Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Antasena Takon Bapa

 No comments   



Kisah ini menceritakan kemunculan Raden Antasena, yaitu putra Arya Wrekodara yang lahir dari Dewi Urangayu, yang saya gabungkan pula dengan kisah perkawinan Raden Antareja dengan Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa.

Kisah ini saya olah dari sumber buku Ensiklopedia Wayang Purwa karya Rio Sudibyoprono, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, November 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

Raden Antasena.

------------------------------ ooo ------------------------------

BATARA BARUNA DISERANG MUSUH BERNAMA PRABU MINALODRA

Di Kahyangan Jonggringsalaka, Batara Guru sedang memimpin pertemuan para dewa yang dihadiri Batara Narada, Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Bayu, Batara Indra, dan Batara Panyarikan. Dalam pertemuan tersebut mereka membicarakan adanya gara-gara di alam manusia, yaitu putra Arya Wrekodara yang lahir dari Dewi Urangayu, sudah berusia dua puluh tahun tetapi masih berwujud bayi. Batara Guru meramalkan bayi tersebut kelak akan menjadi kesatria pembela kebenaran yang memiliki kesaktian luar biasa, serta menjadi lambang kejujuran.

Tidak lama kemudian datanglah Batara Baruna yang melaporkan adanya musuh menyerang Kahyangan Dasarsamodra. Batara Baruna adalah dewa yang bertugas memimpin dan mengatur para binatang di dalam lautan. Tiba-tiba ia diserang seorang raja raksasa bersisik ikan bernama Prabu Minalodra yang bermaksud merebut kedudukannya tersebut. Tentu saja Batara Baruna melawan karena memimpin lautan adalah amanah yang diberikan Batara Guru kepadanya. Tak disangka, Prabu Minalodra ternyata begitu perkasa. Raja raksasa itu mampu mengalahkan dan mengusir Batara Baruna dari Kahyangan Dasarsamodra.

Batara Baruna pun datang ke Kahyangan Jonggringsalaka untuk memohon bantuan Batara Guru agar menghukum Prabu Minalodra beserta pasukannya. Batara Guru menerima laporan tersebut dan segera mengirim Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Bayu, dan Batara Indra untuk menumpas Prabu Minalodra. Batara Sambu dan adik-adiknya mematuhi dan segera mohon pamit menjalankan tugas.

PARA DEWA BERTEMPUR MELAWAN PRABU MINALODRA

Prabu Minalodra berwujud raksasa dengan kulit dipenuhi sisik, di mana ia dapat hidup di dalam air dan berbicara dengan berbagai macam hewan laut. Dengan berbekal kemampuan tersebut, ia bertekad merebut kedudukan Batara Baruna sebagai penguasa bawah laut. Usahanya pun berhasil. Prabu Minalodra berhasil mengalahkan Batara Baruna dan mengusirnya pergi dari Kahyangan Dasarsamodra.

Kini Batara Baruna telah kembali lagi dengan membawa bala bantuan dari Kahyangan Jonggringsalaka. Mereka adalah putra-putra Batara Guru, yaitu Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Indra, dan Batara Bayu. Keempatnya segera mengepung Prabu Minalodra dan memaksanya untuk menyerahkan diri. Prabu Minalodra sama sekali tidak takut. Ia pun menghadapi keempat dewa tersebut bersama pasukannya yang setia.

Maka, terjadilah pertempuran antara keempat dewa melawan Prabu Minalodra dan pasukannya. Para dewa tidak menyangka ternyata Prabu Minalodra begitu tangguh dan perkasa. Mereka merasa kesulitan menghadapi raja raksasa tersebut. Merasa tidak mungkin menang, Batara Sambu pun mengajak adik-adiknya untuk mundur kembali ke Kahyangan Jonggringsalaka.

BATARA GURU MEMERINTAHKAN BATARA NARADA MENJEMPUT JAGO KAHYANGAN

Berita kekalahan para dewa telah terdengar oleh Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka. Raja para dewa itu lalu mengheningkan cipta untuk melihat masa depan. Setelah mendapatkan jawaban, ia pun menyampaikannya kepada Batara Narada yang bersiap menunggu perintah.

Batara Guru berkata bahwa jago kahyangan yang bisa mengalahkan Prabu Minalodra adalah Raden Antasena, putra Arya Wrekodara yang lahir dari Dewi Urangayu di Padepokan Kisiknarmada. Batara Narada heran karena Raden Antasena yang dimaksud itu adalah si bayi berusia dua puluh tahun yang tadi dibicarakan bersama. Batara Guru menjawab memang bayi tersebut yang ia lihat di masa depan mampu menumpas Prabu Minalodra. Ini bukan pertama kalinya dewata menjadikan bayi sebagai jago kahyangan. Bukankah dulu sewaktu Raden Gatutkaca masih bayi juga dijadikan jago untuk menumpas Prabu Kalapracona dan Patih Sekiputantra?

Batara Narada menerima petunjuk tersebut. Ia kemudian mohon pamit menuju Padepokan Kisiknarmada untuk menjemput si bayi Raden Antasena.

BATARA NARADA MENCULIK RADEN ANTASENA

Di Padepokan Kisiknarmada, Resi Mintuna sedang menghibur putrinya, yaitu Dewi Urangayu yang setiap hari selalu bersedih menangisi keadaan putranya. Sudah dua puluh tahun lamanya Raden Antasena lahir ke dunia tetapi sampai hari ini masih juga berwujud bayi. Sebenarnya Dewi Urangayu ingin melaporkan hal itu kepada sang suami di Kesatrian Jodipati, tetapi ia takut Arya Wrekodara tidak mau mengakui anaknya yang menderita kelainan tersebut.

Resi Mintuna selalu menghibur putrinya bahwa apa yang dialami Raden Antasena pasti mengandung hikmah pelajaran, dan ia yakin tidak lama lagi cucunya tersebut akan mendapat pertolongan dari dewata. Lagipula Raden Antasena ini bayi yang unik. Sejak dilahirkan, setiap hari selalu menangis dan hanya bisa diam apabila sudah direndam di dalam air laut. Demikianlah, setiap hari selama dua puluh tahun ini si bayi Raden Antasena selalu direndam di dalam air laut mulai matahari terbit hingga terbenam baru dientas kembali.

Pagi itu Raden Antasena kembali menangis keras, pertanda ia ingin direndam di dalam air laut. Seperti kebiasaan di hari-hari sebelumnya, Dewi Urangayu pun membawanya menuju pantai dengan diantar Resi Mintuna. Sesampainya di sana, Raden Antasena segera direndam di dalam air laut dan ia tidak lagi menangis seperti tadi.

Tidak lama kemudian Batara Narada datang di pantai tersebut tanpa memperlihatkan diri. Ia mengamati bayi Raden Antasena yang sedang berdiam diri di dalam air laut, lalu mengambilnya dan melesat pergi menuju Kahyangan Dasarsamodra. Dewi Urangayu terkejut dan menjerit karena putranya mendadak lenyap. Namun, Resi Mintuna berpenglihatan tajam. Ia dapat melihat kelebat Batara Narada dan segera pergi mengejarnya.

RADEN ANTASENA BERTARUNG MELAWAN PRABU MINALODRA

Prabu Minalodra di Kahyangan Dasarsamodra sedang berpesta merayakan kemenangannya memukul mundur para dewa putra Batara Guru. Tiba-tiba terdengar suara Batara Narada berteriak memanggil-manggil di luar istana. Prabu Minalodra marah dan keluar untuk menghadapinya.

Batara Narada berkata Prabu Minalodra jangan gembira dulu. Para dewa bukannya kalah, tetapi sengaja mengalah karena melawan makhluk dunia harus menggunakan jago sesama makhluk dunia pula. Prabu Minalodra bertanya apakah Batara Narada datang membawa jago tersebut. Batara Narada pun menunjukkan bayi laki-laki yang ada di gendongannya. Meskipun masih bayi, namun ia sudah berusia dua puluh tahun.

Prabu Minalodra tertawa menyebut Batara Narada sedang bercanda. Mana ada manusia sudah berusia dua puluh tahun tetapi masih berwujud bayi? Batara Narada berkata Prabu Minalodra tidak usah mengejek kalau hanya untuk menutupi rasa takutnya. Prabu Minalodra tersinggung dan segera menyerang Batara Narada. Batara Narada pun melemparkan bayi dalam gendongannya ke arah kepala Prabu Minalodra.

Tubuh si bayi Raden Antasena membentur kepala Prabu Minalodra hingga membuatnya merasa pusing. Anehnya, Raden Antasena tidak mati, tetapi tumbuh menjadi anak kecil yang sudah bisa berjalan. Prabu Minalodra merasa heran. Ia pun memukul dan menendang tubuh Raden Antasena. Sungguh ajaib, semakin dipukul tubuh Raden Antasena semakin bertambah besar, hingga akhirnya menjadi pemuda dewasa sesuai dengan usianya yang sudah dua puluh tahun.

Prabu Minalodra semakin penasaran. Ia pun mengamuk menyerang Raden Antasena. Raden Antasena melawan sebisanya. Ia memiliki kesaktian alamiah yang dengan sendirinya dapat menghadapi semua serangan Prabu Minalodra. Hingga akhirnya, Prabu Minalodra pun tewas kehilangan nyawa. Jasadnya musnah, dan seluruh kesaktiannya berpindah ke dalam diri Raden Antasena.

BATARA BARUNA MENGANGKAT RADEN ANTASENA SEBAGAI CUCU

Raden Antasena terlihat kebingunan dan Batara Narada pun mendatangi untuk menjelaskan siapa dirinya. Tidak lama kemudian datanglah Resi Mintuna. Batara Narada meminta maaf karena telah meminjam Raden Antasena untuk dijadikan sebagai jago para dewa. Resi Mintuna justru berterima kasih, karena cucunya kini telah tumbuh dewasa berkat bertarung melawan Prabu Minalodra tadi.

Raden Antasena pun memberi salam kepada Resi Mintuna. Meskipun selama dua puluh tahun ini ia berwujud bayi, namun dirinya dapat mengenali wajah kakek dan ibunya. Resi Mintuna merasa senang dan memeluk cucunya tersebut. Ketika hendak dibawa pulang ke Padepokan Kisiknarmada, tiba-tiba Batara Guru datang bersama Batara Baruna.

Batara Guru berterima kasih atas bantuan Resi Mintuna dan Raden Antasena dalam mengalahkan Prabu Minalodra. Sebagai ungkapan terima kasih, Batara Guru pun memberikan hadiah kepada Raden Antasena berupa Cupu Madusena yang berisi air kehidupan Tirtamarta Kamandanu. Batara Guru juga mengangkat Resi Mintuna sebagai dewa pelindung ikan air tawar, berdampingan dengan Batara Baruna yang merupakan dewa pelindung ikan air laut. Resi Mintuna merasa tidak pantas karena ia tidak membantu apa-apa. Namun, Batara Guru sudah memutuskan demikian, karena ia menilai tapa brata Resi Mintuna selama ini sudah mencapai derajat dewa. Maka, sejak hari itu Resi Mintuna boleh disebut dengan gelar Batara Mintuna.

Batara Baruna juga berterima kasih karena bisa kembali bertakhta di Kahyangan Dasarsamodra. Ia pun mengangkat Batara Mintuna sebagai saudara, dan menjadikan Raden Antasena sebagai cucu. Maka, sejak hari itu Raden Antasena pun disebut pula sebagai cucu Batara Baruna.

RADEN ANTASENA INGIN MENCARI AYAHNYA

Batara Guru menjelaskan bahwa selama dua puluh tahun ini, Raden Antasena dalam wujud bayi selalu menangis minta direndam di dalam air laut mulai pagi hingga senja. Kelihatannya ini seperti berendam biasa, tetapi sesungguhnya apa yang dilakukan Raden Antasena adalah tapa brata keras, di mana ia menyerap intisari kekuatan air agar merasuk ke dalam dirinya. Hal ini membuat Raden Antasena menjadi manusia sakti alamiah yang tidak terkalahkan. Selain itu, meskipun kini sudah berubah menjadi pria dewasa, namun sifat-sifat bayi yang polos dan lugu tetap terbawa, membuat Raden Antasena menjadi pribadi yang jujur apa adanya, tidak bisa berpura-pura, juga tidak mengenal basa-basi duniawi.

Batara Mintuna bersyukur atas suratan takdir yang dialami cucunya. Kelainan yang dialami Raden Antasena ternyata mengandung hikmah yang sedemikian besar. Ia pun mohon pamit untuk mengajak Raden Antasena pulang ke Padepokan Kisiknarmada. Namun, Raden Antasena menolak. Kini dirinya sudah bukan bayi lagi yang ke sana kemari dalam gendongan ibu. Sebagai seorang anak, tentunya ia ingin bertemu dengan ayah kandungnya. Meskipun selama ini berwujud bayi, namun ia dapat mendengar percakapan ibu dan kakeknya, bahwa ayah kandungnya bernama Arya Wrekodara dari Kesatrian Jodipati di Kerajaan Amarta. Untuk itu, Raden Antasena pun mohon pamit ingin bertemu dengan kesatria Pandawa nomor dua tersebut. Kelak apabila ia sudah bertemu dengan Arya Wrekodara, barulah dirinya pulang ke Padepokan Kisiknarmada untuk berkumpul kembali dengan sang ibu, yaitu Dewi Urangayu.

Batara Mintuna dapat mengerti perasaan cucunya itu, demikian pula Batara Guru, Batara Narada, dan Batara Baruna. Setelah mendapatkan petunjuk tentang arah mana yang harus ditempuh untuk menuju Kerajaan Amarta, Raden Antasena pun mohon pamit berangkat ke sana.

PRABU KRESNA MENDAPAT LAPORAN TENTANG HILANGNYA PARA PANDAWA

Sementara itu di Kerajaan Dwarawati, Prabu Kresna Wasudewa sedang memimpin pertemuan yang dihadiri Raden Samba, Arya Setyaki, dan Patih Udawa. Tiba-tiba datanglah Raden Abimanyu dengan wajah tegang seperti ada masalah besar. Dalam kunjungannya itu, Raden Abimanyu melapor bahwa kelima Pandawa telah hilang diculik orang.

Awal mulanya ialah, Kerajaan Amarta diserang musuh dari Kerajaan Girikadasar yang dipimpin Prabu Ganggatrimuka, yang ingin menangkap kelima Pandawa untuk dijadikan tumbal bagi keselamatan negaranya. Dalam pertempuran itu, pasukan Girikadasar dapat dipukul mundur oleh Arya Wrekodara dan kedua putranya, yaitu Raden Antareja dan Raden Gatutkaca. Namun, pada malam harinya tiba-tiba Pandawa Lima lenyap dari istana. Para putra Pandawa menduga mereka pasti diculik oleh Prabu Ganggatrimuka dengan menggunakan Aji Sirep.

Prabu Kresna menerima laporan tersebut dan kemudian mengheningkan cipta memohon petunjuk dewata. Sesaat kemudian ia membuka mata dan menjelaskan bahwa memang benar Pandawa Lima saat ini berada dalam penjara Kerajaan Girikadasar sebagai tawanan Prabu Ganggatrimuka. Bulan purnama besok, mereka berlima akan disembelih sebagai tumbal bagi keselamatan negara.

Raden Abimanyu ngeri mendengarnya. Ia pun memohon bantuan Prabu Kresna agar sudi menolong para Pandawa. Prabu Kresna menjawab dirinya tidak ditakdirkan untuk melawan Prabu Ganggatrimuka dan membebaskan para Pandawa. Menurut penerawangannya, yang bisa membebaskan Pandawa Lima adalah putra Arya Wrekodara.

Mendengar itu, Raden Abimanyu merasa mendapat pencerahan. Ia segera mohon pamit kepada Prabu Kresna untuk melaporkan hal ini kepada saudara-saudaranya yang lain. Setelah Raden Abimanyu pergi, Prabu Kresna merasa penasaran dan segera mengikutinya dari belakang secara diam-diam.

RADEN ANTASENA MELERAI KEDUA KAKAKNYA

Raden Abimanyu kembali ke perbatasan di mana saudara-saudaranya telah menunggu, yaitu Raden Pancawala, Raden Antareja, Raden Gatutkaca, Raden Bratalaras, dan Raden Sumitra. Ia segera menyampaikan petunjuk yang telah diberikan Prabu Kresna, bahwa yang bisa mengalahkan Prabu Ganggatrimuka dan membebaskan para Pandawa adalah putra Arya Wrekodara. Raden Pancawala gembira mendengarnya dan segera menyerahkan kepemimpinan kepada Raden Antareja atau Raden Gatutkaca.

Raden Antareja selaku putra sulung Arya Wrekodara, merasa dirinya lebih berhak menjadi pemimpin upaya penyelamatan para Pandawa. Raden Gatutkaca menentang hal itu. Petunjuk dari Prabu Kresna menyebut tentang putra Arya Wrekodara, dan ini tidak terbatas pada anak sulung saja. Meskipun usia Raden Antareja lebih tua, tetapi Raden Gatutkaca lebih dulu menjadi punggawa Kerajaan Amarta. Dengan kata lain, pengalaman berperang Raden Gatutkaca jauh lebih banyak daripada kakaknya itu.

Raden Antareja tidak mau mengalah, begitu pula dengan Raden Gatutkaca. Keduanya sama-sama berebut siapa yang berhak menjadi pemimpin penyelamatan para Pandawa. Sudah beberapa kali kakak beradik ini terlibat pertarungan tetapi belum bisa menentukan siapa yang menang, siapa yang kalah. Kali ini mereka kembali bertarung, demi untuk menentukan siapa yang lebih berhak menjadi pemimpin rombongan.

Raden Pancawala, Raden Abimanyu, Raden Bratalaras, dan Raden Sumitra berusaha melerai kedua sepupu mereka itu, namun keduanya sudah bertarung sengit, berusaha saling mengalahkan. Kadang-kadang Raden Antareja menarik tubuh Raden Gatutkaca masuk ke dalam tanah, kadang-kadang Raden Gatutkaca menyambar tubuh Raden Antareja naik ke angkasa, seperti pertarungan yang sudah-sudah.

Pada saat itulah tiba-tiba muncul Raden Antasena menerjang mereka. Dari kepalanya muncul sepasang sungut udang yang memanjang, dan masing-masing menyengat tubuh Raden Antareja dan Raden Gatutkaca. Begitu tersengat sungut di kepala Raden Antasena tersebut, kedua bersaudara itu langsung jatuh terduduk dengan tubuh lemas. Keduanya tidak menyangka ada seorang pemuda berwajah lugu yang bisa menghentikan pertarungan mereka. Raden Antareja dan Raden Gatutkaca ingin bangkit berdiri tetapi kaki mereka terasa lemas tidak bertenaga sama sekali.

Raden Antasena berkata, sungguh memalukan dua punggawa Kerajaan Amarta yang masih kakak beradik harus bertarung sendiri hanya demi memperebutkan kedudukan sebagai pemimpin. Apa untungnya mereka menjadi pemimpin jika harus melukai saudara sendiri? Apa gunanya memamerkan jasa di hadapan para Pandawa, jika harus menginjak saudara sendiri? Bukankah lebih baik mereka menyisihkan ego dan meraih kemenangan dengan cara bekerja sama, bukan dengan cara bersaing saling menjatuhkan?

Raden Antareja dan Raden Gatutkaca merasa malu mendengarnya. Raden Gatutkaca lalu mempersilakan Raden Antareja saja yang menjadi pemimpin pasukan. Namun, Raden Antareja menolak karena Raden Gatutkaca jauh lebih berpengalaman sebagai punggawa daripada dirinya. Kedua bersaudara itu kembali bertengkar, tapi kali ini mereka saling berebut kalah, bukan saling berebut menang.

Raden Antasena tertawa melihat keduanya. Berdiri saja mereka tidak sanggup tapi hendak menyelamatkan para Pandawa. Urusan memimpin pasukan biarlah dirinya saja yang memimpin. Raden Antareja dan Raden Gatutkaca tidak terima karena ada pemuda polos berwajah bodoh hendak memimpin mereka. Namun, mengingat kesaktian Raden Antasena yang bisa melumpuhkan mereka hanya dengan sekali sengat, keduanya merasa gentar untuk membantah.

RADEN ANTASENA MENJADI PEMIMPIN UPAYA PEMBEBASAN PARA PANDAWA

Pada saat itulah Prabu Kresna muncul menampakkan diri. Sejak tadi ia mengintai pertarungan antara Raden Antareja dan Raden Gatutkaca, hingga kemunculan Raden Antasena yang berhasil melumpuhkan mereka hanya dengan sekali sengat. Prabu Kresna lalu mengamat-amati penampilan Raden Antasena dan ia pun menebak bahwa pemuda itu adalah putra Arya Wrekodara. Raden Antareja, Raden Gatutkaca, dan yang lain terkejut tidak percaya pada keterangan tersebut.

Prabu Kresna pun menjelaskan bahwa Arya Wrekodara memiliki tiga orang istri. Yang pertama adalah Dewi Nagagini, yaitu ibu Raden Antareja; yang kedua adalah Dewi Arimbi, yaitu ibu Raden Gatutkaca. Adapun istri yang ketiga bernama Dewi Urangayu, dan tentunya wanita itulah yang melahirkan Raden Antasena.

Raden Antasena membenarkan, bahwa dirinya memang putra Arya Wrekodara yang lahir dari Dewi Urangayu. Tadinya ia menuju Kerajaan Amarta namun ternyata di sana tidak bertemu para Pandawa. Raden Antasena lalu ditangkap Patih Tambakganggeng yang sedang meronda karena dikira penyusup yang hendak berbuat onar. Namun, dirinya justru berbalik meringkus patih Kerajaan Amarta tersebut. Dari keterangan Patih Tambakganggeng, ternyata Pandawa Lima hilang diculik Prabu Ganggatrimuka, dan saat ini para putra mereka telah berangkat untuk upaya penyelamatan. Raden Antasena lalu membebaskan Patih Tambakganggeng dan bergegas menyusul hingga akhirnya melihat Raden Antareja dan Raden Gatutkaca sedang berkelahi.

Raden Antareja dan Raden Gatutkaca saling pandang kemudian berusaha bangkit untuk memeluk Raden Antasena. Namun, kaki mereka masih lemas tiada tenaga sama sekali untuk berdiri. Raden Antasena tertawa dan kemudian kembali menyengat kedua kakaknya tersebut. Begitu tersengat untuk yang kedua kalinya, seketika tenaga Raden Antareja dan Raden Gatutkaca kembali pulih. Mereka berdua lalu bersamaan memeluk Raden Antasena. Keduanya juga setuju biarlah Raden Antasena saja yang memimpin perjuangan membebaskan para Pandawa.

Raden Pancawala, Raden Abimanyu, dan yang lain pun mendukung Raden Antasena sebagai pemimpin perjalanan. Karena semuanya sudah sepakat, Raden Antasena pun meminta restu kepada Prabu Kresna, lalu berangkat bersama saudara-saudaranya tersebut menuju Kerajaan Girikadasar.

PRABU GANGGATRIMUKA MENERIMA KUNJUNGAN KAKAKNYA

Sementara itu di Kerajaan Girikadasar, Prabu Ganggatrimuka menerima kunjungan kakaknya yang bernama Prabu Ganggapranawa dari Kerajaan Tawingnarmada. Prabu Ganggapranawa tampak datang bersama putri kandungnya yang bernama Dewi Ganggi.

Setelah saling memberi salam, Prabu Ganggapranawa pun bertanya apakah benar Prabu Ganggatrimuka telah menyekap Pandawa Lima. Prabu Ganggatrimuka membenarkan hal itu. Ia memang telah menculik para Pandawa menggunakan Aji Sirep dan menyekap mereka di dalam Konggedah. Hal ini karena Kerajaan Girikadasar sedang dilanda wabah, dan menurut petunjuk dari Batara Kala yang disembah Prabu Ganggatrimuka, bahwa wabah tersebut akan sirna apabila Pandawa Lima disekap dan disembelih sebagai korban.

Prabu Ganggapranawa merasa prihatin mendengarnya. Sejak awal ia tidak pernah setuju adiknya itu memuja Batara Kala yang mengajarkan agama sesat. Lebih baik Prabu Ganggatrimuka kembali ke jalan yang benar, dan membebaskan para Pandawa dari sekapan. Prabu Ganggatrimuka tidak terima. Ia tetap bersikeras mengorbankan nyawa para Pandawa dan mempersembahkan darahnya kepada Batara Kala.

Tiba-tiba seorang punggawa masuk dan melaporkan tentang putra-putra Pandawa yang menyerang Kerajaan Girikadasar. Prabu Ganggatrimuka marah dan segera keluar menghadapi serangan tersebut.

RADEN ANTASENA MEMBEBASKAN PARA PANDAWA

Sesungguhnya serangan para putra Pandawa itu hanyalah pancingan belaka. Raden Antasena telah menyusun siasat untuk membebaskan para Pandawa. Ia menugasi Raden Antareja, Raden Gatutkaca, Raden Abimanyu, Raden Bratalaras, dan Raden Sumitra untuk membuat kekacauan agar Prabu Ganggatrimuka keluar menghadapi mereka. Sementara itu, Raden Antasena dan Raden Pancawala menyusup melalui istana belakang untuk mencari di mana para Pandawa disekap. Setelah mencari sekian lama, mereka akhirnya melihat Pandawa Lima sedang dikurung dalam sebuah gedung kaca yang sangat tebal. Kelimanya pun tampak terbaring lemas karena kehabisan udara.

Raden Antasena mengheningkan cipta mengumpulkan kekuatan. Sepasang sungutnya kembali memanjang dan menyengat gedung kaca tersebut. Gedung kaca ini adalah pusaka Prabu Ganggatrimuka yang bernama Konggedah. Tidak ada satu pun senjata yang bisa memecahkannya. Namun, begitu tersengat oleh sungut Raden Antasena, gedung kaca tersebut menjadi hancur berkeping-keping.

Raden Antasena dan Raden Pancawala menggotong keluar para Pandawa yang sudah lemas tak sadarkan diri. Raden Antasena lalu membuka Cupu Madusena dan memercikkan air di dalamnya ke tubuh Pandawa Lima. Seketika para Pandawa pun membuka mata. Raden Pancawala sangat gembira dan memperkenalkan Raden Antasena kepada mereka.

Prabu Puntadewa sangat bersyukur dan berterima kasih atas pertolongan Raden Antasena. Namun, Arya Wrekodara tidak bisa mengakui anaknya begitu saja. Ia bersedia menerima Raden Antasena sebagai putra asalkan bisa mengalahkan Prabu Ganggatrimuka. Mendengar itu, Raden Antasena segera mohon pamit menuju ke tempat pertempuran.

PRABU GANGGATRIMUKA DIKALAHKAN RADEN ANTASENA

Sementara itu, Prabu Ganggatrimuka dan pasukannya sedang bertempur melawan Raden Antareja, Raden Gatutkaca, dan yang lain. Prabu Ganggatrimuka sendiri sangat kuat dan sulit dikalahkan. Raden Antareja dan saudara-saudaranya sudah mengerahkan segala cara, namun tidak juga berhasil mengalahkan raja Girikadasar tersebut.

Pada saat itulah Raden Antasena muncul. Dengan sekali pukul ia berhasil membuat Prabu Ganggatrimuka roboh dengan kepala pecah. Raden Antareja, Raden Gatutkaca, dan yang lain kagum melihat kesaktian Raden Antasena yang luar biasa itu. Dari luar terlihat lugu dan polos, dengan wajah bodoh, namun ternyata menyimpan kehebatan yang mengagumkan.

Prabu Ganggapranawa tidak terima melihat adiknya tewas. Ia pun maju menyerang para putra Pandawa tersebut. Raden Antareja segera maju menghadapi. Setelah bertarung cukup lama, ia akhirnya berhasil mendesak raja tersebut. Prabu Ganggapranawa terkena pukulannya dan roboh di tanah. Ketika Raden Antareja hendak memukulnya lagi, tiba-tiba Dewi Ganggi muncul menghalangi.

Dewi Ganggi memohon agar ayahnya diampuni. Sebagai ganti, biarlah dirinya saja yang dihukum mati oleh Raden Antareja. Namun, ia juga menjelaskan bahwa ayahnya sama sekali tidak terlibat kejahatan Prabu Ganggatrimuka. Dalam hal ini Prabu Ganggapranawa justru menasihati Prabu Ganggatrimuka agar membebaskan para Pandawa, namun adiknya itu tetap bersikeras memuja Batara Kala.

Raden Antareja gemetar melihat kecantikan Dewi Ganggi. Rupanya ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Prabu Kresna dan para Pandawa muncul. Prabu Ganggapranawa pun bangkit dan meminta maaf atas dosa-dosa adiknya yang kini telah tewas. Prabu Puntadewa mewakili para Pandawa menerima maaf tersebut dan mengajak Prabu Ganggapranawa duduk bersama.

Raden Arjuna yang banyak berpengalaman dalam urusan cinta dapat melihat bahwa Raden Antareja telah jatuh cinta kepada Dewi Ganggi. Ia pun meminta Arya Wrekodara agar berbesan dengan Prabu Ganggapranawa. Arya Wrekodara setuju, mengingat Raden Gatutkaca sudah lebih dulu menikah, maka sangat pantas apabila Raden Antareja selaku putra sulung juga mendapatkan istri.

Mendengar itu, Prabu Ganggapranawa sangat bahagia karena dirinya bisa berbesan dengan para Pandawa. Ia pun menanyai Dewi Ganggi apakah bersedia menjadi istri Raden Antareja. Dewi Ganggi hanya tertunduk malu. Mereka semua pun tertawa gembira. Suasana permusuhan kini berubah menjadi persaudaraan.

Arya Wrekodara adalah yang paling merasa gembira, karena para Pandawa termasuk dirinya telah lolos dari maut, sekaligus mendapat seorang menantu pula. Dan yang lebih utama, ia kini bertemu dengan putra ketiganya, yaitu Raden Antasena. Prabu Puntadewa sekali lagi berterima kasih atas pertolongan Raden Antasena yang telah memimpin upaya penyelamatan atas dirinya dan para Pandawa lainnya dengan sangat baik. Mereka semua lalu kembali ke Kerajaan Amarta untuk mengadakan syukuran, sekaligus menyusun rencana pernikahan Raden Antareja dengan Dewi Ganggi.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Kisah di atas sebenarnya adalah gabungan lakon Antasena Lahir dan Antasena Takon Bapa yang saya jadikan satu. Mengenai kisah Raden Antasena sudah berusia dua puluh tahun tetapi masih berwujud bayi adalah karangan saya, sebagai benang merah untuk mengisahkan asal mula Raden Antasena memiliki watak polos dan jujur seperti anak kecil. Adapun Prabu Ganggapranawa bersaudara dengan Prabu Ganggatrimuka juga tambahan dari saya, dengan maksud untuk menyisipkan kisah pernikahan Raden Antareja dengan Dewi Ganggi.


Untuk kisah pertemuan antara Arya Wrekodara dengan Dewi Urangayu dapat dibaca di sini

Untuk kisah perkawinan Arya Wrekodara dengan Dewi Urangayu dapat dibaca di sini

Untuk kisah pertemuan pertama Raden Gatutkaca dan Raden Antareja dapat dibaca di sini


















Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Irawan Rabi

 No comments   



Kisah ini menceritakan perkawinan Bambang Irawan putra Raden Arjuna, dengan Dewi Titisari putri Prabu Kresna, yang hampir saja digagalkan oleh Prabu Baladewa yang dimintai tolong Prabu Duryudana.

Kisah ini saya olah dari sumber buku tuntunan pedhalangan lakon Irawan Rabi yang disusun Ki Redisuta, yang dipadukan dengan catatan balungan lakon Irawan Rabi versi Jombor, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 13 November 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

Bambang Irawan

------------------------------ ooo ------------------------------

PRABU BALADEWA HENDAK MEMBATALKAN PERKAWINAN DEWI TITISARI DAN BAMBANG IRAWAN

Prabu Kresna Wasudewa di Kerajaan Dwarawati memimpin pertemuan yang dihadiri sang putra mahkota Raden Samba Wisnubrata dari Paranggaruda, Arya Setyaki dari Swalabumi, dan Patih Udawa dari Widarakandang. Dalam pertemuan itu mereka membahas tentang persiapan pernikahan putri Prabu Kresna yang lahir dari Dewi Rukmini, yaitu Dewi Titisari, yang telah dijodohkan dengan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna dan Dewi Ulupi.

Tidak lama kemudian, datanglah Prabu Baladewa dari Kerajaan Mandura. Prabu Kresna menyambut kedatangan kakaknya itu dengan penuh penghormatan. Setelah saling bertanya kabar, Prabu Baladewa pun menyampaikan maksudnya, yaitu ingin melamar Dewi Titisari untuk dinikahkan dengan keponakannya di Kerajaan Hastina, yaitu Raden Lesmana Mandrakumara putra Prabu Duryudana.

Prabu Kresna berkata bahwa Dewi Titisari sudah dijodohkan dengan Bambang Irawan dan tiga minggu lagi mereka akan dinikahkan. Bahkan, Prabu Baladewa sendiri menjadi saksi saat mereka berdua dijodohkan, yaitu ketika Bambang Irawan melepaskan penyamarannya sebagai Prabu Gambiranom tempo hari.

Prabu Baladewa menjawab benar dirinya memang menyaksikan perjodohan tersebut. Namun, kemudian ia menerima permohonan dari Prabu Duryudana yang ingin menjalin persaudaraan dengan Kerajaan Dwarawati. Beberapa waktu yang lalu niat baik Prabu Duryudana gagal karena Raden Lesmana Mandrakumara batal menikah dengan Dewi Sitisundari. Mengingat Prabu Kresna masih memiliki putri yang tidak kalah cantiknya bernama Dewi Titisari, maka Prabu Duryudana pun berniat melanjutkan rencana persaudaraan antara Kerajaan Hastina dan Dwarawati. Semoga kali ini Raden Lesmana Mandrakumara dan Dewi Titisari bisa terlaksana menikah, sehingga kedua negara bisa menjadi saudara.

Prabu Baladewa berusaha meyakinkan Prabu Kresna bahwa menikahkan Dewi Titisari dengan Raden Lesmana Mandrakumara jauh lebih menguntungkan daripada dengan Bambang Irawan. Mengapa demikian? Karena, Raden Lesmana Mandrakumara adalah putra mahkota yang kelak menggantikan ayahnya sebagai raja di Kerajaan Hastina, yaitu negara paling kaya di dunia saat ini. Sebaliknya, Bambang Irawan hanyalah pemuda desa biasa. Meskipun ayahnya adalah pangeran dari Keluarga Pandawa, namun Bambang Irawan bukan siapa-siapa. Pemuda ini lebih suka tinggal di Padepokan Yasarata daripada menjadi sentana Kerajaan Amarta. Apakah Prabu Kresna tidak sayang apabila Dewi Titisari hidup menderita di pegunungan?

Prabu Kresna berkata, dirinya sudah terikat perjanjian dengan Raden Arjuna sehingga tidak mungkin membatalkan perjodohan begitu saja. Prabu Baladewa tersinggung karena dirinya sebagai saudara tua merasa tidak dianggap. Soal perjodohan Dewi Titisari dan Bambang Irawan bisa dibatalkan secara sepihak. Apabila Raden Arjuna dan para Pandawa lainnya tidak terima, maka Prabu Baladewa sendiri yang akan menghadapi mereka. Prabu Kresna tidak perlu khawatir memikirkan itu.

Prabu Kresna termenung. Ia paham bagaimana watak kakaknya yang mudah marah, tetapi juga mudah luluh. Jika ia terus membantah, maka Prabu Baladewa akan semakin keras. Pada dasarnya, Prabu Kresna percaya bahwa jodoh manusia adalah takdir yang sudah ditentukan Yang Mahakuasa. Jika memang Dewi Titisari dan Bambang Irawan ditakdirkan berjodoh, maka tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan mereka. Berpikir demikian, Prabu Kresna pun menyetujui permintaan Prabu Baladewa. Ia bersedia membatalkan perkawinan antara kedua muda-mudi tersebut. Dalam hati ia ingin menguji apakah benar mereka berdua berjodoh atau tidak.

Prabu Baladewa senang mendengar keputusan sang adik. Maka, ia pun mohon pamit berangkat menuju Kerajaan Hastina untuk menyampaikan hal ini kepada Prabu Duryudana di sana. Mengenai persiapan pernikahan Dewi Titisari tidak perlu diubah. Yang diubah hanyalah pengantin laki-lakinya saja.

Setelah Prabu Baladewa pergi, Prabu Kresna memerintahkan Raden Samba untuk memberi tahu Raden Arjuna tentang pembatalan sepihak rencana perkawinan Bambang Irawan dan Dewi Titisari. Raden Samba merasa sayang jika adiknya harus menikah dengan Raden Lesmana Mandrakumara yang bodoh dan manja itu. Bambang Irawan jauh lebih tampan, lebih sakti, dan lebih berwibawa daripada saingannya. Prabu Kresna melarang putranya itu membantah. Soal perjodohan Dewi Titisari, dirinya lebih paham daripada siapa pun.

Raden Samba akhirnya bersedia melaksanakan perintah. Setelah dirasa cukup, Prabu Kresna pun membubarkan pertemuan. Arya Setyaki dan Patih Udawa diperintahkan untuk menjaga keamanan negara dari kemungkinan adanya pihak-pihak yang ingin mengacau ketentraman. 

Prabu Kresna.

PRABU BARANJANA JATUH CINTA KEPADA DEWI TITISARI

Tersebutlah seorang raja raksasa dari Kerajaan Jongbiraji yang bernama Prabu Baranjana. Pada suatu malam ia mimpi bertemu seorang putri yang sangat cantik dan baru tumbuh dewasa, bernama Dewi Titisari. Ia pun jatuh cinta kepada putri tersebut dan ingin menjadikannya sebagai istri. Begitu terbangun, Prabu Baranjana segera meminta keterangan kepada panakawan Kyai Togog dan Bilung Sarahita.

Kyai Togog yang berwawasan luas bercerita bahwa gadis yang bernama Dewi Titisari itu adalah putri Prabu Kresna raja Dwarawati. Konon kabarnya, gadis tersebut hendak dinikahkan dengan Bambang Irawan putra Raden Arjuna. Oleh sebab itu, Kyai Togog menyarankan agar Prabu Baranjana mencari calon istri yang lain saja.

Bilung menambahkan, sebaiknya Prabu Baranjana jangan mencari masalah dengan keluarga Pandawa. Bambang Irawan adalah putra Raden Arjuna, sedangkan Raden Arjuna adalah murid terbaik Danghyang Druna dari Padepokan Sokalima. Kakak Raden Arjuna yang bernama Arya Wrekodara juga kesatria perkasa yang tiada tandingan di dunia ini, dan konon memiliki kekuatan setara tujuh puluh gajah. Mencari masalah dengan keluarga Pandawa sama artinya dengan mencari mati.

Prabu Baranjana kecewa mendengarnya. Ia lalu meminta pendapat Nyai Layarmega, yaitu raksasi yang mengasuh dirinya sejak kecil. Nyai Layarmega menjawab selama janur kuning belum melengkung, Dewi Titisari bebas menjadi istri siapa saja. Prabu Baranjana tidak perlu khawatir, dirinya siap membantu sekuat tenaga. Patih Kalamingkalpa ikut mendukung pendapat Nyai Layarmega. Ia siap menggempur Kerajaan Dwarawati apabila Prabu Kresna tidak bersedia menyerahkan Dewi Titisari.

Prabu Baranjana gembira mendapat dukungan dari Nyai Layarmega dan Patih Minangkalpa. Karena tekadnya sudah bulat, Prabu Baranjana pun memerintahkan Patih Kalamingkalpa membawa pasukan raksasa Jongbiraji untuk menyerang Kerajaan Dwarawati dan merebut Dewi Titisari.

Prabu Baranjana.

PERTEMPURAN PASUKAN JONGBIRAJI MELAWAN PASUKAN DWARAWATI

Patih Kalamingkalpa dan pasukannya telah berangkat menuju Kerajaan Dwarawati. Sesampainya di sana mereka bertemu Arya Setyaki dan Patih Udawa yang sedang meronda di perbatasan. Patih Kalamingkalpa bersikap kasar meminta Dewi Titisari untuk diboyong sebagai calon istri Prabu Baranjana. Jika permintaan ini ditolak, maka Kerajaan Dwarawati akan dihancurkan.

Arya Setyaki yang mudah marah segera menjawab tantangan tersebut. Silakan jika Patih Kalamingkalpa ingin menghancurkan Kerajaan Dwarawati, namun terlebih dulu harus mengalahkan dirinya. Maka, meletuslah pertempuran antara kedua pihak.

Setelah bertempur agak lama, Patih Kalamingkalpa dan pasukannya merasa terdesak menghadapi kekuatan pihak Dwarawati. Mereka pun memutuskan untuk mundur kembali ke Jongbiraji.

Arya Setyaki.

BAMBANG IRAWAN MEMINTA RESTU KAKEKNYA

Sementara itu, sang calon pengantin Bambang Irawan bersama para panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong sedang berkunjung ke Padepokan Yasarata. Dalam kunjungannya itu, Bambang Irawan bermaksud menjemput sang kakek, yaitu Resi Jayawilapa untuk menghadiri pernikahannya dengan Dewi Titisari di Kerajaan Dwarawati. Adapun ibunya, yaitu Dewi Ulupi sudah lama tinggal di Kesatrian Madukara.

Resi Jayawilapa menjawab ia tidak dapat ikut pergi ke Madukara karena usianya sudah tua dan juga kesehatannya kurang baik. Maka, yang bisa ia berikan kepada Bambang Irawan hanyalah doa restu, semoga pernikahan cucunya itu bisa terlaksana dengan baik, juga kelak rumah tangganya dengan Dewi Titisari bisa berjalan tenteram, lancar, dan juga mendapat keturunan yang sempurna. Resi Jayawilapa lalu memberikan nasihat-nasihat dalam menjalani rumah tangga, bagaimana yang seharusnya dilakukan Bambang Irawan sebagai kepala keluarga, apa saja tanggung jawabnya sebagai suami dan juga sebagai ayah.

Bambang Irawan menerima nasihat dari sang kakek dengan khidmat. Resi Jayawilapa lalu bertanya di mana Raden Antareja saat ini berada, bukankah dulu selalu bersama Bambang Irawan? Bambang Irawan pun menjawab bahwa kakak angkatnya tersebut telah diterima menjadi punggawa Kerajaan Amarta. Resi Jayawilapa bertanya apakah Bambang Irawan juga ingin menjadi punggawa seperti Raden Antareja. Bambang Irawan menjawab, setelah menikah nanti ia ingin tinggal di desa saja, membangun daerah kelahiran. Jika semua orang berkumpul di kota, lantas siapa yang akan membangun desa? Untuk itu, Bambang Irawan tidak ingin tinggal di ibu kota Indraprasta. Namun demikian, apabila negara membutuhkan tenaganya, maka ia siap berangkat kapan saja.

Resi Jayawilapa bangga mendengar rencana cucunya itu. Ia pun menitipkan Bambang Irawan kepada Kyai Semar agar diasuh dengan sebaik-baiknya. Kyai Semar menyanggupi dengan senang hati. Setelah dirasa cukup, Bambang Irawan pun mohon pamit kembali ke Kesatrian Madukara.

Dalam perjalanan pulang, Bambang Irawan berjumpa punggawa Kerajaan Jongbiraji yang bernama Ditya Pradaksa. Punggawa ini terpisah dari induk pasukan Patih Kalamingkalpa. Begitu tahu kalau pemuda yang ia temui bernama Bambang Irawan, Ditya Pradaksa merasa ada kesempatan untuk berbuat jasa kepada rajanya. Maka, ia pun berniat membunuh Bambang Irawan dan menyerahkan kepalanya kepada Prabu Baranjana. Akan tetapi, Bambang Irawan bukan pemuda sembarangan. Dalam pertarungan itu justru ia yang berhasil menewaskan Ditya Pradaksa.

Resi Jayawilapa.

RADEN ARJUNA MENERIMA KABAR DARI RADEN SAMBA

Di Kesatrian Madukara, Raden Arjuna sedang duduk bersama para istri, yaitu Dewi Sumbadra, Dewi Srikandi, Dewi Ulupi, membahas rencana persiapan perkawinan Bambang Irawan dengan Dewi Titisari. Tiba-tiba datanglah Raden Samba dari Kerajaan Dwarawati. Setelah menyampaikan sembah hormat, Raden Samba menyampaikan pesan dari ayahnya, bahwa perjodohan antara Bambang Irawan dengan Dewi Titisari dibatalkan secara sepihak, karena pengantin wanita akan dinikahkan dengan Raden Lesmana Mandrakumara putra Kerajaan Hastina.

Raden Arjuna dan para istri terkejut, terutama Dewi Ulupi yang langsung jatuh pingsan dan digotong Dewi Sumbadra masuk ke dalam. Dewi Srikandi ikut bingung dan menggerutu tidak jelas. Namun, Raden Arjuna hanya tersenyum dan mempersilakan Raden Samba pulang. Raden Samba ketakutan melihat wajah Raden Arjuna yang tetap berwibawa meskipun menerima kabar tidak baik. Ia pun buru-buru menyembah dan bergegas pergi meninggalkan Kesatrian Madukara.

Raden Arjuna lalu meminta Dewi Srikandi memanggil Raden Abimanyu dan Dewi Sitisundari yang sudah beberapa hari ini berada di Madukara. Dewi Srikandi mematuhi dan segera pergi. Tidak lama kemudian, ia kembali lagi bersama pasangan tersebut. Raden Arjuna bertanya apa yang sedang mereka lakukan. Raden Abimanyu menjawab dirinya dan Dewi Sitisundari sedang tidur siang, tiba-tiba dipanggil Dewi Srikandi agar menghadap. Raden Arjuna menyindir memang enak jadi anak muda; orang tua yang bekerja keras, anak yang menikmati hasilnya. Usai berkata demikian, ia lalu menyatakan bahwa mulai saat ini Raden Abimanyu dan Dewi Sitisundari harus bercerai. Dewi Sitisundari harus pulang ke Kerajaan Dwarawati hari ini juga.

Raden Abimanyu dan Dewi Sitisundari terkejut luar biasa, lebih-lebih Dewi Srikandi yang ikut berteriak-teriak karena heran atas keputusan suaminya tersebut. Namun, Raden Arjuna tidak peduli. Jika Prabu Kresna bisa memutuskan secara sepihak, maka dirinya pun bisa memutuskan secara sepihak. Mendengar itu, Dewi Sitisundari segera pamit pergi sambil berlinang air mata. Raden Abimanyu ingin mencegah istrinya, tetapi ia juga takut kepada sang ayah. Karena tidak tahu harus berbuat apa, Raden Abimanyu menjadi hilang kesadaran dan jatuh pingsan, kemudian dipapah Dewi Srikandi masuk ke dalam.

Raden Samba.

RADEN ARJUNA MEMERINTAHKAN BAMBANG IRAWAN KE DWARAWATI

Tidak lama kemudian, Raden Arjuna menerima kedatangan Bambang Irawan bersama para panakawan. Bambang Irawan menyampaikan berita bahwa Resi Jayawilapa tidak dapat hadir dalam pernikahannya, hanya dapat memberikan doa restu dari jauh saja. Raden Arjuna menjawab, pernikahan telah dibatalkan secara sepihak oleh Prabu Kresna. Maka, ia pun membalas dengan cara menceraikan Raden Abimanyu dan Dewi Sitisundari secara sepihak pula.

Bambang Irawan terkejut dan sedih karena batal menikah. Raden Arjuna lalu berkata agar Bambang Irawan menyusul Dewi Sitisundari untuk mengantarkannya pulang ke Kerajaan Dwarawati. Ia juga mengucapkan pesan agar disampaikan kepada Dewi Sitisundari, bahwa dirinya memiliki keris baru dari besi istimewa yang belum memiliki warangka. Keris ini hanya cocok apabila disarungkan ke dalam warangka yang terbuat dari kayu cendanasari encok kembang kendit putih, yang hanya dimiliki oleh Prabu Kresna. Yang kedua, Bambang Irawan harus mematuhi semua perintah Dewi Sitisundari sesampainya di Dwarawati nanti. Bambang Irawan menerima perintah tersebut, lalu ia mohon pamit berangkat bersama para panakawan.

Setelah melangkah agak cepat, Bambang Irawan berhasil menyusul Dewi Sitisundari yang berjalan sendiri sambil menangis. Bambang Irawan menyampaikan semua pesan Raden Arjuna kepada kakak iparnya tersebut dari awal hingga akhir. Mendengar itu, seketika Dewi Sitisundari berhenti menangis dan berubah menjadi tersenyum. Kini ia paham bahwa dirinya sengaja diusir pulang ke Dwarawati adalah untuk menjadi dalang pernikahan Bambang Irawan dan Dewi Titisari.

Dewi Sitisundari kembali bersemangat. Ia pun mengatur siasat, bahwa nanti Bambang Irawan dan para panakawan hendaknya langsung menyusup masuk ke dalam Taman Banoncinawi, tidak perlu lewat istana depan. Bambang Irawan mematuhi perintah sang kakak ipar, sesuai dengan apa yang dipesankan ayahnya tadi.

Raden Arjuna.

DEWI SITISUNDARI MENGHADAP PRABU KRESNA

Dewi Sitisundari dan Bambang Irawan telah sampai di istana Dwarawati, kemudian mereka berpencar. Dewi Sitisundari masuk melalui pintu depan istana, sedangkan Bambang Irawan dan para panakawan menyusup melalui pintu belakang. Dewi Sitisundari menghadap Prabu Kresna dan berkata bahwa dirinya telah dipaksa bercerai dengan Raden Abimanyu dan diusir pulang ke Dwarawati oleh Raden Arjuna. Dewi Sitisundari juga bercerita bahwa Raden Arjuna mempunyai besi bagus yang kini sudah ditempa menjadi keris, dan untuk warangkanya ia meminta kepada Prabu Kresna agar memberikan kayu cendanasari encok kembang kendit putih. Prabu Kresna tersenyum mendengar pesan tersebut dan mempersilakan Dewi Sitisundari masuk untuk beristirahat.

Tidak lama kemudian Prabu Baladewa datang bersama rombongan dari Kerajaan Hastina, antara lain Prabu Duryudana, Patih Sangkuni, serta Raden Lesmana Mandrakumara yang sudah mengenakan busana pengantin lengkap. Prabu Kresna menyambut kedatangan mereka dan mempersilakan untuk beristirahat terlebih dulu di wisma tamu. Mengenai pernikahan antara Raden Lesmana dengan Dewi Titisari akan dibahas nanti. Para tamu itu pun senang dan bergegas menuju wisma tamu, kecuali Raden Lesmana yang penasaran ingin melihat seperti apa wajah calon istrinya.

Dewi Sitisundari.

DEWI SITISUNDARI MENGATUR PERTEMUAN BAMBANG IRAWAN DAN DEWI TITISARI

Sementara itu, Dewi Sitisundari telah berada di Taman Banoncinawi menemui Dewi Titisari. Keduanya lalu berbincang-bincang mengenai rencana pernikahan besok. Dewi Titisari mengaku kecewa karena perjodohannya dengan Bambang Irawan dibatalkan, dan diganti dengan Raden Lesmana Mandrakumara. Dewi Sitisundari bertanya apakah adiknya itu pernah bertemu Bambang Irawan dan Raden Lesmana sehingga bisa membandingkan mereka segala?

Dewi Titisari menjawab dirinya belum pernah bertemu mereka berdua, tetapi hati nuraninya yakin, bahwa Bambang Irawan adalah jodoh terbaiknya, bukan Raden Lemana Mandrakumara. Dewi Titisari telah jatuh cinta kepada sepupunya itu padahal belum pernah bertemu sama sekali. Dewi Sitisundari berkata apabila Bambang Irawan ternyata ada di sini lantas bagaimana. Dewi Titisari menjawab tidak mungkin. Dewi Sitisundari pun memanggil Bambang Irawan agar keluar dari persembunyian.

Melihat sang kekasih muncul, Dewi Titisari terkejut bercampur malu. Sebaliknya, Bambang Irawan juga merasa gugup, padahal biasanya ia sangat pandai merayu perempuan, mewarisi sifat ayahnya. Karena semakin malu, Dewi Titisari pun lari meninggalkan tempat itu. Dewi Sitisundari lalu menyuruh Bambang Irawan agar mengejar.

Setelah keduanya pergi, Dewi Sitisundari memanggil panakawan Petruk agar menyamar sebagai hantu dan menakut-nakuti Dewi Titisari. Petruk pun mengambil lumpur dan mendandani wajahnya agar terlihat seram. Ia kemudian pergi menghadang Dewi Titisari. Melihat wujud Petruk, Dewi Titisari menjerit ketakutan. Tanpa sadar, ia pun berbalik dan memeluk Bambang Irawan. Keduanya lalu sama-sama tersenyum dan saling terpesona. Bambang Irawan lalu menggendong Dewi Titisari dan membawanya duduk berdua di dalam bangsal.

Petruk.

RADEN ANTAREJA DAN RADEN GATUTKACA MELARIKAN KEDUA MEMPELAI

Tidak lama kemudian, tiba-tiba muncul Raden Antareja dari dalam tanah yang kemudian disusul Raden Gatutkaca. Dewi Sitisundari terkejut melihat mereka berdua dan bertanya mengapa datang kemari. Raden Gatutkaca menjawab, mereka berdua diutus Prabu Puntadewa untuk menjemput Bambang Irawan. Rupanya berita perceraian Dewi Sitisundari dan Raden Abimanyu telah terdengar oleh Prabu Puntadewa, dan ia mengkhawatirkan keselamatan Bambang Irawan yang memasuki Kerajaan Dwarawati.

Dewi Sitisundari berkata Bambang Irawan dalam keadaan baik-baik saja, silakan jika hendak dijemput pulang. Bambang Irawan dan Dewi Titisari datang karena mendengar percakapan tersebut. Bambang Irawan lalu menjawab, dirinya bersedia dibawa pulang ke Kerajaan Amarta apabila bersama-sama dengan Dewi Titisari. Dewi Titisari juga menjawab demikian, bahwa ia tidak ingin berpisah dengan Bambang Irawan. Karena keduanya sudah seiya-sekata, Dewi Sitisundari pun mempersilakan apabila Dewi Titisari ikut bersama Bambang Irawan.

Tiba-tiba Raden Gatutkaca mencium bau raksasa datang mendekat. Ia pun mempersilakan Raden Antareja agar pergi dulu bersama Bambang Irawan, Dewi Titisari, dan para panakawan. Mereka lalu pergi memasuki terowongan bawah tanah yang sudah ditembus Raden Antareja, sedangkan Dewi Sitisundari kembali ke istana depan.

Raden Gatutkaca.

RADEN GATUTKACA MENGHADAPI PATIH KALAMINGKALPA

Raksasa yang datang ke Taman Banoncinawi adalah Patih Kalamingkalpa bersama Emban Layarmega. Ketika pasukannya dihancurkan Arya Setyaki dan Patih Udawa, Patih Kalamingkalpa berniat pulang ke Kerajaan Jongbiraji. Di tengah jalan ia bertemu Emban Layarmega yang ditugasi Prabu Baranjana untuk menculik Dewi Titisari. Keduanya lalu bersama-sama menyusup masuk ke dalam istana Dwarawati.

Sesampainya di Taman Banoncinawi, keduanya pun dihadang Raden Gatutkaca. Mereka bertanya di mana Dewi Titisari berada. Raden Gatutkaca menjawab, Dewi Titisari akan menikah dengan adiknya di Kerajaan Amarta. Patih Kalamingkalpa marah dan hendak menyerang Raden Gatutkaca. Namun, Raden Gatutkaca lebih cepat. Kedua tangannya menarik kepala Patih Kalamingkalpa hingga lepas dari badan. Emban Layarmega ngeri ketakutan dan segera melarikan diri.

Tidak lama kemudian, Raden Lesmana Mandrakumara datang dengan tujuan menggoda Dewi Titisari. Raden Gatutkaca segera melemparkan kepala Patih Kalamingkalpa ke arahnya, lalu ia terbang meninggalkan tempat itu. Raden Lesmana yang tiba-tiba kejatuhan kepala raksasa menjerit ketakutan dan berlari mengadu kepada ayahnya. Prabu Duryudana dan Patih Sangkuni segera pergi ke Taman Banoncinawi, namun sudah tidak ada apa-apa di sana. Mereka lalu bertanya kepada Prabu Kresna dan Prabu Baladewa.

Prabu Kresna dan Prabu Baladewa muncul memeriksa keadaan. Mereka lalu memanggil Dewi Sitisundari dan bertanya di mana Dewi Titisari berada. Dewi Sitisundari pun berkata bahwa adiknya hilang diculik dua raksasa, namun yang satu sudah mati dibunuh juru taman.

Patih Sangkuni memeriksa mayat raksasa yang terpenggal itu. Ia meragukan juru taman Kerajaan Dwarawati mana mungkin bisa membunuh raksasa hingga seperti ini. Dilihat dari kondisi mayat yang terpenggal secara tidak rata, sepertinya kepala si raksasa ditarik secara paksa hingga putus lehernya. Juru taman menarik leher angsa hingga putus juga belum tentu bisa, apalagi leher raksasa. Yang mempunyai kebiasaan membunuh lawan seperti ini jelas hanya Raden Gatutkaca seorang. Dengan kata lain, orang yang menculik Dewi Titisari adalah Raden Gatutkaca.

Prabu Duryudana marah merasa dipermainkan. Ia menyebut penjagaan di Kerajaan Dwarawati sangat longgar sehingga penculik bisa keluar masuk seenaknya. Prabu Baladewa tidak terima adiknya disindir seperti itu. Ia pun mohon pamit berangkat mengejar ke Kerajaan Amarta untuk merebut kembali Dewi Titisari. Prabu Duryudana, Patih Sangkuni, Raden Lesmana, dan para Kurawa ikut mengejar.

Prabu Kresna lalu bertanya pada Dewi Sitisundari apa yang telah terjadi di Taman Banoncinawi. Dewi Sitisundari berkata bahwa sang ayah pasti sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Prabu Kresna tersenyum lalu mengajak Dewi Sitisundari pergi menyusul Prabu Baladewa dan orang-orang Hastina.

Raden Lesmana Mandrakumara.

PRABU BALADEWA MENGAMUK DI KERAJAAN AMARTA

Raden Antareja dan Raden Gatutkaca telah sampai di Kerajaan Amarta bersama Dewi Titisari dan Bambang Irawan. Arya Wrekodara menyambut mereka dan menyuruh kedua pengantin bersembunyi di dalam istana. Raden Antareja dan Raden Gatutkaca kemudian disuruh berbohong apabila pihak Dwarawati datang mengejar. Mereka tidak boleh mengaku telah menculik Dewi Titisari.

Tidak lama kemudian, Prabu Baladewa datang sambil marah-marah menyebut Raden Gatutkaca telah menculik Dewi Titisari. Arya Wrekodara bertanya apa benar demikian. Raden Gatutkaca menggeleng. Ia lalu bertanya kepada Raden Antareja apa benar putra sulungnya itu yang menculik Dewi Titisari. Raden Antareja juga menggeleng. Arya Wrekodara lalu menyuruh kedua anaknya itu masuk dan ia berkata kepada Prabu Baladewa bahwa mereka tidak menculik.

Prabu Baladewa semakin marah karena merasa dipermainkan. Mana ada maling yang mengaku hanya dengan pertanyaan sederhana seperti itu? Ia lalu mengangkat senjata Alugora untuk memaksa kedua pemuda tadi agar mengakui perbuatan mereka. Arya Wrekodara mengangkat Gada Rujakpolo untuk menandingi. Mereka lalu bertarung. Gada Rujakpolo dan Senjata Alugora sama-sama terlempar saat berbenturan. Arya Wrekodara lalu menangkap tubuh Prabu Baladewa dan melemparkannya ke udara, lalu ditangkap, kemudian dilemparkan lagi, dan ditangkap, begitu seterusnya.

Prabu Baladewa.

PRABU KRESNA MERESTUI BAMBANG IRAWAN DAN DEWI TITISARI

Prabu Kresna datang membawa Senjata Cakra untuk mengancam Arya Wrekodara agar melepaskan Prabu Baladewa. Sungguh tidak sopan mempermainkan saudara tua seperti itu. Arya Wrekodara menurunkan Prabu Baladewa di tanah, lalu mundur meninggalkan Prabu Kresna.

Prabu Kresna berteriak menantang para Pandawa, namun tidak seorang pun yang maju. Raden Abimanyu tiba-tiba datang dan berlutut di hadapannya. Ia berkata lebih baik mati daripada melihat orang tuanya saling bertarung satu sama lain. Pada dasarnya Prabu Kresna sangat menyayangi Raden Abimanyu sehingga ia pun luluh melihat sikap menantunya itu. Senjata Cakra pun dimasukkan kembali.

Begitu Senjata Cakra dimasukkan, Raden Arjuna segera muncul menyapa Prabu Kresna. Ia berkata tidak sepantasnya mereka saling bertarung sesama saudara. Ada masalah sebaiknya dibicarakan bersama. Prabu Kresna berkata justru yang membuat masalah adalah Raden Arjuna karena telah menceraikan Raden Abimanyu dan Dewi Sitisundari secara sepihak. Raden Arjuna berkata sebaiknya Dewi Sitisundari dipanggil saja untuk dimintai keterangan.

Prabu Kresna lalu memanggil Dewi Sitisundari yang menunggu di kereta. Dewi Sitisundari pun datang menghadap. Prabu Kresna lalu bertanya apa benar ia telah dipaksa untuk bercerai dan disuruh pulang ke Dwarawati. Dewi Sitisundari menjawab tidak benar. Raden Arjuna tidak memaksanya bercerai, dan ia pulang ke Dwarawati juga atas kehendaknya sendiri.

Prabu Kresna tertawa mendengarnya. Selama ini ia sering mengakali orang, namun hari ini justru diakali oleh anaknya sendiri. Ia pun memuji Raden Arjuna yang berhasil menyusun siasat untuk mempersatukan Bambang Irawan dengan Dewi Titisari. Sekarang ia ingin merestui kedua mempelai tersebut.

Tidak lama kemudian, Bambang Irawan dan Dewi Titisari muncul dari dalam istana dengan diantarkan Prabu Puntadewa. Kedua pengantin itu lalu berlutut menyembah Prabu Kresna. Prabu Kresna terharu dan merestui mereka berdua.

Prabu Baladewa datang sambil marah-marah dan berkata ia tidak setuju apabila Dewi Titisari menjadi istri pemuda kampung seperti Bambang Irawan. Justru lebih baik apabila keponakannya itu menjadi istri Raden Lesmana Mandrakumara yang calon raja Hastina. Dewi Titisari menyembah dan berkata ia sudah jatuh cinta kepada Bambang Irawan dan rela hidup di mana saja. Jika Bambang Irawan memutuskan tinggal di desa, maka ia pun dengan senang hati akan ikut mendampingi. Prabu Baladewa berkata, kampung itu sepi dan lebih baik tinggal di ibu kota Hastina yang ramai dan semuanya serbaada. Dewi Titisari menjawab, jika semua orang tinggal di kota, lantas siapa yang akan membangun desa? Segala bahan makanan yang ada di kota juga berasal dari desa. Tidak sepantasnya orang kota memandang remeh orang desa. Jika orang desa berhenti bekerja, lantas orang kota mau makan apa?

Prabu Baladewa termenung mendengar jawaban keponakannya. Dari marah, ia berubah menjadi gembira. Begitulah watak raja Mandura tersebut yang mudah marah sekaligus mudah luluh. Maka, ia pun merestui Bambang Irawan dan Dewi Titisari menjadi suami istri. Ia juga berharap, semoga mereka berdua bisa menjadi teladan bagi para pemuda agar membangun desa kelahiran, tidak melulu berbondong-bondong memenuhi kota. 

Raden Abimanyu.

PRABU BARANJANA MENYERANG KERAJAAN AMARTA

Sementara itu, Prabu Baranjana meninggalkan istana Jongbiraji karena tidak sabar menunggu Emban Layarmega dan Patih Kalamingkalpa. Di tengah jalan ia bertemu Emban Layarmega yang melaporkan bahwa Patih Kalamingkalpa telah tewas dibunuh Raden Gatutkaca, utusan Kerajaan Amarta, sedangkan dirinya berhasil kabur melarikan diri. Menurut kabar, Dewi Titisari juga telah diculik Raden Gatutkaca dan dibawa menuju Kerajaan Amarta. Prabu Baranjana sangat marah mendengarnya. Ia pun berangkat menyerang negeri tersebut.

Sesampainya di ibu kota Indraprasta, Prabu Baranjana segera mengamuk membuat keributan. Raden Antareja berkata kepada Raden Gatutkaca yang tadi telah membunuh Patih Kalamingkalpa, bahwa raja raksasa yang ini adalah bagiannya. Usai berkata demikian, Raden Antareja segera maju menghadapi Prabu Baranjana. Keduanya bertarung sengit. Tidak sampai lama, Prabu Baranjana akhirnya tewas terkena semburan bisa dari mulut Raden Antareja.

Sementara itu, Emban Layarmega juga tewas terkena panah Dewi Srikandi. Para Pandawa pun bergembira. Prabu Puntadewa mengundang para Kurawa agar ikut menghadiri pernikahan Bambang Irawan dan Dewi Titisari. Prabu Duryudana marah-marah, menolak undangan tersebut. Lagi-lagi ia mendapat malu dan segera pulang kembali ke Kerajaan Hastina bersama Raden Lesmana Mandrakumara yang menangis dan merengek-rengek. Patih Sangkuni memerintahkan Arya Dursasana dan adik-adiknya untuk membuat keributan. Namun, mereka semua dapat diusir oleh Arya Wrekodara.

Raden Antareja.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya



Untuk kisah kegagalan Raden Lesmana Mandrakumara menikahi Dewi Sitisundari dapat dibaca di sini

Untuk kisah Bambang Irawan dijodohkan dengan Dewi Titisari dapat dibaca di sini








Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ▼  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ▼  November (2)
      • Antasena Takon Bapa
      • Irawan Rabi
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja