Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Purwaganti Takon Bapa

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang Bambang Purwaganti yang mencari ayahnya, yaitu Resi Anoman. Dikisahkan pula tentang Raden Nakula yang mencari hilangnya Raden Sadewa beserta Jamus Kalimahusada.

Kisah ini saya olah dari sumber rubrik Pedhalangan di Majalah Panjebar Semangat, yang dipadukan dengan keterangan pada Ensiklopedia Wayang Purwa karya Rio Sudibyoprono, dengan perubahan seperlunya.

Kediri, 26 Oktober 2018

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

Bambang Purwaganti saat memakai wujud wanara.

------------------------------ ooo ------------------------------

PRABU KRESNA MENDAPAT SURAT TANTANGAN DARI KERAJAAN PURWANTARA

Di Kerajaan Dwarawati, Prabu Kresna Wasudewa memimpin pertemuan yang dihadiri sang putra mahkota Raden Samba Wisnubrata, sang senapati Arya Setyaki, serta menteri utama Patih Udawa. Hadir pula sang kakak dari Kerajaan Mandura, yaitu Prabu Baladewa.

Kedatangan Prabu Baladewa adalah karena mendapat surat undangan dari Prabu Kresna, di mana surat tersebut berisi tentang adanya hal penting yang sedang menimpa Kerajaan Dwarawati. Prabu Baladewa pun memacu Gajah Puspadenta dengan didampingi Patih Pragota dan Arya Prabawa. Kini ia telah sampai di hadapan Prabu Kresna dan menanyakan ada masalah apa yang sedang dihadapi Kerajaan Dwarawati.

Prabu Kresna menjawab, tujuh hari yang lalu dirinya menerima kiriman surat dari seorang bernama Prabu Dewakusuma di Kerajaan Purwantara. Dalam surat itu disebutkan bahwa Prabu Dewakusuma ingin meminta pusaka Kerajaan Dwarawati yang bernama Cakra Sudarsana. Prabu Kresna diminta untuk menyiapkannya, dan kelak setelah tujuh hari akan datang utusan Prabu Dewakusuma yang mengambil pusaka itu. Apabila Prabu Kresna menolak menyerahkan Senjata Cakra, maka Prabu Dewakusuma tidak segan-segan untuk menggempur Kerajaan Dwarawati dan meratakannya dengan tanah.

Prabu Baladewa sangat marah dan terkejut mendengar isi surat itu. Ia menyebut Prabu Dewakusuma sungguh lancang berani menantang Kerajaan Dwarawati. Cakra Sudarsana adalah lambang Kerajaan Dwarawati. Meminta senjata Cakra sama artinya Prabu Dewakusuma meminta Prabu Kresna menyerahkan kedaulatan Kerajaan Dwarawati kepadanya. Namun demikian, Prabu Baladewa heran mengapa Prabu Kresna tidak langsung menghajar Kerajaan Purwantara. Mengapa pula harus meminta pendapat darinya terlebuh dahulu?

Prabu Kresna menjawab, dirinya adalah titisan Batara Wisnu, sehingga tidak boleh sembarangan berperang. Prabu Kresna terikat aturan bahwa ia hanya boleh berperang melawan musuh yang benar-benar boleh dilawan. Itu sebabnya ia pun mengundang Prabu Baladewa, karena ia yakin kakaknya itu memiliki cara untuk mengatasi Prabu Dewakusuma.

Prabu Baladewa menyebut Prabu Kresna terlalu banyak adat. Sejak kecil mereka hidup bersama tentunya saling mengetahui sifat masing-masing. Prabu Baladewa sifatnya terbuka. Jika ada musuh ya dilawan, cukup begitu saja. Maka, jika nanti pasukan Kerajaan Purwantara datang menyerang, ia siap untuk menghadapi mereka. Prabu Kresna tidak perlu khawatir soal ini.

PATIH DASAGRIWA MENAGIH SENJATA CAKRA

Tidak lama kemudian, datanglah utusan dari Kerajaan Purwantara menghadap Prabu Kresna. Utusan tersebut berwujud wanara berbadan tinggi besar, mengaku bernama Patih Dasagriwa. Ia diutus Prabu Dewakusuma untuk mengambil senjata Cakra Sudarsana, karena tujuh hari yang lalu rajanya itu telah berkirim surat meminta Prabu Kresna agar menyiapkan pusaka tersebut. Kini tentunya senjata Cakra sudah disiapkan dan Patih Dasagriwa hanya tinggal mengambil saja.

Prabu Baladewa maju menengahi. Ia mengaku dirinya telah mendapat mandat dari Prabu Kresna untuk mewakili serah terima senjata Cakra. Namun, sebelum menerima senjata Cakra, Patih Dasagriwa harus kuat menerima senjata Nanggala miliknya terlebih dulu. Patih Dasagriwa paham Prabu Baladewa telah menantangnya berperang. Maka, ia pun mempersilakan Prabu Baladewa bertempur di luar apabila hendak menjajal kesaktiannya.

Prabu Baladewa semakin marah melihat ada wanara begitu sombong di hadapannya. Maka, ia pun mohon pamit kepada Prabu Kresna menghadapi Patih Dasagriwa dan pasukannya. Prabu Kresna menyerahkan sepenuhnya persoalan ini kepada sang kakak. Ia juga memerintahkan Arya Setyaki dan Patih Udawa untuk ikut mendampingi Prabu Baladewa.

PRABU KRESNA MENINGGALKAN KERAJAAN DWARAWATI

Sesampainya di luar istana, kedua pihak pun berhadap-hadapan. Maka, terjadilah pertempuran di mana pasukan Dwarawati bertempur melawan pasukan Purwantara. Prabu Baladewa bertarung menghadapi Patih Dasagriwa. Tak disangka, Patih Dasagriwa ternyata sangat sakti tidak bisa dilukai menggunakan senjata Nanggala. Bahkan sebaliknya, justru Prabu Baladewa yang dapat diringkus dan ditangkap oleh Patih Dasagriwa.

Arya Setyaki, Patih Udawa, Patih Pragota, dan Arya Prabawa serentak menyerang Patih Dasagriwa untuk membebaskan Prabu Baladewa. Namun, mereka semua juga ikut tertangkap dan menjadi tawanan pasukan Purwantara.

Melihat kekalahan ada di pihaknya, Raden Samba segera mundur untuk melapor kepada Prabu Kresna. Tak disangka, ayahnya itu justru memilih untuk mengungsi. Raden Samba bertanya mengapa Patih Dasagriwa tidak dilawan saja, bukankah ayahnya itu titisan Batara Wisnu? Prabu Kresna menjawab, Batara Wisnu yang bersemayam di dalam dirinya tidak mengizinkan untuk berperang melawan Patih Dasagriwa. Raden Samba bertanya apakah ayahnya itu tidak malu jika sampai dicemooh orang lain sebagai raja pengecut. Prabu Kresna menjawab, untuk apa takut pada perkataan orang? Manusia memiliki jiwa dan pikiran sendiri, tidak perlu bergantung pada penilaian orang.

Raden Samba tidak berani membantah lagi. Prabu Kresna lalu berangkat mengungsi. Ia berpesan apabila Patih Dasagriwa bertanya, tolong dijawab saja bahwa ia pergi mengungsi ke Kerajaan Amarta. Patih Dasagriwa hendaknya dipersilakan untuk mengejar ke sana. Raden Samba heran mengapa tempat pengungsian harus diberi tahukan kepada musuh? Namun, ia tidak berani membantah dan hanya bisa mematuhi perintah itu saja.

Demikianlah, Prabu Kresna pun berangkat meninggalkan Kerajaan Dwarawati. Tidak lama kemudian Patih Dasagriwa datang mencarinya. Sesuai pesan tadi, Raden Samba pun memberi tahu Patih Dasagriwa bahwa ayahnya telah pergi mengungsi ke Kerajaan Amarta. Apabila Patih Dasagriwa masih ingin merebut senjata Cakra, silakan untuk mengejar ke sana.

Patih Dasagriwa melihat wajah Raden Samba tampak berkata jujur. Ia pun memerintahkan seorang punggawa untuk pergi melapor kepada Prabu Dewakusuma di Kerajaan Purwantara, sedangkan dirinya berangkat mengejar Prabu Kresna.

BAMBANG PURWAGANTI INGIN MENCARI AYAHNYA

Tersebutlah seorang pendeta bernama Resi Purwapada, pemimpin Padepokan Andongcinawi. Ia memiliki satu orang putri bernama Endang Purwati. Adapun Endang Purwati juga memiliki anak laki-laki yang bernama Bambang Purwaganti.

Usia Bambang Purwaganti sudah hampir tiga puluh tahun, tetapi ia sama sekali belum pernah bertemu dengan ayah kandungnya. Ia pun bertanya kepada sang ibu, namun ibunya tidak pernah mau menceritakan yang sebenarnya. Karena terus-menerus didesak, akhirnya Endang Purwati melaporkan hal ini kepada Resi Purwapada.

Resi Purwapada merasa memang sudah saatnya Bambang Purwaganti mengetahui siapa ayah kandungnya. Ia lalu bertanya kepada cucunya itu, apakah tidak malu apabila memiliki ayah bukan dari golongan manusia. Bambang Purwaganti menjawab, dirinya tidak akan pernah malu apa pun wujud ayahnya. Meskipun ayahnya berwujud raksasa menyeramkan, tetap saja ia ingin datang menyembah, sebagai wujud syukur dan darmabakti seorang anak kepada orang tua yang telah mengukir jiwa raganya.

Resi Purwapada senang mendengar jawaban cucunya itu. Ia pun bercerita bahwa sekitar tiga puluh tahun lalu ada seekor wanara tua berbulu putih bersih datang dari seberang lautan. Wanara tersebut bernama Kapi Anoman yang datang ke Pulau Jawa untuk mengejar roh Prabu Rahwana. Semasa hidupnya, Prabu Rahwana adalah raja angkara murka yang akhirnya dapat dikalahkan oleh Prabu Sri Rama, titisan Batara Wisnu. Agar tidak bangkit kembali, mayat Prabu Rahwana pun ditindih Kapi Anoman menggunakan Gunung Ungrungan.

Ratusan tahun berlalu, tiba-tiba roh Prabu Rahwana berhasil meloloskan diri dari penjara gaib Gunung Ungrungan. Menurut petunjuk dewata, roh Prabu Rahwana kabur ke arah Pulau Jawa untuk mencari titisan Dewi Wedawati yang bersemayam dalam diri Dewi Sumbadra. Selain itu, di Pulau Jawa juga ada titisan Batara Wisnu dalam wujud Prabu Kresna raja Dwarawati, serta Saudara Tunggal Bayu Kapi Anoman yang bernama Arya Wrekodara di Kerajaan Amarta.

Kapi Anoman pun membulatkan tekad untuk mengejar roh Prabu Rahwana ke Pulau Jawa, sekaligus ingin berjumpa dengan Arya Wrekodara dan ingin pula mengabdi kepada Prabu Kresna. Namun, karena usianya sudah sangat tua, ia pun kelelahan saat menyeberangi lautan hingga akhirnya jatuh pingsan ketika sampai di Pulau Jawa. Untungnya, Kapi Anoman ditemukan Resi Purwapada dan Endang Purwati. Kedua ayah dan anak itu pun merawatnya sampai sembuh.

Rupanya, kebersamaan setiap hari membuat Kapi Anoman dan Endang Purwati saling tertarik. Cinta memang tidak mengenal jarak usia, juga tidak mengenal perbedaan wujud. Resi Purwapada yang bijaksana juga merestui hubungan mereka. Maka, Kapi Anoman dan Endang Purwati dinikahkan secara sederhana di Padepokan Andongcinawi.

Akan tetapi, Kapi Anoman kemudian sadar bahwa dirinya sedang mengemban tugas untuk mengejar dan menangkap roh Prabu Rahwana. Diam-diam ia pun pergi tanpa pamit meninggalkan Padepokan Andongcinawi. Ia sama sekali tidak tahu kalau Endang Purwati sedang mengandung putranya. Hingga akhirnya, Endang Purwati pun melahirkan seorang putra yang diberi nama Bambang Purwaganti.

Demikianlah kisah yang disampaikan Resi Purwapada. Kini Bambang Purwaganti telah mengetahui siapa ayah kandungnya. Ia merasa bangga ternyata ayahnya bukan orang sembarangan. Meskipun berwujud wanara, Kapi Anoman seorang pembela kebenaran, musuh kaum angkara murka. Ia pun bertekad bulat ingin bertemu dengan ayahnya tersebut.

Endang Purwati tidak bisa mencegah keinginan putranya. Ia hanya bisa memberikan restu semoga Bambang Purwaganti dapat mewujudkan keinginannya. Resi Purwapada pun memberikan petunjuk, apabila Bambang Purwaganti ingin bertemu Kapi Anoman, maka hendaknya pergi mencari Prabu Kresna di Kerajaan Dwarawati, atau mencari Arya Wrekodara di Kerajaan Amarta. Selain itu, Resi Purwapada juga mengajarkan sebuah mantra kepada cucunya itu untuk pertahanan diri apabila bertemu musuh sakti. Bambang Purwaganti berterima kasih, lalu ia pun mohon pamit meninggalkan Padepokan Andongcinawi.

PRABU KRESNA BERTEMU RADEN NAKULA DAN ARYA GATUTKACA

Sementara itu, Prabu Kresna yang sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Amarta bertemu rombongan Raden Nakula di tengah jalan. Tampak Raden Nakula berjalan ditemani Arya Gatutkaca dan para panakawan. Mereka pun saling bertanya kabar. Ternyata tujuan Raden Nakula adalah hendak pergi ke Kerajaan Dwarawati untuk menanyakan perihal hilangnya Raden Sadewa, saudara kembarnya.

Raden Nakula bercerita sekitar dua bulan yang lalu Raden Sadewa meminjam pusaka Jamus Kalimahusada kepada Prabu Puntadewa untuk membaca isinya sampai tamat. Prabu Puntadewa pun meminjamkannya, karena ia tahu watak Raden Sadewa yang gemar belajar. Namun, ketika pusaka berwujud kitab itu berada di tangan Raden Sadewa, tiba-tiba saja melayang dengan cepat meninggalkan istana Kerajaan Amarta.

Raden Sadewa merasa bersalah telah menghilangkan Jamus Kalimahusada. Ia pun mohon pamit kepada Prabu Puntadewa untuk mengejar terbangnya pusaka tersebut. Hari demi hari berlalu, ternyata Raden Sadewa ikut menghilang dan tidak pernah mengirimkan kabar. Prabu Puntadewa mengerahkan para punggawa untuk mencari namun tidak berhasil mendapatkan petunjuk. Raden Nakula yang merasa cemas memutuskan untuk melapor kepada Prabu Kresna. Prabu Puntadewa setuju dan memerintahkan Arya Gatutkaca dan para panakawan agar ikut menemani.

Mendengar kisah tersebut, Prabu Kresna mengheningkan cipta sejenak dan kemudian berkata bahwa Raden Sadewa tidak perlu dicari karena sebentar lagi ia akan muncul di Kerajaan Amarta. Raden Nakula merasa penasaran. Ia kemudian bertanya kepada Prabu Kresna mengapa berjalan kaki sendirian. Prabu Kresna pun menceritakan tentang peperangan yang dialami Kerajaan Dwarawati melawan serangan Kerajaan Purwantara dari awal hingga akhir.

Mendengar itu, Arya Gatutkaca tergerak hatinya ingin membantu. Namun, Prabu Kresna melarangnya karena ia bukan lawan Patih Dasagriwa. Arya Gatutkaca semakin dilarang justru semakin penasaran. Ia pun mohon pamit dan melesat terbang ke arah Patih Dasagriwa yang telah muncul mengejar Prabu Kresna.

Patih Dasagriwa dengan tangkas menghadapi serangan Arya Gatutkaca. Pertarungan sengit pun terjadi. Arya Gatutkaca merasa lawannya ini benar-benar tangguh. Ia tidak mampu mengalahkan Patih Dasagriwa. Sebaliknya, justru Patih Dasagriwa yang berhasil meringkusnya dan menjadikan Arya Gatutkaca sebagai tawanan seperti Prabu Baladewa, Arya Setyaki, dan yang lain.

Melihat itu, Prabu Kresna segera menarik lengan Raden Nakula dan membawanya terbang menuju Kerajaan Amarta.

PRABU KRESNA TIBA DI KERAJAAN AMARTA

Di Kerajaan Amarta, Prabu Puntadewa duduk dihadap Arya Wrekodara, Raden Arjuna, dan Patih Tambakganggeng. Mereka lalu menyambut kedatangan Prabu Kresna dan Raden Nakula yang tampak terburu-buru seperti dikejar musuh. Prabu Kresna pun menceritakan semua yang terjadi di mana Kerajaan Dwarawati diserang utusan Prabu Dewakusuma raja Purwantara bernama Patih Dasagriwa, yang ingin merebut senjata Cakra. Ia juga menceritakan bahwa Prabu Baladewa, Arya Setyaki, Patih Udawa, dan juga Arya Gatutkaca saat ini sudah menjadi tawanan musuh.

Arya Wrekodara marah mendengar putranya ikut tertangkap. Ia bertanya mengapa Prabu Kresna sebagai titisan Batara Wisnu tidak memberikan perlawanan? Prabu Kresna menjawab, justru karena dirinya adalah titisan Batara Wisnu maka semuanya harus serba berhati-hati. Prabu Kresna tidak akan berperang apabila Batara Wisnu yang bersemayam dalam dirinya tidak mengizinkan untuk berperang.

Arya Wrekodara menjawab, apabila Batara Wisnu tidak mengizinkan Prabu Kresna berperang, maka biarlah dirinya saja yang menghadapi Patih Dasagriwa. Prabu Kresna melarang, karena ia mendapat firasat sebentar lagi orang yang bisa menghadapi Patih Dasagriwa akan segera tiba.

BAMBANG PURWAGANTI MENERIMA SYARAT PRABU KRESNA

Tidak lama kemudian datanglah Bambang Purwaganti menghadap Prabu Puntadewa. Setelah memperkenalkan diri, ia pun bertanya apakah bisa berjumpa Arya Wrekodara? Arya Wrekodara balik bertanya mengapa Bambang Purwaganti ingin bertemu dengan dirinya.

Bambang Purwaganti pun memperkenalkan diri sebagai putra Kapi Anoman yang lahir dari Endang Purwati, putri Resi Purwapada dari Padepokan Andongcinawi. Menurut petunjuk kakeknya, jika ingin bertemu Kapi Anoman maka hendaknya bertanya kepada Prabu Kresna raja Dwarawati atau kepada Arya Wrekodara di Kerajaan Amarta. Karena jarak Kerajaan Amarta lebih dekat dari Padepokan Andongcinawi, maka ia pun memilih menuju ke sana daripada ke Kerajaan Dwarawati.

Arya Wrekodara menjawab memang benar bahwa Kapi Anoman adalah kakaknya sesama Kadang Tunggal Bayu. Namun, sekarang kakaknya itu sudah menjadi pendeta di Padepokan Kendalisada di Gunung Kundalini, bergelar Resi Kapiwara Anoman. Prabu Kresna menyela, apabila Bambang Purwaganti ingin bertemu ayahnya, maka ia bisa mendatangkan Resi Anoman saat ini juga. Namun ada syaratnya, yaitu Bambang Purwaganti harus bisa mengalahkan Patih Dasagriwa terlebih dahulu.

Bambang Purwaganti menyanggupi. Ia pun bertanya di mana orang yang bernama Patih Dasagriwa itu. Tiba-tiba di luar terdengar suara gaduh. Rupanya Patih Dasagriwa sudah datang untuk mengejar Prabu Kresna dan kini ia bertempur melawan para prajurit Amarta.

BAMBANG PURWAGANTI MELAWAN PATIH DASAGRIWA

Bambang Purwaganti pun keluar mendatangi Patih Dasagriwa. Ia berkata apabila Patih Dasagriwa ingin menangkap Prabu Kresna, maka ia harus mengalahkan dirinya terlebih dulu. Patih Dasagriwa tertawa mengejek karena Prabu Baladewa, Arya Setyaki, dan Arya Gatutkaca saja dapat ia kalahkan, apalagi seorang pemuda tak dikenal macam Bambang Purwaganti apa susahnya. Usai berkata demikian, ia pun melesat menerjang pemuda itu dengan kecepatan tinggi.

Bambang Purwaganti cekatan menghadapi serangan Patih Dasagriwa. Pertarungan sengit pun terjadi di antara mereka. Lama-lama Bambang Purwaganti terdesak oleh kesaktian Patih Dasagriwa. Ketika sudah hampir kalah, tiba-tiba ia teringat pada mantra yang diajarkan sang kakek. Maka, dibacalah mantra tersebut dalam hati. Tiba-tiba sekujur tubuh Bambang Purwaganti berubah menjadi seekor wanara berbulu putih yang mirip sekali dengan Resi Anoman semasa muda dulu.

Bambang Purwaganti pun bangkit menyerang Patih Dasagriwa. Kini keduanya tampak seimbang, sama-sama wanara; yang satu gagah, yang satu tangkas. Lama-lama Patih Dasagriwa terdesak kalah. Tubuhnya ditangkap Bambang Purwaganti dan dibanting ke tanah. Seketika wujud Patih Dasagriwa pun musnah dan berubah menjadi pusaka Jamus Kalimahusada.

BAMBANG PURWAGANTI BERTEMU AYAHNYA

Prabu Puntadewa maju memungut Jamus Kalimahusada. Ia berterima kasih kepada Bambang Purwaganti yang telah berhasil menemukan kembali pusaka Kerajaan Amarta yang hilang tersebut. Kini tinggal Raden Sadewa yang belum ditemukan. Padahal, Raden Sadewa berniat mencari hilangnya Jamus Kalimahusada, namun justru ia sendiri juga ikut menghilang.

Sesuai janjinya, Prabu Kresna pun mengheningkan cipta mengerahkan Aji Pameling. Seketika datanglah Resi Anoman di hadapan Prabu Kresna akibat terkena daya sakti ajian tersebut. Ia pun bertanya ada tugas apa sehingga dirinya didatangkan ke Kerajaan Amarta. Prabu Kresna memberi tahu Resi Anoman bahwa wanara putih yang mirip dirinya tersebut adalah Bambang Purwaganti yang lahir dari Endang Purwati. Resi Anoman tidak menyangka perkawinannya dengan Endang Purwati telah membuahkan putra. Saat menikah dulu, Resi Anoman sudah berusia sangat tua dan ia mengira tidak mungkin bisa punya anak lagi. Itulah sebabnya, ia pergi meninggalkan Padepokan Andongcinawi tanpa mengetahui kalau istrinya sedang mengandung.

Bambang Purwaganti pun maju menyembah Resi Anoman. Resi Anoman menyambut putranya itu dan memeluknya erat. Prabu Kresna berterima kasih atas bantuan Bambang Purwaganti dan mempersilakannya untuk pergi bersama sang ayah. Resi Anoman pun mohon pamit dan membawa Bambang Purwaganti pulang ke Padepokan Andongcinawi untuk menemui Resi Purwapada dan Endang Purwati.

PRABU DEWAKUSUMA MENYERANG KERAJAAN AMARTA

Kedaan masih belum tenang. Kini Prabu Dewakusuma yang datang menyerang Kerajaan Amarta karena sebelumnya telah mendapat laporan dari punggawa yang dikirim Patih Dasagriwa. Arya Wrekodara pun bertanya kepada Prabu Kresna, kali ini siapa yang bisa mengatasi Prabu Dewakusuma sedangkan Bambang Purwaganti sudah pergi bersama ayahnya. Prabu Kresna tersenyum dan memberi isyarat kepada Raden Nakula untuk maju perang. Arya Wrekodara heran mengapa adiknya itu yang diperintah untuk maju, karena selama ini si kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa sangat sedikit dalam pengalaman bertempur.

Prabu Kresna menjawab, ini adalah perintah Batara Wisnu yang ada di dalam dirinya. Raden Nakula tidak banyak bicara. Ia pun maju menghadapi amukan Prabu Dewakusuma. Pertempuran terjadi di antara mereka. Raden Nakula bertarung imbang melawan Prabu Dewakusuma. Namun, lama-lama ia terdesak mundur oleh kesaktian lawannya tersebut.

Melihat itu, Prabu Kresna segera berbisik memberikan petunjuk kepada Prabu Puntadewa. Prabu Puntadewa pun maju dan menyerahkan Jamus Kalimahusada kepada Raden Nakula. Raden Nakula menerima pusaka itu, lalu melemparkannya ke dada Prabu Dewakusuma. Seketika wujud Prabu Dewakusuma pun musnah dan berubah menjadi Raden Sadewa.

Raden Nakula terkejut dan segera memapah Raden Sadewa yang bingung seperti orang linglung. Prabu Kresna dan para Pandawa yang lain juga ikut menghampiri. Raden Sadewa yang telah pulih kesadarannya segera mohon ampun kepada Prabu Puntadewa. Selama ini ia telah bersikap sombong karena merasa paling cerdas di antara para Pandawa. Ia pun nekad meminjam Jamus Kalimahusada karena yakin pasti dapat memahami isinya. Tak disangka, Jamus Kalimahusada menolak dipegang olehnya dan mendadak terbang keluar meninggalkan Kerajaan Amarta. Waktu itu Raden Sadewa ketakutan dan segera pergi mengejar. Ketika ia berhasil menangkap Jamus Kalimahusada, ternyata pusaka itu berubah wujud menjadi seekor wanara bernama Kapi Dasagriwa. Wanara itu lalu menyihir Raden Sadewa sehingga lupa ingatan dan menjadikannya sebagai raja bernama Prabu Dewakusuma.

Kini semuanya telah berakhir. Jamus Kalimahusada telah kembali ke tangan Prabu Puntadewa, dan memang hanya Prabu Puntadewa saja yang sanggup memegangnya. Selain itu, Raden Sadewa juga telah mendapatkan kembali kesadarannya. Prabu Baladewa, Arya Setyaki, Arya Gatutkaca, Patih Udawa, Patih Pragota, dan Arya Prabawa, semuanya pun telah dibebaskan. Bersama-sama mereka memanjatkan puji syukur atas segala karunia Yang Mahakuasa, sehingga permasalahan ini dapat teratasi.

Patih Dasagriwa.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya

Catatan : Saya mencoba untuk menciptakan hubungan antara lakon di atas dengan Wahyu Purbasejati.


Untuk kisah awal mula pertemuan Kapi Anoman dengan Prabu Kresna dan Arya Wrekodara bisa dibaca di sini.









Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Kikis Tunggarana

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang perang antara Prabu Boma Narakasura melawan Prabu Arya Gatutkaca yang memperebutkan Kadipaten Tunggarana, yang akhirnya dapat didamaikan oleh Bambang Pamegat-tresna putra Raden Arjuna.

Kisah ini saya olah dari sumber ilustrasi kalender Rokok Grendhel, dengan perubahan seperlunya.

Kediri, 19 Oktober 2018

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

------------------------------ ooo ------------------------------

Bambang Pamegat-tresna menengahi Prabu Boma dan Arya Gatutkaca.

PRABU BOMA NARAKASURA BERNIAT MENGHUKUM ADIPATI KAHANA

Di Kerajaan Trajutiksna, Prabu Boma Narakasura memimpin pertemuan dihadap para menteri dan punggawa raksasa, antara lain Patih Pancadnyana, Ditya Yayahgriwa, Ditya Mahudara, Ditya Amisunda, dan Ditya Ancakugra. Dalam pertemuan itu, Prabu Boma menanyakan alasan mengapa Adipati Kahana dari Kadipaten Tunggarana tidak pernah lagi datang menghadap kepadanya.

Patih Pancadnyana melaporkan hasil penyelidikan mata-matanya yang melihat Adipati Kahana pergi ke Kerajaan Pringgadani, menghadap Prabu Arya Gatutkaca. Besar kemungkinan, Adipati Kahana ingin melepaskan Kadipaten Tunggarana dari kekuasaan Kerajaan Trajutiksna dan bergabung dengan Kerajaan Pringgadani.

Prabu Boma yang memiliki dendam pribadi terhadap Arya Gatutkaca seketika marah besar mendengar berita ini. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak apabila benar Adipati Kahana lebih memilih menjadi bawahan Kerajaan Pringgadani daripada Kerajaan Trajutiksna. Maka, ia pun mengutus Ditya Yayahgriwa pergi ke Tunggarana untuk menangkap Adipati Kahana dan menyeretnya ke istana Trajutiksna. Ditya Yayahgriwa menjawab bersedia, dan segera berangkat melaksanakan tugas.

ADIPATI KAHANA MENGUNJUNGI KERAJAAN PRINGGADANI

Adipati Kahana yang dicari-cari saat itu tidak berada di Kadipaten Tunggarana, melainkan sedang berkunjung ke Kerajaan Pringgadani dengan ditemani Resi Sumberkatong. Prabu Arya Gatutkaca didampingi para paman, yaitu Patih Prabakesa (Brajalamatan), Raden Prabagati (Brajawikalpa), dan Raden Kalabendana menyambut dan menerima kedatangan mereka.

Beberapa waktu yang lalu, Adipati Kahana dan Resi Sumberkatong sudah berkunjung ke Pringgadani, namun tidak bertemu Arya Gatutkaca karena sedang berada di Kerajaan Amarta. Kali ini ia datang lagi untuk yang kedua kalinya dan bertemu dengan raja Pringgadani tersebut.

Adipati Kahana pun menyampaikan kegelisahan hatinya yang tidak betah menjadi bawahan Kerajaan Trajutiksna. Kepemimpinan Prabu Boma Narakasura ia rasakan sewenang-wenang dan terlalu menindas Kadipaten Tunggarana. Setiap saat wilayah Tunggarana yang subur diperas untuk diangkut hasil buminya ke ibu kota Trajutiksna. Pembayaran pajak dan upeti Kadipaten Tunggarana jauh lebih besar dibanding kadipaten-kadipaten lainnya. Bahkan, Prabu Boma mengumumkan kenaikan pajak dan upeti yang harus dibayar Kadipaten Tunggarana dalam setahun bisa tiga kali. Jika ini dituruti, rakyat Tunggarana akan semakin miskin karena hasil jerih payah mereka lebih banyak yang diangkut ke ibu kota daripada untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Arya Gatutkaca menjawab, dirinya merasa prihatin atas keadaan Tunggarana. Namun, ia merasa serbasalah jika ikut campur urusan Kadipaten Tunggarana yang masuk ke dalam wilayah Kerajaan Trajutiksna. Resi Sumberkatong menyela ikut bicara. Ia bercerita bahwa dahulu kala Kadipaten Tunggarana adalah bawahan Kerajaan Pringgadani, bukan berada di bawah Kerajaan Trajutiksna.

Resi Sumberkatong saat itu menjabat sebagai patih Kadipaten Tunggarana, mendampingi Adipati Kalapustaka. Adapun Kerajaan Pringgadani masih di bawah kepemimpinan Prabu Arimba. Setelah Prabu Arimba meninggal, Kerajaan Pringgadani dipimpin oleh Dewi Arimbi. Namun, karena Dewi Arimbi telah menikah dengan Arya Wrekodara dari keluarga Pandawa, maka ia lebih banyak tinggal di Kesatrian Unggulpawenang bersama suami daripada tinggal di Kerajaan Pringgadani. Adapun tugas memimpin Kerajaan Pringgadani sehari-hari diwakili oleh adiknya, yaitu Adipati Brajadenta dari Kadipaten Glagahtinunu.

Rupanya Adipati Brajadenta terlalu sibuk membagi waktu antara memimpin Kerajaan Pringgadani dan mengatur Kadipaten Glagahtinunu, sehingga ia tidak mampu mempertahankan Kadipaten Tunggarana ketika diserang Prabu Bomantara dari Kerajaan Surateleng. Adipati Kalapustaka gugur dalam serangan itu, dan Kadipaten Tunggarana resmi menjadi jajahan Kerajaan Surateleng. Putra Adipati Kalapustaka pun dijadikan sebagai bawahan Prabu Bomantara, yaitu Adipati Kahana, sedangkan Patih Sumberkatong dijadikan sebagai pendeta, bergelar Resi Sumberkatong.

Beberapa tahun berlalu, Prabu Bomantara gugur di tangan Raden Sitija, yang kemudian menduduki Kerajaan Surateleng dengan gelar Prabu Boma Narakasura. Kemudian Kerajaan Surateleng diganti nama menjadi Kerajaan Trajutiksna, dan Adipati Kahana pun menjadi bawahan Prabu Boma Narakasura.

Demikianlah sejarah Kadipaten Tunggarana yang awalnya merupakan bawahan Kerajaan Pringgadani, kini berganti menjadi bawahan Kerajaan Trajutiksna. Adipati Kahana dan Resi Sumberkatong sepakat ingin Kadipaten Tunggarana kembali menjadi bawahan Kerajaan Pringgadani, yaitu setelah mereka mendengar kabar bahwa Arya Gatutkaca putra Dewi Arimbi naik takhta dan memimpin dengan bijaksana, meskipun masih usia muda.

Arya Gatutkaca terdiam tidak menanggapi pujian Resi Sumberkatong. Ia lalu meminta pertimbangan kepada Patih Prabakesa, Raden Prabagati, dan Raden Kalabendana. Ketiga pamannya itu meminta Arya Gatutkaca untuk tidak buru-buru mengabulkan permohonan Adipati Kahana, karena ini menyangkut wibawa negara lain, yaitu Kerajaan Trajutiksna. Arya Gatutkaca harus pula memikirkan perasaan Prabu Boma Narakasura. Jangan sampai urusan Kadipaten Tunggarana membuat hubungan antara para orang tua, yaitu Prabu Kresna dan para Pandawa menjadi rusak.

DITYA YAYAHGRIWA HENDAK MENYERET ADIPATI KAHANA

Belum sempat Arya Gatutkaca menjawab permohonan Adipati Kahana, tiba-tiba datang Ditya Yayahgriwa menghadap. Setelah memberi salam, ia pun berkata bahwa dirinya diutus Prabu Boma Narakasura untuk menangkap Adipati Kahana dan membawanya ke Kerajaan Trajutiksna. Mula-mula ia datang ke Kadipaten Tunggarana tetapi Adipati Kahana tidak ada di sana. Maka, ia pun bergegas menyusul ke Kerajaan Pringgadani dan ternyata benar bisa menemukan orang yang dicarinya itu.

Arya Gatutkaca bertanya mengapa Adipati Kahana harus ditangkap dan dihadapkan kepada Prabu Boma Narakasura. Ditya Yayayhgriwa menjelaskan bahwa Adipati Kahana berniat memberontak dan ingin melepaskan diri sebagai bawahan Kerajaan Trajutiksna. Ini adalah kesalahan besar yang harus mendapatkan hukuman berat.

Arya Gatutkaca berkata kepada Adipati Kahana agar pulang dan mematuhi panggilan Prabu Boma. Namun, Adipati Kahana menolak. Ia berkata dirinya pasti dihukum mati oleh Prabu Boma Narakasura jika datang ke istana Trajutiksna. Apabila dirinya mati, maka rakyat Tunggarana akan kehilangan pemimpin dan semakin ditindas oleh Prabu Boma. Maka, ia pun memohon perlindungan kepada Arya Gatutkaca atas masalah ini.

Ditya Yayahgriwa marah melihat Adipati Kahana memohon perlindungan kepada raja Pringgadani. Ia pun berniat menjambak Adipati Kahana dan menyeretnya keluar. Patih Prabakesa maju menangkis tangan Ditya Yayahgriwa. Ia berkata bahwa Adipati Kahana adalah tamu Kerajaan Pringgadani, maka memperlakukannya dengan kasar sama artinya menghina wibawa Kerajaan Pringgadani. Ditya Yayahgriwa semakin marah dan meminta Arya Gatutkaca menegur Patih Prabakesa yang ikut campur.

Arya Gatutkaca menjawab, memang benar Adipati Kahana saat ini menjadi tamu Kerajaan Pringgadani, maka tidak boleh diperlakukan semena-mena di hadapannya. Ia mempersilakan Ditya Yayahgriwa agar pulang lebih dulu. Nanti, dia sendiri yang akan mengantarkan Adipati Kahana menghadap Prabu Boma Narakasura.

Ditya Yayahgriwa tertawa tidak percaya. Ia menyebut dirinya bukan anak kecil yang mudah dibohongi. Ia ditugasi Prabu Boma untuk menangkap Adipati Kahana, dan itu harus dilaksanakan. Apabila Arya Gatutkaca berniat melindungi Adipati Kahana demi supaya bisa mengangkangi bumi Tunggarana yang subur, maka itu artinya Kerajaan Pringgadani harus siap berperang melawan Kerajaan Trajutiksna.

Patih Prabakesa tidak terima mendengar Ditya Yayahgriwa berkata kasar terhadap Arya Gatutkaca. Ia pun maju dan menendang tubuh Ditya Yayahgirwa hingga terpental keluar istana.

Ditya Yayahgriwa terguling di depan istana Kerajaan Pringgadani. Para raksasa Trajutiksna lainnya, yaitu Ditya Amisunda, Ditya Mahodara, dan Ditya Ancakugra segera maju menolong. Mereka bersama-sama mengamuk membuat keributan menantang para raksasa Pringgadani. Patih Prabakesa dan Raden Prabagati memimpin pasukan Pringgadani menghadapi mereka. Pertempuran pun terjadi. Para raksasa Trajutiksna akhirnya terdesak dan kabur meninggalkan tempat itu.

PRABU BOMA NARAKASURA BERANGKAT MENGEPUNG KERAJAAN PRINGGADANI

Prabu Boma Narakasura sedang duduk di istana Trajutiksna dihadap Patih Pancadnyana. Tiba-tiba Ditya Yayahgriwa datang melapor bahwa dirinya gagal menangkap Adipati Kahana yang kini ternyata berada di Kerajaan Pringgadani bersama Resi Sumberkatong. Rupa-rupanya Prabu Arya Gatutkaca dan para raksasa Pringgadani berniat mengukuhi Kadipaten Tunggarana.

Prabu Boma Narakasura marah mendengar berita ini. Namun, ia juga senang karena memiliki alasan untuk menggempur Kerajaan Pringgadani. Bagaimanapun juga Prabu Boma masih menyimpan dendam atas peristiwa Wahyu Topeng Waja tempo hari. Kini adalah saat yang tepat untuk membalas sakit hatinya kepada Arya Gatutkaca.

Maka, Prabu Boma pun mengajak Patih Pancadnyana menyiapkan pasukan Trajutiksna, lalu berangkat menyerang Kerajaan Pringgadani.

KYAI SEMAR MENJEMPUT BAMBANG PAMEGAT-TRESNA

Di Padepokan Argabinatur, Resi Pamintajati sedang menerima kedatangan para panakawan, yaitu Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong. Setelah saling memberi salam, Resi Pamintajati pun menanyakan apa keperluan Kyai Semar dan anak-anaknya datang ke Padepokan Argabinatur. Kyai Semar bercerita bahwa saat ini Prabu Boma Narakasura bersama pasukan Trajutiksna sedang mengepung Kerajaan Pringgadani karena memperebutkan Kadipaten Tunggarana. Menurut wangsit yang diterima Kyai Semar, ada seorang putra Raden Arjuna dari wilayah Tunggarana yang dapat mendamaikan perselisihan tersebut.

Kyai Semar teringat peristiwa dua puluh tahun yang lalu, saat Raden Arjuna diculik Patih Kalagambira untuk diserahkan kepada Prabu Suryaasmara sebagai tumbal Kerajaan Parangkencana. Waktu itu Raden Arjuna berhasil menewaskan Patih Kalagambira, namun ia sendiri pingsan karena gigitan raksasa tersebut. Raden Arjuna lalu ditemukan oleh Resi Pamintajati dan dirawat di Padepokan Argabinatur. Setelah sembuh, Raden Arjuna pun dinikahkan dengan putri Resi Pamintajati yang bernama Endang Pamegatsih.

Resi Pamintajati membenarkan hal itu. Ia mengatakan bahwa dari perkawinan tersebut telah lahir seorang putra yang diberi nama Bambang Pamegat-tresna. Kyai Semar senang mendengarnya. Padepokan Argabinatur terletak di wilayah Kadipaten Tunggarana, dan itu artinya Bambang Pamegat-tresna adalah pemuda yang diramalkan bisa melerai peperangan antara Prabu Boma Narakasura dan Prabu Arya Gatutkaca.

Resi Pamintajati pun memanggil Endang Pamegatsih dan Bambang Pamegat-tresna serta menceritakan semuanya kepada anak dan cucunya itu. Bambang Pamegat-tresna bertanya apakah dia bisa bertemu ayah kandungnya jika mengikuti Kyai Semar ke Kerajaan Pringgadani. Kyai Semar menjawab bisa. Apabila Bambang Pamegat-tresna bersedia ikut dengannya ke Kerajaan Pringgadani, maka pemuda itu akan bisa bertemu dengan Raden Arjuna.

Bambang Pamegat-tresna sangat gembira. Ia pun mohon pamit kepada ibu dan kakeknya. Endang Pamegatsih merasa berat untuk melepas kepergian putranya itu. Namun, Resi Pamintajati membesarkan hati putrinya, bahwa keberangkatan Bambang Pamegat-tresna adalah demi kedamaian negara. Seharusnya Endang Pamegatsih sebagai ibu memberikan doa restu, bukannya menghalangi kebaikan yang hendak dilakukan anak.

Endang Pamegatsih dapat menerima penjelasan ayahnya. Ia pun memberikan restunya kepada Bambang Pamegat-tresna semoga bisa mendamaikan perselisihan antara Prabu Boma Narakasura dan Prabu Arya Gatutkaca. Setelah menyembah kakek dan ibunya, Bambang Pamegat-tresna pun berangkat bersama Kyai Semar dan para panakawan lainnya.

PRABU BOMA NARAKASURA MENGGEMPUR IBU KOTA PRINGGADANI

Prabu Boma Narakasura dan pasukannya telah tiga hari lamanya mengepung Kerajaan Pringgadani, menuntut agar Adipati Kahana dan Resi Sumberkatong diserahkan kepadanya. Namun, Arya Gatutkaca sama sekali tidak menanggapi tuntutan tersebut. Prabu Boma menganggap Arya Gatutkaca memilih jalan perang. Maka, ia pun memerintahkan Patih Pancadnyana dan para punggawa raksasa Trajutiksna untuk segera menggempur ibu kota Kerajaan Pringgadani.

Di lain pihak, Patih Prabakesa dan Raden Prabagati telah bersiaga menghadapi serangan tersebut. Perang pun terjadi. Kedua pihak sama-sama terdiri atas pasukan raksasa yang tentunya memiliki cara bertempur ganas dan mengerikan. Bedanya ialah, para raksasa Pringgadani tidak memiliki gigi taring karena sudah peraturan negara harus meratakan gigi sejak kecil.

Sementara itu, Prabu Boma terbang mengendarai Garuda Wilmuna mencari keberadaan Arya Gatutkaca. Namun, ia sama sekali tidak melihat musuh bebuyutannya tersebut. Dengan penuh amarah, ia pun menyerang Patih Prabakesa dan Raden Prabagati. Kedua raksasa itu pun terluka oleh kesaktiannya. Namun, mereka dapat diselamatkan oleh Raden Kalabendana dan dibawa masuk ke dalam istana Pringgadani.

PRABU KRESNA MENENGAHI KEDUA PIHAK YANG BERTEMPUR

Kedua pihak yang ramai bertempur tidak menyadari kedatangan Prabu Kresna dari Kerajaan Dwarawati beserta dua orang Pandawa, yaitu Arya Wrekodara dan Raden Arjuna. Ketiga orang itu langsung masuk ke dalam istana Pringgadani di mana Arya Gatutkaca sudah bersiap-siap hendak turun ke medan tempur.

Melihat ketiga orang tuanya datang, Arya Gatutkaca pun menunda keberangkatan dan menyembah kepada mereka. Prabu Kresna menjelaskan bahwa kedatangannya bersama Arya Wrekodara dan Raden Arjuna adalah untuk menengahi perselisihan antara Kerajaan Pringgadani dan Kerajaan Trajutiksna. Arya Gatutkaca menjelaskan bahwa dirinya sama sekali tidak berniat untuk mengukuhi ataupun merebut Kadipaten Tunggarana. Namun, karena Adipati Kahana dan Resi Sumberkatong telah menjadi tamunya, maka ia sebagai tuan rumah harus memberikan perlindungan kepada tamu.

Tiba-tiba Raden Kalabendana datang dengan membawa Patih Prabakesa dan Raden Prabagati yang terluka akibat serangan Prabu Boma. Arya Gatutkaca marah hendak keluar, namun Prabu Boma sudah lebih dulu masuk ke istana untuk menantangnya berperang.

Prabu Kresna melerai mereka dan meminta permasalahan ini diselesaikan secara kekeluargaan. Bagaimanapun juga antara Prabu Boma dan Arya Gatutkaca masih terhitung saudara, sehingga tidak pantas jika saling berperang apalagi melukai. Prabu Boma menjawab ketus, dirinya tidak setuju masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan. Ia sudah kehilangan rasa percaya kepada Prabu Kresna sejak peristiwa rebutan Topeng Waja dahulu. Menurutnya, urusan Kadipaten Tunggarana harus diselesaikan melalui perang, bukan melalui perundingan. Jika melalui perundingan, ia yakin dirinya pasti menjadi pihak yang dikalahkan.

Prabu Kresna tidak menyangka Prabu Boma ternyata sudah tidak percaya lagi kepadanya. Ia lalu bertanya kepada Arya Wrekodara dan Raden Arjuna mengenai bagaimana baiknya persoalan ini. Arya Wrekodara menjawab, silakan saja kalau mereka hendak menyelesaikan masalah Kadipaten Tunggarana secara laki-laki. Raden Arjuna menambahkan, boleh saja berperang tetapi jangan sampai jatuh korban.

Prabu Kresna pun memutuskan bahwa permasalahan Kadipaten Tunggarana harus diselesaikan oleh Arya Gatutkaca dan Prabu Boma saja, tidak perlu melibatkan para prajurit. Arya Gatutkaca setuju karena ia tidak ingin jatuh korban lebih banyak. Prabu Boma tidak ada pilihan lain, maka ia pun menyatakan setuju pula.

BAMBANG PAMEGAT-TRESNA MELERAI PERTARUNGAN

Prabu Boma Narakasura dan Arya Gatutkaca telah berada di halaman istana dan keduanya mulai bertarung. Patih Prabakesa dan Patih Pancadnyana memimpin pasukan masing-masing mengelilingi arena pertarungan. Tampak kedua raja itu bertarung dengan seimbang, sama-sama sakti dan sama-sama perkasa.

Ketika pertarungan sedang seru-serunya, tiba-tiba muncul Bambang Pamegat-tresna dan para panakawan menghadap Prabu Kresna, Arya Wrekodara, dan Raden Arjuna. Pemuda itu menyembah dan mengaku sebagai putra Raden Arjuna yang dilahirkan oleh Endang Pamegatsih, putri Resi Pamintajati. Prabu Kresna menjawab, tidak semudah itu mengaku sebagai anak Pandawa. Bambang Pamegat-tresna harus bisa menyelesaikan urusan Kadipaten Tunggarana. Bambang Pamegat-tresna menyatakan sanggup, apalagi Padepokan Argabinatur tempat ia dilahirkan masih termasuk wilayah Tunggarana, sehingga sudah menjadi kewajibannya pula untuk memelihara perdamaian di negeri sendiri. Usai berkata demikian, Bambang Pamegat-tresna menyembah lalu melesat ke arena pertarungan

Sementara itu, Prabu Boma dan Arya Gatutkaca masih sibuk bertarung dan berusaha saling menjatuhkan. Ketika keduanya sama-sama memukul, tiba-tiba Bambang Pamegat-tresna hadir di antara mereka. Pukulan Prabu Boma ditangkap dengan tangan kanan, sedangkan pukulan Arya Gatutkaca ditangkap dengan tangan kiri. Para hadirin yang menonton terkejut, terutama kedua raja yang sedang bertarung tersebut. Mereka tidak menyangka, ada anak muda kurus yang mampu menangkap pukulan dahsyat Prabu Boma dan Arya Gatutkaca.

Bambang Pamegat-tresna melepaskan tangkapannya dan meminta maaf telah menengahi pertarungan. Ia pun memperkenalkan diri sebagai pemuda dari Padepokan Argabinatur, sehingga termasuk warga Kadipaten Tunggarana. Prabu Boma tidak peduli dan ia marah-marah karena pertarungannya dihentikan. Ia pun meminta Bambang Pamegat-tresna agar menyingkir.

Bambang Pamegat-tresna berkata, dirinya telah diberi mandat oleh Prabu Kresna untuk menyelesaikan persoalan Kadipaten Tunggarana. Prabu Boma tidak mau tahu. Apabila Bambang Pamegat-tresna tidak menyingkir, maka pemuda itu akan dibunuh lebih dulu sebelum Arya Gatutkaca. Namun, Bambang Pamegat-tresna tidak takut pada ancaman tersebut. Ia balik menantang apabila dirinya mampu menahan tiga pukulan Prabu Boma, maka Prabu Boma harus bersedia mengikuti keputusannya.

Prabu Boma tersinggung ditantang pemuda kurus seperti ini. Namun, karena usianya lebih tua tentunya malu jika menolak tantangan Bambang Pamegat-tresna. Maka, ia pun bersedia melepaskan tiga pukulan ke arah pemuda itu. Bambang Pamegat-tresna bersiaga dan mempersilakan Prabu Boma untuk menyerang.

Prabu Boma pun memukul dada Bambang Pamegat-tresna dengan setengah tenaga. Pemuda itu mampu menahannya sambil tersenyum. Prabu Boma melepaskan pukulan kedua dengan lebih keras. Bambang Pamegat-tresna masih mampu menahannya, hanya saja ia tampak mundur dua langkah. Pada pukulan ketiga Prabu Boma mengerahkan tenaga penuh tanpa belas kasihan lagi. Bambang Pamegat-tresna pun terpental oleh pukulan tersebut. Namun, pemuda itu tampak bangkit kembali dan berjalan sempoyongan menghampiri Prabu Boma.

BAMBANG PAMEGAT-TRESNA MENGGELAR ACARA PENENTUAN PENDAPAT RAKYAT

Prabu Boma Narakasura terkesan melihat kekuatan Bambang Pamegat-tresna yang mampu menerima tiga pukulannya tanpa terluka. Ia pun mengaku kalah dan mempersilakan Bambang Pamegat-tresna untuk mengatur urusan Kadipaten Tunggarana. Arya Gatutkaca juga demikian. Ia mempersilakan Bambang Pamegat-tresna menyelesaikan persoalan ini. Sejak awal ia tidak tertarik untuk merebut Kadipaten Tunggarana. Yang ia lakukan selama ini hanyalah membela diri karena diserang Kerajaan Trajutiksna.

Bambang Pamegat-tresna lalu bertanya kepada Adipati Kahana dan Resi Sumberkatong apakah rencana bergabung dengan Kerajaan Pringgadani adalah keinginan mereka pribadi, ataukah keinginan rakyat Tunggarana. Adipati Kahana menjawab, itu adalah keinginan dirinya sendiri karena dahulu kala Tunggarana adalah kadipaten di bawah Kerajaan Pringgadani, namun kemudian direbut oleh Kerajaan Surateleng atau Trajutiksna.

Mendengar itu, Bambang Pamegat-tresna pun memutuskan untuk mengadakan acara Penentuan Pendapat Rakyat atau disingkat Pepera. Mengenai nasib Kadipaten Tunggarana hendak bergabung dengan Kerajaan Pringgadani ataukah tetap di bawah Kerajaan Trajutiksna biarlah rakyat sendiri yang bersuara, bukannya para pejabat yang menentukan. Caranya ialah, sebanyak tiga ratus kepala desa yang berada di bawah Kadipaten Tunggarana hendaknya mengadakan musyawarah bersama warga masing-masing. Hasil dari musyawarah tersebut barulah dilaporkan kepada Adipati Kahana.

Adipati Kahana menyetujui rencana ini. Ia pun kembali ke Tunggarana dengan ditemani Bambang Pamegat-tresna, Ditya Mahudara, dan Raden Kalabendana sebagai panitia. Mereka bekerja mengumpulkan pendapat para kepala desa yang bermusyawarah dengan warga masing-masing. Tujuh hari kemudian, mereka menghadap Prabu Kresna untuk melaporkan bahwa hampir delapan puluh persen warga Tunggarana menyatakan ingin bergabung kembali dengan Kerajaan Pringgadani.

Prabu Kresna lalu menyampaikan hal itu kepada Prabu Boma dan Arya Gatutkaca. Prabu Boma merasa kecewa, namun ia sudah terlanjur berjanji akan mengikuti keputusan yang diajukan Bambang Pamegat-tresna, sehingga mau tidak mau harus mengakhiri peperangan dengan Kerajaan Pringgadani. Sebaliknya, Arya Gatutkaca yang sejak awal tidak berniat mengukuhi Kadipaten Tunggarana terpaksa menerima keputusan ini. Namun, ia juga memberi hak otonomi luas kepada Adipati Kahana untuk mengatur wilayah Tunggarana. Mengenai pajak dan upeti yang harus dibayar diturunkan dan dipersilakan untuk biaya pembangunan di Kadipaten Tunggarana.

Prabu Kresna berterima kasih atas kerja keras Bambang Pamegat-tresna dalam menyelesaikan urusan Kadipaten Tunggarana. Raden Arjuna merasa bangga dan mengakui pemuda itu sebagai putra Kesatrian Madukara. Arya Gatutkaca baru tahu kalau Bambang Pamegat-tresna adalah sepupunya sendiri. Ia pun memeluk sepupunya itu dan memberikan jamuan terbaik kepadanya.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------

 
kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya

Catatan : Menghubungkan lakon Kikis Tunggarana dengan Arjuna Tumbal adalah ide dari saya sendiri.


Untuk kisah pertemuan Raden Arjuna dengan Endang Pamegatsih bisa dibaca di sini.










Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ▼  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ▼  October (2)
      • Purwaganti Takon Bapa
      • Kikis Tunggarana
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja