juga menceritakan bagaimana awal mula para Pandawa bertemu Dewi Urangayu yang bertapa di pesisir pantai, yaitu ketika Panah Sarotama membentur tubuhnya yang berwujud udang.

Mendengar cerita itu, Resi Druna pun memberi nama sungai buatan para Pandawa, yaitu Kali Sarayu, yang bermakna “bertemunya Panah Sarotama dengan Dewi Urangayu.” Sementara, itu sungai buatan para Kurawa diberi nama Kali Kelawing, karena gagal mencapai lautan dan justru menyatu ujungnya dengan Kali Sarayu.

Resi Druna pun berpesan kepada para Pandawa agar jangan sekali-kali terkena air Kali Kelawing, karena sungai tersebut digali para Kurawa dengan perasaan penuh dendam. Hawa jahat yang memancar dari hati mereka telah menyatu dengan air sungai itu, yang bisa membuat para Pandawa bernasib sial apabila sampai mencebur ke dalamnya. Para Pandawa berterima kasih dan menyanggupi nasihat sang guru.

Demikianlah, Kali Kelawing tersebut kelak terkenal pula dengan nama Kali Cingcing Goling.

PARA PANDAWA MENDAPAT PERMATA PANCAMAYA

Dewi Urangayu kemudian mohon pamit kepada Resi Druna dan para Pandawa. Ia memegang janji Raden Bratasena yang bersedia menikahinya setelah nanti Raden Puntadewa dilantik sebagai raja. Raden Bratasena bersumpah tidak akan melupakan janjinya itu. Para Pandawa lainnya juga siap menjadi saksi atas janji Raden Bratasena tersebut. Dengan perasaan lega, Dewi Urangayu lalu pergi meninggalkan tempat itu, kembali ke padepokan ayahnya.

Setelah Dewi Urangayu pergi, Resi Druna menyerahkan Permata Pancamaya kepada para Pandawa sebagai hadiah atas kemenangan mereka. Permata putih diberikan kepada Raden Puntadewa, permata hitam diberikan kepada Raden Bratasena, permata kuning diberikan kepada Raden Permadi, permata merah diberikan kepada Raden Nakula, sedangkan permata hijau diberikan kepada Raden Sadewa. Kelima Pandawa berterima kasih atas kemurahan hati sang guru. Mereka lalu bersama-sama kembali ke istana Hastina untuk melapor kepada Prabu Dretarastra dan Resiwara Bisma.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Kisah sayembara mengunduh jambu, menimbang berat, serta menggali sungai ini menurut Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam Serat Pustakaraja Purwa terjadi pada tahun Suryasengakala 690 yang ditandai dengan sengkalan “Tanpa gatra retuning barakan”, atau tahun Candrasengkala 711 yang ditandai dengan sengkalan “Rupa janma saswareng wiyat”.















Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Sayembara Drupadi

 No comments   


Kisah ini menceritakan sayembara memperebutkan Dewi Drupadi, putri sulung Prabu Drupada. Sayembara berupa adu keterampilan memanah, serta pertandingan melawan Arya Gandamana. Dalam sayembara ini Arya Gandamana gugur dan sempat mewariskan ilmunya kepada para Pandawa. Adapun Dewi Drupadi akhirnya menjadi istri Raden Puntadewa.

Kisah ini saya olah dari sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang dipadukan dengan kitab Mahabharata karya Resi Wyasa, serta rekaman pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Nartosabdo dan Ki Manteb Soedharsono, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 16 September 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Dewi Drupadi

PARA RAJA DAN PANGERAN BERKUMPUL MELAMAR DEWI DRUPADI

Prabu Drupada di Kerajaan Cempalareja (Pancala Selatan) sedang memimpin pertemuan, dihadap Arya Gandamana (adik ipar), Raden Drestajumena (putra mahkota), dan Patih Drestaketu (menteri utama). Hari itu mereka membahas tentang para raja dan pangeran dari berbagai negeri yang berkumpul di luar istana dengan maksud dan tujuan sama, yaitu melamar Dewi Drupadi, putri sulung Prabu Drupada yang terkenal kecantikannya.

Prabu Drupada merasa bingung menentukan pilihan. Apabila ia menerima pinangan salah satu dari mereka, maka yang lainnya pasti akan tersinggung dan tidak terima. Dikhawatirkan mereka akan bersatu menggempur Kerajaan Cempalareja untuk melampiaskan kekesalan.

Raden Drestajumena mengusulkan kepada sang ayah agar mengadakan sayembara untuk menentukan siapa yang berhak menjadi suami kakaknya. Adapun bentuk sayembara itu adalah perlombaan adu keterampilan memanah. Selama berguru kepada Resi Druna di Padepokan Sokalima, ilmu memanah adalah pelajaran yang paling ia sukai, sehingga ketika membicarakan bentuk sayembara, maka yang pertama muncul dalam pikirannya adalah sayembara memanah.

Raden Drestajumena mengusulkan agar dalam sayembara memanah nanti, busur yang digunakan adalah Busur Gandiwa, warisan turun-temurun Kerajaan Duhyapura. Busur pusaka ini sangat berat dan seolah bisa memilih siapa orang yang boleh mengangkatnya. Dulu ketika Kerajaan Duhyapura hancur diserang Prabu Bahlika dari Siwandapura, Busur Gandiwa berhasil diselamatkan oleh Patih Suganda (yang kemudian bergelar Prabu Gandabayu, raja Pancala pertama). Konon saat itu Patih Suganda membutuhkan seratus orang prajurit untuk mengangkut busur pusaka tersebut.

Mengenai sasaran yang harus dipanah dalam sayembara tersebut adalah sehelai rambut milik Dewi Drupadi yang diikat tinggi di atas tiang. Si pemanah juga tidak boleh melihat langsung kepada sasaran, tetapi harus melalui cermin. Prabu Drupada merasa persyaratan sayembara yang diusulkan putranya ini terlalu sulit. Jangankan membidik sasaran yang sangat kecil tersebut melalui cermin, sedangkan mengangkat Busur Gandiwa saja belum tentu ada raja dan pangeran yang mampu melakukannya.

Arya Gandamana tidak setuju dengan ucapan Prabu Drupada. Menurutnya, ada seorang kesatria yang mampu membidik sasaran sulit tersebut, yaitu Raden Arjuna (Permadi), putra Prabu Pandu. Menurut berita yang beredar, Raden Arjuna telah tewas dalam peristiwa kebakaran di Waranawata. Namun demikian, Arya Gandamana tetap yakin keponakannya itu pasti masih hidup sampai sekarang.

Prabu Drupada sendiri tidak yakin apa mungkin para Pandawa bisa selamat dari peristiwa kebakaran tersebut. Namun, ia mengembalikan semuanya kepada Sang Pencipta. Jika memang para Pandawa masih hidup, semoga salah satu dari mereka bisa menjadi suami dari putrinya.

Setelah berpikir demikian, Prabu Drupada pun membubarkan pertemuan dan ia memerintahkan Raden Drestajumena dan Patih Drestaketu untuk mempersiapkan sayembara.

SAYEMBARA MEMANAH UNTUK DEWI DRUPADI DIMULAI

Raden Drestajumena dibantu Patih Drestaketu telah mendirikan tiang setinggi tujuh puluh depa, yang di puncaknya terikat sehelai rambut milik Dewi Drupadi. Para raja dan pangeran dari berbagai negara berkumpul di dekat tempat itu, sedangkan Prabu Drupada, Dewi Gandawati, Arya Gandamana, Dewi Drupadi, dan Dewi Srikandi menonton dari kejauhan.

Raden Drestajumena mengumumkan tata cara sayembara. Barangsiapa mampu memanah sehelai rambut di atas tiang tinggi tersebut sambil memandang cermin menggunakan Busur Gandiwa, maka ia berhak memperistri Dewi Drupadi, kakak sulungnya. Busur Gandiwa pun telah disiapkan di dekat tiang, yang mana untuk mengangkutnya tadi dibutuhkan seratus orang prajurit.

Peserta yang pertama kali maju adalah Adipati Jayadrata dari Banakeling. Ia berusaha mengangkat Busur Gandiwa dengan sekuat tenaga tetapi gagal. Dengan perasaan malu, ia pun pulang meninggalkan tempat itu, kembali ke negerinya.

Peserta yang kedua adalah Prabu Jarasanda raja Magada. Dengan langkah sombong penuh percaya diri ia berusaha mengangkat Busur Gandiwa. Akan tetapi, semakin ia mengerahkan tenaga, busur itu terasa semakin berat. Dengan wajah merah menahan malu, ia pun undur diri kembali ke negerinya.

Peserta yang ketiga adalah Prabu Salya raja Mandraka. Ia berkata bahwa dirinya mengikuti sayembara bukan untuk memperistri Dewi Drupadi, tetapi untuk menjadikannya sebagai menantu. Prabu Drupada dari kejauhan mempersilakan sahabatnya itu untuk mencoba. Prabu Salya pun mengerahkan Aji Candabirawa untuk mengerahkan para raksasa ganas dari dalam dirinya agar turut membantu mengangkat Busur Gandiwa. Namun demikian, semakin mereka berusaha, busur pusaka itu terasa semakin berat. Prabu Salya akhirnya menyerah. Ia memasukkan kembali para raksasa Candabirawa ke dalam tubuhnya, kemudian mohon pamit pulang ke Kerajaan Mandraka.

DEWI DRUPADI MENGHINA RADEN SURYAPUTRA

Setelah Adipati Jayadrata, Prabu Jarasanda, dan Prabu Salya pulang meninggalkan tempat sayembara, para raja dan pangeran lainnya merasa gentar untuk mencoba. Perwakilan dari Kerajaan Hastina, yaitu Raden Kurupati (Suyudana) datang bersama adik-adiknya (para Kurawa), serta Patih Sangkuni dan Raden Suryaputra. Raden Kurupati merasa sayembara ini terlalu sulit untuknya dan ia tidak mau menjadi bahan tertawaan para hadirin. Raden Suryaputra lalu berbisik kepada sahabatnya itu bahwa dirinya yang akan maju mewakili untuk mendapatkan Dewi Drupadi. Raden Kurupati merasa senang dan ia pun mempersilakan Raden Suryaputra untuk mencoba.

