Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Dewi Amba

 No comments   

Kisah ini menceritakan Raden Bisma Dewabrata mengikuti sayembara memperebutkan Dewi Amba, Dewi Ambika, dan Dewi Ambalika di Kerajaan Giyantipura untuk dinikahkan dengan Prabu Citrawirya di Hastina. Dewi Amba yang menolak pernikahan tersebut memilih bunuh diri dan kelak arwahnya akan menjadi penjemput ajal Resiwara Bisma dalam Perang Bratayuda melalui Dewi Wara Srikandi.

Kisah ini saya olah berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan kitab Mahabharata karya Resi Wyasa.

Kediri, 14 September 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Dewi Amba


RADEN BISMA BERANGKAT KE GIYANTIPURA

Prabu Citrawirya di Kerajaan Hastina dihadap Raden Bisma (kakak tiri), Patih Basusara, Resi Jawalagni, dan para punggawa. Hadir pula sang ibu suri, yaitu Dewi Durgandini. Sudah enam bulan lamanya Prabu Citrawirya menjadi raja menggantikan kakaknya, yaitu Prabu Citranggada yang tewas dibunuh gandarwa bernama sama. Saat itu Prabu Citranggada gugur dalam keadaan belum beristri, apalagi berputra, membuat Dewi Durgandini khawatir jangan-jangan Prabu Citrawirya juga meninggal sebelum memiliki keturunan. Alasannya ialah Prabu Citrawirya sejak kecil sudah sakit-sakitan, dan penyakitnya itu bisa kambuh sewaktu-waktu.

Oleh sebab itu, Dewi Durgandini meminta Prabu Citrawirya harus memiliki permaisuri secepatnya. Tidak hanya itu, demi menjamin keturunan Bagawan Santanu jangan sampai terputus, maka sebaiknya putranya itu menikah dengan perempuan lebih dari satu. Prabu Citrawirya menyadari keadaan dirinya yang kurang sehat dan ia pun mematuhi apa yang menjadi keinginan sang ibu. Akan tetapi, ia sama sekali tidak tahu wanita mana yang harus dinikahi sebagai permaisuri.

Raden Bisma pun melaporkan bahwa raja Giyantipura yang bernama Prabu Darmamuka memiliki empat orang putri dan enam orang putra. Putri yang tiga orang sudah dewasa, bernama Dewi Amba, Dewi Ambika, dan Dewi Ambalika, sedangkan yang satu lagi masih kecil, bernama Dewi Ambalini. Sementara itu, keenam putranya terdiri atas tiga orang raksasa bernama Ditya Wahmuka, Ditya Arimuka, dan Ditya Marusmuka, sedangkan yang tiga berwujud ular naga, bernama Naga Wasusarpa, Naga Sarpadipa, dan Naga Sarpamuka.

Ketiga putri Prabu Darmamuka yang telah dewasa kini dilamar banyak raja dan pangeran dari berbagai negeri. Karena Prabu Darmamuka bingung menentukan pilihan, maka keenam putranya pun mengadakan sayembara tanding. Barangsiapa dapat mengalahkan ketiga raksasa dan ketiga ular tersebut, maka ia berhak memboyong ketiga putri sekaligus.

Dewi Durgandini tertarik untuk menjadikan Dewi Amba, Dewi Ambika, dan Dewi Ambalika sebagai istri putranya. Akan tetapi, mengingat kesehatan Prabu Citrawirya yang kurang baik dan juga tidak memiliki kesaktian cukup, maka sebaiknya Raden Bisma saja yang mewakili berangkat untuk mengikuti sayembara. Raden Bisma pun menyanggupi perintah sang ibu suri. Ia lalu mohon pamit berangkat menjalankan tugas tersebut.

KEENAM PUTRA GIYANTIPURA MENGALAHKAN PARA PELAMAR

Sementara itu di Kerajaan Giyantipura, Prabu Darmamuka dan permaisurinya yang bernama Dewi Ambarawati, beserta keempat putri mereka, yaitu Dewi Amba, Dewi Ambika, Dewi Ambalika, dan Dewi Ambalini sedang duduk menyaksikan gelanggang tempat Ditya Wahmuka, Ditya Arimuka, Ditya Marusmuka, Naga Wasusarpa, Naga Sarpadipa, dan Naga Sarpamuka bertanding menghadapi para raja dan pangeran yang mencoba mengikuti sayembara.

Akan tetapi, dari sekian banyak pelamar tiada seorang pun yang mampu mengalahkan ketiga raksasa dan ketiga ular tersebut. Bahkan, tidak sedikit pula dari mereka yang gugur kehilangan nyawa di atas gelanggang pertandingan. Hal ini karena Ditya Wahmuka, Ditya Arimuka, dan Ditya Marusmuka seolah-olah tidak dapat dibunuh. Jika Ditya Wahmuka terluka atau tewas, maka tubuhnya segera dilangkahi Ditya Arimuka dan tiba-tiba pulih kembali. Sebaliknya, jika Ditya Arimuka yang roboh, ia akan segera bangun kembali setelah dilangkahi Ditya Marusmuka, begitu seterusnya. Demikian pula dengan ketiga saudara mereka yang berwujud ular. Jika ada satu yang tewas, maka dua yang lain akan menghidupkan dengan cara saling membelit.

Melihat itu, Prabu Darmamuka merasa khawatir jangan-jangan di dunia ini tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan keenam putranya tersebut. Jika benar demikian, bisa-bisa Dewi Amba, Dewi Ambika, dan Dewi Ambalika tidak akan menikah seumur hidup. Namun, Ditya Wahmuka berusaha meyakinkan sang ayah bahwa jodoh ketiga saudarinya pasti akan segera datang.

RADEN BISMA SINGGAH KE GUNUNG SAPTAARGA

Raden Bisma yang telah berangkat ke Giyantipura untuk mengikuti sayembara terlebih dulu singgah di Gunung Saptaarga. Meskipun memiliki kesaktian tinggi, namun ia mendapatkan firasat bahwa keenam putra Prabu Darmamuka sulit untuk dikalahkan. Untuk itu, Raden Bisma pun berniat meminta saran dan petunjuk dari Resi Abyasa sebagai bekalnya mengikuti sayembara tersebut.

Resi Abyasa bercerita bahwa Prabu Darmamuka masih terhitung kakak sepupunya, karena Resi Parasara (ayah Resi Abyasa) adalah saudara sepersusuan Prabu Sadamuka (ayah Prabu Darmamuka). Konon kabarnya Dewi Amba, Dewi Ambika, dan Dewi Ambalika dulu dilahirkan pada hari yang sama, dengan satu ari-ari dan tiga tali pusar. Secara ajaib, air ketuban yang mengawali kelahiran mereka berubah menjadi Ditya Wahmuka, kemudian ari-ari berubah menjadi Ditya Arimuka, dan darah nifas menjadi Ditya Marusmuka. Adapun ketiga tali pusar mereka, masing-masing berubah menjadi Naga Wasusarpa, Naga Sarpadipa, dan Naga Sarpamuka. Untuk dapat mengalahkan mereka berenam dalam sayembara nanti sebaiknya tidak menggunakan kekerasan, tetapi dengan cara meruwat dan menyempurnakan mereka kembali ke wujud asal.

Untuk itu, Resi Abyasa pun meminta Kyai Semar bersama Nala Gareng, Petruk, dan Bagong supaya ikut berangkat menyertai perjalanan Raden Bisma. Untuk bisa meruwat keenam putra Prabu Darmamuka tersebut tentu saja dibutuhkan nasihat dari Kyai Semar yang berpengetahuan luas. Raden Bisma sangat berterima kasih, lalu ia mohon pamit berangkat menuju Kerajaan Giyantipura bersama keempat panakawan.

RADEN BISMA MEMENANGKAN SAYEMBARA

Demikianlah, Raden Bisma dan para panakawan telah sampai di Kerajaan Giyantipura. Terlebih dulu ia menghadap Prabu Darmamuka untuk meminta izin apabila nanti Dirya Wahmuka dan yang lain terluka atau mungkin terbunuh. Prabu Darmamuka pun mengizinkan. Sejak awal ia sudah merasa siap jika terjadi hal yang buruk pada keenam putranya. Lagipula sayembara ini juga keinginan mereka, dan mereka pun sudah siap mati di atas gelanggang demi mendapatkan jodoh yang terbaik untuk ketiga saudari mereka.

Raden Bisma lantas memasuki gelanggang sayembara menghadapi Ditya Wahmuka, Ditya Arimuka, Ditya Marusmuka, Naga Wasusarpa, Naga Sarpadipa, dan Naga Sarpamuka. Dalam perjalanan tadi, ia sempat mempelajari tata cara pengruwatan dari Kyai Semar untuk digunakan menghadapi keenam putra Prabu Darmamuka tersebut.

Maka, begitu memasuki gelanggang, Raden Bisma pun membaca mantra pengruwatan sambil kemudian melepaskan enam panah sekaligus, yang masing-masing pada ujungnya terpasang kunyit welat dan batok bolu. Keenam panah tersebut mengenai sasaran masing-masing. Seketika wujud Ditya Wahmuka kembali berubah menjadi air ketuban, Ditya Arimuka menjadi ari-ari, Ditya Marusmuka menjadi darah nifas, sedangkan Naga Wasusarpa, Naga Sarpadipa, dan Naga Sarpamuka menjadi tiga tali pusar. Keenamnya lalu melebur dan musnah bersatu dengan alam semesta.

Prabu Darmamuka dan Dewi Ambarawati prihatin menyaksikan musnahnya keenam putra mereka. Di sisi lain mereka juga senang karena ketiga putri kini telah mendapatkan jodoh. Prabu Darmamuka pun menyerahkan Dewi Amba, Dewi Ambika, dan Dewi Ambalika kepada Raden Bisma untuk diboyong ke Kerajaan Hastina.

RADEN BISMA DIHADANG PRABU SALWARUKMA

Dalam perjalanan menuju Kerajaan Hastina, rombongan Raden Bisma dihadang sepupunya, yaitu Prabu Salwarukma putra mendiang Prabu Bahlika. Setelah Prabu Bahlika tewas di tangan Raden Kincaka saat menyerang Kerajaan Wirata, Raden Salwarukma melarikan diri dan membangun kerajaan baru bernama Subapura, sebagai kelanjutan Siwandapura.

Beberapa hari yang lalu Prabu Salwarukma menyusup ke dalam istana Giyantipura dan berkenalan dengan Dewi Amba. Di antara mereka kemudian tumbuh perasaan saling menyukai. Namun demikian, Dewi Amba tetap meminta Prabu Salwarukma meminangnya secara kesatria, yaitu melalui sayembara menghadapi Ditya Wahmuka dan yang lain. Prabu Salwarukma menyanggupi hal itu. Ia lalu pulang ke Subapura untuk mempersiapkan upacara pernikahan karena yakin dirinya pasti dapat memenangkan sayembara tersebut.

Akan tetapi, Prabu Salwarukma datang terlambat di mana Dewi Amba, Dewi Ambika, dan Dewi Ambalika telah diboyong Raden Bisma menuju Hastina. Ia pun mengejar dan berhasil menghentikan rombongan tersebut. Prabu Salwarukma lalu menantang Raden Bisma bertarung demi memperebutkan ketiga putri Giyantipura. Ia juga mengejek Raden Bisma sebagai kesatria yang tidak punya pendirian, karena dulu pernah bersumpah hidup membujang tapi mengapa sekarang hendak menikahi tiga putri sekaligus. Tersinggung atas ejekan tersebut, Raden Bisma pun maju melayani tantangan Prabu Salwarukma. Maka, terjadilah pertarungan di antara mereka yang berakhir dengan kekalahan raja Subapura.

Prabu Salwarukma pun merelakan Raden Bisma memboyong ketiga putri Giyantipura ke Hastina. Ia juga berpesan kepada Dewi Amba agar melupakan kisah cinta di antara mereka untuk selamanya. Usai berkata demikian, ia lalu pulang ke Subapura dengan perasaan sedih.

Raden Bisma mempersilakan Dewi Amba jika ingin menyusul ke Subapura. Namun, wanita itu menolak karena dirinya telah menjadi putri boyongan. Bagaimanapun juga ia harus mematuhi apa yang telah menjadi ketetapan sayembara.

DEWI AMBA INGIN MENIKAH DENGAN RADEN BISMA

Dewi Durgandini dan Prabu Citrawirya di Kerajaan Hastina menyambut kedatangan Raden Bisma bersama ketiga putri boyongan. Hadir pula Bagawan Santanu dari Padepokan Talkanda yang ikut berbahagia atas kemenangan putranya. Raden Bisma segera menyerahkan ketiga putri Giyantipura itu kepada ayah dan ibunya untuk dinikahkan dengan Prabu Citrawirya.

Prabu Citrawirya pun menyambut ketiga calon istrinya. Dewi Ambika dan Dewi Ambalika mematuhi keputusan tersebut, sedangkan Dewi Amba terang-terangan menolak. Ia mengaku telah bersumpah hanya mau menikah dengan pemenang sayembara, yaitu Raden Bisma. Ditambah lagi Raden Bisma juga telah mengalahkan Prabu Salwarukma, kekasihnya.

Mendengar itu, Prabu Citrawirya pun menolak menikahi Dewi Amba dan menyerahkannya kembali kepada Raden Bisma. Akan tetapi, Raden Bisma tidak bersedia karena dirinya terikat sumpah tidak akan menikah seumur hidup. Ia memutuskan untuk mengantarkan Dewi Amba pulang ke Giyantipura.

Dewi Amba sangat tersinggung mendengar keputusan tersebut. Ia merasa diperlakukan seperti benda yang bisa dipindah-pindah ke sana kemari begitu saja. Ia pun menyatakan dengan tegas hanya mau menikah dengan Raden Bisma atau tidak sama sekali. Setelah berkata demikian, Dewi Amba lalu pergi meninggalkan Kerajaan Hastina.

BATARA RAMAPARASU MEMBANTU DEWI AMBA

Pada hari yang dianggap baik, diadakanlah upacara pernikahan antara Prabu Citrawirya dengan Dewi Ambika dan Dewi Ambalika sekaligus. Para tamu dan undangan datang dari seluruh penjuru negeri, termasuk juga dari berbagai negeri sahabat, antara lain Prabu Matsyapati dari Wirata, Prabu Mandradipa dari Mandraka, Prabu Mandararya dari Gandaradesa, dan Prabu Gandabayu dari Pancala.

Pada saat pesta berlangsung, tiba-tiba datang Dewi Amba bersama Batara Ramaparasu yang merupakan guru Raden Bisma. Kedatangan Batara Ramaparasu adalah untuk membantu Dewi Amba mendapatkan haknya. Ia menyarankan agar Raden Bisma membatalkan sumpahnya dan bersedia menikahi Dewi Amba. Sebagai guru yang berderajat dewa, ia bersedia menanggung dosa muridnya tersebut.

Akan tetapi, Raden Bisma tetap bersikeras mempertahankan sumpahnya. Ia mengaku keberatan menikahi Dewi Amba, meskipun yang memerintah adalah gurunya sendiri. Batara Ramaparasu tersinggung merasa disepelekan oleh muridnya dan ia pun berniat menggunakan kekerasan untuk memaksa Raden Bisma.

Raden Bisma terpaksa melayani tantangan Batara Ramaparasu. Keduanya lalu bertanding di alun-alun Kerajaan Hastina dengan disaksikan segenap para hadirin. Pertarungan antara mereka pun berlangsung seru. Meskipun sebagai murid, namun Raden Bisma dapat mengimbangi Batara Ramaparasu. Bahkan, lama-lama Batara Ramaparasu merasa terdesak menghadapi kesaktian muridnya itu.

Pada saat itulah Batara Narada turun dari kahyangan memisah mereka berdua. Batara Narada menjelaskan bahwa Batara Ramaparasu tidak perlu lagi memaksa Raden Bisma menikahi Dewi Amba, karena muridnya itu ditakdirkan hidup membujang selamanya. Di sisi lain, perbuatan Raden Bisma yang mengecewakan seorang wanita akan mendapatkan balasan di kemudian hari. Kelak dirinya ditakdirkan akan meninggal di tangan seorang prajurit wanita.

Setelah berkata demikian, Batara Narada kembali ke kahyangan. Batara Ramaparasu merasa kecewa atas sikap Raden Bisma yang keras kepala, dan ia pun bersumpah tidak mau lagi memiliki murid dari golongan kesatria. Usai berkata demikian ia lantas pergi meninggalkan Kerajaan Hastina.

DEWI AMBA MEMBAKAR DIRI

Dewi Amba sangat kecewa namun merasa tidak dapat berbuat apa-apa kalau memang sudah takdir harus demikian. Dengan perasaan sedih, ia lalu bersamadi mengheningkan cipta. Dari dahinya tiba-tiba keluar setitik api yang lama-lama menjadi besar dan berkobar membakar tubuhnya sendiri. Dewi Amba pun tewas menjadi abu dalam waktu sekejap.

Raden Bisma dan para hadirin hanya bisa terkejut melihat kejadian yang sangat cepat itu. Dewi Ambika dan Dewi Ambalika menangis meratapi kematian kakak mereka yang mengenaskan. Raden Bisma juga ikut menyesali kejadian itu. Ia menyatakan rela jika kelak arwah Dewi Amba datang untuk menjemput ajalnya. Seketika suasana pesta perkawinan pun berubah menjadi duka cita.

Resi Jawalagni selaku kepala pandita Kerajaan Hastina segera memimpin upacara mendoakan arwah Dewi Amba. Setelah upacara berakhir, para tamu undangan pun mohon pamit kembali ke negeri masing-masing.

Raden Bisma melawan Batara Ramaparasu.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya












Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Matsyapati Wisuda

 No comments   


Kisah ini menceritakan kematian Prabu Wasupati dan terciptanya Telaga Watari, serta pelantikan Raden Durgandana menjadi raja Wirata yang bergelar Prabu Matsyapati. Kisah dilanjutkan dengan pelantikan Prabu Citranggada sebagai raja Hastina untuk menggantikan Prabu Santanu yang menjadi bagawan. Kisah ditutup dengan kematian Prabu Citranggada di tangan seorang gandarwa yang bernama sama.

Kisah ini saya olah dan saya kembangkan dari sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita. Khusus untuk cerita kematian Prabu Citranggada saya olah dari sumber Mahabharata karya Resi Wyasa.

Kediri, 18 Maret 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Prabu Matsyapati

PRABU WASUPATI JATUH HATI KEPADA DEWI WATARI

Prabu Wasupati di Kerajaan Wirata sedang dilanda asmara karena jatuh cinta kepada Dewi Watari, mantan istri mendiang Resi Parasara. Sejak Raden Kincaka, Raden Rupakinca, dan Raden Rajamala diangkat sebagai punggawa, Dewi Watari pun ikut serta menetap di istana Wirata. Karena sering berjumpa, lama-lama dalam hati Prabu Wasupati tumbuh rasa cinta kepada Dewi Watari.

Dengan segala cara, Prabu Wasupati berusaha menarik perhatian Dewi Watari. Berbagai hadiah pun dikirimkan ke rumah wanita itu namun semuanya ditolak dengan halus. Dewi Watari adalah istri Resi Parasara, sedangkan Resi Parasara pernah berhubungan dengan Dewi Durgandini, putri Prabu Wasupati. Itu artinya, Prabu Wasupati adalah ayah mertua Resi Parasara, sehingga tidak pantas apabila menyatakan cinta kepada Dewi Watari. Namun, Prabu Wasupati membantah alasan itu karena Resi Parasara tidak pernah menikahi putrinya secara sah, sehingga tidak pernah ia anggap sebagai menantu.

Dewi Watari tetap merasa keberatan karena putrinya, yaitu Dewi Sudaksina telah menikah dengan Raden Durgandana, putra Prabu Wasupati. Itu artinya, hubungannya dengan Prabu Wasupati adalah besan, sehingga tidak pantas apabila sesama besan menjadi suami-istri. Namun, Prabu Wasupati membantah alasan tersebut karena Dewi Sudaksina bukan anak kandung Dewi Watari.

Karena terus-menerus ditolak, Prabu Wasupati akhirnya hilang kesabaran. Ia pun berusaha memaksa Dewi Watari menerima cintanya dan mengancam wanita itu dengan kekerasan. Dewi Watari merasa ketakutan dan melarikan diri. Karena sudah dikuasai nafsu birahi, Prabu Wasupati pun mengejar ke mana janda Resi Parasara itu pergi.

KEMATIAN DEWI WATARI DAN PRABU WASUPATI

Dewi Watari berlari sekencang-kencangnya menuju ke arah Gunung Reksasrengga, tempat tinggalnya yang semula. Namun, pelariannya terhalang sebuah telaga di luar Kota Wirata. Tidak lama kemudian Prabu Wasupati datang menyusul dan memintanya supaya menurut saja karena percuma apabila tetap melarikan diri. Akan tetapi, Dewi Watari sangat teguh pada pendiriannya. Ia pernah bersumpah seumur hidup hanya menikah satu kali saja, meskipun sang suami (Resi Parasara) tidak pernah mencintainya dengan sungguh-sungguh.

Karena Prabu Wasupati sudah gelap mata dan berniat memerkosa dirinya, Dewi Watari akhirnya memilih bunuh diri dengan cara terjun ke dalam telaga di depannya. Prabu Wasupati yang juga berjuluk Prabu Dirgabahu segera mengulurkan kedua lengannya yang seketika berubah menjadi sangat panjang untuk menarik keluar Dewi Watari. Akan tetapi, sekian lama ia mengaduk-aduk air telaga tetap saja tidak mampu menemukan tubuh wanita itu. Entah mengapa jasad Dewi Watari seolah-olah lenyap dan bersatu dengan air telaga tersebut.

Prabu Wasupati yang sangat kecewa akhirnya pulang ke istana Wirata. Ia menyesal telah menggunakan kekuasaannya untuk menindas seorang wanita demi menuruti hawa nafsu, apalagi wanita itu akhirnya memilih mati bunuh diri. Karena merasa sangat bersalah, akhirnya Prabu Wasupati pun jatuh sakit.

Setelah dirawat beberapa hari, sakit Prabu Wasupati justru bertambah parah dan tak tertolong lagi. Sebelum meninggal dunia, Prabu Wasupati sempat meminta maaf kepada sang permaisuri Dewi Swargandini atas perbuatannya terhadap Dewi Watari. Begitu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Dewi Swargandini merasa sangat kecewa dan ikut sakit pula. Beberapa hari kemudian, sang permaisuri yang memiliki nama asli Endang Adrika itu pun meninggal dunia menyusul suaminya.

RADEN DURGANDANA DILANTIK MENJADI PRABU MATSYAPATI

Setelah masa berkabung usai, Raden Durgandana sang pangeran mahkota dilantik menjadi raja Wirata yang baru, bergelar Prabu Matsyapati. Matsya artinya “ikan”, sedangkan Pati artinya “pemimpin”. Ia sengaja memakai gelar tersebut sebagai pengingat bahwa semasa kecil dulu pernah tinggal di Desa Matsya karena menderita penyakit bau amis bersama kakaknya, yaitu Dewi Durgandini yang kini telah menjadi permaisuri di Kerajaan Hastina.

Prabu Matsyapati lalu mengangkat adik iparnya, yaitu Arya Kincaka sebagai patih. Sementara itu, Arya Rupakinca dan Arya Rajamala sebagai senapati kerajaan. Namun demikian, Arya Rajamala tidak hadir dalam acara pelantikan tersebut.

ARYA RAJAMALA MEMBANGUN TELAGA WATARI

Arya Rajamala yang tidak menghadiri upacara pelantikan ternyata sedang berada di tepi telaga tempat Dewi Watari meninggal. Di antara semua anak Resi Parasara, memang dialah yang menjadi kesayangan Dewi Watari. Maka, sejak Dewi Watari tewas menceburkan diri ke dalam telaga dan jasadnya musnah, Arya Rajamala pun setiap hari tinggal di tempat itu. Di sekitar telaga ia menanam pohon penghias dan menata bebatuan agar lingkungan menjadi lebih indah. Ia berharap roh Dewi Watari yang bersemayam di dalam telaga merasa bahagia menikmati keindahan telaga yang ia bangun tersebut.

Telaga tempat Dewi Watari meninggal kini berubah menjadi sangat indah dan tidak lagi gersang seperti sebelumnya. Untuk mengenang ibunya, Arya Rajamala pun memberinya nama Telaga Watari. Kini ia merasa betah tinggal di situ dan tidak ingin lagi pulang ke istana Wirata maupun ke Kincapura.

Pada suatu malam, roh Dewi Watari muncul menampakkan diri. Arya Rajamala sangat gembira dan segera menyembah memberi hormat kepadanya. Dewi Watari berterima kasih atas segala usaha Arya Rajamala menyenangkan dirinya dengan membangun telaga tempatnya bersemayam menjadi lebih indah. Namun, ia tidak setuju apabila Arya Rajamala tetap tinggal di tepi telaga ini dan melupakan kewajibannya sebagai senapati Kerajaan Wirata.

Arya Rajamala tidak sudi kembali ke istana. Ia masih marah kepada keluarga Prabu Wasupati yang telah mencelakai Dewi Watari. Ia juga kesal kepada kedua kakaknya, yaitu Patih Kincaka dan Arya Rupakinca yang tidak peduli kepada ibu mereka, dan lebih memilih menerima jabatan yang diberikan oleh Prabu Matsyapati.

Roh Dewi Watari pun menasihati Arya Rajamala agar tidak menyimpan dendam karena hanya akan merusak jiwa. Meskipun Prabu Wasupati berusaha memaksanya, namun dia sendiri yang memilih bunuh diri mencebur ke dalam telaga. Lagipula Prabu Wasupati telah menyesali perbuatannya hingga jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Kini yang menjadi raja adalah Prabu Matsyapati yang tidak ada sangkut-pautnya dengan peristiwa ini. Untuk itu, Dewi Watari menasihati Arya Rajamala agar tetap mengabdi kepada raja yang baru tersebut dan melupakan segala kekesalannya.

Arya Rajamala kini telah terbuka hatinya dan membenarkan nasihat Dewi Watari. Ia pun mohon restu kepada sang ibu agar dapat mengemban jabatan sebagai senapati Kerajaan Wirata dengan sebaik-baiknya.

Dewi Watari merestui putra kesayangannya itu. Ia pun memberkati Arya Rajamala berumur panjang dan sulit dibunuh. Apabila kelak Arya Rajamala berperang melawan musuh sakti dan menderita luka parah atau bahkan kehilangan nyawa, maka tubuhnya harus segera diceburkan ke dalam Telaga Watari. Dewi Watari memberikan anugerah bahwa dengan cara demikian maka Arya Rajamala akan segera pulih kembali seperti sedia kala.

Arya Rajamala menerima nasihat tersebut dengan senang hati dan sangat berterima kasih. Roh Dewi Watari lalu lenyap dari pandangan. Arya Rajamala pun undur diri kembali ke istana Wirata dengan penuh semangat baru.

PRABU SANTANU TURUN TAKHTA DAN MENJADI PENDETA

Sementara itu, Prabu Santanu dan Dewi Durgandini telah kembali ke Kerajaan Hastina setelah melayat Prabu Wasupati dan menyaksikan pelantikan Prabu Matsyapati di Kerajaan Wirata. Setelah menyaksikan peristiwa tersebut, Prabu Santanu kini terbuka pandangannya bahwa seorang raja besar yang paling dihormati di Tanah Jawa, yaitu mertuanya sendiri, telah meninggal dunia karena sulit mengendalikan nafsu birahi. Ia pun merasa dirinya sudah tua dan sebaiknya lebih mendekatkan diri kepada Yang Mahakuasa. Kini keempat anaknya pun sudah tumbuh dewasa semua. Yang tertua adalah Raden Bisma yang lahir dari Dewi Ganggawati, sedangkan yang tiga lainnya adalah Raden Citranggada, Raden Citrawirya, dan Dewi Bandondari yang lahir dari Dewi Durgandini.

Maka pada hari yang ditentukan, Prabu Santanu pun mengumumkan pengunduran dirinya sebagai raja Hastina. Mulai hari itu, Prabu Santanu menjadi pendeta bergelar Bagawan Santanu yang tinggal sebuah padepokan bernama Talkanda. Di sana ia ingin hidup menyepi agar bisa lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Sesuai perjanjian antara Raden Bisma dengan Dewi Durgandini dulu, maka yang diangkat sebagai raja baru di Hastina adalah Raden Citranggada, bergelar Prabu Citranggada. Adapun jabatan menteri utama tetap dipegang oleh Patih Basusara.

PRABU CITRANGGADA TEWAS DIBUNUH GANDARWA

Pada suatu hari Prabu Citranggada pergi berburu ke dalam hutan. Karena terlalu asyik mengejar seekor kijang, ia pun terpisah dari rombongan. Tiba-tiba di hadapannya muncul sesosok makhluk halus tinggi besar yang menyeramkan, dan mengaku bernama Gandarwa Citranggada.

Prabu Citranggada heran melihat ada gandarwa yang menyamai namanya. Ia pun meminta gandarwa tersebut mengganti nama. Sebaliknya, justru Gandarwa Citranggada yang meminta Prabu Citranggada supaya berganti nama. Keduanya lalu bertengkar tidak ada yang mau mengalah. Pertengkaran itu pun akhirnya berubah menjadi pertarungan sengit di antara mereka.

Demikianlah, setelah bertarung cukup lama, Prabu Citranggada akhirnya tewas di tangan Gandarwa Citranggada. Pada saat itulah tiba-tiba Resi Abyasa datang bersama panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong. Melihat ada seorang raja muda yang tewas dibunuh secara keji oleh seorang gandarwa, ia langsung turun tangan. Dengan mengerahkan Aji Pengabaran yang pernah dipelajarinya dari Gandarwaraja Swala dulu, Resi Abyasa pun berhasil menewaskan Gandarwa Citranggada.

RESI ABYASA BERTEMU DEWI DURGANDINI

Tidak lama kemudian muncul Raden Bisma bersama para prajurit yang datang untuk mencari hilangnya Prabu Citranggada. Orang-orang Hastina itu sangat terkejut melihat raja mereka telah tewas, dan sempat menaruh curiga jangan-jangan Resi Abyasa yang telah membunuh Prabu Citranggada.

Pada saat itulah Batara Narada turun dari kahyangan melerai Raden Bisma dan Resi Abyasa yang hendak bertarung. Batara Narada menjelaskan bahwa Prabu Citranggada sudah ditakdirkan mati muda dibunuh Gandarwa Citranggada. Ia juga menjelaskan bahwa Gandarwa Citranggada telah tewas pula di tangan Resi Abyasa yang merupakan putra sulung Dewi Durgandini dari hubungannya dengan Resi Parasara dua puluh lima tahun silam. Setelah memberikan penjelasan demikian, Batara Narada lalu kembali ke kahyangan.

Menyadari kekeliruannya, Raden Bisma meminta maaf dan merangkul Resi Abyasa bagaikan adiknya sendiri. Mereka lalu bersama-sama membawa jasad Prabu Citranggada kembali ke Kerajaan Hastina.

Dewi Durgandini dan Raden Citrawirya di istana sangat terkejut dan berduka melihat Prabu Citranggada telah kembali dalam keadaan tak bernyawa. Rasa sedih Dewi Durgandini bercampur gembira karena berjumpa dengan putra sulungnya yang kini telah dewasa, yaitu Resi Abyasa.

RADEN CITRAWIRYA MENJADI RAJA HASTINA YANG BARU

Bagawan Santanu telah mendengar berita kematian Prabu Citranggada dan ia pun bergegas datang ke Kerajaan Hastina untuk memakamkan putranya itu. Suasana haru mewarnai upacara tersebut.

Setelah masa berkabung usai, Bagawan Santanu melantik Raden Citrawirya menjadi raja Hastina yang baru, bergelar Prabu Citrawirya menggantikan kakaknya. Resi Abyasa ikut menyaksikan pelantikan tersebut. Setelah usai, ia lalu mohon pamit kembali ke Gunung Saptaarga. Ia berjanji kepada Bagawan Santanu dan Dewi Durgandini bahwa dirinya akan selalu siap membantu Kerajaan Hastina apabila dilanda kerepotan. Dewi Durgandini pun melepas kepergian putra sulungnya itu dengan perasaan haru.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya












Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ▼  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ▼  September (2)
      • Dewi Amba
      • Matsyapati Wisuda
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja