Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111

Melayani kebutuhan MC | Elekton | Orgen Tunggal | Sound system | Dekorasi | Tenda | Wedding Organizer | Karangan Bunga | SPG | Akoustic Band |

  • Tanah Dijual Jogja
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Rumah Dijual Jogja
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Sewa Mobil Jogja
  • Loker jakarta
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Rental mobil jogja
  • Belanja Jogja
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Facebook
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Agen Property Jogja
  • Obat Peninggi badan

Recent Comments

Irawan Lahir

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang kelahiran Bambang Irawan, yaitu putra Raden Arjuna dengan Dewi Ulupi. Juga dikisahkan awal mula Raden Antareja menggelung rambut dan menjadi murid Resi Jayawilapa.

Kisah ini saya olah dari sumber rangkuman balungan Pakem Ringgit Purwa koleksi Museum Sonobudoyo, dengan disertai pengembangan seperlunya.

Kediri, 17 Mei 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

Bambang Irawan kelak setelah dewasa.

------------------------------ ooo ------------------------------

PARA PANDAWA HENDAK MENGHADIRI UPACARA SIRAMAN DEWI ULUPI

Prabu Puntadewa di Kerajaan Amarta dihadap para adik, yaitu Arya Wrekodara kesatria Jodipati, si kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa, serta Patih Tambakganggeng dan Raden Gatutkaca. Hadir pula dalam pertemuan itu Prabu Kresna Wasudewa dari Kerajaan Dwarawati yang datang berkunjung bersama Arya Setyaki.

Hari itu Prabu Puntadewa membicarakan tentang adik nomor tiga, yaitu Raden Arjuna yang telah pergi ke Padepokan Yasarata untuk menjenguk istrinya yang bernama Dewi Ulupi, putri Resi Jayawilapa. Menurut keterangan Raden Arjuna, usia kandungan Dewi Ulupi telah mencapai tujuh bulan, sehingga tiba waktunya untuk mengadakan upacara siraman baginya.

Dalam kesempatan itu, Raden Sadewa mohon izin ikut bicara bahwa ia mendapat firasat kelak bayi yang dilahirkan Dewi Ulupi akan tumbuh menjadi kesatria yang namanya dikenang sepanjang masa. Prabu Kresna tertarik mendengarnya. Ia pun mendapat firasat yang sama sehingga sengaja datang ke Kerajaan Amarta untuk mengajak Prabu Puntadewa ikut menghadiri upacara siraman Dewi Ulupi tersebut. Prabu Puntadewa menyatakan bersedia. Mereka lalu berangkat bersama-sama dengan didampingi Arya Wrekodara, Arya Setyaki, dan Raden Gatutkaca, sedangkan si kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa tetap tinggal di istana menjaga kerajaan bersama Patih Tambakganggeng.

Prabu Kresna dan Prabu Puntadewa.

PRABU NILAWARNA JATUH CINTA KEPADA DEWI ULUPI

Tersebutlah seorang raja bernama Prabu Nilawarna dari Kerajaan Parangsotya. Raja ini masih muda dan tampan namun belum memiliki istri. Pada suatu malam ia mimpi bertemu perempuan cantik berpenampilan sederhana, bernama Dewi Ulupi dari Padepokan Yasarata. Prabu Nilawarna pun jatuh cinta kepadanya dan ingin menjadikan perempuan itu sebagai permaisuri.

Begitu terbangun dari tidur, Prabu Nilawarna segera memanggil abdi panakawan, yaitu Kyai Togog dan Bilung Sarahita. Kepada mereka berdua, ia bercerita tentang mimpi tadi malam dan menyatakan ingin menikahi gadis bernama Dewi Ulupi tersebut. Meskipun seorang gadis desa yang sederhana, namun Dewi Ulupi memiliki kecantikan istimewa yang tidak kalah jika dibandingkan dengan putri raja yang tinggal di istana.

Kyai Togog yang berwawasan luas mengatakan bahwa Dewi Ulupi sudah bukan gadis lagi, karena telah menjadi istri Raden Arjuna, kesatria Panengah Pandawa. Bahkan, perempuan itu kini telah mengandung dan tiba waktunya untuk mengadakan upacara siraman baginya. Kyai Togog dan Bilung menyarankan agar Prabu Nilawarna mencari perempuan lain saja apabila hendak dijadikan sebagai permaisuri, karena mengganggu istri Raden Arjuna sama artinya dengan mencari mati. Kyai Togog lalu menceritakan tentang sepak terjang Raden Arjuna dan juga saudara-saudaranya, yang mana mereka disebut Pandawa Lima.

Prabu Nilawarna tidak percaya pada cerita Kyai Togog. Ia tetap saja nekat ingin merebut Dewi Ulupi dan membawanya tinggal di Kerajaan Parangsotya. Ia lalu memerintahkan Patih Kalabandoga untuk berangkat menyerang Padepokan Yasarata dengan membawa pasukan secukupnya.

Prabu Nilawarna.

PATIH KALABANDOGA BENTROK DENGAN ROMBONGAN DARI AMARTA

Patih Kalabandoga dan pasukan Parangsotya telah berangkat menuju Padepokan Yasarata. Di tengah jalan mereka berpapasan dengan rombongan dari Kerajaan Amarta. Arya Setyaki yang berada di ujung barisan bertanya ada keperluan apa mereka menanyakan jalan menuju Yasarata. Patih Kalabandoga menjawab dengan lugas bahwa dirinya hendak merebut Dewi Ulupi. Mendengar rencana jahat itu, Arya Setyaki segera mengerahkan pasukan Amarta untuk menggempur mereka.

Pertempuran sengit pun terjadi. Pasukan Parangsotya kocar-kacir digempur pasukan Amarta. Patih Kalabandoga dapat meloloskan diri. Ia tidak berani pulang ke rajanya karena takut mendapatkan hukuman. Maka, ia pun memilih nekat pergi menuju Padepokan Yasarata seorang diri. Ia lalu berlari sekencang-kencangnya dengan tujuan menculik Dewi Ulupi pada malam hari.

Arya Setyaki.

RADEN ANTAREJA INGIN MENJADI PUNGGAWA SEPERTI RADEN GATUTKACA

Sementara itu di Kahyangan Saptapratala, Batara Anantaboga dan Dewi Nagagini menerima kunjungan Raden Antareja dari Kesatrian Jangkarbumi. Dalam pertemuan itu, Raden Antareja mengutarakan kekesalan hatinya karena saat bertemu dengan sang ayah tempo hari, yaitu Arya Wrekodara, dirinya hanya diperlakukan sebagai tamu. Dalam hati ia merasa iri dengan adiknya, yaitu Raden Gatutkaca yang sudah lebih dulu mengabdi di Kerajaan Amarta sebagai punggawa pemimpin para prajurit. Ingin rasanya ia ikut mengabdi sebagai punggawa pula, tetapi Prabu Puntadewa sepertinya belum memberikan izin menerima pegawai baru.

Batara Anantaboga dapat memahami kekecewaan cucunya. Ia pun menjelaskan bahwa berbakti kepada negara tidak harus menjadi punggawa kerajaan, tetapi bisa melalui cara lain. Taat membayar pajak, bekerja sebaik-baiknya sesuai bidang keterampilan, serta ikut menjaga nama baik negara, itu juga merupakan bentuk pengabdian. Selain itu, Batara Anantaboga juga mengetahui bahwa Raden Antareja memiliki watak mudah marah dan cenderung gegabah. Mungkin itulah yang membuat Prabu Puntadewa tidak menerimanya menjadi punggawa. Maka, Batara Anantaboga pun menyarankan agar cucunya itu pergi mencari guru terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengabdi sebagai punggawa kerajaan yang terikat segala macam aturan ketat.

Raden Antareja merasa heran, bukankah sejak kecil ia sudah berguru kepada sang kakek, mengapa harus mencari guru yang lain lagi? Batara Anantaboga menjawab dirinya tidak dapat menjadi guru yang baik bagi Raden Antareja karena hubungan mereka adalah kakek dan cucu, tentu ada perasaan memanjakan dan tidak dapat sepenuh hati memberikan pelajaran kehidupan. Selain itu, ia juga terikat tugas sebagai dewa pelindung bumi sehingga sulit menyisihkan waktu untuk mengajari sang cucu.

Batara Anantaboga menjelaskan bahwa ia memiliki saudara angkat yang juga pernah berguru kepadanya, bernama Resi Jayawilapa dari Padepokan Yasarata. Saudara angkatnya itulah yang kiranya dapat menjadi guru terbaik bagi Raden Antareja. Sifat-sifat Raden Antareja yang buruk, antara lain mudah iri, mudah marah, dan gegabah semoga dapat terkikis selama berguru kepada Resi Jayawilapa di Padepokan Yasarata.

Raden Antareja merasa berat hati meninggalkan Kahyangan Saptapratala tetapi karena ini perintah sang kakek, maka ia hanya bisa mematuhi. Setelah memohon restu kepada Batara Anantaboga, Dewi Supreti, dan Dewi Nagagini, ia pun berangkat menuju Padepokan Yasarata.

Batara Anantaboga.

PATIH KALABANDOGA MENCULIK DEWI ULUPI

Di Padepokan Yasarata hari sudah larut malam. Patih Kalabandoga seorang diri datang ke sana setelah pasukannya hancur akibat kalah perang melawan rombongan dari Kerajaan Amarta tadi. Ia pun mengerahkan Aji Sirep dan kemudian menyusup masuk mencari kamar tidur Dewi Ulupi.

Sungguh hebat kekuatan Aji Sirep yang dikerahkan Patih Kalabandoga sehingga seluruh penghuni Padepokan Yasarata pun tertidur pulas. Setelah mencari ke sana-kemari, akhirnya Patih Kalabandoga berhasil menemukan Dewi Ulupi sedang tidur bersama Raden Arjuna. Ia pun maju hendak menarik tubuh wanita itu tetapi pagar gaib yang dipasang Raden Arjuna sebelum tidur membuatnya jatuh terduduk. Sebanyak tiga kali Patih Kalabandoga berusaha meraih Dewi Ulupi, maka sebanyak tiga kali pula ia jatuh terduduk di lantai.

Patih Kalabandoga paham apa yang telah membuatnya terlempar jatuh. Ia pun berlutut menyembah tempat tidur Dewi Ulupi dan Raden Arjuna untuk menawarkan pengaruh pagar gaib yang ada di situ. Begitu pagar gaib terbuka, ia langsung menggendong tubuh Dewi Ulupi dan memasukkannya ke dalam sebuah kendaga. Secepat kilat Patih Kalabandoga lalu pergi membawa kendaga itu meninggalkan Padepokan Yasarata.

Patih Kalabandoga.

RADEN BURISRAWA MENGHADANG PATIH KALABANDOGA

Sementera itu, Raden Burisrawa sedang berkelana seorang diri meninggalkan Kesatrian Madyapura. Dalam hati ia masih menyimpan dendam karena gagal menculik Dewi Sumbadra tempo hari. Akibatnya, ia pun menjadi bulan-bulanan, dihajar dari kiri dan kanan oleh Raden Antareja dan Raden Gatutkaca. Meskipun Raden Arjuna telah memaafkan perbuatannya, namun hatinya masih menyimpan dendam karena sejak peristiwa tersebut ia tidak boleh lagi mendekati Dewi Sumbadra. Bahkan, Prabu Baladewa yang selama ini selalu mendukungnya ternyata juga ikut marah dan melarangnya datang lagi ke Kesatrian Madukara.

Hari itu Raden Burisrawa mendengar kabar bahwa Raden Arjuna memiliki istri paminggir bernama Dewi Ulupi yang sedang mengandung dan tinggal di Padepokan Yasarata. Ia pun berniat membalas dendam dengan cara menculik Dewi Ulupi dan menggugurkan kandungannya.

Sungguh kebetulan, di tengah jalan Raden Burisrawa berpapasan dengan Patih Kalabandoga yang sedang membawa kendaga. Ia pun menghentikannya dan bertanya apa isi kendaga tersebut. Karena wajah Raden Burisrawa yang mirip raksasa membuat Patih Kalabandoga mengiranya sebagai teman sendiri. Dasar watak Patih Kalabandoga juga lugas, membuatnya langsung berterus terang bahwa kendaga tersebut berisi Dewi Ulupi yang akan dipersembahkan kepada Prabu Nilawarna di Kerajaan Parangsotya.

Raden Burisrawa senang mendengarnya dan ia pun menyerang Patih Kalabandoga untuk merebut kendaga itu. Patih Kalabandoga terkejut dan membela diri. Keduanya lalu bertarung sengit. Dalam pertarungan itu Raden Burisrawa unggul. Ia pun menghabisi nyawa Patih Kalabandoga dan melemparkan mayatnya ke dasar jurang.

Raden Burisrawa.

DEWI ULUPI DITOLONG RADEN ANTAREJA

Raden Burisrawa lalu membuka tutup kendaga dan melihat Dewi Ulupi terbangun dari pingsan dalam keadaan terkejut. Ia pun memaksa wanita itu untuk menggugurkan kandungannya demi melampiaskan dendam kepada Raden Arjuna. Dewi Ulupi ketakutan dan mencoba kabur. Raden Burisrawa pun mengejarnya sambil menari dan tertawa-tawa. Semakin Dewi Ulupi takut, ia justru semakin senang. Ia sengaja tidak langsung menangkap wanita itu tetapi ingin mempermainkannya terlebih dahulu seperti kucing hendak menangkap tikus.

Dewi Ulupi yang lari tak tentu arah akhirnya terperosok jatuh ke dalam jurang. Tubuhnya melayang turun dan pasti tewas jika terbentur tanah. Namun, pertolongan tiba-tiba muncul di saat genting. Raden Antareja yang sedang menuju Padepokan Yasarata kebetulan lewat dan langsung menyambar tubuh Dewi Ulupi. Perlahan-lahan ia membawa wanita hamil itu naik ke atas dan mendudukkannya di bawah pohon rawan.

Raden Burisrawa yang mengejar Dewi Ulupi terkejut melihat Raden Antareja tiba-tiba muncul. Seketika ia pun teringat peristiwa tempo hari saat pemuda bersisik naga itu menghajar dirinya dalam wujud Dewi Sumbadra palsu di atas perahu. Raden Antareja sendiri juga melihat Raden Burisrawa. Pemuda itu pun segera menyerang ke arahnya. Maka, terjadilah pertarungan di antara mereka berdua. Raden Burisrawa lagi-lagi kalah dan memilih kabur meninggalkan tempat itu.

Dewi Ulupi.

DEWI ULUPI MELAHIRKAN BAYI LAKI-LAKI

Setelah keadaan aman, Raden Antareja mendatangi Dewi Ulupi yang masih ketakutan. Tiba-tiba datang pula Raden Arjuna bersama sang mertua, yaitu Resi Jayawilapa. Mereka berdua telah terbebas dari pengaruh Aji Sirep dan langsung berangkat mencari hilangnya Dewi Ulupi. Sesampainya di tempat itu, Raden Arjuna terkejut melihat Raden Antareja bersama Dewi Ulupi, dan ia langsung menuduh keponakannya itulah si pelaku penculikan. Namun, Dewi Ulupi segera melerai dan menjelaskan justru Raden Antareja adalah pahlawan yang telah menolong dirinya dari penjahat yang sebenarnya.

Raden Arjuna meminta maaf karena telah berburuk sangka kepada Raden Antareja. Ia lalu mengajak sang istri pulang kembali ke Padepokan Yasarata. Akan tetapi, Dewi Ulupi tiba-tiba merintih kesakitan. Rupanya peristiwa dirinya diculik membuat kandungannya bermasalah. Usia kandungannya saat itu masih tujuh bulan tetapi sepertinya si janin hendak keluar sekarang. Resi Jayawilapa segera maju menolong putrinya itu melahirkan. Sambil membaca mantra, Resi Jayawilapa meraba perut Dewi Ulupi tiga kali dan putrinya itu langsung melahirkan tanpa kesakitan.

Resi Jayawilapa kemudian menyerahkan bayi dalam gendongannya kepada Raden Arjuna. Bayi tersebut berkelamin laki-laki dan berwajah tampan, sangat mirip dengan Raden Arjuna. Raden Arjuna merasa bahagia tetapi ia belum mempersiapkan nama, karena tidak mengira putranya akan lahir sekarang. Resi Jayawilapa pun mengusulkan, karena si bayi dilahirkan di bawah pohon rawan, maka sebaiknya ia diberi nama Bambang Irawan. Raden Arjuna setuju dan menetapkan nama ini sebagai nama putranya yang baru lahir tersebut.

Resi Jayawilapa.

RADEN ANTAREJA DIGELUNG RAMBUTNYA OLEH RESI JAYAWILAPA

Raden Antareja kagum melihat kesaktian Resi Jayawilapa saat menolong Dewi Ulupi melahirkan. Hanya dengan mengelus perut putrinya itu tiga kali, si bayi Bambang Irawan langsung keluar ke dunia. Kini ia pun yakin bahwa kakeknya tidak salah tunjuk orang. Ia pun berterus terang mengatakan bahwa dirinya diutus Batara Anantaboga agar berguru kepada Resi Jayawilapa. Tadinya ia berniat menantang Resi Jayawilapa bertarung untuk mengukur ilmu kesaktiannya. Namun, ia merasa tidak perlu lagi berbuat seperti itu karena sekarang tekadnya sudah bulat ingin berguru kepada pendeta tersebut.

Resi Jayawilapa senang mendengarnya. Ia menjelaskan bahwa Batara Anantaboga adalah saudara angkatnya dan sekaligus pernah menjadi gurunya pula. Karena Batara Anantaboga sudah berpesan demikian, Resi Jayawilapa pun menerima Raden Antareja dengan senang hati. Akan tetapi, ia juga menjelaskan bahwa soal kesaktian tentu saja Batara Anantaboga masih jauh di atasnya. Dirinya hanyalah seorang pendeta tua yang menyepi tinggal di desa, itu saja.

Raden Antareja menyatakan dirinya sudah yakin terhadap Resi Jayawilapa dan ia sudah membulatkan tekad untuk ikut tinggal di Padepokan Yasarata, berguru segala macam ilmu kehidupan kepada sang pendeta. Resi Jayawilapa menerima permohonan tersebut. Ia pun menggelung rambut panjang Raden Antareja menjadi bulat, sebagai perlambang kebulatan tekadnya.

Raden Arjuna bertindak sebagai saksi. Ia ikut senang bahwa keponakannya berguru kepada mertuanya. Mereka lalu bersama-sama pulang kembali ke Padepokan Yasarata.

Raden Antareja sebelum dan sesudah gelung.

RADEN ARJUNA MENGALAHKAN PRABU NILAWARNA

Sesampainya di Padepokan Yasarata, ternyata rombongan dari Kerajaan Amarta sudah lebih dulu tiba di sana. Upacara siraman tujuh bulanan yang sudah dipersiapkan itu pun kini berubah menjadi upacara syukuran atas kelahiran Bambang Irawan. Prabu Puntadewa, Prabu Kresna, Arya Wrekodara, dan anggota rombongan lainnya ikut berbahagia atas kelahiran bayi tampan tersebut dan ramai-ramai memberikan berkah restu kepadanya.

Tiba-tiba datang pula Prabu Nilawarna raja Parangsotya yang berteriak-teriak meminta Raden Arjuna agar menyerahkan Dewi Ulupi. Raden Arjuna pun keluar menghadapinya. Keduanya lalu bertarung di halaman Padepokan Yasarata untuk memperebutkan Dewi Ulupi. Setelah bertarung agak lama, akhirnya Prabu Nilawarna tewas tertusuk Keris Pulanggeni milik Raden Arjuna.

Setelah keadaan tenang kembali, para Pandawa pun melanjutkan upacara syukuran. Hari itu Raden Antareja dan Bambang Irawan dipersaudarakan. Raden Antareja tidak lagi menganggap Bambang Irawan sebagai sepupu, tetapi menjadikannya sebagai adik kandung. Bahkan, ia juga memanggil ibu kepada Dewi Ulupi. Sejak saat itu pula Raden Antareja tinggal di Padepokan Yasarata untuk berguru ilmu kehidupan kepada Resi Jayawilapa.

Raden Arjuna.

------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Bambang Irawan adalah tokoh yang terdapat dalam kitab Mahabharata dengan nama Iravan, sedangkan Raden Antareja adalah tokoh asli ciptaan pujangga Jawa. Menurut naskah Mahabharata, ibu dari Iravan juga bernama Ulupi, tetapi kakeknya bernama Naga Koravya.

Sementara itu, nama raja Parangsotya menurut naskah Sonobudoyo adalah Prabu Ekawarna. Karena khawatir rancu dengan Batara Ekawarna, yaitu kakek dari Prabu Boma Narakasura, maka saya pun mengubah namanya menjadi Prabu Nilawarna dalam lakon yang saya sajikan di atas.


Untuk kisah perkawinan Raden Arjuna dengan Dewi Ulupi dapat dibaca di sini






Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Sumbadra Larung

 No comments   



Kisah ini menceritakan tentang Raden Burisrawa yang tergila-gila kepada Dewi Sumbadra dan menyusup masuk ke dalam Kesatrian Madukara. Ulahnya membuat Dewi Sumbadra tewas dan jasadnya pun dilarung oleh pihak Pandawa. Jasad Dewi Sumbadra kemudian dihidupkan kembali oleh Raden Antareja yang sedang dalam perjalanan mencari ayahnya, yaitu Arya Wrekodara.

Kisah ini saya olah dari sumber Ensiklopedia Wayang Purwa karya Rio Sudibyoprono, yang dipadukan dengan novel Sumbadra Larung karya Sunardi DM, dengan pengembangan seperlunya.

Kediri, 12 Mei 2017

Heri Purwanto

Untuk daftar judul lakon wayang lainnya, klik di sini

------------------------------ ooo ------------------------------

Dewi Sumbadra - Raden Gatutkaca - Raden Antareja.

PRABU DURYUDANA MENGERAHKAN PARA KURAWA UNTUK MENCARI RADEN BURISRAWA

Prabu Duryudana di Kerajaan Hastina dihadap Resi Druna dari Sokalima, Adipati Karna dari Awangga, Patih Sangkuni dari Plasajenar, serta Raden Kartawarma selaku juru panitisastra. Di paseban luar, para Kurawa duduk menunggu perintah, dengan Arya Dursasana sebagai pemimpin.

Hari itu Prabu Duryudana juga menerima kedatangan adik iparnya, yaitu Raden Rukmarata, putra bungsu Prabu Salya dari Kerajaan Mandraka. Raden Rukmarata berkata bahwa ia diutus sang ayah untuk mencari kakak nomor empatnya, yaitu Raden Burisrawa yang sudah setahun ini tidak pulang ke Kesatrian Madyapura. Raden Burisrawa sendiri memang jarang menghadap ke istana Mandraka karena malu dengan wajahnya yang mirip raksasa. Ia juga jarang pulang ke Kesatrian Madyapura dan lebih suka tinggal di hutan untuk berlatih tanding melawan berbagai macam binatang buas. Akan tetapi, sudah setahun ini keberadaannya tidak diketahui, yaitu sejak gagal menikah dengan Dewi Sumbadra. Baik itu di Kesatrian Madyapura ataupun di hutan tempatnya biasa berlatih, Raden Burisrawa tidak ditemukan di sana.

Prabu Salya yang merasa khawatir atas keselamatan putra keempatnya itu segera mengutus Raden Rukmarata untuk pergi mencari. Raden Rukmarata pun berangkat melaksanakan tugas. Namun, karena ia sendiri biasa hidup nyaman di dalam istana Mandraka, perjalanan mencari Raden Burisrawa terasa sangat berat baginya. Karena tidak tahu harus mencari ke mana, Raden Rukmarata pun pergi menghadap Prabu Duryudana untuk meminta petunjuk, mungkin kakak iparnya itu mengetahui kabar keberadaan Raden Burisrawa.

Prabu Duryudana menjawab dirinya terakhir melihat Raden Burisrawa adalah saat Patih Udawa mengadakan sayembara untuk memperebutkan Niken Larasati beberapa bulan yang lalu. Saat itu Raden Burisrawa sedang patah hati karena gagal menikah dengan Dewi Sumbadra. Ia pun luntang-lantung di jalanan dan menderita sakit jiwa. Hingga akhirnya para Kurawa menemukannya pingsan di tepi hutan dan segera dibawa pulang ke Kerajaan Hastina.

Atas usul Prabu Baladewa kala itu, Raden Burisrawa harus dinikahkan dengan Niken Larasati, adik Patih Udawa agar bisa segera melupakan Dewi Sumbadra yang sudah diperistri Raden Arjuna. Namun, rencana tersebut gagal karena Prabu Baladewa tidak dapat memenangkan sayembara tanding melawan Patih Udawa. Justru sayembara di Desa Widarakandang itu akhirnya dimenangkan oleh Dewi Sumbadra sendiri, dan Niken Larasati pun diserahkan kepada Raden Arjuna. Karena dua kali menderita kegagalan, Raden Burisrawa semakin parah keadaannya dan ia pun memilih kabur meninggalkan Kerajaan Hastina. Prabu Duryudana mengira adik iparnya itu pulang ke Kesatrian Madyapura, sehingga tidak memerintahkan orang untuk menyusul.

Raden Rukmarata menjelaskan bahwa Raden Burisrawa sudah setahun ini tidak pernah pulang ke Kesatrian Madyapura, apalagi ke istana Mandraka. Itulah sebabnya ia datang ke Kerajaan Hastina untuk meminta bantuan Prabu Duryudana mengatasi masalah ini. Prabu Duryudana menyanggupi permintaan adik iparnya tersebut. Ia sendiri merasa bersalah karena sudah dua kali gagal membantu Raden Burisrawa menikah.

Karena kesepakatan sudah diambil, Prabu Duryudana pun meminta Adipati Karna dan Patih Sangkuni beserta para Kurawa untuk berangkat mencari Raden Burisrawa. Setelah dianggap cukup, ia lalu membubarkan pertemuan dan masuk ke dalam kedaton.

Prabu Duryudana.

KISAH RADEN ANTAREJA PUTRA DEWI NAGAGINI

Di lain tempat, yaitu di Kahyangan Saptapratala, Batara Anantaboga sedang dihadap Dewi Nagagini (putrinya) dan juga Raden Antareja (cucunya). Hari itu Raden Antareja mendesak ibunya agar mengatakan siapakah ayah kandungnya. Selama ini Dewi Nagagini memang tidak pernah bercerita dan kini ia tidak tahan lagi karena terus-menerus didesak. Maka, Dewi Nagagini pun mengajak Raden Antareja untuk meminta petunjuk kepada Batara Anantaboga.

Batara Anantaboga bertanya mengapa Raden Antareja ingin mengetahui ayah kandungnya, dan apa yang akan ia lakukan setelah tahu. Raden Antareja menjawab sudah sewajarnya seorang anak ingin mengetahui siapa orang yang telah mengukir jiwa raganya. Jika sudah tahu siapa orangnya, sudah tentu Raden Antareja akan datang dan menyembah kepadanya.

Batara Anantaboga berkata untuk apa Raden Antareja ingin mencari ayahnya jika memang orang itu sama sekali tidak pernah memikirkan dirinya. Bukankah lebih baik Raden Antareja tinggal nyaman di istana Jangkarbumi yang dulu ia dapatkan setelah mengalahkan Prabu Nagabaginda? Batara Anantaboga pun mengingatkan bahwa waktu itu Raden Antareja masih bayi saat Prabu Nagabaginda datang menyerang Kahyangan Saptapratala untuk merebut Dewi Nagagini. Batara Anantaboga lalu menggendong bayi Raden Antareja dan melumuri sekujur tubuh cucunya itu dengan air liur. Sungguh ajaib, Raden Antareja tiba-tiba tumbuh menjadi dewasa dan dengan gagah berani menumpas Prabu Nagabaginda beserta seluruh pasukannya. Istana milik Prabu Nagabaginda yang bernama Jangkarbumi pun kosong dan sejak saat itu menjadi tempat tinggal Raden Antareja.

Raden Antareja tidak pernah melupakan peristiwa itu. Ia merasa senang telah memiliki istana sendiri di Jangkarbumi, namun tetap saja siang malam selalu merindukan kasih sayang seorang ayah. Hari ini ia tidak tahan lagi dan mendesak ibunya supaya menjelaskan siapa ayah kandungnya dan di mana keberadaannya.

Dewi Nagagini sebenarnya takut jika Raden Antareja mengetahui tentang ayahnya, sehingga putranya itu akan pergi dan tidak kembali lagi ke Kahyangan Saptapratala ataupun istana Jangkarbumi. Raden Antareja berkata dirinya tidak mungkin seperti itu. Meskipun ia sudah mengetahui siapa ayah kandungnya, ia akan tetap pulang untuk menemui ibu dan kakeknya di kahyangan.

Batara Anantaboga merasa memang sudah waktunya Raden Antareja mengetahui soal ini. Ia pun bercerita bahwa ayah kandung dari cucunya itu adalah Raden Bratasena yang tinggal di Kesatrian Jodipati. Mungkin karena kesibukannya sebagai sentana Kerajaan Amarta, membuat Raden Bratasena tidak sempat lagi berkunjung ke Kahyangan Saptapratala. Dewi Nagagini membenarkan hal itu. Selama ini ia tidak pernah merasa kesepian meskipun tidak pernah ditengok Raden Bratasena, karena ia menyadari suaminya itu adalah milik negara, bukan miliknya secara pribadi.

Raden Antareja terkesan mendengar kisah tentang ayahnya. Ia pun mohon restu kepada kakek dan ibunya untuk berangkat menemui sang ayah di Kesatrian Jodipati. Setelah bertemu, ia pasti akan kembali lagi ke Kahyangan Saptapratala dan Kesatrian Jangkarbumi. Batara Anantaboga merestui namun tidak tega melepaskan sang cucu begitu saja. Ia lalu memberikan tiga jenis pusaka kepada Raden Antareja. Pusaka yang pertama adalah selongsong sisik naga milik Batara Anantaboga. Dulu saat berganti kulit, Batara Anantaboga tidak membuang kulit bekasnya begitu saja, tetapi membentuknya menjadi semacam baju rompi. Baju rompi itu kini diberikan kepada Raden Antareja dan seolah menyatu dengan kulit cucunya itu. Dari kejauhan, Raden Antareja akan terlihat seperti seorang pemuda yang kulitnya bersisik naga. Keistimewaan pusaka rompi sisik naga ini dapat membuat Raden Antareja kebal terhadap segala macam jenis senjata.

Pusaka yang kedua adalah berupa mantra ilmu kesaktian bernama Aji Kawastrawam. Dengan menggunakan ilmu ini, Raden Antareja dapat mengubah wujudnya menjadi apa saja yang ia kehendaki. Adapun pusaka yang ketiga adalah cupu berisi air kehidupan Tirta Mustikabumi. Khasiat dari air ini dapat menyembuhkan luka dan juga menghidupkan orang mati yang belum tiba ajalnya. Batara Anantaboga yakin ketiga pusaka yang ia berikan pasti bermanfaat bagi cucunya yang masih miskin pengalaman itu.

Raden Antareja sangat berterima kasih atas semua pusaka pemberian sang kakek. Ia lalu mohon restu kepada Batara Anantaboga dan Dewi Nagagini, juga kepada sang nenek, yaitu Dewi Supreti, kemudian berangkat menuju Kerajaan Amarta.

Batara Anantaboga.

RADEN ANTAREJA TERLIBAT BENTROK DENGAN PARA KURAWA

Raden Antareja yang sudah naik ke daratan segera mencari jalan menuju Kerajaan Amarta. Namun, ia masih bingung tidak tahu arah ke mana yang harus dituju. Tidak lama kemudian ia melihat rombongan para Kurawa dari Kerajaan Hastina yang sedang dalam perjalanan mencari Raden Burisrawa. Yang paling depan dari rombongan tersebut adalah Raden Kartawarma dan Bambang Aswatama. Mereka memandang dengan jijik wujud Raden Antareja yang gagah dan tampan tetapi kulitnya bersisik seperti ular. Mereka pun bertanya dengan nada kasar kepada Raden Antareja apakah pernah melihat orang dengan ciri-ciri Raden Burisrawa.

Raden Antareja menjawab tidak tahu dan ia balik bertanya apakah Raden Kartawarma dan Bambang Aswatama mengetahui jalan menuju Kerajaan Amarta, karena ia ingin menghadap ayahnya yang bernama Raden Bratasena. Mengetahui bahwa Raden Antareja adalah putra Raden Bratasena, seketika Raden Kartawarma menjadi geram dan menyerangnya. Sudah sejak kecil para Kurawa sering kalah berkelahi melawan Pandawa nomor dua tersebut, dan kini Raden Kartawarma berniat melampiaskan dendamnya kepada Raden Antareja. Karena diserang mendadak, Raden Antareja pun membela diri dan segera terlibat pertempuran melawan Raden Kartawarma dan Bambang Aswatama.

Meskipun masih muda, Raden Antareja memiliki kesaktian tinggi, bahkan pernah menumpas Prabu Nagabaginda raja Jangkarbumi beserta seluruh pasukannya. Dengan cekatan ia mampu memukul mundur Raden Kartawarma dan Bambang Aswatama. Melihat kedua rekannya dikalahkan seorang pemuda bersisik, Arya Dursasana, Raden Durjaya, Raden Durmuka, Raden Srutayu, Raden Durmagati, Raden Citraksa, Raden Citraksi, dan juga Adipati Jayadrata pun maju membantu. Namun, mereka semua tidak ada yang mampu mengalahkan Raden Antareja. Tidak ada satu pun senjata mereka yang dapat menembus rompi sisik naga yang dikenakan pemuda tersebut. Selain itu, Raden Antareja juga mampu amblas ke dalam tanah dan muncul lagi di tempat lain untuk mempermainkan para Kurawa.

Melihat para Kurawa dibuat kocar-kacir oleh seorang pemuda, Adipati Karna segera maju menghadapi. Kali ini Raden Antareja menemukan lawan yang tangguh. Adipati Karna sendiri merasa dirinya tidak mungkin menang jika bertarung mengandalkan kekuatan, maka ia pun melepaskan panah yang sudah diberi mantra. Panah tersebut mengeluarkan angin kencang yang membuat tubuh Raden Antareja terlempar jauh entah ke mana.

Adipati Karna.

RADEN BURISRAWA MENYUSUP KE DALAM KESATRIAN MADUKARA

Sementara itu, Raden Burisrawa yang dicari-cari para Kurawa ternyata telah berada di luar tembok Kesatrian Madukara. Sejak gagal menikah dengan Niken Larasati, ia memilih kabur dari Kerajaan Hastina dan kembali menderita sakit asmara terkenang Dewi Sumbadra. Akhirnya, ia pun tersesat masuk ke dalam Hutan Krendawahana dan menjadi pengikut Batari Durga.

Kini Raden Burisrawa mendapat tambahan kesaktian dari Batari Durga dan ia mampu memasuki Kesatrian Madukara tanpa ketahuan. Saat itu Raden Arjuna masih berada di Kerajaan Tasikmadu, sedangkan keempat istri padminya berada di dalam Kesatrian Madukara. Raden Burisrawa melihat Dewi Sumbadra duduk sendiri di Taman Maduganda, Dewi Srikandi sedang melatih para prajurit wanita, Dewi Sulastri sedang mengasuh Raden Angkawijaya, sedangkan Niken Larasati memimpin para abdi memasak di dapur seperti biasa.

Merasa ada kesempatan, Raden Burisrawa segera masuk ke Taman Maduganda mendekati Dewi Sumbadra. Ia segera mengungkapkan isi hatinya yang masih memendam cinta meskipun sudah setahun ini Dewi Sumbadra resmi menikah dengan Raden Arjuna. Dewi Sumbadra terkejut dan meminta Raden Burisrawa keluar dari kesatrian. Namun, Raden Burisrawa justru semakin gencar merayu dan ingin mengajak Dewi Sumbadra lari bersamanya. Dewi Sumbadra menolak dan hendak pergi ke tempat Dewi Srikandi berlatih. Namun, Raden Burisrawa segera menghadang sambil menakut-nakuti wanita itu menggunakan sebilah keris di tangan. Ia mengancam hendak menggores wajah Dewi Sumbadra agar Raden Arjuna tidak suka lagi dan menceraikannya. Dewi Sumbadra merasa terdesak dan memilih lebih baik mati daripada wajahnya dirusak. Ia pun maju menerjang keris di tangan Raden Burisrawa tersebut.

Demikianlah, semuanya terjadi begitu cepat. Dewi Sumbadra meninggal dunia seketika karena menabrak keris yang dipegang Raden Burisrawa. Raden Burisrawa sendiri tidak menyangka wanita yang dicintainya itu ternyata sedemikian nekat. 

Raden Burisrawa.

RADEN BURISRAWA MELARIKAN DIRI DARI KESATRIAN MADUKARA

Tidak lama kemudian Dewi Srikandi datang karena mendengar suara jeritan Dewi Sumbadra. Raden Burisrawa segera bersembunyi di balik pepohonan taman. Dewi Srikandi menjerit sedih bercampur marah melihat Dewi Sumbadra telah tergeletak tak bernyawa. Ia pun mencari si pembunuh ke segala penjuru tetapi tidak menemukan. Sambil memasang panah pada busur, Dewi Srikandi bersiap membidik jika sampai si pelaku ditemukan.

Raden Burisrawa tanpa sengaja menginjak ranting kering, membuat Dewi Srikandi curiga dan bertanya itu siapa. Raden Burisrawa dari persembunyian menjawab bahwa dirinya Raden Arjuna. Dewi Srikandi berkata mengapa suaranya mirip Patih Sucitra. Raden Burisrawa pun menjawab bahwa dirinya memang Patih Sucitra. Dewi Srikandi berkata lagi mengapa suaranya lebih mirip Patih Surata. Raden Burisrawa menjawab dirinya adalah Patih Surata, bukan Patih Sucitra. Dewi Srikandi semakin curiga dan berkata mengapa suaranya mirip Raden Gatutkaca. Raden Burisrawa segera meralat bahwa dirinya memang Raden Gatutkaca. Pada saat itulah Dewi Srikandi maju menerjang dan melepaskan panah ke arah suara Raden Burisrawa. Namun, Raden Burisrawa lebih dulu menghindar. Ia sempat mengeluarkan Aji Panglimunan seperti yang diajarkan Batari Durga, sehingga tubuhnya tidak dapat terlihat oleh Dewi Srikandi.

Dewi Srikandi.

RADEN ARJUNA PULANG KE KESATRIAN MADUKARA

Sementara itu, Raden Arjuna sedang dalam perjalanan pulang dari Kerajaan Tasikmadu, setelah ia tinggal di sana selama tiga bulan bersama istri barunya, yaitu Dewi Gandawati. Setelah Dewi Gandawati mengandung, barulah Raden Arjuna mohon pamit kembali ke Kesatrian Madukara.

Sepanjang perjalanan, Raden Arjuna merasa hatinya waswas seperti ada peristiwa buruk yang sedang terjadi. Para panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong berusaha menghibur, namun Raden Arjuna tetap saja gelisah. Entah mengapa ia ingin menangis tanpa sebab. Karena semakin gelisah, Raden Arjuna pun mengajak para panakawan mempercepat langkah.

Sesampainya di Kesatrian Madukara, Raden Arjuna sangat terkejut menyaksikan istri padmi pertamanya, yaitu Dewi Sumbadra telah meninggal dunia dan menjadi layatan banyak orang. Keempat Pandawa lainnya telah berkumpul dengan pakaian berkabung, begitu pula kedua kakak iparnya, yaitu Prabu Kresna dari Dwarawati dan Prabu Baladewa dari Mandura. Prabu Baladewa yang biasanya galak dan pemarah, hari itu menangis meraung-raung, sedangkan Prabu Kresna tampak lebih tenang.

Dewi Srikandi melapor kepada sang suami, bahwa Dewi Sumbadra meninggal karena dibunuh orang tak dikenal. Para Pandawa tidak berani melakukan upacara pemakaman sebelum Raden Arjuna tiba. Mendengar itu, Raden Arjuna gugup dan segera meminta bantuan Prabu Kresna untuk menghidupkan kembali Dewi Sumbadra menggunakan Kembang Wijayakusuma.

Prabu Kresna menjawab Kembang Wijayakusuma tidak mampu menghidupkan orang mati yang benar-benar sudah ajal. Namun, karena Raden Arjuna mendesak, terpaksa Prabu Kresna mengeluarkan bunga ajaib tersebut dan melewatkannya di atas jasad Dewi Sumbadra. Namun demikian, ia sengaja tidak membaca mantra karena memiliki rencana lain.

Raden Arjuna.

JASAD DEWI SUMBADRA DILARUNG DI SUNGAI JAMUNA

Melihat Kembang Wijayakusuma tidak mampu menghidupkan kembali Dewi Sumbadra (karena Prabu Kresna memang tidak membaca mantra), seketika tubuh Raden Arjuna lemas lunglai kehilangan daya. Si kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa segera memapah kakak mereka tersebut. Namun, Raden Arjuna berusaha tegar menguasai diri. Bagaimanapun juga, istrinya yang meninggal harus segera dimakamkan.

Prabu Kresna mencegah dengan alasan tadi malam ia mimpi bertemu roh Dewi Sumbadra. Ia berkata bahwa Dewi Sumbadra berpesan agar jasadnya jangan dimakamkan, tetapi meminta dilarung saja di sungai hingga terbawa arus dan bersatu dengan samudera luas.

Raden Arjuna semakin sedih mendengarnya. Namun, karena sang istri sudah berwasiat demikian, ia pun harus mewujudkannya. Raden Arjuna lalu meminta tukang kayu untuk membuatkan perahu yang indah sebagai wahana bagi jasad istrinya menuju lautan.

Setelah perahu siap, Raden Arjuna memimpin upacara pelepasan jasad Dewi Sumbadra. Dengan berlinang air mata, ia mendorong perahu indah tersebut hingga terbawa arus di Sungai Jamuna.

Ketika upacara berlangsung, Prabu Kresna diam-diam berbisik kepada Raden Gatutkaca untuk mengawasi perahu yang berisi jasad Dewi Sumbadra itu dari angkasa. Prabu Kresna berkata bahwa dirinya berbohong telah mimpi bertemu roh Dewi Sumbadra. Ia sengaja melarung jasad adiknya dengan tujuan untuk menangkap si pelaku pembunuhan. Raden Gatutkaca paham maksud Prabu Kresna dan segera melesat terbang ke angkasa untuk mengawal jasad sang bibi.

Dewi Sumbadra.

RADEN ANTAREJA MENEMUKAN PERAHU DEWI SUMBADRA

Sementara itu, Raden Antareja yang terlempar oleh panah sakti Adipati Karna jatuh di tepi Sungai Jamuna. Setelah sadar dari pingsan, ia melihat ada perahu indah mengambang dengan penumpang seorang wanita cantik sedang tidur. Karena penasaran, Raden Antareja segera terjun ke sungai dan berenang mendekati perahu tersebut. Setelah dekat, ia baru sadar ternyata perempuan itu tidak tidur, melainkan sudah meninggal. Tiba-tiba hati nuraninya tergerak dan ia pun memercikkan air ajaib Tirta Mustikabumi ke jasad Dewi Sumbadra tersebut.

Tiba-tiba dari angkasa meluncur turun Raden Gatutkaca menyambar tubuh Raden Antareja dan membawanya terbang ke udara. Raden Antareja berontak dan jatuh ke tanah. Ia lalu bertanya mengapa dirinya diserang tiba-tiba. Raden Gatutkaca menjawab ia sedang menjalankan tugas untuk menangkap pelaku pembunuhan bibinya. Raden Antareja tidak tahu-menahu dan segera membela diri. Kedua pemuda itu pun bertarung. Mereka sama-sama gagah, sama-sama kuat, dan sama-sama sakti. Yang satu bisa terbang di angkasa, yang satu lagi bisa amblas ke dalam bumi. Kadang-kadang Raden Gatutkaca memainkan tubuh Raden Antareja di udara, kadang-kadang Raden Antareja yang menarik tubuh Raden Gatutkaca masuk ke dalam tanah.

Pada saat itulah tiba-tiba Dewi Sumbadra datang melerai mereka. Raden Gatutkaca terkejut bercampur gembira melihat bibinya hidup kembali. Raden Antareja berkata bahwa Dewi Sumbadra hidup kembali karena Tirta Mustikabumi pemberian Batara Anantaboga yang telah dipercikkan ke tubuhnya.

Raden Gatutkaca.

RADEN ANTAREJA BERTEMU SAUDARANYA

Dewi Sumbadra berterima kasih atas bantuan Raden Antareja dan bertanya mengapa ia dan Raden Gatutkaca berkelahi. Raden Gatutkaca menjawab dirinya mendapat tugas dari Prabu Kresna untuk menangkap pelaku pembunuhan sang bibi. Karena gerak-gerik Raden Antareja mencurigakan, maka Raden Gatutkaca pun berniat menangkapnya untuk dihadapkan kepada Prabu Kresna.

Dewi Sumbadra menjawab bahwa dirinya mati karena didesak Raden Burisrawa, jadi bukan Raden Antareja pelakunya. Raden Gatutkaca segera meminta maaf dan berterima kasih atas bantuan Raden Antareja kepada bibinya. Raden Antareja sendiri menjawab bahwa ini semua sudah takdir karena seakan-akan hati nuraninya berbisik menyuruh agar ia mencebur ke sungai dan menghidupkan kembali jasad Dewi Sumbadra.

Dewi Sumbadra lalu bertanya tentang asal usul Raden Antareja, mengapa bisa memiliki air ajaib pemberian Batara Anantaboga. Raden Antareja menjawab bahwa dirinya adalah cucu Batara Anantaboga, atau putra Dewi Nagagini. Perjalanannya kali ini adalah ingin menemui ayah kandungnya yang bernama Raden Bratasena.

Dewi Sumbadra berkata bahwa Raden Bratasena adalah nama Arya Wrekodara semasa muda, sedangkan Arya Wrekodara adalah ayah dari Raden Gatutkaca. Dengan kata lain, Raden Antareja dan Raden Gatutkaca adalah saudara sendiri, yaitu satu ayah lain ibu.

Raden Gatutkaca sangat gembira mendengarnya dan segera menyembah memberi hormat kepada Raden Antareja yang dipanggilnya sebagai kakak. Raden Antareja merasa salah tingkah. Dewi Sumbadra menjelaskan bahwa memang sudah sepantasnya Raden Gatutkaca menjadi adik Raden Antareja, karena ibunya, yaitu Dewi Arimbi pun memanggil kakak kepada Dewi Nagagini.

Raden Antareja tidak ragu lagi. Ia pun memeluk Raden Gatutkaca dan memanggilnya sebagai adik. Dewi Sumbadra lalu mengajak kedua keponakannya itu pulang ke Kesatrian Madukara. Namun, Raden Gatutkaca menolak karena ia masih mengemban tugas dari Prabu Kresna untuk menangkap pelaku pembunuhan sang bibi.

Arya Wrekodara.

RADEN ANTAREJA MENJEBAK RADEN BURISRAWA

Raden Antareja mendapat akal untuk menjebak Raden Burisrawa. Ia mengerahkan Aji Kawastrawam dan mengubah wujudnya menjadi mirip Dewi Sumbadra. Ia lalu naik perahu dan menyanyi menembangkan lagu-lagu dengan suara merdu. Sementara itu, Dewi Sumbadra yang asli bersama Raden Gatutkaca mengintai di balik pepohonan.

Raden Burisrawa yang merasa bersalah atas kematian Dewi Sumbadra saat itu sedang duduk termenung di dalam hutan. Tiba-tiba ia mendengar suara nyanyian Dewi Sumbadra dari arah Sungai Jamuna. Ia segera berlari mendekat dan melihat Dewi Sumbadra sedang menyanyi di atas perahu. Tanpa pikir panjang, ia langsung melompat ke sungai dan naik ke atas perahu tersebut.

Dewi Sumbadra palsu menyambut Raden Burisrawa dengan ramah. Raden Burisrawa meminta maaf atas ulahnya tempo hari dan kini ia senang karena Dewi Sumbadra ternyata masih hidup. Dewi Sumbadra palsu itu berkata bahwa para Pandawa mengira ia sudah mati dan melarung jasadnya di sungai. Namun entah mengapa, tiba-tiba ia hidup lagi.

Raden Burisrawa berkata Dewi Sumbadra tidak perlu kembali ke Kerajaan Amarta karena orang-orang di sana mengiranya sudah mati. Akan lebih baik jika Dewi Sumbadra ikut dengannya ke Kesatrian Madyapura. Dewi Sumbadra menjawab bersedia, tetapi ia tidak suka melihat penampilan Raden Burisrawa yang acak-acakan seperti orang gila. Ia lebih dulu ingin mendandani Raden Burisrawa sebelum diboyong ke Kesatrian Madyapura.

Raden Burisrawa yang sudah mabuk kepayang menyatakan patuh tanpa membantah. Ia lalu duduk di hadapan Dewi Sumbadra. Dewi Sumbadra palsu itu pun merapikan rambutnya. Pada saat Raden Burisrawa lengah, Dewi Sumbadra palsu tiba-tiba menampar pipinya. Raden Burisrawa kaget dan bertanya mengapa ia ditampar. Dewi Sumbadra palsu menjawab ada nyamuk besar hinggap di pipi Raden Burisrawa. Tidak lama kemudian Dewi Sumbadra pun memukul kepala Raden Burisrawa. Raden Burisrawa terkejut dan bertanya mengapa dipukul. Dewi Sumbadra palsu pun menjawab di kepala Raden Burisrawa ada serangga bersarang.

Demikianlah, berkali-kali Raden Burisrawa dipukul oleh Dewi Sumbadra palsu. Lama-lama ia merasa curiga mengapa tangan Dewi Sumbadra berat dan mantap. Ketika menoleh ternyata Dewi Sumbadra palsu sudah kembali ke wujud Raden Antareja. Raden Burisrawa terkejut dan sebelum ia menyadari, Raden Antareja sudah menghajarnya.

Raden Burisrawa berusaha kabur meninggalkan perahu, namun ia disambar Raden Gatutkaca dari angkasa dan dijatuhkan di tanah. Raden Gatutkaca ganti menghajarnya, kemudian melemparkan tubuh Raden Burisrawa ke arah sang kakak. Raden Antareja menangkap Raden Burisrawa dan memukulinya. Setelah puas, ia melemparkan tubuh pria itu ke arah Raden Gatutkaca. Kedua kakak beradik itu pun bergantian menghajar Raden Burisrawa hingga babak belur.

Raden Antareja muda.

RADEN ARJUNA GEMBIRA MENGETAHUI ISTRINYA HIDUP KEMBALI

Tidak lama kemudian Prabu Kresna datang bersama Prabu Baladewa, Raden Arjuna, dan Arya Wrekodara. Mereka terkejut melihat Raden Burisrawa dihajar kiri-kanan oleh Raden Gatutkaca dan seorang pemuda berkulit sisik. Yang lebih mengherankan lagi, ternyata Dewi Sumbadra masih hidup dan menyambut kedatangan mereka.

Prabu Baladewa marah-marah bercampur gembira. Ia marah karena adik iparnya dihajar dua pemuda, dan gembira karena Dewi Sumbadra hidup kembali. Raden Arjuna pun memeluk istrinya dan merasa sangat bahagia. Prabu Kresna sendiri heran mengapa Dewi Sumbadra bisa hidup kembali padahal dirinya datang dengan niat hendak menghidupkan adiknya itu menggunakan Kembang Wijayakusuma.

Rupanya Prabu Kresna telah membuka rahasia bahwa tadi ia hanya pura-pura tidak bisa menghidupkan Dewi Sumbadra. Ia berkata bahwa dirinya sengaja melarung Dewi Sumbadra untuk menjebak pelaku pembunuhan muncul menampakkan diri. Merasa sudah tiba waktunya, ia pun berangkat menyusul bersama Prabu Baladewa dan kedua Pandawa. Ternyata sudah ada orang lain yang menghidupkan Dewi Sumbadra.

Dewi Sumbadra pun menjelaskan bahwa Raden Burisrawa adalah orang yang mengganggunya hingga ia terpaksa kehilangan nyawa. Adapun orang yang telah menghidupkan dirinya adalah si pemuda bersisik yang bernama Raden Antareja, yaitu putra Arya Wrekodara sendiri yang lahir dari Dewi Nagagini.

Arya Wrekodara sangat senang melihat Raden Antareja. Tadinya ia mengira hanya memiliki satu orang putra saja, yaitu Raden Gatutkaca. Tak disangka, ternyata Dewi Nagagini juga melahirkan anak laki-laki untuknya. Begitu mendapat penjelasan dari Dewi Sumbadra, Raden Antareja langsung menyembah Arya Wrekodara. Keduanya pun saling berpelukan melepas rindu.

Prabu Kresna.

ADIPATI KARNA MEMINTAKAN MAAF UNTUK RADEN BURISRAWA

Tidak lama kemudian datanglah para Kurawa mengamuk menuntut Raden Burisrawa dibebaskan. Arya Wrekodara marah dan menerjang mereka untuk melampiaskan kekesalan. Terjadilah pertempuran di mana para Kurawa berhamburan terkena pukulan dan tendangan Arya Wrekodara.

Adipati Karna maju dan mengajak Arya Wrekodara bicara baik-baik. Sebagai saudara tua para Pandawa, ia meminta agar Raden Burisrawa diserahkan kepadanya. Arya Wrekodara menceritakan semuanya, yaitu Raden Burisrawa telah membunuh Dewi Sumbadra. Untungnya ajal Dewi Sumbadra belum tiba, sehingga masih dapat dihidupkan kembali oleh putra sulungnya yang baru datang.

Adipati Karna segera menemui Raden Arjuna dan Dewi Sumbadra untuk memintakan maaf atas kesalahan Raden Burisrawa. Raden Arjuna saat ini sedang berbahagia karena istrinya hidup kembali sehingga langsung memaafkan Raden Burisrawa tanpa berpikir panjang. Dewi Sumbadra juga memberikan maaf tetapi dengan syarat Raden Burisrawa tidak boleh mengganggunya lagi. Prabu Baladewa yang dulu pernah mendukung Raden Burisrawa juga meminta hal yang sama. Jika sampai terdengar berita bahwa Dewi Sumbadra diganggu lagi, maka ia sendiri yang akan menghajar Raden Burisrawa.

Adipati Karna berterima kasih lalu membawa Raden Burisrawa yang sudah babak belur pulang bersama para Kurawa. Keadaan kini telah aman kembali. Prabu Kresna pun mengajak Raden Arjuna dan Dewi Sumbadra pulang ke Kesatrian Madukara untuk mengadakan syukuran. Demikian pula Arya Wrekodara mengajak Raden Antareja bersama Raden Gatutkaca ikut serta ke Kesatrian Jodipati.

Prabu Baladewa.

 ------------------------------ TANCEB KAYON------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya


CATATAN : Kisah Sumbadra Larung ini dikenal pula dengan judul Antasena Takon Bapa. Adapun Antasena menurut pakem pewayangan Surakarta adalah nama Raden Antareja semasa muda. Wujud wayangnya memakai lungsen grudan dengan rambut urai. Seiring waktu, pakem Surakarta terkena pengaruh pakem Yogyakarta, di mana tokoh Antasena dan Antareja kemudian dikisahkan sebagai dua orang yang berbeda.

Dalam hal ini, blog saya mengikuti pakem pewayangan populer, di mana kelak cerita Antasena Takon Bapa akan saya munculkan dalam lakon tersendiri, dan tokohnya pun berbeda dengan Raden Antareja. Itulah sebabnya dalam kisah di atas, Raden Antareja sejak awal sudah memakai nama Antareja, karena tokoh Antasena kelak ada sendiri. Namun demikian, saya tetap menampilkan ilustrasi Antareja berambut urai, yang mana Antareja berambut gelung kelak akan saya tampilkan di lakon selanjutnya.


Untuk kisah perkawinan Arya Wrekodara dengan Dewi Nagagini dapat dibaca di sini

Untuk kisah Dewi Nagagini menagih janji Arya Wrekodara dapat dibaca di sini

Untuk kisah perkawinan Raden Arjuna dengan Dewi Sumbadra dapat dibaca di sini

Untuk kisah sayembara memperebutkan Niken Larasati dapat dibaca di sini










Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Unordered List

Popular Posts

  • Antareja Mbalela
    Kisah ini menceritakan tentang pemberontakan Raden Antareja yang tidak setuju atas pengangkatan Raden Gatutkaca sebagai senapati Kerajaan A...
  • Bangun Taman Maherakaca
    Kisah ini menceritakan tentang sayembara membangun kembali Taman Maherakaca dalam waktu semalam untuk memperebutkan Dewi Srikandi putri Pra...
  • Irawan Maling
    Kisah ini menceritakan kemunculan Bambang Irawan, putra Raden Arjuna, yang menjadi pencuri di Kerajaan Hastina, dengan ditemani Raden Antar...
  • Perang Wirata - Hastina
    Kisah ini menceritakan Prabu Basuparicara atau Prabu Basuketi pergi meninggalkan istana untuk bertapa di hilir Sungai Jamuna. Ketika Kerajaa...
  • Sayembara Tasikmadu
    Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Arjuna dengan tujuan tapa ngrame untuk menebus dosa kepada Prabu Palgunadi dan Dewi Angraen...
  • Bambang Dewakasimpar
    Kisah ini menceritakan tentang Kyai Semar yang berubah menjadi tampan, bernama Bambang Dewakasimpar. Juga dikisahkan awal mula Raden Arjuna...
  • Santanu Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Bagawan Santanu dan Prabu Citrawirya karena ulah pendeta raksasa bernama Danghyang Anala. Kisah dilanjutkan...
  • Parasara Lahir
    Kisah ini menceritakan kelahiran Bambang Parasara putra Batara Sakri dan Dewi Sati, yang kelak menjadi Resi Parasara, yaitu leluhur para Pan...
  • Sesaji Rajasuya
    Kisah ini menceritakan tentang upacara Sesaji Rajasuya yang diadakan oleh para Pandawa, serta kematian Prabu Jarasanda, musuh bebuyutan Pra...
  • Sakri Gugur
    Kisah ini menceritakan kematian Batara Sakri di tangan Prabu Murtija, raja raksasa dari Kerajaan Tirtakawana, serta awal mula Dewi Wayasi da...

Google+ ku (Follow ya)

Joecgp
View my complete profile

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  January (2)
      • Sewa Sound System Jogja Yogyakarta 08562954111
      • Hanya Rindu Andmesh Kemalang Covered
  • ►  2019 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (4)
    • ►  April (4)
    • ►  March (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (5)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  February (8)
    • ►  January (3)
Powered by Blogger.

Recent Articles

Follow our Blog

Traffic Ranking

Copyright © Sewa Orgen Tunggal Jogja 08562954111 | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by Rumah Dijual Jogja