Raden Suryaputra melangkah maju mendekati Busur Gandiwa. Meskipun biasanya ia bersikap angkuh dan sombong, namun hari itu ia memandang Busur Gandiwa dengan penuh penghormatan. Setelah menyembah tiga kali, ia lantas mengangkat busur pusaka tersebut. Sungguh ajaib, Busur Gandiwa seolah merelakan dirinya diangkat oleh Raden Suryaputra. Jika orang lain merasa Busur Gandiwa sangat berat, maka Raden Suryaputra merasa busur pusaka ini sangat ringan dan juga lentur.

Para hadirin pun bersorak-sorak memuji Raden Suryaputra anak Adipati Adirata sebagai calon pemenang. Tiba-tiba Dewi Drupadi melangkah maju menghampiri Raden Suryaputra yang sudah bersiap hendak membidik sasaran melalui cermin. Ia mendapat firasat bahwa pemuda ini bukanlah jodohnya. Maka, dengan segala cara ia pun berusaha menggagalkan Raden Suryaputra. Dengan suara lembut tetapi keras, Dewi Drupadi berkata bahwa ia tidak mau menjadi istri dari putra seorang kusir kereta.

Raden Suryaputra sangat tersinggung mendengarnya. Prabu Drupada menyusul putrinya dan mengatakan bahwa Kyai Adirata ayah Raden Suryaputra bukan lagi seorang kusir kereta, tetapi sudah diangkat menjadi adipati di Petapralaya. Namun, Dewi Drupadi tetap tidak bersedia jika Raden Suryaputra melanjutkan sayembara. Ia menganggap Raden Suryaputra hanyalah seorang “kere munggah bale”. Meskipun kini Raden Suryaputra menjadi anak seorang adipati, namun itu adalah pemberian Raden Kurupati. Yang namanya kaum sudra tetap berjiwa buruh, meskipun memakai baju bangsawan.

Raden Suryaputra semakin marah mendengar penghinaan Dewi Drupadi. Ia meletakkan Busur Gandiwa, lalu berkata semoga suatu hari nanti Dewi Drupadi mendapatkan pembalasan, yaitu dihina di depan umum. Ia berharap semoga dirinya panjang umur dan bisa menyaksikan penghinaan atas Dewi Drupadi tersebut. Setelah mengutuk demikian, Raden Suryaputra lalu pergi meninggalkan Kerajaan Cempalareja, sedangkan Dewi Drupadi mundur sambil menangis.

ARYA GANDAMANA MENGADAKAN SAYEMBARA TANDING

Raden Kurupati marah atas penghinaan Dewi Drupadi terhadap sahabatnya. Kini Raden Suryaputra yang menjadi andalannya telah pulang ke Petapralaya. Ia pun maju dan berbicara lantang di hadapan para hadirin, bahwa sayembara ini adalah sayembara mustahil. Prabu Drupada tidak berniat mencari menantu, tetapi berniat ingin mempermalukan para raja dan pangeran dari berbagai negara.

Patih Sangkuni maju dan meminta maaf kepada Prabu Drupada atas kelancangan Raden Kurupati. Ia mencoba meluruskan maksud keponakannya itu dengan mengatakan bahwa Prabu Drupada sudah berniat baik yaitu mencari calon suami untuk Dewi Drupadi melalui sayembara. Akan tetapi, mengapa harus dibatasi yang pandai memanah saja? Sebenarnya Prabu Drupada ingin mencari menantu ataukah ingin mencari pemanah jitu? Di dunia ini hanya ada dua kesatria yang ahli panah, yaitu Raden Suryaputra dan Raden Arjuna. Raden Suryaputra sudah terlanjur pulang karena dihina, sedangkan Raden Arjuna sudah meninggal dunia. Apakah Prabu Drupada rela melihat Dewi Drupadi menjadi perawan tua karena tidak ada lagi raja dan pangeran yang sanggup menyelesaikan sayembara? Apa tidak sebaiknya sayembara ini diubah menjadi yang lebih umum saja, misalnya melalui pertandingan adu kesaktian? Bukankah jenis senjata para kesatria di dunia ini ada bermacam-macam, mengapa harus terbatas pada panah saja?

Arya Gandamana yang sejak dulu membenci Patih Sangkuni segera menanggapi, bahwa dirinya siap menjadi jago jika memang sayembara panah diubah menjadi sayembara tanding. Ia pun memohon kepada Prabu Drupada agar diizinkan untuk mewujudkan hal itu, sama seperti dulu ia pernah mengadakan sayembara tanding untuk mencarikan suami kakaknya, yaitu Dewi Gandawati. Prabu Drupada mengizinkan Arya Gandamana untuk menggelar sayembara tanding tersebut, karena dalam hati ia juga merasa khawatir jika putrinya menjadi perawan tua karena sayembara yang digelar Raden Drestajumena terlalu sulit.

Arya Gandamana kemudian berkata kepada para hadirin bahwa mulai saat ini sayembara panah diubah menjadi sayembara tanding. Barangsiapa bisa mengalahkan dirinya, maka ia berhak memboyong Dewi Drupadi, keponakannya. Terserah para pelamar boleh menggunakan senjata jenis apa, Arya Gandamana siap menghadapi dengan tangan kosong.

Raden Kurupati yang sejak tadi memendam kekesalan karena sahabatnya dihina, segera maju untuk menantang Arya Gandamana. Mereka berdua pun bertanding satu lawan satu. Selang agak lama Raden Kurupati terdesak dan segera mengambil senjata gada. Namun demikian, Arya Gandamana tetap unggul. Sampai akhirnya tubuh Raden Kurupati berhasil dilemparkannya dengan sekuat tenaga, hingga jatuh di hutan luar kota.

Patih Sangkuni segera memerintahkan Raden Dursasana untuk maju melawan Arya Gandamana. Sama seperti kakaknya, Raden Dursasana juga kalah dan tubuhnya dilempar ke luar kota. Merasa tidak puas, Patih Sangkuni segera memerintahkan para Kurawa lainnya, seperti Raden Kartawarma, Raden Surtayu, Raden Durmuka, Raden Durjaya, Raden Durmagati, Raden Citraksa, dan Raden Citraksi untuk maju mengeroyok Arya Gandamana. Namun sedikit pun Arya Gandamana tidak gentar. Dengan mengerahkan Aji Bandung Bandawasa, ia melemparkan semua pangeran Hastina itu jauh-jauh meninggalkan gelanggang sayembara.

Para raja dan pangeran lainnya, termasuk Patih Sangkuni ngeri melihat kekuatan Arya Gandamana. Mereka pun membubarkan diri, meninggalkan tempat tersebut dan menyusul ke mana jatuhnya para Kurawa. Seketika suasana kini berubah menjadi sepi, sungguh berbeda dengan sebelumnya.

PARA PANDAWA DAN DEWI KUNTI BERTEMU RESI DOMYA

Sementara itu, para Pandawa dan Dewi Kunti telah meninggalkan Kerajaan Ekacakra dan melanjutkan perjalanan mereka mengembara. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Resi Domya yang merupakan sahabat sekaligus murid Bagawan Abyasa.

Meskipun kelima Pandawa dan Dewi Kunti menyamar sebagai kaum brahmana, namun Resi Domya dapat mengenali mereka. Resi Domya pun berkata bahwa dirinya baru saja pulang dari Padepokan Saptaarga menemui Bagawan Abyasa. Dalam pertemuan itu, Bagawan Abyasa bercerita bahwa semasa hidupnya, Prabu Pandu (ayah para Pandawa) pernah membantu Arya Sucitra memenangkan sayembara tanding mengalahkan Arya Gandamana sehingga bisa memperistri Dewi Gandawati. Kemudian Arya Sucitra mewarisi takhta Kerajaan Pancala dan bergelar Prabu Drupada. Atas keberhasilannya itu, ia berniat semoga kelak bisa berbesan dengan Prabu Pandu. Menurut ramalan Bagawan Abyasa, kini sudah saatnya putri Prabu Drupada menjadi istri salah satu dari para Pandawa.

Sungguh kebetulan, Resi Domya mendengar kabar bahwa Prabu Drupada mengadakan sayembara untuk mencari calon suami Dewi Drupadi. Untuk itu, ia pun meminta izin kepada Dewi Kunti agar boleh mengajak para Pandawa mengikuti sayembara tersebut.

Dewi Kunti mengaku dirinya pernah mendengar cerita mendiang Prabu Pandu bahwa Prabu Drupada ingin berbesan dengan mereka. Maka, Dewi Kunti pun mengizinkan Resi Domya berangkat lebih dulu bersama Raden Puntadewa, Raden Bratasena (Bima), dan Raden Permadi (Arjuna).

Demikianlah, Resi Domya pun mohon pamit dan segera berangkat menuju Kerajaan Cempalareja bersama tiga Pandawa itu, dan juga panakawan Petruk dan Bagong. Adapun Dewi Kunti berjalan di belakang bersama si kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa, serta panakawan Kyai Semar dan Nala Gareng.

ARYA GANDAMANA MENGHADAPI RADEN KAKRASANA

Pada saat yang sama, Prabu Basudewa raja Mandura juga memerintahkan kedua putranya, yaitu Raden Kakrasana dan Raden Narayana agar mengikuti sayembara di Cempalareja. Mereka pun berangkat dengan disertai Dewi Bratajaya (Rara Ireng) dan juga Arya Udawa. Dalam perjalanan menuju ke sana, Raden Narayana mengaku malas mengikuti sayembara tersebut karena ia yakin Dewi Drupadi bukanlah jodohnya. Sebaliknya, Raden Kakrasana tidak peduli perempuan itu menjadi jodohnya atau tidak, yang penting perintah orang tua harus segera dilaksanakan.

Rombongan Raden Kakrasana itu akhirnya tiba di Kerajaan Cempalareja. Mereka pun memperkenalkan diri sebagai utusan Prabu Basudewa. Prabu Drupada menyambut mereka dengan ramah dan mempersilakan untuk mengikuti sayembara tanding, melawan Arya Gandamana.

Raden Kakrasana maju ke gelanggang, berhadapan dengan Arya Gandamana. Keduanya bertanding tangan kosong saling mengadu kesaktian. Arya Gandamana merasa lawannya kali ini sungguh perkasa, jelas berbeda dibanding para Kurawa tadi. Raden Kakrasana sendiri mengerahkan Aji Balarama yang membuat tubuhnya lebih kuat dan tidak mudah letih. Tenaganya seperti tidak pernah habis, membuat Arya Gandamana lama-lama terdesak kewalahan.

Arya Gandamana segera mengimbangi dengan mengerahkan Aji Bandung Bandawasa dan Aji Blabak Pangantol-antol sekaligus. Raden Kakrasana yang merasa sudah menang menjadi lengah. Tubuhnya pun terlempar jauh oleh kekuatan Arya Gandamana. Raden Narayana, Dewi Bratajaya, dan Arya Udawa segera menyusul ke mana jatuhnya saudara mereka itu.

Raden Narayana lalu menemukan Raden Kakrasana terjepit di antara dua bongkah batu besar, di luar ibu kota Cempalareja. Raden Kakrasana tampak merintih kesakitan minta ditolong. Raden Narayana lalu meraba kedua batu besar itu menggunakan Aji Balasrewu. Sungguh ajaib, hanya dengan diraba saja kedua batu besar itu langsung hancur menjadi abu.

Raden Kakrasana berterima kasih dan memuji kesaktian adiknya. Andai Raden Narayana bersedia mengikuti sayembara, pasti ia mampu mengalahkan Arya Gandamana. Namun, Raden Narayana tetap menolak karena ia yakin Dewi Drupadi bukan jodohnya. Raden Kakrasana menjadi bimbang apakah dirinya perlu melanjutkan sayembara itu sesuai perintah orang tua ataukah tidak. Raden Narayana menyarankan agar sang kakak memiliki pendirian sendiri. Mematuhi perintah orang tua adalah kewajiban. Tetapi kalau perintah itu tidak selaras dengan ketentuan Sang Pencipta apakah harus tetap dijalankan?

Raden Narayana menyarankan lebih baik Raden Kakrasana pergi bertapa ke Gunung Rewataka, menyempurnakan ilmu dan menyerahkan diri kepada takdir Tuhan. Urusan jodoh dan rejeki kelak pasti akan terbuka jalan apabila Raden Kakrasana mau berusaha memperbaiki dirinya.

Raden Kakrasana menerima saran sang adik. Ia balik bertanya ke mana Raden Narayana akan pergi. Raden Narayana berkata bahwa tadi malam ia mimpi mendapat perintah dewa agar berziarah ke makam kakek dan neneknya, yaitu Prabu Kuntiboja dan Dewi Bandondari di Astana Gandamadana. Setelah berziarah, hendaknya Raden Narayana juga berguru kepada juru kunci astana, yaitu Kapi Jembawan. Raden Kakrasana heran mengapa Raden Narayana harus berguru kepada kera tua macam dia. Raden Narayana menjawab bahwa Kapi Jembawan bukan sekadar kera biasa, tetapi ia adalah mantan pengikut Prabu Sri Rama di zaman dahulu, dan juga penasihat Prabu Sugriwa, raja bangsa Wanara. Raden Narayana berpesan kepada Raden Kakrasana agar jangan mudah merendahkan orang lain hanya karena melihat wujud luarnya saja.

Demikianlah, Raden Kakrasasana dan Raden Narayana pun berpisah. Raden Kakrasana mengganti nama menjadi Wasi Jaladara dan berangkat menuju Gunung Rewataka bersama Dewi Bratajaya, sedangkan Raden Narayana berangkat menuju Astana Gandamadana bersama Arya Udawa.

ARYA GANDAMANA BERTANDING MELAWAN WASI BALAWA

Sementara itu, Arya Gandamana masih berdiri di gelanggang menunggu Raden Kakrasana yang tak kunjung kembali untuk melanjutkan pertandingan melawan dirinya. Bukannya pemuda bule yang muncul, tetapi empat orang pendeta yang tampak berjalan memasuki alun-alun Cempalareja menghadap Prabu Drupada.

Pendeta yang paling tua bernama Resi Domya, sedangkan tiga yang muda bernama Dwija Kangka, Wasi Balawa, dan Wasi Parta. Mereka memohon kepada Prabu Drupada agar diizinkan mengikuti sayembara memperebutkan Dewi Drupadi. Prabu Drupada tersinggung melihat ada kaum pendeta miskin berani melamar putrinya. Ia pun mengusir Resi Domya beserta ketiga muridnya itu dengan kasar.

Arya Gandamana sekilas dapat mengenali bahwa ketiga pendeta muda itu adalah para Pandawa yang sedang menyamar. Ia pun meminta Prabu Drupada agar bersabar dan jangan terburu nafsu menilai orang dari wujud luarnya. Siapa tahu ketiga pendeta ini memang dikirim dewata untuk memenangkan Dewi Drupadi. Mendengar itu, amarah Prabu Drupada reda dan ia pun mengizinkan mereka mengikuti sayembara. Namun demikian, dalam hati ia berharap mereka segera kalah dalam waktu singkat.

Arya Gandamana kemudian berkata kepada Wasi Balawa agar dia saja yang mengikuti sayembara tanding. Wasi Balawa segera naik ke atas gelanggang. Arya Gandamana pun berbisik bahwa ia sudah tahu kalau Wasi Balawa adalah penyamaran Raden Bratasena. Ia pun berkata bahwa dirinya akan bertanding pura-pura kalah supaya Dewi Drupadi bisa menjadi istri salah satu Pandawa. Wasi Balawa menolak dengan tegas. Ia tidak mau diperlakukan istimewa. Pertandingan ini haruslah dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan main-main.

Arya Gandamana bangga melihat sikap tegas keponakannya itu. Ia pun memulai pertandingan. Keduanya segera bertarung tanpa senjata. Prabu Drupada sekeluarga menonton dari jauh dan merasa kagum melihat ada seorang pendeta muda yang sanggup mengimbangi kekuatan Arya Gandamana.

Demikianlah, pertarungan antara Arya Gandamana dan Wasi Balawa berlangsung cukup lama. Hingga akhirnya Arya Gandamana lengah dan tubuhnya jatuh terkena tendangan Wasi Balawa. Arya Gandamana merasa malu dan segera mengerahkan Aji Bandung Bandawasa disertai Aji Blabak Pangantol-antol. Ketika lengah, Wasi Balawa pun tertangkap dan diapit menggunakan ketiak.

Wasi Balawa merasa sesak kehabisan napas. Ia merintih menyebut nama keluarganya satu persatu, mulai dari Ibu Kunti, kakak sulung, serta ketiga adiknya. Ia juga menyebut nama Bapak Pandu dan Ibu Madrim yang sudah berada di alam baka. Mendengar nama Prabu Pandu disebut, seketika perasaan Arya Gandamana menjadi sedih dan tubuhnya pun gemetar.

Merasa ada peluang, Wasi Balawa segera meronta sekuat tenaga. Tanpa sadar, Kuku Pancanaka di ibu jarinya pun memanjang dan menusuk dada Arya Gandamana hingga tembus ke punggung. Arya Gandamana pun roboh bersimbah darah.

ARYA GANDAMANA MEWARISKAN ILMUNYA

Wasi Balawa menangis memeluk Arya Gandamana sambil meminta maaf karena tidak sengaja telah melukai pamannya itu. Dwija Kangka dan Wasi Parta ikut mendekat menghampiri mereka, begitu pula dengan Prabu Drupada sekeluarga segera meninggalkan tempat duduk mereka masing-masing untuk melihat keadaan Arya Gandamana.

Arya Gandamana sama sekali tidak menyalahkan Wasi Balawa. Ia pun bercerita kepada Prabu Drupada bahwa dulu dirinya pernah bertemu dengan pendeta tua sakti bernama Resi Druwasa. Dalam pertemuan itu Resi Druwasa meramalkan bahwa suatu hari Arya Gandamana akan meninggal di tangan putra Prabu Pandu. Namun demikian, ia akan terlahir kembali sebagai putra dari putra Prabu Pandu tersebut. Hari ini ramalan itu menjadi kenyataan. Arya Gandamana pun mengumumkan bahwa Wasi Balawa adalah penyamaran Raden Bratasena, Dwija Kangka adalah penyamaran Raden Puntadewa, sedangkan Wasi Parta adalah penyamaran Raden Permadi.

Prabu Drupada tergetar hatinya melihat para Pandawa masih hidup dan selamat dari kebakaran di Kota Waranawata. Perasaannya sedih bercampur gembira, yaitu sedih karena Arya Gandamana sebentar lagi meninggal dunia dan gembira karena cita-citanya berbesan dengan mendiang Prabu Pandu dapat terlaksana.

Arya Gandamana sendiri merasa ajalnya sudah dekat. Ia lalu mengheningkan cipta dan memindahkan ilmu kesaktiannya, yaitu Aji Bandung Bandawasa dan Aji Blabak Pangantol-antol kepada Raden Bratasena. Setelah itu ia memindahkan kalung pusaka Robyong Mustikarawis kepada Raden Puntadewa. Apabila Raden Puntadewa meraba kalung tersebut, maka seketika ia akan berubah menjadi raksasa tinggi besar berwarna putih. Yang terakhir, Arya Gandamana memindahkan Aji Saipi Angin kepada Raden Permadi. Daya kekuatan ajian tersebut adalah membuat Raden Permadi bisa bergerak cepat melebihi kecepatan angin.

Arya Gandamana lalu berpesan bahwa kelak ia akan terlahir kembali ke dunia, menitis kepada putra Raden Bratasena. Setelah berkata demikian, ia pun meninggal dunia dengan senyum bahagia. Tubuhnya kemudian musnah bagaikan asap.

RADEN PERMADI MENUNTASKAN SAYEMBARA PANAH

Setelah Arya Gandamana meninggal, suasana menjadi hening. Tiba-tiba Raden Drestajumena berkata lantang bahwa ia tidak percaya kalau ketiga pendeta muda miskin di hadapannya adalah para Pandawa. Semasa hidupnya, Arya Gandamana selalu memuji-muji Prabu Pandu dan kelima putranya. Selain itu, Resi Druna juga selalu memuji nama Raden Arjuna Permadi sebagai pemanah terhebat di dunia. Raden Drestajumena risih mendengar pujian-pujian tersebut. Baginya, Raden Arjuna adalah musuh besar, karena pernah menangkap ayahnya dan menyebabkan Kerajaan Pancala terbelah menjadi dua.

Prabu Drupada melarang Raden Drestajumena membenci para Pandawa karena mereka hanya menjalankan tugas dari Resi Druna, guru mereka. Lagipula soal Kerajaan Pancala terbelah menjadi dua itu pun sudah suratan takdir karena ulah Prabu Drupada sendiri yang mengingkari janji persahabatan dengan Resi Druna.

Raden Drestajumena tetap kukuh pada pendiriannya. Ia masih belum percaya kalau ketiga pendeta muda itu adalah para Pandawa dan ia merasa khawatir jangan-jangan pamannya mewariskan ilmu kepada orang yang salah. Untuk membuktikannya, ia pun menantang Wasi Parta apakah sanggup menuntaskan sayembara panah yang ia gelar. Jika Wasi Parta bisa membuktikan bahwa dirinya adalah Raden Arjuna si pemanah jitu, barulah ia rela kakaknya diboyong para Pandawa.

Wasi Parta maju menerima tantangan Raden Drestajumena. Ia lalu menyembah hormat kepada Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, kemudian melangkah mendekati Busur Gandiwa. Dengan sikap santun penuh hormat, Wasi Parta menyembah busur pusaka tersebut tiga kali kemudian mengangkatnya. Raden Drestajumena heran melihat Wasi Parta sanggup mengangkat busur berat tersebut dengan mudah, seolah terasa ringan.

Wasi Parta lalu membidik sasaran berupa rambut yang diikat di ujung tiang dengan cara melihat cermin. Setelah yakin, ia pun melepaskan panah dan secepat kilat panah itu melesat mengenai sasaran. Panah itu kemudian jatuh di depan Raden Drestajumena, di mana pada ujungnya telah tertancap sehelai rambut milik Dewi Drupadi.

Raden Drestajumena kagum bukan kepalang. Ia menyaksikan sendiri bagaimana panah yang dilepaskan Wasi Parta memotong rambut yang diikat di atas tiang dan membawanya turun ke tanah tanpa terpisah. Dengan perasaan kagum ia pun menghormat kepada Wasi Parta dan mengakuinya sebagai Raden Permadi.

RADEN PUNTADEWA MENJADI CALON SUAMI DEWI DRUPADI

Sayembara meminang Dewi Drupadi dinyatakan usai. Prabu Drupada lalu bertanya siapa di antara Raden Bratasena dan Raden Permadi yang akan menjadi suami putrinya. Raden Permadi menjawab bahwa dirinya tidak akan menikah apabila kakak sulungnya belum menikah. Raden Bratasena juga menjawab demikian, bahwa ia mengikuti sayembara adalah untuk mencarikan istri Raden Puntadewa, kakak sulungnya. Mendengar itu, Raden Puntadewa menolak. Ia merasa Raden Bratasena dan Raden Permadi lebih berhak menikahi Dewi Drupadi karena merekalah yang telah memenangkan sayembara.

Pada saat itulah Dewi Kunti datang bersama si kembar serta panakawan Kyai Semar dan Nala Gareng. Prabu Drupada dan Dewi Gandawati segera memberi hormat kepada Dewi Kunti dan bersyukur karena janda Prabu Pandu itu masih sehat dan selamat dari kebakaran Balai Sigala-gala.

Dewi Kunti menasihati Raden Puntadewa agar menerima Dewi Drupadi sebagai istrinya. Dahulu ketika Prabu Drupada naik takhta di Kerajaan Pancala pernah berniat ingin berbesan dengan Prabu Pandu. Kini niat itu menjadi kenyataan. Dewi Drupadi adalah putri sulung Prabu Drupada, tentunya tepat jika menikah dengan putra sulung Prabu Pandu, yaitu Raden Puntadewa. Lagipula Raden Bratasena sudah menikah dengan Dewi Nagagini namun ia bersumpah tidak akan menyentuh istrinya selama sang kakak belum menikah. Jika Raden Puntadewa menolak menikah dengan Dewi Drupadi, maka Raden Bratasena tidak akan memiliki anak. Raden Bratasena pun membenarkan hal itu. Jika ia tidak memiliki anak, maka Paman Gandamana tidak akan lahir kembali ke dunia.

Raden Puntadewa masih keberatan. Ia menyarankan agar Raden Permadi saja yang menikahi Dewi Drupadi. Namun, Raden Permadi menolak karena ia pernah berjanji tidak akan menikah jika kedua kakaknya belum menikah. Raden Puntadewa tetap keberatan karena bukan dirinya yang memenangkan sayembara, sehingga ia merasa tidak berhak mengambil hadiahnya.

Dewi Kunti bercerita bahwa sayembara diwakili orang lain itu adalah hal yang wajar dalam tradisi para kesatria. Semasa muda Resiwara Bisma pernah memenangkan sayembara di Kerajaan Giyantipura mewakili Prabu Citrawirya, adiknya. Prabu Arjuna Sasrabahu raja Mahespati di zaman dulu juga pernah diwakili Bambang Sumantri saat memboyong Dewi Citrawati putri Magada. Begitu pula dengan Arya Ugrasena juga pernah mewakili Prabu Basudewa dalam memenangkan Dewi Dewaki.

Raden Puntadewa seorang yang berwatak lembut tapi teguh pendirian. Dewi Kunti menyadari hal itu. Ia pun bertanya apakah Raden Puntadewa sanggup menjadi anak yang berbakti kepada orang tua yang tinggal satu-satunya ini? Raden Puntadewa menjawab sanggup. Dewi Kunti lalu berkata bahwa seorang anak yang berbakti tentu menjalankan perintah orang tuanya tanpa membantah. Untuk itu, Dewi Kunti pun memerintahkan Raden Puntadewa agar menikah dengan Dewi Drupadi. Kali ini Raden Puntadewa tidak dapat membantah lagi. Ia akhirnya menurut dan menyatakan bersedia memenuhi perintah tersebut.

Prabu Drupada lega mendengarnya. Ia pun memerintahkan Dewi Drupadi untuk mengalungkan rangkaian bunga ke leher Raden Puntadewa. Dewi Drupadi mematuhi. Tadi ketika menyaksikan Raden Permadi berhasil menuntaskan sayembara panah, Dewi Drupadi hanya merasa kagum tetapi dalam hati tidak yakin kalau pemuda itu yang akan menjadi jodohnya. Entah mengapa hatinya justru lebih tertarik kepada Raden Puntadewa yang berdiri tenang di pinggir gelanggang. Tak disangka, sulung para Pandawa itulah yang kini menjadi calon suaminya.

PARA KURAWA HENDAK MEREBUT DEWI DRUPADI

Sementara itu, Raden Kurupati dan para Kurawa lainnya belum pulang ke Hastina setelah tadi mereka kalah melawan Arya Gandamana. Raden Kurupati merasa malu jika pulang dengan tangan hampa. Ketika terdengar kabar bahwa Arya Gandamana telah meninggal dan kini Dewi Drupadi menjadi istri seorang pendeta muda, hatinya bertambah kesal. Ia pun mengajak adik-adiknya untuk menyerang Kerajaan Cempalareja dan merebut Dewi Drupadi.

Raden Bratasena yang masih menyamar sebagai Wasi Balawa segera menghadapi serangan para Kurawa itu. Ia mencabut tiang bekas peralatan sayembara untuk digunakan sebagai senjata. Para Kurawa kocar-kacir terkena pukulan tiang di tangan Wasi Balawa itu. Mereka pun kabur melarikan diri, kembali ke Kerajaan Hastina.

DEWI KUNTI DAN PARA PANDAWA MEMBUKA PENYAMARAN

Pada hari yang ditentukan diadakanlah upacara pernikahan antara Raden Puntadewa dan Dewi Drupadi. Pada hari itu, Dewi Kunti tidak lagi menyamar sebagai pendeta wanita bernama Nyai Rini, tetapi sudah memakai pakaian ratu janda. Begitu pula dengan para Pandawa juga sudah mencukur kumis dan janggut mereka dan kini mengenakan busana pangeran.

Setelah upacara selesai, Prabu Drupada meminta Dewi Kunti dan para Pandawa untuk tetap tinggal di Kerajaan Cempalareja daripada pulang ke Hastina. Dewi Kunti bersedia namun untuk sementara saja. Apabila waktunya tiba, mereka akan mohon diri memboyong Dewi Drupadi ke Gunung Saptaarga, menghadap Bagawan Abyasa.

Prabu Drupada memaklumi hal itu. Kelak jika Dewi Kunti dan para Pandawa berpamitan, ia berjanji akan menyerahkan Busur Gandiwa sebagai kenang-kenangan. Busur Gandiwa ini tentunya akan lebih berguna jika berada di tangan Raden Permadi, daripada disimpan begitu saja dalam istana Cempalareja. Lagipula Raden Permadi telah memenangkan sayembara memanah tetapi tidak mengambil hadiahnya. Maka, Busur Gandiwa boleh menjadi hadiah pengganti sekaligus sebagai tanda persahabatan antara Prabu Drupada dengan ahli waris Prabu Pandu. Raden Permadi berterima kasih atas kebaikan Prabu Drupada. Ia pun berjanji akan menggunakan Busur Gandiwa dengan sebaik-baiknya, jika kelak benar menjadi miliknya.

Arya Gandamana

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Kisah sayembara memanah dan gugurnya Arya Gandamana menurut Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam Serat Pustakaraja Purwa terjadi pada tahun Suryasengakala 693 yang ditandai dengan sengkalan “Gunaning Rudra angebahaken wiyat”, atau tahun Candrasengkala 714 yang ditandai dengan sengkalan “Janma kaswareng barakan”.











Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ▼  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ▼  September (3)
      • Bangun Kali Sarayu
      • Sayembara Drupadi
      • Kangsa Adu Jago
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja