Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Udawa Sayembara

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang Patih Udawa yang mengadakan sayembara tanding untuk memperebutkan adiknya, yaitu Niken Larasati. Sayembara ini akhirnya dimenangkan oleh Dewi Sumbadra yang menyerahkan Niken Larasati kepada Raden Arjuna. Kelak dari perkawinan mereka lahir seorang putra yang diberi nama Raden Bratalaras.

Kisah ini saya olah dari sumber rekaman pentas wayang kulit dengan dalang Ki Nartosabdo yang saya padukan dengan rubrik pedhalangan di Majalah Panjebar Semangat, disertai pengembangan seperlunya.

Kediri, 16 Februari 2017

Heri Purwanto


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya
------------------------------ ooo ------------------------------

Patih Udawa

PRABU BALADEWA MENJENGUK RADEN BURISRAWA YANG SAKIT DI HASTINA

Prabu Duryudana di Kerajaan Hastina dihadap Resi Druna dari Sokalima, Patih Sangkuni dari Plasajenar, Adipati Karna dari Awangga, dan Raden Kartawarma dari Tirtatinalang. Di paseban luar, para Kurawa yang dipimpin Arya Dursasana satria Banjarjunut juga telah duduk bersiaga menunggu perintah. Hari itu Prabu Duryudana tampak menerima pula kedatangan Prabu Baladewa, sang kakak ipar dari Kerajaan Mandura.

Prabu Baladewa telah menerima surat dari Prabu Duryudana yang mengabarkan tentang adik ipar mereka, yaitu Raden Burisrawa, yang saat ini sedang sakit dan tinggal di Kerajaan Hastina. Prabu Duryudana bercerita bahwa sejak gagal menikah dengan Dewi Wara Sumbadra, Raden Burisrawa tidak pernah lagi pulang ke Kerajaan Mandraka, melainkan pergi berkelana tak tentu arah seperti orang gila. Hingga akhirnya pada suatu hari ia ditemukan di jalan oleh para Kurawa. Raden Burisrawa ditawari hendak diantarkan pulang ke Mandraka tetapi menolak. Ia memilih lebih baik tinggal di Kerajaan Hastina bersama kakaknya, yaitu Dewi Banuwati.

Sesampainya di istana Hastina, Raden Burisrawa selalu saja menyebut-nyebut nama Dewi Sumbadra. Dewi Banuwati menasihatinya agar melupakan wanita itu karena sudah menjadi istri Raden Arjuna. Nasihat tersebut justru membuat Raden Burisrawa semakin kurang waras dan tubuhnya ikut sakit pula.

Prabu Duryudana melihat sumber penyakit adik iparnya itu berhubungan dengan Dewi Sumbadra. Maka, ia pun berkirim surat kepada Prabu Baladewa di Kerajaan Mandura yang merupakan kakak sulung Dewi Sumbadra, agar segera datang ke Kerajaan Hastina untuk menjenguk dan membantu mengupayakan kesembuhan Raden Burisrawa.

PRABU BALADEWA BERNIAT MELAMARKAN NIKEN LARASATI UNTUK RADEN BURISRAWA

Prabu Baladewa kini telah datang dan ia merasa prihatin atas keadaan Raden Burisrawa. Prabu Duryudana pun mengajaknya masuk ke dalam kedaton. Kedua raja itu masuk bersama-sama hingga mereka sampai di kamar tempat Raden Burisrawa sedang tidur dengan ditunggui Dewi Banuwati.

Melihat kedua raja itu datang, Dewi Banuwati segera menyambut mereka dan juga membangunkan adiknya. Raden Burisrawa bangun tetapi tidak memberi hormat, melainkan bicara tak keruan dengan menyebut-nyebut nama Dewi Sumbadra yang gagal ia nikahi.

Prabu Baladewa menasihati Raden Burisrawa agar melupakan Dewi Sumbadra. Ia juga bersedia mengantarkan adik iparnya itu pulang ke Kerajaan Mandraka. Namun, Raden Burisrawa menolak karena sejak awal dirinya tidak suka tinggal di dalam istana. Meskipun sang ayah, yaitu Prabu Salya telah membuatkan kesatrian bernama Madyapura untuknya, namun Raden Burisrawa lebih suka tinggal di dalam hutan. Hal itu karena ia memiliki wajah raksasa, mirip seperti mendiang kakeknya, yaitu Resi Bagaspati. Mulutnya yang bertaring sering menjadi bahan pembicaraan para abdi, sehingga membuat Raden Burisrawa tidak betah tinggal di kesatrian dan lebih senang hidup di hutan. Sehari-hari ia pun berlatih tarung melawan segala macam binatang buas.

Hingga pada suatu hari Raden Burisrawa dipanggil ke istana untuk menyaksikan upacara pernikahan kakak sulungnya, yaitu Dewi Erawati dengan Prabu Baladewa. Saat itulah pertama kalinya ia melihat Dewi Sumbadra yang bertindak sebagai patah sakembaran, memegang kembar mayang bersama Dewi Jembawati, mengiringi kedua mempelai. Seketika Raden Burisrawa pun jatuh cinta, tetapi dipendam dalam hati karena kurang percaya diri pada wajahnya yang buruk rupa. Pertemuan kedua adalah saat Dewi Sumbadra hadir menyaksikan upacara pernikahan Dewi Banuwati dengan Prabu Duryudana, saat itulah Raden Burisrawa berani menunjukkan perasaannya kepada Dewi Sumbadra.

Sayang sekali, Dewi Sumbadra sejak kecil sudah dijodohkan dengan sepupunya, yaitu Raden Arjuna dari keluarga Pandawa. Maka, Raden Burisrawa pun meminta tolong kepada Prabu Baladewa agar membantu dirinya. Prabu Baladewa yang segan terhadap mertuanya (Prabu Salya), terpaksa mencari cara agar perjodohan Raden Arjuna dan Dewi Sumbadra bisa dibatalkan. Ia pun mengajukan berbagai macam syarat berat, namun semuanya ternyata bisa diwujudkan oleh Raden Arjuna. Prabu Baladewa tidak bisa berbuat apa-apa lagi, melainkan ikut memberikan restu kepada kedua pengantin tersebut. Hal itulah yang membuat Raden Burisrawa sakit hati. Ia pun mengamuk mengacau pesta, namun dirinya dapat diringkus oleh Arya Setyaki dan diserahkan kepada Raden Gatutkaca. Kemudian Raden Gatutkaca mengangkat tubuh Raden Burisrawa ke angkasa dan menjatuhkannya di dalam hutan agar tidak membuat kekacauan lagi.

Demikianlah kisah sedih Raden Burisrawa yang membuatnya enggan pulang ke Kerajaan Mandraka. Selama berbulan-bulan ini dirinya berkelana tak tentu arah, hingga akhirnya ditemukan oleh para Kurawa dan dibawa ke istana Kerajaan Hastina.

Prabu Baladewa mendengar semua keluhan Raden Burisrawa dengan seksama dan berkata bahwa dirinya sudah berusaha keras untuk menggagalkan lamaran Raden Arjuna. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Raden Arjuna berhasil mewujudkan semua persyaratan berat yang diajukan, dan itu berarti dewata memang menghendakinya sebagai jodoh Dewi Sumbadra. Oleh sebab itu, Prabu Baladewa menyarankan agar Raden Burisrawa menikah dengan wanita lain saja, karena hanya dengan cara itulah kenangan pada Dewi Sumbadra dapat terhapus dari pikiran.

Dewi Banuwati mendukung nasihat yang diucapkan Prabu Baladewa. Ia berkata bahwa tidak ada gunanya memikirkan kekasih yang sudah menikah dengan orang lain. Apabila Raden Burisrawa menikah dengan wanita lain, maka dengan sendirinya bayangan Dewi Sumbadra akan terhapus dari ingatan. Raden Burisrawa pasti akan terhibur oleh cinta dan perhatian yang diberikan oleh istrinya kelak.

Prabu Duryudana senang mendengar ucapan Dewi Banuwati. Ia pun bertanya apakah dirinya sudah bisa menggantikan sosok Raden Arjuna yang dulu pernah ada dalam pikiran Dewi Banuwati. Dewi Banuwati pun menjawab dengan ketus bahwa hal seperti itu tidak pantas ditanyakan. Dirinya sudah sah menjadi istri Prabu Duryudana, lantas untuk apa lagi memikirkan Raden Arjuna segala?

Prabu Duryudana semakin gembira mendengar jawaban istrinya. Ia pun ikut menasihati Raden Burisrawa untuk segera menikah dengan wanita lain agar bisa melupakan sosok Dewi Sumbadra. Raden Burisrawa menimbang-nimbang saran tersebut dan akhirnya ia bersedia mencoba. Namun, ia mengajukan syarat bahwa wanita tersebut harus sama cantiknya dengan Dewi Sumbadra, dan juga memiliki latar belakang kehidupan yang sama pula.

Prabu Baladewa menjawab di dunia ini ada seorang perempuan yang memenuhi syarat Raden Burisrawa. Ia berkata bahwa semasa kecil dirinya bersama Prabu Kresna dan Dewi Sumbadra tinggal di Desa Widarakandang dalam asuhan Buyut Antyagopa dan Nyai Sagopi. Kedua pasangan tersebut juga memiliki dua orang anak, yaitu Patih Udawa dan Niken Larasati.

Meskipun hanya seorang gadis desa, namun Niken Larasati berwajah sangat cantik, tidak kalah dengan Dewi Sumbadra. Mereka dulu sama-sama dibesarkan di Desa Widarakandang bagaikan saudara kandung. Saat masih kecil, Dewi Sumbadra bernama Rara Ireng, sedangkan Niken Larasati bernama Rara Sati. Memang ada desas-desus bahwa Niken Larasati bukanlah putri kandung Buyut Antyagopa, melainkan hasil hubungan Nyai Sagopi dengan salah seorang sentana Kerajaan Mandura. Namun, Prabu Baladewa tidak mau membahas soal itu. Yang paling penting baginya ialah, Niken Larasati adalah wanita yang sangat tepat untuk menggantikan sosok Dewi Sumbadra dari dalam pikiran Raden Burisrawa. Mereka sama-sama cantik dan juga memiliki latar belakang yang sama persis, yaitu sama-sama hidup dalam asuhan Buyut Antyagopa dan Nyai Sagopi.

Raden Burisrawa masih ragu-ragu dan ia pun bertanya apa saja yang menjadi kelebihan Niken Larasati. Prabu Baladewa menjelaskan bahwa Niken Larasati tidak hanya pandai dalam urusan mengelola rumah tangga, tetapi juga gemar mempelajari ilmu keprajuritan, antara lain menunggang kuda dan berlatih panah. Mendengar itu, Raden Burisrawa merasa tertarik. Ia membayangkan kelak jika dirinya sudah menikah dengan Niken Larasati, tentu mereka bisa mengisi hari-hari dengan berlatih tanding bersama. Tanpa pikir lagi, ia pun menyatakan bersedia menikah dengan gadis tersebut.

Prabu Duryudana dan Dewi Banuwati segera memohon kepada Prabu Baladewa agar membantu melamarkan Niken Larasati untuk menjadi istri Raden Burisrawa. Prabu Baladewa berkata bahwa Niken Larasati telah diboyong Dewi Sumbadra untuk menemaninya tinggal di Kesatrian Madukara, karena Raden Arjuna sering pergi berkelana. Namun, berita terbaru mengatakan, Patih Udawa telah menjemput pulang Niken Larasati ke Desa Widarakandang untuk dicarikan suami. Bahkan, Patih Udawa juga telah membagi-bagikan selebaran di mana-mana bahwa ia mengadakan sayembara tanding demi memperebutkan adiknya tersebut.

Prabu Duryudana merasa yakin bahwa Patih Udawa tentu segan bila berhadapan dengan Prabu Baladewa, dan Niken Larasati pasti akan langsung diserahkan tanpa perlu bertanding segala. Prabu Baladewa pun berharap demikian. Ia lalu mohon pamit kepada Prabu Duryudana dan Dewi Banuwati untuk berangkat ke Desa Widarakandang saat itu juga.

PRABU KRESNA MENGUNJUNGI DESA WIDARAKANDANG

Sementara itu di Desa Widarakandang, Nyai Sagopi sedang menegur putranya, yaitu Patih Udawa yang sudah cukup lama tidak menghadap ke Kerajaan Dwarawati dan melalaikan tugasnya sebagai menteri utama. Selain itu, Patih Udawa juga sibuk membangun sebuah gelanggang tanding, di mana sebelumnya ia telah membagi-bagikan banyak selebaran yang ditempel di pepohonan ataupun di tempat-tempat keramaian. Selebaran itu berbunyi: Barangsiapa bisa mengalahkan dirinya dalam sayembara tanding, maka berhak memboyong adiknya yang bernama Niken Larasati sebagai istri.

Nyai Sagopi merasa perbuatan Patih Udawa terlalu berlebihan. Niken Larasati hanyalah gadis desa biasa, mengapa harus dibuatkan sayembara seperti layaknya seorang putri raja segala? Bukankah hal ini hanya akan menjadi bahan tertawaan banyak orang?

Patih Udawa tidak setuju pada ibunya karena Niken Larasati bukanlah seorang gadis desa biasa. Ia mengaku sudah tahu kalau adiknya itu bukan anak kandung Buyut Antyagopa, melainkan buah perbuatan Prabu Bismaka raja Kumbina (saat masih bernama Aryaprabu Rukma) kepada Nyai Sagopi. Sekarang Buyut Antyagopa sudah meninggal, sedangkan Prabu Bismaka juga dilarang oleh dewata untuk mengakui Niken Larasati sebagai anaknya. Oleh sebab itu, mau tidak mau Patih Udawa harus bertindak sebagai wali bagi adiknya tersebut. Sudah menjadi tradisi bahwa seorang kakak harus mencarikan jodoh yang tepat bagi adiknya. Maka, sayembara tanding adalah salah satu cara untuk mewujudkan hal itu.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba datang Prabu Kresna Wasudewa didampingi Arya Setyaki dari Kerajaan Dwarawati. Nyai Sagopi dan Patih Udawa segera menyambut hormat kedatangan mereka. Setelah saling bertanya kabar, Prabu Kresna langsung memberikan teguran kepada Patih Udawa karena sudah cukup lama melalaikan tugasnya sebagai menteri utama Kerajaan Dwarawati. Sudah satu bulan ini Patih Udawa tidak hadir di balai penghadapan, juga tidak hadir memimpin para menteri dan punggawa untuk menjalankan roda pemerintahan. Apabila tetap demikian, maka Prabu Kresna tidak segan-segan menjatuhkan hukuman setimpal kepadanya.

Patih Udawa memohon ampun dan menjawab terus terang bahwa dirinya masih sibuk memikirkan nasib sang adik, yaitu Niken Larasati. Kelima putra-putri yang diasuh Buyut Antyagopa dan Nyai Sagopi kini telah dewasa semua, dan empat di antaranya sudah mendapatkan derajat tinggi. Patih Udawa yang paling tua menjadi menteri utama di Kerajaan Dwarawati; Kakrasana telah mewarisi takhta Kerajaan Mandura dengan bergelar Prabu Baladewa; Narayana telah menjadi raja di Kerajaan Dwarawati dengan bergelar Prabu Kresna Wasudewa; sedangkan Rara ireng kini bernama Dewi Wara Sumbadra telah menjadi istri padmi satria Panengah Pandawa di Madukara, yaitu Raden Arjuna. Hanya si bungsu Niken Larasati yang belum mendapatkan derajat layak, melainkan hanya menjadi pelayan di Kesatrian Madukara saja. Patih Udawa merasa prihatin dan memberanikan diri untuk menjemput pulang adiknya itu untuk dicarikan jodoh yang pantas, entah itu seorang pangeran ataupun raja sekalian.

Prabu Kresna memuji niat baik Patih Udawa. Namun, sebagai seorang raja ia harus tegas terhadap patihnya yang lalai menjalankan kewajiban. Maka, Prabu Kresna pun mengizinkan Patih Udawa mengambil cuti untuk mengadakan sayembara mencari jodoh bagi Niken Larasati, tetapi hanya satu hari ini saja. Apabila nanti matahari telah terbenam tetapi tidak ada jodoh yang dianggap cocok, maka Patih Udawa harus rela Niken Larasati menjadi perawan tua.

PRABU BALADEWA MENGIKUTI SAYEMBARA TANDING

Tidak lama kemudian terdengar suara Prabu Baladewa datang dari kejauhan. Prabu Kresna merasa segan jika dirinya sampai terlihat oleh sang kakak. Maka, ia pun bersembunyi di dalam rumah bersama Arya Setyaki. Begitu Prabu Baladewa datang, Nyai Sagopi dan Patih Udawa segera menyambut dengan penuh hormat.

Prabu Baladewa datang hanya bertiga didampingi Patih Pragota dan Arya Prabawa. Kedua pendamping tersebut adalah keponakan Nyai Sagopi juga, karena mereka putra Patih Saragupita (patih Kerajaan Mandura zaman Prabu Basudewa) yang merupakan kakak kandung Nyai Sagopi.

Prabu Baladewa mengaku hendak melamar Niken Larasati. Patih Udawa pun berkata jika memang sang raja Mandura ingin menikahi adiknya, maka harus mengikuti sayembara tanding terlebih dulu. Prabu Baladewa marah-marah dan menjelaskan bahwa ia melamar Niken Larasati untuk Raden Burisrawa, bukannya untuk diri sendiri. Patih Udawa pun bertanya mengapa Raden Burisrawa tidak datang secara langsung. Prabu Baladewa menjawab adik iparnya itu sedang sakit, sehingga dirinya yang bertindak sebagai jago mengikuti sayembara tanding. Patih Udawa akhirnya mempersilakan Prabu Baladewa untuk segera naik ke atas gelanggang.

Prabu Baladewa dan Patih Udawa kini telah berhadapan di atas panggung. Banyak orang berdatangan dari segala arah untuk menyaksikan mereka bertanding. Keduanya pun bertarung mengerahkan kesaktian masing-masing. Patih Udawa memang perkasa, tetapi ia jelas bukan tandingan Prabu Baladewa yang jauh lebih sakti dan berpengalaman. Merasa terdesak, Patih Udawa pun minta izin turun minum barang sejenak.

Setelah Prabu Baladewa mempersilakan, Patih Udawa segera masuk ke dalam rumah menemui Prabu Kresna yang sedang bersembunyi. Ia berterus terang ingin meminjam pusaka dari rajanya itu. Prabu Kresna bertanya mengapa Patih Udawa tidak menyerah kalah saja kepada Prabu Baladewa. Patih Udawa menjawab dirinya sedang mencarikan jodoh yang tepat untuk Niken Larasati. Andaikan Prabu Baladewa bertanding untuk diri sendiri, tentu Patih Udawa akan mengaku kalah. Namun, Prabu Baladewa ternyata bertanding untuk Raden Burisrawa, jelas ia tidak tega jika adiknya sampai diperistri oleh pangeran kurang waras tersebut.

Prabu Kresna menjawab jelas tidak mungkin Prabu Baladewa bertanding untuk diri sendiri karena kakaknya itu pernah bersumpah hanya akan memiliki satu orang istri saja, yaitu Dewi Erawati. Lagipula Prabu Baladewa dan Prabu Kresna sudah menganggap Niken Larasati seperti adik kandung sendiri. Patih Udawa pun memanfaatkan ucapan itu. Jika benar Niken Larasati dianggap sebagai adik kandung, maka Prabu Kresna juga harus ikut melindungi. Untuk itu, Patih Udawa pun meminta Prabu Kresna meminjamkan Senjata Cakra sebagai sarana mengalahkan Prabu Baladewa.

Prabu Kresna tertawa geli karena Senjata Cakra tidak boleh digunakan sembarangan. Ia pun meminjamkan senjata yang lain, yaitu Keris Gandawisa, namun dengan syarat, Patih Udawa tidak boleh menyombongkan diri dan tidak boleh menggores kulit Prabu Baladewa. Patih Udawa setuju dan segera menerima keris pusaka tersebut.

Dengan bersenjata keris, Patih Udawa kembali ke gelanggang menghadapi Prabu Baladewa. Keduanya pun melanjutkan pertandingan. Prabu Baladewa agak meremehkan senjata Patih Udawa sehingga dirinya pun lengah. Sesuai pesan Prabu Kresna, maka Patih Udawa tidak mengarahkan kerisnya ke kulit Prabu Baladewa, melainkan ke arah kain kampuh yang dipakai raja Mandura tersebut. Seketika kain itu pun robek dan paha Prabu Baladewa terlihat oleh para penonton. Prabu Baladewa merasa sangat malu dan segera melarikan diri meninggalkan gelanggang. Patih Pragota dan Arya Prabawa segera mengikuti kepergian raja mereka.

PATIH SANGKUNI MENGAMBIL PATIH UDAWA SEBAGAI MENANTU

Pertandingan antara Prabu Baladewa dan Patih Udawa tersebut juga disaksikan oleh Patih Sangkuni dan para Kurawa yang mengintai dari kejauhan. Rupanya Prabu Duryudana diam-diam memerintahkan mereka agar mengawasi keberangkatan Prabu Baladewa dan memberikan bantuan seperlunya apabila sang raja Mandura gagal memboyong Niken Larasati. Maka, begitu melihat Prabu Baladewa meninggalkan gelanggang, Patih Sangkuni segera memerintahkan para keponakannya untuk maju menyerang Patih Udawa.

Begitu mendapat perintah, Arya Dursasana, Raden Kartawarma, Raden Surtayu, Raden Durmagati, Raden Durmuka, Raden Durjaya, Raden Citraksa, Raden Citraksi, serta Adipati Jayadrata dan Bambang Aswatama segera naik ke atas gelanggang dan langsung mengeroyok Patih Udawa. Melihat ulah para Kurawa yang licik, Arya Setyaki segera maju membantu. Maka, terjadilah pertempuran seru di atas panggung, bukan lagi pertandingan satu lawan satu seperti tadi.

Berkat bantuan Arya Setyaki, Patih Udawa dapat meloloskan diri dari kepungan para Kurawa dan melesat cepat menyerang Patih Sangkuni yang menyaksikan di bawah panggung. Patih Sangkuni tidak sempat menghindar dan tubuhnya dapat diringkus oleh Patih Udawa. Ia pun meronta-ronta meminta tolong para keponakan, tetapi cengkeraman Patih Udawa semakin erat. Akhirnya ia tidak lagi meminta tolong, tetapi memerintahkan para Kurawa untuk mundur kembali ke Kerajaan Hastina.

Patih Udawa belum juga melepaskan cengkeramannya kepada Patih Sangkuni. Hari itu ia ingin sekali memberi pelajaran untuk patih Kerajaan Hastina yang terkenal licik tersebut. Sebaliknya, Patih Sangkuni sendiri sedang berpikir keras untuk menyelamatkan diri. Ia pun mengajak Patih Udawa berdamai. Ia berjanji akan menyerahkan putrinya yang bernama Dewi Antiwati, apabila dirinya dibebaskan.

Patih Udawa menolak tawaran Patih Sangkuni yang dianggapnya sebagai penyuapan. Lagipula anak Patih Sangkuni pasti berwajah jelek seperti ayahnya. Patih Sangkuni berkata dirinya berwajah jelek itu karena dihajar Patih Gandamana zaman pemerintahan Prabu Pandu dulu, jadi bukan karena bawaan lahir. Ia pun bersumpah bahwa putrinya yang bernama Dewi Antiwati berwajah cantik dan sangat serasi jika bersanding dengan Patih Udawa yang gagah perkasa. Apa gunanya Patih Udawa mencarikan suami untuk adiknya, kalau dirinya sendiri belum menikah?

Patih Udawa merasa ucapan Patih Sangkuni ada benarnya juga. Ia berusaha mencarikan jodoh untuk Niken Larasati, padahal ia sendiri belum mempunyai istri. Maka, ia pun melepaskan cengkeramannya dan membebaskan Patih Sangkuni tetapi menegaskan bahwa ini semua bukan karena suap. Patih Sangkuni pun berterima kasih dan berjanji akan segera pulang ke Plasajenar untuk menjemput Dewi Antiwati. Patih Udawa agak tidak percaya karena Patih Sangkuni terkenal sangat licik. Namun, Patih Sangkuni menegaskan bahwa dirinya kali ini tidak berbohong. Ia sudah menyaksikan dan mengalami sendiri seperti apa kekuatan Patih Udawa dan tentunya ia akan sangat senang jika menjadikannya sebagai menantu.

Demikianlah, Patih Sangkuni pun dibebaskan dan segera pamit pulang ke Plasajenar. Dalam hati ia berharap jika Patih Udawa menjadi menantunya, maka Prabu Kresna dan Kerajaan Dwarawati akan ikut pula menjadi sekutu Prabu Duryudana dan para Kurawa.

RADEN ARJUNA JATUH SAKIT SETELAH DITINGGAL NIKEN LARASATI

Sementara itu di Kerajaan Amarta, tepatnya di Kesatrian Madukara, Raden Arjuna sedang sakit dengan ditunggui sang istri, Dewi Wara Sumbadra. Para panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong juga ikut hadir menjenguk. Dewi Sumbadra sudah berusaha memanggil tabib, mecarikan obat, namun sang suami tetap saja sakit, tidak kunjung sembuh.

Dewi Sumbadra mengingat-ingat Raden Arjuna mulai jatuh sakit adalah sejak Niken Larasati dijemput pulang oleh Patih Udawa. Awal mula Niken Larasati tinggal di Kesatrian Madukara ialah karena Dewi Sumbadra merasa sering kesepian ditinggal Raden Arjuna yang gemar berkelana. Oleh sebab itu, Dewi Sumbadra pun meminta izin agar boleh mengajak Niken Larasati tinggal bersama di Madukara sebagai kawan. Mereka berdua dulu dibesarkan bersama-sama di Desa Widarakandang saat masih bernama Rara Ireng dan Rara Sati, dan kini tetap saling merindukan. Raden Arjuna mengizinkan dan sejak itulah Niken Larasati tinggal di Madukara sebagai kawan Dewi Sumbadra, sekaligus menjadi pimpinan para pelayan.

Niken Larasati ternyata pandai memasak dan membuat Raden Arjuna lebih betah tinggal di rumah. Sejak saat itu Raden Arjuna tidak mau makan jika bukan Niken Larasati yang memasak untuknya. Selain itu, Niken Larasati juga berbakat dalam ilmu keprajuritan dan pandai merawat kuda, membuat Raden Arjuna semakin sayang kepadanya. Ingin rasanya Raden Arjuna menjadikan Niken Larasati sebagai istri muda, namun ia tidak berani bicara kepada Dewi Sumbadra, hanya memendam perasaannya di dalam hati saja.

Hingga akhirnya, Patih Udawa datang dari Kerajaan Dwarawati untuk menjemput Niken Larasati agar pulang ke Desa Widarakandang. Dengan berat hati, Raden Arjuna dan Dewi Sumbadra melepaskan kepergian mereka. Sejak itulah Raden Arjuna jatuh sakit karena memendam perasaan. Ia juga tidak mau makan karena rindu pada masakan Niken Larasati yang lezat.

Para panakawan hari itu datang menjenguk. Kyai Semar bercerita bahwa dirinya mendengar berita tentang Patih Udawa yang menggelar sayembara tanding, barangsiapa bisa mengalahkan dirinya, maka berhak memboyong Niken Larasati sebagai istri. Mendengar itu, Raden Arjuna seketika bersemangat dan ia pun bangkit dari tidurnya. Rasa sakit yang dideritanya beberapa hari ini seolah terlupakan begitu saja. Dewi Sumbadra baru paham apa penyebab sakit suaminya, ternyata karena memendam cinta kepada Niken Larasati. Raden Arjuna dengan malu-malu mengakui hal itu, bahwa dirinya memang jatuh hati kepada gadis dari Desa Widarakandang tersebut, dan ingin menjadikannya sebagai istri muda.

Dewi Sumbadra menimbang-nimbang sejenak dan akhirnya ia pun mengizinkan suaminya menikah lagi. Niken Larasati adalah kawan sepermainannya sejak kecil, dan sudah seperti adik kandung baginya. Bahkan, ada cerita rahasia bahwa Niken Larasati sesungguhnya bukan anak kandung Buyut Antyagopa, melainkan hasil hubungan gelap antara Nyai Sagopi dengan Prabu Bismaka saat masih bernama Aryaprabu Rukma. Itu artinya, Niken Larasati bukan orang lain, tetapi masih sepupu Dewi Sumbadra dan Raden Arjuna juga.

Raden Arjuna berterima kasih atas kerelaan hati Dewi Sumbadra. Ia pun mohon pamit dan melesat pergi dengan mengerahkan Aji Seipi Angin. Namun, Dewi Sumbadra tiba-tiba mendapat firasat yang kurang baik. Ia pun mengajak para panakawan untuk menyusul sang suami ke Desa Widarakandang.

DEWI BANUWATI MEMINTA PERTOLONGAN RADEN ARJUNA

Raden Arjuna yang sedang dalam perjalanan tiba-tiba melihat seorang wanita yang tidak asing baginya sedang diganggu laki-laki. Wanita itu tidak lain adalah Dewi Banuwati, mantan kekasihnya sendiri yang kini menjadi istri Prabu Duryudana. Tanpa berpikir lagi, Raden Arjuna pun melabrak laki-laki yang berani mengganggu tersebut. Laki-laki itu bernama Prabu Brawirasembada dari Kerajaan Parangsumirat. Setelah bertanding cukup lama melawan Raden Arjuna, laki-laki tersebut merasa terdesak dan akhirnya kabur melarikan diri.

Dewi Banuwati berterima kasih atas pertolongan Raden Arjuna. Tadinya ia hendak pergi ke Kesatrian Madukara namun di tengah jalan bertemu Prabu Brawirasembada yang sedang berjalan sendiri tanpa pengawal. Raja tersebut bertanya ke mana arah jalan menuju Desa Widarakandang, karena dirinya tertarik ingin mengikuti sayembara tanding memperebutkan Niken Larasati. Dewi Banuwati tidak mau menjawab. Tiba-tiba Prabu Brawirasembada hendak berbuat kurang ajar, namun untungnya Raden Arjuna datang menolong.

Raden Arjuna lalu bertanya ada keperluan apa Dewi Banuwati hendak berkunjung ke Kesatrian Madukara. Apakah baru bertengkar dengan Prabu Duryudana sehingga ingin meminta cerai? Jika benar demikian, dirinya bersedia menampung dan memberikan perlindungan. Dewi Banuwati berkata Raden Arjuna jangan salah paham, jangan pula terbawa perasaan. Hubungan asmara di antara mereka biarlah menjadi masa lalu, jangan sampai dihidupkan kembali. Raden Arjuna pun meminta maaf karena telah salah paham. Ia lalu bertanya apa sebenarnya yang menjadi keperluan Dewi Banuwati. Apa pun itu, dirinya berjanji siap untuk membantu sekuat tenaga.

Dewi Banuwati berkata bahwa adiknya, yaitu Raden Burisrawa, jatuh sakit karena gagal menikah dengan Dewi Sumbadra. Prabu Baladewa pun datang menawarkan Niken Larasati sebagai gantinya. Apabila Raden Burisrawa menikah dengannya, maka perasaan rindu kepada Dewi Sumbadra pasti akan hilang dengan sendirinya. Prabu Baladewa lalu berangkat ke Desa Widarakandang, namun kabarnya ia kalah bertanding melawan Patih Udawa.

Dewi Banuwati yang sangat kasihan melihat penyakit Raden Burisrawa pun mengajak Prabu Duryudana untuk meminta pertolongan Raden Arjuna dan Dewi Sumbadra. Menurut kabar, Niken Larasati pernah bekerja sebagai kepala pelayan di Kesatrian Madukara sebelum dijemput pulang oleh Patih Udawa. Maka, apabila Raden Arjuna dan Dewi Sumbadra yang dimintai bantuan untuk melamar Niken Larasati sebagai istri Raden Burisrawa, pasti langsung dikabulkan oleh Patih Udawa. Prabu Duryudana menolak saran tersebut karena cemburu jika Dewi Banuwati sampai berkunjung ke tempat Raden Arjuna. Karena sang suami menolak, maka Dewi Banuwati pun berangkat sendiri tanpa pamit.

Kini Dewi Banuwati telah bertemu Raden Arjuna di jalan. Ia pun memohon bantuan agar Raden Arjuna pergi ke Desa Widarakandang melamar Niken Larasati untuk adiknya. Seketika Raden Arjuna merasa gemetar. Sejak awal ia sudah berniat hendak mengikuti sayembara tanding untuk dirinya sendiri, namun sekarang Dewi Banuwati justru meminta pertolongan kepadanya. Karena tadi Raden Arjuna terlanjur berjanji akan membantu sekuat tenaga apa pun yang menjadi keperluan Dewi Banuwati, mau tidak mau ia harus menepati hal itu. Maka dengan berat hati, Raden Arjuna akhirnya menyatakan bersedia untuk melamarkan Niken Larasati sebagai istri Raden Burisrawa.

Tiba-tiba Prabu Duryudana datang menyusul sambil marah-marah menuduh istrinya berbuat serong dengan Raden Arjuna. Dewi Banuwati pun membela diri dengan berkata ketus bahwa Raden Arjuna justru baru saja menyelamatkan dirinya dari gangguan laki-laki jahat bernama Prabu Brawirasembada. Prabu Duryudana balik bertanya mengapa istrinya itu pergi sendirian sehingga diganggu orang jahat. Dewi Banuwati balas memaki karena suaminya tidak mau mengantar, maka ia pun pergi sendirian. Demikianlah, pasangan suami-istri itu pun bertengkar di tengah jalan.

Raden Arjuna teringat dirinya tidak boleh terlalu mencampuri urusan rumah tangga mereka. Maka, ia pun mohon pamit dan melesat pergi menuju Desa Widarakandang.

RADEN ARJUNA BERTANDING MELAWAN PATIH UDAWA

Patih Udawa di Desa Widarakandang menyambut kedatangan Raden Arjuna dengan ramah. Raden Arjuna pun berterus terang bahwa dirinya hendak mengikuti sayembara tanding demi memperebutkan Niken Larasati. Patih Udawa dengan senang hati mempersilakan, bahkan ia berharap kalah sehingga adiknya bisa menjadi istri Raden Arjuna. Namun, Raden Arjuna berkata dirinya hanya menjadi wakil bagi Raden Burisrawa saja. Jika dirinya menang, maka Niken Larasati akan diserahkan kepada sepupunya tersebut.

Patih Udawa merasa terkejut dan sangat kecewa. Ia pun mempersilakan Raden Arjuna untuk menyerang. Keduanya lalu bertanding di atas panggung. Pertarungan sengit pun terjadi. Lama-lama Patih Udawa terdesak oleh kesaktian Raden Arjuna. Namun, dirinya pantang menyerah karena tidak rela jika adiknya sampai menjadi istri kesatria buruk rupa yang sakit jiwa bernama Raden Burisrawa.

Sama seperti tadi saat melawan Prabu Baladewa, lagi-lagi Patih Udawa meminta izin turun minum. Ia lalu masuk ke dalam rumah dan menemui Prabu Kresna yang masih bersembunyi di sana. Kepada Prabu Kresna, ia meminta izin meminjam Keris Gandawisa lagi. Namun, Prabu Kresna keberatan karena Keris Gandawisa adalah hadiah pemberian Raden Arjuna sebagai tali persahabatan di antara mereka. Jika Patih Udawa bertanding menggunakan keris tersebut, maka Raden Arjuna akan langsung paham kalau Prabu Kresna diam-diam memberikan bantuan.

Patih Udawa kecewa dan ia berniat untuk bertanding sampai mati daripada melihat adiknya bersanding dengan Raden Burisrawa. Prabu Kresna merasa tidak tega mendengarnya. Ia pun menyelipkan Kembang Wijayakusuma di balik pakaian patihnya itu dan menyuruhnya kembali maju untuk mengalahkan Raden Arjuna.

Demikianlah, Patih Udawa kembali naik ke atas panggung menghadapi Raden Arjuna. Keduanya pun melanjutkan pertandingan. Kali ini Patih Udawa berbekal Kembang Wijayakusuma, membuat badannya tidak bisa terluka. Setiap kali tubuhnya terkena pukulan Raden Arjuna, seketika langsung sembuh kembali. Lama-lama Raden Arjuna merasa letih dan ia pun lengah. Patih Udawa segera meringkusnya dengan sekuat tenaga.

Raden Arjuna merasa sesak tidak bisa bernapas karena dipeluk erat oleh Patih Udawa. Ia teringat dirinya sudah membantu Dewi Banuwati sekuat tenaga dan ternyata Patih Udawa memang sulit dikalahkan. Karena merasa sudah memenuhi janji, maka ia pun menyatakan kalah dalam pertandingan ini.

DEWI SUMBADRA MENGALAHKAN PATIH UDAWA

Setelah Raden Arjuna mengaku kalah, Patih Udawa pun masuk ke dalam rumah untuk mengembalikan Kembang Wijayakusuma kepada Prabu Kresna. Saat itu matahari sudah hampir terbenam dan Niken Larasati belum juga bertemu jodohnya. Patih Udawa memohon kepada Prabu Kresna agar cutinya diperpanjang, tetapi Prabu Kresna menolak. Besok Patih Udawa harus kembali bertugas di Kerajaan Dwarawati dan biarlah Niken Larasati menjadi perawan tua selamanya.

Tiba-tiba terdengar suara Dewi Sumbadra datang bersama para panakawan memanggil Patih Udawa agar segera keluar. Patih Udawa pun bergegas menemui dan menyambut mereka dengan ramah. Dewi Sumbadra berkata bahwa dirinya hendak mengikuti sayembara tanding untuk memperebutkan Niken Larasati. Patih Udawa heran dan bertanya apakah Dewi Sumbadra benar ingin menikahi adiknya? Dewi Sumbadra menjelaskan bahwa dirinya adalah masih normal dan tidak berkelakuan menyimpang. Tujuannya mengikuti sayembara adalah untuk mewakili Raden Arjuna, suaminya sendiri.

Raden Arjuna yang masih berada di tempat itu sangat terkejut mendengarnya. Ia melarang Dewi Sumbadra mengikuti sayembara karena dirinya saja kalah bertanding melawan Patih Udawa. Dewi Sumbadra pun menjawab ia dibesarkan bersama Patih Udawa sejak kecil tentunya sudah paham kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Melihat Dewi Sumbadra tidak main-main, Patih Udawa pun mempersilakannya naik ke atas panggung. Keduanya kini saling berhadap-hadapan. Dewi Sumbadra segera melepas anting-anting di telinganya sambil membaca mantra Aji Pengabaran seperti yang dulu pernah diajarkan Prabu Kresna kepadanya. Setelah itu, anting-anting tersebut pun dilemparkan dan tepat mengenai dahi Patih Udawa. Seketika Patih Udawa merasa gemetar dan tubuhnya jatuh terduduk, tidak bisa bangun lagi.

Prabu Kresna keluar dari rumah dan menyuruh Patih Udawa bangkit, jangan pura-pura kalah. Patih Udawa menjawab dirinya tidak pura-pura, melainkan benar-benar kehilangan daya akibat serangan Dewi Sumbadra. Prabu Kresna pun bertanya apakah pemenang sayembara sudah bisa ditentukan. Patih Udawa menjawab bahwa sayembara ini telah dimenangkan Dewi Sumbadra, dan oleh sebab itu Raden Arjuna berhak memboyong Niken Larasati sebagai istri.

Raden Arjuna sangat gembira mendengarnya dan segera berterima kasih kepada Dewi Sumbadra. Selama ini ia mengira istrinya itu seorang wanita lemah yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Tak disangka, ternyata Dewi Sumbadra menyimpan banyak kesaktian berkat bimbingan Prabu Kresna di masa lalu.

Demikianlah, karena pemenang sayembara telah ditentukan, maka Prabu Kresna pun membaca mantra penolak untuk menyembuhkan Patih Udawa. Seketika Patih Udawa kembali bertenaga dan segera bangkit untuk mengucapkan selamat kepada Dewi Sumbadra dan Raden Arjuna.

RADEN ARJUNA MENYELAMATKAN NIKEN LARASATI DARI PENCULIKAN

Tiba-tiba Nyai Sagopi muncul sambil menangis meminta tolong. Ia berkata bahwa Niken Larasati baru saja diculik seorang laki-laki yang bernama Prabu Brawirasembada. Raden Arjuna teringat bahwa laki-laki itu adalah yang tadi telah mengganggu perjalanan Dewi Banuwati. Dewi Sumbadra pun berkata bahwa dirinya sudah membantu memenangkan sayembara, kini saatnya Raden Arjuna berjuang sendiri menolong calon istrinya. Raden Arjuna menyanggupi. Ia pun segera melesat mengerahkan Aji Seipi Angin untuk mengejar si penculik.

Dengan kecepatan kilat, Raden Arjuna berhasil menyusul dan menghadang Prabu Brawirasembada yang memanggul tubuh Niken Larasati. Keduanya lalu bertarung seru. Raden Arjuna berhasil merebut Niken Larasati dan menewaskan Prabu Brawirasembada menggunakan Keris Pulanggeni.

NIKEN LARASATI MENJADI ISTRI PADMI RADEN ARJUNA

Raden Arjuna dan Niken Larasati telah kembali ke rumah Nyai Sagopi. Prabu Kresna, Patih Udawa, dan yang lain bersyukur karena semua masalah telah teratasi. Kini Patih Udawa bisa kembali lagi bertugas di Kerajaan Dwarawati, sedangkan Niken Larasati juga telah mendapatkan suami yang terbaik, sesuai harapan kakaknya.

Dewi Sumbadra juga terlihat senang jika dirinya dimadu dengan Niken Larasati, yang mana sejak kecil mereka telah dibesarkan bersama-sama bagaikan saudara kandung. Bahkan, Dewi Sumbadra meminta agar Raden Arjuna menjadikan Niken Larasati sebagai istri padmi seperti dirinya, bukan sekadar istri paminggir. Maka, sebagai istri padmi, Niken Larasati bisa tinggal di Kesatrian Madukara setiap hari, bukan tinggal di kampung halaman seperti Endang Manuhara.

Demikianlah, hari itu juga Raden Arjuna dan Niken Larasati diresmikan sebagai suami-istri dengan upacara pernikahan yang sederhana. Lima hari kemudian, Raden Arjuna memboyong istri barunya itu pindah ke Kesatrian Madukara. 

Niken Larasati

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya

Untuk kisah hubungan orang tua kandung Niken Larasati dapat dibaca di sini

Untuk kisah masa muda Rara Ireng dan Rara Sati dapat dibaca di sini

Untuk kisah perkawinan Raden Arjuna dan Dewi Sumbadra dapat dibaca di sini











Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Lesmana Mandrakumara Lahir

 No comments   



Kisah ini menceritakan kelahiran Raden Lesmana Mandrakumara, yaitu putra Prabu Duryudana yang diselundupkan Raden Arjuna ke dalam Kerajaan Hastina kepada Dewi Banuwati. Adapun bayi yang dilahirkan Dewi Banuwati sebenarnya berkelamin perempuan, dan oleh Raden Arjuna dititipkan kepada istrinya yang bernama Endang Manuhara, untuk diasuh dan diberi nama Endang Pregiwati, serta dipersaudarakan dengan Endang Pregiwa yang lebih dulu lahir.

Kelak Raden Lesmana Mandrakumara menjadi musuh para putra Pandawa, terutama Raden Abimanyu dan Raden Gatutkaca.

Kisah ini saya olah dari hasil diskusi dengan Ki Rudy Wiratama, dengan pengembangan seperlunya.

Kediri, 06 Februari 2017

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Wujud Raden Lesmana Mandrakumara setelah dewasa.

PRABU DURYUDANA MENCURIGAI KEHAMILAN DEWI BANUWATI

Prabu Duryudana di Kerajaan Hastina dihadap para menteri dan punggawa, sedang membicarakan kehamilan sang permaisuri Dewi Banuwati, yang saat ini sudah mencapai usia sembilan bulan. Namun sejujurnya, Prabu Duryudana merasa ada yang mengganjal dalam hati tentang kehamilan istrinya itu.

Patih Sangkuni yakin arah pembicaraan Prabu Duryudana pasti menjurus ke masalah pribadi. Ia merasa tidak pantas jika persoalan aib rumah tangga sang raja sampai didengar oleh banyak orang. Untuk itu, Patih Sangkuni segera membubarkan para menteri dan punggawa lainnya agar mereka segera keluar meninggalkan balai penghadapan. Kini yang tertinggal hanyalah orang-orang kepercayaan Prabu Duryudana saja yang masih menghadap, yaitu Resi Druna, Adipati Karna, Patih Sangkuni, dan Raden Kartawarma.

Prabu Duryudana pun melanjutkan pembicaraan. Sejak awal menikah ia sudah mendengar desas-desus tentang hubungan asmara antara Dewi Banuwati dengan Raden Arjuna. Desas-desus ini semakin diperkuat dengan permintaan aneh Dewi Banuwati, yaitu ingin dicarikan juru rias pengantin yang tampan sempurna tanpa cacat. Siapa lagi yang dimaksud kalau bukan Raden Arjuna si Panengah Pandawa itu?

Prabu Duryudana juga pernah mendengar cerita bagaimana caranya membedakan wanita yang masih perawan atau tidak. Wanita jika masih perawan pasti mengeluarkan darah saat bersetubuh pertama kali. Padahal, saat malam pertama perkawinan mereka, ternyata darah tersebut tidak keluar dari kemaluan Dewi Banuwati. Hal ini membuat Prabu Duryudana curiga jangan-jangan istrinya itu memang pernah berbuat zina dengan Raden Arjuna sebelum menikah dengannya. Itulah sebabnya, ia pun ragu apakah bayi yang dikandung Dewi Banuwati kali ini benar-benar anaknya atau bukan.

Resi Druna menasihati Prabu Duryudana agar jangan mudah menuduh istri berbuat zina jika tidak memiliki bukti yang cukup. Tuduhan yang keliru hanya akan merusak keharmonisan rumah tangga belaka. Tidak hanya itu, menuduh Dewi Banuwati tanpa bukti juga akan merusak hubungan baik antara Kerajaan Hastina dengan Kerajaan Mandraka. Maka, Prabu Duryudana sebaiknya tidak buru-buru mencurigai istri hanya karena tidak mengeluarkan darah di malam pertama.

Adipati Karna membenarkan ucapan Resi Druna. Soal mengeluarkan darah atau tidak itu tidak boleh digunakan sebagai acuan. Setiap perempuan memiliki riwayat tubuh yang berbeda-beda. Ada perempuan yang sewaktu muda pernah kecelakaan terjatuh dari kuda atau kereta, sehingga bisa saja merusak bagian dalam kelaminnya. Atau ada juga perempuan yang bagian dalam kelaminnya berukuran tebal, sehingga tidak mudah koyak dan mengeluarkan darah saat berhubungan badan dengan suaminya pertama kali. Oleh sebab itu, suami jangan mudah termakan mitos soal darah perawan, karena itu hanya akan menjadi beban yang merugikan dalam mengarungi biduk rumah tangga. Suami dan istri lebih baik saling percaya daripada saling menaruh curiga.

Patih Sangkuni berpendapat lain. Prabu Duryudana bukan hanya seorang suami biasa, tetapi juga seorang raja besar. Apa jadinya jika permaisuri seorang raja agung ternyata pernah berbuat zina sebelum menikah? Soal dugaan Dewi Banuwati mengandung anak orang lain itu perlu diselidiki lebih lanjut. Apalagi ini menyangkut soal penerus takhta Kerajaan Hastina pula. Kalau benar bayi yang dikandung Dewi Banuwati adalah putra Raden Arjuna, maka hal ini akan sangat berbahaya. Raden Arjuna adalah anggota Pandawa. Apabila benar demikian, maka si bayi akan menjadi musuh dalam selimut bagi para Kurawa.

Prabu Duryudana menjadi bimbang. Di satu sisi ia menerima nasihat Resi Druna dan Adipati Karna, namun di sisi lain ia juga percaya pada ucapan Patih Sangkuni. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya ia pun mengambil jalan tengah. Apabila bayi yang dilahirkan Dewi Banuwati berkelamin laki-laki, maka Prabu Duryudana bersedia mengakuinya sebagai putra. Namun, apabila bayi yang lahir berkelamin perempuan, maka ia akan mengusir Dewi Banuwati beserta anaknya itu dari Kerajaan Hastina.

PRABU MANDRAJAYA HENDAK MEREBUT DEWI BANUWATI

Usai Prabu Duryudana mengucapkan sumpah, tiba-tiba muncul seorang laki-laki datang menghadap. Laki-laki itu bernama Patih Mandradenta dari Kerajaan Saroja. Kedatangannya ialah untuk menyampaikan sepucuk surat dari rajanya yang bernama Prabu Mandrajaya. Prabu Duryudana pun menerima surat itu dan membaca isinya.

Dalam surat tersebut Prabu Mandrajaya menceritakan asal usulnya. Dahulu kala tersebutlah Kerajaan Mandrapura di tanah seberang yang dipimpin oleh Prabu Barandana. Pada suatu hari Kerajaan Mandrapura hancur diserang Prabu Bahlikasura dari Kerajaan Siwandapura. Prabu Barandana pun tewas dalam serangan tersebut. Kedua putra Prabu Barandana yang bernama Raden Kardana dan Raden Karjaya terpencar menyelamatkan diri masing-masing. Raden Kardana lalu mengabdi kepada Prabu Basukiswara di Kerajaan Wirata dan mendapatkan sebidang tanah di Hutan Keling. Raden Kardana lalu membabat hutan tersebut menjadi negara baru, yang diberi nama Kerajaan Mandraka. Ia pun menjadi raja pertama, bergelar Prabu Mandrakusuma. Adapun Prabu Salya yang memerintah Kerajaan Mandraka saat ini adalah keturunan dari Prabu Mandrakusuma tersebut.

Sementara itu, adik Raden Kardana yang bernama Raden Karjaya juga berkelana tetapi tidak menjadi raja, melainkan hidup berbaur dengan rakyat jelata. Setelah turun-temurun barulah ada seorang keturunannya yang berhasil mendirikan sebuah negara baru bernama Kerajaan Saroja. Keturunannya itu tidak lain adalah Prabu Mandrajaya yang kini berkirim surat kepada Prabu Duryudana.

Prabu Mandrajaya berniat mempersatukan dua cabang keturunan Prabu Barandana dengan cara melamar putri Prabu Salya di Mandraka. Sayang sekali, ketiga putri Prabu Salya sudah menikah semua. Prabu Mandrajaya tidak mau menyerah begitu saja. Di antara ketiga putri tersebut yang paling menarik perhatiannya adalah Dewi Banuwati yang telah menikah dengan Prabu Duryudana di Kerajaan Hastina. Untuk itulah, Prabu Mandrajaya pun berkirim surat agar Prabu Duryudana menceraikan Dewi Banuwati dan menyerahkan jandanya itu sebagai permaisuri Kerajaan Saroja.

Prabu Duryudana tersinggung membaca surat tersebut. Ia pun membanting dan memaki Patih Mandradenta bahwa Dewi Banuwati tidak akan pernah diserahkan kepada siapa pun. Patih Mandradenta menjawab dirinya sudah mendapat wewenang dari Prabu Mandrajaya, apabila Prabu Duryudana menolak menyerahkan istrinya, maka harus direbut melalui peperangan. Mendengar ini, Adipati Karna segera menanggapi bahwa dirinyalah yang akan melayani tantangan pihak Kerajaan Saroja. Untuk itu, Patih Mandradenta diminta menunggu di luar dengan mempersiapkan seluruh pasukannya. Patih Mandradenta setuju dan segera pamit undur diri kembali ke induk pasukannya.

Setelah Patih Mandradenta keluar, Resi Druna menggoda Prabu Duryudana dengan bertanya mengapa Dewi Banuwati tidak diserahkan saja, bukankah tadi sang permaisuri sudah dicurigai pernah berbuat serong? Prabu Duryudana menjawab bahwa Dewi Banuwati adalah permaisurinya. Bagaimanapun juga ini menyangkut wibawanya sebagai raja. Jika sampai istrinya direbut orang, maka wibawanya akan ikut jatuh pula di mata rakyat. Resi Druna senang mendengar jawaban ini. Ia pun berdoa semoga pihak Hastina mampu mengalahkan tantangan Kerajaan Saroja.

PRABU DURYUDANA MENEMUI DEWI BANUWATI

Prabu Duryudana telah membubarkan pertemuan. Ia lalu masuk ke dalam kedaton menemui sang permaisuri Dewi Banuwati yang hari ini telah memasuki usia kandungan sembilan bulan, dan mungkin akan segera melahirkan. Tampak pula Dewi Srutikanti (istri Adipati Karna) berjaga menemani di sisi Dewi Banuwati.

Melihat Prabu Duryudana datang, Dewi Banuwati dan Dewi Srutikanti segera menyambut ramah. Prabu Duryudana tampak bermuka masam. Ia pun bercerita bahwa dirinya baru saja menerima surat dari seorang raja bernama Prabu Mandrajaya di Kerajaan Saroja. Surat itu berisi permintaan Prabu Mandrajaya agar Prabu Duryudana menyerahkan Dewi Banuwati kepadanya. Tujuan Prabu Mandrajaya ingin menikahi Dewi Banuwati adalah untuk mempererat tali kekeluargaan antara sesama cabang keturunan mendiang Prabu Barandana raja Mandrapura.

Dewi Banuwati sangat marah mendengar berita itu. Ia merasa lebih baik mati daripada Prabu Duryudana menyerahkan dirinya kepada laki-laki lain. Prabu Duryudana pun bertanya apakah ucapan istrinya itu tulus dari hati ataukah hanya manis di bibir saja? Dewi Banuwati pun ditanyai apabila dirinya diserahkan kepada laki-laki lain, dan laki-laki itu adalah Raden Arjuna lantas bagaimana sikapnya, menolak atau tidak?

Dewi Banuwati pucat pasi tidak bisa menjawab. Dewi Srutikanti segera membela adiknya dengan menyebut pertanyaan Prabu Duryudana sangatlah tidak pantas. Prabu Duryudana pun berterus terang bahwa dirinya baru saja mengambil keputusan. Apabila bayi yang dilahirkan Dewi Banuwati berkelamin laki-laki, maka ia bersedia menerimanya sebagai putra. Sebaliknya, jika Dewi Banuwati melahirkan anak perempuan, maka itu pastilah anak Raden Arjuna. Jika benar itu yang terjadi, maka Prabu Duryudana tidak segan-segan mengusir Dewi Banuwati keluar dari Kerajaan Hastina beserta anaknya sekaligus.

Dewi Banuwati tergetar mendengar keputusan Prabu Duryudana tersebut. Ia pun jatuh lemas dan segera dipapah Dewi Srutikanti masuk ke dalam. Dewi Srutikanti pun menyesali ucapan Prabu Duryudana yang melampaui batas. Sebagai suami bukannya menenangkan perasaan istri yang sedang hamil tua, tetapi justru bersikap kasar seperti itu. Prabu Duryudana merasa serbasalah. Ia pun pamit keluar ingin menonton Adipati Karna menghancurkan musuh dari Kerajaan Saroja. Soal bagaimana nanti Dewi Banuwati melahirkan, biarlah Dewi Srutikanti saja yang mendampingi. Usai berkata demikian, ia pun bergegas keluar meninggalkan kedaton.

DEWI BANUWATI MELAHIRKAN BAYI PEREMPUAN

Dewi Srutikanti lalu memapah adiknya masuk ke dalam kamar. Dewi Banuwati merasa dirinya akan segera melahirkan. Menyadari hal itu, Dewi Srutikanti khawatir ucapan Prabu Duryudana menjadi kenyataan. Maka, ia pun seorang diri membantu Dewi Banuwati melahirkan tanpa perlu memanggil bidan atau dayang istana. Ternyata benar, Dewi Banuwati hari itu melahrkan seorang bayi perempuan.

Dewi Banuwati menangis sambil bercerita kepada sang kakak bahwa dirinya memang pernah berselingkuh dengan Raden Arjuna, yaitu ketika menjelang pernikahan dulu. Saat itu dirinya dirias di dalam kamar oleh Raden Arjuna hanya berdua saja. Mereka sama-sama terlena sehingga melakukan hubungan badan. Tak disangka, persetubuhan tersebut membuat Dewi Banuwati mengandung hingga akhirnya kini melahirkan anak perempuan.

Dewi Srutikanti sangat kesal mendengar ulah adiknya yang sangat memalukan. Namun, bagaimanapun juga ia tidak rela jika Dewi Banuwati sampai diusir dari Kerajaan Hastina. Ini semua adalah tanggung jawab Raden Arjuna. Oleh sebab itu, Dewi Srutikanti pun menggendong bayi perempuan tersebut keluar melalui pintu belakang istana. Dewi Banuwati menangis sedih karena harus berpisah dengan putrinya yang baru lahir, hingga akhirnya ia pun jatuh pingsan.

ADIPATI KARNA MEMUKUL MUNDUR PASUKAN SAROJA

Sementara itu, Adipati Karna bersama pasukan Hastina telah berhadap-hadapan dengan musuh dari Kerajaan Saroja yang dipimpin Patih Mandradenta. Tidak lama kemudian, kedua pihak saling menyerang. Pertempuran sengit pun terjadi. Adipati Karna dibantu Patih Adimanggala, Arya Druwajaya, dan Arya Jayarata berhasil memukul mundur pasukan musuh tersebut.

Prabu Duryudana sangat senang melihat kemenangan kakak iparnya. Namun, ia tidak mau berhenti sampai di sini saja. Ia ingin peperangan tetap dilanjutkan, yaitu Kerajaan Saroja harus ditaklukkan menjadi jajahan Kerajaan Hastina. Prabu Duryudana ingin melihat seperti apa wajah Prabu Mandrajaya yang berani lancang hendak merebut istrinya.

Usai berkata demikian, Prabu Duryudana pun naik ke punggung Gajah Murdaningkung kemudian mengajak Adipati Karna, Patih Sangkuni, dan segenap pasukan Hastina untuk berangkat menggempur Kerajaan Saroja.

DEWI SRUTIKANTI BERTEMU RADEN ARJUNA

Karena Prabu Duryudana sudah berangkat menyerang Kerajaan Saroja, Dewi Srutikanti pun dapat leluasa menyelinap keluar meninggalkan istana Kerajaan Hastina sambil menggendong bayi perempuan yang baru saja dilahirkan adiknya. Belum seberapa jauh kepergiannya, tiba-tiba ia melihat Raden Arjuna bersama para panakawan sedang berjalan menuju ibu kota Hastina.

Dewi Srutikanti pun bertanya ada keperluan apa Raden Arjuna hendak berkunjung ke Kerajaan Hastina. Raden Arjuna mengaku tadi malam ia bermimpi melihat Dewi Banuwati disiksa Prabu Duryudana karena melahirkan bayi perempuan. Itulah sebabnya dirinya hendak datang ke istana Hastina untuk menolong Dewi Banuwati.

Dewi Srutikanti membenarkan mimpi tersebut bahwa Dewi Banuwati memang baru saja melahirkan seorang bayi perempuan. Namun, alangkah baiknya untuk selanjutnya Raden Arjuna jangan lagi mengganggu kehidupan rumah tangga adiknya dan Prabu Duryudana. Jika sampai Raden Arjuna muncul di Kerajaan Hastina, maka rumah tangga mereka bisa hancur berantakan. Dewi Srutikanti menasihati agar Raden Arjuna melupakan kisah cintanya dengan Dewi Banuwati untuk selamanya, apalagi mereka masing-masing sudah sama-sama menikah.

Kyai Semar membenarkan ucapan Dewi Srutikanti. Di sepanjang jalan tadi dirinya sudah banyak menasihati Raden Arjuna tetapi sama sekali tidak ditanggapi. Kini Dewi Srutikanti juga menasihati demikian, alangkah baiknya Raden Arjuna mengurungkan niatnya ingin menemui Dewi Banuwati.

Dewi Srutikanti lalu menyerahkan bayi perempuan yang ada di gendongannya kepada Raden Arjuna. Ia berkata bahwa bayi tersebut adalah putri hasil hubungan Dewi Banuwati dengan Raden Arjuna sesaat sebelum adiknya itu menikah dengan Prabu Duryudana. Ia juga menceritakan Prabu Duryudana baru saja bersumpah akan mengakui anak apabila Dewi Banuwati melahirkan bayi laki-laki. Sebaliknya, jika yang lahir perempuan, maka Dewi Banuwati akan diusir dari Kerajaan Hastina. Oleh sebab itu, Dewi Srutikanti pun membawa lari bayi perempuan tersebut untuk meminta pertanggungjawaban Raden Arjuna.

Raden Arjuna berkata dirinya pasti akan bertanggung jawab, jangan sampai Dewi Banuwati menderita sebagaimana yang ia lihat dalam mimpi. Ia pun menerima bayi perempuan tersebut dan meminta Dewi Srutikanti agar segera pulang menjaga Dewi Banuwati. Ia berjanji akan mengamankan bayi perempuan ini, serta mencarikan ganti seorang bayi laki-laki untuk diselundupkan ke dalam Kerajaan Hastina.

Usai berkata demikian, Raden Arjuna pun menyuruh para panakawan agar pulang saja ke Kerajaan Amarta, sedangkan ia sendirian melesat pergi dengan mengerahkan Aji Seipi Angin, sambil menggendong putrinya yang baru lahir tersebut.

RADEN ARJUNA MENYERAHKAN BAYINYA KEPADA ENDANG MANUHARA

Raden Arjuna teringat bahwa dirinya memiliki seorang istri paminggir yang tinggal di Padepokan Andongsumawi, yaitu Endang Manuhara putri Resi Sidiwacana. Mereka pertama kali bertemu saat Raden Arjuna terlempar oleh kesaktian Patih Sekiputantra dalam pertempuran di Kahyangan Suralaya dulu. Saat itu Raden Arjuna jatuh pingsan dan dirawat sampai sembuh oleh Resi Sidiwacana dan Endang Manuhara. Kemudian Raden Arjuna pun menikah dengan gadis itu dan untuk sementara waktu tinggal di Padepokan Andongsumawi. Hingga pada suatu hari, Adipati Karna datang menjemput Raden Arjuna untuk menjadi juru rias pengantin Dewi Banuwati di Kerajaan Mandraka. Ketika Raden Arjuna pergi meninggalkan Padepokan Andongsumawi, saat itu Endang Manuhara sedang mengandung usia tiga bulan.

Raden Arjuna yakin saat ini istrinya tersebut pasti sudah melahirkan. Ia pun bergegas menuju Padepokan Andongsumawi dan berhasil sampai di sana. Dilihatnya Endang Manuhara sedang berdiri di depan bangunan padepokan sambil menggendong seorang bayi perempuan pula.

Raden Arjuna pun disambut hangat oleh istrinya itu. Endang Manuhara segera memperkenalkan bayi yang ia gendong merupakan putri hasil perkawinan mereka. Bayi perempuan tersebut telah diberi nama Endang Pregiwa oleh kakeknya. Raden Arjuna sangat terharu memandang anak pertamanya. Ia pun menggendong bayi tersebut sekaligus dengan bayi perempuan yang ia bawa, masing-masing di lengan kanan dan kiri.

Endang Manuhara lalu bertanya siapa bayi perempuan yang satunya lagi. Raden Arjuna menjawab malu-malu bahwa ini adalah putrinya sendiri yang dilahirkan oleh Dewi Banuwati. Endang Manuhara heran mendengarnya. Ia masih ingat dulu Adipati Karna datang menjemput suaminya untuk menjadi juru rias Dewi Banuwati yang akan menikah dengan Prabu Duryudana. Namun, mengapa sekarang justru Dewi Banuwati melahirkan anak perempuan Raden Arjuna?

Raden Arjuna pun menjelaskan bahwa sebelum dijodohkan dengan Prabu Duryudana, Dewi Banuwati pernah menjalin hubungan asmara dengannya. Menjelang upacara pernikahannya, Dewi Banuwati sengaja meminta disediakan seorang juru rias yang tampan tanpa cacat. Maksudnya ialah, agar Prabu Duryudana menghadirkan Raden Arjuna kepadanya. Rupa-rupanya Dewi Banuwati ingin berpamitan dengan kekasihnya tersebut.

Demikianlah, Raden Arjuna dan Dewi Banuwati pun hanya berdua di dalam kamar. Dalam pertemuan itu Dewi Banuwati mengutarakan isi hatinya hingga membuat Raden Arjuna terharu. Mereka pun saling menangis sedih hingga akhirnya sama-sama terlena oleh nafsu. Begitulah ceritanya, Dewi Banuwati akhirnya melakukan hubungan badan dengan Raden Arjuna sesaat sebelum menikah dengan Prabu Duryudana.

Akibat hubungan tersebut, Dewi Banuwati pun mengandung hingga akhirnya kini melahirkan. Rupa-rupanya Prabu Duryudana merasa curiga apakah benar bayi tersebut adalah anaknya atau bukan. Maka, ia pun mengambil jalan tengah. Apabila yang lahir bayi laki-laki, maka ia bersedia menerimanya sebagai putra. Namun, jika yang lahir bayi perempuan, maka ia akan mengusir Dewi Banuwati karena yakin pasti bayi tersebut adalah anak hasil perselingkuhan istrinya dengan Raden Arjuna.

Sudah menjadi takdir dewata ternyata bayi yang lahir memang perempuan. Dewi Srutikanti kakak kandung Dewi Banuwati pun menyelamatkan bayi tersebut dan meminta Raden Arjuna agar bertanggung jawab, jangan sampai adiknya diusir dari Kerajaan Hastina. Raden Arjuna menerima bayi tersebut dan berniat menitipkannya kepada Endang Manuhara di Padepokan Andongsumawi.

Mendengar itu, Endang Manuhara sangat kesal karena dirinya dijadikan sebagai tempat penitipan belaka. Sang suami berbuat selingkuh dengan wanita lain, namun ia yang harus ikut bertanggung jawab pula. Endang Manuhara merasa berat jika harus mengasuh anak hasil perselingkuhan mereka. Namun, tiba-tiba si bayi putri Dewi Banuwati menangis karena lapar. Seketika sifat keibuan Endang Manuhara pun tergugah. Ia segera mengambil bayi perempuan tersebut dari tangan Raden Arjuna dan menyusuinya.

Bayi perempuan tersebut langsung diam dan meneguk air susu Endang Manuhara dengan lahap. Melihat wajah si bayi yang polos dan cantik, Endang Manuhara yang tadinya kesal berubah menjadi senang, seolah dirinya kini memiliki dua orang anak sekaligus. Ia pun bersedia merawat bayi tersebut dan menjadikannya sebagai adik Endang Pregiwa. Endang Manuhara lalu memberi nama putri barunya itu, Endang Pregiwati.

Raden Arjuna setuju dan juga sangat bahagia atas ketulusan hati sang istri. Kini ia merasa lega karena masalah pertama sudah teratasi. Sekarang tinggal masalah kedua, yaitu mencari bayi laki-laki untuk diserahkan kepada Dewi Banuwati. Endang Manuhara seketika teringat bahwa sang ayah, yaitu Resi Sidiwacana hari ini sedang mengunjungi kawan lamanya, yaitu Nyai Clekutana di Hutan Pringgabaya. Konon kabarnya, putri Nyai Clekutana yang bernama Mirahdinebak baru saja melahirkan bayi laki-laki tanpa ayah. Mendengar itu, Raden Arjuna segera mohon pamit kepada sang istri untuk kemudian bergegas menuju Hutan Pringgabaya.

RADEN ARJUNA MEMINTA ANAK MIRAHDINEBAK

Dengan mengerahkan Aji Seipi Angin, Raden Arjuna pun sampai di tempat tinggal Nyai Clekutana dalam waktu singkat. Bagaimanapun juga ia pernah datang ke tempat itu bersama Adipati Karna untuk mencari seekor gajah putih sebagai syarat pernikahan Prabu Duryudana. Itulah sebabnya, Raden Arjuna dapat langsung menemukan rumah Nyai Clekutana. Tampak di sana Mirahdinebak sedang menggendong seorang bayi laki-laki. Resi Sidiwacana juga masih berada di tempat itu untuk mengucapkan selamat atas kelahiran cucu sahabatnya.

Resi Sidiwacana bertanya ada keperluan apa menantunya datang menyusul. Raden Arjuna berterus terang menceritakan Prabu Duryudana telah mencurigai istrinya, yaitu Dewi Banuwati berbuat selingkuh. Prabu Duryudana pun bersumpah jika istrinya melahirkan bayi perempuan maka akan diusir kedua-duanya dari Kerajaan Hastina, namun jika melahirkan bayi laki-laki maka akan diakui sebagai anak. Sungguh kebetulan yang lahir adalah perempuan. Maka, Raden Arjuna pun mengambil dan menitipkan bayi itu agar diasuh oleh Endang Manuhara yang baru saja melahirkan Endang Pregiwa. Bayi tersebut telah diterima oleh Endang Manuhara dan diberi nama Endang Pregiwati.

Kini kedatangan Raden Arjuna ke Hutan Pringgabaya adalah untuk meminta bayi laki-laki yang baru saja dilahirkan oleh Mirahdinebak. Bayi tersebut rencananya akan diserahkan kepada Dewi Banuwati agar diakui sebagai anak Prabu Duryudana. Nyai Clekutana merasa permintaan ini sangat aneh dan ia tidak rela jika cucunya harus dibawa oleh Raden Arjuna.

Mirahdinebak sendiri tergetar mendengarnya. Selama ini ia menjaga rahasia siapa sebenarnya ayah dari bayi yang ia lahirkan tersebut. Hari ini ia terpaksa bercerita kepada Nyai Clekutana dan Resi Sidiwacana bahwa bayinya adalah putra Prabu Duryudana raja Hastina. Awal mulanya ialah Prabu Duryudana handak meminjam gajah putih peliharaan Mirahdinebak sebagai syarat pernikahannya dengan Dewi Banuwati. Mirahdinebak bersedia menyerahkan Gajah Murdaningkung untuk menjadi milik Prabu Duryudana selamanya, asalkan mereka bersetubuh terlebih dahulu. Prabu Duryudana menerima syarat tersebut. Demikianlah awal mula mengapa Mirahdinebak dapat mengandung anak Prabu Duryudana.

Raden Arjuna merasa kesal mendengarnya, karena Prabu Duryudana menuduh Dewi Banuwati berselingkuh, padahal dirinya sendiri juga berhubungan badan dengan Mirahdinebak. Raden Arjuna lalu memohon agar Mirahdinebak bersedia menyerahkan bayi laki-laki itu kepadanya demi menyelamatkan nasib Dewi Banuwati.

Sebagai seorang ibu, Mirahdinebak sebenarnya sangat sayang kepada putranya. Namun, sebagai sesama wanita, ia merasa kasihan pada nasib Dewi Banuwati. Setelah ditimbang-timbang, ia akhirnya merelakan Raden Arjuna membawa putranya untuk diserahkan kepada Dewi Banuwati. Lagipula putranya itu adalah anak kandung Prabu Duryudana, tentunya lebih baik jika mendapat penghidupan yang layak di dalam istana bersama ayahnya.

Raden Arjuna sangat berterima kasih dan menggendong bayi laki-laki tersebut. Ia lalu mohon pamit kepada Nyai Clekutana dan Mirahdinebak, begitu pula Resi Sidiwacana juga berpamitan kepada ibu dan anak tersebut. Mereka lalu pergi ke tujuan masing-masing. Raden Arjuna menuju Kerajaan Hastina, sedangkan Resi Sidiwacana pulang ke Padepokan Andongsumawi.

RESI DRUNA MEMINTA BANTUAN PARA PANDAWA

Sementara itu di Kerajaan Amarta, Prabu Puntadewa sedang dihadap Arya Wrekodara, si kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa, serta Patih Tambakganggeng dan para panakawan. Tiba-tiba datang Resi Druna menemui mereka. Prabu Puntadewa pun menyambut kedatangan sang guru dan bertanya ada keperluan apa. Resi Druna berkata bahwa Prabu Duryudana, Adipati Karna, Patih Sangkuni, dan segenap Kurawa telah pergi menyerang Kerajaan Saroja menghadapi Prabu Mandrajaya yang berniat merebut Dewi Banuwati. Namun, dalam peperangan itu mereka jatuh ke dalam perangkap musuh yang dipasang secara licik. Kini, Prabu Duryudana, Adipati Karna, dan Patih Sangkuni menjadi tawanan Prabu Mandrajaya.

Resi Druna yang mengawasi dari kejauhan segera pergi untuk meminta bantuan. Untuk itulah ia sengaja datang ke istana Indraprasta untuk meminta pertolongan Prabu Puntadewa dan saudara-saudaranya agar bersedia membebaskan Prabu Duryudana dan yang lain.

Arya Wrekodara menanggapi bahwa itu semua adalah akibat ulah Prabu Duryudana sendiri. Prabu Duryudana terlalu sombong menyerang Kerajaan Saroja. Kesombongannya itulah yang membuat dirinya celaka. Selain itu Prabu Duryudana juga sering berbuat licik kepada para Pandawa, maka pantas jika hari ini mendapat balasan setimpal dari Prabu Mandrajaya yang sama-sama licik. Oleh sebab itu, ia menyatakan tidak sudi pergi membantu.

Prabu Puntadewa menasihati Arya Wrekodara agar jangan bersikap demikian. Bagaimanapun juga Kerajaan Hastina adalah tanah air dan kampung halaman para Pandawa. Saat ini raja Hastina sedang kesusahan, sudah seharusnya para Pandawa turun tangan membantu. Apabila Prabu Duryudana tidak dibebaskan, Kerajaan Hastina akan menjadi kacau karena tidak memiliki pemimpin. Keributan bisa terjadi di mana-mana, dan yang paling menderita sudah pasti rakyat jelata.

Arya Wrekodara menimbang-nimbang dan akhirnya bersedia membantu membebaskan Prabu Duryudana dan kawan-kawan. Ia kemudian mohon pamit kepada sang kakak sulung, lalu berangkat bersama Resi Druna. Para panakawan yang tadi diperintahkan pulang oleh Raden Arjuna, kini ikut berangkat pula menyertai Arya Wrekodara menuju Kerajaan Saroja.

ARYA WREKODARA MENGALAHKAN PRABU MANDRAJAYA

Arya Wrekodara dan Resi Druna telah sampai di Kerajaan Saroja. Prabu Mandrajaya pun keluar menghadapi mereka. Resi Druna menantang raja tersebut untuk menghadapi muridnya yang baru datang ini. Jika Prabu Mandrajaya kalah, maka Prabu Duryudana dan semua pengikutnya harus dibebaskan. Namun, apabila Arya Wrekodara yang kalah, maka Prabu Mandrajaya berhak mendapatkan Dewi Banuwati lengkap dengan seluruh Kerajaan Hastina.

Prabu Mandrajaya sepakat. Ia lalu mengangkat gada untuk melayani tantangan Arya Wrekodara. Di lain pihak, Arya Wrekodara juga sudah siap dengan senjata Gada Rujakpolo di tangan. Mereka pun maju dan saling menyerang. Pertarungan sengit pun terjadi. Sungguh dahsyat perkelahian mereka hingga banyak bangunan istana Saroja yang rusak terkena pukulan gada.

Prabu Mandrajaya akhirnya lengah karena melihat istanya rusak dihantam gada Arya Wrekodara. Akibatnya, Gada Rujuakpolo pun mendarat di kepalanya. Prabu Mandrajaya roboh seketika. Ia bersumpah sukmanya akan menyatu dengan putra Prabu Duryudana, agar selalu menjadi musuh anak-anak para Pandawa. Usai berkata demikian, Prabu Mandrajaya pun meninggal dunia. Rohnya keluar meninggalkan raga naik ke angkasa dalam wujud seberkas sinar.

Resi Druna pun bergegas membebaskan Prabu Duryudana, Adipati Karna, Patih Sangkuni, dan para Kurawa lainnya dari dalam penjara. Prabu Duryudana sangat malu karena dirinya dibebaskan oleh Arya Wrekodara yang selama ini dianggapnya sebagai musuh. Namun, Resi Druna menasihati sang raja agar menenangkan diri. Yang terpenting saat ini Kerajaan Saroja sudah menjadi taklukan Kerajaan Hastina dan itu berarti wilayah Kerajaan Hastina menjadi jauh lebih luas lagi.

Prabu Duryudana merasa senang. Ia lalu mengajak Arya Wrekodara ikut kembali ke Kerajaan Hastina di mana ia berniat menjamu sepupunya itu sebagai ungkapan terima kasih. Resi Druna meminta Arya Wrekodara memenuhi undangan tersebut dan tidak perlu khawatir karena dirinya yang akan menjamin para Kurawa tidak akan berbuat jahat. Arya Wrekodara menyatakan bersedia. Ia sama sekali tidak takut Prabu Duryudana meracuni makanannya, karena sejak meminum air pusaka Tirtamanik Rasakunda pemberian Batara Basuki, dirinya kini menjadi kebal terhadap segala jenis racun.

Demikianlah, Prabu Duryudana bersama seluruh rombongan kemudian pulang ke Kerajaan Hastina dengan penuh kegembiraan.

RADEN ARJUNA MENYERAHKAN ANAK MIRAHDINEBAK KEPADA DEWI BANUWATI

Sementara itu, Raden Arjuna telah menyusup masuk ke dalam istana Kerajaan Hastina dan menemui Dewi Srutikanti. Saat itu Dewi Banuwati telah bangun dari pingsan dan bertanya bagaimana keadaan putrinya. Raden Arjuna menjawab bahwa sang putri kecil baik-baik saja, dan kini berada dalam asuhan istrinya yang bernama Endang Manuhara. Dewi Banuwati sangat bersyukur dan berterima kasih atas segala bantuan Raden Arjuna. Dewi Srutikanti berkata tidak perlu berterima kasih, karena bagaimanapun juga Raden Arjuna adalah ayah kandung si bayi. Raden Arjuna sudah berbuat, maka harus ikut bertanggung jawab. Demikianlah, sejak dulu Dewi Srutikanti memang tidak pernah suka kepada Raden Arjuna, sungguh berbeda dengan para wanita kebanyakan.

Dewi Srutikanti lalu bertanya, siapa bayi laki-laki yang digendong Raden Arjuna sekarang. Raden Arjuna menjawab, bayi laki-laki ini adalah putra kandung Prabu Duryudana sendiri. Dahulu ketika hendak menikah, Dewi Banuwati mengajukan syarat agar Prabu Duryudana menyediakan seekor gajah putih dengan pawang wanita sebagai kendaraan pengantin. Prabu Duryudana berhasil mendapatkan Gajah Murdaningkung, tetapi syaratnya harus mau berhubungan badan lebih dulu dengan si pawang yang bernama Mirahdinebak. Demikianlah, bayi laki-laki ini adalah buah dari persetubuhan mereka.

Dewi Banuwati menerima bayi laki-laki itu sambil menggerutu, bahwa Prabu Duryudana telah menuduhnya sudah tidak perawan saat menikah, padahal suaminya itu ternyata juga tidak perjaka saat menikah dengannya.

Tiba-tiba terdengar suara ramai-ramai di luar. Ternyata rombongan Prabu Duryudana telah tiba di Kerajaan Hastina dan mendapat sambutan meriah atas kemenangannya mengalahkan Prabu Mandrajaya. Menyadari hal itu, Raden Arjuna segera mohon pamit untuk menghindar jangan sampai dirinya ketahuan masuk ke dalam kedaton. Dewi Banuwati merasa berat untuk melepas kepergian mantan kekasihnya itu. Namun, Dewi Srutikanti dengan tegas mengatakan bahwa Raden Arjuna sudah berjanji untuk tidak lagi mengganggu rumah tangga Dewi Banuwati dan Prabu Duryudana. Janji tersebut harus dipegang teguh. Raden Arjuna menjawab dirinya tidak akan melanggar janji ini. Namun kelak, jika Prabu Duryudana sudah meninggal, maka ia akan datang untuk menjemput dan memboyong Dewi Banuwati.

Usai berkata demikian, Raden Arjuna pun melesat pergi meninggalkan istana Kerajaan Hastina.

PRABU DURYUDANA MENGAKUI RADEN LESMANA SEBAGAI PUTRA

Prabu Duryudana dan rombongan telah memasuki istana dan mereka pun disambut Dewi Banuwati dan Dewi Srutikanti. Prabu Duryudana langsung bertanya apakah Dewi Banuwati melahirkan bayi laki-laki atau perempuan. Dewi Banuwati menyerahkan bayi yang ia gendong untuk diperiksa sendiri oleh Prabu Duryudana. Prabu Duryudana pun menerima bayi itu dan alangkah bahagia dirinya setelah melihat kelamin si bayi ternyata laki-laki.

Patih Sangkuni menanggapi dengan sinis agar Prabu Duryudana jangan buru-buru senang dulu. Bisa jadi Dewi Banuwati melahirkan bayi perempuan namun kemudian ditukar dengan bayi laki-laki anak orang lain. Mendengar itu, Dewi Banuwati segera mempersilakan Patih Sangkuni untuk melihat langsung, wajah bayi tersebut mirip siapa, apakah mirip Prabu Duryudana ataukah mirip orang lain?

Patih Sangkuni maju dan memeriksa. Alangkah terkejut dirinya ternyata wajah si bayi memang sangat mirip dengan Prabu Duryudana. Kini ia tidak ragu lagi dan menyarankan agar Prabu Duryudana menerima bayi tersebut sebagai putra.

Prabu Duryudana sangat bahagia setelah mendapat kepastian dari sang paman. Ia pun menggendong bayi tersebut dengan penuh kegembiraan. Ia juga meminta maaf karena selama ini telah mencurigai Dewi Banuwati. Mulai hari ini ia berjanji akan selalu sayang kepada istrinya itu dan bersumpah tidak akan menikah lagi untuk selamanya, juga tidak akan mengambil selir sama sekali. Dewi Banuwati merasa sangat bahagia mendengarnya, dan ia pun menoleh kepada Dewi Srutikanti dengan pandangan penuh rasa terima kasih.

Arya Wrekodara yang ikut dalam rombongan itu menyarankan agar Prabu Duryudana segera memberi nama putranya. Prabu Duryudana merasa bingung tidak tahu harus memberi nama apa karena selama ini ia yakin Dewi Banuwati pasti berselingkuh dan melahirkan anak perempuan. Untuk itu, ia menyerahkan kepada sang istri, terserah putra mereka akan diberi nama siapa.

Dewi Banuwati pun berkata bahwa di zaman kuno ada seorang kesatria sakti bernama Raden Lesmana yang selalu melindungi Prabu Sri Rama. Kesatria ini sangat hebat dan juga seorang pemanah jitu. Bahkan, Prabu Sri Rama yang merupakan titisan Batara Wisnu pun merasa banyak berhutang budi kepadanya. Oleh sebab itu, Dewi Banuwati mengusulkan agar si bayi diberi nama Raden Lesmana saja. Prabu Duryudana merasa senang mendengarnya dan menerima nama tersebut sebagai nama putranya.

Patih Sangkuni tiba-tiba teringat sesuatu dan segera menyela. Ia mengatakan bahwa menurut dongeng yang pernah ia dengar, Raden Lesmana berwajah sangat tampan dan juga pandai memanah. Jangan-jangan Dewi Banuwati memilih nama itu karena terbayang-bayang Raden Arjuna yang juga berwajah tampan dan mahir memanah. Mendengar hasutan sang paman, Prabu Duryudana menjadi bimbang dan bertanya kepada Dewi Banuwati apa benar memiliki niat demikian.

Dewi Banuwati merasa bingung hendak menjawab apa. Dalam hati ia membenarkan, bahwa dirinya memilih nama Raden Lesmana karena kesatria tersebut memang tokoh di zaman kuno yang kepandaian dan wajahnya mengingatkan pada Raden Arjuna, mantan kekasihnya.

Kyai Semar yang ikut mendampingi Arya Wrekodara segera menengahi. Ia berkata bahwa Raden Lesmana memang mirip Raden Arjuna dalam hal ketampanan dan kepandaian memanah. Namun, keduanya berbeda sifat. Raden Lesmana tidak menikah seumur hidup, sedangkan Raden Arjuna sudah memiliki dua orang istri, yaitu istri paminggir bernama Endang Manuhara, dan istri padmi bernama Dewi Sumbadra. Maka, tidak sepantasnya Prabu Duryudana mencurigai Dewi Banuwati hanya karena masalah nama. Lagipula Prabu Duryudana seorang raja besar. Apa yang sudah diputuskan olehnya tidak baik jika dicabut kembali.

Mengingat usia Kyai Semar yang sudah ratusan tahun dan juga memiliki wawasan luas, Prabu Duryudana pun mererima saran darinya. Lagipula ia sudah terlanjur suka pada nama Raden Lesmana yang dianggapnya sangat bagus, sehingga tidak perlu diganti lagi. Maka, ia pun menetapkan putranya tetap memakai nama ini, dengan harapan kelak si bayi akan tumbuh menjadi seorang kesatria hebat seperti adik Prabu Sri Rama tersebut.

ROH PRABU MANDRAJAYA MENITIS KEPADA RADEN LESMANA

Ketika Prabu Duryudana sedang bergembira menggendong putranya, tiba-tiba dari angkasa melayang turun seberkas sinar yang langsung masuk dan bersatu pada diri Raden Lesmana. Seketika mata Raden Lesmana menjadi lebih lebar dan melotot, serta raut wajahnya menjadi tampak bodoh, kadang tertawa sendiri, kadang menangis sendiri.

Menyaksikan hal itu, Resi Druna segera teringat sesuatu. Ia pun bercerita bahwa sebelum meninggal, Prabu Mandrajaya bersumpah dirinya akan menitis kepada putra Prabu Duryudana. Maka, seberkas sinar tadi pastilah roh Prabu Mandrajaya tersebut yang datang untuk memenuhi ucapannya.

Prabu Duryudana merasa gemetar. Itu berarti putranya adalah titisan musuh. Resi Druna menasihati sang raja agar tidak perlu takut. Prabu Mandrajaya kini terlahir kembali sebagai Raden Lesmana bukan berarti menjadi musuh, tetapi bisa jadi ini menjadi sarana baginya untuk menebus dosa. Jika sewaktu hidupnya, Prabu Mandrajaya pernah menangkap dan memenjarakan Prabu Duryudana, maka kini ia menitis menjadi putra yang selalu melayani dan menyembah kaki Prabu Duryudana.

Prabu Duryudana merasa senang mendengar bekas musuhnya kelak akan menyembah kakinya sebagai putra. Maka, ia pun menambah nama putranya menjadi Raden Lesmana Mandrakumara, yang memiliki arti yaitu, Raden Lesmana titisan roh Prabu Mandra.

Tidak lama kemudian terdengar suara ribut-ribut di luar, ternyata Patih Mandradenta datang membawa pasukan Saroja untuk melakukan bela pati, yaitu ingin bertempur sampai mati menyusul Prabu Mandrajaya. Arya Wrekodara segera keluar dan menaklukkan pasukan dari Kerajaan Saroja tersebut. Patih Mandradenta tidak dibunuh, melainkan ditangkap dan dihadapkan kepada Prabu Duryudana.

Prabu Duryudana yang hari ini sedang berbahagia atas kelahiran putranya, tidak mau menjatuhkan hukuman mati kepada pasukan Saroja. Ia pun mengampuni Patih Mandradenta dan memerintahkannya untuk membangun kembali istana Kerajaan Saroja, dan mengganti namanya menjadi Sarojabinangun. Artinya ialah, Kerajaan Saroja yang dibangun kembali. Kelak Sarojabinangun hendaknya menjadi tempat tinggal putranya setelah dewasa, yaitu Raden Lesmana Mandrakumara. Patih Mandradenta mematuhi dan berterima kasih atas kemurahan hati Prabu Duryudana kepadanya.

Demikianlah, Prabu Duryudana pun berpesta tujuh hari - tujuh malam merayakan kelahiran putranya. Arya Wrekodara yang ikut dijamu sebagai pahlawan selalu bersikap waspada dan berhati-hati, jangan-jangan para Kurawa berbuat licik kepadanya. Setelah dirasa cukup, ia pun pamit pulang ke Kerajaan Amarta bersama para panakawan.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya

Untuk kisah Raden Kardana membangun Kerajaan Mandraka dapat dibaca di sini

Untuk kisah pertemuan pertama Raden Arjuna dan Dewi Banuwati, serta awal mula Dewi Srutikanti tidak menyukai Raden Arjuna dapat dibaca di sini

Untuk kisah pertemuan Raden Arjuna dan Endang Manuhara dapat dibaca di sini

Untuk kisah perkawinan Dewi Banuwati dan Prabu Duryudana dapat dibaca di sini













Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Parasara Lahir
    Kisah ini menceritakan kelahiran Bambang Parasara putra Batara Sakri dan Dewi Sati, yang kelak menjadi Resi Parasara, yaitu leluhur para Pan...
  • Sesaji Rajasuya
    Kisah ini menceritakan tentang upacara Sesaji Rajasuya yang diadakan oleh para Pandawa, serta kematian Prabu Jarasanda, musuh bebuyutan Pra...
  • Sakri Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Batara Sakri di tangan Prabu Murtija, raja raksasa dari Kerajaan Tirtakawana, serta awal mula Dewi Wayasi da...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  January (2)
      • Sewa Sound System Jogja Yogyakarta 08562954111
      • Hanya Rindu Andmesh Kemalang Covered
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja