Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Gandamana Lahir

 No comments   


Kisah ini menceritakan lahirnya Raden Gandamana yang kelak menjadi patih Kerajaan Hastina, yang mengabdi kepada Prabu Pandu Dewanata. Juga saya sisipkan kisah pertama kali bertemunya Raden Pandu dengan Dewi Madrim yang kelak menjadi jodohnya.

Kisah ini saya olah dari sumber rekaman pentas Ki Anom Suroto yang saya padukan dengan buku Kempalan Balungan karya Ki Suratno Guno Wihardjo, serta buku Ensiklopedia Wayang Purwa terbitan Balai Pustaka.

Kediri, 30 Desember 2015

Heri Purwanto


------------------------------ ooo ------------------------------

Raden Gandamana


PRABU GANDABAYU MENGUNDANG PARA RAJA SAHABAT

Prabu Gandabayu di Kerajaan Pancala didampingi Patih Jayarana dan para punggawa, menerima kedatangan para raja sahabat, yaitu Prabu Kresna Dwipayana dari Kerajaan Hastina dan Prabu Mandrapati Naradenta dari Kerajaan Mandraka. Kedua raja tersebut sengaja diundang untuk membantu permasalahan Prabu Gandabayu, di mana sang permaisuri Dewi Trilaksmi sudah tiga belas bulan mengandung anak kedua namun belum juga melahirkan. Adapun anak pertama mereka seorang perempuan, bernama Dewi Gandawati yang kini telah tumbuh menjadi gadis remaja.

Prabu Mandrapati mengaku tidak memiliki kemampuan untuk membantu soal kelahiran tersebut. Namun, ia yakin Prabu Kresna Dwipayana sebagai seorang raja-pandita pasti memiliki cara untuk mengatasi masalah ini. Prabu Kresna Dwipayana pun menyatakan sanggup membantu, membuat Prabu Gandabayu merasa lega dan menaruh harapan besar kepadanya.

Pada saat itulah datang seorang raksasa dari Kerajaan Candi Bungalan di Pulau Nusabelah yang bernama Patih Kurandayaksa. Ia datang diutus rajanya yang bernama Prabu Bagaskara untuk melamar permaisuri Kerajaan Pancala, yaitu Dewi Trilaksmi. Hal ini tentu saja membuat Prabu Gandabayu sangat marah dan langsung menolak permintaan aneh tersebut. Prabu Mandrapati memintanya bersabar, dan ia mengajukan diri melayani permintaan Patih Kurandayaksa. Raja Mandraka itu mempersilakan Patih Kurandayaksa memboyong Dewi Trilaksmi asalkan bisa melangkahi mayatnya terlebih dulu. Patih Kurandayaksa menerima tantangan tersebut lalu undur diri kembali ke induk pasukannya.

Prabu Mandrapati segera pamit keluar istana untuk menghadapi Patih Kurandayaksa dan mempersilakan Prabu Gandabayu dan Prabu Kresna Dwipayana supaya tetap tenang demi mencari cara untuk membantu Dewi Trilaksmi supaya bisa segera melahirkan. Prabu Gandabayu berterima kasih atas bantuan Prabu Mandrapati, dan ia pun membubarkan pertemuan lalu masuk ke dalam kedaton bersama Prabu Kresna Dwipayana.

DEWI TRILAKSMI MELAHIRKAN BAYI LAKI-LAKI

Prabu Gandabayu dan Prabu Kresna Dwipayana masuk ke dalam kedaton menemui Dewi Trilaksmi yang ditunggui putri sulungnya, yaitu Dewi Gandawati. Usia kandungan Dewi Trilaksmi sudah mencapai tiga belas bulan namun belum juga melahirkan. Prabu Kresna Dwipayana yang sudah menyatakan sanggup membantu segera mengajak Prabu Gandabayu dan Dewi Trilaksmi bersama-sama mengheningkan cipta meminta kemurahan dewata demi kelancaran persalinan.

Prabu Kresna Dwipayana lalu mempersiapkan sesaji dan memulai upacara memohon supaya bayi yang dikandung Dewi Trilaksmi segera lahir tanpa halangan. Permohonan Prabu Kresna Dwipayana dikabulkan dewata. Seketika Dewi Trilaksmi merasa perutnya sakit dan ia pun dibawa masuk ke dalam kamar untuk ditangani para bidan istana. Tidak lama kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki berbadan sehat yang segera digendong Prabu Gandabayu. Sebagai ungkapan terima kasih, Prabu Gandabayu mempersilakan Prabu Kresna Dwipayana memberikan nama untuk putranya yang baru lahir tersebut. Prabu Kresna Dwipayana pun memberinya nama, Raden Gandamana.

PRABU MANDRAPATI MEMUKUL MUNDUR MUSUH

Prabu Mandrapati Naradenta yang juga disebut Prabu Artayana telah bersiaga di alun-alun dengan didampingi Patih Tuhayana beserta segenap pasukan yang ia bawa dari Kerajaan Mandraka. Ikut bergabung pula bersama mereka yaitu Patih Jayarana yang memimpin pasukan Pancala, serta Patih Jayayatna yang memimpin pasukan Hastina.

Di lain pihak, Patih Kurandayaksa yang disertai panakawan Kyai Togog dan Bilung juga bersiaga bersama pasukan raksasa dari Kerajaan Candi Bungalan. Kedua pihak kemudian berhadapan dan saling menyerang. Pertempuran sengit pun terjadi. Setelah lewat tengah hari, pihak Candi Bungalan mulai terdesak. Patih Kurandayaksa segera memerintahkan pasukannya mundur meninggalkan Kerajaan Pancala.

Prabu Gandabayu menyambut kemenangan Prabu Mandrapati dan mengajaknya masuk ke dalam istana untuk merayakan kelahiran Raden Gandamana. Prabu Mandrapati ikut berbahagia dan berniat akan menunda kepulangannya ke Mandraka sampai selapan hari kedepan (selapan adalah sebutan untuk tiga puluh lima hari).

RADEN PANDU BERTEMU DEWI JARWATI

Sementara itu, putra kedua Prabu Kresna Dwipayana, yaitu Raden Pandu sedang dalam perjalanan menyusul sang ayah ke Kerajaan Pancala. Perjalanannya itu ditemani para panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong. Di tengah jalan mereka kehausan dan singgah di sebuah padepokan yang dihuni kakak beradik, bernama Dewi Jarwati dan Resi Jarwada.

Saat itu Resi Jarwada sedang keluar untuk mandi di sungai. Dewi Jarwati yang tinggal sendirian menjamu Raden Pandu dan para panakawan dengan makanan dan minuman ala kadarnya. Diam-diam Dewi Jarwati terpesona dan jatuh hati melihat ketampanan Raden Pandu. Karena tak kuasa menahan perasaannya, ia pun berterus terang ingin diperistri pangeran dari Kerajaan Hastina tersebut.

Raden Pandu menolak permintaan Dewi Jarwati dan mengatakan bahwa tidak pantas seorang wanita berterus terang ingin dinikahi laki-laki. Raden Pandu menasihati agar Dewi Jarwati bisa menjaga harga dirinya sebagai seorang perempuan terhormat. Perkataan Raden Pandu tersebut membuat Dewi Jarwati tersinggung dan sangat malu. Tak kuasa menahan kekecewaannya, ia pun bunuh diri menggunakan patrem (keris kecil).

Melihat Dewi Jarwati bunuh diri, Raden Pandu sangat menyesal dan menangisinya. Pada saat itulah datang Resi Jarwada yang sangat terkejut melihat kakaknya telah meninggal. Ia pun marah dan hendak melampiaskan sakit hatinya kepada Raden Pandu. Buru-buru Kyai Semar melerai mereka. Ia pun membujuk Resi Jarwada supaya naik ke kahyangan meminta kepada para dewa agar menghidupkan kembali Dewi Jarwati. Resi Jarwada menerima saran tersebut dan segera berangkat menuju Kahyangan Suralaya sambil menggendong jasad kakaknya.

Setelah Resi Jarwada pergi, Raden Pandu dan para panakawan pun berangkat melanjutkan perjalanan menuju ibu kota Pancala.

RESI JARWADA MENGAMUK DI KAHYANGAN

Resi Jarwada yang telah sampai di Kahyangan Suralaya langsung meminta para dewa agar menghidupkan kembali Dewi Jarwati. Permintaan tersebut ditolak membuat Resi Jarwada mengamuk menantang para dewa. Batara Indra pun memerintahkan pasukan Dorandara untuk meringkus pendeta muda tersebut. Namun, Resi Jarwada ternyata sangat sakti. Begitu ia meraba pusakanya yang bernama Kalung Robyong Mustikarawis, seketika tubuhnya berubah menjadi raksasa tinggi besar dan menyeramkan. Para dewa tidak mampu menangkapnya, justru mereka yang terdesak mundur oleh amukan raksasa tersebut.

Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka telah mendengar bahwa Kahyangan Suralaya diserang pendeta muda bernama Resi Jarwada. Ia pun memanggil roh Dewi Jarwati untuk ditanyai apakah bersedia kembali dihidupkan demi meredam amarah Resi Jarwada. Roh Dewi Jarwati menolak karena percuma ia dihidupkan lagi jika menanggung malu karena ditolak cintanya oleh Raden Pandu. Batara Guru menjelaskan bahwa Dewi Jarwati bukanlah jodoh Raden Pandu. Namun, jika Dewi Jarwati benar-benar mencintai pangeran Hastina tersebut, maka hendaknya ia bersatu jiwa raga dengan Dewi Madrim putri Kerajaan Mandraka. Karena, wanita inilah yang ditakdirkan menjadi jodoh sehidup semati Raden Pandu. Arwah Dewi Jarwati menyatakan bersedia dan menerima nasihat tersebut dengan senang hati.

Batara Guru lalu mengutus Batara Narada untuk melaksanakan dua tugas, yaitu mengantarkan arwah Dewi Jarwati agar bisa bersatu dengan Dewi Madrim, serta menjemput jago kahyangan untuk mengalahkan Resi Jarwada. Adapun yang bernama Dewi Madrim saat ini sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Pancala untuk menyusul ayahnya (Prabu Mandrapati), sedangkan jago yang bisa mengahadapi Resi Jarwada juga berada di Pancala, yaitu putra Prabu Gandabayu yang baru lahir.

Batara Narada mematuhi perintah tersebut dan segera berangkat menuju Kerajaan Pancala bersama roh Dewi Jarwati tersebut.

BATARA NARADA MENCULIK RADEN GANDAMANA

Sementara itu, Raden Pandu dan para panakawan telah sampai di istana Pancala dan ikut berbahagia atas upacara selapanan Raden Gandamana. Datang pula putra dan putri Prabu Mandrapati dari Kerajaan Mandraka, yaitu Raden Narasoma dan Dewi Madrim. Antara Raden Pandu dan Dewi Madrim diam-diam ada perasaan saling menyukai sejak pertemuan pertama tersebut. Raden Narasoma mengetahui hal ini dan berharap adiknya bisa berjodoh dengan Raden Pandu.

Tidak lama kemudian, Batara Narada dan roh Dewi Jarwati tiba di istana Pancala tanpa menampakkan diri. Batara Narada kemudian memasukkan roh Dewi Jarwati ke dalam diri Dewi Madrim sehingga bersatu jiwa dengan putri Kerajaan Mandraka tersebut.

Setelah tugas pertamanya selesai, Batara Narada segera mengambil bayi Raden Gandamana yang sedang dipangku Raden Pandu dan buru-buru membawanya pergi ke kahyangan. Seketika para hadirin pun geger karena Raden Gandamana tiba-tiba musnah, terutama Prabu Gandabayu yang meminta Raden Pandu untuk bertanggung jawab atas peristiwa ini.

Prabu Kresna Dwipayana yang berpandangan tajam dapat mengetahui kalau bayi Raden Gandamana sebenarnya telah dibawa oleh Batara Narada naik ke kahyangan. Mendengar penjelasan sang ayah, Raden Pandu segera berangkat dengan disertai para panakawan menyusul Batara Narada.

RESI JARWADA BERSATU DENGAN RADEN GANDAMANA

Batara Narada telah kembali ke Kahyangan Suralaya dan menyerahkan bayi Raden Gandamana kepada Batara Bayu supaya dijedi, yaitu dibesarkan secara mendadak. Batara Bayu segera mengerahkan kesaktiannya dan membuat Raden Gandamana seketika berubah dari wujud bayi menjadi seorang pemuda gagah perkasa. Tidak hanya itu, Batara Bayu juga mengajarkan ilmu kesaktian kepadanya, berupa Aji Bandung Bandawasa dan Aji Seipi Angin sebagai bekal untuk menghadapi Resi Jarwada.

Batara Narada lalu memerintahkan Raden Gandamana maju menghadapi Resi Jarwada yang masih mengamuk dalam wujud raksasa, merusak bangunan kahyangan. Maka, terjadilah pertarungan di antara mereka. Dengan mengerahkan Aji Sepi Angin, Raden Gandamana dapat bergerak secepat angin menghindari serangan raksasa tersebut, dan dengan Aji Bandung Bandawasa ia dapat melipatgandakan kekuatannya sehingga seimbang dengan kekuatan raksasa yang menjadi lawannya.

Raksasa perwujudan Resi Jarwada akhirnya terdesak kewalahan. Dalam suatu kesempatan, Raden Gandamana berhasil memecahkan kepala raksasa tersebut. Resi Jarwada pun tewas dengan jasad musnah. Arwahnya lalu masuk bersatu jiwa dengan Raden Gandamana, sekaligus kalung pusaka Robyong Mustikarawis ikut bersatu pula di dalam tubuh Raden Gandamana.

Kahyangan Suralaya kini telah aman kembali. Pada saat itulah Raden Pandu dan para panakawan datang menyusul. Batara Narada memberi tahu Raden Pandu bahwa Raden Gandamana kini telah tumbuh dewasa dan boleh dibawa pulang. Raden Pandu gembira melihatnya dan mohon pamit kembali ke Kerajaan Pancala dengan mengajak serta Raden Gandamana.

KEMATIAN PRABU BAGASKARA DAN MENYERAHNYA RESI BAGASPATI

Sementara itu, Prabu Bagaskara raja raksasa dari Candi Bungalan di Pulau Nusabelah dihadap adiknya yang bernama Resi Bagaspati. Mereka menerima kedatangan Patih Kurandayaksa yang melaporkan kegagalannya merebut Dewi Trilaksmi. Prabu Bagaskara sangat marah dan berniat berangkat sendiri menyerang Kerajaan Pancala. Resi Bagaspati menasihati kakaknya itu agar membatalkan niatnya untuk merebut istri orang. Prabu Bagaskara tidak peduli pada nasihat adiknya. Ia pun mengajak Patih Kurandayaksa kembali menyerang Pancala. Karena mendapat firasat buruk, mau tidak mau Resi Bagaspati pun mengikuti dari belakang.

Prabu Bagaskara akhirnya tiba di Kerajaan Pancala bersamaan dengan datangnya Raden Pandu dan Raden Gandamana. Pertempuran kembali terjadi. Raden Gandamana berhasil menewaskan raja raksasa dari Candi Bungalan tersebut.

Sementara itu, Resi Bagaspati bertarung menghadapi Prabu Mandrapati, yang dibantu Prabu Kresna Dwipayana. Resi Bagaspati memiliki kesaktian aneh, bernama Aji Candabirawa. Dari jarinya tiba-tiba muncul sesosok raksasa kerdil yang ganas dan beringas. Ketika raksasa itu dilukai oleh Prabu Mandrapati, tiba-tiba jumlahnya bertambah banyak menjadi sepuluh kali lipat. Semakin dilukai akan semakin bertambah banyak. Menyadari hal ini, Prabu Mandrapati merasa bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

Prabu Kresna Dwipayana menyarankan supaya Prabu Mandrapati menghadapi raksasa-raksasa itu dengan sikap mengheningkan cipta, pasrah tanpa perlawanan. Sungguh aneh, begitu Prabu Mandrapati melaksanakan saran tersebut, secara ajaib raksasa-raksasa kerdil itu berkurang jumlahnya, hingga akhirnya kembali menjadi seorang saja dan masuk kembali ke dalam jari Resi Bagaspati.

Resi Bagaspati pun mengakui kekalahannya di hadapan Prabu Mandrapati, dan ia rela menerima hukuman mati. Prabu Mandrapati bertanya mengapa Prabu Bagaskara melamar Dewi Trilaksmi yang sudah bersuami, bukannya mencari wanita lain yang masih gadis.

Resi Bagaspati bercerita bahwa ia dan kakaknya itu semula memiliki istri bidadari. Istri Prabu Bagaskara bernama Batari Satapi, putri Batara Siwah. Dari perkawinan itu lahir seorang putri yang kini telah tubuh remaja bernama Dewi Tapayati. Sementara itu, istri Resi Bagaspati bernama Batari Pudyastuti, putri Batara Darmastuti. Dari perkawinan tersebut lahir seorang putri pula bernama Dewi Pujawati. Pada suatu hari Batari Satapi dan Batari Pudyastuti kembali ke kahyangan, membuat Dewi Tapayati merengek ingin memiliki ibu baru. Prabu Bagaskara tidak tahu harus menikah dengan siapa, hingga akhirnya ia bermimpi berjumpa istri Prabu Gandabayu yang bernama Dewi Trilaksmi. Begitu terbangun, Prabu Bagaskara pun mengutus Patih Kurandayaksa untuk merebut Dewi Trilaksmi dari suaminya.

Kini, Prabu Bagaskara telah tewas karena perbuatannya sendiri. Mendengar cerita tersebut, Prabu Mandrapati menjadi terkesan dan membebaskan Resi Bagaspati. Permusuhan di antara mereka pun berubah menjadi pertemanan. Resi Bagaspati lalu mohon pamit kepada Prabu Mandrapati dan Prabu Kresna Dwipayana untuk kembali ke Pulau Nusabelah menjemput putrinya yang bernama Dewi Pujawati, serta keponakannya, yaitu Dewi Tapayati. Setelah itu, Resi Bagaspati berniat membangun pertapaan di puncak Gunung Argabelah.

Sementara itu, Patih Kurandayaksa sangat kecewa melihat rajanya tewas, sedangkan Resi Bagaspati menyerah kalah dan kini berteman dengan musuh. Ia pun mengumpulkan sisa-sisa prajurit raksasa yang masih hidup dan mengajak mereka pergi untuk membangun sebuah kerajaan baru. Namun sebelum itu, ia berniat menculik Dewi Tapayati dan menjadikannya sebagai istri, karena sudah sejak lama ia jatuh cinta kepada putri rajanya tersebut.

RADEN GANDAMANA BERKUMPUL DENGAN KELUARGANYA

Kerajaan Pancala kini telah aman kembali. Raden Pandu pun memperkenalkan Raden Gandamana kepada keluarganya, yaitu Prabu Gandabayu (ayah) dan Dewi Trilaksmi (ibu), serta Dewi Gandawati (kakak). Mereka sangat bahagia melihat Raden Gandamana kini telah tumbuh dewasa dalam waktu singkat. Tadinya usia antara Dewi Gandawati dengan Raden Gandamana selisih jauh, namun kini seolah-olah menjadi sepantaran.

Prabu Kresna Dwipayana dan Prabu Mandrapati, serta Raden Narasoma dan Dewi Madrim ikut berbahagia melihatnya. Prabu Gandabayu pun mengadakan pesta syukuran untuk merayakan kemenangan ini.
 
------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya














Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Pandu Nyirep Pageblug

 No comments   


Kisah ini menceritakan ketiga putra Prabu Kresna Dwipayana telah dewasa dan menamatkan pelajaran dari Resiwara Bisma, di mana putra kedua yaitu Raden Pandu kemudian dimintai tolong untuk membasmi wabah penyakit yang melanda Kerajaan Sriwedari dan juga Kerajaan Singgela. Kisah ini berisi pesan moral tentang pentingnya mempelajari ilmu kerohanian agar tidak tersesat setelah meninggal dunia kelak.

Kisah ini saya olah dari sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.

Kediri, 11 Desember 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

KETIGA PANGERAN HASTINA MENAMATKAN PENDIDIKAN

Sudah dua belas tahun lamanya Resiwara Bisma di Padepokan Talkanda mendidik ketiga putra Prabu Kresna Dwipayana, yaitu Raden Dretarastra, Raden Pandu Dewayana, dan Raden Yamawidura. Ketiganya diajari ilmu tata negara dan keprajuritan sebagaimana yang dulu pernah ia peroleh dari Batara Wrehaspati dan Batara Ramaparasu.

Kini ketiga pangeran itu telah berusia sembilan belas tahun dan menamatkan semua pelajaran. Resiwara Bisma lalu memerintahkan mereka agar bertapa di puncak Gunung Saptaarga (tempat leluhur mereka berasal), untuk meminta anugerah dewata sebagai penyempurna ilmu masing-masing. Ketiganya pun mohon pamit dan berangkat melaksanakan perintah dengan ditemani para panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong.

Setelah empat puluh hari bertapa, Raden Dretarastra, Raden Pandu, dan Raden Yamawidura didatangi Batara Guru, Batari Durga, dan Batara Narada. Mereka pun bangun dari tapa dan dipersilakan untuk meminta anugerah sesuai yang diinginkan masing-masing. Raden Dretarastra yang tuna netra meminta diberi kekuatan tubuh melebihi rata-rata manusia biasa. Batari Durga pun menganugerahkan Aji Leburgeni yang membuat Raden Dretarastra mampu meremukkan benda apa saja dengan kedua tangannya.

Sementara itu, Raden Pandu meminta diberi anugerah ilmu kesaktian untuk melindungi Kerajaan Hastina. Batara Guru pun memberikan Aji Brajadenta dan Aji Brajamusti yang masing-masing ditempatkan pada lengan kanan dan kirinya. Yang terakhir, Raden Yamawidura meminta diberi kepandaian pikir dan kebijaksanaan. Maka, Batara Narada pun menganugerahkan Aji Kawidagdan kepada putra bungsu Prabu Kresna Dwipayana tersebut.

Setelah dirasa cukup, Batara Guru, Batari Durga, dan Batara Narada kembali ke kahyangan. Resiwara Bisma kemudian datang dan memberikan ucapan selamat kepada ketiga keponakannya tersebut. Ia lalu mengantar mereka pulang ke Kerajaan Hastina untuk menghadap sang ayah di sana.

PRABU KRESNA DWIPAYANA MENERIMA KUNJUNGAN PRABU DASABAHU

Prabu Kresna Dwipayana di Kerajaan Hastina sedang dihadap Patih Jayayatna, Resi Krepa, Arya Banduwangka, Arya Bargawa, dan Arya Bilawa. Tidak lama kemudian datanglah Resiwara Bisma dan ketiga pangeran. Sungguh bangga dan bahagia Prabu Kresna Dwipayana melihat ketiga putranya telah tumbuh dewasa dan menamatkan segala pelajaran yang diberikan oleh Resiwara Bisma, serta mendapatkan anugerah dewata sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.

Belum puas Prabu Kresna Dwipayana melepas rindu dengan ketiga putranya, tiba-tiba muncul seorang raja bernama Prabu Dasabahu dari Kerajaan Sriwedari, yang mengaku masih sepupu jauh Prabu Kresna Dwipayana. Prabu Dasabahu menjelaskan bahwa Prabu Kresna Dwipayana adalah putra Resi Parasara, sedangkan Resi Parasara adalah putra dari pasangan Batara Sakri dan Dewi Sati. Dewi Sati memiliki adik bernama Prabu Partana, dan mereka berdua adalah putra-putri Prabu Partawijaya dari Kerajaan Gujulaha atau Tabelasuket. Setelah ayahnya meninggal, Prabu Partana mendirikan Kerajaan Sriwedari (bekas taman sari Kerajaan Mahespati milik Prabu Arjunasasrabahu). Kemudian Prabu Partana digantikan putranya yang bernama Prabu Partayadnya, yang merupakan ayah dari Prabu Dasabahu tersebut.

Prabu Kresna Dwipayana gembira mengetahui bahwa Prabu Dasabahu yang ada di hadapannya kini ternyata masih saudara sepupu tingkat dua dengannya. Setelah hubungan mereka lebih akrab, Prabu Dasabahu pun menjelaskan maksud kedatangannya adalah ingin meminta tolong kepada Prabu Kresna Dwipayana untuk memadamkan wabah penyakit yang kini melanda Kerajaan Sriwedari. Menurut petunjuk dewata yang ia peroleh, wabah tersebut berasal dari gangguan makhluk halus yang hanya bisa dipadamkan jika dipasangi tumbal. Adapun orang yang harus memasang tumbal adalah putra kedua raja Hastina yang bernama Raden Pandu Dewayana.

Prabu Kresna Dwipayana ragu-ragu apakah mungkin putra keduanya mampu memadamkan wabah penyakit di Kerajaan Sriwedari tersebut. Resiwara Bisma berusaha meyakinkannya bahwa Raden Pandu memiliki bakat alamiah sejak lahir, dan ia melihat sendiri bagaimana keponakannya itu saat berusia tujuh tahun mampu menumpas Prabu Nagapaya raja Guabarong yang menyerang Kahyangan Suralaya. Prabu Kresna Dwipayana menjawab bahwa keberhasilan Raden Pandu di Kahyangan Suralaya dulu adalah berkat perlindungan dewata. Resiwara Bisma pun membalas, jika nanti Raden Pandu diizinkan berangkat ke Kerajaan Sriwedari juga tetap mendapatkan perlindungan dewa, yaitu Batara Ismaya yang berwujud Kyai Semar.

Prabu Kresna Dwipayana menyadari kekeliruannya yang terlalu mementingkan kasih sayang pribadi sehingga meragukan petunjuk dewata yang diterima Prabu Dasabahu. Ia pun mengizinkan Raden Pandu ikut Prabu Dasabahu pergi, tentu saja dengan diiringi para panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong.

Raden Pandu menerima perintah tersebut dengan senang hati. Ia lalu berangkat bersama Prabu Dasabahu menuju Kerajaan Sriwedari.

RADEN PANDU MEMASANG TUMBAL DI SRIWEDARI

Prabu Dasabahu, Raden Pandu, dan para panakawan telah tiba di Kerajaan Sriwedari. Mereka heran melihat keadaan negeri itu yang kini sunyi senyap dengan penduduk tinggal sedikit. Patih Jayakusuma menyambut kepulangan rajanya dan menjelaskan bahwa selama Prabu Dasabahu pergi ke Kerajaan Hastina, semakin banyak penduduk Sriwedari yang meninggal terkena wabah penyakit, sedangkan mereka yang masih hidup pergi mengungsi ke negara tetangga.

Prabu Dasabahu semakin prihatin melihat keadaan negerinya. Tak lupa ia juga berterima kasih kepada Patih Jayakusuma yang tetap setia menjaga Kerajaan Sriwedari selama ia pergi mencari pertolongan ke negeri Hastina.

Prabu Dasabahu lalu meminta pendapat kepada Kyai Semar tentang bagaimana caranya meredakan wabah penyakit tersebut. Kyai Semar pun meminta daftar tempat-tempat paling angker di segenap penjuru Kerajaan Sriwedari. Patih Jayakusuma segera menyiapkan daftar tersebut dan menyerahkannya kepada Kyai Semar. Mereka lalu berangkat bersama-sama mendatangi tempat-tempat angker tersebut. Di sepanjang perjalanan, Kyai Semar mengajari Raden Pandu bagaimana cara memasang tumbal beserta mantra yang harus diucapkan.

Sesampainya di tempat-tempat angker tersebut, Raden Pandu segera bekerja sesuai petunjuk yang ia terima dari Kyai Semar. Tempat terakhir yang mereka datangi adalah pemakaman luas bernama Setragopaya. Begitu tumbal selesai dipasang di situ tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut. Rupanya kaum makhluk halus merasa kepanasan dan mereka menjerit-jerit minta tolong. Tidak lama kemudian muncul pula sebuah istana emas di dalam lingkungan pemakaman tersebut lengkap dengan penduduknya.

ISTRI PRABU DASABAHU MENJADI RATU MAKHLUK HALUS

Rombongan Prabu Dasabahu segera mendekati istana gaib tersebut. Melihat kedatangan mereka, para makhluk halus pun bubar berlarian, kecuali seorang perempuan yang tetap di tempatnya sambil mengeluh kepanasan. Prabu Dasabahu mengenali roh perempuan tersebut bernama Ken Hyasi, yang semasa hidupnya bekerja di istana Sriwedari sebagai pelayan istrinya. Adapun istri Prabu Dasabahu bernama Dewi Panitra juga sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, bahkan sebelum meninggalnya Ken Hyasi.

Begitu ditanyai Prabu Dasabahu, Ken Hyasi menjelaskan bahwa dirinya kini mengabdi kepada roh Dewi Panitra yang telah menjadi ratu makhluk halus dan mendirikan kerajaan gaib di pemakaman Setragopaya. Adapun wabah penyakit yang kini melanda Kerajaan Sriwedari adalah perbuatan Dewi Panitra yang ingin membunuh penduduk dan menjadikan arwah mereka sebagai bala tentara Kerajaan Setragopaya.

Prabu Dasabahu prihatin mendengar berita itu. Ia sadar istrinya semasa hidup memang kurang peduli pada urusan kerohanian dan lebih suka menuruti nafsu keduniawian belaka. Prabu Dasabahu menyesal dulu terlalu memanjakan istrinya yang suka berbuat seenaknya sehingga kini setelah meninggal, arwahnya tersesat dan tidak dapat memasuki alam baka yang semestinya.

RADEN PANDU MENUMPAS PASUKAN MAKHLUK HALUS

Tidak lama kemudian muncul arwah Dewi Panitra bersama pasukannya menyerbu rombongan Prabu Dasabahu. Prabu Dasabahu meminta kepada istrinya itu supaya menghentikan segala wabah penyakit yang melanda Kerajaan Sriwedari. Sebaliknya, Dewi Panitra justru ingin membunuh Prabu Dasabahu supaya arwah mereka dapat berkumpul lagi dan berpasangan di alam gaib. Usai berkata demikian, ia lalu memerintahkan pasukan makhluk halus yang dipimpin Patih Praswa dan senapati Arya Sanggrisma supaya menyerang Prabu Dasabahu.

Raden Pandu dan Patih Jayakusuma segera maju menghadapi serangan tersebut. Terjadilah pertempuran di antara mereka. Pada puncaknya, Raden Pandu mengerahkan Aji Pengabaran yang pernah ia pelajari dari Resiwara Bisma untuk memukul mundur pasukan makhluk halus tersebut.

Ketika matahari terbit, pasukan makhluk halus telah mengalami kekalahan dan banyak yang musnah. Kini yang tersisa dari mereka hanya tinggal arwah Patih Praswa dan Arya Sanggrisma yang keduanya menyatakan tunduk kepada Raden Pandu, sedangkan roh Dewi Panitra melarikan diri. Tiba-tiba muncul roh seorang kakek tua dari arah lain, bernama Resi Sangki yang memohon supaya Patih Praswa dan Arya Sanggrisma dibebaskan, karena mereka berdua adalah putranya.

Resi Sangki mengaku datang dari alam baka yang sejati untuk membebaskan kedua putranya dari pengaruh sesat Dewi Panitra. Ia berniat membawa arwah Patih Praswa dan Arya Sanggrisma untuk memasuki alam roh yang semestinya. Sebagai tebusan, Resi Sangki memberikan pusaka gaib kepada Raden Pandu berupa Kantong Arumba dan Minyak Pranawa. Raden Pandu pun bersedia membebaskan Patih Praswa dan Arya Sanggrisma. Keduanya lalu pergi bersama-sama Resi Sangki meninggalkan kerajaan gaib Setragopaya menuju alam keabadian.

RADEN PANDU MEMBANTU KESULITAN KERAJAAN SINGGELA

Wabah penyakit yang melanda Kerajaan Sriwedari kini telah reda. Penduduk yang tersisa berangsur-angsur mendapatkan kesembuhan, sedangkan yang mengungsi ke negara tetangga juga banyak yang kembali menempati rumah mereka. Prabu Dasabahu sangat berterima kasih kepada Raden Pandu dan para panakawan, terutama Kyai Semar atas segala bantuan yang mereka berikan.

Tiba-tiba datang adik ipar Prabu Dasabahu, yaitu saudara kandung mendiang Dewi Panitra yang bernama Prabu Palguna, raja Singgela. Prabu Palguna mengeluh bahwa negerinya kini sering diserang berbagai macam hewan gaib yang sulit sekali ditumpas. Sungguh kebetulan Raden Pandu belum pulang ke Kerajaan Hastina. Mendengar berita tersebut, ia pun mengajak para panakawan untuk ikut membantu kesulitan yang dialami Kerajaan Singgela. Prabu Palguna sangat senang mendengarnya. Mereka lalu bersama-sama berlayar menuju Kerajaan Singgela yang terletak di Pulau Sailan. Prabu Dasabahu juga ikut pergi menyertai.

Sesampainya di Kerajaan Singgela, Raden Pandu segera bertindak menghadapi hewan-hewan gaib yang sering menyerang penduduk itu. Ia pun mengerahkan Aji Pengabaran membuat hewan-hewan tersebut musnah dan berubah wujud menjadi roh orang-orang yang telah mati. Salah satu di antara mereka adalah Bagawan Amisana, mertua Prabu Palguna sendiri.

Bagawan Amisana memimpin para arwah tersebut berterima kasih atas bantuan Raden Pandu yang membebaskan diri mereka dari penderitaan. Dulu semasa hidup, mereka adalah orang-orang yang senang memakai susuk, yaitu menanam semacam benda di dalam tubuh untuk tujuan tertentu. Ada yang memakai susuk kecantikan, ada yang memakai susuk keperkasaan, ada pula yang memakai susuk kewibawaan. Namun sayangnya, pemakaian susuk ini ternyata menghalangi mereka setelah meninggal dunia, yaitu ketika hendak memasuki alam baka. Akibatnya, mereka menjadi arwah penasaran yang bergentayangan mengganggu orang-orang yang masih hidup.

Kyai Semar menjelaskan barangsiapa memakai susuk hendaknya melepas benda itu sebelum meninggal. Jika si pemakai terlanjur meninggal tanpa sempat melepaskannya, maka pihak keluarga yang harus melepaskan benda itu saat memandikan jenazah, antara lain dengan menggunakan sarana daun kelor. Akan tetapi, yang lebih baik adalah menghindari pemakaian susuk dan menggantinya dengan memupuk rasa percaya diri serta mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Prabu Dasabahu dan Prabu Palguna mendengar penuturan Kyai Semar dengan seksama untuk nanti mereka sampaikan kepada rakyat negeri masing-masing.

Arwah Bagawan Amisana dan para pengikutnya sekali lagi berterima kasih, kemudian mohon pamit memasuki alam baka. Mereka pun meninggalkan benda-benda susuk yang mereka gunakan semasa hidup untuk diserahkan kepada Raden Pandu. Ada yang berupa batu permata, ada pula yang berupa logam mulia ataupun besi baja. Raden Pandu menerima benda-benda tersebut untuk dijadikan kenang-kenangan, bukan untuk digunakan sebagai susuk seperti yang telah mereka lakukan semasa hidup.

RADEN PANDU TERTARIK MELIHAT KEINDAHAN TAMAN SOKA

Prabu Palguna berterima kasih atas bantuan Raden Pandu yang telah mengembalikan ketenteraman di Kerajaan Singgela. Raden Pandu sendiri terkagum-kagum melihat keindahan istana Singgela. Prabu Palguna menjelaskan bahwa di Pulau Sailan ini dulunya terdapat Kerajaan Alengka yang jauh lebih indah daripada Kerajaan Singgela. Setelah Prabu Rahwana raja Alengka gugur di tangan Prabu Sri Rama (titisan Batara Wisnu), takhta pun diduduki adiknya yang bernama Prabu Wibisana, yang kemudian memindahkan ibu kota ke Singgela. Setelah beberapa tahun memimpin Kerajaan Singgela, Prabu Wibisana turun takhta menjadi pendeta di Gunung Cindramanik, dan ia pun digantikan putranya yang bernama Prabu Bisawarna. Kemudian Prabu Bisawarna digantikan putranya yang bernama Prabu Bisaka. Adapun Prabu Bisaka adalah ayah dari Prabu Palguna yang kemudian menggantikannya, serta ayah dari Dewi Panitra istri Prabu Dasabahu.

Mendengar cerita itu, Raden Pandu menjadi tertarik ingin melihat seperti apa sisa-sisa keindahan Kerajaan Alengka. Prabu Palguna pun mengantarkannya melihat-lihat ke sana. Istana Alengka sudah lama tidak ditempati namun tetap terjaga keindahannya, terutama Taman Soka yang dulu digunakan Prabu Rahwana untuk menyekap Rekyanwara Sinta, istri Sri Rama yang diculiknya.

Raden Pandu ingin sekali membangun taman sari di Kerajaan Hastina yang sama indahnya dengan Taman Soka. Prabu Palguna pun memberikan kepadanya berbagai macam bibit tanaman yang tumbuh di Taman Soka untuk nantinya ditanam di Kerajaan Hastina, sekaligus sebagai ungkapan terima kasih atas segala bantuan pangeran muda tersebut.

PRABU DASABAHU DAN PRABU PALGUNA BERGURU KEPADA PRABU KRESNA DWIPAYANA

Prabu Dasabahu dan Prabu Palguna merasa prihatin melihat nasib Dewi Panitra dan Bagawan Amisana yang menjadi arwah penasaran setelah meninggal dunia. Jika Dewi Panitra dapat dimaklumi karena semasa hidup memang kurang memerhatikan urusan kerohanian. Namun, di lain pihak Bagawan Amisana yang seorang pendeta ternyata masih bisa tersesat pula. Kyai Semar menjelaskan bahwa seseorang yang menguasai ilmu agama belum tentu dapat memasuki alam keabadian yang sebenarnya, apabila ilmu agama tersebut hanya dihafalkan tanpa dihayati, serta tidak digunakan untuk berbuat kebaikan terhadap sesama makhluk.

Mendengar itu, Prabu Dasabahu dan Prabu Palguna memohon kepada Kyai Semar supaya diajari ilmu “sangkan paran dumadi” dan “kalepasan budi” yang sejati, agar kelak setelah meninggal mereka dapat memasuki alam baka dengan sebaik-baiknya.

Kyai Semar mengaku dirinya hanya seorang pengasuh. Jika kedua raja tersebut ingin belajar, hendaknya mereka berguru kepada Prabu Kresna Dwipayana saja, karena raja Hastina tersebut dulunya seorang pendeta bijak berilmu sempurna, bernama Resi Abyasa. Prabu Dasabahu dan Prabu Palguna menerima saran tersebut dan mereka pun bersama-sama mengantarkan Raden Pandu pulang ke negeri Hastina.

Sesampainya di Hastina, rombongan tersebut disambut oleh Prabu Kresna Dwipayana dan Resiwara Bisma. Tiba-tiba datang pula arwah Dewi Panitra bersama sisa-sisa pasukannya yang masih bernafsu ingin membunuh Prabu Dasabahu untuk dijadikan sebagai pasangan di alam gaib. Resiwara Bisma terjun menghadapi mereka dengan mengerahkan Aji Pengabaran membuat para arwah tersebut lumpuh kehilangan daya dan memohon ampun. Prabu Kresna Dwipayana lalu membaca doa dan mantra untuk menyempurnakan para arwah penasaran tersebut sehingga mereka dapat memasuki alam baka dengan tenang.

Melihat itu, Prabu Dasabahu dan Prabu Palguna semakin yakin dan mereka pun menyampaikan niat untuk belajar ilmu kesempurnaan kepada raja Hastina tersebut. Prabu Kresna Dwipayana menerima niat baik mereka dengan senang hati supaya nantinya dapat diajarkan pula kepada pihak lain yang sungguh-sungguh menginginkannya.

RADEN PANDU MEMBANGUN TAMAN KADILENGLENG

Raden Pandu lalu menunjukkan bibit tanaman yang ia peroleh dari Taman Soka di bekas Kerajaan Alengka untuk bisa ditanam di Kerajaan Hastina. Prabu Kresna Dwipayana menyambut baik niat putranya tersebut. Raden Pandu lalu memimpin para juru taman membangun sebuah taman sari yang bentuknya sama persis dengan Taman Soka.

Kini taman indah tersebut telah berdiri. Prabu Kresna Dwipayana meresmikannya dengan memberikan nama Taman Kadilengleng, karena barangsiapa yang menyaksikan keindahan taman tersebut akan terkesima seperti orang yang sedang mabuk kepayang.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya












Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ▼  2015 (39)
    • ▼  December (3)
      • Gandamana Lahir
      • Pandu Nyirep Pageblug
      • Pandu Sraya
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja