Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Cakranegara - Madubrangta

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang kelanjutan Raden Arjuna dalam wujud Tumenggung Cakranegara yang berusaha mewujudkan syarat Dewi Srikandi, yaitu menyediakan patah sakembaran berupa dua pemuda berwajah tampan bersemu cantik. Syarat tersebut dapat terpenuhi setelah Tumenggung Cakranegara berjumpa Bambang Madubrangta dan Bambang Brangtakusuma.

Kisah ini saya olah dari sumber rangkuman balungan naskah Pakem Ringgit Purwa koleksi Museum Sonobudoyo, dengan disertai pengembangan seperlunya.

Kediri, 11 Maret 2017

Heri Purwanto

Kunjungi pula : daftar isi album kisah wayang

------------------------------ ooo ------------------------------

Tumenggung Cakranegara

PRABU BALADEWA INGIN MEMBOYONG DEWI SUMBADRA DARI KESATRIAN MADUKARA

Prabu Kresna Wasudewa di Kerajaan Dwarawati memimpin pertemuan, dengan dihadap Arya Setyaki dan Patih Udawa. Hadir pula sang kakak, yaitu Prabu Baladewa dari Kerajaan Mandura yang ingin mengajak berunding tentang nasib adik bungsu mereka, yaitu Dewi Sumbadra. Terus terang Prabu Baladewa merasa prihatin karena pernikahan Dewi Sumbadra dengan Raden Arjuna dianggapnya kurang bahagia. Sejak kecil keduanya memang sudah dijodohkan oleh mendiang Prabu Basudewa. Namun tak disangka, setelah dewasa Raden Arjuna bersifat mata keranjang yang mudah terpikat pada perempuan lain. Meskipun telah menikah dengan Dewi Sumbadra, ternyata Raden Arjuna juga menikahi Niken Larasati, saudara sepupu mereka sendiri. Tidak hanya itu, konon Raden Arjuna juga memiliki istri simpanan bernama Endang Manuhara, putri Resi Sidiwacana di Padepokan Andongsumawi.

Paling tidak, Raden Arjuna telah mempunyai tiga orang istri, belum ditambah dengan yang tidak diketahui. Namun demikian, masih saja ia serakah ingin menikah dengan Dewi Srikandi pula. Kali ini Prabu Baladewa sudah hilang kesabarannya. Ia sangat tersinggung saat mendengar kabar bahwa Raden Arjuna menyuruh Dewi Sumbadra untuk melamar Dewi Srikandi. Ini sudah keterlaluan. Ketika Dewi Sumbadra dimadu dengan Niken Larasati, Prabu Baladewa masih bisa menerima karena mereka berdua adalah teman sejak kecil dan juga masih saudara sepupu. Saat Raden Arjuna menikahi Endang Manuhara, Prabu Baladewa juga masih bisa menerima karena hanya sebagai istri paminggir yang tidak diboyong ke Kesatrian Madukara. Lain halnya dengan Dewi Srikandi yang merupakan putri Prabu Drupada. Jelas-jelas gadis itu berguru ilmu memanah kepada Raden Arjuna tetapi hendak dinikahi pula. Ia menyebut Raden Arjuna sebagai guru hidung belang yang ingin memangsa muridnya sendiri.

Atas pertimbangan demikian, Prabu Baladewa pun berniat mengajak Prabu Kresna untuk bersama-sama menjemput pulang Dewi Sumbadra agar kembali tinggal di Kerajaan Dwarawati, daripada terus-menerus diperlakukan demikian oleh suaminya. Ia yakin Raden Arjuna tidak akan pernah berhenti dalam mencari istri baru, dan ia pun tidak mau adik bungsunya menderita karena selalu bertambah madu setiap waktu. Oleh sebab itu, Prabu Baladewa berniat menceraikan Dewi Sumbadra dengan Raden Arjuna, dan setelah itu menikahkannya dengan Raden Burisrawa, adik iparnya sendiri.

Prabu Kresna dengan tenang menjawab semua perkataan Prabu Baladewa yang berapi-api. Pertama, Dewi Sumbadra melamar Dewi Srikandi sebagai madu bukan atas permintaan Raden Arjuna, tetapi atas kemauan Dewi Sumbadra sendiri. Kedua, Raden Arjuna memang dikaruniai dewata memiliki kasih sayang melimpah sesuai dengan nama julukannya, yaitu Sang Permadi. Anugerah dewata tersebut membuat Raden Arjuna mampu mencintai banyak perempuan sekaligus secara adil dan merata, tanpa pilih kasih. Yang ketiga, pemenang sayembara membangun Taman Maherakaca bukan Raden Arjuna, melainkan Tumenggung Cakranegara. Itu artinya, Dewi Srikandi batal menjadi madu Dewi Sumbadra. Dan yang terakhir, saat ini Dewi Sumbadra pun menghilang dari Kesatrian Madukara bersama Niken Larasati tanpa kabar yang jelas di mana keberadaannya. Dengan demikian, apabila Prabu Baladewa hendak menjemput pulang Dewi Sumbadra maka tidak akan bertemu siapa-siapa.

Prabu Baladewa terkejut mendengar adik bungsunya telah hilang. Ia marah-marah dan menuduh Prabu Kresna berbohong untuk melindungi Dewi Sumbadra. Namun, Arya Setyaki dan Patih Udawa ikut bersumpah bahwa ucapan raja mereka benar. Mereka berkata bahwa Dewi Sumbadra dan Niken Larasati benar-benar telah hilang meninggalkan Kesatrian Madukara, sama seperti hilangnya Raden Arjuna dan Arya Wrekodara.

Prabu Baladewa pun reda kemarahannya. Ia kemudian pamit undur diri untuk kembali ke Desa Pamutihan di wilayah perbatasan Kerajaan Cempalareja, di mana Prabu Duryudana dan para Kurawa sedang berkemah di sana. Rupanya Prabu Duryudana tidak terima atas keputusan Prabu Drupada yang menetapkan Tumenggung Cakranegara sebagai pemenang sayembara memperbaiki Taman Maherakaca, dan bukannya memilih Resi Druna. Itulah sebabnya ia bersama para Kurawa dan juga sejumlah raja sekutu menduduki Desa Pamutihan untuk mengancam perbatasan Kerajaan Cempalareja. Prabu Baladewa pun berpesan, nanti apabila Dewi Sumbadra sudah ditemukan, hendaknya Prabu Kresna langsung membawanya menuju desa tersebut.

Demikianlah, Prabu Baladewa undur diri meninggalkan istana Dwarawati. Prabu Kresna termangu-mangu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi. Ia pun membubarkan pertemuan dan memutuskan pergi ke Kerajaan Amarta untuk menemui Prabu Puntadewa di sana.

Prabu Kresna

PRABU DRUPADA MENGIRIM TUMENGGUNG SINDULAGA UNTUK MEMBEBASKAN DESA PAMUTIHAN

Prabu Drupada di Kerajaan Cempalareja (Pancala Selatan) dihadap para menteri dan punggawa, yaitu Raden Drestajumena, Patih Drestaketu, dan Arya Utamayuda. Hadir pula bupati Puger Tengah, yaitu Tumenggung Sindulaga dalam pertemuan tersebut. Prabu Drupada bertanya bagaimana persiapan perkawinan antara Tumenggung Cakranegara dengan Dewi Srikandi, apakah segala persyaratan sudah dipenuhi? Tumenggung Sindulaga menjawab bahwa adiknya saat ini sudah tidak berada di Warubinatur karena sedang berusaha mewujudkan keinginan Dewi Srikandi, yaitu menyediakan sepasang patah pengantin sakembaran yang berwajah tampan semu cantik.

Beberapa hari yang lalu Tumenggung Cakranegara telah memenangkan sayembara membangun kembali Taman Maherakaca yang hangus dibakar Resi Dewangkara, yaitu ayah sekaligus guru Prabu Jungkungmardeya. Karena memenangkan sayembara tersebut, maka ia berhak mendapatkan Dewi Srikandi sebagai calon istri. Namun, Dewi Srikandi dalam hati merasa kecewa karena sang pemenang bukan Raden Arjuna. Ia lalu mengajukan syarat, bahwa Tumenggung Cakranegara harus mampu menghadirkan dua orang patah sakembaran yang berwajah tampan bersemu cantik. Jika tidak, maka pernikahan tersebut lebih baik dibatalkan saja.

Demikianlah, Tumenggung Sindulaga melaporkan tentang adiknya yang sudah beberapa hari ini belum kembali ke Warubinatur karena pergi berkelana untuk mewujudkan keinginan Dewi Srikandi. Namun demikian, ia yakin sang adik pasti berhasil memenuhi syarat tersebut. Untuk itu, Tumenggung Sindulaga ganti meminta Prabu Drupada agar segera mempersiapkan upacara pernikahan antara Tumenggung Cakranegara dengan Dewi Srikandi.

Tiba-tiba datang punggawa Arya Yudamanyu melaporkan bahwa para Kurawa bersama beberapa raja sekutu telah berkemah di Desa Pamutihan. Mereka tidak hanya sekadar berkemah, tetapi juga membuat kekacauan di sana. Harta benda milik rakyat dirampok dan dijarah, juga tidak sedikit kaum perempuan yang menjadi korban kejahatan para Kurawa. Sepertinya mereka tidak terima karena Prabu Drupada menetapkan Tumenggung Cakranegara sebagai pemenang sayembara, bukannya Resi Druna.

Mendengar laporan tersebut, Prabu Drupada merasa prihatin. Ia khawatir jangan-jangan peristiwa masa lalu terulang kembali. Saat itu Kerajaan Pancala diserang oleh Resi Druna bersama para muridnya, sehingga harus terbelah menjadi dua, yaitu utara dan selatan. Prabu Drupada pun mendapat Pancala bagian selatan dan mendirikan Kerajaan Cempalareja di sana.

Untuk peristiwa kali ini, Prabu Drupada memutuskan untuk mendahului menyerang, yaitu dengan mengirim Tumenggung Sindulaga sebagai pemimpin pasukan. Tumenggung Sindulaga menjawab sanggup. Ia lalu berangkat dengan diiringi pasukan Cempalareja secukupnya.

Prabu Drupada

PRABU DURYUDANA MENGIRIM LIMA KURAWA MENCARI PATAH SAKEMBARAN

Sementara itu di Desa Pamutihan, Prabu Duryudana dihadap Patih Sangkuni dan para Kurawa beserta sejumlah raja sekutu. Mereka membahas tentang Resi Druna yang sangat kecewa karena gagal menikah dengan Dewi Srikandi. Saat ini Resi Druna memilih pulang ke Padepokan Sokalima dan tidak mau lagi menghadap ke Kerajaan Hastina sebelum rasa malunya terobati.

Patih Sangkuni melaporkan hasil pengintaian mata-matanya, bahwa Dewi Srikandi pun kurang suka kepada Tumenggung Cakranegara yang telah memenangkan sayembara. Kabarnya, Dewi Srikandi mengajukan syarat agar Tumenggung Cakranegara mencarikan patah sakembaran berupa dua orang pemuda berwajah tampan semu cantik. Jika gagal, maka Dewi Srikandi meminta agar pernikahan mereka dibatalkan saja.

Prabu Duryudana senang mendengarnya dan menganggap ini adalah kesempatan untuk mengobati rasa malu Resi Druna. Maka, ia pun memerintahkan lima orang adiknya, yaitu Raden Kartawarma, Raden Durmuka, Raden Durjaya, Raden Durprakempa, dan Raden Carucitra untuk segera berangkat mencari dua orang pemuda yang menjadi syarat Dewi Srikandi tersebut.

Patih Sangkuni

PATIH PRAGOTA GUGUR DALAM PERTEMPURAN

Tumenggung Sindulaga didampingi Arya Yudamanyu dan Arya Utamayuda telah sampai di Desa Pamutihan untuk memukul mundur pasukan Kurawa dan para raja sekutu. Pertempuran sengit pun terjadi. Para Kurawa merasa terdesak menghadapi kesaktian Tumenggung Sindulaga yang juga memiliki kekuatan luar biasa. Mereka kocar-kacir meninggalkan Desa Pamutihan, termasuk pula dengan Prabu Duryudana dan para sekutunya.

Melihat kekalahan ini, Patih Sangkuni segera memerintahkan Patih Pragota dan Arya Prabawa untuk ikut membantu. Patih Pragota merasa keberatan karena dirinya hanya menerima perintah dari Prabu Baladewa saja, dan saat ini rajanya itu sedang berkunjung ke Kerajaan Dwarawati. Patih Sangkuni kecewa dan mengungkit-ungkit bahwa Patih Pragota dan Arya Prabawa sejak kemarin ikut bergabung bersama para Kurawa, ikut makan dan tidur di perkemahan para Kurawa, tetapi sama sekali tidak mau keluar keringat. Itu istilahnya sama dengan penumpang gelap yang tidak tahu diri.

Patih Pragota tersinggung mendengar ejekan Patih Sangkuni. Ia pun maju ke medan perang dan langsung menghadapi Tumenggung Sindulaga sambil mengacungkan senjata. Tumenggung Sindulaga yang merupakan penyamaran Arya Wrekodara merasa tidak tega jika harus berhadapan dengan Patih Pragota yang bersifat jujur dan baik hati, meskipun dari luar terlihat ugal-ugalan dan suka bercanda.

Melihat lawannya hanya bertahan, Patih Pragota justru makin bersemangat menyerang. Lama-lama Tumenggung Sindulaga habis kesabarannya. Ia pun memukul satu kali ke arah kepala Patih Pragota. Pukulan tersebut ringan tetapi keras, membuat Patih Pragota langsung roboh kehilangan nyawa. Menyaksikan sang kakak terbunuh, Arya Prabawa segera merebut jasadnya dan mundur menyelamatkan diri.

Tumenggung Sindulaga menyesal karena tanpa sengaja membunuh Patih Pragota. Ia pun mengobrak-abrik perkemahan para Kurawa dan kemudian mundur membawa pasukan Cempalareja kembali ke istana.

Arya Prabawa dan Patih Pragota

PRABU KRESNA MENJEMPUT PRABU PUNTADEWA MENUJU KERAJAAN CEMPALAREJA

Sementara itu, Prabu Kresna telah sampai di Kerajaan Amarta menemui Prabu Puntadewa yang saat itu sedang memimpin pertemuan yang dihadiri si kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa, serta Patih Tambakganggeng dan Raden Gatutkaca.

Prabu Kresna menyampaikan kabar bahwa saat ini Prabu Baladewa telah bergabung dengan Prabu Duryudana dan para Kurawa di Desa Pamutihan untuk menyerang Kerajaan Cempalareja, demi merebut Dewi Srikandi sebagai istri Resi Druna. Prabu Puntadewa merasa prihatin mendengar hal itu. Sudah jelas-jelas Tumenggung Cakranegara yang memenangkan sayembara memperbaiki Taman Maherakaca, masih juga para Kurawa tidak mau mengakuinya.

Prabu Puntadewa sendiri sedang menunggu kabar keberadaan kedua adiknya yang masih menghilang, yaitu Arya Wrekodara dan Raden Arjuna. Mereka berdua sudah lama meninggalkan Kerajaan Amarta tanpa diketahui keberadaannya, kini ditambah pula dengan hilangnya kedua istri Raden Arjuna, yaitu Dewi Sumbadra dan Niken Larasati. Atas kejadian ini, Prabu Puntadewa merasa sangat sedih dan berharap agar mereka berempat dapat segera ditemukan.

Prabu Kresna mendapat firasat bahwa keempat adik yang menghilang itu akan segera muncul di Kerajaan Cempalareja. Untuk itu, ia pun mengajak Prabu Puntadewa pergi bersama-sama menuju ke sana. Prabu Puntadewa gembira mendengarnya. Ia pun mengajak serta sang permaisuri Dewi Drupadi dan juga si kembar, untuk berangkat bersama dengan Prabu Kresna.

Prabu Puntadewa

DEWI SUMBADRA DAN NIKEN LARASATI MENYAMAR SEBAGAI LAKI-LAKI

Dewi Sumbadra dan Niken Larasati saat ini sedang dalam perjalanan mencari keberadaan sang suami, yaitu Raden Arjuna yang sudah lama menghilang tanpa diketahui kabar keberadaannya. Mereka berdua berjalan menuruti kehendak hati karena tidak tahu arah mana yang harus dituju. Hingga pada akhirnya Batara Narada turun dari angkasa menghentikan langkah kedua perempuan tersebut.

Dewi Sumbadra dan Niken Larasati segera menyembah hormat kepadanya. Batara Narada pun bertanya ada keperluan apa mereka berdua berjalan tidak tentu arah. Dewi Sumbadra berkata bahwa dewata di kahyangan pasti sudah mengetahui apa yang menjadi niat mereka. Batara Narada senang mendengarnya dan berkata bahwa dirinya memang diutus Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka untuk membantu mereka berdua menemukan Raden Arjuna.

Batara Narada menjelaskan bahwa Dewi Sumbadra dan Niken Larasati bisa bertemu dengan suami mereka asalkan berdandan sebagai laki-laki. Untuk itu, Batara Narada pun mengerahkan kesaktiannya dan seketika kedua perempuan tersebut berubah menjadi laki-laki berwajah tampan semu cantik. Keduanya kemudian diberi nama baru. Dewi Sumbadra diganti namanya menjadi Bambang Madubrangta, sedangkan Niken Larasati diganti namanya menjadi Bambang Brangtakusuma.

Batara Narada berpesan agar mereka membantu kesulitan seorang bupati bernama Tumenggung Cakranegara, karena hal ini akan menjadi sarana bagi mereka untuk bisa menemukan Raden Arjuna. Setelah dirasa cukup, dewa tersebut pun undur diri kembali ke kahyangan.

Batara Narada

TUMENGGUNG CAKRANEGARA BERTEMU DUA PEMUDA TAMPAN

Bambang Madubrangta dan Bambang Brangtakusuma kemudian melanjutkan perjalanan. Mereka pun bertemu dengan lima orang Kurawa yang ditugasi Prabu Duryudana untuk mencari dua pemuda tampan sebagai patah sakembaran Resi Druna, yaitu Raden Kartawarma, Raden Carucitra, Raden Durmuka, Raden Durprakempa, dan Raden Durjaya. Maka, begitu melihat Bambang Madubrangta dan Bambang Brangtakusuma, mereka langsung menyergap hendak membawa keduanya menuju Desa Pamutihan.

Bambang Madubrangta dan Bambang Brangtakusuma membela diri menghadapi serangan tersebut. Pertarungan pun terjadi di antara mereka. Tiba-tiba muncul seorang bupati yang diiringi empat abdi lewat di tempat itu. Bupati tersebut tidak lain adalah Tumenggung Cakranegara yang langsung membantu mengalahkan kelima Kurawa. Menyadari kehebatan sang bupati, Raden Kartawarma pun mengajak saudara-saudaranya untuk mundur menyelamatkan diri.

Tumenggung Cakranegara sangat terkesan melihat paras Bambang Madubrangta dan Bambang Brangtakusuma yang sama-sama berwajah tampan semu cantik. Kiranya mereka berdua adalah para pemuda yang bisa memenuhi persyaratan Dewi Srikandi. Maka, Tumenggung Cakranegara pun berterus terang ingin mengajak keduanya untuk menuju Kerajaan Cempalareja, sebagai patah sakembaran atas pernikahannya dengan Dewi Srikandi.

Bambang Madubrangta dan Bambang Brangtakusuma teringat pesan Batara Narada dan mereka pun menjawab bersedia. Tumenggung Cakranegara sangat senang dan segera mengajak mereka pergi ke Warubinatur.

Bambang Madubrangta

DEWI SRIKANDI MENGUTARAKAN ISI HATINYA

Demikianlah, Tumenggung Cakranegara telah memenuhi persyaratan yang diajukan Dewi Srikandi. Ia pun berangkat menuju Kerajaan Cempalareja dengan mengenakan busana pengantin, disertai para pengiring, yaitu Tumenggung Sindulaga, Kyai Sidanaya, Sidamaju, Sidarame, dan Sidamurah. Tentu saja tidak ketinggalan kedua patah sakembaran, yaitu Bambang Madubrangta dan Bambang Brangtakusuma.

Prabu Drupada sekeluarga menyambut kedatangan pengantin pria dengan upacara pernikahan yang telah dipersiapkan. Tumenggung Cakranegara dan Dewi Srikandi pun dipertemukan dalam pelaminan. Setelah resmi menjadi suami istri, tiba-tiba Dewi Srikandi masuk ke dalam istana dengan wajah kecewa. Tumenggung Cakranegara pun bergegas menyusul istrinya itu.

Sesampainya di dalam kamar Dewi Srikandi menangis karena ia gagal menikah dengan kekasih pujaan hatinya. Ia pun memaki nama Raden Arjuna sebagai laki-laki pengecut yang tidak bisa memperjuangkan cinta mereka. Tidak lama kemudian Tumenggung Cakranegara datang dan merayu Dewi Srikandi agar jangan menangis lagi. Tidak ada gunanya ia meratapi seorang laki-laki pengecut bernama Raden Arjuna. Dewi Srikandi marah mendengarnya dan mengancam akan bunuh diri apabila Tumenggung Cakranegara mendekat.

Tumenggung Cakranegara pun bertanya mengapa Dewi Srikandi menjadi selemah itu, hingga mengancam akan bunuh diri segala. Bukankah dulu Dewi Srikandi pernah begitu tangguh menewaskan Prabu Jungkungmardeya dalam sebuah pertandingan, tapi mengapa sekarang berubah menjadi wanita yang mudah putus asa? Dewi Srikandi melarang Tumenggung Cakranegara ikut campur urusannya. Meskipun mereka telah resmi menjadi suami istri, namun jangan harap Tumenggung Cakranegara mampu mendapatkan perhatian Dewi Srikandi.

Tumenggung Cakranegara bertanya apakah Dewi Srikandi benar-benar tulus mencintai Raden Arjuna. Dewi Srikandi menjawab memang benar demikian. Tumenggung Cakranegara berkata bahwa Raden Arjuna seorang pengecut yang lari dari tanggung jawab. Dulu saat Dewi Srikandi dilabrak Dewi Drupadi di Kesatrian Madukara, Raden Arjuna justru bersembunyi mengamankan diri karena malu. Hal ini pun sudah diketahui oleh Tumenggung Cakranegara.

Dewi Srikandi menjawab bahwa soal itu ia sudah memaafkan, karena Raden Arjuna dengan itikad baik telah datang ke Kerajaan Cempalareja untuk mengajukan lamaran. Raden Arjuna juga telah menunjukkan keberaniannya dengan bertempur melawan Resi Dewangkara. Namun, sayang sekali Taman Maherakaca hangus terbakar akibat pertempuran itu. Dewi Srikandi sangat prihatin dan tanpa pikir panjang langsung bersumpah tidak akan menikah kecuali dengan orang yang bisa memperbaiki Taman Maherakaca dalam waktu semalam.

Mendengar cerita itu, Tumenggung Cakranegara menasihati Dewi Srikandi agar untuk selanjutnya jangan lagi bertindak gegabah, mengucapkan sumpah tanpa dipikir lebih dulu. Untung saja ia bisa memperbaiki Taman Maherakaca dalam waktu semalam. Jika tidak, mungkin Dewi Srikandi akan menjadi perawan tua selamanya.

Dewi Srikandi tidak peduli. Ia berkata bahwa dirinya bisa saja menikah dengan Tumenggung Cakranegara sebagai pemenang sayembara, tetapi dalam hati tetap mencintai Raden Arjuna. Jika Tumenggung Cakranegara memaksanya untuk melayani, maka Dewi Srikandi memilih lebih baik mati bunuh diri saja.

Dewi Srikandi

BAMBANG MADUBRANGTA MENYERANG TUMENGGUNG CAKRANEGARA

Tumenggung Cakranegara senang mendengar ucapan Dewi Srikandi tersebut. Namun tiba-tiba muncul Bambang Madubrangta menyerang dirinya. Tumenggung Cakranegara terkejut dan segera membela diri. Mereka lalu bertarung seru di hadapan Dewi Srikandi.

Bambang Brangtakusuma datang pula untuk membantu Bambang Madubrangta. Pertarungan satu lawan dua ini berlangsung semakin sengit. Akhirnya, penyamaran mereka pun buyar. Tumenggung Cakranegara berubah menjadi Raden Arjuna, sedangkan Bambang Madubrangta berubah menjadi Dewi Sumbadra, dan Bambang Brangtakusuma berubah menjadi Niken Larasati.

Dewi Srikandi terkejut bercampur malu karena Tumenggung Cakranegara yang dibencinya ternyata penjelmaan Raden Arjuna. Ia pun bertanya mengapa Raden Arjuna harus bersusah payah menyamar hanya demi untuk mengikuti sayembara. Raden Arjuna menjawab dirinya sengaja menyamar karena segan terhadap Resi Druna yang juga mengikuti sayembara. Alasan kedua, Raden Arjuna masih ragu apakah Dewi Srikandi benar-benar mencintainya atau tidak. Dengan cara menyamar sebagai Tumenggung Cakranegara, maka Raden Arjuna dapat mendengar semua curahan isi hati Dewi Srikandi secara langsung dan bukan melalui mulut orang lain.

Mendengar itu, Dewi Srikandi merasa sangat malu dan meminta maaf karena telah bersikap kasar kepada Raden Arjuna tadi. Andai saja ia tahu siapa jati diri Tumenggung Cakranegara yang sebenarnya, maka ia tidak perlu mengajukan syarat untuk dicarikan patah sakembaran segala. Raden Arjuna pun menjawab justru dengan mewujudkan syarat tersebut, ia dapat menunjukkan bahwa dirinya bersungguh-sungguh ingin menikahi Dewi Srikandi.

Raden Arjuna lalu bertanya mengapa tadi Dewi Sumbadra dan Niken Larasati tiba-tiba menyerangnya dalam wujud laki-laki. Dewi Sumbadra menjawab bahwa ia sejak awal sudah curiga pada sosok Tumenggung Cakranegara. Mungkin orang lain bisa ditipu, tetapi Dewi Sumbadra tidaklah demikian. Ia mengaku sudah hafal segala sikap dan tindak-tanduk sang suami. Maka, ia pun dapat mengenali Raden Arjuna meskipun dalam wujud penyamaran sebagai Tumenggung Cakranegara.

Mengenai serangan tadi, Dewi Sumbadra meminta maaf karena dirinya kasihan melihat Dewi Srikandi yang mengancam hendak bunuh diri, sedangkan Tumenggung Cakranegara tidak juga mengakui jati dirinya. Oleh sebab itu, Dewi Sumbadra pun menyerang Tumenggung Cakranegara demi untuk membongkar penyamarannya.

Dewi Srikandi sangat terharu melihat kasih sayang Dewi Sumbadra kepada dirinya. Dewi Sumbadra pun berkata bahwa ia tidak menganggap Dewi Srikandi sebagai madu, tetapi menganggapnya sebagai adik. Hal ini justru membuat Dewi Srikandi semakin terharu. Ia pun bersumpah seumur hidup akan menjadi pelayan Dewi Sumbadra. 

Prabu Baladewa

PRABU BALADEWA BERTEMPUR MELAWAN TUMENGGUNG SINDULAGA

Saat itu di halaman istana Cempalareja muncul Prabu Baladewa yang mengamuk dan marah-marah atas kematian Patih Pragota. Tumenggung Sindulaga pun maju menghadapinya. Keduanya bertarung sengit hingga sama-sama terluka. Tumenggung Sindulaga terkena pukulan Senjata Nanggala, sedangkan Prabu Baladewa tertusuk kuku tangan Tumenggung Sindulaga yang tiba-tiba berubah panjang dan tajam. Akhirnya, mereka pun sama-sama roboh tak sadarkan diri.

Tidak lama kemudian, Prabu Kresna datang bersama Prabu Puntadewa dan rombongan dari Kerajaan Amarta. Melihat Prabu Baladewa dan Tumenggung Sindulaga sama-sama pingsan, ia segera mengeluarkan Kembang Wijayakusuma untuk menyembuhkan mereka berdua. Demikianlah, Prabu Baladewa dan Tumenggung Sindulaga pun pulih kembali seperti sediakala. Prabu Baladewa kembali marah-marah karena teringat pada kematian Patih Pragota. Tumenggung Sindulaga pun menjawab dirinya tidak sengaja membunuh, dan itu semua karena Patih Pragota yang terus-menerus mendesaknya hingga habis kesabaran.

Prabu Kresna lalu memanggil Arya Prabawa yang menggendong jasad Patih Pragota. Dengan menggunakan Kembang Wijayakusuma, ia pun menghidupkan kembali patih Kerajaan Mandura tersebut karena memang belum saatnya ajal tiba. Melihat Patih Pragota hidup kembali, Prabu Baladewa sangat gembira. Namun, ia belum puas dan ingin melanjutkan pertarungan melawan Tumenggung Sindulaga.

Tiba-tiba Dewi Srikandi muncul bersama Raden Arjuna, Dewi Sumbadra, dan juga Niken Larasati. Melihat adiknya sudah membuka penyamaran, Tumenggung Sindulaga pun segera kembali ke wujud Arya Wrekodara. Prabu Baladewa sangat terkejut melihatnya dan meminta maaf karena pandangannya kurang jeli sehingga tidak mengenali saudara sendiri. Ia pun memeluk Arya Wrekodara dan meminta maaf atas semua kesalahpahaman tadi.

Tumenggung Sindulaga

DEWI SRIKANDI DINIKAHKAN DENGAN RADEN ARJUNA

Prabu Drupada dan yang lain sangat senang begitu mengetahui ternyata Tumenggung Cakranegara adalah penjelmaan Raden Arjuna. Itu berarti pemenang sayembara membangun Taman Maherakaca beberapa hari yang lalu adalah Raden Arjuna sendiri, sehingga ia berhak menjadi suami Dewi Srikandi.

Maka, Prabu Drupada pun mengadakan upacara pernikahan ulang antara Dewi Srikandi dengan Raden Arjuna, dan bukannya dengan Tumenggung Cakranegara sebagaimana tadi telah disahkan. Upacara pernikahan tersebut dilanjutkan dengan pesta meriah di istana Cempalareja selama beberapa hari. Setelah itu, Raden Arjuna pun memboyong Dewi Srikandi sebagai istri padmi nomor tiga di Kesatrian Madukara.

Raden Arjuna

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


Untuk kisah terbelahnya Kerajaan Pancala dapat dibaca di sini

Untuk kisah Dewi Srikandi berguru memanah dan terbakarnya Taman Maherakaca dapat dibaca di sini










Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Bangun Taman Maherakaca

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Prabu Drupada. Sayembara ini diikuti oleh Resi Druna dan Raden Arjuna, serta dikisahkan pula tetang kematian Raden Supali, adik Prabu Supala.

Pada umumnya sayembara ini dimenangkan oleh Raden Arjuna. Namun, dalam kisah kali ini saya menceritakan Raden Arjuna mengikuti sayembara tersebut dalam penyamarannya sebagai Tumenggung Cakranegara.

Kisah ini saya olah dari sumber rekaman pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Nartosabdo, yang saya padukan dengan naskah Pakem Ringgit Purwa koleksi Museum Sonobudoyo dan naskah Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra, dengan disertai pengembangan seperlunya.

Kediri, 6 Maret 2017

Heri Purwanto

Kunjungi pula : daftar isi album kisah wayang

------------------------------ ooo ------------------------------
 

RADEN ARJUNA MENGHILANG DARI KESATRIAN MADUKARA

Prabu Puntadewa di Kerajaan Amarta dihadap kedua adik kembarnya, yaitu Raden Nakula dan Raden Sadewa, serta Patih Tambakganggeng dan Raden Gatutkaca. Hadir pula dua sepupu para Pandawa, yaitu Prabu Kresna Wasudewa dari Kerajaan Dwarawati dan Prabu Baladewa dari Kerajaan Mandura. Kedua raja itu datang ke istana Indraprasta untuk sekalian mengajak Prabu Puntadewa pergi bersama menuju Kerajaan Cempalareja. Rupanya mereka telah mendapatkan undangan dari Prabu Drupada untuk mengikuti sayembara membangun Taman Maherakaca yang telah hangus terbakar oleh perbuatan Resi Dewangkara beberapa waktu yang lalu.

Prabu Puntadewa menjelaskan dirinya juga mendapat undangan serupa dari sang mertua. Ia bercerita bahwa pada mulanya Dewi Srikandi pergi tanpa pamit untuk berguru ilmu panah kepada Raden Arjuna di Kesatrian Madukara. Setelah lulus, ia pun kembali ke Cempalareja dan berhasil menewaskan Prabu Jungkungmardeya, yaitu raja Paranggubarja yang hendak melamarnya. Di saat yang sama, Raden Arjuna pun jatuh cinta kepada Dewi Srikandi dan bermaksud meminangnya pula. Dewi Srikandi lalu mengajukan syarat bahwa dirinya bersedia menikah asalkan ada petarung wanita lain yang bisa mengalahkannya. Raden Arjuna dan Dewi Sumbadra pun mengajukan Niken Larasati untuk bertanding melawan Dewi Srikandi.

Dalam pertarungan tersebut, Dewi Srikandi kalah. Namun, belum sempat ia menerima lamaran Raden Arjuna, tiba-tiba datang Resi Dewangkara dan Patih Jayasudarga mengamuk untuk membalaskan kematian Prabu Jungkungmardeya. Patih Jayasudarga akhirnya tewas di tangan Raden Gatutkaca, sedangkan Resi Dewangkara tewas di tangan Raden Arjuna. Namun, sebelum nyawanya putus, Resi Dewangkara sempat mengerahkan kesaktiannya untuk membakar Taman Maherakaca sampai hangus menjadi abu.

Dewi Srikandi sangat sedih melihat taman yang dulu dibangun sang ayah khusus untuknya kini telah terbakar habis. Ia pun bersumpah hanya bersedia menikah dengan orang yang bisa membangun kembali Taman Maherakaca sama persis seperti sediakala dalam waktu semalam. Mendengar sumpah tersebut, Raden Arjuna segera pergi bersama para panakawan untuk mencari sarana demi mewujudkannya.

Demikianlah Prabu Puntadewa bercerita. Karena belum juga mendapat kabar dari Raden Arjuna, maka ia pun mengirim adik nomor dua, yaitu Arya Wrekodara untuk pergi mencari. Namun sekarang, Arya Wrekodara justru ikut menghilang pula dan tidak diketahui kabarnya.

Prabu Kresna berkata bahwa dirinya dan juga Prabu Baladewa mendapat undangan dari Prabu Drupada untuk ikut mewujudkan sumpah Dewi Srikandi. Namun, mereka berdua tidak berminat mengikuti sayembara tersebut, melainkan hanya ingin menyaksikan saja. Maka, kedua raja itu pun berangkat bersama menuju Kerajaan Cempalareja, tetapi lebih dahulu singgah ke Amarta untuk sekalian mengajak serta Prabu Puntadewa dan para Pandawa lainnya. Mengenai hilangnya Raden Arjuna dan Arya Wrekodara, Prabu Kresna yakin mereka berdua tetap dalam lindungan dewata dan pasti muncul di Kerajaan Cempalareja. Oleh sebab itu, sebaiknya Prabu Puntadewa menunggu kedua adiknya itu di sana.

Prabu Puntadewa menerima saran Prabu Kresna dan Prabu Baladewa. Ketika hendak membubarkan pertemuan, tiba-tiba sang permaisuri Dewi Drupadi muncul dan memohon untuk diajak ikut serta. Prabu Puntadewa menyarankan agar nanti saja apabila sayembara telah selesai dan pemenangnya ditentukan, barulah istrinya itu menyusul untuk menghadiri upacara pernikahan Dewi Srikandi. Namun, Dewi Drupadi menolak. Ia mohon izin ikut sekarang juga karena ingin meminta maaf kepada Dewi Srikandi atas perlakuan kasarnya di Kesatrian Madukara tempo hari. Mendengar alasan sang istri, Prabu Puntadewa akhirnya bersedia mengajak Dewi Drupadi ikut serta.

Demikianlah, Prabu Puntadewa pun membubarkan pertemuan. Raden Gatutkaca diajak serta mendampingi kepergiannya menuju Kerajaan Cempalareja, sedangkan si kembar dan Patih Tambakganggeng tetap tinggal untuk menjaga keamanan istana Indraprasta.

Prabu Puntadewa

RADEN SUPALI HENDAK MENCULIK DEWI SRIKANDI

Sementara itu di Kerajaan Cedi, Prabu Supala dihadap adiknya yang bernama Raden Supali. Prabu Supala ini tidak lain adalah putra Prabu Darmagosa dan Dewi Srutawati yang dulu dilahirkan dalam keadaan cacat, yaitu memiliki tiga mata, tiga lengan, dan tiga kaki. Ia baru bisa menjadi bayi normal setelah diruwat oleh Prabu Kresna saat masih bernama Raden Narayana. Tidak hanya itu, bayi Prabu Supala juga berubah menjadi dewasa dalam waktu sekejap dan menjadi murid Raden Narayana. Adapun sang adik, yaitu Raden Supali tercipta dari ari-ari Prabu Supala.

Kini Prabu Supala telah duduk di atas takhta Kerajaan Cedi menggantikan ayahnya yang telah meninggal. Ia pun menjalin persahabatan dengan Prabu Jarasanda raja Magada. Pada suatu hari Prabu Jarasanda berniat melamar Dewi Rukmini putri Prabu Bismaka di Kerajaan Kumbina untuk menjadi istri Prabu Supala. Namun sayang sekali, mereka terlambat karena Dewi Rukmini telah resmi menjadi istri Raden Narayana (Prabu Kresna). Hal ini membuat Prabu Supala membenci gurunya itu dan semakin erat bersahabat dengan Prabu Jarasanda yang juga menyimpan dendam atas kematian Prabu Kangsa beberapa tahun silam.

Prabu Supala kali ini dihadap Raden Supali yang merengek ingin dinikahkan dengan Dewi Srikandi, putri Kerajaan Cempalareja. Prabu Supala pun berkata bahwa dirinya mendengar kabar tentang Dewi Srikandi yang mengadakan sayembara, yaitu bersedia menikah hanya dengan orang yang bisa memulihkan Taman Maherakaca yang sudah hangus dalam waktu semalam. Sayembara sulit semacam itu mana mungkin bisa diwujudkan oleh Raden Supali? Maka, sebaiknya Raden Supali mengurungkan niatnya untuk memperistri Dewi Srikandi daripada mendapat malu seperti yang dulu pernah dialami Prabu Supala saat terlambat meminang Dewi Rukmini.

Raden Supali tidak peduli. Ia sudah bertekad bulat ingin memperistri Dewi Srikandi. Dirinya memang tidak memiliki kesaktian sihir untuk memperbaiki Taman Maherakaca dalam waktu semalam, namun ia memiliki Aji Sirep yang dapat digunakan untuk menculik Dewi Srikandi. Usai berkata demikian, Raden Supali pun melesat pergi meninggalkan istana.

Prabu Supala khawatir atas nasib adiknya. Ia lalu memerintahkan Patih Indrawaka untuk menyusul kepergian Raden Supali dengan membawa pasukan secukupnya.

Prabu Supala

PASUKAN CEDI BERTEMPUR DENGAN PASUKAN AMARTA

Patih Indrawaka dan pasukannya pun berangkat melaksanakan tugas. Di tengah jalan mereka bertemu dengan rombongan Prabu Puntadewa, Prabu Kresna, dan Prabu Baladewa yang sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Cempalareja. Sikap kasar Patih Indrawaka telah membuat tersinggung Arya Setyaki yang berada di barisan paling depan. Terjadilah pertikaian di antara mereka yang berlanjut dengan pertempuran. Jumlah rombongan dari Kerajaan Amarta memang lebih sedikit, namun ada Arya Setyaki dan Raden Gatutkaca di sana yang membuat pasukan Kerajaan Cedi porak-poranda.

Patih Indrawaka yang merasa terdesak akhirnya menarik mundur pasukannya. Mereka pun mencari jalan lain untuk menghindari rombongan dari Kerajaan Amarta tersebut.

Raden Gatutkaca

RESI DRUNA MENGIKUTI SAYEMBARA MEMBANGUN TAMAN

Sementara itu di Kerajaan Hastina, Prabu Duryudana dihadap Resi Druna dan Patih Sangkuni. Mereka membahas tentang berita sayembara membangun Taman Maherakaca dalam waktu semalam di Kerajaan Cempalareja. Prabu Duryudana memohon kepada Resi Druna agar mengikuti sayembara tersebut karena ia yakin pada kesaktian sang guru. Apabila Resi Druna berhasil memperistri Dewi Srikandi, maka Kerajaan Hastina akan mendapat banyak keuntungan.

Keuntungan pertama, Prabu Drupada raja Cempalareja beserta Raden Drestajumena akan menjadi sekutu para Kurawa. Kedua, Dewi Srikandi yang pandai memanah dan mampu menewaskan Prabu Jungkungmardeya bisa menjadi kepala prajurit wanita di Kerajaan Hastina. Ketiga, Resi Druna bisa mendapatkan seorang istri cantik dan bisa memperbaiki hubungan pertemanan dengan Prabu Drupada.

Resi Druna sangat tertarik mendengarnya. Ia pun menyatakan bersedia dan segera berangkat menuju Cempalareja dengan ditemani Prabu Duryudana dan Patih Sangkuni.

Prabu Duryudana

RADEN ARJUNA MENDAPAT PUSAKA DARI BATARA KAMAJAYA DAN BATARI RATIH

Raden Arjuna yang lama menghilang dari Kesatrian Madukara ternyata sedang bertapa di Hutan Jatirokeh untuk mendapatkan pusaka dari dewata sebagai sarana memperbaiki Taman Maherakaca. Tiba-tiba saja dirinya diserang oleh sepasang raksasa suami-istri yang sedang mencari mangsa.

Raden Arjuna pun bertarung menghadapi raksasa dan raksasi itu. Selang agak lama barulah ia berhasil menewaskan mereka. Sungguh ajaib, mayat kedua lawannya itu musnah dan berubah menjadi Batara Kamajaya dan Batari Ratih. Raden Arjuna pun menyembah hormat kepada mereka berdua.

Batara Kamajaya yang menganggap Raden Arjuna sebagai adik angkat pun menjelaskan bahwa dirinya diutus Batara Guru untuk menyerahkan pusaka Candusakti dan Mustikaning Sri sebagai sarana untuk memperbaiki Taman Maherakaca. Batara Kamajaya juga mengabarkan bahwa Raden Arjuna harus bersaing melawan gurunya sendiri, yaitu Resi Druna yang saat ini sudah berangkat untuk mengikuti sayembara di Kerajaan Cempalareja tersebut. Usai memberikan restu, Batara Kamajaya dan Batari Ratih segera undur diri kembali ke Kahyangan Cakrakembang.

Batara Kamajaya

RADEN ARJUNA DAN ARYA WREKODARA MENYAMAR SEBAGAI TUMENGGUNG

Raden Arjuna termangu-mangu mendengar berita bahwa sang guru juga mengikuti sayembara membangun Taman Maherakaca. Ia menjadi bimbang apakah harus tetap melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Cempalareja, ataukah cukup sampai di sini saja. Tidak lama kemudian, tiba-tiba Arya Wrekodara datang dan bergembira karena akhirnya dapat menemukan adiknya yang lama hilang tersebut.

Arya Wrekodara berkata bahwa dirinya diutus sang kakak sulung (Prabu Puntadewa) untuk mencari hilangnya Raden Arjuna. Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya ia dapat menemukan sang adik di dalam Hutan Jatirokeh bersama para panakawan.

Raden Arjuna berkata bahwa dirinya bertapa untuk memohon anugerah dewata sebagai sarana memperbaiki Taman Maherakaca. Tapa brata tersebut diterima, di mana Batara Kamajaya dan Batari Ratih turun menyerahkan pusaka Candusakti dan Mustikaning Sri kepadanya. Namun, kedua dewa-dewi itu juga mengabarkan bahwa Resi Druna telah berangkat untuk mengikuti sayembara di Kerajaan Cempalareja. Hal inilah yang membuat Raden Arjuna bimbang.

Arya Wrekodara bertanya mengapa adiknya itu bimbang. Raden Arjuna pun menjawab bahwa ia sangat segan bersaing dengan guru sendiri, yang selama ini telah berjasa besar mengajarkan banyak ilmu kepadanya. Sungguh memalukan apabila seorang murid harus bersaing dengan gurunya sendiri demi memperebutkan perempuan. Apa mungkin sebaiknya Raden Arjuna berhenti sampai di sini saja?

Arya Wrekodara menasihati Raden Arjuna agar jangan hanya melihat perasaan sendiri tetapi juga harus membayangkan bagaimana perasaan Dewi Srikandi. Jika memang Dewi Srikandi mencintai Raden Arjuna, mengapa pula harus ragu untuk bersaing dengan Resi Druna. Apabila sampai Resi Druna yang menang, kira-kira bagaimana perasaan Dewi Srikandi bersanding dengan seorang pria tua buruk rupa? Lagipula dewata telah menurunkan dua pusaka, itu berarti Raden Arjuna mendapat restu dari Kahyangan untuk berjodoh dengan Dewi Srikandi.

Raden Arjuna senang mendengar dorongan semangat dari kakaknya, namun ia masih bimbang dalam dua hal. Pertama, ia segan bersaing dengan guru sendiri, dan yang kedua, ia ragu apakah Dewi Srikandi benar-benar masih mencintainya setelah peristiwa tempo hari. Saat itu, Dewi Drupadi datang ke Kesatrian Madukara melabrak Dewi Srikandi, sedangkan Raden Arjuna merasa malu dan segera lari bersembunyi. Ia ragu jangan-jangan perbuatannya itu telah melunturkan perasaan cinta Dewi Srikandi kepadanya.

Mendengar itu, Kyai Semar menyarankan agar Raden Arjuna menyamar saja saat mengikuti sayembara nanti. Dengan demikian, Resi Druna tidak akan malu karena dikalahkan oleh orang lain, bukan oleh murid sendiri. Selain itu, Raden Arjuna dalam wujud samaran juga bisa mencari tahu apakah Dewi Srikandi masih mencintainya atau tidak. Apabila Raden Arjuna tampil dalam wujud asli, tentunya akan sangat malu jika ditolak oleh Dewi Srikandi.

Arya Wrekodara mendukung saran Kyai Semar dan ia bersedia ikut menyertai sang adik menyamar. Raden Arjuna menimbang-nimbang dan akhirnya bersedia mengganti penampilan. Raden Arjuna pun memakai nama samaran Tumenggung Cakranegara, sedangkan Arya Wrekodara memakai nama Tumenggung Sindulaga. Adapun para panakawan juga ikut menyamar pula. Kyai Semar mengganti nama menjadi Kyai Sidanaya, Nala Gareng memakai nama Sidamaju, Petruk memakai nama Sidarame, sedangkan Bagong memakai nama Sidamurah. Mereka berenam lalu berangkat menuju Kerajaan Cempalareja.

Raden Arjuna

DEWI DRUPADI MEMINTA MAAF KEPADA DEWI SRIKANDI

Prabu Drupada di Kerajaan Cempalareja (Pancala Selatan) telah menerima kedatangan Prabu Kresna, Prabu Puntadewa, Prabu Baladewa, dan juga Dewi Drupadi. Ia bertanya apakah ketiga raja berniat mengikuti sayembara memperbaiki Taman Maherakaca. Prabu Kresna yang mewakili bicara menjelaskan bahwa mereka datang hanya sebagai penonton saja, yaitu ingin menyaksikan siapa kira-kira manusia sakti yang mampu mewujudkan sumpah Dewi Srikandi.

Dalam kesempatan itu, Dewi Drupadi pun berkata bahwa dirinya ingin meminta maaf atas perbuatan kasarnya kepada Dewi Srikandi tempo hari. Prabu Drupada senang mendengarnya dan segera memanggil Dewi Srikandi agar keluar. Dewi Srikandi pun datang dan segera disambut Dewi Drupadi dengan berlinang air mata. Dewi Drupadi di hadapan semua orang berkata bahwa dirinya menyesal telah melabrak dan juga memukul adiknya sendiri di Taman Maduganda. Ia sungguh-sungguh ingin meminta maaf kepada adiknya itu dengan disaksikan para hadirin saat ini juga.

Dewi Srikandi hanya terdiam, dan ini membuat Dewi Drupadi semakin sedih. Dewi Drupadi pun bersumpah semoga kelak dirinya ganti dipermalukan di depan umum, sama seperti saat ia menjambak dan menampar sang adik di hadapan Raden Arjuna tempo hari. Tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar pertanda dewata menyaksikan sumpah Dewi Drupadi. Dewi Srikandi pun gemetar ketakutan. Ia lalu memeluk kakak sulungnya itu erat-erat. Sambil menangis ia berkata bahwa dirinya telah memaafkan perbuatan kasar sang kakak dan tidak perlu bersumpah seperti itu.

Sambil tetap berangkulan, Dewi Srikandi kemudian mengajak Dewi Drupadi masuk ke dalam untuk meninjau Taman Maherakaca yang telah hangus menjadi puing-puing.

Dewi Drupadi

RESI DRUNA MELAMAR DEWI SRIKANDI

Tidak lama kemudian Resi Druna pun datang dengan didampingi Prabu Duryudana dan Patih Sangkuni. Prabu Drupada menyambut mereka dengan ramah. Resi Druna berterus terang bahwa dirinya berniat melamar Dewi Srikandi sebagai istri. Apabila Prabu Drupada mengabulkan, maka ini dapat memperbaiki pertikaian di antara mereka pada masa yang lalu.

Belasan tahun silam Resi Druna pernah mengalami penghinaan yang dilakukan oleh Arya Gandamana, adik ipar Prabu Drupada. Tubuhnya disiksa dari yang semula tampan menjadi buruk rupa. Setelah diterima bekerja sebagai guru para Kurawa dan Pandawa, Resi Druna pun membalas penghinaan tersebut dengan cara mengirim murid-muridnya untuk menyerang Kerajaan Pancala. Akhirnya, Prabu Drupada dapat diringkus oleh Raden Arjuna, sedangkan Arya Gandamana mengaku kalah kepada Raden Bimasena (Wrekodara). Berkat kemenangan murid-muridnya itulah, Resi Druna dapat menguasai Kerajaan Pancala. Ia lalu membagi kerajaan ini menjadi dua, yaitu bagian utara untuk dirinya, sedangkan bagian selatan diserahkan kepada Prabu Drupada. Maka, Prabu Drupada pun membangun istana baru di Pancala Selatan, yang diberi nama Kerajaan Cempalareja.

Resi Druna kini datang untuk memperbaiki hubungan tersebut. Apabila dirinya bisa menikah dengan Dewi Srikandi, maka ia berjanji akan mengembalikan wilayah Pancala Utara, sehingga Prabu Drupada bisa kembali memimpin Kerajaan Pancala secara utuh seperti sediakala. Untuk itu, ia menyarankan sebaiknya sayembara membangun Taman Maherkaca dibatalkan saja. Prabu Drupada lebih baik langsung menerima lamaran Resi Druna dan sekaligus menerima wilayah Pancala Utara tanpa perlu bersusah payah segala.

Prabu Drupada merasa bimbang mendengar tawaran Resi Druna. Namun, ia sadar sebagai seorang raja tidak boleh seenaknya mengubah-ubah keputusan. Ia juga telah berjanji akan mendukung penuh sumpah putrinya yang ingin memperbaiki harga diri. Maka, ia pun berkata bahwa dirinya sudah puas hanya memimpin wilayah Pancala Selatan saja. Mengenai lamaran Resi Druna kepada Dewi Srikandi, tetap harus melalui sayembara membangun Taman Maherakaca.

Resi Druna, Prabu Duryudana, dan Patih Sangkuni kecewa mendengar keputusan Prabu Drupada. Resi Druna lalu meminta izin untuk melihat Taman Maherakaca. Prabu Drupada pun mempersilakannya dan memerintahkan Raden Drestajumena untuk ikut mengantar.

Raden Drestajumena

RESI DRUNA MENCOBA MEMPERBAIKI TAMAN MAHERAKACA

Sesampainya di dalam, Resi Druna melihat Taman Maherakaca sudah hangus menjadi puing-puing, serta kolam-kolam pun surut airnya. Di sana ia melihat Dewi Srikandi dan Dewi Drupadi sedang meninjau taman rusak tersebut. Kedua perempuan itu menyembah memberi hormat, kemudian segera pergi meninggalkan tempat itu.

Resi Druna lalu bersamadi mengheningkan cipta memohon bantuan dewata. Namun, perasaannya selalu gelisah karena terbayang-bayang wajah Dewi Srikandi yang baru saja dilihatnya. Berkali-kali Resi Druna mengulang samadi, namun tetap saja bayangan Dewi Srikandi yang muncul di dalam benaknya. Hingga akhirnya ia pun tertidur di dalam samadinya yang entah sudah diulangi berapa kali.

Prabu Drupada datang meninjau dan membangunkan Resi Druna yang ketiduran. Resi Druna geragapan dan segera berkata bahwa dirinya telah bersamadi untuk memperbaiki Taman Maherakaca secara gaib. Ia yakin besok pagi taman rusak tersebut pasti pulih kembali seperti sediakala.

Prabu Drupada bimbang apakah benar demikian. Namun, biarlah waktu saja yang menjawabnya. Ia lalu mempersilakan Resi Druna beserta rombongan dari Kerajaan Hastina untuk beristirahat di kamar tamu yang telah disediakan karena malam semakin larut.

Resi Druna

TUMENGGUNG CAKRANEGARA MELAMAR DEWI SRIKANDI

Setelah Resi Druna dan rombongan pergi beristirahat, Prabu Drupada menerima kedatangan Tumenggung Cakranegara, Tumenggung Sindulaga, dan para panakawan. Tumenggung Cakranegara memperkenalkan dirinya dan juga Tumenggung Sindulaga adalah dua perwira dari Kerajaan Parangteja di seberang lautan yang mendengar kabar bahwa Prabu Drupada raja Cempalareja mengadakan sayembara untuk memperebutkan Dewi Srikandi. Untuk itu, ia pun berniat mengikuti sayembara tersebut.

Prabu Drupada berkata bahwa sayembara ini sangat sulit, yaitu memperbaiki Taman Maherakaca yang sudah rusak parah agar kembali pulih seperti sediakala hanya dalam waktu semalam saja. Tumenggung Cakranegara menjawab sanggup. Prabu Drupada lalu meminta pendapat ketiga raja karena dirinya merasa bimbang ada dua perwira yang tidak jelas asal usulnya ingin mengikuti sayembara.

Prabu Kresna yang berpandangan tajam dapat mengenali siapa sebenarnya Tumenggung Cakranegara dan Tumenggung Sindulaga, yang tidak lain adalah penyamaran Raden Arjuna dan Arya Wrekodara. Ia lalu berkata kepada Prabu Drupada agar mempersilakan mereka mengikuti sayembara, karena jodoh Dewi Srikandi bisa saja berasal dari tempat yang tidak terduga. Mendengar itu, Prabu Drupada pun setuju dan mempersilakan mereka berdua untuk masuk ke dalam taman.

Tumenggung Cakranegara segera masuk menuju Taman Maherakaca dengan diantar Raden Drestajumena, sedangkan Tumenggung Sindulaga dan para panakawan menunggu di luar. Sesampainya di sana, Tumenggung Cakranegara lalu mengeluarkan pusaka pemberian dewata berupa Candusakti dan Mustikaning Sri. Kemampuan pusaka Candusakti adalah mampu memperbaiki tembok yang roboh menjadi tegak kembali, serta kolam yang kering menjadi kembali berisi air jernih. Ikan-ikan yang tadinya mati pun kembali hidup dan berenang-renang di dalam kolam. Sementara itu, pusaka Mustikaning Sri mampu membuat tanah kembali gembur, serta tanaman yang hangus kembali tumbuh subur dan berbunga lebat.

Raden Drestajumena takjub melihat kehebatan Tumenggung Cakranegara dalam memperbaiki Taman Maherakaca dalam waktu singkat. Ia pun hendak berlari memberi tahu sang ayah tetapi tiba-tiba matanya sangat mengantuk seperti terkena ilmu sirep. Tanpa sadar Raden Drestajumena pun jatuh tertidur dengan bersandar di sebatang pohon.

Melihat itu, Tumenggung Cakranegara yakin pasti ada yang tidak beres. Ia pun segera mengheningkan cipta sambil membaca mantra penangkal sirep agar dirinya tetap terjaga.

Tumenggung Sindulaga
 
RADEN SUPALI MENCURI SENJATA NANGGALA

Saat itu Raden Supali dari Kerajaan Cedi telah menyusup masuk ke dalam istana Cempalareja untuk menculik Dewi Srikandi. Terlebih dahulu ia mengerahkan Aji Sirep untuk membuat semua penghuni istana tertidur pulas. Satu persatu kamar dibukanya, mulai dari kamar tidur Prabu Drupada, Prabu Duryudana, Resi Druna, Patih Sangkuni, Prabu Puntadewa, dan yang paling menarik perhatiannya adalah kamar tidur yang berisi Prabu Baladewa.

Malam itu Prabu Baladewa tertidur pulas akibat pengaruh ilmu sirep Raden Supali. Dalam tidurnya itu, Prabu Baladewa mimpi bertarung melawan Prabu Kangsa yang hidup kembali. Ia pun mengigau dan membaca mantra untuk mengeluarkan senjata Nanggala. Akibatnya, senjata tersebut benar-benar keluar dari tangan Prabu Baladewa di alam nyata.

Raden Supali terkejut melihat ada pusaka keluar dari tangan Prabu Baladewa yang sedang tidur. Ia pun segera mengambil pusaka tersebut dan membawanya pergi keluar kamar.

Prabu Baladewa

TUMENGGUNG CAKRANEGARA MEMBUNUH RADEN SUPALI

Raden Supali lalu tersesat ke dalam Taman Maherakaca di mana ia melihat Raden Drestajumena tertidur pulas dengan bersandar pada sebatang pohon, sedangkan Tumenggung Cakranegara sedang sibuk membersihkan rumput liar. Raden Supali heran melihat Tumenggung Cakranegara tidak tertidur oleh ilmu sirepnya. Ia pun segera bertanya dan dijawab oleh Tumenggung Cakranegara yang mengaku sebagai juru taman di Maherakaca, bernama Saramba. Raden Supali lalu bertanya di mana kamar Dewi Srikandi karena ia ingin menculik putri tersebut. Apabila Tumenggung Cakranegara bersedia menunjukkan, maka akan mendapat hadiah banyak uang darinya.

Tumenggung Cakranegara berkata dirinya tidak meminta hadiah berupa uang tetapi meminta pusaka yang dibawa Raden Supali. Raden Supali heran mengapa seorang juru taman meminta hadiah pusaka segala. Tumenggung Cakranegara pun menjawab bahwa Dewi Srikandi adalah calon istri Raden Arjuna yang sangat sakti. Apabila ketahuan bahwa dirinya membantu Raden Supali menculik Dewi Srikandi, tentu Raden Arjuna akan marah besar dan membunuhnya. Oleh sebab itu, Tumenggung Cakranegara membutuhkan pusaka ampuh untuk menghadapi kesatria Pandawa tersebut.

Raden Supali menimbang-nimbang mana yang lebih penting, apakah Dewi Srikandi ataukah pusaka yang baru saja dicurinya. Akhirnya, ia pun menyerahkan senjata Nanggala kepada Tumenggung Cakranegara yang dikiranya juru taman biasa. Tumenggung Cakranegara menerima pusaka tersebut dan langsung menggunakannya untuk memukul dada Raden Supali. Seketika Raden Supali pun roboh dan kehilangan nyawa.


Tumenggung Cakranegara


DEWI SRIKANDI MENGAJUKAN SYARAT KEPADA TUMENGGUNG CAKRANEGARA

Begitu Raden Supali terbunuh, pengaruh ilmu sirepnya langsung pudar seketika. Satu persatu penghuni istana Cempalareja pun terbangun dari tidurnya. Mereka lalu datang ke Taman Maherakaca dan kagum melihat semuanya telah pulih kembali, terutama Prabu Drupada dan Dewi Srikandi.

Raden Drestajumena bersaksi bahwa Tumenggung Cakranegara adalah orang yang berhasil memenangkan sayembara ini. Dewi Srikandi agak kecewa karena sang pemenang ternyata bukan Raden Arjuna yang ia rindukan, tetapi seorang laki-laki yang tidak jelas asal usulnya. Ia pun mengajukan syarat kepada Tumenggung Cakranegara bahwa kelak saat upacara pernikahan harus bisa menyediakan dua orang patah pengantin yang masing-masing berwajah tampan bersemu cantik. Semua orang terkejut mendengar permintaan ini. Namun, Tumenggung Cakranegara menyanggupi hal itu tanpa membantah.

Tiba-tiba Prabu Baladewa datang dengan marah-marah, menuduh Tumenggung Cakranegara telah mencuri pusaka Nanggala dari tangannya. Tumenggung Cakranegara menjelaskan bahwa yang mencuri bukan dirinya, melainkan Raden Supali yang saat ini telah menjadi mayat. Raden Supali ini juga yang telah mengerahkan Aji Sirep untuk membius seisi istana Cempalareja.

Prabu Baladewa masih saja marah-marah tidak percaya dan berniat menghajar Tumenggung Cakranegara. Melihat adiknya dalam bahaya, Tumenggung Sindulaga segera melindungi dan menantang Prabu Baladewa untuk menghadapi dirinya saja. Prabu Kresna pun muncul melerai mereka berdua. Ia berkata bahwa dirinya tadi hanya pura-pura tidur saat Raden Supali mengerahkan Aji Sirep. Ia pun membuntuti pangeran dari Cedi tersebut dan menyaksikan sendiri bahwa pencuri senjata Nanggala memang benar Raden Supali. Adapun Tumenggung Cakranegara justru telah berhasil merebutnya kembali.

Prabu Baladewa langsung reda kemarahannya setelah mendengar kesaksian dari sang adik. Ia pun menerima Senjata Nanggala yang disodorkan Tumenggung Cakranegara sambil berterima kasih. Tumenggung Sindulaga kemudian mengangkat mayat Raden Supali dan melemparkannya dengan sekuat tenaga ke arah Kerajaan Cedi.

Dewi Srikandi

PRABU SUPALA MENYERANG KERAJAAN CEMPALAREJA

Sementara itu, Prabu Supala sangat khawatir pada keselamatan adiknya. Ia pun berangkat menuju Kerajaan Cempalareja dan berhasil menyusul Patih Indrawaka beserta pasukannya. Di tengah jalan, mereka melihat mayat Raden Supali jatuh dari langit. Prabu Supala sangat marah bercampur sedih. Ia pun memerintahkan pasukannya untuk segera menggempur Kerajaan Cempalareja.

Di lain pihak, Prabu Drupada telah mendapat laporan bahwa Prabu Supala dan pasukannya datang menyerang untuk membalas kematian Raden Supali. Mendengar itu, Tumenggung Sindulaga dan Tumenggung Cakranegara segera mohon pamit untuk menghadapi mereka. Pertempuran sengit pun terjadi. Pasukan Cedi yang berjumlah banyak tersebut porak-poranda oleh amukan dua orang saja. Prabu Supala akhirnya dapat diringkus oleh Tumenggung Cakranegara, sedangkan Patih Indrawaka diringkus oleh Tumenggung Sindulaga.

Kedua orang Cedi itu lalu dihadapkan kepada Prabu Drupada. Prabu Kresna datang dan meminta agar mereka dibebaskan saja, karena Prabu Supala dulu pernah menjadi muridnya. Mendengar saran tersebut, Prabu Drupada pun mengabulkan. Ia lalu mempersilakan Prabu Supala dan Patih Indrawaka agar segera pulang kembali ke Kerajaan Cedi.

Prabu Supala dengan lagak angkuh berkata kepada Prabu Kresna bahwa dirinya tidak akan berterima kasih, melainkan justru memaki gurunya itu sebagai begal, maling, perampok, penipu, tukang sihir, dan segala jenis makian kasar lainnya. Prabu Baladewa sangat marah mendengar adiknya dihina dan hendak melabrak Prabu Supala, namun segera dicegah oleh Prabu Kresna.

Setelah Prabu Supala dan pasukannya pergi, barulah Prabu Kresna menceritakan semuanya. Dahulu kala Prabu Supala dilahirkan dalam keadaan cacat dan bisa berubah menjadi normal setelah diruwat oleh dirinya yang saat itu masih bernama Raden Narayana. Prabu Darmagosa raja Cedi kala itu pun bercerita bahwa dewata telah memberikan petunjuk, yaitu ciri-ciri orang yang bisa meruwat putranya adalah berkulit hitam cemani, sekaligus juga menjadi pembunuh putranya tersebut kelak. Oleh sebab itu, Prabu Darmagosa dan Dewi Srutawati pun memohon kepada Raden Narayana agar tidak membunuh Raden Supala, serta menjadikannya sebagai murid. Raden Narayana bersedia, namun Raden Supala hanya diberi kesempatan seratus kali berbuat salah. Lebih dari itu, maka Raden Narayana alias Prabu Kresna terpaksa harus menggenapi takdir, yaitu membunuh muridnya sendiri.

Setelah Raden Supala berguru kepada Prabu Kresna, ia lalu naik takhta menggantikan Prabu Darmagosa yang meninggal dunia. Ia juga menjalin persahabatan dengan Prabu Jarasanda yang menyimpan dendam kepada Prabu Kresna dan Prabu Baladewa atas kematian Prabu Kangsa. Sejak itulah Prabu Jarasanda menghasut Prabu Supala agar membenci dan memusuhi gurunya sendiri. Ditambah lagi rasa cemburu karena Dewi Rukmini telah menjadi istri Prabu Kresna, membuat kebencian Prabu Supala semakin berkobar. Maka, begitu ada kesempatan, Prabu Supala pun memaki Prabu Kresna dengan segala kata-kata kasar seperti tadi. Prabu Kresna sepertinya diam tidak membalas, padahal dalam hati ia menghitung. Ternyata makian tadi jumlahnya tidak sampai seratus, sehingga ia pun mengampuni bekas muridnya itu.

Prabu Baladewa kagum melihat kesabaran Prabu Kresna. Andai saja dirinya yang dimaki seperti tadi, mungkin nyawa Prabu Supala sudah melayang saat itu juga.

Prabu Kresna

PARA KURAWA MENGAMUK HENDAK MEREBUT DEWI SRIKANDI

Resi Druna yang baru bangun dari tidur terkejut melihat Taman Maherakaca sudah pulih kembali dan ia pun berkata bahwa ini semua adalah hasil samadinya tadi malam. Prabu Drupada pun menjelaskan bahwa yang berhasil memperbaiki Taman Maherakaca adalah Tumenggung Cakranegara dengan disaksikan Raden Drestajumena. Resi Druna sangat marah dan bersikeras bahwa ini adalah hasil kerjanya. Ia juga menyebut Raden Drestajumena sebagai murid durhaka karena lebih membela orang lain daripada membela guru sendiri. Raden Drestajumena menjawab dirinya hanya membela kebenaran, tidak peduli harus berhadapan dengan guru atau siapa pun juga.

Prabu Duryudana dan Patih Sangkuni ikut marah dan segera memerintahkan para Kurawa untuk menculik Dewi Srikandi. Mendengar itu, Tumenggung Sindulaga segera maju melabrak para Kurawa. Seorang diri ia bertanding dengan tangkas dan membuat para Kurawa berhamburan meninggalkan Kerajaan Cempalareja.

Resi Druna pun maju menghadapi Tumenggung Sindulaga yang merupakan penyamaran Arya Wrekodara. Karena merasa segan bertarung dengan guru sendiri, Tumenggung Sindulaga memilih mundur. Resi Druna pun mengamuk merusak Taman Maherakaca, sedangkan para hadirin banyak yang segan kepadanya. Akhirnya, Arya Setyaki yang maju menghadapi Resi Druna yang sedang kalap tersebut. Dengan cekatan, kesatria berbadan kecil itu pun berhasil meringkus pendeta itu dan membawanya keluar dari istana Cempalareja.

Arya Setyaki

TUMENGGUNG CAKRANEGARA DAN TUMENGGUNG SINDULAGA MENDAPAT KEDUDUKAN

Taman Maherakaca yang telah dirusak oleh Resi Druna kembali diperbaiki Tumenggung Cakranegara dengan menggunakan pusaka Candusakti dan Mustikaning Sri. Kali ini Prabu Drupada, Dewi Srikandi, dan para hadirin lainnya dapat menyaksikan secara langsung kehebatan Tumenggung Cakranegara. Namun demikian, Dewi Srikandi masih kecewa karena bukan Raden Arjuna yang memenangkan sayembara. Ia pun berkata bahwa syarat yang diucapkannya tadi masih tetap berlaku. Ia berharap Tumenggung Cakranegara gagal mewujudkan itu sehingga batal pula menikah dengannya.

Prabu Kresna mendekati Tumenggung Cakranegara dan berbisik kepadanya mengapa tidak segera membuka penyamaran. Tumenggung Cakranegara menjawab bahwa dirinya akan membuka penyamaran apabila nanti sudah mengetahui isi hati Dewi Srikandi yang sebenarnya.

Demikianlah, Prabu Drupada pun mengadakan pesta syukuran atas pulihnya Taman Maherakaca. Soal pernikahan dengan Dewi Srikandi akan dilaksanakan nanti, yaitu apabila Tumenggung Cakranegara sudah memenuhi syarat mampu menyediakan patah sakembaran berupa dua orang pemuda yang berparas tampan bersemu cantik. Namun demikian, Prabu Drupada juga mempunyai hadiah tersendiri untuk Tumenggung Cakranegara dan Tumenggung Sindulaga atas kemenangan mereka mengalahkan musuh dari Kerajaan Cedi. Kedua bersaudara itu pun diangkat sebagai punggawa Kerajaan Cempalareja, dan masing-masing mendapat hadiah sebidang tanah. Tumenggung Sindulaga mendapat tanah lungguh di Puger Tengah, sedangkan Tumenggung Cakranegara mendapat tanah lungguh di Warubinatur.

Prabu Drupada

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


Untuk kisah penghinaan yang dialami Resi Druna oleh Arya Gandamana dapat dibaca di sini

Untuk kisah kelahiran putra-putri Prabu Drupada dapat dibaca di sini

Untuk kisah kematian Prabu Kangsa dapat dibaca di sini

Untuk kisah kelahiran Prabu Supala dapat dibaca di sini

Untuk perkawinan Prabu Kresna dengan Dewi Rukmini dapat dibaca di sini







Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Parasara Lahir
    Kisah ini menceritakan kelahiran Bambang Parasara putra Batara Sakri dan Dewi Sati, yang kelak menjadi Resi Parasara, yaitu leluhur para Pan...
  • Sesaji Rajasuya
    Kisah ini menceritakan tentang upacara Sesaji Rajasuya yang diadakan oleh para Pandawa, serta kematian Prabu Jarasanda, musuh bebuyutan Pra...
  • Sakri Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Batara Sakri di tangan Prabu Murtija, raja raksasa dari Kerajaan Tirtakawana, serta awal mula Dewi Wayasi da...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  January (2)
      • Sewa Sound System Jogja Yogyakarta 08562954111
      • Hanya Rindu Andmesh Kemalang Covered
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja