Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Sayembara Drupadi

 No comments   


Kisah ini menceritakan sayembara memperebutkan Dewi Drupadi, putri sulung Prabu Drupada. Sayembara berupa adu keterampilan memanah, serta pertandingan melawan Arya Gandamana. Dalam sayembara ini Arya Gandamana gugur dan sempat mewariskan ilmunya kepada para Pandawa. Adapun Dewi Drupadi akhirnya menjadi istri Raden Puntadewa.

Kisah ini saya olah dari sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang dipadukan dengan kitab Mahabharata karya Resi Wyasa, serta rekaman pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Nartosabdo dan Ki Manteb Soedharsono, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 16 September 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Dewi Drupadi

PARA RAJA DAN PANGERAN BERKUMPUL MELAMAR DEWI DRUPADI

Prabu Drupada di Kerajaan Cempalareja (Pancala Selatan) sedang memimpin pertemuan, dihadap Arya Gandamana (adik ipar), Raden Drestajumena (putra mahkota), dan Patih Drestaketu (menteri utama). Hari itu mereka membahas tentang para raja dan pangeran dari berbagai negeri yang berkumpul di luar istana dengan maksud dan tujuan sama, yaitu melamar Dewi Drupadi, putri sulung Prabu Drupada yang terkenal kecantikannya.

Prabu Drupada merasa bingung menentukan pilihan. Apabila ia menerima pinangan salah satu dari mereka, maka yang lainnya pasti akan tersinggung dan tidak terima. Dikhawatirkan mereka akan bersatu menggempur Kerajaan Cempalareja untuk melampiaskan kekesalan.

Raden Drestajumena mengusulkan kepada sang ayah agar mengadakan sayembara untuk menentukan siapa yang berhak menjadi suami kakaknya. Adapun bentuk sayembara itu adalah perlombaan adu keterampilan memanah. Selama berguru kepada Resi Druna di Padepokan Sokalima, ilmu memanah adalah pelajaran yang paling ia sukai, sehingga ketika membicarakan bentuk sayembara, maka yang pertama muncul dalam pikirannya adalah sayembara memanah.

Raden Drestajumena mengusulkan agar dalam sayembara memanah nanti, busur yang digunakan adalah Busur Gandiwa, warisan turun-temurun Kerajaan Duhyapura. Busur pusaka ini sangat berat dan seolah bisa memilih siapa orang yang boleh mengangkatnya. Dulu ketika Kerajaan Duhyapura hancur diserang Prabu Bahlika dari Siwandapura, Busur Gandiwa berhasil diselamatkan oleh Patih Suganda (yang kemudian bergelar Prabu Gandabayu, raja Pancala pertama). Konon saat itu Patih Suganda membutuhkan seratus orang prajurit untuk mengangkut busur pusaka tersebut.

Mengenai sasaran yang harus dipanah dalam sayembara tersebut adalah sehelai rambut milik Dewi Drupadi yang diikat tinggi di atas tiang. Si pemanah juga tidak boleh melihat langsung kepada sasaran, tetapi harus melalui cermin. Prabu Drupada merasa persyaratan sayembara yang diusulkan putranya ini terlalu sulit. Jangankan membidik sasaran yang sangat kecil tersebut melalui cermin, sedangkan mengangkat Busur Gandiwa saja belum tentu ada raja dan pangeran yang mampu melakukannya.

Arya Gandamana tidak setuju dengan ucapan Prabu Drupada. Menurutnya, ada seorang kesatria yang mampu membidik sasaran sulit tersebut, yaitu Raden Arjuna (Permadi), putra Prabu Pandu. Menurut berita yang beredar, Raden Arjuna telah tewas dalam peristiwa kebakaran di Waranawata. Namun demikian, Arya Gandamana tetap yakin keponakannya itu pasti masih hidup sampai sekarang.

Prabu Drupada sendiri tidak yakin apa mungkin para Pandawa bisa selamat dari peristiwa kebakaran tersebut. Namun, ia mengembalikan semuanya kepada Sang Pencipta. Jika memang para Pandawa masih hidup, semoga salah satu dari mereka bisa menjadi suami dari putrinya.

Setelah berpikir demikian, Prabu Drupada pun membubarkan pertemuan dan ia memerintahkan Raden Drestajumena dan Patih Drestaketu untuk mempersiapkan sayembara.

SAYEMBARA MEMANAH UNTUK DEWI DRUPADI DIMULAI

Raden Drestajumena dibantu Patih Drestaketu telah mendirikan tiang setinggi tujuh puluh depa, yang di puncaknya terikat sehelai rambut milik Dewi Drupadi. Para raja dan pangeran dari berbagai negara berkumpul di dekat tempat itu, sedangkan Prabu Drupada, Dewi Gandawati, Arya Gandamana, Dewi Drupadi, dan Dewi Srikandi menonton dari kejauhan.

Raden Drestajumena mengumumkan tata cara sayembara. Barangsiapa mampu memanah sehelai rambut di atas tiang tinggi tersebut sambil memandang cermin menggunakan Busur Gandiwa, maka ia berhak memperistri Dewi Drupadi, kakak sulungnya. Busur Gandiwa pun telah disiapkan di dekat tiang, yang mana untuk mengangkutnya tadi dibutuhkan seratus orang prajurit.

Peserta yang pertama kali maju adalah Adipati Jayadrata dari Banakeling. Ia berusaha mengangkat Busur Gandiwa dengan sekuat tenaga tetapi gagal. Dengan perasaan malu, ia pun pulang meninggalkan tempat itu, kembali ke negerinya.

Peserta yang kedua adalah Prabu Jarasanda raja Magada. Dengan langkah sombong penuh percaya diri ia berusaha mengangkat Busur Gandiwa. Akan tetapi, semakin ia mengerahkan tenaga, busur itu terasa semakin berat. Dengan wajah merah menahan malu, ia pun undur diri kembali ke negerinya.

Peserta yang ketiga adalah Prabu Salya raja Mandraka. Ia berkata bahwa dirinya mengikuti sayembara bukan untuk memperistri Dewi Drupadi, tetapi untuk menjadikannya sebagai menantu. Prabu Drupada dari kejauhan mempersilakan sahabatnya itu untuk mencoba. Prabu Salya pun mengerahkan Aji Candabirawa untuk mengerahkan para raksasa ganas dari dalam dirinya agar turut membantu mengangkat Busur Gandiwa. Namun demikian, semakin mereka berusaha, busur pusaka itu terasa semakin berat. Prabu Salya akhirnya menyerah. Ia memasukkan kembali para raksasa Candabirawa ke dalam tubuhnya, kemudian mohon pamit pulang ke Kerajaan Mandraka.

DEWI DRUPADI MENGHINA RADEN SURYAPUTRA

Setelah Adipati Jayadrata, Prabu Jarasanda, dan Prabu Salya pulang meninggalkan tempat sayembara, para raja dan pangeran lainnya merasa gentar untuk mencoba. Perwakilan dari Kerajaan Hastina, yaitu Raden Kurupati (Suyudana) datang bersama adik-adiknya (para Kurawa), serta Patih Sangkuni dan Raden Suryaputra. Raden Kurupati merasa sayembara ini terlalu sulit untuknya dan ia tidak mau menjadi bahan tertawaan para hadirin. Raden Suryaputra lalu berbisik kepada sahabatnya itu bahwa dirinya yang akan maju mewakili untuk mendapatkan Dewi Drupadi. Raden Kurupati merasa senang dan ia pun mempersilakan Raden Suryaputra untuk mencoba.

Raden Suryaputra melangkah maju mendekati Busur Gandiwa. Meskipun biasanya ia bersikap angkuh dan sombong, namun hari itu ia memandang Busur Gandiwa dengan penuh penghormatan. Setelah menyembah tiga kali, ia lantas mengangkat busur pusaka tersebut. Sungguh ajaib, Busur Gandiwa seolah merelakan dirinya diangkat oleh Raden Suryaputra. Jika orang lain merasa Busur Gandiwa sangat berat, maka Raden Suryaputra merasa busur pusaka ini sangat ringan dan juga lentur.

Para hadirin pun bersorak-sorak memuji Raden Suryaputra anak Adipati Adirata sebagai calon pemenang. Tiba-tiba Dewi Drupadi melangkah maju menghampiri Raden Suryaputra yang sudah bersiap hendak membidik sasaran melalui cermin. Ia mendapat firasat bahwa pemuda ini bukanlah jodohnya. Maka, dengan segala cara ia pun berusaha menggagalkan Raden Suryaputra. Dengan suara lembut tetapi keras, Dewi Drupadi berkata bahwa ia tidak mau menjadi istri dari putra seorang kusir kereta.

Raden Suryaputra sangat tersinggung mendengarnya. Prabu Drupada menyusul putrinya dan mengatakan bahwa Kyai Adirata ayah Raden Suryaputra bukan lagi seorang kusir kereta, tetapi sudah diangkat menjadi adipati di Petapralaya. Namun, Dewi Drupadi tetap tidak bersedia jika Raden Suryaputra melanjutkan sayembara. Ia menganggap Raden Suryaputra hanyalah seorang “kere munggah bale”. Meskipun kini Raden Suryaputra menjadi anak seorang adipati, namun itu adalah pemberian Raden Kurupati. Yang namanya kaum sudra tetap berjiwa buruh, meskipun memakai baju bangsawan.

Raden Suryaputra semakin marah mendengar penghinaan Dewi Drupadi. Ia meletakkan Busur Gandiwa, lalu berkata semoga suatu hari nanti Dewi Drupadi mendapatkan pembalasan, yaitu dihina di depan umum. Ia berharap semoga dirinya panjang umur dan bisa menyaksikan penghinaan atas Dewi Drupadi tersebut. Setelah mengutuk demikian, Raden Suryaputra lalu pergi meninggalkan Kerajaan Cempalareja, sedangkan Dewi Drupadi mundur sambil menangis.

ARYA GANDAMANA MENGADAKAN SAYEMBARA TANDING

Raden Kurupati marah atas penghinaan Dewi Drupadi terhadap sahabatnya. Kini Raden Suryaputra yang menjadi andalannya telah pulang ke Petapralaya. Ia pun maju dan berbicara lantang di hadapan para hadirin, bahwa sayembara ini adalah sayembara mustahil. Prabu Drupada tidak berniat mencari menantu, tetapi berniat ingin mempermalukan para raja dan pangeran dari berbagai negara.

Patih Sangkuni maju dan meminta maaf kepada Prabu Drupada atas kelancangan Raden Kurupati. Ia mencoba meluruskan maksud keponakannya itu dengan mengatakan bahwa Prabu Drupada sudah berniat baik yaitu mencari calon suami untuk Dewi Drupadi melalui sayembara. Akan tetapi, mengapa harus dibatasi yang pandai memanah saja? Sebenarnya Prabu Drupada ingin mencari menantu ataukah ingin mencari pemanah jitu? Di dunia ini hanya ada dua kesatria yang ahli panah, yaitu Raden Suryaputra dan Raden Arjuna. Raden Suryaputra sudah terlanjur pulang karena dihina, sedangkan Raden Arjuna sudah meninggal dunia. Apakah Prabu Drupada rela melihat Dewi Drupadi menjadi perawan tua karena tidak ada lagi raja dan pangeran yang sanggup menyelesaikan sayembara? Apa tidak sebaiknya sayembara ini diubah menjadi yang lebih umum saja, misalnya melalui pertandingan adu kesaktian? Bukankah jenis senjata para kesatria di dunia ini ada bermacam-macam, mengapa harus terbatas pada panah saja?

Arya Gandamana yang sejak dulu membenci Patih Sangkuni segera menanggapi, bahwa dirinya siap menjadi jago jika memang sayembara panah diubah menjadi sayembara tanding. Ia pun memohon kepada Prabu Drupada agar diizinkan untuk mewujudkan hal itu, sama seperti dulu ia pernah mengadakan sayembara tanding untuk mencarikan suami kakaknya, yaitu Dewi Gandawati. Prabu Drupada mengizinkan Arya Gandamana untuk menggelar sayembara tanding tersebut, karena dalam hati ia juga merasa khawatir jika putrinya menjadi perawan tua karena sayembara yang digelar Raden Drestajumena terlalu sulit.

Arya Gandamana kemudian berkata kepada para hadirin bahwa mulai saat ini sayembara panah diubah menjadi sayembara tanding. Barangsiapa bisa mengalahkan dirinya, maka ia berhak memboyong Dewi Drupadi, keponakannya. Terserah para pelamar boleh menggunakan senjata jenis apa, Arya Gandamana siap menghadapi dengan tangan kosong.

Raden Kurupati yang sejak tadi memendam kekesalan karena sahabatnya dihina, segera maju untuk menantang Arya Gandamana. Mereka berdua pun bertanding satu lawan satu. Selang agak lama Raden Kurupati terdesak dan segera mengambil senjata gada. Namun demikian, Arya Gandamana tetap unggul. Sampai akhirnya tubuh Raden Kurupati berhasil dilemparkannya dengan sekuat tenaga, hingga jatuh di hutan luar kota.

Patih Sangkuni segera memerintahkan Raden Dursasana untuk maju melawan Arya Gandamana. Sama seperti kakaknya, Raden Dursasana juga kalah dan tubuhnya dilempar ke luar kota. Merasa tidak puas, Patih Sangkuni segera memerintahkan para Kurawa lainnya, seperti Raden Kartawarma, Raden Surtayu, Raden Durmuka, Raden Durjaya, Raden Durmagati, Raden Citraksa, dan Raden Citraksi untuk maju mengeroyok Arya Gandamana. Namun sedikit pun Arya Gandamana tidak gentar. Dengan mengerahkan Aji Bandung Bandawasa, ia melemparkan semua pangeran Hastina itu jauh-jauh meninggalkan gelanggang sayembara.

Para raja dan pangeran lainnya, termasuk Patih Sangkuni ngeri melihat kekuatan Arya Gandamana. Mereka pun membubarkan diri, meninggalkan tempat tersebut dan menyusul ke mana jatuhnya para Kurawa. Seketika suasana kini berubah menjadi sepi, sungguh berbeda dengan sebelumnya.

PARA PANDAWA DAN DEWI KUNTI BERTEMU RESI DOMYA

Sementara itu, para Pandawa dan Dewi Kunti telah meninggalkan Kerajaan Ekacakra dan melanjutkan perjalanan mereka mengembara. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Resi Domya yang merupakan sahabat sekaligus murid Bagawan Abyasa.

Meskipun kelima Pandawa dan Dewi Kunti menyamar sebagai kaum brahmana, namun Resi Domya dapat mengenali mereka. Resi Domya pun berkata bahwa dirinya baru saja pulang dari Padepokan Saptaarga menemui Bagawan Abyasa. Dalam pertemuan itu, Bagawan Abyasa bercerita bahwa semasa hidupnya, Prabu Pandu (ayah para Pandawa) pernah membantu Arya Sucitra memenangkan sayembara tanding mengalahkan Arya Gandamana sehingga bisa memperistri Dewi Gandawati. Kemudian Arya Sucitra mewarisi takhta Kerajaan Pancala dan bergelar Prabu Drupada. Atas keberhasilannya itu, ia berniat semoga kelak bisa berbesan dengan Prabu Pandu. Menurut ramalan Bagawan Abyasa, kini sudah saatnya putri Prabu Drupada menjadi istri salah satu dari para Pandawa.

Sungguh kebetulan, Resi Domya mendengar kabar bahwa Prabu Drupada mengadakan sayembara untuk mencari calon suami Dewi Drupadi. Untuk itu, ia pun meminta izin kepada Dewi Kunti agar boleh mengajak para Pandawa mengikuti sayembara tersebut.

Dewi Kunti mengaku dirinya pernah mendengar cerita mendiang Prabu Pandu bahwa Prabu Drupada ingin berbesan dengan mereka. Maka, Dewi Kunti pun mengizinkan Resi Domya berangkat lebih dulu bersama Raden Puntadewa, Raden Bratasena (Bima), dan Raden Permadi (Arjuna).

Demikianlah, Resi Domya pun mohon pamit dan segera berangkat menuju Kerajaan Cempalareja bersama tiga Pandawa itu, dan juga panakawan Petruk dan Bagong. Adapun Dewi Kunti berjalan di belakang bersama si kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa, serta panakawan Kyai Semar dan Nala Gareng.

ARYA GANDAMANA MENGHADAPI RADEN KAKRASANA

Pada saat yang sama, Prabu Basudewa raja Mandura juga memerintahkan kedua putranya, yaitu Raden Kakrasana dan Raden Narayana agar mengikuti sayembara di Cempalareja. Mereka pun berangkat dengan disertai Dewi Bratajaya (Rara Ireng) dan juga Arya Udawa. Dalam perjalanan menuju ke sana, Raden Narayana mengaku malas mengikuti sayembara tersebut karena ia yakin Dewi Drupadi bukanlah jodohnya. Sebaliknya, Raden Kakrasana tidak peduli perempuan itu menjadi jodohnya atau tidak, yang penting perintah orang tua harus segera dilaksanakan.

Rombongan Raden Kakrasana itu akhirnya tiba di Kerajaan Cempalareja. Mereka pun memperkenalkan diri sebagai utusan Prabu Basudewa. Prabu Drupada menyambut mereka dengan ramah dan mempersilakan untuk mengikuti sayembara tanding, melawan Arya Gandamana.

Raden Kakrasana maju ke gelanggang, berhadapan dengan Arya Gandamana. Keduanya bertanding tangan kosong saling mengadu kesaktian. Arya Gandamana merasa lawannya kali ini sungguh perkasa, jelas berbeda dibanding para Kurawa tadi. Raden Kakrasana sendiri mengerahkan Aji Balarama yang membuat tubuhnya lebih kuat dan tidak mudah letih. Tenaganya seperti tidak pernah habis, membuat Arya Gandamana lama-lama terdesak kewalahan.

Arya Gandamana segera mengimbangi dengan mengerahkan Aji Bandung Bandawasa dan Aji Blabak Pangantol-antol sekaligus. Raden Kakrasana yang merasa sudah menang menjadi lengah. Tubuhnya pun terlempar jauh oleh kekuatan Arya Gandamana. Raden Narayana, Dewi Bratajaya, dan Arya Udawa segera menyusul ke mana jatuhnya saudara mereka itu.

Raden Narayana lalu menemukan Raden Kakrasana terjepit di antara dua bongkah batu besar, di luar ibu kota Cempalareja. Raden Kakrasana tampak merintih kesakitan minta ditolong. Raden Narayana lalu meraba kedua batu besar itu menggunakan Aji Balasrewu. Sungguh ajaib, hanya dengan diraba saja kedua batu besar itu langsung hancur menjadi abu.

Raden Kakrasana berterima kasih dan memuji kesaktian adiknya. Andai Raden Narayana bersedia mengikuti sayembara, pasti ia mampu mengalahkan Arya Gandamana. Namun, Raden Narayana tetap menolak karena ia yakin Dewi Drupadi bukan jodohnya. Raden Kakrasana menjadi bimbang apakah dirinya perlu melanjutkan sayembara itu sesuai perintah orang tua ataukah tidak. Raden Narayana menyarankan agar sang kakak memiliki pendirian sendiri. Mematuhi perintah orang tua adalah kewajiban. Tetapi kalau perintah itu tidak selaras dengan ketentuan Sang Pencipta apakah harus tetap dijalankan?

Raden Narayana menyarankan lebih baik Raden Kakrasana pergi bertapa ke Gunung Rewataka, menyempurnakan ilmu dan menyerahkan diri kepada takdir Tuhan. Urusan jodoh dan rejeki kelak pasti akan terbuka jalan apabila Raden Kakrasana mau berusaha memperbaiki dirinya.

Raden Kakrasana menerima saran sang adik. Ia balik bertanya ke mana Raden Narayana akan pergi. Raden Narayana berkata bahwa tadi malam ia mimpi mendapat perintah dewa agar berziarah ke makam kakek dan neneknya, yaitu Prabu Kuntiboja dan Dewi Bandondari di Astana Gandamadana. Setelah berziarah, hendaknya Raden Narayana juga berguru kepada juru kunci astana, yaitu Kapi Jembawan. Raden Kakrasana heran mengapa Raden Narayana harus berguru kepada kera tua macam dia. Raden Narayana menjawab bahwa Kapi Jembawan bukan sekadar kera biasa, tetapi ia adalah mantan pengikut Prabu Sri Rama di zaman dahulu, dan juga penasihat Prabu Sugriwa, raja bangsa Wanara. Raden Narayana berpesan kepada Raden Kakrasana agar jangan mudah merendahkan orang lain hanya karena melihat wujud luarnya saja.

Demikianlah, Raden Kakrasasana dan Raden Narayana pun berpisah. Raden Kakrasana mengganti nama menjadi Wasi Jaladara dan berangkat menuju Gunung Rewataka bersama Dewi Bratajaya, sedangkan Raden Narayana berangkat menuju Astana Gandamadana bersama Arya Udawa.

ARYA GANDAMANA BERTANDING MELAWAN WASI BALAWA

Sementara itu, Arya Gandamana masih berdiri di gelanggang menunggu Raden Kakrasana yang tak kunjung kembali untuk melanjutkan pertandingan melawan dirinya. Bukannya pemuda bule yang muncul, tetapi empat orang pendeta yang tampak berjalan memasuki alun-alun Cempalareja menghadap Prabu Drupada.

Pendeta yang paling tua bernama Resi Domya, sedangkan tiga yang muda bernama Dwija Kangka, Wasi Balawa, dan Wasi Parta. Mereka memohon kepada Prabu Drupada agar diizinkan mengikuti sayembara memperebutkan Dewi Drupadi. Prabu Drupada tersinggung melihat ada kaum pendeta miskin berani melamar putrinya. Ia pun mengusir Resi Domya beserta ketiga muridnya itu dengan kasar.

Arya Gandamana sekilas dapat mengenali bahwa ketiga pendeta muda itu adalah para Pandawa yang sedang menyamar. Ia pun meminta Prabu Drupada agar bersabar dan jangan terburu nafsu menilai orang dari wujud luarnya. Siapa tahu ketiga pendeta ini memang dikirim dewata untuk memenangkan Dewi Drupadi. Mendengar itu, amarah Prabu Drupada reda dan ia pun mengizinkan mereka mengikuti sayembara. Namun demikian, dalam hati ia berharap mereka segera kalah dalam waktu singkat.

Arya Gandamana kemudian berkata kepada Wasi Balawa agar dia saja yang mengikuti sayembara tanding. Wasi Balawa segera naik ke atas gelanggang. Arya Gandamana pun berbisik bahwa ia sudah tahu kalau Wasi Balawa adalah penyamaran Raden Bratasena. Ia pun berkata bahwa dirinya akan bertanding pura-pura kalah supaya Dewi Drupadi bisa menjadi istri salah satu Pandawa. Wasi Balawa menolak dengan tegas. Ia tidak mau diperlakukan istimewa. Pertandingan ini haruslah dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan main-main.

Arya Gandamana bangga melihat sikap tegas keponakannya itu. Ia pun memulai pertandingan. Keduanya segera bertarung tanpa senjata. Prabu Drupada sekeluarga menonton dari jauh dan merasa kagum melihat ada seorang pendeta muda yang sanggup mengimbangi kekuatan Arya Gandamana.

Demikianlah, pertarungan antara Arya Gandamana dan Wasi Balawa berlangsung cukup lama. Hingga akhirnya Arya Gandamana lengah dan tubuhnya jatuh terkena tendangan Wasi Balawa. Arya Gandamana merasa malu dan segera mengerahkan Aji Bandung Bandawasa disertai Aji Blabak Pangantol-antol. Ketika lengah, Wasi Balawa pun tertangkap dan diapit menggunakan ketiak.

Wasi Balawa merasa sesak kehabisan napas. Ia merintih menyebut nama keluarganya satu persatu, mulai dari Ibu Kunti, kakak sulung, serta ketiga adiknya. Ia juga menyebut nama Bapak Pandu dan Ibu Madrim yang sudah berada di alam baka. Mendengar nama Prabu Pandu disebut, seketika perasaan Arya Gandamana menjadi sedih dan tubuhnya pun gemetar.

Merasa ada peluang, Wasi Balawa segera meronta sekuat tenaga. Tanpa sadar, Kuku Pancanaka di ibu jarinya pun memanjang dan menusuk dada Arya Gandamana hingga tembus ke punggung. Arya Gandamana pun roboh bersimbah darah.

ARYA GANDAMANA MEWARISKAN ILMUNYA

Wasi Balawa menangis memeluk Arya Gandamana sambil meminta maaf karena tidak sengaja telah melukai pamannya itu. Dwija Kangka dan Wasi Parta ikut mendekat menghampiri mereka, begitu pula dengan Prabu Drupada sekeluarga segera meninggalkan tempat duduk mereka masing-masing untuk melihat keadaan Arya Gandamana.

Arya Gandamana sama sekali tidak menyalahkan Wasi Balawa. Ia pun bercerita kepada Prabu Drupada bahwa dulu dirinya pernah bertemu dengan pendeta tua sakti bernama Resi Druwasa. Dalam pertemuan itu Resi Druwasa meramalkan bahwa suatu hari Arya Gandamana akan meninggal di tangan putra Prabu Pandu. Namun demikian, ia akan terlahir kembali sebagai putra dari putra Prabu Pandu tersebut. Hari ini ramalan itu menjadi kenyataan. Arya Gandamana pun mengumumkan bahwa Wasi Balawa adalah penyamaran Raden Bratasena, Dwija Kangka adalah penyamaran Raden Puntadewa, sedangkan Wasi Parta adalah penyamaran Raden Permadi.

Prabu Drupada tergetar hatinya melihat para Pandawa masih hidup dan selamat dari kebakaran di Kota Waranawata. Perasaannya sedih bercampur gembira, yaitu sedih karena Arya Gandamana sebentar lagi meninggal dunia dan gembira karena cita-citanya berbesan dengan mendiang Prabu Pandu dapat terlaksana.

Arya Gandamana sendiri merasa ajalnya sudah dekat. Ia lalu mengheningkan cipta dan memindahkan ilmu kesaktiannya, yaitu Aji Bandung Bandawasa dan Aji Blabak Pangantol-antol kepada Raden Bratasena. Setelah itu ia memindahkan kalung pusaka Robyong Mustikarawis kepada Raden Puntadewa. Apabila Raden Puntadewa meraba kalung tersebut, maka seketika ia akan berubah menjadi raksasa tinggi besar berwarna putih. Yang terakhir, Arya Gandamana memindahkan Aji Saipi Angin kepada Raden Permadi. Daya kekuatan ajian tersebut adalah membuat Raden Permadi bisa bergerak cepat melebihi kecepatan angin.

Arya Gandamana lalu berpesan bahwa kelak ia akan terlahir kembali ke dunia, menitis kepada putra Raden Bratasena. Setelah berkata demikian, ia pun meninggal dunia dengan senyum bahagia. Tubuhnya kemudian musnah bagaikan asap.

RADEN PERMADI MENUNTASKAN SAYEMBARA PANAH

Setelah Arya Gandamana meninggal, suasana menjadi hening. Tiba-tiba Raden Drestajumena berkata lantang bahwa ia tidak percaya kalau ketiga pendeta muda miskin di hadapannya adalah para Pandawa. Semasa hidupnya, Arya Gandamana selalu memuji-muji Prabu Pandu dan kelima putranya. Selain itu, Resi Druna juga selalu memuji nama Raden Arjuna Permadi sebagai pemanah terhebat di dunia. Raden Drestajumena risih mendengar pujian-pujian tersebut. Baginya, Raden Arjuna adalah musuh besar, karena pernah menangkap ayahnya dan menyebabkan Kerajaan Pancala terbelah menjadi dua.

Prabu Drupada melarang Raden Drestajumena membenci para Pandawa karena mereka hanya menjalankan tugas dari Resi Druna, guru mereka. Lagipula soal Kerajaan Pancala terbelah menjadi dua itu pun sudah suratan takdir karena ulah Prabu Drupada sendiri yang mengingkari janji persahabatan dengan Resi Druna.

Raden Drestajumena tetap kukuh pada pendiriannya. Ia masih belum percaya kalau ketiga pendeta muda itu adalah para Pandawa dan ia merasa khawatir jangan-jangan pamannya mewariskan ilmu kepada orang yang salah. Untuk membuktikannya, ia pun menantang Wasi Parta apakah sanggup menuntaskan sayembara panah yang ia gelar. Jika Wasi Parta bisa membuktikan bahwa dirinya adalah Raden Arjuna si pemanah jitu, barulah ia rela kakaknya diboyong para Pandawa.

Wasi Parta maju menerima tantangan Raden Drestajumena. Ia lalu menyembah hormat kepada Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, kemudian melangkah mendekati Busur Gandiwa. Dengan sikap santun penuh hormat, Wasi Parta menyembah busur pusaka tersebut tiga kali kemudian mengangkatnya. Raden Drestajumena heran melihat Wasi Parta sanggup mengangkat busur berat tersebut dengan mudah, seolah terasa ringan.

Wasi Parta lalu membidik sasaran berupa rambut yang diikat di ujung tiang dengan cara melihat cermin. Setelah yakin, ia pun melepaskan panah dan secepat kilat panah itu melesat mengenai sasaran. Panah itu kemudian jatuh di depan Raden Drestajumena, di mana pada ujungnya telah tertancap sehelai rambut milik Dewi Drupadi.

Raden Drestajumena kagum bukan kepalang. Ia menyaksikan sendiri bagaimana panah yang dilepaskan Wasi Parta memotong rambut yang diikat di atas tiang dan membawanya turun ke tanah tanpa terpisah. Dengan perasaan kagum ia pun menghormat kepada Wasi Parta dan mengakuinya sebagai Raden Permadi.

RADEN PUNTADEWA MENJADI CALON SUAMI DEWI DRUPADI

Sayembara meminang Dewi Drupadi dinyatakan usai. Prabu Drupada lalu bertanya siapa di antara Raden Bratasena dan Raden Permadi yang akan menjadi suami putrinya. Raden Permadi menjawab bahwa dirinya tidak akan menikah apabila kakak sulungnya belum menikah. Raden Bratasena juga menjawab demikian, bahwa ia mengikuti sayembara adalah untuk mencarikan istri Raden Puntadewa, kakak sulungnya. Mendengar itu, Raden Puntadewa menolak. Ia merasa Raden Bratasena dan Raden Permadi lebih berhak menikahi Dewi Drupadi karena merekalah yang telah memenangkan sayembara.

Pada saat itulah Dewi Kunti datang bersama si kembar serta panakawan Kyai Semar dan Nala Gareng. Prabu Drupada dan Dewi Gandawati segera memberi hormat kepada Dewi Kunti dan bersyukur karena janda Prabu Pandu itu masih sehat dan selamat dari kebakaran Balai Sigala-gala.

Dewi Kunti menasihati Raden Puntadewa agar menerima Dewi Drupadi sebagai istrinya. Dahulu ketika Prabu Drupada naik takhta di Kerajaan Pancala pernah berniat ingin berbesan dengan Prabu Pandu. Kini niat itu menjadi kenyataan. Dewi Drupadi adalah putri sulung Prabu Drupada, tentunya tepat jika menikah dengan putra sulung Prabu Pandu, yaitu Raden Puntadewa. Lagipula Raden Bratasena sudah menikah dengan Dewi Nagagini namun ia bersumpah tidak akan menyentuh istrinya selama sang kakak belum menikah. Jika Raden Puntadewa menolak menikah dengan Dewi Drupadi, maka Raden Bratasena tidak akan memiliki anak. Raden Bratasena pun membenarkan hal itu. Jika ia tidak memiliki anak, maka Paman Gandamana tidak akan lahir kembali ke dunia.

Raden Puntadewa masih keberatan. Ia menyarankan agar Raden Permadi saja yang menikahi Dewi Drupadi. Namun, Raden Permadi menolak karena ia pernah berjanji tidak akan menikah jika kedua kakaknya belum menikah. Raden Puntadewa tetap keberatan karena bukan dirinya yang memenangkan sayembara, sehingga ia merasa tidak berhak mengambil hadiahnya.

Dewi Kunti bercerita bahwa sayembara diwakili orang lain itu adalah hal yang wajar dalam tradisi para kesatria. Semasa muda Resiwara Bisma pernah memenangkan sayembara di Kerajaan Giyantipura mewakili Prabu Citrawirya, adiknya. Prabu Arjuna Sasrabahu raja Mahespati di zaman dulu juga pernah diwakili Bambang Sumantri saat memboyong Dewi Citrawati putri Magada. Begitu pula dengan Arya Ugrasena juga pernah mewakili Prabu Basudewa dalam memenangkan Dewi Dewaki.

Raden Puntadewa seorang yang berwatak lembut tapi teguh pendirian. Dewi Kunti menyadari hal itu. Ia pun bertanya apakah Raden Puntadewa sanggup menjadi anak yang berbakti kepada orang tua yang tinggal satu-satunya ini? Raden Puntadewa menjawab sanggup. Dewi Kunti lalu berkata bahwa seorang anak yang berbakti tentu menjalankan perintah orang tuanya tanpa membantah. Untuk itu, Dewi Kunti pun memerintahkan Raden Puntadewa agar menikah dengan Dewi Drupadi. Kali ini Raden Puntadewa tidak dapat membantah lagi. Ia akhirnya menurut dan menyatakan bersedia memenuhi perintah tersebut.

Prabu Drupada lega mendengarnya. Ia pun memerintahkan Dewi Drupadi untuk mengalungkan rangkaian bunga ke leher Raden Puntadewa. Dewi Drupadi mematuhi. Tadi ketika menyaksikan Raden Permadi berhasil menuntaskan sayembara panah, Dewi Drupadi hanya merasa kagum tetapi dalam hati tidak yakin kalau pemuda itu yang akan menjadi jodohnya. Entah mengapa hatinya justru lebih tertarik kepada Raden Puntadewa yang berdiri tenang di pinggir gelanggang. Tak disangka, sulung para Pandawa itulah yang kini menjadi calon suaminya.

PARA KURAWA HENDAK MEREBUT DEWI DRUPADI

Sementara itu, Raden Kurupati dan para Kurawa lainnya belum pulang ke Hastina setelah tadi mereka kalah melawan Arya Gandamana. Raden Kurupati merasa malu jika pulang dengan tangan hampa. Ketika terdengar kabar bahwa Arya Gandamana telah meninggal dan kini Dewi Drupadi menjadi istri seorang pendeta muda, hatinya bertambah kesal. Ia pun mengajak adik-adiknya untuk menyerang Kerajaan Cempalareja dan merebut Dewi Drupadi.

Raden Bratasena yang masih menyamar sebagai Wasi Balawa segera menghadapi serangan para Kurawa itu. Ia mencabut tiang bekas peralatan sayembara untuk digunakan sebagai senjata. Para Kurawa kocar-kacir terkena pukulan tiang di tangan Wasi Balawa itu. Mereka pun kabur melarikan diri, kembali ke Kerajaan Hastina.

DEWI KUNTI DAN PARA PANDAWA MEMBUKA PENYAMARAN

Pada hari yang ditentukan diadakanlah upacara pernikahan antara Raden Puntadewa dan Dewi Drupadi. Pada hari itu, Dewi Kunti tidak lagi menyamar sebagai pendeta wanita bernama Nyai Rini, tetapi sudah memakai pakaian ratu janda. Begitu pula dengan para Pandawa juga sudah mencukur kumis dan janggut mereka dan kini mengenakan busana pangeran.

Setelah upacara selesai, Prabu Drupada meminta Dewi Kunti dan para Pandawa untuk tetap tinggal di Kerajaan Cempalareja daripada pulang ke Hastina. Dewi Kunti bersedia namun untuk sementara saja. Apabila waktunya tiba, mereka akan mohon diri memboyong Dewi Drupadi ke Gunung Saptaarga, menghadap Bagawan Abyasa.

Prabu Drupada memaklumi hal itu. Kelak jika Dewi Kunti dan para Pandawa berpamitan, ia berjanji akan menyerahkan Busur Gandiwa sebagai kenang-kenangan. Busur Gandiwa ini tentunya akan lebih berguna jika berada di tangan Raden Permadi, daripada disimpan begitu saja dalam istana Cempalareja. Lagipula Raden Permadi telah memenangkan sayembara memanah tetapi tidak mengambil hadiahnya. Maka, Busur Gandiwa boleh menjadi hadiah pengganti sekaligus sebagai tanda persahabatan antara Prabu Drupada dengan ahli waris Prabu Pandu. Raden Permadi berterima kasih atas kebaikan Prabu Drupada. Ia pun berjanji akan menggunakan Busur Gandiwa dengan sebaik-baiknya, jika kelak benar menjadi miliknya.

Arya Gandamana

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Kisah sayembara memanah dan gugurnya Arya Gandamana menurut Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam Serat Pustakaraja Purwa terjadi pada tahun Suryasengakala 693 yang ditandai dengan sengkalan “Gunaning Rudra angebahaken wiyat”, atau tahun Candrasengkala 714 yang ditandai dengan sengkalan “Janma kaswareng barakan”.











Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Kangsa Adu Jago

 No comments   



Kisah ini menceritakan Adipati Kangsa merebut takhta Kerajaan Mandura dan mengadakan pertandingan Adu Jago manusia, yang berakhir dengan kematiannya di tangan Kakrasana dan Narayana. Juga diceritakan awal mula Kakrasana dan Narayana mendapatkan senjata pusaka dari kahyangan, antara lain Nanggala dan Cakra.

Kisah ini saya olah dari sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang dipadukan dengan kitab Mahabharata karya Resi Wyasa, serta rekaman pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Hari Bawono, dengan sedikit pengembangan seperlunya.

Kediri, 11 September 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Prabu Kangsadewa

ADIPATI KANGSA MEMBERONTAK KEPADA PRABU BASUDEWA

Prabu Basudewa di Kerajaan Mandura memimpin pertemuan yang dihadiri kedua adiknya, yaitu Aryaprabu Rukma dari Kumbina dan Arya Ugrasena dari Lesanpura, serta para menteri dan punggawa yang dikepalai Patih Saragupita. Mereka membahas tindak-tanduk Adipati Kangsa yang makin hari makin mencurigakan, seolah hendak menciptakan permusuhan. Aryaprabu Rukma mengingatkan bahwa bagaimanapun juga Adipati Kangsa bukanlah putra kandung Prabu Basudewa, melainkan putra hasil perselingkuhan Dewi Mahera dengan Prabu Gorawangsa raja Guagra, sehingga sangat mungkin apabila ia melakukan pemberontakan demi membalas kematian ayah dan ibunya.

Tiba-tiba orang yang sedang mereka bicarakan, yaitu Adipati Kangsa, hadir dalam pertemuan itu. Ia datang untuk meminta izin kepada Prabu Basudewa agar diperbolehkan menyerang Desa Widarakandang. Menurut laporan para teliksandi, di desa tersebut ada seorang pemuda berkulit bule bernama Kakrasana anak Buyut Antyagopa, yang berani menanam pohon beringin kurung kembar di halaman rumah orang tuanya dan membangun tembok menyerupai benteng. Selain itu, dia juga memelihara gajah seperti layaknya seorang raja. Adipati Kangsa menyebut ini adalah tindakan makar dan harus mendapat hukuman berat.

Prabu Basudewa tidak setuju apabila Adipati Kangsa menyerang Desa Widarakandang. Untuk mengatasi hal ini cukup dengan mengirim Patih Saragupita ke sana supaya memberikan teguran kepada pemuda bernama Kakrasana itu. Adipati Kangsa menjawab bahwa ia sebenarnya sudah tahu kalau Kakrasana adalah putra kandung Prabu Basudewa yang disembunyikan di Desa Widarakandang. Selain Kakrasana si bule, masih ada adik-adiknya yang bernama Narayana dan Rara Ireng pula. Itulah sebabnya Prabu Basudewa menolak memberikan izin untuk menyerang Desa Widarakandang.

Adipati Kangsa lalu berkata, jika dirinya tidak diizinkan menyerang Desa Widarakandang, maka lebih baik menyerang Kerajaan Mandura saja. Prabu Basudewa terkejut mendengar tantangan tersebut. Sementara itu, Arya Ugrasena yang sudah memuncak amarahnya segera melabrak Adipati Kangsa keluar istana.

ADIPATI KANGSA MEMENJARAKAN PRABU BASUDEWA DAN ARYA UGRASENA

Sesampainya di luar istana, Arya Ugrasena melihat Adipati Kangsa dan Patih Suratimantra telah bersiaga dengan membawa pasukan yang sangat besar. Ia heran mengapa Kadipaten Sengkapura memiliki prajurit sedemikian banyaknya. Andaikan digabung dengan prajurit Guagra pun jumlahnya tetap tidak mungkin sebanyak itu.

Tidak lama kemudian terdengar suara Adipati Kangsa memberi aba-aba kepada pasukannya untuk menyerang. Arya Ugrasena dan Patih Saragupita mengerahkan pasukan untuk menghadapinya. Pertempuran pun meletus di antara kedua pihak. Prabu Basudewa dan Aryaprabu Rukma ikut terjun pula ke medan tempur. Mereka sama sekali tidak siap menghadapi pemberontakan Adipati Kangsa yang serbamendadak ini.

Adipati Kangsa bersenjatakan sebuah gada besar pemberian gurunya, yaitu Resi Anggawangsa. Gada besar tersebut bernama Lohitamuka yang diayun-ayunkan ke sana kemari, menewaskan banyak punggawa Mandura. Adipati Kangsa lalu memukulkan gada besar tersebut kepada Arya Ugrasena dan Prabu Basudewa. Namun, pukulan ini tidaklah keras, sehingga mereka berdua tidak tewas, melainkan hanya jatuh terguling di atas tanah.

Sementara itu, Patih Suratimantra juga berhasil menangkap Aryaprabu Rukma dan Patih Saragupita. Melihat para pemimpin mereka tertawan, pasukan Mandura menjadi kocar-kacir dan banyak yang menyerah takluk kepada pihak Sengkapura.

ADIPATI KANGSA MEMASUKKAN PRABU BASUDEWA DAN ARYA UGRASENA KE DALAM PENJARA

Adipati Kangsa kini berkuasa atas Kerajaan Mandura, dan mengganti gelarnya menjadi Prabu Kangsadewa. Ia mengumumkan bahwa tujuh hari lagi akan menggelar pertunjukan adu jago di alun-alun ibu kota. Namun, jago yang bertanding bukan berwujud ayam, melainkan berwujud manusia. Dalam acara tersebut, kedua pemuda dari Desa Widarakandang, yaitu Kakrasana dan Narayana harus bertanding melawan jago-jago raksasa dari Kadipaten Sengkapura. Prabu Basudewa mau tidak mau harus tega menyaksikan anak-anaknya itu mati mengenaskan di atas panggung. Apabila kedua pemuda tersebut tidak hadir, maka Prabu Basudewa yang harus disembelih di hadapan rakyatnya sendiri.

Prabu Basudewa sangat marah dan meminta Prabu Kangsadewa agar menyembelih dirinya saat ini juga. Namun, Prabu Kangsadewa menolak karena itu terlalu enak untuk Prabu Basudewa. Bagaimanapun juga Prabu Basudewa telah membuang ibunya, yaitu Dewi Mahera di tengah hutan. Oleh sebab itu, Prabu Basudewa harus merasakan sakitnya hidup dalam penjara selama tujuh hari tujuh malam sebagai balasan. Tentunya ini lebih menyiksa daripada langsung dibunuh sekarang. Prabu Kangsadewa juga mengikat tangan Prabu Basudewa dengan rantai untuk mencegahnya agar tidak bunuh diri di dalam penjara.

Mendengar niat jahat tersebut, Arya Ugrasena memaki Prabu Kangsadewa sebagai anak kurang ajar dan tidak tahu diri. Ia juga menyesal telah menjadikan Prabu Kangsadewa sebagai anak angkat. Mulai saat ini ia tidak rela lagi jika Adipati Kangsa memanggilnya sebagai ayah.

Prabu Kangsadewa menjawab bahwa dirinya memang sudah tidak sudi lagi memanggil “ayah” kepada Prabu Basudewa dan “ayah angkat” kepada Arya Ugrasena, karena sudah sejak lama ia tahu bahwa ayah kandungnya yang asli bernama Prabu Gorawangsa dari Kerajaan Guagra. Namun, karena Arya Ugrasena selama ini telah bersikap baik kepadanya, maka Prabu Kangsadewa mengizinkan kesatria dari Lesanpura itu untuk menemani Prabu Basudewa tinggal di dalam penjara. Selain itu, kedua tangan Arya Ugrasena juga harus diikat dengan rantai seperti Prabu Basudewa.

Mengenai Aryaprabu Rukma yang dulu telah membunuh Prabu Gorawangsa, seharusnya mendapat hukuman paling berat dari Prabu Kangsadewa. Namun demikian, Prabu Kangsadewa tetap berterima kasih kepadanya karena dulu tidak membunuh Dewi Mahera. Saat itu Prabu Basudewa memerintahkan Aryaprabu Rukma agar membunuh Dewi Mahera yang baru saja disetubuhi Prabu Gorawangsa. Akan tetapi, Aryaprabu Rukma tidak tega dan hanya meninggalkan Dewi Mahera di tengah hutan. Andai saja dulu Aryaprabu Rukma bersedia membunuh Dewi Mahera, sudah pasti Prabu Kangsadewa tidak akan pernah lahir ke dunia.

Mengingat jasa Aryaprabu Rukma tersebut, Prabu Kangsadewa tidak memenjarakannya, tetapi memerintahkan ia untuk pergi ke Desa Widarakandang menjemput Kakrasana dan Narayana, agar tujuh hari lagi bisa bertanding di alun-alun ibu kota Mandura. Aryaprabu Rukma menerima tugas tersebut sambil pikirannya mencari akal agar bisa lolos. Bagaimanapun juga ia yakin Prabu Kangsadewa cepat atau lambat pasti akan membunuhnya demi membalaskan kematian Prabu Gorawangsa. Aryaprabu Rukma lalu berangkat ke Widarakandang dengan dikawal pasukan raksasa yang dipimpin Ditya Kalanasura. Selain itu, Ditya Kalanasura juga diperintahkan untuk membawa Rara Ireng ke istana agar bisa dikawini Prabu Kangsadewa. Mendengar itu, Prabu Basudewa semakin marah dan mengutuk Prabu Kangsadewa agar segera mendapat hukuman dari Yang Mahakuasa.

PRABU KANGSADEWA BERTERIMA KASIH KEPADA PRABU JARASANDA

Setelah memasukkan Prabu Basudewa dan Arya Ugrasena ke dalam penjara, Prabu Kangsadewa pergi ke pinggiran ibu kota Mandura untuk menemui sahabatnya, yaitu Prabu Jarasanda raja Magada yang menunggu di perkemahan. Dalam pertemuan itu, Prabu Kangsadewa berterima kasih atas segala bantuan Prabu Jarasanda sehingga dirinya berhasil menaklukkan Kerajaan Mandura.

Demikianlah, orang yang telah menyusun dan mengatur pemberontakan Prabu Kangsadewa ini tidak lain adalah Prabu Jarasanda tersebut. Namun demikian, Prabu Jarasanda tidak bersedia ikut berperang karena dirinya dulu pernah dikalahkan Prabu Pandu dan dipaksa bersumpah untuk tidak akan mengganggu Kerajaan Hastina. Bagaimanapun juga Kerajaan Mandura adalah sekutu Kerajaan Hastina, sehingga Prabu Jarasanda tidak berani menampakkan dirinya bersama Prabu Kangsadewa, melainkan hanya bermain di balik layar. Tidak hanya itu, ia juga meminjamkan pasukan Magada untuk membantu pemberontakan Prabu Kangsadewa, tetapi mengenakan seragam prajurit Sengkapura.

Kini, Prabu Kangsadewa telah menduduki takhta Kerajaan Mandura. Prabu Jarasanda mengucapkan selamat kepada sahabatnya itu, lalu ia pun mohon pamit pulang ke Giribajra, ibu kota Kerajaan Magada.

ARYAPRABU RUKMA MENEMUI BUYUT ANTYAGOPA DAN NYAI SAGOPI

Sementera itu di Desa Widarakandang, Buyut Antyagopa bersama Nyai Sagopi sedang membahas kelima anak mereka, yaitu Udawa, Kakrasana, Narayana, Rara Ireng, dan Rara Sati. Kelima anak tersebut memiliki perilaku yang berbeda-beda. Narayana gemar berkelana dengan ditemani Udawa. Setiap kali pulang ke rumah selalu saja ia berceramah menasihati ayahnya sendiri seperti layaknya orang tua. Adapun anak nomor dua, yaitu Kakrasana rajin bekerja di sawah, berangkat pagi pulang petang. Ia seorang pemuda yang rajin bekerja tetapi mudah marah. Yang paling aneh adalah Kakrasana menanam pohon beringin kurung kembar di halaman rumah seperti layaknya alun-alun, membangun tembok seperti benteng, serta memelihara gajah. Jika hal ini sampai terdengar oleh Prabu Basudewa, tentu Buyut Antyagopa akan mendapat peringatan keras. Sementara itu, Rara Ireng menjadi kembang desa, sering menyebabkan para pemuda saling berkelahi memperebutkan dirinya. Adapun si bungsu Rara Sati gemar menunggang kuda seperti laki-laki, tidak peduli jadi bahan pembicaraan tetangga.

Tidak lama kemudian datanglah Aryaprabu Rukma yang dikawal Ditya Kalanasura dan pasukannya. Buyut Antyagopa dan Nyai Sagopi menyambut kedatangan mereka dengan penuh hormat. Aryaprabu Rukma menyampaikan undangan Prabu Kangsadewa kepada Kakrasana dan Narayana agar hadir ke istana Mandura untuk mengikuti pertandingan Adu Jago yang akan digelar tujuh hari lagi. Ia juga menyampaikan niat Prabu Kangsadewa yang ingin mengambil Rara Ireng sebagai istri.

Aryaprabu Rukma kemudian bertanya di manakah Kakrasana dan Narayana saat ini berada. Buyut Antyagopa menjawab bahwa Narayana masih berkelana, sedangkan Kakrasana ada di sawah. Jika ingin Kakrasana datang, maka Aryaprabu Rukma hendaknya pura-pura memukuli Buyut Antyagopa.

Aryaprabu Rukma menuruti saran tersebut. Ia pun pura-pura marah menuduh Buyut Antyagopa berbuat makar karena berani menanam pohon beringin kurung kembar, membangun benteng, dan memelihara gajah, sehingga meniru istana Mandura. Ia lalu memukuli orang tua itu sambil memaki-maki. Tiba-tiba saja muncul seorang pemuda bule melabrak Aryaprabu Rukma. Pemuda bule itu tidak lain adalah Kakrasana yang marah-marah karena ayahnya dipukuli.

Ditya Kalanasura segera memerintahkan pasukannya untuk menangkap Kakrasana. Pertempuran pun terjadi. Meskipun seorang pemuda desa, namun Kakrasana memiliki bakat kesaktian sejak lahir. Dengan cekatan ia mampu menghadapi para prajurit raksasa tersebut. Suasana yang berubah kacau ini dimanfaatkan oleh Aryaprabu Rukma untuk meloloskan diri. Sementara itu, Buyut Antyagopa sempat menyuruh Nyai Sagopi agar pergi menyelamatkan Rara Ireng dan Rara Sati.

Ditya Kalanasura ngeri melihat ketangkasan Kakrasana dalam menghadapi pasukannya. Ia pun menangkap Buyut Anytagopa sebagai sandera untuk memaksa Kakrasana agar menyerah dan menurut dibawa ke istana Mandura. Namun, Buyut Antyagopa tidak takut mati. Ia justru menusuk dadanya sendiri menggunakan keris.

Kakrasana sangat terkejut melihat ayahnya roboh berlumur darah. Hatinya marah bercampur sedih. Buyut Antyagopa dengan sisa-sisa tenaga memintanya pergi mencari pusaka kahyangan untuk melawan Prabu Kangsadewa tujuh hari lagi. Meskipun Kakrasana memiliki bakat kesaktian sejak lahir, namun itu tidak cukup untuk mengalahkan Prabu Kangsadewa beserta seluruh pasukannya. Setelah berkata demikian, Buyut Antyagopa pun meninggal dunia. Kakrasana segera melesat pergi memenuhi wasiat terakhir ayahnya itu.  

Ditya Kalanasura memerintahkan sebagian prajurit raksasa untuk mengejar Kakrasana dan sebagian lagi untuk mencari Aryaprabu Rukma. Ia sendiri mencari Rara Ireng yang telah kabur bersama Nyai Sagopi dan Rara Sati.

NARAYANA MENDAPAT PUSAKA DARI RESI PADMANABA

Narayana, si pemuda berkulit hitam saat itu sedang berguru kepada Resi Padmanaba di Padepokan Utarayana. Setelah semua ilmu tuntas diberikan, Resi Padmanaba pun berniat memberikan tiga jenis pusaka kepada muridnya itu. Pusaka yang pertama berwujud cakram, bernama Cakra Sudarsana. Barangsiapa terkena senjata ini pasti akan tewas meskipun ia seorang yang sangat sakti. Namun demikian, senjata ini hanya bisa digunakan untuk membunuh manusia yang berdosa saja. Resi Padmanaba lalu menanam Cakra Sudarsana di dada Narayana. Jika ingin menggunakannya, Narayana tinggal mengusap dadanya sambil mengheningkan cipta, maka senjata tersebut akan keluar melalui tangan.

Senjata yang kedua berupa bunga ajaib, bernama Kembang Wijayakusuma. Kegunaan bunga ini adalah untuk menghidupkan orang yang sudah mati. Namun demikian, Narayana tidak boleh sembarangan dalam menggunakannya. Jika orang yang mati itu dianggap belum menyelesaikan tugas-tugasnya di dunia, maka dia boleh untuk dihidupkan kembali. Tetapi, jika orang itu dirasa sudah layak untuk kembali ke alam baka, maka Narayana sama sekali tidak boleh untuk menghidupkannya kembali. Narayana mematuhi pesan tersebut. Resi Padmanaba lalu menanam bunga ajaib itu ke dalam ubun-ubun muridnya. Jika Narayana ingin menggunakannya, maka tinggal mengusap rambut sambil mengheningkan cipta, maka Kembang Wijayakusuma akan keluar melalui mulut.

Senjata yang ketiga berupa panah yang berukuran sangat kecil, setara dengan sehelai rambut. Senjata tersebut bernama Panah Kesawa. Kegunaannya adalah untuk mengerahkan Aji Balasrewu. Resi Padmanaba menanam Panah Kesawa itu di punggung Narayana. Dalam keadaan terdesak, Narayana boleh meraba punggungnya sambil mengheningkan cipta, maka dalam sekejap dirinya pasti akan berubah menjadi raksasa tinggi besar.

Demikianlah, Resi Padmanaba telah memberikan tiga jenis senjata pusaka kepada Narayana. Ia lalu bercerita bahwa sejatinya Narayana bukan anak kandung Buyut Antyagopa dan Nyai Sagopi, melainkan putra Prabu Basudewa raja Mandura. Konon Prabu Basudewa memiliki empat orang istri. Istri pertama bernama Dewi Mahera yang dibuang ke hutan karena disetubuhi Prabu Gorawangsa raja Guagra, hingga melahirkan Adipati Kangsa. Istri kedua bernama Dewi Rohini, melahirkan Kakrasana. Istri ketiga bernama Dewi Dewaki, melahirkan Narayana. Adapun Dewi Dewaki meninggal setelah melahirkan, sehingga Narayana sewaktu bayi disusui oleh Dewi Rohini. Sementara itu, istri keempat Prabu Basudewa bernama Dewi Badraini, melahirkan Dewi Sumbadra, alias Rara Ireng.

Narayana terkejut mengetahui siapa ia yang sebenarnya. Resi Padmanaba kemudian bercerita tentang asal-usulnya yang merupakan keturunan Batara Wisnu. Adapun Batara Wisnu kini telah lahir ke dunia sebagai Narayana dan Raden Arjuna (Permadi). Sebelum menitis, Batara Wisnu sempat menitipkan pusaka Cakra Sudarsana, Kembang Wijayakusuma, dan Panah Kesawa kepada Resi Padmanaba agar kelak diberikan kepada Narayana setelah dewasa. Kini tugas tersebut telah dilaksanakan. Resi Padmanaba pun berniat meninggalkan dunia fana dan meminta agar Narayana yang mengantarkan kepergian rohnya.

Narayana mematuhi wasiat sang guru. Ia lalu bersamadi mengheningkan cipta. Dari dahinya memancar setitik api yang kemudian membakar tubuh Resi Padmanaba menjadi abu. Roh Resi Padmanaba pun melesat ke angkasa, kembali ke alam baka.

Narayana lalu mengajak Udawa yang sejak tadi menunggu di luar untuk pergi meninggalkan padepokan. Sepeninggal mereka berdua, Padepokan Utarayana menjadi sepi tidak berpenghuni. Warga sekitar padepokan menduga-duga bahwa Resi Padmanaba telah meninggal dunia karena dibunuh muridnya sendiri yang bernama Narayana.

KAKRASANA MENERIMA PUSAKA DARI BATARA BRAHMA

Sementara itu, Kakrasana si pemuda berkulit bule telah berhasil menumpas habis para raksasa Sengkapura yang mengejarnya. Sesuai wasiat Buyut Antyagopa sebelum meninggal, ia pun pergi bertapa di puncak Gunung Rewataka. Setelah tujuh hari berlalu, tiba-tiba turun seorang dewa dari angkasa, yaitu Batara Brahma yang membangunkan Kakrasana agar mengakhiri pertapaannya. Kakrasana pun membuka mata dan menyembah penuh hormat kepada dewa tersebut.

Batara Brahma menyampaikan pesan dari Batara Guru bahwa dewata telah berkenan menerima pertapaan Kakrasana. Sebagai anugerah, Kakrasana mendapat tiga jenis pusaka. Pusaka yang pertama berwujud seperti bajak sawah, bernama Nanggala. Barang siapa terkena senjata ini pasti akan terbakar tubuhnya menjadi arang. Batara Brahma lalu menanam Senjata Nanggala tersebut di tangan kanan Kakrasana.

Pusaka yang kedua berwujud seperti alu penumbuk padi, bernama Gada Alugora. Pusaka tersebut ditanam di ubun-ubun Kakrasana. Sejak saat itu Kakrasana mendapat julukan baru, yaitu Halayuda, yang artinya “berperang menggunakan alu”.

Pusaka yang ketiga berupa ilmu kesaktian, bernama Aji Balarama. Dengan memiliki ajian ini, maka Kakrasana akan memiliki daya tahan setara dengan para dewa. Ia menjadi orang yang tahan lapar, tahan kantuk, dan tidak mudah letih. Meskipun bertempur melawan banyak orang, ia tidak akan pernah kehabisan tenaga. Kakrasana kuat tidak makan selama berhari-hari dan mampu menyerap panas matahari sebagai tenaga tubuhnya.

Setelah menyerahkan ketiga pusaka tersebut, Batara Brahma pun menjelaskan asal-usul Kakrasana, yang sebenarnya adalah putra Prabu Basudewa, sama seperti Narayana dan Rara Ireng. Adapun Prabu Basudewa saat ini sedang disekap oleh Prabu Kangsadewa di dalam penjara. Maka, Batara Brahma memerintahkan Kakrasana agar pergi ke ibu kota Mandura untuk membebaskannya. Setelah berpesan demikian, Batara Brahma lalu terbang kembali ke kahyangan.

RARA IRENG BERTEMU WASI PARTA

Sementara itu, Rara Ireng berhasil menyelamatkan diri bersama Nyai Sagopi dan Rara Sati. Mereka bertiga berboncengan naik kuda yang dikendalikan oleh Rara Sati. Ditya Kalanasura tidak putus asa mengejar mereka bertiga. Ketika hampir tertangkap, Rara Ireng berhasil merayu Ditya Kalanasura menggunakan ilmu gendam pengasihan seperti yang pernah diajarkan Narayana kepadanya. Karena terkena pengaruh ilmu tersebut, Ditya Kalanasura menjadi lupa diri dan ia pun jatuh cinta kepada Rara Ireng. Melihat pohon seperti gadis itu dan ia pun merayunya seperti orang gila. Kesempatan ini segera dimanfaatkan Rara Sati untuk memacu kembali kudanya, membawa pergi Nyai Sagopi dan Rara Ireng.

Setelah Rara Ireng pergi, pengaruh ilmu gendam menjadi luntur. Kesadaran Ditya Kalanasura kembali dan ia pun bergegas mengejar. Demikianlah seterusnya, selalu terjadi kejar-kejaran antara mereka hingga tujuh hari pun terlewati.

Pada hari ketujuh tersebut, kuda yang dikendarai Rara Sati hampir saja menabrak seorang pendeta muda berparas tampan dan berwajah berewok, yang diiringi empat orang panakawan. Pendeta tampan tersebut tidak lain adalah Raden Permadi yang sedang dalam penyamaran memakai nama Wasi Parta, sedangkan keempat panakawan adalah Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong.

Tidak lama kemudian, Ditya Kalanasura muncul mengejar Rara Ireng. Tanpa banyak bicara, Wasi Parta segera maju menghadapi raksasa tersebut untuk melindungi ketiga perempuan yang sedang dikejar-kejar itu. Maka, terjadilah pertarungan sengit di antara mereka. Kesempatan ini segera dimanfaatkan Rara Sati untuk kembali memacu kuda meloloskan diri dari Ditya Kalanasura.

WASI PARTA MATI DAN HIDUP KEMBALI

Belum jauh Rara Sati memacu kudanya, tiba-tiba di tengah jalan tampak Kakrasana sedang berjalan kaki. Rara Sati, Rara Ireng, dan Nyai Sagopi segera turun dari kuda dan menangis haru di hadapan pemuda bule tersebut. Demikian pula dengan Kakrasana juga sangat bersyukur bisa bertemu lagi dengan mereka. Rara Ireng lalu bercerita bahwa selama tujuh hari ini dirinya dikejar-kejar oleh orang yang hendak menangkapnya. Tidak lama kemudian, Wasi Parta muncul setelah dirinya berhasil menewaskan Ditya Kalanasura. Tanpa pikir panjang, Kakrasana langsung memukulnya menggunakan Gada Alugora. Karena dipukul secara mendadak, Wasi Parta tidak sempat melawan sehingga ia pun jatuh tersungkur dan kehilangan nyawa.

Rara Ireng, Rara Sati, dan Nyai Sagopi menjerit keras melihat Kakrasana membunuh pendeta muda itu. Rara Ireng menjelaskan bahwa Wasi Parta bukan orang yang mengejar-ngejar dirinya, melainkan justru telah menolongnya menghadapi si pengejar itu. Kakrasana menyesal telah terburu nafsu. Ia merasa berdosa karena membunuh orang yang justru berusaha melindungi adiknya.

Sungguh kebetulan, tiba-tiba muncul pula Narayana dan Udawa. Nyai Sagopi dan yang lain terharu bahagia karena kini mereka satu keluarga bisa berkumpul kembali, kecuali Buyut Antyagopa. Narayana menjelaskan bahwa Buyut Antyagopa sudah meninggal dunia. Setelah turun dari Gunung Utarayana, ia dan Udawa pulang ke Desa Widarakandang dan mendapati Buyut Antyagopa sudah tidak bernyawa dan di sekitarnya banyak dijumpai mayat para prajurit Sengkapura. Kakrasana menjelaskan bahwa dirinya memang melihat sendiri Buyut Antyagopa memilih bunuh diri daripada menjadi tawanan Ditya Kalanasura. Namun, ia tidak sempat menguburkan jasad ayah asuhnya itu karena dikejar-kejar oleh para prajurit Sengkapura. Nyai Sagopi, Rara Ireng, dan Rara Sati menangis mendengar nasib yang menimpa Buyut Antyagopa tersebut.

Rara Ireng lalu bercerita bahwa Kakrasana baru saja membunuh Wasi Parta, padahal Wasi Parta telah menolongnya dari kejaran Ditya Kalanasura. Narayana segera mengheningkan cipta dan mengeluarkan Kembang Wijayakusuma. Begitu bunga pusaka tersebut diletakkan di atas kepala Wasi Parta, seketika pendeta muda itu pun hidup kembali seperti bangun dari tidur. Luka di kepalanya akibat pukulan Gada Alugora seketika tertutup dan tidak lagi mengeluarkan darah.

Kakrasana dan yang lain takjub melihat keampuhan Kembang Wijayakusuma yang bisa menghidupkan orang mati. Kakrasana lalu meminta maaf karena dirinya terburu nafsu mengira Wasi Parta adalah orang yang telah mengejar-ngejar Rara Ireng. Narayana yang kini menguasai ilmu kawaskitan pemberian Resi Padmanaba dapat mengetahui bahwa Wasi Parta tidak lain adalah Raden Permadi, Pandawa nomor tiga, putra Dewi Kunti yang sedang menyamar. Narayana menjelaskan pula bahwa Resi Padmanaba telah bercerita bahwa dirinya bukan anak kandung Buyut Antyagopa dan Nyai Sagopi, melainkan putra Prabu Basudewa di Kerajaan Mandura. Kakrasana juga mengetahui hal itu dari Batara Brahma. Karena Prabu Basudewa adalah kakak kandung Dewi Kunti, itu berarti Raden Permadi adalah sepupu Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng. Nyai Sagopi pun membenarkan hal itu.

Kakrasana bercerita pula bahwa dirinya baru saja turun dari Gunung Rewataka dan kini hendak menuju Kerajaan Mandura untuk membebaskan Prabu Basudewa dari cengkeraman Prabu Kangsadewa. Narayana dan Udawa pun berniat demikian. Kabarnya hari ini Prabu Kangsadewa hendak mengadakan pertunjukan Adu Jago di alun-alun ibu kota. Dalam pertunjukan itu, Prabu Basudewa rencananya akan dibunuh di depan rakyatnya sendiri. Oleh sebab itu, Kakrasana dan Narayana pun berangkat lebih dulu sebelum terlambat, sedangkan Nyai Sagopi, Rara Ireng, dan Rara Sati berjalan di belakang bersama Raden Permadi, Udawa, dan para panakawan.

ARYAPRABU RUKMA MENDAPAT BANTUAN RADEN BRATASENA

Sementara itu, Aryaprabu Rukma yang berhasil meloloskan diri dari Desa Widarakandang selama tujuh hari ini bersembunyi di Gunung Saptaarga, meminta perlindungan Bagawan Abyasa. Hari itu datang pula Raden Bratasena (yang menyamar sebagai Wasi Balawa) mengunjungi sang kakek dan bercerita tentang perbuatan para Kurawa dan Patih Sangkuni yang telah membakar Balai Sigala-gala. Raden Bratasena mengabarkan bahwa ibu dan saudara-saudaranya kini masih hidup dan sedang menyamar sebagai para pendeta. Bagawan Abyasa bersyukur mendengar kelima cucu dan menantunya selamat dari peristiwa kebakaran tersebut.

Raden Bratasena lalu bercerita bahwa kedatangannya ke Gunung Saptaarga adalah untuk meminta petunjuk tentang keberadaan adiknya, yaitu Raden Permadi yang pergi tanpa pamit. Awal mulanya, Dewi Kunti memerintahkan Raden Bratasena dan Raden Permadi berpencar mencari makanan untuk si kembar. Keduanya masing-masing kembali dengan membawa tumpeng lengkap dengan lauknya. Namun, Dewi Kunti memilih tumpeng yang dibawa Raden Bratasena karena diperoleh dari hasil mengadu nyawa, sedangkan tumpeng yang dibawa Raden Permadi ditolak karena diperoleh dari hasil menggoda istri orang. Sejak kejadian itu Raden Permadi menjadi murung dan akhirnya pergi berkelana tanpa pamit bersama para panakawan.

Bagawan Abyasa memberikan petunjuk bahwa Raden Bratasena bisa bertemu dengan adiknya itu apabila ia mau membantu Aryaprabu Rukma menyelamatkan Prabu Basudewa. Raden Bratasena menyatakan bersedia. Bagawan Abyasa pun memperkenalkannya dengan Aryaprabu Rukma yang tidak lain adalah adik Dewi Kunti atau pamannya sendiri. Aryaprabu Rukma sangat senang bisa berjumpa dengan keponakannya itu. Mereka lalu mohon pamit berangkat bersama menuju Kerajaan Mandura.

WASI BALAWA MENANTANG PATIH SURATIMANTRA

Di alun-alun ibu kota Mandura kini telah berdiri sebuah panggung besar. Segenap rakyat Mandura pun berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan Adu Jago yang akan digelar di hari itu. Prabu Kangsadewa berdiri di atas panggung bersama Prabu Basudewa dan Arya Ugrasena yang masih terikat rantai. Prabu Kangsadewa mengumumkan bahwa hari ini Patih Suratimantra akan bertindak sebagai jago menghadapi pemuda berkulit bule dan hitam bernama Kakrasana dan Narayana dari Desa Widarakandang. Apabila kedua pemuda itu tidak muncul, maka Prabu Basudewa dan Arya Ugrasena akan disembelih di hadapan banyak orang.

Tiba-tiba datanglah Aryaprabu Rukma dan Wasi Balawa (nama samaran Raden Bratasena) yang langsung naik ke atas panggung. Aryaprabu Rukma berkata bahwa dirinya gagal menemukan Kakrasana dan Narayana. Sebagai gantinya, ia membawa seorang pendeta muda bertubuh tinggi besar sebagai lawan Patih Suratimantra. Apabila jagonya ini kalah, maka Aryaprabu Rukma bersedia ikut disembelih bersama Prabu Basudewa dan Arya Ugrasena. Akan tetapi, jika jagonya menang, maka Prabu Kangsadewa harus dihukum mati di hadapan segenap rakyat Mandura.

Prabu Kangsadewa menolak tantangan tersebut. Dalam hal ini dirinya merasa lebih berkuasa dan lebih berhak menentukan aturan, bukannya Aryaprabu Rukma. Wasi Balawa mengejek Prabu Kangsadewa berjiwa pengecut, hanya berani berteriak-teriak menakuti rakyat, padahal tidak punya nyali. Jangankan melawan Patih Suratimantra, bahkan Wasi Balawa mengaku sanggup jika Prabu Kangsadewa ikut maju mengeroyoknya.

Prabu Kangsadewa termakan ejekan Wasi Balawa. Ia marah-marah dan memerintahkan Patih Suratimantra untuk melayani tantangan tersebut. Rakyat pun bersorak-sorai. Mereka berharap Wasi Balawa mampu menyelamatkan nasib Kerajaan Mandura dari cengkeraman Prabu Kangsadewa.

KEMATIAN PATIH SURATIMANTRA DAN PRABU KANGSADEWA

Pertandingan Adu Jago pun dimulai. Patih Suratimantra bertarung melawan Wasi Balawa di atas panggung. Meskipun masih muda, namun Wasi Balawa memiliki pengalaman bertarung lumayan banyak, antara lain pernah menghadapi Prabu Suksara, Arya Gandamana, Prabu Jalasengara, dan Prabu Baka. Maka, ia pun mampu mengimbangi kesaktian dan kekuatan Patih Suratimantra.

Sebaliknya, Patih Suratimantra merasa heran melihat ada seorang pendeta muda yang ternyata sulit sekali dikalahkan. Setelah bertarung cukup lama, Patih Suratimantra akhirnya terdesak kalah. Wasi Balawa berhasil menangkap tubuhnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi hendak dibanting ke lantai panggung.

Ketika tubuhnya diangkat tinggi itulah, Patih Suratimantra sempat melihat dua pemuda berkulit bule dan hitam baru saja datang dan menyelinap di antara para penonton. Patih Suratimantra pun meronta sehingga dirinya berhasil bebas dari cengkeraman Wasi Balawa. Patih raksasa itu lalu melompat ke arah Kakrasana dan Narayana, hendak menangkap mereka berdua.

Kakrasana dengan cekatan membaca mantra dan mengeluarkan Gada Alugora. Begitu Patih Suratimantra mendekat, ia langsung menghantam kepalanya menggunakan gada berwujud alu tersebut. Seketika Patih Suratimantra pun tewas dengan kepala pecah.

Prabu Kangsadewa terkejut melihat pamannya tewas dibunuh pemuda bule. Ia pun menyerang Kakrasana dengan membawa Gada Lohitamuka. Maka, terjadilah pertarungan adu gada antara Prabu Kangsadewa dan Kakrasana. Ketika mereka saling tangkis, Gada Alugora dan Gada Lohitamuka sama-sama terlepas dari tangan dan jatuh ke tanah. Prabu Kangsadewa dan Kakrasana melanjutkan pertarungan dengan tangan kosong. Kali ini Prabu Kangsadewa lebih unggul dan ia berhasil meringkus Kakrasana dan mencekik lehernya menggunakan tangan kanan.

Narayana maju berusaha menolong kakaknya. Namun, Prabu Kangsadewa dengan cekatan meringkusnya pula. Kedua pemuda itu kini sama-sama berada dalam cengkeraman Prabu Kangsadewa. Kakrasana dicekik menggunakan tangan kanan, sedangkan Narayana dicekik menggunakan tangan kiri. Wasi Balawa dan Aryaprabu Rukma berusaha menolong namun mereka dikeroyok para raksasa Sengkapura.

Pada saat itulah tiba-tiba muncul Rara Ireng bersama Wasi Parta. Rara Ireng segera mengerahkan ilmu gendam pengasihan, membuat Prabu Kangsadewa terlena dan kurang waspada. Karena lengah melihat kecantikan gadis itu, Prabu Kangsadewa tidak menyadari kalau Wasi Parta telah melepaskan panah yang meluncur dan menancap tepat di dadanya. Prabu Kangsadewa pun kesakitan dan membuat cengkeramannya menjadi kendur.

Kakrasana dan Narayana berhasil lolos dari cekikan lawan. Mereka pun segera mengeluarkan pusaka masing-masing. Dari tangan Narayana muncul senjata Cakra Sudarsana yang melesat memenggal kepala Prabu Kangsadewa. Pada saat yang sama, senjata Nanggala di tangan Kakrasana juga menghantam perut Prabu Kangsadewa hingga terbakar menjadi arang.

Melihat sang raja telah binasa, para prajurit Sengkapura pun berhamburan. Ada yang menyerah takluk dan ada pula yang melarikan diri.

RADEN BRATAENA MENDAPATKAN GADA RUJAKPOLO

Aryaprabu Rukma dan Patih Saragupita telah membuka rantai yang mengikat Prabu Basudewa dan Arya Ugrasena. Prabu Basudewa segera memeluk Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng, serta mengumumkan kepada segenap rakyat yang menyaksikan bahwa mereka bertiga adalah anak-anaknya yang sejak kecil dititipkan pada Buyut Antyagopa dan Nyai Sagopi di Desa Widarakandang. Prabu Basudewa juga berterima kasih kepada Wasi Balawa dan Wasi Parta yang tidak lain adalah keponakannya sendiri, putra-putra Dewi Kunti.

Kakrasana lalu memungut Gada Alugora miliknya yang masih tergeletak di tanah sejak pertarungan tadi. Adapun Gada Lohitamuka milik Prabu Kangsadewa juga masih tergeletak karena tidak ada seorang pun yang mampu memindahkannya. Prabu Basudewa lalu memerintahkan Wasi Balawa untuk mengangkat gada besar tersebut. Wasi Balawa menyanggupi. Dengan penuh hormat, ia pun memegang Gada Lohitamuka dan berhasil mengangkatnya. Prabu Basudewa kagum dan mempersilakan Wasi Balawa untuk memiliki gada besar tersebut. Wasi Balawa bersedia. Ia lalu mengganti nama Gada Lohitamuka menjadi Gada Rujakpolo.

ARYAPRABU RUKMA DAN ARYA UGRASENA MENJADI RAJA

Keadaan kini telah aman kembali. Prabu Basudewa kembali menduduki takhta Kerajaan Mandura. Ia mengangkat Kakrasana sebagai pangeran mahkota, sedangkan Hutan Banjarpatoman diserahkan kepada Narayana supaya dibuka menjadi puri kasatrian.

Prabu Basudewa juga menetapkan kedua adiknya, yaitu Aryaprabu Rukma dan Arya Ugrasena menjadi raja yang merdeka, tidak lagi berada di bawah Kerajaan Mandura. Mulai hari ini, Aryaprabu Rukma dilantik sebagai raja Kumbina, bergelar Prabu Bismaka, sedangkan Arya Ugrasena dilantik sebagai raja Lesanpura, bergelar Prabu Satyajit.

Setelah upacara pelantikan selesai, Wasi Balawa dan Wasi Parta beserta para panakawan mohon pamit kembali ke tempat ibu dan saudara-saudara mereka yang saat ini masih tinggal di wilayah Kerajaan Ekacakra.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Kisah kematian Prabu Kangsa menurut Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam Serat Pustakaraja Purwa terjadi pada tahun Suryasengakala 692 yang ditandai dengan sengkalan “Sikaraning Rudra angrasa barakan”, atau tahun Candrasengkala 713 yang ditandai dengan sengkalan “Geni sawukir sirna”.

Kakrasana

Narayama























Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Parasara Lahir
    Kisah ini menceritakan kelahiran Bambang Parasara putra Batara Sakri dan Dewi Sati, yang kelak menjadi Resi Parasara, yaitu leluhur para Pan...
  • Sesaji Rajasuya
    Kisah ini menceritakan tentang upacara Sesaji Rajasuya yang diadakan oleh para Pandawa, serta kematian Prabu Jarasanda, musuh bebuyutan Pra...
  • Sakri Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Batara Sakri di tangan Prabu Murtija, raja raksasa dari Kerajaan Tirtakawana, serta awal mula Dewi Wayasi da...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  January (2)
      • Sewa Sound System Jogja Yogyakarta 08562954111
      • Hanya Rindu Andmesh Kemalang Covered
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja