Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Drupada Rangket

 No comments   

Kisah ini menceritakan para Pandawa dan Kurawa mendapat tugas dari Resi Druna untuk menangkap Prabu Drupada dan Arya Gandamana. Tugas ini berhasil dipenuhi oleh para Pandawa, sehingga Resi Druna dapat berkuasa atas setengah wilayah Kerajaan Pancala. Kisah dilanjutkan dengan kelahiran Dewi Drupadi, Dewi Srikandi, dan Raden Drestajumena.

Kisah ini saya olah dari sumber kitab Mahabharata karya Resi Wyasa yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 13 Agustus 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Resi Druna membalas penghinaan Prabu Drupada

RESI DRUNA MEMINTA PARA PANDAWA DAN KURAWA MENANGKAP PRABU DRUPADA

Adipati Dretarastra di Kerajaan Hastina memimpin pertemuan yang dihadiri oleh Resiwara Bisma, Dewi Gandari, Raden Yamawidura, Patih Sangkuni, dan Resi Krepa. Hadir pula Danghyang Druna yang telah resmi diangkat sebagai kepala pujangga istana, bergelar Resi Druna. Hari itu mereka membahas tentang hasil pertandingan antara para Pandawa dan Kurawa di Tegal Kurusetra kemarin, di mana Raden Permadi (Arjuna) dinyatakan sebagai pemenang. Resiwara Bisma mengusulkan agar Adipati Dretarastra melantik Raden Permadi sebagai pangeran mahkota, sesuai dengan apa yang telah disepakati di awal.

Patih Sangkuni menyatakan tidak setuju. Dalam pertandingan terakhir, Raden Suyudana belum menyerah kalah, juga belum terlempar keluar dari panggung, tetapi Resi Druna sudah buru-buru mengumumkan Raden Permadi sebagai murid terbaiknya. Untunglah waktu itu tiba-tiba muncul Raden Suryaputra (Radeya) yang membebaskan Raden Suyudana dan mewakilinya melawan Raden Permadi. Namun, ketika belum jelas siapa yang menang dan siapa yang kalah, hari sudah terlanjur senja sehingga pertandingan harus dihentikan. Patih Sangkuni pun mengusulkan agar diadakan pertandingan ulang antara Raden Permadi dan Raden Suyudana, untuk menentukan siapa yang pantas menjadi putra mahkota.

Resi Druna menyela. Ia setuju diadakan ujian ulang antara para Pandawa dan Kurawa. Akan tetapi, ujian tersebut bukan pertandingan satu lawan satu di atas panggung seperti kemarin, melainkan dalam bentuk perlombaan menangkap musuh. Resi Druna memiliki musuh bernama Prabu Drupada dan Arya Gandamana di Kerajaan Pancala. Barangsiapa bisa menangkap mereka berdua, maka dia yang pantas diangkat sebagai pangeran mahkota Kerajaan Hastina.

Resiwara Bisma dan Raden Yamawidura tidak setuju karena itu berarti akan terjadi perang antara Kerajaan Hastina dan Pancala. Padahal, kedua negara telah bersahabat lama sejak zaman Prabu Santanu dan Prabu Gandabayu. Jika para Pandawa dan Kurawa menyerang Pancala, maka itu akan merusak hubungan baik antara kedua pihak.

Patih Sangkuni yang memiliki dendam pribadi dengan Arya Gandamana segera mendukung Resi Druna. Ia meminta agar Adipati Dretarastra menyetujui peperangan tersebut. Bagaimanapun juga para Pandawa dan Kurawa telah belajar ilmu perang selama lima tahun. Untuk apa hasil belajar mereka jika tidak digunakan untuk berperang? Ujian kemarin berupa pertandingan antarsaudara, sehingga ada beberapa orang yang sengaja mengalah kepada lawan karena merasa segan. Namun, ujian kali ini adalah ujian yang sesungguhnya. Dengan demikian, akan terlihat siapa yang benar-benar telah menyerap ilmu yang diajarkan Resi Druna.

Raden Yamawidura mengakui bahwa ilmu perang memang digunakan untuk berperang melawan musuh, tetapi bukan untuk memerangi negara sahabat seperti Pancala. Patih Sangkuni menjawab keberatan jika Kerajaan Pancala masih dianggap sebagai sahabat. Dalam acara pertandingan di Tegal Kurusetra kemarin, pihak Hastina telah mengundang semua negara sahabat. Prabu Matsyapati dari Wirata hadir, Prabu Salya dari Mandraka hadir, Aryaprabu Anggajaksa dan Aryaprabu Sarabasanta dari Gandaradesa hadir, begitu pula Prabu Jarasanda dari Magada juga hadir. Prabu Basudewa dari Mandura memang tidak hadir, tetapi diwakili putranya yang bernama Adipati Kangsa. Hari itu semua negara sahabat hadir memenuhi undangan Adipati Dretarastra, kecuali Prabu Drupada dan Arya Gandamana yang sama sekali tidak kelihatan, juga tidak menyampaikan permohonan maaf. Itu artinya, mereka benar-benar ingin memutuskan hubungan persahabatan antara Pancala dan Hastina.

Raden Yamawidura bertanya apakah Patih Sangkuni selaku panitia acara benar-benar mengundang Prabu Drupada atau tidak. Patih Sangkuni menjawab bahwa dirinya benar-benar mengundang Prabu Drupada, tetapi surat undangannya justru dirobek-robek oleh Arya Gandamana. Ia bersumpah apabila ceritanya ini bohong, biarlah kelak dirinya mati mengenaskan. Dewi Gandari ikut bicara mendukung adiknya. Jika benar Arya Gandamana telah merobek-robek surat undangan tersebut, itu berarti sama dengan menghina wibawa Kerajaan Hastina.

Adipati Dretarastra telah termakan bujukan Patih Sangkuni dan Dewi Gandari. Ia pun memutuskan bahwa para Kurawa dan Pandawa boleh menyerang Kerajaan Pancala untuk menangkap Prabu Drupada dan Arya Gandamana. Karena raja telah memutuskan demikian, Resiwara Bisma dan Raden Yamawidura tidak bisa menentang lagi. Mereka hanya bisa terdiam melihat Adipati Dretarastra kini semakin jatuh ke dalam pengaruh orang-orang Gandaradesa.

Adipati Dretarastra lalu memanggil para Pandawa dan Kurawa untuk menghadap. Para Pandawa diwakili Raden Puntadewa, Raden Bratasena, dan Raden Permadi, sedangkan para Kurawa diwakili Raden Suyudana, Raden Dursasana, dan Raden Kartawarma. Mereka diperintahkan berangkat ke Kerajaan Pancala untuk menangkap Prabu Drupada dan Arya Gandamana, serta menyerahkan keduanya kepada Resi Druna. Barangsiapa yang berhasil melakukan tugas ini akan dilantik sebagai pangeran mahkota Kerajaan Hastina.

Raden Permadi memohon izin bicara. Ia berkata bahwa Pandawa Lima adalah satu kesatuan yang tidak ada persaingan di antara saudara dalam urusan takhta. Jika nanti Prabu Drupada dan Arya Gandamana tertangkap oleh para Pandawa, maka yang harus dilantik sebagai pangeran mahkota adalah Raden Puntadewa.

Raden Suyudana menanggapi bahwa yang memenangkan ujian ini nanti adalah para Kurawa, bukan para Pandawa. Apalagi para Kurawa kini telah memiliki seorang saudara angkat bernama Raden Suryaputra yang merupakan pemanah paling hebat di dunia. Sudah pasti ia sanggup membantu menangkap Prabu Drupada dan Arya Gandamana.

Resi Druna menjelaskan bahwa ujian kali ini hanya berlaku untuk murid-muridnya saja. Jika para Kurawa berhasil menangkap Prabu Drupada dan Arya Gandamana dengan bantuan Raden Suryaputra, maka kemenangan mereka dianggap gagal. Raden Suyudana marah dan tidak mau berangkat jika saudara angkatnya tidak diizinkan ikut. Namun, Patih Sangkuni berusaha menyabarkannya. Ia berhasil meyakinkan Raden Suyudana untuk berperang dengan kemampuan sendiri dan membuat Adipati Dretarastra bangga. Raden Suyudana yang selalu menuruti Patih Sangkuni segera terdiam dan menyetujui ucapan sang paman.

Demikianlah, karena para Pandawa dan Kurawa telah menerima tugas tersebut, Adipati Dretarastra pun menunjuk Resi Druna sebagai pemimpin mereka, sekaligus untuk memastikan keselamatan para pangeran tersebut. Resi Druna menerima tugas ini dengan senang hati. Setelah dirasa cukup, Adipati Dretarastra pun membubarkan pertemuan.

PATIH SANGKUNI BERSAHABAT DENGAN RESI DRUNA

Di luar istana, Resi Druna berterima kasih kepada Patih Sangkuni yang telah banyak membantunya dalam membujuk Adipati Dretarastra, sehingga mengizinkan para pangeran menyerang Kerajaan Pancala. Patih Sangkuni menjelaskan bahwa dirinya juga menyimpan dendam kepada Arya Gandamana. Karena mereka memiliki musuh yang sama, Patih Sangkuni pun mengajak Resi Druna untuk menjalin persahabatan. Mulai hari ini ia akan memanggil Resi Druna dengan sebutan “kakang”, supaya lebih akrab.

Patih Sangkuni mengajak Resi Druna untuk membantu melancarkan jalan bagi Raden Suyudana agar berhasil menjadi pangeran mahkota. Jika hal itu bisa terjadi, maka Resi Druna pasti akan hidup lebih sejahtera dan bergelimang kekayaan. Resi Druna menjawab bahwa cita-citanya hanya satu, yaitu membalas dendam kepada Prabu Drupada dan Arya Gandamana. Soal nanti menjadi orang kaya atau tidak, bukan masalah baginya. Lagipula ia sangat segan terhadap Resiwara Bisma yang lebih mendukung para Pandawa.

Patih Sangkuni mempersilakan Resi Druna jika ingin hidup biasa-biasa saja, tapi bagaimana dengan putranya yang bernama Bambang Aswatama? Patih Sangkuni pun bercerita, bahwa Raden Suyudana berteman baik dengan Bambang Aswatama sejak masih belajar di Padepokan Sokalima. Pernah suatu hari Bambang Aswatama berkata bahwa dirinya ingin bekerja sebagai pejabat istana dan hidup lebih sejahtera. Oleh sebab itu, Patih Sangkuni baru saja mengangkat Bambang Aswatama sebagai juru tulis di tempat tinggalnya, yaitu Kepatihan Plasajenar, dan ini pun telah mendapat persetujuan Adipati Dretarastra.

Resi Druna sangat senang karena Patih Sangkuni telah memberikan jalan kemuliaan bagi putranya. Ia berterima kasih dan bersedia menjalin persahabatan dengan sang patih. Keduanya lalu bersalaman, kemudian Resi Druna mohon pamit untuk mempersiapkan segala keperluan sebelum berangkat menyerang Kerajaan Pancala.

Setelah Resi Druna pergi, Raden Suyudana datang mendekati Patih Sangkuni. Ia bertanya mengapa tadi di dalam istana, sang paman ikut mendukung Resi Druna yang melarang Raden Suryaputra untuk pergi berperang di pihak Kurawa. Patih Sangkuni menjawab bahwa dirinya harus bisa mengambil simpati Resi Druna. Apabila Raden Suyudana bersikeras mengajak sahabatnya itu, maka Resi Druna pasti merasa tidak senang. Untuk itu, Patih Sangkuni pun berusaha mendukungnya, dengan maksud agar Resi Druna menjadi sekutu para Kurawa. Untuk bisa menjadi raja Hastina, Raden Suyudana harus bisa bersekutu dengan Resi Druna, dan tidak cukup hanya mengandalkan Raden Suryaputra saja.

Raden Suyudana dapat memahami siasat Patih Sangkuni. Ia berterima kasih telah diingatkan dan mohon pamit berangkat menuju Kerajaan Pancala. Patih Sangkuni merestui semoga pihak Kurawa mendapat kemenangan.

PRABU DRUPADA DAN ARYA GANDAMANA MENANGKAP PARA KURAWA

Prabu Drupada dan Arya Gandamana di Kerajaan Pancala telah menerima surat tantangan dari Resi Druna. Mereka pun berangkat menuju perbatasan dengan dikawal Patih Drestaketu dan pasukan Pancala untuk menghadang serangan tersebut.

Sementara itu, Resi Druna dan murid-muridnya telah bersiaga di perbatasan Kerajaan Hastina dan Pancala. Resi Druna yang telah bersahabat dengan Patih Sangkuni kini mencari cara agar Raden Suyudana bisa memenangkan perlombaan. Ia pun membagi pertempuran menjadi dua babak. Para Kurawa diperintahkan untuk maju lebih dulu menangkap Prabu Drupada dan Arya Gandamana. Jika para Kurawa gagal, barulah para Pandawa maju di babak kedua.

Raden Bratasena tidak setuju karena pertempuran dua babak sama artinya dengan menempatkan para Pandawa sebagai pemain cadangan saja. Jika para Kurawa berhasil mengalahkan musuh dalam babak pertama, maka hilang sudah kesempatan para Pandawa untuk berlaga. Akan tetapi, Raden Puntadewa dengan penuh percaya diri mempersilakan para Kurawa maju lebih dulu. Karena sang kakak sulung sudah memutuskan demikian, Raden Bratasena dan yang lainnya pun mematuhi tanpa membantah lagi.

Demikianlah, Raden Suyudana dan adik-adiknya mendapat kesempatan pertama untuk menggempur barisan Pancala yang sudah bersiaga. Pertempuran pun meletus di antara mereka. Banyak prajurit Pancala yang tewas menjadi korban amukan para Kurawa. Namun, tidak sedikit pula para Kurawa yang tertangkap oleh Arya Gandamana. Prabu Drupada sendiri telah memerintahkan jangan sampai ada pangeran Hastina yang terbunuh, cukup ditangkap hidup-hidup saja.

Raden Suyudana melihat satu persatu adiknya telah tertangkap oleh Arya Gandamana yang perkasa. Ia sendiri bertarung melawan Prabu Drupada. Meskipun tubuhnya lebih gagah, tetapi Raden Suyudana masih kalah pengalaman jika dibandingkan dengan sang raja Pancala. Apalagi pikirannya sedang terpecah karena cemas melihat adik-adiknya tertangkap. Akhirnya ia pun lengah dan terkena pukulan Prabu Drupada. Patih Drestaketu segera maju dan mengikat tubuh Raden Suyudana.

PARA PANDAWA MENEMUI PRABU DRUPADA DAN ARYA GANDAMANA

Resi Druna kecewa melihat para Kurawa telah gagal. Ia lalu memerintahkan para Pandawa untuk maju menghadapi pihak Pancala. Para Pandawa pun mohon restu kemudian berangkat menjalankan tugas.

Raden Puntadewa dan adik-adiknya berjalan kaki menemui Prabu Drupada dan Arya Gandamana. Mereka berlima menyembah hormat dan memanggil “paman” kepada kedua orang itu. Prabu Drupada dan Arya Gandamana yang sangat menghormati mendiang Prabu Pandu tak kuasa menahan haru. Mereka pun memeluk para Pandawa satu persatu bagaikan anak sendiri.

Raden Puntadewa menjelaskan bahwa kedatangan mereka kali ini sungguh serbasalah. Di satu sisi para Pandawa sangat menghormati Prabu Pandu dan Arya Gandamana yang merupakan sahabat baik ayah mereka, namun di sisi lain mereka tidak mampu menolak perintah guru. Raden Puntadewa tidak tahu harus berbuat bagaimana, apakah tetap maju menghadapi orang tua sendiri, ataukah mundur tanpa melakukan perlawanan.

Prabu Drupada menasihati para Pandawa bahwa guru adalah orang tua kedua. Perintah guru sama nilainya dengan perintah orang tua. Prabu Drupada dan Arya Gandamana pun menyatakan siap jika harus berperang melawan para Pandawa. Dalam pertempuran nanti tidak ada paman, tidak ada keponakan, yang ada hanyalah mana lawan, mana kawan. Para Pandawa harus menjalankan darma sebagai murid yang berbakti, dan itu pasti akan membuat ayah mereka bangga di alam baka.

PRABU DRUPADA MENYERAH KALAH TERHADAP PARA PANDAWA

Para Pandawa menerima nasihat Prabu Drupada dan Arya Gandamana. Raden Puntadewa lalu berkata bahwa pertempuran ini terjadi karena dendam Resi Druna terhadap Prabu Drupada dan Arya Gandamana. Untuk menghindari jatuh korban lebih banyak, sebaiknya Patih Drestaketu dan para prajurit Pancala tidak perlu melibatkan diri. Cukup Prabu Drupada dan Arya Gandamana saja yang bertanding melawan dua dari lima Pandawa. Prabu Drupada setuju dan memuji kebijaksanaan Raden Puntadewa. Ia pun memerintahkan Patih Drestaketu dan para prajurit untuk menonton di belakang saja.

Raden Bratasena dan Raden Permadi meminta izin kepada Raden Puntadewa untuk maju lebih dulu menghadapi Prabu Drupada dan Arya Gandamana. Jika mereka nanti kalah, barulah sang kakak sulung yang maju untuk bertanding. Raden Puntadewa berkata bahwa Pandawa Lima adalah satu kesatuan. Jika Raden Bratasena dan Raden Permadi kalah, maka dirinya akan ikut mengaku kalah pula.

Setelah mendapat restu dari sang kakak, Raden Bratasena dan Raden Permadi pun maju ke depan. Prabu Drupada menasihati kedua keponakannya itu agar bertanding dengan sungguh-sungguh, jangan ada rasa segan sama sekali, karena ia dan Arya Gandamana pun tidak akan bersikap segan pada mereka. Untuk sementara lupakan hubungan persaudaraan, dan anggaplah ini pertarungan antara musuh bebuyutan.

Pertandingan pun dimulai. Raden Bratasena menghadapi Arya Gandamana, sedangkan Raden Permadi menghadapi Prabu Drupada. Kedua pertarungan itu berlangsung seru dan menegangkan. Setelah matahari condong ke arah barat barulah Prabu Drupada dapat dipukul jatuh oleh Raden Permadi. Ia pun menyatakan kalah dan bersedia dihadapkan kepada Resi Druna.

Sementara itu, Arya Gandamana dan Raden Bratasena masih bertarung imbang, tidak ada yang menang ataupun kalah. Karena melihat Prabu Drupada telah mengaku kalah, Arya Gandamana pun menghentikan pertandingan dan ikut mengaku kalah.

Prabu Drupada memerintahkan Patih Drestaketu untuk membebaskan para Kurawa. Ia lalu menyerahkan diri kepada Raden Puntadewa agar diikat sebagai bukti kemenangan para Pandawa. Raden Puntadewa menolak, namun Prabu Drupada terus memaksa. Mau tidak mau, Raden Puntadewa pun mengikat tangan Prabu Drupada dan juga tangan Arya Gandamana menggunakan selendang.

RESI DRUNA MENGAMBIL SETENGAH WILAYAH KERAJAAN PANCALA

Resi Druna sangat gembira melihat para Pandawa berhasil membawa Prabu Drupada dan Arya Gandamana dalam keadaan terikat. Di belakang mereka tampak para Kurawa berjalan dengan wajah tertunduk malu. Resi Druna lalu memerintahkan para Pandawa agar Prabu Drupada dan Arya Gandamana digiring ke istana Pancala.

Sesampainya di istana Pancala, Resi Druna segera duduk di atas takhta dengan sikap angkuh. Ia memerintahkan agar ikatan Prabu Drupada dan Arya Gandamana dibuka. Arya Gandamana ingin maju menghajar Resi Druna, tapi dicegah Prabu Drupada. Bagaimanapun juga mereka telah mengaku kalah sehingga tidak pantas jika menjilat ludah sendiri.

Resi Druna bercerita kepada murid-muridnya bahwa sejak kecil dirinya dan Prabu Drupada diasuh dan dididik oleh Resi Baradwaja di negeri Atasangin. Saat itu Resi Druna masih bernama Bambang Kumbayana, sedangkan Prabu Drupada masih bernama Raden Sucitra. Mereka berdua bersahabat bagaikan saudara kandung yang selalu bersama dan selalu berbagi. Mereka tidur di tikar yang sama, makan pun menggunakan piring yang sama.

Pada suatu hari Raden Sucitra pamit pergi ke Tanah Jawa untuk mendapatkan kembali haknya sebagai putra Prabu Drupara raja Duhyapura. Konon setelah Kerajaan Duhyapura runtuh diserang Prabu Bahlika raja Siwandapura, seluruh harta pusaka dapat diselamatkan oleh Patih Suganda. Kemudian Patih Suganda membangun Kerajaan Pancala dan menjadi raja, bergelar Prabu Gandabayu. Berkat bantuan Prabu Pandu, Raden Sucitra berhasil menjadi menantu Prabu Gandabayu, sekaligus menjadi raja Pancala yang selanjutnya, bergelar Prabu Drupada.

Belasan tahun kemudian, Bambang Kumbayana menyusul ke Tanah Jawa untuk mencari Raden Sucitra. Sungguh bahagia perasaan Bambang Kumbayana melihat sahabatnya telah duduk di atas takhta sebagai raja. Ia teringat bahwa sebelum berangkat mengembara, Raden Sucitra pernah berjanji akan membagi dua setiap kemuliaan yang berhasil didapatkannya. Namun demikian, Bambang Kumbayana mengaku tidak ingin menagih janji itu, melainkan hanya meminta hadiah seekor sapi perah saja untuk anaknya yang bernama Bambang Aswatama.

Akan tetapi, Prabu Drupada dengan angkuh menyuruh Bambang Kumbayana pulang dan dirinya sanggup memberikan sedekah berupa seratus ekor sapi. Hal ini membuat Bambang Kumbayana tersinggung. Ia datang untuk meminta hadiah, bukan meminta sedekah. Ia pun memaki Prabu Drupada sebagai sahabat yang tidak tahu diri, melupakan perjanjian di masa lampau. Arya Gandamana yang tidak tahu-menahu duduk persoalannya tiba-tiba saja menyerang Bambang Kumbayana dan membuatnya menjadi buruk rupa.

Demikianlah, Resi Druna bercerita tentang awal mula permusuhannya dengan Prabu Drupada dan Arya Gandamana. Itu semua terjadi karena Prabu Drupada mengingkari janji yang pernah diucapkannya sendiri. Hari ini Resi Druna telah mewujudkan sumpahnya, yaitu memiliki murid yang bisa mengalahkan Prabu Drupada dan Arya Gandamana. Tidak hanya itu, ia juga berhasil merebut takhta Kerajaan Pancala.

Namun demikian, Resi Druna mengaku tidak akan pernah lupa terhadap janji lama. Oleh sebab itu, dengan sikap angkuh ia memberikan setengah dari wilayah Kerajaan Pancala kepada Prabu Drupada. Mulai hari ini, Prabu Drupada dan keluarganya tidak boleh lagi tinggal di istana Pancala yang terletak di utara, tetapi harus pindah ke bagian selatan.

Prabu Drupada merasa sangat terhina, tetapi sebagai pihak yang kalah ia hanya bisa menerima nasib. Ia lalu pergi meninggalkan istana Pancala bersama istrinya, yaitu Dewi Gandawati, serta Arya Gandamana dan Patih Drestaketu.

PRABU DRUPADA MEMBANGUN KERAJAAN CEMPALAREJA

Demikianlah, mulai hari itu Kerajaan Pancala terbagi menjadi dua. Resi Druna berkuasa di bagian utara, namun ia tidak mau tinggal di istana dan merasa lebih nyaman hidup di Padepokan Sokalima. Sementara itu, Prabu Drupada berkuasa di bagian selatan, dan membangun istana baru di Desa Cempala. Sejak saat itu, Kerajaan Pancala Selatan dikenal pula dengan sebutan Kerajaan Cempalareja.

Sejak peristiwa kekalahannya, Prabu Drupada selalu dirundung duka. Ia menyesal tidak mampu menjaga warisan sang mertua dengan baik, sehingga setengah dari wilayah Kerajaan Pancala kini menjadi milik Resi Druna. Ia juga merasa iri melihat Resi Druna memiliki seorang putra dan seratus lima murid, yang semuanya patuh dan tunduk terhadap perintahnya. Sementara itu, ia sendiri tidak memiliki anak sama sekali karena Dewi Gandawati mandul.

Dewi Gandawati yang mengetahui kesedihan sang suami mengaku rela jika Prabu Drupada menikah lagi. Namun, Prabu Drupada menolak karena tidak ingin menduakan cintanya kepada istrinya itu. Ia lalu memutuskan untuk pergi bertapa saja, agar bisa memiliki putra yang bisa membalaskan sakit hatinya kepada Resi Druna, tanpa harus menikah lagi.

KELAHIRAN DEWI DRUPADI, DEWI SRIKANDI, DAN RADEN DRESTAJUMENA

Prabu Drupada pun mulai bertapa di Hutan Jatirokeh dengan ditemani Patih Drestaketu. Untuk sementara, pemerintahan di istana diwakili oleh Arya Gandamana. Setelah empat puluh hari bersamadi, tiba-tiba datang dua orang pendeta kembar membangunkan Prabu Drupada. Kedua pendeta itu bernama Resi Yodya dan Resi Upayodya.

Prabu Drupada memberi hormat kepada mereka. Kedua pendeta kembar itu mengaku telah mendapat petunjuk dari Batara Guru agar membantu Prabu Drupada mendapatkan keturunan. Prabu Drupada merasa senang dan berterima kasih atas hal ini.

Resi Yodya dan Resi Upayodya lalu mengadakan sesaji api. Mereka duduk bersila membaca mantra sambil menghadap api unggun yang menyala berkobar-kobar. Api unggun itu kemudian menyerap saripati benih dari tubuh Prabu Drupada. Atas izin Yang Mahakuasa, tiba-tiba dari dalam kobaran api muncul seorang gadis cantik berusia sekitar dua puluh tahun.

Prabu Drupada menyambut gadis cantik itu yang tidak lain berasal dari saripati benihnya sendiri. Ia pun memberikan nama yang mirip dengan dirinya, yaitu Dewi Drupadi. Namun demikian, ia masih belum puas jika hanya memiliki seorang putri saja. Ia pun meminta Resi Yodya dan Resi Upayodya agar melanjutkan sesaji.

Kedua resi itu kembali membaca mantra. Api unggun pun berkobar lagi dan menyerap saripati benih Prabu Drupada. Tidak lama kemudian muncul seorang gadis berusia sekitar delapan belas tahun yang keluar dari dalam kobaran api. Resi Yodya menjelaskan bahwa putri yang kedua ini bersifat seperti laki-laki dan kelak akan menjadi seorang perwira tangguh.

Prabu Drupada menerima gadis itu sebagai putri keduanya. Karena ia bersifat “kandi”, maka gadis itu pun diberi nama Dewi Srikandi. Namun demikian, Prabu Drupada masih belum puas. Ia ingin memiliki anak lagi yang benar-benar laki-laki, bukannya wanita yang bersifat kelaki-lakian.

Resi Yodya dan Resi Upayodya kembali membaca mantra. Api unggun pun berkobar lagi dan menyerap saripati benih Prabu Drupada. Kali ini dari dalam kobaran api keluar seorang pemuda tampan berusia sekitar enam belas tahun.

Prabu Drupada sangat senang karena akhirnya bisa memiliki seorang anak laki-laki. Ia pun memberi nama putranya itu Raden Drestajumena, sebagai penghormatan untuk Patih Drestaketu yang selama ini setia melayani dan menjaga dirinya bertapa.

Demikianlah, Resi Yodya dan Resi Upayodya lalu mohon pamit kepada Prabu Drupada. Dalam sekejap mereka berdua pun menghilang dalam lebatnya hutan.

RADEN DRESTAJUMENA MENJADI MURID RESI DRUNA

Prabu Drupada dan keluarga barunya telah kembali ke istana Pancala. Dewi Gandawati dan Arya Gandamana menyambut kedatangan mereka dengan perasaan haru dan bahagia. Hari itu Arya Gandamana ingin meminta izin kepada Prabu Drupada untuk membalas dendam kepada Resi Druna. Namun, Prabu Drupada melarangnya pergi. Ia menjelaskan bahwa Resi Druna telah mempermalukan dirinya menggunakan para murid, maka ia akan membalas dendam dengan cara yang sama.

Untuk itu, Prabu Drupada pun berniat menjadikan Raden Drestajumena sebagai murid Resi Druna. Kelak, setelah Raden Drestajumena pandai, Prabu Drupada akan menjadikan putra bungsunya itu sebagai musuh Resi Druna. Dengan demikian, Resi Druna akan mengalami penghinaan karena dikalahkan oleh muridnya sendiri.

Demikianlah, Prabu Drupada lalu mengantarkan Raden Drestajumena ke Padepokan Sokalima. Resi Druna menyambut kedatangan mereka dengan perasaan gembira. Prabu Drupada pura-pura mengajak Resi Druna kembali bersahabat seperti dulu lagi. Resi Druna sangat senang dan berangkulan dengan Prabu Drupada.

Karena hubungan mereka sudah kembali baik, Prabu Drupada pun meminta Resi Druna agar bersedia menerima putranya yang bernama Raden Drestajumena sebagai murid. Resi Druna mengabulkan permintaan itu dengan senang hati. Lagipula Adipati Dretarastra sudah mengizinkan Padepokan Sokalima menjadi tempat pendidikan umum, yaitu Resi Druna boleh menerima murid lain setelah para Pandawa dan Kurawa lulus. Namun demikian, Adipati Dretarastra mengajukan syarat bahwa semua murid Padepokan Sokalima harus bersedia menjadi sekutu Kerajaan Hastina.

Prabu Drupada menyatakan setuju. Ia berjanji bahwa Kerajaan Pancala Selatan bersedia menjadi sekutu Kerajaan Hastina seperti dulu lagi. Akan tetapi, apabila kelak terjadi sebuah peristiwa yang menghina wibawa Pancala, maka persekutuan ini dinyatakan batal. Resi Druna setuju. Maka, sejak hari itu Raden Drestajumena pun resmi menjadi murid Resi Druna.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Kisah para Pandawa dan Kurawa menyerang Kerajaan Pancala ini menurut Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam Serat Pustakaraja Purwa terjadi pada tahun Suryasengakala 690 yang ditandai dengan sengkalan “Tanpa gatra retuning barakan”, atau tahun Candrasengkala 711 yang ditandai dengan sengkalan “Rupa janma saswareng wiyat”.














Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Pendadaran Siswa Sokalima

 No comments   


Kisah ini menceritakan para Pandawa dan Kurawa telah menyelesaikan pendidikannya kepada Danghyang Druna dan mereka pun dipertandingkan di hadapan seluruh rakyat Kerajaan Hastina. Puncak dari pertandingan ini adalah pertarungan antara Raden Permadi melawan Raden Suryaputra yang tidak lain adalah kakak sulungnya sendiri, yaitu putra Dewi Kunti dengan Batara Surya, sewaktu belum menikah dengan Prabu Pandu.

Kisah ini saya olah dari sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang dipadukan dengan kitab Mahabharata karya Resi Wyasa, serta beberapa bagian saya ambil dari serial Suryaputra Karna, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 08 Agustus 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Raden Suryaputra melawan Raden Permadi

DANGHYANG DRUNA MELAPORKAN KELULUSAN PARA PANDAWA DAN KURAWA

Adipati Dretarastra di Kerajaan Hastina memimpin pertemuan yang dihadiri oleh Resiwara Bisma, Dewi Gandari, Raden Yamawidura, Patih Sangkuni, dan Resi Krepa. Hadir pula Danghyang Druna yang melaporkan bahwa hari ini telah genap lima tahun para Pandawa dan Kurawa berguru ilmu perang kepadanya di Padepokan Sokalima. Semua ilmu telah diajarkan olehnya, meliputi seni menggunakan senjata, ilmu memimpin pasukan, ilmu mengatur siasat perang, serta bagaimana caranya merusak formasi barisan perang.

Danghyang Druna bercerita bahwa di antara murid-muridnya, Raden Permadi (Arjuna) adalah yang paling pandai dan berbakat, terutama dalam bidang panahan. Tidak hanya siang hari, bahkan di malam hari sekalipun ia rajin berlatih panah dalam kegelapan. Pernah suatu hari Danghyang Druna pura-pura diserang buaya di sungai. Para pangeran berlomba-lomba hendak menolong, namun hanya Raden Permadi yang dengan sigap dan cekatan mengambil busur dan panah untuk membidik si buaya. Pernah pula Danghyang Druna menguji kemahiran memanah para murid dengan membidik sasaran berupa boneka burung di puncak pohon. Hanya Raden Permadi seorang yang berhasil mengenai sasaran, yaitu panahnya bisa menembus mata boneka burung tersebut tanpa menjatuhkannya dari pohon.

Adipati Dretarastra kecewa karena Danghyang Druna selalu memuji-muji Raden Permadi, bukannya Raden Suyudana putranya. Menyadari hal itu, Resiwara Bisma mengusulkan agar Danghyang Druna mengadakan sebuah acara pertunjukan terbuka. Dalam acara itu, para Pandawa dan Kurawa harus memperlihatkan hasil pendidikannya di hadapan seluruh rakyat Kerajaan Hastina. Setelah acara selesai, barulah dapat ditentukan siapa murid terbaik di antara para pangeran tersebut.

Patih Sangkuni mendukung usulan Resiwara Bisma. Danghyang Druna tidak perlu tergesa-gesa mengumumkan Raden Permadi sebagai lulusan terbaik jika belum memperlihatkan kemahirannya di depan umum. Pertunjukan ini tentunya sangat bermanfaat, karena rakyat dapat menyaksikan kehebatan para pangeran, sehingga bisa ikut bangga melihat para Pandawa dan Kurawa memiliki kemampuan untuk melindungi Kerajaan Hastina. Tidak hanya itu, Patih Sangkuni juga mengusulkan agar Adipati Dretarastra mengundang para raja negara tetangga untuk ikut menyaksikan pertunjukan ini, sehingga mereka akan semakin segan dan tidak berani macam-macam terhadap Kerajaan Hastina.

Adipati Dretarastra senang mendengar usulan ini. Ia pun menunjuk Patih Sangkuni untuk mengurusi segala keperluan, mulai dari mempersiapkan panggung, menyebar undangan, hingga menyusun urutan siapa pangeran yang akan tampil. Patih Sangkuni berterima kasih dan siap melaksanakan tugas. Ia pun mengusulkan agar acara tersebut dilaksanakan di Tegal Kurusetra, yaitu sebidang tanah lapang yang sangat luas di pinggiran Kerajaan Hastina, yang mampu menampung jutaan orang. Patih Sangkuni juga mengusulkan agar acara nanti bukan sekadar pertunjukan belaka, tetapi harus bersifat pertandingan. Barangsiapa yang menjadi juara, maka dia yang pantas dilantik sebagai pangeran mahkota Kerajaan Hastina.

Resiwara Bisma dan Raden Yamawidura menolak usulan Patih Sangkuni. Kedudukan sebagai pangeran mahkota tidak dapat ditentukan melalui pertandingan adu kemahiran. Bagaimanapun juga yang berhak menjadi ahli waris takhta adalah Raden Puntadewa, selaku putra sulung mendiang Prabu Pandu Dewanata.

Dewi Gandari ikut bicara mendukung Patih Sangkuni. Jika memang putra sulung yang berhak menjadi raja, mengapa dulu bukan suaminya yang dilantik? Memang benar, Adipati Dretarastra menderita cacat tunanetra, tetapi keseratus putranya tidaklah demikian. Itu berarti, para Kurawa pun memiliki hak yang sama dengan para Pandawa, karena Kerajaan Hastina bukan milik Prabu Pandu seorang, tetapi juga milik Adipati Dretarastra. Jika bukan karena Adipati Dretarastra rela melepaskan haknya sebagai putra sulung, mana mungkin Prabu Pandu bisa menjadi raja Hastina?

Patih Sangkuni menambahkan, beberapa tahun yang lalu saat para Pandawa dan Kurawa berguru ilmu agama dan tata negara kepada Resi Krepa, memang Raden Puntadewa dinyatakan sebagai murid yang terpandai. Namun, menjadi raja Hastina tidak cukup hanya mengandalkan ilmu pengetahuan saja, tetapi juga harus memiliki kemahiran dalam pertempuran. Raja yang tidak mahir melindungi negaranya akan kehilangan wibawa, baik itu di hadapan kawan maupun lawan. Jika memang Raden Puntadewa berhak atas takhta, maka dalam pertunjukan nanti ia harus mampu meyakinkan rakyat Hastina bahwa dirinya memang pantas menjadi raja yang bisa melindungi segenap wilayah negaranya.

Adipati Dretarastra dalam hati memuji kepandaian Patih Sangkuni yang selalu berusaha menciptakan peluang bagi Raden Suyudana. Membayangkan bahwa putranya nanti akan tampil sebagai pemenang, ia pun menyetujui usulan Patih Sangkuni. Ia lalu mengumumkan bahwa Patih Sangkuni telah diserahi tugas ini, maka segala keputusan Patih Sangkuni harus dipatuhi semuanya.

Resiwara Bisma dan Raden Yamawidura tidak bisa membantah lagi. Mereka pun setuju jika pertunjukan nanti diubah menjadi perlombaan. Akan tetapi, yang menjadi juri dalam menentukan pemenang haruslah Danghyang Druna, bukan Patih Sangkuni. Adipati Dretarastra setuju. Ia lalu meminta Danghyang Druna untuk menyusun peraturan pertandingan.

Danghyang Druna mengusulkan bahwa dalam pertandingan nanti hendaknya menjadi pertandingan persaudaraan, dan para pangeran tidak boleh saling melukai. Siapa yang menang cukup dilihat dari seberapa lama ia mampu bertahan di atas panggung. Sebaliknya, barangsiapa yang menyebabkan pihak lawan berdarah, maka ia akan dinyatakan gugur.

Demkikianlah, Adipati Dretarastra telah menetapkan Danghyang Druna sebagai juri dan Patih Sangkuni sebagai panitia acara. Resiwara Bisma meminta Patih Sangkuni harus adil dalam menentukan urutan siapa pangeran yang akan tampil. Patih Sangkuni pun menyanggupi, bahwa nanti pangeran yang tampil akan ditentukan berdasarkan undian.

Karena semuanya telah sepakat, Adipati Dretarastra menetapkan tujuh hari lagi acara pertandingan ini akan diadakan. Danghyang Druna diperintahkan untuk mempersiapkan para pangeran, sedangkan Patih Sangkuni diperintahkan untuk mempersiapkan segala sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Setelah dirasa cukup, pertemuan pun dibubarkan.

RADEYA MENYELESAIKAN PENDIDIKANNYA PADA BATARA RAMAPARASU

Tersebutlah seorang pemuda bernama Radeya yang berguru kepada Batara Ramaparasu di Hutan Jatiraga selama lima tahun. Hari itu Batara Ramaparasu menyatakan kelulusannya dan mempersilakan Radeya pulang ke tempat asalnya, yaitu Desa Petapralaya. Radeya ini adalah putra Kyai Adirata, yaitu kusir kereta Adipati Dretarastra, sedangkan ibunya bernama Nyai Rada.

Radeya berterima kasih kepada Batara Ramaparasu yang telah berkenan mendidik seorang pemuda miskin seperti dirinya. Memang dirinya putra seorang kusir kereta, tetapi sejak kecil bercita-cita ingin menjadi pelindung Kerajaan Hastina. Ketika terdengar kabar bahwa para Pandawa dan Kurawa berguru kepada Danghyang Druna, Radeya pun ikut pergi ke Padepokan Sokalima dan memohon supaya diterima sebagai murid pula.

Akan tetapi, Danghyang Druna menolak Radeya karena ia hanya bersedia mengajar para pangeran Hastina saja. Radeya pun bertanya mengapa putra Danghyang Druna yang bernama Bambang Aswatama juga ikut belajar, bukankah dia bukan Pandawa, juga bukan Kurawa? Danghyang Druna tersinggung dan mengusir Radeya. Atas penghinaan itu, Radeya pun bersumpah bahwa dirinya pasti bisa berguru kepada orang yang telah mengajar Danghyang Druna.

Radeya lalu pergi ke Hutan Jatiraga untuk bertapa. Selama berhari-hari ia bersamadi tanpa makan, tanpa minum, hingga akhirnya datang Batara Ramaparasu membangunkan dirinya. Batara Ramaparasu berkata bahwa dewata telah menerima tapa brata Radeya yang bercita-cita ingin berguru kepada orang yang pernah mendidik Danghyang Druna. Maka, Batara Guru pun mengirim Batara Ramaparasu untuk mengajari Radeya. Batara Ramaparasu memang pernah menjadi guru Danghyang Druna, bahkan juga pernah mengajar Resiwara Bisma saat masih bernama Raden Dewabrata.

Demikianlah, selama lima tahun Radeya berguru segala macam ilmu perang kepada Batara Ramaparasu, terutama ilmu memanah. Hari itu ia dinyatakan lulus dan dipersilakan pulang ke Desa Petapralaya. Sebelum berpamitan, tiba-tiba datang seorang pemuda bernama Adimanggala, yang merupakan adik angkat Radeya.

Radeya dan Adimanggala sama-sama bukan anak kandung Kyai Adirata dan Nyai Rada. Radeya semasa bayi diperoleh Kyai Adirata dari pemberian Resi Druwasa, sedangkan Adimanggala adalah pemberian Buyut Antyagopa dari Desa Widarakandang.

Adimanggala sangat bahagia bisa bertemu kakaknya. Ia bangga melihat Radeya telah mewujudkan cita-cita yaitu bisa belajar kepada Batara Ramaparasu. Ia juga mengatakan bahwa tidak lama lagi Danghyang Druna akan mengadakan pertunjukan adu kemahiran antara para muridnya di Tegal Kurusetra.

Radeya sangat tertarik ingin menghadiri acara tersebut. Ia pun memohon restu kepada Batara Ramaparasu semoga nanti bisa mempermalukan Danghyang Druna yang telah menghina dirinya. Ia ingin menunjukkan pada semua orang bahwa Radeya si putra kusir kini menjadi pemanah terbaik di dunia.

Batara Ramaparasu tidak suka melihat sifat sombong Radeya. Ia pun mengutuk Radeya jika terus-menerus bersikap angkuh dan sombong seperti itu, maka semua ilmu kesaktian yang telah diajarkan olehnya akan lenyap dari ingatan pada saat paling dibutuhkan.

Radeya memohon ampun kepada sang guru. Namun, Batara Ramaparasu tidak dapat mencabut kutukannya. Ia hanya menasihati Radeya agar menjadi manusia dermawan sebagai penyeimbang sifatnya yang angkuh. Radeya mematuhi dan bersumpah tidak akan menolak siapa pun yang meminta sedekah kepadanya.

Batara Ramaparasu merestui Radeya semoga namanya dikenang sepanjang masa. Ia lalu terbang meninggalkan Hutan Jatiraga, kembali ke kahyangan.

RADEYA BERTARUNG MELAWAN PASUKAN SENGKAPURA

Radeya dan Adimanggala keluar dari Hutan Jatiraga menuju Tegal Kurusetra untuk menonton pertandingan para Pandawa dan Kurawa. Di tengah jalan mereka bertemu pasukan raksasa dari Sengkapura yang dipimpin Ditya Danuka. Para raksasa itu ditugasi Adipati Kangsa untuk menyelidiki keberadaan putra-putri Prabu Basudewa raja Mandura.

Ditya Danuka bertanya kepada Radeya dan Adimanggala apa pernah melihat dua pemuda, yang satu berkulit putih bule, dan yang satu lagi berkulit hitam legam. Radeya menjawab dengan seenaknya, membuat para raksasa itu marah dan menyerangnya.

Radeya memang sengaja memancing amarah para raksasa itu karena ingin mencoba ilmu kesaktian yang ia peroleh dari Batara Ramaparasu. Demikianlah, dalam pertempuran itu Radeya dan Adimanggala berhasil menumpas habis para prajurit raksasa tersebut, dan juga menewaskan Ditya Danuka.

RARA IRENG INGIN MENONTON PERTANDINGAN PARA PANGERAN

Pemuda berkulit bule dan hitam legam yang dicari-cari oleh Adipati Kangsa adalah Kakrasana dan Narayana, yaitu putra Prabu Basudewa yang sejak kecil dititipkan kepada Buyut Antyagopa dan Nyai Sagopi di Desa Widarakandang. Kini mereka telah tubuh menjadi remaja berusia delapan belas tahun (sebaya dengan Raden Permadi). Kakrasana rajin bekerja di sawah membantu Buyut Antyagopa, sedangkan Narayana lebih suka berkelana bersama Udawa, kakak sulungnya.

Pada suatu hari, Narayana dan Udawa pulang ke rumah dan mengabarkan bahwa di Kerajaan Hastina sebentar lagi akan diadakan sebuah acara pertunjukan ilmu kesaktian antara para Kurawa dan Pandawa, yaitu para pangeran yang baru saja menamatkan pendidikannya kepada Danghyang Druna di Padepokan Sokalima.

Adik perempuan Narayana yang bernama Rara Ireng merengek ingin menonton acara itu. Narayana lalu meminta izin kepada Buyut Antyagopa agar Rara Ireng diperbolehkan ikut pergi ke Tegal Kurusetra. Buyut Antyagopa mengizinkan tetapi Kakrasana juga harus ikut pergi untuk menjaga keselamatan Rara Ireng.

Demikianlah, Narayana, Kakrasana, Udawa, dan Rara Ireng berangkat menuju Tegal Kurusetra, sedangkan adik bungsu mereka yang bernama Rara Sati tetap tinggal di Desa Widarakandang.

ACARA PERTANDINGAN DI TEGAL KURUSETRA : RADEN BIMA MELAWAN PARA KURAWA

Hari yang ditentukan akhirnya tiba. Tegal Kurusetra yang luas dan lapang telah dipenuhi rakyat Hastina yang ingin menonton pertandingan antara para Pandawa dan Kurawa. Narayana dan saudara-saudaranya menyusup di antara para penonton, berbaur dengan rakyat Hastina. Tampak para tamu dan undangan dari berbagai negara sahabat telah duduk di depan panggung, antara lain Prabu Matsyapati dari Wirata, Prabu Salya dari Mandaraka, Aryaprabu Anggajaksa dan Aryaprabu Sarabasanta dari Gandaradesa, serta Prabu Jarasanda dari Magada. Hanya Prabu Drupada dari Pancala yang tidak hadir, sedangkan Prabu Basudewa dari Mandura diwakili putranya, yaitu Adipati Kangsa beserta Patih Suratimantra.

Danghyang Druna berdiri di atas panggung mengumumkan peraturan pertandingan. Murid-muridnya nanti akan bertanding satu lawan satu secara bergiliran, hingga diperoleh siapa murid terbaik yang bertahan paling akhir. Namun demikian, pertandingan ini adalah pertandingan persaudaraan. Untuk menentukan yang kalah cukup dilihat siapa yang terlempar dari panggung lebih dulu, atau siapa yang menyatakan menyerah kalah. Tidak boleh ada yang melukai di pertandingan ini. Barangsiapa yang menyebabkan pihak lawan mengeluarkan darah akan dinyatakan gugur.

Setelah dirasa cukup, Danghyang Druna lalu mempersilakan Patih Sangkuni untuk melempar undian. Dari lemparan tersebut, keluar nama Raden Bima Bratasena (Pandawa nomor dua) dan Raden Dursasana (Kurawa nomor dua).

Kedua pangeran itu naik ke panggung dan mulai bertanding. Mereka berdua kini telah berusia dua puluh tahun. Pertandingan pertama ini dimenangkan oleh Raden Bratasena yang berhasil melempar Raden Dursasana keluar panggung.

Patih Sangkuni kembali melempar undian untuk siapa yang tampil di pertandingan kedua. Ternyata nama Raden Bratasena kembali muncul dan kali ini melawan Raden Surtayu. Setelah mengalahkan Raden Surtayu, nama Raden Bratasena kembali muncul dan ia harus melawan Raden Durmagati. Setelah itu, namanya kembali muncul untuk melawan Raden Citraksa, kemudian melawan Raden Citraksi, demikian seterusnya. Entah mengapa nama Raden Bratasena selalu muncul ketika Patih Sangkuni melempar undian.

Raden Yamawidura menuduh Patih Sangkuni curang ingin membuat Raden Bratasena kehabisan tenaga. Patih Sangkuni pun mempersilakan Raden Yamawidura untuk memeriksa peralatan undiannya. Sebaliknya, Raden Bratasena justru senang selalu tampil di atas panggung karena bisa menjadi sarana baginya untuk menghajar para Kurawa.

RADEN BRATASENA MELAWAN RADEN SUYUDANA

Satu persatu para Kurawa dinyatakan kalah. Ada yang terlempar dari panggung, ada pula yang menyerah kalah kepada Raden Bratasena. Kini yang tersisa dari mereka hanya tinggal Raden Suyudana dan Raden Kartawarma. Rencana pertama Patih Sangkuni untuk menguras tenaga Raden Bratasena dan menyingkirkannya dari panggung telah gagal. Tampak olehnya, Raden Bratasena masih segar bugar dan bersemangat melanjutkan pertandingan.

Patih Sangkuni kembali melempar undian. Kali ini nama Raden Bratasena kembali muncul bersama nama Raden Suyudana, Kurawa nomor satu. Sebelum naik ke panggung, Raden Suyudana telah mendapat pesan dari Patih Sangkuni agar memancing amarah Raden Bratasena.

Demikianlah, Raden Suyudana pun bertarung melawan Raden Bratasena. Tidak hanya tangannya yang memainkan senjata gada, mulutnya juga ikut bicara mengejek. Ia menyebut para Pandawa adalah hasil perselingkuhan Dewi Kunti dengan para dewa, karena Prabu Pandu telah mendapat kutukan tidak bisa memiliki anak selamanya.

Raden Bratasena terpancing amarahnya. Ia memukul mulut Raden Suyudana hingga mengeluarkan darah. Para Kurawa yang lain tidak terima dan beramai-ramai naik ke panggung untuk mengeroyok Raden Bratasena. Pertandingan kini menjadi kacau balau, bukan lagi satu lawan satu.

Sementara itu, Kakrasana yang menonton di antara warga Hastina tidak terima dan segera melompat naik ke atas panggung. Para hadirin heran melihat ada pemuda desa berkulit bule tiba-tiba membantu Raden Bratasena menghadapi para Kurawa sambil mulutnya memaki-maki dengan kasar.

Udawa, Narayana, dan Rara Ireng ikut naik ke panggung untuk melerai. Udawa memegangi tubuh Kakrasana, sedangkan Narayana meminta maaf kepada Adipati Dretarastra atas ulah kakaknya itu. Adipati Dretarastra tidak terima ada rakyat jelata berani memukul anak-anaknya. Ia pun memerintahkan para prajurit untuk menangkap mereka. Narayana segera mengajak Udawa, Kakrasana, dan Rara Ireng turun panggung lalu tiba-tiba tubuh mereka menghilang entah ke mana. Para prajurit mencari ke mana-mana tetapi tidak berhasil menemukan keempat remaja tersebut.

ADIPATI KANGSA MEMBURU NARAYANA DAN SAUDARA-SAUDARANYA

Adipati Kangsa yang duduk di antara para tamu undangan terkejut saat tadi melihat ada pemuda berkulit bule naik ke panggung untuk membantu Raden Bratasena, yang kemudian dilerai oleh pemuda berkulit hitam legam. Ia yakin mereka adalah Kakrasana dan Narayana yang selama ini ia cari untuk dilenyapkan. Itu karena Adipati Kangsa telah mendapat petunjuk dari gurunya, yaitu Resi Anggawangsa bahwa dirinya kelak akan mati di tangan pemuda berkulit bule dan hitam, yang merupakan putra-putra Prabu Basudewa.

Adipati Kangsa tidak tertarik lagi untuk menyaksikan pertandingan para Pandawa dan Kurawa. Ia mengajak Patih Suratimantra mencari Kakrasana dan Narayana yang tadi menghilang dari pandangan. Adipati Kangsa berniat membunuh mereka, sekaligus menikahi gadis berkulit hitam manis yang menawan hati, yang tadi ikut naik ke panggung bersama Narayana dan Udawa, yaitu Rara Ireng.

RADEN PERMADI MENGALAHKAN RADEN PUNTADEWA

Danghyang Druna menyatakan Raden Bratasena gugur tidak boleh melanjutkan pertandingan karena telah menyebabkan mulut Raden Suyudana berdarah. Ini sesuai dengan rencana Patih Sangkuni. Karena para Kurawa tidak berhasil menguras tenaga Raden Bratasena, maka siasat pun diubah, yaitu memancing kemarahannya agar dikeluarkan dari pertandingan.

Patih Sangkuni lalu melemparkan undian. Kali ini yang muncul adalah nama Raden Permadi (Pandawa nomor tiga), melawan Raden Kartawarma (Kurawa nomor lima puluh). Keduanya pun bertanding di atas panggung. Dengan cekatan Raden Permadi berhasil mengalahkan Raden Kartawarma dan membuat sepupunya itu jatuh keluar panggung.

Patih Sangkuni kembali melempar undian. Kali ini nama Raden Permadi kembali muncul, sedangkan lawannya adalah Raden Pinten atau Nakula (Pandawa nomor empat). Sesuai perkiraan Patih Sangkuni, Raden Pinten menyerah kalah tanpa bertanding karena tidak mau melawan kakak sendiri.

Patih Sangkuni kembali melempar undian. Lagi-lagi nama Raden Permadi muncul, dan yang menjadi lawannya adalah Raden Tangsen atau Sadewa (Pandawa nomor lima). Sama seperti sebelumnya, Raden Tangsen pun menyerah kalah karena tidak mau bertarung melawan kakak sendiri.

Nama yang tersisa kini tinggal tiga orang, yaitu Raden Suyudana, Raden Puntadewa, dan Raden Permadi. Sejak tadi Patih Sangkuni selalu bermain ilmu sihir untuk mengatur jalannya pertandingan. Ia menyihir supaya nama Raden Bratasena selalu muncul, dan kini mengatur nama Raden Permadi supaya muncul pula. Adapun yang dimunculkan sebagai lawannya kali ini adalah Raden Puntadewa (Pandawa nomor satu).

Raden Puntadewa dan Raden Permadi telah berhadapan di atas panggung. Patih Sangkuni menyindir Raden Permadi sebaiknya bersikap hormat kepada saudara tua seperti si kembar tadi. Raden Puntadewa terkenal tidak punya pengalaman bertarung. Tentunya tidak pantas jika Raden Permadi mempermalukan kakaknya itu di hadapan banyak orang.

Raden Puntadewa melarang Raden Permadi termakan hasutan Patih Sangkuni. Bagaimanapun juga Raden Permadi harus bertanding secara adil melawan dirinya. Meskipun Raden Puntadewa tidak pernah bertarung, bukan berarti ia tidak bisa bertarung. Di antara murid-murid Padepokan Sokalima, Raden Puntadewa adalah yang paling pandai melempar lembing. Hari ini ia akan melemparkan lembing-lembingnya kepada Raden Permadi. Jika nanti Raden Permadi mampu mengalahkannya, itu bukan berarti seorang adik mempermalukan kakaknya, tetapi hendaknya dipahami lain, yaitu seorang adik membuat kakaknya bangga.

Raden Permadi merasa mantap setelah mendengar nasihat kakaknya. Raden Puntadewa lalu melemparkan lembing-lembingnya ke arah Raden Permadi. Satu persatu lembing-lembing itu dapat ditangkis oleh panah-panah Raden Permadi. Setelah melihat lembing kakaknya habis, Raden Permadi pun menghujani Raden Puntadewa dengan ratusan panah. Para hadirin merasa kagum karena panah-panah itu sama sekali tidak melukai Raden Puntadewa, tetapi tersusun rapi membentuk sebuah kursi.

Raden Permadi lalu menyembah Raden Puntadewa dan mempersilakannya untuk duduk di atas kursi panah tersebut. Raden Puntadewa pun duduk sambil mengumumkan bahwa dirinya dengan bangga menyatakan kalah di tangan sang adik.

Para hadirin seketika bersorak memuji kehebatan Raden Permadi yang berhasil mengalahkan Raden Puntadewa tanpa mempermalukan kakaknya itu. Sebaliknya, Patih Sangkuni sangat kecewa karena sejak awal ia berharap Raden Permadi yang menyerah kalah kepada kakaknya, sehingga Raden Puntadewa yang maju ke pertandingan selanjutnya melawan Raden Suyudana. Ia membayangkan Raden Suyudana yang perkasa pasti dapat dengan mudah mengalahkan Raden Puntadewa di hadapan banyak orang.

RADEN PERMADI DITETAPKAN SEBAGAI PEMANAH TERBAIK DI DUNIA

Kini pangeran yang tersisa hanya tinggal Raden Permadi dan Raden Suyudana saja. Tanpa diundi keduanya pun naik ke atas panggung untuk bertanding. Begitu Danghyang Druna memberikan aba-aba, Raden Suyudana segera menyerang lebih dulu menggunakan senjata gada.

Raden Permadi menggunakan busur sebagai senjata untuk menghadapinya. Setelah agak lama bertarung, ia pun berniat mengalahkan lawan. Sambil membaca mantra, Raden Permadi melepaskan panah ke angkasa. Tidak lama kemudian tiba-tiba muncul angin kencang menggulung dan mengurung tubuh Raden Suyudana.

Danghyang Druna bersorak memuji Raden Permadi sebagai muridnya yang terbaik. Bahkan, ia berpendapat bahwa kehebatan memanah Raden Permadi sudah melampaui dirinya. Ia pun mengumumkan kepada semua orang bahwa Raden Permadi adalah pemanah terbaik di dunia.

RADEYA MENANTANG RADEN PERMADI

Tiba-tiba dari kalangan penonton muncul seorang pemuda yang langsung naik ke atas panggung untuk membebaskan Raden Suyudana. Pemuda itu melepaskan panah bermantra yang mampu mengeluarkan angin panas yang melenyapkan angin dingin yang menggulung Raden Suyudana.

Semua orang terkagum-kagum melihat kehebatan pemuda itu dalam menggunakan panah. Pemuda itu mengaku keberatan jika Danghyang Druna mengumumkan Raden Permadi sebagai pemanah terbaik di dunia. Di hadapan semua orang, ia pun menantang Raden Permadi bertanding adu panah untuk menentukan siapa yang lebih baik di antara mereka.

RADEYA BERSUMPAH SETIA KEPADA RADEN SUYUDANA

Danghyang Druna lalu bertanya siapa nama dan asal-usul si pemuda penantang. Pemuda itu hanya diam saja tidak menjawab. Tiba-tiba muncul Kyai Adirata naik ke atas panggung dan memanggilnya dengan nama Radeya. Kyai Adirata mengumumkan bahwa Radeya adalah putranya, dan ia memohon maaf atas kelancangan Radeya yang berani menantang Raden Permadi.

Danghyang Druna berkata bahwa dalam tata tertib peperangan, senapati hanya boleh melawan senapati, raja melawan raja, pangeran melawan pangeran. Radeya adalah anak seorang kusir kereta, tentunya tidak sederajat bila bertanding melawan Raden Permadi. Maka itu, lebih baik ia pulang saja ke Desa Petapralaya.

Raden Bratasena yang berada di luar panggung ikut bersuara. Ia menyebut Radeya tidak pantas melawan adiknya, dan menyuruh Kyai Adirata untuk menasihati anaknya itu agar mengerti sopan santun. Raden Puntadewa segera menegur Raden Bratasena bahwa dirinya sendiri juga harus belajar sopan santun. Raden Bratasena pun terdiam, tidak berani membantah.

Radeya sangat kecewa. Ketika ia hendak pulang bersama ayahnya, tiba-tiba Raden Suyudana mencegahnya. Raden Suyudana lalu berkata kepada Adipati Dretarastra agar menjadikan Petapralaya sebagai kadipaten, serta mengangkat Kyai Adirata sebagai adipati. Dengan demikian, Radeya bisa mendapat gelar Raden, sehingga sederajat dengan Raden Permadi.

Adipati Dretarastra yang selalu menuruti keinginan putranya segera mengabulkan permintaan itu. Ia pun mengumumkan bahwa mulai hari ini, Desa Petapralaya diubah menjadi Kadipaten Petapralaya, sedangkan Kyai Adirata diangkat sebagai adipati, dan Radeya boleh memakai gelar raden.

Kyai Adirata dan Radeya merasa gugup dan tidak berani menerima anugerah itu. Radeya mengaku datang ke situ adalah untuk bertanding, bukan mencari hadiah. Namun, Raden Suyudana berusaha meyakinkan mereka bahwa anugerah tersebut bukan hadiah, melainkan sebagai bentuk rasa terima kasih. Tadi ketika tubuhnya digulung oleh angin dingin ciptaan Raden Permadi, hanya Radeya seorang yang bisa membebaskan dirinya dengan mengirimkan angin panas. Kini sebagai balasan, Raden Suyudana pun mengangkat Radeya sebagai saudara, dan seluruh Kurawa akan memanggil kakak kepadanya.

Radeya sangat terharu melihat kebaikan Raden Suyudana. Ia pun bersumpah bahwa seumur hidup akan selalu setia melindungi dan mengawal Raden Suyudana. Keduanya lalu berpelukan dengan disambut tepuk tangan Patih Sangkuni dan para Kurawa.

Sementara itu, Raden Yamawidura menggugat Adipati Dretarastra yang terlalu mudah mengangkat seorang adipati tanpa pertimbangan matang. Selain itu, sang kakak juga bersikap mendua. Tadi ketika ada pemuda bule naik panggung membantu Pandawa, Adipati Dretarastra langsung memerintahkan para prajurit untuk menangkapnya. Sebaliknya, ketika muncul Radeya membantu Kurawa, justru Adipati Dretarastra memberikan anugerah kepadanya.

Adipati Dretarastra menjawab bahwa Kyai Adirata sudah lama mengabdi kepada Kerajaan Hastina, maka sudah sepantasnya ia mendapatkan kenaikan pangkat. Keputusan pun sudah ditetapkan, tidak bisa diubah-ubah begitu saja, karena ini akan berpengaruh pada wibawa Adipati Dretarastra sebagai raja wakil di Hastina.

DEWI KUNTI PINGSAN MENYADARI RADEYA ADALAH PUTRANYA

Danghyang Druna lalu mempersilakan Raden Permadi bertanding melawan Radeya. Kyai Adirata dan Raden Suyudana kemudian turun panggung. Sebelum pergi, Kyai Adirata berkata bahwa Radeya saat bayi dilahirkan pada pagi hari, sehingga diberi nama Suryaputra. Alangkah baiknya kalau sekarang kembali memakai nama tersebut. Radeya menurut. Ia pun memakai nama Raden Suryaputra untuk menghadapi Raden Permadi.

Pertarungan dimulai. Keduanya saling melepaskan panah ke arah lawan. Para penonton terkagum-kagum melihat kehebatan mereka. Tidak ada yang menang, juga tidak ada yang kalah. Keduanya tampak seimbang. Hingga akhirnya matahari pun terbenam di ufuk barat. Danghyang Druna menabuh bende tanda pertandingan harus diakhiri. Padahal, Raden Permadi terlanjur melepaskan panah terakhirnya. Panah itu melesat ke arah Raden Suryaputra. Karena Danghyang Druna telah menabuh bende, Raden Suryaputra pun tidak berusaha menangkis. Ia menerima panah terakhir itu dengan dadanya. Sungguh ajaib, panah tersebut patah jadi dua saat membentur dada Raden Suryaputra.

Dewi Kunti yang menonton di samping Adipati Dretarastra dan Dewi Gandari sangat terkejut melihat dada Raden Suryaputra bersinar seperti matahari saat menerima panah Raden Permadi. Ia juga melihat Raden Suryaputra memakai anting-anting berbentuk matahari. Seketika ia pun teringat pada bayi yang dilahirkannya sebelum menikah dulu. Bayi laki-laki itu mengenakan baju zirah di dalam kulit yang disebut Suryakawaca, serta anting-anting Suryakundala, yang semuanya adalah pemberian Batara Surya. Seketika Dewi Kunti pun jatuh pingsan karena menyadari bahwa Raden Suryaputra adalah putra sulungnya yang terpisah sejak bayi, yaitu dibawa pergi oleh Resi Druwasa.

Melihat sang ibu jatuh pingsan, Raden Bratasena segera menggendongnya meninggalkan tempat itu, dengan diikuti Raden Puntadewa dan si kembar. Sementara itu, Raden Permadi dan Raden Suryaputra masih berada di atas panggung. Mereka saling berjanji akan melanjutkan pertarungan kelak di kemudian hari. Para Kurawa lalu berdatangan naik ke atas panggung. Mereka menjunjung tubuh Raden Suryaputra dan mengelu-elukannya bagaikan seorang pahlawan pemenang pertandingan.

DANGHYANG DRUNA DIANGKAT SEBAGAI KEPALA PUJANGGA KERAJAAN HASTINA

Acara pertandingan telah usai. Danghyang Druna mengembalikan mandat sebagai guru para pangeran kepada Adipati Dretarastra. Tugas-tugasnya mengajar kini telah selesai. Namun, Patih Sangkuni melarangnya pulang begitu saja. Patih Sangkuni lalu memohon kepada Adipati Dretarastra untuk memberikan kedudukan kepada Danghyang Druna, agar menjadi bagian dari keluarga besar Kerajaan Hastina.

Adipati Dretarastra masih kecewa karena bukan putranya yang ditetapkan sebagai murid terbaik. Namun, Patih Sangkuni meminta kakak iparnya itu agar jangan mudah berpikiran pendek. Manusia sakti seperti Danghyang Druna harus dijaga agar tetap setia kepada Kerajaan Hastina. Apabila Danghyang Druna sampai pindah ke negara lain tentunya akan sangat berbahaya.

Adipati Dretarastra merasa ucapan Patih Sangkuni masuk akal. Maka, ia pun mengumumkan bahwa tugas Danghyang Druna sebagai guru para Pandawa dan Kurawa memang telah selesai. Mulai hari ini, Danghyang Druna diberi kedudukan baru sebagai kepala pujangga Kerajaan Hastina, bergelar Resi Druna. Adipati Dretarastra juga berjanji akan mengucurkan dana pembangunan Padepokan Sokalima menjadi lebih besar, dan Resi Druna diizinkan menerima murid dari berbagai negara. Sebagai syarat, para murid itu harus bersedia menjadi sekutu Kerajaan Hastina.

Danghyang Druna menerima keputusan Adipati Dretarastra dengan senang hati. Ia pun berterima kasih dan bersumpah akan selalu setia kepada Kerajaan Hastina. Dalam hati ia merasa senang karena ini bisa menjadi jalan baginya untuk membalas dendam kepada Prabu Drupada dan Arya Gandamana di Kerajaan Pancala.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Kisah pertunjukan kemahiran antara para Pandawa dan Kurawa ini menurut Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam Serat Pustakaraja Purwa terjadi pada tahun Suryasengakala 691 yang ditandai dengan sengkalan “Rupa Rudra angoyak langit”, atau tahun Candrasengkala 712 yang ditandai dengan sengkalan “Paksa hanunggal paksi”.














Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Parasara Lahir
    Kisah ini menceritakan kelahiran Bambang Parasara putra Batara Sakri dan Dewi Sati, yang kelak menjadi Resi Parasara, yaitu leluhur para Pan...
  • Sesaji Rajasuya
    Kisah ini menceritakan tentang upacara Sesaji Rajasuya yang diadakan oleh para Pandawa, serta kematian Prabu Jarasanda, musuh bebuyutan Pra...
  • Sakri Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Batara Sakri di tangan Prabu Murtija, raja raksasa dari Kerajaan Tirtakawana, serta awal mula Dewi Wayasi da...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  January (2)
      • Sewa Sound System Jogja Yogyakarta 08562954111
      • Hanya Rindu Andmesh Kemalang Covered
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja