Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Setatama Gugur, Seta Lahir

 No comments   

Kisah ini menceritakan perkawinan Raden Setatama dengan Endang Kandini, serta Raden Durgandana dengan Dewi Sudaksina. Kisah dilanjutkan dengan kematian Raden Setatama dan Raden Bimakinca di tangan Prabu Gajaksasura dari Kerajaan Anggastina, lalu ditutup dengan kelahiran Raden Seta dan Raden Nirbita.

Kisah ini saya olah dari sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 26 Agustus 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Raden Setatama

RENCANA PERNIKAHAN RADEN DURGANDANA DENGAN DEWI SUDAKSINA

Prabu Wasupati di Kerajaan Wirata dihadap Raden Durgandana, Patih Wasita, Aryaprabu Kistawa, dan Resi Manungkara. Mereka sedang membicarakan rencana perkawinan antara Raden Durgandana dengan Dewi Sudaksina, yaitu putri Resi Parasara yang tercipta dari rimpang kunyit. Karena Dewi Sudaksina diasuh oleh Resi Indradewa dan Dewi Watari, maka pinangan terhadapnya pun dikirim ke Padepokan Bimarastana, bukan ke Gunung Saptaarga. Adapun Dewi Sudaksina saat ini baru berusia lima belas tahun, sedangkan Raden Durgandana sudah berusia tiga puluh enam tahun.

Tidak lama kemudian, datanglah Raden Bimakinca (putra Resi Parasara yang tercipta dari dayung) menghadap Prabu Wasupati untuk menyampaikan surat balasan dari Resi Indradewa. Dalam surat itu disebutkan bahwa lamaran Prabu Wasupati terhadap Dewi Sudaksina diterima, namun saat ini Raden Setatama (putra Resi Parasara yang tercipta dari ari-ari Raden Abyasa) telah hilang entah ke mana. Dewi Sudaksina bersedia menikah dengan Raden Durgandana asalkan saudaranya itu ditemukan terlebih dahulu.

Mendengar isi surat tersebut, Raden Durgandana mohon izin kepada sang ayah supaya diperbolehkan ikut mencari hilangnya Raden Setatama, karena secara tidak langsung ini merupakan syarat yang diajukan Dewi Sudaksina atas perkawinan mereka. Setelah mempertimbangkannya, Prabu Wasupati pun mengizinkan Raden Durgandana berangkat dengan didampingi Aryaprabu Kistawa.

Setelah dirasa cukup, Prabu Wasupati lalu membubarkan pertemuan dan masuk ke dalam kedaton, di mana sang permaisuri Dewi Swargandini telah menunggu di gapura.

PRABU GAJAKSASURA INGIN MENIKAHI ENDANG KANDINI

Tersebutlah seorang raja dari Kerajaan Anggastina di tanah seberang, bernama Prabu Gajaksasura yang memiliki adik perempuan bernama Dewi Hastipraba. Kedua orang ini mempunyai wujud aneh. Prabu Gajaksasura adalah raksasa berkepala gajah, sedangkan Dewi Hastipraba adalah raksasi bertelinga lebar seperti gajah. Adapun Dewi Hastipraba telah menikah dengan Patih Wistakasura, menteri utama Kerajaan Anggastina.

Pada suatu malam Prabu Gajaksasura bermimpi melihat seorang gadis cantik bernama Endang Kandini, putri Resi Kandihawa dari Padepokan Candiretna. Seketika ia pun jatuh cinta kepada gadis tersebut. Begitu terbangun dari tidurnya, ia segera berangkat mencari di mana Padepokan Candiretna berada untuk melamar Endang Kandini. Patih Wistakasura ikut menemani dengan membawa pasukan secukupnya, sedangkan Dewi Hastipraba tetap tinggal untuk menjaga istana.

Di tengah perjalanan, rombongan raksasa dari Anggastina itu berpapasan dengan rombongan Raden Durgandana dari Wirata. Terjadi kesalahpahaman di antara mereka yang berlanjut dengan pertempuran. Pihak Wirata yang dibantu Raden Bimakinca dan saudara-saudaranya, yaitu Raden Kincaka, Raden Rupakincaka, serta Raden Rajamala berhasil memukul mundur Prabu Gajaksasura beserta pasukannya.

RADEN DURGANDANA BERTEMU RADEN SETATAMA

Setelah menghalau para raksasa dari Kerajaan Anggastina, rombongan Raden Durgandana melanjutkan perjalanan mencari Raden Setatama. Tiba-tiba saja Raden Durgandana mendapatkan pikiran ingin naik ke Gunung Saptaarga untuk meminta petunjuk Resi Parasara.

Sementara itu, Resi Parasara di Gunung Saptaarga sedang mendidik putra sulungnya, yaitu Raden Abyasa. Tiba-tiba datang putra keduanya, yaitu Raden Setatama bersama seorang perempuan dan pendeta raksasa. Raden Setatama memperkenalkan perempuan itu adalah istrinya yang bernama Endang Kandini, sedangkan sang pendeta raksasa adalah mertuanya, bernama Resi Kandihawa dari Padepokan Candiretna. Resi Parasara heran melihat besannya berwujud raksasa, tetapi memiliki putri yang berparas cantik. Resi Kandihawa pun bercerita bahwa pada mulanya ia juga berwujud manusia, namun karena salah mempelajari ilmu akhirnya terkena balak dan berubah wujud menjadi raksasa. Untuk itu, ia ingin berguru kepada Resi Parasara supaya mendapatkan sarana pengruwatan dan bisa kembali menjadi manusia lagi.

Tidak lama kemudian datang pula Raden Durgandana beserta rombongan. Kini hubungan antara Raden Durgandana dengan Resi Parasara sudah terjalin baik. Jika dulu Raden Durgandana pernah memaki Resi Parasara karena berzinah dengan kakaknya (Dewi Durgandini), maka sekarang ia menjadi calon menantu Sang Resi, karena hendak menikahi Dewi Sudaksina.

Sungguh kebetulan, Raden Durgandana yang berniat ingin meminta petunjuk kepada Resi Parasara di Gunung Saptaarga tentang keberadaan Raden Setatama, justru bertemu dengan calon iparnya itu di sana. Raden Durgandana pun menceritakan dari awal sampai akhir tentang Dewi Sudaksina yang menerima pinangannya tetapi dengan syarat Raden Setatama harus ditemukan terlebih dulu.

Setelah semuanya jelas, Raden Durgandana pun mengajak Raden Setatama ikut ke Kerajaan Wirata. Raden Setatama bersedia, dan ia pun menitipkan Endang Kandini beserta Resi Kandihawa di Gunung Saptaarga. Resi Parasara melepas kepergian putra keduanya itu dengan perasaan tidak tenang, seolah akan terjadi hal buruk menimpa padanya.

PERNIKAHAN RADEN DURGANDANA DAN DEWI SUDAKSINA

Kini persyaratan yang diajukan Dewi Sudaksina telah terpenuhi. Pada hari yang ditentukan, diadakanlah pernikahan antara dirinya dengan Raden Durgandana yang diselenggarakan di istana Kerajaan Wirata. Banyak sekali tamu yang hadir dari berbagai kerajaan, antara lain Prabu Mandrakiswara dari Mandraka, Prabu Mandararya dari Gandaradesa, serta tentu saja Dewi Durgandini (kakak Raden Durgandana) bersama suaminya, yaitu Prabu Santanu dari Hastina.

KEMATIAN RADEN SETATAMA DAN RADEN BIMAKINCA

Beberapa bulan kemudian, Raden Setatama kembali ke Gunung Saptaarga untuk menemui istrinya. Raden Bimakinca ikut menemani, sedangkan Raden Kincaka, Raden Rupakincaka, dan Raden Rajamala tetap tinggal di istana Wirata bersama Dewi Sudaksina yang telah mengandung putra Raden Durgandana.

Dalam perjalanan tersebut, Raden Setatama dan Raden Bimakinca bertemu Prabu Gajaksasura dan Patih Wistakasura yang sedang mencari keberadaan Endang Kandini. Rupanya Prabu Gajaksasura dan Patih Wistakasura telah menemukan Padepokan Candiretna, namun mereka kecewa karena Endang Kandini dan Resi Kandihawa tidak berada di sana. Mereka pun mengobrak-abrik padepokan tersebut dan mendapatkan keterangan dari para cantrik bahwa Endang Kandini telah menikah dengan seorang pemuda bernama Raden Setatama, dan sekarang ikut bersama suaminya tersebut.

Prabu Gajaksasura dan Patih Wistakasura pun melanjutkan pencarian dan akhirnya bertemu dengan pemuda yang mengaku bernama Raden Setatama. Ia berterus terang meminta supaya Endang Kandini diserahkan kepadanya dan ia siap menukarnya dengan emas permata yang melimpah. Raden Setatama menolak dengan tegas. Ia bersedia menyerahkan istrinya jika Prabu Gajaksasura bisa melangkahi mayatnya terlebih dulu.

Maka, terjadilah pertarungan antara Prabu Gajaksasura melawan Raden Setatama, serta Patih Wistakasura melawan Raden Bimakinca. Kedua raksasa itu lebih berpengalaman daripada lawan mereka yang masih muda belia. Akhirnya, Raden Setatama dan Raden Bimakinca pun roboh di tangan mereka.

Setelah membunuh kedua bersaudara tersebut, Prabu Gajaksasura mengubah wujudnya menjadi Raden Setatama, sedangkan Patih Wistakasura mengubah wujudnya menjadi Raden Bimakinca. Keduanya lalu berangkat menuju Gunung Saptaarga untuk menculik Endang Kandini.

GANDARWARAJA SWALA MELAPOR KEPADA RESI PARASARA

Raden Abyasa dan para panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong kebetulan lewat di tempat itu dan menjumpai Raden Setatama serta Raden Bimakinca yang tergeletak bersimbah darah. Raden Abyasa sangat terkejut dan sedih melihat keadaan kedua adiknya tersebut. Raden Bimakinca telah tewas, sedangkan Raden Setatama masih dalam keadaan sekarat.

Dengan sisa-sisa tenaganya, Raden Setatama menceritakan apa yang ia alami dari awal sampai akhir. Raden Abyasa sendiri sebenarnya hendak pergi ke istana Wirata untuk memberi tahu Raden Setatama bahwa Endang Kandini telah mengandung. Mendengar itu, Raden Setatama merasa gembira bisa memiliki keturunan, meskipun ajalnya sudah dekat. Ia pun berwasiat jika anaknya lahir laki-laki, mohon untuk diberi nama Raden Nirbita.

Setelah berpesan demikian, Raden Setatama akhirnya meninggal dunia menyusul Raden Bimakinca. Raden Abyasa segera bersiul memanggil sahabat ayahnya, yaitu Gandarwaraja Swala (yang juga ayah kandung panakawan Petruk). Seketika Gandarwaraja Swala pun hadir di hadapannya. Raden Abyasa menceritakan dari awal sampai akhir tentang apa yang dialami kedua adiknya, dan ia meminta tolong Gandarwaraja Swala supaya pergi melapor kepada Resi Parasara, sebelum Raden Setatama palsu datang ke Gunung Saptaarga.

Gandarwaraja Swala segera melesat secepat kilat dan dalam sekejap sudah berada di Gunung Saptaarga. Ia melapor kepada Resi Parasara dan Resi Kandihawa tentang kematian Raden Setatama dan Raden Bimakinca. Mendengar suaminya tewas, Endang Kandini langsung jatuh pingsan. Resi Kandihawa sangat marah dan ia pun turun gunung untuk membereskan Prabu Gajaksasura dan Patih Wistakasura.

KEMATIAN PRABU GAJAKSASURA DAN PATIH WISTAKASURA

Ketika tiba di kaki Gunung Saptaarga, Resi Kandihawa berjumpa Raden Setatama dan Raden Bimakinca palsu yang hendak naik ke puncak. Ia pura-pura memanggil mereka lalu berdiri di tengah-tengah keduanya. Secepat kilat, Resi Kandihawa mencekik leher Raden Setatama palsu di tangan kanan dan Raden Bimakinca palsu di tangan kiri, lalu membenturkan kepala mereka hingga remuk. Keduanya pun tewas dan kembali ke wujud semula, yaitu Prabu Gajaksasura dan Patih Wistakasura.

Sementara itu, Dewi Hastipraba yang sedang terbang di angkasa kebetulan lewat dan ia sangat terkejut melihat kakak dan suaminya telah tewas dibunuh seorang pendeta raksasa. Ia pun menerjang Resi Kandihawa dengan sekuat tenaga. Resi Kandihawa yang tidak menyadari datangnya serangan mendadak tersebut akhirnya tewas pula di tangan sang raksasi.

GANDARWARAJA SWALA MERINGKUS DEWI HASTIPRABA

Pada saat itulah Resi Parasara dan Gandarwaraja Swala datang di tempat kejadian. Gandarwaraja Swala segera menyerang Dewi Hastiraba. Dengan mengerahkan mantra Sangkali, sang raja gandarwa berhasil melumpuhkan raksasi bertelinga lebar itu. Tidak lama kemudian datang pula Raden Abyasa beserta para panakawan yang membawa serta jasad Raden Setatama dan Raden Bimakinca.

Resi Parasara menanyai asal-usul Dewi Hastipraba mengapa memiliki telinga lebar, sedangkan Prabu Gajaksasura mengapa memiliki kepala gajah. Dewi Hastipraba pun bercerita bahwa ayahnya bernama Resi Anggasti, sedangkan ibunya seorang bidadari bernama Batari Tayati, putri Batara Tacodwara, atau cucu Batara Wrehaspati. Ketika Batari Tayati sedang mengandung, Resi Anggasti membunuh seekor gajah liar yang merusak ladang padepokan. Akibatnya, janin yang dikandung istrinya pun terkena balak, yaitu ketika lahir berwujud raksasa laki-laki dan perempuan, yang satu berkepala gajah, yang satunya bertelinga lebar.

Resi Parasara terkesan mendengar itu. Ia pun memerintahkan para panakawan untuk mengumumkan kepada warga desa, jika memiliki istri yang sedang mengandung hendaknya tidak membunuh binatang. Jika terpaksa harus membunuh, sebaiknya menyebut jabang bayi yang sedang dikandung istrinya.

Kini Dewi Hastipraba yang sudah kehilangan daya kekuatan memohon ampun kepada Resi Parasara dan menyerahkan hidup matinya. Resi Parasara pun mengampuninya dan membebaskan raksasi itu dari pengaruh mantra Sangkali. Dewi Hastipraba berterima kasih, lalu membawa jasad Prabu Gajaksasura dan Patih Wistakasura kembali ke Kerajaan Anggastina.

LAHIRNYA RADEN SETA DAN RADEN NIRBITA

Berita kematian Raden Setatama dan Raden Bimakinca telah terdengar sampai ke Kerajaan Wirata. Raden Durgandana dan Dewi Sudaksina pun pergi ke Gunung Saptaarga untuk menghadiri pemakaman Raden Setatama dan Raden Bimakinca. Saat itu Dewi Sudaksina sedang mengandung pula. Hatinya sangat sedih karena kehilangan dua saudara sekaligus. Ia pun meminta izin kepada suaminya untuk tetap tinggal di padepokan dan baru kembali ke istana Wirata setelah melahirkan kelak. Raden Durgandana mengabulkan permintaan istrinya tersebut.

Beberapa bulan kemudian, janda Raden Setatama yaitu Endang Kandini melahirkan seorang bayi laki-laki. Sesuai wasiat sang suami, bayi tersebut pun diberi nama Raden Nirbita. Sementara itu, Dewi Sudaksina juga melahirkan bayi laki-laki. Jika Endang Kandini mengandung selama sembilan bulan, maka Dewi Sudaksina hanya mengandung selama tujuh bulan. Untuk mengenang Raden Setatama, maka Dewi Sudaksina dan Raden Durgandana pun memberi nama putra mereka, Raden Seta.

Setelah tiga bulan tinggal di Gunung Saptaarga, Raden Durgandana dan Dewi Sudaksina kembali ke Wirata. Endang Kandini pun dibawa serta. Raden Durgandana berjanji akan membesarkan Raden Nirbita yang telah yatim sejak lahir itu bersama-sama dengan Raden Seta di istana Wirata.

Prabu Gajaksasura

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya










 
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Dewabrata Prasetya

 No comments   

Kisah ini menceritakan kemunculan Raden Dewabrata putra Prabu Santanu yang sejak bayi ikut Batari Ganggawati untuk mendapatkan pendidikan. Kisah dilanjutkan dengan sumpah Raden Dewabrata untuk hidup wahdat dan setia melayani raja Hastina di hadapan Dewi Durgandini, sehingga ia pun memperoleh nama Bisma.

Kisah ini saya olah berdasarkan sumber wiracarita Mahabharata karya Resi Wyasa dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 18 Agustus 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------
 

PRABU SANTANU DISERANG RADEN SALWARUKMA DARI SIWANDAPURA

Prabu Santanu di Kerajaan Hastina dihadap menteri utama Patih Basusara dan kepala pendeta Resi Jawalagni, beserta para punggawa lainnya. Mereka sedang membicarakan keadaan negara yang semakin hari semakin bertambah maju. Kerajaan Hastina kini menjadi negeri besar, bahkan menyamai Kerajaan Wirata yang dulu pernah menjadi atasannya. Jumlah penduduknya juga semakin banyak, dan wilayahnya pun semakin luas. Hal ini sesuai dengan ramalan Batari Ganggawati dulu sebelum berpisah dengan Prabu Santanu.

Prabu Santanu lalu teringat pada putranya, yaitu Raden Dewabrata, yang sejak bayi dibawa Batari Ganggawati ke kahyangan untuk dididik para dewa dan dipersiapkan menjadi pangeran mahkota Kerajaan Hastina. Tak terasa kini sudah lima belas tahun berlalu. Prabu Santanu berharap Raden Dewabrata telah menamatkan pendidikannya dan dapat berkumpul kembali dengannya.

Dalam pertemuan itu, Patih Basusara dan Resi Jawalagni mengusulkan agar Prabu Santanu menikah lagi, karena kurang baik jika seorang raja tidak memiliki permaisuri. Namun, Prabu Santanu tidak ingin memikirkan soal itu sebelum bisa berkumpul dengan Raden Dewabrata.

Tiba-tiba datanglah seorang pangeran yang mengaku bernama Raden Salwarukma, putra Prabu Bahlika dari Kerajaan Siwandapura. Kedatangannya adalah untuk meminta takhta Kerajaan Hastina dari tangan Prabu Santanu yang tidak lain adalah pamannya sendiri. Menurut Raden Salwarukma, ayahnya lebih tua daripada Prabu Santanu sehingga lebih berhak mewarisi Kerajaan Hastina. Apalagi Prabu Santanu bisa menjadi raja juga karena mengkhianati Prabu Pratipa (ayahnya) dan menyingkirkan Raden Dewapi (kakak sulungnya).

Prabu Santanu tersinggung atas sikap keponakannya itu. Ia pun mempersilakan Raden Salwarukma untuk menunggu di alun-alun jika ingin merebut takhta Kerajaan Hastina.

RADEN SALWARUKMA DIKALAHKAN RADEN DEWABRATA

Prabu Santanu dan Patih Basusara memimpin pasukan Hastina berangkat menghadapi tantangan Raden Salwarukma yang membawa sejumlah pasukan Siwandapura. Terjadilah pertempuran sengit di antara mereka. Dalam belasan tahun ini Kerajaan Siwandapura banyak menaklukkan negeri-negeri di tanah seberang, sehingga kekuatannya sekarang jauh lebih besar daripada dulu saat menyerang Kerajaan Wirata.

Raden Salwarukma yang masih muda juga memiliki kesaktian tinggi. Dalam pertempuran itu, ia berhasil menangkap Prabu Santanu beserta Patih Basusara. Padahal, ayahnya dulu pernah dikalahkan Prabu Santanu saat berperang melawan Kerajaan Wirata.

Pada saat itulah tiba-tiba muncul seorang pemuda lain yang dengan cekatan dapat membebaskan Prabu Santanu dan Patih Basusara, serta menyerang Raden Salwarukma dengan panah-panahnya. Raden Salwarukma kelabakan dan berusaha melawan, namun musuhnya kali ini jauh lebih tangguh. Ia akhirnya bertekuk lutut di hadapan pemuda yang baru datang itu.

Tidak lama kemudian muncul pula Batari Ganggawati yang memperkenalkan pemuda pahlawan tersebut sebagai Raden Dewabrata. Prabu Santanu sangat gembira sekaligus terharu menyaksikan putranya telah tumbuh remaja dan juga memiliki kesaktian tinggi, sehingga dapat membebaskan dirinya dari bahaya. Raden Dewabrata pun menyembah memberi hormat kepada Prabu Santanu, ayahnya yang selama lima belas tahun tak pernah ia jumpai.

Prabu Santanu lalu menyerahkan nasib Raden Salwarukma kepada Raden Dewabrata. Mengingat persaudaraan di antara Prabu Santanu dengan Prabu Bahlika, maka Raden Dewabrata pun membebaskan Raden Salwarukma yang terhitung sepupunya itu, dan mempersilakannya pulang ke Siwandapura. Raden Salwarukma merasa malu dan segera pergi tanpa pamit.

Batari Ganggawati lalu berkata kepada Prabu Santanu bahwa ia sudah memenuhi janjinya untuk memberikan pendidikan yang terbaik kepada Raden Dewabrata. Kini Raden Dewabrata telah menamatkan semua pelajaran ilmu kenegaraan dari Batara Wrehaspati, serta ilmu keprajuritan dari Batara Ramaparasu. Setelah dirasa cukup, Batari Ganggawati pun mohon pamit kembali ke kahyangan. Prabu Santanu meminta mantan istrinya itu tetap tinggal di Kerajaan Hastina dan membina rumah tangga seperti dulu lagi, namun Batari Ganggawati menolak. Ia harus kembali menjadi bidadari karena masa hukumannya di dunia telah berakhir. Ia juga menyarankan agar Prabu Santanu segera menikah lagi untuk mendapatkan permaisuri baru sebagai pendamping.

PRABU SANTANU MELANTIK RADEN DEWABRATA SEBAGAI PANGERAN MAHKOTA


Prabu Santanu menilai Raden Dewabrata telah matang secara usia dan pendidikan. Maka, pada hari yang dianggap baik, ia pun melantik putranya itu sebagai pangeran mahkota Kerajaan Hastina. Berita ini disambut dengan gembira oleh seluruh rakyat karena mereka merasa pengangkatan Raden Dewabrata sebagai calon raja adalah keputusan yang sangat tepat. Para penduduk yakin jika kelak Raden Dewabrata menjadi raja, maka Kerajaan Hastina akan lebih makmur dan semakin berwibawa.

Setelah upacara pelantikan putranya berakhir, Prabu Santanu mengajak Raden Dewabrata pergi berburu ke Hutan Mandalasara untuk bertamasya.  

PRABU SANTANU BERTEMU DEWI DURGANDINI

Dalam perburuan tersebut, Prabu Santanu terlalu asyik mengejar seekor kijang, sehingga tanpa terasa ia pun terpisah dari rombongan dan hanya ditemani pembantunya yang bernama Kyai Surarata. Mereka berdua naik kuda masing-masing, mengejar buruan tersebut hingga sampai di tepi Sungai Jamuna.

Di tepi sungai tersebut, Prabu Santanu terkesima melihat ada seorang tukang perahu cantik jelita, yang tidak lain adalah Dewi Durgandini. Seketika ia pun jatuh cinta dan berterus terang ingin memperistri tukang perahu tersebut. Dewi Durgandini menolak lamaran Prabu Santanu karena dirinya hanyalah seorang rakyat jelata yang tinggal di Desa Matsya, tentunya tidak pantas menjadi istri seorang raja besar dari Kerajaan Hastina. Apalagi ia juga seorang janda yang pernah melahirkan anak sekitar sepuluh tahun yang lalu.

Penolakan Dewi Durgandini ini membuat Prabu Santanu semakin penasaran. Prabu Santanu tidak peduli meskipun Dewi Durgandini sudah janda, karena ia sendiri juga seorang duda. Ia pun berjanji akan mengabulkan segala permintaan Dewi Durgandini apabila bersedia menjadi istrinya. Mendengar penawaran ini, Dewi Durgandini pun mengajukan syarat bahwa, ia bersedia menjadi istri Prabu Santanu asalkan kelak putranya yang ditetapkan sebagai raja di Kerajaan Hastina.

Prabu Santanu sangat terpukul mendengar syarat yang diajukan Dewi Durgandini itu. Ia pun pergi tanpa pamit meninggalkan Sungai Jamuna dengan perasaan sangat kecewa.

PRABU SANTANU JATUH SAKIT

Prabu Santanu dan Kyai Surarata bertemu Raden Dewabrata beserta Resi Jawalagni dan Patih Basusara yang sibuk mencari mereka. Tanpa banyak bicara, Prabu Santanu langsung mengajak rombongan tersebut kembali ke Kerajaan Hastina. Raden Dewabrata heran melihat perubahan sikap ayahnya yang kini menjadi murung selama perjalanan pulang.

Sesampainya di istana, Prabu Santanu lebih suka mengurung diri di dalam kamar. Perasaannya sedang bimbang. Di satu sisi ia seorang duda yang terlanjur jatuh cinta dan mengumbar janji kepada seorang wanita, dan di sisi lain ia tidak ingin menggantikan kedudukan Raden Dewabrata sebagai putra mahkota dengan orang lain. Karena terlalu keras berpikir, kesehatan Prabu Santanu menjadi buruk dan ia pun jatuh sakit.

Raden Dewabrata mencari tahu apa yang menyebabkan ayahnya sakit namun sang ayah hanya diam tak mau berterus terang. Ia lalu bertanya kepada Kyai Surarata perihal apa yang terjadi selama perburuan kemarin. Setelah didesak terus-menerus, Kyai Surarata akhirnya bercerita dari awal hingga akhir tentang pertemuan Prabu Santanu dengan Dewi Durgandini, perempuan tukang perahu di Sungai Jamuna.

RADEN DEWABRATA MELAMAR DEWI DURGANDINI UNTUK AYAHNYA

Setelah memahami duduk persoalannya, Raden Dewabrata pun berangkat ke Sungai Jamuna menemui Dewi Durgandini. Kepada wanita itu, ia memperkenalkan diri sebagai putra tunggal Prabu Santanu dan menyatakan ingin melamarnya sebagai istri sang ayah. Dewi Durgandini pun menyampaikan syarat bahwa ia bersedia menjadi istri Prabu Santanu asalkan keturunannya yang ditetapkan sebagai raja Hastina.

Tak disangka, Raden Dewabrata menerima syarat tersebut tanpa menawar dan ia rela melepaskan kedudukannya sebagai pangeran mahkota Kerajaan Hastina. Ia juga berjanji akan selalu setia seumur hidup melayani keturunan Dewi Durgandini yang menjadi raja Hastina, siapa pun orangnya.

Dewi Durgandini masih belum puas. Ia percaya Raden Dewabrata pasti akan menepati janjinya. Namun, bagaimana dengan keturunannya kelak? Dewi Durgandini khawatir keturunannya nanti akan diberontak oleh keturunan Raden Dewabrata.

Mendengar itu, Raden Dewabrata pun bersumpah akan menjalani hidup wahdat, yaitu tidak menikah seumur hidup. Dengan demikian, Dewi Durgandini tidak perlu khawatir terhadap keturunannya. Sumpah ini pun disambut dengan suara halilintar menggelegar memenuhi angkasa.

Pada saat itulah, Prabu Santanu datang bersama Kyai Surarata dan meminta Raden Dewabrata untuk membatalkan sumpahnya. Ia rela tidak jadi menikah dengan Dewi Durgandini daripada Raden Dewabrata yang harus melepaskan haknya serta menjalani hidup wahdat. Namun, Raden Dewabrata menolak membatalkan apa yang telah ia ucapkan. Ia menyatakan bahwa kebahagiaan sang ayah berada di atas segalanya.

Prabu Santanu sangat terharu atas ketulusan putranya tersebut. Ia pun memberikan nama baru untuk Raden Dewabrata, yaitu Raden Bisma yang berarti “mengerikan”. Itu karena sumpahnya tadi disambut oleh gelegar petir yang mengerikan.

RADEN BISMA MEMUKUL MUNDUR PRABU BAHLIKA

Pada hari yang ditentukan, dilaksanakanlah pernikahan antara Prabu Santanu dengan Dewi Durgandini. Pernikahan ini dihadiri pula oleh Prabu Wasupati dan Raden Durgandana dari Kerajaan Wirata, serta para raja lainnya, seperti Prabu Mandararya dari Kerajaan Gandaradesa, serta Prabu Mandrakiswara dari Kerajaan Mandraka.

Sembilan bulan kemudian, datang serangan dari Kerajaan Siwandapura yang dipimpin langsung oleh Prabu Bahlika dan Raden Salwarukma. Mendengar kabar itu, Raden Bisma Dewabrata segera berangkat memimpin pasukan Hastina untuk menghalau mereka.

Pertempuran sengit pun terjadi. Lagi-lagi Raden Bisma berhasil menunjukkan keunggulannya dalam melindungi Kerajaan Hastina. Dengan melepaskan panah angin, ia pun menghempaskan Prabu Bahlika dan Raden Salwarukma beserta seluruh pasukan Siwandapura sejauh-jauhnya meninggalkan Kerajaan Hastina.

Bersamaan dengan peristiwa kemenangan Raden Bisma tersebut, Dewi Durgandini melahirkan dua bayi laki-laki hasil perkawinannya dengan Prabu Santanu. Kedua putra itu pun diberi nama Raden Citranggada dan Raden Citrawirya.

Raden Dewabrata

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya










Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Abyasa Lahir

 No comments   

Kisah ini menceritakan pertemuan Resi Parasara dengan Dewi Durgandini, di mana dari pertemuan itu lahir Raden Abyasa yang kelak menurunkan Pandawa dan Kurawa. Kisah dilanjutkan pula dengan lahirnya keenam saudara Raden Abyasa, yaitu Raden Setatama, Dewi Sudaksina, Raden Bimakinca, Raden Kincaka, Raden Rupakincaka, dan Raden Rajamala.

Kisah ini saya olah berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang saya selaraskan dengan alur cerita Mahabharata karya Resi Wyasa, di mana Resi Parasara tetap menjadi pendeta, sedangkan Dewi Durgandini tetap menjadi tukang perahu setelah kelahiran Raden Abyasa.


Kediri, 12 Agustus 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Resi Parasara

BEGAWAN RUKMAWATI MUKSA

Resi Parasara di Gunung Saptaarga sedang bersamadi ketika ia tiba-tiba didatangi leluhurnya, yaitu Prabu Parikenan yang telah menjadi dewa bergelar Batara Brahma-am. Dalam pertemuan itu, Batara Brahma-am memerintahkan Resi Parasara untuk berguru kepada seorang bidadari petapa di Gunung Mahendra yang bernama Begawan Rukmawati. Batara Brahma-am menceritakan bahwa dirinya sejak kecil bersama sang adik, yaitu Dewi Srini, telah diasuh dan dibesarkan oleh Begawan Rukmawati tersebut bagaikan anak sendiri.

Setelah Batara Brahma-am kembali ke kahyangan, Resi Parasara pun berangkat menuju Gunung Mahendra dengan didampingi panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong. Sesampainya di sana mereka disambut oleh Begawan Rukmawati yang memiliki penglihatan tajam dan langsung mengetahui jati diri Resi Parasara.

Dahulu kala Begawan Rukmawati sering menjadi tumpuan pertanyaan jika para raja mendapatkan masalah. Seiring berkembangnya zaman, nama Begawan Rukmawati dan Gunung Mahendra semakin dilupakan orang. Tak disangka, tiba-tiba saja muncul Resi Parasara yang ingin berguru menimba ilmu kepadanya.

Begawan Rukmawati pun mengajarkan segala kepandaiannya kepada Resi Parasara sampai akhirnya sang murid dinyatakan lulus. Di lain pihak, Resi Parasara sedang terpesona melihat kecantikan gurunya yang seorang bidadari itu. Resi Parasara telah berusia empat puluh tahun, namun baru kali ini ia merasa tertarik kepada seorang wanita. Dengan penuh rasa malu, ia pun memberanikan diri mengutarakan perasaannya kepada Begawan Rukmawati.

Begawan Rukmawati tidak dapat menerima cinta Resi Parasara karena tiga hal. Pertama, karena Resi Parasara adalah muridnya. Kedua, karena Resi Parasara adalah keturunan Prabu Parikenan yang tidak lain adalah anak angkatnya sendiri. Ketiga, karena Begawan Rukmawati merasa sudah saatnya ia mencapai muksa, bersatu dengan semesta.

Resi Parasara merasa kecewa bercampur malu. Namun, Begawan Rukmawati menghibur, bahwa tidak lama lagi Resi Parasara akan berjodoh dengan seorang wanita yang mirip dengannya. Setelah berpesan demikian, Begawan Rukmawati pun dijemput kereta emas yang turun dari angkasa. Ia lalu menaiki kereta tersebut dan kemudian musnah dari pandangan Resi Parasara.

RESI PARASARA MEMBASMI SERANGAN HAMA

Tidak lama kemudian, Resi Parasara menerima kedatangan seorang pendeta bernama Resi Indradewa dari Padepokan Bimarastana. Resi Indradewa bercerita bahwa ladang dekat pertapaannya sering diserang hama. Ia sudah mengusahakan berbagai macam cara namun hama yang menyerang justru semakin bertambah banyak.

Atas petunjuk dewa, Resi Indradewa harus meminta bantuan kepada Resi Parasara yang saat ini berada di Gunung Mahendra. Menanggapi permintaan tersebut, Resi Parasara segera bersiul memanggil sahabatnya, yaitu Gandarwaraja Swala. Dalam sekejap mata, sang raja makhluk halus pun hadir di hadapannya.

Gandarwaraja Swala lalu menggendong Resi Parasara, Resi Indradewa, serta panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong terbang menuju Padepokan Bimarastana. Dalam waktu sekejap mereka pun tiba di sana. Resi Parasara langsung bersamadi mengheningkan cipta untuk menghalau hama yang menyerang ladang milik Resi Indradewa. Ada berbagai macam jenis hama yang menyerang. Mulai dari wereng, tikus, sampai babi hutan. Satu persatu mereka lumpuh dan berjatuhan di tanah terkena daya gaib mantra Resi Parasara.

Tiba-tiba muncul seorang pendeta yang mengaku bahwa dirinyalah yang mengirim kawanan hama tersebut. Pendeta itu bernama Resi Puruhita yang langsung menyerang Resi Parasara. Terjadilah pertarungan di antara mereka yang berakhir dengan kekalahan Resi Puruhita.

Resi Parasara lalu menanyakan apa alasan Resi Puruhita mengirim kawanan hama ke ladang milik Resi Indradewa. Resi Puruhita menjawab bahwa ladang tersebut dulunya bernama Setra Pitara, yaitu kuburan milik para leluhurnya. Mendengar itu, Resi Indradewa segera meminta maaf karena ia tidak tahu kalau tanah lapang yang telah diubahnya menjadi ladang tersebut adalah bekas kuburan leluhur Resi Puruhita.

Kini semua permasalahan telah jelas. Resi Parasara lalu mengheningkan cipta mendatangkan arwah para leluhur Resi Puruhita. Mereka pun hadir dan meminta Resi Puruhita untuk meredam amarahnya. Para leluhur itu menjelaskan bahwa tempat mereka kini adalah di alam baka, sedangkan jasad mereka yang sudah lama terpendam di tanah kini telah musnah terurai dan bersatu kembali dengan alam semesta. Asalnya tiada, kembali tiada. Untuk itu, Resi Puruhita diminta untuk tidak mempermasalahkan jika Resi Indradewa melanjutkan kegiatan berladang, karena tanah lapang Setra Pitara akan lebih bermanfaat bagi masyarakat jika digunakan sebagai lahan pertanian. Setelah berpesan demikian, arwah para leluhur itu pun musnah kembali ke alam baka.

Resi Puruhita merasa lega mendengarkan penjelasan dari para leluhurnya. Ia pun menyatakan rela jika Resi Indradewa melanjutkan kegiatan berladang di bekas kuburan tersebut dan berjanji tidak akan mengirimkan hama lagi. Ia juga berterima kasih kepada Resi Parasara yang telah menengahi permasalahan ini dengan bijaksana.

RESI PARASARA MENIKAH DENGAN DEWI WATARI

Setelah Resi Puruhita meninggalkan Setra Pitara, Resi Indradewa berterima kasih atas segala bantuan Resi Parasara. Sebagai ungkapan syukurnya, ia pun menyerahkan putrinya yang bernama Dewi Watari supaya menjadi istri Resi Parasara.

Resi Parasara sudah berusia empat puluh tahun tetapi belum berumah tangga, tentunya hal ini kurang baik menurut pandangan masyarakat. Karena terus-menerus dibujuk, Resi Parasara tidak dapat menolak lagi. Ia pun menerima perjodohan tersebut dan menikahi Dewi Watari di Padepokan Bimarastana.

Akan tetapi, Resi Parasara selalu terbayang-bayang wajah Begawan Rukmawati. Malam harinya, ia pun mengajak para panakawan pergi meninggalkan Padepokan Bimarastana secara diam-diam karena tidak mau berumah tangga dengan Dewi Watari tanpa dilandasi rasa cinta.

RESI PARASARA BERTAPA DI HUTAN PAREWANA

Sesampainya di Hutan Parewana, Resi Parasara bersamadi mengheningkan cipta. Ia bertekad tidak akan menikah jika tidak dengan perempuan yang berwajah mirip Begawan Rukmawati.

Berhari-hari lamanya Resi Parasara bertapa tanpa makan dan minum, hingga pada suatu ketika di atas kepalanya hinggap dua ekor burung pipit sejodoh. Kedua burung tersebut tidak hanya hinggap, tetapi juga bersarang di atas kepala Resi Parasara. Hari demi hari berlalu, si burung betina pun bertelur tiga butir hingga akhirnya menetas semua.

Akan tetapi, burung jantan dan burung betina itu tidak mau merawat dan memberi makan ketiga anak mereka. Resi Parasara terbangun dari samadinya dan berusaha memanggil si burung jantan dan betina agar kembali ke sarang mereka. Namun, sepasang induk burung tersebut justru terbang menjauh, membuat Resi Parasara semakin kesal dan bergegas mengejar sambil memegang sarang berisi ketiga anak mereka.

RESI PARASARA BERTEMU DEWI DURGANDINI

Sepasang induk burung pipit itu hinggap dari pohon satu ke pohon lainnya, seolah mereka ingin bermain kejar-kejaran dengan Resi Parasara. Tak terasa, pengejaran Resi Parasara terhalang oleh Sungai Jamuna, sedangkan sepasang induk burung tersebut telah berada di seberang sana.

Pada saat itulah Resi Parasara melihat seorang tukang perahu berwajah cantik namun berbau amis mendekati dirinya. Tukang perahu itu mengaku bernama Rara Amis yang menawarkan diri untuk menyeberangkan Sang Resi. Resi Parasara terkesima karena wajah tukang perahu ini sama persis dengan Begawan Rukmawati yang dicintainya. Tanpa banyak bertanya lagi, ia pun naik ke atas perahu dan meminta diseberangkan untuk mengejar sepasang induk burung tadi.

Tiba-tiba sepasang induk burung yang hinggap di pohon seberang sungai musnah entah ke mana, begitu pula ketiga anak burung yang ada di tangan Resi Parasara juga ikut lenyap. Sesampainya di seberang, Resi Parasara mengurungkan niatnya untuk turun dan meminta supaya diantarkan menyusuri Sungai Jamuna saja. Rara Amis menurut dan menjalankan perahu sesuai permintaan Sang Resi.

Resi Parasara sama sekali tidak jijik terhadap bau badan Rara Amis, tetapi justru merasa iba. Ia pun menawarkan diri untuk mengobati penyakit gadis itu. Rara Amis mengiakan dengan penuh pengharapan. Resi Parasara lalu mengusapkan rimpang kunyit ke sekujur tubuh Rara Amis sambil membaca mantra Muskala. Berangsur-angsur penyakit Rara Amis rontok dan berubah menjadi semacam lumpur yang kemudian dilemparkan ke dalam sungai oleh Resi Parasara.

Sementara itu, sepasang induk burung pipit dan ketiga anaknya yang telah musnah tadi berubah wujud menjadi Batara Guru, Batara Narada, serta Batari Warsiki, Batari Gagarmayang, dan Batari Tunjungbiru. Mereka berlima sengaja menjelma menjadi burung pipit sekeluarga untuk mempertemukan Resi Parasara dengan Dewi Durgandini (Rara Amis) karena mereka ditakdirkan berjodoh dan menurunkan seorang putra yang kelak menjadi pendeta agung di Tanah Jawa.

LAHIRNYA RADEN ABYASA

Rara Amis kini telah sembuh dari penyakitnya dan ia sangat berterima kasih kepada Resi Parasara. Di lain pihak, Resi Parasara tergetar hatinya saat mengusapkan kunyit ke sekujur tubuh Rara Amis. Ia pun berterus terang telah jatuh cinta kepada gadis itu. Sebaliknya, Rara Amis juga merasa jatuh hati kepada penolongnya tersebut. Meskipun Resi Parasara sudah berusia lebih dari empat puluh tahun, tetapi wajahnya sangat tampan dan juga awet muda karena tekun bertapa setiap waktu.

Pada saat itu perahu yang mereka tumpangi berlabuh di sebuah pulau kecil yang terletak di tengah Sungai Jamuna. Resi Parasara dan Rara Amis pun mendarat di pulau tersebut. Mereka sama-sama tak kuasa menahan nafsu birahi sehingga melakukan hubungan badan di sana. Sebelumnya, Resi Parasara sempat menciptakan semacam kabut tebal untuk menutupi apa yang mereka lakukan berdua.

Tiba-tiba ada petir menggelegar menyambar perahu milik Rara Amis yang ditambatkan di tepi pulau tadi hingga pecah menjadi dua. Resi Parasara dan Rara Amis terkejut dan merasa bersalah karena petir ini pasti teguran dari dewata atas perzinahan yang telah mereka lakukan. Rara Amis pun berterus terang bahwa dirinya memiliki nama asli Dewi Durgandini, putri Prabu Wasupati di Kerajaan Wirata. Resi Parasara menyesal karena terlalu menuruti hawa nafsu sehingga lupa bertanya tentang asal-usul Rara Amis. Seharusnya ia bertanya lebih dulu siapa orang tua gadis itu, sehingga bisa mengajukan lamaran secara resmi kepada Prabu Wasupati di Kerajaan Wirata, bukannya berzinah seperti ini. Sebaliknya, Dewi Durgandini juga merasa bersalah karena tidak berterus terang sejak awal kepada Resi Parasara tentang jati dirinya.

Kini, Dewi Durgandini telah mengandung anak Resi Parasara. Sembilan bulan setelah peristiwa itu, ia melahirkan seorang bayi berkulit hitam legam, namun memiliki ari-ari berwarna putih bersih. Resi Parasara teringat kepada Brahmana Wyasa yang dulu menyatu ke dalam dirinya dan berniat akan terlahir kembali sebagai anaknya. Maka, Resi Parasara pun memberi nama mirip Brahmana Wyasa untuk putranya yang baru lahir tersebut, yaitu Raden Abyasa. Sementara itu, Dewi Durgandini juga memberikan nama Raden Kresna Dwipayana, karena bayinya itu berkulit hitam dan dilahirkan di tengah pulau.

Ketika Resi Parasara hendak menanam ari-ari Raden Abyasa, tiba-tiba benda itu berubah menjadi seorang bayi berkulit putih bersih. Resi Parasara pun mengakuinya sebagai anak nomor dua dan memberinya nama Raden Setatama.

RESI PARASARA MENDAPATKAN TUJUH ANAK

Tidak lama kemudian datanglah Resi Indradewa dan Endang Watari sambil menggendong lima bayi. Resi Indradewa menggendong tiga bayi laki-laki, sedangkan Dewi Watari menggendong satu bayi perempuan dan satu bayi laki-laki. Resi Parasara dan Dewi Durgandini pun menyambut kedatangan mereka dengan senang hati sekaligus heran melihat kelima bayi yang mereka bawa itu.

Resi Indradewa pun bercerita bahwa pada suatu hari Batara Narada datang ke Padepokan Bimarastana membawa lima macam benda, yaitu rimpang kunyit, dayung, dan perahu yang telah pecah menjadi dua, serta segumpal lumpur. Batara Narada lalu mengubah kelima benda tersebut menjadi bayi supaya diasuh Dewi Watari sebagai anak-anak Resi Parasara.

Yang pertama kali diubah menjadi bayi perempuan adalah rimpang kunyit, yaitu benda yang dipakai Resi Parasara untuk mengobati Dewi Durgandini. Batara Narada pun memberinya nama Dewi Sudaksina.

Benda kedua yang diubah menjadi bayi adalah dayung milik Dewi Durgandini. Batara Narada memberinya nama Raden Bimakinca.

Selanjutnya, yang diubah adalah perahu yang terbelah menjadi dua, yaitu perahu milik Dewi Durgandini yang tersambar petir saat ditambatkan di tepi pulau tengah sungai. Kedua belahan perahu tersebut berubah menjadi sepasang bayi kembar, yang diberi nama Raden Kincaka dan Raden Rupakinca.

Yang terakhir diubah menjadi bayi adalah gumpalan lumpur penjelmaan penyakit Dewi Durgandini. Bayi yang terakhir ini memiliki taring seperti raksasa, diberi nama Raden Rajamala.

Batara Narada lalu menyerahkan kelima bayi tersebut kepada Resi Indradewa dan Dewi Watari dan menjelaskan di mana Resi Parasara saat ini berada. Setelah dirasa cukup, ia pun undur diri kembali ke kahyangan.

Demikianlah, Resi Indradewa menceritakan asal-usul kelima bayi tersebut kepada Resi Parasara dan Dewi Durgandini. Resi Parasara terkesan mendengarnya dan menerima mereka semua sebagai anak. Jika ditambah dengan Raden Abyasa dan Raden Setatama, maka jumlah anak Resi Parasara sekarang menjadi tujuh orang.

DEWI DURGANDINI DIJEMPUT RADEN DURGANDANA

Tidak lama kemudian datang pula Raden Durgandana dan Kyai Dasa di pulau tersebut dan mereka sangat gembira melihat Dewi Durgandini telah sembuh dari penyakitnya. Raden Durgandana berkata bahwa  ayah mereka, yaitu Prabu Wasupati beberapa hari yang lalu mendapatkan petunjuk dewata bahwa Dewi Durgandini telah sembuh dari penyakitnya. Prabu Wasupati pun mengutus Raden Durgandana untuk menjemput Dewi Durgandini pulang ke Kerajaan Wirata. Akan tetapi, sungguh mengejutkan karena Dewi Durgandini mengaku telah memiliki anak dari hasil perzinahan dengan Resi Parasara.

Raden Durgandana marah menuduh Resi Parasara sebagai pendeta berbudi rendah yang telah merusak kesucian kakaknya. Ia pun menyerang Resi Parasara untuk melampiaskan kekesalan. Resi Parasara terpaksa menghadapi serangan Raden Durgandana untuk membela diri. Setelah bertarung agak lama, Resi Parasara akhirnya berhasil meringkus Raden Durgandana.

Meskipun telah kalah, Raden Durgandana tetap memaki Resi Parasara sebagai pendeta tak berbudi meskipun memiliki ilmu setinggi langit. Mendengar itu, Resi Parasara tidak melawan lagi karena ia menyadari kesalahannya yang terlalu menuruti hawa nafsu. Ia pun melepaskan Raden Durgandana dan meminta maaf kepada pengeran dari Wirata tersebut.

Resi Parasara lalu mengheningkan cipta mengerahkan kesaktiannya sehingga membuat Dewi Durgandini kembali menjadi perawan seperti sedia kala. Setelah itu, ia lalu mengajak Resi Indradewa dan Dewi Watari kembali ke Padepokan Bimarastana sambil membawa ketujuh bayinya.

DEWI DURGANDINI MELANJUTKAN TAPA NGRAME

Sepeninggal mereka, Raden Durgandana mengajak Dewi Durgandini pulang ke Kerajaan Wirata. Akan tetapi, Dewi Durgandini menyatakan tidak bersedia pulang karena ia merasa telah berdosa besar menuruti hawa nafsu dan mencemarkan nama baik Prabu Wasupati. Untuk itu, ia mengaku ingin melanjutkan tapa ngrame menjadi tukang perahu di Sungai Jamuna sebagai penebus dosa.

Raden Durgandana berusaha membujuk kakaknya untuk ikut pulang ke Wirata, namun tidak berhasil. Ia lalu meminta Kyai Dasa membuatkan sebuah perahu baru yang kemudian diberikannya kepada Dewi Durgandini sebagai sarana melakukan tapa ngrame. Setelah dirasa cukup, Raden Durgandana mohon pamit dan menitipkan Dewi Durgandini kepada Kyai Dasa seperti waktu-waktu sebelumnya.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya












Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Durgandini - Durgandana Lahir
    Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Prabu Brahmasatapa
    Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Raden Tritrusta putra Prabu Brahmanaraja yang bisa membangun kembali Kerajaan Gilingwesi, dengan ber...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Wisanggeni Rabi
    Kisah ini menceritakan tentang perkawinan Bambang Wisanggeni putra Raden Arjuna dengan Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarma. Dalam upa...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ▼  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ▼  August (3)
      • Setatama Gugur, Seta Lahir
      • Dewabrata Prasetya
      • Abyasa Lahir
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja