Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Pandu Lahir

 No comments   


Kisah ini menceritakan kelahiran putra-putra Prabu Kresna Dwipayana, yaitu Raden Kuru (Dretarastra), Raden Pandu (Dewayana), dan Raden Widura (Yamawidura). Juga dikisahkan tentang Prabu Cidamuka raja Srawantipura yang berniat menjadikan Raden Pandu sebagai tumbal untuk meredakan wabah penyakit yang sedang melanda negerinya.

Kisah ini saya susun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, dengan sedikit pengembangan.

Kediri, 28 Maret 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Prabu Kresna Dwipayana

DEWI AMBIKA MELAHIRKAN BAYI TUNANETRA

Prabu Kresna Dwipayana di Kerajaan Hastina dihadap Resiwara Bisma dari Padepokan Talkanda, serta para menteri dan punggawa, antara lain Resi Jawalagni dan Patih Jayayatna. Mereka sedang membicarakan kedua janda mendiang Prabu Citrawirya, yaitu Dewi Ambika dan Dewi Ambalika yang telah dinikahi Prabu Kresna Dwipayana dan kini masing-masing sedang mengandung. Menurut perkiraan Sang Prabu, tidak lama lagi kedua permaisuri tersebut akan segera melahirkan.

Benar juga, ketika mereka sedang membicarakan masalah tersebut, tiba-tiba muncul sang ibu suri yaitu Dewi Durgandini yang mengabarkan bahwa Dewi Ambika sudah melahirkan. Prabu Kresna Dwipayana segera membubarkan pertemuan dan bergegas masuk ke dalam kedaton bersama Resiwara Bisma.

Sesampainya di dalam kedaton, Prabu Kresna Dwipayana segera menemui Dewi Ambika yang sedang bersama bayi yang baru saja dilahirkannya. Bayi tersebut berkelamin laki-laki dan setelah diperiksa ternyata bermata buta. Dewi Durgandini dan Resiwara Bisma prihatin mendengarnya. Prabu Kresna Dwipayana pun menjelaskan bahwa kelahiran bayi tunanetra ini sudah menjadi suratan takdir, karena Dewi Ambika ketika bersetubuh dengannya selalu memejamkan mata.

Dewi Ambika malu dan menyesal mendengarnya. Ia berterus terang bahwa saat bersetubuh dengan Prabu Kresna Dwipayana memang selalu memejamkan mata. Itu karena ia merasa sangat takut melihat wujud Sang Prabu yang berkulit hitam legam seperti arang. Tak disangka, kini ia mendapatkan balak yaitu melahirkan seorang putra yang tidak dapat melihat.

Demikianlah, Prabu Kresna Dwipayana ikhlas menerima keadaan putra sulungnya yang tunanetra itu dan ia pun memberinya nama Raden Kuru.

DEWI AMBALIKA MELAHIRKAN BAYI KEMBAR SIAM

Tidak lama kemudian para dayang melaporkan bahwa Dewi Ambalika juga melahirkan bayi laki-laki yang berjumlah dua sekaligus. Prabu Kresna Dwipayana, Dewi Durgandini, dan Resiwara Bisma segera memeriksa ke dalam kamar. Mereka terkejut melihat kedua bayi laki-laki itu ternyata kembar siam, yaitu kaki kiri bayi yang satu menempel pada leher bayi yang lain.

Dewi Ambalika menangis memohon agar Prabu Kresna Dwipayana meruwat kedua bayi tersebut agar terpisah satu sama lain. Prabu Kresna Dwipayana segera membaca mantra kemudian mengiris bagian yang menempel pada kedua bayi tersebut dengan hati-hati. Keduanya kini terpisah, namun menderita cacat untuk selamanya. Bayi yang pertama berleher tengleng atau selalu menoleh dan tidak dapat menggerakkan lehernya, sedangkan bayi yang satunya berkaki pincang sebelah kiri.

Prabu Kresna Dwipayana melihat kedua bayi tersebut berkulit kuning pucat. Ini merupakan pengingat bahwa dulu ketika bersetubuh dengan dirinya, Dewi Ambalika ketakutan sampai pucat sekujur tubuhnya. Itulah sebabnya ia mendapatkan balak, yaitu mendapatkan dua orang putra yang berkulit kuning pucat.

Prabu Kresna Dwipayana pun menetapkan bayi yang berleher tengleng sebagai yang lebih tua dan memberinya nama Raden Pandu, sedangkan bayi yang berkaki pincang ditetapkan sebagai yang lebih muda, dan diberi nama Raden Widura.

PRABU SWALACALA MENJADI RAJA TUNGGULMALAYA

Sementara itu di Kerajaan Tunggulmalaya, Prabu Karditya baru saja meninggal dunia karena sakit. Prabu Karditya ini adalah salah satu dari tujuh orang raja yang pernah menyerang Kerajaan Hastina saat pemerintahan Prabu Citrawirya dulu. Dari ketujuh orang itu sebanyak lima orang tewas dalam pertempuran, sedangkan sisanya yang dua orang menyerah kalah dan mendapat pengampunan dari mendiang Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya. Kedua raja tersebut adalah Prabu Sapwani dari Kerajaan Sindu Banakeling dan Prabu Karditya dari Kerajaan Tunggulmalaya. Kedua raja taklukan itu telah bersumpah setia tidak akan lagi mengganggu Kerajaan Hastina.

Kini Prabu Karditya telah meninggal dunia karena sakit. Takhta Kerajaan Tunggulmalaya kemudian diwarisi putra sulungnya yang bergelar Prabu Swalacala. Adapun yang menjadi patih adalah putra kedua, yaitu Patih Wisudarya, dan yang menjadi panglima adalah putra ketiga, yaitu Arya Pramuseta.

Setelah masa berkabung usai, Prabu Swalacala berniat pergi ke Kerajaan Hastina untuk melaporkan perihal kematian ayahnya dan juga tentang pelantikan dirinya sebagai raja yang baru kepada Prabu Kresna Dwipayana dan Resiwara Bisma. Patih Wisudarya dan Arya Pramuseta ikut menyertai.

PRABU CIDAMUKA HENDAK MENUMBALI NEGARANYA

Tersebutlah seorang raja bernama Prabu Cidamuka yang memimpin Kerajaan Srawantipura. Saat itu Kerajaan Srawantipura sedang dilanda wabah penyakit. Banyak penduduknya yang jatuh sakit dan meninggal dunia dalam waktu singkat. Prabu Cidamuka yang merupakan pemuja Batara Kala memutuskan untuk mengadakan sesaji demi mengatasi wabah tersebut. Batara Kala pun turun dari kahyangan menerima sesaji untuknya. Ia lalu memberikan petunjuk agar Prabu Cidamuka menyembelih putra kedua Prabu Kresna Dwipayana raja Hastina sebagai tumbal jika ingin memadamkan wabah penyakit yang kini melanda Kerajaan Srawantipura. Adapun putra kedua Prabu Kresna Dwipayana itu bernama Raden Pandu yang baru saja lahir ke dunia.

Setelah Batara Kala kembali ke kahyangan, Prabu Cidamuka segera menyampaikan hal itu kepada Patih Aswanindya yang merupakan pamannya sendiri. Ia pun mengutus Sang Patih berangkat ke Kerajaan Hastina dengan membawa sejumlah emas permata untuk ditukar dengan Raden Pandu, putra kedua Prabu Kresna Dwipayana tersebut. Jika pihak Hastina menolak menyerahkan bayi itu, maka Patih Aswanindya harus merebutnya melalui peperangan.

Patih Aswanindya mematuhi perintah rajanya. Ia lalu mohon pamit berangkat melaksanakan tugas.

PATIH ASWANINDYA BERPERANG MELAWAN PRABU SWALACALA

Patih Aswanindya berserta pasukan Srawantipura berpapasan dengan rombongan Prabu Swalacala yang juga sama-sama hendak menuju ke Kerajaan Hastina. Mereka saling bertanya ada keperluan apa hendak menemui Prabu Kresna Dwipayana. Patih Aswanindya pun menjawab terus terang bahwa ia diutus rajanya untuk membeli putra kedua raja Hastina yang bernama Raden Pandu dengan emas permata. Rencananya Raden Pandu akan disembelih sebagai tumbal untuk meredakan wabah penyakit yang kini melanda Kerajaan Srawantipura.

Prabu Swalacala merasa aneh dengan jawaban Patih Aswanindya. Tidak mungkin ada ceritanya seorang bapak menyerahkan anaknya untuk disembelih orang lain sebagai tumbal, meskipun ditukar dengan emas permata. Patih Aswanindya tidak peduli karena ia telah diberi wewenang oleh rajanya untuk merebut Raden Pandu melalui peperangan.

Prabu Swalacala sebagai sekutu Kerajaan Hastina tidak terima atas hal ini. Ia pun menantang Patih Aswanindya berperang melawan dirinya terlebih dulu sebelum berperang melawan Kerajaan Hastina. Patih Aswanindya pun melayani tantangan tersebut. Maka, terjadilah pertempuran di antara mereka. Hingga akhirnya, Patih Aswanindya dan Prabu Swalacala sama-sama gugur karena keduanya memiliki kesaktian yang setara.

Patih Wisudarya dan Arya Pramuseta yang berhasil memukul mundur pasukan Srawantipura terkejut dan sedih melihat kakak mereka tewas bersama musuh. Mereka lalu membagi tugas. Arya Pramuseta kembali ke Kerajaan Tunggulmalaya dengan membawa jasad Prabu Swalacala, sedangkan Patih Wisudarya melanjutkan perjalanan ke Hastina untuk melaporkan peristiwa ini kepada Prabu Kresna Dwipayana dan Resiwara Bisma.

PRABU KRESNA DWIPAYANA MELANTIK PRABU WISUDARYA

Prabu Kresna Dwipayana dan Resiwara Bisma di Kerajaan Hastina menerima kedatangan Patih Wisudarya yang melaporkan tentang kematian Prabu Karditya (ayahnya), serta Prabu Swalacala (kakaknya). Ia juga menceritakan tentang kemungkinan adanya serangan dari Kerajaan Srawantipura yang ingin menjadikan Raden Pandu sebagai tumbal.

Prabu Kresna Dwipayana prihatin mendengarnya. Ia berterima kasih dan sangat terharu atas pengorbanan Prabu Swalacala yang menjadi perisai bagi Kerajaan Hastina. Atas usul Resiwara Bisma, Prabu Kresna Dwipayana pun mengangkat Patih Wisudarya sebagai raja Tunggulmalaya yang baru, sedangkan kedudukannya sebagai patih hendaknya digantikan oleh Arya Pramuseta.

PRABU CIDAMUKA MENCULIK RADEN PANDU

Sementara itu di Kerajaan Srawantipura, Prabu Cidamuka sangat marah dan sedih mendengar berita kematian Patih Aswanindya yang merupakan pamannya itu. Ia pun mengerahkan seluruh pasukan Srawantipura untuk berangkat menggempur Kerajaan Hastina.

Di lain pihak, Kerajaan Hastina telah bersiaga menghadapi serangan tersebut berkat laporan dari Patih Wisudarya. Maka, terjadilah perang besar di antara mereka. Dalam waktu singkat, pasukan Hastina berhasil menghancurkan serangan dari Srawantipura itu.

Prabu Cidamuka membiarkan pasukannya ditumpas habis oleh pihak lawan, sedangkan dirinya memutar dan menyusup masuk ke dalam istana Kerajaan Hastina. Ia pun merebut Raden Pandu yang sedang digendong Dewi Ambalika dan kemudian melarikan diri sekencang-kencangnya.

PRABU CIDAMUKA DIHADANG JAKA BANDUWANGKA

Prabu Cidamuka berlari sambil menggendong bayi Raden Pandu meninggalkan Kerajaan Hastina. Namun, di tengah jalan ia dihadang oleh seorang pemuda bernama Jaka Banduwangka dari Desa Supa. Awalnya pemuda itu ingin pergi ke istana untuk mendaftar sebagai prajurit. Namun ternyata, Kerajaan Hastina sedang berperang menghadapi serangan Srawantipura yang konon kabarnya ingin merebut putra kedua Prabu Kresna Dwipayana yang baru saja lahir.

Melihat ada seorang raja menggendong bayi dengan terburu-buru, Jaka Banduwangka curiga jangan-jangan dia adalah Prabu Cidamuka yang berhasil menculik Raden Pandu. Pemuda itu segera menghadang dan berusaha merebut bayi tersebut. Maka terjadilah pertarungan di antara mereka.

Prabu Cidamuka sangat berhati-hati dalam pertarungan kali ini karena ia tidak ingin bayi yang diculiknya meninggal sebelum disembelih di Kerajaan Srawantipura. Sebaliknya, Jaka Banduwangka juga tidak berani bertindak gegabah karena takut Raden Pandu terluka.

Pada saat itulah Prabu Kresna Dwipayana dan Resiwara Bisma datang mengejar Prabu Cidamuka setelah mendapatkan laporan dari Dewi Ambalika. Karena merasa terdesak, Prabu Cidamuka menjadi lengah dan bayi Raden Pandu berhasil direbut oleh Jaka Banduwangka. Resiwara Bisma segera maju menyerang Prabu Cidamuka dan dalam waktu singkat raja Srawantipura itu berhasil ditewaskan.

JAKA BANDUWANGKA MENJADI PUNGGAWA HASTINA

Prabu Kresna Dwipayana berterima kasih atas perjuangan Jaka Banduwangka dalam merebut Raden Pandu dari tangan penculik. Ia pun menawarkan hadiah emas permata kepada pemuda itu. Namun, Jaka Banduwangka menolak dengan sopan karena tujuannya meninggalkan Desa Supa hanyalah ingin mengabdi sebagai prajurit di Kerajaan Hastina.

Prabu Kresna Dwipayana terkesan mendengarnya. Ia pun menerima pengabdian Jaka Banduwangka, bukan sebagai prajurit, melainkan sebagai punggawa Kerajaan Hastina. Jaka Banduwangka sangat berterima kasih atas anugerah ini. Maka, sejak saat itu ia pun berhak memakai nama Arya Banduwangka.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya










Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Santanu Gugur

 No comments   


Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan dengan perkawinan Resi Abyasa dengan kedua janda Prabu Citrawirya, yaitu Dewi Ambika dan Dewi Ambalika, serta pelantikan Resi Abyasa menjadi raja Hastina yang baru, bergelar Prabu Kresna Dwipayana.

Kisah ini saya susun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, dengan sedikit pengembangan.

Kediri, 21 Maret 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Resi Abyasa

PRABU CITRAWIRYA KAMBUH PENYAKITNYA

Prabu Citrawirya di Kerajaan Hastina sedang kambuh penyakitnya. Memang sejak kecil ia sudah sakit-sakitan, tetapi kali ini keadaannya sangat parah. Tidak ada tabib ataupun dukun yang dapat menyembuhkannya. Sudah belasan hari ia terbaring di tempat tidur, sehingga tidak mampu memimpin jalannya pemerintahan. Hal ini membuat Bagawan Santanu merasa harus meninggalkan Padepokan Talkanda untuk duduk kembali di atas takhta demi mewakili putranya tersebut.

Demikianlah, pada suatu hari Bagawan Santanu dihadap para menteri dan punggawa, antara lain Raden Bisma Dewabrata, Patih Basusara, dan Resi Jawalagni. Ketika sedang membahas masalah pemerintahan dan juga bagaimana mengusahakan pengobatan untuk Prabu Citrawirya, tiba-tiba datang seorang raksasa bernama Patih Suksara yang mengaku diutus rajanya, yaitu Prabu Dawaka dari Kerajaan Ekacakra untuk menyampaikan surat.

Bagawan Santanu membaca surat tersebut ternyata berisi permintaan Prabu Dawaka yang ingin menikahi permaisuri Prabu Citrawirya, yaitu Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Permintaan aneh tersebut tentu saja ditolak Bagawan Santanu. Patih Suksara pun mengaku telah diberi wewenang oleh Prabu Dawaka bahwa dirinya harus bisa membawa Dewi Ambika dan Dewi Ambalika, baik itu melalui cara damai maupun cara perang. Bagawan Santanu marah dan mempersilakan Patih Suksara menunggu di luar jika ingin berperang melawan Kerajaan Hastina.

Patih Suksara pun undur diri. Bagawan Santanu lalu memerintahkan putra sulungnya, yaitu Raden Bisma untuk bersiaga mempersiapkan pasukan menghadapi tantangan pihak Ekacakra tersebut. Raden Bisma menyembah mohon restu kemudian keluar melaksanakan perintah.

RADEN BISMA MEMUKUL MUNDUR MUSUH DARI EKACAKRA

Patih Suksara yang kembali ke pasukannya segera meminta pendapat panakawan Kyai Togog dan Bilung. Kedua panakawan itu sebenarnya tidak menyetujui keinginan Prabu Dawaka yang ingin merebut istri orang. Namun sayangnya, Prabu Dawaka tidak mempan dinasihati. Ia sudah bertekad bulat ingin menikahi Dewi Ambika dan Dewi Ambalika hanya karena pernah mimpi bertemu kedua putri tersebut.

Kini, keputusan sudah diambil bahwa pihak Ekacakra akan berperang melawan Kerajaan Hastina. Untuk itu, Kyai Togog dan Bilung menasihati agar Patih Suksara berhati-hati terutama menghadapi Raden Bisma Dewabrata, putra tertua Bagawan Santanu. Menurut kabar yang beredar, Raden Bisma memiliki kesaktian di atas rata-rata manusia karena ia pernah berguru kepada Batara Ramaparasu.

Patih Suksara segera memerintahkan pasukannya maju menyerang begitu melihat Raden Bisma keluar bersama pasukan Hastina. Tidak lama kemudian pertempuran pun meletus di antara kedua pihak. Lewat tengah hari, pihak Ekacakra mulai terdesak kalah. Melihat para prajuritnya banyak yang tewas dan terluka, Patih Suksara pun memerintahkan mereka yang masih hidup untuk mundur meninggalkan Kerajaan Hastina.

RESI ABYASA BERMIMPI BURUK

Sementara itu, Resi Abyasa di Padepokan Ratawu di puncak Gunung Saptaarga bermimpi melihat Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya naik perahu bersama mengarungi samudera, namun kemudian perahu tersebut terbalik dan mereka pun tenggelam digulung ombak.

Resi Abyasa menceritakan mimpinya itu kepada panakawan Kyai Semar. Menurut Kyai Semar, mimpi tersebut adalah pertanda buruk yang mungkin akan menimpa Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya. Resi Abyasa gugup mendengarnya dan lekas-lekas berangkat menuju Kerajaan Hastina untuk menyampaikan hal ini. Perjalanannya pun disertai Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong.

Namun demikian, perjalanan Resi Abyasa agak terhambat karena di tengah jalan ia berpapasan dengan kawanan raksasa dari Ekacakra yang terpisah dari induk pasukan Patih Suksara. Terjadilah pertarungan di antara mereka, yang mana Resi Abyasa berhasil menumpas seluruh prajurit raksasa tersebut.

PRABU DAWAKA MENDATANGI KERAJAAN HASTINA

Prabu Dawaka, raja raksasa di Kerajaan Ekacakra menerima kepulangan Patih Suksara yang melaporkan kegagalannya merebut Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Prabu Dawaka sangat marah menyebut Patih Suksara sebagai raksasa bodoh yang tidak becus bekerja.

Saat itu hadir pula guru dari Prabu Dawaka yang bernama Danghyang Anala, seorang pendeta raksasa berilmu tinggi. Ia menasihati Prabu Dawaka agar menenangkan diri. Memang Kerajaan Hastina memiliki panglima perang andalan yang hebat, bernama Raden Bisma Dewabrata, sehingga wajar jika Patih Suksara dapat dipukul mundur. Untuk itu, lebih baik Prabu Dawaka mengurungkan niatnya untuk merebut kedua istri Prabu Citrawirya.

Prabu Dawaka semakin marah. Bagaimanapun juga ia merasa wajib untuk bisa mewujudkan mimpinya, yaitu memperistri kedua putri dari Giyantipura tersebut. Ia pun mengajak Danghyang Anala berangkat menculik Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Danghyang Anala tidak mampu menolak keinginan muridnya itu. Mereka berdua lalu naik kereta, di mana Patih Suksara diperintah untuk menjadi kusirnya.

KEMATIAN PRABU CITRAWIRYA DAN BAGAWAN SANTANU

Patih Suksara memacu kereta yang dinaiki Prabu Dawaka dan Danghyang Anala sekencang-kencangnya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka telah sampai di Kerajaan Hastina. Prabu Dawaka dan Patih Suksara menunggu di luar istana, sedangkan Danghyang Anala masuk menyusup ke dalam.

Sesampainya di dalam kedaton, Danghyang Anala melihat Prabu Citrawirya terbaring lemah dalam keadaan sakit dengan ditunggui Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Tanpa banyak berpikir, Danghyang Anala langsung membaca mantra dan dari mulutnya tiba-tiba keluar setitik api sebesar kunang-kunang yang melayang dan masuk ke dalam ubun-ubun Prabu Citrawirya. Seketika Prabu Citrawirya pun kejang-kejang dan meninggal dunia. Rupanya Danghyang Anala telah melepaskan ilmu tenung untuk membunuh raja Hastina tersebut.

Dewi Ambika dan Dewi Ambalika menjerit menangisi kematian suami mereka. Danghyang Anala segera menyambar kedua wanita itu dan membawanya lari keluar istana.

Namun demikian, suara tangisan Dewi Ambika dan Dewi Ambalika sempat terdengar oleh Bagawan Santanu. Ia pun berlari mengejar Danghyang Anala yang telah menculik kedua menantunya itu. Danghyang Anala yang sudah sampai di luar istana segera menyerahkan Dewi Ambika dan Dewi Ambalika kepada Prabu Dawaka untuk dinaikkan ke atas kereta, sedangkan dirinya berbalik menghadang Bagawan Santanu.

Maka, terjadilah pertarungan antara Bagawan Santanu melawan Danghyang Anala. Melihat kedua menantunya dibawa kabur Prabu Dawaka, Bagawan Santanu menjadi lengah sehingga terkena senjata Danghyang Anala. Mantan raja Hastina itu pun tewas seketika menyusul putranya.

KEMATIAN DANGHYANG ANALA DAN PRABU DAWAKA

Raden Bisma mendengar keributan dan segera mendatangi tempat pertarungan. Ia terkejut melihat ayahnya sudah tergeletak di tanah karena melawan seorang pendeta raksasa. Tanpa banyak bertanya ia langsung menyerang Danghyang Anala. Terjadilah pertarungan di antara mereka. Danghyang Anala terdesak menghadapi Raden Bisma yang jauh lebih sakti daripada Bagawan Santanu. Pendeta raksasa itu pun memilih kabur melarikan diri menyusul Prabu Dawaka.

Sementara itu, kereta yang ditumpangi Prabu Dawaka dihadang Resi Abyasa dan para panakawan yang sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Hastina. Melihat Dewi Ambika dan Dewi Ambalika menjerit-jerit meminta tolong, Resi Abyasa segera melabrak raja raksasa itu. Terjadilah pertarungan di antara mereka yang berakhir dengan kematian Prabu Dawaka dengan tubuh terkapar di atas kereta.

Tidak lama kemudian datang pula Danghyang Anala yang dikejar Raden Bisma. Keduanya kembali melanjutkan pertarungan. Kali ini Danghyang Anala tidak sempat kabur lagi. Pendeta raksasa itu pun tewas terkapar di tanah terkena senjata Raden Bisma.

PATIH SUKSARA MENYATAKAN TAKLUK

Patih Suksara yang bertindak sebagai kusir kereta menyerahkan diri di hadapan Raden Bisma dan Resi Abyasa. Ia memohon ampun dan mengaku hanyalah sebagai bawahan yang menjalankan tugas. Raden Bisma pun mengampuni patih raksasa itu. Ia mempersilakan Patih Suksara pulang ke Kerajaan Ekacakra dan menjadi raja di sana menggantikan Prabu Dawaka yang sudah tewas, namun selamanya tidak boleh lagi mengganggu Kerajaan Hastina. Patih Suksara berterima kasih dan bersumpah tidak akan pernah mengganggu Kerajaan Hastina lagi. Ia lalu mohon diri sambil membawa jasad Prabu Dawaka dan Danghyang Anala.

Setelah patih raksasa itu pergi, Raden Bisma dan Resi Abyasa lalu membawa Dewi Ambika dan Dewi Ambalika kembali ke istana Hastina.

RESI ABYASA MENJADI RAJA HASTINA

Suasana duka pun menyelubungi Kerajaan Hastina. Dewi Durgandini menangis meratapi kematian suami dan putranya. Kini ia menyesali keserakahannya yang dulu melarang Raden Bisma menjadi raja dan meminta hak atas takhta Hastina untuk diberikan kepada putra-putranya. Kini kedua putranya telah meninggal. Prabu Citranggada telah tewas dibunuh Gandarwa Citranggada, sedangkan Prabu Citrawirya meninggal bersama Bagawan Santanu dibunuh Danghyang Anala.

Setelah masa berkabung usai, diadakanlah perundingan untuk menentukan siapa yang harus menjadi raja Hastina menggantikan Prabu Citrawirya. Dewi Durgandini yang merasa bersalah atas keserakahan di masa lalu kini meminta Resi Bisma membatalkan sumpahnya supaya bisa menjadi raja Hastina dan menikahi kedua janda Prabu Citrawirya. Dengan demikian, garis keturunan Prabu Santanu tidak putus sampai di sini. Raden Bisma menolak hal itu. Bagaimanapun juga ia telah bersumpah disaksikan bumi dan langit untuk tidak akan menjadi raja Hastina serta tidak akan menikah seumur hidup. Baginya, melanggar sumpah adalah dosa besar dan jauh lebih menakutkan daripada mati.

Raden Bisma lalu mengusulkan agar takhta Hastina dipegang Resi Abyasa sekaligus menikahi kedua janda Prabu Citrawirya. Resi Abyasa keberatan karena dirinya adalah orang luar. Namun, Raden Bisma tetap mendesaknya dengan berbagai alasan. Alasan pertama, Resi Abyasa adalah putra kandung Dewi Durgandini, sedangkan dulu telah terjalin kesepakatan bahwa yang berhak menjadi raja Hastina hanya keturunan Dewi Durgandini, bukan Raden Bisma. Saat itu tidak dijelaskan apakah yang dimaksud dengan “keturunan Dewi Durgandini” itu hanya terbatas pada hasil perkawinan dengan Prabu Santanu saja atau tidak. Karena tidak dibatasi, maka Resi Abyasa juga berhak menjadi raja, karena dia adalah putra Dewi Durgandini meskipun dengan Resi Parasara.

Alasan yang kedua, selama ini Bagawan Santanu sudah menganggap Resi Abyasa seperti anak sendiri, sehingga tidak ada salahnya jika Resi Abyasa menjadi raja menggantikan sang ayah. Alasan ketiga, Resi Abyasa telah banyak berjasa kepada negara sehingga rakyat pasti tidak akan keberatan jika ia menjadi pemimpin Kerajaan Hastina.

Demikianlah, terjadi perdebatan alot antara Raden Bisma dengan Resi Abyasa. Akhirnya di antara mereka tercapai kata sepakat. Resi Abyasa bersedia menjadi raja, namun hanya bersifat sementara saja. Kelak jika putra hasil perkawinannya dengan Dewi Ambika atau Dewi Ambalika telah dewasa, maka ia akan mengundurkan diri kembali menjadi pendeta di Gunung Saptaarga. Syarat yang kedua, Raden Bisma harus bersedia mendampinginya sebagai penasihat raja. Raden Bisma pun menerima kedua syarat tersebut dengan senang hati.

Maka, pada hari yang dianggap baik dilaksanakanlah upacara pernikahan antara Resi Abyasa dengan Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Upacara tersebut kemudian dilanjutkan dengan pelantikan Resi Abyasa sebagai raja Hastina yang baru, bergelar Prabu Kresna Dwipayana.

Sementara itu, Raden Bisma dilantik menjadi penasihat raja yang berkedudukan di Padepokan Talkanda, bergelar Resiwara Bisma. Adapun jabatan kepala brahmana Kerajaan Hastina tetap dipegang oleh Resi Jawalagni. Sementara itu, Patih Basusara yang sudah tua mengundurkan diri dari jabatannya sebagai menteri utama. Ia pun digantikan oleh punggawa yang paling cakap, bernama Arya Jayayatna sebagai patih Hastina yang baru.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya







Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Babad Negara Mandura

 No comments   


Kisah ini menceritakan Bagawan Santanu memungut bayi perempuan dan laki-laki yang diberi nama Dewi Krepi dan Raden Krepa yang kemudian diasuh di Kerajaan Hastina. Kisah dilanjutkan dengan peristiwa tujuh raja menyerang Hastina, serta seorang pemuda bernama Raden Surasena yang menjadi menantu Bagawan Santanu dan mendirikan Kerajaan Mandura, bergelar Prabu Kuntiboja.

Kisah ini saya olah berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita.

Kediri, 20 Maret 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


BAGAWAN SANTANU MEMUNGUT BAYI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Bagawan Santanu di Padepokan Talkanda sedang bersamadi mengheningkan cipta. Tiba-tiba datang Batara Narada yang turun dari kahyangan membangunkan dirinya. Bagawan Santanu pun membuka mata dan menyembah hormat kepada dewa tersebut.

Batara Narada datang untuk memberikan perintah kepada Bagawan Santanu agar memungut bayi laki-laki dan perempuan yang saat ini telantar di Hutan Mandalasara. Kedua bayi tersebut adalah putri dan putra Resi Saradwata dari Kerajaan Malawa yang dilahirkan bidadari bernama Batari Janapadi. Setelah melahirkan kedua bayi tersebut, Batari Janapadi kembali ke kahyangan, bersamaan dengan terjadinya peperangan antara Kerajaan Malawa melawan Kerajaan Siwandapura. Prabu Paruwa, kakak Resi Saradwata tewas dalam pertempuran itu, sedangkan Resi Saradwata tertangkap oleh Prabu Bahlika raja Siwandapura (yang tidak lain adalah kakak kandung Bagawan Santanu).

Setelah Prabu Bahlika tewas saat menyerang Kerajaan Wirata, Resi Saradwata bebas dari penjara dan membangun negeri baru bernama Kerajaan Timpurusa. Ia pun menjadi raja di sana dengan bergelar Prabu Purunggaji. Namun demikian, akibat serangan Prabu Bahlika beberapa waktu yang lalu, kedua anaknya yang baru saja lahir hilang entah ke mana. Sebenarnya kedua bayi tersebut diselamatkan oleh dayang istana Malawa yang bernama Ken Yoni dan dibawa bersembunyi di Hutan Mandalasara. Kini kedua bayi tersebut telah berusia dua tahun dan hidup telantar, karena Ken Yoni baru saja meninggal karena sakit.

Maka itu, Batara Narada memerintahkan Bagawan Santanu untuk memungut kedua bayi tersebut dan membawanya ke istana. Menurut ketetapan para dewa, kedua bayi tersebut kelak akan menjadi orang penting di Kerajaan Hastina. Yang laki-laki hendaknya diberi nama Raden Krepa, kelak akan menjadi kepala brahmana di Kerajaan Hastina, sedangkan yang perempuan hendaknya diberi nama Dewi Krepi, kelak akan menjadi istri pujangga Kerajaan Hastina yang bernama Resi Druna di masa depan.

Setelah menyampaikan perintah tersebut, Batara Narada pun undur diri kembali ke kahyangan. Bagawan Santanu memberi hormat lalu berangkat menuju Hutan Mandalasara.

Bagawan Santanu menyusuri hutan tersebut dan akhirnya berhasil menemukan sepasang bayi laki-laki dan perempuan berusia dua tahun yang menangis di dekat mayat seorang wanita, yaitu Ken Yoni. Bagawan Santanu pun menguburkan mayat tersebut, lalu menggendong kedua bayi itu menuju ke Kerajaan Hastina.

KERAJAAN HASTINA DISERANG MUSUH DARI AGLIPURA

Prabu Citrawirya di Kerajaan Hastina dihadap Raden Bisma Dewabrata, Patih Basusara, dan Resi Jawalagni. Mereka sedang membicarakan adanya surat tantangan dari Prabu Sidara, raja Aglipura di bumi utara. Dalam surat itu disebutkan bahwa Prabu Sidara ingin merebut kedua permaisuri Prabu Citrawirya, yaitu Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Tentu saja Prabu Citrawirya menolak permintaan tersebut.

Raden Bisma setuju dan menganggap surat ini adalah bentuk penghinaan terhadap kedaulatan Kerajaan Hastina. Ia pun mohon izin kepada Prabu Citrawirya untuk mempersiapkan pasukan. Prabu Citrawirya mempersilakan dan menyerahkan penyelesaian masalah ini kepada kakak tirinya itu. Raden Bisma lalu undur diri untuk memberi tahu segenap para punggawa agar bersiaga.

Demikianlah, Prabu Sidara yang marah karena permintaannya ditolak segera memimpin pasukan Aglipura maju menyerang istana Hastina. Raden Bisma yang sudah bersiaga menyambut serangan tersebut. Pertempuran pun terjadi di mana Prabu Sidara tewas di tangan Raden Bisma.

Bersamaan dengan itu, Bagawan Santanu datang ke istana Hastina. Ia mengucapkan selamat atas keberhasilan putranya mengamankan kerajaan. Kemudian ia pun menyerahkan kedua bayi yang ia temukan di hutan, yaitu Dewi Krepi dan Raden Krepa supaya menjadi anak asuh Raden Bisma. Dengan senang hati, Raden Bisma pun menerima kedua bayi pemberian ayahnya tersebut.

RESI ABYASA BERTEMU RADEN SURASENA

Sementara itu di Padepokan Ratawu di puncak Gunung Saptaarga, Resi Abyasa bermimpi melihat Kerajaan Hastina dikepung oleh tujuh orang raja. Begitu terbangun, ia segera mengajak para panakawan, yaitu Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong untuk menyampaikan hal ini kepada Prabu Citrawirya dan Raden Bisma.

Dalam perjalanan menuju Kerajaan Hastina, Resi Abyasa dan para panakawan bertemu seorang pemuda yang tersesat. Pemuda itu mengaku bernama Raden Surasena dari Kerajaan Yadawa di tanah seberang. Ia mengaku telah bermimpi mendapat petunjuk dewata bahwa ia akan mendapat kemuliaan di Tanah Jawa, bukan di negerinya sendiri. Namun demikian, kemuliaan tersebut hanya dapat dicapai apabila dirinya mengabdi kepada Bagawan Santanu di Kerajaan Hastina. Maka, Raden Surasena pun berlayar ke Tanah Jawa, namun ia kebingungan tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh.

Resi Abyasa melihat Raden Surasena seorang yang jujur dan dapat dipercaya. Karena ia sendiri hendak menuju ke Kerajaan Hastina, maka Raden Surasena pun diajak ikut serta bersamanya. Raden Surasena sangat berterima kasih. Mereka lalu bersama-sama menuju ke sana.

BAGAWAN SANTANU MEMINTA BANTUAN PARA SEKUTU

Resi Abyasa dan Raden Surasena telah tiba di Kerajaan Hastina. Mereka disambut oleh Bagawan Santanu, Prabu Citrawirya, dan Raden Bisma Dewabrata. Mula-mula Raden Surasena yang lebih dulu menyampaikan niatnya untuk mengabdi kepada Bagawan Santanu. Karena Bagawan Santanu sudah menjadi pendeta dan tidak lagi mengurusi kenegaraan, maka Raden Surasena pun dipersilakan mengabdi kepada Prabu Citrawirya saja. Prabu Citrawirya menerima Raden Surasena dan mengangkatnya sebagai punggawa yang membantu tugas-tugas Raden Bisma.

Resi Abyasa lalu menceritakan mimpinya, yaitu ia melihat Kerajaan Hastina dikepung tujuh orang raja. Prabu Citrawirya tenang-tenang saja mendengarnya karena ia yakin kesaktian Raden Bisma cukup untuk mengatasi ancaman tersebut. Namun, Bagawan Santanu dan Raden Bisma tidak setuju. Sebuah perang berbeda dengan pertarungan, sehingga tidak cukup jika hanya mengandalkan kesaktian satu orang saja. Untuk itu, Bagawan Santanu menyarankan agar Kerajaan Hastina segera meminta bantuan kepada para raja sekutu, antara lain Kerajaan Wirata dan Mandraka. Prabu Citrawirya mematuhi saran sang ayah. Ia lalu mengutus Patih Basusara untuk menyebarkan undangan.

TUJUH RAJA MENYERANG KERAJAAN HASTINA

Beberapa waktu kemudian, mimpi Resi Abyasa menjadi kenyataan. Kerajaan Hastina diserang oleh tujuh raja bersama pasukannya masing-masing. Ketujuh raja itu berasal dari Kerajaan Sindu, Tunggulmalaya, Trigarta, Kalingga, Dasarna, Cedi, dan Gardapura. Mereka datang untuk membalas kematian Prabu Sidara raja Aglipura yang telah tewas di tangan Raden Bisma tempo hari.

Ketujuh raja itu sudah mempersiapkan serangan dengan matang, namun mereka tidak menyangka jika Kerajaan Hastina ternyata sudah bersiaga dengan dibantu pasukan dari Wirata dan Mandraka. Perang besar pun terjadi. Ketujuh raja tersebut mengalami kekalahan telak. Lima di antara mereka tewas terbunuh, sedangkan dua raja sisanya berhasil ditangkap.

Dua orang raja yang tertangkap itu adalah Prabu Sapwani dari Kerajaan Sindu dan Prabu Karditya dari Kerajaan Tunggulmalaya. Prabu Sapwani dikalahkan oleh Raden Bisma, sedangkan Prabu Karditya dikalahkan oleh Raden Surasena. Mereka lalu dihadapkan kepada Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya untuk mendapatkan hukuman.

Bagawan Santanu menyarankan agar kedua raja itu dibebaskan saja dan dipersilakan pulang ke negeri masing-masing. Prabu Citrawirya menyetujui usulan sang ayah. Hal ini membuat Prabu Sapwani dan Prabu Karditya sangat terkesan dan mengucapkan terima kasih. Mereka pun bersumpah akan selalu setia kepada Kerajaan Hastina.

RADEN SURASENA MENJADI MENANTU BAGAWAN SANTANU

Bagawan Santanu senang melihat kehebatan dan keberanian Raden Surasena dalam pertempuran tadi. Ia pun berniat menjadikannya sebagai menantu, yaitu sebagai suami putri bungsunya yang bernama Dewi Bandadari. Namun demikian, ia lebih dulu ingin mengetahui asal usul dan silsilah pemuda tersebut.

Raden Surasena pun mengaku bahwa dirinya masih keturunan Prabu Sri Rama, raja Pancawati di tanah seberang. Prabu Sri Rama memiliki dua orang putra, yaitu Prabu Batlawa yang menjadi raja Ayodya, dan Prabu Kusiya yang menjadi raja Mantili. Setelah Prabu Batlawa meninggal, ia digantikan putranya yang bergelar Prabu Kunta. Kerajaan Ayodya pun dipindahkan ke Yadawa. Setelah Prabu Kunta meninggal, yang menjadi raja Yadawa adalah putranya yang bergelar Prabu Boja. Kemudian Prabu Boja digantikan putranya yang bergelar Prabu Maruta. Lalu Prabu Maruta digantikan putranya yang bergelar Prabu Iswara, dan Prabu Iswara berputra Prabu Yadu. Setelah meninggal, Prabu Yadu digantikan putranya yang bergelar Prabu Wasukunti sebagai raja Yadawa.

Raden Surasena adalah putra dari Prabu Wasukunti. Pada suatu malam ia bermimpi bahwa kemuliaannya bukan diperoleh di Kerajaan Yadawa, melainkan di Tanah Jawa. Sebagai sarananya, ia harus mengabdi kepada Bagawan Santanu di Kerajaan Hastina.

Bagawan Santanu mendengar dengan seksama dan ia semakin mantap menjadikan Raden Surasena sebagai menantu. Maka, pada hari yang dianggap baik dilaksanakanlah upacara pernikahan antara Raden Surasena dengan Dewi Bandadari di istana Kerajaan Hastina.

RADEN SURASENA MEMBANGUN KERAJAAN MANDURA

Beberapa bulan kemudian, Bagawan Santanu mewujudkan impian menantu barunya. Ia memberikan Hutan Boja kepada Raden Surasena supaya dibuka menjadi kerajaan baru yang merdeka, tidak di bawah Hastina. Raden Surasena dan Dewi Bandadari berterima kasih atas anugerah dari sang ayah, lalu mereka pun segera berangkat dengan dikawal para prajurit secukupnya.

Demikianlah, di atas Hutan Boja kini telah berdiri sebuah negeri baru yang bernama Kerajaan Mandura. Raden Surasena menjadi raja negeri tersebut dengan bergelar Prabu Kuntiboja.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya











Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ▼  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ▼  March (5)
      • Pandu Lahir
      • Santanu Gugur
      • Babad Negara Mandura
      • Babad Pancala
      • Lagna - Lagni
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja