Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Bambang Kandihawa

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang Dewi Srikandi bertukar kelamin dengan Resi Stunakarna yang merupakan penyamaran Raden Arjuna. Berkat pertukaran itu, Dewi Srikandi bisa menjadi ayah dari Raden Nirbita, yang kelak menjadi Prabu Niwatakawaca, yaitu raja raksasa musuh para dewa.

Kisah ini saya olah dari Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) yang disusun oleh Ki Tristuti Suryasaputra, yang dipadukan dengan Kumpulan Pakem Ringgit Purwa Surakarta yang disusun oleh Ki Rudy Wiratama, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 22 Juli 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

------------------------------ ooo ------------------------------

BATARA NARADA MENDANDANI DEWI SRIKANDI MENJADI MIRIP LAKI-LAKI

Di Kesatrian Madukara, Dewi Srikandi sedang prihatin karena Raden Arjuna kembali menghilang tanpa kabar. Di antara keempat istri padmi Sang Panengah Pandawa, memang hanya Dewi Srikandi saja yang belum memiliki putra. Tentu hal ini membuatnya khawatir kalau sampai sang suami kehilangan rasa cinta terhadap dirinya. Apalagi kali ini Raden Arjuna pergi tanpa pamit, membuat Dewi Srikandi merasa gelisah jangan-jangan suaminya itu hendak menikah lagi dengan perempuan lain dan semakin melupakan dirinya.

Maka, Dewi Srikandi pun berpamitan kepada Dewi Sumbadra, Dewi Sulastri, dan Niken Larasati untuk berangkat menyusul kepergian Raden Arjuna. Seorang diri ia berjalan tak tentu arah, hanya mengandalkan naluri belaka. Dalam hati ia ingin segera bertemu sang suami dan mengajaknya pulang ke Kesatrian Madukara, jangan sampai menikah lagi untuk yang kesekian kalinya.

Di tengah jalan, tiba-tiba Dewi Srikandi dihentikan oleh Batara Narada yang turun dari angkasa. Dewi Srikandi menyembah hormat dan memohon petunjuk di mana kiranya ia dapat berjumpa dengan Raden Arjuna. Batara Narada berkata bahwa dewata mengizinkan Dewi Srikandi berjumpa dengan Raden Arjuna apabila ia menyamar sebagai laki-laki dan pergi ke Kerajaan Ima-imantaka.

Dewi Srikandi gembira mendengarnya dan mematuhi petunjuk Batara Narada. Dulu Batara Narada pernah mendandani Dewi Sumbadra menjadi mirip laki-laki bernama Bambang Sintawaka saat menyusul kepergian Raden Arjuna yang mencari turunnya Wahyu Makutarama. Kini giliran Dewi Srikandi yang didandani menjadi mirip laki-laki. Setelah penampilannya berubah, Dewi Srikandi pun diberi nama Bambang Kandihawa.

Setelah dirasa cukup, Batara Narada kembali ke kahyangan, sedangkan Bambang Kandihawa bergegas melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Ima-imantaka.

Batara Narada.

PRABU JAYASUDIKYA MENOLAK LAMARAN PRABU KALASARANA

Kerajaan Ima-imantaka saat itu dipimpin oleh Prabu Jayasudikya sebagai rajanya. Pada zaman dahulu kerajaan ini bernama Manimantaka, didirikan oleh Prabu Kalakanda, yang merupakan keturunan Batara Kala. Setelah Prabu Kalakanda meninggal, takhta Kerajaan Manimantaka diwarisi oleh keponakan istrinya yang bernama Prabu Kunjanakresna. Adapun Prabu Kunjanakresna ini adalah pelarian dari Kerajaan Tirtakadasar, setelah ia dikalahkan oleh Resi Sakra, murid Resi Manumanasa.

Prabu Kunjanakresna kemudian menyerang Kahyangan Suralaya karena ingin memperistri bidadari. Namun, ia gugur di tangan Bambang Sakri, yaitu cucu Resi Manumanasa yang juga leluhur para Pandawa. Sejak saat itu takhta Kerajaan Manimantaka diduduki oleh adik iparnya yang juga putra Prabu Kalakanda, bernama Prabu Hiranyaka. Adapun adik tiri Prabu Hiranyaka menjadi pendeta di Padepokan Ima-ima, bergelar Resi Martikawata.

Prabu Hiranyaka kemudian tewas dalam pertempuran melawan Prabu Basukiswara raja Wirata, sedangkan Resi Martikawata menyerah takluk. Prabu Basukiswara pun mengampuninya, dan menyerahkan Kerajaan Manimantaka kepada Ditya Mityakarda, yaitu putra Resi Martikawata.

Prabu Mityakarda lalu menggabungkan Kerajaan Manimantaka dengan Padepokan Ima-ima menjadi satu, bernama Kerajaan Ima-imantaka. Setelah memerintah puluhan tahun, ia pun digantikan putranya yang bergelar Prabu Nilakawaca. Kemudian Prabu Nilakawaca digantikan putranya yang bernama Raden Dike, bergelar Prabu Jayasudikya.

Prabu Jayasudikya adalah raja Ima-imantaka saat ini. Meskipun wujudnya raksasa seperti para leluhur, namun ia memiliki seorang istri cantik bernama Dewi Nitiswara. Dari perkawinan itu telah lahir dua orang anak, yaitu Raden Durnita dan Dewi Durniti yang tampan dan cantik seperti ibunya. Pada suatu hari, Prabu Jayasudikya menerima surat dari Prabu Kalasarana, seorang raja raksasa di Kerajaan Lokasagara. Surat tersebut berisi lamaran di mana Prabu Kalasarana ingin menikahi Dewi Durniti.

Prabu Jayasudikya lalu berunding dengan Raden Durnita mengenai lamaran ini. Raden Durnita bersikeras agar sang ayah menolak lamaran tersebut karena ia tidak ingin adiknya mempunyai suami dari jenis raksasa. Prabu Jayasudikya tersinggung ucapan putranya karena ia sendiri juga berwujud raksasa. Raden Durnita mohon ampun bukan berniat ingin menyakiti perasaan sang ayah, tetapi ia hanya ingin adiknya hidup bahagia dengan mendapatkan suami yang sepadan.

Akhirnya, ayah dan anak itu pun mengambil keputusan, bahwa Raden Durnita akan menantang Prabu Kalasarana bertanding satu lawan satu. Apabila raja raksasa tersebut unggul, maka Raden Durnita bersedia merelakan Dewi Durniti menjadi istri Prabu Kalasarana. Namun, apabila Prabu Kalasarana kalah, maka ia harus pulang kembali ke Kerajaan Lokasagara.

Prabu Jayasudikya.

PRABU KALASARANA DIKALAHKAN BAMBANG KANDIHAWA

Demikianlah, Raden Durnita telah keluar dari istana Ima-imantaka untuk menantang Prabu Kalasarana bertarung satu lawan satu. Raden Durnita berkata bahwa ia akan menyerahkan Dewi Durniti asalkan Prabu Kalasarana dapat mengalahkan dirinya. Prabu Kalasarana senang mendengarnya. Mereka lalu bertarung di halaman istana dengan disaksikan kedua pihak, yaitu pasukan Ima-imantaka dan Lokasegara.

Setelah bertarung cukup lama, Raden Durnita akhirnya terdesak menghadapi Prabu Kalasarana yang jauh lebih perkasa daripada dirinya. Namun, ia pantang menyerah dan berniat membunuh Prabu Kalasarana. Rupanya dalam hati Raden Durnita tumbuh perasaan cinta kepada adiknya sendiri dan ia tidak rela jika Dewi Durniti menikah dengan orang lain. Prabu Kalasarana merasa ada yang tidak beres karena serangan Raden Durnita bukan lagi untuk menentukan menang atau kalah, tetapi sudah menjadi pertarungan hidup atau mati. Maka, ia pun mengimbangi dan mengerahkan kesaktian yang lebih dahsyat. Akibatnya, Raden Durnita pun tewas di tangan raja raksasa tersebut.

Prabu Jayasudikya terkejut melihat putranya gugur. Ia pun membatalkan perjanjian dan mengerahkan pasukan Ima-imantaka untuk menyerbu pasukan Lokasagara. Prabu Kalasarana marah melihat Prabu Jayasudikya mengingkari janji. Ia mengerahkan pasukannya pula sehingga terjadilah pertempuran di antara kedua pihak.

Pada saat itulah Bambang Kandihawa datang. Sesuai petunjuk Batara Narada, ia langsung bergabung membantu Prabu Jayasudikya. Dalam pertempuran itu, Bambang Kandihawa berhasil menewaskan Prabu Kalasarana dengan panah-panahnya. Melihat sang raja gugur, pasukan Lokasagara menjadi kocar-kacir. Ada yang tewas dibunuh pasukan Ima-imantaka, ada yang menyerah, dan ada pula yang kabur melarikan diri.

BAMBANG KANDIHAWA DINIKAHKAN DENGAN DEWI DURNITI

Prabu Jayasudikya berterima kasih atas bantuan Bambang Kandihawa yang datang tepat waktu. Ia lalu bertanya ada keperluan apa pemuda tersebut mendatangi Kerajaan Ima-imantaka. Bambang Kandihawa menjawab dengan sopan bahwa ia ingin mengabdi sebagai prajurit di kerajaan tersebut. Prabu Jayasudikya tertarik melihat sikap sopan Bambang Kandihawa. Karena sudah kehilangan putra, maka dalam hati pun muncul keinginan untuk mengambil pemuda tersebut sebagai pengganti Raden Durnita.

Supaya hubungan menjadi lebih erat, Prabu Jayasudikya pun menanyai Dewi Durniti dan Bambang Kandihawa apakah mereka bersedia menjadi suami-istri. Dewi Durniti tersipu malu melihat pemuda tersebut berwajah tampan dan juga pandai memanah. Ia pun menjawab bersedia. Prabu Jayasudikya senang mendengar jawaban putrinya dan ia langsung menentapkan Bambang Kandihawa sebagai menantu. Bambang Kandihawa bingung hendak menjawab apa, karena dirinya adalah Dewi Srikandi yang sedang menyamar. Namun, demi bisa bertemu Raden Arjuna, terpaksa ia menjawab bersedia pula.

Demikianlah, Bambang Kandihawa pun resmi menikah dengan Dewi Durniti. Pernikahan tersebut berlangsung sederhana karena Prabu Jayasudikya sedang dalam suasana berkabung atas meninggalnya Raden Durnita.

Bambang Kandihawa.

PRABU JAYASUDIKYA MENGUSIR BAMBANG KANDIHAWA

Malam harinya, Dewi Durniti menyerahkan jiwa raga kepada Bambang Kandihawa. Namun, Bambang Kandihawa menolak dengan berbagai macam alasan. Ia juga tidak bersedia membuka pakaian sama-sekali. Dewi Durniti kecewa dan pura-pura tidur. Ketika suaminya ikut terlelap, Dewi Durniti pun bangun dan merobek pakaian Bambang Kandihawa. Alangkah terkejut perasaan Dewi Durniti saat mengetahui ternyata suaminya itu juga berkelamin perempuan.

Dewi Durniti pun menangis dan melapor kepada ayahnya. Prabu Jayasudikya marah-marah menuduh Bambang Kandihawa telah mempermainkan keluarganya. Bambang Kandihawa bingung hendak menjawab bagaimana. Prabu Jayasudikya sendiri tidak butuh penjelasan. Ia pun mengerahkan segenap kekuatannya, lalu melemparkan tubuh Bambang Kandihawa sejauh-jauhnya.

BAMBANG KANDIHAWA BERTUKAR KELAMIN DENGAN RESI STUNAKARNA

Tubuh Bambang Kandihawa yang melayang di udara akhirnya jatuh di pinggir Kerajaan Ima-imantaka, tepatnya di lereng Gunung Amintuna. Di gunung tersebut hidup seorang petapa raksasa yang bernama Resi Stunakarna. Karena tinggal di Gunung Amintuna, ia sering pula dipanggil dengan sebutan Resi Mintuna.

Melihat Bambang Kandihawa jatuh dari langit, Resi Stunakarna segera menolong dan mengobati lukanya. Mula-mula Bambang Kandihawa takut melihat paras pendeta tersebut yang berwujud raksasa, namun kemudian ia lega karena Resi Stunakarna ternyata sangat ramah dan berhati lembut welas asih.

Setelah lukanya sembuh, Bambang Kandihawa pun berterima kasih atas pertolongan sang petapa raksasa. Resi Stunakarna bertanya bagaimana ceritanya Bambang Kandihawa bisa terlempar di udara dan jatuh di Gunung Amintuna. Bambang Kandihawa pun bercerita dari awal hingga akhir, bahwa ia sebenarnya bukan laki-laki asli, melainkan seorang wanita yang menyamar sebagai laki-laki. Sebenarnya Bambang Kandihawa tidak memiliki niat untuk menikahi Dewi Durniti, tetapi penghinaan Prabu Jayasudikya membuatnya sakit hati teramat sangat. Bagaimanapun juga penghinaan ini harus dapat ia balas.

Resi Stunakarna menasihati Bambang Kandihawa agar jangan membalas dendam berdasarkan kebencian. Jika memang harus membalas penghinaan, maka balaslah menggunakan kasih sayang. Bambang Kandihawa heran dan berkata bahwa dirinya tidak mungkin bisa mengasihi Dewi Durniti karena mereka sama-sama perempuan. Resi Stunakarna berkata bahwa ia akan mengubah Bambang Kandihawa menjadi laki-laki yang sesungguhnya, yaitu dengan cara meminjamkan alat kelaminnya kepada Bambang Kandihawa. Dengan demikian, Prabu Jayasudikya sekeluarga tidak akan bisa menghina dirinya lagi.

Bambang Kandihawa merasa penasaran apa mungkin di dunia bisa terjadi hal demikian. Akhirnya, ia pun menjawab bersedia meskipun masih ragu-ragu. Resi Stunakarna lalu memintanya untuk menutup mata. Ketika Bambang Kandihawa sudah terpejam, Resi Stunakarna membaca mantra sakti. Setelah beberapa saat, mereka lalu sama-sama membuka mata. Bambang Kandihawa meraba kelaminnya ternyata sudah berubah menjadi laki-laki. Kini, ia benar-benar menjadi seorang laki-laki tulen, bukan lagi wanita yang menyamar sebagai laki-laki.

Resi Stunakarna berkata bahwa mereka berdua bertukar kelamin hanya untuk sementara. Kelak jika Bambang Kandihawa sudah membalas sakit hatinya, maka kelamin mereka harus ditukar kembali. Bambang Kandihawa mematuhi dan berterima kasih atas bantuan Resi Stunakarna. Ia lalu mohon pamit untuk kembali ke istana Ima-imantaka.

Resi Stunakarna Amintuna.

BAMBANG KANDIHAWA MENEMUI DEWI DURNITI

Malam harinya, Bambang Kandihawa menyusup masuk ke dalam kamar tidur Dewi Durniti. Melihat suaminya datang, Dewi Durniti terkejut dan hendak berteriak, namun segera ditutup mulutnya oleh Bambang Kandihawa. Akan tetapi, meskipun kelaminnya sudah berubah, pikiran Bambang Kandihawa masih tetap seorang perempuan. Setelah membungkam mulut Dewi Durniti, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Pada saat itulah roh penasaran Raden Durnita datang dan merasuki tubuh Bambang Kandihawa. Semasa hidupnya, Raden Durnita jatuh cinta kepada adiknya sendiri, dan kini ia hendak menggunakan tubuh Bambang Kandihawa untuk melampiaskan hasrat yang terpendam. Karena pikirannya sudah kerasukan, Bambang Kandihawa tidak ragu-ragu lagi untuk membuka pakaiannya sendiri hingga telanjang bulat. Dewi Durniti terkejut melihat suaminya kini telah berubah menjadi laki-laki tulen, bukan lagi berkelamin perempuan seperti kemarin.

Dewi Durniti sebenarnya telah jatuh cinta kepada Bambang Kandihawa sejak pandangan pertama. Namun, kemarin ia sempat kecewa karena sang suami ternyata seorang wanita yang menyamar. Kini suaminya itu telah berubah menjadi laki-laki sejati, membuat Dewi Durniti merasa malu bercampur bahagia. Ia pun ikut membuka pakaian pula dan menikmati malam pertama yang tertunda bersama Bambang Kandihawa.

PRABU JAYASUDIKYA MENERIMA KEMBALI BAMBANG KANDIHAWA

Pagi harinya, Dewi Durniti mengajak Bambang Kandihawa menghadap sang ayah. Prabu Jayasudikya marah-marah menyebut Bambang Kandihawa tidak tahu malu berani datang kembali untuk menipu keluarganya. Namun, Dewi Durniti segera menengahi dan bercerita bahwa semuanya itu hanyalah salah paham belaka. Ia pun bersumpah bahwa suaminya kini telah menjadi laki-laki yang sesungguhnya.

Bambang Kanidhawa juga meminta maaf kepada Prabu Jayasudikya karena tadi malam berani menyusup dan menginap di kamar Dewi Durniti. Namun, ia masih terikat tali perkawinan dengan istrinya itu, sehingga Prabu Jayasudikya hendaknya sudi memberikan pengampunan.

Prabu Jayasudikya melihat wajah putrinya merona merah, pertanda tadi malam benar-benar mengalami peristiwa bahagia. Maka, kemarahannya pun luluh dan ia menyatakan bersedia menerima kembali Bambang Kandihawa sebagai anggota keluarga Kerajaan Ima-imantaka. Dewi Durniti dan Bambang Kandihawa sangat gembira dan berterima kasih atas kemurahan hati sang ayah.

Dewi Srikandi.

DEWI DURNITI MENINGGAL SETELAH MELAHIRKAN BAYI LAKI-LAKI

Demikianlah, Bambang Kandihawa dan Dewi Durniti pun hidup berumah tangga dengan perasaan bahagia. Setelah berganti kelamin menjadi laki-laki dan dirasuki roh Raden Durnita, kini Bambang Kandihawa bagaikan lupa diri bahwa ia sebenarnya adalah Dewi Srikandi yang sedang menyamar. Ia juga telah lupa pada tujuan awal, yaitu mencari hilangnya Raden Arjuna. Apalagi Prabu Jayasudikya akhirnya memutuskan untuk menjadi pendeta bergelar Bagawan Gunadarma, dan menyerahkan takhta Kerajaan Ima-imantaka kepada Bambang Kandihawa. Hal ini membuat Bambang Kandihawa semakin terikat dengan keluarga istrinya tersebut, dan lupa untuk mengembalikan kelamin kepada Resi Stunakarna.

Dewi Durniti sendiri telah mengandung dari hasil perkawinannya dengan Prabu Kandihawa. Sehari-hari mereka saling mengasihi dan hidup berbahagia. Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung singkat. Pada saat melahirkan putra mereka, Dewi Durniti meninggal dunia karena kehilangan banyak darah.

Prabu Kandihawa sangat berduka. Ketika Dewi Durniti meninggal, maka roh Raden Durnita ikut keluar meninggalkan tubuh suaminya. Sementara itu, bayi yang baru saja lahir tersebut menangis keras karena haus dan lapar. Prabu Kandihawa berusaha mencarikan ibu susu tetapi si bayi selalu menolak apabila digendong wanita lain. Akhirnya Prabu Kandihawa merasa putus asa. Ia pun menusuk jarinya sendiri dan meminumkan darahnya ke mulut si bayi.

Sungguh ajaib, begitu menelan darah ayahnya, tubuh bayi itu berangsur-angsur berubah menjadi dewasa dalam waktu singkat. Kini ia telah tumbuh menjadi seorang pemuda berbadan gagah. Bagawan Gunadarma yang datang berkunjung ikut merasa heran atas peristiwa ajaib ini. Namun, ia juga bersyukur karena cucunya telah tumbuh dewasa dalam waktu sekejap, dan ini bisa menjadi pengobat kerinduannya karena ditinggal mati Raden Durnita dan Dewi Durniti.

Demikianlah, Prabu Kandihawa dan Bagawan Gunadarma pun menyambut pemuda tersebut sebagai anggota baru keluarga Ima-imantaka. Bagawan Gunadarma memberi nama cucunya itu, Raden Nirbita. Prabu Kandihawa yang telah ditinggal pergi roh Raden Durnita kini kembali ingat bahwa ia adalah Dewi Srikandi yang sedang menyamar. Namun, melihat sosok Raden Nirbita, rasa keibuannya pun tergugah. Maka, ia memutuskan untuk tetap tinggal di istana Ima-imantaka demi mengasuh Raden Nirbita sebagai ayah sekaligus sebagai ibu pula.

Raden Nirbita.

RADEN NIRBITA MELAMAR DEWI SUMBADRA UNTUK AYAHNYA

Sementara itu di Kerajaan Amarta, Prabu Puntadewa dihadap ketiga adik, yaitu Arya Wrekodara, Raden Nakula, dan Raden Sadewa. Hadir pula sang kakak sepupu, yaitu Prabu Kresna Wasudewa dari Kerajaan Dwarawati. Dalam pertemuan itu mereka membahas tentang Raden Arjuna yang sudah satu tahun ini menghilang dari Kesatrian Madukara. Sang istri Dewi Srikandi berangkat mencari namun ikut menghilang pula tanpa diketahui keberadaannya. Arya Wrekodara dan si kembar sudah mencari ke mana-mana tetapi sampai saat ini belum juga berhasil menemukan mereka berdua.

Di tengah-tengah percakapan, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang mengaku bernama Raden Nirbita, putra Prabu Kandihawa raja Ima-imantaka. Pemuda itu menyampaikan surat dari ayahnya yang berisi pinangan, di mana Prabu Kandihawa ingin menikahi Dewi Sumbadra yang kabarnya sudah menjadi janda.

Arya Wrekodara marah dan menyuruh Raden Nirbita pulang ke negaranya karena Dewi Sumbadra masih sah menjadi istri adiknya. Akan tetapi, Prabu Puntadewa berpendapat lain. Raden Arjuna sudah satu tahun meninggalkan keluarga tanpa kabar berita, juga tidak pernah memberikan nafkah lahir batin kepada istri-istrinya. Secara hukum Dewi Sumbadra bisa dinyatakan telah bercerai dengan suaminya tersebut. Namun, mengenai hal ini Prabu Puntadewa menyerahkan keputusan kepada Prabu Kresna selaku wali Dewi Sumbadra.

Prabu Kresna mengamati sosok Raden Nirbita dan ia pun merasa curiga. Setelah mendapatkan gagasan, ia lantas berkata bahwa lamaran Prabu Kandihawa terhadap adiknya akan diterima, asalkan dengan syarat harus bisa menyediakan Kayu Klepu Dewandaru yang tumbuh di Kahyangan Suralaya.

Raden Nirbita menerima keputusan tersebut dan segera mohon pamit meninggalkan Kerajaan Amarta. Setelah pemuda itu pergi, Arya Wrekodara bertanya mengapa Prabu Kresna mengajukan syarat demikian, seolah-olah Dewi Sumbadra sekarang sudah benar-benar menjadi janda. Prabu Kresna menjawab ini hanya siasat belaka. Ia mendapat firasat bahwa pemuda bernama Raden Nirbita tersebut akan menjadi sarana bagi kemunculan Raden Arjuna dan Dewi Srikandi yang telah lama hilang.

Setelah mengutarakan niatnya, Prabu Kresna pun mohon pamit kepada Prabu Puntadewa untuk kemudian mengajak Arya Wrekodara mengawasi gerak-gerik Raden Nirbita dari kejauhan.

Prabu Puntadewa.

RADEN NIRBITA KEHILANGAN SEBELAH MATA DAN DIKUTUK BATARI SUPRABA MENJADI RAKSASA

Raden Nirbita yang sangat mematuhi perintah ayahnya tidak berani pulang ke Kerajaan Ima-imantaka dengan tangan hampa. Ia pun naik ke Kahyangan Suralaya bersama kedua pengawalnya yang berwujud raksasa, yaitu Ditya Jayasaramba dan Ditya Jayaprakosa. Mereka takut jika meminta Kayu Klepu Dewandaru secara terus terang kepada Batara Indra belum tentu diizinkan. Maka, Raden Nirbita pun memutuskan untuk mencurinya saja.

Demikianlah, mereka bertiga lantas menyusup masuk ke dalam Kahyangan Suralaya dan akhirnya menemukan taman indah tempat para bidadari bersemayam. Tamansari tersebut dipagar dengan tembok tinggi dan tebal. Namun, Raden Nirbita mampu melubangi tembok itu untuk mengintip ke dalam. Ia pun terkejut dan seketika jatuh cinta menyaksikan kecantikan pemimpin para bidadari tersebut, yang bernama Batari Supraba.

Saat itu Batari Supraba dan adik-adiknya sedang mandi. Mereka adalah Batari Wilotama, Batari Warsiki, Batari Surendra, Batari Gagarmayang, Batari Irim-irim, dan Batari Tunjungbiru. Begitu menyadari ada yang sedang mengintip, Batari Supraba segera mengajak mereka semua berpakaian. Batari Supraba lalu mendekati lubang tembok dan menusukkan kancip, yaitu semacam pisau kecil untuk mengiris buah.

Raden Nirbita yang sedang terkesima mengintip kecantikan Batari Supraba tidak menyadari datangnya bahaya. Ia tidak sempat lagi menghindar, sehingga matanya tertusuk kancip tersebut. Mata yang tertusuk itu pun terluka parah dan Raden Nirbita kini mengalami buta sebelah.

Karena sangat marah, Raden Nirbita meraung dan menjebol tembok taman. Bersama Ditya Jayasaramba dan Ditya Jayaprakosa, ia mengamuk hendak menangkap Batari Supraba dan para bidadari lainnya. Batari Supraba tidak gentar dan ia dengan tegas menyebut Raden Nirbita sebagai seorang pemuda lancang yang tidak tahu sopan santun. Mungkin karena memiliki dua pengawal berwujud raksasa, maka pantas jika kelakuannya pun mirip kaum raksasa.

Ucapan Batari Supraba tersebut ternyata mengandung kutukan. Seketika wujud Raden Nirbita pun berubah menjadi raksasa tinggi besar, dengan mata picak sebelah. Ia semakin marah dan mengamuk hendak menangkap Batari Supraba.

Pada saat itulah Batara Indra datang didampingi Batara Bayu dan para dewa lainnya. Melihat amukan Raden Nirbita, Batara Bayu segera turun tangan. Dengan kekuasaannya ia pun mengerahkan angin dahsyat yang menggulung tubuh Raden Nirbita dan menerbangkannya jauh-jauh meninggalkan kahyangan. Tubuh Raden Nirbita itu melayang di angkasa, hingga akhirnya jatuh tercebur ke dalam lautan luas.

Ditya Jayasaramba dan Ditya Jayaprakosa ketakutan mengira sang pengeran telah tewas. Mereka pun memilih kabur melarikan diri meninggalkan Kahyangan Suralaya. Di tengah jalan mereka bertemu Prabu Kandihawa dan Bagawan Gunadarma yang sedang dalam perjalanan menyusul kepergian Raden Nirbita. Kedua raksasa itu pun melaporkan apa yang telah terjadi dari awal sampai akhir, yaitu bagaimana Prabu Kresna mengajukan syarat untuk mendapatkan Dewi Sumbadra, sampai dengan bagaimana Raden Nirbita dikutuk menjadi raksasa dan tubuhnya dilemparkan para dewa hingga mati tenggelam di dasar laut.

Prabu Kandihawa dan Bagawan Gunadarma sangat marah mendengarnya. Mereka pun bergegas menyerang Kahyangan Suralaya untuk membalas perbuatan para dewa terhadap Raden Nirbita.

Batari Supraba.

BATARA NARADA MEMINTA RESI STUNAKARNA MENJADI JAGO KAHYANGAN

Di Padepokan Gunung Amintuna, sang pendeta raksasa Resi Stunakarna sedang bersamadi. Tiba-tiba dari angkasa turun Batara Narada membangunkannya. Resi Stunakarna pun membuka mata dan menyembah hormat kepada dewa tersebut.

Batara Narada lalu bercerita kepada Resi Stunakarna bahwa Kahyangan Suralaya sedang dalam ancaman musuh. Ada seorang pangeran bernama Raden Nirbita berani menyusup ke sana dan berbuat onar. Meskipun dapat disingkirkan, namun sekarang ayah dan kakeknya yang bernama Prabu Kandihawa dan Bagawan Gunadarma datang menyerang. Menurut petunjuk Batara Guru, yang dapat mengalahkan kedua orang itu hanyalah Resi Stunakarna dari Padepokan Gunung Amintuna.

Resi Stunakarna heran mengapa dirinya yang harus menghadapi kedua orang itu, bukankah ia hanya seorang pendeta gunung, bukan kesatria sakti? Batara Narada berkata Resi Stunakarna sebaiknya tidak perlu berpura-pura lagi, karena ia sudah tahu bahwa pendeta raksasa tersebut tidak lain adalah penyamaran Raden Arjuna yang sudah setahun lebih menghilang dari Kerajaan Amarta.

Resi Stunakarna terkejut dan merasa malu. Penyamarannya kini sudah terbongkar, maka ia pun kembali ke wujud Raden Arjuna. Sudah setahun lebih ia meninggalkan Kerajaan Amarta untuk bertapa dalam wujud pendeta raksasa. Selama ini ia dikenal sebagai manusia berwajah tampan rupawan, sehingga ia pun ingin mencoba bagaimana rasanya jika memiliki wajah buruk rupa. Namun, kemudian datang Bambang Kandihawa yang kala itu baru saja diusir Prabu Jayasudikya. Raden Arjuna pun merasa kasihan dan bertukar kelamin dengannya.

Demikianlah, Raden Arjuna yang kini telah membuka penyamaran namun tetap berkelamin wanita akhirnya memutuskan untuk bersedia menjadi jago para dewa. Ia lalu berangkat bersama Batara Narada menuju Kahyangan Suralaya.

Raden Arjuna.

PRABU KANDIHAWA KEMBALI MENJADI DEWI SRIKANDI

Di Kahyangan Suralaya, Prabu Kandihawa masih mengamuk menghadapi pasukan Dorandara. Tiba-tiba Raden Arjuna muncul menghadang dan segera menghujaninya dengan anak panah. Prabu Kandihawa sibuk menangkis hujan anak panah tersebut sehingga membuat dirinya menjadi lengah. Kesempatan ini segera dimanfaatkan Raden Arjuna untuk membaca mantra. Beberapa saat kemudian, kelamin mereka pun kembali bertukar seperti sediakala. Raden Arjuna kini kembali berkelamin laki-laki, sedangkan Prabu Kandihawa kembali berkelamin perempuan.

Setelah kembali menjadi wanita, Prabu Kandihawa seolah terbangun dari mimpi. Sejak merawat dan mengasuh Raden Nirbita, ia bagaikan orang mabuk yang hilang ingatan. Suatu hari alam pikiran bawah sadarnya berkata bahwa wanita tercantik di dunia adalah Dewi Sumbadra, maka ia pun berhasrat ingin menikahi istri utama Raden Arjuna tersebut. Rupa-rupanya hasrat birahi yang membara ini juga muncul karena ia memakai kelamin milik Raden Arjuna, dan ternyata ia tidak mampu untuk mengendalikan.

Prabu Kandihawa kini telah mendapatkan kesadarannya kembali. Sekarang ia telah ingat bahwa dirinya adalah Dewi Srikandi yang sedang menyamar, dan lawannya adalah suami sendiri. Namun, untuk menguji cinta Raden Arjuna, terpaksa ia pura-pura tidak mengenali suaminya itu dan tetap menantang melanjutkan pertempuran.

Raden Arjuna sendiri telah mendapatkan kembali kejantanannya. Namun, ia tahu kalau Prabu Kandihawa adalah samaran Dewi Srikandi. Maka, ia tidak menempuh jalan kekerasan, melainkan maju sambil mengucapkan kata-kata rayuan berbunga-bunga. Prabu Kandihawa pun luluh dan terlena mendengarnya. Segala penyamaran yang ada pada dirinya pun luntur, dan ia kembali ke wujud perempuan. Raden Arjuna segera merangkul istrinya itu dan keduanya pun berpelukan mesra saling melepas rindu.

Melihat menantunya berubah wujud menjadi perempuan, Bagawan Gunadarma marah merasa dipermainkan. Sifat raksasanya muncul dan ia pun menyerang Raden Arjuna. Batara Narada datang mendekat dan berbisik di telinga Raden Arjuna agar menyempurnakan kematian pendeta raksasa tersebut. Bagawan Gunadarma alias Prabu Jayasudikya sebenarnya tidak jahat, namun tugasnya di dunia telah selesai dan sudah waktunya ia untuk memasuki alam baka.

Raden Arjuna mematuhi dan segera melepaskan Panah Sarotama sambil membaca mantra penyempurnaan. Panah tersebut melesat dan menancap di dahi Bagawan Gunadarma. Seketika pendeta raksasa itu pun roboh dan meninggal dunia. Jasadnya musnah seperti asap dan rohnya melayang masuk ke alam baka.

Raden Nirbita setelah picak.

PRABU KRESNA DAN ARYA WREKODARA MENJEMPUT PULANG RADEN ARJUNA DAN DEWI SRIKANDI

Ditya Jayasaramba dan Ditya Jayaprakosa menyerah dan mohon ampun kepada para dewa. Batara Guru muncul dan mengampuni mereka berdua. Keduanya pun dipersilakan untuk pulang ke Kerajaan Ima-imantaka. Kedua raksasa itu bingung karena kini mereka sudah tidak memiliki raja. Batara Guru berkata bahwa Raden Nirbita belum mati. Di dasar lautan ia akan mendapat ilmu kesaktian dan muncul kembali ke permukaan sebagai raksasa yang perkasa. Kelak dialah yang akan menjadi raja Ima-imantaka, dengan memakai gelar Prabu Niwatakawaca. Ditya Jayasaramba dan Ditya Jayaprakosa hendaknya mengabdi kepada raja tersebut dan menjadi pengasuhnya. Untuk itulah, Batara Guru pun mengganti nama mereka menjadi Ditya Mamangmurka dan Ditya Mamangdana. Kedua raksasa itu sangat berterima kasih. Mereka lalu menyembah dan mohon pamit meninggalkan Kahyangan Suralaya.

Setelah para raksasa pergi, Prabu Kresna dan Arya Wrekodara muncul dari persembunyian. Sejak awal mereka telah menyaksikan bagaimana kisah ini berlangsung. Raden Arjuna dan Dewi Srikandi pun mengucapkan salam menyambut mereka berdua.

Prabu Kresna bertanya mengapa Raden Arjuna pergi meninggalkan Kesatrian Madukara sampai setahun lebih. Raden Arjuna menjawab bahwa dirinya sengaja menyamar sebagai pendeta raksasa supaya bisa mengetahui bagaimana rasanya memiliki wajah buruk rupa. Namun kemudian, Dewi Srikandi muncul dalam wujud Prabu Kandihawa yang baru saja dihina dan diusir Prabu Jayasudikya. Merasa kasihan, Raden Arjuna alias Resi Stunakarna pun meminjamkan kelaminnya untuk ditukar dengan kelamin perempuan Prabu Kandihawa. Namun, Prabu Kandihawa lalu hilang ingatan sehingga tidak mengembalikan kelaminnya itu hingga setahun lamanya.

Prabu Kresna bertanya mengapa Raden Arjuna tidak mendatangi Prabu Kandihawa dan merebut kembali kelaminnya. Raden Arjuna menjawab ini adalah suratan takdir. Selama ini ia sering menikah di sana-sini dengan banyak wanita. Mungkin Yang Kuasa mengharuskannya memiliki kelamin wanita selama setahun untuk mengajarkan kepadanya bagaimana rasanya menjadi wanita. Itulah sebabnya Raden Arjuna tidak menemui Prabu Kandihawa untuk meminta kelaminnya kembali. Ia juga tidak pulang ke Kesatrian Madukara karena tidak mungkin menemui para para istri dengan berkelamin perempuan.

Kini Raden Arjuna dan Dewi Srikandi sudah sama-sama pulih seperti sediakala. Mereka pun bersama-sama Prabu Kresna dan Arya Wrekodara mohon pamit kepada Batara Guru dan para dewa lainnya, untuk kembali ke Kerajaan Amarta.

Prabu Kresna.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Menurut versi balungan lakon yang disusun Ki Tristuti Suryasaputra, tokoh Raden Durnita tidak tewas di awal, tetapi meninggal di akhir cerita bersama Prabu Jayasudikya. Saya sengaja mengubah cerita menjadi kisah seorang kakak yang mencintai adiknya sendiri dan rohnya penasaran hingga merasuki pikiran Prabu Kandihawa alias Dewi Srikandi. Dengan demikian, saya menepis pandangan bahwa Dewi Srikandi seorang biseksual, karena ia bersetubuh dengan Dewi Durniti bukan karena niatnya sendiri, melainkan karena sedang kerasukan roh penasaran Raden Durnita. Dengan demikian saya juga menciptakan alasan mengapa Raden Nirbita alias Prabu Niwatakawaca terlahir angkara murka, adalah karena hubungan incest antara Dewi Durniti dengan roh Raden Durnita yang meminjam tubuh Dewi Srikandi dan kelamin Raden Arjuna. Soal Raden Nirbita meminum darah Prabu Kandihawa dan berubah menjadi dewasa itu juga tambahan dari saya agar lebih dramatis.


Untuk kisah awal mula berdirinya Kerajaan Ima-imantaka dapat dibaca di sini

Untuk kisah perkawinan Dewi Srikandi belajar memanah kepada Raden Arjuna dapat dibaca di sini

Untuk kisah perkawinan Dewi Srikandi dan Raden Arjuna dapat dibaca di sini dan di sini








Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Setyaki Kembar

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang peperangan antara Prabu Setyajit raja Lesanpura melawan Prabu Garbanata raja Garbaruci. Peperangan tersebut berakhir dengan perkawinan antara Arya Setyaki dengan Dewi Garbarini. Juga dikisahkan bagaimana Raden Burisrawa menyamar menjadi Arya Setyaki palsu untuk merebut pusaka Nagabanda dari kahyangan.

Kisah ini saya olah dari pentas wayang kulit dengan lakon Setyaki Kembar yang dibawakan oleh Ki Manteb Soedharsono, yang saya gabungkan dengan kisah Setyaki Rabi menurut versi Ensiklopedia Wayang Purwa tulisan Rio Sudibyoprono, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 15 Juli 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

Arya Setyaki.
------------------------------ ooo ------------------------------

PRABU SETYAJIT MENDAPAT TANTANGAN DARI PRABU GARBANATA

Di Kerajaan Lesanpura, Prabu Setyajit dihadap Patih Setyabasa beserta para menteri dan punggawa lainnya.  Dalam pertemuan itu mereka membicarakan putri dan putra sang raja, yaitu Dewi Setyaboma dan Arya Setyaki. Dewi Setyaboma sudah menikah dengan Prabu Kresna Wasudewa di Kerajaan Dwarawati. Dari perkawinan tersebut sudah lahir pula seorang putra yang diberi nama Raden Setyaka. Sementara itu, Arya Setyaki yang merupakan putra mahkota Kerajaan Lesanpura lebih memilih tinggal di Kerajaan Dwarawati sebagai panglima angkatan perang di sana. Sampai saat ini ia belum juga menikah padahal secara usia sudah cukup dewasa.

Ketika sedang berunding membicarakan putranya tersebut, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mengaku bernama Patih Saradenta, utusan Prabu Garbanata dari Kerajaan Garbaruci. Kedatangan Patih Saradenta ini adalah untuk menyerahkan surat dari rajanya kepada Prabu Setyajit.

Prabu Setyajit menerima surat tersebut dan membaca isinya. Dalam surat itu Prabu Garbanata mengaku sebagai adik dari Prabu Garbaruci raja Paranggubarja yang dahulu tewas di tangan Prabu Setyajit saat memperebutkan Dewi Wresini. Prabu Setyajit seketika teringat peristiwa masa lalu, saat dirinya masih muda dan bernama Arya Ugrasena. Bersama dengan sang kakak, yaitu Aryaprabu Rukma (yang saat ini sudah menjadi raja Kumbina bergelar Prabu Bismaka), mereka berdua mendapat tugas menjadi jago kahyangan menghadapi serangan dua orang saudara seperguruan, bernama Prabu Sasradewa raja Guamiring yang ingin menikahi Batari Arumbini, serta Prabu Garbaruci raja Paranggubarja yang ingin menikahi Batari Wresini. Pada mulanya Aryaprabu Rukma dan Arya Ugrasena kalah menghadapi kedua raja tersebut. Namun, setelah mendapatkan pinjaman pusaka dari sang kakak ipar, yaitu Prabu Pandu Dewanata (ayah para Pandawa), mereka pun berhasil memenangkan pertempuran dan menewaskan Prabu Sasradewa beserta Prabu Garbaruci.

Ketika Aryaprabu Rukma dan Arya Ugrasena memboyong kedua bidadari Batari Arumbini dan Batari Wresini ke Kerajaan Mandura sebagai istri mereka, saat itu datang serangan dari Kerajaan Paranggubarja yang dipimpin adik kandung Prabu Garbaruci, bernama Raden Garbanata. Dalam pertempuran itu, Raden Garbanata berhasil dikalahkan oleh Prabu Pandu. Karena merasa iba, Prabu Basudewa (raja Mandura saat itu) pun mengampuni dan mempersilakannya pulang ke Kerajaan Paraggubarja.

Demikianlah, Prabu Setyajit terkenang peristiwa yang sudah berlalu lebih dari dua puluh tahun tersebut. Saat ini Prabu Basudewa dan Prabu Pandu sudah sama-sama meninggal. Prabu Setyajit menganggap urusan dendam lama Prabu Garbanata adalah murni tanggung jawabnya sendiri. Maka, ia pun menjawab tantangan tersebut dan mempersilakan Patih Saradenta untuk melapor kepada rajanya.

Setelah Patih Saradenta undur diri, Prabu Setyajit berunding dengan Patih Setyabasa mengenai rencana peperangan ini. Patih Setyabasa mengusulkan agar sang raja memanggil pulang Arya Setyaki di Kerajaan Dwarawati agar membantu mengalahkan Prabu Garbanata. Prabu Setyajit merasa tidak perlu seperti itu. Ia yakin pada kekuatan sendiri. Ia dulu pernah mengalahkan Prabu Garbaruci, tentu tidak akan sulit mengalahkan adiknya.

Patih Setyabasa ingat Prabu Setyajit dulu bisa membunuh Prabu Garbaruci adalah karena meminjam pusaka milik Prabu Pandu, tetapi ia tidak berani membantah rajanya. Ia pun mohon izin keluar untuk mempersiapkan pasukan Lesanpura. Prabu Setyajit mempersilakan, lalu membubarkan pertemuan untuk mempersiapkan diri pula.

PRABU GARBANATA MENERIMA LAPORAN PATIH SARADENTA

Sementara itu di perkemahan pasukan Garbaruci, Prabu Garbanata menerima kedatangan Patih Saradenta yang telah kembali dari tugasnya mengantar surat tantangan kepada Prabu Setyajit. Begitu mendengar laporan bahwa pihak lawan menerima tantangan darinya, ia pun merasa senang karena membayangkan bisa segera membalaskan kematian sang kakak, yaitu Prabu Garbaruci di masa lalu.

Patih Saradenta merasa ikut senang. Namun, ia kurang paham tentang peristiwa apa yang terjadi di masa lalu hingga Prabu Garbanata bisa menaruh dendam kepada Prabu Setyajit. Patih Saradenta sendiri belum lama mengabdi kepada Prabu Garbanata sehingga tidak mengetahui apa saja yang terjadi di zaman dulu.

Prabu Garbanata pun bercerita bahwa ia memiliki kakak kandung bernama Prabu Garbaruci, raja Paranggubarja. Kakaknya itu memiliki saudara seperguruan bernama Prabu Sasradewa dari Kerajaan Guamiring. Pada suatu hari mereka pergi bersama ke Kahyangan Suralaya untuk melamar bidadari Batari Arumbini dan Batari Wresini. Namun, keduanya tewas di tangan dua jago kahyangan kakak beradik dari Kerajaan Mandura. Prabu Sasradewa tewas di tangan Aryaprabu Rukma, sedangkan Prabu Garbaruci tewas di tangan Arya Ugrasena.

Raden Garbanata yang saat itu masih muda belia berangkat menyerang Kerajaan Mandura untuk membalas kematian kakaknya. Saat itu di sana sedang diadakan pernikahan ganda antara Aryaprabu Rukma dengan Batari Arumbini, serta Arya Ugrasena dengan Batari Wresini. Raden Garbanata pun kalah di tangan Prabu Pandu dan mendapat pengampunan Prabu Basudewa.

Raden Garbanata kemudian pulang ke Kerajaan Paranggubarja untuk menggantikan takhta kakaknya yang telah meninggal. Namun, ia dikhianati punggawanya sendiri yang bernama Arya Jayasudarga. Raden Garbanata kalah dan melarikan diri ke padepokan ayahnya, yang bernama Resi Garbasumanda. Adapun Arya Jayasudarga lalu menjadi raja Paranggubarja, bergelar Prabu Jayasudarga.

Resi Garbasumanda berwatak sabar dan welas asih. Ia menasihati Raden Garbanata untuk melupakan dendam dan hidup tenang di desa. Untuk sementara waktu, Raden Garbanata mematuhi ayahnya. Ia hidup berumah tangga dengan seorang gadis desa bernama Niken Danasari, dan dikaruniai seorang putri yang diberi nama Dewi Garbarini.

Belasan tahun kemudian, Resi Garbasumanda meninggal dunia karena sakit. Setelah kematian sang ayah, tiba-tiba Raden Garbanata mendengar kabar bahwa Kerajaan Paranggubarja telah kosong tanpa memiliki raja. Ia pun meninggalkan padepokan dan mendatangi negeri lamanya tersebut. Ternyata Prabu Jayasudarga telah mendapatkan hukum karma, yaitu ia dikalahkan oleh seorang pemuda gunung bernama Bambang Jungkung, putra Resi Dewangkara. Bambang Jungkung kemudian menduduki takhta Kerajaan Paranggubarja, dengan bergelar Prabu Jungkungmardeya, sedangkan Prabu Jayasudarga diturunkan pangkatnya menjadi patih.

Selanjutnya, Prabu Jungkungmardeya dikisahkan tewas di tangan Dewi Srikandi, putri Kerajaan Cempalareja yang ia inginkan sebagai calon istri. Resi Dewangkara dan Patih Jayasudarga pun berangkat membalas dendam, tetapi mereka juga tewas di tangan Raden Arjuna dan Raden Gatutkaca. Namun, sebelum tewas, Resi Dewangkara sempat membakar hangus Taman Maherakaca. Raden Arjuna berhasil memenangkan sayembara memperbaiki taman tersebut dan ia pun berhak menikah dengan Dewi Srikandi.

Demikianlah kisah yang didengar Raden Garbanata. Ia merasa senang dapat kembali mendapatkan haknya sebagai ahli waris Kerajaan Paranggubarja tanpa perlu bersusah payah mengusir si pengkhianat Prabu Jayasudarga, ataupun Prabu Jungkungmardeya si pemuda gunung. Raden Garbanata lalu menjadi raja, bergelar Prabu Garbanata, sedangkan Kerajaan Paranggubarja diganti nama menjadi Kerajaan Garbaruci, demi mengenang kakak kandungnya tersayang. Di antara para punggawa yang ia percaya, Arya Saradenta pun dipilihnya untuk menduduki jabatan sebagai patih.

Demikianlah kisah masa lalu Prabu Garbanata. Setelah mendapatkan kembali kekuasaan atas takhta, segala nasihat mendiang Resi Garbasumanda seolah menguap begitu saja. Dendam lamanya kepada Prabu Setyajit alias Arya Ugrasena bangkit kembali. Kini, ia pun mengirim surat tantangan kepada raja Lesanpura tersebut untuk menyelesaikan hutang nyawa atas kakaknya.

Patih Saradenta merasa bersemangat membantu kemenangan rajanya. Ia pun mohon izin untuk mempersiapkan pasukan menggempur istana Kerajaan Lesanpura.

PRABU SETYAJIT KALAH DI TANGAN PRABU GARBANATA

Prabu Garbanata dan Patih Saradenta telah berangkat memimpin pasukan Garbaruci. Mereka disambut Prabu Setyajit dan Patih Setyabasa yang juga sudah bersiaga dengan pasukan Lesanpura. Pertempuran pun meletus di antara kedua pihak. Mula-mula pihak Lesanpura berhasil mendesak mundur barisan Garbaruci. Ketika kemenangan sudah di depan mata, tiba-tiba Prabu Garbanata mengubah siasat, yaitu menantang Prabu Setyajit bertanding satu lawan satu.

Prabu Setyajit menerima tantangan tersebut. Sebagai mantan panglima perang Kerajaan Mandura, ia tidak pernah takut kepada musuh. Namun, Prabu Garbanata sendiri selama menyepi di padepokan Resi Garbasumanda selalu melatih diri dan mengasah ilmu kesaktiannya. Sebaliknya, Prabu Setyajit sudah semakin berumur dan jarang berolah raga. Lama-lama ia terdesak dan berhasil diringkus oleh Prabu Garbanata.

Prabu Garbanata bahagia karena pembunuh kakaknya kini telah tertunduk di bawah kakinya. Prabu Setyajit tidak takut mati. Ia yakin putranya yang bernama Arya Setyaki akan segera datang untuk membalas kematiannya. Mendengar itu, Prabu Garbanata menjadi penasaran. Ia menunda kematian Prabu Setyajit karena lebih dulu ingin membunuh Arya Setyaki tersebut. Apabila Prabu Setyajit menyaksikan sendiri bagaimana putranya dibunuh, tentunya ini jauh lebih menyakitkan daripada dirinya sendiri yang mati.

Prabu Setyajit merasa Prabu Garbanata terlalu sombong karena meremehkan kesaktian putranya. Prabu Garbanata tidak peduli dan ingin Arya Setyaki segera dihadirkan di hadapannya. Karena sudah diputuskan demikian, Prabu Setyajit pun meminta tolong kepada Patih Setyabasa untuk pergi ke Kerajaan Dwarawati, menjemput pulang Arya Setyaki. Patih Setyabasa merasa gembira karena ini sesuai dengan keinginannya sejak awal. Maka, ia pun segera mohon pamit berangkat melaksanakan tugas.

PRABU KRESNA DAN PARA PANDAWA MENCARI HILANGNYA ARYA SETYAKI

Di Kerajaan Amarta, Prabu Puntadewa dihadap adik-adiknya, yaitu Arya Wrekodara, Raden Arjuna, Raden Nakula, dan Raden Sadewa. Hadir pula sang kakak sepupu dari Kerajaan Dwarawati, yaitu Prabu Kresna Wasudewa yang membawa kabar bahwa Arya Setyaki telah menghilang dari Kesatrian Swalabumi dan sudah lama tidak datang menghadap.

Prabu Puntadewa prihatin mendengar berita tersebut dan berharap Arya Setyaki dalam keadaan baik-baik saja. Tidak lama kemudian, Patih Setyabasa datang menghadap. Prabu Kresna dan para Pandawa terkejut mengapa ia bisa sampai di Kerajaan Amarta. Patih Setyabasa pun menceritakan peristiwa yang terjadi di Kerajaan Lesanpura, bahwa saat ini Prabu Setyajit telah jatuh ke tangan musuh lama bernama Prabu Garbanata. Kemudian Prabu Garbanata ingin menantang Arya Setyaki bertarung dan membunuhnya di hadapan Prabu Setyajit. Untuk itulah, Patih Setyabasa pun ditugasi pergi ke Kerajaan Dwarawati menjemput Arya Setyaki. Namun, di sana ia tidak bertemu dengan orang yang dicari. Menurut keterangan Patih Udawa, sudah beberapa pekan ini Arya Setyaki menghilang dari Kesatrian Swalabumi.

Patih Setyabasa lalu bertanya di mana Prabu Kresna berada. Patih Udawa berkata bahwa rajanya sedang berkunjung ke Kerajaan Amarta. Tanpa membuang waktu, Patih Setyabasa pun pergi menyusul untuk meminta bantuan menyelamatkan nyawa Prabu Setyajit.

Prabu Kresna dan para Pandawa merasa sedih atas keadaan yang menimpa paman mereka. Namun, Prabu Kresna meramalkan hanya Arya Setyaki yang bisa mengalahkan Prabu Garbanata. Untuk itu, ia tidak bersedia membantu membebaskan Prabu Setyajit yang juga mertuanya sendiri tersebut, tetapi bersedia membantu mencari hilangnya Arya Setyaki sampai ketemu.

Patih Setyabasa merasa gembira dan bersiap ikut menemani. Namun, Prabu Kresna melarang dan menyuruhnya untuk beristirahat dan menunggu di Kerajaan Amarta. Biarlah ia saja yang berangkat mencari dengan ditemani Arya Wrekodara dan Raden Arjuna beserta para panakawan. Setelah memutuskan demikian, Prabu Kresna pun berpamitan kepada Prabu Puntadewa, kemudian berangkat bersama kedua Pandawa tersebut.

BATARI DURGA MENGUBAH RADEN BURISRAWA MENJADI ARYA SETYAKI PALSU

Sementara itu, Raden Burisrawa kesatria Madyapura sedang menghadap gurunya, yaitu Batari Durga di Kahyangan Setragandamayit. Hari itu Batari Durga mendapat kabar bahwa dewata hendak menurunkan pusaka Nagabanda kepada Arya Setyaki yang saat ini sedang bertapa di Hutan Minangsraya.

Raden Burisrawa kesal mendengarnya. Dulu saat pesta pernikahan Raden Arjuna dengan Dewi Sumbadra, dirinya mengamuk karena cemburu. Namun, ia dapat diringkus oleh Arya Setyaki dan diserahkan kepada Raden Gatutkaca untuk dibuang jauh. Raden Gatutkaca lalu membawa terbang tubuh Raden Burisrawa dan membuangnya jatuh di tengah hutan. Sejak saat itulah Raden Burisrawa menyimpan dendam kepada Arya Setyaki dan ingin membalas perbuatannya.

Raden Burisrawa khawatir jika Arya Setyaki mendapatkan pusaka Nagabanda, maka kesaktiannya akan bertambah dan sudah pasti akan lebih kuat darinya. Raden Burisrawa pun meminta petunjuk kepada Batari Durga bagaimana caranya agar ia dapat menggagalkan rencana dewata menganugerahkan pusaka tersebut kepada Arya Setyaki.

Batari Durga mendapat bocoran bahwa Batara Guru akan menugasi Batara Narada untuk menyerahkan pusaka Nagabanda kepada Arya Setyaki. Ia pun teringat peristiwa saat Raden Gatutkaca lahir dulu. Saat itu Batara Narada salah memberikan pusaka Kuntadruwasa dan Wijayadanu kepada Adipati Karna yang berdandan mirip Raden Arjuna. Maka, Batari Durga pun berniat menggunakan cara yang sama. Ia hendak mengubah wujud Raden Burisrawa menjadi sama persis dengan Arya Setyaki untuk mengelabui pandangan Batara Narada.

Raden Burisrawa gembira mendengarnya. Ia pun menurut saat wujudnya tiba-tiba diubah Batari Durga menjadi lebih kecil, dan wajahnya kemudian diubah pula menjadi sama persis dengan Arya Setyaki. Setelah dirasa cukup, Batari Durga pun memerintahkan Raden Burisrawa atau Arya Setyaki palsu untuk segera berangkat menuju Hutan Minangsraya.

BATARA NARADA SALAH MEMBERIKAN PUSAKA NAGABANDA KEPADA ARYA SETYAKI PALSU

Sementara itu, Batara Narada telah berangkat melaksanakan tugas dari Batara Guru untuk menurunkan pusaka Nagabanda kepada Arya Setyaki yang sedang bertapa di Hutan Minangsraya. Ia melayang terbang dan melihat dari kejauhan Arya Setyaki sedang duduk bersamadi di bawah pohon besar.

Batara Narada segera membangunkan Arya Setyaki dan mengatakan bahwa Batara Guru telah mengabulkan permintaannya yang ingin memiliki pusaka dari kahyangan. Pusaka tersebut berupa cambuk dari baja, bernama Nagabanda. Arya Setyaki dengan senang hati menerima pusaka tersebut kemudian mohon pamit kembali ke Kesatrian Swalabumi.

Batara Narada termangu-mangu dan merasa ada yang tidak beres. Ia lalu terbang ke angkasa dan melihat ada Arya Setyaki lain sedang duduk bersamadi di atas batu datar. Batara Narada segera turun dan membangunkannya untuk bertanya mengapa ia masih bertapa lagi padahal sudah memperoleh pusaka Nagabanda. Arya Setyaki bangun dan menyembah. Ia berkata bahwa dirinya belum pernah menerima pusaka Nagabanda. Sudah beberapa hari ini ia bertapa ingin seperti Prabu Kresna dan Prabu Baladewa yang memiliki pusaka dari kahyangan. Sebagai panglima angkatan perang Kerajaan Dwarawati, Arya Setyaki merasa penting jika memiliki pusaka andalan buatan para dewa, di samping Gada Wesikuning yang dulu ia peroleh setelah mengalahkan Prabu Tambakyuda dan Patih Singamulangjaya dari Kerajaan Swalabumi.

Batara Narada merasa heran dan kini ia yakin peristiwa masa lalu terulang lagi, di mana ia salah memberikan pusaka kepada Adipati Karna, padahal seharusnya untuk Raden Arjuna. Untuk lebih meyakinkan lagi, ia pun meminta Arya Setyaki di hadapannya agar membuktikan diri apakah asli atau palsu. Arya Setyaki bersedia dan segera mengeluarkan Gada Wesikuning dari telapak tangan. Gada tersebut berukuran kecil seperti jarum yang secara ajaib tiba-tiba berubah menjadi besar dan panjang, bahkan lebih tinggi daripada tubuh Arya Setyaki.

Batara Narada kini yakin bahwa pusaka Nagabanda telah salah diberikan kepada Arya Setyaki palsu. Mendengar ada orang lain yang menyamar sebagai dirinya, Arya Setyaki segera mohon pamit untuk mengejar orang itu dan merebut pusaka Nagabanda dari tangannya.

ARYA SETYAKI KEMBAR SALING BERTARUNG

Arya Setyaki asli akhirnya berhasil mengejar Arya Setyaki palsu. Mereka pun bertarung seru sama-sama mengaku sebagai yang asli. Arya Setyaki yang satu memegang Gada Wesikuning, sedangkan yang satu lagi memegang pusaka Nagabanda. Ketika kedua senjata itu beradu, tiba-tiba Nagabanda melilit erat Gada Wesikuning dan keduanya sama-sama terlempar ke udara.

Tepat pada saat itu Prabu Kresna bersama kedua Pandawa dan para panakawan kebetulan lewat. Prabu Kresna segera melesat terbang ke udara untuk menyambar Gada Wesikuning dan Nagabanda. Kedua senjata pusaka itu kini menjadi satu tidak terpisahkan. Cambuk Nagabanda melilit pada Gada Wesikunimg seperti seekor ular melilit pada dahan pohon. Bentuk Gada Wesikuning menjadi lebih indah sekaligus juga menjadi lebih ampuh.

Prabu Kresna, Arya Wrekodara, dan Raden Arjuna gembira bertemu Arya Setyaki yang mereka cari-cari, tetapi sekaligus juga bingung karena sepupu mereka itu kini berubah menjadi dua. Batara Narada muncul dan menceritakan bahwa ada orang lain yang menyamar sebagai Arya Setyaki untuk merebut pusaka Nagabanda pemberian dewa. Batara Narada pun menjelaskan bahwa Arya Setyaki yang asli memegang Gada Wesikuning, sedangkan yang palsu memegang Nagabanda.

Arya Wrekodara menjawab, ciri-ciri seperti itu sudah tidak berlaku karena kedua pusaka terlempar ke udara dan sekarang sudah menjadi satu. Kini kedua Arya Setyaki sama-sama sudah tidak memegang senjata dan mereka masih bertarung dengan tangan kosong. Batara Narada menjadi ikut bingung dan tidak dapat membedakan mana di antara mereka yang asli ataupun palsu. Dalam hal ini ia merasa malu kepada Raden Arjuna karena peristiwa masa lalu terulang kembali saat menyerahkan Kuntadruwasa dan Wijayadanu kepada Adipati Karna.

ARYA SETYAKI MENDAPAT NAMA JULUKAN BIMAKUNTING

Prabu Kresna lalu melerai kedua Arya Setyaki yang bertarung sengit. Keduanya segera berhenti dan menyembah penuh hormat. Prabu Kresna pun berunding dengan Arya Wrekodara bagaimana caranya membongkar penyamaran Arya Setyaki yang palsu. Arya Wrekodara mendapat akal, yaitu dengan cara memukul mereka menggunakan Gada Rujakpolo. Barangsiapa yang begitu dipukul langsung berubah wujud, maka itu berarti ia adalah Arya Setyaki palsu.

Arya Setyaki yang berdiri di belakang langsung menjawab setuju, sedangkan yang di depan agak ragu-ragu. Arya Wrekodara mulai curiga namun harus mendapatkan bukti nyata. Ia pun mengangkat Gada Rujakpolo yang berukuran sangat besar kemudian memukulkannya kepada Arya Setyaki yang berdiri di depan. Arya Setyaki tersebut menjerit kesakitan lalu berubah wujud menjadi Raden Burisrawa. Dengan tubuh terluka ia pun melarikan diri kembali ke tempat Batari Durga untuk meminta perlindungan.

Batara Narada senang melihatnya. Ia pun meminta Prabu Kresna agar menyerahkan Gada Wesikuning dan Nagabanda kepada Arya Setyaki yang satu lagi. Arya Wrekodara tidak setuju karena kedua-duanya harus sama-sama dipukul demi membuktikan keasliannya. Batara Narada keberatan karena yang palsu sudah terbongkar, untuk apa yang asli harus menderita pula. Arya Wrekodara berkata bahwa Arya Setyaki yang tinggal satu ini pun harus membuktikan keasliannya, jangan-jangan ia juga samaran orang lain.

Arya Setyaki menjawab dirinya bersedia. Dengan penuh keyakinan ia meminta Arya Wrekodara untuk segera memukulkan Gada Rujakpolo kepadanya. Arya Wrekodara menuruti. Ia pun mengayunkan gada besar tersebut hingga tepat memukul kepala Arya Setyaki. Akan tetapi, sedikit pun Arya Setyaki tidak goyah dan tidak terluka. Ini berarti ia telah membuktikan bahwa dirinya memang benar-benar yang asli.

Sesuai kesepakatan, Prabu Kresna pun menyerahkan Gada Wesikuning yang sudah terlilit oleh Nagabanda kepada Arya Setyaki. Kini Gada Wesikuning juga boleh disebut dengan nama Gada Nagabanda. Arya Wrekodara mengucapkan selamat dan memberikan julukan baru kepada Arya Setyaki yang telah membuktikan dirinya kebal terhadap pukulan Gada Rujakpolo. Julukan baru tersebut adalah Sang Bimakunting, yang bermakna “Bima bertubuh kecil”. Maksudnya ialah, Arya Wrekodara merupakan "Bima Besar", sedangkan Arya Setyaki adalah "Bima Kecil".

Raden Arjuna dan para panakawan juga bergantian mengucapkan selamat. Batara Narada merasa tugasnya telah selesai. Ia pun terbang kembali ke kahyangan dan tidak perlu malu lagi karena salah menyerahkan pusaka kepada orang yang tidak berhak.

ARYA SETYAKI MENGALAHKAN PRABU GARBANATA

Sementara itu di Kerajaan Lesanpura, Prabu Garbanata telah memenjarakan Prabu Setyajit. Tiba-tiba anak dan istrinya datang menyusul. Anak perempuan tersebut sudah berusia remaja dan berwajah cantik, bernama Dewi Garbarini. Ia datang bersama ibunya, yaitu Dewi Danasari untuk memohon kepada sang ayah agar menyudahi perang dan mebebaskan Prabu Setyajit. Dendam dibalas dengan dendam hanya akan seperti lingkaran yang berputar-putar tiada habisnya. Demikianlah nasihat Resi Garbasumanda sebelum wafat dulu.

Prabu Garbanata termenung mendengar ucapan anak dan istrinya. Selama ini ia menyimpan dendam membara kepada Prabu Setyajit. Namun, begitu berhasil mengalahkan musuhnya itu, ternyata ia tidak merasa lega seperti yang ia bayangkan dulu. Apa yang diinginkan begitu dalam, ketika hal itu bisa diraih ternyata rasanya hanya begitu saja. Melihat Prabu Setyajit meringkuk di penjara, dalam hati Prabu Garbanata tumbuh perasaan iba. Apalagi kini ia sudah menyadari bahwa kakaknya, yaitu Prabu Garbaruci mati akibat ulahnya sendiri. Kakaknya itu berani menyerang kahyangan dan mati di tangan jago para dewa, sesungguhnya ini tidak perlu disesali.

Tiba-tiba di luar istana terdengar suara teriakan menantang. Prabu Garbanata pun keluar menghadapi. Ternyata Arya Setyaki telah datang. Ia mendengar cerita dari Prabu Kresna bahwa ayahnya kini menjadi tawanan Prabu Garbanata. Maka, ia pun bergegas pergi mendatangi Kerajaan Lesanpura untuk membebaskan Prabu Setyajit.

Prabu Garbanata merasa tertarik jika ia menyiksa Arya Setyaki di hadapan Prabu Setyajit. Maka, ia pun memerintahkan Patih Saradenta untuk menghadirkan raja Lesanpura tersebut agar menjadi saksi pertarungan antara dirinya degan Arya Setyaki. Tampak pula Prabu Kresna, Arya Wrekodara, dan Raden Arjuna datang untuk menyaksikan pertarungan ini.

Prabu Setyajit telah hadir dengan tangan terikat. Prabu Garbanata dan Arya Setyaki pun memulai pertarungan. Dengan senjata Gada Nagabanda, Arya Setyaki menyerang Prabu Garbanata. Keduanya pun bertarung sengit. Prabu Garbanata lama-lama menyukai ketangkasan lawannya dan tidak lagi memiliki rasa benci kepada Arya Setyaki. Hingga akhirnya, gada yang ada di tangannya pun hancur remuk dihantam Gada Nagabanda. Disusul kemudian pundak kanannya terkena pukulan gada. Prabu Garbanata jatuh terduduk di tanah menahan sakit.

ARYA SETYAKI MENIKAH DENGAN DEWI GARBARINI

Melihat ayahnya kalah, Dewi Garbarini berlari maju dan menghalangi di depan Arya Setyaki. Ia memohon agar Prabu Garbanata diampuni, dan biarlah ia saja yang dihukum mati menggantikan ayahnya itu. Melihat sorot mata Dewi Garbarini yang berserah diri membuat tangan Arya Setyaki gemetar. Entah mengapa Gada Nagabanda pun terlepas dari genggaman dan jatuh ke tanah.

Prabu Garbanata kembali teringat kepada nasihat-nasihat mendiang Resi Garbasumanda yang penuh cinta kasih dan hendaknya melupakan semua dendam. Kini ia mengaku kalah kepada Arya Setyaki dan melepaskan ikatan Prabu Setyajit. Prabu Garbanata pun menyerahkan dirinya, di mana ia siap dibunuh karena lancang berani menyerang Kerajaan Lesanpura.

Prabu Setyajit sendiri juga telah hilang kemarahannya begitu melihat kemenangan Arya Setyaki. Ia pun menawarkan bagaimana kalau permusuhan ini diubah menjadi persaudaraan. Ia menyaksikan putranya gemetar memandang Dewi Garbarini. Bagaimana jika mereka berdua dinikahkan saja. Dengan demikian, Kerajaan Lesanpura dan Kerajaan Garbaruci kini bisa menjadi keluarga, tidak perlu lagi melanjutkan permusuhan.

Prabu Garbanata terharu mendengar ucapan Prabu Setyajit yang memaafkan dirinya. Kedua raja itu kemudian berpelukan menjadi teman. Mereka lalu menanyai Arya Setyaki dan Dewi Garbarini apakah bersedia untuk dinikahkan. Arya Setyaki menjawab bersedia, sedangkan Dewi Garbarini tersipu malu. Kedua raja pun tertawa lepas, sedangkan Prabu Kresna dan kedua Pandawa segera mengucapkan selamat.

Demikianlah kisah permusuhan antara Prabu Setyajit dengan Prabu Garbanata telah berakhir dan berubah menjadi persaudaraan. Pada hari yang dianggap baik, dilaksanakanlah upacara pernikahan antara Arya Setyaki dan Dewi Garbarini. Kedua negara, yaitu Lesanpura dan Garbaruci dapat dikatakan sama-sama menang, tidak ada yang kalah. Adapun kemenangan dapat dilambangkan dengan angka sembilan, yang dalam bahasa Jawa disebut “sanga”. Oleh sebab itu, Arya Setyaki pun berjanji apabila kelak Dewi Garbarini melahirkan anak laki-laki, maka akan diberi nama Raden Sangasanga demi mengenang peristiwa ini.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Lakon Setyaki Kembar adalah ciptaan Ki Manteb Soedharsono yang mengisahkan Arya Setyaki mendapatkan Gada Wesikuning. Karena soal Gada Wesikuning sudah saya kisahkan di lakon Setyaki Lahir, maka di lakon ini saya ubah menjadi perebutan pusaka Nagabanda. Lakon ini juga saya gabungkan dengan kisah Setyaki Rabi. Adapun hubungan antara Prabu Garbanata dengan Prabu Jungkungmardeya dan Patih Jayasudarga dalam lakon Srikandi Maguru Manah adalah tambahan dari saya, untuk menciptakan jalinan antara lakon yang satu dengan lainnya.



Untuk kisah Prabu Setyajit muda mengalahkan Prabu Garbaruci dapat dibaca di sini

Untuk kisah Raden Setyaki memperoleh Gada Wesikuning dapat dibaca di sini

Untuk kisah Prabu Jungkungmardeya dan Patih Jayasudarga dapat dibaca di sini

Untuk kisah Batara Narada salah memberikan pusaka kepada Adipati Karna dapat dibaca di sini








Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ▼  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ▼  July (3)
      • Bambang Kandihawa
      • Setyaki Kembar
      • Nakula - Sadewa Rabi
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja